Misteri Pulau Neraka (Ta Xia Hu Pu Qui) Jilid 38

 Jilid 38

Kakek latah awet muda yang menyaksikan kejadian  ini menjadi gelisah sekali.

"Hey anak muda, jangan mencoba kabur. "

Ia segera bangkit berdiri dan siap mengejar keluar.

Oh Put Kui berhenti didepan pintu lain sahutnya sambil tertawa:

"Boanpwe hanya ingin bersemedhi sebentar  mumpung waktu masih pagi. "

"Tidak bisa, kau tidak bisa meninggalkan  aku  seorang untuk menghadapi kedua orang bocah perempuan itu, dulu gara   gara   Hian-hian   akupun   sudah    cukup    dibikin  pusing "

"Mereka kan masih muda, apa yang mesti kau takuti?" ujar Oh Put Kui sambi tertawa.

Sambil membenarkan rambutnya yang  beruban,  kakek latah awet muda menggelengkan kepalanya berulang kali:

"Anak muda, kau terlalu sedikit yang diketahui. "

Setelah berhenti sejenak dan menghela napas, terusnya: "Dulu, bukankah nona Hian-hian pun munculkan diri

sebagai seorang angkatan muda?"

"Tapi waktu itu usiamu kan masih muda?" Kembali kakek latah awet muda tertawa:

"Anak muda, bagaimanapun juga kau memang belum banyak berpengalaman, kau tahu, belakangan ini anak gadis lebih suka mencari kaum tua, terutama lelaki yang sudah banyak pengalaman tapi lemah lembut dan tahu mengasihinya, tidak seperti kalian kaum muda, sedikit-sedikit lantas  ngambek dan diajak bercekcok. "

Oh Put Kui merasa geli sekali dan ingin sekali tertawa tergelak, dia tak menyangka kalau begitu banyak persoalan yang diketahui oleh si kakek latah awet muda.

Tapi dia tak sampai tertawa, hanya ujarnya dengan tertawa hambar:

"Ban tua, belum pernah boanpwe bayangkan persoalan- persoalan semacam ini. "

"Itulah sebabnya kau harus banyak berpikir kesana dikemudian hari. "

Mendadak pengemis pikun bangkit berdiri dan  menyela sambil tertawa:

"Ban tua, sesungguhnya dia  sudah  memikirkan  persoalan ini sedari dulu."

Lalu sambil memonyongkan bibirnya menunjuk  kedalam kamar, dia berkata lebih jauh:

"Ban tua, seandainya dia tidak memikirkan persoalan ini, buat apa mesti melakukan perjalanan dengan membawa serta kedua orang perempuan itu? Bukankah hal ini terlalu merepotkan dan menjemukan?"

Oh Put Kui memandang sekejap kearah  pengemis  pikun itu, kemudian tertawa getir.

Sebaliknya kakek latah awet muda segera tertawa terbahak bahak:

"Tak kusangka pengemis cilik ini  makin lama semakin bertambah pintar. "

Pada saat itulah, mendadak Nyoo Siau-sian berjalan keluar dari dalam kamar, lalu bertanya dengan sedih:

"Toako, apakah kau sedang marah kepadaku?" "Tidak!" Oh Put Kui   menggeleng, "aku cuma ingin beristirahat dan mengatur pernapasan sebentar!"

Nyoo Siau-sian segera menyeka airmatanya, lalu berkata lagi dengan lirih:

"Toako, aku tak akan menangis lagi, mau bukan kau jangan marah lagi?"

Mendengar perkataan itu Oh Put Kui merasakan hatinya bergetar sekali.

Ia sadar, bila kedudukannya didalam hati kecil Nyoo Siau- sian jauh melebihi kedudukan ayahnya,  maka  banyak kesulitan yang bakal dihadapinya dikemudian hari.

Diapun segera merasakan bahwa dia  berusaha untuk menghindarkan diri.

Tapi, sanggupkah dia untuk menghindarkan diri?

:Aku tak akan marah adik Sian, pulanglah dulu keruang belakang bersama nona Kiau, bagaimana pun juga gedung Sian-hong-hu   ini    toh     tak     bisa    tanpa     kepala keluarga. "

Lalu setelah berhenti sejenak, dia berkata lebih jauh: "Bagaimana kalau adik Sian mengumpulkan terlebih dahulu

segenap  jago yang  belum  pergi lalu merundingkan   persoalan

ini secara baik-baik."

"Toako, kau masih begitu menguatirkan persoalanku??" Nyoo Siau-sian tertawa sedih.

Mendengar itu Oh Put Kui segera berpikir:

"Bila kau tidak menguatirkan permintaanmu, tak akan nanti kutempuh perjalanan kemari. "

Tapi diluarnya dia segera menyahut:

"Tentu saja adik Sian, oh ya, tiba-tiba saja aku  teringat  akan suatu persoalan. " "Soal apakah itu?"

"Lebih baik adik Sian lakukan pemeriksaan yang teliti, coba lihat apakah ciangbunjin dari keempat partai besar serta Wiei tianglo dari Kay-pang masih berada didalam gedung. "

"Agaknya mereka sudah berlalu dari sini. " sahut Nyoo

Siau-sian cepat.

Tapi setelah berhenti sejenak dia menambahkan:

"Mereka datang bersama engkohku, mungkin pergi juga bersama-sama engkohku, tapi tentu akan kuselidiki persoalan ini dari mereka yang masih berada disini. "

Sambi tertawa Oh Put Kui  segera manggut-manggut: "Yaaaa betul, kau memang harus menyelidikinya kembali,

mungkin aku dan Ban tua berniat mengganggu  di gedung kalian ini barang setengah bulan lamanya, adik Sian, pergunakanlah waktu selama belasan hari ini untuk menyelesaikan semua masalah besar didalam gedung ini !"

"Toako, kau tak akan mengurusinya ?" tanya Nyoo  Siau- sian sambil berkerut kening.

"Persoalan apa yang  harus kuurusi?" Oh Put Kui balik bertanya dengan wajah tertegun.

"Tentu saja urusan dalam gedung ini." Oh Put Kui segera tertawa.

"Bagaimana pun juga aku termasuk orang luar, mana boleh mencampuri rumah tangga adik Sian ?"

Cepat-cepat Nyoo Siau-sian  menggelengkan  kepalanya, dia berkata:

"Toako, urusan ini kan bukan urusan rumahku, kehadiran Sian-hong-hu dalam dunia persilatan cukup berbobot, masa toako akan cuci tangan begitu saja?"

Tanpa terasa Oh Put Kui berpaling dan  memandang sekejap kearah si kakek latah awet muda. Sebaliknya kakek latah awet muda pun  sedang memandang kearahnya sambil tersenyum.

Tiba-tiba saja Oh Put Kui merasakan wajahnya menjadi panas, cepat-cepat dia  menggelengkan  kepalanya seraya berkata:

"Adik Sian, lebih baik semua urusan tentang gedung ini kau selesaikan sendiri, andaikata timbul banyak persoalan dikemudian hari, dengan kehadiran kakek Ban disini, tentunya kau tak usah menguatirkan lagi "

Belum habis perkataan itu diutarakan, kakek latah  awet muda sudah berkaok-kaok:

"Anak muda apa sangkut pautnya persoalan itu dengan  aku. ?"

"Haaaaaaaaahhhhhhhhh......... hhhaaaaaaaaaahhhhh........

hhhaaaaaahhhhhhhhh...... ban  tua, kau toh tak akan bisa melepaskan tanggung jawab tersebut dengan begitu saja," sahut sang pemuda sambil tertawa.

Suatu tindakan yang benar-benar mencekik leher kakek latah awet muda sehingga dia tak mampu berkutik lagi.

"Aku tak bisa melepaskan tanggung jawab ini?" kakek latah awet muda segera mendelik, "bocah muda, kau sendiripun jangan harap bisa enak-enakkan belaka."

Oh Put Kui tertawa makin keras.

"Tentu saja, sebab boanpwe memang sudah bertekad akan mengiringi disisimu."

"Waaaaah, aku memang sial banget........... tak nyana aku mesti bertemu setan cilik macam kau. "

"Tampaknya kau seperti menyesal karena harus meninggalkan bangunan loteng batu ini?" ejek pemuda itu.

"Tidak, tidak...." cepat-cepat kakek latah awet muda berteriak keras, "siapa bilang  aku menyesal? Setiap kali mendengar nama loteng batu itu, kepalaku segera menjadi pusing lagi."

"Nah, kalau memang begitu  kau orang tua tak usah menggerutu lagi, bila kau tak mau mencampuri urusan besar dunia persilatan lagi, mungkin sepuluh tahun kemudian orang orang   dari   golongan   putih  cuma   tinggal    separuhnya  saja "

Kata-kata yang terakhir ini sangat berbobot dan benar- benar memberikan daya pengaruh yang amat besar.

Pengemis pikun segera berseru pula sambil manggut- manggut:

"Betul, perkataan lote memang tepat sekali !"

"Kentutnya yang tepat !" umpat kakek latah  awet muda sambil tertawa gemas, "Seorang bocah muda cukup memusingkan, apanya yang betul? Dia catut namaku tak lebih hanya merupakan kembangan saja........ padahal aku disuruhnya menjadi mak comblang "

Tiba-tiba paras muka Oh Put Kui berubah menjadi merah padam.

Sebab dia menemukan bahwa perkataan dari kakek latah awet muda itu sangat mengena dihatinya. Dia memang sedang membonceng kakek tersebut untuk mempersatukan kekuatan kaum  lurus dan  bersama-sama membasmi kaum jahat.

Hanya saja persoalan tersebut tak pernah terpikirkan olehnya selama ini.

"Nah, bagaimana anak muda? Apa yang kukatakan betul bukan ?" kembali kakek latah awet muda itu mengejek.

Oh Put Kui segera tertawa.

"Boanpwe tahu bahwa persoalan ini memang tak bisa mengelabui kau orang tua....... hanya saja. "

Dia ingin sekali memberikan suatu penjelasan. Dan pengemis pikun serta Nyoo Siau-sian pun  berniat mendengarkan penjelasan tersebut.

Tapi kakek latah awet muda segera  menukas  dengan cepat:

"Sudahlah, kau tak usah banyak bicara lagi, asal aku sudah tahu, ini sudah cukup."

Oh Put Kui tertawa hambar dan tidak bicara lagi.

Nyoo Siau-sian pun tidak merasa sedih lagi, tiba-tiba ia berkata kepada Kiau Hui-hui.

"Enci Kian, mari kita kembali keruang belakang." "Adik Sian, kau. "

Sebetulnya Kiau Hui-hui ingin bertanya apakah gadis itu sudah dapat menembusi masalah tersebut, tapi ketika sampai dibibir, tiba-tiba saja dia merasa pertanyaan itu tak ada gunanya, karena itu segera diurungkan kembali.

Sambil tertawa Nyoo Siau-sian segera berkata:

"Mari enci Kiau, kita periksa dulu masih ada  siapa  saja yang tetap tinggal didalam gedung ini "

Kiau Hui-hui tersenyum dan manggut-manggut.

Mereka berduapun segera memberi hormat kepada kakek latah awet muda serta pengemis pikun, lalu setelah minta diri kepada Oh Put Kui berangkatlah  kedua orang  itu meninggalkan ruangan tersebut.

Memandang bayangan punggung kedua orang  gadis  itu, Oh Put Kui menghela napas lirih:

"Aaaaaiiii, betapa malang nasib mereka. "

oOdwOooo0dw0oOdwOooo

Suasana   didalam gedung Sian-hong-hu tetap tenang seperti sedia kala. Lian Peng, siperempuan bunga dari Thian he wan itu tak pernah muncul kembali.

Panji sakti pencabut nyawa Ku Bun-wi juga tak pernah muncul kembali disitu.

Kini, untuk sementara waktu Nyoo Siau-sian menjadi tuan rumah gedung tersebut.

Dan semua masalah yang dihadapipun telah diatasi oleh si tukang ramal setan Li Hong-siang serta kakek pencari kayu dari bukit utara Siang Ki-pia.

Sepuluh hari lewat dengan cepat.

Didalam sepuluh hari ini, Oh Put Kui selalu merawat keadaan luka dari Peng-goan-koay-kek dengan teliti dan seksama.

Kini, Lan Ciu-sui telah sehat dan tumbuh kembali seperti sedia kala.

Terhadap cucu luar yang satu ini, Lan Ciu-sui  kelihatan amat senang dan menyayanginya sepenuh hati, oleh sebab itu tak heran kalau Oh Put Kui juga memperoleh banyak keuntungan dari kakek luarnya ini.

Disamping itu, dari pembicaraan kakek luarnya diapun memperoleh berita tentang suatu rencana busuk yang maha besar.

Rupanya Wi Thian-yang adalah utusan yang dikirim untuk membunuh ibunya.

Ia berbuat demikian  karena ingin mendapatkan jubah wasiat Thian-sun-gwat-lo-san.

Dan konon jubah wasiat Thian-sun-gwat-lo-san ini hendak dihadiahkan kepada seseorang.

Satu-satunya persoalan yang paling disesali oleh Lan Ciu- sui adalah ketidak berhasilannya untuk menyelediki siapa gerangan orang yang bakal diberi jubah  wasiat tersebut oleh Wi Thian-yang. Atas persoalan yang pelik ini, Oh Put Kui mulai murung dan risau sekali.

Sebenarnya dia berniat langsung pergi mencari Wi Thian- yang.

Tapi Lan Ciu-sui tidak setuju, sebab Wi Thian-yang belum berhasil mendapatkan jubah wasiat Thian-sun-gwat-lo-san tersebut, disamping itu dia sendiripun harus menderita terkurung dalam penjara bawah tanah selama hampir dua  puluh tahun lamanya gara-gara kena dicelakai oleh Wi Thian- yang.

Itulah sebabnya Lan Ciu-sui minta kepada Oh Put Kui agar mau bersabar sejenak.

Tentu saja Oh Put Kui tidak ingin menolak permintaan dari kakek luarnya ini.

Tapi diapun balik bertanya:

"Yaya, mana jubah wasiat milik ibuku. Apakah tidak kau pakai ditubuhmu?"

Menghadapi pertanyaan ini Lan Ciu-sui segera tertawa.

Seandainya jubah  Thian-sun-gwat-lo-san  dikenakan ibunya, tak mungkin ibunya akan tewas, sebab dengan kemampuan dari Oh Ceng-thian serta Lan Hong suami istri, andaikata Pek-ih-ang-hud Lan Hong tidak terluka  lebih  dulu, tak mungkin mereka akan menderita kekalahan total.

Lan Ciu-sui pun  memberitahukan  kepada Oh Put Kui bahwa baju wasiat itu telah dipinjamkan ibunya kepada Thian- hian-huicu.

Sekarang Oh Put Kui baru mengerti, apa sebabnya selama dua puluh tahun Wi Thian-yang belum berhasil juga menemukan jejak dari baju wasiat Thian-sun-gwat-lo-san tersebut, rupanya baju itu sudah dipinjamkan kepada Thian- hian-Huicu Ki Un-hong. Tiba-tiba satu ingatan melintas lewat dalam benak Oh Put Kui...........

Ia seperti mempunyai firasat bahwa diantara dipinjamnya baju wasiat gwat-lo-san tersebut dengan  kematian yang menimpa ibunya terdapat  suatu sangkut paut yang sangat erat.

Tapi disaat ia mencoba untuk memikirkan persoalan  ini lebih jauh, diapun merasa agak bingung.

Kini, Lan  Ciu-sui telah mengatakan  bahwa raja setan penggetar langit Wi  Thian-yang merupakan  dalang yang membunuh ibunya, dalam hal ini ia tidak menaruh curiga lagi, tapi dia tetap beranggapan bahwa mencari tahu baju wasiat itu hendak dihadiahkan Wi Thian-yang kepada  siapa  mungkin jauh lebih berharga.

Karena itulah diapun berkata kepada kakek latah  awet muda bahwa dia bermaksud hendak berangkat ke Biau-hong- san lebih dulu.

kakek latah awet muda segera menggelengkan kepalanya berulang kali seraya berkata:

"Tunggulah tiga hari lagi, kakekmu perlu beristirahat lagi selama tiga hari sebelum berbuat sesuatu."

Terpaksa Oh Put Kui harus menanti lebih jauh.

Tapi menunggu selama tiga hari ini ternyata memberikan manfaat yang sangat besar kepadanya.

Ternyata pada hari kedua, Bong-ho siansu serta Kit Bun-siu munculkan diri disitu.

Menurut perkiraan Oh Put Kui, munculnya dua orang tokoh silat ini sudah pasti karena dihubungi oleh situkang  ramal  setan Li Hong-siang. Bagaimanapun juga secara  diam-diam Oh Put Kui harus mengakui atas ketelitian dari Li Hong-siang.

Sebab situkang ramal setan telah memberitahukan kepada Nyoo Siau-sian bahwa sebagian  besar jago yang berada digedung Sian-hong-hu sekarang, dimasa lampau mereka adalah anak buah dari Kit Bun-siu.

Padahal Kit Bun-siu sendiripun merupakan orang yang paling dipercaya dari Bong-ho siansu.

Oleh sebab itu dengan mendapatkan dukungan dari Bong- ho siansu, hal ini sama artinya dengan memperoleh dukungan penuh dari segenap jago yang masih tersebar dalam gedung Sian-hong-hu.

Sudah barang tentu Nyoo Siau-sian amat setuju dengan  usul dari Li Hong-siang ini.

Itulah sebabnya Li Hong-siang segera menulis surat dan memberi kabar kepada Bong-ho siansu.

Bahkan bersama-sama Kit Bun-siu, mereka muncul bersama diibukota.

Malam itu, diruang Wan-sim-teng diselenggarakan sebuah perjamuan kecil untuk merayakan kedatangan Bong-ho siansu serta Kit Bun-siu, tapi dalam kenyataan pesta itu khusus diadakan untuk menyambut munculnya wadah dan wajah baru dalam gedung Sian-hong-hu.......

oOdwOooOdwOo0dw0oOdwOooo

Pada hari keempat, Oh Put Kui minta diri kepada Nyoo Siau-sian. Diluar dugaan ternyata Nyoo Siau-sian serta Kiau Hui-hui telah menyiapkan pula barang-barang perbekalannya, mereka berdua telah bertekad akan mengikuti Oh Put Kui kemanapun pemuda itu hendak pergi...........

Menghadapi keadaan tersebut, Oh Put Kui segera berkerut kening sambil tertawa getir.

Sebaliknya kakek latah awet muda menyambutnya dengan gelak tertawa keras.

Peng-goan-koay-kek Lan Ciu-sui sendiri hanya tersenyum menyaksikan kesemuanya ini. Akhirnya merekapun berangkat mengikuti Oh Put Kui.

Pengemis pikun segera mendekati Oh Put Kui dan berbisik lirih:

"Lote, aku lihat kau memang muur sekali nasibnya, sekali panah memperoleh dua gadis manis sekaligus. "

Istana Pek-soat-goan-kun dibukit Biau-hong-san berdiri megah dan mentereng.

Hari ini, didepan istana tiba-tiba muncul empat orang lelaki dan dua orang gadis muda.

Dari ke tujuh orang itu, tiga orang sudah lanjut usia dan tiga yang lainnya masih muda.

Mereka bukan peziarah, tapi keenam orang itu langsung menuju kehalaman belakang bangunan istana.

Pengemis pikun dengan rambutnya yang awut-awutan berjalan dipaling muka.

Pengurus istana Pek-soat-kiong berniat menghalangi mereka, tapi usaha tersebut tak berhasil dalam waktu singkat keenam orang itu sudah memasuki halaman belakang.

Halaman   belakang istana Pek-soat-kiong luas sekali, pepohonan tumbuh disitu dengan rimbunnya.

Ketika pengemis pikun berjalan menembusi sebuah hutan bwee, mendadak dia menghentikan langkahnya.

Dengan perasaan tegang Nyoo Siau-sian segera memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, lalu tanyanya:

"Liok tua, ada dimana?" Dimana?

Pengemis pikun membelalakan matanya lebar-lebar, dia sendiripun tidak tahu.

Kiau Hui-hui segera berkata sambil tertawa: "Adik Sian, Liok tua sendiripun tidak tahu!" Pada saat itulah Oh Put Kui telah berkata sambil tertawa:

"Liok loko, bagaimana kalau kita lakukan pemeriksaan lebih dahulu disekitar tempat ini ?"

Pengemis pikun memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, disitu semuanya terdapat  empat buah pesanggarahan indah, sambil menggelengkan kepala segera katanya:

"Tidak usah diperiksa  lagi, asal diumpat diakan  bakal muncul dengan sendirinya!"

"Aaaaahh, mana boleh begitu..........." seru Oh Put Kui sambil berkerut kening.

Mendadak.............

Kakek latah  awet muda telah tertawa tergelak  sambil berteriak keras:

"Setan kurus she Cin, kau keluar tidak? Jangan dikira permainanmu  itu dapat menghalangiku "

Bersamaan dengan teriakan dari kakek latah awet muda itu mendadak muncul segulung asap tipis dari sisi kanan dimana keenam orang itu berada.

Andaikata kakek latah awet muda tidak keburu  berteriak lebih dulu, Oh Put Kui sekalian tak nanti  akan menaruh perhatian ke situ, dan bisa jadi mereka akan termakan oleh serangan gelap tersebut.

Begitu asap tipis itu muncul, Peng-goan-koay-kek Lan Ciu- sui segera tersenyum.

Dia segera mengebaskan ujung bajunya  kedepan,  asap tipis itupun hilang lenyap tak berbekas.

Pada saat itulah..........

Dari balik sebuah pesanggarahan disisi kanan berkumandang datang suara jeritan aneh yang jauh lebih tak sedap didengar daripada suara tangisan. "Kau situa    bangka   celaka   ada urusan apa datang mencariku? Hey "

Setelah terhenti sejenak, orang itu berseru lagi:

"Siapa yang telah menghancurkan dupa sepuluh li ku itu?" Peng-goan-koay-kek Lan Ciu-sui segera tertawa tergelak: "Haaaaaaaaahhhhhh............. haaaaaaaaaaahhhhh..........

haaaaahhhhhhhh........ siapa lagi, tentu  saja aku si Lan manusia aneh!"

Tampaknya orang itu merasa terkejut sekali disamping rasa herannya, kembali dia berteriak:

"Hey Lan lokoay, kau telah berhasil memulihkan kembali seluruh tenaga dalammu?"

Lan Ciu-sui tertawa seram:

"Permainan busuk dari Wi Thian-yang masih belum cukup untuk menhancurkan diriku secara keseluruhan. "

Sementara itu kakek latah awet muda telah berteriak pula keras-keras:

"Hey setan kurus, kau bersedia keluar tidak?" Hening sesaat, kembali dia berteriak.

"Terus terang kubilang, andaikata kau tidak keluar lagi dari sini, jangan salahkan bila aku tak akan sungkan-sungkan, kau anggap pesanggrahan kecilmu itu mampu menahan sebuah seranganku. "

Belum habis perkataan itu bergema, suara yang menyerupai orang menangis itu telah bergema lagi:

"Tua    bangka  celaka,   kau jangan berbuat semaunya sendiri !"

Bersamaan itu pula didepan pintu  pesanggrahan telah muncul seorang kakek bertubuh kurus bagaikan bambu, dengan ketinggian sembilan depa dan memakai jubah berwarna hitam.

Oh Put Kui segera menjumpai kalau paras muka kakek itu pucat pias tak ubahnya seperti sesosok mayat.

Dalam pada itu kakek latah awet muda telah berjalan lebih dulu menghampiri pesanggrahan  tersebut dengan  langkah lebar.

"SEtan kurus, lebih  baik  kita  berbicara  didalam  rumah saja " ajaknya.

"Silahkan!" sahut kakek kurus itu sambil berkerut kening, "setelah bertemu dengan tua bangka semacam kau, memang aku tak bisa banyak berkutik "

Dibalik pintu merupakan sebuah ruang tamu kecil, dikedua sisinya merupakan kamar tidur  yang tertutup dengan tirai  tebal, sehingga orang yang berada diluar sulit untuk melihat keadaan didalamnya.

Begitu melangkah masuk kedalam ruang tamu, kakek latah awet muda segera menempati kursi utama.

"Lan lote, silahkan duduk disini!" serunya kemudian.

Bukan saja dia sendiri menempati kursi utama, bahkan mengundang pula Lan  Ciu-sui untuk menempati disampingnya.

Kakek kurus beralis putih itu tidak banyak berbicara, dia hanya mengawasi sampai keenam orang tamunya duduk semua.

Kemudian Lan Ciu-sui baru bertanya sambil tertawa: "Saudara Ciu, mana Wi Thian-yang?"

Sekarang Oh Put Kui sudah tahu kalau kakek kurus itu tak lain adalah kakek cengeng beralis putih Ciu Hway-wan, satu diantara dua manusia menangis dan tertawa, tapi sebelum diperkenalkan dia tak ingin turut menimbrung dalam pembicaraan tersebut. Mendadak terdengar kakek cengeng beralis putih menjerit lengking : "Wi Thian-yang tidak berada disini!"

"Apa? Wi Thian-yang tidak berada disini?" seru Lan Cui-siu dengan kening berkerut.

"Betul!"

"Aku tidak percaya!"

Mendadak kakek cengeng beralis putih menjerit  lagi  dengan suara yang melengking:

"Aku paling tak suka berbohong dengan orang, apabila saudara Lan tidak percaya, akupun  tak ingin memberi penjelasan lebih lanjut, terserah kepadamu sendiri "

Berkilat-kilat sepasang mata Lan Ciu-sui memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, lalu setelah tertawa dingin serunya kembali:

"Mana Ku Bun-wi?" "Diapun tak ada disini !!"

"Saudara Ciu," dengan gusar Lan Ciu-sui segera berseru, "aku harap kau jangan bermain gila dihadapan kami !"

Kakek cengeng beralis putih pun segera tertawa menyeramkan:

"Heeeeeehhhhhh......... hhhhheeeeeeeeehhhhhh..........

heeeeehhhhhhhhh........ saudara Lan, terhadap kalian semua tak perlu ku gunakan sesuatu tingkah, memang dalam kenyataannya mereka sudah pergi meninggalkan bukit Biau- hong-san ini semenjak lima hari berselang. "

"Kemana mereka telah pergi ?" tiba-tiba kakek latah awet muda menimbrung.

"Aku  sendiripun tak tahu. "

"Kau berani mengulangi sekali lagi?" teriak kakek  latah  awet muda sambil melotot besar. Mencorong sinar mata yang mengerikan hati  dari  balik mata orang tua itu.

Kakek cengeng beralis putih  Ciu  Hway-wan  benar-benar tak berani mengulangi kata-katanya sekali lagi.

Dia mengangkat bahunya lalu berteriak:

"Tua bangka Ban, mengapa sih kau bersikap galak dan garang terhadapku?"

"Untuk menghadapi manusia-manusia macam kau, selain bersikap garang rasanya tak ada  cara lain lagi yang bisa kulakukan, apa boleh buat "

"Hey, kau memang tua bangka yang tak mau mampus.............?" umpat kakek cengeng lagi  sambil gelengkan kepala.

Setelah berhenti sejenak, tiba-tiba dia berkata lagi dengan suara lirih:

"Mereka telah pergi ke Ngo Tay-san!" "Bukit Ngo Tay-san?"

"Benar!"

"Mau apa  mereka pergi ke bukit Ngo-tay-san?"  desak kakek latah awet muda lebih jauh dengan kening berkerut.

"Aku juga tidak tahu!"

Kali ini si kakek latah awet muda tidak  mendesak  lebih jauh, seakan-akan dia tahu kalau orang itu juga tak tahu.

Lan Ciu-sui segera bertanya pula:

"Berapa orang yang telah pergi kesana?" "Mungkin terdiri dari belasan orang  !" Lan Ciu-sui menjadi tertegun:

Sudah hampir dua puluh tahun lamanya dia dikurung dalam penjara, sudah barang tentu diapun tidak mengetahui segala sesuatu tentang dunia persilatan secara jelas. Siapa-siapa saja yang kini menjadi anak buah Wi Thian- yang? Tentu saja dia tak tahu secara pasti.

Sementara itu kakek latah awet muda telah bertanya lagi sambil tertawa tergelak:

"Setan kurus, mengapa kau sendiri tidak ikut pergi?"

Ketika mendengar pertanyaan ini, diam-diam Oh Put Kui berpikir:

"Pertanyaan dari Ban tuan ini memang tepat sekali, aku sendiripun merasa keheranan apa sebabnya  si tua Ciu  ini tidak ikut pergi bersama mereka. "

Kakek cengeng beralis putih menggelengkan kepalanya berulang kali, sahutnya:

"Aku malas untuk berjalan jauh!"

"Apanya yang malas berjalan jauh?" jengek Lan Ciu Sui sambil tertawa dingin, "sudah jelas kau bermaksud duduk dirumah sambil berusaha mengumpulkan berita dari mana- mana, bukan kah begitu tujuanmu. "

Kakek cengeng beralis putih kembali tertawa seram:

"Kau anggap  aku adalah seorang pencari berita untuk kepentingan orang lain?"

"siapa tahu memang begitu............" kembali Lan Cui-siu mengejek sinis.

Kakek latah awet muda segera menambahkan pula sambil tertawa:

"Setan kurus, selain kau, siapa saja yang masih tertinggal dibukit Biau-hong-san ini?"

"Tak ada siapa-siapa lagi, semua anak buah Wi Thian-yang telah pergi dari sini!"

"Bagaimana dengan keempat pengawal pedangnya?" pada saat itulah tiba-tiba Oh Put Kui menimbrung. "Mereka juga ikut pergi!"

Tapi setelah berbicara sampai ditengah kalimat, tiba-tiba dengan marah kakek cengeng beralis putih berteriak:

"Siapakah kau sianak muda? Berani amat mengajak bicara diriku?"

Mendengar perkataan tersebut Oh Put Kui segera tertawa hambar, katanya:

"Masa untuk berbicara dengan kau pun masih dibedakan juga siapa yang berhak dan siapa yang tidak?"

Kakek cengeng beralis putih segera berteriak aneh:

"Tentu saja harus dibedakan mana yang berhak dan mana yang tidak bocah keparat, siapakah kau?"

Oh Put Kui tertawa tergelak:

"Aku she Oh bernama Put Kui. "

"Oohh, jadi kau yang bernama Oh Put Kui?" teriak kakek cengeng beralis putih tiba-tiba sambil berkerut kening.

"Betul, kau katakan cukup berhak tidak untuk berbicara denganmu?"

Kakek cengeng beralis putih melototkan  matanya bulat- bulat, agaknya dia hendak mengumbar hawa amarahnya.

Tapi kemudian dia  gelengkan kepalanya berulang kali sambil menghela napas panjang, kembali katanya:

"Cukup, cukup! Dengan memandang diatas wajah saudara Beng, aku tak akan menyalahkan dirimu lagi!"

Suatu perkataan yang ingin mencari menangnya sendiri.

Agaknya dia mau mengalah  karena memandang diatas wajah si kakek sakti tertawa panjang Beng Pek-tim.

Sudah barang  tentu Oh Put Kui tak sudi menerima keramahan tersebut karena membonceng kemampuan orang.

Tiba-tiba sja dia tertawa dingin, lalu berseru: "Kau maksudkan memandang diatas wajah si kakek sakti she Beng ?"

"Yaa, andaikata aku tidak memandang diatas wajah saudara Beng, tak nanti akan mengampuni dirimu."

Dengan menguarnya perkataan tersebut,   suatu kesempatan baik buat Oh Put Kui telah tiba.

Sesungguhnya sianak muda itu memang berniat untuk mengobarkan hawa amarahnya, dan  sekarang dia  telah  memperoleh peluang yang baik  untuk  keberhasilan rencananya itu.

Serta merta dia pun berseru keras:

"Aku rasa kau tidak usah memperdulikan soal kakek sakti she Beng lagi, disamping itu akupun yakin tak perlu menggantungkan diri pada kebolehan orang lain, tanpa dukungan orang lain, aku merasa diriku cukup berhak!"

"Bocah keparat, kau betul-betul keras kepala........." seru kakek cengeng beralis putih dengan kening berkerut.

Oh Put Kui  kembali tertawa:

"Bila kau tak percaya, mengapa kita tidak mencoba-coba kemampuan masing-masing?"

Begitu ucapan tersebut diutarakan, Lan  Ciu-sui segera mengerutkan dahinya rapat-rapat.

Sebagai seorang kakek yang baru bersua dengan cucunya, sudah barang tentu  dia  tak ingin menyaksikan cucunya menderita kerugian ditangan orang lain, segera serunya pula sambil tertawa dingin:

"Bocah ini adalah cucu luarku, saudara Ciu apakah kau masih merasa kurang puas?"

Kakek cengeng beralis putih  nampak tertegun setelah mendengar perkataan itu, serunya kemudian:

"Dia adalah cucumu?" "Yaaa, dia adalah putra dari putri sulungku, kalau bukan cucuku lantas apa namanya?"

Kakek cengeng beralis putih segera termenung dan membungkam diri dalam seribu bahasa.

Lama kemudian................

Kakek cengeng beralis putih membuka matanya kembali, lalu berkata dengan lantang:

"Saudara Lan, aku tetap akan mencoba kemampuan dari bocah muda ini. "

Timbul hawa amarah diatas wajah Lan Ciu-sui, agaknya dia menjadi berang  karena perkataan itu, baru saja hendak mengumbar hawa amarahnya, tiba-tiba  kakek  latah  awet muda menimbrung dari samping sambil tertawa tergelak:

"SEtan kurus, jika kau kurang percaya tentu saja boleh mencoba kemampuannya, tapi aku rasa nama besarmu tidak gampang diperoleh, lebih baik tak usah mencari penyakit buat diri sendiri. "

Dengan perkataan dari kakek latah tersebut,  kakek cengeng beralis putih tak bisa mengundurkan diri lagi dari keadaan tersebut, bagaimanapun juga dia harus mencoba kemampuan dari lawan mudanya ini................

Sebab perkataan tersebut sangat mengena dihatinya memaksa dia tak mungkin berpeluk tangan belaka.

Dengan penuh amarah kakek cengen beralis putih segera berteriak keras:

"Ban tua, terima kasih banyak atas maksud baikmu memperingatkan aku, tapi bagaimanapun juga aku tetap akan mencoba kemampuan dari bocah keparat ini!"

Sesudah berhenti sejenak, tiba-tiba dia berpaling  kearah Oh Put Kui sambil serunya pula:

"Hey, anak muda, aku telah bertekad akan  mencoba kemampuan yang kau miliki itu. " "Bagus sekali, aku sendiripun mempunyai keinginan yang sama," jawab Oh Put Kui tertawa.

Setelah berhenti sejenak, segera bisiknya pula kepada Lan Ciu-sui, kakeknya:

"Yaya, cucunda tidak takut dengannya!"

"Tapi kau mesti berhati-hati, tenaga  dalam yang dimiliki mahluk tua itu amat lihay!" kata Lan Ciu-sui sambil memberi peringatan.

"Cucunda tahu "

Dalam pada itu kakek cengeng beralis putih telah menjerit keras dengan suara melengking:

"Hey anak muda, aku ingin mencoba tenaga dalam lebih dulu "

"AKu yakin cukup mampu untuk menghadapimu, tapi kau harus   berhati-hati,   jangan    sampai    mendapat     malu nanti. " seru sang pemuda sambil tertawa.

Perkataan dari anak muda itu benar-benar sangat lihay, lagi pula tajam sekali.

Kakek cengeng beralis putih  benar-benar  dibuat  naek darah sesudah mendengar perkataan tersebut.

SEpanjang alis matanya segera berkerut, kemudian setelah tertawa seram katanya:

"Bajingan muda, berhati-hatilah kau "

Mendadak Oh Put Kui merasa hatinya bergetar keras. Rupanya bersama dengan  selesainya perkataan lawan,

sikakek cengen beralis putih telah mengerahkan ilmu Jut-siaw- kui-ku (tangis setan berhati remuk) yang merupakan ilmu sakti andalannya selama ini.

Berhubung diarena masih hadir dua gadis dan pengemis pikun, maka sikakek cengeng beralis putih terpaksa mengerahkan ilmu tangisan setan penghancur hatinya dengan lewat cara ilmu menyampaikan suara.........

Dengan begitu orang lain tak akan mendengar sura tersebut, tapi Oh Put Kui seorang diri dapat menangkap serangan tersebut secara nyata sekali.

Dengan perasaan tergetar, cepat-cepat Oh Put Kui duduk bersila diatas tanah sambil mengatur pernapasan.

Ilmu Thian-liong-sian-kang yang maha dahsyatnyapun dikerahkan untuk melindungi detak jantungnya.

Suara tangisan sikakek cengeng beralis putih itu memang sangat hebat dan sanggup membetot sukma  siapapun  yang tak kuat mendengarnya, kini walaupun  sudah dioancarkan dengan sangat hebat, tapi bagi Oh Put Kui, serangan tersebut sama sekali tidak mendatangkan daya pengaruh apapun.

Pemuda tersebut tetap duduk bersila dengan tenang, mantap dan kuat tak ubahnya seperti seorang hwesio.

Menyaksikan kejadian tersebut, diam-diam  si  kakek cengeng beralis putih menjadi terkejut sekali.

Dia tidak menyangka kalau kemampuan yang dimiliki Oh Put Kui telah mencapai tingkatan sedemikian hebatnya..........

Biarpun dia sudah mengerahkan ilmu tangisan setan penghancur hatinya sampai paling  puncak, namun daya pengaruh tersebut tidak berhasil mengalutkan jalan pikiran lawan.

Dalam keadaan demikian, tiba-tiba saja timbul niat jahat dalam hati kakek cengeng  tersebut,  mendadak  dia melancarkan serangan yang mematikan.

Tenaga dalamnya segera dikerahkan mencapai dua belas bagian, tangisan keras macam lolongan serigala  itu  makin lama semakin bertambah merendah, lalu setelah dihimpun dalam pusar, secara tiba-tiba saja dia  menangis  kembali sekeras-kerasnya. Tenaga serangan yang digabungkan menjadi satu ini benar-benar mendatangkan daya pengaruh yang luar biasa.

Walaupun Oh Put Kui mengandalkan ilmu Thian-liong-sian- kang untuk melindungi badan, nyaris juga kena  kebobolan oleh serangan suara tangisan yang membetot  sukmanya sehingga hawa murninya hampir saja buyar.

Tapi untung saja pihak lawan hanya mampu mengerahkan semacam itu hanya satu kali saja.

Andaikata secara beruntun kakek cengeng beralis putih dapat melakaukan dua  kali penyerangan secara beruntun, mungkin saja Oh Put Kui tak akan  mampu menahan diri sehingga isi perutnya menderita luka parah..............

Padahal waktu itu si kakek cengeng beralis putih  telah kehabisan tenaga sama sekali.

Atas getaran akibat serangan maut itu Oh Put Kui masih tetap duduk tenang di tempat semula.

Peristiwa ini kontan saja membuat kakek cengeng beralis putih menjadi kaget bercampur tertegun.

Nyata sekali kemampuan yang dimiliki bocah muda ini memang sangat hebat dan luar biasa.

Padahal kakek cengeng beralis putih yakin, apabila tenaga dalamnya dihimpun menjadi satu dan  ilmu tangisan setan penghancur hatinya dipancarkan secara langsung terhadap seseorang, biar dia seorang ketua dari sebuat  partai  besarpun, tak nanti ada orang yang akan sanggup untuk mempertahankan diri.

Tapi kenyataannya bocah muda she Oh masih sanggup untuk menerima serangannya tanpa kekurangan sedikit apa pun, mungkinkah kemampuan yang dimiliki bocah  muda  ini jauh lebih tangguh daripada kemampuan para ketua partai lainnya?

Padahal Oh Put Kui sendiripun dibuat  terperanjat  sekali atas kehebatan lawannya. Dia bisa mempertahankan diri tanpa menderita kalah tak  lain tak bukan karena mengandalkan hawa murninya.

Andaikata si kakek cengeng beralis putih mampu menghimpun kembali sisa kekuatan hawa murninya  serta sakali lagi melancarkan serangan dengan ilmu tangisan setan penghancur hati, tak disangkal lagi Oh Put Kui tentu akan menderita kerugian besar................

Dengan demikian kedua belah pihak sama-sama dibuat terkesiap oleh kemampuan lawannya.

Tapi dengan kejadian itu pula mereka berdua sama-sama memperoleh kesan bahwa mereka tak boleh memandang enteng kemampuan yang dimiliki lawannya.

Kakek cengeng beralis putih mengernyitkan alis matanya, lalu setelah membuyarkan hawa murninya, dia berseru keras:

"HEy anak muda, kau telah  unggul!  Selama  hidup meskipun aku enggan tunduk kepada orang lain, tapi hari ini mau tak mau aku harus takluk kepadamu. "

Setelah menggelengkan kepalanya berulang kali diiringi helaan napas panjang kakek yang kurus lagi jangkung kembali berkata:

"Bocah muda, aku yakin Beng loko pasti pernah menderita kerugian pula secara diam-diam sehingga  waktu itu dia mundurkan diri  sebelum    melakukan   pertarungan denganmu. ?"

Rupanya kakek cengeng beralis putih tetap enggan mengakui kelemahannya, terutama dengan rekannya sikakek sakti tertawa panjang..............

Oh Put Kui membuyarkan kembali  hawa  murninya kemudian berkata sambil tertawa:

"Kakek Ciu terlalu merendah, sesungguhnya  Beng tua memang pernah beradu  ilmu denganku sebelum mengundurkan diri tempo hari " Kakek cengeng beralis putih segera tertawa keras, meski suara tertawanya jauh lebih mirip dengan tangisan seseorang.

"Apakah kau pergunakan ilmu Thian-liong-ci waktu itu?" tanyanya cepat.

"Betul, memang ilmu jari tersebut yang kugunakan." "Itulah dia anak muda. "

Setelah berhenti sejenak, dia berpaling kearah Lan Ciu-sui dan berkata lebih jauh:

"Saudara Lan, kuucapkan selamat kepadamu karena kau mempunyai seorang cucu yang sangat hebat!"

Dari mimik wajahnya dapat diketahui kalau perkataan tersebut diutarakan setulus hatinya tanpa sesuatu paksaan sedikitpun juga................

Peng-goan-koay-kek Lan Cui-siu segera tertawa terbahak- bahak karena girang:

"Saudara Ciu, aku segera akan menyuruh cucuku minta maaf kepadamu, disamping itu ku ucapkan terima kasih juga kepadamu karena telah berbelas kasih dengan menjaga nama baik cucuku ini."

Cepat kakek cengeng beralis putih menggelengkan kepalanya berulang kali, dia berkata:

"Saudara Lan, bila kau lakukan hal tersebut, maka sama artinya dengan mengejek diriku. "

Tiba-tiba kakek latah awet muda tertawa tergelak, selanya: "HEy, bagaimana kalau kalian berdua tak usah

bersungkan-sungkan terus? Setan kurus she Ciu, kau berdiam di bukit Biau-hong-san selama ini apakah bermaksud menjadi tulang punggung si raja setan penggetar langit?"

"Tidak!" diluar dugaan kakek cengeng beralis putih menggelengkan kepalanya. Jawaban yang diberikan ini kontan saja membuat kakek latah awet muda sekalian menjadi tertegun.

Mereka tidak menyangka kalau kakek cengeng beralis putih Ciu Hway-wan yang bersahabat dengan raja setan penggetar langit Wi Thian-yang, ternyata  tidak berkomplot dengannya bahkan tidak pula memberi dukungan kepada rekannya itu.

Tak heran kalau semua orang dibuat terbelalak dan berdiri termangu..........

Kakek cengeng beralis putih Ciu Hway-wan memandang sekejap wajah orang-orang itu, kemudian serunya lagi dengan suara lengking:

"Ban     tua,    sesungguhnya aku sendiripun dijadikan sandera "

"Oleh siapa?"

Hampir saja kakek latah awet muda melompat bangun saking kagetnya.

Benarkah dua manusia aneh tertawa dan menangis telah dijadikan sandera?

Tapi oleh siapa?  Yaa, oleh siapa?

Mereka tidak percaya kalau raja setan penggetar langit mempunyai kemampuan sehebat ini.

Tapi selain Wi Thian-yang, siapa pula yang memiliki kemampuan semacam ini?

Biarpun dalam dunia persilatan terdapat  banyak sekali jago-jago berilmu tinggi, tapi siapakah diantara mereka yang mampu menguasai dua manusia aneh tertawa dan menangis sekaligus?

Pertanyaan yang diajukan oleh kakek latah awet muda ternyata tidak memperoleh jawaban yang memuaskan hati.

Kakek cengeng beralis putih  menggelengkan  kepalanya dan menyahut dengan suara dalam: Peng-goan-koay-kek Lan Ciu-sui segera berseru pula dengan suara dalam:

"Saudara Ciu, mengapa sih kau nampak ragu untuk mengutarakannya keluar?"

Kakek cengeng beralis putih  segera memperdengarkan suara tertawanya yang mirip dengan lolongan serigala:

"Saudara Lan, aku bukannya ragu untuk berbicara, tapi sesungguhnya terikat oleh sumpah. "

"Kaupun terikat oleh sumpah?" kakek latah awet muda segera tertawa keras sesudah mendengar perkataan ini, "hey si kurus, kalau dilihat dari kemampuan orang tersebut untuk memaksa kau si manusia cengengpun harus pegang teguh sumpahmu, bisa kuduga dia tentunya seorang tokoh ternama didalam dunia persilatan."

Kakek cengeng beralis putih tidak menjawab, dia hanya tertawa getir belaka.

Tampaknya dia merasa mengaku tak enak, tidak mengakupun tidak enak, sehingga serba salah jadinya.

Peng-goan-koay-kek Lan Ciu-sui yang menyaksikan keadaan tersebut segera tertawa terbahak-bahak:

"Haaaaaaaaaaaaahhhhhhhh hhhhhhhhhaaaaaaaahh

hhhhhh......... haaahhh..... saudara Ciu apakah  orang  ini  adalah Wi Thian-yang?"

Kakek cengeng beralis putih segera menggelengkan kepalanya berulang kali.

Dengan kening berkerut kakek latah awet muda berkata pula:

"Kalau orang itu bukan Wi Thian-yang,  sudah pasti dia mempunyai hubungan yang erat hubungannya dengan Wi Thian-yang bukan?"

Kali ini kakek cengeng beralis putih mengangguk: "Ban tua, orang  itu seperti juga Wi Thian-yang "

Kesan yang segera timbul dari perkataannya  itu  adalah rasa kaget dan tercengang.

Tapi bagi pendengaran Nyoo Siau-sian justru menimbulkan pengharapan yang besar dan tak terhingga.

Dia sangat berharap bahwa ayahnya bukan orang jahat. "Saudara Ciu", Peng-goan-koay-kek berseru lagi dengan

kening berkerut, "Kalau begitu, masih ada seseorang lain yang mengatur segala sesuatunya dibelakang mereka?"

"Perkataan saudara Lan memang tepat sekali........" kakek cengeng beralis putih menjawab sedih.

"setan kurus, cepat kau sebutkan siapa orang itu!" kakek latah awet muda segera berteriak keras.

Kakek cengeng beralis putih menggelengkan kepalanya berulang kali:

"Maaf  Ban  tua,  aku  tak  dapat   menuruti  permintaanmu itu "

Meledak hawa amarah si kakek latah awet muda setelah mendengar perkataan itu.

Tapi mungkinkah baginya untuk turun tangan memaksa orang itu berbicara?

Jelas hal ini tak mungkin, sebab diapun tahu  paksaannya tak akan menghasilkan apa yang diharapkan.

Itu berarti perjalanan mereka ke buit Biau-hong-san kali ini hanya satu perjalanan yang sia-sia belaka.

Mendadak Oh Put Kui berhasil mendapatkan sebuah akal bagus, dia segera berseru:

"Ban tua, kalau toh kakek Ciu enggan berbicara, boanpwe justru memperoleh sebuah akal bagus yang bisa menyelidiki siapa gerangan manusia dibelakang layar itu secara pelan- pelan. " "Akal bagus apa yang berhasil kau dapatkan........" seru kakek latah awet muda sambil mendelik.

Tapi dia segera terbungkam, seakan-akan baru  teringat apa yang baru dikatakan Oh Put Kui kembali teriaknya:

"Hey anak muda, coba kau utarakan bagaimana akalmu  itu?"

Hampir tertawa Oh Put Kui saking gelinya, dia  segera berkata:

"Boanpwe rasa bila ingin  menyelidiki  orang  dibelakang layar itu, maka kita harus mengikuti jejak dari Wi Thian-yang!"

Mendengar ucapan tersebut kakek latah  awet  muda tertawa tergelak, teriaknya:

"Omong kosong, siapa yang tidak tahu  cara  tersebut?" "Ban tua, cara ini  memang amat sederhana dan boleh

dibilang diketahui setiap orang tapi bila tidak  dikemukakan  oleh seseorang, siapa pula yang akan menduga sampai kesitu?"

"Ehmmmm, betul juga perkataanmu itu........" kakek latah awet muda manggut-manggut dengan mata melotot.

Oh Put Kui tertawa geli didalam hati, tapi diluarnya dia segera berkata:

"Ban tua, bagaimana kalau kita berangkat ke bukit Ngo tay- san. ?"

"Baik "

"Apakah kita akan pergi bersama-sama?" tiba-tiba Peng- goan-koay-kek Lan Ciu-sui bertanya dengan kening berkerut.

@oodwoo@