Misteri Pulau Neraka (Ta Xia Hu Pu Qui) Jilid 21

 
Jilid 21

"Benar benar sebilah pedang mestika, meski Hui Bong-ki nampaknya saja seorang yang kasar dan tak berotak. ternyata dia jauh lebih cermat dan licik ketimbang The Tay-hong

"Dia melarangku  mempergunakan  pedang  mestika, padahal pedang yang ia  pergunakan  justru  merupakan pedang mestika, benar-  benar suatu tindakan yang luar biasa..."

Meskipun dalam hati kecilnya berpikir demikian, namun diluaran dia justru berkata sambil tertawa hambar:

"Tampaknya pedang baja milik Hui-tayhiappun termasuk semacam benda yang amat termashur"

"Termashur atau tidak. asal sudah dicoba kau toh akan mengetahui dengan sendirinya" jengek Hui Bong-ki  sambil tertawa dingin.

Begitu selesai berkata, tiba-tiba saja pedangnya digetarkan melancarkan serangan-

oh Put Kui masih tetap  berdiri tenang ditempat  semula tanpa bergerak barang Sedikitpun jua .

Kembali Hui Bong-ki tertawa dingin  sambi membentak: "Hey, hati-hati..."

Pedang bajanya segera memancarkan selapis cahaya merah yang segera menyelimuti seluruh angkasa.

oh Put Kui mencoba untuk melayangkan pandangan matanya kesekeliling tempat itu, dia jumpai getaran  dari pedang Hui Bong-ki tersebut dapat menciptakan  dua  puluh satu buah cahaya pedang yang bersama-sama menyerang kearahnya, diam-diam ia mengangguk kagum atas kemampuan tersebut. Namun pedang  yang berada ditangannya  masih tetap dihadapkan kebawah tanpa bergerak.

Menanti ujung pedang dari HuBong-ki tersebut  sudah hampir mencapai depan dadanya, baru dia bertindak.

Tidak nampak dia  menggerakkan lengannya,   tahu-tahu saja pergelangan tangannya miring kesamping lalu pedangnya ditusukkan kearah atas... "Traaanggg "

Secara tepat sekali ujung pedangnya itu mencukil tubuh pedang Hui Bong-ki sehingga mencelat kesamping.

Tindakan oh Put Kui yang menghadapi musuh dengan ketengangan ini segera memanding tempik sorak dari Leng cui-cui

Seban dari kedua puluh satu kuntum bunga pedang yang dilancarkan oleh Hui Bong-ki itu, bunga  pedang  manakah yang merupakan serangan sebenarnya merupakan suatu hal yang sulit untuk ditentukan secara tepat sekali.

Kecuali bila kau berani  menggerakkan pedangnya  dan menyongsong datangnya  ancaman tersebut dengan keras lawan keras.

Sudah barang tentu oh Put Kui enggan menghamburkan tenaga dengan begitu saja.

Itulah sebabnya dia menantikan gerakan musuh berikutnya dengan suatu sikap yang sangat tenang.

Dan kenyataannya, dengan mengandalkan suatu kebasan yang sangat ringan saja dia telah  memberikan hasil yang gemilang.

Pada saat itulah sipedang baja hati merah Hui Bong Ki merasakan tenaga getaran yang terpancar keluar dari pergelangan tangan oh Put Kui itu besarnya bukan kepalang, hal ini  sungguh membuat hatinya merasa terkejut  sekali. Sekrang dia tak berani bertindak secara gegabah lagi. Pedang bajanya segera diputar, kemudian secara beruntun dia melancarkan tujuh buah serangan berantai

Kali ini oh Put Kui sama sekali tidak mengangkat pedangnya, dia cuma menggerakkan tubuhnya sambil menghindar ke samping, lalu dalam tiga  langkah saja dia sudah melepaskan diri dari ancaman serangan musuh... Kemudian katanya sambil tersenyum:  "Sungguh  cepat gerakan pedang dari Hui tayhiap"

Ketika melihat ketujuh buah serangan  pedangnya mengalami kegagalan total, Hui Bong Ki merasakan hatinya amat terkesiap. Tapi ia merasa tak puas, dengan segera teriaknya lagi:

"Hey, bocah keparat, apakah gurumu hanya mengajarkan kau untuk menghindarkan diri?"

Mendingan kalau dia tidak mengucapkan  kata-kata  tersebut, begitu perkataan diucapkan, bencana pun  segera muncul didepan mata.

oh Put Kui memang seorang pemuda yang tidak gampang marah, akan tetapi jikalau ada orang berani memandang hina atau mencemooh angkatan tuanya, maka dia bisa gampang marah jauh melebihi siapa pun.

Apa yang dikatakan Hui Bong Ki tersebut sama artinya seperti memaki gurunya, bayangkan saja apakah dia bisa menerima keadaan tersebut dengan begitu saja? Tiba-tiba mencorong sinar tajam dari balik matanya, lalu dengan suara dingin berkata: "Hui Bong Ki, pada hakekatnya kau sedang mencari penyakit buat diri sendiri.." Begitu selesai berkata pedangnya yang tipis itu tiba-tiba diangkat ke atas. Sementara itu sorot matanya yang tajam mengawasi musuhnya itu tanpa berkedip.

sementara itu Hui Bong Ki masih belum tahu kalau oh Put Kui telah dibikin gusar oleh ulahnya, dia pun tidak tahu kalau perkataan yang diucapkan tanpa sengaja tadi telah menimbulkan amarah dari si gembong iblis kecil ini. Bukannya tahu diri, Hui Bong Ki justru bersikap lebih kaku, tiba-tiba dia membentak lagi:

"Bocah keparat, tak usah ngebacot dulu coba kita lihat saja nanti siapa yang lagi mencari penyakit buat diri sendiri."

"Heeehhh... heeehhh... heeehhh... tapi yang jelas orang itu bukan aku"

Begitu selesai berkata, pedangnya sudah diangkat hingga mencapai batas alis mata.

Hui Bong-ki tak mau menunjukkan kelemahannya diapun tertawa dingin sembari berseru:

"Hey keparat, buat apa sih kau banyak berlagak di hadapanku?"

Dalam pada itu, pedang dari oh Put Kui sudah diangkat hingga mencapai alis matanya dan tidak diangkat lebih keatas lagi.

Begitu perkataan lawan selesai diutarakan, dia  segera menjawab dengan suara hambar: "Orang she Hui, kalian empat jago pedang termashur karena permainan pedangnya, aku percaya kalian pasti memiliki ilmu pedang yang jauh melebihi orang lain bukan?"

"Tentu saja" sahut Hui Bong ki sambil tertawa  seram.  oh Put Kui manggut-manggut, katanya lebih jauh:

"Hari ini, aku akan menyuruh kalian empat jago pedang menyaksikan sesuatu agar menambah pengetahuan kalian-"

"Pengetahuan apa?"jengek Hui Bong-ki sambil tertawa dingin. "Apakah menyaksikan jurus sakti mengangkat pedang menutupi mataharimu ini...?"

oh Put Kui segera tertawa dingin:

"Heeehhh... heeehhh... heeehhh...  tepat  sekali perkataanmu itu, aku akan menyuruh kau menyaksikan jurus seranganku ini, bahkan aku akan membuat kau sipedang baja hati merah kehilangan pedang  dan  kehilangan jari tangan didalam satu gebrakan ini juga"

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... betul- betul tekebur," Hui Bong-ki tertawa tergelak. "siapa yang mau percaya kalau kau sanggup menjatuhkan  pedangku  dan  mengutungi jari tanganku dalam satu jurus saja? Hmmm. biar setanpun pasti tak akan percaya. Kau tak usah bermimpi disiang hari bolong"

Tiba-tiba oh Put Kui berkata sambil tertawa hambar:

"Hui Bong-ki, tiba-tiba saja aku merasa kasihan kepadamu, seandainya kukutungi jari jari tanganmu itu, bukankah selanjutnya kau tak akan mampu mengunakan pedang  lagi? Aku merasa cara semacam ini sedikit kelewat keji..."

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... jadi kau menaruh belas kasihan kepadaku" gelak tertawa Hui Bong kisemakin keras.

Oh Put Kui balas tertawa:

"Itulah sebabnya aku ingin mengubah dalam satu gebrakan membuatmu kehilangan pedang terpapas rambutnya, bagaimana menurut pendapatmu?"

Rupanya manusia yang bernama pedang baja hati merah Hui Bong ki ini tak berbeda keadaannya dengan sipengemis sinting, mempunyai rambut yang kusut dan awut awutan tak karuan, bukan saja tidak disisir bahkan dibiarkan tergantung begitu saja dibelakang bahunya.

Dalam satu gebrakan bisa memaksa orang untuk melepaskan pedang  dan kehilangan jari tanganpun sudah merupakan suatu kejadian yang sulit untuk dipercayai.

Apalagi oh Put Kui mengatakan sekarang bahwa di dalam satu gebrakan saja dia akan memapas rambut dari si pedang baja hati merah Hui Bong ki, bukankah ucapan semacam itu lebih mendekati sebagai bualan belaka...?

Oleh karena itulah  Hui Bong Ki tertawa tergelak  tiada hentinya... "Bocah keparat, aku ingin sekali mengetahui sampai dimanakah kehebatanmu itu" katanya kemudian-

Oh Put Kui masih tetap tersenyum tenang:

"Sebetulnya aku memang berniat untuk menambah pengetahuan kalian, cuma saja, aku mempunyai syarat."

"Syarat apa?" tanya Hui Bong Ki tertegun. "ataukah kau sudah sadar kalau bualanmu terlampau tinggi sehingga sekarang ingin mencari alasan untuk  menyulitkan diriku sekalian, dengan begitu kau bisa memperoleh alasan untuk mengundurkan diri?"

oh Put Kui tertawa dingin-

"Lebih baik kau jangan menilai maksud baik seseorang dari balik kacamata kepicikan dan kemunafikanmu itu"

Kemudian dengan wajah serius, dia berkata lebih jauh: "Andaikata dalam satu gebrakan nanti aku berhasil

memaksa Hui tayhiap melepaskan pedang dan  memapas kutung rambutmu itu, aku mengharap kalian berjanji untuk melanjutkan tak akan menyinggung masalah pedang Hian Peng Kiam lagi, dan lagi kalian pun harus berjanji untuk tidak mencari kesulitan lagi terhadap seluruh keluarga Leng dan orang yang memegang pedang Hian Peng Kiam tersebut"

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... baik, aku setuju," Hui Bong Ki tertawa tergelak^ "bukan cuma soal itu saja, sekalipun kau menghendaki batok kepalakupun aku pasti akan menyanggupi, sebab aku sudah tahu, bualan dari kau si bocah keparat sudah keterlaluan sekali"

Dari perkataan tersebut dapat diketahui kalau dia memang sama sekali tak percaya kalau oh put Kui  memiliki  kemampuan tersebut.

Bukan cuma tak percaya kalau oh Put Kui mempunya kemampuan itu, bahkan di dalam anggapan si Pedang baja berhati merah Hui Bong Ki, biarpun si kakek latah awet muda turun tangan sendiripun belum tentu ia mampu berbuat demikian. Tak heran kalau ia segera menyanggupi permintaan mana tanpa pikir panjang lagi.

oh Put Kui tertawa hambar tiba-tiba ia berpaling ke arah Ku Bun-wi sambil bertanya pula:

"Bagaimana dengan Ku tayhiap?"

Sekalipun Ku Bun-wi tahu dengan pasti bahwa oh Put Kui memiliki kepandaian silat yang sangat hebat, namun ia memiliki jalan pikiran yang sama seperti Hui Bong Ki, dia menganggap mustahil kemampuan oh Put Kui  untuk memaksa Hui Bong Ki melepaskan pedang dalam satu gebrakan saja, apa lagi memapas rambutnya.

Maka sewaktu oh Put Kui mengajukan pertanyaannya, dia pun menjawab dengan segera: "Aku setuju"

Belum lagi oh Put Kui bertanya kepada si Pedang iblis berbaju merah Suma Hian, orang she Suma itu sudah berseru dengan suara lantang:

"Aku dan The sute setuju sekali, cuma  bagaimana andaikata kau gagal memaksa Hui Samte melepaskan pedangnya dan  memapas kutung  rambutnya dalam satu geberakan?"

oh Put Kui segera tertawa terbahak-bahak:

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... aku segera akan membalikkan badan dan berlalu dari sini, dan tak akan pernah mencampuri urusanmu dengan keluarga Leng lagi"

"Bagus sekali, kita tetapkan dengan sepatah kata itu saja" seru Suma Hian sambil tertawa tergelak.

"Hmmm, cuma kuperingatkan, setelah menyanggupi kalian jangan menyesal dibelakang hari." dengus sang pemuda lagi.

"Kami semua belum pernah mengingkari janji yang telah diucapkan sendiri"

"Bagus sekali Nah, Hui tayhiap. kau harus berhati-hati" Begitu selesai berkata, tiba-tiba saja tangan kirinya memencet tombol pada gagang pedang yang diangkat setengah depa diatas alis mata itu sehingga menimbulkan suara dengungan yang keras dan amat memekikkan telinga.

"Banyak betul penyakit dari bocah keparat  ini"pikir  Hui Bong-ki dengan kening berkerut.

Belum sempat mengucapkan sesuatu, tahu tahu oh Put Kui sudah menggerakkan senjatanya.  Tiba-tiba  saja mengayunkan tangan kanannya kedepan dengan kecepatan tinggi...

Pedang tersebut segera memapas kedepan dan segera menutul keatas pedang yang berada dalam genggaman Hui Bong-ki.

Menyaksikan serangan ini, diam diam Hui Bong-ki tertawa geli, pikirnya:

"Dengan mengandalkan jurus serangan  yang  begitu lamban, bagaimana mungkin..."

Belum habis ingatan tersebut melintas lewat, tiba-tiba saja pandangan matanya menjadi silau.

Dengan perasaan terkesiap dia hendak  mundur kebelakang, tapi secara tiba tiba saja tangan kanannya seperti ditindih dengan suatu kekuatan yang berpuluh laksa kati beratnya. "Traaaanggg..."

Seluruh lengan kanan Hui Bong-ki menjadi  kaku, kesemutan dan seolah-olah kehilangan rasa.

Belum sempat dia menghindarkan diri dari ancaman itu, kembali batok  kepalanya terasa dingin seperti disambar dengan angin yang sangat tajam.

Entah apa yang sesungguhnya telah terjadi, terbukti pedangnya benar-benar sudah mencelat sejauh berapa kaki dan terlepas dari genggamannya. Bukan cuma begitu, malah segenggam rambutnya turut terpapas kutung dan  beterbangan menjatuhi seluruh tubuh sendiri.

Hui Bong-ki benar-benar tertegun, berdiri bedoh dengan mata mendelong sekujur badannya betul-betul merasa lemas sekali seperti tak bertenaga. Sebaliknya oh Put Kui  masih tetap berdiri ditempat semula dengan senyum dikulum.

Pedangnya masih juga dijulurkan kebawah persis seperti posisi semula, seakan-akan dia sama sekali tidak pernah menggerakkan senjata tersebut untuk melancarkan serangan-

lmu pedang yang demikian cepat dan mengerikan hati itu kontan saja membuat Leng Siauw-thian sekalian berdiri termangu dengan mulut terbUka lebar-lebar dan mata melotot besar.

Lama kemudian baru terdengar Leng cui-cui menjerit kaget

: "Ooh... suatu ilmu pedang yang sangat hebat"

Sedangkan kakek latah  awet muda berkata pula sambil tertawa terbahak bahak:

"Hey anak muda, apakah jurus serangan yang kau pergunakan itu adalah Thian-Lui-it ki (Gempuran hebat guntur langit)...?" oh Put Kui segera tertawa tergelak pula:

"Ban tua, tampaknya kau seperti mengenali setiap  jenis ilmu silat yang berada dikolong langit ini. Betul sekali, jurus serangan yang boanpwee pergunakan ini adalah jurus gempuran hebat guntur langit"

"Hey bocah muda, memangnya kau lupa? Akukan tahu segala-galanya..."

"Waaah, tampaknya nama besarmu itu memang bukan cuma nama kosong belaka"

"Haaahhh... haah... haaah... sudah sepantasnya bila kau mempercayai hal tersebut semenjak dulu, cuma kau merasa amat heran, darimana kau pelajari ilmu pedang guntur langit itu?" "Boanpwee berhasil mempelajari dari pulau neraka"

"Aaah, betul  mengapa aku sampai lupa kesitu..."  kakek latah awet muda segera termanggut- manggut.

Dalam pada itu, sipedang baja berhati merah Hui Bong Ki telah membungkukkan badan dan memungut kembali pedang bajanya.

"Nah, sekarang kalian boleh pergi dari sini." kata oh Put Kui kemudian kepada keempat orang lawannya sambil tertawa, "aku percaya kalian tentu tak akan mengingkari janji"

Sekarang The Tay-hong sudah berhenti menangis, paling tidak ia merasa keadaannya  jauh lebih baik ketimbang keadaan yang dialami sipedang baja berhati merah. Tiba-tiba terdengar Ku Bun-wi menghela napas panjang sembari berkata:

"Kesaktian ilmu pedang  yang saudara miliki sungguh mengagumkan sekali, apa yang sudah kami janjikan, sudah barang tentu akan kami laksanakan pula, namun kami harnya bisa menjamin kami sendiri dan tak bisa bertanggung jawab atas usaha dari anggota Sian-hong-hu yang lain bila mereka datang lagi kemari..."

oh Put Kui yang mendengar ucapan tersebut segera mengerutkan dahinya rapat rapat. Pada saat itulah sipedang iblis berbaju merah Suma Hian telah berkata pula:

"Apa yang saudara Ku ucapkan memang merupakan suatu kenyataan, sekalipun oh kongcu menahan kami berlima disini pun, kami hanya bisa berjanji bahwa kami berlima tidak akan mencampuri urusan ini lagi, sedangkan mengenai jalan pemikiran dari majikan muda istana Sian hong-hu... yaa, bagaimana mungkin kami bisa menghalangi segala tindakannya...?"

oh Put Kui manggut-manggut pelan, dia tahu apa yang diucapkan ke lima orang kakek itu memang benar dan tak bisa disalahkan. Maka sambil tersenyum katanya: "Baiklah, aku setuju dengan apa yang kalian katakan, cuma aku berharap sekembalinya kalian ke istana nanti, sampaikan kepada Nyoo Ban-bu, lebih baik dia tahu diri daripada kedua belah pihak saling bentrok lebih jauh"

"Apa yang oh sanhiap ucapkan tentu akan kusampaikan" sahut Ku Bun-wi cepat.

Kemudian setelah berhenti sejenak. dia berkata kepada di Hakim sakti hitam putih Pak Kun jiu yang masih duduk dikursi sambil tertawa: "Saudara Pak. mari kita pulang saja"

Selesai berkata dia lantas membalikkan  badan  dan beranjak pergi lebih dulu.

Tanpa banyak berbicara Pak Kun jin, Suma Hian, Hui Bong Ki, The Tay-hong serta kesembilan orang lelaki kekar yang berada di luar ruangan itu bersama-sama berangkat meninggalkan Benteng nomor wahid dari dunia persilatan-

Ancaman bahaya  maut akhirnya dapat dilalui dengan selamat, rasa terima kasih yang menggelora didalam dada Leng Siau-thian sungguh tak dapat diucapkan dengan kata- kata.

Perasaan Leng cui-cuipun bagaikan bunga yang sedang mekar, sekulum senyuman manis yang penuh pancaran rasa cinta memancar keluar dari wajahnya yang ditujukan semua kepada oh Put Kui.

Sedangkan oh Put Kui sendiri justru secara diam- diam merasa amat terkejut.

Dalam keadaan begini dia tak dapat menerima limpahan cinta kasih muda mudi, sebab diatas bahunya masih memikul beban pembalasan dendam atas  terbunuhnya  kedua  orang tua

Sekalipun berbicara yang sesungguhnya, dia sendiripun merasa senang sekali dapat bertemu dengan nona tersebut...

Diantara sekian orang yang hadir, hanya sipengemis sinting seorang nampak paling santai, tiada hentinya dia mengacungkan ibu jarinya sambil memuji kelihayan dan kehebatan dari jurus pedang yang dipergunakan oh Put  Kui tadi.

Si kakek latah awet muda hanya memeluk pedang karat yang dititipkan kepadanya itu sambil tertawa tergelak..

Tak lama setelah semua anggota istana sian-hong-hu berlalu, kakek menyendiri seribu li Leng Siau thian  baru teringat kalau putranya belum kenal dengan  oh Put Kui sekalian-

Sambil mengumpat kepikunan  sendiri, cepat-cepat dia menyuruh putranya Leng Yok peng untuk menjumpai ketiga orang itu.

Leng Yok-peng yang mempunyai julukan sebagai Tui-sim- sin-jin (tangan sakti penghancur hati) ini benar- benar mempunyai kesan persis seperti namanya, dingin dan kaku tanpa basa basi.

Begitu selesai memberi hormat kepada tiga orang tamunya, tanpa banyak cincong dia segera mengundurkan diri dari situ.

Leng Siau-thian yang menyaksikan kejadian tersebut hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil berkata,

"Ban tua, saudara Lok oh sauhiap. harap kalian hangan marah, anakku yang satu ini memang tidak  suka bergaul dengan siapapun, orangnya kolot dan suka menyendiri"

Mendengar perkata an, sikakek latah awet muda segera mendelik besar sambil berkata:

"Setiap orang mempunyai kemauan sendiri-sendiri kenapa sih kau mesti mengurusi kemauanmu? Leng Siau-thian, kau jangan lagi menganggap anakmu itu masih anak kecil, biarkan saja dia pergi dari sini..."

"Kalau Ban tua-pun berkata demikian, apa lagi yang bisa boanpwee katakan?" kata Leng siauw thian sambil tertawa sesudah mendengar perkataan itu. "aku hanya kuatir, dengan watak anakku yang dingin dan kaku itu, bisa jadi dia akan menderita kerugian besar dikemudian hari"

"Leng tua tak usah kuatir" kata oh Put Kuipula sambil tertawa, "justru sikap hidup putramu itu tidak sudi mencari pamor dan rebutan nama dan kedudukan dengan orang lain merupakan suatu tindakan yang terpuji, keadaannya inijauh lebih baik daripada mereka yang mempunyai banyak kawan di dalam dunia persilatan"

Leng Siauw-thian tertawa terbahak=bahak:

"Haaahh... haaahh... haaahhh... semoga saja apa  yang dikatakan oh sauhiap memang terwujud"

Tiba-tiba pengemis sinting mengerutkan keningnya secara mendadak lalu berkata:

"Tauke Leng, aku si pengemis memang kere, dapatkah kau menghadiahkan semangkuk nasi lebih dulu untukku?"

Sudah jelas perutnya mulai lapar sehingga  dia  berkaok kaok tanpa rikuh...

Merah jengah selembar wajah Leng Siauw-thian setelah mendengar perkataan itu, cepat-cepat serunya:

"Aku benar-benar sudah lupa... maaf maaf... biar sekarang juga kuperintahkan mereka untuk mempersiapkan sayur dan arak yang hangat..."

"Ayah, biar aku saja yang pergi" cepat cepat Leng cui-cui berkata sambil tertawa. Dia membalikkan badan  lalu  kabur dari situ dengan cepat. Leng Siauw-thian segera berkata lagi dengan nada minta maaf: "Saudara Liok, maaf kalau siaute telah melupakan hal ini..."

"Tidak usah minta maaf" pengemis sinting tertawa aneh, "Leng loko, asal ada makanan saja, aku si pengemis tua

tak pernah marah kepada orang lain..."

Ucapan tersebut kontan saja diambut oleh kakek latah awet muda sekalian bertiga dengan gelak tertawa yang keras. oOdwOo0dw0oOdwOo

Pemilik benteng nomor wahid dari dunia persilatan Leng Siau-thian mengumumkan secara tiba  tiba kepada dunia persilatan bahwa ia akan mengundurkan diri bahkan menutup bentengnya yang disebut benteng nomor wahid tersebut.

Tentu saja, kejadian ini segera menggemparkan seluruh umat persilatan yang mengetahuinya .

Mengapa Leng Siau-thian hendak mengundurkan diri?

Mengapa dia hendak menghapus nama  bentengnya sebagai benteng nomor wahid dari dunia persilatan?

Dengan nama besar dan kedudukan Leng Siau-thian dalam dunia persilatan, siapa yang berani mengusik dan mengganggunya?

Setiap orang yang  berperasaan tajam  segera merasa bahwa dibalik peristiwa tersebut tentu ada sesuatu yang tidak beres. Tapi, mereka tak berhasil menggali keluar alasan tersebut.

Mungkin, kecuali Leng Siau-thian seorang siapapun tidak tahu apa sebabnya bisa begitu.

Atau paling tidak masih ada juga yang tahu, meski sedikit sekali

Dan mereka lain adalah oh Put Kui, pengemis sinting dan kakek latah awet muda.

Sebab berbicara yang  sebenarnya, ide  tersebut justru muncul dari benak oh Put Kui.

Ia merasa bahwa tujuan dan sasaran dari pihak istana sian- hong-hu dan  Raja setan penggetar langit wi  Thian-yang adalah nama besar Benteng nomor wahid  dari  dunia persilatan, itu berarti selama Leng  Siau-thian  sekalian bersama anak buahnya bila masih berdiam dibukit Ho lan-san, maka cepat atau lambat akhirnya tentu akan bentrok juga dengan pihak mereka. Padahal pihak lawan mempunyai kekuatan yangj auh lebih besar dan kedatangan merekapun tak  bisa  diduga sebelumnya, bagaimana akibatnya  sunguh amat sulit untuk diramalkan sebelumnya.

Sebagai seorang lelaki sejati yang pandai dan tahu keadaan, sudah barang tentu mereka tak ingin mengorbankan diri secara konyol, karena itu satu-satunya jalan adalah menghindarkan diri dari sana.

Maka diapun menganjurkan kepada Leng Siau-thian agar untuk sementara waktu pindah  dulu keperkampungan Siu- leng-ceng milik Lamkiong ceng...

Ternyata usul tersebut disetujui oleh Leng Siau-thian, sebagai seorang jago silat kawakan dia  cukup memahami maksud baik dari oh Put Kui tersebut.

Begitulah, nama besar Benteng nomor wahid dalam dunia persilatanpun segera terhapus dari keramaian dunia.

Dan Leng Siau-thianpun mengumumkan pengunduran dirinya.

Setelah berdiam dibukit Ho lan san selama tiga hari, oh Put Kui pun segera memohon diri.

Dia bersama kakek latah awet muda dan pengemis sinting meneruskan perjalanannya menuju ke selatan.

Sedangkan sang tuan rumah Leng Siau-thian segera memboyong keluarganya pindah rumah.

Adapun perjalanan oh Put Kui menuju ke selatan kali ini adalah untuk mencari si Bangau sakti dibalik mega.

Ia merawa wajib untuk mencari tahu dulu masalah sekitar siapa yang telah mengambil tusuk konde penghancur tulang dari tubuh ibunya, sebelum ia dapat mengembara dalam dunia persilatan dan membalas dendam dengan perasaan tenang.

oleh sebab itu, dia  bersikeras hendak menemukan si Bangau sakti dibalik mega lebih dulu. Markas besar dari Liok- lim Bangau tujuh propinsi diwilayah Kanglam ini terletak di gedung Tiong-gi-hu dalam kota Lam- cong.

Kakek latah awet muda segera mengusulkan untuk mengambil jalan darat sampai di Kang ciu, lalu dari Kang-ciu berganti lewat jalan air  menuju kota Lam  cong dengan melewati telaga Phoa-yang-oh dan menelusuri sungai ci ciang-kang.

Sudah barang tentu pengemis sinting menyatakan persetujuannya, terhadap setiap perkataan dari kakek latah awet muda ia memang tak pernah barani mengucapkan kata "tidak".

Bagi oh Put Kui hal tersebut sama saja, baginya  entah lewat jalanan yang  manapun, yang penting asal dapat  bertemu dengan im Tlong-hok seCepatnya sehingga musuh besat pembunuh ibunya juga seCepatnya diketahui.

Tak sampai sepuluh hari kemudian, mereka sudah tiba di kota Kang ciu. tapi mereka justru tak berhasil menyewa sebuah perahupun di dermaga kota Kang ciu yang begitu besar. Hal ini tentu saja membuat si kakek latah awet muda merasa sangat berduka hati.  orang tua ini  bukan cuma bersedih hati saja, bahkan amarahnya segera berkobar.

Semakin tidak berhasil mendapat  sewaan perahu, dia semakin bertekad untuk mencari perahu hingga dapat.

Sebenarnya oh Put Kui hendak berganti  melewati jalan darat saja, namun kakek latah awet muda bersikeras dengan pendiriannya.

Akibatnya terpaksa mereka harus beristirahat semalam di kota Kang ciu tersebut.

oh Put- kui minta kepada pemilik rumah penginapan untuk mengusahakan perahu  sewaan, namun alhasil gagal juga usaha tersebut, konon semua perahu yang ada telah diberong oleh seseorang dengan biaya sewa yang tinggi. Mengenai siapa yang telah memborong semua perahu sewaan tersebut, ternyata pemilik rumah penginapan tersebut tidak berhasil untuk memperoleh keterangan.

Mengetahui keadaan tersebut, kontan saja  kakek  latah awet muda mencak-mencak sambil mengumpat.

Sebaliknya oh Put Kui dengan kening berkerut dan wajah masgul duduk termenung tanpa bicara.

Namun akhirnya dia berhasil mendapatkan sebuah jalan baik, ujarnya kemudian: "Lloktua, apakah dikota Kang- ciu inipun terdapat anggota Kay-pang..."

Pertanyaan tersebut dengan cepat menyadarkan kembali sipengemis sinting. Sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, segera serunya keras keras:

"Aaaai, aku sipengemis betul-betul sangat bodoh, mengapa tidak pernah kupikir sampai kesitu? Yaa, nampaknya makin  tua aku sipengemis semakin pikun... biar aku segera pergi mencari mereka"

Sambil menggerutu dia segera beranjak pergi dari situ.

Seperminum teh kemudian, sipengemis  sinting  telah muncul kembali dengan disertai seorang pengemis setengah umur.

"Ban tua, oh lote, orang ini adalah tongcu dari kantor cabang Kay-pang untuk kota Kang- ciu yang disebut orang si ular aneh Wan Sam"

Kemudian kepada pengemis setengah umur itu bentaknya : "Ayoh cepat menjumpai Ban locianpwee dan oh lote ku"

Dengan hormat sekali pengemis setengah umur itu menjura kepada kedua orang itu, kemudian katanya :

"Boanpwee Wan Sam menjumpai cianpwee berdua"

oh Put Kui mengangguk tanda membalas hormat, sebaliknya kakek latah awet muda tetap tak berkutik dari posisi semula, malahan teriaknya keras keras : "Apakah kau adalah kongcu dari kantor cabang kota Kang ciu?"

"Benar" sahut Wan Sam sambil menundukkan kepalanya. "Mengapa disekitar wilayah Kang ciu tidak dijumpai sebuah

perahu pun yang dapat disewa?"

"Menurut apa yang boanpwee ketahui, semua perahu yang ada dikota Kang ciu ini sudah disegel secara paksa  oleh  orang"

"Apa? Siapa yang begitu berani?"

"Menurut apa yang hamba ketahui, orang itu adalah putri kesayangan dari pemilik istana Sian hong-hu di ibu kota"

Sian hong-hu? Lagi lagi ulah istana Sian hong-hu? Lantas permainan apakah dibalik kesemuanya ini?

Untuk sesaat mereka bertiga sama sama dibuat tertegun...

Dalam tertegunnya oh Put Kui segera bertanya :

"Wan tong cu, benarkah kau tahu secara pasti bahwa semua perahu yang berada  di Kang ciu ini telah  disegel secara paksa oleh orang-orang yang dikirim pihak Sian hong- hu? Mengapa pemilik rumah penginapan ini  bilang kalau semua perahu disewa orang?"

Wan Sam segera tertawa.

"Dalam persoalan ini, pihak Sian- hong-hu telah  bekerja secara cermat dan rahasia, semua pemilik perahu dibikin takut oleh gertak sambal orang-orang Sian- hong-hu yang berilmu silat tinggi, karenanya terpaksa mereka beralasan perahunya sudah disewa orang"

"Lantas darimana kau bisa mengetahui, kejadian  ini semakin jelasnya?" tanya kakek latah awet muda.

"Anak buah hamba banyak yang bekerja sebagai kuli kasar diperahu, oleh karena itulah Boanpwee mengetahui dengan jelas, bahkan sebagian besar telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana orang-orang Sian hong-hu menggertak pemilik-pemilik perahu itu, dengan demikian boanpwee pun dapat mengetahui keadaan tersebut dengan sejelas-jelasnya"

"Keluarga Nyoo tersebut betul-betul keluarga telur busuk" umpat kakek latah awet muda penuh rasa geram.

"Ban tua, berbicara sesungguhnya Nyoo Thian wi adalah orang baik," pengemis sinting segera berkata sambil tertawa, "cuma sayang orang yang baik hatinya selalu diberkahi usia yang pendek. Wan-sin-seng-siu (kakek suci berhati  mulia) telah menjadi kakek mampus"

"Yaaa..." sambung oh Put Kui sambil menghela  napas, "siapa yang  mengira kalau keturunannya justru menjadi seorang manusia lalim yang tidak tahu diri."

"Huuh, kentut anjing" seru kakek latah awet muda sambil tertawa dingin, "siapa bilang dia  kakek suci berhati mulia? Seandainya Nyoo Thian-wi betul-betul berhati mulia, mau apa dia berdiam di ibu kota? Saban hari mengandaikan hubungannya dengan pembesar kerajaan ching untuk berbuat semena-mena dimana-mana masih berani  memakai gelar berhati mulia? Huuuh, mau muntah rasaku setelah mendengar kata-kata tersebut."

Satu ingatan segera melintas di dalam benak oh Put Kuisesudah mendengar perkataan itu.

Sebaliknya pengemis  sinting segera berkata  sambil  tertawa

:

"Ban  lopek,  siapa  tahu  kalau   Nyoo  Thian-wi  mempunyai

maksud tujuan yang lain?"

"Aaah, kau cuma tahu berkentut," seru kakek latah awet muda sambil tertawa dingin lagi, "seandainya Nyoo Ban-wi betul-betul seorang lelaki berhati mulia dan  bijaksana, mengapa dia tak pernah mengadakan hubungan dengan si tamu baju putih Ibun Hau?" Seketika itu juga pengemis sinting  dibuat  terbungkam dalam seribu bahasa oleh ucapan kakek latah tersebut.

Yaa, berbicara yang sebenarnya, mengapa si kakek suci berhati mulia Nyoo Thian-wi tak  pernah  mengadakan hubungan dan pergaulan dengan orang orang dari golongan lurus?

Bukan begitu saja, bisa dipikirkan kembali, Nyoo Thian wi malahan tak pernah berhubungan pula dengan orang  orang dari istana ceng-thian ciangkun yang berada di ibu kota.

Bukankah kejadian ini aneh sekali ?

Kali ini, sipengemis sinting benar benar dibuat "sinting" oleh kejadian tersebut.

Sebaliknya oh Put- kui yang menjumpai pengemis sinting segera dibuat terbungkam dengan kening berkerut setelah mendengar perkataan tersebut menjadi terCengang dan keheranan.

Dia tak mengerti, mengapa Nyoo Thian  wi tak dapat dianggap seorang lelaki setia yang mulia dan  bijaksana  karena dia tak mempunyai hubungan dengan si tamu  baju putih Ibun Hau. Apakah si tamu baju putih Ibun Hau melambangkan sesuatu? Pikir punya pikir, akhirnya  dia  tak bisa menahan diri lagi dan segera  bertanya: "Ban  tua, siapa sih ibun Hau tersebut?"

oh Put Kui hanya tahu sitamu baju putih ibun Hau serta kakek bayangan semu berbaju  hijau Samwan To  disebut  orang sebagai Sepasang kakek sakti dari Thian-tok  dan berdiam di puncak Thian-tok- hong bukit Hang san.

Dan lagi diapun tahu kalau kedua orang ini memiliki ilmu silat yang betul-betul sangat lihay.

Selain itu, dia boleh dibilang tidak mengetahui apa- apa.

Mendengar pertanyaannya itu, tiba tiba saja kakek latah awet muda berkata sambil tertawa aneh : "Bocah muda, apakah sampai sekarang suhu  dan  susiokmu belum pernah menyinggung soal kedua orang kakek ini dihadapanmu? Tampaknya gurumu itupun orang bodoh."

"Belum pernah  suhu membicarakan masalah asal usul tokoh persilatan dengan boanpwee" kata oh Put Kui sambil tertawa.

"Beginipun ada baiknya juga, dari pada kau  menaruh hormat kepada orang lain setelah kau mengetahui asal usul mereka, bukan begitu?" ucap kakek latah sambil menggelengkan kepalanya berulang kali, "aaaai,  muridnya saja begitu latah, apalagi gurunya..."

oh Put Kui segera tertawa geli:

"Suhu enggan membicarakan asal usul tokoh persilatan dengan boanpwee, hal ini dikarenakan suhu tak  ingin boanpwee terlibat didalam urusan budi dan dendam  orang- orang persilatan-"

"Tapi benarkah begitu? Bagaimana buktinya sekarang?

Bukankah kaupun terlibat juga?"

"Walaupun boanpwe terlibat juga, namun hal ini muncul karena kemauan boanpwee sendiri," kata oh Put Kui sambil menghela napas. Kontan saja kakek latah  awet  muda mendelik besar :

"Mana mungkin ada orang melibatkan diri dalam urusan dunia persilatan karena kemauan sendiri? Hey anak muda, kadangkala kau kelihatan amat pintar dan  hebat,  mengapa  ada kalanya justru begitu pikun dan sangat bodoh?"

Kemudian setelah berhenti sejenak, kakek itu berkata lebih jauh dengan wajah bersungguh-sungguh : "Nah anak muda, dengarkan baik-baik..."

Melihat sikap tersebut oh Put Kui segera tertawa :

Jarang sekali dia  melihat si kakek latah  awet muda ini berbicara dengan wajah begitu serius, sehingga nampaknya sekarang ia sangat lucu dan menggelikan hati. "Boanpwee akan mendengarkan dengan seksama" sahutnya dengan cepat.

Kakek latah awet muda mengangkat kepalanya dan menghela napas panjang, kemudian ujarnya dengan  suara pelan :

"Anak muda, si tamu baju putih ibun Hau adalah Kaisar dari dinasti yang lalu"

oh Put Kui benar-benar sudah menyangka akan persoalan

ini.

Semenjak ia mengunjungi Permaisuri Thian-hiang, ia sudah

mengetahui bahwa banyak sekali umat persilatan yang bercita-cita hendak menegakkan kembali kejayaan serta kekuasaan dinasti yang lampau.

oleh sebab itulah dia  sudah menduga kalau ibun Hau adalah seorang tokoh silat dari golongan tersebut.

"Ban tua, bagaimana sih kedudukan lojin ini didalampemerintahan dinasti yang lalu?"

Menurut dugaan oh Put Kui si tamu baju putih ibun Hau tentu seorang menter atau pembesar kerajaan.

Namun jawaban dari Kakek latah awet muda justru membUatnya sangat tercengang :

"Anak muda, ibun Hau tidak lebih cuma seorang penyusun naskah kuno dari gedung Han-lim-wan"

"Lantas yang satunya lagi?" tanya oh Put- kui  dengan  kening berkerut kencang.

"Siapa yang kau maksudkan? Kalau tanya, bertanyalah dengan jelas..." kata Kakek latah sambil tertawa.

"Boanpwee maksudkan Samwan lojin tersebut."

"Ooh, kau maksudkan si kakek bayangan semu baju hijau Samwan To...?"

"Betul" "Samwan To adalah teman membaca dari Kaisar Hun- tiong-liat..."

Sekarang oh Put-kui baru paham, ternyata  sepasang manusia sakti dari Thian tok ini tidak memiliki kedudukan yang tinggi, tapi justru merupakan seorang kawan dekat kaisar.

Tak heran kalau kakek latah awet muda menuduh Nyoo Thian-wi sebagai kurang "bijaksana dan setia" lantaran dia  tidak mempunyai hubungan dengan si tamu baju putih ibun Hau.

Ini berarti hanya manusia sebangsa ibun Hau saja baru pantas menyandang gelar "bijaksana dan setia".

Sambil tertawa hambar oh Put- kui segera berkata :

"Kalau begitu, Nyoo Thian-wi benar- benar seorang manusia yang patut dicugigai." Kakek latah awet muda tertawa terbahak-bahak:

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh..., soal mencurigakan atau tidak merupakan satu persoalan yang lain, sekarang orangnya sudah mati, pada hakekatnya tak mungkin bisa diselidiki kembali, cuma yang paling menggemaskan adalah aku sudah hidup terkurung selama sepuluh tahun lebih di loteng tingkat dua, kalau tidak..."

Mendadak dia seperti teringat akan sesuatu, sambil melompat bangun segera serunya. "Habis  sudah  riwayatku, aku sudah terkena siasat busuk dari Kit Put-sia"

"Kau orang tua terkena siasat busuk macam apa dari Kit Put-sia...?" tanya oh Put=kui terkejut.

Sambil memukul dada sendiri  saking  mendongkolnya, kakek latah awet muda berkata :

"Seandainya aku tidak terkurung selama dua puluh tahun, asal usul dari Nyoo Thian-wi sudah pasti telah  berhasil kuselidiki... tapi akhirnya, aaaai... hanya disebabkan dorongan emosi saat muda, aku dibuat tak karuan jadinya..." "Jadi semenjak dua puluhan tahun berselang kau orang tua sudah menaruh curiga terhadap Nyoo Thian-wi?" satu ingatan segera melintas da lam benak oh Put- kui. Kakek latah awet muda tertawa dingin:

"Nyoo Thian-wi berusaha menarik simpatik umat persilatan dengan menggunakan budi yang kecil. Didepan mata  orang lain, memang dia pantas disebut kakek suci, tapi dalam pandanganku justru tak ada harganya seperti kentut anjing. Coba bayangkan, kapan dia pernah memotong batok kepala gembong iblis atau pembunuh keji mana pun dari persilatan?"

"Ban tua bukankah dia pernah membunuh seorang  gembong iblis yang bernama Raja Setan Penggetar Langit?"

"Anak muda, seandainya pada empat puluh  tahun berselang Nyo Thain-wi pernah  melenyapkan Raja Setan Penggetar Langit, mengapa empat puluh tahun kemudian kau justru telah berjumpa lagi dengan Raja Setan  Penggetar Langit di perkampungan Siu-ning-ceng? Mungkinkah orang itu gadungan? Kalau tidak, bukankah orang yang terbunuh pada empat puluh tahun berselang adalah gadungan?"

Pertanyaan yang diajukan oleh kakek latah tersebut kontan saja membuat oh Put Kui menjadi tertegun.

Peristiwa semacam ini memang belum pernah dibayangkan sebelumnya... Mendadak kakek latah awet muda berteriak kembali dengan suara yang keras : "Anak muda, apakah kau sudah mengerti?"

"Masih belum begitu mengerti"

"Tidak begitu mengerti?" kakek latah awet muda berkerut kening, "jadi kau tidak percaya dengan dugaanku ini?"

"Aah, masa boanpwee berani tak percaya?  cuma  masih ada banyak hal yang sangat mencurigakan. "

"Tentu saja. kalau masih tiada kecurigaan, masa aku berani mengatakan hanya dugaan?" oh Put Kui merasa apa yang dikatakan memang  merupakan suatu perkataan yang Sejujurnya.

Sekalipun demikian, dimulut dia berkata juga :

"Ban tua, bila dibicarakan menurut keadaan didepan mata, Nyoo Thian-wi yang sudah mati sudah tentu tak  perlu  kita urusi lagi, tapi paling tidak keturunan dari Nyoo Thian-wi telah menunjukkan perlakuan yang salah dan melakukan perbuatan jahat."

"Bagaimana kalau kita kuntil mereka?" kata kakek latah awet muda sambil manggut-manggut.

"Menguntit mereka?" Oh put-kui tertegun, "tapi Boanpwee hendak pergi ke Lam-cong."

"Anak muda. paling tidak kita harus membuat jelas duduk persoalan tentang kapal-kapal yang disegel di Kang-Ciu ini sebelum pergi."

Kemudian tanpa memperdulikan Oh Put-kui lagi, ia segera berpaling ke arah si Ular Aneh Wan-sam sambil membentak, "Tahukah kau apa sebabnya orang she Nyo itu menyegel semua perahu yang ada disini?"

"Boanpwee dengar, hal ini  sengaja dilakukan  karena hendak menghadapi perkumpulan Pay-kau." Jawab Wan-sam perlahan, jangankan bersuara keras, mau menghembuskan napas keras-keras pun tak berani.

"Hahaha, perselisihan apa yang telah terjadi antara pihak Sian-Hong hu dengan Pay-kau?"

"Menurut laporan yang boanpwee terima, persoalan ini timbul karena perselisihan murid pertama ketua Pay-kau yang disebut si Tamu Tanpa Bayangan penghancur hati Ciu It-Cing dengan majikan muda dari Sian-Hing hu, Nyo Ban-bu."

Mendengar perkataan itu, diam-diam Oh Put Kui terkesiap.

Padahal antara Ciu It-cing dan Nyo Ban-Bu tidak terjadi sesuatu perselisihan yang terlau besar ketika berada dalam perkampungan Siu-ning-ceng, tapi kenyataan Nyoo Ban-bu begitu menaruh dendam sehingga tidak segan-segan melakukan tindakan pembalasan secara besar-besaran, ini berarti dibalik kesemuanya itu sudah pasti masih  terselip hal- hal lain yang luar biasa. Sementara itu kakek latah awet muda telah berkata sambil tertawa tergelak : "Wan Sam, apakah markas besar perkumpulan Pay Kau berada di Seng- ciu...?"

"Benar, berada di Seng- ciu"

"Sungguh aneh sekali, mengapa orang she Nyoo itu justru menyegel semua kapal yang berada di Kang ciu?"

"Sebab Kaucu dari Pey-kau sudah berada di Kang ciu sekarang" sahut Wan Sam sambil tertawa.

Kakek latah awet muda kontan saja tertawa tergelak : "Haaahhh... haaahh... haaahh...jadi Li cing-siu pun sudah

datang ke Kang ciu? Kalau begitu tak ada yang aneh lagi Wan Sam, tahukah kau mengapa Li cing siu bisa datang  ke  Kang ciu ini?"

Kelihatan sekali kalau Wan Sam banyak tahu tentang persoalan dunia persilatan, dari sini dapat dibuktikan betapa tajamnya pendengaran dari orang-orang Kay pang, mungkin jauh melebihi perkumpUlan manapun juga.

Baru selesai si kakek latah awet muda berkata, Wan Sam telah menyahut sambil tertawa:

"Li KaucU datang  kemari berhubung  sejumlah barang kiriman telah ditahan orang secara paksa, karenanya dia khusus datang sendiri untuk menyelesaikan persoalan tersebut."

Baru selesai Wan Sam berkata, si Pengemis pikun dengan kening berkerut telah menggeleng sambil berkata:  " Wan- tongcu, siapa yang punya nyali sedemikian besarnya hingga berani membegal barang milik Pay-Kau?"

"Betul" kata Kakek latah pula. "Siapa yang begitu bernyali sehingga berani mengusik Li Cing-Siu?" @oodwoo@
Terima Kasih buat para gan / ganwati yang telah meningglakan opininya di kolom komentar :). Sekarang ada penambahan fitur "Recent comment"yang berada dibawah kolom komentar, singkatnya agan2 dapat melihat komentar terbaru dari pembaca lain dari fitur tersebut. Semoga membantu :).