Misteri Pulau Neraka (Ta Xia Hu Pu Qui) Jilid 26

 
Jilid 26

"Buat apa  aku mesti turun tangan terhadap  seorang angkatan muda ?" Sik Keng-seng balik bertanya dengan sorot mata berkilat.

"Lantas dimanakah bocah itu sekarang ?"

"Aku telah mengutus orang  untuk  menghantarnya  pulang ke markas besar perkumpulanmu!"

Tiba-tiba saja paras muka Li Ceng-siu berubah  hebat setelah mendengar perkataan itu, serunya tanpa terasa :

"Kau telah menghantarnya pulang ke Seng-ciu?"

"Bila tidak percaya, kau akan mengetahui sendiri setibanya dirumah nanti. " Belum habis ia berkata,  Li Ceng-siu telah membentak dengan penuh amarah:

"Kau benar-benar telur busuk !"

Umpatan tersebut kontan  saja membuat Sik Keng-seng menjadi tertegun dan melongo, pikirnya kemudian :

"Li Ceng-siu benar-benar seorang telur busuk tua. "

Belum habis ingatan tersebut melintas lewat, tiba-tiba sesosok bayangan manusia telah  melintas  lewat dihadapannya, hal ini membuat hatinya amat terkejut.

Bentakan gusar dan gelak tertawa keras segera bergema silih berganti.

oOdwOooOdwOooOdwOooo0dw0oOdwOooOdwOooOdw

Ooo

Oh Put Kui yang menyaksikan kejadian tersebut segera memancarkan sinar matanya yang  tajam untuk  mengikuti semua gerakan tersebut.

Ternyata Li Cing-siu telah mempergunakan gerakan tubuhnya yang paling hebat untuk menyambar ruyung Mu-ni- pian tersebut dari tangan Sik Keng-seng.

Sedemikian cepat dan hebatnya gerakan tersebut, sampai- sampai dia tak sempat melihat dengan jelas gerakan apakah yang telah dipergunakan oleh Li Ceng-siu itu.

Pada saat itulah, dia mendengar Kakek latah awet muda berbisik:

"Hey anak muda, apakah kau merasa terkejut?"

"Ban-tua, boanpwe benar-benar merasa kagum atas kelihayan tenaga dalam yang dimiliki Li Kaucu  ini!"  bisik Oh Put Kui dengan menggunakan ilmu  menyampaikan  suara pula. "Tentu saja, ilmu silat yang dimiliki Li Kaucu ini sudah tidak berada dibawah tiga kakek iblis dari dunia persilatan, bagaimana mungkin kau tidak merasa kagum?"

"Ban tua, siapa sih yang kau maksudkan sebagai tiga  kakek iblis dari dunia persilatan itu?" tanya Oh Put Kui dengan perasaan tidak habis mengerti.

"Ooh, julukan itu mah pemberianku sendiri untuk mereka bertiga, ketiga manusia itu adalah kakek setan berhati cacad Siau Lun, Kakek patah hati Hui Lok  dan  kakek pengejut manusia Siau Hian!"

"Boanpwe rasa tidak mungkin, kakek Ban terlalu menilai tinggi kemampuan dari Li Kaucu itu," seru Oh Put Kui terkejut bercampur keheranan.

"Kalau kau tidak percaya anak muda, sebentar saksikan sendiri!"

Sementara pembicaraan berlangsung sampai disitu, dalam arena kembali telah terjadi perubahan.

Rupanya Sik Keng-seng telah mengayunkan telapak tangannya dan melepaskan sebuah serangan dahsyat kearah Li Cing-siu.

"Li Cing-siu!" terdengar ia berkaok-kaok, "sebetulnya aku tidak berniat membunuhmu, tapi kalau toh kau ingin mencari mampus, terpaksa aku harus memenuhi keinginanmu itu "

Angin pukulan yang  menderu deru dengan membawa kekuatan yang sangat dahsyat segera menggulung kedepan.

Li Ceng-siu kembali tertawa nyaring: "Haaaahh.....haaaahhhh..... Sik Keng-seng, kali ini tiba

giliranmu yang sedang bermimpi!"

Tubuhnya segera miring kesamping buat menghindari serangan dahsyat  dari Sik Keng-seng, kemudian tangan kirinya berputar dan melilitkan ruyung penakluk iblis tersebut keatas pinggangnya. Setelah itu dia baru berkata lagi sambil tertawa:

"Sik Keng-seng, selama hidup kerja adalah berburu burung manyar, memangnya kau anggap mataku mudah dipatuk oleh burung manyar semacam dirimu itu? Kalau sampai begitu, apakah orang persilatan tak akan mentertawakan aku sampai copot giginya?"

Setelah serangannya mengenai  sasaran yang kosong, sekali lagi paras muka Sik Keng-seng berubah hebat.

Bagaimanapun juga dia tak menyangka kalau Li Cing-siu adalah seorang jago yang  memiliki ilmu silat jauh diluar perhitungannya semula.....

"Li Cing-siu, aku telah menilaimu terlalu rendah. "

teriaknya.

Sambil berkata, sebuah pukulan dahsyat sekali lagi dilontarkan kemuka.

Berkilat sepasang mata Li Cing-siu menghadapi kejadian tersebut, tiba-tiba  dia tertawa nyaring, kemudian   tangan  kirinya diayunkan kemuka untuk menyambut datangnya serangan dahsyat dari Sik Keng-seng itu, sementara tangan kirinya dibalik dan  tiba-tiba menekan kebawah,  bentaknya keras:

"Sik Keng-seng, coba kaupun rasakan kelihayan dari ilmu pukulan penghancur bukitku ini!"

Angin pukulan yang menderu-deru dan amat memekikan telinga segera meluncur ketengah udara.

Sik Keng-seng terkesiap sekali, sekuat tenaga dia melompat mundur sejauh satu lima depa sambil berseru:

"Kau... kau bukan Li Cing-siu ?"

Agaknya perkataan "ilmu pukulan penghancur bukit" telah memecahkan nyalinya.

Secara tiba-tiba saja dia teringat akan seorang  gembong iblis yang mempunyai kedudukan  dan  nama besar jauh melebihi dirinya, sudah barang tentu ia tak berani menerima serangan tersebut dengan keras melawan keras.

Disamping itu, diapun tak tahan segera membentak.......

Li Ceng-siu tertawa seram:

"Sik Keng-seng, tentang keahlianmu dalam ilmu menyaru muka sudah lama kudengar, tapi bila kau ingin mengandalkan sedikit kepandaianmu itu untuk bermain gila dihadapanku, maka kau masih ketinggalan jauh sekali, sekalipun aku bukan cikal bakalnya penemu ilmu menyaru muka, namun  dalam dunia persilatan saat ini, aku masih pantas  disebut  rajanya  raja ilmu menyaru muka...... Hmmm, kalau manusia  macam kau mah belum pantas memusuhi diriku, bahkan menjadi cucu muridkupun belum pantas "

Kata-kata tersebut amat sombong dan tekebur, seakan  akan dia tidak memandang sebelah matapun terhadap orang lain.

Oh Put Kui tidak kenal dengan manusia itu, sudah barang tentu diapun tidak mengetahui apakah kata-kata itu kelewat tekebur atau memang demikianlah sesungguhnya.

Berbeda sekali dengan Sik Keng-seng, dia justru kenal baik dengan orang itu.

Dari nada pembicaraan Li Cing-siu tadi, ia sudah menduga siapa gerangan lawannya ini.

"Bukankah kau adalah kakek penggetar langit Siau Hian?" sapanya kemudian.

Kalau tadi sikap Sik Keng-seng begitu  sombong dan tekebur, maka saat ini semua keangkuhannya telah hilang lenyap tak berbekas, sebagai gantinya dia tampak munduk- munduk dan patut dikasihani.

Manusia yang nampaknya sedang menyaru sebagai Li Cing-siu, ketua Pay-kau ini segera mengernyitkan  alis matanya yang putih dan tertawa terbahak bahak: "Haaaahhhh..... haaahhhh.... haaahhhh.....  tak nyana kau manusia she Sik masih tahu diri, hanya sayangnya ruyung mestika Mu-ni-ciang-mo-pian ini sudah terjatuh  ketanganku, jadi terpaksa kau hanya bisa menggigit jari saja "

Pelan-pelan Sik Keng-seng bangkit berdiri, lalu ujarnya sambil tersenyum:

"Kalau toh kau orang tua sudah datang, apalagi yang dapat boanpwe katakan?"

Kemudian setelah berhenti  sejenak, sambil  menjura katanya pula:

"Siau tua, setelah ruyung mestika itu kau dapatkan, boanpwe tak berani berangan-angan lagi. "

"Seharusnya kau sudah tahu diri sedari tadi!" bentak kakek penggetar langit Siau Hian dengan marah.

Meskipun Sik Keng-seng merasa terkejut, namun  dia berkata juga sambil tersenyum:

"Kalau semenjak tadi boanpwe sudah tahu akan kehadiran cianpwe, tentu saja boanpwe tak akan berani mencampuri urusan ini lagi, Siau tua, sekarang kau telah memperoleh ruyung mestika itu,  bagaimana  kalau boanpwe mohon diri lebih dahulu?"

Sikap maupun caranya berbicara makin lama semakin mengenaskan sehingga patut dikasihani.

Oh Put Kuipun sama sekali tidak menyangka kalau pengaruh dari Kakek penggetar langit ini tidak berada dibawah pengaruh kakek setan berhati cacad Siau Lun serta  kakek patah hati.

Tidak heran kalau kakek latah awet muda menyebut  mereka bertiga sebagai tiga kakek iblis dari dunia persilatan.

Sementara itu kakek penggetar langit Siau Hian  telah berkata lagi dengan suara dalam: "Sik Keng-seng, bila kau ingin pergi, akupun tidak berusaha menghalangimu, tapi aku perlu memberitahukan satu hal kepadamu, andaikata didalam dunia persilatan ada   orang yang mengetahui bahwa ruyung tersebut berada ditanganku, haaaahhh.... haaahhhh.... haaahhhh... Sik Keng-seng, sampai waktunya aku percaya kau tentu mengetahui apa yang bakal kuperbuat terhadap dirimu. "

Sik Keng-seng benar-benar merasa terkejut sekali oleh perkataan tersebut.

"Siauw tua, tentang persoalan ini boanpwe tak berani bertanggung jawab, apalagi orang yang  menyaksikan  peristiwa ini paling tidak ada lima ratus  orang  lebih, seandainya ada diantara mereka yang membocorkan rahasia ini, bukankah aku yang harus menanggung resikonya. ?"

"Kau tidak usah kuatir," kakek penggetar langit Siau Hian tertawa dingin, "tak seorangpun diantara mereka yang hadir dalam arena sekarang mempunyai kesempatan untuk membocorkan rahasia ini."

"Haaahhh.... haaahhhh.... haaaahhhh....  maksudmu, kau hendak membantai mereka semua sampai habis?" tanya Sik Keng-seng dengan mata berkilat tajam.

"Anggap saja kau memang pandai, dugaanmu memang tepat sekali. "

Gelak tertawa yang keras itu segera menyadarkan kembali Leng ho cinjin Cu Kong-to yang  selama  ini  dibikin kebingungan dan tak tahu apa yang telah terjadi itu.

Manusia memang mempunyai firasat yang tajam terhadap setiap ancaman kematian.

"Haaahhh..... haaaahhhh Cu Kong-to, seandainya aku benar-benar menjadi ketua kalian, mungkin Pay-kau sudah mempunyai kedudukan jauh diatas lima partai  besar dan termashur diseluruh dunia persilatan. " Kemudian setelah berhenti sejenak dan mengalihkan pandangannya ke wajah ratusan orang pekerja yang masih bekerja memotongi kayu itu, dia berkata lagi sambil tertawa seram:

"Celakanya aku hanya bersedia menyaru selama sehari setengah, tapi hitung-hitung akupun telah membantu kalian untuk melenyapkan tiga orang musuh tangguh dari Tibet sehingga menghindarkan  perkumpulan  kalian  dari kemusnahan, bila beratus lembar jiwa kalian kutuntut sebagai pembayarannya, toh transaksi perdagangan  ini masih tetap meenguntungkan pihakmu?"

Semakin mendengarkan pembicaraan tersebut, Cu Kong to merasa hatinya semakin tak karuan, akhirnya dia membentak gusar lalu sambil menayunkan pedangnya menuding Kakek penggetar langit, teriaknya keras keras :

"Siau Hian, orang lain mungkin tidak takut kepadamu, tapi pinto tak akan takut menghadapimu, tinggalkan ruyung Mu-ni- ciang-mo pian itu, memandang pada nama besarmu dimasa silam, pinto bersedia melepaskan kau pergi dari sini."

Sekalipun orang ini berbicara dengan nada sungguh- sungguh dan  sejujurnya, namun Oh Put Kui yang ikut mendengarkan perkataan itu hampir saja tertawa tergelak saking gelinya.

Tentu saja Kakek penggetar langit Siauw  Hian  lebih-lebih tak sanggup menahan rasa gelinya,  dia   segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak:

"Haaahhh... haaahhh... haaah... Cu Kong to, kalau ingin berbicara, coba kencing dulu dan  gunakan air  kencingmu untuk bercermin, sekarang ruyung Mu-ni-ciang mo pian telah berada ditanganku, bila kau ingin menahannya, itu mah gampang sekali, aku akan meletakkan ruyung tersebut  satu kaki dihadapanku, bila kau mampu mendapatkannya, aku segera akan tepuk pantat dan angkat kaki dari sini, bagaimana?" Walaupun Cu Kong to dipaksa oleh keadaan  sehingga  mesti mengucapkan kata-kata yang kaku tadi, namun sesungguhnya dia  cukup mengerti tentang keadaan yang sebenarnya.

Bila sungguh sungguh bertarung mungkin Kakek penggetar langit hanya cukup membutuhkan lima gebrakan saja untuk menghabisi selembar jiwanya.

Tapi diapun tidak mengira kalau Kakek penggetar  langit Siau Hian justru berbuat  begitu tekebur dengan memberi kesempatan semacam ini kepadanya, sudah barang tentu dia tak akan melepaskan kesempatan yang sangat  baik  itu dengan begitu saja.

"Baik, baik, pinto sangat setuju dengan usulmu itu," seru Cu Kong-to kemudian dengan lantang.

Kakek penggetar langit Siau Hian tertawa terbahak-bahak, dia segera melepaskan kembali ruyung Mu-ni-pian yang hitam pekat tanpa sesuatu keistimewaan itu, kemudian betul-betul diletakkan pada jarak satu kaki dari hadapannya.

Kemudian diapun berseru:

"Nah Cu Kong-to, sekarang kau boleh mencobanya!"

Pelan pelan Leng-co cinjin Cu Kong-to mengalihkan sorot matanya dan memandang sekejap ke sekeliling tempat itu, tiba-tiba saja dia merasa bahwa tanggung jawab yang diletakkan diatas bahunya benar-benar amat berat, sebab lima ratusan lembar jiwa telah berada dalam cengkeramannya dan tergantung hasil pertaruhan ini.

Diam-diam ia bertekad untuk  mendapatkan  ruyung tersebut, entah dengan cara apapun.

Oleh sebab itu begitu Kakek penggetar langit selesai berkata, dia sama sekali tidak turun tangan segera.

Melihat itu, Kakek penggetar langit segera berseru sambil tertawa seram: "Cu Kong-to, aku tidak mempunyai cukup waktu untuk menantimu...!"

Cu Kong-to cukup sadar, berhasil atau gagal semua tergantung pada tindakan yang bakal dilakukannya nanti.

Dia menjadi nekad, sambil berpekik nyaring tiba-tiba saja tubuhnya melejit kemuka dan menerjang ke arah ruyung Mu ni ciang mo pian tersebut.

Ketika tangannya hampir menyentuh ujung ruyung tersebut, tiba-tiba saja pandangan matanya menjadi silau, dan ruung Mu-ni-pian tersebut telah melayang kearah tangan Siau Hian.

Menyaksikan keadaan ini, Cu Kong-to menghela napas panjang dan segera menghentikan langkahnya.

Dengan cepat dia meloloskan pedangnya dan siap digorokkan ke leher sendiri untuk mengakhiri hidupnya...

Tapi... pada saat itu pula terdengar Siau Hian sedang membentak penuh amarah:

"Siapa yang berani bermain setan dihadapanku?"

Dengan perasaan terkejut Cu Kong to segera berpaling kearah mana berasalnya suara itu.

Ternyata ruyung Mu-ni-pian tersebut telah terhenti  di tengah udara dan sama sekali tak berkutik lagi.

Sebaliknya Kakek penggetar langit  Siau Hian  dengan rambut berdiri kaku  seperti landak sedang menggerakkan tangannya berulang kali untuk menangkap kembali ruyung itu.

Sayang sekali, bagaimana pun dia telah berusaha untuk menangkap ruyung itu, nyatanya ruyung tersebut sama sekali tidak bergerak.

Sekulum senyuman dengan  cepat menghiasi wajah Cu Kong to, dia tahu disitu telah hadir kembali seorang jago yang amat lihay. Pada saat itulah dari balik tumpukan kayu berjalan keluar tiga sosok bayangan manusia.

Kakek latah awet muda berjalan  ditengah Oh Put Kui disebelah kanan dan pengemis sinting berada disebelah kiri.

Dari ketiga orang itu, ternyata tak seorang pun diantara mereka yang menggerakkan tangannya.

Sekalipun begitu, nyatanya ruyung itu  masih tetap  terhenti di tengah udara seakan akan terhisap oleh sesuatu kekuatan yang amat besar, kendati pun Kakek penggetar  langit  Siau Hian telah berusaha menghisapnya kembali dengan mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya, namun ruyung itu masih tetap tak berkutik dari posisi semula.

Begitu munculkan diri, dengan langkah lebar Oh Put Kui segera berjalan menghampiri ruyung mestika tersebut.

Kemudian sambil berpaling ke arah Siau Hian, katanya sambil tertawa lebar:

"Siau lojin, bagaimana kalau kuwakilimu untuk mengambil kembali ruyung ini?"

Kemudian tanpa  menanti jawaban dari Siau Hian, dia rentangkan sepasang lengannya melejit dua kaki ke udara, kemudian tangan kanannya cepat menyambar ruyung Mu-ni- pian tersebut dan melayang turun kembali ke atas tanah.

Pada saat inilah Kakek penggetar langit Siau Hian merasakan tenaga murni yang dipancarkan olehnya seakakn- akan kena digempur oleh guntur yang maha  dahsyat, andaikata reaksinya tidak cepat, hampir saja dia tak mampu untuk berdiri.

Tentu saja Siau Hian  merasa terkejutnya bukan alang kepalang...

Namun ketika dia melihat jelas siapa gerangan kakek berambut putih itu, semua amarah dan rasa kagetnya seketika hilang lenyap seperti terhembus angin lembut. Malahan sambil menjura dia berkata sungkan-sungkan:

"Ooh, rupangan Ban tua pun ikut datang Siau Hian benar benar punya mata tak mengenali bukit Thay san!"

Setelah berpaling pula ke arah Oh Put Kui, kembali dia berkata:

"Saudara cilik, atas budi kebaikanmu ketika berada dalam kuil Thay siang-kok-si tempo hari, kuucapkan  pula banyak terima kasih..."

Kakek latah awet muda tertawa  terbahak-bahak. "Haaahhh... haaahhh... haaahhh... Siau Hian,

kepandaianmu yang  biasanya menggetarkan langit, menggemparkan bumi, kali ini benar benar sudah ketanggor batunya."

"Selama berada dihadapan kau orang tua, mana mungkin Siau Hian masih mempunyai tempat?" sahut Siauw  Hian sambil tertawa paksa, : bukan cuma ketanggor batunya saja, sekalipun kau orang tua menghendaki selembar nyawa aku orang she Siau pun, apa pula yang berani kukatakan?"

Ditinjau dari nada pembicaraannya, orang ini benar-benar lebih rendah dan tak tahu malu ketimbang Sik Keng-seng tadi

Kakek latah awet muda segera tertawa tergelak:

"Siau Hian, apakah kau masih menginginkan  ruyung mestika ini?"

"Tentu saja masih..." jawab Siau Hian tanpa sadar.

Tapi begitu ucapan tersebut diutarakan, ia segera menyadari akan kesalahannya.

Kontan saja Kakek latah awet muda tertawa keras: "Siau Hian, beginikah caramu berbicara denganku?"

Cepat-cepat Siau Hian menggelengkan kepalanya berulang kali, lalu ujarnya: "Aku hanya salah berbicara... harap Ban tua  memaafkan, aku ... aku tak ingin mendapatkan ruyung itu lagi..."

"Nah, begitu baru bagus..." seru kakek latah sambil tertawa dalam.

Sementara itu Oh Put Kui telah menekuk ruyung itu  menjadi tiga bagian dan diserahkan kepada pengemis sinting, kemudian dia menyela:

"Siau lojin, bagaimana dengan kelima ratus lembar jiwa dari orang-orang Pay-kau?"

"Ruyung mestika saja sudah tidak  kumaui, tentu  saja transaksi perdagangan ini kuanggap batal." sahut Siau Hian sambil tertawa.

Oh Put Kui segera manggut-manggut:

"Ehmm, Siau tua memang tidak  malu disebut seorang gembong iblis yang perkasa."

"Harap Oh sauhiap jangan mentertawakan..." Siau Hian mengernyitkan alis matanya.

Oh Put Kui tertawa hambar, kembali ujarnya:

"Siau lojin, kau bisa datang dengan menyamar sebagai ketua Pay-kau Li Cing siu, tolong tanya Li Cing-siu pribadi berada di mana sekarang..."

"Di Seng-ciu!"

"Kau telah melukainya?" tanya Oh Put Kui terkejut.

"Tidak, aku hanya menotok jalan darah tidurnya, agar dia bisa beristirahat sehari penuh!"

Oh Put Kui baru merasa berlega hati setelah mendengar jawaban tersebut.

Sebaliknya Kakek latah awet muda segera  membentak pula Siau Hian, mengapa secara tiba-tiba  kau menyamar  sebagai ketua Pay-kau? Apakah kau sudah mengetahui kalau ruyung Mu ni pian tersebut memang disembunyikan orang didalam balok kayu?"

"Benar, sekalipun boanpwee mengetahui akan hal  ini... cuma kurang jelas!"

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... betul dengan menyamar sebagai kaucu dari Pay-kau, tentunya kau berniat hendak mengorek keterangan dari tiga pendeta asing itu bukan?"  tanya Kakek latah sambil tertawa tergelak.

"Benar."

"Lantas siapa yang memberitahukan soal ini kepadamu?" "Wi Thian-yang!"

"Siapa?" Oh Put Kui ikut  bertanya  dengan  perasaan terperanjat.

"Oh lote, tentunya kau pernah mendengar tentang Raja setan penggetar langit Wi Thian Yang bukan? Aku telah bertemu dengannya dibukit Hu gou-san dan   ia memberitahukan soal ini kepadaku cuma saja Wi Thian-yang sendiripun tidak begitu jelas, dia hanya bilang dibalik  kayu kayu yang dikirim pihak Pay-kau terdapat salah satu diantara tujuh mestika dunia persilatan, dan  mestika tersebut telah diketahui pendeta pendeta dari Tibet yang sedang mengatur penghadangan di kota Kang-ciu, dia minta kepadaku untuk menyaru sebagai Li Cing-siu dan mencoba adu untung."

Mendengar keterangan tersebut, Kakek latah awet muda segera tertawa tergelak:

"Nyatanya kau benar-benar telah datang, cuma...  Siau Hian, akhir dari peristiwa ini ternyata jauh diluar dugaanmu, apakah kau tidak merasa bahwa kejadian ini sangat merusak pemandangan?"

Siau Hian tertawa getir: "Aku orang she Siau memang tidak menyangka kalau kau orang tua bakal ikut serta didalam persoalan ini, semestinya dengan aku menyaru sebagai Li Cing-siu, maka setelah ketiga pendeta dari See-ih itu dibekuk, yang tertinggal hanya penyelesaian soal urusan dalam perkumpulan Pay-kau saja, seharusnya kau orang tuapun tak akan menyusulku sampai di sini, apalagi aku sudah menerangkan bahwa  pihak  kami belum pernah menjumpai ruyung Mu-ni-pian tersebut, tapi anehnya mengapa pengakuanku yang  bisa memperoleh kepercayaan dari si nona istana Sian-hong-hu itu, justru tak mampu mengelabuhi dirimu?"

"Haaah... haaah... haaah... hal ini  disebabkan kau telah melalaikan satu hal."

"Di manakah kesalahanku?"

"Coba bayangkan sendiri, sampai dimanakah kehebatan  dari ilmu silat yang dimiliki tiga pendeta dari Tibet itu?"

"Mereka mampu menandingi  jago lihay kelas satu dari daratan Tionggoan!"

"Nah, itulah dia! Li Cing-siu tak lebih hanya seorang lihay kelas satu, bagaimana mungkin ia sanggup merobohkan dua orang jago silat yang memiliki ilmu silat hampir seimbang dengannya secara santai dan mudah?"

Siau Hian segera tertawa tertahan, serunya tanpa terasa: "Yaa betul, rupanya aku sudah melupakan  hal tersebut

pada waktu itu..."

Sambil berpaling ke arah Cu Kong-to, kembali kakek latah awet muda berseru sambil tertawa tergelak:

"Yang paling menggelikan lagi adalah  adik  seperguruan  dari Li Cing siu yang bernama Cu Kong-to ini, masa kau tidak mengetahui sampai dimanakah kemampuan ilmu silat yang dimiliki Li Cing-siu?"

oOdwOooOdwOooOdwOooOdwOooOdwOooOdwOooOdw Oo Dengan wajah merah padam karena jengah, Cu Kong-to segera menyambut:

"Boanpwee mengira suheng  memang sengaja menyembunyikan ilmu silatnya dihari-hari biasa atau mungkin juga suhu telah mewariskan kepandaian  lain yang hebat kepadanya karena dia adalah seorang ketua dari suatu perkumpulan besar, maka sama sekali tidak menaruh kecurigaan apa-apa"

"Kau benar benar kelewat  jujur dan polos sehingga menggelikan sekali..."

Siau Hian berkata pula sambil tertawa:

"Ban tua, sewaktu aku tutun tangan tadi, gerak seranganku itu kulakukan amat cepat, rasanya selain kau orang tua, siapa pun tak akan mengetahui kalau aku telah pergunakah ilmu jari penghancur hati Jui-sim-sin ci."

"Seandainya ilmu Jui-sim-sin-ci itu tidak kau pergunakan kelewat awal, mungkin aku  sendiripun  turut  kau  kelabuhi, inilah yang dinamakan terburu napsu membawa akibat celaka, kalau tidak, bukankah ruyung Mu-ni-pian ini sudah menjadi milikmu?"

"Ban tua, memang kejadian didunia ini tak bisa diramalkan sebelumnya, aku akui nasibku memang belum untung."

"Kalau tahu diri, memang itu paling baik," kata Kakek latah sambil tertawa.

Kemudian sambil berpaling ke arah Cu Kong-to, serunya lagi:

"Cepat suruh orang-orang itu menghentikan pekerjaan, memangnya kayu kayu tersebut sudah tidak terpakai lagi?"

Setelah didengar, CU Kong-to baru teringat akan persoalan ini, maka dia segera berteriak

"Hentikan semua pekerjaan, kayu-kayu yang  telah  digergaji, singkirkan kesamping." Kawanan pekerja kasar itu tersentak menghentikan pekerjaannya dan membereskan kayu-kayu tersebut.

Pada saat itulah Oh Put Kui baru berpaling kearah Sik Keng-seng sambil membentak:

"Sobat she Sik, kau telah apakan Ciu It-cing?"

Semenjak tadi Sik Keng seng sudah dibikin terbungkam dalam seribu bahasa, bahkan berkentutpun tidak berani.

Ketika Oh Put Kui mengajukan pertanyaan kepadany, dia segera menjawab dengan segera:

"Sudah dikirim kembali ke Seng-ciu!" "Apakah kau telah melukainya?"

"Aku dengannya sama sekali tidak terikat dengan sakit hati apa pun, kenapa mesti melukainya?"

Semenjak berada di perkampungan Siu-cing-ceng, Oh Put Kui sudah menaruh kesan yang baik terhadap Ciu It-cing, oleh sebab itu dia menaruh perhatian khusus kepadanya. itulah sebabnya sekalipun Sik Keng seng tidak sampai melukainya, namun Oh Put Kui masih tetap merasa tidak lega hati.

Mendadak dengan kening berkerut  dia  bertanya  lagi: "Sobat Sik, sewaktu berada di kuil Tay-siang kok-si tadi,

darimana kau bisa mengetahui namaku?" Sik Keng-seng segera tertawa:

"Ketika Lamkiong ceng kawin tempo hari, aku dan Oh sauhiap duduk bertetangga meja, oleh sebab itu aku cukup mengetahui tentang hubungan antara Oh sauhiap dengan Ciu It-cing."

"Kalau begitu kau benar-benar seorang yang mempunyai tujuan!" seru Oh Put Kui sambil tertawa.

Sik Keng-seng turut tertawa. "Pada mulanya aku hanya merasa kaget dan kagum atas kepandaian silat yang diperlihatkan siauhiap."

Tiba-tiba Oh Put Kui teringat lagi akan suatu persoalan, sambil tertawa katanya kemudian:

"Sahabat Sik, darimana kau memperoleh berita tentang disembunyikannya mestika tersebut dalam kayu yang dikirim pihak Pay-kau?"

"Nyoo Ban-bu yang memberitahukan persoalan ini kepadaku."

"Apa? Nyoo Ban-bu yang memberitahukan kepadamu?" tanya Oh Put Kui dengan tubuh bergetar keras.

"Betul, memang Nyoo Ban bu yang  memberitahukan kepadaku."

"Sahabat Sik, apakah kau tidak lagi mengaco  belo disini?" Oh Put Kui mengejek secara tiba-tiba sambil tertawa dingin:

"Mengapa aku mesti mengaco belo?" tanya Sik Keng seng sambil berkerut kening.

"Seandainya Nyoo Ban-bu mengetahui kalau didalam kayu yang diangkut pihak Pay-kau terdapat benda mestika milik adiknya, mengapa dia tidak  menyinggung  persoalan  ini kepada nona Nyoo, sebaliknya justru mengungkap masalah ini kepadamu?"

"Soal ini mah... aku tidak tahu," kata Sik Keng seng sambil menggelengkan kepalanya.

"Aku rasa sahabat Sik masih berbohong..." jengek Oh Put Kui sambil tertawa hambar.

Tiba-tiba Sik Keng seng tertawa dingin, lalu serunya: "Sekalipun ilmu silat yang kumiliki belum mampu memadahi

sauhiap, tapi aku belum pernah berbohong kepada siapapun!"

Dari perubahan mimik mukanya, Oh Put Kui dapat melihat bahwa orang itu memang tidak bohong. Kenyataan tersebut tentu saja amat memusingkan pikirannya.

Bila ditinjau dari perkembangan yang terjadi sampai sekarang, agaknya Nyoo Ban bu sudah tahu siapakah yang telah mencuri ruyung Mu-ni-pian milik Nyoo Siau-sian, tapi dia sengaja merahasiakan persoalan ini terhadap adiknya.

Tapi anehnya, bukan saja ia tidak memberitahukan soal ini kepada Nyoo Siau-sian, sebaliknya dia justru membeberkan rahasia ini kepada orang lain, lantas apakah maksu dan tujuannya berbuat begiut?

Mungkinkah dibalik perbuatannya itu terselip suatu rencana yang keji?

Untuk    sesaat    lamanya  dia   terbungkam dalam seribu bahasa.

Bagaimana pun juga dia mencoba untuk memutar otak, alhasil tak satu titik terang pun yang berhasil ditemukan.

Pada saat itulah, tiba tiba dia mendengar Kakek latah awet muda sedang berseru lantang kepada Kakek penggetar langit:

"siau Hian, saat ini Wi Thian-yang berada dimana?"

Kakek penggetar langit menggelengkan kepalanya berulang kali, sahutnya:

"Semenjak berpisah di  Hu-gou-san,  dia  mengatakan hendak memenuhi suatu perjanjian yang dibuat pada empat puluh tahun berselang, sedangkan aku yang waktu itu ingin cepat-cepat mendapatkan mestika tersebut, tak berminat pula bertanya lebih jauh kepadanya."

"Kau betul-betul seorang tolol," umpat kakek latah awet muda sambil berkerut ekning, "coba pikirkan bagaimanakah watak dari Wi Thian-yang itu, apakah dia  tak  ingin memperoleh mestika tersebut seandainya berita itu benar- benar tak mengandung tujuan lain?" Untuk sesaat kakek penggetar langit  termenung sambil memutar otak, kemudian dia baru berkata dengan suara pelan dan masgul:

"Betul, perkataanmu memang benar, heran,  mangapa secara tiba-tiba Wi Thian-yang dapat bersikap begitu sosial? Jangan-jangan sekapannya selama empat tahun  ini  telah merubah wataknya sama sekali?"

"Siau Hian, siapapun dapat merubah wataknya," kata kakek latah awet muda sambil tertawa. "tapi cuma Wi Thian-yang sibocah keparat ini saja yang berani kutanggung tak mungkin dapat merubah watak setannya itu

"Menurut pendapat kau orang tua, apa sebabnya Wi Thian- yang memberitahukan soal senjata mestika itu kepadaku?" tanya Siau Hian kemudian sambil menggelengkan kepalanya dan tertawa.

"Haaah... haaah... haah... bisa jadi hal  ini merupakan sebuah perangkap..."

"Tidak mungkin!" seru Siau Hian tidak percaya. "Darimana kau bisa tahu kalau hal ini tidak mungkin?"

"Aku dengan dia sama sekali tidak pernah terjalin perselisihan apapun, lagipula aku she Siau sama sekali tidak memandang sebelah matapun terhadap kepandaian silat yang dimilikinya, buat apa  dia mesti mencari penyakit buat diri sendiri?"

"Kau anggap dia takut kepadamu?"

"Ban tua, aku orang she Siau lebih-lebih  tidak takut kepadanya!" Siau Hian tergelak.

"Itu sih susah untuk dibicarakan, berbicara seperti apa yang kau alami sekarang, andaikata aku tidak melepaskan dirimu sekarang, apa pula yang dapat kau perbuat? Apakah ingin beradu jiwa? Bersediakah kau untuk melakukannya?"

Siau Hian seketika itu juga dibuat tertegun. Betul juga, pada hakekatnya hal  ini merupakan suatu jebakan yang berbahaya sekali.

Tapi, dimanakah maksud dan tujuan Wi Thian-yang dengan perbuatannya itu?

Pertanyaan yang sama, namun tak berhasil memperoleh jawaban yang pasti.

Siau Hian telah pergi, pergi dengan membawa kecurigaan dan kemasgulan yang sangat tebal.

Sik Keng-seng pun telah pergi, namun dia pergi dengan membawa perasaan murung bercampur kesal.

Leng-ho cinjin Cu Kong-to juga telah pergi.

Ia pergi bersama sama segenap anggota perkumpulan pay- kau nya dengan perasaan terharu dan penuh rasa  terima  kasih.

Oh Put Kui, pengemis sinting dan Kakek latah awet muda tidak pergi dari situ, mereka masih tetap tinggal di Kang ciu.

Sebab Oh Put Kui tidak menyangka kalau persoalan "mu- ni-pian" telah mendatangkan banyak kesulitan dan persoalan bagi mereka bertiga.

Sebilah pedang Cing-peng-siu-kiam sudah cukup memusingkan kepalanya, apalagi ditambah dengan ruyung mestika Mu-ci-ciang-mo-pian yang begitu berharga.

Maka secara berpisah pun mereka berangkat untuk menelusuri jejak Nyoo Siau-sian.

Alhasil, si ular aneh Wan Sam lah yang berhasil menemukan kabar berita tentang nona tersebut.

Ternyata  Nyoo Siau-sian telah  pergi dari situ.

Dia pergi bersama-sama dengan Perempuan petani dari Lam-wan Ku Giok-hun, Leng Seng-luan dan segenap jago dari istana Sian-hong-hu.

Mungkinkah mereka berangkat ke ibu kota? Sayang sekali Wan Sam tidak berhasil memperoleh kabar kepastian tentang soal ini.

Tanpa terasa Oh Put Kui yang mendapat  kabar  itu menghela napas panjang.

Sebaliknya kakek latah awet muda tertawa terbahak-bahak sambil berkata:

"Anak muda, lebih baik jangan mencari kesulitan buat diri sendiri, perempuan adalah makhluk yang sangat berbahaya untuk didekati, sekali didekati, maka selama hidup kau si bocah muda akan terikat dan dipenuhi berbagai kesulitan."

Pemandangan alam di telaga  Phoa-yang-oh termasuk sangat indah dan menawan sekali, kesulitan dan kemurungan yang mencekam perasaan Oh Put Kui pun  sudah jauh berkurang.

Sambil meneguk arak menghibur diri, pemuda itu dapat menyerap dan menikmati keindahan  alam yang terbentang disekelilingnya.

Bagi pengemis sinting, asalkan tersedia arak maka persoalan apapun tak akan dicampuri olehnya.

Untuk kesekian kalinya Kakek latah awet muda mendesak Oh Put Kui untuk mempelajari kepandaian "merebut langit mengetahui segala urusan" andalannya.

Tapi kembali tawaran tersebut ditampik oleh Oh Put Kui Tentu saja kakek latah awet muda dibuat apa boleh buat

dan kehabisan daya, terpaksa dia hanya bisa tertawa getir belaka.

Benak Oh Put Kui saat itu hanya dipenuhi oleh satu masalah, yakni dendam kesumat dari ibunya.

"Mungkinkah Im-tiong-hok adalah manusia semacam itu?

Rasanya hal ini mustahil"

Pikir punya pikir, akhirnya ia berhasil juga menarik sebuah kesimpulan. Setiap   persoalaln yang dijumpainya belakangnan ini, hampir boleh dibilang demikian semuanya.

Sekalipun terdapat setitik petunjuk terang  namun gagal untuk menemukan kunci pemecahannya.

Hasil semacam ini membuat Oh Put Kui terpaksa hanya mengisi waktunya dengan meneguk arak.

Sedang kakek latah awet muda dengan perasaan kurang senang hanya bisa mengawasinya dengan kening berkerut.

Orang tua ini memang tak bisa dibiarkan menganggur saja, dia selain ingin mencari persoalan untuk mengisi waktu.

Tapi suasana tiap malam di telaga Phoa-yang-oh selain hening, sepi, sepi tenang dan tak ada sesuatu apa pun.

Akhirnya Kakek latah awet muda tak dapat menahan diri  lagi, dia menghela napas panjang:

"Pemandangan alam begini indah, cuaca begini cerah, namun tiada orang yang dapat menikmatinya, sungguh..."

Belum selesai dia berkata, mendadak dari kejauhan sana berkumandang datang suara pekikan  panjang yang amat keras.

Disusul kemudian terdengar seseorang bersenandung dengan suara yang amat nyaring.

"Tepukan mabuk mencari kenangan indah." Perpisahan meninggalkan sedih dan duka. Rumpu liar tumbuh setiap tahun.

Sinar matahari senja menyinari ujung loteng..."

Senandung itu merdu dan menawan hati, pekikan itupun nyaring menembusi awan.

Oh Put Kui segera dibuat tertegun oleh munculnya suara- suara tersebut. Malam sudah begini kelam, dari mana datangnya seniman yang menikmati keheningan malam tersebut?

Sebaliknya kakek latah awet muda telah berseru sambil tertawa terbahak-bahak:

"Haaah... haaah... haaah... bagus, bagus sekali, baru saja bincang jago lihay, si jago lihay sudah muncul, hey tukang perahu ayoh dayung agak cepat, kita harus menemui seniman tadi."

Mendengar ucapan tersebut, si tukang perahu segera mendayung perahunya keras-keras dan  meluncur kearah mana berasalnya suara tertawa tadi.

Dalam pada itu si Kakek latah awet muda telah berlarian menuju keujung geladak.

Oh Put Kui segera mengikuti pula di belakangnya...

Tak sampai seperminum teh kemudian, mereka telah melihat dibawah  sinar rembulan tampak sebuah perahu  sedang bergerak menuju ke tengah telaga.

Tak lama kemudian kedua buah perahu itu sudah saling beriringan satu dengan lainnya.

Dari jarak sejauh sepuluh kaki, Kakek latah awet muda segera berseru sambil tertawa tergelak:

"Sobat yang bersenandung  diperahu depan, bagaimana kalau munculkan diri untuk bersua?"

Bersamaan dengan selesainya perkataan itu, dari perahu seberang telah muncul dua sosok bayangan manusia.

Ketika Oh Put Kui mengamati orang tersebut  dengan seksama, ternyata mereka adalah dua orang kakek.

Yang berada disebelah kiri mengenakan baju biru, kepala botak dan beralis mata putih, jenggotnya keren dan  gerak geriknya anggun.

Dia membawa sebuah tongkat kayu. Disebelah kanan adalah seorang kakek berjubah panjang warna abu-abu, mukanya bulat seperti rembulan dan matanya tajam bagaikan bintang, alis matanya tajam  dengan hidung yang mancung.

Orang ini membawa sebilah pedang.

Begitu munculkan diri diujung geladak, kedua orang itu segera tertawa terbahak-bahak.

Tiba-tiba terdengar suara kakek berbaju putih itu menegur: "Apakah orang yang berada diperahu depan adalah

saudara Ban?"

Oh Put Kui yang mendengar seruan tersebut diam-diam berkerut kening sambil pikirnya:

"Ternyata mereka adalah sobat karib!"

Sementara itu Kakek latah awet muda pun sudah melihat jelas siapa gerangan kedua orang itu, dia segera tertawa tergelak pula:

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... mimpi pun tidak menyangka kalau yang datang adalah kalian berdua, sungguh tak nyana kalau Sau Suma dan Han  Lim-kong  mempunyai  jiwa seni yang begitu tinggi, bermain sampan sambil bersenandung, sungguh amat santai hidup kalian"

Belum habis dia berkata, Kakek berbaju hijau itu sudah berkata sambil tertawa tergelak:

"Saudara Ban, sebagai menteri dari negara  yang telah punah, darimana datangnya pangkat dan kedudukan lagi? Bila kau hendak mengumpat kami mengapa belum juga mampus, tak ada salahnya untuk diumpatkan secara langsung, agar kami pun turut merasa terlampiaskan, kalau tidak... bila loko sampai mendongkol, kami bisa berabe dibuatnya."

Kakek latah awet muda tertawa aneh.

"Rupanya Sau-suma takut diumpat? Sampai sekarang aku baru tahu akan hal ini, sayang sekali aku adalah rakyat jelata dari luar daerah, kalau tidak... haaah... haaahhh... aku tentu akan mengumpat lebih hebat lagi."

Kakek berjubah putih yang berada  diperahu seberang segera berseru sambil tertawa:

"Saudara Ban, banyak tahun tak bersua, tampaknya penyakit lamamu belum juga berubah!"

Kakek latah awet muda tertawa terbahak-bahak:

"Inikah yang dinamakan "Perangai sukar dirubah"... aaai, sekarang aku baru teringat, bukankah kalian hidup santai di Thian-tok? Mengapa muncul di Phoa-yang sekarang?  Ada urusan apa sih?"

"Haaah... haaah... haaaaahhhh... kami sedang memenuhi undangan dari seorang sahabat!" kata Kakek berbaju hijau itu sambil tertawa.

"Wah, siapa sih sahabat karibmu itu?"

Kakek berbaju putih tertawa dingin lalu menjawab: "Wi Thian-yang!"

oOdwOooOdwOooOdwOooOdwOooOdwOooOdwOooOdw Oo

Nama dari "Wi Thian yang" tersebut dengan  cepat membuat Oh Put Kui merasa tertegun.

Sebaliknya Kakek latah awet muda segera tertawa menghina.

"Kalian berdua  benar benar memandang tinggi orang tersebut, dengan kemampuan Wi Thian-yang, masa kalianpun bersedia menuruti kemauannya? Sungguh mengenaskan..."

"Saudara Ban, kau jangan  memandang  rendah kemampuan dari manusia she Wi tersebut," seru  kakek berbaju putih sambil tertawa. "Hmm, dengan mengandalkan kemampuannya apakah aku harus memandang hormat kepadanya?  Jangan bermimpi disiang hari bolong..."

Sementara itu Oh Put Kui sedang memutar otak sambil mencari tahu asal usul dari kedua orang kakek tersebut.

Kalau ditinjau dari sikap mereka yang memanggil Kakek latah awet muda sebagai saudara, sudah jelas merekapun terhitung seorang tokoh sakti dari dunia persilatan, hanya saja dia tidak tahu siapa gerangan mereka berdua?

Sementara itu kedua buah perahu  itu sudah semakin mendekat satu sama lainnya.

Sambil menjura kakek berbaju putih itu segera berkata: "Saudara Ban, bagaimana kalau menyeberang kemari

untuk berbincang-bingang?"

"Tentu saja harus menyeberang ke perahumu, cuma kami bertiga. "

"Sahabat dari saudara Ban, tentu saja merupakan tamu agung kami, silahkan. "

Saat itulah si Kakek latah awet muda baru berpaling dan serunya sambil tertawa.

"Anak muda, panggil si pengemis untuk turut serta "

Selesai berkata dia sudah menyeberang lebih dulu.

Hanya didalam tiga langkah saja  dia sudah  menyeberang ke atas perahu lawan.

Diam diam Oh Put Kui berpekik memuji dia tak mengira kalau kemampuan dari Kakek tersebut benar benar sudah mencapai tingkatan yang luar biasa.

Kakek berbaju hijau itupun berseru sambil tertawa terbahak-bahak:

"saudara Ban, tampaknya ilmu Leng-siu-pohmu semakin lama semakin sempurnya saja!" "Bagaimana jika dibandingkan dengan Huan im-poh mu?

Masih selisih berapa jauh?"

"Nah... nah... kembali saudara Ban mengumpat  orang!" seru si Kakek baju hijau itu sambil menggelengkan kepalanya dan tertawa.

Ditengah gelak tertawa dari ketiga orang Kakek itu, Oh Put Kui serta pengemis sinting yang  masih  terkantuk-kantuk karena mabuk itu sudah menyeberang semua ke  perahu seberang.

Setibanya diruang perahu, baru saja Oh Put Kui hendak melangkah masuk, mendadak tampak olehnya si pengemis sinting telah melompat kedepan lalu berlutut dihadapan kedua orang Kakek tersebut sambil berkata:

"Boanpwee Liok Jin-ki dari  Kay-pang  menjumpai locianpwee berdua. "

Sekali lagi Oh Put Kui dibuat tertegun.

Sudah jelas si pengemis sinting tidak mabuk barang sedikitpun juga, bahkan  dia  sadar dan berpikiran jernih sehingga dapat megenali siapa gerangan kedua orang Kakek itu.

Saat itulah si Kakek berbaju hijau itu mengulapkan tangannya seraya berkata:

"Ayoh cepat bangun, baik baikkah Kong-sun pangcu?"

Pengemis sinting menyahut dan bangkit berdiri, lalu dengan sikap yang sangat hormat jawabnya:

"Pangcu kami sudah banyak tahun  menutup diri untuk berlatih keras. "

"Apakah Kongsun Liang telah berhasil menemukan kitab pusaka tentang ilmu tongkat iblis tersebut?" tanya Kakek baju putih itu sambil tertawa.

"Sudah!" "Nyatanya Kongsun pangcu memang tidak menyia nyiakan harapan dari banyak orang "

Dalam pada itu, Kakek latah awet muda telah  menggapai ke arah Oh Put Kui sambil serunya:

"Hey anak muda, ayoh masuk!"

Dengan langkah pelan Oh Put Kui berjalan masuk dan menuju ke hadapan ketiga orang itu.

Sambil menuding ke arah dua orang Kakek itu, kata Kakek latah awet muda sambil tertawa:

"Anak muda, kedua orang Kakek ini adalah dua tokoh sakti dunia persilatan yang tinggal di puncak Thian tok-hong disebut orang sebagai Thian-tok-siang-coat (sepasang manusia sakti dari Thain-tok), mereka adalah Kakek tanpa bayangan baju hijau Samwan To dan Kakek tanpa kemurungan berbaju putih Ibun Hau!"

Oh Put Kui segera merasakan hatinya bergetar keras  sesudah mendengar nama kedua orang itu.

Rupanya mereka adalah dua orang pendekar aneh yang luar biasa dan bernama besar itu.

Tapi dengan cepat pula dia teringat akan suatu persoalan yang lain "

Ayahnya yang berada di Pulau Neraka tak lain disekap  disitu selama delapan belas tahun karena desakan dari kedua oarng Kakek ini bersama tiga dewa dari luar jagad.

Oleh karena itu selain menaruh hormat dan kagum kepada kedua orang Kakek ini didalam hati kecilnya pun timbul suatu perasaan yang menentang,  sekalipun perasaan menentang tersebut berhasil ditawarkan sedikit oleh penjelasan dan petunjuk dari Thian-hian Hui-cui, akan tetapi dia tak pernah dapat melupakan kejadian ini, sebab dia sangat merindukan ayahnya. Oh Put Kui memandang sekejap kedua orang Kakek yang duduk dihadapannya, kemudian sambil menjura katanya:

"Boanpwee Oh Put Kui menjumpai kalian dua orang jago!"

Ternyata pemuda itu enggan menggunakan kata "locianpwee" untuk membahasai kedua orang itu.

Dengan perasaan tercengang dan sedikit diluar dugaan, Kakek latah awet muda melotot sekejap ke arah Oh Put Kui.

Namun Thian tok siang coat sama sekali tidak menjadi marah karenanya, mereka malah tertawa.

Dengan kening berkenyit Kakek tanpa bayangan berbaju hijau berkata sambil tertawa:

"Bukankah kau adalah Oh Put Kui? Benar benar seorang manusia yang berbakat bagus sekali dan jarang ditemui dalam seabad ini!"

Oh Put Kui tertegun, diam diam ia merasa sangat  keheranan, dia tak mengira kalau orang tua tersebut mengetahui namanya dengan begitu jelas.

"Benar, memang boanpwee  adanya!" sahut pemuda itu kemudian.

Sambil tertawa nyaring Ibun Hau berkata pula:

"Ceng-thian lote suami istri benar benar telah melahirkan seorang anak berbakat yang luar biasa dan   berguna  bagi dunia persilatan... saudara Sam-wan, tampaknya persoalan yang kita hadapi sudah ada penerusnya!"

Ucapan dari Ibun Hau tersebut segera menimbulkan perasaan tak senang dalam hati kecil Oh Put Kui, keningnya segera berkerut dan pikirnya dengan gusar:

"Perkataan macam apakah itu. "

Dalam pada itu Samwan To telah berkata pula sambil tertawa:

@oodwoo@