Misteri Pulau Neraka (Ta Xia Hu Pu Qui) Jilid 12

 Jilid 12

Cheng-Thian-Kui-ong sendiri sama sekali  tidak menunjukkan reaksi apa-apa sekalipun sudah disemprot oleh pemuda tersebut dengan kata-kata yang pedas. Dia hanya menggelengkan kepalanya sambil tertawa, lalu berkata :

"Bocah muda, kau benar-benar pantas disebut sebagai putranya Seng-siu... Hari  ini  lohu tak akan  menyusahkan dirimu, tapi mengharapkan kau bisa melanjutkan cita-cita ayahmu dan mengangkat tinggi nama besar ayahmu di masa lalu..."

Apa yang diucapkan ternyata adalah  kata  kata  semacam itu, peristiwa mana benar-benar merupakan suatu kejadian yang sama sekali diluar dugaan siapapun. Untuk sesaat lamanya Nyoo Ban-bu menjadi tertegun, kemudian serunya dengan Cepat : "Apa maksud saudara dengan mengucapkan perkataan semacam itu ?"

Wi Thiau-yang tertawa terbahak bahak.

"Haaah... haaahh... haaahh.. menanti kau  sudah mempunyai nama dan kedudukan separti Wan-sim-seng-siu dahulu, lohu pasti akan mencarimu dan menantangmu untuk berduel. Bocah muda, apakah kau belum memahami maksudku?"

Paras muka Nyoo Ban-bu berubah hebat.

"Saudara. kau tak usah menunggu lebih lama lagi, kalau ingin bertarung maka sekarang juga aku akan melayani keinginanmu itu," serunya dengan lantang.

Kit Ha-seng segera bersorak sambil bertepuk tangan: "Benar saudara Nyoo, kau benar-benar bersemangat" sedangkan si Kakek setan berhati cacad hanya menundukkan kepala sambil minum arak, dia berlagak seolah- olah sama sekali tidak mendengar pembicaraan tersebut.

"sobat kecil, apa yang kau ucapkan memang benar," kata Wi-thian-yang kemudlan  dengan suara lirih. "kau memang benar-benar punya semangat jantan..." setelah berhenti sejenak, mendadak dia menengadah dan tertawa terbahak bahak.

"Haahh.... haaahh... haaahhh...  sayang sekali keberanianmu yang membabi buta itu hanya akan merugikan dirimu sendiri, bahkan  bisa merembet pada keselamatan jiwamu. Coba kalau menuruti tabiat lohu  dimasa  lalu, nyawamu itu sudah melayang semenjak tadi..."

"Heehhh... heehhh... heeehhh... asal nama baik bisa dijaga keutuhannya, sekalipun mati juga tak mengapa," kata Nyoo Ban-bu sambil tertawa dingin.

Raja setan yang menggetarkan langit Wi-thian-yang yang mendengar perkataan itu, diam-diam mengangguk, ucapnya:

"Perkataanmu memang benar, tapi tak bermanfaat bagiseorang manusia sejati... bocah muda, kesetiaan yang bodoh, kebaktian yang bodoh, keberanian yang bodoh dan menjaga nama bodoh merupakan perbuatan-perbuatan bodoh yang hanya dilakukan oleh manusia manusia tak berotak..."

sesudah bernhenti sebentar, sambil menggelengkan kepala dan menghela napas, terusnya:

"Bilamana kau memiliki kemampuan untuk menahan sabar dan menunggu  sampai mendapat  kesuksesan dikemudian hari, maka segala sesuatunya bisa berjalan dengan sukses, sebaliknya bisa kau tak mampu menahan gejolak perasaanmu sekarang, meski dikemudian hari  mencapai  suatu keberhasilan tak mungkin keberhasilan itu akan mengejutkan orang, apalagi menandingi keberhasilan ayahmu"

Nyoo Ban-bu yang mendengar perkataan itu segera merasakan seluruh badannya gemetar keras, untuk beberapa saat lamanya dia tak sanggup untuk mengucapkan sepatah katapun. Wi Thian-yang tertawa, sambil berpaling kearah siau Lun katanya kemudian: "siau loko,  siaute ingin mohon diri dulu"

"Apakah kau hendak mencari Hui Lok?" tanya siau Lun sambil meletakkan sumpitnya keatas meja.

"Tidak, aku hendak mencari Leng siau-thian lebih dulu" "Masa situa bangka itupun pernah  mencari gara-gara

denganmu?" tanya siau Lun tertawa.

"Bukan saja dia berani mengusikku, bahkan dimasa  lalu  pun pernah berhutang kepadaku."

"Aaai... yang lewat biarkan saja lewat, lote, bilamana bisa lepas tangan lebih baik lepaskan saja..." kata siau Lun sambil menggelengkan kepalanya.

"siaute bukannya tidak punya maksud demikian Cuma..."

Mendadak sorot matanya terbentur dengan  senyUman aneh yang menghiasi ujUng bibir oh Put Kut, hatinya kontan saja tergerak pikirnya dengan Cepat: "Tampaknya bocah ini sedikit rada aneh..."

siau Lun seperti tidak menaruh perhatian terhadap  apa  yang sedang dipikirkan Wi-thian-yang, sambil tertawa kembali dia berkata:

"Lote, bila persoalan tentang Leng siau-thian  bisa dilewatkan, lebih baik lepaskan saja, toh kita semua sudah sama sama tua dan hampir mendekati akhirnya masa hidup..."

Ucapan dari siau Lun  itu kontan saja membuat hatinya terkesiap. perkataan itu sama sekali diluar dugaannya... sudah tua? Mendekati masa hidupnya. ?

Tapi baginya, meski masa tua merupakan suatu masa yang patut disedihkan, namun persoalan itu hanya sebentar saja melintas dalam benaknya, sementara ambisinya untuk menguasai dunia persilatan tak boleh menjadi tawar karenanya. sambil tersenyum dia lantas beranjak, kemudian katanya :

"siau-loko, memandang diatas wajahmu, siaute berjanji tak akan bertindak kelewat batas."

"Kalau begitu, lohu akan mewakili Leng siau thian mengucapkan banyak terima kasih dulu kepadamu."

si Raja setan yang menggetarkan langit tertawa hambar, dengan langkah lebar dia lantas berjalan menuju ke  depan meja Leng siau-thian. sebelum pergi dia  tak lupa untuk memandang sekejap kearah oh Put Kui...

Dengan wajah yang  tenang dan  mantap. oh Put Kui memandang sekejap ke arah wajah si setan yang disegani banyak orang itu dan tertawa hambar. sedangkan dalam hati kecilnya dia berpikir : "Kau jumawa, aku bisa lebih jumawa lagi daripada dirimu..."

Leng siau-thian telah melompat dari tempat duduknya.

Kini wi Thian-yang telah  berdiri  dihadapannya  dengan wajah penuh kegusaran.

"Leng siau-thian, kau harus memberi keadilan bagiku" teriaknya dengan suara lantang.

Jian-li-hua-siu (kakek kesepian dari seribu li) Leng siau- thian tertawa terbahak-bahak.

"Haahah... haaahh... haaahhh... Wi Thian-yang, orang lain mungkin takut kepadamU, tapi lohu tak akan jeri kepadamu"

"Yaa, benar, kau orang she Leng memang tidak takut kepada lohu,"  kata  Wi Thian-yang sambil tertawa dingin. "kalau bukan demikian, kenapa barang yang kau dapat pinjam dari lohu, sampai sekarang belum juga dikembalikan kepada pemiliknya?"

Tiba-tiba Leng siau-thian mengerutkan alis matanya yang putih, kemudian balas tertawa dingin. "Wi Thian-yang, masih ingatkah kau bahwa pedang Hian peng-kiam merupakan benda keluarga lohu yang berhasil kau rebut dengan mengandalkan kekerasan? sekarang lohu telah mendapatkannya kembali, apakah hal ini bisa dianggap sebagai meminjam?"

Wi Thian-yang tertawa seram.

"Heeehhh... heeehhh... heeehhh... bukan didapat dengan meminjam? Leng siau-thian, percuma kau menjadi seorang tokoh persilatan di dunia ini, pedang Hian-peng-kiam tersebut berhasil kudapatkan bukan lewat tanganmu, tentunya kau juga mengetahui bukan tentang persoalan ini ?"

"Hmmm. lohu tidak ambil perduli kau dapatkan dari mana, yang pasti adalah benda itu merupakan warisan keluargaku, maka aku harus menggunakan cara apapun juga untuk mendapatkannya kembali"

Tiba-tiba Wi Thian-yang tersenyum.

"Leng siau-thian, ucapanmu barusan memang tepat sekali..." katanya.

"Jadi kaupun sudah mengerti?" ucap Leng siau-thian pula sambil tersenyum.

"Tentu saja mengerti"

"Kalau sudah mengerti, hal itu lebih baik lagi"

"Mengapa tidak?" seru Wi Thian yang, "seandainya kau tidak mengingatkan lohu, aku masih tak tahu bagaimana caranya untuk meminta kembali pedang tersebut, tapi sekarang, lohu sudah tahu"

"Mau apa kau?" seru Leng siau thian tertegun. Wi-thian- yang segera tertawa.

"Aku akan meniru caramu dengan mempergunakan cara apapun untuk mendapatkan kembali benda tersebut, Leng siau-thian, kau anggap perbuatan lohu ini benar atau tidak?" Leng siau-thian yang mendengar perkataan itu segera melototkan sepasang matanya bulat bulat, serunya dengan penuh kegusaran: "Kalau memang merasa mampu, tak ada salahnya untuk kau coba"

"Tentu saja lohu akan mencobanya," sahut Wi Thian-yang sambil tertawa seram. setelah  berhenti  sejenak. sambil tertawa tergelak serunya lanjut:

"Leng siau thian, tahukah kau dengan meminjam pedang Hian-peng-kiam tersebut berarti kau telah  berhutang budi kepadaku? Hari ini, bukan saja lohu akan merebut kembali pedang itu, bahkan akan menagih pula jasa dari budi  yang telah kulepaskan itu"

"Wi Thian yang lohu akan menantikan kedatanganmu..." seru Leng Siau-thian teramat gusar.

Wi Thian-yang tertawa seram.

"Heeehhh... heeehhh... heeehhh... manusia yang lupa budi, paling tidak aku harus memberikan pelajaran yang setimpal kepadamu hari ini..."

Berbicara sampai disitu, mencorong serentetan sinar merah yang tajam menggidikkan hati dari balik matanya.

Ini pertanda kalau hawa napsu membunuh telah  menyelimuti seluruh wajah Ceng-thian-kui-ong .

si kakek pemutus usus pelenyap hati Hui Lok  yang menjumpai kejadian itu ikut merasa terkesiap. buru-buru dia menjura sembari berkata:

"saudara Wi, siaute mempunyai sepatah dua patah kata yang hendak diutarakan, apakah saudara Wi bersedia untuk memberi muka kepadaku?"

Mendengar ucapan itu, sinar mata merah membara yang menggidikkan hati itu segera lenyap tak berbekas, kata Ceng- thian- kui-ong kemudian sambil tertawa:  "Kalau  ingin berbicara, katakan saja berterus terang." Hui Lok tertawa. "saudara Wi, hari ini adalah hari perkawinan adalah putri sulung saudara Leng dengan  muridku Lam  kiong Ceng, apakah saudara Wi bersedia untuk meredakan  amarahmu untuk sementara waktu? Bilamana ada persoalan bagaimana kalau kita bicarakan lagi selewatnya hari ini?"

Mendengar perkataan itu, Wi-thian-yang segera menengadah dan tertawa terbahak bahak.

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... setelah Hui lote berkata demikian, sepantasnya bila siaute segera mengabulkan..."

"Terima kasih saudara Wi"

Mendadak meneorong sinar tajam dari balik mata Wi Thian- yang, sambil tertawa dingin serunya :

"saudara Hui, kau tak usah buru-buru mengucapkan terima kasih kepadaku,  ketahuilah selama hidup perbuatan jahat macam apapun sudah pernah  kulakukan, termasUk jUga perbUatan mengacaU hari perkawinan orang lain,  toh persoalan semacam ini bukan suatu hal biasa oleh karena itu maafkan kalau lohu tak sanggup permintaan darimu itu..."

Hui Lok menjadi tertegUn, dia sama sekali  tidak menyangka kalau Wi Thian-yang bakal berkata demikian.

seandainya Hui Lok tidak berpikir kalau musuhnya adalah seorang musuh yang sukar dihadapi  disamping  dia merupakan tuan rumah pesta perkawinan kali ini, mUngkin sedari tadi dia sudah akan beradU jiwa dengan si Raja setan yang menggetarkan langit Wi Thian-yang.

setelah tertawa tersipu-sipu, katanya kemudian: "Jadi saudara Wi tidak bersedia memberi muka?"

Wi Thian yang tertawa.

"Bukan lohu enggan memberi muka kepadamu, tapi dalam kenyataan Leng siau-thian terlampau menghina orang..." ucap Wi Than-yang sambil tertawa. sementara itu Leng siau thian telah berpaling dan memandang sekejap kearah  Hui Lok, kemudian ujarnya  sambil tertawa :

"Jin-keh (besan), tak usah bersilat lidah lagi dengan orang itu..."

Belum sempat Hui Lok berbicara, sipengemis pikun telah berteriak secara tiba-tiba.

"Yaa, benar, buat apa bersilat lidah melulu seperti lagi adu berkentut saja, jika memang pingin  berkelahi, labrak saja habis-habisan, dengan begitu aku sipengemis pikun pun akan turut mencuci mata..."

sekalipun ucapan tersebut diutarakan dalam keadaan mabuk. tapi justru amat cocok dengan selera  beribU  orang jago yang hadir dalam ruangan pesta itu.

Disuatu pihak adalah Cheng-thian- kui-ong (raja setan yang menggetarkan langit) Wi Thian-yang.

sedangkan dipihak lain adalah Jian-li-hu-siu (si kakek sebatang kara seribu li) Leng siau-thian.

Berbicara soal kepandaian silat yang dimiliki kedua orang ini, boleh dibilang mereka termashur dalam kolong langit dan dikenal setiap manusia, seandainya mereka sampai bertarung sungguhan dalam kesempatan ini, maka boleh  dibilang kejadian tersebut merupakan suatu tontonan langka  yang  amat menarik hati.

oleh sebab itu begitu  pengemis pikun menyelesaikan perkataannya, serentak kawanan  jago  lainnya  bertepuk tangan menyambut usul tersebut dengan gembira.

Dengan gemas si kakek botak Hui Lok melotot sekejap kearah pengemis pikun dengan sorot mata yang penuh kebencian, benar-benar suatu sorot mata yang  mengerikan hati.

Kontan saja pengemis pikun tersadar sebagian dari pengaruh alkoholnya, melihat keadaan tidak menguntungkan, bulu kuduknya pada bangun berdiri, dia tahu kalau kepandaiannya tak mungkin bisa menandingi kelihayan gembong iblis tua tersebut.

Pikir punya pikir, akhirnya dia merasa mengambil langkah seribu merupakan suatu tindakan yang paling tepat.

Apa lagi dalam ruangan tersebut memang penuh dengan manusia, maka dalam dua tiga langkah  saja, bayangan tubuhnya sudah lenyap dibalik kerumUnan orang banyak...

Rupanya dia sudah kabur kembali di sisi oh Put Kui, begitu munculkan diri dibalik meja perjamuan, sepasang matanya yang melotot besar segera dialihkan ke wajah Hui Lok dan menatapnya dengan wajah termangu...

Hanya saja Hui Lok tidak menaruh perhatian kepadanya, karena pada waktu itu segenap perhatiannya sedang ditujukan kearah Wi Thian-yang.

Dalam pada itu, Ceng-thian- kui-ong Wi Thian-yang telah mundur sejauh lima langkah dari posisi semula.

Dengan demikian dia berdiri persis  ditengah-tengah ruangan.

Leng siau-thian dengan rambut putih yang berdiri semua bagaikan landak berdiri lebih kurang beberapa kaki dihadapannya. Wi Thian-yang segera berseru sambil tertawa nyaring:

"Leng siau-thian, lohu akan mengalah tiga jurus kepadamu, daripada kawan-kawan Liok-lim di enam propinsi  diutara sungai besar mengatakan aku Ceng-thian- kui-ong sengaja memeras dan mempermainkan angkatan muda..."

Perkataan itu amat besar lagaknya, membuat paras muka Leng siauw-thian kontan saja berubah menjadi hijau membesi.

"Wi Thian-yang, kau betul- betul kelewat latah," teriaknya penuh kegusaran. sesudah berhenti sejenak. mendadak dia menerjang kemuka sambil melancarkan serangan, bentaknya:

"Lohu akan suruh kau rasakan bahwa aku orang she Leng bukan seorang manusia yang  bisa dipermainkan  dengan begitu saja "

segulung angin pukulan yang maha dahsyat, dengan cepat meluncur keluar berbareng dengan getaran telapak tangan itu.

mendadak suatu bentakan nyaring berkumandang memecahkan keheningan: "Gak-hu, silahkan mundur..."

serentetan cahaya merah yang membara dengan  cepat meluncur ketengah arena... Ternyata orang itu tak lain adalah pengantin pria, Lamkiong Ceng adanya.

Perawakan tubuhnya yang tinggi besar hampir seimbang dengan perawakan tubuh dari Ceng-thian- kui-ong wi Thain- yang, hanya saja potongan badannya tidak segemuk tubuh si Raja setan

"Wi locianpwe, kau kelewat menghina orang..."

Tampaknya Lamkiong  Ceng benar-benar sudah dibuat marah sekali, sehingga  nada  pembicaraannya  pun kedengaran agak gemetar.

Wi Thian yang  memperhatikan wajah Lamkiong Ceng beberapa saat lamanya, kemudian berkata sambil tertawa :

"saudara, kau benar-benar seorang lelaki sejati "

"Aku tak sudi menerima pujian dan sanjungan dari saudara" tukas Lamkiong Ceng dengan marah.

Nada panggilannya berubah semakin keras, dari sebutan locianpwe kini telah menjadi sebutan saudara.

Tampaknya Wi Thian-yang sama sekali tidak ambil perduli akanpersoalan itu,  dia masih menengadah  sambil tertawa terbahak bahak. "Haahhh... haaahhh... haahhh... lote, hari ini adalah hari perkawinanmu,pantang untuk  berkelahi dengan orang Lebih baik cepatlah menyingkir dari situ, jangan sampai menunda malam perkawinanmu. . . "

sambil berkata, kembali dia mendongakkan kepalanya sambil tertawa terbahak bahak. Lamkiong Ceng melototkan sepasang matanya bulat- bulat,  kemudian  berseru dengan marah: "Bila saudara ingin mengajUkan  sUatu  permintaan, aku akan melayani semUanya..."

sementara Lamkiong Ceng menerjang ke depan tadi, Leng siau Thian telah menarik kembali serangannya sambil mundur setengah langkah.

Tapi setelah mendengar Lamkiong Ceng menantang musuhnya untuk bertarung, dia menjadi amat kuatir, bagaimanapun juga pemuda itu adalah menantunya...

"cengji, cepat mundur," segera teriaknya  "persoalan ini merupakan persoalan diriku..."

Tapi Lamkiong ceng segera menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Gak-hu "ayah mertua", selama berada  dalam perkampungan Siu-ning-ceng ini, pelbagai persoalan yang terjadi merupakan tanggung jawab dari siau-say "menantu"..." Belum habis dia berkata, pengantin  perempuan  telah memburu pula kesana.

"Ayah, apa yang dikatakan engkoh Ceng memang betul," serunya pula, "persoalan dalam perkampungan  siu-ning-ceng ini merupakan tanggung jawab putrimu serta engkoh Ceng, lebih baik kau orang tua menyingkir saja kesamping..."

sekulum senyuman segera tersungging di ujung bibir Leng siau Thian...

Cuma dia hanya merasa lega dan gembira karena putrinya dan menantunya  telah menunjukkan rasa bakti mereka, sementara soal bertarung, tentu saja dia tak rela membiarkan kedua anak itu menyerempet bahaya. Dia cukup mengetahui betapa lihaynya Ceng-thian-ku-ong tersebut

"Anak Lin, cepat ajak Ceng-li mundur" segera teriaknya keras-keras, "jangan lupa siapakah musuh kalian itu, ilmu silat yang dimiliki Wi Thian-yang amat tangguh, kalian tak mungkin bisa menangkan dirinya, tapi aku, aku tak akan jeri kepadanya..."

"Tidak..." tolak Leng Lin-lin sambil menggelengkan kepalanya berulang kali. Leng siau-thian menjadi marah, segera hardiknya : "Budak, apakah kau tidak mau mengerti perkataanku?"

"Ayah, mengapa hari ini kau  memaki aku..." seru Leng Lin  lin dengan manja.

Dengan cepat Leng siau-thian menggeleng. "Lin-ji, cepatlah kalian menyingkir dari situ..."

Dia segera menyelinap kedepan dan berebut untuk berdiri dihadapan Raja setan yang menggetarkan langit, kemudian teriaknya :

"Wi Thian-yang, segala urusan lebih baik berurusanlah langsung dengan lohu"

"Heeehhh... heeehhh... heeehhh... memangnya urusan ini adalah urusanmu" sahut Ceng-thian- kui-ong Wi Thian-yang sambil tertawa seram.

Mendorong sinar tajam dari balik mata Leng siau-thian, mendadak sepasang telapak tangannya diayunkan ke depan.

"Wi Thian-yang, sambutlah sebuah pukulan ini" teriaknya. "Haaahhh... haaahhh... haaahhh... sudah lama kudengar

tentang ilmu Hu-liong-siang ciang, kini ingin  kusaksikan sampai dimanakah kelihayannya Leng siau Thian, bila kau mengerahkan segenap tenaga yang kau miliki, mungkin sulit bagimu untuk meloloskan diri dari bencana ini" sembari berkata dia segera bergerak ke  samping untuk menghindarkan diri dari ancamam kedua buah pukulan dari Leng siau-thian itu

"Leng siau Thian" serunya  kemudian,  "sebelum pertarungan berlangsung,  aku hendak menerangkan lebih dahulu, pertarungan yang berlangsung hari ini hanya terbatas sepuluh gebrakan belaka,jika kau kalah, maaf,  terpaksa pedang Hianpeng-kiam tersebut harus kau kembalikan kepadaku..."

"Jika kau yang kalah.. .?^ bentak Leng siau-thian tanpa menghentikan serangan yang dilancarkan-

Wi Thian-yang segera tertawa terbahak bahak.

"Lohu yakin seratus persen tak bakal menderita kekalahan ditanganmu..." serunya.

"Manusia laknat..."

Wi Thian-yang sama sekali tidak  menggubris terhadap makian "manusia laknat" tersebut. kembali ujarnya sambil tertawa :

"Leng siau-thian, sekali lagi kuberitahukan keuntungan bagimu"

"Lohu tak sudi menerima kebaikan hatimu itu" teriak Leng siau-thian amat gusar.

"Mau diterima atau tidak. itu adalah urusanmu. Dalam sepuluh gebrakan mendatang, bila lohu tak bisa menangkan dirimu, lohu tak akan membicarakan tentang  pedang Hian- peng-kiam lagi "

sekilas perasaan girang melintas diatas wajah Leng siau- thian, tapi diluarnya dia tetap berseru dengan gusar : "Wi Thian-yang lihat serangan"

Ditengah ayunan telapak tangannya, secara beruntun dia melepaskan lima buah serangan berantai. serangan-serangan itu semuanya dilancarkan dengan kecepatan luar biasa, membuat kawan  jago yang   berada diluar maupun dalam ruangan sama-sama menjulurkan  lidah. oh Put Kui sendiripun menggelengkan   kepalanya  berulang kali, katanya pelan : "Tampaknya ilmu yang dimiliki tua bangka itu termasuk lumayan juga..."

"Yaa, cepat bagaikan kilat, berat bagaikan  batu  karang, baik bergerak maupun berhenti  semuanya dilakukan tanpa kalut barang sedikitpun juga," kata  Kit Hu-seng tertawa. "bahkan sepasang telapak tangannya dilancarkan berbareng, ilmu pukulan ini benar-benar merupakan pukulan yang maha daysyat"

"Saudara Kit, aku rasa ilmu pukulan ini  mana lamban, kurang cekatan lagi" timbrung Nyoo Ban-bu dari sisi arena.

"Benarkah begitu?" seru Kit-Hu-seng tertegun, " apakah saudara Nyoo pernah menyaksikan ilmu pukulan yang jauh lebih baik daripada ilmu pukulan ini?"

"Tentu saja pernah"

" Ilmu pukulan apakah itu?"

"sian-hong-pat-ciang (delapan pukulan angin puyuh) " Mendengar itu, Kit Hu-seng segera tertawa terbahak-

bahak.

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... rupanya ilmu pukulan dari keluarga saudara Nyoo sendiri?"

"Benar"

"Apakah saudara Nyoo tidak merasa sudah terlampau mengibul?" Nyoo Ban-bu tertawa.

"Jika saudara Kit tidak percaya, dikemudian hari kau boleh membuktikan sendiri"

"Heeehhh... heeehhh... heeehhh... siaute percaya suatu ketika aku pasti akan membuktikan kehebatanmu itu, moga- moga saja jangan membuat siaute kecewa." "Tentu saja tak akan kecewa..." kata Nyoo Ban-bu sambil tertawa dingin

sementara pembicaraan masih berlangsung, pertarungan yang berlangsung di arena telah mencapai pada puncak pertempuran tersebut. Akhirnya sepuluh gebrakan sudah terpenuhi.

Mendadak terdengar Ceng Thian Kui ong wi Thian-yang tertawa tergelak,  sedangkan Jian-li-hu-sin Leng siau Thian mengundurkan diri sejauh lima depa dari posisi semula, peluh dingin tampak membasahi seluruh tubuhnya.

Kalau dilihat dari lengan kirinya yang tergantung lemas kebawah, bisa diketahui kalau dia sudah menderita luka.

sementara itu sepasang pengantin baru telah  berdiri dikedua belah samping Leng-siau-thian.

sambil menarik kembali senyumannya, Ceng Thian Kui ong wi-thian-yang telah berkata dingin:

" Leng-siau-thian, tampaknya ilmu pukulan Hui-liong-siang- ciang mu tak lebih cuma kepandaian seperti itu, sungguh membuat hati orang merasa kecewa..." sesudah berhenti sejenak. katanya lebih jauh:

"Mana pedang Hian-peng-kiam tersebut? Cepat serahkan kembali kepada lohu"

Leng-siau-thian memejamkan matanya rapat-rapat, sambil menggigit bibir dia lantas berseru:

"Lin-ji ambil pedang Hiam peng kiam tersebut"

"Ayah... kau tidak apa-apa bukan?" kata Leng Lin-lin dengan wajah sedih. Leng-siau-thian berkerut  kening, kemudian bentaknya:

"Aku hanya menderita luka ringan cepat ambil pedang tersebut, aku tak boleh mengingkari janji. . . "

Dengan wajah sedih Leng- lin-lin membalikkan badandan berjalan menuju keruangan dalam. sementara itu, Leng-cui-cui yang selama ini hanya duduk belaka, mendadak menghampiri Leng  Lin-lin,  kemudian bisiknya lirih:

"Toa-ci, kau tak usah masuk. biar aku yang mengambilkan bagimu"

Leng Lin-lin mengangguk. "Kalau begitu cepatan sedikit..."

Bicara sampai disitu, tak tahan lagi air mata segera jatuh berlinang, dia segera membalikkan badan dan beranjak dari situ.

Tak selang berapa saat kemudian, dia telah muncul sambil membawa sebilah pedang berwarna hitam, dengan langkah cepat dia menghampiri ayahnya.

Ketika Leng-siau-thian menyaksikan putri bungsunya membawa keluar pedang antik yang telah dipergunakan sebagai mas kawin bagi putri sulungnya itu, mendadak hatinya merasa sedih sekali, hingga tanpa terasa dengan titik air mata bercucuran dia menerima angsuran pedang itu.

Kemudian sambil menyentil pedang itu dia menghela napas panjang, gumamnya:

"Oo... pedang... wahai pedang... Leng siau thian tak becus dan tak mampu untuk melindungi benda mestika dari leluhur, peristiwa ini sungguh memalukan leluhur keluarga Leng saja... sebetulnya aku harus menggorok leher untuk menebus  dosa ini, tapi..."

setelah memandang pedang Hian-peng-kiam itu sekejap. kemudian memandang pula putrinya sekejap. akhirnya sambil menghela napas panjang katanya lebih jauh:

"Kini, aku orang she Leng masih mempunyai banyak tugas yang belum diselesaikan, apa daya... apa daya... Ooh pedang, dalam sepuluh tahun  mendatang, jika kau belum  dapat  kembali lagi ke dalam keluarga Leng, Leng siau-thian pasti akan menebus dosa ini dengan kematian..." seorang kakek berambut putih berdiri  dengan  wajah murung dan air  mata bercucuran, kejadian semacam ini benar-benar merupakan suatu peristiwa yang sangat mengharukan.

Selesai mengucapkan perkataan itu,  Leng  siau-thian segera mencengkeram pedang itu dan berjalan ke hadapan Wi-thian-yang.

Kemudian kambali menggetarkan  tangannya,  pedang berikut sarungnya diangsurkan ke depan-

"Wi-thian-yang" serunya keras, "pedang Hianpeng-kiam kuserahkan kepadamu untuk  sementara waktu,  tapi dalam sepuluh tahun mendatang, lohu pasti akan berusaha untuk merebutnya kembali... kau harus menyimpannya secara baik- baik"

Wi-thian-yang tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... bagus sekali, semoga lohu bisa memenuhi harapanmu itu sepuluh tahun kemudian-

.."

Dia lantas mengulurkan tangannya dan menerima pedang itu.

siapa tahu, baru saja pedang itu akan tersentuh oleh tangannya, tiba-tiba saja pedang Hian-peng-kiam  itu melesat ke udara dan terlepas dari genggamannya.

sementara   Wi Thian-yang masih tertegun, tahu-tahu pedang Hian-peng-kiam itu sudah berpindah tangan-

Peristiwa ini sama sekali tidak disangka siapa pun, termasuk juga diluar dugaan wi Thian-yang sendiri

Serta merta raja setan yang menggetarkan langit ini melejit ke tengah udara dan siap untuk mencengkeramnya.

sayang tubrukannya itu kembali mengenai sasaran kosong, pedang mana sudah terjatuh ke tangan orang lain- Rasa terkejut yang dialami Wi Thian yang saat ini sungguh tak terlukiskan dengan kata kata.

"siapa gerangan yang bisa merebut pedang itu dari tanganku?" demikian dia berpikir. orang pertama yang dituju olehnya adalah Kakek setan berhati cacad siau Lun.

Kecuali siau lojin dalam perkampungan siu-ning-ceng saat ini, termasuk Kakek pemutus usus pelenyap hati  Hui  Lok. selain tak berkemampuan untuk berbuat  demikian,  mereka pun tak akan bernyali untuk berbuat begitu terhadapnya.

Dengan sepasang mata melotot besar, Wi Thian-yang segera mengalihkan sorot matanya kedepan, tapi apa yang kemudian terlihat membuatnya menjadi tertegun-

"Bocah keparat, rupanya kau? Hmmm... kau benar-benar sudah makan nyali beruang rupanya..."jerit Ceng Thian- kui- ong kemudian dengan penuh kegusaran. Rupanya pedang Hian peng-kiam tersebut kini sudah terjatuh ketangan oh Put Kui.

Agaknya oh Put Kui telah menggunakan tenaga dalamnya yang sempurna dan luar biasa itu untuk menghisap pedang Hian peng-kiam yang berada ditangan Ceng-thian- kui-ong wi Thian-yang itu sehingga mencelat ketengah udara dan terjatuh ketangannya. Maksud dari perbuatannya itu memang tak lain ingin membuat malu si Raja setan ini.

"Wi Thian-yang," terdengar pemuda itu berseru, "hari ini adalah hari perkawinan Kiong cong piauw pacu, setiap orang yang datang kemari sudah seharusnya membawa maksud untuk menyampaikan selamat, kedatanganmu  seharusnya  juga tak boleh terkecuali, tapi perbuatanmu sekarang terlalu mengada ada, selain membuat malu tuan rumah, juga memaksa tuan rumah untuk memenuhi keinginanmu, tindakan semacam ini sungguh merupakan suatu tindakan yang keterlaluan..."

Ucapan tersebut kedengarannya  memang bisa diterima dengan akal sehat dan sesuai dengan kenyataan. Kontan saja Wi Thian  yang dibuat melototkan  matanya bulat- bulat sesudah mendengar perkataan dari oh Put Kui tersebut, dari malu dia menjadi naik pitam.

sekalipun dia tahu, kedua orang guru bocah itu bukan musuh yang bisa dianggap enteng, namun dalam keadaan seperti ini, dia betul-betul tak sanggup untuk mengendalikan emosinya lagi.

Dengan suara yang keras bagaikan geledek, dia segera membentak nyaring:

"Manusia jumawa, tahukah kau bahwa perbuatanmu  tersebut melanggar pantangan lohu?"

oh Put Kui segera tertawa.

"Berbicara soal perbuatanku, aku merasa apa yang telah kulakukan tidak ada satupUn yang  salah, sedang soal melanggar pantanganmU atau tidak. hal ini sama  sekali  tak ada sangkut pautnya dengan diriku"

Jawaban yang amat tepat tersebut dengan cepat disambut oleh siau Lun dengan sekulum senyuman-

sementara pengemis Pikun segera menggumam:

"Rasain sekarang, akau kulihat apa yang hendak dilakukan oleh kau si raja setan sekarang..."

Dalam pada itu, si raja setan yang menggetarkan langit, wi Thian yang telah berseru lagi dengan kening berkerut : "oh Put Kui, cepat kembalikan pedang lohu"

Tampaknya dia tahu tak bakalan bisa menangkan oh Put Kui bila diajak bersilat lidah, maka dia melangsungkan pembicaraan tersebut pada tujuan yang sebenarnya.

"Apakah pedang ini milikmu?" tanya oh Put Kui sambil tertawa.

"Tentu saja" sahut Wi Thian-yang tertawa dingin.

Mendengar itu, oh Put Kui segera tertawa terbahak-bahak. "Haaahhh... haaahhh... haaahhh... saudara, sungguh tebal kulit mukamu Perkataan dari Leng siau-thian tadi paling tidak didengar oleh seribu orang, bagaimana ceritamu pedang Hian- peng-kiam ini secara tiba-tiba bisa berubah menjadi milikmu?"

Paras muka Wi Thian-yang kontan saja berubah hebat, serunya dengan penuh kegusaran: "Bocah keparat, kau hanya mendengar ucapan satu pihak."

"siapa bilang aku hanya mendengarkan perkataan satu pihak?" oh Put Kui tertawa.

"Wi Thian-yang, aku harap kau sudi menjawab sebuah pertanyaanku saja, benarkah pedang Hian-peng-kiam ini merupakan benda warisan dari keluarga Leng?"

"Betul, pedang Hian-peng-kiam memang merupakan benda warisan milik keluarga Leng" jawab Wi Thian yang sambil tertawa seram.

Raja setan yang menggetarkan langit memang tak malu disebut seorang pemimpin dunia persilatan, apa yang diucapkan memang merupakan perkataan yang sejujurnya. oh Put Kui tertawa.

"Kau memang tak malu disebut Raja setan, kau berani berterus terang," serunya.

"Hmmm, selama hidup lohu tak pernah membohong"

"Aku percaya dengan perkataanmu itu, cuma sayang tindakan saudara dalam merampas pedang mustika itu dari tangan Leng tua kelewat dipaksakan sehingga mendatangkah perasaan tidak puas bagi setiap orang."

"Bocah muda, tahukah kau kalau pedang  Hian-peng-kiam ini dipinjam oleh Leng siau-thian dariku? Lagipula  setelah  Leng siau-thian meminjam pedang itu, baru saja dia melewatkan suatu musibah kematian?"

"Apa hubungannya dengan peristiwa pada hari ini?" tanya oh Put Kui sambil menggelengkan kepalanya. "Tak ada hubungannya?" Wi Thian-yang segera melototkan matanya besar-besar. "Bocah keparat, kau benar-benar  kurang ajar..."

Hampir setiap jago liok-lim yang hadir  disitu  pada keheranan dibuatnya, sebab watak dari Ceng thian-kui-ong Wi Thian-yang saat ini sama sekali berbeda dengan apa yang tersiar dalam dunia persilatan, bahkan dia  nampak  begitu sabar menghadapi si anak muda tersebut.

sementara itu, setelah berhenti sejenak. kembali Wi Thian yang berkata sambil tertawa seram :

"Seandainya Leng Siau-thian tidak meminjam pedang lohu, buat apa lohu datang kemari pada hari ini?"

oh Put Kui segera tertawa tergelak.

"saudara, berbicara pulang pergi, kau selalu mengatakan kalau pedang itu diperoleh dari meminjam kepadamu, tapi aku rasa pedang itu kalau toh merupakan  benda mestika dari leluhur keluarga Leng, tidak sepantasnya bila saudara berniat untuk mengangkanginya"

"Jadi menurut pendapatmu, pedang tersebut harus kukembalikan dtngan begitu saja kepada Leng siau-thian?"

"Bila saudara tidak mau memberikan secara gratis, toh paling tidak bisa mengajukan penawaran."

"Tepat sekali," suara Wi Thian-yang dengan sorot mata berkilat, "Lohu memang harus mengajukan suatu penawaran, kalau tidak maka pedang tersebut harus kau kembalikan kepadaku."

oh Put Kui tertawa.

"Jika saudara ingin mengajukan penawaran, utarakan saja, aku akan mendengarkannya dengan seksama."

sambil tertawa dingin Wi Thian-yang segera berseru: "sewaktu lohu mendapatkan pedang ini aku pernah

membayar dengan nyawa sepuluh orang jago" "Ooh... suatu hawa pembunuhan yang amat tebal..." Wi Thian yang tertawa nyaring.

"Nah bocah muda," terusnya, "bila Leng Siau-thian menginginkan kembali pedangnya, paling  tidak dia harus membayar dengan nilai yang sama pula..."

"Ooh, kalau begitu  pedang itu membawa firasat  yang jelek..."

sembari berkata tangannya digetarkan keras keras, pedang Hian-peng-kiam berikut sarungnya segera menancap keatas tanah. setelah itu katanya lebih jauh sambil tertawa dingin:

"Dimasa lalu saudara sudah banyak melakukan pembunuhan berdarah,  dalam kemunculanmu dalam dunia persilatan kali ini, sudah sepantasnya jika banyak melakukan perbuatan amal, hari ini merupakan suatu kesempatan yang baik sekali untukmu, mengapa tidak kau pergunakan peluang itu dengan sebaik baiknya?"

Walaupun dia cuma mengayunkan pedang tersebut sekenanya, pedang Hian-peng-kiam tersebut berhasil menembusi permukaan tanah sedalam satu depa setengah.

Padahalpermukaan lantai berupa batu hijau yang sangat keras, sedangkan pedang itu masih bersarung, kalau dilihat kenyataannya pedang berikut sarung itu bisa menancap sedemikian dalamnya, bisa diketahul kalau tenaga dalam yang dimiliki oh Put Kui betul betul mengerikan sekali.

Wi Thian-yang merasa terkejut sekali setelah menyaksikan kejadian itu, segera ujarnya sambil tertawa:

"Bocah keparat, tampaknya tenaga sambitan mu cukup hebat, entah kesempatan macam  apakah  yang  kau persiapkan untuk lohu? Bocah muda, ketahuilah kejadian seperti ini merupakan  kejadian yang baru pertama kali ini kujumpai."

oh Put Kui tertawa hambar, katanya: "Bagaimana kalau sepuluh lembar nyawa ditukar dengan suatu pertaruhan kecil.Bila darijarak tiga depa kau berhasil mencabut keluar pedang itu maka aku tak akan mencampuri urusan ini, sebaliknya  bila saudara tak mampu mencabut pedang ini, terpaksa aku akan "meminjam bunga untuk menyembah Buddha"  dengan menghadiahkan pedang ini untuk sang pengantin perempuan..."

Mendapat tantangan tersebut, Wi  Thian-yang segera menengadah dan tertawa terbahak-bahak.

"Bagus, bagus sekali, lohu amat setuju dengan tantangan semacam itu..." Kembali oh Put Kui tertawa, ujarnya:

"Walaupun kemampuan saudara menghisap  benda  di udara kosong memiliki kekuatan seribu kati, tapi aku hendak memberitahukan kepada saudara,  bila  pedang  tersebut berada lima depa dihadapanku, maka ilmu penghisap benda diudara kosongmu itu pasti tak berdaya..."

seandainya dia tak mengucapkan perkataan itu, mungkin keadaannya masih agak mendingan, tapi begitu  ucapan tersebut diutarakan, kontan saja Wi Thian yang  dibikin terpojok.

Berbicara dari kedudukan serta nama besarnya  dalam  dunia persilatan, seandainya pedang Hian-peng-kiam  yang menancap di tanah pun gagal dihisap keluar, maka kejadian tersebut benar-benar merupakan suatu kejadian yang memalukan sekali.

sekalipun pelbagai ingatan segera berkecamuk  dalam benak Wi Thian-yang namun diluar dia tetap berkata sambil tertawa tergelak

"Kau tak usah mengatakan apa-apa lagi, toh asam garam yang kumakan jauh lebih banyak daripada dirimu."

Kemudian selesai berkata mendadak dia  mundur  sejauh tiga depa lebih, setelah itu bentaknya: "Bocah keparat, lihat saja kelihayanku ini " Mendadak sepasang tangannya diayunkan ke depan, kesepuluh jari tangannya dengan memancarkan tenaga hisapan yang besar langsung menghisap ke arah pedang itu.

Tapi begitu cengkeramannya selesai dilancarkan, tiba-tiba saja wajah Ceng-thian- kui-ong berubah hebat.

Rupanya pedang tersebut sama sekali tidak bergerak barang sedikitpun juga.

Padahal Ceng-thian kui ong cukup memahami bahwa tenaga yang keluar dari kesepuluh jari tangannya itu paling tidak berbobot ribuan kati, tapi mengapa pedang tersebut tak berhasil dicengkeram olehnya?

Kejadian tersebut sungguh membuat orang tidak habis mengerti.

Bukan Wi  Thian-yang sja yang tak percaya dengan kenyataan tersebut, bahkan siau Lun serta Hui Lokpun turut berubah wajahnya setelah menyaksikan adegan tersebut. Akhirnya siau Lun tak kuasa menahan diri lagi, sambil tertawa tergelak serunya:

"Hei bocah muda, tampaknya Thian-liong siau-kang  mu benar-benar telah berhasil dengan sempurna..."

Gelak tertawa siau Lun itu tidak terlampau keras, tapi justru suaranya berhasil menindih suara kawanan jago lainnya.

Usianya masih begitu muda akan tetapi telah berhasil mencapai tingkat kedudukan yang begitu tinggi dalam kepandaian silatnya, andaikata tidak disaksikan dengan mata kepala sendiri, setiap orang tak akan mempercayai hal itu, tak heran kalau suasana dalam ruangan itu berubah menjadi hening sepi dan tak kedengaran sedikit suarapun.

Dalam pada itu, Ceng Thian- kui-ong telah mengerahkan hawa murni untuk kedua kalinya. Hawa marah yang sangat tebal dengan cepat memancar keluar dari balik matanya. Tatkala kesepuluh jari tangannya diayunkan  ke depan, segera terlihatlah sepuluh buah gulung  cahaya  hijau memancar keluar...

"sreet... sreeet..." desingan angin tajam yang menderu deru serasa menusuk pendengaran.

Ketika hawa hijau tersebut menyentuh  gagang pedang Hian-peng-kiam yang menancap diatas  tanah,  ternyata senjata itu bergetar amat keras kemudian berayun ke kiri dan kanan-

Anehnya ternyata pedang mustika itu belum juga bergeser dari tempatnya semula.

Kopiah emas yang dikenakan Raja setan yang menggetarkan langit hampir saja menerjang ke udara, jelas gembong iblis tua ini  telah mengerahkan segenap  tenaga dalam yang dimilikinya.

Wajah oh-put-kui sama sekali tidak  berubah,  pelan-pelan dia memejamkan kembali matanya.

Ketika kejadian tersebut dipandang oleh beberapa orang tokoh persilatan yang hadir disitu,  semua  orang  mengerti kalau oh-put- kui telah mengerahkan pula segenap tenaga dalam yang dimilikinya untuk melawan  kekuatan yang terpancar ke luar dari tubuh Wi Than-yang.

setengah perminum teh lewat tanpa terasa sementara itu seluruh jidat Ceng Thian- kui-ong telah  dibasahi oleh air keringat.

Akan tetapi kedua belah pihak masih tetap  berdiri kaku ditempat semula tanpa bergerak barang sedikitpun jua.

Kini getaran yang semula tampak pada ujung pedang Hian- peng-kiam, kini sudah lenyap tak berbekas.

Tampaknya Ceng Thian- kui-ong  Wi Thian-yang sudah menunjukkan tanda tanda akan menderita kekalahan. seperminum teh kembali lewat... Mendadak terdengar Ceng Thian Kui-ong  berpekik  panjang, suara pekikan tersebut begitu keras dan nyaringnya hingga menggetarkan kayu belandar diatas wuwungan rumah.

"Kau menang..." jerit Wi-thian yang dengan suara seperti orang menangis.

sepasang mata oh Put Kui melotot besar  dan memancarkan cahaya tajam,  ucapnya  kemudian  sambi tertawa : "Maaf..."

Belum habis dia berkata,  mendadak terdengar wi  Thian- yang tertawa terbahak-bahak, kemudian  serunya: "Bocah keparat, cobakau lihat..."

"criiiit..."

Ternyata dikala oh Put Kui sedang berbicara itulah, pedang Hian-peng-kiam yang semula menancap diatas tanah itu tahu- tahu sudah meluncur ketangan kanan  Raja setan yang menggetarkan langit Wi Thian-yang.

Tindakan semacam ini jelas merupakan suatu  tindakan yang rendah dan sangat memalukan.

Paras muka oh Put Kui kontan saja berubah hebat, serunya sambil tertawa dingin :

"Apakah kau anggap pedang itu berhasil kau dapatkan?" "Hmmm, memangnya tak masuk hitungan?"

oh Put Kui segera menengadah dan tertawa terbahak- bahak.

Dari kejauhan sana terdengar pengemis pikun  segera mengejek :

"Huuuh... manusia yang tak tahu malu Ternyata Wi-thian- yang tak lebih cuma manusia pengecut yang tak tahu malu"

Dengan penuh kegusaran  wi Thian-yang membalikkan badannya lalu tertawa seram : "Lok Jin-ki,  kaukah  yang sedang ngebacot disitu?" Buru-buru pengemis pikun  menjulurkan  lidahnya sambil menggelengkan kepala. "Entahlah..."

Dasar pengemis ini memang gentong  nasi,  keberanian untuk mengakusaja tidak dipunyai. sambil tertawa dingin Wi Thian-yang berseru :

"Lok Jin-ki, kau tak usah berlagakpikun, dalam pandangan mata lohu tidak kemasukan pasir tahu?"

"Betul, yang disebut sebagai Raja setan tentu saja memiliki sepasang mata yang jeli..."

Kemudian setelah menggelengkan kepalanya dan tertawa getir, sambungnya lebih jauh:

"Saudara, buat apa  kau mencari gara-gara dengan aku sipengemis? Sobat-sobat yang punya nama dan kedudukan banyak hadir di sini. lebih baik simpan tenagamu untuk menghadapi mereka."

Ucapan itu betul- betul membuat Wi Thian-yang ketanggor batunya, sorot matanya mencorong sinar tajam,  tampaknya  dia hendak mengumbar hawa amarahnya.

oh Put Kui juga menarik kembali suara  tertawanya  ketika itu, dengan gusar dia berseru kepada Wi Thian-yang :

"Manusia she Wi, kau betul- betul seorang manusia yang tak tahu malu, manusia bermuka tebal"

"Dalam hal apa lohu tak tahu malu?" sahut Ceng-thian-kul- ong seraya berpaling. oh Put Kui tertawa dingin-

"Hmm. setelah mengaku kalah masih main serobot, apakah tindakan semacam ini bukan suatu perbuatan yang tak tahu malu?"

Mendengar perkataan tersebut, wi Thian-yang  segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... bocah keparat, apakah kita tentukan batas waktu dalam saat  pengambilan  pedang itu? " "Tidak" jawab oh Put Kui setelah agak tertegun-Wi Thian- yang kembali tertawa tergelak.

" Kalau toh tiada batas waktunya, mengapa lohu tak boleh mengambil pedang itu?"

"Betul, sebetulnya kau memang boleh mengambil pedang  itu setiap saat, tapi tidak seharusnya kau lakukan setelah menderita kekalahan," kata oh Put Kui  dengan  kening berkerut,

"saudara, apakah kau tak berniat untuk melindungi nama baikmua?"

"Heeehhh^ heeehhh... heeehhh... selamanya lohu hanya tahu bekerja untuk mencapai tujuan, aku tidak memperdulikan cara apapun yang harus kulakukan."

@oodwoo@