Misteri Pulau Neraka (Ta Xia Hu Pu Qui) Jilid 25

 
Jilid 25

"Oh koko, aku tak dapat mengampuni mereka... aku harus pergi mencari mereka..."

Belum habis ia berkata, tubuhnya sudah melompat keluar dari kuil tersebut.

Sekali lagi Oh Put-kui dibuat tertegun oleh kejadian ini.

Dia sama sekali tidak menyangka kalau gadis itu akan pergi sedemikian cepatnya, padahal  dia  sudah menaruh suatu perasaan aneh terhadap gadis tersebut.

Sebaliknya pengemis sinting segera berseru sambil tertawa: "Lote, aku telah membantunya untuk terlepas  dari kesulitan!?

Oh Put Kui yang mendengar ucapan tersebut kembali merasakan hatinya bergetar keras.

Tampaknya bila persoalan sudah mencapai pada puncaknya, si pengemis sinting ini sedikitpun tidak sinting.

Ia tak mengira kalau pengemis  tersebut  dapat menggunakan siasat semacam ini untuk memaksa Nyoo Siau- sian meninggalkan tempat tersebut...

Karenanya untuk beberapa saat dia hanya bisa mengawasi pengemis sinting dengan wajah termangu mangu.

Pada saat itulah Li CIng-siu telah  menjura dan  berkata sambil tertawa:

"Terima kasih banyak atas bantuan Oh sauhiap untuk melepaskan kami dari kesulitan, budi kebaikan ini pasti  tak akan kulupakan untuk selamanya. Sekarang aku masih ada urusan lain yang harus diselesaikan, bila suatu  ketika  lote lewat di Seng-ciu, harap mampir ke  markas kami, berilah kesempatan kepadaku untuk menjadi tuan rumah yang baik..."

Tidak sampai Li Cing-siu menyelesaikan kata katanya, Oh Put Kui telah menjura dan menukas:

"Boanpwee dan Ciu lote merasa cocok satu sama lainnya, sudah sepantasnya bila boanpwee  menyumbang  sedikit tenaga demi perkumpulan  kalian, bila kau bersikap begitu sungkan, boanpwee malah merasa tak berani untuk menerimanya."

Kemudian setelah berhenti sejenak,  katanya  lebih jauh: "Bila kau masih ada urusan silahkan saja untuk

diselesaikan, bila Ku Giok-hun sekalian sudah mengetahui tentang kayu-kayu balok itu sehingga mencampurinya, tentu banyak kesulitan yag akan dijumpai..." Li Cing-siu tertawa penuh rasa terima kasih, setelah mengucapkan terima kasih sekali lagi kepada Oh Put Kui, dia baru mengajak semua anggota perkumpulannya dan menggotong dua pendeta dari See-ih untuk berangkat meninggalkan tempat itu.

Tak lama setelah kepergian  mereka, kakek latah  awet muda baru melayang turun ke atas tanah sambil tertawa.

"Huuuh, hampir saja aku mati karena gelisah!"

"Ban tua, bagaimana pendapatmu tentang  penyelesaian boanpwee atas kejadian yang berlangsung malam ini?" tanya Oh Put Kui kemudian sambil tertawa.

Kakek latah awet muda segera tertawa tergelak:

"Kalau berbicara soal masalahnya, keadaan sekarang  malah bertambah rumit."

Oh Put Kui menjadi tertegun, ia balik bertanya:

"Ban tua, apakah  ada hal-hal yang  tidak memuaskan hatimu?"

"Tentu saja, kau telah mendatangkan kesulitan yang besar sekali, masa kau belum tahu?"

"Haaahhh... haaahhh.... haaahhh... Ban tuan, kalau cuma Ang Yok-su mah belum  sanggup  berbuat  apa-apa terhadapku!"

"Ang Yok-su?" kakek latah awet muda tertawa  tergelak, "kau anggap yang kumaksudkan adalah Ang Yok-su?"

"Selain dia, boanpwee akan peroleh kesulitan dari siapa lagi...?"

Sambil menggelengkan kepalanya kakek latah awet muda menghela napas panjang:

"Aaai... anak muda, persoalan apapun boleh kau lakukan, tapi tidak seharusnyakau akui sumoay mu yang  bakal bebanmu untuk selamanya..." "Kau maksudkan Nyoo Siau-sian?" "Kalau bukan dia lantas siapa lagi?" Oh Put Kui kembali tertawa tergelak:

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... bukankah dia  sudah terusir oleh kata-kata pengemis sakti?"

"Betul," sambung pengemis sinting, "Ban  lopek,  mulai hari ini tentunya kau bersedia mengakui gelarku sebagai si pengemis cerdik bukan? Kalau bukan lantaran siasatku tadi masa dia mau angkat kaki dengan begitu saja?"

Kakek latah awet muda segera melotot besar:

"Hey pengemis cilik, justru karena siasatmu itu urusan bertambah runyam, kau anggap dirimu itu pintar?"

"Kalau berbicara kau mesti berdasarkan suara hati yang sebetulnya..." protesnya Pengemis sinting sambil menjulurkan lidahnya.

"Kurang ajar, kapan sih aku tak berbicara menurut suara hati? Rupanya kau pingin digebuk?" kakek latah awet muda semakin naik darah lagi.

Mendengar ancaman tersebut, cepat-cepat  pengemis sinting memeluk kepala senidri dan kabur sejauh  tiga  kaki lebih dari posisi semula...

"Ban lopek," teriaknya kemudian, "anggap saja apa yang diucapkan aku si pengemis adalah kentut busuk..."

Oh Put-kui tak bisa menahan rasa gelinya setelah menyaksikan kejadian ini, katanya kemudian:

"Ban tua, boanpwee  rasa siasat dari Liok sinkay tadi termasuk hebat juga."

"Hey anak muda, memang hebat untuk saat ini, tapi kau tak usah kuatir, bila budak itu tidak akan menyusulmu kembali dengan segera silahkan kau potong lidahku ini!" "Lantas... lantas... baaa... bagaimana baiknya?" tanya Oh Put-kui tertegun.

"Sama sekali tak ada cara lain, anak muda, perempuan itu adalah murid seorang sahabat karibku, dia pasti berasal dari golongan lurus, seandainya dia  tidak menemukan kalau orang-orang dari keluarganya sedang membohonginya, mungkin dia  tak akan meninggalkan rumah, tapi  bila  dia jumpai kalau keluarganya ada  persoalan besar, bayangkan sendiri anak muda, apakah dia tak akan segera datang untuk mencarimu?"

Setelah mendengar keterangan  dari kakek  latah  awet muda, Oh Put-kui baru sadar bahwa siasat yang diterapkan pengemis sinting tersebut sesungguhnya telah menanamkan akibat yang fatal bagi dirinya.

Maka sambil tertawa getir ujarnya:

"Ban tua, tampaknya boanpwee harus berupaya untuk menghindari dirinya..."

"Menghindari?" Kakek latah awet muda segera tertawa tergelak, "suhumu yang sudah menjadi hwesio pun tak mampu menghindari apakah kau bisa?"

Kali ini Oh Put-kui betul-betul dibuat berdiri bodoh. Akhirnya setelah menghela napas panjang dia berkata:

"Ban tua, kalau toh tak bisa dihindari, yaa biarkan saja apa yang hendak diperbuatnya, asal aku kurangi berbicra dengannya, niscaya dia  akan bosan sendiri, toh sebagai seorang anak dara, dia  tak bisa menguntil diriku  terus menerus?"

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... itu sih belum tentu..."

Setelah   berhenti   sejenak, dengan mengernyitkan alis matanya yang putih ia berkata kembali:

"Anak muda, tadi kau telah melupakan satu persoalan!" "Melupakan soal apa? Kau orang tua kan tak pernah berpesan apa  apa kepadaku?" Oh Put Kui dengan wajah tertegun.

Kakek latah awet muda kembali tertawa:

"Memangnya setiap persoalan harus kupesankan dulu kepadamu? Anak muda, tentang tekad dari ketiga padri See-Ih yang berupaya untuk membeli ratusan buah balok kayu yang dikirim oleh pihak Pay-kau ke kota Kim-leng, pernahkah kau pikirkan dengan seksama bahwa dibalik  kesemuanya itu kemungkinan besar masih terdapat hal-hal  yang tidak beres...?"

"Betul," Oh Put Kui mengangguk, "seandainya kau tidak menyinggung kembali, boanpwee benar benar  akan melupakan hal ini."

"Menurut dugaanku, dibalik kayu-kayu tersebut pasti terdapat sesuatu yang aneh, kalau tidak, mustahil Put-khong hwesio sekalian bertiga bersedia membelinya dengan harga yang tinggi, bahkan gagal untuk membelinya, mereka pergunakan kekerasan..."

"Yaa, dugaanmu memang benar," Oh Put Kui tertawa, "hanya saja ilmu silat yang dimiliki ketiga orang hwesio itu sungguh teramat tak becus..."

"Anak muda, kau jangan salah melihat," kakek latah awet muda menggelengkan kepalanya berulang kali, "bukan kepandaian silat mereka yang tak becus, justru ilmu silat yang dimiliki Li Cing-siulah yang kelewat  hebat sehingga  sama sekali diluar duagaan."

Dengan nada kurang percaya Oh Put Kui berkata lagi: "Boanpwee rasa sehebat-hebatnya Li Cing-siu, dia tak akan

lebih hebat daripada Suma Hian sekalian."

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... dugaanmu kali ini salah besar anak muda, tapi kau memang tak  bisa  disalahkan, sebab selama ini Li Cing-siu memang selalu menyembunyikan kepandaian silat yang sebenarnya, dikemudian hari kau tentu akan menjumpai bahwa ilmu menepuk jalan darah..."

Tiba-tiba perkataannya terhenti sampai ditengah jalan, lalu mencorong sinar tajam dari balik mata Kakek latah awet muda teriaknya kemudian:

"Celaka, kita harus segera berangkat ke tepi sungai anak muda, kalau terlambat bisa berabe!"

Begitu selesai berkata, tubuhnya segera  berkelebat kedepan dan lenyap dari pandangan mata.

Dengan perasaan terkejut Oh Put Kui dan pengemis sinting segera ikut berangkat pula menyusul dibelakang Kakek latah awet muda.

Ketika Oh Put Kui dan pengemis sinting menyusul sampai diluar kuil, bayangan tubuh  kakek latah  awet muda sudah tinggal setitik bayangan semu di tempat kejauah sana.

Oh Put Kui segera berpekik nyaring lalu mengejar dengan mengerahkan seluruh tenaga yang dimiliki.

Kasihan si pengemis sinting, dia harus mempertaruhkan selembar jiwa tua nya untuk  bisa  menyusul rekan  rekannya itu.

Tampak tiga sosok bayangan manusia, secepat sambaran petir dan saringan asap tipis meluncur keluar kota Kang ciu langsung menuju ke dermaga.

Seperminum teh kemudian,  dermaga sudah muncul di depan mata.

Tiba tiba  saja Kakek latah awetmuda memperlambat gerakan tubuhnya...

Dalam waktu singkat Oh Put Kui dan pengemis sinting  sudah menyusul sampai disisi kakek tersebut.

"Lebih baik kita jangan memperlihatkan diri lebih dulu anak muda, ayoh kita mencari tempat untuk menyembunyikan diri lebih dulu." Rupanya kedatangan mereka bertiga terlampau cepat.

Sekalipun dermaga itu bermandikan cahaya lentera, namun cuma terdapat enam tujuh orang hwesio berbaju kuning yang berjalan mondar mandir disana sambil menjaga  tumpukan kayu yang berjajar-jajar ditepi sungai.

Sedangkan orang-orang dari Perkumpulan Pay-kau belum seorang pun yang tiba disitu.

Sambil tertawa Oh Put-kui segera berkata

"Ban tua, menurut pendapat boanpwee bila kita dapat bersembunyi dibalik tumpukan pagoda kayu tersebut, tentu hal itu lebih menguntungkan."

Rupanya kayu-kayu yang berada disitu ditumpukkan satu dengan yang lainnya dalam posisi berdiri, setiap kelompok terdiri dari empat puluh batang, sehingga  dari  kejauhan nampak seperti sebuah pagoda saja.

--------------------

"Kalau ingin bersembunyi, kita harus mencari yang paling tinggi!" kata kakek latah.

"Tentu saja."

Baru saja pemuda itu hendak  membalikkan tubuh dan beranjak pergi dari situ, tiba-tiba pengemis sinting berkata sambil tertawa:

"Ban lopek,  mengapa sih kau menyusul ketepi sungai secara tiba-tiba, apakah kau telah menemukan sesuatu persoalan yang tidak beres? Ataukah Li CIng-siu ada hal-hal yang mencurigakan?"

"Betul, kali ini anggap saja perkataanmu tepat sekali," sahut Kakek latah awet muda sambil mengangguk, "ayoh  sana, cepat sembunyikan diri, mereka sudah datang... selain itu, hey pengemis cilik, nanti  kau hanya boleh menonton, jangan mencoba coba untuk bersuara, mengerti?" Penemis sinting menjulurkan lidahnya dan  cepat-cepat ngeloyor pergi dari situ.

Kalau dibilang ngeloyor pergi,  maka lebih tepat  kalau dikatakan merangkak, dengan rangkakan yang berhati-hati sekali dan menyusup kebalik tumpukan kayu itu.

Oh Put Kui dan kakek latah awet muda segera mengincar pula suatu tempat yang dianggap ideal, lalu dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya dia menyelinap ke depan.

Dengan kesempurnaan ilmu meringankan tubuh yang mereka miliki, biarpun kawanan hwesio itu melihat bayangan tubuh merekapun, niscaya akan  menduga ada  dua  ekor kelelawar yang sedang terbang lewat.

Belum lama mereka bertiga menyembunyikan diri, ketua Pay-kau beserta anak buahnya sudah muncul disitu.

Betapa terkejutnya kawanan lhama yang  ditugaskan menjaga tumpukan kayu itu ketika melihat munculnya ketua Pay-kau secara mendadak,  sedemikian terkejutnya sampai mereka lupa untuk  turun tangan menghalangi perjalanan mereka.

Apalagi setelah mereka saksikan Put-khong hwesio dan Wi-cay hwesio, kedua orang pelindung hukum mereka yang berilmu silat tinggi telah ditawan musuh dalam keadaan hidup- hidup, mereka semakin ketakutan hingga lemas semua badannya.

Sambil tersenyum Li Cing-siu segera mengulapkan tangannya kepada seorang anak buahnya yang berada dibelakang lalu berkata:

"Giring mereka semua masuk ke balik tumpukan kayu!"

Lelaki itu menyahut dan segera mengumpulkan beberapa orang rekannya, lalu seperti gembala yang menggiring  kawanan itik, mereka membawa beberapa orang lhama itu masuk kebalik tumpukan kayu. Setelah itu Li Cing-siu baru berkata kepada Ciu It cing sambil tertawa:

"Anak Cing, bebaskan totokan darah dari Put-khong!"

Ciu It-cing menyahut dan segera menepuk bebas jalan darah Put-khong hwesio yang tertotok.

Tak lama kemudian tersengar Put-khong hwesio menghela napas panjang, kemudian pelan-pelan membuka matanya.

Mendadak dia merentangkan sepasang lengannya dan siap melompat bangun.

Agaknya Ciu It cing sudah berjaga jaga terhadap tindakan lawannya itu, serta merta dia menekuk lengan kirinya dan... "Duuuk!" sikutnya persis menghantam jalan darah cian-keng- hiat dibahu Put khong hwesio.

Kontan saja hwesio tersebut  tak sanggup berdiri lagi, kembali ita jatuh tertunduk di atas tanah.

"Lebih baik tak usah berpikiran lain," tegur  Ciu It-cing dengan suara ketus, "kalau tidak, kau si keledai gundul akan menderita paling dulu!"

Put-khong siansu segera membalikkan sepasang matanya yang kecil dan mendengus dingin, mulutnya  tetap membungkam dalam seribu bahasa.

Pelan-pelan Li Cing-siu berjalan menuju kehadapan Put- khong siansu, kemudian dengan wajah membesi bentaknya:

"Put-khong, aku hendak mengajukan beberapa buah pertanyaan kepadamu, harap kau suka menjawab dengan sejujurnya!"

Put-khong siansu masih tetap membungkam dalam seribu bahasa.

Sambil tertawa hambar Li Cing-siu segera berkata:

"Setelah terjatuh ketanganku, lebih baik kau tak usah berlagak menjadi seorang enghiong lagi, apalai pertanyaan yang hendak kuajukan pun sama sekali tak ada  sangkut pautnya denagn aliran Tibet kalian. Bilamana siansu adalah seseorang yang tahu diri, tentunya kau akan mengerti bahwa ucapanku bukan bohong..."

Kemudian setelah berhenti sejenak, dia menyambung lebih jauh:

"Sebetulnya aku tak ingin menodai sepasang tanganku dengan ayirnya darah, akan tetapi bilamana siansu tak  tahu  diri dan keras kepala terus, apa boleh buat, terpaksa aku akan melanggar pantangan denagn mengerjai dirimu habis- habisan..."

Perkataan ini sungguh amat hebat, selain bernada lembut penuh bujukan, terselip pula nada ketus  dan  keras  yang penuh berisikan ancaman...

Sepasang mata Put-khong siansu yang semula terpejam rapat, tiba-tiba saja dipentangkan lebar-lebar.

"Apakah taysu sudah pikirkan persoalan ini sampai jelas?" tanya Li Cing-siu lagi sambil tertawa.

dengan wajah kaku tanpa emosi Put-khong siansu mengangguk:

"Sekarang aku sudah terjatuh ke tangan kaucu, berarti aku sudah bukan seseorang yang bebas, masa aku kurang jelas?"

Li Cing-siu tertawa hambar:

Put-khong siansu cuma tertawa dingin  tanpa  memberi komentar ap-apa...

Sambil tertawa Li Cing-siu kembali berkata

"Bila dicari penyebab dari persoalan  ini,  semestinya taysulah si penyebab tersebut, kalau  tidak,  tentunya  akupun tak akan jauh-jauh berangkat kekuil Budha la-si di Tibet untuk mencari kalian bertiga bukan...?"

Setelah berhenti sejenak, dengan sorot mata yang memancarkan sinar aneh dia berkata lebih jauh: "Taysu, sebenarnya karena  persoalan apakah sehingga taysu begitu bertekad hendak mendapatkan kayu-kayu ini?"

"Bukankah kaucu sudah tahu tapi pura-pura bertanya lagi?" seru Put-khong siansu sambil tertawa dingin.

Dengan    cepat    Li  Cing-siu   menggelengkan kepalanya berulang kali:

"Bila aku tahu, buat apa mesti membuang waktu untuk bersilat lidah denganmu?"

Put-khong siansu kelihatan agak ragu, lalu dengan kening berkerut katanya:

"Lolap tidak percaya kalau kaucu tidak  mengentahui  tentang persoalan ini!"

"Bila taysu tidak mau percaya kepadaku, sesungguhnya tindakanmu ini merupakan suatu penghinaan terhadap sobat- sobat persilatan lainnya,  bayangkan sendiri, aku sebagai seoarang ketua dari suatu perkumpulan besar, masa mau berbicara sembarangan sehingga tak dipercaya orang?"

Kalau didengar dari nada suaranya, dia  memang mirip sebagai seorang ketua dari suatu perkumpulan besar.

Tapi Oh put-kui yang  berada ditempat  persembunyian justru merasa geli sekali, dia tak mengira kalau orang itu akan meminjam nama umat persilatan untuk menggertak  hwesio dari Tibet ini sehingga bersedia membongkar latar  belakang dari persoalan tersebut, bagaimana pun juga tindakannya ini memang sedikit kelewatan.

Berkilat sorot mata Put-khong siansu oleh perkataan itu, katanya kemudian dingin:

"Bila kaucu memang benar-benar  tidak tahu, memang kurang baik bila lolap tidak mengungkap hal ini kepadamu."

"Aku akan mendengarkan dengan seksama." "Sesungguhnya lolap membegal kiriman kayu-kayu ini, karena lolap hendak mengambil sebuah benda mestika dari situ."

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh. taysu, apakah kau tidak

salah?"

Put-khong siansu segera menggeleng:

"Tidak mungkin salah, lolap telah menerima surat dari pelindung hukum kuil kami Hian-kong siansu!"

"Mana mungkin didalam kayu kayu yang  kukirim  ini terdapat senjata mestika?"

"Bukankah kayu-kayu ini kaucu angkut dari tempat penggergajian kayu keluarga Seng di Si-kui?"

"Betul kayu-kayu tersebut memang kuangkut dari tempat penggergajian kayu keluarga Seng!"

"Bukankah kayu itu hendak dikirim ke perusahaan kayu Seng-ki di kota Kim leng?" kembali Put-khong  siansu  bertanya.

Sekali lagi Li Cing-siu mengangguk. "Yaa, benar!"

"Kalau begitu tak bakal salah lagi!"

"Maksud taysu, didalam kayu-kayu tersebut  disimpan senjata mestika. ?"

"Tepat sekali," Put-khong taysu tertawa dingin. "kalau tidak buat apa lolap sekalian datang ke daratan Tionggoan untuk mencegat kayu-kayu kirimanmu?"

Setelah mendengar perkataan tersebut, paras muka Li Cing siu baru kelihatan agak berubah.

Namun dengan cepat dia mengunakan nada amarah untuk menutupi gejolak emosi dalam hatinya. "Taysu, lebih baik kau jangan berbicara sembarang!" bentaknya keras keras.

"Selamanya lolap tak pernah  bohong apalagi berbicara sembarangan!" sahut Put-khong sinsu tak kalah gusarnya.

"Aku tetap tidak percaya kalau taysu mengatakan bahwa dibalik kayu-kayu tersebut disembunyikan sebuah senjata mestika."

"Perbuatan itu justru dikerjakan oleh cong huhoat kami Hian kong sian-su sendiri, bagaimana mungkin bisa salah?"

"Sungguhkah itu?"

Tampaknya dia tidak menyangka kalau Hian-kong siansu telah muncul pula didaratan Tionggoan, namun dari nada suaranya yang agak gemetar, bisa diduga kalau perasaannya sedang bergoncang keras.

Sambil tertawa dingin kembali Put-khong taysu berkata: "Dengan mata kepala cong-huhoat kami Hian-kong siansu

melihat ada orang memasukkan senjata mestika itu ke dalam salah satu dari kayu-kayu besar itu, masa hal inipun salah?"

"Lantas dimanakah kayu tersebut sekarang?" seru Li Cing- siu tanpa sadar.

"Ditepi sungai sana!"

Tanpa terasa Li   Cing-siu berpaling    kebelakang dan memandang sekejap jajaran kayu yang berada ditepi sungai.

Tapi kemudian dengan kening berkerut katanya:

"Maksud taysu, kayu  itu sudah dicampukan ke  dalam tumpukan kayu yang dikirim kemari ini?"

"Menurut petunjuk dari Hian-kong siancu, memang demikianlah keadaannya."

"Perkataan dari taysu ini sungguh membuat orang merasa keheranan!" kata Li Cing-siu kemudian sambil tertawa. "Apanya yang mengherankan? Lolap toh suah berbicara secara jelas sekali?"

Li Cing-siu menggelengkan kepalanya berulang kali, lalu berkata:

"Kalau toh Hian-kong  hoatsu  sudah mengetahui  kalau senjata mestika itu disimpan orang didalam  kayu,  mengapa dia tidak mengambilnya pada saat itu juga?"

"Lolap tidak dapat menjawab pertanyaan yang diajukan oleh kaucu ini..."

Li Cing-siu segera tertawa tereglak:

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... kalau toh Hian Khong hoatsu berkeinginan untuk mendapatkan senjata mestika itu, sekalipun dia tidak mengambilnya pada waktu itu,  setelah kejadian toh bisa mengambilnya, mengapa pula dia  mesti menulis surat ke Tibet dan minta kepada kalian  untuk  datang ke daratan Tionggoan hanya bermaksud mencegat kayu-kayu ini? Bukankah pekerjaan ini tertalu membuat waktu? Lagipula bisa jadi akan tersiar sampai di mana-mana?"

Pertanyaan yang diajukan itu, seketika itu juga  membuat Put Khong siansu menjadi melongo dan tak samggup menjawab.

"Lolap sendiripun pernah mengajukan  pertanyaan ini," ujarnya selang beberapa sat kemudian, "tapi, kalau toh cong- huhoat kami Hian Khong hoatsu hendak berbuat demikian, sudah pasti dia mempunyai alasan tertentu."

"Taysu begitu mempercayai Hian Khong hoatsu, tentu saja kau boleh melaksanakan tugas sesuai dengan perintahnya,  tapi tidak demikian dengan diriku..."

Setelah berhenti sejenak, dengan sorot mata memancarkan sinar tajam dia meneruskan:

"Bila taysu tidak bersedia memberitahukan keadaan yang sebenarnya, mungkin hal ini tidak akan menguntungkan bagi taysu sendiri. Kontan saja Put Khong siansu tertawa seram.

"Li kaucu tak usah menggertak lolap, selamanya lolap tak pernah berbohong dengan siapapun."

"Baik, biarlah aku mempercayai perkataanmu itu..."

Lalu dengan alis mata berkenyit dan sorot mata berkelit, dia menambahkan :

"Tahukah taysu, senjata mestika itu berupa benda apa?" Put-khong siansu tertawa dingin.

"Benda itu tak lain adalah ruyung mestika Mu-ni-ciang-mo- pian dari Wi-in sinnie yang berdiam di kuil Hian-leng-an  puncak bukit Kun-lun-san."

Begitu mendengar nama "Mu-ni-ciang-mo-pian,"  paras muka Li Cing-siu segera berubah hebat.

Oh Put-kui, kakek latah awet muda dan pengemis sinting bertiga pun sama-sama turut merasa terkejut.

Mereka sama seklai tidak menyangka kalau ruyung mu-ni- pian tersebut dapat disembunyikan orang didalam tumpukan kayu.

Tak heran kalau pihak istana Siang-hong-hu pun  turut mengincar kayu-kayu tersebut.

Meski begitu, masih ada satu hal yang tidak dipahami Oh Put-kui, yaitu siapa yang  telah mencuri ruyung  Mu-ni-pian tersebut? Dan setelah berhasil mencurinya, mengapa harus disembunyikan didalam kayu besar tersebut?

Selain itu, bukankah kayu itu hendak dijual kepada perusahaan kayu? Bahkan pengirimannya diatur oleh pihak Pay-kau?

Yang membuat Oh Put-kui terkejut bercampur keheranan adalah, si pencuri ruyung tersebut telah meninggalkan surat yang mengatakan bahwa Mu-ni-ciang-mo-pian  telah dicuri oleh orang-orang Pay-kau, sebenarnya apa maksud dan tujuannya dengan berbuat demikian?

Kalau dibilang memfitnah pun rasanya tidak mirip.

Sebab kalau tujuannya memfitnah,mengapa ia tidak secara langsung mengirim Mu-ni-pian tersebut kedalam markas besar perkumpulan Pay-kau? Atau kalau lebih keji lagi, ruyung mestika itu diikatkan ke tubuh salah seorang jago lihay dari  Pay kau, kemudian menghajar jago itu sampai terluka parah atau tewas, bukankah tindakan ini jauh lebih sempurna lagi ?

Nyatanya orang itu tidak mengambil tindakan demikian, hal ini membuktikan kalau tujuannya bukan memfitnah.

Oh Put-kui mencoba untuk  memutar otaknya sedapat mungkin, namun dia tetap tak berhasil menemukan alasannya.

Pada saat itulah Li Cing-siu telah berkata lagi dengan suara dalam dan berat:

"Put-khong, tindak tanduk yang telah terjadi ini  apakah merupakan siasat yang  sengaja diatur  oleh pihak Tibet kalian?"

"Li kaucu, bila ingin berbicara janganlah  sekali-kali menghina pihak kami!" seru Put khong siansu dengan gusar.

"Put Khong, seandainya kalian tidak sengaja bermaksud menjebak orang, mengapa anak murid Wi-in sinni pun pada malam ini bisa datang pula ke Kang-ciu serta meminta kembali ruyung itu dariku?"

"Apa?" Put Khong siansu nampak agak tertegun. "anak murid dari Wi-in sinni pun telah datang?"

Rupanya ia sudah tertotok jalan  darah  pingsannya sehingga sama sekali tidak mengetahui kejadian yang telah berlangsung.

"Hampir saja aku kehilangan muka karena peristiwa itu..." kata Li Cing-siu lagi.

Mendadak dia menghela napas panjang, lalu tambahnya: "Put Khong, apakah semua pengakuanmu itu tidak bohong?"

"Kalau bohong, buat apa lolap berusaha untuk menghadang pengiriman kayumu itu?"

Pelan-pelan air muka Li Cing-siu berubah menjadi tenang kembali, ia tertawa lalu katanya:

"Pernahkah Hian  Kong hoatsu menjelaskan siapa yang telah menyembunyikan ruyung mestika itu?"

"Tidak!"

"Apakah di atas kayu yang digunakan untuk menyembunyikan ruyung mestika itu, Hian Kong hoatsu telah meninggalkan sesuatu tanda...?"

"Tidak!"

Kemudian sambil tertawa dingin hwesio itu melanjutkan: "Sandainya kayu itu sudah diberi tanda, buat apa pula lolap

sekalian harus berdiam selama lima hari dikota Kang-ciu ini sehingga berhasil kalian susul dan  mengacaukan semua rencana dari pihak kami...?"

Mendengar jawaban ini Li Cing-siu segera tertawa: "Tampaknya perkataan dari taysu ini sangat meyakinkan!" Put Khong siansu kembali menghela napas:

"Aaai, perhitungan manusia memang tak bisa mengungguli perhitungan langit, terpaksa lolap pasrah kepada nasib. Nah Li kaucu, apa yang lolap ketahui telah  kujelaskan  semua,  bila kau bermaksud hendak turun tangan terhadap diriku, silahkan segera bertindak."

Tampak hwesio ini sudah mengambil keputusan untuk menerima keadaan apapun termasuk tindakan pembantaian terhadap dirinya. Oh Put Kui segera bersorak memuji setelah melihat sikap tersebut, dia sangat mengagumi sikap perkasa dari hwesio tersebut.

Siapa tahu Li Cing siu malah tertawa tergelak sesudah mendengar perkataan itu, katanya kemudian:

"Mengapa taysu berkata begitu? Memangnya kau anggap aku aalah seorang manusia buas yang gemar membunuh?"

Berkilat sepasang mata Put-khong siansu, katanya kemudian sambil tertawa dingin:

"Apakah kaucu tidak kuatir lolap akan  membawa  orang untuk membalas dendam?"

Li Cing-siu segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak, katanya:

"Apabila aku takut, tak nanti akan kubebaskan kalian semua..."

Kemudian setelah berhenti sejenak, ditatapnya pendeta itu sambil berkata lebih jauh:

"Aku toh tak bermaksud melukai atau mencelakai kalian,mengapa pula harus  takut  terhadap pembalasan dendam dari kalian?"

"Heeehhh... heeehhh... heeehhh... kaucu memang tak malu disebut seorang ketua dari suatu perkumpulan besar!" sejenak Put-khong siansu sambil tertawa dingin.

"Taysu terlampau memuji," Li Cing-siu tertawa hambar. Berbicara sampai disitu, diapun segera berpaling ke arah

Ciu It-cing yang berdiri di belakangnya dan berseru:

"Anak Cing, bebaskan jalan darah Wi-cay siansu yang tertotok, lalu wakili aku untuk menghantar kedua orang siansu itu masih ke kota."

Ciu It-cing menyambut dengan hormat kemudian menepuk bebas jalan arah Wi-cay siansu yang tergeletak disisinya, kemudian menitahkan seorang lelaki kekar untuk membopong pendeta tersebut.

Sementara itu Put-khong siansu telah bengkit berdiri pula dari atas tanah.

Dia memandang sekejap semua yang hadir disitu, lalu katanya:

"Lolap akan memohon diri lebih dulu!"

-----------------------

"Taysu, baik-baiklah menjaga diri, semoga kita dapat berjumpa lagi dilain waktu." kata Li Cing siu tertawa.

Kembali Put-khong siansu tertawa dingin:

"Li kaucu, disaat kita bersua kembali, justru lolap berharap kaucu bisa baik-baik menjaga diri."

Nyata sekali kalau pendeta ini bernyali amat besar, sekalipun masih berada disarang harimau, dia sama sekali  tidak menunjukkan perasaan gentarnya.

Li Cing-siu tersenyum.

"Terima kasih banyak atas peringatan  taysu, cuma  aku tidak memerlukan perhatian khususmu itu!"

Put-khong siansu tertawa seram, lalu menyambut tubuh Wi- cay taysu dari tangan lelaki kekar  tersebut,  tanpa mengucapkan sepatah katapun dia  segera  membalikkan badan dan beranjak pergi dari situ.

Ciu It-cing berniat menghantar kepergian mereka, tapi baru saja berjalan dua langkah Li Cing-siu telah berseru kembali:

"Anak Cing, kau tak usah menghantar mereka!"

Ciu It-cing mengiakan dan segera mengundurkan diri dari situ. Pelan-pelang Li Cing-siu mengalihkan pandangan matanya memandang sekejap sekeliling tempat itu, kemudian katanya sambil tertawa:

"Anak Cing, turunkan perintahku dengan lencana Hua-im thian-ciat, perintahkan kepada segenap anggota dari kantor cabang Si-kui agar secepatnya menyiapkan kayu-kayu yang baru dan segera kirim ke perusahaan kayu Seng-ki  di  kota Kim leng!"

Ciu It-cing menyahut dan segera berlalu tak lama kemudian dia sudah balik kembali. Bahkan sambil memandang kayu- kayu yang bertumpuk ditepi sungai, katanya sambil tertawa:

"Suhu, bagaimana dengan kayu-kayu ini?"

"Kumpulkan semua pekerja kasar yang ada  di kota  Kang  ciu dan beri waktu selama tiga jam  untuk  mengangkut semuanya ke atas daratan, lalu gergaji semua batang kayu itu sehingga setiap batang berukuran delapan depa!"

Dia tahu senjata mestika Mu-ni-pian tersebut panjangnya satu kaki, itu berarti jikalau disimpan dalam balok kayu  itu, paling tidak kayu tersebut harus mempunyai kepanjangan satu kaki lebih, oleh sebab itu bilamana kayu-kayu itu digergaji menjadi delapan depa saja, niscaya benda mestika itu akan terlihat dengan sendirinya.

Sambil tertawa Ciu It-cing bertanya lagi

"Suhu, apakah semua kayu-kayu yang ada harus dipotong semua?"

"Yaa, potong    terus    sampai  ruyung   mestika tersebut ditemukan!"

sekali lagi Ciu It-cing tertawa, katanya lagi:

"Suhu, setelah ruyung  mestika itu berhasil kita peroleh, apakah harus dikembalikan ke istana Sian-hong hu?"

Pertanyaan itu justru merupakan masalah yang sedang dipoikirkan oleh Oh Put Kui sekalian, karenanya mereka segera   memasang   telinga baik-baik   dan mendengarkan dengan seksama.

Apakah Li Cing-siu akan mengembalikan ruyun mestika tersebut kepada pemiliknya yang sah?

Tentu saja mereka tak dapat menduga sendiri.

Sementara itu terdengar Li Cing-siu telah menyahut sambil tertawa terbahak-bahak:

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... tentu saja harus dikembalikan kepada pihak istana Sian-hong-hu, anak Cing, orang kuno bilang siapa yang menyimpan mestika, dia akan tertimpa bencana, aku mah tak ingin  mencari  kesulitan  buat diri sendiri..."

Tapi sesudah berhenti sejenak,  tiba-tiba dia menghela napas sambil menggelengkan kepalanya berulang kali, kemudian katanya lebih lanjut:

"Tampaknya aku harus berangkat sendiri menuju ke ibu kota!"

"Suhu, mengapa kau harus berangkat ke ibu kota?" tanya Ciu It-cing dengan hormat

Li Cing-siu tertawa:

"Anak bodoh, coba bayangkan betapa berharganya ruyung penakluk iblis Mu-ni-ciang-mo-pian yang  merupakan  salah satu diantara tujuh mestika dunia persilatan, apabila sebelum dikirim ke istana Sian-hong-hu telah terjadi sesuatu peristiwa, bukankah aku bakal ditertawakan  oleh  seluruh  orang  dunia ini? Itulah sebabnya aku punya rencana untuk mengembalikan sendiri mestika itu kepada pemiliknya."

Leng-ho cinjin Cu Kong-to yang selama  ini  berdiri disamping arena dan membungkam terus dalam  seribu bahasa, tiba tiba berkata pula sambil tertaa: "Kaucu, menurut siaute lebih baik kau tak usah bersusuh payah sendiri, mengapa tidak menyuruh keponakan Cing saja untuk menghantar benda tersebut ke ibu kota?"

"Betul suhu, perkataan susiok memang benar, tecu berjanji tak akan memalukan dirimu!" kata Ciu It-cing segera sambil tertawa.

Li Cing-siu mengalihkan sorot matanya dan memandang sekejap wajah kedua  orang itu, kemudian  ujarnya sambil tertawa:

"Ruyung nya saja belum ditemukan, lebih baik kita jangan membicarakan persoalan ini lebih dulu!"

Leng-ho cinjin Cu Kong-to segera mengangguk: "Benar, perkataan kaucu memang tepat..."

Mereka bertiga pun tidak berbicara lagi, mereka segera memerintahkan semua orang yang ada diarena untuk memotong setiap batang kayu yang berada disitu.

Sepertanak nasi kemudian, dari kejauhan sana muncul kembali lima ratusan orang pekerja kasar.

Orang-orang tersebut dapat dikumpulkan  dalam  waktu yang relatip amat singkat, bagaimana pun juga kejadian ini segera mengejutkan hati Oh Put Kui, diam diam  diapun memuji atas kepemimpinan Pay-ku yang mempunyai disiplin sangat ketat.

Dengan kehadiran pekerja-pekerja kasar itu, maka suasana ditepi sungai pun semakin bertambah ramai.

Dalam waktu singkat suasana disitu sudah diramaikan dengan suara kayu yang dinagkut naik ke atas daratan serta suara gergeji dan kapak yang bergema silih berganti.

Berapa jam kemudian, semua kayu-kayu itu  sudah dikirim ke atas daratan...

Dan pekerja pekerja itu pun semakin mempergiat kerjanya. Entah berapa saat kemudian, fajar  mulai menyingsing diufuk sebelah timur sana...

Mendadak Oh Put Kui mendengar suara kakek latah awet muda yang sedang berbisik dengan ilmu  menyampaikan suara:

"Hey anak muda, apakah kau sudah berhasil menemukan ruyung mestika penakluk iblis itu?"

Oh Put Kui segera dibuat tertegun oleh ucapan mana.

Sebab ditinjau dari perkataan si kakek latah awet muda tersebut, seakan akan dia telah berhasil menemukan ruyung penakluk iblis itu.

Dengan sorot matanya yang tajam  dia segera mencoba untuk mencari disekitar kayu-kayu tadi, namun tak berhasil menemukan jejak ruyung penakluk iblis yang dimaksud.

Terdengar kakek latah awet muda berkata lagi dengan ilmu menyampaikan suaranya:

"Anak muda, kau tak usah mencaarinya lagi, arah yang kau tuju sama sekali keliru besar, tak nanti kau akan menemukannya. Aku lihat orang yang telah menyembunyikan ruyung penakluk iblis itu ke dalam kayu, bukan saja memiliki ilmu silat yang hebat bahkan memiliki kecerdikan yang luar biasa pula, agaknya dia hendak menyruuh si pencari mestika tersebut bukan saja menggergaji semua kayu yang ada.  bahkan harus menghancurkannya sama sekali sebelum dapat menemukan ruyung tadi..."

Oh Put Kui merasa tidak percaya, tapi mau tak mau diapun harus mempercayainya juga.

Dalam pada itu,  Li kaucu yang telah berubah  itupun nampak mulai dicekam perasaan tegang, tiada hentinya dia berjalan mondar mandir disekeliling pekerja tersebut sambil meneliti setiap potong kayu yang telah selesai  dipotong, namun Ok Put Kui tahu bahwa Li Cing-siu sedang merasa gelisah sebab hingga menjelang fajar  menyingsing, ruyung mestika yang sedang dicari belum juga ditemukan...

Terlebih-lebih anak murid dari ketua Pay-kau itu, sitamu tanpa bayangan penghancur hati Ciu It cing, dia nampak lebih emosi dan tidak tenang. walaupun mengikuti dibelakang gurunya, namun sorot matanya celingukan  kesana  kemari tiada hentinya.

Bukan cuma begitu, dibalik sorot matanya itu justru terpancar keluar sinar dingin yang menggidikkan hati.

Oh Put Kui yang menyaksikan hal tersebut, hatinya menjadi bingung dan tidak habis mengerti.

Namun diapun tidak berhasil menemukan seseuatu hal yang aneh dibalik kesemuanya itu.

Matahari sudah muncul dilangit timur, sinar keperak- perakan mulai memancar menyeinari permukaan sungai.

Ratusan batang kayu itu sekarang telah terurai menjadi ribuan potong, hampir semuanya telah terpotong menjadi berapa bagian.

Akan tetapi ruyung penakluk iblis Mu-ni-cang-mo-pian tersebut justru belum nampak jejaknya.

Akhirnya Li Cing-siu mulai mengerutkan dahinya rapat rapat.

Sedangkau Ciu It-cingpun mulai habis kesabarannya, dengan suara rendah dia mengumpat:

"Suhu, kita sudah ditipu mentah mentah oleh pendeta asing itu!"

Sambil tertawa getir Li Cing-siu menggelengkan kepalanya berulang kali, lalu katanya:

"Sekalipun Put Khong siansu berasal dari aliran sesat, namun orangnya tidak termasuk manusia licik  yang  tidak dapat dipercaya... anak Cing, nampaknya kita harus bekerja lebih keras sebelum bisa memperoleh mestika itu." "Bekerja lebih keras? Suhu, maksudmu potongan  kayu- kayu itu harus dipotong lebih pendek lagi?"

"Yaa, aku rasa memenag perlu berbuat demikian..." Kemudian setelah berhenti sejenak, lanjutnya:

"Tampaknya orang yang menyembunyikan ruyung tersebut kedalam kayu telah menekuk ruyung tadi menjadi berapa bagian sebelum diamblaskan kedalam batang kayu, itu berarti jika kita memotong kayu ini menjadi delapan depa, akan sulit juga untuk menemukannya..." 

"Suhu, tampaknya orang itu mempunyai muslihat yang hebat sekali..." kata Ciu It-cing tertawa.

"Akupun beru sekarang berpikir sampai ke situ. tampaknya orang yang menyembunyikan ruyung itu memang sengaja menyulitkan para pencari, agar mereka harus memotong semua bagian kayu itu menjadi potongan yang kecil sebelum dapat menemukannya, otomatis pekerjaan semacam ini akan membutuhkan waktu yang sangat lama..."

"Suhu, siapa tahu kalau dibalik kesemuanya ini terselip suatu siasat lain yang amat keji?" tiba-tiba Ciu It-cing berseru dengan sorot mata berkilat.

"Yaa, sulit untuk dikatakan, mungkin juga..."

Belum selesai dia berkata, mendadak terdengar Leng-ho cinjin Cu Kong-to menjerit kaget:

"Kaucu, ruyung mestika tersebut berada disini..."

Li Cing-siu segera menyelinap maju ke depan,  paras mukanya berubah menjadi aneh sekali, agak gugup tanyanya:

"Di mana?"

Sekali ayunan tangan dia telah mencengkeram potongan kayu yang beratnya paling tidak mencapai ratusan kati itu. Sementara itu Ciu It-cing telah  melayang datang  pula ketempat kejadian.

Ketika sorot matanya memandang kearah bongkahan kayu yang berada ditangan Li Cing-siu itu, mendadak ia berseru sambil tertawa gembira:

"Yaa benar, ruyung mestika itu memang berada disini..."

Belum selesai  dia berkata,  sepasang tangannya sudah bekerja cepat dan menghantam potongan kayu yang berada ditangan Li Cing-siu sehingga hancur berkeping-keping.

Dengan perasaan terkejut Li Cing siu segera berseru: "Anak Cing, kau..."

Belum habis bentakan itu, Tamu tanpa bayangan penghancur hati Ciu It cing telah berhasil mencengkeram ruyung Mu-ni-pian  tersebut dan  mendongakkan kepalanya sambil tertawa terbahak-bahak:

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... Li Cing siu, kau sudah tertipu!"

"Anak Cing, mengapa kau?" seru Li Cing siu agak tertegun.

Leng-ho cinjin Cu Kong-to membentak pula dengan suara dalam

"Ciu It-cing apakah kau berniat untuk menghianati perkumpulan? Mengapa kau bersikap begitu kurangajar dihadapan gurumu? Ayoh cepat lepaskan ruyung mestika itu dan nantikan hukuman!"

Mendengar ucapan mana, sekali lagi Ciu It-cing tertawa seram:

"Cu Kong-to, kau tak usah bermimpi di siang hari bolong... siapa sih yang menjadi anak muridmu?"

Secara tiba-tiba suara pembicaraaan dari Ciu It-cing telah berubah menjadi amat menyeramkan dan menggidikkan hati.

Sudah jelas orang itu bukan Ciu It cing! Oh Put Kui yang bersembunyi ditempat itu pun  merasa amat terperanjat, sekarang dia  baru teringat kalau suara pembicaraan dari Ciu It cing hari ini  memang  kedengaran  agak parau.

Rupanya dia adalah Ciu It cing gadungan.

Leng-ho cinjin Cu Kong-to ikut tertegun pula dengan wajah berubah hebat.

Mendadak Li Cing-siu tertawa terbahak-bahak:

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... anak Cing, apakah kau sudah gila? Masa dengan Cu susiok pun tidak kenal?"

Sambil berkata pelan-pelan dia berjalan mendekati pemuda tersebut, kembali katanya:

"Anak Cing, ayoh cepat minta maaf kepada Cu susiok!"

Kata-kata yang terakhir ini diucapkan Li Cing-siu dengan suara yang keras, dan setengah membentak.

Ciu It-cing segera tertawa dingin:

"Heeehhh... heeehhh... heeehhh... kau tak usah  berlagak sok dihadapanku, Li Cing-siu tujuanku tak lain adalah untuk memperoleh ruyung Mu-ni-pian ini sekalian memenggal batok kepala kalian, sekarang aku telah berubah pikiran"

Kemudian sesudah tertawa seram dia menerukan:

"Aku rasa kurang  baik untuk berjalan sambil membawa batok kepala, karena hal ini pasti akan  mendatangkan  bau amis yang tak sedap diendus, oleh sebab itu aku telah mengembil keputusan, bila ruyung ini telah kutemukan, maka kalian semua akan kupendam disini saja..."

Leng-ho cinjin Cu Kong-to benar-benar amat gusar setelah mendengar perkataan  ini, semua rambutnya berdiri kaku bagaikan landak, kemudian dengan suara mengeeledek bentaknya:

"Manusia durhaka, aku akan mencabut nyawamu!" Cahaya tajam berkilauan, dia telah meloloskan senjatanya. Tiba tiba Ciu It-cing berkata sambil tertawa hambar:

"Cu Kong-to, kepandaian silatmu masih ketinggalan sangat jauh..."

Didalam tertawanya itu jari tangannya  segera disentilkan kedepan, tahu tahu saja pedang yang berada dalam genggaman Cu Kong-to tersebut memperdengarkan suara dengungan yang sangat memekikkan telinga, dari sini dapat diketahui sampai dimanakah kehebatan dari sentilan jari tangannya itu.

Dengan wajah berubah hebat Cu Kong-to segera menegur: "Siapakah kau?"

Ciu It cing tertawa angkuh, ruyung penakluk iblis yang berada dalam genggamannya itu segera digetarkan keras- keras.

"Plaaaakk...!"

Bagaikan bunyi genta yang memekikkan telinga, hampir semua orang yang berada di situ merasakan telinganya amat sakit.

"Kau masih belum pantas untuk mengetahui namaku!" kata Ciu It cing kemudian angkuh.

Li Cing-siu benar benar seorang ketua suatu perkumpulan besar yang  sangat hebat, walaupun dia  menjumpai anak muridnya telah berubah menjadi gadungan, paras mukanya tidak berubah sedikitpun juga, malah ujarnya sambil tertawa:

"Anak cing, agaknya kau sudah dibuat linglung  karena hawa sesat ruyung tersebut? Bawa kemari, coba aku periksakan denyutan nadimu, atau mungkin ada sesuatu yang tak beres..."

Sembari berkata, kembali tubuhnya melangkah maju kedepan. Mendadak Ciu It-cing tertawa dingin dengan suara yang menyeramkan, lalu berseru:

"Li Cing-siu, gara-gara untuk memperoleh ruyung mestika ini, aku sudah mengganggumu sebagai seorang cianpwee selama sehari setengah, penderitaan tersebut sudah cukup memuakkan hatiku, dan sekarang..."

Tiba-tiba mencorong sinar tajam dari balik matanya, lalu katanya lagi sambil tertawa seram:

"Mulai saat ini aku hendak mengembalikan wajah asliku!"

Hingga detik ini Li Cing-siu baru benar-benar tertegun dibuatnya, ia lantas berseru:

"Jadi kau bukan Ciu It-cing?"

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... kau pernah mendengar tentang Tongkat emas tangan sakti Sik Keng-seng?"

"Jadi kau adalah wakil ketua Sik dari perkumpulan Ho-hap- kau?" seru Li Cing-siu dengan wajah berubah.

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... tidak kusangka Li kaucu mempunyai pengetahuan yang cukup luas!"

"Nama besar Sik hu-kaucu tentu saja kukenal" kata Li Cing- siu kemudian sembil tersenyum "hanya saja, aku tidak habis mengerti apa sebabnya kau enggan menjadi wakil kaucu, justru datang menyaru sebagai muridku, apakah perbatanmu tersebut hanya dikarenakan..."

Belum selesai Li Cing-siu berkata,  Sik Keng-seng telah menukas lagi sambil tertawa:

"Padahal Li kaucu tak perlu mengajukan pertanyaan seperti ini, kini ruyung Mu-ni-pian telah terjatuh ke tanganku, segala sesuatunya pun  sudah jelas, apa  gunanya kau banyak bertanya lagi?"

Sambil tertawa Li Cing siu manggut-manggut: "Benar juga perkataan dari Sik hu-kaucu. memang pertanyaanku ini tak ada gunanya."

Tapi setelah berhenti sejenak, dengan kening berkerut dia berkata kembali:

"Sudah lama kudengar tentang keahlian Sik  hu-kaucu dalam ilmu menyaru muka, hanya aku tidak mengerti, selain kau bisa menyaru sebagai muridku, mengapa kaupun bisa mengetahui segala seluk beluk tentang perkumpulanku tanpa meninggalkan titik kecurigaan apapun?"

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... tentu saja aku mempunyai sistim dan cara yang amat jitu," kata Sik Keng seng sambil tertawa tergelak, "Li kaucu, kau tak usah kuatir, terus terang saja kuberitahukan kepadamu, Ciu It-cing sama sekali tidak menderita luka apapun..."

"Benarkah?" tiba-tiba Li Cing-siu tertawa "tapi bagaimana mungkin aku bisa percaya kepadamu kalau kau tidak melukai muridku itu...?"

@oodwoo@
Ada kabar sedih nih gan, situs ini dinyatakan spam oleh pihak facebook :(:(. Admin mau minta tolong kepada para pembaca yang budiman untuk mengisi form di Link ini : Facebook Debugger dan menulis bahwa situs ini bukan spam. Semoga kebaikan dari pembaca dibalas berlipat ganda oleh Tuhan yang maha kuasa😇. Selaku Admin ~ Iccang🙏