Misteri Pulau Neraka (Ta Xia Hu Pu Qui) Jilid 36

 Jilid 36

Belum habis ucapan tersebut diutarakan,  kedua  orang gadis itu sudah lari meninggalkan tempat itu dengan wajah bersemu merah.

Sebab dari ucapan tersebut, segera diketahui  bahwa  Oh Put Kui telah mendengar pula pembicaraan mereka berdua.

Tak heran kalau mereka segera lari karena jengah.

Wan-sim-teng memang sebuah gedung yang amat besar, lebar dan megah.

Pada ruangan  berlapiskan batu hijau yang  tingginya mencapai tiga kaki dan luar mencapai sepuluh kaki itu sudah disiapkan tiga buah meja perjamuan.

Setiap meja perjamuan hanya diperuntukkan empat orang. Pada meja pertama ditempati Oh Put Kui, Kiau Hui-hui, Nyoo Siau-sian serta Lian Peng.

Pada meja kedua ditempati si nyonya petani dari Lamwan  Ku Giok-hun, perempuan cerdik dari ruang barat Leng Seng- luan, sitabib sakti Ang Yok-su serta seorang gadis cantik berbaju merah.

Pada meja ketiga ditempati oleh si kakek pencari kayu dari bukit utara Siang Ki-pia, panji sakti pencabut nyawa Ku Bun-  wi, hakim sakti hitam putih Pak Kun-jian serta seorang kakek toosu berbaju warna hitam.

Setelah menempati kursi masing-masing, bibi Lianpun memperkenalkan jago-jagonya satu persatu kepada Oh Put Kui. Baru setelah diperkenalkan Oh Put Kui mendapat  tahu setelah gadis cantik berbaju merah itu tak lain adalah Coat-jiu tongcu Si Cui-siong seorang gembong iblis yang angkat nama bersama-sama raja wilayah Biau Ibun Lam.

Sebaliknya toosu berbaju hitam itu merupakan seorang tukang ramal yang amat termashur namanya dalam dunia persilatan, ia lebih dikenal orang sebagai si tukang  ramal  setan tujuh bintang Li Hong-siang.

Kehadiran Coat-jiu tongcu Si Cui-siong tak sampai mengagetkan Oh Put Kui, namun kehadiran si tukang ramal setan Li Hong-siang dalam gedung Sian-hong-hu tersebut benar benar sangat mengejutkan Oh Put Kui.

Sekalipun Li Hong-siang terkenal sebagai situkang ramal setan, tapi orangnya justru jujur dan gerak-geriknya lurus.

Ia segera menaruh curiga kalau kehadiran kakek  ini pun ada sangkut pautnya dengan Beng-ho  siansu?  Sehingga tanpa terasa ia perhatikan kakek itu beberapa kejap.

Akan tetapi Li Hong-siang sama sekali tidak menunjukkan reaksi apapun.

Setelah tertawa hambar, Oh Put Kui segera  menjura  kepada para jago dari gedung Sian-hong-hu  itu  sambil katanya:

"Sungguh merupakan suatu kebanggaan bagi aku she Oh dapat bertemu muka dan berkenalan dengan para cianpwe ditempat ini hari ini "

Balum sampai pemuda itu menyelesaikan katanya, Lian Peng segera menukas:

"Oh kongcu adalah ahli waris dari Thian Liong Senceng, sebutanmu itu tak berani kami terima. "

Kemudian setelah berhenti sejenak, kembali dia berkata sambil tertawa terkekeh kekeh: "Nama besar kongcu  sudah terkenal  diseantero dunia persilatan, merupakan  suatu kebanggaan bagi kami hari ini dapat menjamu kongcu dalam gedung sian-hong-hu "

Belum selesai perkataan tersebut diutarakan, mendadak dari depan pelataran gedung sian-hong-hu telah muncul seorang lelaki kekar yang memasuki ruangan dengan langkah tergesa-gesa.

Lelaki kekar ini merupakan salah satu diantara jago pedang pengawal gedung, tanpa suatu peristiwa yang gawat, mustahil lelaki itu akan munculkan diri dengan langkah yang begitu terburu-buru.

Tidak heran kalau Lian Peng jadi amat terperanjat setelah menyaksikan kemunculan orang ini.

Kontan saja perkataan yang belum selesai diutarakan itu segera terhenti sampai ditengah jalan.

Cepat-cepat sipanji sakti pencabut nyawa Ku Bun-wi melompat bangun seraya membantah:

"Majikan sedang menjamu tamu diruangan ini, ada urusan apa kau datang dengan gelagapan?"

Dengan wajah kaget bercampur gelisah lelaki kekar itu membisikkan sesuatu disisi telinga Ku Bun-wi,  dan  paras muka si panji sakti pencabut nyawapun segera berubah hebat.

Sementara itu Lian Peng telah  berhasil mengendalikan perasaannya yang bergolak, pelan-pelan dia bertanya:

"Ada urusan apa saudara Ku ?"

Dengan langkah cepat Ku Bun-wi melangkah masuk kedalam ruangan, lalu sahutnya lirih:

"Ban Sik-tong serta Liok Jin-khi telah  datang  berkunjung dan mohon bertemu!"

Dengan langkah cepat Ku Bun-wi melangkah masuk kedalam ruangan, lalu sahutnya lirih: "Ban Sik-tong serta Liok Jin-khi telah  datang  berkunjung dan mohon bertemu!"

Mula-mula Lian Peng nampak agak tertegun sehabis mendengar kata-kata tersebut menyusul kemudian  dengan wajah penuh senyuman serunya kepada Ku Bun-wi:

"Saudara Ku, cepat kau keluar lebih  dulu,  katakan  kalau aku akan menyambut sendiri kehadiran mereka !"

Ku Bun-wi nampak tertegun, lalu tanpa mengucapkan sepatah katapun segera beranjak pergi dari situ.

Dalam pada itu semua jago yang hadir dalam ruangan tersebut sama-sama menunjukkan rasa kaget bercampur tertegun, masing-masing dengan kening berkerut mengawasi wajah Lian Peng tanpa berkedip.

Sambil tersenyum Lian-peng segera berkata  kepada Oh Put-kui:

"Oh kongcu, sungguh tak disangka  gedung  kami telah kedatangan tamu agung lagi, benar-benar suatu kebanggaan berganda buat kami! Orang tua she Ban ini lebih dikenal umat persilatan sebagai kakek latah  awet muda, berbicara soal tingkatan dia masih setingkat dengan para locianpwe yang berusia seratus dua puluh tahunan keatas. "

Bagaikan sengaja tak sengaja dia telah membeberkan asal usul dari kakek latah awet muda tersebut kepada Oh Put Kui, kemudian baru beranjak dari tempat duduknya dan maju kepintu luar.

Padahal Oh Put Kui yang menyaksikan tingkah lakunya itu justru merasa amat kegelian dalam hatinya.

"Locianpwe ini memang sangat menyenangkan  hati, rupanya mereka sudah memperhitungkan waktu bersantap secara tepat, sehingga muncul tepat pada waktunya."

Nyoo Siau-sian segera melontarkan pula sekulum senyuman kepada Oh Put Kui. Hingga kini  Oh Put Kui belum mengetahui  bagaimana sandiwara kakek latah awet muda selanjutnya, apakah  dia akan berlagak tidak kenal dengannya ataukah berlagak sudah kenal.

Karena itu dia kuatir bila senyuman dari Nyoo Siau-sian tersebut segera akan menimbulkan persoalan yang tak diinginkan, sebab itu cepat-cepat dia berkata kepada gadis itu sambil menggelengkan kepalanya berulang kali:

"Nona Sian, apakah kau kenal dengan kakek latah awet muda?"

Biarpun orangnya polos dan  bersifat kekanak-kanakan, kecerdikan Nyoo  Siau-sian terhitung mengagumkan. Dari perkataan Oh Put Kui, ia segera menyadari  akan kesalahannya.

Karena itu ujarnya setelah tertawa terkekeh-kekeh:

"Oh toako, aku pernah satu kali bertemu muka dengan dia orang tua........., Ooh benar orang tua ini betul-betul bersifat ketolol-tololan persis seperti anak kecil "

Belum habis perkataan itu diutarakan, dari arah pelataran muka sudah kedengaran kakek latah  awet muda berseru sambil tertawa terbahak-bahak:

"Haaaaaaaaaahhhhh...... haaaaaaaahhhh......

haaaaaahhh........ bagus, bagus sekali! Kebetulan  sekali  aku lagi lapar......... nona Lian, jangan-jangan kau mempunyai kepandaian untuk meramalkan hal yang bakal terjadi sehingga telah mempersiapkan meja perjamuan, jamuan untuk menantikan kedatanganku? Waaaaah, kalau begitu aku juga jadi malu sendiri "

Ditengah pembicaraan tersebut, kakek latah awet muda melangkah masuk kedalam ruangan.

Lian Peng mengikuti dibelakangnya. Sedangkan pengemis pikun Liok Jin-khi serta Ku Bun-wi mengikuti dibelakang kedua orang itu. Pada saat itulah Lian Peng telah berebut maju lebih dulu sambil serunya lantang:

"Ban tua, silahkan duduk dikursi utama !"

Dengan mata melotot besar Kakek latah awet muda memperhatikan sekejap sekitar ruangan, lalu sambil tertawa berjalan menuju kebangku disisi Oh Put Kui.

Lian Peng segera mengikuti pula disisinya.

Sedangkan pengemis pikun Liok Jin-khi bersama Ku Bun-  wi berada pada meja perjamuan ketiga.

Setelah mengambil tempat duduk, kakek latah awet muda segera menengok sekejap kearah Oh Put Kui sambil menegur:

"Hei anak muda, rupanya kau juga telah datang?"

Mendengar teguran itu, Oh Put Kui tahu kalau sikakek latah awet muda tidak bermaksud berlagak tak kenal, sudah barang tentu diapun tak bisa berlagak pilon terus.

Cepat-cepat sahutnya:

"Ban tua, boanpwe sendiri juga baru datang semalam!" Mendengar itu Kakek latah awet muda tertawa terbahak-

bahak:

"Haaaaaaahhhh..... haaaahhhhh...... haaaaaahhhhh......

bagus sekali, nona Lian kukira si tukang ramal setan Li Hong- siang telah membuat ramalan bagimu sehingga mengetahui kedatanganku dan  kau siapkan perjamuan lebih dahulu, ternyata dugaanku keliru besar, jadi kalian sedang menyelenggarakan perjamuan bagi bocah muda itu. "

"Kau orang tua memang gemar menggoda. " cepat-cepat

Lian Peng tertawa paksa.

Kakek latah awet muda segera berpaling kearah Oh  Put Kui dan serunya keras-keras: "Hei anak muda, agaknya  mukamu  jauh  lebih  besar dariku. "

"Siapa suruh kau tak datang sehari lebih duluan. "

sahut Oh Put Kui sambil tertawa.

Kakek latah awet muda kontan saja melotot besar:

"Bocah muda, siapa bilang aku tak ingin cepat-cepat datang kemari? Aaaaaii, gara-gara mesti membantu orang lain untuk menambah tenaga dalam, akibatnya aku jadi kehilangan banyak tenaga dan tak sanggup berjalan kelewat cepat "

"Ban tua, bagaimana kalau kau jangan banyak bicara lebih dulu ?"

"Kenapa tak boleh banyak bicara? Kau hendak memberontak haaaahh?"

"Bukan begitu, maksudku lebih baik minumlah arak lebih dulu ?" kata pemuda itu sambil tertawa.

"Betul..... kita mesti minum arak lebih dulu. "

Seraya berkata dia lantas mengangkat cawan arak dan meneguk isinya sampai habis.

Dengan sangat berhati-hati sekali dan wajah penuh senyuman Lian Peng menemani dari samping.

Sebaliknya beberapa orang jago dari Sian-hong-hu justru sama-sama berkerut kening.

Rencana yang telah mereka persiapkan masak-masak, akhirnya harus berantakan  dengan  kehadiran  kakek  latah awet muda yang sama sekali tak terduga sebelum ini.

Terutama sekali Ku Bun-wi, saking gelisahnya dia sampai menghela napas berulang kali.

SEtelah meneguk tiga cawan arak, kakek latah awet muda baru berkata kepada Nyoo Siau-sian sambil tertawa: "Hey budak cilik, suhumu menyuruh aku sampaikan kepadamu, jika tiada persoalan yang luar biasa, dalam dua tahun mendatang kau tak usah pergi mencarinya!"

Nyoo Siau-sian jadi tertegun.

"Ban tua, apakah belakangan ini suhu tak akan kembali ke bukit Kun-lun?"

"Entahlah, asal kau menuruti perkataannya itu  sudah cukup!"

Lian Peng segera menimbrung pula sambil tertawa terkekeh-kekeh:

"Sian-ji, bila sinni tak maui dirimu lagi, sudah pasti dia mempunyai alasan tertentu, selama banyak tahun belakangan ini kau jarang sekali berdiam dirumah sampai setengah tahun, kenapa tidak kau manfaatkan kesempatan ini untuk berdiam lebih lama lagi dirumah?"

Cepat-cepat Nyoo Siau-sian menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya:

"Bibi, anak Sian cuma kuatir kalau suhu enggan berjumpa lagi dengan diriku. "

"Aaaah, tidak mungkin!" kata Lian Peng sambil tertawa.

Kemudian sambil berpaling kearah Ban tua, dia menambahkan:

"Ban tua, dimanakah kau telah bersua dengan sinni?"

"Di ibukota, tapi ia sudah bersiap-siap hendak berangkat keluar perbatasan "

"Ban tua, ada  urusan apa suhu hendak pergi keluar perbatasan?" sela Nyoo Siau-sian.

"Untuk menjenguk seorang sahabatnya!"

"Ooh, dia pasti pergi menengok tosu bungkuk dari Soat-nia, Thian-hian Cinjin......" tiba-tiba Lian Peng menyela sambil tertawa lebar. "Belum tentu!" sela kakek latah awet muda dengan kening berkerut kencang.

"Kecuali Thian-hian Cinjin seorang, teman mana lagi diluar perbatasan yang pantas disambangi sinni? Ban-tua, aku rasa dugaan boanpwe pasti benar!"

Padahal apa yang diduganya memang benar.

Kakek latah awet muda segera tertawa terbahak bahak: "Haaaahhhh...... haaaahhhh...... hhhhaaaaaaaaahhhhhh.....

nona Lian, kau memang hebat "

Setelah berhenti sejenak, tiba-tiba serunya pula kepada sipengemis pikun:

"Pengemis kecil, mana kertas surat itu?  Cepat bawa kemari!"

Oh Put Kui yang mendengar perkataan tersebut segera berkerut kening, dia tak tahu permainan setan apa lagi yang hendak dilakukan kedua orang tua tersebut.

Sementara itu pengemis pikun Liok Jin-khi telah mengeluarkan secarik kertas  dari sakunya  dan dilontarkan kearah Kakek latah awet muda sambil serunya:

"Nah, sebutlah "

Secepat kilat kertas itu meluncur kehadapan kakek latah awet muda.

Sebenarnya Oh Put Kui ingin menghadang kertas surat itu ditengah jalan tapi diapun kuatir hal tersebut  akan menyinggung perasaan kakek Ban sehingga niat tersebut kemudian diurungkan.

Dalam waktu singkat kertas surat itu sudah terjatuh di tangan Kakek latah awet muda.

"Nona Lian, tahukah kau apa maksud kedatanganku kemari?" katanya kemudian. Dari pertanyaan tersebut, Lian Peng  segera  mengerti bahwa maksud kedatangan si jago tua tersebut tentu  ada hubungannya dengan isi surat tersebut.

Dengan senyuman yang tenang dia berkata kemudian: "Apakah kau orang tua bukan kemari untuk bermain?" "Betul, betul! Aku memang datang untuk bermain, cuma

saja "

Tiba-tiba kakek itu berkerut kening, kemudian melanjutkan: "Nona Lian, pemandangan manakah dalam gedung sian-

hong-hu yang paling indah?"

Lian Peng hanya tersenyum tanpa menjawab, sebaliknya Nyoo Siau-sian telah berseru sambil tertawa:

"Ban tua, Oh toako mengetahui dengan jelas pemandangan alam yang terindah didalam gedung ini."

Lian Peng segera mengerutkan dahinya setelah mendengar ucapan tersebut.

Sedangkan kakek latah awet muda  tertawa  terbahak bahak:

"Hhaaaaahhhhh......hhhhhaaaaaahhhhhhhh.....

haaaaahhhhh........ sudah kau dengar  perkataannya anak muda?"

"Sudah!" Oh Put Kui tertawa.

"Kalau sudah mendengar, ayohlah diutarakan!" "Pemandangan alam dikebun Cay-hong-wan paling indah." "Apakah seluruh kebun bunga itu sangat indah?"

Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benak Oh Put Kui, segera ujarnya sambil tertawa:

"Kalau bicara soal keindahan alam, maka seluruh kebun Cay-hong-wan paling indah, tapi kalau berbicara soal keheningan, maka loteng Seng-sim-lo itu merupakan tempat paling terpencil dan hening."

"Hey, darimana munculnya loteng Seng-sim-loo itu?" seru Kakek latah awet muda sambil menggeleng.

"Didalam kebun Cay-hong-wan terdapat sebuah bangunan loteng yang bernama Seng-sim-loo!"

"Oya.......?" kakek latah awet  muda  segera  berpaling kearah Lian Peng sambil serunya, "Nona Lian, benarkah apa yang diucapkan bocah muda ini?"

"Benar!" Lian Peng terpaksa tersenyum. Kembali Oh Put Kui menyela:

"Ban tua, kau jangan membicarakan keindahan alam lebih dulu, toh kedatanganmu kemari adalah untuk bermain, kalau begitu kau pasti akan berpesiar pula diseluruh kebun Cay- hong-wan tersebut."

Kemudian setelah berhenti sejenak, kemudian katanya, " Lantas apa sih kegunaan kertas surat  yang  berada ditanganmu itu?"

Mendengar perkataan itu kakek latah awet muda segera mendongakkan kepalanya dan tertawa tergelak:

"Haaaaahhhhh...... hhaaaaaahhhhh...... haaaahhhh......

anak muda, kertas ini tak ternilai harganya." "Kau maksudkan surat cek dari bank?"

"Yaaa boleh dibilang demikian,"  Kata kakek latah awet muda sambil tertawa, " Cuma uang tersebut hanya boleh diambil disuatu tempat saja, sedangkan jumlah terserah pada kemauanku sendiri."

"Waaahhh, masa ada cek semacam  ini dikolong langit?" teriak Oh Put Kui tak percaya.

"Jadu kau tak percaya?" SEjak tadi Oh Put Kui sudah tahu kalau dibalik kertas yang berada ditangan kakek latah awet muda mempunyai hal hal yang luar biasa, karena itu untuk menggelitik perasaan para jago dari Sian-hong-hu, dia sengaja sambil tertawa:

"Tentu saja boanpwe tidak percaya, coba kau  tanyakan saja kepada setiap orang, mereka pasti tak ada  yang  percaya."

"Baik aku akan bertanya kepada orang lain!" seru kakek latah awet muda penasaran.

Ia pun berpaling kearah Lian Peng seraya bertanya: "Nona, percayakah kau?"

Waktu itu perasaan Lian Peng benar-benar  merasa tak tenteram, pada hakekatnya dia tak tahu apa maksud tujuan kakek latah awet muda yang sesungguhnya, tapi diapun tak bisa membungkam diri belaka.

Terpaksa katanya kemudian:

"Sebenarnya boanpwe sendiripun kurang  percaya, tapi setelah kertas tersebut berada ditangan kau orang tua, apa boleh buat tak bisa tidak harus percaya juga "

"Jadi tegasmu?" desak kakek latah  awet muda sambil tertawa tergelak.

"Aku percaya penuh dengan perkataan dari kau orang tua." "Kau percaya?"

"Yaaa, boanpwe percaya!"

Kakek latah awet muda segera menyodorkan kertas tersebut kehadapannya dan berkata sambil tertawa tergelak:

"Jika percaya silahkan  kau melihatnya sendiri. "

Lian Peng tertawa cekikikan, diterimanya kertas itu dan katanya kemudian:

"Kau orang tua memang suka bergurau. " Namun secara tiba-tiba paras mukanya berubah hebat dan perkataan yang belum selesai diutarakan itu segera terhenti sampai ditengah jalan, kertas  tersebut telah membuatnya tertegun.

Sementara itu kakek latah awet muda telah  berseru kembali sambil tertawa tergelak:

"Bagaimana? Berapa besar nilainya?"

Pertanyaan yang diajukan olehnya ini segera membuat Oh Put Kui yang mendengarkan menjadi tertegun.

Sebaliknya para jago dari gedung  Sian-hong-hu sama- sama dibuat gelagapan.

Sebab mereka tak tahu persoalan apakah yang membuat paras muka bibi Lian mereka berubah muka,  bahkan tangannya yang memegang kertas itupun kelihatan gemetar keras..........

Setelah tertegun beberapa saat Nyoo Siau-sian bertanya: "Ban tua, sebenarnya tulisan apa sih yang tertera diatas

kertas tersebut?"

Kakek latah awet muda tertawa keras:

"Mengapa kau tidak membacanya sendiri, budak ?"

Mendengar itu Nyoo Siau-sian benar-benar berusaha melongok isi surat tersebut.

Tapi sayang dia tak sempat melihatnya.

Sepasang tangan Lian Peng secepat sambaran kilat telah meremas kertas itu sehingga hancur lebur dan berceceran diatas tanah.

Dengan wajah berubah Nyoo Siau-sian segera berseru: "Bibi Lian......... kau. "

Sikap Lian Peng sangat tenang, setelah tertawa hambar katanya pelan: "Anak   Sian,   persoalan ini tak ada sangkut pautnya denganmu, lebih  baik tak usah kau tanyakan "

oo0dw0oo

Sesudah berhenti sejenak, kembali katanya kepada sikakek latah awet muda:

"Ban-tua, kau   orang   tua benar-benar seorang yang mengetahui akan segala-galanya."

Kakek latah awet muda tertawa keras: "Hhhaaaaahhhhh.......haaaaahhhhhh....... hhaaahhhhhh......

sesungguhnya aku memang seorang yang mengetahui akan segala galanya, nona Lian, apakah transaksi ini bisa dilaksanakan?"

Lian-peng  ikut  tertawa terkekeh-kekeh:

"Ban tua, aku adalah si pembeli, tolong tanya apakah masih ada kesempatan begitu untuk menawar?"

"Nona, belum pernah aku melakukan transaksi seperti saat ini atau dengan perkataan lain hari ini adalah  hari yang pertama, jika kau masih mencoba menawar, bukankah hal ini sama artinya hendak merusak emasku?"

Lian Peng tersenyum,

"Kalau begitu hargamu tak bisa ditawar  tawar  lagi?" "Dengan mengandalkan  namaku selama seratus tahun,

jangan harap ada yang bisa mengajukan tawaran kepadaku."

Lian Peng nampak termenung sambil berpikir sejenak, akhirnya dia berseru:

"Baiklah, aku menerima transaksi jual belimu itu!" "Haaaahhhhh...... haaaahhhhh....... haaaahhhhh.......

sungguh tak nyana kau mempunyai jiwa gagah seorang lelaki sejati. " Setelah    tertawa   keras   tiba-tiba dia berpaling kearah pengemis pikun dan serunya:

"Hey, pengemis cilik, siapa yang menang ?"

"Aku benar-benar menderita kekalahan secara mengenaskan " keluh si pengemis pikun sambil bermuram

durja.

Tampaknya kakek latah awet muda merasa gembira sekali menyaksikan sikap pengemis pikun  yang  bermuram durja tersebut.

Dia mengernyitkan alis matanya lalu tertawa  terkekeh kekeh, serunya lagi:

"Pengemis cilik, kau jangan mencoba untuk mengingkar janji."

"Boanpwe tak berani......" sahut pengemis pikun sambil menghela napas panjang.

Kembali kakek latah awet muda tertawa tergelak: "Asal kau tahu hal ini, itu sudah cukup."

Kemudian setelah berhenti sejenak,  tiba-tiba kakek itu berpaling kepada Oh Put Kui sambil katanya:

"Anak muda, tentunya kau ingin secepatnya mengetahui obat apakah yang sebenarnya kujual dalam cupu-cupuku?"

Sesungguhnya Oh Put Kui memang sudah dibuat kebingungan setengah mati oleh tingkah laku kakek latah awet muda yang sangat tidak dimengerti olehnya.

Mendengar pertanyaan tersebut ia tertawa hambar, sahutnya:

"Bila kau orang tua bersedia untuk memberi keterangan, sudah barang tentu boanpwe akan mendengarkan  pula dengan senang hati. "

"Anak muda, tak nyana kau pandai sekali mengendalikan perasaan. " Dalam kesempatan itu Lian Peng telah berkata secara tiba- tiba sambil tertawa:

"Ban tua, sekarang transaksi diantara kita telah jadi, aku harap kau orang tua jangan membicarakan persoalan tersebut dalam perjamuan sekarang, tentunya kau tidak merasa keberatan bukan?"

Kakek latah awet muda tertawa terbahak bahak: "Haaaaaaahhhh....... haaaaaahhhhh........ haaaahhhhh.....

boleh saja tidak membicarakan persoalan tersebut untuk sementara waktu, tapi nona. "

Berkilat sorot mata kakek itu,  lalu setelah  mendengus  dingin dengan wajah aneh dia melanjutkan:

"Apabila kau berani mempersiapkan segala perbuatan dan tindak tanduk yang merugikan diriku, jangan salahkan aku bila tidak akan memegang janji nantinya sehingga bersikap tidak sungkan kepadanya!"

"Tentu saja, tentu saja. Nah Ban tua, terimalah hormatku dengan secawan arak ini. "

"Bagus sekali, aku akan meneguk dulu arak kehormatanmu ini. "

Seusai berkata, dia segera meneguk isi cawannya sampai habis.

Dalam pada itu, cong-huhoat dari gedung sian-hong-hu, si panji sakti pencabut nyawa Ku Bun-wi benar-benar merasa cemas bercampur  gelisah. Ia tak tahu transaksi jual  beli apakah yang sesungguhnya telah  dijalin antara  Lian Peng dengan kakek latah awet muda, makhluk tua  yang  berilmu silat sangat lihay itu.

Diapun berusaha untuk mengorek keterangan dari mulut pengemis pikun.

Sayang sekali pengemis pikunpun bertindak  amat  cerdik, tak sepatah katapun dia singgung persoalan tersebut. Dalam keadaan begini Ku Bun-wi  benar-benar  mati kutunya, sudah barang tentu  diapun tak berani  memaksa pengemis pikun untuk buka suara, sebab bukan saja  disitu hadir Oh Put Kui, bahkan kakek latah awet muda  yang  disegani pun berada pula disana.

Sebagai seorang yang cerdik tentu saja Lian-Peng juga mengetahui akan ketidak tenangan Ku Bun-wi, tapi dia sendiri tak bisa menyampaikan berita tersebut secara diam-diam.

Bayangkan saja kakek latah awet muda berada  disitu, betapapun besar nyalinya, tak nanti ia berani mencoba untuk bermain setan dihadapannnya.

Kelihatan sekali si kakek latah awet muda merasa gembira tak terkirakan, dia tertawa terbahak bahak tiada hentinya.

Entah sedari kapan Oh Put Kui telah mengangkat  pula cawannya untuk menemani orang tua itu minum arak.

Sebaliknya Nyoo Siau-sian dengan berkerut kening mengawasi Lian-peng tanpa berkedip.

Tiba tiba saja dia menaruh kecurigaan yang teramat besar atas kertas surat yang berada  ditangan kakek latah  awet muda tadi, dia merasa bahwa Lian Peng telah merahasiakan suatu masalah besar didalam gedung  tersebut dan belum pernah menyinggung dihadapan mukanya.

Mendadak saja dia merasa dirinya seolah olah seorang luar yang tak tersangkut dengan urusan tersebut.

Dia seperti merasa bahwa tempat ini bukan rumahnya dan dia bukan termasuk salah seorang anggota dari kelompok orang-orang tersebut.

Perasaan sedih, terhina tertinggal segera mencekam dan meliputi seluruh perasaan Nyoo Siau-sian.

Tanpa disadari butiran air matapun jatuh bercucuran membasahi pipinya. Kiau Hui-hui menghela napas pula dengan gelisah, dengan pandangan memohon dia mencoba mencegah gadis tersebut melampiaskan napsunya, sebab dia  tahu apa  yang terjadi sekarang barulah suatu permulaan, ia tak ingin kemarahan gadis itu membuat terbengkalainya masalah besar tersebut.

Untuk saja Nyoo Siau-sian dapat mengendalikan diri dan akhirnya tidak sempat mengumbar hawa napsunya.

Mendadak si tukang ramal setan Li Hong Sian bangkit berdiri, lalu serunya:

"Ban locianpwe, boanpwe dapat meramalkan isi surat yang berada ditanganmu itu!"

Ucapannya benar-benar merupakan  suatu kejutan yang menggemparkan seisi ruangan.

Sementara semua orang mengalihkan sorot mata serta perhatiannya kewajah orang itu, hampir semuanya mengawasi dengan penuh pengharapan, rasa gelisah dan tak tentram.

Pelan-pelan kakek latah  awet muda meletakkan cawan araknya keatas meja, kemudian katanya sambil tertawa:

"Benarkah kau dapat menebak isinya?"

"Benar, boanpwe dapat menebaknya!" sahut Li-hong-siang sambil tertawa.

Kakek latah awet muda segera tertawa dan  manggut- manggut, katanya kemudian:

"Tak ada salahnya coba kau sebutkan "

Li Hong Siang tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut, dia mengalihkan sorot matanya kewajah Lian Peng lalu bertanya:

"Nona Lian, bolehkah aku mengutarakannya keluar?"

Paras muka Lian Peng berubah menjadi dingin dan kaku bagaikan es, segera tukasnya: "Bukankah sudah kukatakan sejak tadi, selama perjamuan ini berlangsung, siapapun dilarang untuk membicarakan kembali masalah tersebut."

Li Hong-sian segera tertawa.

"Ban tua," katanya kemudian. "Berhubung nona Lian tidak setuju, terpaksa kutelan kembali kata-kataku tadi kedalam perut!"

Kakek latah awet muda tertawa keras:

"Ya, memang lebih baik kau telan kata-katamu itu didalam perut!"

Tanya jawab yang barusan berlangsung sudah jelas memberi pertanda yang cukup jelas bagi Oh Put Kui.

Secara tiba-tiba saja dia mendapat kesan bahwa delapan puluh persen Li Hong-siang merupakan salah seorang komplotan dari Bong-ho siansu, manusia yang diselundupkan kesitu seperti juga halnya dengan si kakek pencari kayu dari bukit utara.

Disamping itu diapun dapat merasakan betapa besarnya daya tekanan yang dihasilkan oleh kertas surat dalam cekalan kakek latah awet muda tadi, sedemikian besarnya sampai bisa membuat Lian-peng tak berkutik sama sekali.

Tapi persoalan apakah yang bisa mendatangkan daya tekanan sedemikian besar terhadapnya?

Setelah  mempertimbangkannya  masak-masak,  akhirnya Oh Put Kui berhasil mengambil tiga kesimpulan.

Kesatu, menyingkap sekitar teka-teki kematian Nyoo Thian- wi yang palsu.

Kedua, membongkar intrik busuk lawan yang menyekap Peng-gian-koay-kek Lan Cin Sui dalam penjara kematian.

Ketiga, bisa jadi kakek latah awet muda meminta kepada semua anggota Sian-hong-hu agar mengundurkan  diri dari dunia persilatan dan selanjutnya tidak melakukan  segala perbuatan yang merugikan lagi bagi umat persilatan.

Tapi dalam kenyataannya Oh Put Kui telah salah menduga, dia tidak menyangka kalau tindakan dari kakek latah  awet muda sesungguhnya jauh lebih hebat dan lebih memusingkan orang.

Diatas kertas mana kakek latah awet muda hanya menuliskan beberapa kata yang berbunyi demikian:

"Menggunakan nyawa setan Nyoo Thian-wi untuk ditukar dengan keluarnya si jenggot Lan dari penjara."

Diancam dengan keselamatan jiwa suaminya tidak mengherankan kalau Lian Peng segera dibuat gugup, gelagapan dan sangat tidak tenang.

oOdwOooo0dw0oOdwOooOdwOo

Dikala perjamuan telah  berlangsung mencapai setengah jalan, Lian Peng makin  dapat  mengendalikan  perasaannya, dia nampak jauh lebih tenang dan mantap.

Tiba-tiba ujarnya kepada Oh Put Kui sambil tertawa:

"Oh Kongcu, dengan kepandaian silatmu bukan saja kau termashur diseantero dunia persilatan, bahkan pernah pula mendatangi pulau neraka, kegagahanmu itu membuat kami semua orang-orang dari Sian-hong-hu merasa kagum. "

"Bibi Lian terlalu memuji !" kata Oh Put Kui sambil tertawa.

Lian Peng tidak memperdulikan sikap merendah dari pemuda itu, kembali dia berkata:

"Oh Kongcu, baik aku pribadi maupun segenap  sahabat  dari gedung sian-hong-hu sangat berharap bisa menyaksikan kehebatan dari kongcu itu, entah bersediakah kongcu untuk mendemontrasikan kemampuanmu itu diruang  Wan-sim-teng ini ?" Didalam perkiraan Oh Put Kui, dengan  hadirnya  kakek  latah awet muda maka rencana si kakek pencari kayu  dari bukit utara Siang Ki-pia yang ingin mencoba kepandaian silatnya pun turut diurungkan.

Siapa disangka Lian-peng justru mengajukan juga usul tersebut.

Untuk berapa saat lamanya dia dibuat bimbang dan  tak  tahu mesti menyanggupi ataukah harus menampik.

Sementara dia masih termenung dengan wajah kebingungan, Siang Ki-pia telah bangkit  berdiri  seraya  berkata:

"Oh Siauhiap, aku yang tua Siang Ki-pia ingin sekali menemani siauhiap untuk melepaskan otot-otot badan!"

"Aaaaaaaaah, aku tahu Siang tua adalah seorang tokoh termashur dari luar perbatasan, tak berani  kuiringi  keinginanmu itu," sahut Oh Put Kui cepat-cepat dengan kening berkerut.

"Haaaahhhh....... haaaahhhhh...... haaahhhh apakah Oh

sauhiap tak sudi menemani aku?"

"Bila Siang tua memang begitu tertarik denganku, sudah barang tentu aku akan mengiringi keinginanmu itu. "

Dia segera bangkit berdiri dari tempat duduknya, kemudian kepada Lian Peng katanya sambil tertawa:

"Bibi Lian, terpaksa aku harus memperlihatkan kejelekanku, untuk itu harap kau sudi memaafkan."

Tanpa menunggu jawaban dari Lian Peng lagi, dia maju ketengah ruangan dengan langkah lebar.

Dalam pada itu si kakek pencari kayu dari bukit utara Siang Ki-pia telah meloloskan kampak pendeknya yang besar dan berwarna hitam berkilauan itu dari pinggangnya, dia sudah menanti dengan senyum dikulum, Melihat lagak orang tua itu, didalam hati kecilnya  Oh  Put Kui tertawa geli, pikirnya:

"Tampaknya Siang tua memang pandai amat bersandiwara

!"

Tapi diluarnya dia berseru agak kaget:

"Siang tua, apakah kita harus menggerakkan senjata

tajam?"

Siang Ki-pia tertawa tergelak:

"Haaaaaaaahhhhhh........ haaaahhh........ haaaahhhh......

semua kepandaian andalanku terletak pada  permainan kampak pendek ini, jika Oh siauhiap enggan menggunakan senjata, bukankah hal ini sama artinya ingin  memberi kejelekan kepadaku?"

Dengan kening berkerut Oh Put-kui tertawa:

"Sayang seribu kali sayang, pedang karatku itu tak boleh bertemu dengan orang,  begini saja, kau orang tua tetap mepergunakan kampakmu, sedang aku biar melayani dengan tangan kosong saja, tentunya kau tidak merasa keberatan bukan?"

Tiba-tiba mencorong sinar tajam dari balik mata si kakek pencari kayu dri bukit utara Sian Ki-pia,  serunya kemudian setelah tertawa tergelak:

"Lote, kalau begitu kau terlalu memandang enteng kemampuanku "

Di hati kecil Siang Ki-pia memang muncul perasaan tidak percaya terhadap kemampuan lawan.

Dia cukup yakin akan permainan kampaknya ini, sudah hampir lima puluhan tahun  dia memperdalami kepandaian tersebut, padahal cuma beberapa gelintir manusia saja yang dapat mendhadapi permainan kampaknya sebanyak seratus gebrakan. Tapi sekarang Oh Put-kui bermaksud menfhadapinya dengan tangan kosong belaka, Siang Ki-pia segera menganggap tindakan yang dilakukan si anak muda tersebut terlalu latah dan ceroboh.

Dalam pada itu Oh Put Kui telah berkata lagi sambil tertawa:

"Siang tua, aku masih berkeyakinan dapat menanggulangi keadaan tersebut, harap kau tak usah gelisah atau cemas !"

Siang Ki Pia segera mempersiapkan kampak pendeknya, lalu katanya sambil tertawa tergelak:

"Lote, tentunya kau tak akan memaksa aku untuk turun tangan lebih dulu bukan?"

Oh Put  Kui tersenyum.

Dia tahu, menurut aturan dia memang harus turun tangan lebih dahulu.

Oleh sebab itu dalam  senyumannya  dia  segera melepaskan sebuah bacokan  kilat kedepan. Hilang lenyap senyuma diujung bibir Siang Ki-pia, diam-diam hatinya merasa terperanjat.

Dari ayunan telapak tangan lawan, dia dapat merasakan betapa dahsyatnya tenaga serangan yang terselip dibaliknya.......

Cepat-cepat dia mengayunkan  kapak pendeknya  sambil mendesak maju kemuka, memanfaatkan  peluang  yang  ada dia melepaskan sebuah serangan balasan.

Oh Put Kui segera mengayunkan sepasang telapak tangannya secara berangkai, beruntun dia melancarkan tiga buah serangan gencar.

Terpaksa Siang Ki-pia harus  memutar  kapaknya sedemikian rupa untuk menciptakan selapis bayangan senjata yang tebal sebelum berhasil menghadapi ketiga  buah serangan lawan. "Hong-hui-ciang........!" pekik bibi Lian dengan suara tertahan.

Lalu sambil berpaling kearah Nyoo Siau-sian, dia berkata lagi seraya tertawa:

"Kepandaian silat yang dipelajari Oh kongcu benar-benar beraneka ragam, sampai ilmu pukulan Hong-hui-ciang dari Ku Put-beng, salah seorang dari Bu lim-jit-sat pun  berhasil dikuasai secara sempurna, kemampuan semacam ini benar- benar jarang ditemui dalam dunia persilatan. "

Nyoo Siau-sian masih mengambek, dia tidak menanggapi perkataan tersebut, sebaliknya hanya mendengus  dengan mulut dicibirkan.

Kakek latah awet muda yang  berada disisi lain segera berseru sambil tertawa keras:

"Nona Lian, apakah tidak kau perhatikan bahwa ilmu silat yang dipelajari bocah muda itu selalu  beraneka  ragam, lagipula  semua  ilmu  yang  dipelajari   merupakan   ilmu  pilihan "

Ketika Nyoo Siau-sian mendengus tadi, sebenarnya paras muka Lian Peng telah berubah hebat, tapi setelah mendengar perkataan dari kakek latah awet muda itu, diapun memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengalihkan persoalan kearah lain.

Sambil tertawa segera katanya:

"Akupun mempunyai pendapat begitu, hanya saja keadaan demikian ini  rasanya kurang  sesuai sebagai seorang tuan rumah yang baik. "

"Ban tua, aku tak ingin dimaki orang sebagai seorang tuan rumah yang menganiaya tamunya. "

"Aku kuatir kalian tak bakal bisa menganiaya dirinya "

kata kakek latah awet muda sambil tertawa aneh. Kemudian setelah berhenti sejenak, sambil tertawa tergelak kembali dia berkata:

"Nona Lian, coba kau saksikan keadaan situa Siang yang begitu mengenaskan. "

Selama ini sorot mata dari Lian Peng belum pernah meninggalkan arena pertarungan barang sekejappun.

Perkataan dari Kakek latah awet muda itu tak lebih hanya menambah rasa kaget dalam hatinya.

Kenyataan pada waktu itu Oh Put Kui berhasil memaksa permainan kapak si kakek pencari kayu dari bukit utara Siang Ki-pia sama sekali tak berfungsi lagi, sebaliknya ilmu pukulan Hong-hui-ciangnya justru malang  melintang  menguasai seluruh arena.

Hampir setiap jago yang berada  dalam ruangan dibuat terkejut dan berdebar hatinya menghadapi kejadian tersebut.

Ku Bun-wi mengerutkan pula alis matanya  sehingga berubah menjadi satu garis, baru hari ini dia menyaksikan dengan mata kepala sendiri betapa sempurna  kepandaian silat yang dimiliki Oh Put Kui.

Sebaliknya si tukang ramal setan Li Hong Sian segera berseru kaget setelah menghela napas panjang:

"Lima tahun kemudian,  orang ini  pasti dapat malang melintang tanpa  tandingan di kolong langit "

Apa yang diucapkan olehnya memang tidak terlalu berlebihan.

Hampir semua orang yang hadir dalam arena sama-sama mengakui bahwa ucapan dari Li Hong-siang ini tepat sekali.

Bahkan diantara mereka, Lian-peng dan Ku Bun-wi berdualah yang merasa paling tidak tentram.

Tanpa disangsikan lagi Oh Put Kui telah menjadi suatu ancaman yang serius bagi rencana busuk mereka. Bahkan ancaman itu rasanya datang  secara langsung, ancaman yang langsung akan mempengaruhi tindak tanduk pihak Sian Hong-hu selanjutnya didalam  dunia persilatan............

Dan sekarang mereka harus memikul beban ketakutan, kuatir dan ngeri yang besar sekali.

Disamping itu mereka pun tak dapat menghilangkan niat mereka untuk melenyapkan Oh Put Kui dari muka bumi, tapi sayang keinginan tersebut justru mendatangkan beban yang beratus kali lipat lebih berat dalam hati mereka.

Dalam pada itu, Siang Ki-pia yang berada  dalam  arena telah mencapai keadaan yang paling kritis dan sulit.

Serangan demi serangan yang dilancarkan Oh Put Kui datang melanda bagaikan tindihan bukit karang yang berlapis lapis.

Ditengah bayangan tangan yang menderu deru memancarkan udara panas yang menyengat badan, kapak pendek Siang Ki-pia justru berubah seakan akan beratnya mencapai sepuluh ribu kati........

dia sudah mulai tak mampu mengendalikan  permainan senjatanya secara lancar........

Tapi sebaliknya Oh Put Kui justru tidak menunjukkan gejala akan menarik kembali serangannnya.

Jelas terlihat sepuluh gebrakan lagi, Siang Ki-pia tentu tak akan terlepas dari ancaman serangan pemuda itu.

Ketika Kakek latah awet muda menyaksikan Oh Put Kui bersikap seperti kehilangan  kontrol sehingga cuma tahu menyerang dengan sepenuh tenaga tanpa memikirkan apakah lawannya mampu menahan diri atau tidak, dalam hati kecilnya merasa terkejut sekali.

Dengan amat jelas ia telak mendengar pembicaraan antara lawan dengan Oh Put Kui semalam, tapi mengapa Oh Put Kui justru menyerang secara bersungguh-sungguh saat ini tanpa niat menghentikan serangan? Suatu kejadian yang  tidak dimengerti olehnya.

Bukan hanya si kakek latah awet muda merasa keheranan, bahkan sipengemis pikun yang selalu pikun pun turut dibuat terperanjat.

Dia berpaling sekejap kearah kakek latah awet muda, akhirnya tak tahan lagi teriaknya:

"Oh lote, apakah kau hendak menghancurkan nama baik si tukang pencari kayu tua itu dengan begitu saja? Bagaimana kalau lote memberi muka kepadaku dengan menyudahi pertarungan sampai disini saja?"

Teriaknya itu memang persis pada saatnya.

Bila terlambat sedetik saja, niscaya Siang Ki-pia akan mendapat malu besar.

Padahal Oh Put Kui memang tidak  berniat  melukai perasaan Siang Ki-pia.

Hal ini bisa terjadi karena baru pertama kali ini dia mencoba kehebatan ilmu pukulan Hong-hui-ciang tersebut, apalagi bertarung dengan  seseorang, saking asyiknya  bertarung, hampir saja ia lupa untuk menilai kemampuan lawannya.......

Untung saja pengemis pikun berteriak tepat pada waktunya sehingga Oh Put Kui cepat cepat menghentikan serangannya.

Begitu serangan ditarik kembali, dia  segera melompat mundur sejauh tiga langkah.

Derua angin pukulan yang panas menyengatpun seketika hilang lenyap tak berbekas.

Setelah berdiri tegak Oh Put Kui baru menjura dan berkata sambil tertawa:

"Siang tua, aku lupa diri sehingga  hampir saja  melukai anda, untuk keteledoranku ini harap kau sudi memaafkan " waktu itu Siang Ki-pia telah mandi keringat, pelan-pelan dia menyelipkan kembali  kampaknya  dipinggang,  kemudian sambil menghela napas panjang katanya:

"Aaaaaaiiii, aku memang sudah tua. "

Biarpun cuma beberapa patah  kata  yang singkat, tapi nadanya justru mengenaskan hati.

Kemudian setelah menjura dan mengulumkan senyuman yang getir, dia berkata lagi:

"Lote, aku benar-benar takluk kepadamu."

Kemudian dengan langkah lebar segera mengundurkan diri dari situ.

Oh PutKui sendiri berdiri dengan wajah serius, menanti Siang Ki-pai telah duduk kembali, dia baru berpaling  kearah Lian Peng dan berkata lantang:

"Bibi Lian, bila aku telah menyusahlan jago anda, harap kau sudi memaafkan "

Selesai berkata, dengan langkah yang santaipun dia berjalan kembali ketempat duduknya.

Sambil tertawa Lian Peng segera berkata

"Ilmu silat yang kongcu miliki benar-benar sangat hebat! Sudah lumrah jika dalam suatu pertarungan ada pihak yang menang ada  pula yang kalah, terbukti sekarang kongcu memang unggul karena kehebatan ilmu silatmu, apapula yang membuat kau risau?"

Lalu setelah berhenti sejenak, sambil mengangkat kembali cawannya dia berkata lebih jauh:

"Kongcu, terimalah hormat secawan arakku ini sebagai ucapan selamat kami. "

Sambil tersenyum Oh Put Kui meneguk isi cawannya. Sementara itu Nyoo Siau-sian telah berbisik pelan: "Toako, sungguh  hebat  ilmu pukulanmu tadi. "

"Sayang tenaga dalamku masih belum cukup sempurna," kata Oh Put Kui sambil tertawa, "andaikata orang tuamu yang mewariskan ilmu tersebut kepadaku yang memainkannya, mungkin seluruh ruangan  ini sudah hancur lebur  menjadi puing berserakan."

Mendengar perkataan tersebut Nyoo Siau-sian segera menjulur lidahnya.

Lian Peng tertawa terkekeh-kekeh, katanya pula:

"Ilmu pukulan hong-hwee ciang ini  merupakan  pukulan yang diandalkan It-gi Kitsu dalam berkelana dalam dunia persilatan dimasa lampau, sebagai seorang jago yang termashur karena ilmu pukulannya, bilamana  ilmu tersebut digunakan sendiri oleh si tua Ku, sudah barang tentu kelihayannya akan berlipat ganda. "

Baru selesai perkataan itu diutarakan, tiba-tiba kakek latah awet muda berkata pula sambil tertawa:

"Nona Lian, tolong tanya perjamuan ini akan diselenggarakan sampai kapan?"

Tertegun Lian Peng menghadapi pertanyaan tersebut, sahutnya kemudian:

"Ban tua, sayur yang dihidangkan pun  baru separuh." "Kalau begitu cepat sayur yang lain dihidangkan, makin

cepat transaksi diantara kita diwujudkan, hal ini semakin baik."

"AKu rasa kau orang tua kan tak usah terburu napsu," kata Lian Peng sambil tertawa hambar.

Ilmu silat yang dimiliki Oh Put Kui nampaknya telah menggemparkan semua jago lihay dari gedung Sian-hong-hu.

Perjamuan yang  diselenggarakan kali  ini akhirnya bisa diakhiri dalam suasana yang tenang. Kiau Hui-hui benar-benar merasa lega sekali ketika perjamuan ini dinyatakan selesai.

Bahkan Nyoo Siau-sian sendiripun turut menghembuskan napas lega.

Sebaliknya keadaan Oh Put Kui seperti dihari hari biasa, ia tak nampak kaget tak nampak pula gembira, ketika selesai bersantap, diapun  kembali kegedung tamu agung untuk beristirahat.

Kakek latah awet muda sendiri diundang langsung memasuki gedung belakang.

Oh Put Kui tahu, orang tua ini  sedang membicarakan transaksi jual belinya dengan Lian Peng.

Tapi hal yang paling menggelisahkan hatinya adalah sampai senja menjelang tiba, belum juga nampak kakek itu munculkan diri.

Pengemis pikun sudah mulai habis kesabarannya.

Untung saja Oh Put Kui berhasil mencegah pengemis itu untuk tidak melakukan hal-hal yang tak diinginkan.

Sebagai seorang tokoh  tua yang  berpengalaman dan berkepandaian tinggi. Kakek latah awet muda tak  mungkin bisa dicelakai orang-orang Sian-hong-hu dengan begitu saja.

Menjelang kentongan pertama, dia  bersama  pengemis pikun secara diam-diam berangkat   meninggalkan  gedung tamu agung.

Suasana didasar loteng Seng-sim-lo gelap gulita tak nampak sedikit cahayapun.

Oh Put Kui dan sipengemis pikun bergerak secara pelan- pelan ditengah kegelapan malam.

Tapi dengan mengandalkan ketajaman mata Oh Put Kui yang mampu memandang dibalik kegelapan ditambah pula kecerdasan otaknya yang mengagumkan, tak selang beberapa saat kemudian mereka telah berhasil menemukan pintu gerbang menuju kepenjara kematian tersebut.

Seluruh bangunan itu sudah mereka cari dan  periksa secara merata, namun orang yang dicari tak berhasil juga ditemukan.

Pengemis pikun mulai menghela napas  dan menggelengkan kepalanya dengan hati kecewa.

Sedangkan Oh Put Kui?

dia tak percaya kalau jalan menuju kedalam penjara kematian dibangun sedemikian rahasia dan hebatnya.

@oodwoo@