Lencana Pembunuh Naga Jilid 19

 
Jilid 19

Tok Liong Cuncu segera meletakkan kotak kumala itu diatas telapak tangan kanannya, kemudian menjawab, “Asal kau berniat dan punya kegembiraan untuk berbuat demikian, silahkan datang kemari dan ambillah sendiri”

Kendatipun kerakusan menyelimuti seluruh wajah Thi eng sin siu Oh Bu hong, namun ia tak berani terlalu gegabah untuk merampasnya dari tangan lawan, sebab dia tahu bahwa Tok Liong Cuncu memiliki tenaga dalam yang amat sempurna, kalau ia tidak memiliki kepandaian silat yang melebihi orang lain, tak nanti sikapnya begitu santai.

Untuk sesaat lamanya Oh Bu hong menjadi terkesiap dan pecah nyali, dia malahan tak berani maju kedepan lagi, walau cuma selangkahpun.

Waktu itu, si Tosu setan Thian yu Cinjin telah memutar tubuhnya, tiba-tiba ia berseru, “Cuncu hari ini kau melepaskan lohu, dikemudian hari kebaikan ini pasti akan kubalas!”

Seusai berkata dia lantas menghimpun tenaga dalamnya dan kabur dari situ, dalam waktu singkat bayangan tubuhnya sudah berada puluhan kaki jauhnya dari tempat semula.

“Kembali!” bentak Tok liong Cuncu tiba-tiba, Tosu setan Thian yu Cinjin merasa terkesiap, buru-buru ia menghentikan gerakan tubuhnya. “Masih ada sesuatu persoalan yang lain?” tanyanya.

Sambil menghela napas panjang, kata Tok liong Cuncu, “Sekembalinya dari sini, beritahu kepada kongsun Po, Say Khi pit serta Yan lo sat, katakan bahwa pun Cuncu telah muncul kembali dalam dunia persilatan, tak selang beberapa hari lagi pasti akan kucari diri mereka semua…”

Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan, “Seandainya diantara beberapa orang ini masih tetap berada dipulau ini, beritahu kepada mereka agar berhati-hati, jika sampai kujumpai nyawa mereka pasti akan kukirim kembali keakhirat.

Tosu setan Thian yu Cinjin tertawa seram, “Baik!” katanya kemudian, “lohu pasti akan menyampaikan kata-kata ini kepada mereka…”

Tok liong Cuncu kembali mendengus, katanya lebih lanjut, “Menggunakan kesempatan ini, pun cuncu pun akan memperingatkan kepada kalian semua kecuali pun cuncu seorang yang sanggup membongkar rahasia sekitar istana Kiu ciong kiong ini, orang yang lain tak usah mempunyai angan-angan yang muluk lagi, bila ada diantara kalian berani sembarangan bertindak, maka inilah contohnya..!”

“Kraaak… Blaaam!”

Ketika sebuah batu cadas yang beribu-ribu kati beratnya kena ditotok oleh ayunan tangannya, diiringi ledakan keras hancurlah batu itu menjadi berkeping-keping dan berhamburan kemana-mana.

“Tok liong Ci jiau (cakar maut naga beracun)!”

Setiap orang yang pernah berjumpa dengan Tok liong cuncu dimasa lalu, rata-rata mengetahui jelas tentang ilmu cakar maut Tok liong ci jiau tersebut.

000O000

Betul kawanan jago yang berkumpul disitu waktu itu rata-rata adalah jago kelas satu dari dunia persilatan namun tak seorangpun diantara mereka yang berkeyakinan bahwa mereka mampu menyambut sebuah cengkeraman maut yang disertai dengan tenaga maha dahsyat tersebut.

Untuk sesaat lamanya, suasana disekeliling tempat itu menjadi hening sepi, tak kedengaran sedikit suarapun. Tak seorang manusiapun berani menghembuskan napas panjang sesudah menyaksikan keampuhan dari tenaga cengkeraman itu, paras muka Oh Bu hong yang sebelumnya tampak keren tiba-tiba berubah menjadi redup, ia tahu bila ingin bertarung melawan Tok liong Cuncu dengan kekuatan tenaga dalam yang dimilikinya sekarang, rasanya hal ini tak mungkin bisa terpenuhi…

Si Tosu «etan Thian yu Cinjin semakin ketakutan, peluh dingin bahkan sempat membasahi jidatnya, tanpa membuang waktu lagi dia memutar badannya dan melarikan diri terbirit-birit meninggalkan tempat itu.

Dipihak lain, pertarungan antara Thi kiam kuncu Hoa Kok khi melawan Gak Lam kun pun telah terhenti, tampak wajahnya pucat pias seperti mayat, sorot matanya pudar dan liar, otaknya berputar terus berusaha mencari akal bagus untuk melarikan diri dari situ. Tapi Tok liong Cuncu adalah manusia paling aneh didunia ini, kemanakah dia akan meloloskan diri?

Mendadak Tok liong Cuncu tertawa seram dan berpaling kearah Hoa Kok khi, Hoa Kok khi merasa jantungnya tiba-tiba berdebar lebih keras, dengan cepat pedangnya diputar untuk melindungi semua jalan darah penting disekujur tubuhnya.

“Kau juga enyah dari sini!” seru Tok liong Cuncu lagi dengan suara dingin, “tapi kau musti ingat, hari ini bisa melepaskan dirimu besok aku dapat menangkapmu kembali, semoga saja bila berjumpa lagi denganku dikemudian hari, kaburlah sejauh mungkin!”

Thi kiam Kuncu Hoa Kok khi mendongakkan kepalanya dan tertawa seram.

“Haaahh… haaahh… haaahh… baik, baik, anggap saja hari ini aku orang she Hoa jatuh pecundang ditangan kalian, asal aku Hoa Kok khi masih bisa bernapas di kemudian hari pasti akan berjumpa lagi dengan sobat lama!”

“Kalau memang begitu hal ini lebih bagus lagi” kata Tok liong Cuncu dingin, “asal sejarah di tebing Yan po gan bisa terulang lagi, sekalipun pun cuncu harus mati juga tak akan menyesal!”

“Heeehh… heeehh… heeehh… bagus, kalau begitu biar kuciptakan kembali peristiwa Yan po gan untuk dipersembahkan kepadamu!”

Seusai berkata, dia lantas melompat kedepan dan berlalu dari tempat itu.

Gara-gara ucapan Hoa Kok khi hari ini hampir saja Gak Lam kun mengalami nasib yang sama dengan gurunya dibukit Yan po gan tempo hari, cuma tentu saja kejadian itu berlangsung di kemudian hari nanti…

Tok liong Cuncu tertawa mengejek kepada Oh Bu hong katanya kemudian, “Apakah saudara masih bermaksud untuk merampas benda mustika ini dari tanganku?”

Ia sengaja mengangkat Lencana pembunuh naga itu tinggi-tinggi, sehingga sinar mata semua jago dari Thi eng pang bersama-sama dialihkan kearah kotak kumala tersebut.

Oh Bu hong segera memberi tanda kepada kawanan jago yang berada dibelakangnya, lalu berkata, “Thi eng pang kami berhasrat untuk mendapatkan benda itu walau apapun resikonya, selama harapan tersebut belum lenyap, lohu beserta anak buah kami siap untuk bertempur melawan Cuncu…”

Jelas ia telah bertekad untuk mempergunakan kekuatan dari Thi eng pang untuk saling memperebutkan Lencana pembunuh naga dengan diri Tok liong Cuncu.

Menghadapi kejadian tersebut, Tok liong Cuncu segera tertawa ringan, katanya, “Saudara suka berbuat bagaimana berbuatlah bagaimana, Pun Cuncu pasti akan melayani keinginanmu itu…”

Gak Lam kun yang berada disampingnya segera tertawa terbahak-bahak. “Haaahhh… haaahhh… haaahhh… jika toa pangcu ada minat, aku pasti akan melayani dirimu untuk bermain sebanyak beberapa gebrakan…”

Tok liong Cuncu berkata pula dengan cepat.

“Muridku telah memperoleh warisan dari pun cuncu, asal Oh pangcu sanggup menangkan satu atau setengah jurus darinya, pun Cuncu bersedia pula untuk menyerahkan Lencana pembunuh naga ini kepadamu…”

Pada saat itulah, mendadak Si Tiong pek melompat bangun dari atas tanah, kemudian berseru.

“Biar aku saja yang bermain-main dengan Saudara Gak!”

Sebelum Gak Lam kun sempat menjawab ia sudah menerjang maju kedepan lalu dengan jurus Ciong hay kiu cu (mencari mutiara didasar samudra ia cukil sepasang mata pemuda itu, jurus serangan tersebut dilancarkan dengan kecepatan luar biasa.

Gak Lam kun tak tahu kalau jurus serangan itu berasal dari kitab pusaka Ciong hay kun boh, ketika dilihatnya jurus serangan itu sangat tangguh, diam-diam terkesiap juga hatinya, buru-buru dia melompat kesamping untuk menghindarkan diri.

“Saudara Si, sungguh pesat kemajuan yang kau capai dalam ilmu silatmu, katanya sambil tertawa nyaring, “aku lihat jurus serangan yang kau pergunakan ini bukan berasal dari ajaran gurumu!”

Bagi orang lain, perkataan itu tidak mendatangkan perasaan apa-apa, tapi bagi pendengaran Thi eng pangcu Oh Bu hong justru sangat tak sedap.

Sebagaimana diketahui, ilmu silat yang dimiliki Si Tiong pek selama ini adalah hasil ajarannya walaupun Si Tiong pek cerdas dan berhasil menguasai seluruh kepandaian gurunya, namun kehebatannya tak pernah bisa melampaui yang lain.

Tapi semenjak ia kehilangan lengan kanannya, tiba-tiba Thi eng pangcu Oh Bu hong menemukan bahwa ilmu silat muridnya mendapat kemajuan yang pesat, lagipula jurus- jurus serangannya jauh diluar dugaan, bukan cuma berbeda dengan jurus-jurus aliran Tionggoan, bahkan banyak diantaranya yang belum pernah dijumpai selama ini.

Dalam sangsinya, beberapa kali ia sudah berusaha untuk mengamati gerakan jurus serangan itu, sayang ia selalu tak berhasil dengan usahanya itu.

Begitulah setelah berhasil menghindarkan diri dari jurus serangan Ciong hay kiu cu tersebut Gak Lam kun sama sekali tak berani menghentikan gerakan tubuhnya, buru-buru ia mengerahkan tenaganya dan menerjang kemuka, jari tangannya langsung mencengkeram kebahu lawan.

Pertarungan cara begini ini sungguh tangguh dan mengerikan, membuat Si Tiong pek sendiripun merasa terkesiap, tapi dia cukup percaya dengan kemampuan jurus-jurus serangan Hay ciong kun boh yang dimilikinya, maka ia cuma tersenyum.

Lengan kanannya segera ditekuk lalu direntangkan kedepan, sambil membuang bahu ia bergeser kedepan, kali ini ia serang jalan darah Ci ti hiat tubuh Gak Lam kun. Menggunakan kesempatan dikala Gak Lam kun melompat mundur, Si Tiong pek segera membentak, “Suhu, kenapa kau belum juga…”

Oh Bu hong tahu kalau Si Tiong pek sedang memberi peringatan kepadanya agar menggunakan kekuatan Thi eng pang yang ada sekarang untuk bersama-sama merampas Lencana pembunuh naga itu dari tangan Tok liong Cuncu mumpung Gak Lam kun kena dihadang olehnya.

Menyadari bahwa kesempatan baik segera akan berakhir, Oh Bu hong segera membentak keras, “Cuncu maaf kalau lohu terpaksa harus bertindak kurang sopan kepadamu!”

Toya bajanya diayunkan kedepan, menggunakan kesempatan itu tubuhnya melambung beberapa kaki keudara lalu menubruk kebawah.

Ki Li soat, Cian seng ki su Wan Kiam ciu serta Gan tiong ciang Kwan Kim ceng serentak meloloskan senjata tajam masing-masing lalu membentak keras, dengan suatu gerakan yang bersamaan serentak mereka menyerang kearah Tok liong Cuncu.

Disaat yang amat kritis itulah, mendadak…

“Perguruan panah bercinta ikut ambil bagian dalam perebutan ini?” terdengar Ji Cin peng membentak keras.

Tubuhnya yang ramping segera melompat kedepan, sebuah pukulan dahsyat langsung dilontarkan keatas batok kepala Thi eng sin siu Oh Bu hong yang sedang menubruk datang.

Jit poh toan hun Kwik To ikut pula membentak keras, “Wan loji, biar lohu saja yang menghadapi dirimu!”

Cian seng ki su Wan Kiam ciu tertawa seram, “Heeehhh… heeehhh… heeehhh… dalam pertarungan kita pada sepuluh tahun berselang, belum ada hasil yang kita ketahui, hari ini kita memang harus ulangi kembali pertarungan tersebut untuk mengetahui siapa yang jauh lebih tangguh diantara kita berdua!”

Kedua orang itu tidak banyak berbicara lagi, masing-masing segera mengerahkan tenaga dalamnya untuk menghajar tempat mematikan ditubuh lawannya.

Dalam waktu singkat semua jago lihay Thi eng pang sudah terhadang semua oleh jago- jago perguruan panah bercinta. Mimpipun Oh Bu hong tidak mengira kalau pihak perguruan panah bercinta bakal membantu Tok liong Cuncu, tak terlukiskan rasa gusar yang menggelora dalam dadanya.

Sikap dari Tok liong Cuncu sendiripun ternyata sangat aneh, dia tidak bertarung melawan siapapun, sebaliknya malahan melayang naik keatas gundukan tanah berbukit dan tertawa tergelak.

“Haaahhh… haaahhh… haaahhh… Oh pangcu, aku lihat perkumpulanmu menghadapi ancaman bahaya maut kali ini!” serunya. Oh Bu hong betul-betul merasa gusar bercampur mendongkol, teriaknya dengan sinis, “Mentang-mentang Tok liong Cuncu, tak tahunya masih membutuhkan bantuan dari anjing-anjing perguruan panah bercinta untuk bertarung… hmmm! Sungguh memalukan…”

Belum habis perkataannya diucapkan, beberapa buah serangan dahsyat dari Ji Cin peng telah meluncur tiba, terpaksa dia harus menghimpun tenaganya untuk menghadapi serangan.

Meski demikian, dalam hatinya berpikir terus, ia menduga antara Tok liong Cuncu dengan pihak perguruan panah bercinta pasti sudah terjalin suatu hubungan rahasia.

Tiba-tiba terdengar Si Tiong pek berteriak kembali.

“Suhu, kalau kau tidak menitahkan semua orang untuk menghentikan pertarungan, perkumpulan Thi eng pang bisa hancur berantakan ditangan mereka.”

Meskipun sedang berbicara, namun gerakan tubuhnya sama sekali tak berhenti, ini menunjukkan betapa sengitnya pertarungan antara dia melawan Gak Lam kun.

Terkesiap Oh Bu hong setelah mendengar teriakan itu, sambil bertarung terus, serunya kembali, “Pek ji, apakah kau dapat melihatnya?”

Sementara itu, Cian seng ki su Wan kiam ciu yang bertempur melawan Jit poh toan hun Kwik To, selalu merasa betapa aneh dan saktinya kekuatan lawan, bahkan tenaga dalamnya beberapa kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan sepuluh tahun berselang.

Dengan julukannya sebagai sastrawan sakti selaksa bintang menunjukkan bahwa otaknya memang cerdas dengan pelbagai akal muslihat yang licin, dengan cepat ia dapat mengetahui pula akan gawatnya situasi, buru-buru tubuhnya melayang mundur kebelakang.

Melihat musuhnya kabur, Jit poh toan hun Kwik To segera tertawa terbahak-bahak, “Haaahh… haaahh… haaahh… sobat lama, kau ingin kabur kemana?”

Dengan dapat ia memutar tubuhnya dan menerjang dari belakang Cian seng ki su. Sambil melarikan diri terbirit-birit, Cian seng ki su Wan Kiam ciu sempat berteriak keras,

“Pangcu apa yang diucapkan Si Tiong pek tidak salah, lebih baik kau cepat mengambil keputusan!”

Mendengar itu Oh Bu hong mendengus dingin. “Hmmm! Sungguhkah demikian serius?” ia berseru.

Tok liong Cuncu yang berada disamping segera tertawa dingin, katanya lirih, “Untuk menghadapi perguruan panah bercinta saja kalian tak mampu kalau sampai pun Cuncu ikut turun tangan, hmmm! Apa kalian tidak mampus sedari tadi…”

Setelah mendengar perkataan itu, Thi eng pangcu baru merasa terkejut, buru-buru teriaknya, “Semua anggota Thi eng pang mundur!” Menyusul bentakan itu, Si Tiong pek sekalian para jago lihay serentak menarik kembali serangannya dan melarikan diri dari tempat itu.

Ternyata sikap para jago perguruan panah bercinta pun seolah-olah mempunyai suatu rahasia besar, mereka sama sekali tidak melakukan pengejaran terhadap para jago Thi eng pang yang sedang melarikan diri itu.

“Sungguh berbahaya!” diam-diam Gak Lam kun berbisik.

Pelan-pelan ia berjalan menghampiri Tok liong Cuncu dan berdiri disisinya, sementara Tok liong Cuncu sendiri dengan sorot matanya yang tajam mengawasi terus wajah Kwik To tanpa berkedip.

Kwik To yang ditatap seperti ini, segera merasakan hatinya bergetar keras, diam-diam ia menduga-duga siapa gerangan orang ini?

“Tua bangka she Kwik!” seru Tok liong Cuncu tiba-tiba sambil tertawa dingin, “hari ini pun cuncu hendak merenggut selembar nyawa anjingmu!”

Buru-buru Gak Lam kun maju kedepan sembari berseru.

“Suhu, Kwik To pernah menyelamatkan selembar jiwa tecu, hari ini…”

“Oh, kalau memang begitu biar kutitip nyawa Kwik To untuk tiga tahun lamanya, setelah lewat tiga tahun pun cuncu baru akan merenggut kembali jiwanya!”

Ji Cin pengpun segera mengulapkan tangannya sambil berkata.

“Untuk sementara waktu kalian boleh mengundurkan diri lebih dahulu, aku serta Gak siangkong hendak menyelidiki jejak Thiansan soat li…”

Si Nenek berambut putih, Han Hu hoa dan Siangkoan Ik segera mengiakan dan mengundurkan diri dari situ, sedangkan Jit poh toan hun Kwik To setelah berdiri agak lama disitu, akhirnya dengan wajah sedih berlalu pula dari tempat itu, tampaknya ia sedang berusaha untuk mendapat tahu siapa gerangan Tok liong Cuncu yang sesungguhnya?

Menanti disekeliling tempat itu sudah tiada orang lain, Gak Lam kun baru berkata sambil tertawa, “Liong te, hari ini aku telah merepotkan dirimu!”

Tok liong Cuncu itu melepaskan topeng yang menutupi wajahnya hingga muncullah wajah Ji Kiu liong. Ia menyahut.

“Yaa, siapa bilang tidak? Saking cemasnya tadi, peluh dingin telah membasahi seluruh tubuhku”

Ji Cin peng yang berada disisinya segera tertawa merdu, katanya, “Rahasia ini kecuali kami bertiga tak mungkin ada orang yang tahu lagi kalau Tok liong Cuncu yang muncul hari ini sesungguhnya adalah hasil penyaruan dari Liong te…”

Gak Lam kun termenung sejenak, kemudian katanya, “Ada kemungkinan Kwik To telah menemukan sedikit tanda yang mencurigakan!” “Tidak mungkin!” sahut Ji Cin peng dengan cepat sambil tertawa, senyumannya ibarat angin musim semi yang membuyarkan awan hitam dan hujan gerimis.

Gak Lam kun yang menyaksikan mimik wajahnya itu menjadi tertegun, ia selalu merasa bahwa Buncu dari perguruan panah bercinta ini, Bwe Li pek memiliki persamaan dengan kekasihnya yang pertama dulu, bahkan senyuman maupun caranya berbicara tiada satupun yang berbeda dengan Ji Cin peng.

Setelah tertegun beberapa saat lamanya, ia berkata kembali, “Lencana pembunuh naga yang hilang kini bisa diperoleh kembali, kesemuanya ini adalah berkat perjuangan dari Liong te, padahal sewaktu nona Bwe memberitahukan hal tersebut kepadaku, siaute masih merasa sangsi dan tak menentu.”

Ji Cin peng tertawa.

“Gurumu adalah manusia aneh dari kolong langit, sedang kawanan jago dari golongan sesat itu betul merupakan jagoan setempat, tapi bagaimanapun juga nama besar Tok liong Cuncu masih cukup punya kewibawaan untuk membuat keder mereka!”

Sementara itu, Ji Kiu liong telah melepaskan perlengkapan Tok liong Cuncu dan menyerahkan Lencana pembunuh naga itu dengan Gak Lam kun.

“Toako, terimalah ini…”, katanya.

“Nona Bwe!”, ujar Gak Lam kun kemudian dengan kepala tertunduk, “siaute hadiahkan kembali Lencana ini untukmu…”

Siapa tahu ketika Lencana pembunuh naga itu dibaliknya, kontan saja ia merasakan hatinya bergetar keras, wajahnya seketika itu juga berubah hebat, lama sekali ia membungkam dalam seribu bahasa, seolah-olah dalam benaknya telah dihadapkan dengan suatu masalah serius yang membuatnya menjadi tegang.

Ji Cin peng ikut terperanjat, serunya, “Gak siangkong, kenapa kau?”

“Kita semua sudah tertipu!” seru Gak Lam kun dengan paras muka berubah hebat.

Mendengar seruan itu, Ji Cin peng maupun Ji Kiu liong menjadi tertegun dan berdiri melongo.

“Dengan nada kurang percaya Ji Kiu liong berkata, “Toako, kau tidak salah melihat bukan!”

Gak Lam Kun gelengkan kepalanya berulangkali.

“Tidak mungkin!” ia menjawab, “aku sudah pernah memeriksa Lencana pembunuh naga yang asli, pada permukaan depan berlukiskan suatu gambaran aneh yang penuh dengan guratan-guratan, sedangkan pada permukaan sebaliknya berlukiskan seorang gadis yang cantik rupawan, hal mana masih berkesan mendalam dibenakku, tak nanti aku bisa salah mengingat!” “Lantas siapakah yang telah membuat Lencana pembunuh naga yang kedua ini?” tanya Ji Kiu liong dengan wajah murung.

“Entahlah!” Gak Lam kun gelengkan kepalanya berulangkali.

“Mungkinkah hasil perbuatan dari Si Tiong pek?” tiba-tiba Ji Cin peng bertanya.

Seakan-akan Gak Lam kun telah mengambil suatu keputusan dalam hatinya, ia berseru kemudian, “Perduli hasil karya siapakah itu, lebih baik kita temui dulu jago-jago dari Thi eng pang!”

Mereka sudah bersiap-siap untuk berangkat meninggalkan tempat itu, ketika tiga malaikat dari wilayah See ih mendadak muncul dari arah sebelah barat…

Paras muka Ji Cin peng segera berubah hebat, serunya tertahan, “Musuh tangguh kita telah datang!”

Diam-diam Gak Lam kun merasa terkejut dihati, tapi segera ia menyongsong kedatangan mereka sambil tertawa nyaring.

“Hay, kalian bertiga bukannya melindungi keselamatan majikan kalian, ada urusan apa datang kemari…”

Malaikat pedang Ho Ban im tertawa terkekeh sahutnya, “Lohu mendapat perintah dari majikan kami untuk mengundang Gak sauhiap agar suka berkunjung keistana api!”

“Apa yang terjadi dalam istana api?” tanya Gak Lam kun agak tertegun.

“Asal Gak sauhiap sudah kesana toh akan tahu dengan sendirinya, buat apa musti banyak bertanya?” kata Malaikat racun Lo Kay seng sambil tertawa dingin.

“Lohu bertiga tak lebih hanya bertugas untuk menyampaikan pesan saja!” Ji Kui liong segera tertawa terbahak-bahak.

“Haaahh… haaahh… haaahh… mau pergi mari kita pergi bagaimanapun jua cepat atau lambat akhirnya toh kita akan berduel juga dengan budak dari See thian san tersebut!”

Seusai berkata, tiba-tiba ia melompat keudara dan melayang maju kedepan. Malaikat telapak tangan Nian Hau ing segera melepaskan sebuah pukulan dahsyat,

katanya, “Majikan kami hanya mengundang Gak Lam kun seorang, lebih baik kau tetap

berada disini saja!”

Sebagai seorang jago persilatan yang termashur dalam dunia persilatan karena ilmu pukulannya, meski melepaskan pukulan secara tergesa-gesa ternyata daya kekuatan yang terkandung didalamnya luar biasa sekali.

Baru saja Ji Kiu liong menggerakkan tubuhnya, ia sudah kena dipaksa mundur kembali oleh tenaga pukulan tersebut. Ji Cin peng yang menyaksikan kejadian itu menjadi naik pitam, bentaknya penuh kegusaran, “Lengcu kalian toh bukan manusia berkepala tiga berlengan enam, kenapa ia begitu berlagak sok seakan-akan hanya dia seorang yang merupakan jagoan?”

Dengan mementangkan jari-jari tangannya, lima gulung desingan angin tajam yang disertai dengan tenaga yang luar biasa segera memancar keluar mengancam lima buah jalan darah penting ditubuh Malaikat pukulan Nian Hau ing.

Sreeet! Sreeet! Sreeet! Dalam waktu singkat sekujur tubuh Nian Hau ing sudah berada didalam kurungan angin serangan tersebut.

Menghadapi ancaman semacam ini, Malaikat pukulan Nian Hau ing tak berani gegabah, buru-buru ia berganti tempat kedudukan sambil mengulapkan tangannya.

“Gak siangkong, mari kita berangkat!”

Seusai berkata, tiga malaikat dari wilayah See ih itu berangkat lebih duluan menuju kearah barat.

Gak Lam kun segera berpaling dan tertawa, katanya, “Adik Liong, nona Bwe, kalian tak perlu gelisah aku hanya pergi sebentar saja untuk segera kembali lagi kemari!”

“Tidak bisa” kata Ji Cin peng sambil tertawa sedih, “istana api terlalu berbahaya, tempat itu merupakan istana yang paling lihay diantara kesembilan istana lainnya, kalau ingin mati biar kita mati bersama, aku tak akan mengijinkan kau untuk menempuh bahaya seorang diri…”

Ji Kiu liong tertawa getir pula, katanya, “Aku ingin hidup bersama toako, matipun bersama toako, kalau hendak berangkat kesitu, biar kita berangkat bersama saja!”

Tapi dengan cepat Gak Lam kun gelengkan kepalanya berulangkali.

“Orang lain toh mengatakan cuma mengundangku seorang, kalau kalianpun ikut kesitu” “Kita tak mau mengurusi begitu banyak persoalan” tukas Ji Cin peng sambil tertawa

getir, “lebih baik kita berangkat dulu kesana selanjutnya baru mengambil keputusan menuruti keadaan yang dihadapi nanti!”

Sepanjang perjalanan ketiga orang itu hanya membungkam belaka, mereka mengintil dibelakang tiga malaikat dari wilayah See ih itu dengan selisih jarak yang cukup jauh.

Bukit karang tampak menjulang tinggi ke angkasa, aneka warna bunga tumbuh subur disekitar situ.

Dibelakang bangunan loteng persegi delapan itu tergantung delapan buah lentera meski masih tengah hari namun lentera itu memancarkan cahayanya dengan redup.

Seorang gadis cantik berbaju perak sedang duduk diatas loteng ditepi pagar sambil tiada hentinya memandang ketempat kejauhan. Tiba-tiba ia mendongakkan kepalanya dan menghela napas sedih, gumamnya, “Bayangan tubuhnya begitu tampak amat jelas, kenapa aku tak dapat melupakan dirinya…”

Menanti dilihatnya Gak Lam kun datang bersama Ji Cin peng berdua, sepasang alis matanya kembali berkenyit, selapis rasa sedih murung segera menyelimuti wajahnya, tanpa sadar ia mendengus dingin.

Entah mengapa? Setiap kali ia menyaksikan Gak Lam kun berada bersama gadis lain, api amarah yang tak diketahui sumber asalnya selalu muncul dan berkobar dalam dadanya apa sebabnya dapat begini? Karena cinta? Ataukah karena benci?

Pelan-pelan gadis berbaju perak itu bangkit berdiri lalu berjalan dengan lemah gemulai, dibenahinya rambut yang kusut dan turun dari loteng, dari sana ia berputar menuju kedepan sebuah gua raksasa yang berada dibelakang bangunan berloteng tersebut.

Dikala sinar matanya melirik kembali bangunan yang berbentuk segi delapan itu, tanpa terasa ia terbayang kembali akan dongeng kuno yang menceritakan pertemuan cinta antara Liang san pek dengan Cu ing tay.

Tiba-tiba timbul suatu lamunan didalam benaknya, ia merasa seakan-akan dirinya adalah penitisan dari Ing tay, sedangkan Gak Lam kun penitisan dari Sampek, mereka berdua berangkulan diatas loteng sambil menangis tersedu-sedu, meski hanya lamunan namun cukup mendatangkan perasaan sedih dalam hati gadis berbaju perak ini.

Tiba-tiba suara seorang yang serak tua berkumandang disisi telinganya, “Siocia, Gak Lam kun telah datang!”

Ketika lamunannya terbuyar, ketika kenangannya berantakan, gadis berbaju perak itu merasa agak gusar, tapi dengan cepat senyuman muncul kembali diujung bibirnya, sambil mengulapkan tangannya ia menitahkan kepada tiga malaikat dari See ih agar berdiri diluar pintu gua.

“Kau pasti merasa terkejut bukan!” sapa nona berbaju perak itu sambil tertawa manis. Gak Lam kun tertawa ewa.

“Siapa yang bilang? Kejadian ini sudah berada dalam dugaanku!”

“Kau tahu karena persoalan apa aku mengundangmu kemari?”, seru nona berbaju perak lagi dengan wajah tertegun.

“Hmm, semua persoalan dapat kuketahui dengan jelas!” Gadis berbaju perak itu segera tertawa cekikikan.

“Aku ingin memberikan sedikit benda yang sama sekali tak mungkin kaudapatkan.”

“Terima kasih banyak, aku merasa tak punya rejeki untuk memperolehnya…” kata Gak Lam kun sambil memutar badannya siap pergi meninggalkan tempat itu. Dengan suatu gerakan cepat gadis berbaju perak itu maju kedepan dan menghadang jalan perginya, dengan dingin ia berseru, “Jika kau tidak menerima pemberianku ini, selama hidup kau akan merasa menyesal!”

Suaranya yang memedihkan hati seakan-akan menunjukkan bahwa dia mempunyai kesulitan yang tak biss diutarakan dengan kata-kata, sinar penuh pengharapan memancar keluar dari balik matanya.

Gak Lam kun menjadi tertegun, tapi kemudian katanya sambil tertawa. “Aaah masa seserius ini persoalannya?”

“Tentu saja!” kembali gadis berbaju perak itu tertawa cekikikan, “sewaktu gurumu menyuruh kau datang menerima Lencana pembunuh naga ini apakah Tok liong cuncu tidak memberitahukan kepadamu sifat serius yang terkandung didalam persoalan ini?”

Timbul keragu-raguan dalam hati Gak Lam kun, tanpa sadar dia lantas berpikir, “Walaupun suhu tak pernah memberitahukan kepadaku bagaimana caranya mempergunakan Lencana pembunuh naga tersebut, tapi aku dapat merasakan juga sifat serius yang menyangkut masalah ini, kalau memang Thian san soat li berkata demikian, jangan jangan didalam istana api benar-benar terdapat suatu benda yang tak kuketahui sama sekali…”

Berpikir sampai kesitu, dia lantas tertawa nyaring, sahutnya, “Sekalipun suhuku tak pernah memberitahukan duduk persoalan sebenarnya tentang persoalan ini namun beliau menitahkan kepadaku agar merampas kembali lencana itu dari tanganmu, jika dalam istana api ini terdapat masalah yang menyangkut persoalan perguruan sekalipun pertaruhkan selembar nyawa, aku pasti akan memasuki juga!”

Berpicara sampai disitu dia lantas melirik sekejap kearah Ji Cin peng, dalam lirikan itu jelas tampak sinar permohonannya yang besar.

Gadis berbaju perak itu tertawa, katanya kemudian, “Kalau begitu, ikutlah aku kedalam gua ini, didalam sana terdapat peristiwa berdarah yang menyangkut masalah keperguruan kalian kecuali kau dan aku, didunia ini sudah tiada orang ketiga yang bisa memecahkan teka teki yang mana besar ini…”

Ji Cin peng segera mendengus dingin.

“Hmm, aku tidak percaya kalau didunia ini tiada orang ketiga yang bisa memecahkan rahasia tersebut…”

Seraya berkata, dia lantas menarik tangan Ji Kiu liong untuk bersama-sama menyerbu masuk kedalam istana api.

Dengan suatu gerakan yang amat cepat, See ih sam seng segera bertindak cepat dengan menyumbat mulut gua tersebut, enam buah mata yang memancarkan sinar tajam menatap wajah Ji Cin peng dan Ji Kiu liong tanpa berkedip, tampaknya asal kedua orang itu berani melakukan sesuatu tindakan maka mereka akan segera turun tangan untuk menghalanginya. Gadis berbaju perak itu menghela napas panjang, kepada Gak Lam kun ujarnya, “Lebih baik suruhlah mereka mengundurkan diri dari sini, persoalan ini menyangkut persoalan perguruan kita berdua, campur tangan orang lain hanya akan menambah mendalamnya kesalahan pahaman diantara perguruan kita berdua, maka jika ingin menyelesaikannya secara baik-baik, hal ini akan semakin sulit lagi!”

Gak Lam kun merasa perkataan itu ada benarnya juga, buru-buru dia berseru, “Nona Bwee, adik Liong, lebih baik kalian menunggu aku disini saja, aku akan pergi kesana sebentar ingin kulihat apa yang bisa dia lakukan atas diriku…”

Ji Cin peng mengerutkan dahinya, selapis rasa sedih dan murung segera menyelimuti wajahnya, ia betul-betul merasa hatinya tak tenang, tapi akhirnya sambil menggertak gigi, dia menarik Ji kiu liong untuk mengundurkan diri dari situ.

Kemudian dengan paras muka berubah hebat, ia menuding kearah gadis berbaju perak itu seraya berseru.

“Kuserahkan dia kepadamu, jika sampai ada sesuatu hal yang tidak menguntungkan menimpa dirinya, lihat saja nanti, kucabik-cabik tubuhmu menjadi berkeping atau tidak…”

Dengan suara dingin gadis berbaju perak itu menjawab, “Suhu udara dalam istana api dapat menghancurkan semua benda, batu cadaspun dapat hancur menjadi abu apalagi tubuh manusia? Kami berdua akan segera berangkat keakhirat, ingin kulihat bagaimana caramu hendak membalas dendam terhadap diriku…”

Diiringi suara tertawanya yang merdu, dia lantas menarik tangan Gak Lam kun dan menerjang masuk kedalam istana api.

Betapa terkesiapnya ji Cin peng ketika mengetahui bahwa batupun akan hancur menjadi abu didalam istana api tersebut, jika Gak Lam kun sampai ikut masuk kedalam istana tersebut, bukankah tubuhnya juga akan hancur menjadi abu?

Dengan suara yang amat memedihkan hati segera teriaknya, “Gak siangkong, kau kembali!”

Telapak tangannya segera diayunkan kedepan dengan jurus Oh jiau kui hun (mencakar mampus sukma gentayangan), sasaran yang dituju adalah tiga malaikat dari See ih yang berjaga diluar gua.

Menghadapi ancaman maut tersebut, ketiga orang malaikat dari wilayah See ih tersebut segera melompat kesamping untuk menghindarkan diri dari ancaman tersebut.

Malaikat pedang Siang Ban im segera melepaskan sebuah tusukan kilat kedepan, bentaknya, “Jika kau berani bertindak kasar lagi terhadap kami, jangan salahkan jika kamipun akan bertindak kejam terhadap dirimu berdua!”

oooqooo

Dengan suatu gerakan yang enteng Ji Cin peng menghindar kesamping, jari tangannya segera menyentil kemuka sambil bentaknya, “Jika hari ini Gak Lam kun mengalami sesuatu yang tidak menguntungkan, maka kalian tiga orang tua bangka pun jangan harap bisa hidup lebih jauh didunia ini!” Tak terlukiskan daya serangan yang terkandung dibalik sentilan jarinya itu, sudah barang tentu Tiga malaikat dari See ih tak berani menyambut secara kekerasan, buru-buru mereka melompat kesamping untuk menghindarkan diri.

Malaikat racun Lo Kay seng tertawa terbahak-bahak dengan seramnya, dia berseru, “Nona, lebih baik kau jangan terlalu takabur lebih dulu, ketahuilah bahwa See ih sam seng bukan type manusia yang boleh dipermainkan dengan sekehendak hatimu…”

“Kalau kalian bukan manusia yang bisa dipermainkan, memangnya kami adalah manusia yang gampang dipermainkan!” seru Ji Kiu hong sambil menerjang maju kemuka.

Malaikat pukulan Nian Hau ing mendengus dingin.

“Hmm! Terlepas apakah dapat dipermainkan atau tidak, yang jelas hari ini kalian tak boleh berbuat banyak ulah disini…”

“Hey, kalau berbicara lebih baik sedikitlah tahu diri” tukas Ji cin peng sambil tertawa dingin, “jelek-jelek begini perguruan panah bercinta juga merupakan sebuah perkumpulan besar dalam dunia persilatan, tak sedikit jumlah jagoan lihay yang kami miliki, sekalipun See thian san terhitung pula sebagai suatu perguruan dalam dunia persilatan, namun kalian itu masih terhitung seberapa?”

“Nona Ji!” kata malaikat pedang Siang Ban seng dengan dingin, “seperti apa yang kau katakan barusan, perguruan panah bercinta boleh dihitung sebagai musuh tangguh yang baru muncul dalam dunia persilatan, meski begitu, kami See thian san masih tidak memandang sebelah matapun juga kepada kalian semua!”

Sementara mereka saling bersilat lidah dengan sengitnya tanpa ada salah satu pihak yang mau mengalah, pada saat itulah tiba-tiba terdengar jeritan kaget berkumandang dari dalam istana api, kemudian suasanapun pulih kembali dalam keheningan.

Tiba-tiba Ji Cin peng menerjang maju kedepan, teriaknya, “Minggir kalian, nonamu akan masuk kedalam!”

Sebagaimana diketahui tiga malaikat dari See ih ditugaskan untuk menjaga pintu masuk istana api tersebut, maka ketika dilihatnya gadis itu berusaha untuk menyerbu masuk dengan kekerasan, serentak mereka meloloskan senjata untuk menghalanginya dengan sepenuh tenaga.

Dengan suara angkuh malaikat racun Lo Kay seng berseru, “Istana api mempunyai suhu udara yang tinggi dan amat beracun, sekalipun kalian masuk kedalam juga sia-sia belaka…”

“Apakah Siocia kalian tidak takut api?”, jengek Ji Kiu liong sambil tertawa dingin. “Siocia kami berani memasuki istana api, tentu saja diapun memahami cara, untuk

mematahkan serangan api tersebut, jika kalian bertindak gegabah, maka hal tersebut

hanya akan mempercepat proses kematian mereka berdua saja.”

Sesudah mendengar perkataan itu, Ji Cin peng menjadi tertegun, mendadak ia merasakan sekujur tubuhnya menjadi kaku. Setelah tertegun sekian waktu, ia baru berkata, “Kau bilang mereka berdua bisa mati?”

“Benar!”, malaikat racun Lo Kay seng mengangguk, api yang muncul dari dalam bumi amat panas dan beracun, bila tiada suatu cara pencegahan yang jitu, siapapun jangan harap bisa meloloskan diri dari tempat itu, tapi sebaliknya…”

“Tapi kenapa?”, tanya Ji Cin peng dengan perasaan tegang. Malaikat racun Lo Kay seng tertawa seram, terusnya.

“Seandainya istana api persis seperti apa yang telah diduga oleh Siocia kami, otomatis mereka berdua pun tak akan menjumpai mara bahaya apa-apa lagi…”

“Maksudmu, majikan kalian sudah memiliki suatu cara yang baik untuk mengatasi persoalan itu?”, tanya Ji Cin peng setelah tertegun sesaat lamanya.

“Tentu saja!” jawab malaikat pedang Siang Ban seng dengan angkuhnya, “majikan kami memiliki kecerdasan dan pengetahuan yang amat luas, tiada persoalan yang bisa menyulitkan dirinya…”

Ketika didengarnya ia begitu angkuh dan memuji-muji kehebatan majikannya, Ji Cin peng segera mengangkat bahunya sambil tertawa dingin.

Ji Kiu liong mendengus dingin, katanya, “Toakoku Gak Lam kun adalah manusia yang luar biasa dari dunia persilatan, kecerdasan maupun pengetahuan yang dimilikinya tak akan kalah daripada Thian san soat li…”

Oleh karena dia amat menghormati Gak Lam kun bagaikan menghormati malaikat maka tanpa sadar pemuda itu telah balik menyindir ucapan See ih sam seng.

Kontan saja See ih sam seng berdiri tertegun, ditatapnya wajah Ji Kiu liong dengan perasaan bingung dan kosong…

Makin berseri wajah Ji Kiu liong setelah dilihatnya ketiga orang lawannya itu dibikin tertegun, ia mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

“Haaahh… haaahh… haaahh… bagaimana? Apakah kalian merasa tidak percaya”. Malaikat pukulan Nian Hau ing tertawa seram.

“Kami tiga malaikat selalu hidup diwilayah See ih, boleh dibilang selama hidup belum pernah takluk kepada siapapun, hanya majikan kami seorang yang pernah beradu kepandaian dengan kami, tapi beradu secara sesungguhnya masih belum pernah satu kalipun, dan kini…”

Sengaja ia berhenti sejenak, setelah tertawa kering, terusnya, “Asal kali ini Gak Lam kun bisa keluar dari sini dalam keadan hidup, kami See ih sam seng pasti akan memohon petunjuk darinya terlebih dahulu…” “Tidak sulit kalau ingin bertarung dengan toakoku, tapi kau musti mencoba tiga jurus lebih dulu diujung telapakku!” seru Ji Kiu liong sambil membalik telapak tangannya dan bersiap-siap melancarkan sebuah serangan dahsyat.

Malaikat pedang Siang Ban seng maju selangkah lebar kedepan, katanya, “Kalau begitu, kau pun seorang jagoan tangguh pula!”

Sebagai seorang jago yang termashur karena ilmu pedangnya, tanpa terasa pedang yang tersoren dipunggung segera diloloskan keluar.

Diam-diam Ji Kiu liong agak terkesiap juga menghadapi musuh yang amat tangguh ini, serunya, “Soal ini…”

Ji Cin peng segera mendorongnya kedepan seraya berkata, “Adik Liong, orang sedang merasa gelisah setengah mati, kau masih punya kegembiraan untuk bergurau terus!”

Mendadak… muncul delapan jalur cahaya tajam yang menyilaukan mata ditengah udara, kemudian secepat sambaran kilat meluncur keatas tubuh Ji Kiu liong.

Ji Cin peng yang melihat datangnya ancaman tersebut, dengan cepat membentak keras, “Kau berani!”

Entah bagaimana caranya ia menghimpun tenaga, tahu-tahu segulung angin pukulan yang maha dahsyat telah menerjang kedepan.

Menghadapi ancaman pukulan yang begitu dahsyat, malaikat pedang Siang Ban seng merasa terkesiap, buru-buru ia menarik kembali pedangnya sambil melompat kebelakang.

Walau demikian, saking kagetnya peluh dingin telah membasahi sekujur badan Ji Kiu liong.

Setelah rasa kagetnya bisa ditenangkan kembali, si anak muda itu baru berseru dengan gusar, “Kau benar-benar ingin bertarung?”

“Heeehh… heeehh… heeehh… kenapa musti sungkan-sungkan lagi?” jawab malaikat pedang Siang Ban seng sambil tertawa seram.

Ji Kiu liong segera merentangkan sepasang telapak tangannya untuk bersiap-siap membuka serangan, dia berkata, “Baik, kalau begitu mari kita bertempur dengan sebaik- baiknya!”

Ji Cin peng tak ingin Ji Kiu liong bertarung, ia lantas berkata, “Adik Liong dalam keadaan seperti ini apakah kau masih punya minat untuk bergurau terus menerus?”

Ji Kiu liong tertegun, lalu sahutnya, “Lalu kau suruh berbuat apa?” Ji Cin peng tertawa sedih.

“Adik Liong, seandainya Gak Lam kun menjumpai sesuatu musibah…”

Ji Kiu liong tertegun, buru-buru tukasnya, “Orang baik selalu dilindungi Thian, Gak toako bukan manusia yang berumur pendek…” Ji Cin peng gelengkan kepalanya berulangkali ia berkata, “Aku hanya berkata seandainya saja, apa yang musti kita lakukan…?”

Paras muka Ji Kiu liong berubah menjadi dingin beku bagaikan es, sahutnya, “Toako sangat baik kepadaku, aku telah berhutang budi kepadanya, maka jika ia mati, akupun tak ingin hidup lagi!”

“Adik Liong, kau tak boleh berbuat demikian!” seru Ji Cin peng dengan paras muka berubah.

“Kenapa?” tanya Ji Kiu liong setelah tertegun sejenak.

Tanpa terasa ia menaruh suatu perasaan yang aneh dan tidak habis mengerti terhadap perkataan dari Ji Cin peng tersebut, ia merasa sikap gadis tersebut pada saat ini seakan- akan telah berubah menjadi seorang yang lain, tapi kenapa bisa demikian?

Ji Cin peng menghela napas panjang, katanya, “Jika kau dan aku telah mati semua, bukankah keluarga Ji kita tiada keturunan lagi…”

Setelah perkataan itu diucapkan, ia baru merasa kalau sudah salah berbicara, buru- buru mulutnya dibungkamkan kembali.

Ji Kiu liong menjadi tertegun, serunya cepat, “Apa kau bilang? apakah kaucu she Ji?” Haruslah diketahui, walaupun Ji Kiu liong telah diselamatkan jiwanya oleh Ji Cin peng,

dan mereka bergaul selama banyak waktu, namun selama ini dia hanya tahu kalau gadis itu she Bwee, ia tidak tahu kalau diapun she Ji, tentu saja lebih-lebih tak menyangka kalau gadis ini tak lain adalah encinya yang sudah hilang banyak tahun.

Sebaliknya Ji Cin peng sendiripun tak dapat memberitahukan kepada orang lain bahwa dia adalah encinya Ji Kiu liong karena ia sendiri memiliki suatu kesulitan yang tak dapat diucapkan keluar.

Walaupun begitu, dia sendiri telah mengetahui kalau Ji Kiu lioag sesungguhnya adalah adik kandungnya sendiri yang sudah banyak tahun tak pernah bersua.

Begitu mengetahui kalau dirinya telah salah berbicara, buru-buru Ji Cin peng berseru kembali, “Tidak! Tidak! Maksudku jika Gak Lam kun sampai mati, kita pasti akan merasa sedih sekali…”

Jelas hingga saat ini dia masih belum ingin memberitahukan kepada Ji Kiu liong, siapa gerangan dirinya ini?

Andaikata Ji Kiu liong mengetahui bahwa orang yang berada dihadapannya sekarang adalah kakaknya yang telah mati mungkin dia tak akan percaya dengan penglihatan sendiri, sebab oleh pelbagai alasan ia telah percaya kalau kakaknya benar-benar sudah mati.

Sebaliknya Ji Kiu liong merasa sikap Ji Cin peng hari ini sangat aneh, tanpa terasa ditatapnya gadis itu lekat-lekat tanpa mengucapkan sepatah katapun. Lama… lama sekali, ia baru seperti menyadari akan sesuatu, katanya kemudian, “Kau benar-benar mirip sekali dengan seseorang!”

“Sungguh?” Ji Cin peng tertawa ringan, “menurut anggapanmu, aku mirip siapa?”

Walaupun wajahnya masih tetap tenang dan wajar, namun kewaspadaannya sudah ditingkatkan, ia kuatir pemuda itu berhasil mengenali kembali dirinya.

Ji Kiu liong menghela napas panjang panjang, katanya, “Kau terlalu mirip dengan kakakku!”

Ji Cin peng segera mendongakkan kepalanya dan tertawa sedih, ia berseru, “Adik Liong, kau pandai amat mengajak aku bergurau!”

Meskipun dimulut ia berbicara enteng dan santai, namun butiran air mata tak bisa dibendung lagi, bagaikan sebuah anak sungai segera meleleh kebawah.

Sekuat tenaga ia berusaha untuk menguasai diri, dia tahu masih banyak pekerjaan yang harus dia lakukan dikemudian hari, jika rahasia tersebut sampai diutarakan sekarang maka hal tersebut hanya akan menambah kesedihan diantara mereka saja, apa gunanya kalau hanya mendatangkan kejelekan belaka?

See ih sam seng tak tahu apa yang sedang dibicarakan kedua orang itu, ketika mendengar gelak tertawanya yang lengking, dengan perasaan kaget bercampur tercengang mereka segera, mendongakkan kepalanya.

Tiba-tiba… dari tempat kejauhan sana melayang sesosok bayangan manusia, bagaikan seekor burung elang raksasa, orang itu langsung meluncur mendekat.

Belum lagi menghentikan gerakan tubuhnya, dengan gelisah orang itu telah berseru, “Buncu, sungguh sulit mencari dirimu!”.

“Kwik To peristiwa apa yang telah terjadi?” tegur Ji Cin peng sambil mendongakkan kepalanya.

Dengan sorot mata dingin Kwik To melirik sekejap kearah See ih sam seng, kemudian baru tanyanya lagi kepada Ji Cin peng, “Buncu kemana perginya Gak Lam kun?”

Melihat wajahnya yang gelisah, Ji Cin peng segera menuding kearah istana seraya menjawab, “Dia sudah masuk kesitu!”

Buru-buru Kwik To membisikkan sesuatu disisi telinga Ji Cin peng mendengar itu paras muka gadis tersebut segera berubah hebat.

“Sungguh?” serunya.

“Lohu tak berani berbohong!” dengan tangan lurus kebawah Kwik To memberi hormat. “Cepat bawa aku kesana!” seru Ji Cin peng kemudian sambil melompat pergi

meninggalkan tempat itu.

Kemudian kepada Ji Kiu liong dia berpesan. “Adik Liong, kau baik-baik menanti Gak Lam kun disitu, aku hanya pergi sebentar untuk kembali lagi.”

Belum habis perkataan itu Ji Cin peng serta Jit-poh-toan-hun Kwik To telah berangkat meninggalkan tempat itu dengan kecepatan luar biasa, menanti Ji Kiu liong ingin bertanya ternyata sudah tak sempat lagi.

Antara malaikat racun Lo Kay seng dengan Jit poh toan hun Kwik To terdapat perselisihan yang mendalam, maka ketika dilihatnya orang itu pergi datang sekehendak hatinya ia menjadi amat gusar, sambil mendengus dingin serunya, “Kalau bukan bapaknya lagi mampus, kenapa begitu terbirit-birit larinya?”

Suara itu tidak terlalu keras pun tidak terlalu lirih, Kwik To yang sudah berada ditempat kejauhanpun sempat mendengar perkataan itu dengan amat jelasnya.

Ia segera berpaling sambil serunya.

“Lo Kay seng, bila aku balik kemari nanti kita bikin perhitungan lagi atas hutang-hutang lama kita!”

“Bagus sekali, lohu sekalian akan menantikan kedatanganmu!” jawab malaikat racun Lo Kay seng sambil tertawa seram.

Dengan gerakan yang amat cepat, Ji Cin peng serta jit poh toan hun Kwik To berlarian menelusuri jalan setapak sekejap mata kemudian sampailah mereka disuatu tebing yang tinggi.

Sambil menunjuk kebawah tebing, tanya Ji Cin peng. “Disanakah?”.

“Ehmm..!” Kwik To mengangguk, “disitulah letak sumber air dari istana air untuk memadamkan api yang berada dalam istana api, pihak Thi eng pang telah bersiap-siap mengalirkan air dalam istana air tersebut kedalam istana api, jika air dan api sampai saling bersentuhan, akibatnya semua alat rahasia didalam istana Kiu-kiong akan hancur berantakan…”

Mengikuti arah yang ditunjuk oleh Jit-poh toan hun Kwik To, Ji Cin peng dapat menyaksikan ada puluhan sosok bayangan manusia sedang berjalan hilir mudik dibawah tebing sana, seakan-akan telah terjadi suatu peristiwa besar ditempat itu.

Tiba-tiba Ji Cin peng tertawa, katanya, “Biarkan saja mereka repot-repot dulu, dalam istana Kiu kiong boleh dibilang istana api merupakan istana yang paling hebat, kalau mereka sanggup memadamkan api yang berada dalam istana api, hal ini justru akan menguntungkan perguruan panah bercinta kita!”

“Tidak bisa demikian!” seru Kwik To dengan cemas, “jika sunber air itu sampai mereka hancurkan, maka air dalam bumi pasti akan terpancing untuk meluap keatas permukaan tanah, ruang rahasia pembunuh nagapun pasti akan terendam air dan musnah tak berbekas, jika sampai demikian bukankah usaha perguruan panah bercinta kita selama ini hanya akan sia-sia belaka?” Kembali Ji Cin peng tertawa merdu.

“Kau masih berniat untuk beradu jiwa lantaran benda-benda tersebut..?” tegurnya.

Mendengar perkataan itu, Kwik To menjadi terkesiap, buru-buru sahutnya kembali, “Jikalau memang niat kita demikian, sewaktu datang kemari Buncu seharusnya tak usah terlampau berambisi!”

Tiba-tiba Ji Cin peng nenghela napas sedih.

“Aaai… dulu aku memang memiliki niat untuk merajai dunia persilatan, tapi sekarang niatku itu sudah berubah!”

“Apakah dikarenakan Gak Lam kun?” tanya Kwik To cepat, hatinya menjadi dingin separuh.

Ji Cin peng kembali menghela napas panjang. “Aaai… mungkin juga demikian!” ia mengaku.

Tiba-tiba selapis hawa napsu membunuh menyelimuti wajah Kwik To, katanya kemudian, “Kalau begitu, lohu harus membinasakan Gak Lam kun lebih dahulu sebelum bertindak yang lain!”

“Kau berani?” teriak Ji Cin peng dengan perasaan tercekat.

“Aku berani!” jawab Kwik To dengan luapan emosi, “seandainya bukan disebabkan Buncu, semenjak dulu-dulu aku telah membunuhnya sampai mati, coba bayangkan sendiri, berapa banyak orang dari pihak kita yang sedang menunggu perjuanganmu untuk merajai seluruh dunia persilatan, andaikata kau merubah tujuanmu secara tiba-tiba berapa banyak pula yang akan bersedih hati… Bengcu! Perguruan panah bercinta didirikan belum lama, apakah kau hendak membubarkannya hanya dikarenakan persoalan ini? Karena apakah kami semua bersaudara mengikutimu selama ini? Bukankah dikarenakan ingin bersama- sama memperjuangkan diri untuk menguasai seluruh kolong langit?”

“Hmm…! Kau sedang memberi nasehat kepadaku?” tegur Ji Cin peng dengan nada dingin.

Kwik To menjadi amat terperanjat.

“Apa yang telah lohu katakan, harap jangan Bengcu terima dengan gusar…!” sahutnya dengan cepat.

Baru saja berbicara sampai disitu, mendadak ia seperti merasakan sesuatu.

Ketika sinar matanya mencoba untuk memperhatikan sekeliling tempat itu. dengan cepat ia menjadi tertegun.

Ternyata delapan belas elang baja dari pasukan elang baja dengan busur yang dipentangkan lebar-lebar, telah mengarahkan anak panahnya kearah mereka berdua. Si Tiong pek berada dipaling muka, terdengar ia sedang membentak dengan suara dingin, “Jangan bergerak!”

Ji Cin peng masih tetap bersikap santai, seakan-akan sama sekali tidak merasakan akan kehadiran mereka, hanya ujarnya dingin, “Hmm, gagah amat kau hari ini!”

Si Tiong pek tertawa terbahak-bahak.

“Haaahhh… haaahhh… haaahhh… mana… mana, kalau dibandingkan dengan Buncu dari perguruan panah bercinta, aku masih kalah jauh sekali…”

Tiba-tiba nada suaranya berubah, katanya lebih lanjut dengan suara dingin, “Jangan berkutik, walaupun aku kenal denganmu, tapi anak buahku tak ada yang kenal dengan dirimu, panah tajam yang tak berperasaan lebih-lebih tak akan memilih orang, berani berkutik hati-hati dengan serangan kami, jangan sampai menyesal setelah tiba dialam baka nanti!”

Ji Cin peng tertawa dingin tiada hentinya, tiba-tiba ia memutar tubuhnya.

“Perguruan panah bercinta tak pernah tunduk dibawah ancaman orang lain…” katanya. “Betul, betul, cuma kali ini adalah terkecuali!” Si Tiong pek masih juga mengejek

dengan sinis.

Jit poh toan hun Kwik To segera menunjukkan rasa gusar yang amat tebal, serunya, “Sedikitpun tiada terkecuali, tak sedikit pertarungan besar dan kecil yang pernah lohu alami, situasi yang lebih gawat dan berbahaya daripada suasana saat inipun sudah banyak yang kujumpai, jika kau cerdik lebih baik suruh saja mereka untuk menurunkan benda- benda yang memuakkan itu!”

Agaknya Si Tiong pek sudah mempunyai rencana yang cukup matang dalam hatinya, ia berkata, “Tidak sulit jika kalian berharap agar kami lepas tangan, tapi kamu berdua harus menyanggupi pula sebuah permintaanku…”

“Tak usah membuang waktu dengan percuma” tukas Ji Cin peng sambil goyangkan tangannya berulangkali, “nonamu tak akan mengabulkan satu permintaanpun!”

“Hmmm..! Bagus sekali, kalau begitu jangan salahkan kalau aku tidak berperasaan!” Baru saja dia akan memberi tanda kepada anak buahnya untuk melepaskan panah,

mendadak dari arah belakang terdengar seorang berseru dengan suara dingin, “Untuk menyelamatkan jiwa sendiripun tak mampu, masih beraninya berlagak sok gagah disini!”

Si Tiong pek amat terkesiap, dia tahu suara tersebut berasal dari belakang tubuhnya… Ketika ia mencoba untuk berpaling ke belakang maka tampaklah dibelakang kedelapan

belas elang baja itu telah berdiri puluhan orang jago lihay dari perguruan panah bercinta yang sama-sama mementangkan pula gendewanya, moncong anak panah tertuju kepunggung mereka. Tampaknya jika ia berani memberi tanda untuk melancarkan serangan sekalipun mereka berhasil melukai Buncu dari perguruan panah bercinta, namun korban dipihaknya lebih parah lagi, bahkan kemungkinan besar seluruh pasukannya akan musnah disitu…

Melihat gelagat berbalik tidak menguntungkan pihaknya, Si Tiong pek kembali tertawa terbahak-bahak.

“Haaahh… haaahh… haaahh… kelabang menangkap comberet, tak tahunya sang burung mengintai dari belakang, tampaknya tindakan dari aku orang she Si terlambat selangkah!”

“Hmm, kau bisa lunak bisa keras, memang tak malu sebagai seorang lelaki!” kata Ji Cin peng dingin.

Seperti diketahui, Si Tiong pek adalah seorang pemuda yang licik dan berhati keji, setelah mengetahui bahwa situasi tidak menguntungkan bagi pihaknya, dengan cepat dia mengambil keputusan untuk bersikap ramah kepada lawannya, senyumanpun segera menghiasi ujung bibirnya.

Mendengar sindiran tersebut, merah padam selembar wajahnya karena jengah, sahutnya.

“Kalau dibandingkan dengan perguruan panah bercinta, aku orang she Si masih kalah jauh sekali!”

Ji Cin peng mendengus dingin, “Hmm! Kau masih belum suruh mereka menurunkan benda-benda yang memuakkan itu”

“Oooh, tentu saja, tentu saja!” jawab Si Tiong pek buru-buru sambil tertawa.

Ketika ia memberi tanda dengan ulapan tangan, delapan belas elang baja tersebut serentak menarik kembali anak panahnya.

Ji Cin peng tertawa dingin, katanya kemudian, “Barusan kau yang berlagak sok, maka sekarang tibalah giliranku untuk menunjukkan kebolehan!”

Diam-diam Si Tiong pek merasa terkesiap setelah mendengar perkataan itu, katanya lagi dengan lirih, “Mana, mana, sampai hari ini aku orang she Si belum pernah berlagak sok kepada siapapun!”

“Aku hendak mengajukan beberapa buah pertanyaan kepadamu, aku minta kau menjawab dengan sejujurnya!”

Senyum licik menghiasi ujung bibir Si Tiong pek. “Kalau aku enggan menjawab?” dia bertanya.

“Hmm, aku pikir kau pasti bisa membayangkan sendiri akibatnya bukan..?”

Dalam keadaan yang terdesak begini Si Tiong pek tak berani membangkang lagi, katanya dengan dingin, “Ajukanlah pertanyaanmu!” Dalam hati diam-diam ia tertawa dingin pikirnya, “Perempuan sialan, kau tak usah bermimpi disiang hari bolong kalau ingin mengorek keterangan dari mulut aku Si Tiong pek, hal ini bukanlah suatu pekerjaan yang terlalu gampang!”

Ji Cin peng berpikir sejenak, kemudian katanya, “Air didalam istana air apakah bisa dialirkan kedalam istana api?”

Terkesiap Si Tiong pek ketika mendengar pertanyaan itu jawabnya cepat-cepat, “Tidak bisa, kamipun tak berani?”

“Kenapa?” tanya gadis itu tertegun.

Dengan berterus terarg Si Tiong pek menerangkan, “Sebab sebagian besar air yang terkandung didasar tanah adalah air hitam, jika air hitam tersebut sampai berjumpa dengan api, bukan saja tak akan memadamkan api didalam istana api, malahan akan semakin menambah besarnya kobaran api ditempat itu, karena resikonya amat besar dan lagi tiada manfaatnya, terpaksa pihak Thi eng pang kami harus urungkan niat ini!”

(Yang dimaksudkan air hitam disini, sekarang lazim dikenal sebagai minyak bumi) “Sungguhkah perkataanmu itu?” seru Ji Cin peng dengan wajah tercengang, rupanya

dia kurang percaya.

“Setiap patah kataku adalah ucapan yang sejujurnya!” sahut Si Tiong pek dengan serius.

“Kalau begitu pergilah!”

Selesai berkata Ji Cin peng segera berlalu dari tempat itu, diikuti para jago lainnya dia langsung berangkat menuju keistana api.

Sementara itu Si Tiong pek masih berdiri termangu-mangu ditempat semula, belum dia sempat berlalu dari situ, mendadak dari tempat kejauhan terdengar suara senandung yang amat keras, “Rumput nan hijau, hatiku murung.

Bukankah hanya kepadaku, tiada sanak tiada keturunan. Rumput nan hijau, betapa rindu hatiku.

Tidak cinta padaku, tiada terkabul keinginanku. Sehari tak bersuara, rasanya bagaikan tiga bulan.

Senandung itu membawa nada yang memedihkan hati, membuat siapapun yang mendengar ikut merasa terharu.

Ketika Si Tiong pek mendongakkan kepalanya dan mengetahui siapa yang datang, dengan perasaan ngeri bercampur takut, ia mundur beberapa langkah kebelakang.

Tampak seorang nyonya tua berbaju putih sambil membawa beberapa kerat tulang manusia bergerak datang dari kejauhan dengan kecepatan luar biasa, ternyata dia bukan lain adalah Hay sim li yang sudah sinting dan tidak waras otaknya itu. Tiba-tiba Hay sim li tertawa terbahak-bahak, kemudian serunya, “Ooh Yo long! Kau sungguh amat menderita”

Ketika dilihatnya Si Tiong pek berada disitu, dengan suara penuh kegusaran bentaknya, “Bocah keparat, kau si bocah keparat yang telah membohongi diriku… kau keparat!”

Dengan ketakutan Si Tiong pek mundur beberapa langkah kebelakang, jeritnya, “Locianpwe!”

“Kau adalah penipu ulung, heeehh… heeehh… heeehh… kau bilang kaulah murid Yo long!” seru Hay sim li sambil tertawa seram, selangkah demi selangkah ia berjalan makin mendekat.

Si Tiong pek yang menyaksikan raut wajahnya makin menyeringai menakutkan, ia semakin ketakutan lagi, serunya, “Aku…”

“Haaahh… haaahh… haaahh… kau bilang Yo Long belum mati, dimanakah dia sekarang?”

Paras muka Si Tiong pek berubah bebat tapi ketika dilihatnya beberapa kerat tulang yang berada dalam bopongannya itu, dengan cepat dia berseru, “Itu dia berada dalam boponganmu!”

Hay sim li segera membelai tulang manusia itu dan tertawa terbahak-bahak. “Haaahh… haaahh… haaahh… benarkah? Yo Long, benarkah kau berada dalam

boponganku?”

Jelaslah sudah hawa kesadaran otak perempuan ini sudah kacau dan tidak waras lagi, sepanjang hari yang dia ingat hanya muridnya… tidak lebih tepat kalau dikatakan sebagai kekasihnya Tok liong cuncu Yo Long…!

Buru-buru Si Tiong pek berseru kembali, “Yaa, benar, Yo Long berada didalam boponganmu!”

Gelak tertawa Hay sim li semakin memekikkan telinga.

“Haaahh… haaahh… haaahh… kau baik sekali, tolong beritahu kepadaku, dia sudah mati atau belum?”

Untuk sesaat lamanya Si Tiong pek tak tahu bagaimana harus menjawab, maka jawabnya kemudian, “Dia belum mati!”

Tiba-tiba Hay sim li mendengus marah.

“Hmmm! Kau lagi-lagi membohongi aku, kalau dia belum mati, berada dimanakah dia sekarang?”

Ketika dilihatnya perempuan itu menjadi gusar kembali, terpaksa sambil keraskan kepala sahut Si Tiong pek, “Dia berada dalam hatimu!” Dengan suatu gerakan yang sangat cepat. Hay sim li mencengkeram urat nadinya, lalu berkata dengan lirih, “Kenapa aku tak melihat dirinya?”

Sekarang Si Tiong pek sudah yakin kalau dia benar-benar telah gila, satu ingatan dengan cepat melintas dalam benaknya.

“Yo Long telah pergi kesuatu tempat yang jauh sekali” katanya, “ia tak akan kembali lagi kesini, kecuali kalau kau pergi mencari dirinya…!”

“Dia telah kemana?” tanya Hay sim li setelah tertegun beberapa saat lamanya.

“Pergi ke langit barat yang penuh kebahagiaan!” sahut Si Tiong pek sambil menggertak giginya kencang-kencang.

“Haaahhh… haaahhh… haaahhh…”

Menyusul gelak tertawa yang amat keras itu, Hay sim li melemparkan tubuh Si Tiong pek ketengah udara…

“Aku akan pergi mencarinya” demikian ia berseru sambil berhenti tertawa, “kalau tidak kutemukan, maka kau harus membantuku untuk mencarinya sampai ketemu!”

Si Tiong pek tidak menyangka kalau dia sudah segila ini mencintai kekasihnya, buru- buru serunya kembali.

“Untuk bisa menemukan kembali dirinya maka kau harus melakukan perjalanan yang jauh, jauh sekali…”

Cepat-cepat dia merangkak bangun dari atas tanah dan menyingkir sejauh-jauhnya dari situ.

Ia kuatir dilemparkan kembali oleh Hay sim li ketengah udara…

Sekali lagi Hay sim li tertawa terbahak-bahak dengan suara yang lengking, tajam dan mengerikan.

“Haaahhh… haaahhh… haaahhh… aku tidak takut untuk melakukan perjalanan jauh, aku pasti akan mencarinya sampai ketemu… aku pasti akan menemukannya kembali”

Seraya berkata dia lantas berkelebat pergi dari situ dan berangkat menuju kearah barat.

ooocooOooooooo

ISTANA API! Istana tersebut merupakan tempat yang paling berbahaya dalam istana Kiu ciong kiong.

Bara api yang membara, bisa membuat langit serasa berubah menjadi kota api.

Batu karang pun bisa hancur menjadi abu dan berubah menjadi air, bagaikan selokan mengaliri kedasar tebing. Kecuali kobaran api yang membakar, hakekatnya dalam istana api tidak dapat dijumpai sesuatu benda apapun, berhubung api memancar keluar tiada hentinya dari dasar bumi, hal mana membuat pemandangan disitu tampak indah tapi mengerikan.

(Kalau jaman sekarang, orang mengatakan tempat semacam itu sebagai gunung berapi).

Api! Api! Api! Itulah satu-satunya yang bisa ditemukan dalam istana tersebut.

Baru saja memasuki istana api, Gak Lam kun segera merasakan sekujur tubuhnya kepanasan bagaikan mau terbakar saja, ia merasa dirinya mulai tak kuasa menahan diri,sehingga tanpa terasa ia tak berani maju lebih kedalam selangkah lagi.

Padahal pada waktu itu mereka belum benar-benar mendekati tempat yang berapi tempat itu baru tiga kaki jauhnya dari mulut gua, bila maju beberapa kaki lagi kedepan, kepundan dimana api berkobar baru akan terlihat jelas.

Anehnya, ternyata gadis berbaju perak itu sama sekali tak nampak menderita, malahan sambil tertawa cekikikan katanya.

“Kau masih sanggup mempertahankan diri

 

Sepi Banget euyy. Ramaikan kolom komentar dong gan supaya admin tetap semangat upload cersil :). Semenjak tahun 2021 udah gak ada lagi pembaca yang ninggalin opininya di kolom komentar :(