Lencana Pembunuh Naga Jilid 18

 
Jilid 18

Tercekat juga perasaan si Tosu setan Thian yu cinjin sesudah mendengar perkataan itu, pikirnya, “Rase tua ini sungguh amat lihay, aku tak boleh sampai menyalahi dirinya…”

Berpikir demikian, sambil tertawa terbahak-bahak sahutnya, “Haaahhh… haaahhh… haaahhh… tentu saja, tentu saja kita toh sudah bertekad untuk bekerja sama, hidup bersama matipun bersama, apalagi begitu banyak jago persilatan yang tersebar disini dewasa ini, masih banyak hal yang harus membutuhkan bantuan dari saudara Hoa…”

Bukan hanya sekali saja Si Tiong pek menderita kerugian besar ditangan Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi, luka lama ditambah dengan luka baru, tak urung keadaan tersebut membuatnya tak tahan juga, setelah mendengus tertahan kembali ia muntahkan darah segar.

Dengan penuh kebencian Si Tiong pek segera berseru, “Orang she Hoa, suatu ketika hutang piutang diantara kita pasti akan kuperhatikan!”

“Haaahhh… haaahhh… haaahhh… mana, mana” jawab Thiat kiam kuncu, “membuat perhitungan, setiap saat lohu pasti akan mengiringinya!”

Berbicara sampai disitu, selapis napsu membunuh yang mengerikan tiba-tiba menyelimuti seluruh wajahnya, pelan-pelan ia berjalan menghampiri pemuda itu.

Si Tiong pek menjadi terkejut sekali. “Hey! Mau apa kau?” teriaknya.

Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi tertawa dingin tiada hentinya.

“Api sekecil bintangpun sanggup membakar sebuah padang rumput yang luas, lohu tak ingin terjadinya kebakaran besar yang akan memusnahkan sebuah padang rumput nan luas, sebab itu satu-satunya jalan bagiku hanyalah memadamkan percikan api yang mumpung belum membesar. Seharusnya kau tahu bukan, apa yang hendak kulakukan!” Tosu setan Thian yu Cinjin tertawa seram, katanya pula, “Kalau membabat rumput tidak keakar-akarnya bila angin musim semi berhembus lewat, dia akan tumbuh kembali. Tindakan dari saudara Hoa memang betul-betul suatu tindakan yang cerdik…”

Tampaknya kedua orang itu mempunyai niat yang sama, dengan cepat mereka berdiri disudut timur dan barat serta mengawasi Si Tiong pek tanpa berkedip.

Diam-diam Si Tiong pek mengeluh ketika dilihatnya dua orang jago tangguh dari dunia persilatan ini mengepung dirinya rapat-rapat, sekalipun ia telah menguasai seluruh kepandaian yang tercantum dalam kitab pusaka Hay Ciong kun boh, tapi luka lama ditambah luka baru yang dideritanya membuat ia tak sanggup untuk menghimpun kembali tenaga murninya…

Dengan perasaan agak ngeri ia tertawa lalu katanya, “Jalan pemikiran kamu berdua memang sungguh amat sempurna, baiklah kuserahkan selembar nyawaku ini untuk kalian berdua!”

Hawa murni yang masih tersisa segera dihimpun kedalam lengan kanannya, tampak sekujur tubuhnya menggigil keras mukanya pucat pias seperti mayat, namun ia masih berusaha keras untuk mempertahankan diri, hawa murni yang tersisa ditubuhnya dan agak tersendat-sendat itu sekuat tenaga dihimpun menjadi satu.

Tosu setan Thian yu Cinjin yang menyaksikan kejadian itu segera tertawa terbahak- bahak, ejeknya, “Si lote, kau masih begitu muda, tampan lagi, tidakkah merasa terlampau sayang untuk mampus duluan…”

Si Tiong pek tertawa seram.

“Tidak mengapa, dua puluh tahun kemudian toh aku akan muncul lagi sebagai seorang Hohan.”

Thiat kiam Kuncu Hoa Kok khi mendengus sinis.

“Manusia dari dunia persilatan, biar lohu sempurnakan keinginan hatimu itu!”

Weeess..! Segulung angin pukulan yang sangat kuat, bagaikan gelombang besar disamudra langsung menghantam ketubuh Si Tiong pek.

Sebaliknya Si Tiong pek sendiripun pelan-pelan mengangkat pula telapak tangan kanannya, lalu didorong kedepan.

“Enyah kau dari sini!” bentak Thiat kiam Kuncu Hoa Kok khi dengan suara yang dalam dan berat.

“Blaam…” suatu ledakan keras yang memekikkan telinga segera berkumandang memecahkan keheningan.

Bersamaan dengan terjadinya ledakkan tersebut, tubuh Si Tiong pek segera terlempar keluar dari gelanggang. Pada saat itulah, mendadak seorang membentak keras, “Siapa yang berani melukai anak muridku?”

Menyusul bentakan itu, beberapa sosok bayangan manusia dipimpin langsung oleh Thi eng pangcu Oh Bu hong menerjang masuk kedalam arena.

Dengan suatu gerakan cepat Oh Bu hong menyambut tubuh Si Tiong pek yang mencelat keudara itu, menyaksikan keadaannya yang parah, mendadak timbul suatu perasaan sedih yang aneh dalam hatinya, sepasang matanya menjadi merah, hampir saja dia akan melelehkan airmatanya.

Untung saja tenaga dalam yang dimilikinya cukup sempurna, dalam waktu singkat ia berhasil menguasai kembali perasaannya, setelah tertawa terbahak-bahak katanya, “Kalau ingin menggebuk anjing, lihat dulu siapa pemiliknya, kalian berdua telah menghajar muridku sampai terluka begini parah, tampaknya kalian memang berniat untuk bermusuhan dengan diri lohu”

Sambil berkata dia lantas memberi tanda.

Ciang seng ki su (sastrawan aneh selaksa bintang) Wan Kiam ciu, Gan tiong cian (pukulan batu karang) Kwan Kim ciang serta Ki Li soat serentak menggerakkan tubuhnya menyebarkan diri keempat penjuru, dalam waktu singkat mereka telah mengurung Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi serta Tosu setan Thian yu Cinjin ditengah kepungan.

Wajah Si Tiong pek telah berubah menjadi kaku bagaikan kayu, sambil membuka sedikit matanya yang mulai pudar, ia berbisik.

“Suhu, jangan melepaskan mereka berdua…”

“Tentu saja!” jawab Thi eng sin siu (kakek sakti elang baja) Oh Bu hong sambil membaringkan tubuhnya keatas tanah, “suhumu tak akan membiarkan orang lain menganiaya dirimu sekehendak hatinya sendiri!”

Setelah berhenti sejenak, dengan suara lembut dia bertanya lagi, “Dimanakah Lencana pembunuh naga tersebut?”

“Ditangannya!” jawab Si Tiong pek sambil menuding kearah Tosu setan Thian yu Cinjin.

Dengan sinar mata setajam sembilu kakek sakti elang baja Oh Bu hong menatap sekejap wajah tosu setan Thian yu Cinjin.

Ditatap sekejap ini, tanpa terasa terkesiap juga hati Tosu setan Thian yu Cinjin karena ngeri.

Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi menyapu, sekejap sekeliling tempat itu, kemudian katanya, “Sebagai seorang jago persilatan, dia toh sudah tahu resikonya suatu pertarungan? Siapa yang kuat dia tetap hidup, siapa lemah dia akan mampus, kalau ia sampai terluka ini harus disalahkan pada ilmu silat sendiri yang kurang becus, kenapa kau malahan menyalahkan diri kami berdua?”

Thi eng sin siu Oh Bu hong mendengus berat. “Hmm! Enak betul kalau berbicara, kendatipun apa yang kau ucapkan benar, lohu bukannya seorang manusia yang tak bisa mempertimbangkan keadaan, mendingan kalau satu lawan satu… Heeehh… heeehh… heeehh… aku rasa bukan hanya saudara Hoa seorang yang turun tangan…”

Berbicara sampai disitu dengan sorot mata sinis ia melirik sekejap kearah Kui to Thian yu Cinjin.

Ditatap seperti ini berkobarlah hawa amarah didalam hati Tosu setan Thian yu Cinjin, dengan penuh kegusaran dia berteriak, “Saudara Oh, kau melototi diri lohu terus menerus, apakah merasa tidak puas denganku…”

Oh Bu hong tertawa seram.

“Betul, betul, aku memang merasa tak leluasa menyaksikan tingkah lakumu yang tengik, apalagi menyaksikan hawa sesat yang menyelimuti tubuhmu… Hmm! Jiwa perampok selamanya tetap merampok, watak macam itu memang sangat memuaskan hatiku.

Bagaimanapun juga Tosu setan Thian yu Cinjin adalah seorang manusia yang berotak cerdas dan berpengalaman luas, ia tahu Thi eng sin siu Oh Bu hong memang sengaja hendak memanasi hatinya, andaikata Lencana pembunuh naga tidak berada disakunya, dia pasti tak akan tahan menghadapi ejekan dan cemoohan tersebut, tapi keadaannya sekarang sama sekali berbeda, maka diapun hanya tertawa saja.

Sambil tertawa ringan, katanya, “Saudara Oh betul-betul pandai bergurau, masa kau menuduh lohu sebagai seorang perampok.

Agak kagum juga Oh Bu hong oleh ketebalan iman lawannya, dia tertawa sinis, kemudian sambil berpaling katanya, “Pek ji, bagaimana kejadiannya sehingga kau terluka…”

Si Tiong pek pun seorang pemuda yang pintar! buru-buru jawabnya, “Untuk berhasil merampas Lencana pembunuh naga itu dari tanganku, mereka berniat untuk membunuh tecu agar menghilangkan bibit bencana dikemudian hari…”

Seraya berkata matanya melirik sekejap kearah Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi, sorot mata itu penuh memancarkan api kegusaran yang bengis dan menggidikkan hati.

Agak tercekat perasaan Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi, ujarnya kemudian, “Saudara Si pandai betul berbicara, yang melukai dirimu toh lohu seorang, kenapa kau hitung pula saudara Kui to dalam perhitunganmu? Kalau berita ini sampai tersiar ditempat luaran, apakah orang tak akan menuduh kami sebagai orang dewasa yang menganiaya anak kecil?”

Haruslah diketahui kecerdikan Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi sedikitpun tidak berada dibawah kecerdikan siapapun, ia sengaja melimpahkan tanggung jawab persoalan tersebut keatas pundaknya dengan harapan bisa menggunakan kesempatan ini untuk menaklukkan si Tosu setan Thian yu Cinjin.

Ia berharap dengan sikapnya yang gagah dan bijaksana ini bukan saja tosu setan akan tunduk kepadanya, bahkan akan benar-benar takluk seratus persen, apalagi dia pun tahu, dengan berkata demikian meski pada akhirnya pihak Thi eng pang akan mengerubutinya, Thian yu Cinjin tak nanti akan berpeluk tangan belaka dengan membiarkan ia dikerubuti seorang diri.

Betul juga, si Tosu setan Thian yu Cinjin segera tertawa seram, lalu berkata, “Saudara Hoa, sekalipun kau tidak menghitung serta, merekapun tak nanti akan melepaskan kita berdua.”

“Kalau kalian berdua sudah mengetahui akan segala akibatnya lebih baik tinggalkan saja nyawa kalian disini!” tukas Oh Bu hong sambil tertawa seram.

Begitu selesai berkata, tubuhnya segera menerjang kemuka, sebuah pukulan dahsyat langsung dilontarkan keatas batok kepala Tosu setan Thian yu Cinjin.

Ngeri juga Thian yu Cinjin menghadapi serangan lawan, teriaknya kemudian, “Hmm!

Kau kira aku takut untuk menyambut seranganmu ini?”

Hawa murninya segera dihimpun kebalik sela-sela jari tangannya kemudian dilancarkan sebuah pukulan yang tak kalah kuatnya menyongsong datangnya ancaman dari Thi eng sin siu Oh Bu hong tersebut.

“Braaas..!” ketika sepasang telapak tangan saling beradu, terjadilah suatu desisan tajam.

Tosu setan Thian yu Cinjin kontan merasakan hatinya menjadi dingin separuh, separuh bagian lengannya tiba-tiba menjadi kaku. hampir saja dia tak mampu untuk mengangkatnya kembali.

Begitu melepaskan serangannya yang pertama, Thi eng sin siu Oh Bu hong segera menubruk maju kedepan.

Dengan cepat Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi meloloskan pedangnya, lalu sambil tertawa terbahak bahak katanya, “To heng, biar lohu saja yang meminta petunjuk dari saudara Oh. Kau mundur saja lebih dulu!”

Ia tahu tenaga dalam yang dimiliki Kakek sakti elang baja Oh Bu hong teramat sempurna, walaupun untuk sesaat tak mungkin Tosu setan Thian yu Cinjin akan menderita kekalahan ditangannya, tapi dengan Lencana pembunuh naga tersebut ditangannya, dia kuatir bila waktu berlangsung agak lama maka akhirnya benda mustika itu akan terampas kembali oleh Oh Bu hong.

Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan benda mustika itu adalah membiarkan dirinya yang menghadapi Thi eng sin siu Oh Bu hong, dengan begitu si Tosu setan Thian yu Cinjin baru mempunyai kesempatan untuk meninggalkan tempat itu, kalau tidak demikian, kuatirnya hari ini mereka berdua akan sama-sama terbunuh ditangan orang-orang perkumpulan Thi eng pang.

Demikianlah menyusul seruan tersebut, dengan jurus Pek im jut siu (awan putih keluar dari poros) pedangnya langsung menusuk kedepan dengan kecepatan luar biasa. Selama ini Ki li Soat tak berani turun tangan secara sembarangan sebelum mendapat perintah dari Oh Bu hong, maka ketika dilihatnya Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi muncul ketengah arena, tanpa terasa lagi ia tertawa dingin tiada hentinya.

Seraya mementangkan telapak tangannya, ia membentak, “Berhenti kau!”

Terdesak oleh serangan yang dilancarkan dari arah samping ini, terpaksa Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi menarik kembali gerakan tubuhnya yang sedang meluncur kemuka, pedang bajanya diangkat keatas, kemudian bentaknya, “Lohu enggan bertarung melawanmu, hayo cepat menyingkir dari sini!”

Jurus serangan ini meski hanya jurus Ciong hay kui cu (sisa mutiara didasar samudra) yang amat sederhana tanpa sesuatu yang aneh, namun dibalik kesederhanaan tersebut justru tersimpan pelbagai perubahan yang luar biasa.

Tampak cahaya pedang itu begitu meluncur kemuka, tiba-tiba saja ditariknya kembali.

Ki Li soat tertawa dingin katanya, “Kau tak usah takabur, hari ini juga aku hendak meringkus dirimu…”

Tiba-tiba Cian seng kisu Wan Kiam ciu tampil kedepan, lalu serunya lantang. “Nona Ki! harap mundur kebelakang, biar lohu yang menghadapi dirinya!”

Cian seng kisu Wan Kiam ciu termashur sebagai si juru pemikir dalam perkumpulan Thi eng pang, bukan saja kepandaian silatnya amat lihay, kecerdasan otaknya juga menakutkan, kebanyakan hasil-hasil cemerlang yang berhasil diraih Thi eng pang selama ini adalah berkat hasil karyanya…

Oleh karena Cian seng kisu Wan Kiam ciu sifatnya tak suka menonjolkan diri, maka sangat jarang orang perkumpulan yang tahu tentang asal usulnya, bahkan Thi eng pangcu sendiripun tidak begitu tahu tentang asal usulnya yang sebetulnya.

Ketika Ki Li soat menyaksikan Cian seng kisu Wan Kiam ciu telah turun tangan, ia pun merasa agak lega sedikit, ia tahu tak mungkin baginya untuk menangkan Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi, satu-satunya orang yang sanggup menghadapi jago lihay ini memang tak lain adalah Cian seng Kisu Wan Kiam ciu.

Begitu terjun kearena pertarungan Cian seng kisu segera melancarkan serangkaian serangan berantai yang maha dahsyat, ini semua memaksa Thiat Kiam kuncu Hoa Kok khi terdesak mundur berulangkali, diam-diam ia merasa terkejut juga oleh keampuhan tenaga dalam yang dimiliki Cian seng kisu Wan Kiam ciu.

“Saudara Wan” kata Hoa Kok khi kemudian, dengan perasaan tercekat, “kenapa kau musti memusuhi lohu?”

Wan Kiam Ciu tertawa seram.

“Orang yang tidak segolongan tak mungkin berkomplot kaupun tak usah banyak berbicara lagi!” Pertarungan yang berlangsung antara kedua orang ini dilakukan dengan kecepatan tinggi, dalam sekejap mata puluhan jurus sudah lewat tanpa terasa.

Pada saat itulah, mendadak terdengar Oh Bu hong membentak keras, “Kena!” “Blaaam..!” suara benturan keras terjadi msnyusul kemudian Si Tosu setan Thian yu

Cinjin mundur lima enam langkah dengan sempoyongan.

Pucat pias seluruh wajah Thian yu Cinjin, agaknya luka yang dideritanya cukup parah, serunya dengan geram, “Kau… kau terlalu kejam!”

Sepasang telapak tangannya diangkat sejajar dengan dada, sekujur tubuhnya menggigil keras, ditatapnya wajah Oh Bu hong tanpa berkedip.

Menjumpai keadaan musuhnya itu, Oh Bu hong tertawa terbahak-bahak, katanya. “Serahkan Lencana pembunuh naga itu kepadaku, maka akupun akan mengampuni

selembar jiwamu!”

Si Tosu setan Thian yu Cinjin segera mendongakkan kepalanya dan tertawa seram. “Haaahhh… haaahhh… haaahhh… lebih baik kau tak usah bermimpi disiang hari

bolong!”

“Itu berarti mencari jalan kematian buat diri sendiri!”, bentak Oh Bu hong sambil menerjang maju kedepan.

Tangan kirinya dengan jurus Ciong hay to ciau (membunuh naga ditengah samudra) tiba-tiba menyergap kemuka, kelima jari tangannya direntangkan lebar-lebar lalu mencengkeram dada Thian yu Cinjin dengan kecepatan luar biasa.

Merah berapi-api sepasang mata Thian yu Cinjin karena gusar, diapun membentak keras, “Mari kita beradu jiwa!”

Berbareng dengan bentakan tersebut, bukan saja ia tidak menghindari datangnya serangan jari tangan lawan, malahan sepasang telapak tangannya dengan cepat ditolak kemuka dengan jurus Ji cu say hui (sepasang mutiara memancarkan sinar), sedangkan kakinya mengikuti gerakan tersebut melancarkan sebuah tendangan kilat.

Pertarungan nekad yang mengajak saling beradu jiwa ini sedikit banyak mendatangkan perasaan ngeri juga buat Oh Bu hong…

Pada saat itulah tiba-tiba dari tengah arena berkumandang suara dengusan dingin Liong gin heng (dengusan naga sakti) yang menggetarkan sukma.

Menyusul dengusan naga Liong gin heng tersebut, tahu-tahu ditengah arena telah bertambah dengan seorang manusia bertopeng muka naga, sepasang tangan mengenakan sarung tangan cakar naga perenggut nyawa serta mengenakan jubah naga berwarna kuning…

Siapa lagi orang itu kalau bukan Tok liong Cuncu yang ditakuti orang selama ini? Belum lagi dengusan Liong gin hengnya selesai, Tok liong Cuncu telah membentak keras, “Tahan!”

Berhubung munculnya Tok liong Cuncu secara mendadak, serentak pertarungan yang sedang berlangsung diarena terhenti dengan segera.

Thi eng pangcu Oh Bu-hong tampak agak tertegun, dia tak habis mengerti kenapa Gak Lam kun harus menyaru kembali dengan tampangnya yang begini menyeramkan?

Ketika Si Tosu Setan Thian yu Cinjin menyaksikan kemunculan Tok liong Cuncu, mendadak sekujur tubuhnya menggigil keras, sekalipun ia tahu bahwa Tok liong Cuncu yang berada dihadapannya sekarang kemungkinan besar adalah penyaruan dari Gak Lam kun, namun oleh karena ia pernah berbuat keji terhadap Tok liong Cuncu dimasa lalunya, maka kejadian tersebut selalu merupakan momok yang mengerikan hatinya selama ini.

Dengan wajah berubah hebat, dia berseru, “Saudara Hoa, coba kau lihat sobat tua kita telah muncul kembali disini!”

“Betul, penagih hutang kita telah datang menjenguk kita!” sahut Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi dengan wajah memucat pula.

Dengan tatapan dingin dan menyeramkan Tok liong Cuncu memandang sekejap wajah kedua orang itu, kemudian serunya, “Setelah berjumpa denganku, mengapa kalian belum juga bunuh diri?”

Suara dingin bagaikan es, membuat siapapun yang mendengarnya merasakan bulu kuduknya pada bangun berdiri…

Hoa Kok khi segera tertawa seram, ujarnya, “Setelah bertemu dengan Tok liong Cuncu seharusnya kami berdua akan bunuh diri, tapi sayang saudara bukan…”

“Kenapa?” Tok liong Cuncu kelihatan agak tertegun, “masakah Tok liong Cuncu juga ada yang palsu…”

Walaupun selama ini Thiat kiam Kuncu Hoa Kok khi serta Kui to Thian yu Cinjin juga banyak mendengar kabar yang mengatakan, bahwa Tok liong Cuncu adalah hasil penyaruan dari Gak Lam kun, tapi mereka sendiri tak berani mempercayainya dengan begitu saja, maka setelah berjumpa sendiri dengan musuh bebuyutannya sekarang, diam- diam mereka berdua mengeluh juga…

Kui to Thian yu Cinjin berusaha memberanikan diri, lalu sambil tertawa seram katanya, “Menurut berita yang tersiar dalam dunia persilatan, Tok liong Cuncu yang sering kali muncul belakangan ini adalah hasil penyamaran dari muridnya, jangan-jangan kau adalah muridnya yang dimaksudkan itu…”

Tok liong Cuncu segera tersenyum.

“Jadi kalau begitu, muridku juga berada diistana Kiu ciong kiong ini!” katanya.

Mendengar perkataan tersebut, kembali semua jago yang hadir diarena merasa tertegun, perkataan dari Tok liong Cuncu ini sungguh membingungkan hati, jangan-jangan dia adalah Tok liong Cuncu yang asli? Kalau tidak, kenapa ia tak tahu kalau Gak Lam kun juga berada disini?

Tapi, ketika berada dibukit Hoa san tebing Yan po gan, bukankah Tok liong Cuncu sudah terluka parah dan tak mungkin tertolong lagi? Bagaimana mungkin ia masih bisa hidup sampai sekarang? Apalagi sebelum peristiwa tersebut ia sudah minum obat racun menembus usus yang jahat sekali?

Siapa pula orang ini? Gak Lam kun? Ataukah Tok liong Cuncu?

Sementara itu, Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi serta Si Tosu setan Thian yu Cinjin lambat laun sudah mulai merasakan seriusnya persoalan, walaupun mereka berdua memiliki tenaga dalam yang sempurna namun tak berani sembarangan turun tangan.

Para jago lihay dari perkumpulan Thi eng pang juga mulai merasakan ketidak beresan dari masalah ini, Oh Bu hong sadar kemunculan dari Tok liong Cuncu ini pasti dikarenakan Lencana pembunuh naga, ia baru mulai merasa bahwa Lencana mustika itu mulai berada dalam keadaan yang gawat dan menegangkan.

Mendadak Si Tiong pek melompat bangun dan berduduk serunya, “Gak Lam kun, buat apa kau musti menyaru sebagai setan guna menakuti orang?”

Tok liong Cuncu memutar badannya lalu menjawab.

“Kau kenal dengan Gak Lam kun? Tampaknya kau adalah sahabat muridku..?” Si Tiong pek mendengus dingin.

“Hmm..! Tahu akan dirinya bukan berarti aku musti adalah sahabat karibnya!”

Pada saat itulah, mendadak dari kejauhan sana berkelebat datang sesosok bayangan manusia sambil berlarian mendekati teriaknya keras-keras, “Suhu!”

Tok liong berpaling lalu tertawa.

“Untung saja aku dapat berjumpa lagi denganmu!” ia berkata.

Tampaklah Gak Lam kun berlarian mendekat dengan wajah berseri dan penuh kegembiraan, dia langsung menghampiri Tok liong Cuncu.

Apa yang sudah menjadi kenyataan, kini telah hancur berantakan kembali…

Ternyata Tok liong Cuncu bukan hasil penyamaran dari Gak Lam kun, lantas siapakah dia?

Kedatangan Gak Lam kun secara tiba-tiba ini membuktikan dugaan semua orang, bahwa walaupun Gak Lam kun pernah menyaru sebagai Tok liong Cuncu, tapi kali ini Tok Liong Cuncu tersebut benar-benar bukan hasil penyaruannya.

Seketika itu juga paras muka Si Tosu setan Thian yu Cinjin berubah hebat, jangankan tenaga untuk melakukan perlawanan, kekuatan untuk melarikan diripun sudah tidak dimiliki lagi, sekujur badannya mengejang keras, wajahnya menunjukkan minta belas kasihan.

Paras muka Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi ikut berubah pula menjadi pucat pias seperti mayat, saking takutnya ia hampir tak berani mendongakkan kepalanya, diam-diam hatinya menciut, karena ketakutan setengah mati, otaknya diputar keras berusaha untuk mencari jalan keluar guna melarikan diri dari pulau terpencil tersebut.

Selesai menjalankan penghormatan, Gak Lam kun berkata.

“Suhu, bukankah kau telah berjanji tak akan terjun kembali kedalam dunia persilatan?

Mengapa kali ini kau datang kemari dengan menempuh perjalanan yang begini jauh?”

Mukanya menunjukkan rasa bingung dan tidak habis mengerti, seolah-olah ia merasa tidak memahami kenapa suhunya tiba-tiba bisa muncul ditempat itu.

Tok liong Cuncu tertawa terbahak-bahak.

“Haaahhh… haaahhh… haaahhh… kalau aku tidak datang, mana mungkin kau bisa masuk kedalam istana Kiu ciong kiong…”

Belum habis ia berkata, tiba-tiba kepalanya didongakkan memandang ketempat kejauhan.

Tampaknya Ji Cin peng dari perguruan panah bercinta dengan membawa serta Kwik To, Han Hu hoa serta nenek berambut putih berdatangan ketempat itu.

Ketika Jit poh toan hun Kwik To menyaksikan kemunculan Tok liong Cuncu disitu, ia tampak agak tertegun, kemudian pikirnya, “Siapa pula orang ini? Jangan-jangan…”

Belum habis dia berpikir, Tok liong Cuncu telah membentak lebih duluan, “Kwik To, kemari kau!”

Diam-diam Jit poh toan hun merasa terkesiap, tapi ia maju pula kedepan, sahutnya sambil tertawa seram, “Naga beracun tua rupanya kau belum mampus!”

Perlu diketahui, dari tujuh belas orang musuh besar Tok liong cuncu yang tercatat dalam buku catatan musuh besarnya Jit poh toan hun Kwik To dikenal sebagai seorang ahli dalam mempergunakan obat-obatan beracun.

Atas racun penembus utus Cuan cong tok yok yang dibuatnya, ia menaruh kepercayaan yang besar, ia tak pernah percaya kalau Tok liong cuncu dapat meloloskan diri dari bencana tersebut.

Sambil tertawa seram Tok liong Cuncu lantas berkata, “Jika lohu sampai mati, maka apa yang kalian harapkan bisa terpenuhi? Dan kini aku belum mati, itupun jauh diluar dugaan kalian semua…yaaa, bagaimana lagi? Sebetulnya lohu suka mati saja, tapi selama ini akupun tak tega untuk membawa budi kebaikan kalian kedalam liang kubur…”

Sorot matanya yang tajam bagaikan kilat, membawa pula kewibawaan yang besar. Dalam pandangan para jago hal mana semakin mendatangkan perasaan bergidik bagi siapapun yang melihatnya, diam-diam semua orang mulai menyusun rencana guna melarikan diri dari situ.

Paras muka Kwik To seketika berubah juga, serunya, “Jadi kau hendak membalas dendam…”

Tok liong Cuncu tertawa seram.

“Tujuh belas tahun hidup sengsara dan menderita, tujuh belas tahun menahan dendam berdarah sedalam lautan, sudah beribu-ribu hari aku harus menahan diri, hari seperti inilah yang kunantikan selalu, siapapun jangan harap bisa menghalangi niatku untuk menuntut balas…”

Thiat kiam Kuncu Hoa Kok khi dengan cepat meloloskan pedang bajanya, kemudian berkata, “Saudara Kwik, kalau toh orang lain sudah bertekad tak akan melepaskan kita, rasanya kita banyak bicarapun tak ada gunanya!”

Kwik To mendengus dingin.

“Hmm, saudara Hoa, maksud baikmu biar kuterima dalam hati saja, lohu tak dapat mengiringi keinginanmu…”

Sebenarnya Hoa Kok khi berhasrat untuk mengajak Kwik To dan si Tosu Setan Thian yu Cinjin untuk bekerjasama menghadapi Tok liong Cuncu, meskipun belum tentu mereka bisa menangkan penarungan itu paling tidak tak akan sampai kalah, siapa tahu ternyata Kwik TO tidak bersedia untuk memenuhi keinginannya…

Setelah tertegun sejenak, katanya kemudian, “Saudara Kwik, rupanya nyalimu pecah!” Jit poh toan hun (tujuh langkah pengejar nyawa) Kwik To hanya tertawa misterius,

sambil mengangkat bahu dia tidak berkata apa-apa…

Tok liong Cuncu segera melototkan sepasang matanya bulat-bulat kemudian serunya, “Gak Lam kun, beri pelajaran kepada manusia durjana yang tak tahu diri itu!”

“Baik!” buru-buru Gak Lam kun memberi hormat.

Dengan enteng tubuhnya berputar, lalu dengan langkah Ji gi ngo heng jit seng liong heng poh dia berkelebat kesamping, lalu mengayunkan telapak tangannya melancarkan lima buah pukulan dahsyat kearah Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi.

Kelima buah pukulan berantai itu semuanya merupakan serangan-serangan yang berkekuatan cukup untuk menghancurkan batu karang, lagipula kecepatannya luar biasa sekali.

Untung sesaat Hoa Kok khi tak sanggup menghadapi serangan sedahsyat ini, oleh ancaman yang beruntun itu ia terdesak hebat sehingga mundur berulangkali kebelakang.

Tok liong Cuncu tertawa seram, pelan-pelan ia maju kehadapan Tosu setan Thian yu Cinjin, kemudian bentaknya, “Serahkan benda itu kepadaku!” Semenjak mengetahui akan munculnya Tok liong Cuncu disitu, daya tempur si Tosu setan Thian yu Cinjin yang luar biasa itu telah lenyap hingga tak berbekas, apalagi ketika dilihatnya momok tersebut menghampirinya, ia semakin ketakutan sehingga sekujur badannya terasa menjadi lemas, sukma serasa melayang meninggalkan raganya.

“Mau… mau apa kau?” serunya ketakutan.

Walaupun berada dalam keadaan ketakutan, tapi suruh ia menyerahkan Lencana pembunuh naga tersebut masih merupakan suatu perbuatan yang memberatkan hatinya.

Tok liong Cuncu mendengus dingin, katanya.

“Cepat serahkan Lencana pembunuh naga itu kepadaku untuk ditukar dengan selembar nyawamu pada hari ini!”

Sekalipun Si Tosu setan Thian yu Cinjin merasa berat hati untuk menyerahkan benda mustika itu kepada lawan, namun keselamatan jiwa memang lebih penting dari segala- galanya, maka tanpa berpikir lebih jauh lagi ia keluarkan kotak kumala tersebut dari sakunya.

Ketika para jago dari Thi eng pang menyaksikan Thian yu tojin telah menyerahkan Lencana pembunuh naga itu kepada Tok liong Cuncu, suasana menjadi amat gempar.

Dengan cepat Oh Bu hong meloloskan toya pedang bajanya, kemudian berseru, “Cuncu, lohu yang tak becus bersedia untuk melakukan pertarungan melawan kau!”
Terima Kasih buat para gan / ganwati yang telah meningglakan opininya di kolom komentar :). Sekarang ada penambahan fitur "Recent comment"yang berada dibawah kolom komentar, singkatnya agan2 dapat melihat komentar terbaru dari pembaca lain dari fitur tersebut. Semoga membantu :).