Lencana Pembunuh Naga Jilid 17

 
Jilid 17

Sambil memegang kencang-kencang Lencana pembunuh naganya, dengan suatu gerakan cepat Si Tiong pek melayang masuk kedalam gedung bangunan itu.

Baru saja kakinya menempel diatas permukaan tanah, mendadak ia merasakan suasana disekeliling tempat itu menjadi gelap gulita, kenyataan tersebut sangat membuat hatinya tertegun.

Tanpa terasa dengan perasaan keheranan ia bergumam, “Dengan jelasnya aku masih ingat kalau saat ini hari masih terang benderang, kenapa secara tiba-tiba bisa berubah menjadi gelap gulita sepekat ini…” Cepat ia mendongakkan kepalanya untuk memeriksa keadaan cuaca, tampak udara amat bersih, bintang-bintang tersebar diangkasa dan berkedip-kedip, rembulan dengan sinarnya yang redup memancar keseluruh angkasa, kalau bukan malam telah menjelang tiba, apa pula namanya itu..?

Si Tiong pek benar-benar merasa tercengang dan tidak habis mengerti, kalau diperhatikan waktu itu maka bisa diperkirakan kentongan ketiga tengah malam sudah menjelang tiba, tapi bukankah ia baru tiba belum lama? Mengapa sedemikian cepatnya cuaca berubah dari siang menjadi malam?

Semakin berpikir ia merasa hatinya semakin terkejut, sehingga untuk sesaat lamanya menjadi termangu.

Tiba-tiba ia menyaksikan sesosok bayangan hitam sedang bergerak maju kedepan sana.

Si Tiong pek amat terkejut, sambit mempersiapkan pukulannya, ia membentak, “Siapa disitu?”

Orang itu segera menghentikan gerakan tubuhnya lalu tertawa terkekeh-kekeh dengan seramnya.

“Heeehhh… heeehhh… heeehhh… kau sudah terjerumus dalam istana rembulan, itu berarti selama hidup jangan harap kau bisa melihat matahari lagi!”

Si Tiong pek semakin terperanjat, bentaknya keras-keras, “Apa kau bilang?” Kembali orang itu tertawa seram.

“Heeehhh… heeehhh… heeehhh… aku yakin kau seorang bocah muda masih belum mempunyai pengetahuan seluas itu, istana Kiu ciong kiong sudah amat tersohor dalam dunia persilatan, sekalipun kau memiliki Lencana pembunuh naga juga jangan harap bisa keluar dari istana ini, selama hidup kau akan selalu terkurung dalam istana rembulan ini!”

Kiranya bangunan gedung ini bernama istana Kiu ciong kiong, semuanya terbagi menjadi sembilan ruangan yang terdiri dari Gwat kiong (istana rembulan), Jit kiong (istana matahari), Kiam kiong (istana emas), Gin kiong (istana perak), Sik kiong (istana batu), Im kiong (istana Im), Leng kiong (istana dingin), Sui kiong (istana air), dan Hwee kiong (istana api).

Semua istana tersebut dibangun dengan letak yang beraturan mengikuti kedudukan bintang, arsiteknya adalah Ku yang cu, pemilik istana Kiu ciong kiong itu sendiri.

Sedemikian hebatnya bangunan tersebut, membuat barangsiapa yang terjerumus kedalam istana itu, maka selama hidup jangan harap bisa meninggalkan istana tersebut dengan selamat.

“Jadi kau sendiripun terjebak pula didalam istana Gwat kiong..?” “Benar!” jawab manusia itu sambil tertawa seram, “sekalipun nasib kita sama namun ada pula perbedaannya, lohu datang kemari lebih duluan serta mengetahui cara untuk meninggalkan tempat ini, sebaliknya kau… heeehh… heeehh… heeehh…”

Si Tiong pek menjadi amat penasaran setelah mendengar perkataan itu, diapun tertawa dingin.

“Aku tidak percaya kalau ruangan ini sedemikian lihaynya!”

Selesai berkata ia lantas melompat kedepan dan meluncur dari situ dengan kecepatan luar biasa.

Tapi baru saja tubuhnya bergerak maju, mendadak dirasakan hawa murni dalam tubuhnya tersendat-sendat, seakan-akan telah menjumpai daya tekanan suatu kekuatan yang amat besar dan menggetarkannya sehingga balik kembali ketempat semula.

Tapi begitu ia mundur ketempat tadi tenaga tekanan itupun lenyap dengan sendirinya, Kenyataan ini membuat Si Tiong pek merasa amat terperanjat, ia menjadi gugup dan tak tahu apa yang musti dilakukan.

Menyusul kemudian ia mencobanya kembali beberapa kali, tapi apa yang dialaminya ternyata sama dan tak jauh berbeda, sekarang dia baru tahu lihay dan tertunduk sedih dengan kening berkerut.

Terdengar orang itu tertawa terbahak-bahak.

“Haaahh… haaahh… haaahh… bagaimana? Tidak salah bukan perkataanku tadi?”

Si Tiong pek adalah seorang yang suka menyembunyikan kelihayan sendiri, mengetahui kalau istana Gwat kiong mempunyai suatu keanehan yang tersendiri, satu ingatan dengan cepat melintas dalam benaknya, ia tertawa tergelak-gelak hingga suaranya memantul ketempat yang jauh sekali.

Selesai tertawa, dia maju kedepan dan berkata, “Cianpwe, siapa namamu? Terimalah salam hormat dari boanpwe…”

Belum habis dia berkata, orang itu sudah berkata kembali dengan suara yang dingin, “Si Tiong pek, secara tiba-tiba kau bersikap begitu menghormat kepadaku, bukankah kau mengandung maksud tertentu…”

Suaranya dingin, kaku dan tak berperasaan, bahkan kedengaran begitu sinis dan mengandung nada menghina.

Si Tiong pek terkesiap, segera pikirnya, “Siapakah orang ini? Kenapa ia bisa mengetahui namaku…”

Berpikir sampai disitu, diapun lantas tertawa seram seraya menjawab, “Saudara, seorang manusia sejati tak akan menyembunyikan indentitas sendiri, kenapa aku tak bisa teringat siapa gerangankah dirimu itu…”

Meskipun istana Gwat kiong diterangi sinar rembulan yang menyorot keempat penjuru, tapi oleh karena orang itu menyembunyikan diri dibalik kegelapan, maka sulitlah baginya untuk mengenali raut wajah orang itu, secara lamat-lamat dia hanya menyaksikan sesosok bayangan tubuh manusia yang berwarna hitam belaka…

Orang itu segera tertawa seram, katanya, “Siapakah diriku, aku rasa kau tak perlu tahu, cuma…”

Diam-diam Si Tiong pek mendengus dingin tiba-tiba ia membentak sangat keras. “Saudara benar-benar terlalu menghina orang!”

Dengan kelicikan serta kebusukan hatinya menggunakan kesempatan dikala ia membentak keras itu, mendadak tubuhnya bergerak maju kedepan, telapak tangan kanannya direntangkan lebar-lebar, kelima jari tangannya dengan membawa desingan angin tajam langsung mencengkeram kearah tubuh orang itu.

“Heeehhh… heeehhh… heeehhh… rupanya kau ingin mampus..!” seru orang itu sambil tertawa seram.

Ditengah kegelapan, tidak nampak bagaimana caranya ia menghimpun tenaga, tahu- tahu segulung angin pukulan yang maha dahsyat telah dilontarkan kedepan menyambar datangnya serangan dari Si Tiong pek yang sedang menerjang tiba itu.

Belum lagi tubrukan Si Tiong pek mencapai sasarannya, ia sudah merasakan segulung tenaga pukulan yang sangat kuat dan dahsyat menyergap kearah tubuhnya, diam-diam ia merasa terperanjat, buru-buru gerak majunya ditahan dan tubuhnya segera melompat kesamping untuk menghindarkan diri…

Orang itu kembali tertawa seram.

“Lebih baik jangan turun tangan secara sembarangan, kepandaian silat yang kau miliki itu masih selisih jauh sekali dari puncak kesempurnaan..!”

Semenjak mempelajari ilmu pedang dan ilmu pukulan dari kitab pusaka Hay ciong kun boh, tenaga dalam yang dimiliki Si Tiong oek telah memperoleh kemajuan yang amat pesat, dengan kepandaian tersebut ia sudah dapat terhitung sebagai seorang jagoan lihay kelas satu dalam dunia persilatan.

Siapa tahu serangan Ngo ci tian goan yang dipergunakannya tadi, bukan saja tidak menghasilkan apa-apa malahan sebaliknya kena dipaksa mundur oleh lawannya.

Buat seorang yang ahli, begitu pertarungan berlangsung itu segera akan diketahui lihay atau tidaknya seseorang, maka dari serangan yang barusan dilakukan, Si Tiong pek segera menyadari bahwa ia masih bukan tandingan orang itu, terutama sekali terhadap tenaga pukulannya jauh begitu sempurna, jelas ia masih selisih jauh sekali.

Maka sambil tertawa seram, katanya, “Kepandaian yang kumiliki memang masih jauh ketinggalan ketimbang kepandaian anda, cuma…”

Orang itu segera mendegus dingin.

“Hmmm! Jika kau masih kurang puas, silahkan saja untuk melancarkan serangan berikutnya!” Si Tiong pek tertawa seram.

“Heeeehhh… heeehhh… heeehhh… aku memang merasa sangat tidak puas, tapi sekarang bukanlah saatnya untuk turun tangan, bagaimana kalau pertarungan dilanjutkan setelah aku keluar dari istana Gwat kiong ini?”

“Hmmmm… kau anggap bisa keluar dari sini dengan gampang?” ejek orang itu sambil tertawa seram.

Si Tiong pek balas tertawa dingin.

“Heeehh… heeehh… heeehh… didunia ini tiada persoalan yang sulit, yang ada hanya orang yang tidak berniat, asal aku mau melakukan pemeriksaan yang seksama dan teliti, pada suatu hari toh akhirnya aku bisa keluar juga dari sini!”

Orang itu menghela napas panjang, sampai lama sekali ia membungkam dalam seribu bahasa.

Si Tiong pek menjadi tercengang dan keheranan ketika dilihatnya orang itu tiba-tiba membungkam diri, pikirnya, “Asal usul orang ini sukar diduga, dengan jelas dia tahu kalau Lencana pembunuh naga itu berada ditanganku, mengapa ia tidak mencobanya untuk merampas dariku? Sebaliknya malahan bersedia mengulur waktu denganku disini? Apakah kedatangannya kemari bukan lantaran Lencana pembunuh naga… sebaliknya oleh karena sebab-sebab tertentu?”

Semakin dipikir ia merasa semakin curiga, akhirnya sambil tertawa katanya, “Apakah kedatanganmu kepulau terpencil inipun dikarenakan Lencana pembunuh naga?”

Orang itu mendengus.

“Hmmm..! Kalau bukan karena Lencana pembunuh naga, memangnya lohu mau melakukan perjalanan sejauh ini datang kemari… hmm..! Untungnya saja kedatanganku tidak sia-sia, sebentar lagi Lencana pembunuh naga itu akan segera terjatuh ketanganku…”

Mendengar perkataan itu Si Tiong pek merasakan hatinya seketika menjadi dingin separuh, ternyata apa yang diduganya semula tak salah, orang itu memang datang untuk mendapatkan Lencana pembunuh naga, padahal Lencana mustika itu berada disakunya, itu berarti suatu pertarungan sengit untuk mempertahankan Lencana pembunuh naga itu segera akan berlangsung kembali!

Berpikir sampai disitu, ia lantas tertawa dingin katanya, “Lencana pembunuh naga yang kau cari-cari sekarang berada disakuku, kenapa kau masih belum juga turun tangan untuk merampasnya?”

Orang itu tertawa terbahak-bahak.

“Haaahhhh… haaahhhh… haaahhhh… sekalipun lohu tidak merampasnya, toh benda itu pada akhirnya akan terjatuh pula ketanganku!”

“Mana mungkin?” seru Si Tiong pek tidak percaya. Kembali orang itu tertawa seram.

“Heeehhhh… heeehhhh… heeehhhh… Istana Gwat kiong hanya ada jalan masuk tanpa jalan keluar, kalau toh kau sudah masuk kemari maka jangan diharapkan bisa keluar lagi, tempat ini kecuali rembulan yang bersinar sepanjang masa, hanya batu kerikil yang melapisi permukaan tanah, coba bayangkan sendiri, seandainya kau terkurung sampai delapan sepuluh hari, apa yang hendak kau makan?”

Setelah berhenti sebentar, katanya lebih lanjut, “Waktu itu kau akan kelaparan sehingga tenaga untuk menggerakkan tanganpun tidak dimiliki, andaikata lohu hendak mengambil Lencana pembunuh naga itu, bukankah ibaratnya merogoh saku sendiri? Coba pikirkanlah, betul tidak perkataanku ini?”

Dari perkataan tersebut, Si Tiong pek segera menyadari bahwa kelicikan serta kebusukan hati orang ini jauh melebihi dirinya.

Pepatah bilang: “Manusia adalah besi, nasi adalah baja, sekali tidak makan laparnya bukan kepalang!”

Betul dia memiliki kekuatan dan keberanian yang luar biasa, tapi kalau tidak makan maka beberapa hari kemudian dirinya akan mati kelaparan disini, sekalipun Lencana pembunuh naga dimilikinya juga apa pula gunanya..?

Berpikir sampai disitu, dia lantas mendengus dingin, katanya, “Caramu itu memang suatu cara yang bagus dan sempurna, tetapi… haaahh… haahh… haaahhh… jika aku tidak makan, apakah kau bisa..?”

Kembali orang itu tertawa seram.

“Heeehhh… heeehhh… heehhh… soal ini tak perlu kau kuatirkan, lohu sudah mempersiapkan segala sesuatunya dengan komplit!”

Blaaam! Orang itu menepuk-nepuk sebuah kantong karung goni yang dibawanya, kemudian merogoh kedalamnya dan mengeluarkan seekor ayam goreng yang besar dan gemuk, bau harum semerbak segera tersiar sampai kemana-mana.

Si Tiong pek merasa amat terperanjat, diam-diam ia mengeluh, katanya dengan gemas. “Dengan kepandaian yang kau miliki, sesungguhnya tak perlu berbuat demikian, jika

ingin merampas lencana pembunuh naga ini, rampas saja dengan kekerasan, buat apa… Orang itu tertawa seram lagi.

“Menggunakan kesempatan lohu akan melatih semacam ilmu silat yang maha sakti, menanti kau sudah kelaparan setengah mati dan ilmu saktiku telah selesai kulatih, maka kau akan membawa lencana pembunuh naga itu untuk keluar dari sini…”

Mendadak ia merasa bahwa dirinya telah salah berbicara, cepat-cepat mulutnya ditutup dan kata-kata yang belum selesai diucapkan segera ditelan kembali. Mendadak terdengar suara tertawa yang tajam berkumandang datang memecahkan keheningan.

Dengan sekujur tubuh bergetar keras, Si Tiong pek segera berpaling kearah mana berasalnya suara itu.

Tampaklah dari balik kegelapan muncul Jit poh toan hun (tujuh langkah pemutus nyawa) Kwik To yang berwajah kuning kaku, ia berdiri disitu sambil tertawa dingin tiada hentinya.

Si Tiong pek menjadi amat terperanjat, buru-buru dia himpun segenap tenaga dalam yang dimilikinya kedalam telapak tangan untuk bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan…

Kwik To kembali tertawa seram katanya, “Orang she Si, cepat serahkan Lencana pembunuh nagamu kepadaku!”

Si Tiong pek tertawa dingin. “Kau sedang mimpi rupanya”

Kwik To kembali mendengus dingin.

“Lohu, berani datang kemari, berarti aku mempunyai cara untuk membekuk batang lehermu!”

Mendadak seseorang tertawa panjang dengan suara yang dingin menyeramkan. “Heeehh… heeehh… heeehh… Kwik To, kau berani merampas barang daganganku?

Hati-hati dengan senjata Jit poh lui sim cianku ini, aku bisa menyuruh kau mampus saat ini juga”

Ditengah kegelapan, orang itu mengangkat tangannya keatas, benar juga panah inti geledek Jit poh lui sim ciam telah ditujukan ketubuh Jit poh toan hun Kwik To.

Setelah mendengar ancaman ini, Si Tiong pek merasa makin terperanjat, ia tidak menyangka kalau orang itu adalah Lui Seng Thian.

Kwik To segera tersenyum katanya, “Oooh… rupanya saudara Lui yang berada disitu, maaf kalau lohu tidak mengenalinya tadi!”

“Heeehhh… heeehhh… mana, mana” jawab Lui Seng Thian sambil tertawa aneh, “asalkan saudara Kwik bersedia mengundurkan diri dari sini, lohu pasti tak akan menyusahkan diri Kwik heng…”

Kwik To berpikir sebentar, kemudian jawabnya, “Sekalipun lohu mengundurkan diri dari sini, belum tentu saudara Lui akan berhasil mendapatkan Lencana pembunuh naga…”

“Kenapa?” tanya Lui Seng Thian tertegun. Kwik To tersenyum. “Dewasa ini semua jago lihay dari segala penjuru dunia telah berkumpul semua disini, sekalipun kau Lui Seng Thian mempunyai kegagahan yang luar biasa juga tak nanti bisa mengangkangi benda itu sendirian, bukan saja perguruan panah bercinta bertekad untuk mendapatkan Lencana pembunuh naga tersebut, sekalipun perguruan dan perkumpulan lainnya juga sama saja”

Lui Seng Thian mendengus dingin menukas pembicaraannya yang belum selesai, katanya, “Soal ini tak perlu kaurisaukan, lohu yakin masih sanggup untuk mengatasi persoalan ini…”

Setelah berhenti sebentar, bentaknya, “Saudara Kwik, harap kau segera mengundurkan diri, kalau tidak panah inti geledek Jit poh lui sim ciamku tak akan mengenal belas kasihan lagi..!”

Jit poh toan hun Kwik To mendengus dingin.

“Hmm! Kalau begitu silahkan saja saudara untuk mencobanya!”

“Creeeet!” tiba-tiba kilatan cahaya api memancar dalam istana Gwat kiong, mengikuti ayunan tangan kiri Jit poh toan hun, kabut hitam yang sangat tebal segera memancar keempat penjuru, dalam waktu singkat seluruh istana Gwat kiong telah diselimuti oleh asap berwana hitam itu.

Tiba-tiba sinar rembulan menjadi lenyap, empat penjuru hanya diliputi oleh kegelapan yang pekat…

Tiba-tiba terdengar Kwik To tertawa seram, katanya, “Saudara Lui, coba lihatlah! Bukankah panah inti geledek Jit poh lui sim ciam tak mampu mengapa-apakan diriku”

Jit poh lui sim ciam Lui Seng Thian tidak menyangka kalau secara tiba-tiba Jit poh toan hun Kwik To bakal melepaskan kabut hitam, melihat bayangan orang lenyap dari pandangan, ia menjadi teramat gelisah.

“Saudara Kwik!” serunya sambil tertawa seram, “siasatmu Boan thian kok hay (mengelabuhi langit menyeberangi samudra) ini tak akan berhasil membuat aku orang she Lui menjadi terkecoh!”

Seraya berkata, panah inti geledek Jit poh lui sim ciam ditangannya pelan-pelan dialihkan kearah luar.

Semangat Si Tiong pek kontan saja berkobar, dikala ia sedang merasa kepepet dan merasa tak kuat menahan kejaran dari dua orang jago lihay, tahu-tahu Kwik To mengeluarkan ilmu mengelabuhi orang yang sangat lihay itu dengan cepatnya pula dia melemparkan tubuh sendiri keluar.

Mendadak… sebuah cakar raksasa yang bergerak lincah menyambar keatas tubuhnya.

Si Tiong pek merasa amat terkesiap, buru-buru ia membuang bahunya kesamping sambil melayang kesebelah kiri, tapi belum lagi tubuhnya sempat berdiri tegak, bayangan hitam itu sudah menyusul pula dari arah belakang.

Dalam gelisahnya ia lantas membentak, “Kwik To kau berani!” Tiba-tiba tubuhnya bergeser keluar, secepat kilat telapak tangan kanannya melepaskan sebuah pukulan dahsyat keatas dada orang itu.

Kwik To tertawa seram, ejeknya, “Kalau ingin tak mampus, serahkan saja Lencana pembunuh naga itu kepadaku!”

Kelima jari tangannya yang terpentang lebar-lebar mendadak diayunkan ketengah udara… dengusan tertahan berkumandang memecahkan keheningan, tak bisa dihindari lagi, Si Tiong pek sudah kena dicengkeram oleh Kwik To dengan ilmu cengkeramannya yang maha lihay.

Karena kesakitan, si anak muda itu mendengus tertahan, secepat sambaran kilat sebuah tendangan dilancarkan.

Waktu itu Jit poh lui sim ciam Lui Seng Thian sedang kesal mencari tempat persembunyian Jit poh toan hun Kwik To, maka begitu mendengar suara bentakan dari Si Tiong pek, tanpa terasa ia mengambil keputusan dihati, hawa napsu membunuhpun segera menyelimuti seluruh wajahnya.

Terdengar ia tertawa dingin, lalu teriaknya, “Kalian berdua tak usah saling berebut lagi!”

“Blaaam..!”

Suatu ledakan keras menggelegar menggetarkan seluruh angkasa, percikan bunga api tersebar kemana-mana, diantara kilatan cahaya emas, beberapa jalur panah berapi telah meluncur keluar dengan cepatnya.

“Lui Seng Thian kau sungguh teramat keji!” teriak Kwik To dengan suara lantang.

Dalam keadaan demikian, tak sempat lagi baginya untuk merampas Lencana pembunuh naga tersebut, dengan cepat ia melemparkan tubuh Si Tiong pek keluar, sementara ia sendiri menjatuhkan diri ketanah dan bergelinding sejauh beberapa kaki dari tempat semula…

Sreet..! Sreeet..! Diantara desingan panah geledek, benda-benda penyebar maut itu berseliweran diatas tubuh Kwik To yang masih mendekam ditanah itu.

Dalam pada itu, baru saja tubuh Si Tiong pek terlempar keudara oleh tenaga lemparan Jit po toan hun Kwik To, dua jalur cahaya api secepat kilat meluncur datang kearahnya dengan kekuatan yang mengerikan.

Pemuda itu menjadi amat terkesiap, bisiknya dihati. “Habis sudah riwayatku kali ini..!”

Berhubung anak panah geledek menyambar datang dengan kecepatan yang luar biasa, Si Tiong pek sudah tidak memiliki kesempatan lagi untuk berpikir panjang. Dia tahu bila melompat keatas maka bahaya yang mengancam keselamatan jiwanya akan makin bertambah besar, satu-satunya jalan hanya bisa membuyarkan hawa murni seraya meluncur turun kebawah.

“Criit..!” dua jalur sinar emas menyambar lewat dari atas kepalanya dengan membawa desingan angin tajam, menanti ia membuka matanya kembali, tampaklah sinar bintang berkilauan, setelah memandang sekejap sekeliling sana, pemuda itu baru sadar bahwa ia telah terlepas dari kurungan istana rembulan.

Pelan-pelan rasa kaget dan rasa ngerinya mereda, tanpa sadar ia menghembuskan napas panjang.

Tapi belum lagi helaan napasnya selesai, mendadak dilihatnya berpuluh-puluh sosok bayangan manusia berdiri tak jauh dari dirinya berada.

Tampak olehnya See ih samseng (tiga malaikat dari wilayah See ih) masing-masing berdiri disatu arah yang berlawanan, sedangkan si nona berbaju perak dari Thian san berada ditengah, waktu itu dia sedang memandang kearahnya sambil tersenyum manis.

Hal mana dengan cepat membuat Si Tiong pek berdiri tertegun.

Pelan-pelan gadis berbaju perak itu maju kedepan menghampirinya, lalu sambil tertawa ringan katanya, “Kau baru saja keluar?”

Mendengar perkataan itu Si Tiong pek menjadi tertegun, pikirnya dengan cepat. “Darimana dia bisa tahu kalau aku baru saja keluar dari istana rembulan? Nona ini

memiliki kecantikan yang tak terlukiskan oleh kata-kata, bila aku bisa kawin dan

memperistri dirinya, tidak sia-sia hidupku dalam dunia dewasa ini!”

Berpikir demikian, ia lantas tertawa lirih, sahutnya, “Kau telah mengetahui segala sesuatunya”

“Tentu saja” jawab si nona baju perak sambil tertawa terkekeh-kekeh, “Ketika kau terjerumus kedalam istana rembulan, lalu menerjang keluar secara paksa, semua kejadian ini dapat kuikuti dengan jelas.”

Tercekat perasaan Si Tiong pek oleh ucapan tersebut.

“Kalau segala sesuatunya dapat kau lihat, kenapa kau sendiri tidak masuk, kedalam…” Kembali nona berbaju perak itu tertawa terkekeh-kekeh.

“Dengan otak setanmu yang licin aku sudah tahu kalau istana rembulan tak akan berhasil mengurung dirimu, telah kuperhitungkan bahwa kau pasti akan keluar dari tempat ini.”

Si Tiong pek tahu bahwa gadis berbaju perak ini adalah satu-satunya ahli waris dari aliran See Thian san, dengan dimilikinya Lencana pembunuh naga tersebut, sudah barang tentu dia jauh lebih hapal terhadap tempat-tempat tersebut daripada orang lain, bahkan segala gerak geriknya selama inipun tak dapat mengelabuhi dirinya… Melihat pemuda itu hanya membungkam saja, nona berbaju perak itu berkata lagi sambil tertawa, “Dapatkah kau serahkan kembali Lencana pembunuh naga itu kepadaku..?”

Ucapan tersebut diutarakan dengan suara datar lagi pelan, sama sekali tiada nada paksaan atau suara bengis yang tak sedap didengar.

Si Tiong pek yang pada dasarnya memang sudah terpikat oleh kecantikan wajahnya itu, kontan saja merasakan hatinya bergetar keras sesudah mendengar ucapan tersebut…

Ucapan yang pelan dan lembut ibaratnya sebuah nyanyian merdu, bukan cuma menggetarkan hatinya, bahkan menimbulkan pula pasang surut yang keras dalam hati kecilnya…

Tak sedikit gadis cantik yang pernah dijumpai selama ini, tapi belum pernah ia kehilangan semangat seperti hari ini, ia merasa dirinya tidak memiliki alasan yang cukup kuat untuk menampik permintaan orang, sekalipun Lencana pembunuh naga tak ternilai harganya, tapi gadis cantik rupawan yang berada dihadapannya sekarang agaknya mempunyai nilai yang jauh lebih tinggi daripada Lencana pembunuh naga tersebut, seluruh perasaannya mulai mabuk dan terbuai.

Tanpa ragu-ragu lagi ia merogoh kesakunya dan mengeluarkan kotak kumala tersebut, kemudian sambil diangsurkan kehadapan gadis berbaju perak itu, katanya, “Ambillah nona!”

Gadis berbaju perak itu tertawa ringan, ia membuka sebentar kotak kumala tersebut tapi segera menutupnya kembali, sambil tertawa katanya kemudian, “Terima kasih banyak, lebih baik kau simpan sendiri benda itu secara baik-baik!”

Selesai berkata, dengan memimpin See ih sam seng, pelan-pelan ia berlalu dari situ.

Untuk sesaat lamanya Si Tiong pek berdiri termangu ditempat tanpa mengetahui apa yang musti dilakukan, nona itu hanya menerimanya sebentar lantas dikembalikan kembali kepadanya, apa maksud sesungguhnya dari gadis tersebut? Sepintas lalu sikapnya tanpa berperasaan tapi tampak pula seperti tak berperasaan, pikiran dan perasaannya segera saja berubah menjadi makin kacau…

Dalam perasaan gundahnya tanpa sadar Si Tiong pek mulai bersenandung, ia tak tahu bagaimanakah perasaan hatinya sekarang, dia hanya merasa bahwa gadis berbaju perak itu merupakan gadis idaman hatinya…

Langkah si nona baju perak itu sangat lamban ia dapat mendengar pula suara senandung Si Tiong pek, sambil tertawa serunya kemudian, “Orang goblok itu sungguh amat romantis…”

Malaikat telapak tangan Nio Go hau yang berada disisinya segera tertawa seram. “Sejak dulu sampai sekarang, orang yang selalu romantis hanya akan menerima

kekesalan, biarkan saja ia merasa gundah seorang diri!” Malaikat racun Lo Kay seng terbahak-bahak pula. “Haaahhh… haaahhh… haaahhh… si nona, apakah kau telah berhasil menukar Lencana pembunuh naga itu?”

Sambil tertawa gadis berbaju perak itu mengangguk.

“Tentu saja telah kutukar, sekarang Lencana pembunuh naga sudab muncul dua buah, walaupun mereka berpengetahuan dan pengalaman amat luas, jangan harap bisa mengetahui rahasia tersebut, biar saja mereka saling berebut benda yang salah…”

Malaikat pedang Pek Bong in tertawa terbahak-bahak pula.

“Haaahh… haaahh… haaahh… semua tempat dalam istana Kiu tiong kiong sudah kita hapalkan diluar kepala, sekalipun tanpa lencana pembunuh naga kitapun bisa pergi kemana-mana sambil memejamkan mata, buat apa nona menukarnya kembali..?”

“Aku harus menyerahkannya kepada Gak Lam kun!” jawab si nona baju perak itu sambil mendengus.

Ucapan ini segera membuat tiga malaikat dari wilayah See ih menjadi tertegun mereka tidak habis mengerti apa sebabnya nona berbaju perak itu berbuat demikian?

Sementara gadis berbaju perak itupun hanya tertawa misterius, dengan cepatnya ia berlalu dari sana.

Sisa matahari telah tenggelam dilangit barat, senja mulai mencekam seluruh jagad… Sambil memegang kotak kumala tersebut Si Tiong pek berdiri termangu-mangu sambil

mengawasi bayangan punggung si nona yang pergi jauh, akhirnya ia menghela napas

sedih.

Mendadak…

Sesosok bayangan hitam menubruk datang dari belakang tubuhnya dan secepat kilat menyambar kotaK kumala yang berada ditangannya itu.

Si Tiong pek terkesiap, cepat-cepat ia menarik tangannya sambil berputar kian kemari, secara beruntun kakinya telah berpindah dua posisi yang berbeda.

Tapi berhubung lengan kirinya sudah kutung, gerak geriknya menjadi kurang leluasa, maka belum lagi tubuhnya sempat berhenti, segulung angin pukulan telah berhembus datang.

“Uaaak..!” tak bisa dicegah lagi Si Tiong pek muntah darah segar, dengan sempoyongan tubuhnya mundur beberapa langkah berulangkali, sementara kotak kumala tersebut lantaran terhajar oleh angin pukulan yang amat keras itu, segera mencelat ketengah udara.

“Kiranya kalian…” teriak Si Tiong pek dengan gusarnya.

Setelah berhasil melukai Si Tiong pek dengan pukulan dahsyatnya, diam-diam terkesiap juga hati Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi sewaktu dilihatnya kotak kumala tersebut mencelat ketengah udara, dengan suatu kecepatan luar biasa ia segera menerjang kemuka dan menyambar kotak kumala tersebut.

Tampak bayangan manusia berkelebat menyusul kemudian terdengar si Tosu setan Thian yu Cinjin tertawa seram sambil berseru.

“Haaahh… haaahh… haaahh… saudara Hoa, tak usah repot-repot, biar lohu yang mewakilimu untuk mengambil kotak kumala tersebut…”

Ketika telapak tangan raksasanya diayunkan pelan ketengah udara, secepat kilat kotak kumala tersebut sudah terjatuh ketangannya.

Terkesiap Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi menyaksikan kejadian itu, sambil tertawa terkekeh katanya kemudian, “To heng, harap kau simpan benda itu untuk sementara waktu, tapi jangan lupa benang seutas tak akan mampu menjadi kain, tanpa lohu pun Lencana pembunuh naga tak lebih cuma sebuah benda yang tak berguna. Bukankah begitu to heng.”

Ooooooo
Terima Kasih buat para gan / ganwati yang telah meningglakan opininya di kolom komentar :). Sekarang ada penambahan fitur "Recent comment"yang berada dibawah kolom komentar, singkatnya agan2 dapat melihat komentar terbaru dari pembaca lain dari fitur tersebut. Semoga membantu :).