Lencana Pembunuh Naga Jilid 13

 
Jilid 13

Lui Seng Thian segera mengalihkan panah inti geledek Jit poh lui sim ciamnya mengarah

diri Oh Bu hong, lalu bertanya dengan keras.

“Oh Bu hong, jika kau berani maju selangkah lagi, jangan salahkan kalau lohu tak akan bertindak sungkan-sungkan lagi kepadamu….”

Ji Cin peng pun sadar bahwa peristiwa yang telah terjadi hari ini tak mungkin bisa diselesaikan secara baik-baik, maka begitu panah inti geledek milik Lui Seng thian beralih ditujukan kearah Oh Bu hong, ia merasa bahwa kesempatan baik ini tak boleh dibiarkan lewat dengan begitu saja….

Ia tidak ragu-ragu lagi, sambil membentak keras tubuhnya menerjang maju kemuka, telapak tangan kirinya dengan jurus Hui tim cing tam (mengebut debu mencari ketenangan) segera dikebaskan kedepan sementara kedua jari tangannya dengan disertai tenaga penuh langsung disodokkan kearah jalan darah Khi bun hiat.

Lui seng thian adalah seorang gembong iblis tua yang sangat lihay sepasang bahunya segera digetarkan dan tahu-tahu ia sudah mundur delapan depa dari posisi semula, kini tabung bulatnya kembali ditujukan kearah gadis tersebut.

000000O00000

Begitu sudah lepas dari incaran musuh, sudah barang tentu Ji Cin peng tak sudi membiarkan dirinya diancam oleh lawan lagi, dengan suatu kecepatan yang luar biasa ia memutar badannya dan langsung menerjang kesisi Lui Seng thian.

Gerakan itu bukan cuma menghindarkan diri dari ancaman saja bahkan sekaligus telah melancarkan serangan, gerakan tersebut benar-benar dilakukan dengan kecepatan yang luar biasa.

Perputaran badannya sambil disertai gerakan maju kedepan itu sungguh dilakukan dengan menempuh bahaya maut nyaris tabung bulat itu mampir diatas tubuhnya meski hanya selisih beberapa inci saja untung saja gerakan tubuhnya itu digunakan secara tepat dan bagus, coba kalau tidak sekalipun tidak terluka parah oleh tabung bulat tersebut, paling tidak diapun akan ditawan kembali dibawah ancaman musuh.

Lui Seng thian sesungguhnya adalah seorang jago lihay yang sudah lama tersohor namanya dalam dunia persilatan, mana pengalamannya menghadapi musuh sudah cukup banyak, tak sedikit pula jago lihay yang pernah dijumpainya, tapi sayang sekali gerakan tubuh dari Ji Cin peng terlalu aneh dan sakti, kali inipun ia baru menjumpai untuk pertama kalinya, tak urung dibuat tertegun juga ia oleh kejadian tersebut.

Gerakan tubuh yang barusan dipergunakan oleh Ji Cin peng itu bernama Lam hay peng po leng im sin hoat (ilmu gerakan tubuh menyeberangi awan tenang dilautan selatan), gerak geriknya bukan cuma aneh, sakti dan lihay lagi, gerakan itu agak sedikit mirip dengan gerakan Ji gi heng jit seng liong heng sin hoat dari Gak Lam-kun.

Dikala Lui Seng thian masih tertegun itulah, Ji Cin peng telah menerjang kesamping tubuhnya, dengan menggunakan jurus Peng hong tiang kang (salju menutup sungai tiangkang) tangan kanannya dihantam kedepan dengan disertai tenaga yang luar biasa, begitu tabung bulat milik Lui Seng thian dipukul sampai menyingkir kesamping, telapak tangan kirinya, secepat kilat melancarkan empat buah pukulan dahsyat secara beruntun. 6

Keempat buah serangan itu meski dilancarkan dengan jarak yang berbeda, tapi karena kecepatannya terlalu hebat, sehingga sepintas lalu tampaknya keempat buah pukulan itu dilancarkan secara berbareng, ini semua membuat pandangan mata orang menjadi kabur dan sukar untuk menghindarkan diri.

Lui Seng thian merasa amat terkejut, dengan cepat tubuhnya melompat mundur kebelakang, menanti punggungnya hampir menempel dengan permukaan tanah, kakinya segera mengerahkan tenaga penuh dan seluruh tubuhnya mencelat sejauh delapan sembilan depa lebih dari posisi semula dengan tubuh hampir menempel diatas permukaan tanah.

Akibat dari serangan tersebut, walaupun Lui Seng thian berhasil meloloskan diri dari serangkaian ancaman tersebut, akan tetapi tabung panah inti geledeknya kena dihantam oleh pukulan Ji Cin peng sehingga terjatuh keatas tanah.

Sekalipun kedua belah pihak hanya bergebrak dalam satu jurus belaka, akan tetapi masing-masing pihak telah mempergunakan jurus paling tangguh yang jarang dijumpai dalam dunia persilatan hal mana membuat para jago yang menyaksikan jalannya pertarungan dari sisi gelanggang sama-sama terkejut dan menghela napas panjang.

Cara yang telah dipergunakan oleh Ji Cin peng untuk menghindari sergapan, menerjang kedepan, mendesak mundur tabung panah, melancarkan serangan dan mendesak musuh, semuanya mempergunakan jurus-jurus serangan yang tangguh, terutama sekali dikala melancarkan sebuah pukulan untuk memaksa Lui Seng thian untuk membuang senjata Jit poh lui sim ciamnya tadi, gerakan tersebut betul-betul luar biasa sekali.

Setelah berhasil meloloskan diri dari serangan Ji Cin peng tadi, hawa amarah yang membara dalam dada Lui seng thian benar-benar tak terkendalikan sambil tertawa dingin dengan suara yang menyeramkan ia berseru, “Ilmu silat yang dimiliki nona benar-benar luar biasa sekali, kau merupakan satu-satunya jago tangguh yang pernah kujumpai selama hidupku ini, sungguh tak kusangka dalam usia tuaku ini lohu masih sempat untuk bertemu dengan jago setangguh nona….” Setelah tertawa serak dengan nada menyeramkan ia berkata lebih jauh, “Cuma, aku harap nona bersedia untuk menjelaskan asal usul perguruanmu agar bisa menambahkan pengetahuan lohu untuk kali ini, aku ingin tahu ilmu silat dari perguruan manakah yang sesungguhnya begitu sakti dan luar biasa”

Sebagaimana diketahui, Lui Seng thian adalah seorang jago kawakan yang sudah sering melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, pengetahuan serta pengalamannya cukup luas, iapun seringkali menjumpai pelbagai ilmu silat dari pelbagai aliran dalam dunia ini, sekalipun tidak hapal seratus persen, tapi asal pihak lawan telah melancarkan serangannya, dengan cepat dia akan mengetahui asal usul dari perguruannya itu….

Gak Lam-kun sendiri walaupun sudah tahu jelas kalau gadis ini mempunyai hubungan dengan Lam hay sin ni tapi dia sendiripun tidak berhasil mengetahui asal usul dari ilmu silat yang dipakai gadis tersebut, dia hanya merasa bahwa tangan gadis itu diayunkan sekali dan tahu-tahu jurus serangan yang sangat aneh tapi lihay itu telah dipergunakan.

Sementara itu Ji Cin peng sedang tertawa dingin lalu berkata, “Ilmu silat yang kugunakan ini tidak berasal dari partai manapun, buat apa kau musti menanyakannya?”

Jit poh lui sim ciam Lui Seng thian adalah seorang gembong iblis tua yang ternama, ilmu silatnya amat menonjol dalam deretan jago kenamaan dalam dunia persilatan, selama hidup belum pernah dihina dan dicemooh orang dengan cara serendah ini.

Kontan saja hawa amarah dalam tubuhnya berkobar, dengan tubuh gemetar keras ia tertawa dingin tiada hentinya.

“Heeeh…. heeeh…. heeeh…. bocah perempuan kau benar-benar amat takabur, begitu berani kau pandang hina diriku”

Sambil berkata, selangkah demi selangkah ia berjalan kedepan dan menghampiri gadis tersebut.

Tiba-tiba Ji Cin peng menggunakan ujung kakinya untuk mencukil tabung bulat berisi Jit poh lui sim ciam itu, begitu berhasil diterima dalam genggamannya ia lantas membentak nyaring, “Hayo majulah jika kau memang tidak takut mampus”

Lui Seng thian benar-benar menghentikan langkah tubuhnya, ia tertawa seram lalu katanya, “Lohu tidak percaya kalau dalam dunia persilatan dewasa ini masih terdapat orang kedua yang bisa mempergunakan tabung anak panah ini.”

“Jawab saja kau pingin hidup atau mati?” kata Ji Cin peng dingin, “terserah kemauanmu sendiri, aku tahu bahwa suatu pertarungan sengit tak akan terhindari lagi bila ditinjau dari situasinya sekarang ini, jika kubunuh dirimu berarti aku akan kehilangan seorang musuh tangguh”

Sekalipun Lui Seng thian adalah seorang gembong iblis yang membunuh orang tak berkedip, akan tetapi menghadapi ancaman jiwa yang mempertaruhkan mati hidupnya, ia tak berani bertindak secara sembarangan.

Bila meninjau keadaan yang terbentang didepan mata sekarang, aku tidak percaya kalau nona bisa melindunginya untuk meninggalkan tempat ini dengan selamat. Ji Cin peng tidak menggubris ucapan itu, tiba-tiba ia berpaling kearah Gak Lam-kun seraya berkata, “Gak siangkong, mari kita pergi dari sini!”

Selesai berkata ia lantas melangkah kearah samping kiri.

Sementara pembicaraan itu sedang berlangsung secara diam-diam Lui Seng thian telah menghimpun segenap hawa murni yang dimilikinya, terdengar gelak tertawa seram berkumandang memecahkan kesunyian tahu-tahu sepasang telapak tangannya secara beruntun telah melancarkan serangkaian pukulan berantai.

Sementara itu, delapan belas orang elang baja dari Thi eng pang telah membentak bersama lalu maju kedepan sambil melakukan pengurungan yang ketat.

Hawa pedang serasa memancar kemana-mana, kedelapan belas bilah pedang itu meluncur datang dari empat arah delapan penjuru dan langsung ditujukan ketubuh gadis tersebut.

Berada dalam keadaan seperti ini Ji Cin peng segera tertawa dingin, telapak tangannya disilangkan didepan dada sambil berdiri serius, sementara tabung bulat yang berada ditangan kanannya diputar sedemikian rupa menciptakan selapis bayangan hitam yang menerjang kearah delapan belas orang anggota Thi eng pang itu.

Delapan belas elang baja dari Thi eng pang sudah pernah menyaksikan keganasan dari Jit poh lui sim ciam, ketika mereka saksikan Ji Cin peng memutar tabung bulatnya sedemikian rupa seakan-akan hendak melancarkan serangan dengan panah itu, serta merta mereka membuyarkan diri dan mencari selamatnya masing-masing.

Ji Cin peng berdiri dengan telapak tangan kiri disilangkan didepan dada, ketika hendak saling bertemu dengan kekuatan dari Lui Seng thian, tiba-tiba saja ia menghantam serangan itu kesamping, rupanya ia hendak memancing serangan lain kearah sana.

Tiba-tiba ia merasakan kembali datangnya segulung angin pukulan yang sangat kuat langsung menerjang kearahnya.

Kiranya Lui Seng thian telah membagi segenap kekuatan yang diraihnya menjadi dua bagian yang masing-masing dihimpun kedalam kedua belah telapak tangannya.

Dasar cerdik ia menyerang secara beruntun dengan cara tenaga yang meluncur secara berlapis-lapis, hal ini membuat Ji Cin peng sama sekali tidak menyangka ataupun bersiap sedia, kontan saja ia kena diterjang oleh gulungan angin pukulan yang datang secara berlapis-lapis itu….

Untung saja reaksinya cukup cepat, sepasang kakinya segera menjejak tanah lalu dengan mengikuti arah meluncurnya angin pukulan tersebut, tubuhnya meluncur kedepan dan baru melayang turun tiga kaki jauhnya dari tempat semula.

Lui Seng thian terkejut sekali menghadapi kenyataan tersebut, segera pikirnya, “Ilmu silat yang dimiliki orang ini benar-benar sukar diduga dengan akal biasa tampaknya ia sudah terkena oleh pukulanku yang maha dahsyat itu kenapa ia tampak biasa saja dan sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda terluka?” Darimana dia bisa tahu kalau sebelum berlangsungnya pertarungan tadi, secara diam- diam Ji Cin peng telah menghimpun tenaga khiekang pelindung badan Sian thian khikangnya untuk melindungi badannya?

Tenaga dalam semacam itu termasuk tenaga yang bersifat lunak, begitu terkena serangan yang datangnya dari luar maka tenaga itu segera akan memberikan reaksi yang hebat mengikuti datangnya aliran tenaga itu, gadis tersebut segera melayang keudara dan atas gerakannya inilah maka terhindarlah dia dari getaran keras yang mengakibatkan terlukanya isi perut gadis tersebut.

Sementara Lui Seng thian masih tertegun dan berdiri termangu-mangu, Ji Cin peng telah melompat turun dari atas udara sambil melancarkan sebuah pukulan dahsyat.

Lui Seng thian cukup tahu akan kelihayan musuhnya ia tak berani menyambut datangnya serangan dengan keras lawan keras, ujung baju kanannya dengan cepat dikebaskan kedepan, sementara tubuhnya bergeser sembilan depa jauhnya kesebelah kiri.

Cepat-cepat Ji Cin peng menekuk pinggangnya dan secara tiba-tiba berjumpalitan diudara, dengan kecepatan bagaikan sambaran petir ia mengejar langsung kemana kaburnya Lui Seng thian, angin jari setajam pisau langsung dilontarkan kedepan untuk menghajar belakang bahunya.

Waktu itu sepasang kaki Lui Seng thian belum sempat berdiri tegak ketika merasakan datangnya desingan angin jari dari Ji Cin peng, betapa terkesiapnya jago tua itu, buru- buru badannya menjatuhkan diri kedepan, lalu dengan jurus Hui tau wang gwat (berpaling sambil memandang rembulan) ia melepaskan sebuah serangan balasan.

Rupanya dia tahu bahwa tak mungkin baginya untuk menghindarkan diri dari serangan kilat Ji Cin peng itu, maka timbulnya niatnya untuk beradu jiwa.

Telapak tangannya segera dibalik sambil meluncur kedepan, segenap kekuatan tubuhnya yang dimilikinya disalurkan keluar, angin pukulanpun menggulung dengan hebatnya.

Sekalipun, Ji Cin peng memiliki ilmu silat yang amat sakti sayangnya ia masih cetek dalam pengalaman suatu pertarungan, menghadapi sikap nekat Lui Seng thian yang mengajak beradu jiwa ini sedikit banyak ia menjadi panik juga.

Betul juga serangan nekad dari Lui Seng thian tersebut segera memaksa Ji Cin peng harus menarik kembali serangannya untuk melindungi diri, pinggangnya lantas direndahkan kebawah dan tubuhnya yang sedang menerjang kemuka dihentikan secara paksa, kemudian mengikuti hembusan angin pukulan yang menggulung datang itu tubuhnya melayang sejauh enam tujuh depa kebelakang.

Begitu lolos dari bahaya maut setelah melancarkan serangan sambil menyerempet bahaya peluh dingin segera membasahi setujur tubuh Lui Seng thian saking kagetnya.

Tiba-tiba Thi eng sin siu Oh Bu hong tertawa terbahak-bahak, tubuhnya melayang diudara bagaikan seekor burung elang raksasa, begitu melayang melewati atas kepala Ji Cin peng sambil rentangkan sepasang lengannya, pedang dan tongkat Thi eng kiam serentak digetarkan kemuka untuk menyerang diri Gak Lam-kun. Sungguh cepat serangan tersebut, belum sirap gelak tertawanya, desingan toya pedang itu sudah mengurung sekeliling batok kepalanya.

Gak Lam-kun terperanjat, ia merasa hawa murni dalam tubuhnya sekarang telah mencapai keadaan yang paling lemah, tubuhpun serasa melayang-layang diatas awan dengan entengnya, darimana mungkin ia dapat membendung tibanya serangan dahsyat itu.

Dalam cemas dan gugupnya, cepat-cepat ia gunakan ilmu gerakan tubuhnya yang aneh untuk berputar kesebelah kiri.

Oh Bu hong menekuk pinggang, tiba-tiba saja tubuhnya maju beberapa depa kedepan toya pedang Thi eng kiamnya melepaskan sebuah serangan kosong sementara tangan kirinya melepaskan cengkeraman.

Menanti sepasang kakinya telah mencapai permukaan tanah, tahu-tahu tangan kirinya telah mencengkeram urat nadi diatas pergelangan tangan kanan Gak Lam-kun.

Semua kejadian ini hanya berlangsung didalam waktu yang amat singkat…. Baik Ji Cin peng maupun kawanan jago lainnya yang ada didalam gelanggang,

semuanya tidak menyangka kalau Gak Lam-kun bisa ditangkap oleh Oh Bu hong dengan cara yang begitu mudah, menanti Ji Cin peng bersiap-siap hendak melakukan pertolongan. Oh Bu hong telah berhasil menangkap korbannya.

Sekalipun demikian, gerakan Ji Cin peng dikala melakukan tubrukan itu dilakukan dengan kecepatan luar biasa, baru saja Oh Bu hong berhasil mencengkeram pergelangan tangan kanan Gak Lam-kun, angin serangan jari tangan dari Ji Cin peng tahu-tahu sudah tiba dibelakang punggungnya.

Rupanya Oh Bu hong telah menduga bahwa Ji Cin peng pasti akan melakukan pertolongan, maka begitu berhasil mencengkeram pergelangan tangan kanan Gak Lam- kun, segera ia menyingkir kesamping.

Sekalipun gerakan itu dilakukan cukup cepat, toh punggungnya kena disapu juga oleh angin jari tangan Ji Cin peng….

“Breeet….!” pakaiannya segera tersambar robek dan punggungnya muncul sebuah guratan sepanjang beberapa senti.

Gagal dengan serangannya tersebut, Oh Bu hong telah berhasil mantapkan dirinya, dengan sentakan keras ia membetot Gak Lam-kun kedepan.

Termakan oleh kekuatan tersebut Gak Lam-kun yang pada dasarnya sudah lemah itu segera tertarik kedepan, dan tubuhnya melintang dihadapan mukanya.

Dalam pada itu serangan kedua dari Ji Cin peng baru saja dilancarkan, Oh Bu hong segera mengerahkan tenaga dalamnya kelengan kiri dan mendorong tubuh Gak Lam-kun untuk menyongsong datangnya, ancaman dari gadis tersebut.

Yang satu menyerang yang lain menyongsong gerakan tersebut benar-benar dilakukan dengan kecepatan luar biasa, menunggu Ji Cin peng menyadari bahwa Oh Bu hong telah mempergunakan Gak Lam-kun untuk menyongsong tibanya serangan itu, serangan jarinya yang dahsyat tahu-tahu sudah berada dimuka dada Gak Lam-kun.

Keadaan menjadi gawat, agaknya jari tangan Ji Cin peng yang tajam dan runcing itu segera akan menempel diujung baju Gak Lam-kun….

Disaat yang amat kritis inilah, mendadak gadis itu menarik kembali serangan tangan kanannya.

Tiba-tiba Oh Bu hong tertawa dingin, lalu bentaknya, “Gak lote, kau menginginkan Lencana pembunuh naga ataukah menginginkan jiwa sendiri?”

Gak Lam-kun membentak gusar, ia mengibatkan tangannya keras-keras dengan maksud hendak melepaskan diri dari cengkeraman Oh Bu hong, andaikata hal ini terjadi dihari-hari biasa maka kebasan yang dilakukan sekuat tenaga itu pasti dapat membuatnya lepas dari cengkeraman orang.

Berbeda jauh dengan keadaan pada saat ini dalam keadaan hawa murni yang membuyar, kebasannya itu bukan saja gagal memenuhi harapan, bahkan daya tekanan yang menekan pergelangan tangan kanannya terasa makin berat, ibaratnya dijepit dengan tanggem besi yang kuat, cuma anehnya ternyata tidak terasa sakit.

Mencorong sinar tajam dari balik mata Ji Cin peng, dengan cekatan ia mengegos kesamping kanan menghindari Gak Lam-kun lalu diantara getaran tangannya secara beruntun ia melancarkan tiga buah serangan kilat dengan gerakan-gerakan yang aneh dan sakti.

Termakan oleh tiga buah pukulan berantai itu, Oh Bu hong terdesak mundur sejauh empat langkah lebih, tapi tangan kirinya masih mencengkeram pergelangan tangan kanan Gak Lam-kun erat-erat, sementara tongkat pedang elang bajanya yang berada ditangan kanan, diayunkan berulangkali untuk membendung datangnya ancaman tersebut, setelah bersusah payah sekian lama akhirnya berhasil juga ia menghindari ketiga buah serangan dahsyat itu.

Betapa terkesiapnya Oh Bu hong ketika menundukkan kepalanya dan tidak menjumpai Gak Lam-kun dalam keadaan kesakitan. Sebab sebagaimana yang ia ketahui, barangsiapa nadinya tercengkeram, maka sekalipun tenaga dalamnya amat sempurna, dalam keadaan begini akan membuyar juga kekuatannya, badan akan terasa kaku dan sakitnya bukan kepalang.

Tapi yang dijumpai sekarang, sekalipun Gak Lam-kun tidak memberikan perlawanan namun sikapnya cukup santai.

Thi eng sin siu Oh Bu hong segera tertawa dingin, ancamnya, “Jika kau berani melancarkan sebuah serangan lagi kepadaku, segera kuhancurkan tulang pergelangan tangannya!”

“Hmm….!” Ji Cin peng mendengus dingin, menyandera orang sambil mengancam, terhitung manusia macam apakah kau ini? Kalau berani hayolah kita berduel satu lawan satu…. Oh Bu hong tertawa terbahak-bahak, sebelum Ji Cin peng menyelesaikan perkataannya ia segera menukas.

“Antara lohu dengan nona tak pernah terikat oleh dendam sakit hati ataupun perselisihan lain, kenapa aku musti beradu jiwa dengan dirimu….”

Mendadak Gak Lam-kun membentak marah, “Bagi seorang laki-laki sejati lebih baik dibunuh daripada dihina, bila bersikap semacam ini kepadaku, jangan salahkan kalau aku hendak memakimu!”

Dalam pada itu, ketiga orang Thamcu dari Thi eng pang berserta kedelapan belas orang elang bajanya telah menyebarkan diri keempat penjuru dengan mengambil posisi mengepung.

Menyaksikan keadaan semacam ini, sadarlah Ji Cin peng bahwa dirinya amat terjepit malam ini, anehnya sampai sekarang tak seorangpun dari anggota perguruannya tiba disana.

Dalam menghadapi keadaan seperti ini tiba-tiba ia membentak keras, “Lui Seng thian, sambutlah ini!”

Tiba-tiba ia melempar tabung panah inti geledek Jit poh lui sim ciam itu kepada Lui Seng thian.

Begitu menerima kembali tabung bulatnya, Lui Seng thian segera tertawa seram. “Heehhh…. heeehhh…. heeehhh…. tua bangka Oh, panah inti geledek yang bisa

mencabut nyawa orang dalam tujuh langkah ini telah kutujukan kepadamu!”

Perubahan ini terjadi sangat mendadak dan sama sekali diluar dugaan para jago Thi eng pang. Mimpipun mereka tak mengira kalau Ji Cin peng bakal menyerahkan kembali senjata ampuh tersebut kepada Lui Seng thian.

Mendengar ancaman itu, Oh Bu hong segera tertawa terbahak-bahak. “Haaahhh….haaahhh….haaahhh…. kau musti tahu, bukan aku seorang yang kau tuju,

disini masih ada seorang Gak lote”

Sekali lagi Lui Seng thian tertawa seram.

“Heeehh…. heeehh…. heeehh…. tua bangka Oh, mungkin kaupun sudah tahu dengan tabiatku selamanya lohu hanya memikirkan bagaimana caranya mencapai tujuan, aku tak pernah mempersoalkan tindakan apa yang musti kuambil”

Ou Bu hong tertawa dingin, “Heeehh…. heeehh…. heeehh…. kalau begitu lakukanlah sekarang juga….!”

Dalam waktu singkat situasi yang terbentang didepan mata berubah menjadi amat tegang, diam-diam Ji Cin peng segera mengerahkan tenaga dalam untuk bersiap sedia, dia kuatir Lui Seng thian benar-benar akan membidikkan panah inti geledeknya kearah mereka berdua. Situasi ketika itu sungguh menjadi amat serius dan mengerikan, pertarungan sengit setiap saat bisa meletus.

Lui Seng thian sama sekali tidak menekan tombol tabungnya, diapun hanya bersiap siaga penuh dengan sikap yang was-was, hal ini sudah barang tentu menambah tegang dan seramnya suasana disana.

Entah sedari kapan, gadis berbaju perak dan See ih kiam seng Siang Bong im telah mengundurkan diri dari daerah disekitar tempat itu….

Gulungan ombak samudra berkejaran dilautan bebas dan memecah diatas batu karang, peredaran darah didalam tubuh semua orang terasa begitu bergelora dan bertambah cepat.

Tiba-tiba Lui Seng thian tertawa seram, suaranya yang keras memecahkan keheningan dan suasana tegang disekeliling tempat itu.

“Tua bangga Oh!” katanya dengan dingin, “apakah kau tidak merasakan sesuatu yang aneh dan mencurigakan?”

Oh Bu hong tertawa dingin.

“Tua bangka Lui, kau anggap aku bisa termakan oleh siasat busukmu yang licik itu?”

Thi eng sin siu mengira dia akan melancarkan sergapan dan sengaja mengucapkan kata-kata itu untuk mengalihkan perhatiannya.

Lui Seng thian kembali tertawa dingin katanya

“Tua bangka Oh, seandainya aku orang she Lui hendak menyergap dirimu, sejak tadi hal mana telah kulakukan”

“Haaaa…. haaaa…. haaaa…. kalau begitu apa yang hendak kau bicarakan?” Thi eng sin siu tertawa terbahak-bahak.

“Menurut dugaanku, Lencana pembunuh naga yang berada disaku Gak lote pasti adalah lencana palsu”

Begitu ucapan tersebut diutarakan keluar, paras muka semua orang segera berubah hebat.

Gak Lam-kun mengejek sinis.

“Palsu juga boleh, asli juga boleh, kecuali aku sudah mampus kalau tidak jangan harap kalian bisa mendapatkannya” ia berseru.

Thi eng sin siu tertawa dingin pula.

“Gak lote, kenapa pikiranmu tidak lebih kau buka? Ketahuilah, Lencana pembunuh naga bukan terhitung sebuah rahasia besar lagi, tidak sedikit orang persilatan yang sudah mengetahui tentang persoalan ini sudah begitu banyak manusia lihay yang telah berdatangan kepulau terpencil ini dengan harapan bisa mendapatkan mustika itu, sekalipun Gak lote berhasil kabur pada malam ini, aku rasa juga tak mungkin bisa menghindari pengejaran serta pencarian dari kawanan jago persilatan dari pelbagai golongan didunia ini. Apalagi sekalipun lencana tersebut berhasil kau dapatkan, toh belum tentu mustika tersebut akan kau dapatkan dengan gampang.”

Gak Lam-kun mendengus dingin, bentaknya tiba-tiba, “Hei, mau apa kau mencengkeram terus pergelangan tanganku ini?”

Oh Bu hong tertawa.

“Kecuali kau bersedia mengambil keluar lencana pembunuh naga itu dan membiarkan kami memeriksa keasliannya.”

“Hmm….! Kau anggap aku orang she Gak sudi kau ancam dengan cara begini? Buat seorang lelaki sejati, lebih baik mati daripada dihina.”

Mendadak Thi eng sin siu melepaskan cengkeramannya pada pergelangan tangan kanan Gak Lam-kun, lalu sambil mundur dua langkah katanya, “Aku tidak kuatir kalian bisa kabur dari sini!”

Ji Cin peng dengan cepat maju kedepan dan menghampiri Gak Lam-kun, lalu dengan suara lembut katanya, “Gak siangkong, bolehkah kau pinjamkan sebentar lencana pembunuh naga itu kepadaku!”

Gak Lam-kun manggut-manggut dari dalam sakunya ia mengeluarkan kotak kumala tersebut.

“Tunggu sebentar!” mendadak seseorang membentak keras.

Gan tiong ciang (pukulan batu karang) Kwan kim ceng dari perkumpulan Thi eng pang segera melompat kedepan dan melancarkan sebuah bacokan kilat kedepan.

Ji Cin peng segera memutar balik telapak tangan kanannya, kemudian menyambut datangnya ancaman tersebut sambil membentak, “Mundur kau!”

“Blaang….” ketika dua gulung angin pukulan yang maha dahsyat bertemu satu sama lainnya ditengah udara, segera terjadilah ledakan keras yang mengakibatkan timbulnya pusaran angin kencang, pasir dan batu kerikil segera beterbangan keudara.

Manusia yang bernama Pukulan batu karang Kwan Kim ceng itu segera mencelat kebelakang dan tergetar sejauh satu langkah lebih.

Sementara itu, Ji Cin peng telah menerima kotak kumala tersebut segera ujarnya dengan dingin, “Lencana pembunuh naga yang kalian kehendaki berada didalam kotak kosong”

Kotak yang sementara itu sudah dibuka oleh Ji Cin peng tampak kosong melompong tak ada isinya sementara Lencana pembunuh naga yang berwarna warni itu entah sudah kabur kemana.

Tak terkirakan rasa gusar Gak Lam-kun sesudah menyaksikan kejadian itu, ia mendengus dingin lalu makinya. “Budak liar kau berani menipu aku.” Lui Seng thian pun tertawa seram.

“Heeeh…. heeeh…. heeeh…. Gak lote, dugaanku tidak salah bukan? Tak nanti orang- orang dari See thian san menyerahkan Lencana mustika itu kepadamu dengan segampang ini”

Berbicara sampai disitu, dia lantas berpaling kearah Thi eng sin siu sambil melanjutkan, “Tua bangka Oh? Lohu ada satu persoalan yang hendak dirundingkan denganmu, apakah kau punya keberanian untuk menjawabnya?”

“Persoalan apa?” tanya Oh Bu hong sambil tertawa dingin, “harap kau mengatakannya lebih dulu, setelah kupikirkan baru dibicarakan lebih lanjut….”

Mendengar itu, diam-diam Lui Seng thian memaki didalam hati, “Tua bangka bajingan ini betul-betul seorang bangsat tua yang berhati licik”

Berpikir sampai disitu katanya kemudian dengan dingin, “Tua bangka Oh, aku rasa kau pasti telah bertekad untuk mendapatkan lencana pembunuh naga itu bukan?”

“Betul!” sahut Oh Bu hong ketus, “jauh-jauh dari ribuan li lohu datang kemari, kalau tidak bertekad untuk memperolehnya lantas dengan maksud apa aku datang kemari?”

“Kalau begitu kita adalah sama-sama setujuan. Tapi, seperti kau lihat sendiri, disinipun hadir kawanan jago dari See thian san, dari Perguruan panah bercinta serta sekawanan jago lihay lainnya, yakinkah kalian Thi eng pang untuk memperoleh mustika?”

Walaupun ucapan tersebut ditujukan kepada Oh Bu hong, tapi sinar matanya dialihkan kewajah Ji Cin peng serta memperhatikan perubahan mimik wajahnya itu.

Tapi paras muka Ji Cin peng amat dingin dan kaku bagaikan es, ia seperti tidak merasa murung tidak pula merasa gembira, tapi jelas terlihat memancarkan sikap anggun yang membuat setiap orang yang melihat merasa tunduk dan menaruh hormat.

Oh Bu hong tertawa terbahak-bahak.

“Haaahh…. haaahh…. haaahh…. asal saudara Lui bersedia untuk menggabungkan diri dengan perkumpulan kami, sembilan puluh sembilan persen Lencana pembunuh naga itu akan menjadi milik perkumpulan kita”

Lui Seng thian tertawa dingin.

“Heeehh…. heeehh…. heeehh…. apakah maksudmu hendak menarik aku menjadi anggota Thi eng pang? Sayang sekali aku orang she Lui tak sudi menerima perintah orang lain!”

Bukan menjadi marah. Oh Bu hong kembali tertawa, katanya kembali, “Kalau begitu, apa maksud saudara Lui dengan perkataanmu tadi?” “Menurut maksud lohu, ada baiknya jika Thi eng pang bekerja sama dengan perguruan panah bercinta untuk bersama-sama menghadapi perguruan See thian san.”

Mendengar ucapan itu Oh Bu hong segera tertawa terbahak-bahak.

“Haaah…. haaah…. haaah…. jadi andaikata lencana pembunuh naga itu berhasil didapatkan, maka pihak Thi eng pang kami harus bertarung melawan perguruan panah bercinta untuk menentukan siapakah pemenangnya yang berhak untuk mendapatkan Lencana pembunuh naga? Lantas bagaimana dengan kau sendiri dan Gak lote?”

“Kami berdua? Tentu saja yang satu bergabung dengan Thi eng pang sedang yang lain bergabung dengan perguruan panah bercinta tapi bukan dalam arti kata masuk menjadi anggota.”

Ketika mereka berbicara sampai disitu, diam-diam Ji Cin peng dan Gak Lam-kun telah berlalu dari sana.

Oh Bu hong tertawa tergelak.

“Haaahhh…. haaahhh…. haaahhh…. saudara Lui, pintu gerbang Thi eng pang selalu terbuka bagimu, bila kau bersedia masuk kedalam perkumpulan kami, dengan senang hati lohu akan menyambut kedatanganmu untuk bersama-sama menciptakan suatu pekerjaan besar. Kini semua orang sudah pergi dari sini, kita tak boleh kehilangan kesempatan baik ini sehingga didahului orang lain.

Berbicara sampai disitu, dia lantas memimpin kawanan jago Thi eng pang berangkat meninggalkan tempat itu.

Bulan bersinar cerah diangkasa, sinar yang keperak-perakan memancar keempat penjuru.

Gak Lam-kun dan Ji Cin peng melakukan perjalanan bersama dengan santainya….

Ji Cin peng menghela napas panjang, katanya, “Gak siangkong, benarkah kau bertekad untuk mendapatkan Lencana pembunuh naga itu?”

Gak Lam-kun menghela napas pula dengan suara lirih, sahutnya, “Didalam Lencana pembunuh naga terkandung suatu rahasia yang maha besar dan rahasia itu menyangkut suatu mustika dunia yang tiada taranya didunia ini, setiap orang berusaha untuk mendapatkan, bahkan dengan pelbagai cara berusaha untuk merebutnya, aaai….”

Sekali lagi Gak Lam-kun menghela napas lanjutnya, “Tapi aku bukannya menjadi merah mata lantaran mustikanya melainkan….”

Ketika berbicara sampai disini, tiba-tiba Gak Lam-kun menghentikan kata-katanya. “Apakah pesan gurumu menjelang kematiannya mengharuskan kau untuk

mendapatkannya?” tanya Ji Cin peng.

Gak Lam-kun gelengkan kepalanya berulangkali. “Walaupun suhu berpesan agar Lencana itu kudapatkan, lalu mengasingkan diri dari dunia persilatan dan berusaha memecahkan rahasia lencana ini, tapi aku adalah seorang yang sudah hampir mati, aku tak dapat melaksanakan lagi tugas tersebut”

“Benarkah kau bakal mati?” Ji Cin peng bertanya dengan sedih.

Gak Lam-kun berpaling dan memandang Ji Cin peng sekejap tampak wajahnya telah basah oleh airmata.

Gak Lam-kun segera menghela napas panjang.

“Masa matipun bisa pura-pura, aai…. kini aku sudah merasakan sekujur badanku lemas tak bertenaga tubuhnya menjadi enteng seperti mau terbang, rencana yang sebenarnya telah kususun dengan rapi selama dua hari ini tampaknya sudah tak mungkin untuk diselesaikan lagi”

Ji Cin peng yang pada dasarnya sudah sedih kini makin sedih lagi sehabis mendengar perkataan itu.

“Mati, bukan suatu peristiwa yang menakutkan”, Gak Lam-kun berkata lagi, “sebab tiap manusia tentu akan mati bila usianya telah mencapai tua, sekalipun demikian aku merasa bahwa tidak seharusnya kalau aku mati pada saat seperti ini.”

“Benar! Tidak seharusnya kau mati dengan begitu saja” Gak Lam-kun tertawa getir.

“Tapi sekarang, urusan sudah menjadi begini apalagi yang bisa dilakukan?”

Perasaan mereka berdua pada saat ini dicekam oleh rasa sedih yang luar biasa mereka berjalan dengan mulut membungkam dan perasaan yang kosong, seakan-akan pikiran dan perasaan mereka telah tercebur kedalam samudra luas yang tak terkirakan dalamnya.

Entah berapa lama sudah lewat, dengan perasaan yang kosong mereka berjalan sampai disuatu tanah perbukitan.

Ditengah keheningan malam yang mencekam, tiba-tiba berkumandang suara petikan khim yang amat merdu.

Dentingan khim yang merdu itu segera menyadarkan kembali Gak Lam-kun dan Ji Cin peng dari lamunannya, cepat mereka alihkan pandangannya kearah mana berasalnya suara itu.

Tapi apa yang kemudian terlihat membuat mereka merasakan hatinya bergetar keras.

Gak Lam-kun segera menyumpah dengan suara lirih, “Budak sialan, rupanya kau bersembunyi disini!”

Ditengah sebuah tebing bukit yang sunyi dan dibawah sinar rembulan yang cerah, tampak seorang gadis berbaju perak berdiri angker disitu, dihadapan gadis tadi berdiri pula puluhan orang manusia. Waktu itu gadis berbaju perak tersebut sedang memainkan khimnya dengan membawakan sebuah lagu yang merdu, irama tersebut amat merdu dan nyaring membuat puluhan orang jago yang berada dihadapannya berdiri termangu-mangu.

Tentu saja orang-orang itu bukan terkesima karena mendengarkan permainan khimnya yang merdu, sebaliknya justru orang-orang itu terpengaruh oleh daya iblis dari irama khim gadis baju perak itu hingga terpesona dan tidak sadar.

Diantara puluhan orang tersebut ada empat orang diantaranya yang duduk bersila, mereka adalah Jit poh toan hun (tujuh langkah pemutus nyawa) Kwik To dari perguruan panah bercinta, Tam ciang ceng kan kun (telapak tangan tunggal penggetar jagad) Siangkoan It, Giok bin sin ang (kakek sakti berwajah pualam) Say Khi pit dan Kiu wi hou (rase berekor sembilan) Kongsun Po.

Diantara gerombolan manusia itu ada pula delapan belas orang manusia baju putih yang kurus kecil dengan busur ditangan anak panah sudah siap dibidikkan cuma wajah mereka kini kelihatan aneh sekali.

Tak usah dipikirpun Ji Cin peng dan Gak Lam-kun sudah tahu bahwa gadis berbaju perak itu tentu sudah terkepung disitu, maka diapun mainkan irama khim untuk mempengaruhi mereka.

Tapi anehnya See ih kiam seng Siang Bong im yang bertugas melindungi gadis berbaju perak itu entah telah kemana, padahal darimana mereka tahu kalau sekeliling tanah perbukitan itu sesungguhnya telah dikepung oleh kawanan jago lihay, akan tetapi berhubung mereka kuatir dipengaruhi oleh irama khim yang maha dahsyat tersebut maka orang-orang itu pada menyingkir semua sambil menunggu kesempatan baik untuk turun tangan.

Gak Lam-kun berpaling kearah Ji Cin peng lalu katanya, “Nona Bwe, irama khimnya amat jahat dan lihay sekali, lebih baik kau berdiam disini saja, aku akan kesana untuk menengok keadaan sebentar.”

“Apakah kau sanggup menghadapi pengaruh dari irama khim yang membetot sukma itu?”

Gak Lam-kun segera tersenyum.

“Meskipun irama khimnya sangat lihay tapi suhu telah mewariskan kepandaian melawan pengaruh irama iblis kepadaku”

“Tapi tenaga dalam yang kau miliki sekarang telah punah sama sekali” kata Ji Cin peng lagi dengan dahi berkerut.

Setelah mendengar perkataan itu, Gak Lam-kun baru tahu kalau tenaga dalam yang dimilikinya telah punah sama sekali, sudah barang tentu sulit baginya untuk melawan pengaruh irama tersebut.

Haruslah diketahui, irama khim yang berkumandang diudara sekarang adalah suatu pancaran irama yang disalurkan dengan pengerahan tenaga dalam yang sempurna, sekalipun Gak Lam-kun mengetahui cara untuk menghadapinya, tapi setelah tenaga dalamnya buyar sekarang, ia tak sanggup lagi untuk mengerahkan tenaganya untuk melawan pengaruh irama musik itu….

Gak Lam-kun tertawa lebar, katanya dengan cepat, “Walaupun tenaga dalamku telah buyar tapi suhuku telah mewariskan suatu kepandaian istimewa kepadaku, jadi tanpa tenaga dalampun aku sanggup untuk melawan irama tersebut.

Padahal Gak Lam-kun sengaja mengucapkan kata-kata itu dengan tujuan membohonginya sebab ia tahu tak nanti gadis tersebut mengijinkan dirinya pergi dari situ.

Selama beberapa hari ini, sudah dua kali Ji Cin peng memeriksa denyutan nadi Gak Lam-kun dan mengetahui bahwa denyutan nadinya telah putus tapi setiap kali pula pemuda itu dapat sadar kembali secara aneh.

Oleh karena itu ia menjadi setengah percaya setengah tidak sesudah mendengar perkataan itu, ujarnya setelah berseru tertahan, “Baiklah! Kalau begitu marilah kutemani dirimu kesitu”

Melihat tekad sang gadis, Gak Lam-kun menghela napas panjang.

“Nona Bwe!” katanya, “Budi kebaikanmu tak akan kulupakan untuk selamanya, tapi kau….”

“Jangan kuatir” tukas Ji Cin peng dengan sedih, kecuali dia mainkan irama Kiu hian tay boan yok sin im, aku percaya masih sanggup untuk mempertahankan diri”

Sekalipun Gak Lam-kun tahu bahwa ilmu silat yang dimiliki Ji Cin peng amat tinggi, tapi ia tidak percaya kalau dalam dunia dewasa ini masih ada orang lain yang mampu melawan pengaruh iblis dari permainan khim Sot san thian li.

Padahal darimana dia tahu dimasa dulu Yo Long dan Lam hay sin ni sesungguhnya adalah sepasang kekasih tidak mungkin kalau Yo Long tidak mewariskan kepandaian menahan pengaruh irama sakti itu kepada Lam hay sin ni.

Sementara Gak Lam-kun telah menghela napas sedih dengan langkah lebar ia meneruskan perjalanannya kedepan.

Ji Cin peng dengan sikap yang amat santai mengikuti dibelakang Gak Lam-kun mula- mula anak muda itu masih kuatir, tapi setelah dua kali berpaling dan tidak menemukan gejala aneh atas dirinya, iapun mulai merasa lega hati.

Tapi, pada saat itu pula mendadak Gak Lam-kun merasa keheranan ternyata dia sendiripun sanggup bertahan terhadap pengaruh irama iblis itu bukankah tenaga dalamnya telah punah? Yang lebih aneh lagi peredaran darah didalam tubuhnya menjadi tegang, sekujur tubuhnya terasa makin enteng seperti melayang diudara.

Dalam keadaan seperti ini tak sempat lagi baginya untuk mencari sebab musababnya dia hanya menganggap kejadian itu merupakan suatu kejadian aneh.

Sementara itu paras muka gadis berbaju perakpun rada berubah ketika menyaksikan Gak Lam-kun dan Ji Cin peng muncul disitu. “Cring!” ia segera menghentikan permainan khimnya.

Selapis hawa dingin menyelimuti wajah Gak Lam-kun, dengan sinar mata memancarkan hawa amarah ditatapnya gadis itu lekat-lekat.

Gadis berbaju perak itu segera tersenyum katanya, “Eeeeh…. kenapa kau musti bersikap begitu galak kepadaku?”

Senyumannya itu jauh berbeda dengan manusia biasa, tapi persis seperti senyuman gadis cantik diatas Lencana pembunuh naga itu, bukan cuma indah saja bahkan seperti mengandung suatu kekuatan yang dapat membetot sukma, hal mana membuat Gak Lam- kun merasakan kepalanya seperti kosong dan hampa.

00000O00000

Hanya sebentar Gak Lam-kun berdiri kehilangan semangat, dengan cepat kesadarannya telah pulih kembali seperti sedia kala.

Ji Cin peng sendiri walaupun masih merupakan seorang gadis, tapi diapun dibuat terkesima oleh keindahan senyuman dari gadis berbaju perak itu.

Dengan suara dingin Gak Lam-kun segera menegur. “Kenapa kau mengingkari janji?”

Gadis berbaju perak itu menggetarkan bibirnya pelan, serentetan suara yang merdu pun segera berkumandang diudara, “Mengingkari janji apa?”

“Kenapa kau menyerahkan kotak kosong kepadaku?” bentak Gak Lam-kun dengan gusarnya.

Paras muka gadis berbaju perak itu segera berubah menjadi serius, senyuman indah menawanpun seketika lenyap tak berbekas.

“Seandainya Lencana mustika itu kuserahkan kepadamu, maka semenjak tadi mustika itu sudah dirampas orang” katanya dengan dingin, “mendingan kalau cuma barangnya saja yang kena dirampas bagaimana kalau sampai selembar nyawamupun ikut melayang? Hmm! Aku bermaksud baik kepadamu kenapa kau malah menuduh aku mengingkari janji?”

“Maksud baik nona biar kuterima dalam hati saja, sekarang harap kau serahkan dengan segera lencana itu kepadaku.”

Gadis berbaju perak itu mengangguk.

“Baik!” katanya kemudian, “kalau memang kau tidak takut dirampas orang, segera kuserahkan mustika itu kepadamu, cuma aku hendak menjelaskannya lebih dulu, seandainya lencana itu sampai terjatuh ketangan orang lain, maka akupun mempunyai hak untuk memperebutkannya”

“Tentu saja kau mempunyai hak untuk ikut memperebutkannya” jengek Gak Lam-kun dingin. Dari dalam khim antiknya, gadis berbaju perak itu mengambil sebuah lencana berwarna-warni dan diserahkan kepada pemuda itu sambil berkata, “Baik-baiklah lindungi benda ini, jangan sampai ada orang yang merebutnya”

Tapi, sebelum dia masukkan kotak kumala itu kedalam sakunya, tiba-tiba terdengar beberapa kali suara tertawa dingin berkumandang memecahkan keheningan, belum lagi suara tertawa itu sirap, tahu-tahu orangnya sudah berada beberapa depa dihadapannya.

Ji Cin peng segera berpaling kearah mana berasalnya suara itu, ternyata dia adalah Thiat kiam kuncu (laki-laki sejati berpedang baja) Hoa Kok khi serta Kui to (tosu setan) Thian yu Cinjin.

Kedua orang itu berdiri berjajar dengan sekulum senyuman dingin menghiasi ujung bibirnya.

Menyusul kemudian suara gelak tertawa yang nyaring bagaikan suara genta menggelegar diudara dan menggoncangkan seluruh tanah perbukitan itu, Thi eng sin siu Oh Bu hong dengan memimpin para jago andalannya muncul pula disitu.

“Criiing….! Criiing….!” kembali terdengar dua kali suara dentingan khim menggema diudara.

Menyusul dentingan nyaring itu, dari balik tanah perbukitan segera muncul dua orang dayang cantik yang berbaju indah laksana kupu-kupu yang terbang diantara bunga, dibelakang mereka mengikuti pula tiga orang kakek, ketiga orang itu adalah See ih sam seng (tiga malaikat dari wilayah See ih)

Sementara itu, Jit poh toan hun Kwik To, Siangkoan It, Kiu wi hou Kongsun Poh dan Giok bin sin ang Say Khi pit yang semula duduk bersila, kini telah melompat bangun semua.

Dari arah barat bukit situ muncul pula dua sosok bayangan manusia, mereka adalah Han Hu hoa dan nenek berambut putih dari perguruan panah bercinta.

Dengan demikian, semua jago lihay dari pelbagai aliran telah berdatangan semua dan berkumpul menjadi satu disitu.

Tiba-t├Čba gadis berbaju perak itu berseru dengan suara merdu, “Sungguh ramai sekali pertemuan ini, kami orang-orang dari See thian san untuk sementara waktu akan mengundurkan diri lebih dulu untuk menonton keramaian ini”

“Betul!” sindir Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi sambil tertawa ringan, “memang lebih enak kalau pihak See thian san menyingkir dulu, kemudian menjadi nelayan beruntung yang tinggal memungut hasil”

Begitu ucapan tersebut diutarakan, serentak kawanan jago yang mula-mula sudah mulai bergerak itu menghentikan gerakan masing-masing, lalu dengan perasaan bergetar keras semua pihak bersiap sedia untuk menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan. Pelan-pelan sinar mata semua orang dialihkan kearah Gak Lam-kun dan mengawasi gerak geriknya dengan seksama, demikian pula terhadap orang-orang dari perguruan panah bercinta, karena semua orang sudah tahu bahwa Gak Lam-kun berdiri dipihak perguruan panah bercinta.

Suasana hening mencekam tanah perbukitan yang mengerikan itu, dalam waktu singkat selapis hawa pembunuhan yang menggidikkan hati menyelimuti sekitar sana.

Thi eng sin siu Oh Bu hong memandang sekejap sekeliling gelanggang lalu mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

“Haaahh…. haaahh…. haaahh…. Gak lote aku rasa kau pasti sudah melihat jelas situasi yang kau hadapi sekarang, bagaimana keputusanmu dengan apa yang diusulkan Jit poh lui sim ciam tadi? Mau diputuskan sekarangpun rasanya juga belum terlambat”

Gak Lam-kun sendiripun sadar bahwa persoalan yang dihadapinya malam ini tak bisa dibereskan dengan cara baik-baik, sekalipun demikian diapun tak sudi untuk bekerja sama dengan pihak Thi eng pang walaupun diapun tahu kendatipun pihak perguruan panah bercinta mendukungnya untuk melindungi lencana mustika itu, bakal banyak korban yang akan berjatuhan dari pihaknya.

Untuk sesaat ia menjadi kesulitan untuk memberi jawaban, dia tak tahu bagaimana musti mengambil keputusan, maka tanpa terasa sinar matanya dialihkan kearah Ji Cin peng.

Tentu saja Ji Cin peng mengetahui maksud hatinya itu, tapi bagaimana pula dia bisa mengambil keputusan?

Sementara sepasang muda mudi itu masih mengalami kesulitan untuk memberi jawaban, mendadak dari luar lembah kembali berkumandang suara pekikan panjang yang memekikkan telinga.

Si Tosu setan Thian yu Cinjin yang berada dalam gelanggangpun tiba-tiba mendongakkan kepalanya sambil berpekik nyaring, suaranya tinggi melengking tak sedap didengar tapi justru seirama dengan pekikan panjang tadi.

Terdengarlah pekikan itu mula-mula berasal dari tempat yang jauh tapi kian lama kian bertambah dekat.

Mendadak tampak dua sosok bayangan manusia berkelebat diangkasa dan mendekati arena, bila dilihat dari kecepatan gerak kedua orang itu dapat diketahui bahwa ia memiliki ilmu silat yang amat tinggi.

Dua sosok bayangan manusia itu bekelebat tiba dari kejauhan dan berhenti kurang lebih beberapa kaki jauhnya dari arena.

Ji Cin peng mencoba untuk mengawasi kedua orang pendatang itu, terlihatlah orang yang berada disebelah kiri adalah seorang laki-laki yang bertubuh gemuk dengan muka bulat bibir lebar, kepalanya gundul dan memakai baju berwarna hitam.

Sedangkan yang berada disebelah kanan adalah seorang laki-laki berusia empat puluh tahunan yang berpakaian ringkas dengan perawakan yang tinggi besar, punggungnya agak bungkuk, sepasang matanya besar seperti gundu dengan sinar yang tajam, lengannya panjang sekali dan berbulu putih.

Oh Bu hong memperhatikan sekejap kedua orang itu, lalu sambil tertawa katanya, “Tong heng, tajam amat pendengaranmu. Siapa dia?”

Sambil berkata ia menuding kearah laki-laki bungkuk itu.

Kakek berbaju hitam itu hanya mementangkan mulutnya lebar-lebar dan tertawa tanpa suara, diapun tidak menjawab pertanyaan dari Oh Bu hong tersebut.

Pukulan batu karang Kwan Kim ceng dari Thi eng pang yang menyaksikan kejumawaan orang menjadi naik darah, tiba-tiba ia maju beberapa langkah sambil membentak dengan gusar, “Tong Bu kong, besar amat lagakmu, kau memangnya sudah tuli? Ataukah pura- pura berlagak pilon?”

Begitu nama ‘Tong Bu kong’ disebut, Ji Cin peng maupun Gak Lam-kun merasakan hatinya bergetar keras, ternyata orang itu adalah ciangbunjin dari partai Thian san pay yang disebut orang Bu seng sianseng (tuan yang tak pernah menang) Tong Bu kong.

Belum lagi Tong Bu kong menjawab, laki-laki bungkuk itu sudab berkata lebih dulu. “Apa pekerjaan saudara yang barusan berbicara itu? Dewasa ini banyak jago kenamaan

yang hadir disini, rasanya masih belum pantas buatmu untuk ikut berbicara ditempat semacam ini, bila tahu diri lebih baik cepatlah mengundurkan diri dari sini”

Pukulan batu karang Kwan Kim ceng adalah salah satu dari empat orang Thamcu perkumpulan Thi eng pang, selama malang melintang dalam dunia persilatan, nama maupun kedudukannya amat terhormat, belum pernah satu kalipun ia menderita penghinaan semacam ini.

Kontan saja ucapan tersebut mengobarkan hawa amarah dalam hatinya, hawa murni segera dihimpunkan menjadi satu, kemudian sambil membentak gusar ia melepaskan sebuah pukulan dahsyat kedepan.

Laki-laki bungkuk itu memang benar-benar takabur, terhadap datangnya angin pukulan dari Kwan Kim ceng itu tidak dianggapnya sebagai suatu ancaman, malah sambil busungkan dada ia sambut datangnya hantaman tersebut….

“Blaaaang….!” suatu benturan keras tak terhindarkan lagi, oleh pukulan dahsyat itu laki- laki bungkuk tersebut hanya mundur selangkah, kemudian dengan badan yang tegak lurus seperti sebatang pit pelan-pelan menghampiri Kwan Kim ceng.

Sejak terjun kedalam dunia persilatan, belum pernah Kwan Kim ceng menghadapi jago selihay ini, ia tidak habis mengerti mengapa laki-laki bertubuh bungkuk itu sanggup menerima pukulan udara kosongnya yang bertenaga delapan bagian itu, padahal dalam anggapannya serangan tersebut cukup untuk membinasakan dirinya.

Kini Laki-laki bungkuk itu sudah melancarkan serangan belasan dengan kecepatan luar biasa, ia tak tahu bagaimana caranya untuk menghindari ancaman tersebut. Disaat yang kritis itulah mendadak Oh Bu hong membentak keras, telapak tangan kirinya segera diayunkan kedepan melepaskan sebuah pukulan yang dahsyat kearah laki- laki bungkuk itu.

Agaknya laki-laki bungkuk itu tahu lihay, cepat-cepat ia menjatuhkan diri bergelinding sejauh beberapa kaki, lalu dengan wajah marah serunya keras-keras, “Hei, apakah kalian hendak merebut kemenangan dengan andalkan jumlah banyak?”

Gagal dengan serangan yang pertama, Oh Bu hong tertawa terbahak-bahak. “Haaahh…. haaahhh…. haaahhh…. suatu ilmu soat him kang (beruang salju) yang

bagus! Haaahhh…. haaahhh…. rupanya kau berandal dari aliran Tiang pek pay”

Agak kaget juga laki-laki bungkuk itu setelah asal usul perguruannya diketahui orang ia ganti membentak, “Siapa kau? Apakah masih ingin mencoba beberapa jurus sakti dari perguruanku?”

Oh Bu hong tersenyum.

“Andaikata kau berniat, tentu saja lohu akan menemanimu untuk bermain tiga gebrakan”

Laki-laki bungkuk itu dasarnya memang jumawa, tak terkirakan rasa gusarnya setelah mendengar bahwa dia hanya mampu menerima tiga pukulannya.

“Bangsat rupanya kau sudah bosan hidup? Akan kucabut nyawamu dalam tiga gebrakan”

Tiba-tiba si Tosu setan Thian yu Cinjin maju kedepan dan melerai sambil tertawa. “Saudara Mao Tam, harap jangan marah dulu, lebih baik kita hadapi dulu masalah

penting!”

Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi pun ikut tertawa nyaring, lalu menyambung, “Saudara Mao Tam, bagaimana keadaanmu selama ini? Aku lihat ilmu Soat him kangmu sudah maju pesat, rasanya tak sampai beberapa tahun lagi, susiokmu sekalian pasti dapat kau ungguli.”

Mao Tam si laki-laki bungkuk itu seperti orang bodoh, ketika mendengar pujian dari Hoa Kok khi itu dia tampak gembira sekali terkekehlah dia dengan anehnya.

“Bagus! Bagus sekali! Apakah Hoa lote juga ingin beradu tenaga dalam denganku?”

Ji Cin peng dan Gak Lam-kun yang mendengarkan pembicaraan itu diam-diam mengerutkan dahi.

Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi kembali tertawa, sahutnya kemudian, “Aaah, masa dengan saudara sendiripun musti beradu? Lebih baik kau rampas dulu kotak kumala yang berada ditangan pemuda berbaju hijau itu”

Sambil berkata ia menuding kearah Gak Lam-kun. Mendengar ucapan tersebut, Mao Tam si laki-laki bungkuk itu segera memandang kearah Gak Lam-kun dengan sepasang matanya yang sebesar gundu itu, kemudian sambil tertawa aneh katanya, “Bocah muda itu maksudmu? Kenapa musti merepotkan aku?”

Gak Lam-kun adalah seorang pemuda yang tinggi hati, tak terlukiskan rasa marahnya setelah mendengar perkataan itu, tapi hawa murninya telah punah sekarang, tak mungkin lagi baginya untuk turun tangan, terpaksa rasa mangkelnya itu hanya disimpan dalam hati.

“Saudara Mao Tam, kau jangan anggap enteng dirinya, kami semua tak ada yang sanggup menangkan dia?”

Haruslah diketahui bahwa Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi adalah seorang manusia yang berhati busuk dan berakal licin.

Kiranya Moa Tam adalah murid kesayangan dari Tiang pek sam him (tiga beruang dari tiang pek) yang tersohor namanya diluar perbatasan, ilmu silat yang dimiliki Tiang pek sam him amat lihay tapi enggan melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, mereka selalu menetap diwilayah Tiang pek dan kerjanya hanya mendalami ilmu silat belaka.

Berulangkali Hoa Kok khi memancing mereka untuk menggerakkan hati mereka maka kali ini diajaknya murid mereka mendatangi wilayah Tionggoan.

Pertama ia dapat mempergunakan tangannya untuk kepentingan pribadi, dan kedua andaikata murid dari Tiang pek sam him ini sampai tewas didaratan Tionggoan, niscaya ketiga beruang dari Tiang pek itu akan mendatangi Tionggoan untuk menuntut balas, maka diapun akan mempergunakan kekuatan mereka untuk menaklukkan semua aliran didunia persilatan dan merajai kolong langit.

Jadi sesungguhnya tujuan dari Hoa Kok khi ini betul-betul licik, jahat dan terkutuk. Sementara itu Mao Tam telah tertawa geram setelah mendengar perkataan itu,

mendadak ia melompat ketengah udara dan langsung menerjang kearah Gak Lam-kun.

Ji Cin peng yang berdiri disamping Gak Lam-kun telah bersiap sedia semenjak tadi, begitu musuh melancarkan tubrukan tiba-tiba ia mengernyitkan alis matanya dan menyongsong datangnya ancaman tersebut dengan suatu gerakan aneh.

Telapak tangannya diputar sedemikian rupa lalu ditolak kemuka melepaskan sebuah pukulan, hanya saja serangan tersebut sama sekali tidak menimbulkan suara.

Mao Tam sama sekali tidak menyangka kalau orang yang menyongsong kedatangannya adalah seorang gadis muda yang berwajah cantik, sementara ia masih tertegun pukulan itu sudah menyambar datang.

Waktu itu Ji Cin peng memang ada maksud untuk meruntuhkan semangat kawanan jago disitu! Maka serangan yang dilancarkan itu disertai dengan tenaga yang kuat.

Walaupun pukulannya meluncur kemuka tanpa menimbulkan suara, tapi justru dibalik semuanya itu terkandung suatu daya kekuatan yang maha dahsyat, ditengah kelembutan tersimpan kekerasan, begitu telapak tangannya menempel ditubuh musuh hawa pukulan yang disimpan dibalik telapak tanganpun segera menggulung keluar dan melukai orang. Setelah tubuhnya termakan pukulan, Mao Tam baru merasakan munculnya segulung tenaga tekanan yang maha dahsyat menghantam isi perutnya keras-keras, ia menjadi amat terperanjat, sambil mengerahkan tenaga sakti Soat him kangnya untuk melawan serangan itu, buru-buru tubuhnya berkelit kesamping.

Sekalipun telapak tangan Ji Cin peng mengena pada tubuh lawan lebih dahulu, hawa serangan baru dipancarkan menanti lawan berusaha melakukan perlawanan, ia telah menarik kembali pukulannya sambil menubruk maju lagi dengan kecepatan luar biasa.

Semua peristiwa ini berlangsung dalam sekejap mata, sekalipun reaksi Mao Tam cukup cepat, tapi ia terkena juga getaran hawa pukulan yang dilancarkan oleh Ji Cin peng itu.

“Uaak….!” ia kesakitan dan muntah darah.

Walaupun Mao Tam seorang bodoh, terkesiap juga hatinya setelah melihat kelihayan lawan, seketika itu juga sikap takaburnya hilang lenyap tak berbekas.

Maka begitu dilihatnya Ji Cin peng menerjang lagi dengan kecepatan luar biasa buru- buru tubuhnya melompat kesamping untuk berkelit, sementara hawa murninya telah dihimpun kedalam telapak tangan kanannya.

Menanti sepasang kaki Ji Cin peng baru saja menempel diatas permukaan tanah, pukulan dahsyat itu segera dilontarkan.

Segulung angin pukulan yang sangat kuat ibaratnya gulungan gelombang disamudera segera menumbuk kemuka.

Dikala kedua orang itu sedang terlibat dalam pertarungan yang amat seru, si Tosu setan Thian yu Cinjin mendadak maju kedepan dan menerjang kearah Gak Lam-kun….

Ji Cin peng dapat menyaksikan kejadian itu dengan jelas, ia tertawa dingin, telapak tangan kirinya segera memancing datang tenaga pukulan dari Mao Tam, kemudian diantara putaran pergelangan tangannya, tenaga serangan itu segera dilontarkan ketubuh si Tosu setan Thian yu Cinjin.

Gak Lam-kun mengenali kepandaian tersebut adalah suatu jenis ilmu meminjam tenaga yang maha dahsyat, kepandaian itu khusus digunakan untuk meminjam tenaga orang untuk memukul orang lain.

Segulung angin topan yang maha dahsyat pun segera melesat diudara, mengikuti perputaran pergelangan tangan Ji Cin peng tenaga itu langsung menerjang ketubuh Thian yu Cinjin. Sedemikian dahsyatnya angin pukulan itu hingga menimbulkan angin yang menderu-deru.

Si Tosu setan Thian yu Cinjin mempunyai pengalaman selama puluhan tahun berkelana dalam dunia persilatan tak sedikit jago lihay yang telah dijumpainya itu membuat pengetahuannya tentang pelbagai ilmu silat didunia menjadi amat luas.

Sekalipun demikian belum pernah ia jumpai kepandaian seaneh yang dipergunakan Ji Cin peng sekarang, dimana dalam suatu perputaran pergelangan tangan saja telah sanggup untuk mengalihkan tenaga pukulan dahsyat dari musuh kearahnya. Kepandaian semacam ini dianggapnya betul-betul merupakan suatu kepandaian sakti yang jarang ditemui dalam dunia persilatan.

Dalam terkejutnya, tak sempat lagi baginya untuk bergeser kesamping, terpaksa hawa murninya dihimpun kedalam pusar, sepasang lengannya digetarkan dan ia melompat ketengah udara bagaikan sebatang anak panah yang terlepas dari busurnya.

Jit poh toan hun Kwik To yang berada disamping arena segera menyindir sambil tertawa dingin, “Thian yu to heng, sungguh enteng benar ilmu meringankan tubuhmu!”

Si tosu setan Thian yu Cinjin berjumpalitan ditengah udara sebanyak beberapa kali, lalu melayang turun satu kaki jauhnya dari tempat semula, ketika mendengar sindiran tersebut dia lantas membentak, “Tua bangka She kwik, kurangi mulutmu yang busuk itu, suatu ketika aku pasti akan -mengajak kau untuk berduel sampai mampus.”

Kwik To tertawa terbahak-bahak, baru saja dia hendak menyindir lagi, mendadak terdengar seseorang mendengus tertahan….

Ternyata Mao Tam sudah jatuh terduduk diatas tanah dengan peluh membasahi sekujur tubuhnya, ia tampak kesakitan hebat sampai-sampai menggigit bibir untuk menahan diri, tak terdengar sepotong suara rintihan pun yang muncul dari mulutnya.

Paras muka Ji Cin peng pun pucat pias seperti mayat, Han Hu hoa dan nenek berambut putih yang menyaksikan kejadian itu menjadi amat terperanjat, serentak mereka melompat kedepan untuk memberi pertolongan.

Tiba-tiba gadis itu berteriak, “Nenek Siau…. kalian cepat lindungi Gak siangkong….”

Mendadak si Tosu setan Thian yu Cinjin membentak keras, lalu melepaskan sebuah pukulan dahsyat kearah Ji Cin peng.

Didalam serangan yang dilancarkannya ini telah disertai dengan tenaga dalam yang maha dahsyat, tentu saja kehebatannya tak terkirakan.

Diantara desingan angin tajam yang menderu-deru, muncullah segulung angin pukulan bagaikan gelombang dahsyat ditengah samudra.

Siapa tahu ketika angin pukulan itu tiba ditempat sasarannya, Ji Cin peng telah melompat keudara, lalu berputar badan diangkasa dan secepat sambaran petir menerjang Thian yu cinjin yang berada dibawahnya.

Thian yu cinjin merasa terperanjat sekali menyaksikan gerakan tubuhnya yang sangat sakti itu, buru-buru Hud timnya diputar sedemikian rupa untuk melindungi badan, kemudian buru-buru ia melompat sejauh satu kaki lebih untuk menyelamatkan diri.

Mendadak kembali terdengar suara tertawa dingin yang mengerikan berkumandang memecahkan keheningan, tiba-tiba ketua dari Thian san pay, Bu seng siangseng Tong Bu kong mencabut pedangnya dan melompat keudara, lalu senjatanya digetarkan menciptakan selapis cahaya pedang yang tebal untuk melindungi sekujur badannya, lalu dengan kecepatan bagaikan kilat mengurung kearah Han Hu hoa, nenek berambut putih dan Gak Lam-kun. Mendadak nenek berambut putih itu mencabut keluar pedangnya baru saja ia hendak mengerahkan senjatanya kearah serangan pedang dari lawan, tiba-tiba tampak Ji Cin peng memutar tubuhnya telapak tangan kiri dan ujung jari tangan kanan bersama-sama dibacokan kedepan.

Terdengar Tong Bun kong mendengus dingin kabut pedang yang sedang menyerang kebawah itu mendadak lenyap tak berbekas, lalu tubuhnya berputar satu lingkaran diudara dan melayang turun dua kaki jauhnya dari posisi semula dengan wajah hijau membesi ia berdiri membungkam disana….
Terima Kasih buat para gan / ganwati yang telah meningglakan opininya di kolom komentar :). Sekarang ada penambahan fitur "Recent comment"yang berada dibawah kolom komentar, singkatnya agan2 dapat melihat komentar terbaru dari pembaca lain dari fitur tersebut. Semoga membantu :).