Lencana Pembunuh Naga Jilid 12

 
Jilid 12

Nona berbaju perak itu tertawa.

“Suatu jurus serangan Sin ki hou sias yang hebat, dengan menyerang menolong diri bahkan sekalian memunahkan dua gerakan serangan lainnya, tapi meski gerakanku kena kau kunci, pedangku segera kutarik kembali kebelakang, lalu dengan jurus Im hay toan gak (lautan awan memotong bukit) kusambut gerakanmu, ingin kulihat apakah jurus Sin liong sam sianmu bisa kau kerahkan lebih jauh atau tidak?”

“Bagus sekali! Bagus sekali!” puji Gak Lam kun, “jurus im hay toan gak itu memang tandingan dari jurus Sin liong sam sian, cuma ditengah jalan gerakannya kurubah menjadi Ciau ta kim ciong (memukul keras genta emas), bukan saja gerakan ini bisa memunahkan hawa pembunuhan yang terkandung dalam jurus Im hay toan gak mu itu, lagipula aku bisa gunakan jurus Sin liong tiau tau (naga sakti palingkan kepala) untuk memburu dirimu, ingin kulihat apakah kau bisa menghindarkan diri dari serangan kilatku ini?”

Tergetar juga perasaan nona berbaju perak itu, jawabnya.

“Jurus Sin liong tiau tau memang khusus untuk mendahului lawan sambil melancarkan sergapan, bila kugunakan jurus Shia ta kim ling (memukul miring genta emas) untuk mundur sambil menutup diri, aku rasa jurus seranganmu itu pasti dapat kuhindari.”

Sekarang posisi Gak Lam kun sudah berada diatas angin, sambil tertawa hambar katanya.

“Setelah jurus Sin liong tiau tau secara beruntun kulancarkan tiga buah serangan berantai dengan gerakan-gerakan Hud kiam cian huan (seribu ciptaan pedang Buddha), Siau ci thian lam (matahari tenggelam bianglala menyelimuti angkasa), ingin kulihat dengan cara apa kau hendak menyambut serangan-serangan ini?”

Sekulum senyuman segera menghiasi ujung bibir nona berbaju perak itu, jawabnya, “Seandainya kau tidak mempergunakan tiga jurus berantai itu untuk mendesakku, mungkin aku benar-benar akan terperosok dibawah angin, ketika kau sedang menggunakan jurus Hud kiam cian huan untuk diganti menjadi jurus Siau ci thian lam, kugunakan jurus To coan im yang (memutar balikan im dan yang) untuk merebut posisi denganmu, lalu dengan jurus Pek im jut siu (awan putih muncul dari bukit) kubacok sepasang kakimu, ingin kulihat apakah kau mampu untuk menahan diri?” Betapa terperanjatnya Gak Lam kun dengan kesudahan tersebut, sekalipun rangkaian jurus serangannya cukup ketat dan kuat toh muncul juga titik kelemahan dibaliknya dengan begitu posisinya kembali kena didesak dibawah angin.

Demikianlah pertarungan secara lisan berlangsung amat seru, berpuluh-puluh jurus sudah berlangsung namun menang kalah sukar ditentukan, setiap jurus serangan yang mereka sebutkan selalu mengandung perubahan gerakan yang luar biasa.

Dibawah desakan si nona berbaju perak setelah ia berbasil merebut posisi diatas angin, Gak Lam kun benar-benar terdesak hebat, sekalipun ia masih menyebutkan terus jurus- jurus serangannya tapi setiap kali keadaannya selalu terancam bahaya ini semua membuat peluh membasahi sekujur tubuhnya.

Mendadak ia berpekik nyaring serunya keras-keras, “Sekalipun jurus Ci kiam hui sian (pedang sakti terbang berputar) mu membacok pergelang tangan dengan menelusuri pedangku tapi aku bisa membuang pedang untuk menarik tangan sementara tangan kiriku dengan ilmu sentilan Tan ci sin thong kugetar kutung pedang ditanganmu itu”

Nona berbaju perak itu tertawa dingin.

Dalam genggaman masih ada separuh pedang sebaliknya kau sudah bertangan telanjang, nah dalam pertarungan lisan ini apakah kau tidak segera mengaku kalah?”

Gak Lam kun tertawa dingin pula, jawabnya, “Sekalipun tangan kananku membuang pedang, tapi kaki kananku masih bisa mencongkel pedang itu keatas, bukankah tanganku masih bisa memegang pedang lagi? Coba pikirlah dulu, yang menang kau atau aku?”

Nona berbaju perak itu mendengus dingin.

“Hmm..! Memangnya kau anggap begitu gampang? Ketika kau mencongkel pedang untuk menangkapnya, kutungan pedang ditanganku bisa kutimpuk kearah bagian mematikan ditubuhmu, dengan jarak sedekat ini lagipula perhatianmu sedang bercabang, memangnya kau bisa meloloskan diri dengan selamat?”

Mendengar itu Gak Lam kun segera menghela napas panjang.

“Aaaai… aku tidak menyangka kalau kau akan bertindak demikian” katanya, “tapi aku toh bisa membuang pedang sambil mundur kebelakang, aku pikir untuk menyelamatkan diri masih bukan suatu pekerjaan yang sulit bagiku”

Nona berbaju perak itu segera tertawa cekikikan.

“Bagus, bagus sekali, sepasang pedang telah terjatuh ketanah, aku lihat pertarungan silat secara lisan pun berakhir dengan seri!”

Gak Lam kun manggut-manggut.

“Yaa, anggap saja seri. Sekarang kita boleh bertarung dengan menggunakan gerakan sesungguhnya nah mulailah melancarkan serangan!”

Pelan-pelan gadis berbaju perak itu mendekati batu datar didepan sana dan mengambil dua bilah pedang, katanya sambil tertawa, “Pilih sebilah untukmu!” Gak Lam kun melepaskan cakar naga perenggut nyawa serta topeng kepala naga, lalu melepaskan pula jubah hijaunya sehingga raut wajahnya yang tampan.

Nona berbaju perak itu segera tertawa merdu, serunya, “Sejak semula aku sudah tahu kalau dirimu!”

Gak Lam kun tetap tenang seperti tak pernah terjadi sesuatu apapun, sambil tersenyum ia menerima sebilah pedang, menyentilnya sehingga berbunyi nyaring.

Lalu sambil berdiri didepan nona itu katanya, “Silahkan nona melancarkan serangan!”

Nona berbaju perak itu segera menggerakkan pedangnya secepat sambaran kilat mendadak saja ia menciptakan beberapa kuntum bunga pedang yang memancarkan sinar tajam.

Dengan wajah pucat pias Gak Lam kun melejit keudara beberapa depa tingginya, cahaya pedang segera menyambar lewat dari bawah kakinya itu.

Nona berbaju perak itu berseru tertahan, ternyata jurus pedang yang barusan dipergunakan ini merupakan salah satu jurus aneh didalam ilmu pedang Thianli kiam hoat, meski dalam satu gerakan tapi secara terpisah dapat mengancam tiga buah jalan darah kematian ditubuh lawan.

Selama ini belum pernah ada orang yang bisa lolos dari serangannya itu dalam keadaan selamat, sungguh tak disangka ternyata Gak Lam kun dapat menghindarinya dengan tepat.

Si anak muda itu segera berpekik nyaring, pedangnya digerakkan berulangkali melancarkan dua buah tusukan berantai, dua tusukan kearah kanan dan setusukan dilancarkan kearah tengah.

Dalam lima buah tusukan itu, dia telah menggunakan lima macam gerakan ilmu pedang yang semuanya berbeda antara yang satu dengan lainnya.

“Bagus!” seru gadis berbaju perak itu.

Pedangnya diputar ditengah udara lalu menusuk dari kiri kearah kanan, tiba-tiba ditengah jalan gerakan itu berubah, mendadak saja gerakan pedangnya berputar miring kesamping.

Serangannya itu dilancarkan dengan kecepatan luar biasa dan bisa dirubah kesana kemari sesuai dengan keinginan hatinya, boleh dibilang ilmu pedangnya telah berhasil mencapai tingkatan yang luar biasa sekali.

Terlihatlah cahaya pedang sebentar berputar kekiri sebentar lagi kekanan lalu melejit keudara dan menyambar tenggorokan Gak Lam kun.

Untungnya si anak muda itu tidak gugup dalam menghadapi keadaan tersebut, kembali ia berhasil lolos dari serangan si nona berbaju perak itu secara jitu. Kemudian pemuda itu membentak nyaring, tubuhnya bergerak maju mengikuti gerakan pedang, serangannya dipergencar dengan jurus-jurus yang buas dan kasar, bukan saja kecepatannya bagaikan sambaran petir, lincah dan gesit pula seperti awan yang bergerak diangkasa.

Kedua orang muda mudi itu benar-benar merupakan sepasang musuh yang sama-sama tangguhnya dan sama-sama berbakatnya.

Sesudah melancarkan serangkaian serangan kilat, tiba-tiba gadis berbaju perak itu merubah kembali jurus pedangnya, cahaya pedang segera memancar keempat penjuru bagaikan air raksa yang memancar kemana-mana, dalam waktu singkat empat arah delapan penjuru telah dipenuhi oleh bayangan tubuhnya.

Gak Lam kun tidak mengira kalau seorang nona cantik yang masih polos dan manja itu sesungguhnya memiliki ilmu silat yang luar biasa lihaynya, tubuhnya yang harus bergerak kesana kemari diantara kilatan cahaya pedang, persis seperti sebuah sampan yang diombang-ambingkan ditengah amukan gelombang dahsyat.

Gerakan tubuh kedua orang itu kian lama bergerak kian cepat, tak lama kemudian selapis cahaya tajam telah menyelimuti seluruh angkasa, dalam keadaan demikian sulitlah untuk membedakan mana Gak Lam kun dan mana si nona berbaju perak.

Sekalipun pertarungan berlangsung amat seru, namun selama ini tak pernah terdengar suara senjata tajam yang saling membentur, rupanya kedua belah pihak sama-sama telah menggunakan ilmu silat tingkat tinggi untuk saling menghindar.

Tampak cahaya pedang menyilaukan mata, bayangan manusia saling menggulung kesana kemari, keadaan berlangsung makin seru.

Gak Lam kun betul-betul terkesiap menghadapi kenyataan ini pikirnya dihati. “Rupanya ilmu silat See thian san mereka betul-betul merupakan ilmu pedang yang

manunggal, bukas saja jurusnya ampuh lagipula aneh dan diluar dugaan bikin orang sama sekali tidak menduga sebelumnya dibandingkan dengan ilmu pedang aliran Tionggoan, betul-betul jauh sekali bedanya…”

Dalam pada itu nona berbaju perak tersebut kembali sudah merubah gerakan pedangnya, kali ini dia menggembangkan suatu jurus serangan yang semuanya merupakan jurus-jurus mematikan.

Tiba-tiba ujung pedangnya seperti menuding keatas sebentar lagi tahu-tahu sudah menuding kebawah langkahnya sempoyongan dan ilmu pedangnya seperti kacau balau tidak beraturan, tapi justru dibalik kekalutan yang tidak beraturan itu tersimpanlah jurus- jurus ampuh yang luar biasa dahsyatnya.

Kali ini Gak Lam kun betul-betul tercekat, mendadak ia berdiri tak berkutik, pedangnya dikembangkan menciptakan selapis cahaya pedang yang amat tebal untuk melindungi tubuhnya.

Dalam waktu singkat, nona berbaju perak itu merasakan hawa pedang yang melindungi badannya begitu kokoh bagaikan sebuah bukit karang, sekalipun berulangkali dia mencoba untuk menerjang pertahanan tersebut, namun usahanya selalu gagal, sekarang nona itupun baru merasa terkesiap.

Tiba-tiba nona berbaju perak itu menarik kembali pedangnya kebelakang, kemudian tangannya didorong kemuka dan secara beruntun melancarkan tiga buah serangan berantai yang maha dahsyat, jurus-jurus serangan yang dipergunakan adalah jurus Thian li san hoa (gadis suci menyambar bunga) See thian Hud co (Buddha suci dari langit barat) serta Sian li ki poh (dewi cantik melangkah maju).

Jurus-jurus serangan berantai itu semuanya mengandung daya penghancur yang luar biasa, gerakannya pun sukar diduga sebelumnya.

Dalam waktu singkat, diantara lapisan pedang yang kokoh bagaikan batu karang itu mendadak muncul sinar putih yang tahu-tahu meluncur masuk kedalam lapisan pertahanan dan menyambar tubuh si anak muda itu.

Gak Lam kun segera menggerakkan pergelangan tangannya, jurus ampuh kembali dipergunakan, dengan memakai jurus Hay sim an liu (aliran maut ditengah samudra) dari ilmu pedang aliran Hay sim pay, pedangnya berputar kencang menciptakan kembali berlapis-lapis hawa pedang yang seketika itu juga menyelimuti tubuh anak muda itu.

Hawa pedang menusuk tulang, cahaya kilat menyilaukan mata, namun tak kedengaran sedikit suarapun.

Jelas kedua orang itu telah mempergunakan tenaga dalam tingkat atas untuk melangsungkan pertarungan tersebut, tapi ujung pedang masing-masing terpancarlah hawa pedang yang kuat.

Tanpa terjadinya bentrokan secara kekerasan membuktikan bahwa kedua belah pihak sama-sama berusaha untuk menyimpan tenaga dan sedapat mungkin mengalahkan musuhnya dengan mempergunakan keampuhan jurus pedang masing-masing.

Pertarungan ini boleh dibilang benar-benar merupakan suatu pertarungan sengit yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Ditengah pertarungan seru, tiba-tiba terdengar suara dengusan tertahan memecahkan kesunyian, cahaya pedang sirap dan pertarunganpun segera terhenti.

Tampaklah gadis berbaju perak itu secara beruntun mundur sejauh dua tiga langkah, pedang yang ditanganpun kini tinggal sebuah gagang pedang saja.

Diatas bajunya yang berwarna perak telah muncul empat buah robekan yang cukup panjang.

Sekalipun demikian paras muka Gak Lam kun pun pucat pias seperti mayat, peluh dingin membasahi sekujur tubuhnya ia berdiri tegak dengan pedang digenggam ditangan kiri, rupanya cukup parah luka yang dideritanya ini terlihat dari sepasang alis matanya yang berkernyit serta bibirnya yang terkatup rapat rupanya sedang berusaha keras untuk menahan penderitaan serta rasa sakit itu yang dialaminya.

Gadis berbaju perak itu menghela napas panjang lalu katanya, “Kenapa aku tidak sekalian kau bunuh?” Ternyata ditengah gumpalan hawa pedang yang menggulung-gulung tadi, dalam melancarkan sebuah jurus serangan mematikannya, tiba-tiba Gak Lam kun menyerang dengan menggunakan pedang ditangan kirinya untuk membabat lengan kanan gadis berbaju perak itu.

Pada saat itu, serangan mematikan dari gadis berbaju perak pun telah dilepaskan, dengan mendatar pedangnya menusuk kelambung Gak Lam kun, tapi ketika itu Gak Lam kun telah menghimpun tenaga Tok liong ci jiau nya didalam telapak tangan kanan serta merta ditekankan kepedang yang menusuk tiba itu.

Pedangnya secara langsung digetarkan oleh ilmu sakti Tok liong ci jiau dari Gak Lam kun hingga hancur berkeping-keping, sementara pedang ditangan kiri pemuda itu telah merobek-robek baju yang dikenakan gadis berbaju perak itu, bahkan kemudian telapak tangan kanan pemuda itu sempat menggetarkan pula dadanya, untung pemuda itu tak tega dan pada saat terakhir telah menarik kembali sebagian dari tenaga pukulannya…

Dalam keadaan kalah, dari rasa malunya si nona berbaju perak itu menjadi naik darah hawa murninya segera dihimpun kedalam telapak tangan kirinya dan langsung disodokkan keatas dada Gak Lam kun.

Si anak muda itu tertawa getir, katanya, “Apa yang kuharapkan adalah mendapatkan Lencana pembunuh naga tersebut, kenapa kita musti saling melukai?”

Paras muka gadis berbaju perak itu agak berubah, lalu katanya, “Dalam pertarungan adu kepandaian yang berlangsung sekarang kau yang berhasil mendapat kemenangan, asal kau bisa menangkan pula pertarungan dalam adu kecerdikan dan pengetahuan, Lencana pembunuh naga ini segera akan kupersembahkan kepadamu”

Seraya berkata, tiba-tiba gadis berbaju perak itu mengeluarkan sebuah kotak kumala persegi panjang dari sakunya dan diletakkan diatas tanah, katanya kemudian.

“Sekarang kita akan beradu dalam kemampuan tentang pengetahuan..!”

Sekujur badan Gak Lam kun menggigil keras tiba-tiba ia menjatuhkan diri keatas tanah dan duduk bersila, sepasang tangannya ditekankan keatas dada sendiri… napasnya tersengal-sengal dan wajahnya berubah makin pucat pasi seperti mayat.

Setelah terengah-engah sekian lama, akhirnya Gak Lam kun berkata, “Bagaimana pula kita harus bertanding dalam soal pengetahuan serta daya tahan?”

Sambil berkata sepasang matanya yang tajam itu mengawasi kotak kumala tersebut tanpa berkedip ia saksikan kotak itu berwarna putih bersih bagaikan salju, diatas permukaannya terukir seekor naga sakti, ukiran itu sangat indah dan hidup seakan-akan sedang terbang diudara, bentuknya persegi panjang dan panjangnya lima inci dengan lebar tiga inci.

“Criiing..!” diiringi bunyi nyaring tiba-tiba kotak kumala itu terbuka lebar, dari balik kotak tersebut si gadis berbaju perak itu mengeluarkan sebuah lencana berwarna-warni dengan bentuk bulat memanjang, panjang lencana itu kira-kira empat inci dengan lebar dua inci. Pelan-pelan gadis berbaju perak itu menyentil permukaan lencana berwarna-warni itu, lalu katanya, “Lencana inilah merupakan lencana mustika yang telah menggemparkan seluruh dunia persilatan, Lencana pembunuh naga adanya!”

Gak Lam kun segera merasakan hatinya bergetar keras, tiba-tiba dadanya terasa sakit sekali dan… “Uaak!” ia muntah darah segar, tubuhnya jatuh terduduk dan bergoyang tiada hentinya.

Dengan wajah yang berkerut kencang menahan rasa sakit yang luar biasa, Gak Lam kun berusaha keras untuk mengendalikan golakan perasaan dalam hatinya, kemudian pelan-pelan berkata, “Dapatkah kau pinjamkan lencana pembunuh naga itu kepadaku barang sejenak saja?”

Gadis berbaju perak itu tertawa merdu, “Kau harus perhatikan Lencana pembunuh naga itu baik-baik, sebab adu pengetahuan yang akan berlangsung nanti meliputi pengetahuan tentang Lencana pembunuh naga itu.”

Sambil berkata ia angsurkan lencana pembunuh naga itu dengan kedua belah tangannya kehadapan Gak Lam kun.

Agak gemetar Gak Lam kun menyambut lencana mustika itu, diamatinya benda yang digilai banyak orang itu dengan sorot mata yang tajam.

Tampaklah Lencana mustika yang membuat hati orang persilatan jadi hampir gila itu terdiri dari panca warna yang berkilauan, bentuknya sangat indah dan mempesona hati, entah terbuat dari bahan apa? Tapi kalau ditinjau dari bobotnya jelas bukan besi atau tembaga, tapi bukan pula terbuat dari bahan kemala, atau kayu ataukah kertas.

Pada pemukaan yang pertama terukirkan seorang gadis yang cantik jelita bak bidadari dari kahyangan, lukisan itu lembut sekali dan tampak sangat hidup.

Terutama senyuman yang tersungging diujung bibir gadis itu, kendatipun hanya sebuah lukisan tapi tampak sangat hidup bagaikan orang hidup biasa, baik matanya, alis matanya, bibirnya, terutama sepasang lesung pipi yang menambah keayuan dan kelembutan dari dara itu.

Ia memang benar-benar seorang gadis cantik rupawan yang sukar dicarikan tandingannya didunia ini.

Gak Lam kun yang memperhatikan lukisan gadis diatas lencana itu semakin memandang senyuman gadis itu ia merasa senyuman tersebut makin memiliki daya tarik yang amat luar biasa, membuat jantungnya berdebar semakin keras.

Makin dipandang makin tertarik, bagaikan orang yang minum arak saja, semakin minum semakin nikmat tapi semakin cepat pula menjadi mabok.

Tiba-tiba gadis berbaju perak itu menegur dengan suara yang merdu dan lembut, “Hei… rupanya kau sudah terkesima olehnya?”

Bagaikan baru sadar dari impian, Gak Lam kun berseru tertahan, betapa terperanjatnya dia setelah menyaksikan paras muka dari dara berbaju perak itu, ternyata ia menemukan bahwa senyuman yang tersungging diujung bibir gadis berbaju perak itu persis seperti gadis yang tertera pada lencana tersebut.

Tanpa sadar ia menundukkan kepalanya dan memandang sekejap lukisan dara diatas lencana tersebut, tapi ia tak berani melihat terlalu lama, buru-buru kepalanya didongakkan kembali untuk memandang gadis berbaju perak itu, sesudah menghela napas katanya, “Aaai… Thian memang maha kuasa dan maha luar biasa, aneka peristiwa yang serba aneh bisa saja terjadi didalam dunia ini”

Gadis berbaju perak itu tertawa, “Apakah kau merasa gadis itu mirip sekali denganku?” Gak Lam kun manggut-manggut.

“Yaa, memang rada mirip, tapi tak bisa dikatakan terlalu mirip… katanya, “Ehmm… benar tapi tahukah kau apa maksud dari lukisan sang gadis diatas Lencana pembunuh naga itu?”

“Aku tidak tahu!” Gak Lam kun gelengkan kepalanya berulangkali.

“Dapatkah kau menebak maksud dan tujuan sebenarnya?” kembali gadis berbaju perak itu bertanya.

Satu ingatan melintas dalam benak Gak Lam kun segera pikirnya, “Kalau didengar dari pembicaraan Si Tiong pek, katanya Lencana pembunuh naga ini menyangkut seorang gadis yang amat cantik jelita, jangan-jangan benar juga perkataan itu, tapi benarkah didunia ini terdapat seorang gadis seperti itu…”

Berpikir demikian ia lantas berkata, “Konon barang siapa yang mendapatkan Lencana pembunuh naga itu, ia akan berbasil pula mempersunting seorang gadis yang cantik jelita bak bidadari dari kahyangan, apakah gadis ini yang dimaksudkan?”

“Hei, aku kan sedang bertanya kepadamu? kenapa kau malah sebaliknya bertanya kepadaku?”

“Aku tak mau menebak maksud dan tujuan yang sebenarnya!”

“Kalau begitu coba kau perhatikan kembali lukisan dibalik lencana itu, bila kau kembali tidak berhasil menebak jitu maksud dan arti yang tertera disana, maka dalam pertandingan adu pengetahuan ini kaulah yang berada dipihak kalah”

“Jadi kalau begitu, nona sendiri memahami maksud dan arti dari lukisan gadis yang berada diatas lencana itu?”

Gadis berbaju perak itu termenung sebentar, kemudian sahutnya, “Aku sendiripun merasa kurang jelas!”

“Kalau memang begitu, kenapa kau mengatakan bahwa dalam pertandingan adu pengetahuan aku kalah darimu?”

“Sebab aku mengetahui arti dan maksud dari lukisan dibaliknya…” Mendengar jawaban tersebut, Gak Lam kun tidak berbicara lagi, ia membalikkan lencana itu dan memeriksa isinya, ternyata permukaan lencana itu penuh dengan lukisan- lukisan yang kacau balau tak karuan, sulit untuk mengetahui lukisan apakah itu?”

Yang lebih hebat lagi, semakin diperhatikan lukisan tersebut kepala terasa makin pusing tujuh keliling, ditambah lagi matanya berkunang-kunang.

Sekalipun demikian, garis lukisan yang tertera diatas lencana itu tampak amat jelas.

Gadis berbaju perak itu membiarkan Gak Lam kun memperhatikan lukisan itu beberapa kejap, kemudian baru bertanya, “Kau pahami maksud dan artinya?”

“Maksud dalam soal apa?” tanya Gak Lam kun dengan wajah tertegun. “Maksud dari gambaran diatas lencana itu!”

“Aku pikir lukisan tersebut pastilah suatu penjelasan peta yang mengandung makna yang mendalam sekali”

“Ya betul! Tapi tahukah kau dimanakah letak dari tempat yang dimaksudkan itu?”

Satu ingatan segera melintas dalam benak Gak Lam kun, tiba-tiba saja ia teringat dengan kata-kata dari Jit poh lui sim ciam (panah inti geledek tujuh langkah pencabut nyawa) Lui seng thian ketika berada diatas pohon siong, serta kata-kata dari Si tosu setan Thian yu Cinjin dan Hoa Kok khi ketika berada dimulut masuk menuju kebangunan loteng yang misterius itu.

Sambil tersenyum segera sahutnya, “Aku rasa letak dari tempat tersebut berada diatas pulau ini!”

Gadis berbaju perak itu segera tetawa dingin, “Heeeh… heeeeh… heeeehh… kalau begitu, dapatkah kau memahami kunci rahasia yang menyangkut dalam penjelasan peta rahasia ini?”

“Apakah nona sendiri telah memahaminya?” “Belum!” sahut gadis berbaju perak itu hambar. Gak Lam kun segera tertawa dingin.

“Kalau begitu kita sama-sama tidak tahu, dalam soal adu pengetahuan kita hanya bisa dibilang seri!”

“Yaa, hanya bisa bilang seri” gadis berbaju perak itu tertawa dan manggut-manggut, “nah, sekarang mari kita adu persoalan yang terakhir, yakni mengadu kecerdikan dan daya tahan”

“Bagaimana caranya kita harus beradu kecerdikan dan daya tahan?”

“Lantas menurut pandanganmu sendiri, bagaimana kita harus melakukannya?” gadis itu malah balik bertanya. “Tampaknya nona sudah mempunyai suatu rencana yang matang maka lebih baik kuturuti kehendakmu saja”

“Sungguhkah perkataanmu ini? Jangan menyesal akhirnya”

“Sebagai seorang laki-laki sejati, apa yang telah diucapkan tak akan disesali kembali” Gadis berbaju perak itu segera tersenyum.

“Untuk beradu kecerdasan maka hal ini tidak terbatas dalam bidang apapun juga dimanapun kau berada apa yang ada dihadapanmu bisa kita gunakan untuk beradu kecerdasan, aku pikir dalam soal ini tak usah kita pertandingkan lagi, sekarang aku hanya minta kepadamu untuk mendengarkan sebuah lagu yang indah, asal kau sanggup menahan daya pengaruh dari irama khim tersebut Lencana pembunuh naga ini segera akan kuserahkan kepadamu.”

Mendengar perkataan tersebut, diam-diam Gak Lam kun segera berpikir, “Irama iblis dari Soat san thian li merupakan suatu kepandaian yang maha sakti, untungnya suhu pernah mendapat warisan ilmu tersebut, sekarang aku sudah tak takut terhadap pengaruh irama iblis itu lagi, apa salahnya kalau kudengarkan permainan khimnya itu?”

Berpikir sampai disini, diapun segera manggut-manggut, sahutnya, “Baiklah kita tetapkan dengan sepatah kata ini akan kudengarkan permainan khim mu itu”

Tiba-tiba saja paras muka gadis berbaju perak itu berubah menjadi amat serius, senyuman yang manis dan menawan hati itu seketika lenyap tak berbekas, sambil memeluk khim antiknya ia duduk bersila diatas tanah.

Gak Lam kun ikut bersemedi pula dihadapan gadis berbaju perak itu, meski isi perutnya terluka sekarang, tapi tenaga dalam yang dimilikinya cukup sempurna lagi pula ia telah mengerahkan ilmu Huan bu hwe kong dari Yo Long sekalipun luka yang betapa parahnya untuk sementara waktu semua luka itu dapat ditekan lebih dulu.

Hawa murninya segera disalurkan mengelilingi seluruh badan, seluruh perhatiannya dipusatkan menjadi satu dan siap menghadapi setiap kemungkinan yang terjadi.

Ia telah bertekad, bagaimanapun juga tugas yang dibebankan suhu kepadanya harus diselesaikan, dan Lencana pembunuh naga itu harus dimenangkan olehnya…

Pada saat itulah, tiba-tiba berkumandang dua kali dentingan nyaring yang menggetarkan sukma.

“Criing..!” “Criing..!”

Gak Lam kun segera merasakan hatinya bergetar keras oleh dua dentingan nyaring itu, bahkan tubuhnya yang sedang duduk bersila pun ikut bergetar keras, hal ini membuat hatinya amat terperanjat, paras mukanya seketika berubah menjadi pucat pias.

Menyaksikan perubahan wajahnya itu, si nona berbaju perak menghela napas panjang, katanya, “Apakah kau sanggup untuk mempertahankan diri? Ketahuilah yang bakal kumainkan bukan irama sebangsa Mi tin loan hun ci atau Sang goan ci melainkan sejenis irama maut dari tingkatan paling tinggi yang dinamakan Kiu hian tay boan yok sin im” Tak terlukiskan rasa kaget Gak Lam kun setelah mendengar nama itu, serunya tertahan, “Apa? Kau telah menguasai ilmu sakti Kiu hian tay boan yok sin im yang maha dahsyat itu?”

Kiranya ia pernah teringat dengan perkataan dari suhunya Yo Long kepadanya, waktu itu ia berkata demikian, “Penyakit cacad yang kuderita sekarang baru akan bisa sembuh dan nyawaku baru dapat diselamatkan andaikata ada seseorang yang dapat memainkan irama sakti Kiu hian tay boan yok sin im, irama sakti ini adalah semacam irama maut yang maha dahsyat, tapi apabila sipendengar dapat mempergunakan irama pembunuh manusia itu untuk menembusi nadi-nadi penting ditubuhnya, maka bukan saja akan terhindar dari kematian, malahan berbagai penyakit cacad yang dideritanya akan menjadi sembuh malah, sekalipun aku sudah bisa mempergunakan kepandaian untuk memanfaatkan irama maut menjadi kekuatan untuk mengobati luka, sayang sekali belum ada seorang manusiapun didunia ini yang dapat mempergunakan irama Kiu hian tay boan yok sin im, coba kalau tidak maka kekuatanku pasti akan menjadi tak terkalahkan didunia ini”

Entah apa sebabnya, ketika selesai mendengar perkataan dari Gak Lam kun itu, gadis berbaju perak itu segera mendengus dingin, selapis hawa napsu membunuh yang mengerikan dengan cepat menyelimuti wajahnya diawasinya senar-senar khim itu dengan pandangan tajam.

Jari jemari yang lencir dan lembut pelan-pelan menari diatas senar khim dan memainkan irama musik yang merdu merayu.

Rupanya ia telah memetik irama Kiu hian tay boan yok sin im tersebut untuk menyerang musuhnya.

“Crring..! Crring..! Crring..!” bunyi gemerincingan nyaring menggema menyelimuti seluruh angkasa.

Mengikuti permainan irama khim tersebut, tubuh Gak Lam kun mulai goncang dan bergetar keras.

000000O00000

Mukanya yang sudah pucat kini makin memucat, kulit tubuhnya mengejang keras menahan penderitaan yang luar biasa, peluh sebesar kacang kedelai bercucuran membasahi jidatnya.

Serentetan irama merdu merayu yang menawan hati berkumandang diangkasa mengikuti gerakan jari tangan gadis berbaju perak itu, suaranya mana merdu, indah menawan lagi.

Irama tersebut sepintas lalu tampak sama sekali tiada pengaruh daya iblis yang mengerikan, irama itu kedengaran begitu lembut, begitu indah dan mendatangkan kedamaian dalam hati.

Tapi jauh berbeda bagi perasaan Gak Lam kun, benaknya seakan-akan dipenuhi oleh aneka macam lamunan yang aneh-aneh karena pengaruh irama tersebut, sekujur badannya terasa seakan-akan sedang terbang melayang diudara. Yang lebih membuatnya menderita adalah peredaran darah dalam tubuhnya kian lama kian membeku kesatu arah, penderitaan tersebut adalah begitu hebat dan begitu dahsyatnya, membuat Gak Lam kun harus menggertak giginya kencang-kencang, seluruh kulit tubuhnya mengejang keras menahan rasa sakit yang luar biasa.

Lamat-lamat noda darah mulai mengalir keluar dari ujung bibirnya ia merasakan tubuhnya yang sedang duduk bersila itu bagaikan berada dalam gudang es, sekujur tubuhnya gemetar keras.

Bila keadaan semacam ini dibiarkan berlangsung lebih jauh, tak dapat disangsikan lagi Gak Lam kun pasti akan mati secara mengerikan.

Gadis berbaju perak itu melirik sekejap kearah Gak Lam kun yang sedang menderita kesakitan itu, lalu sambil menghela napas sedih ia menghentikan permainan seraya berkata, “Aku tak ingin mencelakai jiwamu, lebih baik kau mengaku kalah saja!”

Gak Lam kun tidak berbicara ataupun bersuara, ia masih tetap duduk bersila ditempat semula.

Ketika dilihatnya pemuda itu tidak juga menjawab, bahkan penderitaan yang dialaminya berangsur-angsur menjadi tenang kembali, ia menghela nafas panjang, dan jari jemarinya pun mulai memetik kembali senar-senar khim tersebut.

Alunan lagu yang indah dan merdu sekali lagi berkumandang memenuhi seluruh angkasa.

Tapi kali ini Gak Lam kun duduk tenang bagaikan seorang pendeta tua, kejangan- kejangan yang semula mencekam kulit tubuhnya dan badan yang semula gemetar keras kini sudah menjadi tenang semuanya.

Bahkan diatas wajahnya yang pucat pias seperti mayat itu kini sudah mulai bersemu merah.

Ia tampak begitu tenang, begitu santai dan seolah-olah tidak merasakan penderitaan apapun.

Malah kemudian, sekulum senyuman yang penuh ejekan tersungging diujung bibirnya.

Betapa terkejutnya gadis berbaju perak itu, apalagi setelah menyaksikan paras mukanya begitu tenang dan sama sekali tidak terpengaruh oleh irama iblis yang dimainkan itu, muka yang cantik jelita itu mulai berubah pucat pasi jari jemarinya menari semakin kencang diatas senar-senar khimnya.

Kurang lebih sepertanak nasi kemudian, keadaan Gak Lam kun masih tetap tenang dan sedikitpun tidak nampak terpengaruh, bahkan begitu tenangnya bagaikan air dikolam.

Menyaksikan keadaan tersebut, gadis berbaju perak itu segera tertawa dingin lalu serunya, “Untuk mempertahankan keutuhan diri Lencana pembunuh naga ini, jangan kau salahkan kalau terpaksa aku harus bertindak keji kepadamu!”

Begitu selesai berkata tangan kanannya segera bergerak cepat dan memetik senar khim itu dengan gerakan mendatar. “Crring..!” dentingan nyaring kembali menggeletar diudara… “Uuaak..!” tidak ampun Gak Lam kun muntahkan darah kental.

“Criiing! Criiing..! Criiing..!” sekali lagi terdengar tiga kali dentingan yang amat nyaring.

Ketiga buah dentingan tersebut kedengarannya sangat lembut dan merdu sekali, akan tetapi bagi pendengaran Gak Lam kun ibaratnya tiga bunyi geledek yang meledak diatas batok kepalanya, kontan saja ia kehilangan seluruh daya kendalinya.

Ia memuntahkan darah kental yang menyembur keluar sangat deras, tubuh yang semula masih duduk bersila kini roboh keatas tanah, suasana pun pulih kembali dalam keheningan.

Tiba-tiba gadis berbaju perak itu melepaskan khim antik itu dari pondongannya kemudian berjalan kesamping Gak Lam kun, setelah memeriksa hembusan napasnya, tiba- tiba saja paras mukanya berubah sangat hebat…

Ternyata napas Gak Lam kun telah berhenti, peluh dingin membasahi jidatnya, muka yang pucat pias kini berubah menjadi kelabu, tubuhnya kaku seperti sesosok mayat.

Memandang paras mukanya yang amat memedihkan hati itu, tanpa terasa dua titik airmata jatuh berlinang membasahi pipinya.

Mendadak ia merangkap sepasang tangannya didepan dada, lalu dengan suara lirih mulai berdoa, “Oooh… Gak siangkong wahai Gak siangkong… maafkanlah daku!

Sesungguhnya aku tidak bermaksud membunuhmu tapi engkau terlalu keras kepala, hal ini mau tak mau memaksaku untuk turun tangan keji kepadamu, tapi sekarang aku merasa menyesal sekali, untuk menebus dosaku ini, aku telah bertekad untuk sepanjang tahun mendampingimu disisi kuburanmu.”

“Ooooh ibu! Wahai ibuku! Biji tak akan melanggar pesan terakhirmu, sepanjang hidupku sekarang tak akan kucintai seorang lelaki darimana pun, tapi sekarang, lantaran memainkan irama Kiu hian tay boan yok sin ing, aku telah mencelakai jiwanya, maka aku mohon kepada kau orang tua agar menyetujui tekadku ini untuk menemaninya sepanjang masa, karena ia telah mati, bukankah kau orang tua tidak melarangku untuk mencintai seseorang yang telah mati?”

Selesai berdoa, ia membungkukkan badannya dan memungut lencana pembunuh naga itu, kemudian dimasukkan kembali kedalam kotak kumala tersebut…

Kemudian diambilnya kembali Khim antik itu dan… “Criing! Criing!” dia memainkan irama yang memilukan hati.

Irama tersebut bernada sedih, penuh kedukaan kemurungan dan kemasgulan.

Diantara gulungan ombak yang menghantam diatas batu karang, irama khim itu sungguh mengharukan hati siapapun.

Angin laut berhembus lewat menggoyangkan rambutnya yang lembut, bunyi pohon siong yang terhembus angin menambah sedih dan murungnya pemandangan waktu itu. Ditengah sinar rembulan yang purnama, tiba-tiba muncul seorang gadis berbaju putih yang pelan-pelan menuju ketanah datar tersebut.

Gadis berbaju putih itu melirik sekejap kearah Gak Lam kun yang tergeletak ditanah lalu tampak agak tertegun.

Tiba-tiba saja ia menjerit kaget, lalu secepat kilat menubruk kearah depan. Dipeluknya Gak Lam kun erat-erat, lalu teriaknya keras-keras, “Engkoh Gak..!” Teriakan tersebut segera menyadarkan gadis berbaju perak itu dari kesedihannya,

dengan sepasang matanya yang jeli dia melirik sekejap kearah gadis berbaju putih itu, kemudian setelah menghela napas sedih katanya, “Kau kenal dengan orang ini?”

Siapa gadis berbaju putih itu? Dia tak lain adalah Ji Cin peng.

Dalam cemas dan gugupnya, ia tak sempat untuk menjawab pertanyaannya lagi, dengan cepat dia meraba denyutan nadi Gak Lam kun, ketika dirasakan bahwa denyutan jantungnya masih bergerak, dia segera mengerahkan tenaga dalamnya dan menguruti disekeliling dada si anak muda itu.

Sudah berulangkali Ji Cin peng menguruti dada si anak muda ini, akan tetapi belum juga sadar kembali, hal mana membuat gadis itu mulai gelisah, pikirannya menjadi kalut sekali.

Tiba-tiba gadis berbaju perak itu menghela napas panjang, katanya kemudian dengan lirih, “Ia sudah meninggal dunia!”

Ji Cin peng membelalakkan sepasang matanya lebar-lebar, ditatapnya gadis berbaju perak itu sekejap, kemudian hardiknya, “Apakah kau yang telah mencelakainya?”

Sekali lagi gadis berbaju perak itu menghela nafas panjang. “Yaa, benar! Tapi aku amat menyesal sekali!”

“Dengan menggunakan kepandaian apakah kau telah melukainya?” Ji Cin peng kembali bertanya.

“Nadi-nadi pentingnya sudah terluka oleh getaran irama Kiu huan tay boan yok sin im yang kulancarkan akibatnya ia meninggal dunia!”

“Heeeh… heeeh… heeeeh… masakah irama sakti Kiu huan tay boan yok sin im bisa dipakai untuk membunuh orang?”

Mendengar pertanyaan itu, gadis berbaju perak tersebut menjadi tertegun, kemudian ia balik bertanya, “Apakah kau sanggup untuk menerima permainan irama sakti dari Kiu huan tay boan yok sin im ini?”

“Heeeh… heeeh… heeeh… sekalipun aku tidak mempunyai kepercayaan tersebut, akan tetapi sebentar lagi aku pasti akan mencoba kelihayanmu itu” Sehabis berkata, gadis itu segera menepuk pelan jalan darah Mia bun hiat dipunggung Gak Lam kun, setelah itu hawa murninya segera disalurkan kedalam tubuhnya.

Dalam waktu singkat hawa murninya itu telah menembusi jalan darah Hu ciat hiat, Pek hwei hiat dan Hian ki hiat ditubuh Gak Lam kun.

Akan tetapi, sekalipun ia sudah bekerja keras selama seperminum teh lamanya, kecuali denyutan jantung didada Gak Lam kun masih berdetak, sekujur badannya hampir sudah menjadi dingin dan kaku persis seperti sesosok mayat.

Sampai disini, Ji Cin peng benar-benar merasa kecewa sekali, ia menghela napas sedih dan katanya, “Betulkah kau telah mempergunakan irama sakti Kiu huan tay boan yok sin im melukai nadi-nadi penting didalam tubuhnya?”

Gadis berbaju perak itu mengangguk.

“Ilmu silat yang dimilikinya terlalu tinggi kecuali mempergunakan kepandaian ini, aku tak akan sanggup untuk menangkan kehebatan ilmu silatnya…

Sekuat tenaga Ji Cin peng berusaha untuk mengendalikan rasa sedih yang mencekam hatinya, kembali ia bertanya, “Apakah kau dapat mencarikan akal untuk menyembuhkan luka yang dideritanya itu?”

Gadis berbaju perak itu gelengkan kepalanya berulangkali.

“Sekalipun ibuku masih hidup didunia, belum tentu ia sanggup untuk mengobati lukanya itu!”

“Kenapa kau begitu tega untuk mencelakai jiwanya?” bisik Ji Cin peng dengan airmata bercucuran saking sedihnya.

Mendengar perkataan itu, gadis berbaju perak itu tertegun, lalu diam-diam gumamnya, “Yaa, benar, kenapa aku begitu tega untuk mencelakai jiwanya..?”

Dalam pada itu Ji Cin peng duduk dengan tenang disana tanpa bergerak ataupun mengucapkan sepatah katapun sambil membopong tubuh Gak Lam kun yang sedang menderita luka parah itu.

Tiada airmata yang jatuh bercucuran membasahi wajahnya, tiada pula suara isak tangis yang memecahkan keheningan.

Tiba-tiba saja Ji Cin peng menundukkan kepalanya dan mencium noda darah diujung bibir Gak Lam kun, ia tak takut kotor ia tak takut perbuatannya itu ditertawakan orang.

Dengan sepasang mata terbelalak besar gadis berbaju perak itu mengawasi gerak gerik gadis itu wajahnya amat tenang dan wajar, sama sekali tiada rasa dengki atau iri.

Pemandangan itu benar-benar merupakan suatu pemandangan yang penuh dengan kepedihan dan keseriusan. Tapi dibalik ketenangan yang mencekam sekeliling tempat itu justru terkandung suatu kekuatan yang merangsang perasaan orang membuat siapapun juga yang menyaksikan adegan semacam ini akan merasa ikut terharu dan bersedih hati…

Lama, lama sekali…

Tiba-tiba Ji Cin peng berkata dengan suara dingin, “Aku akan membalaskan dendam bagi sakit hatinya!”

Pelan-pelan Ji Cin peng menurunkan tubuh Gak Lam kun dari pelukannya, selapis hawa napsu membunuh yang mengerikan telah menyelimuti seluruh wajahnya.

Gadis berbaju perak itu menghela napas sedih, tiba-tiba tanyanya, “Apakah hubunganmu dengannya?”

“Aku adalah istrinya!” jawab Ji Cin peng dingin.

Mendengar jawaban tersebut, sekujur tubuh gadis berbaju perak itu gemetar keras, tapi hanya sebentar kemudian wajahnya telah pulih kembali menjadi tenang, ia tertawa getir lalu katanya.

“Kalau memang demikian, silahkan kau turun tangan!”

Ji Cin peng bukan orang yang ceroboh, diapun tahu bahwa orang yang sanggup melukai kekasihnya hingga terluka parah pasti mempunyai kepandaian silat yang sangat lihay dari sakunya dia mengeluarkan pedang Giok siang kut kiam yang amat tajam itu, sambil meloloskan dari sarungnya ia berkata dengan suara dingin, “Cabut keluar senjata tajammu !”

Gadis berbaju perak itu kembali menghela napas sedih.

“Terus terang kuberitahukan kepadamu, setelah melukai jiwanya tadi aku merasa amat menyesal sekali, tapi kalau kau belum juga bisa memahami keadaanku, akupun tak bisa berbuat apa-apa lagi!”

Sambil berkata dia mengambil kembali khim antiknya dan mulai memetik dua kali… “Criiing! Criiing!”

Walaupun tenaga dalam yang dimiliki Ji Cin peng sangat sempurna, daya tahannya pun sangat tinggi, akan tetapi dua kali dentingan bunyi irama khim itu membuat jantungnya berdebar keras dan peredaran darahnya bergolak keras, buru-buru ia membuang semua pikiran kalut untuk memusatkan diri menghadapi musuh.

Pedang pendek didalam genggamannya itu segera digetarkan keras, kemudian secara beruntun melancarkan tiga buah serangan berantai.

Walaupun ketiga buah serangan tersebut dilancarkan tidak bersamaan waktunya, namun kecepatannya luar biasa sekali sehingga hampir bersamaan waktunya tiba ditubuh lawan. Gadis berbaju perak itu segera bergerak kesamping, dengan suatu gerakan tubuh yang enteng dan gesit dia menghindarkan diri dari ketiga bacokan pedang itu.

“Criiing..! Criiing..! Criiing..!” kembali terdengar suara dentingan khim berbunyi diudara.

Sambil menghimpun tenaga dalamnya kembali Ji Cin peng melancarkan sebuah tusukan kedepan, tiba-tiba saja hawa murninya terasa mengendor, tubuhnya bergetar dan mundur dua langkah dengan sempoyongan.

Sambil membopong khim antiknya, gadis berbaju perak itu kembali berkata dengan suara hambar.

“Kau sanggup menahan enam dentingan irama sakti dari Kiu hian tay boan yok sin im yang kulancarkan, ini menunjukkan bahwa tenaga dalam yang kau miliki benar-benar hebat, aku hendak memperingatkanmu, jika kau harus menyerang dengan hawa murni yang buyar, maka akibatnya hawa murni akan menyerang kedalam nadi-nadi pentingmu sendiri…”

Belum lagi perkataan itu selesai diucapkan, Ji Cin peng telah menerjang kembali, pedangnya menggunakan jurus Thian li hui ko (gadis langit mengayunkan tombak) tiba- tiba dari gerakan membacok berubah menjadi gerakan menotok yang diancam adalah jalan darah diatas bahu kanan gadis berbaju perak itu.

Dibalik serangannya itu lamat-lamat mengandung beberapa gerakan membunuh yang luar biasa sekali.

Baru saja gadis berbaju perak itu berkelit kesamping, Ji Cin peng tidak sudi memberi kesempatan baginya untuk memetik senar tali khimnya lagi, ia menerjang maju lebih kedepan, pedangnya secara beruntun melancarkan beberapa buah bacokan.

Dalam waktu singkat bayangan pedang membumbung tinggi keangkasa, hawa pedang yang tajam menyusup keempat penjuru.

Dalam sekejap mata Ji Cin peng telah melancarkan delapan buah serangan maut.

Dibawah desakan yang gencar dan dahsyat dari ilmu pedang maha sakti itu, gadis berbaju perak tersebut betul-betul tidak mempunyai kesempatan untuk memetik tali senar khimnya, malah sebaliknya setiap kali harus menghadapi keadaan yang sangat berbahaya.

Kejut dan heran Ji Cin peng menghadapi kenyataan tersebut, ia tak menyangka kalau delapan belas buah serangan pedang kilatnya yang sangat luar biasa itu belum berhasil juga untuk melukai lawannya, itu berarti jika jurus pedangnya tak dapat disambung lebih lanjut, akibatnya dia sendirilah yang akan terluka oleh irama maut tersebut. Maka Ji Cin peng segera menerjang maju kedepan, menggunakan kesempatan itu ia melancarkan sebuah tusukan dengan mempergunakan jurus Cuan im ci seng (menembusi awan memetik bintang).

Gadis berbaju perak itu segera mementalkan serangan pedang itu dengan mempergunakan khim antiknya, lalu sepasang kaki menjejak tanah dan ia melompat ketengah udara. Ji Cin peng tidak memberi kesempatan bagi musuhnya untuk kabur dari jangkauan serangannya, melihat dia melompat keudara gadis itupun ikut melompat ketengah udara, pedang pendeknya dengan menciptakan selapis cahaya pelangi berwarna putih langsung menerobos maju kedepan.

Tiba-tiba ia menyaksikan gadis berbaju perak itu menarik keatas sepasang kakinya, lalu dalam beberapa kali jumpalitan saja ia sudah berada ditempat semula.

Mimpipun Ji Cin peng tidak menyangka kalau gerakan tubuhnya secepat itu, dia tahu apabila musuhnya dibiarkan kabur dari jangkauan serangannya, maka begitu irama khim mulai dipetik, niscaya dia tak akan mampu untuk menahan datangnya serangan tersebut.

Didalam gugup dan cemasnya, dari tengah udara ia mengeluarkan tiga biji tasbeh dan segera diayunkan kedepan.

Itulah senjata rahasia khas dari Lam hay sin ni, sambaran tasbeh tersebut sedemikian cepatnya bak sambaran kilat ditengah udara.

Pada waktu itu, jari tangan gadis berbaju perak itu sudah menempel diatas tali senar khim dan siap memetiknya, tapi lantaran ketiga biji tasbeh itu sudah keburu menyambar datang lebih dahulu terpaksa mau tak mau dia harus menggeser badan untuk menghindarkan diri.

Didalam kesempatan itulah Ji Cin peng telah menerjang maju kedepan dan secara beruntun pedang pendeknya kembali melancarkan tiga buah serangan berantai.

Akibat dari serangan Ji Cin peng yang bertubi-tubi itu terpaksa si gadis berbaju perak itu harus mundur sejauh beberapa langkah.

Diam-diam ia merasa terkejut dan keheranan juga menghadapi kejadian ini, pikirnya, “Sungguh hebat dan luar biasa sekali kepandaian silat yang dimiliki gadis ini, terutama sekali permainan ilmu pedangnya suugguh tidak lebih lemah dari permainan pedang Malaikat pedang Siang hong im…

Diatas wajah Ji Cin peng yang dingin, lamat-lamat sudah mulai muncul hawa napsu membunuh yang mengerikan, ia mendengus dingin tiba-tiba pedang dan telapak tangannya melancarkan serangan.

Pedangnya melancarkan serangan dengan jurus Bang hong jut ciau (selaksa kumbang dari sarang) suatu jurus serangan yang mematikan dari ilmu pedang Tay ik tiu bun kiam hoat aliran Lam hay, sementara telapak tangan kirinya melancarkan serangan dengan jurus Sin liong huan hay(naga sakti menggulung samudra) yang disertai dengan tenaga sakti Boan yok sinkang.

Tiba-tiba terdengar bentakan keras berkumandang memecahkan kesunyian, menyusul kemudian muncul segulung tenaga pukulan yang maha sakti langsung menyergap belakang punggung Ji Cin peng.

Berada dalam keadaan seperti ini, mau tak mau Ji Cin peng harus melindungi diri sendiri, tubuhnya segera bergeser empat depa kesamping ketika berpaling maka tampaklah kurang lebih dua kaki dibelakangnya berdiri seorang kakek berbaju hijau yang rambutnya telah memutih semua dilihat dari dandanannya, tak salah lagi kalau dia adalah seorang tokoh silat yang berilmu tinggi.

Kakek berbaju hijau itu menggembol sebilah pedang antik pada punggungnya dengan sepasang mata yang tajam bagaikan kilat ia memandang Ji Cin peng sekejap, kemudian pelan-pelan berkata, “Tolong tanya apakah kau adalah murid dari Lam hay sin ni?”

Begitu menyaksikan kakek tersebut, tanpa ditanyapun Ji Cin peng sudah tahu bahwa kakek tersebut adalah See ih kiam seng (malaikat pedang dari wilayah See ih) Siang Bong im.

Ia lantas tertawa dingin dan balik bertanya, “Bolehkah aku tahu bahwa kau adalah See ih kiam seng Siang losianseng..?”

Kiam seng Siang Bong im mengelus jenggotnya dan tersenyum. “Benar, itulah lohu!” sahutnya.

“Siang lo sianseng!” kata Ji Cin peng dengan dingin, “namamu sudah menggetarkan seluruh dunia persilatan, sungguh beruntung kita bisa jumpa muka pada malam ini, aku seorang pelajar yang belum tamat belajar ingin sekali memohon petunjuk beberapa jurus kepandaian silatmu yang maha sakti itu”

Mendengar perkataan tersebut, See ih kiam seng Siang Bong im segera tertawa terbahak-bahak.

“Haaahhh… haaahhh… haaahhh… selamanya orang baru akan menggantikan orang lama, kaum generasi yang muda memang selalu lebih hebat dan pemberani…”

Belum habis perkataan itu, mendadak dari kejauhan berkumandang suara gelak tertawa yang menggetarkan seluruh angkasa ditengah malam tersebut.

Ketika Ji Cin peng mendongakkan kepalanya, maka tampaklah Thi eng sin siu (kakek sakti elang baja) Oh Bu hong dibawah iringan Kim, Gin dan Lan tiga orang thamcunya sedang bergerak mendekat dengan kecepatan luar biasa.

Dibelakang mereka mengikuti pula delapan belas orang elang baja yang tersohor itu.

Langkah Thi eng sin siu Oh Bu hong amat santai dan tenang, jenggot panjangnya bergoyang keras terhembus angin malam, sekali lagi ia tertawa terbahak-bahak dengan nyaringnya.

“Haaahhh… haaahhh… haaahhh… tak kusangka kalau kalian semua telah datang selangkah lebih dahulu, maaf jika kami dari Thi eng pang datang agak terlambat!”

Belum habis perkataan itu, serentetan suara dingin lain yang mengerikan kembali berkumandang, “Sungguh pagi amat kedatangan kalian, biarlah aku si tua bangka yang tidak mati-mati ikut datang meramaikan suasana ini”

Berbareng dengan selesainya perkataan itu, tampaklah sesosok bayangan manusia bagaikan sesosok sukma gentayangan yang telah menerjang masuk kedalam gelanggang, orang itu bukan lain adalah Ji poh lui sim ciam Lui Seng thian adanya. Dalam waktu singkat, tempat yang amat sempit itu telah berkumpul sekian banyak jago-jago yang berilmu tinggi.

Ketika semua kawanan jago itu menyaksikan diri Gak Lam kun yang tergeletak kaku diatas tanah, mula-mula mereka agak tertegun, terutama sekali Kim eng thamcu Ki Li soat dari perkumpulan Thi eng pang.

Terdengar ia menjerit kaget lalu serunya, “Haah, rupanya dia…”

Mungkin penemuan tersebut sangat menggetarkan perasaannya sehingga sekujur tubuhnya yang indah itu tampak agak menggigil keras.

Berbareng dengan berkumandangnya jeritan kaget itu, tiba-tiba terdengar seseorang menghela napas panjang, lalu berseru, “Oooh… betapa lihaynya irama khim tersebut…”

Kontan saja gadis berbaju perak itu menjerit keras, lalu teriaknya dengan suara panik, “Ada setan… ada setan…”

Paras mukanya berubah menjadi pucat pias seperti mayat, sekujur tubuhnya gemetar keras.

Ternyata Gak Lam kun yang mula-mula berbaring dengan tubuh kaku itu secara tiba- tiba bangun dan berduduk.

Kejut dan girang Ji Cin peng menyaksikan kejadian itu, serta merta ia memutar badannya sambil berseru, “Kau… kau tidak apa-apa..?”

Suaranya penuh dengan rasa kuatir, kasihan dan sayang, sekalipun nadanya agak gemetar.

Gak Lam kun manggut-manggut.

“Ya, aku masih sanggup bertahan!” sahutnya.

Melihat pemuda itu tidak mati, gadis berbaju perak itupun dapat tersenyum kembali serunya sambil tertawa, “Hei, rupanya kau belum mati?”

“Ehmmm..! Aku memang belum mati, maka aku minta agar kau dapat memenuhi janjimu itu” kata Gak Lam kun sambil menarik muka.

Menggunakan kesempatan sedang berbicara, dengan suatu gerakan yang cepat Gak Lam kun menyapu sekejap keadaan disekeliling tempat itu…

“Hei, sebenarnya kenapa kau bisa bangun kembali?” terdengar gadis berbaju perak itu bertanya dengan wajah penuh kecurigaan.

“Sesungguhnya didunia ini penuh dengan kejadian yang aneh serta benda-benda yang janggal, karena itu aku sendiripun tak tahu kenapa bisa hidup kembali” sahut pemuda itu hambar. Sebagaimana telah diucapkan tadi, sebenarnya Gak Lam kun sendiripun merasa heran dan tercengang ketika mengetahui bahwa ia dapat sadar kembali dari pingsannya, sebab sejak dulu sampai sekarang ia telah tahu bahwa ilmu irama Kiu hian tay boan yok sin im adalah suatu irama iblis yang lihay sekali.

Tiba-tiba gadis berbaju perak itu berpaling kewajah Ji Cin peng, setelah menghela napas sedih katanya, “Sungguh tak kusangka kalau dalam dunia persilatan dewasa ini masih ada orang yang sanggup menyembuhkan penyakit semacam ini”

Mendengar perkataan itu, Gak Lam kun segera menyadari bahwa hidupnya kembali disaat ini adalah berkat pertolongan dari Bwe Li pek, dengan cepat ia berpaling kearah Ji Cin peng dan katanya sambil menghela napas panjang, “Aaai… Nona Bwe, selama kehidupanku sekarang, entah dengan cara apakah Gak Lam kun dapat membalas budi kebaikanmu itu”

Mendengar perkataan itu, sekali lagi si gadis berbaju perak itu merasa tertegun, tiba- tiba ia berpaling kearah Ji Cin peng memandangnya sekejap dan berkata sambil tertawa, “Ooo… rupanya kau sedang berbohong tadi”

Mendengar perkataan itu, merah padam selembar wajah Ji Cin peng karena jengah, ia segera menundukkan kepalanya.

Oleh tanya jawab yang tiada ujung pangkalnya ini, semua orang yang hadir ditempat itu menjadi kebingungan dan tak habis mengerti dengan apa yang mereka bicarakan, demikian juga halnya dengan Gak Lam kun sendiri, ia tak tahu apa arti dari pembicaraan kedua orang gadis tersebut.

Perasaan Ji Cin peng pada saat ini amat menderita, kiranya yang dimaksudkan oleh gadis berbaju perak tadi adalah soal pengakuannya sebagai istri Gak Lam kun.

Ji Cin peng kuatir sekali jika gadis berbaju perak itu membongkar rahasianya secara langsung, maka sambil mendongakan kepalanya ia berkata kembali, “Dibalik persoalan ini sesungguhnya terdapat latar belakang yang sangat kalut sekali, aku harap agar kau jangan menambah kesulitan bagiku saja!”

Gadis berbaju perak itu segera tertawa dingin, katanya, “Siapakah yang akan menambah kesulitanmu? Hmm…”

Paras muka Gak Lam kun ikut berubah menjadi serius, tiba-tiba katanya, “Nona, lebih baik kau selesaikan dengan segera pekerjaan yang harus kau lakukan”

“Persoalan apa?”

Hawa amarah sudah mulai menyelimuti seluruh wajah Gak Lam kun, tegurnya, “Apakah kau hendak mengingkari janji?”

Gadis berbaju perak itu segera tertawa berderai-derai.

“Haaah… haaah… haaah… setelah kau ambil benda tersebut, apakah tidak takut kalau dirampas orang lagi? Baiklah! Kalau toh aku yang telah kalah pada malam ini, terpaksa benda itu harus kuserahkan kepadamu.” Seraya berkata gadis berbaju perak itu mengambil keluar sebuah kotak kumala dari dalam sakunya.

Sementara itu semua jago lihay yang berada disekitar gelanggang serta merta telah maju beberapa langkah kedepan.

Thi eng sin siu Oh Bu hong tertawa terbahak-bahak, sepasang matanya yang lebih tajam dari sembilu itu menatap kotak kumala ditangan gadis berbaju perak itu tajam- tajam kemudian tegurnya, “Tolong tanya, apakah nona berasal dari perguruan See thian san pay..?”

Gadis berbaju perak itu segera tertawa merdu.

“Benar!” sahutnya, “apakah kau ingin tanya apa isi dalam kotak kumala ini?” Thi eng sin siu Oh Bu hong segera tersenyum.

“Nona memang cerdik sekali” katanya, “tolong tanya apa benar isi kotak kumala itu adalah Lencana pembunuh naga?”

Gadis berbaju perak itu manggut-manggut.

“Ehmm, kaupun amat cerdas! Benda yang berada didalam kotak kumala ini memang benar Lencana pembunuh naga yang dapat membuat setiap orang persilatan berubah muka, eeeh… kau menanyakan persoalan ini sampai sedemikian jelasnya, apa maksud dan tujuanmu?”

Oh Bu hong kembali tertawa terbahak-bahak.

“Haaahh… haaahhhh… haaahhh… walaupun Lencana pembunuh naga adalah benda mustika yang tiada taranya dalam dunia persilatan, akan tetapi aku Oh Bu hong masih tak kesudian untuk merampasnya dengan kekerasan dewasa ini tak sedikit jumlah jago lihay yang berkumpul dipulau ini, bila sampai terjadi pertarungan maka tidak sedikit nyawa manusia yang akan melayang ditempat ini. Lolap rasa kita harus mencari sebuah akal yang adil untuk menyelesaikan persoalan ini yakni mempergunakan kehebatan ilmu silat

masing-masing untuk menetapkan milik siapakah Lencana pembunuh naga itu, entah bagaimana menurut pendapat nona..?”

Gadis berbaju perak itu segera tersenyum.

“Usulmu itu memang adil sekali cuma sayangnya Lencana pembunuh naga itu sudah menjadi milik Gak siangkong, dalam hal ini aku sudah tak dapat mengambil keputusan lagi karena itu lebih baik kau ajukan saja persoalan itu kepadanya”

Gak Lam kun segera maju dua langkah kedepan menerima kotak kemala tersebut dari tangan gadis berbaju perak itu lalu sambil tertawa dingin katanya, “Cara yang diusulkan Oh pangcu memang terhitung bagus sekali, cuma sayangnya aku tak dapat menyetujui usulanmu itu”

Seraya berkata anak muda itu berpaling dan memberi tanda kepada Ji Cin peng untuk berangkat meninggalkan tempat itu. Sambil tertawa terbahak-bahak, Oh Bu hong segera maju kedepan dan menghadang jalan perginya.

“Sekalipun kau maju kedepan juga percuma, sebab kepergianmu itu pasti akan dihadang oleh orang-orang lain, itu berarti walaupun lohu tidak turun tangan, toh akhirnya Lencana pembunuh naga itu tak akan berhasil kau pertahankan”

Gak Lam kun segera tertawa dingin.

“Heeehhh… heeehhh… heeehhh… peringatan maupun maksud baik Oh pangcu biar kuterima dalam hati, terima kasih banyak atas kebaikan hatimu itu” katanya.

Thi eng sin siu kembali tertawa, tanyanya kemudian, “Andaikata orang lain telah turun tangan untuk merampas Lencana pembunuh nagamu apakah pihak Thi eng pang juga boleh ikut memeriahkan keramaian ini?”

“Heeehhh… heeehhh… heeehhh… tentu saja boleh!” sahut Gak Lam kun sambil tertawa dingin, “seandainya Oh pangcu mempunyai kegembiraan untuk turut ambil bagian, silahkan saja untuk turun tangan”

Oh Bu hong segera menyingkir kesamping dan memberi jalan, katanya sambil tertawa, “Lebih baik kita tentukan dengan sepatah kata itu saja, apabila orang lain tidak merampas badanmu itu, pihak Thi eng pang pasti tak akan secara sengaja menyulitkan dirimu”

Gak Lam kun tidak menyangka kalau Oh Bu hong bisa bersikap demikian terbuka atas peristiwa ini, padahal Oh Bu hong sekalian masih belum tahu kalau Tang hay coa siu (kakek ular dari lautan timur) Ou Yong hu telah tewas ditangannya.

Baru saja Gak Lam kun dan Ji Cin peng hendak melanjutkan kembali perjalanannya kedepan, tiba-tiba terdengar kembali suara tertawa dingin yang mengerikan berkumandang diudara.

“Heeehhh… heeehhh… heeehhh… Gak lote harap jangan pergi dulu” katanya, “aku Lui Seng thian ingin merundingkan suatu persoalan denganmu”

Gak Lam kun merasa terkejut sekali menyaksikan jalan perginya dihadang oleh kakek dengan panah mautnya, apalagi setelah menyaksikan tabung maut itu ditujukan kearahnya serta Ji Cin peng.

Setelah termenung sejenak, diapun bertanya dengan suara dingin, “Lui locianpwe, perundingan apakah yang hendak kau bicarakan dengan diriku?”

Jit poh lui sim ciam Lui Seng thian tertawa seram, kemudian katanya pelan, “Gak lote, aku rasa kaupun seorang yang pintar, dan situasi diatas pulau inipun telah kau ketahui dengan jelas, maka apabila kau bersedia mengijinkan lohu untuk turut serta dalam membahas rahasia lencana itu, lohupun bersedia membantu dirimu untuk menghadapi hadangan-hadangan dari musuh tangguh yang telah berada didepan mata sekarang”

Gak Lam kun tertawa.

“Lui locianpwe, biarlah maksud baikmu itu kuterima didalam hati saja, sayang aku Gak Lam kun selamanya enggan berlutut dihadapan orang sambil memohon bantuannya!” Jit poh lui sim ciam Lui Seng thian kembali tertawa seram.

“Heehhh… heehhhh… heeehhh… Gak lote, kau pasti sudah mengetahui betapa lihaynya panah inti geledek yang bisa membunuh korbannya dari jarak tujuh langkah ini bukan?

Aku harap kau suka berpikir tiga kali lebih dulu sebelum bertindak”

Thi eng sin siu Oh Bu hong kembali tertawa terbahak-bahak, katanya, “Haaahhh… haaahhh… haaahhh… Gak lote, sekarang kami orang-orang dari Thi eng pang terpaksa harus ikut serta didalam keramaian ini…!”

Sambil berkata pelan-pelan ia berjalan maju kedepan.
Sepi Banget euyy. Ramaikan kolom komentar dong gan supaya admin tetap semangat upload cersil :). Semenjak tahun 2021 udah gak ada lagi pembaca yang ninggalin opininya di kolom komentar :(