Lencana Pembunuh Naga Jilid 10

 
Jilid 10

Bayangan cambuk dengan dahsyatnya menyelimuti angkasa, bintang-bintang berwarna perak meluncur kesana kemari, angin pukulan yang menderu-deru menambah seramnya suasana, serangan tersebut betul-betul suatu kombinasi serangan yang maha hebat.

Karena kurang hati-hati, Thiat kiam kuncu terdesak hebat dan berulang kali harus mundur kebelakang.

Gak Lam kun yang berdiri disamping arena sambil mengatur nafas dan mengobati isi perutnya yang terluka dapat mengikuti jalannya penarungan itu dengan jelas ia menghela nafas panjang tak disangkanyanya kalau begitu banyak jago lihay yang terdapat dalam dunia persilatan ini, terutama Cian seng Kisu dari Thi eng pang tersebut, kehebatan ilmu silatnya sudah cukup baginya untuk menjadi pemimpin suatu perkumpulan besar.

Setelah didesak berulangkali oleh permainan cambuk Wan Kiam ciu sehingga berulangkali Hoa Kok khi harus menghadapi ancaman maut, lama kelamaan naik darah juga orang itu, sambil tertawa dingin dia lantas mengejek:

“Saudara Wan, ilmu silatmu memang luar biasa, maaf kalau siaute musti bertindak kurang ajar kepadamu”

Diantara berkelebatnya, bayangan cambuk serta bayangan telapak tangan, tiba-tiba ia menerobos maju kedepan sambil melancarkan sebuah babatan kilat.

Cian seng Kisu Wan Kiam ciu tidak mau unjukan kelemahannya, kaki kanannya segera maju setengah langkah, tubuhnya berputar kencang dan cambuknya disodok keatas membabat lengan lawan dengan jurus Ing hong toan cau (menyongsong angin memotong rumput).

Dengan memakai kaki kirinya sebagai poros Thiat kiam kuncu berputar secepat gangsingan, dia mundur beberapa depa, lalu sepasang telapak tangannya secara bergantian melancarkan pukulan dalam sekejap mata ia telah melepaskan empat buah pukulan, bahkan pukulan demi pukulan dikeluarkan dengan kekuatan yang makin hebat.

Sekuat tenaga Wan Kiam ciu memutar cambuknya nenciptakan setengah lingkaran bayangan perak setelah angin cambuk memunahkan empat buah pukulan lawan, dia berebut kedepan sambil melancarkan tiga buah serangan cambuk, sayang serangan tersebut semuanya berhasil dipukul balik oleh tenaga pukulan Hoa Kok khi.

Setelah pertarungan berlangsung beberapa jurus Cian seng kisu baru merasakan kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki Hoa Kok khi, jelas orang itu sudah berhasil menguasai rahasia utama dari ilmu Tay siu im khi yang maha dahsyat tersebut.

Buru-buru dia mengatur pernapasannya dan menyiapkan senjata untuk menghadapi segala kemungkinan tapi ia sendiri sama sekali tidak memulai dengan serangan baru.

Thiat kiam kuncu tertawa terbahak-bahak, sambil melompat mundur tiga langkah katanya:

“Saudara Wan, sekarang bukan waktu yang cocok bagi kita untuk beradu jiwa, bagaimana kalau kita sudahi pertarungan pada malam ini sampai disini saja?”

Tidak menunggu jawaban lagi, dia lantas putar badan dan berkata pula kepada Thian yu Cinjin:

“Thian yu to heng, mari kita pergi”

Kui to (si tosu setan) Thian yu Cinjin tertawa dingin.

“Malam ini sepasang mataku benar-benar terbuka lebar, aku baru tahu kalau tenaga dalam yang dimiliki Hoa heng jauh lebih sempurna dari apa yang pinto duga semula”

Thiat kiam Kuncu tertawa tergelak.

“Haaah… haah… sama-sama, sama-sama To heng pandai menyembunyikan kepandaian, kesempurnaanmu jauh lebih diluar dugaan orang”

“Saudara jangan pergi dulu!” tiba-tiba Kim eng thamcu Ki Li soat berseru “dengan memberanikan diri, pun thamcu minta petunjuk beberapa jurus ilmu pedangmu”

“Aaaa..! Ki thamcu terlalu sungkan, aku orang she Hoa dengan senang hati akan menyambut tantanganmu”

“Kenapa tidak kau loloskan senjatamu?” ejek Ki Li soat sambil tertawa dingin. Hoa Kok khi tersenyum.

“Kita toh cuma saling mengukur kepandaian, aku yakin nona Ki tidak akan merenggut nyawa aku orang she Hoa, maka lebih baik kugunakan sepasang telapak tanganku untuk menerima pedang nona”

Paras muka Ki Li soat berubah selapis hawa dingin menyelimuti wajahnya, pelan-pelan dia meloloskan sebilah pedang dari belakang punggungnya pedang itu tidak memancarkan sinar tajam atau cahaya berkilauan, karena senjata tersebut ternyata adalah sebilah pedang bambu.

Semua orang baru kaget setelah mengetahui bahwa pedang yang dipergunakan adalah sebilah pedang bambu yang tipis seperti lapisan pisau pikir orang-orang itu: “Tanpa memiliki tenaga dalam yang sempurna tak mungkin ia bisa mempergunakan lapisan bambu yang begini tipis sebagai senjata andalannya, wah… dia pasti seorang jago yang menakutkan!”

Gak Lam kun tahu kalau gadis tersebut adalah pemimpin para thamcu dalam perkumpulan Thi eng pang, ilmu silatnya pasti lihay sekali, tapi diapun tidak menyangka kalau tenaga dalamnya telah mencapai tingkatan yang dikatakan orang memetik daun melukai orang, menyentil kedelai menotok jalan darah orang.

Paras muka Tniat kiam kuncu Hoa Kok khi agak berubah pula, ia tahu senjata tersebut merupakan sebilah senjata yang mematikan, dia tak berani memandang enteng lagi, segenap perhatiannya dipusatkan menjadi satu untuk bersiap-siap melancarkan serangan.

Tiba-tiba pedang bambu ditangan kanan Ki Li soat yang lemas itu menegang keras, jari-jari tangan kirinya memegang gagang pedang dengan lembut sedang kaki kanannya diseret kearah kiri belakang lalu setelah memutar badannya dengan kepala masih menghadap kedepan ia berbisik:

“Maaf”

Pedang bambu itu pelan-pelan didorong kedepan dengan jurus Hui pau liu sian (air terjun mengalirkan sumber air) ujung pedangnya bergerak lambat kedepan dan menusuk dada kiri Hoa Kok khi.

Sepintas lalu gerakan ini tampak sangat indah ibaratnya bidadari yang sedang berjalan diatas awan akan tetapi dibalik gerakan yang sederhana dan tiada sesuatu yang istimewa itu justru tersimpan gerakan To coan im yang (memutar balikkan im yang) yang merupakan perubahan kedua dari gerakan tersebut, asal musuh menghindari serangan pertama, maka dari gerakan menusuk, pedang itu akan berubah menjadi gerakan sapuan yang menyusul kedepan menyambar tubuh bagian tengah.

Sewaktu serangan kedua ini menyusul kedepan dengan membabat bagian tengah tubuh, maka gerakannya dari lambat akan berubah menjadi cepat, sedemikian cepatnya sehingga tak mungkin bagi musuhnya untuk menghindarkan diri.

Boleh dibilang jurus serangan itu merupakan dua jurus berantai yang maha lihay.

Selapis rasa tegang dan serius menghiasi wajah Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi, tapi ia tidak menghindari serangan tersebut, telapak tangan kirinya segera diayun kedepan menahan gerakan pedang itu sementara telapak tangan kanannya dengan jurus Ci kou thian bun (menyembah langsung pintu langit) membacok batok kepala musuh.

Dibalik serangannya itu dia sertakan pula segulung tenaga dingin yang menusuk tulang, sedemikian dingin dan tajamnya hawa serangan itu, membuat orang akan bergidik rasanya.

Mendadak bentakan nyaring menggelegar diudara, telapak tangan kiri Ki Li soat meluncur kedepan, sementara pedang bambu ditangan kanannya berubah gerakan.

“Breeet…” Diiringi suara tertawa nyaring, seperti bayangan setan dalam angin dingin Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi telah mundur tujuh langkah, ketika ia menundukkan kepalanya tampak ujung baju pada pergelangan tangan kanannya telah robek besar.

“Lihay, lihay, betul-betul sangat lihay” serunya sambil tertawa “ilmu pedang nona Ki memang sungguh luar biasa sekali, sayang dalam dua jurus pedang kebanyakan sebuah pukulan, bila ada jodoh aku orang she Hoa pasti akan mohon petunjukmu lagi, sekarang terpaksa aku mohon diri lebih dulu.

Gak Lam kun yang mengikuti jalannya pertarungan diam-diam menghela napas, ternyata didalam melancarkan serangannya tadi Ki Li soat memang telah kelebihan sebuah pukulan.

Meskipun sekilas pandangan gadis itu berhasil menangkan pertarungan, tapi ia justru telah mengingkari perkataannya sendiri yakni dua pedang kelebihan satu pukulan.

Sesungguhnya hal ini terpaksa dia lakukan karena pukulan Hoa kok khi yang terlampau lihay hal tersebut memaksanya harus menggunakan pukulan untuk memusnahkan bahaya, jadi dengan demikian menurut peraturan dunia persilatan hasil pertarungan itu adalah seri alias sama kuat.

Walaupun kedua orang itu melangsungkan pertarungan dengan gerakan cepat tapi dari serangan-serangan itu bisa diketahui pula sampai dimanakah sempurnanya ilmu silat mereka serta kecerdasan dan daya refleknya.

Ki Li soat masih berdiri ditempat semula dengan wajah sedingin es, sedikitpun tanpa emosi.

Thiat kiam kuncu Hoa kok khi berpaling kepada Gak Lam kun kemudian ujarnya sambil tersenyum:

“Gak lote, maaf sekali, kau telah terkena pukulan Tay siu im khi ku, bila kau bersedia bertukar syarat denganku, besok tengah hari silahkan kau menantikan kedatanganku disini”

Selesai berkata sambil tertawa ringan ia dan Thian yu Cinjin berlalu dari situ.

Air muka Gak Lam kun yang sesungguhnya merah dadu, kini telah berubah menjadi pucat pasi, matanya setengah terpejam dan mimik wajahnya secara lamat-lamat menunjukkan kesakitan yang luar biasa.

Ki Li soat masukan kembali pedangnya kedalam sarung, pelan-pelan ia maju menghampiri si anak muda itu.

Mendadak Gak Lam kun membuka matanya, dengan sinar mata tajam ditatapnya wajah Ki Li soat sekejap, kemudian setelah tertawa hambar ia memejamkan kembali matanya.

Sekalipun hanya pandangan sekejap, namun sepasang sinar matanya yang tajam bagaikan aliran listrik bertegangan tinggi telah menembusi dasar hati Ki Li soat.

Secara tiba-tiba saja sepasang keningnya berkerut, wajahnya menunjukkan kekesalan dan sedih, sambil menatap wajah Gak Lam kun ia berdiri termangu… Waktupun berjalan lewat ditengah keheningan.

Tiba-tiba Gak Lam kun membuka kembali matanya, sekulum senyuman tersungging diatas wajahnya yang pucat, sambil menyeka keringat dengan ujung bajunya ia berkata:

“Nona Ki, aku orang she Gak akan mengingat selalu budi pertolonganmu kepadaku, kini aku telah terkena pukulan Tay siu im khi dari Hoa Kok khi, hawa racun telah menyusup ketubuhku dan menyerang isi perutku, kini Sam yang, sam im dan sam meh ku sudah terluka oleh hawa dingin beracun tersebut, dengan keadaan seperti ini aku tahu kalau usiaku tak akan melewati tujuh hari, aku mati bukan urusan, tapi ada satu persoalan membuatku menjadi tidak tenang yakni tempo hari aku tak sanggup menyelamatkan jiwa saudara Si Tiong pek”

ooooooOoooooo

Menyinggung kembali soal Si Tiong pek, Ki Li soat merasakan hatinya bergetar keras ia menghela, nafas panjang.

“Mati hidup manusia ada ditangan Thian, mengenai persoalan komandan pasukan Thiat eng tui kami, aku harap kau tak usah selalu memikirkannya dihati, yang penting sekarang adalah luka yang diderita Gak siangkong! Bila kau bersedia, mungkin pangcu kami masih sanggup untuk mengobati lukamu itu”

Gak Lam kun tersenyum.

“Ilmu silat nona Ki sangat tinggi, tentunya kaupun tahu bahwa Tay siu im khi adalah semacam pukulan hawa beracun yang dilancarkan keluar dalam sebuah pukulan tenaga murni tingkat tinggi, dengan meminjam hawa pukulan itulah sari racun dipaksakan masuk kedalam urat nadi…”

Ki Li soat tertegun setelah mendengar perkataan itu, tanpa terasa tanyanya dengan sedih:

“Apakah lukamu itu tak mungkin bisa diobati?”

Menyaksikan sikapnya yang begitu menaruh perhatian, sekulum senyuman penuh rasa terima kasih kembali menghiasi wajah yang pucat, sorot matanya berkilat, katanya:

“Seandainya barusan ada orang membantuku untuk menembusi Sam im dan Lak meh ku, setelah beristirahat beberapa hari lukaku itu pasti akan sembuh dengan sendirinya, tapi sekarang sudah terlalu lambat untuk dikatakan lagi…”

Berkaca-kaca sepasang mata Ki Li soat setelah mendengar perkataan itu mungkin karena ikut cemas dan gelisah atas keadaan lukanya, tanpa disadari airmata bercucuran.

Gak Lam kun terharu sekali, ia semakin merasa bahwa gadis itu adalah seorang gadis cantik yang baik hati, penuh belas kasihan dan berhati polos. Ini bisa dibuktikan dari sikapnya barusan, tanpa hubungan persahabatan diantara mereka bahkan malah berada dalam posisi saling bermusuhan, ternyata ia menaruh simpatik kepadanya, dari sini bisa diketahui bahwa hatinya memang benar-benar polos. Selang sejenak kemudian, Ki Li soat menghela napas dan berkata sambil tertawa:

“Sebelum pergi Hoa Kok khi toh sudah meninggalkan pesan, aku rasa dia pasti mempunyai cara penyembuhan…”

“Nona Ki, dugaanmu memang tak salah dia memang mempunyai cara penyembuhan atas luka tersebut” kata Cian seng Kisu Wan Kiam ciu sambil tertawa dingin “tapi syarat yang dia ajukan pasti akan jauh lebih berharga daripada nilai selembar nyawa”

“Sekalipun tanpa pertukaran syarat tak nanti akan kuterima bantuan pengobatannya” tukas Gak Lam kun sambil tertawa ewa “Nona Ki silahkan kalian berlalu!”

Sehabis berkata dia lantas memberi hormat dan berlalu dari situ dengan langkah lebar.

Dengan termangu-mangu Ki Li soat mengawasi bayangan punggungnya hingga lenyap dibalik kegelapan, titik airmata tanpa terasa jatuh berlinang membasahi pipinya.

Dia sendiripun tidak tahu apa sebabnya begitu menaruh simpatik kepadanya diapun tak tahu mengapa ia harus mencucurkan airmata kepedihan baginya.

“Nona Ki!” Wan kiam Cu berkata nyaring “aku lihat asal usul orang ini amat mencurigakan kenapa kita lepaskan dengan begitu saja?”

“Wan thamcu, tahukan kau murid siapa dia?”

Setelah berhenti sebentar dan menghela nafas lanjutnya:

“Orang itu bukan lain adalah ahli waris dari Tok liong cuncu Yo long yang namanya tersohor dalam dunia persilatan”

Sekilas rasa kaget dan tercengang menghiasi wajah Cian seng Kisu Wan Kiam ciu. “Nona Ki, kalau begitu mari kita susul dia dan membunuhnya”

“Wan thamcu masa kau tidak tahu bila perkumpulan kita ada maksud membinasakan orang ini, semalam ayah angkatku telah turun tangan keji kepadanya” kata Ki Li soat dengan dingin “sekarang aku ingin bertanya kepadamu pula, Tok Liong cuncu Yo Long sesungguhnya masih hidup atau sudah mati? Tahukah kau?”

“Menurut pengakuan dari Ou Yong hu, Yo Long telah terjatuh kedalam jurang Yan po gan dibukit Hoa san, sudah tentu sembilan puluh persen tak mungkin bisa hidup”

“Kalau Yo Long masih hidup kita tak usah mengikat seorang musuh tangguh dengannya, kalau sudah mati tentu saja kita lebih-lebih tak usah membunuh orang she Gak itu”

Cian seng Kisu Wan Kiam ciu tidak mengerti maksud dari ucapannya itu dia lantas bertanya:

“Nona Ki, apa maksud perkataanmu itu?” Sambil tertawa Ki Li soat berkata: “Teka teki sekitar mati hidupnya Yo Long masih merupakan sebuah tanda tanya besar bagi setiap umat persilatan, sekarang kita ambil contoh seandainya Yo Long telah tiada, lantas siapakah yang akan mewakilinya untuk menerima Lencana pembunuh naga dari Soat san thian li? Apalagi jika kita binasakan Gak Lam kun, bukankah tindakan kita ini sama artinya dengan membantu pihak See Thian san pay untuk mengangkangi Lencana pembunuh naga tersebut? Pangcu telah berpesan kepadaku, bila berjumpa lagi dengan Gak Lam kun kita musti berusaha untuk membaikinya mengikat tali persahabatan dengannya, bahkan bila perlu memanjakan agar dia bersedia kita gunakan, atau paling tidak jangan membuat dia memusuhi kita.”

“Berbicara dari kekuatan yang hadir dipulau ini sekarang, boleh dibilang hanya Thi eng pang kita dengan perguruan panah bercinta saja yang memiliki kekuatan paling besar, sekalipun ilmu silat pangcu amat lihay, tapi kepandaian dari Lam hay sin ni juga lihay sekali, kalau Gak Lam kun sampai ditarik oleh pihak perguruan panah bercinta, kejadian ini bagi perkumpulan kita boleh dikatakan sebagai suatu kerugian yang sangat besar sekali”

Cian seng kisu Wan Kiam ciu manggut-manggut.

“Nona Ki benar-benar burung hong diantara manusia, pendapatmu memang hebat sekali!”

Ki Li soat gelengkan kepalanya berulangkali, setelah menghela napas panjang, ujarnya lebih jauh.

“Gak Lam kun adalah seorang pemuda yang tinggi hati dan berwatak keras kepala selamanya ia selalu luntang lantung seorang diri tampaknya agak sulit untuk merangkulnya agar memihak kepada perkumpulan kita padahal jago lihay yang dewasa ini berkumpul disini sudah tak terhitung jumlahnya boleh dibilang belum pernah terjadi kejadian semacam ini selama beratus tahun dalam dunia persilatan, aaai… jika sampai terjadi bentrokan langsung, pastilah sudah banyak korban yang akan berjatuhan, akibatnya dunia persilatan akan menjadi lemah sekali!”

“Nona Ki!” ujar Cian seng Kisu dengan cepat “buat apa kau merisaukan persoalan itu? Kini ibaratnya airpun susah dibendung, terpaksa kita harus mengembangkannya sesuai dengan rencana yang telah digariskan.”

Dengan sepasang mata yang tajam Ki Li soat menatap wajah Wan Kiam ciu lekat-lekat, kemudian iapun menghela nafas panjang.

“Wan thamcu, memang ada baiknya kalau kita segera berangkat pulang untuk melaporkan dulu kejadian ini kepada pangcu.”

Selesai berkata dua orang itupun pelan-pelan berlalu dari situ dibawah timpaan sinar matahari pagi.

ooooooOoooooo

Dengan menelusuri bukit tebing yang mengitari sekeliling bangunan gedung itu Gak Lam kun bergerak menuju ketimur. Ia cukup menyadari, ilmu Tay siu im khi yang bersarang ditubuhnya akibat serangan dari Thiat kiam kuncu amat parah sekali, kepandaian tersebut merupakan sejenis ilmu pukulan beracun Im tok sin kang dari aliran perguruan Pek kut bun, para korban kecuali mendapat pengobatan langsung dari pemukulnya boleh dibilang tiada pertolongan lain kecuali jalan kematian.

Sekalipun demikian, untuk memperoleh pengobatan khusus dari pihak Pek kut bun itupun tak bisa melampaui batas waktu selama sembilan jam, maka Thiat kiam Kuncu berjanji kepadanya untuk bertemu pada tengah hari nanti, tentu saja bila syarat yang diajukan dapat diterima, racun itu baru akan disembuhkan dengan suatu cara pengobatan khusus.

Tentu saja Thiat kiam Kuncu mengajukan pertukaran syarat hanya merupakan sebuah usul belaka, tapi Gak Lam kun yang keras kepala dan tinggi hati telah mengambil keputusan untuk tidak menundukkan kepala apalagi minta ampun dari musuh besarnya, ia lebih rela mati secara mengerikan tujuh hari kemudian akibat bekerjanya racun keji itu daripada takluk dan menyerah kepada lawan.

Teringat soal kematian tiba-tiba saja Gak Lam kun merasakan pikiran maupun perasaannya menjadi begitu kosong dan hampa.

Mati! Tentu saja ia tidak takut, sewaktu masih kecil dulu ia teringat kembali akan si kakek yang patut dikasihani, serta teringat juga bahwa tugas yang dibebankan diatas pundaknya hingga kini belum terselesaikan, padahal tak lama kemudian ia harus berpisah dari dunia ini, rasa sedih seketika menyelimuti seluruh perasaannya, ia berusaha menahan lelehan airmatanya, tapi toh akhirnya butiran airmata mengalir juga membasahi pipinya.

Dibalik butiran-butiran airmatanya itu entah terselip berapa banyak perasaan yang beraneka ragam yang bercampur aduk menjadi satu…

Budi dan dendam belum terselesaikan…

Ciang ping, kekasihnya telah menitipkan adik lelakinya kepada dia untuk dirawat… Semua kesedihan, kegembiraan, pahit getir dan aneka ragam penderitaan lain yang

dialami selama ini, sebentar lagi akan berpisah untuk selamanya… Aaaai!

Dengan amat pedihnya Gak Lam kun menghela nafas panjang, ia tahu masalah tersebut dengan perasaan apa boleh buat terpaksa harus ditinggalkan dengan begitu saja tujuh hari kemudian.

Dewasa ini yang bisa ia lakukan hanya berusaha keras untuk mengendalikan diri agar luka didalam nadinya tak sampai kambuh, dalam tujuh hari yang amat singkat ini, masih banyak urusan yang harus ia selesaikan, paling tidak seorang musuh besar harus dibunuh, bila masih sempat diapun harus menyambut kedatangan Lencana pembunuh naga, lalu mencari seorang sahabat yang dapat dipercaya menitipkan Ji Kiu liong adik kekasihnya agar dirawat serta melimpahkan tanggung jawab yang sangat berat ini kepada orang lain, dengan begitu dia baru bisa mati dengan tenang tanpa harus risau oleh masalah lain. Teringat sampai masalah yang terakhir itu tiba-tiba terlintas bayangan dari Bwe Li pek dihadapan mata Gak Lam kun, ia merasa hanya dialah satu-satunya orang yang bisa memikul tanggung jawab berat ini.

Gak Lam kun mendongakkan kepalanya menentukan arah tujuan, lalu ia percepat langkahnya menuju kedepan sana.

Buncu dari perguruan panah bercinta telah berjanji dengannya untuk bertemu pada kentongan kelima, dimana dia hendak mengembalikan pedang Giok siang kiam tersebut kepadanya, kini kentongan kelima, sudah lewat, sinar fajar telah memancar kemana- mana, dalam gelisahnya Gak Lam kun segera mengerahkan segenap tenaga ilmu meringankan tubuhnya untuk bergerak menuju kegedung sebelah tenggara.

Mendadak…

Dari balik kabut pagi yang tipis dan remang-remang, ia menyaksikan sesosok bayangan manusia berbaju hitam yang kurus kecil sedang berjalan mendatangi dari arah tenggara.

Sekalipun tubuh Gak Lam kun sudah terluka oleh pukulan Tay siu im khi, bukan berarti ilmu silatnya telah punah, dalam sekali lirikan saja ia telah mengetahui bahwa orang itu bukan lain adalah Thamcu panji hitam dari perkumpulan Thi eng pang Tang hay coa siu (kakek ular dari lautan timur) Ou Yong hu.

Pertemuan yang tidak terduga ini segera menimbulkan hawa napsu membunuh yang tebal didalam benak Gak Lam kun.

Dengan cepat ia menghentikan langkah tubuhnya, sementara Kakek ular dari lautan timur Ou Yong hu rupanya masih belum tahu kalau orang yang berada dihadapannya adalah Gak Lam kun, pelan-pelan ia berjalan menghampirinya.

Kurang lebih tiga empat kaki kemudian, Kakek ular dari lautan timur baru mendongakkan kepalanya, begitu menjumpai Gak Lam kun berada dihadapannya, kontan saja paras mukanya berubah hebat, ia menjadi tertegun dan berdiri mematung disana, untuk sesaat tidak diketahui olehnya apa yang musti dilakukan?

Gak Lam kun tertawa dingin dengan seramnya dengan suatu gerakan cepat sepasang tangannya bekerja keras melepaskan jubah luarnya yang berwarna hijau pupus itu sehingga tampak jubah naganya yang berwarna kuning keemas-emasan.

Menyusul kemudian wajahnya yang ganteng ditutup pula oleh selembar topeng berbentuk naga, tangannya mengenakan cakar naga perenggut nyawa dan sekejap mata kemudian, Gak Lam kun telah berubah menjadi Tok liong Cuncu Yo Long yang nama besarnya pernah menggetarkan perasaan banyak orang dimasa lalu.

Tak terlukiskan rasa panik, takut dan ngeri yang berkecamuk dalam perasaan si Kakek ular dari lautan timur Ou Yong hu dewasa ini, bayangan kematian sudah mulai menghantui pikiran maupun perasaannya, utusan pencabut nyawa yang setiap hari ditakuti dan dirisaukan, akhirnya muncul juga dihadapan mukanya.

“Heeehhh… heeehhh… heeehhh…” Kakek ular dari lautan timur Ou Yong hu memperdengarkan suara tertawa seramnya yang rendah dan berat, suara tertawanya itu diperdengarkan berulangkali dengan maksud untuk menutupi rasa ngeri, panik dan takut yang hampir menguasai seluruh pikiran maupun perasaannya itu.

Lama, lama sekali, pelan-pelan ia baru berkata:

“Ternyata dugaan lohu tidak keliru, rupanya Tok liong Cuncu yang belakangan ini muncul dalam dunia persilatan tidak lain adalah hasil penyaruan dari Gak sauhiap!”

Gak Lam kun mendengus dingin dan memperdengarkan ilmu Liong gin heng (dengusan naga sakti) nya, kemudian dengan nada menyeramkan ia berkata:

“Ou Yong hu! Kalau engkau sudah tahu, itu lebih bagus lagi kau sudah berhutang selama hampir delapan belas tahun lamanya atas hutang berdarah diatas tebing Yan po gan aku pikir ada baiknya kalau hutang tersebut kau bayar secepatnya”

Mendengar perkataan itu, kembali si kakek ular dari lautan timur Ou Yong hu merasakan jantungnya berdenyut keras, sekalipun ia sudah menduga bahwa Gak Lam kun bakal mengucapkan kata-kata tersebut kehadapannya tapi setelah kedengaran dalam telinganya sekarang, tak urung menimbulkan juga perasaan ngeri, seram dan takut dalam hatinya.

Sekuat tenaga Ou Yong hu berusaha menenangkan hatinya, lalu sambil tertawa seram katanya:

“Gak sauhiap, bila kau membinasakan aku maka sahabat cilikmu itupun tidak akan hidup lebih jauh!”

Sekali lagi Gak Lam kun mendengus dingin.

“Hmm…! Seandainya kau Ou Yong hu benar-benar sanggup menyembuhkan luka beracun yang diderita Ji Kiu liong, tentu saja aku orang she Gak akan memenuhi janji dengan mengampuni selembar jiwamu, sayangnya Kwik To telah menyerahkan Ji Kiu liong kepada Buncu dari perguruan panah bercinta? Semua kejadian itu telah kuikuti semua dengan mata kepala sendiri, maka sekarangpun kau tak usah banyak bersilat lidah, lebih baik siapkanlah kekuatan untuk bertarung melawan setan pencabut nyawamu nanti”

Setelah mendengar ucapan tersebut, si Kakek ular dari lautan timur Ou Yong hu baru merasa amat terperanjat, mimpipun ia tak menyangka kalau semua kejadian tersebut telah diikuti semua oleh Gak Lam kun dengan mata kepala sendiri.

Mendadak… Ou Yong hu memutar badannya dan siap kabur dari situ.

Kalau dia bisa bergerak cepat, ternyata gerakan tubuh Gak Lam kun jauh lebih cepat lagi, seperti sesosok bayangan setan, tahu-tahu dia sudah berkelebat kehadapan mukanya.

Tak terlukiskan rasa ngeri dan kaget Ou Yong hu, tongkat berkepala ularnya segera disodok kedepan dengan jurus Tok coa toh sim (ular beracun menjulurkan lidah).

Namun serangan tersebut ternyata hanya sebuah serangan tipuan, begitu serangan sudah dilepaskan, tongkat itu cepat ditarik kembali, sementara tubuhnya lantas melejit keudara dan berusaha keras kabur dari tempat itu. Dengan sinis dan penuh penghinaan Gak Lam kun mendengus dingin.

“Hmm…! Kauanggap bisa kabur dari cengkeramanku?” ejeknya dengan suara menyeramkan.

Secepat sambaran kilat telapak tangan kirinya ditabok kemuka, segulung angin taufan yang maha dahsyat langsung menerjang kearah punggung Ou Yong hu.

Rupanya si kakek ular dari lautan timur ini cukup tahu akan kehebatan serangan tersebut, buru-buru ia mengerahkan ilmu bobot seribu untuk meluncur turun keatas permukaan tanah.

Segulung desingan angin tajam kembali menyambar lewat, tahu-tahu kelima jari tangan Gak Lam kun yang memakai cakaran naga yang tajam itu sudah menusuk jalan darah Tay meh, Giok ki, Wi to, Im tok serta Tay ho lima buah jalan darah penting.

Sesungguhnya si Kakek ular dari lautan timur Ou Yong hu adalah seorang ahli silat yang memiliki ilmu meringankan tubuh yang cukup sempurna, tapi karena panik dan ketakutan, ini mengakibatkan tenaga dalamnya tak bisa dihimpun sebagaimana mustinya.

Tapi sekarang, setelah ia sadar bahwa sulit baginya untuk lolos dalam keadaan selamat, jagoan dari Thi eng pang ini segera membulatkan tekadnya untuk beradu jiwa, menghadapi saat-saat kritis yang mengancam keselamatan jiwanya, tiba-tiba saja ia kerahkan segenap tenaga dalam yang dilatihnya selama puluhan tahun ini untuk melepaskan sebuah serangan kilat.

Toya ditangan kanannya diputar sedemikian rupa oleh Ou Yong hu untuk melindungi seluruh tubuhnya, sedangkan telapak tangan kirinya dengan menghimpun segenap tenaga yang dimilikinya melepaskan sebuah bacokan kilat kedepan.

Serangan tersebut telah disertakan segenap kekuatan yang dimilikinya bisa dibayangkan betapa dahsyatnya ancaman tersebut.

Terasalah desingan angin tajam menderu-deru bagaikan amukan gelombang samudra yang dipermainkan oleh angin puyuh, serangan tersebut langsung menerjang tubuh Gak Lam kun.

Menghadapi ancaman seperti itu. Gak Lam kun mendengus dingin, tiba-tiba telapak tangan kanannya mengerahkan ilmu Tok liong ci jiau (cakar maut naga beracun), hawa sakti segera memancar keluar dan menyelimuti seluruh udara.

“Blaaang..!” suatu bentakan dahsyat yang memekikkan telinga tak dapat dihindari lagi.

Ou Yong hu mendengus tertahan secara beruntun ia mundur sejauh tujuh delapan langkah dengan sempoyongan.

Paras mukanya segera berubah menjadi pucat pasi seperti mayat kulit wajahnya mengejang keras menunjukkan lekukan-lekukan garis yang penuh penderitaan, toya kepala ular ditangan kanannya telah ditancapkan keatas tanah, dengan sekuat tenaga ia berusaha mempertahankan keseimbangan tubuhnya, sementara dari balik sorot matanya memancar keluar sinar buas yang penuh dengan rasa benci dan dendam yang sangat mendalam.

Gak Lam kun mendengus dingin, paras mukanya dibalik topeng naga yang mengerikan memancarkan keseraman dan sama sekali tanpa luapan emosi, sedangkan sepasang matanya memancarkan sinar tajam yang dingin dan mengandung arti yang sukar dipahami.

Selangkah demi selangkah ia berjalan semakin kedepan dan mendekati diri Ou Yong hu.

Mendadak!

Serentetan jeritan aneh yang tinggi melengking dan memekikkan telinga berkumandang diudara, serta mencabik-cabik keheningan malam yang mencekam seluruh jagad.

Raut wajah Ou Yong hu berkerut semakin kencang, mendadak terjadi perubahan hebat, pelan-pelan suatu hawa membunuh yang keji, mengerikan dan buas menyelimuti seluruh wajahnya.

Tubuhnya secara lurus menerjang ketubuh Gak Lam kun, dari tongkat kepala ular yang berada ditangan kanannya tiba-tiba memancar keluar serentetan sinar hijau berupa cairan racun yang baunya luar biasa amis dan busuk…

Inilah kepandaian beracun yang merupakan ilmu andalan Ou Yong hu, kiranya pada ujung toya berkepala ular itu sesungguhnya berupa ruang kosong, didalam rongga kosong tadi disimpanlah cairan bisa dari seribu ekor ular yang paling berbisa.

Ketika ia sudah menyambut serangan Tok liong ci jiau dari Gak Lam kun tadi, sekalipun hawa murninya mengalami kerusakan besar, namun kerugian tadi tak sampai diperlihatkan diatas wajahnya, agar pihak lawan tidak mengetahui sampai dimanakah sesungguhnya luka yang ia derita.

Sebab ia cukup tahu dengan segala kekuatan yang dimilikinya sekarang, ia sadar kekuatan tubuhnga masih belum sanggup untuk menangkan Gak Lam kun, satu-satunya kemungkinan baginya untuk mempertahankan hidup adalah menyemburkan cairan racun diujung toya berkepala ularnya secara tiba-tiba dan diluar dugaan.

Asal Gak Lam kun terkena sedikit saja dari racun jahat itu, dalam waktu singkat sekujur tubuhnya akan membusuk yang mengakibatkan dia akan mati secara mengerikan.

Oleh karena itu, ketika raut wajah Ou Yong hu sedang berkerut kencang tadi, secara diam-diam ia menghimpun segenap tenaga dalam yang dimilikinya untuk dihimpun keujung toyanya dan mendesak cairan racun agar berkumpul menjadi satu dikepala ular.

Menanti Gak Lam kun sudah berada satu tombak dari jaraknya, serangan kilatpun segera dilancarkan.

Sesungguhnya dengan serangan mautnya itu, si Kakek ular dari lautan timur Ou Yong hu mempunyai kesempatan untuk berhasil sampai sembilan puluh persen, sayang ia lupa akan sesuatu, dia lupa kalau Tok liong cuncu Yo Long telah mengetahui akan ilmu kepandaian andalannya itu. Didalam catatan Ciu jin liok (catatan musuh besar) dengan amat jelas Yo Long telah menerangkan ilmu andalan dari Ou Yong hu itu, sementara Gak Lam kun sendiripun telah menduga bahwa disaat menjelang kematiannya ia pasti akan mengerahkan sisa kekuatan yang dimilikinya untuk memancarkan cairan racun dalam tongkat kepala ular itu.

Maka disaat Ou Yong hu menerjang maju kedepan, serentetan suara pekikan nyaring segera berkumandang menjulang hingga keangkasa…

Tiba-tiba saja tubuh Gak Lam kun berputar bagaikan sebuah gangsingan, dengan suatu gerakan yang sangat lincah sekali dan diluar dugaan tahu-tahu ia sudah berhasil meloloskan diri dari sergapan maut itu.

Gak Lam kun tidak berhenti sampai disitu saja, kelima jari tangan kanannya segera dipentangkan lebar-lebar, begitu disentil dan digetarkan maka meluncurlah lima jalur tenaga serangan yang tajam yang langsung menerjarg kesisi kanan Ou Yong hu.

Dengan sempoyongan sekali lagi Ou Yong hu terpental sejauh dua kaki lebih dari tempat semula.

Ditinjau dari sekujur badannya yang gemetar keras serta goncangan dari toya ditangan kanannya, hal ini segera membuktikan bahwa ia betul-betul sudah lemas dan kehabisan tenaga sehingga kekuatan untuk berdiri tegakpun sudah tidak dimiliki lagi.

Pelan-pelan Ou Yong hu memalingkan kepalanya, ujung bibirnya bergetar lirih melontarkan serentetan ucapan yang sangat lemah dan pelan:

“Orang she Gak, cepatlah turun tangan untuk membunuh diriku!”

Tiba-tiba Gak Lam kun mendongakkan kepalanya lalu tertawa terbahak-bahak, suara tertawanya amat keras bagaikan lolongan srigala, begitu tajam dan mengerikan membuat siapapun yang mendengarkan merasakan bulu kuduknya pada bangun berdiri.

Tiba-tiba ia berhenti tertawa, serentetan sinar mata setajam sembilu memancar keluar dari balik matanya dengan nada sinis dan penuh penghinaan ia berseru:

“Heeeh… heeeh… heeeh… sebelum menerima siksaan yang paling kejam, kau sudah pingin minta ampun? Sebagai seorang enghiong ho han, berani berbuat berani pula menanggung resikonya, guruku sudah menderita siksaan dan penderitaan selama hampir lima belas tahun akibat ulah serta kekejaman kalian semua, apakah kau tidak sanggup untuk menerima sedikit siksaan dan penderitaan menjelang saat kematianmu tiba…?”

Sambil berkata, pelan-pelan Gak Lam kun bergerak maju kedepan, tangan kirinya dengan cepat mencengkeram urat nadi pada pergelangan tangan kanan Ou Yong hu hal ini menyebabkan si kakek ular dari lautan timur tidak memiliki kekuatan lagi untuk melakukan perlawanan.

Cakar naga yang dikenakan ditangan kiri Gak Lam kun telah membesi dalam urat nadi pada pergelangan tangan kanan Ou Yong hu, darah segar telah mengucur keluar dengan derasnya, raut wajahnya yang semula telah memucat kini berubah kian memucat lagi.

“Sreeet..! Breeet..!” Kelima jari tangan kanan Gak Lam kun yang bercakar naga telah membesi pula kelima buah jalan darah penting didadanya, lima gulung hawa murni segera bocor keluar mengikuti kelima buah lubang luka tersebut.

Entah bagaimana kemudian secara tiba-tiba saja Ou Yong hu memperdengarkan jeritan lengkingnya macam seekor babi yang disembelih.

Butiran keringat sebesar kacang kedelai telah mengucur keluar melalui sepasang pori- pori tubuhnya, sepasang biji matanya telah melotot keluar, bibirnya melebar dan wajahnya menyeringai seram, hal ini menyebabkan raut wajahnya berubah menjadi begitu seram, begitu jelek, mengerikan dan tak sedap dipandang.

Gak Lam kun tertawa dingin cakar naga tangan kanannya tiba-tiba diangkat keatas lalu ditusuk kearah sepasang mata Ou Yong hu dengan suatu kecepatan yang luar biasa.

Jeritan ngeri yang menyayat hati kembali berkumandang memecahkan kesunyian sepasang biji mata Ou Yong hu telah tercukil keluar, darah kental mengucur keluar membasahi seluruh pakaiannya.

Tapi urat-urat yang menghubungkan biji mata dengan kelopak matanya belum putus, sementara jari-jari tangannya masih mengorek diantara kelopak matanya yang kosong dsn penuh berlepotan darah itu.

Suatu pemandangan yang mengerikan sekali, bayangkan saja andaikata cakar naga yang begitu tajam mengorek-ngorek diantara kelopak mata yang kosong dengan urat syaraf yang sama sekali belum putus.

Ou Yong hu memperdengarkan jeritan lengking yang menyayatkan hati, sambil menggigit bibir menahan rasa sakit ia menjerit-jerit seperti orang kalap:

“Orang she Gak… kau teramat keji… kau kejam sekali…”

Mendadak kelima jari tangan Gak Lam kun beralih kemulut Ou Yong hu, menyusul kemudian pancaran darah kental segera menyembur keluar dari mulutnya itu.

Ketika tangan kanan Gak Lam kun ditarik keluar, maka diantara jepitan jari tangannya telah bertambah dengan sebuah lidah yang penuh berlepotan darah.

Sekarang Ou Yong hu sudah tak sanggup berteriak minta tolong atau mohon ampun lagi, jeritan-jeritan sakitnya hanya kedengaran seperti raungan parau yang tak sedap didengar, bahkan setiap kali ia berteriak, darah kental ikut pula menyembur keluar.

Tampaknya rasa dendam dan hawa amarah yang berkobar didalam dada Gak Lam kun belum juga berakhir, cakar naga ditangan kanannya seperti kalap mencakar, menarik, membetot dan merobek sekujur tubuh Ou Yong hu secara keji.

Setiap kali melancarkan cengkeraman, lima buah mulut luka yang sangat dalam segera muncul diatas tubuhnya begitu dalam cengkeramannya itu sehingga tulang putih pun sampai terlihat sekejap mata kemudian darah kental telah membasahi seluruh tubuhnya. Puluhan kali cakaran kemudian seluruh badan Ou Yong hu dari atas kebawah sudah tiada yang utuh lagi darah kental telah membasahi seluruh tubuhnya waktu itulah Gak Lam kun baru menghentikan cara penganiayaannya yang brutal kejam dan tak kenal perikemanusiaan itu.

Pelan-pelan topeng naganya dilepaskan cakar naga perenggut nyawa dicopot dan iapun mengenakan kembali jubah hijaunya.

Sinar matanya yang dingin menyeramkan dialihkan sekejap keatas wajah Ou Yong hu yang masih mengejang keras dan berguling kian kemari sambil melolong ngeri itu.

Mukanya sama sekali tanpa emosi, air mukanya yang dingin dan ketus sedikitpun tidak memancarkan rasa kasihan atau iba hati.

Dengan tenang diperhatikan sekejap keadaan Ou Yong hu yang tersiksa dan amat menderita menjelang saat ajalnya, lalu tanpa mengucapkan sepatah katapun pergi meninggalkan lawannya yang sekarat dan menjelang tibanya sakratul maut.

Menanti bayangan punggung si anak muda itu sudah jauh meninggalkan tempat itu, dari balik semak belukar baru muncul dua buah batok kepala manusia, menyusul kemudian berdirilah dua orang jago persilatan.

Dengan langkah tubuh yang sangat berhati-hati mereka menghampiri kesisi tubuh Ou Yong hu, sedangkan perasaan hatinya anat tidak tenteram, denyut nadinya terasa berdetak lebih cepat daripada keadaan semula.

Keadaan Ou Yong hu yang seram dan mengerikan benar-benar sangat mengejutkan perasaan kedua orang itu.

Mau tak mau mereka harus bersiap sedia pula sebab pembalasan yang begitu brutal dan mengerikan itu tak lama kemudian akan menimpa pula mereka berdua.

Akhirnya tubuh Ou Yong hu yang berguling-guling berhenti juga, tapi seluruh badannya masih mengejang keras karena kesakitan, gemetar keras membuat badannya seperti bergelombang, rintihan parau yang tak sedap didengarpun mendesis tiada hentinya dari balik bibirnya yang telah tak berlidah itu.

Darah kental meleleh keluar segumpal demi segumpal, keadaan semacam itu betul betul mengerikan sekali dan mendirikan bulu kuduk siapapun yang melihatnya.

Kakek gemuk pendek yang ada disebelah kiri itu tiba-tiba berbisik lirih:

“Saudara Kongsun, coba kau lihat cara bajingan itu membunuh orang betul betul amat brutal, kejam dan tak mengenal peri kemanusiaan”

Kiu wi hou (rase berekor sembilan) Kongsun Po yang bermuka licik dan penuh dengan segala tipu muslihat itu mendehem beberapa kali, kemudian baru sahutnya:

“Say heng bagaimanapun juga kita harus berusaha untuk melenyapkan orang ini dari muka bumi!” “Tapi… dengan kekuatan kita berdua aku rasa masih belum sanggup untuk menundukkan orang itu” ujar Giok bin sin ang (kakek sakti berwajah pualam) Say Khi pit.

Ou Yong hu yang berada diatas permukaan tanah rupanya masih sempat mendengar pembicaraan dari kedua orang itu, tenggorokannya kembali memperdengarkan suara gemerutuk yang amat parau dan mengerikan.

Ditinjau dari suaranya itu, seakan-akan ia sedang mohon bantuan dari kedua orang itu untuk membebaskannya dari siksaan yang tak tertahankan lagi itu.

Si Rase berekor sambilan Kongsun Po tertawa kering, lalu katanya kemudian:

“Tua bangka she Ou, beristirahatlah dengan tenang, kami pasti akan membalaskan sakit hatimu itu”

Selesai berkata demikian, teiapak tangannya segera dibabat kebawah, diantara gulungan angin tajam itu, nyawa Ou Yong hu pun terlepas dari tubuh kasarnya yang amat menyiksa diri itu, kini tinggalkan sesosok mayat yang kaku dan berada dalam keadaan menyeramkan.

Rase berekor sembilan Kongsun po kembali tertawa seram, katanya kembali:

“Say heng, setelah kita mempunyai bukti nyata dengan mayat dari tua bangka she Ou ini, rasanya tidak sulit untuk memancing kemarahan khalayak ramai, marilah kita bekerja sama untuk melenyapkan bangsat itu dari muka bumi”

Baru selesai ia berkata, terdengar seseorang telah menyambung sambil tertawa ringan: “Saudara Kongsun, sekalipun caramu itu tidak jelek, tapi situasi yang kita hadapi

sekarang jauh berbeda, siapakah diantara jago persilatan didunia dewasa ini yang tidak tahu kalau persoalan ini menyangkut soal balas membalas yang telah berlangsung turun temurun?”

Mendengar perkataan itu, si Rase berekor sembilan serta si Kakek sakti berwajah pualam segera berpaling kearah mana berasalnya suara tersebut…

Tampak seorang laki-laki tampan yang amat romantis berdiri kurang lebih beberapa kaki dibelakang mereka, siapa lagi orang itu kalau bukan Thiat kiam Kuncu Hoa Kok khi.

Kakek sakti berwajah pualam Say Khi pit merasa agak tertegun, ia tidak mengira kalau secara diam-diam Hoa Kok khi telah menyusup hanya beberapa kaki saja dibelakang mereka.

Coba kalau tidak mendengar suara teguran tersebut, mungkin mereka berdua masih belum menyadari akan kehadirannya, untung ia tidak bermaksud mencelakai mereka, coba kalau tidak demikian, mungkin nyawa mereka berdua sudah melayang semenjak tadi.

Si Rase berekor sembilan Kongsun Po tertawa terkekeh-kekeh, kemudian serunya: “Heeeeh… heeeehh… heeeeehh… rupanya saudara Hoa juga telah sampai dipulau ini Hmm… hmm… tampaknya kau juga ikut menyaksikan tragedi itu bukan?” Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi tersenyum.

“Betul kita semua telah ikut menyaksikan adegan tersebut, namun tak seorangpun diantara kita yang secara sukarela bersedia menolong jiwa tua bangka she Ou itu”

“Saudara Hoa, apa maksud dari ucapanmu itu?” tegur kakek sakti berwajah pualam Say Khi pit.

Kembali Hoa Kok khi tertawa:

“Perkataanku sama sekali tidak mengandung arti tertentu aku cuma maksudkan andaikata kita bertiga mau menolong tua bangsa she Ou, paling tidak ia tak akan mampus secara demikian mengerikan, tapi… haaaahhh… haaaah… haaaahh… kita semua sama- sama mempunyai kepentingan pribadi, ternyata tidak seorangpun diantara kita yang turun tangan memberi bantuan!”

Si Rase berekor sembilan Kongsun Po tertawa kering, katanya pula:

“Perkataan saudara Hoa memang benar juga, tapi kaupun harus tahu apa alasan kami sehingga tidak turun tangan untuk memberi bantuan..?”

“Haaah… haaah… haaah… mana, mana!” Thiat kiam Kuncu tertawa tergelak, “pada hakekatnya tua bangka she Ou adalah kuku garudanya perkumpulan Thi eng pang, jika ia dibiarkan hidup terus akibatnya hanya akan menambah kekuatan dari perkumpulan Thi eng pang saja”

“Saudara Hoa memang betul-betul orang pintar yang mengetahui untung ruginya suatu persoalan” puji rase berekor sembilan Kongsun po dengan suara serak cuma dari antara sahabat-sahabat tebing Yan po gan yang telah berkumpul disini sekarang, kecuali tua bangka Ou dan Kwik To situa renta itu, kita bertiga sudah seharusnya mengambil suatu tindakan cerdik”

“Benar! Benar sekali! Justru siaute memang ada maksud untuk mengajak saudara berdua merundingkan persoalan ini” sambung Thiat kiam kuncu tertawa.

“Saudara Hoa, Apalagi yang perlu kita rundingkan? Jelaslah sudah bahwa bila bersatu kita teguh bila bercerai kita runtuh, aku rasa kita masing-masing juga telah mengetahui sampai dimana letak kelihayan dari masalah ini”

Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi tertawa bangga, katanya:

“Bagus sekali,bagus sekali, kalau begitu siaute pun tak ingin banyak berbicara lagi, Kui to Thian yu to-heng ada dilembah bukit sebelah depan sana mari kita menyusul kesitu untuk bersama-sama merundingkan persoalan besar ini”

Sehabis berkata dia lantas berangkat lebih dulu meninggalkan tempat itu.

Si Rase berekor sembilan Kongsun Po dan Kakek sakti berwajah pualam Say Khi pit saling berpandangan sekejap, akhirnya merekapun berangkat mengikuti dibelakang rekannya. Setelah membinasakan Ou Yong hu, pelbagai ingatan segera berkecamuk dalam benak Gak Lam kun, ia selalu bertanya kepada diri sendiri apakah caranya turun tangan kelewat brutal atau tidak..?

Pertanyaan semacam itu seringkali akan memenuhi benak seseorang dikala ia selesai membunuh seseorang tapi bagaimanapun berusaha memutar otak tiada jawaban yang berhasil didapatkan, selama tiga tahun belakangan ini, boleh dibilang jalan pemikirannya selalu menjumpai pertentangan-pertentangan yang saling bertolak belakang.

Tanpa terasa sampailah Gak Lam kun digedung kediaman Bwe Li pek, dibawah sorot Cahaya matahari, tampak Bwe Li pek dengan tenang berdiri diatas sebuah jembatan kayu, ia berdiri sambil bergendong tangan dan sedikitpun tidak berkutik, seakan-akan ketika itu ia sedang memikirkan sesuatu persoalan?

Tiba-tiba Bwe Li Pek berpaling, diantara sepasang biji matanya yang jeli tampak basah oleh airmata, mukanya murung dan layu noda airmata masih membekas diatas wajahnya.

Sambil tertawa sedih, ia lantas bertanya:

“Apakah kau telah membunuh Ou Yong hu?”

Pertanyaan tersebut membuat Gak Lam kun menjadi tertegun, selang sesaat kemudian ia baru menjawab:

“Yaa, aku telah membunuhnya? Apakah nona Bwe telah menyaksikan pula peristiwa tersebut?”

Tiba-tiba dari balik mata Bwe Li pek yang jeli memancar keluar sinar yang lembut dan hangat tanyanya dengan suara lirih:

“Mengapa kau selalu memandang begitu serius masalah dendam sakit hati..?”

Seka1i lagi Gak Lam kun dibikin tertegun oleh pertanyaan itu, kali ini ia berdiri termangu sampai setengah harian lamanya tanpa sanggup mengucapkan sepatah katapun.

Bwe Li pek segera menghela napas panjang, katanya lagi:

“Tahukah kau bagaimana akibatnya dari bunuh membunuh yang tiada akhirnya ini?” “Ucapan nona Bwe memang sangat tepat, cuma aku ingin bertanya kepadamu,

seandainya kau mempunyai sakit hati atas terbunuhnya orang tuamu, apakah kau tidak

berusaha untuk membalasnya?” kata Gak Lam kun dengan suara dingin.

Ketika mendengar pertanyaan itu, tiba-tiba saja dua titik airmata jatuh berlinang membasahi pipinya, secara diam-diam ia berusaha untuk meresapi pertanyaan dari Gak Lam kun serta berusaha untuk mencari jawabannya yang tepat.

“Seandainya kau terikat dendam karena pembunuhan atas ayahmu, apakah kau harus membayarnya..? Apakah kau harus menuntut dan menagihnya..?” Ji Cing ping wahai Ji Cing ping! Ia telah meninggalkan kau, hubungan cinta telah berakhir, karena apakah ini?

Karena apakah ini? Karena membalas dendam? Karena sakit hati?

Yaa, benar! Demi membalas sakit hati! Tapi, kenapa kau tidak segera membalas dendam? Kenapa tidak kau lakukan?

Dengan cara yang keji dan tak berperi kemanusiaan ia telah membunuh orang tuamu, kaupun pernah menggunakan Bi jin ki (siasat perempuan cantik) untuk mencelakai jiwanya… beberapa kali ingin membunuhnya… tapi sampai sekarang kenapa kau belum juga turun tangan? sebaliknya malah berulangkali membantunya?

Mungkinkah karena cinta? Mungkinkah bibit cinta masih tertanam dalam hatimu? Akhirnya ia tertawa getir dan bersenandung dengan suara yang amat lirih:

“Airmata mengering dalam kedukaan, jauh terkenang masa yang silam… manusia nun jauh diujung langit…”

Bergumam sampai disitu, tiba-tiba tanpa mengucapkan sepatah katapun ia putar badan dan berjalan menuju keutara.

Gak Lam kun menyaksikan perbuatan diatas wajahnya, iapun mendengar senandungannya itu, tapi pikirannya terasa bimbang dan kosong, ia tak tahu apa salahnya dengan pertanyaan yang ia ajukan tadi?

Dengan cepat Gak Lam kun memburu beberapa langkah kedepan, kemudian serunya: “Nona Bwe, bersediakah kau untuk berhenti sebentar saja…”

Bwe Li pek berpaling dan tertawa, sahutnya:

“Perasaan kesemsem hanya menambah beribu-ribu kesedihan apa gunanya kau…” Ketika berbicara sampai disitu, ia tak dapat mengendalikan luapan perasaannya lagi,

butiran airmata tampak jatuh bercucuran membasahi pipinya…

Terkesiap Gak Lam kun sesudah mendengar ucapan tersebut, untuk sesaat lamanya ia sampai berdiri tertegun.

ooooooooooooo0000000000ooooooooooooo

Jangan-jangan ia sudah menaruh bibit cinta kepadaku? demikian pikirnya dihati, “wah, celaka juga begini! Kalau bilang tidak, apapula maksudnya dengan mengucapkan kata- kata seperti itu, aaai..!

Apakah ia tidak tahu kalau aku sudah tak dapat hidup lebih lama lagi…”

Sekalipun sedang bermimpi Gak Lam kun juga tak akan mengira kalau Bwe Li pek, ketua perguruan panah bercinta yang berdiri dihadapannya sekarang tak lain adalah Ji Cin peng, kekasih yang paling dihormati dan paling disayangi sepanjang hidupnya, atau dengan perkataan lain dia bukan lain adalah encinya Ji Kiu liong.

Padahal berbicara sesungguhnya, jangankan Gak Lam kun tidak tahu sekalipun Ji Kiu liong sendiri juga tidak mengira kalau Bwe Li pek bukan lain adalah encinya yang sudah mati dua tahun.

Rupanya ia telah merubah wajahnya sedemikian rupa dengan ilmu menyaru muka, tak heran kalau tak seorangpun yang dapat mengenali kembali raut wajah aslinya.

Tentang hubungan cinta dan dendam antara Ji Cin peng dengan Gak Lam kun, akan diceritakan kemudian pada bagian yang lain!

Sementara itu Gak Lam kun telah menghela napas sedih, katanya: “Nona Bwe, benarkah kau hendak pergi dengan begitu saja?”

Tiba-tiba Ji Cing pen menggigit bibirnya, dengan tangan kiri ia melepaskan ikat kepalanya sehingga rambut yang panjang dan hitam segera terurai kebawah, sementara tangan kanannya merobek jubah panjangnya yang berwarna putih dan tampaklah seperangkat pakaian ringkas berwarna gelap yang berukirkan burung hong putih diatas dadanya.

Dengan pakaiannya yang ketat terlihat pula lekukan tubuhnya yang mungil dan indah, ini semua menambah kecantikan dan daya pesona dari gadis tersebut.

Gak Lam kun yang menyaksikan kejadian itu menjadi tertegun dengan sepasang mata terbelalak lebar, potongan badan semacam ini terasa amat dikenal olehnya, sebab itulah potongan badan Ji Cin peng, kekasihnya yang telah tiada.

Secara tiba-tiba saja Gak Lam kun teringat kembali dengan kenangan lamanya, disaat mereka berdua masih berdampingan serta melewatkan kehidupan mereka dengan penuh kemesraan dan kehangatan… untuk sesaat ia merasa emosinya meluap didalam dada, airmata pun tanpa terasa jatuh bercucuran.

Airmata Ji Cin peng setetes demi setetes meleleh keluar, saat ini dia hanya berharap agar ia tak mengenali wajah aslinya, maka akibatnya sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Sekalipun ia berniat untuk membalas dendam atas sakit hatinya, tetapi… bibit cinta yang sudah terlanjur tertanam dalam hatinya membuat ia selalu tak tega untuk melaksanakan niatnya itu.

Bukan saja Ji Cin peng telah melahirkan seorang anak lelaki untuk Gak Lam kun, lagipula ia memang betul-betul sangat mencintainya.

Tapi, Gak Lam kun justru adalah musuh besar pembunuh orang tuanya…

Ia berusaha mengendalikan jalan pikirannya, berusaha untuk tidak mencintai pembunuh orang tuanya, tapi dasar hati kecilnya justru berkata bahwa ia benar-benar mencintai musuh besarnya ini. Pengendalian perasaan yang saling bertentangan ini selama banyak tahun selalu berkecamuk dan menghantui jalan pikirannya, tapi selalu saja Ji Cin peng gagal untuk mengambil suatu keputusan yang pasti.

Ia amat menyesal, ia menyesal kepada dirinya karena tidak seharusnya ia mencintai pemuda itu.

Sambil menangis terisak kata Ji Cin peng:

“Sejak dua tahun berselang aku telah mengangkat sumpah, aku tidak akan memperlihatkan wajah asliku sebagai seorang gadis dihadapan orang lain, hari ini aku telah menjumpaimu dengan wajah asliku, itu berarti jodoh kita telah berakhir, sejak ini kita akan dihalangi oleh ujung langit yang berbeda serta tanah perbukitan yang beribu-ribu li panjangnya, kau ketimur aku kebarat dan sulit untuk saling berjumpa kembali. Kau… kau haruslah baik-baik menjaga diri!”

Selesai berkata, ia lantas putar badan sambil melompat pergi dari situ, sesaat kemudian tubuhnya sudah berada lima kaki jauhnya dari kedudukan semula.

Entah mengapa, tiba-tiba Gak Lam kun berteriak keras-keras: “Nona Bwee..! adik Peng..!”

Ucapan ‘adik Peng’ ternyata mendatangkan daya pengaruh yang luar biasa, seketika itu juga Ji Cin peng merasakan hatinya amat sakit seperti ditusuk-tusuk dengan pisau belati, tanpa sadar ia menghentikan langkah kakinya, airmata seperti hujan gerimis mengucur keluar tiada hentinya.

Dengan dua tiga kali lompatan Gak Lam kun telah memburu kesamping tubuhnya, melihat rambutnya yang kalut terhembus angin, matanya yang basah oleh airmata, ia merasa hatinya sedih hingga tanpa terasa airmata ikut bercucuran.

Ji Cin peng dapat menyaksikan keadaan pemuda itu, terutama wajahnya yang begitu layu dan sedih, airmatanya yang setetes demi setetes meleleh keluar membasahi tubuhnya… ia hanya berdiri termangu seperti sebuah patung arca, tidak berbicara pun tidak bergerak.

Lama kelamaan luluh juga perasaan gadis itu, diambilnya sebuah sapu tangan dari sakunya lalu disekanya airmata yang membasahi wajah Gak Lam kun.

Dalam keadaan itu, Ji Cin peng seakan-akan sudah melupakan sumpahnya, ia tak sanggup mengendalikan jalan pikirannya yang telah ditekan selama dua tahun belakang ini, dia seakan-akan telah berubah menjadi seorang manusia yang lain.

Kesombongan dan keangkuhannya kini telah berubah menjadi cinta kasih yang lembut, badannya berdiri makin menempel disisi pemuda itu, bau harum yang tersebar keluar dari tubuhnya menambah daya pesona dan rangsangan yang membuat orang menjadi mabuk.

Ketika Gak Lam kun mengendus bau harum itu jantungnya kontan berdenyut lebih cepat dalam keadaan setengah sadar setengah tidak, sepasang tangan Ji Cin peng yang lembut dan halus itu tahu-tahu sudah digenggamnya erat-erat. Ketika empat mata saling bertemu, kedua orang itu sama-sama bungkam dalam seribu bahasa.

Padahal dalam keadaan seperti ini mereka memang tak perlu berkata apa-apa lagi, pertemuan antara empat buah mata sudah cukup mengontak batin masing-masing, hubungan batin itu jauh lebih menang dari beribu-ribu kata mesra.

Ketika sepasang tangan Ji Cin peng digenggam erat-erat, rasa cintanya yang memang sudah tertekan lama sekali dalam hatinya kini betul-betul tak dapat dikendalikan lagi.

Akhirnya ia menempelkan wajahnya diatas dada Gak Lam kun, kemudian tubuhnya bersandar dalam pelukan mesra anak muda tersebut.

Berhadapan dengan gadis cantik rupawan yang indah bagaikan sekuntum bunga ini, tentu saja Gak Lam kun tak dapat mengendalikan perasaannya lagi, dia merentangkan sepasang tangannya dan memeluk gadis itu dengan penuh kehangatan.

Tiba-tiba… kenangan lama secepat kilat melintas dalam benak Ji Cin peng, ia merasa kepalanya bagaikan diguyur dengan sebaskom air dingin, hatinya merasa amat tercekat dan otaknya menjadi sadar kembali, pelan-pelan ia mendorong Gak Lam kun yang masih mendekap tubuhnya erat-erat itu.

Gak Lam kun segera mundur selangkah lalu sambil tertawa sedih katanya lirih:

“Maaf nona Bwe, harap kau suka memaafkan kecerobohanku barusan, sebab potongan badanmu serta segala tingkah lakumu membuat aku menjadi teringat kembali dengan kekasihku yang telah tiada…”

Ketika mengucapkan kata-kata tersebut, tidak bisa ditahan lagi airmata jatuh bercucuran membasahi wajah Gak Lam kun.

Dari sini dapat diketahui bahwa cinta Gak Lam kun terhadap Ji Cin peng betul-betul sudah mendalam sekali hingga merasuk kedalam tulang sumsum…

Ketika mendengar ucapan itu, Ji cin peng merasakan hatinya seperti ditembusi dengan sebatang anak panah sekujur badannya gemetar keras, sepasang matanya berkaca-kaca dan memandang kearah wajah Gak Lam kun tanpa berkedip, lama sekali ia tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

Gak Lam kun berhenti sejenak, lalu kembali katanya:

“Atas pertolongan nona Bwe yang selalu membantu diriku, serta kesediaan nona untuk menganggapku sebagai seorang sahabat, aku Gak Lam kun akan mengukir selalu semua kebaikan nona didalam hati, bila perbuatanku barusan telah menyinggung perasaanmu, akupun mohon agar nona sudi memaafkannya”

Pelan-pelan Ji Cin peng pulih kembali dalam ketenangannya, ia tertawa ewa lalu bertanya:

“Tadi, kau menyebutku sebagai adik Peng, bolehkah aku tahu apakah nama itu adalah nama dari kekasihmu?” Dengan amat sedih Gak Lam kun tertawa getir.

Dia bernama Ji Cin peng, yaitu encinya Ji Kiu liong, adik angkatku itu, raut mukanya banyak bagian yang mirip dengan wajahnya, mana cantik, lembut dan baik hati lagi… aaai…”

Dengan sedih ia menghela napas panjang, setelah berhenti sebentar ia baru berkata lebih jauh:

“Sayang gadis secantik dia harus diberi usia yang begitu pendek, aku harus berpisah untuk selamanya dengan dia kekasihku seorang…”

Kembali Gak Lam kun tak dapat mengendalikan luapan emosinya, airmata yang meleleh keluar makin deras lagi membasahi pipinya.

Ji Cin Peng merasa ususnya seperti dililit dengan jepitan, hatinya sakit seperti disayat- sayat pisau, kesedihan yang mencekam perasaannya saat ini benar-benar sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Dengan perasaan yang sedih dan murung diam-diam ia berbisik dalam hati kecilnya: “Engkoh Gak… ooh engkoh Gak… akulah adik Peng mu! Tapi… tapi… kau adalah musuh

besar pembunuh orang tuaku, aku tak dapat kawin dengan seorang musuh besar

pembunuh orang tuaku, tapi aku mecintaimu, aku benar-benar amat menyayangimu, aku tak ingin membinasakan dirimu.”

“Oh Thian! Apa yang harus dilakukan sekarang? dendam sakit hati terbunuhnya orang tua lebih dalam dari samudra sebagai putra putrinya dendam sakit hati tak boleh tidak dibalas, kalau tidak bagaimanakah pertanggungan jawabku terhadap arwah ayah dan ibu dialam baka?”

“Ooh..! Ohh… ibu..! Maafkanlah aku, kasihanilah bocah cilik itu jika Gak Lam kun sampai mati, akupun tak ingin hidup lebih jauh, tapi bocah itu baru berusia dua tahun, bagaimanapun juga ia tak boleh hidup sebatangkara tanpa ayah tanpa bunda…”

Ji Cin peng sesungguhnya adalah seorang anak yang berbakti tapi setelah menghadapi pilihan antara cinta dan dendam, ia menjadi bingung dan kalut, ia tak tahu musti menjatuhkan pilihannya kemana…

Tiba-tiba dari sakunya Gak Lam kun mengeluarkan pedang pendek tersebut, sambil diangsurkan kedepan ia berkata:

“Nona Bwe, terima kasih banyak atas pedangmu yang bersedia kau pinjamkan kepadaku, dan sekarang akupun akan menepati janji dengan mengembalikan pedang ini kepadamu”

“Apa salahnya kalau kau gunakan beberapa hari lagi?” bisik Ji Cin peng sambil menghela napas sedih.

Gak Lam kun tertawa getir, ujarnya: “Saat kematiaa dari aku orang she Gak sudah hampir tiba, aku kuatir pedang mustika ini akan hilang bila berada ditanganku, maka lebih baik kukirim kembali daripada meminjamnya lebih jauh.”

Ketika mendengar perkataan itu, Ji Cin peng menjadi tertegun, segera tanyanya: “Apa kau bilang? Apa yang kau maksudkan?”

Gak Lam kun tertawa ewa.

“Usia aku orang she Gak hanya tinggal tujuh hari saja!” katanya.

Mendengar kata-kata tersebut, paras muka Ji Cin peng kembali mengalami perubahan hebat, serunya dengan suara gemetar.

“Kau… tujuh hari lagi kau akan mati, ke… kenapa?”

Rasa sayang, kuatir, ingin tahu dan sedih hampir seluruhnya tertuang dalam ucapannya itu.

Gak Lam kun merasa amat senang menyaksikan kekuatiran orang, ia menghela napas sedih, sahutnya:

“Aku orang she Gak bisa memperoleh perhatian serta rasa kasih sayang dari seorang perempuan macam kau, sekalipun mati akupun akan mati dengan perasaan tenang”

Dalam pada itu wajah Gak Lam kun diliputi ketenangan, dan kedamaian, ia sama sekali tidak merasakan sedih atau ngerinya menghadapi kematian.

Sebab dalam hidupnya, asal bisa memperoleh perhatian dari seorang gadis secantik itu, ia sudah merasa amat puas sekali.

Ketika Ji Cin peng menyaksikan pemuda itu tidak menjawab, perasaannya makin bergolak, katanya lebih jauh:

“Kenapa tidak kau katakan? Hayolah katakan! Kenapa kau bakal mati..? Kenapa..?” Sekali lagi Gak Lam kun menghela napas panjang.

“Aaai… nona Bwee, terima kasih banyak atas perhatianmu, kendatipun aku orang she Gak sudah berada dialam baka nanti, tak akan kulupakan budi kebaikanmu itu, aaa..! kenapa aku harus mati? Karena aku telah terkena pukulan beracun Tay siu im khi dari Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi. Padahal aku masih banyak urusan yang belum terselesaikan, masa aku pingin mampus tanpa sebab. Inilah nasibku, nasib telah menentukan agar aku menyambut datangnya tangan maut…”

Tak terkirakan rasa sedih Ji Cin peng mendengar uraian tersebut, hatinya bagaikan disayat-sayat dengan pisau, tanyanya dengan penuh perasaan gelisah:

“Kapankah kau terkena ilmu pukulan Tay siu im khi tersebut?” Gak Lam kun mendongakkan kepalanya memandang sang surya yang telah menunjukkan tengah hari, lalu menghela napas sedih.

“Kejadian itu sudah berlangsung tujuh jam berselang, luka itu selamanya tak mungkin bisa diobati lagi”

Agak tertegun Ji Cin peng sesudah mendengar kata-kata itu, ia tampak termenung sebentar untuk memikirkan persoalan itu, tampaknya ia sedang berusaha memikirkan bagaimana caranya untuk menyembuhkan luka akibat pukulan beracun itu.

Tiba-tiba ia menengadah kembali, lalu ditatapnya Gak Lam kun dengan serius katanya: “Seandainya aku mempunyai cara pengobatan untuk menghindari kematian yang bakal

kau alami tujuh hari mendatang, apakah kau bersedia menerima pengobatan tersebut”

Berita ini sangat mengejutkan Gak Lam kun.

Sebagaimana diketahui si anak muda itupun terhitung seorang jago silat kelas satu dalam dunia persilatan, tentu saja dia cukup mengetahui sampai dimanakah lihaynya ilmu pukulan Tay siu im khi tersebut, dia pun tahu barangsiapa terkena ilmu pukulan beracun tadi maka lukanya tak akan tersembuhkan lagi.

Sekalipun ada yang bisa menyembuhkan, itupun terbatas hanya beberapa orang saja, tak mungkin dalam waktu sesingkat itu, dia dapat menemukan orang-orang yang dimaksudkan.

Maka setelah mendengar tawaran itu, timbul kembali harapan hidup dalam hati Gak Lam kun, segera ujarnya:

“Jangankan manusia, binatang, burung bahkan semutpun kepingin hidup lebih lama didunia ini cuma aku percaya bahwa penyakitku sudah tak mungkin bisa diobati lagi.

Ji Cin peng manggut-manggut.

“Akupun tahu bahwa penyakitmu itu adalah suatu penyakit yang tak ada obatnya, sekalipun dunia persilatan amat luas, menurut apa yang kuketahui hanya ada tiga empat orang saja yang dapat menyembuhkan luka akibat pukulan Tay siu im khi itu…”

Belum lagi ucapan tersebut selesai diucapkan, tiba-tiba terdengar seseorang tertawa tergelak, menyusul kemudian ujarnya dengan suara lantang:

“Empat orang yang nona maksudkan rupanya adalah Tok liong Cuncu Yo long, Soat san thian li, Lam hay sin ni dan masih ada seorang lagi entah siapa? Apakah kau bersedia memberitahukan kepadaku?”

Ditengah pembicaraan itu, dari ruang sebelah barat daya muncul seorang laki-laki setengah umur yang berwajah tampan, siapa lagi orang itu kalau bukan Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi!

Melihat musuh besarnya muncul didepan mata, Gak Lam kun segera merasakan hawa amarah berupa api dendam yang berkobar dalam dadanya bergolak hebat.