Lencana Pembunuh Naga Jilid 09

 
Jilid 09

Jit Poh Lui sim ciam telah tertawa dingin sambil menegur lagi, “Gak lote, tidakkah kau merasakan bahwa bangunan ini aneh sekali….?!”

“Kau toh sudah mencobanya sendiri, buat apa kau tanyakan kembali kepadaku….?” jawab Gak Lam kun ketus.

“Bangunan ini sangat aneh, tapi yang aneh justru terletak pada halaman bangunan ini sendiri aku rasa dibalik kesemuanya itu pasti ada hal-hal yang tidak beres.

Gak Lam kun tidak memahami apa maksud perkataannya itu, ia lantas bertanya, “Maaf, aku terlalu bodoh dan tak dapat memahami perkataanmu itu….!”

Kembali Jit poh lui sim ciam Lui Seng thian tertawa seram. “Haaah….haaah….haaah….Gak lote masa kau lupa. Aku toh pernah berkata bahwa

dibalik bangunan ditengah pulau terpencil ini sesungguhnya tersimpan suatu rahasia

besar?”

Gak Lam kun balik tertawa dingin.

“Lui locianpwe apakah kau maksudkan rahasia besar itu terdapat didalam bangunan besar ini?”

Mendengar perkataan itu, sekarang ganti Jit poh lui sim ciam Lui seng thian yang merasa terperanjat, pikirnya dengan cepat, “Jangan-jangan ia sudah tahu kalau rahasia besar yang tersimpan dibalik lencana pembunuh naga sesungguhnya terdapat dalam bangunan gedung ini….?”

Tiba-tiba Lui seng thian melompat bangun, dengan wajah yang menyeramkan dia acungkan tabung tembaga itu kehadapan Gak Lam kun, kemudian setelah tertawa dingin katanya, “Gak Lam kun, aku sudah mengetahui jelas tentang asal usulmu, sekarang aku ingin menanyakan sesuatu hal kepadamu, jika kau berani membohongi aku atau sengaja merahasiakan dihadapanku, jangan salahkan kalau kusuruh kau rasakan betapa dahsyat dan beracunnya Jit poh lui sim ciam ku ini….!”

Terkesiap juga Gak Lam kun menghadapi ancaman senjata rahasia beracun yang telah diarahkan kedadanya itu, tapi wajah tetap dingin dan dihiasi senyuman menghina.

“Lui locianpwe!” katanya, “apakah kau memang khusus mencari kemenangan dengan andalkan senjata rahasiamu itu?”

Lui Seng thian tertawa seram.

“Haaahhh….haaahhh….haaahhh…. mana…. mana, setiap jago yang hidup dalam dunia persilatan sudah lumrah kalau khusus melatih sejenis senjata atau kepandaian sebagai kekuatan andalannya, heeehhh…. heeehhh…. heeehhh…. seperti juga senjata panah inti geledek ini, sesungguhnya sengaja kuciptakan untuk menghadapi Yo Long serta Soat san thian li si perempuan rendah itu, tapi situasi dalam dunia persilatan dewasa ini telah berubah, siapakah yang tidak ingin merebut kedudukan tinggi dan nama besar dalam dunia persilatan dengan mengandalkan kemampuan serta kepandaian silatnya….”

“Oh, kalau begitu Lui locianpwe hendak mempergunakan senjata rahasia yang sangat beracun itu untuk menghadapi diriku”

Lui Seng thian tertawa.

“Tidak berani, tidak berani, aku cuma berharap agar Gak lote bersedia menjawab beberapa buah pertanyaanku!”

“Sebelum kudengarkan pertanyaan yang hendak kau ajukan itu, terlebih dulu aku ingin memberitahukan sesuatu hal pula kepadamu, aku Gak lam kun tidak akan menjawab pertanyaan yang kau ajukan.”

Perlu diketahui, Gak Lam kun adalah seorang yang keras kepala, bertekad besar dan tinggi hati sudah barang tentu ia tidak tahan untuk menerima gertakan dari Lui Seng thian yang memaksanya untuk menjawab setiap pertanyaan yang diajukan dibawah ancaman senjata rahasia beracun andalannya.

Betul juga, selapis hawa amarah yang diliputi nafsu membunuh menyelimuti seluruh wajah Lui Seng thian yang jelek, jelas ia murka sekali setelah mendengar perkataan itu.

Mendadak Gak Lam kun melompat keudara dengan kecepatan luar biasa.

“Berhenti!” bentak Lui Seng thian, “kau benar-benar kepingin mati?…. lihat serangan!” Ditengah bentakan nyaring, tujuh buah senjata rahasia segera dilontarkan kedepan.

Bagaimanapun juga Lui Seng thian tidak sampai mempergunakan senjata rahasia mautnya yakni Jit poh lui sim ciam, tapi mengayunkan tangan kirinya melepaskan tujuh buah panah pendek dari ujung bajunya.

Perlu diterangkan disini, bahwa panah inti geledek adalah suatu senjata rahasia yang maha dahsyat, apabila senjata rahasia itu telah dilepaskan maka korbannya pasti akan tewas tak tertolong.

Sekalipun dimulut Lui Seng thian mengancam akan membunuhnya, padahal dihati kecilnya ia masih belum berharap untuk membinasakan anak muda itu.

Terkesiap juga Gak Lam kun ketika merasakan tibanya ancaman dari ketujuh batang senjata rahasia tersebut ia pernah menyaksikan kedahsyatan dari senjatanya, maka bisa dibayangkan betapa mengerikannya kedatangan tujuh batang senjata secara berbarengan itu…. 

Sedikit banyak pemuda itu menguatirkan juga keselamatan jiwanya, ia tak tahu apakah ia sanggup meloloskan diri dari ancaman tersebut atau tidak….

Dalam kaget dan ngerinya, Gak Lam kun tidak berayal lagi, tubuh yang sedang melambung diudara itu segera meluncur kebawah dengan kecepatan tinggi kemudian sepasang kakinya kembali menjejak permukaan rumah dan untuk kesekian kalinya ia melambung lagi keatas.

Dalam lompatannya kali ini, Gak Lam kun telah mengerahkan segenap tenaga dalam yang dimilikinya.

Harus diketahui, seorang yang lemah tidak bertenaga apabila sedang menghadapi bahayapun bisa memiliki kekuatan sebesar beberapa ratus kati, apalagi Gak Lam kun yang terancam bahaya kematian?

Ternyata daya lompatnya itu merupakan suatu lompatan yang tak mungkin bisa diulangi kembali kendatipun ilmu meringankan tubuhnya telah dilatih sepuluh tahun lagi, dalam sekejap mata ia sudah melewati permukaan rumah sejauh belasan kaki….

“Blaaang….!” tiba-tiba kaki Gak Lam kun menginjak tempat kosong, sebelum hawa murninya sempat dirubah tubuhnya sudah terperosok jatuh kebawah.

Gak Lam kun membersihkan debu yang menempel ditubuhnya lalu memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, ternyata ia telah berbasil melepaskan diri dari kurungan ilmu barisan yang aneh itu sekarang tubuhnya berada ditengah sebuah halaman kecil.

Gak Lam kun memeriksa kembali keadaan disekitarnya ditemuinya pada tiga bagian halaman rumah itu semuanya terdapat sebuah jalan tembus, cuma setiap jalan tembus itu luasnya cuma satu kaki, kedua belah sisinya merupakan dinding bangunan yang tidak berjendela atau pintu lain, hanya pada bagian tengah bangunan besar terdapat dua buah pintu besar berwarna merah cuma pintu itu tertutup rapat.

Dibawah sinar rembulan, terasa suasana disekeliling tempat itu sunyi sepi dan terasa agak menyeramkan.

Gak Lam kun kembali memperhatikan sekejap sekeliling sana, akhirnya pelan-pelan ia berjalan menuju kearah jalan disebelah barat sana….

Kurang lebih sepertanak nasi kemudian, tiba-tiba Gak Lam kun menghentikan langkahnya dan memandang kearah depan dengan wajah tertegun.

Ternyata ia telah tiba lagi disebuah halaman kecil dengan tiga buah jalan tembus dihadapannya, bentuk halaman tersebut persis seperti halaman yang pertama tadi, ketika hal ini dicocokkan dengan letak bintang diangkasa pemuda itu semakin terkejut lagi.

Tadi ia merasa berjalan menuju kebarat, tapi sekarang ia berada diarah tenggara, sepasang alis mata Gak Lam kun makin berkernyit, karena sepasang jalan yang dilaluinya barusan jelas tanpa tikungan atau belokan sama sekali bahkan jalan itu sangat lurus dan datar kenapa tanpa disadari ia sudah berada diarah tenggara?

Gak Lam kun kembali memutuskan untuk mengambil jalan tembus yang menuju ketimur, kurang lebih setelah berjalan, sejauh enam tujuh puluh kaki didepan sana muncul lagi sebuah halaman dengan tiga buah jalan tembus, hanya saja kali ini anak muda tersebut telah berada disudut barat laut…. Gak Lam kun benar-benar keheranan, coba kalau bukan dialami sendiri, ia tak akan percaya kalau didunia ini terdapat sebuah bangunan rumah dengan segala sesuatu yang diatur menurut kedudukan sebuah ilmu barisan.

Pemuda itu mulai bingung, mau dilanjutkan perjalanan itu, ia tak tahu bagaimana caranya memecahkan barisan tersebut, tidak dilanjutkan jelas tak mungkin, akhirnya saking murungnya ia menengadah memandang rembulan diudara dan menghela napas panjang….

Mendadak ia mendengar desingan angin lembut berhembus datang dari arah belakang.

Dengan cekatan Gak Lam kun memutar badannya memandang kearah mana berasalnya desingan angin lembut tadi….

Seorang kakek berjenggot panjang berwajah merah bercahaya dan menggembol sebilah pedang antik dipunggungnya telah berdiri tiga kaki dihadapan mukanya, orang itu sedang memandang kearahnya dengan sinar mata yang tajam.

Ketika empat mata saling bertemu, mereka hanya saling berpandangan lama sekali, kedua belah pihak sama-sama tidak mengucapkan sepatah katapun.

Diam-diam Gak Lam kun berpikir, “Entah darimana datangnya kakek ini? Ilmu meringankan tubuhnya pasti lihay sekali, kalau tidak kenapa tidak kurasakan kehadirannya meski sudah berada tiga kaki dibelakangku? Yaa, dia pasti adalah seorang jago persilatan yang berilmu sangat tinggi.”

Lama…. lama, sekali, Gak Lam kun masih juga tidak mendengar suara teguran ataupun suatu gerakan, orang itu tetap berdiri kaku ditempat semula.

Timbul juga perasaan tercekat dalam hatinya, segera pemuda itu berpikir dihati, “Jangan-jangan dia adalah sesosok sukma gentayangan atau sukma penasaran….?”

Terhadap bangunan gedung itu Gak Lam kun memang sudah menaruh perasaan was- was, sekarang setelah menyaksikan kemunculan orang tanpa menimbulkan suara, apalagi muncul pula ingatan tersebut, tanpa terasa ia mundur beberapa langkah kebelakang.

Tapi iapun kuatir dirinya disergap secara tiba-tiba maka ia tak berani memutar badan.

Tapi, kendatipun ia sudah mundur sejauh tujuh delapan kaki, kakek berwajah bersih seperti dewa itu belum juga melakukan suatu gerakan, Gak Lam kun segera bertekad untuk kabur dari situ, tiba-tiba ia putar badan dan kabur kearah jalan tembus kesebelah utara.

Dengan suatu gerakan yang cepat bagaikan sambaran kilat ia bergeser sejauh enam tujuh puluh kaki dari tempat semula, tapi begitu ia mendongakkan kepalanya, hampir saja Gak Lam kun menjerit kaget….

Kurang lebih delapan kaki didepan sana kembali muncul sebuah halaman kecil, si orang tua yang membawa pedang antik itu tahu-tahu sudah berdiri menanti ditengah halaman itu. “Berhenti!” terdengar kakek berbaju hijau itu membentak dengan suara yang rendah tapi berat.

Berdebar keras jantung Gak Lam kun, tapi ia menurut dan menghentikan juga langkah kakinya kemudian pelan-pelan memutar badannya.

Kakek berbaju hijau yang menggembol pedang antik itu selangkah demi selangkah maju menghampiri kearahnya, kurang lebih delapan sembilan depa dari hadapan pemuda itu ia haru berhenti. Tegurnya dengan suara dingin bagaikan es.

“Apakah kau bernama Gak Lam kun?”

Sekali lagi Gak Lam kun merasakan hatinya bergetar keras, tapi jawabnya juga, “Aku adalah Gak Lam kun, tolong tanya siapa nama saudara?”

Paras muka kakek berbaju hijau itu agak tergerak, ia tidak menjawab pertanyaan tersebut sebaliknya malah berkata dengan suara hambar, “Sanggupkah kau sambut tiga jurus serangan pedangku?”

“Kita tak pernah saling mengenal, antara kitapun tak punya dendam sakit hati atau perselisihan apa-apa, buat apa musti bermain kekerasan dengan senjata?”

“Jika kau tak bersedia menyambut tiga jurus pedangku, maka untuk selamanya kau akan terkurung ditempat ini” kata kakek berbaju hijau itu lagi dengan suara dingin.

Mendengar perkataan itu Gak Lam kun segera berpikir, “Sekalipun ilmu silatku masih belum menandingimu, tapi untuk tiga puluh gebrakan rasanya masih sanggup untuk mempertahankan diri, apalagi ia cuma minta menghadapi tiga jurus serangannya belaka…. kalau didengar dari perkataannya itu agaknya bila aku sanggup menahan ketiga buah serangan pedangnya, dia akan memberi petunjuk kepadaku untuk keluar dari kepungan ini….”

Berpikir sampai disitu, Gak Lam kun yang keras kepala segera tersenyum, katanya, “Kalau toh lotiang berharap agar boanpwe menyambut ketiga jurus serangan, akupun akan menyanggupinya, cuma setelah kejadian, aku harap kau jangan menghalangi kepergianku”

Kakek berbaju hijau itu segera tertawa dingin.

“Heeehh…. heeehh…. memangnya kau masih ingin tetap tinggal disini?”

“Kedatangan boanpwe ditengah malam buta ini bukan lantaran tanpa sebab, aku rasa lotiang pasti mengetahui pula maksud kedatanganku”

“Selama hidupku belum pernah aku berbicara sebanyak ini dengan orang lain, tapi malam ini aku telah melanggar kebiasaanku dengan berbicara lebih banyak kepadamu. Ketahuilah halaman ini penuh diliputi alat rahasia yang berlapis-lapis, setiap rumput kayu, batu bahkan kerikil kecilpun diatur menurut suatu posisi ilmu barisan yang maha sakti, jika kau tidak bersedia mengundurkan diri dari sini, maka hal ini akan mendatangkan kerugian untukmu”

Gak Lam kun tertawa ewa. “Maksud baik lotiang biar kuterima dalam hati saja, mati hidup seorang manusia aku rasa tak akan bisa diduga oleh siapapun”

Mendengar perkataan itu, si kakek berbaju hijau itu menjadi tertegun, lalu katanya sambil tertawa, “Baik! Kalau begitu sambutlah lebih dahulu tiga buah tusukan pedangku ini!”

Baru selesai perkataan itu diucapkan, Gak Lam kun merasakan pandangan matanya menjadi silau dan tahu-tahu kakek berbaju hijau itu sudah berada dihadapannya, ia berdiri dengan mencekal sebilah pedang panjang yang memancarkan cahaya kebiru-biruan.

Gak Lam kun merasa terkejut juga menyaksikan kecepatan orang itu dalam mencabut pedangnya, ia tahu kakek berbaju hijau itu pasti seorang ahli pedang yang berilmu tinggi.

Tentu saja pemuda itu lebih-lebih tak berani berayal lagi, pedang pendek yang berada dalam sakunya segera dicabut keluar.

Sekilas cahaya putih dengan cepat memancar keempat penjuru berpadu dengan cahaya biru dari pedang kakek tersebut, ini menunjukkan kalau kedua bilah pedang tersebut

sama-sama merupakan pedang mustika yang mahal harganya.

Kakek berjubah hijau itu pelan-pelan mengangguk, lalu pujinya dengan suara pelan, “Sudah lama kudengar orang berkata bahwa pedang Giok siang kiam milik Lam hay sin ni adalah sebilah pedang mustika yang langka dalam dunia persilatan, setelah kulihat sendiri sekarang terbuktilah bahwa berita tersebut bukan berita kosong belaka”

Gak Lam kun kembali merasa terkejut, pikirnya, “Aaah…. ternyata dugaanku memang tidak salah ketua perguruan panah bercinta Bwe Li pek memang muridnya Lam hay sin ni, kalau tidak tak mungkin Lam hay sin ni akan menyerahkan pedang mustika miliknya itu kepada orang lain”

Dalam pada itu si kakek berjubah hijau itu sudah menyiapkan pedangnya, lalu sambil tertawa ia berkata, “Gak Lam kun dalam dunia dewasa ini jarang sekali ada orang yang sanggup menerima tiga buah serangan pedangku, kau harus perhatikan baik-baik karena ketiga buah seranganku justru merupakan tiga jurus inti yang mencakup segenap kekuatan serta kehebatan dari ilmu pedangku”

Gak Lam kun berdiri dengan pedang disilangkan didepan dadanya, ia berdiri sekokoh batu karang jawabnya dengan dingin.

“Silahkan menyerang dengan sepenuh tenaga! Boanpwe akan pertaruhkan nyawaku untuk menerima seranganmu itu!”

Menyaksikan cara Gak Lam kun memegang pedangnya sambil berdiri angker diam-diam kakek berjubah hijau itu manggut berulangkali.

Tiba-tiba kakek berbaju hijau itu meluruskan pedangnya sejajar dengan dada sepasang matanya terpejam rapat, wajahnya berubah menjadi serius sekali.

Waktu itu Gak Lam kun telah menghimpun pula segenap tenaga dalamnya kedalam telapak tangan, ia sudah bersiap sedia menyambut serangan pertama dari lawannya. Sebelum melakukan persiapan tadi, sesungguhnya ia sedikit memandang enteng ketiga jurus serangan lawan, tapi sekarang ia tak berani gegabah ia merasa bahwa musuhnya mungkin benar-benar memiliki ilmu pedang yang tiada tandingannya didunia ini.

Mendadak kakek berjubah hijau itu mementangkan sepasang matanya, setajam sembilu sorot matanya dan pandangan itu tertuju pada ujung pedang yang berada dalam genggamannya itu.

Berbareng dengan gerakan itu pelan-pelan si kakek berjubah hijau itu menggetarkan pedang birunya lalu ditusuk kedada Gak Lam kun dengan suatu gerakan mendatar.

Serangan itu kelihatannya sederhana tanpa sesuatu yang aneh, tapi bagi penglihatan seorang ahli pedang, serangan tersebut justru merupakan suatu serangan pedang tingkat tinggi.

Tiba-tiba paras muka Gak Lam kun berubah hebat, mimik wajahnya menunjukkan perasaan ngeri, kaget, kagum dan tercekat.

Tapi dalam waktu singkat paras mukanya kembali berubah, yaitu perasaan kecewa, perasaan nekad dan semangat yang berkobar.

Sementara paras muka Gak Lam kun mengalami dua kali perubahan, ujung pedang yang memancarkan sinar biru itu sudah berada tiga inci didepan dadanya.

Gak Lam kun segera menggerakkan pedang pendeknya untuk menyongsong datangnya ancaman tersebut.

Criing! Criing! Criing…. tiga kali dentingan nyaring berkumandang memenuhi angkasa.

Kilatan warna biru dan bianglala warna putih dalam sekejap mata yang singkat telah saling membentur sebanyak tiga kali….

Hawa pedang segera membumbung tinggi keangkasa, tapi sekejap kemudian tiba-tiba lenyap tak berbekas….

Tubuh Gak Lam kun terdesak mundur sejauh tiga kaki, tapi ia masih berdiri sambil memeluk pedang, tapi sorot matanya telah pudar, peluh sebesar kacang membasahi jidatnya.

Jelas dalam bentrokan itu ia merasa betapa ngototnya serta mengalami rasa kaget serta ngeri yang kelewat batas.

Kakek berbaju hijau itu sendiri masih tetap berdiri dengan sikap tenang, namun sekilas rasa kaget sempat menghiasi wajahnya, jelas ia kagum atas kehebatan Gak Lam kun yang masih muda namun telah berhasil mencapai kepuncak kesempurnaan dalam permainan pedangnya itu.

Mendadak kakek berbaju hijau itu masukan kembali pedangnya kedalam sarung, lalu dengan dingin berkata, “Tiga jurus sudah lewat, kau memang benar-benar murid seorang kenamaan. Bila kau sedia meninggalkan gedung ini, silahkan mundur dulu lewat timur kemudian berputar kebarat, dengan cepat barisan ini akan kau tinggalkan, bila berjumpa lagi dikemudian hari mungkin kita akan menjadi musuh yang saling bertentangan bagaikan api dan air, nah sekarang kau boleh tinggalkan tempat ini!”

Selesai mengucapkan kata-kata tersebut kakek berbaju hijau itu lantas menuju kelorong sebelah selatan dan pelan-pelan mengundurkan diri dari situ.

Gak Lam kun meraba rambut diatas jidatnya yang kutung dengan tangan kirinya, kemudian menghela napas panjang, pedangnya dimasukkan kembali kedalam sarung.

Bagaimanapun juga, perasaannya telah bergetar keras karena dalam menghadapi ketiga jurus serangan tersebut, hampir saja nyawanya lenyap diujung pedang lawan.

Tak bisa dibantah lagi ilmu pedang dari kakek berbaju hijau itu telah dilatih hingga mencapai tingkat yang tiada tandingannya didunia ini, coba ia menyerang satu jurus lebih banyak, sudah pasti dia tak akan mampu untuk menghadapinya.

Sesungguhnya semangat Gak Lam kun berkobar-kobar, akan tetapi sekarang ia merasa agak lemas dan putus asa, ia tak mau tinggal terlalu lama lagi disitu, maka menurut petunjuk dari kakek berbaju hijau tadi iapun mengundurkan diri dari situ.

Mendadak…. beberapa ucapan terakhir dari kakek berbaju hijau itu membangkitkan kembali sikap ingin menangnya, ia mendengus dingin lalu bergumam, “Baiklah! Bila ada jodoh aku pasti akan minta petunjuk darinya…. aku ingin tahu apakah ilmu silatnya memang betul-betul tiada tandingannya didunia ini!”

Gak Lam kun segera sadar dari lamunan, tanpa terasa kembali dia berpikir, “Siapakah kakek itu? Siapakah diantara jago-jago silat dewasa ini yang memiliki ilmu pedang selihay itu?”

Mendadak satu ingatan melintas dalam benaknya tanpa terasa serunya tertahan.  “Dia adalah See ih kiam seng (malaikat pedang dari See ih) Siang Ban im?! Hanya dia

seorang yang dapat memiliki ilmu pedang selihay itu…. kalau tidak siapa lagi didunia ini yang berhak mendapatkan gelar sebagai malaikat pedang lagi?”

Tiba-tiba kedengaran seseorang membentak nyaring, “Siapa disitu?”

Mendengar teguran tersebut Gak Lam kun merasakan hatinya bergetar keras, buru- buru badannya berkelebat lewat dan menyembunyikan diri disisi dinding rumah sebelah kanan.

Ternyata pada waktu itu Gak Lam kun telah berjalan dilorong terakhir yang menuju kesebelah utara, jaraknya dengan jalan keluar tinggal tiga empat puluh kaki lagi dan bentakan itupun berkumandang datang dari luar lorong.

Agaknya orang itu menunggu cukup lama, tapi setelah dilihatnya tiada jawaban yang terdengar dia lantas bergumam pula.

“Jangan-jangan telingaku yang salah mendengar, Hoa heng, kau mendengar suara manusia atautidak?” Perlu diterangkan disini, gumaman Gak Lam kun tadi diucapkan dengan suara yang amat lirih, sekalipun ditengah malam y»ng sunyi tapi bila seseorang tidak memiliki tenaga dalam yang amat sempurna jangan harap bisa menangkap suara orang lain dari jarak sejauh tiga empatpuluh kaki itu.

Kedengaran seseorang menyahut dengan suara yang nyaring, “To heng, lebih baik jangan panik begitu, gedung ini penuh dengan ilmu barisan serta alat jebakan, kecuali kau seorang, siapa pula yang bisa jalan-jalan seenaknya didalam sana sekalipun kau tidak salah dengar tapi orang itupun belum tentu bisa keluar dari kurungan dengan selamat!”

Orang itu segera tertawa kering.

“Hoa heng, lebih baik kurangi jilat pantatmu nyaris kita akan terkurung malam ini disini.”

“Lihay, sungguh teramat lihay” lanjut orang she Hoa itu, “coba kalau ilmu kepandaian yang dimiliki To-heng tidak hebat dan luar biasa, siaute betul-betul akan terkurung disini dan mati kelaparan.”

Tampaknya orang yang lain adalah seorang tosu, dia termenung sejenak kemudian baru berkata, “Hoa heng, bukan aku sengaja menyombongkan diri, dalam dunia persilatan dewasa ini boleh dibilang jarang sekali ada orang yang pandai segala ilmu barisan semacam aku.”

“Bukan cuma jarang hakekatnya sama sekali tiada yang kedua!” sambung orang she Hoa itu cepat-cepat.

Tosu itu termenung lagi sebelum melanjutkan kembali kata-katanya.

“…. tapi alat jebakan serta barisan yang diatur dalam gedung ini benar-benar sudah memusingkan kepalaku”

“Terlalu sungkan, terlalu sungkan….” orang she Hoa itu tertawa ringan.

Rupanya tosu itu sudah dibuat marah, katanya cepat dengan suara yang dingin, “Hoa heng, aku bicara sungguh-sungguh, antara kita berdua toh sudah terikat oleh perjanjian, masakah aku bakal membohongi dirimu dengan kata yang sengaja kubuat-buat?”

Orang she Hoa itu segera tertawa.

“Tidak berani, tidak berani, harap to heng jangan salah paham dengan maksudku pula?”

“Kita telah berhasil melewati barisan dalam kebun bunga dan bangunan gedung diluar sana, segala sesuatunya meski sakti dan aneh untung semuanya telah kita lewati dengan aman, tapi tahukah kau bahwa ilmu barisan yang lebih lihay dan alat jebakan yang lebih hebat masih ada dibelakang sana? Konon alat-alat jebakan yang dipasang disekitar tempat penyimpanan mustika sedemikian hebatnya, sehingga walaupun kau memiliki peta petunjuk dari Lencana pembunuh naga, toh masih tetap setengah incipun sukar dilewati, yaa…. percuma memang walaupun kita mempunyai lencana itu, sebab bagaimana pun hal ini masih menyulitkan sebelum diadakan suatu penyelidikan yang seksama tak nanti aku berani sembarangan memasukinya” Gak Lam kun yang sempat mencuri dengar pembicaraan itu menjadi amat terkejut, dia tidak mengira kalau lencana pembunuh naga sesungguhnya menyimpan begitu banyak rahasia dunia persilatan.

Perlu diterangkan disini, menjelang saat kematiannya meskipun Yo Long menerangkan kepadanya bahwa Lencana pembunuh naga adalah suatu mustika dunia yang diincar dan menjadi idaman setiap umat persilatan, namun ia sama sekali tidak menerangkan rahasia apakah yang tersimpan dibalik lencana tersebut.

Oleh sebab itu terhadap pelbagai macam rahasia yang berada dibalik lencana pembunuh naga, Gak Lam kun masih tetap bingung dan tidak habis mengerti.

Siapakah dua orangitu? Tak disangka olehnya kalau dunia persilatan demikian licik dan berbahayanya, padahal tidak sedikit jumlah jago persilatan yang berkumpul diatas pulau terpencil itu, tapi kedua orang itu secara diam-diam bisa sampai disini, kalau didengar dari pembicaraan mereka rupanya sebelum itu mereka sudah tahu tentang rahasia didalam gedung itu.

Kedengaran orang she Hoa itu tertawa ringan, lalu berkata.

“Kalau begitu bagaimana pun juga kita harus mendapatkan lencana pembunuh naga itu?”

Tosu tersebut tertawa dingin.

“Hoa heng dewasa ini para peserta yang telah berdatangan kemari untuk saling memperebutkan lencana pembunuh naga terdiri dari pihak Thi eng pang, Cing ciam bun beserta para jago dari aliran See thian san, aku lihat kekuatan kita betul-betul paling minim dan lemah.”

“Jangan khawatir saudara To” jawab orang she Hoa itu sambil tertawa “siaute mempunyai sebuah rencana bagus yang tanggung bisa menjirat beberapa orang jago lihay”

Tosu itu tertawa kering.

“Heee…. heeehh…. heeh…. apakah kau maksudkan Say loji serta Kongsun Po….?” “Toa heng kecerdasanmu memang luar biasa” puji orang she Hoa itu lagi sambil

tertawa “tapi kau lupa, toh masih ada seorang Yan lo sat (iblis perempuan cantik) Hoang Im?”

“Saudara Hoa, yakinkah kau bahwa beberapa orang itu pasti dapat kaujerat?”

“Kini keadaan situasinya telah berubah, tentu saja dengan senang hati mereka bersedia untuk bekerjasama dengan kita, apalagi aku masih mempunyai daya pikat lain yang tentu akan merangsang mereka semua”

Mendengar perkataan itu, tosu tersebut tertawa bangga. “Haaahhh…. haaahhh…. haaaahhh…. bagus, bagus sekali, kalau begitu kuserahkan persoalan ini kepada saudara Hoa”

Orang she Hoa itu ikut pula tertawa terbahak-bahak.

“Haaahhh…. haaahhh…. saudara To, mari kita tinggalkan tempat ini”

Selesai dengan ucapan tersebut, secara lamat-lamat Gak Lam kun mendengar suara langkah kaki itu makin lama makin menjauh dan akhirnya lenyap dibalik keheningan.

Gak Lam kun menghembuskan napas panjang, pelan-pelan diapun berjalan keluar dari tempat persembunyiannya.

Tapi kini satu persoalan berkecamuk dalam benaknya, sambil berjalan ia berpikir, “Kedua orang itu je1as semuanya adalah jago-jago yang bernama besar dalam dunia persilatan, entah siapakah dia?”

Pelan-pelan Gak Lam kun berjalan keluar dari mulut lorong itu, dihadapannya terbentang sebuah lembah bukit yang sepi, rupanya tempat itu merupakan sudut tenggara gedung besar itu.

Baru saja si anak muda itu keluar dari lorong, mendadak muncul sesosok bayangan hitam yang bagaikan sesosok sukma gentayangan berkelebat menghampirinya, kelima jari tangannya bagaikan cakar setan langsung mencengkeram urat nadi pada pergelangan tangan kirinya.

Sergapan yang dilakukan sangat mendadak ini mempunyai gerakan yang amat cepat dan luar biasa.

Seketika itu juga Gak Lam kun merasakan datangnya ancaman, tapi gerakan tangan musuh sungguh teramat cepat, tahu-tahu pergelangan tangannya sudah tersentuh olehnya.

Dalam terkejutnya, buru-buru Gak Lam kun mengeluarkan ilmu gerakan tubuh Ji gi ngo heng jit seng liong heng sin hoat, dengan suatu gerakan manis ia menghindar sejauh lima enam depa dari posisi semula.

Tapi baru saja kakinya berdiri tegak, kembali datang segulung angin pukulan yang sangat berat menghantam jalan darah Hong hu hiat pada bahu kirinya.

Tercekat hati Gak Lam kun, dia tidak mengira kalau sergapan musuh dilakukan sedemikian cepatnya hingga tidak memberi kesempatan kepada lawan untuk berganti napas, satu ingatan melintas dalam benak anak muda itu, sekali lagi dia gunakan gerakan Liong heng sin hoat yang maha sakti itu untuk berkelebat lewat sejauh satu kaki lebih dari posisi semula.

Kali ini dia kuatir kalau musuhnya menguntil terus dibelakang, maka seraya menghindarkan diri, telapak tangan kirinya diputar kebelakang melancarkan pula sebuah pukulan, setelah itu secepat kilat badannya berputar kebelakang dan mengawasi sekeliling tempat itu. Kurang lebih satu tombak dihadapannya berdirilah seorang tosu setengah umur berjubah warna kuning, bertubuh kurus kering tinggal kulit pembungkus tulang, berwajah pucat seperti mayat dan membawa sebuah senjata hudtim yang terdiri dari benang emas.

Disampingnya berdiri pula seorang pelajar berusia empat puluh tahunan berwajah tampan, romantis dan menggembol sebilah pedang diatas bahunya.

Hanya sekilas pandangan saja Gak Lam kun sudah tahu kalau mereka berdua adalah dua orang yang bercakap-cakap tadi, tak terlukiskan rasa kaget dan ngerinya pemuda itu, dia tidak menyangka kalau mereka berdua sedemikian liciknya sehingga meski sudah berlalu dari situ, ternyata secara diam-diam melakukan sergapan.

Sekalipun demikian, dari sini dapat diketahui pula bahwa ilmu meringankan tubuh yang mereka miliki telah mencapai puncak kesempurnaan, sebab dengan ketajaman pendengarannya ternyata ia tidak mengetahui akan kehadiran kembali mereka berdua.

Tosu berjubah kuning itupun kelihatan tertegun kemudian sambil tertawa seram katanya, “Aku lihat ilmu silatmu cukup sempurna, kecerdasanmu pun boleh juga dipupuk?”

Waktu itu Gak Lam kun sudah merasa amat marah karena tanpa sebab kedua orang itu menyergapnya dan nyaris ia kena dipecundangi, dengan suara dalam serunya kemudian, “Aku rasa kamu berduapun merupakan jago-jago persilatan yang punya nama dan kedudukan, kenapa kalian lakukan tindak penyergapan yang rendah dan memalukan itu”

Sastrawan ganteng tertawa tergelak.

“Haaahh…. haaah…. haaah…. siapa pula dirimu? Kalau bicara begitu tak tahu diri?

Hmmm…. kalau menyergappun suatu perbuatan rendah, lantas aku ingin bertanya kalau menyadap pembicaraan rahasia orang lain merupakan perbuatan yang rendah atau tidak?”

Gak Lam kun mengerutkan dahinya, kembali ia berseru dengan marah, “Saudara, ucapanmu itu terlalu dibuat-buat, kau anggap hanya kalian saja yang boleh mendatangi gedung ini dan orang lain tidak boleh mendatanginya”

Tosu berjubah kuning itu tertawa seram, senjata hudtimnya disisipkan kebelakang bahunya, kemudian selangkah demi selangkah dia menghampiri si anak muda itu.

Dibalik wajahnya yang kurus dan jelek, terlintas kebuasan, kelicikan, kekejaman, kesombongan dan keangkeran yang tebal membuat mimik wajahnya kelihatan begitu seram dan menggidikkan hati.

Menyaksikan perubahan wajahnya itu, Gak Lam kun mendengus dingin dengan segala kemungkinan yang tidak diinginkan.

Tiba-tiba tosu berjubah kuning itu tertawa dingin tubuhnya menubruk kedepan, kelima jari tangan kirinya secepat kilat mencengkeram tulang persendian pada sikut lengan kanan pemuda itu.

Gerakan serangan tersebut bukau saja dilakukan dengan suatu jurus yang aneh lagi pula jauh berbeda dibandingkan dengan ilmu Kin na jiu yang berlaku pada umumnya. Gak Lam kun sangat terperanjat, buru-buru dia miringkan tubuhnya kesamping untuk menghindarkan diri.

Tapi tosu berjubah kuning itu langsung menerjang maju kedepan lutut kanannya segera diangkat dan disodokkan ketubuh bagian bawah lawan.

Tendangan maupun pukulan itu bukan saja dilakukan dengan kecepatan luar biasa, dan lagi disertakan juga tenaga pukulan yang sangat kuat.

Tampaknya tidak sempat lagi Gak Lam kun untuk menghindar ataupun membendung datangnya ancaman tersebut, kelihatan sebentar lagi dia bakal terluka ditangan tosu berjubah kuning itu.

Mendadak Gak Lam kun mengangkat kaki kanannya lalu kaki kirinya bergeser keluar, tubuhnya berputar kesamping begitu menghindar diri dari serangan gabungan yang datang dari depan, telapak tangan kanannya berputar kesamping dan balas melancarkan sebuah pukulan yang tak kalah dahsyatnya.

Tindakan dari Gak Lam kun ini bukan saja aneh lagi pula diluar dugaan orang, bukan saja serangan musuh dapat dihindari, serangan balasanpun amat gencar, hanya dalam satu gebrakan ia berhasil memperbaiki posisinya yang terdesak menjadi kedudukan yang menguntungkan.

Rupanya tosu berjubah kuning itu tidak menyangka kalau musuhnya demikian cekatan, oleh serangan balasan yang dilancarkan dengan tenaga besar itu ia malah berbalik kedesak mundur sejauh tiga langkah lebar.

Dengan penasaran tosu berjubah kuning itu menerjang maju lagi kedepan, sekali lagi telapak tangannya disapu kemuka melancarkan serangan balasan, diiringi suara tertawa dingin yang menyeramkan, bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya dia menerjang maju kemuka.

Kali ini gantian Gak Lam kun yang merasa tertegun, dia tidak menyangka kalau gerakan menubruk yang dilakukan musuhnya untuk kedua kalinya ini jauh lebih cepat daripada serangan yang pertama, bahkan dilakukan hampir bersamaan waktunya dengan gerak mundur tadi.

Ia merasa bahwa tenaga pukulan yang menghembus keluar dari telapak tangan lawan mengandung unsur kekuatan panas yang kuat, tenaganya jauh berada diatas kepandaian Giok bin sin ang (si kakek sakti berwajah pualam).

Gak Lam kun tak berani bertindak gegabah ia tak mau menyambut serangan itu dengan keras lawan keras, kaki kanannya lantas diangkat dan tubuhnya bergeser kesamping, dalam sekejap mata ia sudah menyingkir sejauh lima depa dari posisi semula.

Bagaikan sesosok bayangan tosu berjubah kuning itu menguntil dari belakang, sebuah pukulan kembali dilancarkan mengimbangi gerakan tubrukannya ketubuh pemuda itu.

Dengan jurus Tham lip ki cu (merogoh saku mengambil mutiara) tangan kiri si tosu berjubah kuning itu menyambar sepasang mata Gak Lam kun sementara tangan kanannya dengan mempergunakan ilmu Ki na jiu hoat yang sangat aneh mencengkeram pergelangan tangan kiri pemuda itu. Rupanya tosu berjubah kuning itu sudah berhasil menyusul baik rencana penyerangan, bukan saja semua serangan dilakukan dengan kecepatan yang mengagumkan, apalagi ilmu ki na jiu hoat tersebut boleh dibilang merupakan suatu kepandaian maha sakti yang jarang ditemui dalam dunia persilatan.

Dari sini semakin terbuktilah bahwa tosu berjubah kuning itu tak lain adalah seorang tokoh persilatan yang mempunyai nama serta kedudukan yang amat tinggi.

Meskipun ilmu silat yang dimiliki Gak Lam kun sendiri tidak termasuk lemah, akan tetapi oleh karena terlalu memandang enteng musuh, akibatnya ia kehilangan posisi yang menguntungkan, dalam keadaan demikian tak mungkin lagi baginya untuk menghindarkan diri dari ancaman musuh.

Dalam keadaan kritis ia lantas mengeluarkan jurus Tay bong tian gi (burung elang raksasa mementangkan sayap) untuk menangkis ancaman tangan kiri si tosu berjubah kuning yang mengancam sepasang biji matanya itu….

oooOooo

Sayang seka1i pemuda itu lupa serangan Ki na jiu yang dilancarkan musuhnya lewat tangan kanan justru berlipat kali lebih membahayakan tahu-tahu pergelangan tangan kirinya terasa menjadi kaku, dan urat nadinya sudah terjatuh ditangan lawan.

Gak Lam kun merasa sangat terkejut, menggunakan kesempatan ketika tangan kanan tosu berjubah kuning itu belum mengerahkan tenaga, jari tengah dan jari telunjuk tangan kirinya segera disentik kedepan.

Segulung desingan angin serangan yang tajam dan kuat segera menyambar urat nadi pada pergelangan tangan kanan tosu tadi.

Perubahan ini jauh diluar dugaan siapapun, tosu berjubah kuning itupun tidak menyangka kalau kepandaian silat yang dimiliki Gak Lam kun telah mencapai taraf sedemikian tingginya, urat nadi pada pergelangan tangan kanannya tahu-tahu merasa kesemutan dan ia sudah kena diserang oleh tenaga sergapan anak muda itu.

Setelah jari-jari tangan kirinya melancarkan sentilan tadi, Gak Lam kun lantas memutar telapak tangan kanannya satu lingkaran dan kemudian dilontarkan kebelakang, tosu berjubah kuning itu kena didesak lagi sehingga mundur sejauh tiga empat langkah.

Dengan demikian, kedua belah pihak sama-sama dikejutkan oleh kelihayan ilmu silat lawannya, empat mata saling bertemu dan bertatapan tanpa berkedip, untuk sesaat mereka berdua sama-sama tidak berani melakukan sergapan untuk ketiga kalinya.

Sastrawan tampan yang mengikuti jalannya pertarungan dari samping menunjukkan pula perasaan kaget dan tercengang, sambil tertawa tergelak dia lantas mengejek, “Thian yu to heng, rupanya ilmu silatmu belakangan ini telah peroleh kemajuan pesat, malam ini siaute benar-benar merasa puas dengan kehebatanmu?”

Ucapan yang setengahnya mengandung ejekan dan sindiran itu sesungguhnya bermaksud untuk memanasi hati lawan. Mendengar ucapan itu, paras muka Gak Lam kun berubah hebat, ia merasa yaa kaget yaa marah.

Ternyata ia telah berhasil menebak siapa gerangan orang yang berada dihadapannya sekarang.

Tosu berjubah kuning itu mungkin adalah Kui to (tosu setan) Thian yu cinjin yang merupakan musuh paling tinggi ilmu silatnya diantara sisa tujuh orang musuh besar gurunya, sedangkan sastrawan ganteng itu mungkin adalah orang kelima yang dinamakan orang sebagai Thiat kiam kuncu (lelaki sejati berpedang baja) Hoa Kok khi.

Kenyataannya manusia yang bernama Kui to (tosu setan) Thian yu cinjin memang berilmu silat amat lihay, tapi yang mengherankannya adalah Thiat kiam kuncu (lelaki sejati berpedang baja) Hoa Kok khi, menurut catatan Cin jin liok, jelas dikatakan bahwa ilmu silatnya hanya bisa menangkan Kongsun Po serta Ou Yong hu, tapi kenyataannya ternyata jauh diluar sangkaan.

Ditinjau dari tenaga sergapan yang ia lancarkan tadi, bisa diketahui bahwa ilmu silatnya jauh diatas kepandaian Giok bin sin ang (kakek sakti berwajah pualam) Say khi pit, mungkinkah dia sengaja menyembunyikan ilmunya? Kalau memang demikian, jelaslah sudah bahwa lelaki sejati berpedang baja Hoa kok khi sesungguhnya adalah seorang manusia licik yang banyak sekali tipu muslihatnya.

Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benak Gak Lam kun, diam-diam pikirnya, “Setiap orang yang berada dalam dunia persilatan memang amat licik dan sukar diraba jalan pikirannya, untuk membalaskan dendam bagi guruku aku musti tahu keadaannya lebih dulu sebelum melakukan tindakan”

Berpikir sampai disitu, tanpa terasa pemuda itu tertawa dingin kepada Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi katanya, “Hei, bukankah kau adalah laki-laki sejati berpedang baja yang banyak disebut-sebut oleh orang persilatan?”

Agak tertegun si lelaki berpedang baja Hoa kok khi setelah mendengar perkataan itu, tapi sebentar kemudian ia telah tertawa terbahak-bahak.

“Haaah…. haaah…. haaaah…. sungguh mengagumkan, sungguh mengagumkan, boleh aku tahu siapa namamu?”

Sekuat tenaga Gak Lam kun berusaha mengendalikan kobaran api dendam yang membara dalam hatinya, dengan suara yang amat tenang dia menjawab, “Aku hanya seorang prajurit tak bernama dalam dunia persilatan, apa gunanya kau menanyakan soal namaku?”

Thian kiam kuncu Hoa kok khi tertawa ringan.

“Sudah belasan tahun aku Hoa kok khi jarang melakukan perjalanan dalam dunia persilatan sungguh tak kusangka keadaan dalam dunia telah mengalami banyak perobahan, seorang prajurit tak bernama dari dunia persilatanpun memiliki kepandaian silat selihay ini”  “Belum tentu setiap orang yang sehari penuh melakukan perjalanan dalam dunia persilatan mengetahui keadaan dalam dunia persilatan jauh lebih jelas dari mereka yang mengasingkan diri” sambung Gak Lam kun “mengenal namaku juga bukan suatu yang luar biasa sebagai orang muda dari dunia persilatan siapa yang tidak tahu bahwa peristiwa besar ditebing Yan po gan dimasa lalu telah mengangkat nama Kui to Thian yu Cinjin serta Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi sekalian?”

Mendengar perkataan itu, paras muka Thian yu cinjin maupun Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi segera berubah hebat.

Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benak Thiat kiam kuncu Hoa Kok Khi mencorong sinar tajam dari balik matanya, ia bertanya, “Aku dengar belakangan ini dalam dunia persilatan telah muncul seorang jago muda yang mempunyai ilmu silat amat tinggi, tampaknya kaulah yang bernama Gak Lam kun.”

Terkesiap hati Gak Lam kun sesudah mendengar perkataan itu, dia tak menyangka kalau berita tersebut sudah tersiar demikian cepatnya keseluruh dunia persilatan.

“Jangan-jangan orang persilatan juga tahu kalau aku adalah muridnya Yo Long dan selama ini aku pula yang telah munculkan diri sebagai Tok liong cuncu?” kekuatiran tersebut segera mencekam seluruh perasaan anak muda itu.

Gak Lam kun tersenyum.

Aku tak lebih cuma seorang anak muda yang baru terjun dalam dunia persilatan, sebutan yang terlalu muluk tak berani kuterima.

Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi kembali tertawa terbahak-bahak.

“Haaah…. haaah…. haaaah…. kau terlalu sungkan, kau terlalu sungkan, dengan andalkan beberapa jurus saktimu tadi, sebutan sebagai seorang jago lihay pantas kau gunakan hanya saja aku orang she Hoa juga ingin sekali mencoba ilmu silatmu yang sebenarnya.”

“Aku bisa memperoleh kesempatan untuk mencoba kepandaian silatku dengan seorang jago kenamaan bagiku hal ini sungguh merupakan suatu keberuntungan.”

Rupanya secara diam-diam Gak Lam kun telah menyusun rencana baik, ia tahu ilmu silat yang dimiliki Kui to Thian yu cinjin teramat lihay mungkin bukan suatu pekerjaan yang gampang untuk mengalahkannya, apalagi sekarang ditambah pula seorang Hoa Kok khi, semakin tipislah harapannya untuk meraih kemenangan.

Oleh karena itu, bila ilmu silat yang dimiliki Thiat kiam kuncu terbukti seperti apa yang ditulis dalam kitab catatan musuh-musuh besar, maka dengan mempergunakan kesempatan itu dia akan membinasakannya, kemudian baru menghimpun segenap kekuatan yang dimiliki untuk menghadapi jago yang maha sakti ini.

Jalan pikiran Gak Lam kun memang bagus tapi mana dia tahu kalau Tniat kiam kuncu pun ketika itu sedang menyusun rencananya. Perlu diterangkan disini, meskipun tenaga dalam dan ilmu silat merupakan inti kekuatan yang diandalkan jago-jago persilatan, tapi biasanya kecerdasan jauh lebih hebat daripada ilmu silat.

Ketika Gak Lam kun baru saja menyelesaikan kata-katanya, Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi telah melancarkan terjangan kedepan.

Ia tidak menggerahkan telapak tangannya, pun tidak menggerakkan kakinya, ia hanya bergerak menghampiri kehadapan Gak Lam kun seakan-akan ia memang bersiap-siap menghantarkan tubuhnya untuk digebuk.

Gak Lam kun agak tertegun tapi ia segera tertawa dingin, sambil memutar badan kakinya bergeser kesamping, sebuah pukulan dahsyat segera dilancarkan kebahu kanan orang itu.

Bagi seorang ahli silat serangan yang dilancarkan dapat diketahui bahwa ia berilmu atsu tidak, semenjak Gak Lam kun menyaksikan gerakan tubuhnya yang aneh tadi, dia sudah tahu kalau Thiat kiam kuncu adalah seorang musuh tangguh yang tak boleh dipandang enteng.

Betul juga, gerakan aneh yang dilakukan Thiat kiam kuncu tadi seakan-akan memberi gambaran kepada orang kalau ia tidak mengerti ilmu silat tapi, begitu serangan tiba, sepasang bahunya segera diturunkan kebawah dan secara kebetulan sekali berhasil menghindarkan diri dari ancaman tersebut.

Dengan demikian meskipun seandainya serangan tadi mengenai bahu Thiat kiam kuncu namun tenaga pukulannya sudah banyak yang punah, dan seranganpun menjadi lemas.

Pada saat itulah, Thiat kiam kuncu telah manfaatkan kesempatan baik itu untuk menerjang maju kedepan, sepasang telapak tangannya secara beruntun melancarkan bacokan berantai….

Dalam sekejap mata ia telah melepaskan dua belas buah pukulan yang mematikan. Bayangan telapak tangan meluncur kesana kemari, desingan angin pukulan menderu-

deru bagaikan putaran roda.

Gak Lam kun segera terdesak hingga mundur berulangkali, saat ini dia cuma bisa menangkis dan tak mempunyai tenaga untuk melancarkan serangan balasan.

Diam-diam berkerut juga alis mata Thiat kiam kuncu, dia tak menyangka kalau Gak Lam kun sanggup menghindari kedua belas buah pukulan yang dilancarkan secara berantai itu dengan selamat.

Sementara ia masih tertegun, Gak Lam kun telah membentak gusar.

“Sreeet! Sreeet! Sreeet!….” secara beruntun telapak tangan kirinya melepaskan pula tiga buah bacokan kilat yang memaksa gerak maju Hoa Kok khi menjadi terhalang.

Sekali berhasil merebut posisi yang menguntungkan, Gak Lam kun tak mau melepaskan kesempatan baik itu dengan begitu saja, tiba-tiba ia menerjang maju kedepan sambi1 melancarkan sebuah tendangan kilat ketubuh Hoa Kok khi dengan kaki kirinya. Deruan angin tajam menyambar-nyambar, secepat kilat Gak Lam kun telah melancarkan tujuh buah tendangan kilat.

Tendangan cepat yang dilakukan oleh Gak Lam kun ini merupakan serangkaian ilmu tendangan yang dahsyat dan jarang ditemui dalam dunia persilatan.

Kecepatannya benar-benar sangat mengagumkan, ibaratnya gulungan ombak yang saling susul menyusul menghantam tepian karang.

Karena posisinya mulai terdesak sehingga pihak lawan memegang peranan untuk melakukan desakan, terpaksa Thiat kiam kuncu Hoa kok khi harus memutar sepasang telapak tangannya sedemikian rupa untuk menciptakan selapis bayangan telapak tangan yang tebal guna melindungi seluruh badannya.

Pertarungan mereka berdua kian lama berlangsung kian sengit, setiap pukulan yang mereka gunakan rata-rata diarahkan pada jalan darah kematian ditubuh lawan, deruan angin serangannya hampir menyelimuti wilayah seluas beberapa depa disekeliling sana.

Daun dan ranting berguguran, suara gemerisik karena pepohonan yang goncang menambah ramainya suara disekeliling sana.

Ketika itu, mereka berdua telah saling berebut posisi dengan sepenuh tenaga, hampir semua perubahan jurus serangannya dilakukan dengan gerakan paling aneh dan paling tangguh.

Si tosu setan Thian yu Cinjin yang mengikuti jalannya pertarungan dari sisi gelanggang diam-diam merasa terkejut, pikirnya, “Pinto sudah menduga kalau Hoa Kok khi itu licik dan banyak tipu muslihatnya, ia jarang mengunjukkan taraf kepandaian yang dimilikinya tak nyana kalau kepandaiannya telah mencapai taraf sehebat ini. Tapi Gak Lam kun itulah menakutkan lagi dengan usia semuda ini taraf kepandaian silatnya sudah mencapai sedemikian hebatnya, coba kalau diberi kesempatan lama sepuluh tahun lagi, dunia persilatan niscaya akan berada dibawah kekuasaannya….”

Berpikir sampai disitu timbul niatnya untuk turun tangan serta melenyapkan pemuda itu dari muka bumi.

Tapi karena diapun ingin mengetahui sampai dimanakah taraf kepandaian silat yang dimiliki Hoa Kok khi, untuk sementara waktu niatnya yang pertama tadi diurungkan, sambil berpeluk tangan diam-diam ia mulai mengamati jurus jurus serangan yang digunakan Thiat kiam kuncu.

Kui to Thian yu cinjin bukan seorang yang bodoh, diapun seorang imam yang berakal licik, sejak bekerja sama dengan Hoa Kok khi, ia sudah tahu bahwa begitu lencana pembunuh naga berhasil didapatkan, atau begitu mereka berhasil memasuki tempat penyimpanan harta, suatu pertarungan sengit diantara mereka tak akan terhindarkan lagi, sebab itu sebelum kejadiannya berlangsung, dia musti mendalami lebih dulu taraf kepandaian yang sesungguhnya dimiliki Hoa Kok khi.

Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi bukan manusia sembarangan, tentu saja diapun cukup memahami siasat licik dari Thian yu cinjin yang ingin menyadap jurus serangannya dalam pertarungan ini. Ditengah berkobarnya pertarungan seru, tiba-tiba Hoa kok khi melancarkan sebuah serangan kedepan, sampai ditengah jalan gerakan itu mendadak berputar dan menerobos lewat sepasang telapak tangan Gak Lam kun dan langsung menghantam dada si anak muda itu.

Melihat datangnya terobosan tersebut, Gak Lam kun mencoba hendak menangkisnya sayang tak sempat lagi. Terpaksa segenap tenaga dalamnya dihimpun kedalam bahu lalu secepat kilat dilontarkan kedepan.

Pukulan itu secara kebetulan menghantam tepat diatas bahu Gak Lam kun….

Rupanya Thiat kiam kuncu Hoa kok khi cukup memahami sampai dimanakah kehebatan dari bahu lawan, dalam gugupnya ia membuyarkan dua bagian tenaga dalamnya.

Ketika telapak tangan dan bahu saling bertemu, segera terasalah segulung tenaga pantulan yang amat kuat menerjang keluar, mau tak mau Hoa kok khi terdorong juga kebelakang sejauh dua langkah lebih.

Ternyata didalam melancarkan tangkisan dengan bahunya itu Gak Lam kun telah mempergunakan ilmu Tan suai cian (bantingan bahu) semacam ilmu pantulan yang amat dahsyat.

Sebagaimana diketahui, apabila bahu orang dirapatkan satu sama lain, maka akan timbullah sebuah tulang yang menongol keluar, dengan tulang itulah dia telah menahan serangan musuh kemudian tenaga dalam yang terkandung dalam bahu menyusul memantul keluar.

Dengan cara ini bukan saja serangan musuh dapat ditahan, sekaligus bisa mementalkan pula serangan musuh sebesar tenaga yang dipergunakan lawan, atau dengan perkataan lain, semakin besar serangan yang dipergunakan lawan, semakin besar pula tenaga pantulan yang dihasilkan.

Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi tidak mengetahui apakah Gak Lam kun telah berhasil menguasai ilmu Tan suai cian tersebut atau tidak, maka tenaga pukulannya buru-buru dibuyarkan beberapa bagian.

Setelah benturan terjadi, Hoa Kok khi baru merasa terperanjat, sebab terbuktilah sudah kalau Gak Lam kun telah melatih kepandaian tersebut hingga mencapai tingkatan kelima.

Setelah memantulkan kembali tenaga lawan, Gak Lam kun ikut menubruk kedepan, secepat kilat telapak tangan kanannya ditolak kedepan menghantam tubuh musuh.

Serangan tersebut boleh dibilang dilancarkan berbarengan dengan gerakan bahu yang dilakukan tadi.

Berbicara menurut keadaannya ketika itu sesungguhnya sulit bagi Hoa Kok khi untuk menghindarkan diri dari ancaman lawan.

Namun Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi yang banyak akal busuknya ini tidak gugup menghadapi ancaman maut, ia tahu keadaan sudah kepepet sekali, mau tak mau dia musti mengeluarkan ilmu simpanannya. Seperti juga apa yang dilakukan Gak Lam kun tadi ternyata Hoa Kok khi pun mempergunakan ilmu Tan suai cian untuk menyambut serangan tangan kanan si anak muda itu dengan bahunya.

Gak Lam kun tidak menyangka kalau Hoa Kok khi dapat pula mempergunakan jurus kepandaian itu untuk membuyarkan serangannya jelas tak mungkin lagi, dan…. “Blaang!” telapak tangannya langsung beradu keras dengan bahu lawan.

Terdengar suara dengusan tertahan menggema memecahkan kesunyian, Thiat Kiam kuncu terhantam sehingga mundur tujuh delapan langkah dari posisinya semula.

Gak Lam kun masih tetap berdiri ditempat semula tapi lengan kanannya terasa linu dan kesemutan sakitnya bukan kepalang.

Waktu itu pemuda tersebut merasa keheranan, ia dengan pasti mengetahui bahwa Hoa Kok khi telah memantulkan seluruh tenaga pukulannya dengan ilmu Tan suai cian, bahkan lengan kanannya menjadi kesemutan dibuatnya, tapi diluar dugaan ternyata isi perutnya tidak ikut terluka, ataukah mungkin tenaga dalamnya kurang sempurna?

Atau mungkin….?

Teringat akan yang terakhir ini Gak Lam kun merasa amat terkejut, buru-buru dia mengatur hawa murninya untuk mengelilingi sekujur badannya, terbukti isi perutnya sama sekali tidak terluka, hal ini semakin meyakinkan dia bahwa tenaga dalam dari Hoa Kok khi lah yang kurang sempurna.

Padahal Gak Lam kun mana tahu kalau Hoa Kok khi ketika itu sedang beradu kecerdasan dengan Thian yu cinjin! Ia memang sengaja menyembunyikan kepandaian silatnya agar tidak terlalu menyolok.

Coba kalau Hoa Kok khi benar-benar memantulkan tenaga pukulannya yang disertai dengan kekuatan mautnya tak bisa diragukan lagi Gak Lam kun pasti akan terluka parah.

Kiu to Thian yu Cinjin segera memburu maju kedepan, tegurnya, “Saudara Hoa, bagaimana keadaanmu?”

Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi tertawa lebar.

“Masih mendingan dan tak sampai terluka dalam, bocah keparat ini memang rada hebat!”

“Hoa heng, biar pinto yang membalaskan sakit hatimu itu!” seru Thian yu Cinjin kemudian dengan suara dingin.

Selesai berkata, si tosu setan segera meloloskan hudtim bulu emasnya dan pelan-pelan menghampiri Gak Lam kun….

Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi segera tertawa terbahak-bahak, serunya dengan lantang, “Thian yu to heng, sakit hati atas sebuah pukulan ini bila tidak siaute balas malu aku menjadi seorang pria!” Dari tempat kejauhan kembali ia lepaskan sebuah bacokan kilat ketubuh Gak lam kun.

Gak Lam kun bukan seorang bodoh, sudah barang tentu diapun mengetahui bahwa kedua orang itu bermaksud jelek terhadapnya, jelas lantaran mereka adalah jago-jago kenamaan, maka kalau secara terang-terangan mengatakan hendak menghadapinya bersama, hal ini pasti akan menurunkan derajatnya, maka digunakanlah sandiwara tersebut untuk menyelimuti rencana mereka yang sesungguhnya.

Benar juga, serangan yang dilancarkan Hoa Kok khi segera mengunci jalan mundur Gak Lam kun sementara bersamaan waktunya hudtim bulu emas ditangan Kui to Thian yu cinjin secepat kilat telah menyambar datang mengancam batok kepalanya.

Serangan gabungan dari dua orang jagoan lihay ini boleh dibilang keji, ganas dan mengerikan, didalam perkiraan kedua orang itu, Gak Lam kun pasti tak akan mampu meloloskan diri dengan selamat.

Paras muka Gak Lam kun berubah juga setelah menyaksikan hebatnya serangan gabungan tersebut, buru-buru dia keluarkan ilmu gerakan tubuh Liong heng sin hoat yang maha sakti itu untuk menghindarkan diri dari sabetan senjata hudtim dari Thian yu Cinjin.

Ilmu gerakan tubuh Ji gi ngo heng liong sin hoat memang suatu gerakan tubuh yang sakti dan mengagumkan, Thian yu cinjin betul-betul dibikin tidak habis mengerti, padahal ia tahu kalau semua jalan mundur bagi Gak Lam kun telah tertutup, tapi nyatanya pemuda itu toh berhasil meloloskan diri dari kepungan.

Untuk sesaat lamanya, tosu setan itu sampai terkesima dibuatnya.

Sementara dia masih termenung, Gak Lam kun telah meloloskan pedang pendek Giok siang kiam dari sakunya.

Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi tidak memberi kesempatan bagi musuhnya untuk melancarkan serangan lebih dulu, ia segera membentak keras, sepasang telapak tangannya secara beruntun dibabat keluar, dua gulung tenaga pukulan yang dahsyatnya bagaikan ambruknya bukit tay san langsung menerpa kedepan.

Gak Lam kun tidak berani menyambut datangnya serangan dengan keras lawan keras, cepat tubuhnya melejit keudara, segulung hembusan angin puyuh segera menggulung lewat dari bawah kakinya, coba sedikit ia terlambat menghindar, niscaya tubuhnya akan hancur termakan serangan itu.

Baru saja lolos dari ancaman Hoa Kok khi, Kui to Thian yu Cinjin telah menubruk lagi dari belakang, telapak tangan kirinya dengan jurus Sin liong Tham jiau (naga sakti unjukkan cakar) mencengkeram kepalanya sementara senjata hudtim ditangan kanannya dengan jurus Poan koan boan poh (hakim pengadilan memeriksa catatan) menggulung pergelangan tangan kanan pemuda itu.

Gak Lam kun menggetarkan pergelangan tangannya dan menyerang dengan menggunakan jurus aneh, pedang pendeknya dengan gerakan seperti menotok seperti juga sedang membacok dibawah kilatan cahaya yang menyilaukan mata secara beruntun mengancam jalan darah Hian ki, Tong bun, Ciang tay tiga buah jalan darah kematian. Jitu sekali serangan tersebut, kendatipun Thian yu Cinjin memiliki ilmu silat tinggi, sulit juga baginya untuk mematahkan serangan tersebut, karena posisi tidak menguntungkan, buru-buru tosu itu menarik kembali serangannya dan mundur tiga langkah.

Menggunakan kesempatan itu Gak Lam kun menciptakan segulung hembusan angin pedang yang tajam untuk melindungi tubuhnya, tubuhnya melejit keudara lalu menggunakan pancaran dari angin pedang tadi ia keluarkan ilmu Leng gong siu tok (menyeberang lewat tengah udara) dan melayang sejauh enam tujuh kaki dari tempat semula.

Ternyata Gak Lam kun tahu bahwa kepandaian silatnya seorang diri teramat minim, tak mungkin ia bisa menghadapi dua orang musuh tangguh sekaligus sebab itu timbullah pikirannya untuk kabur dulu dari situ, untuk kemudian bila ada kesempatan dilain saat kedua orang itu baru akan dibunuhnya…. siapa tahu, baru saja kakinya menginjak permukaan tanah dari samping tubuhnya telah berkumandang suara tertawa dingin dari Hoa kok khi.

Menyusul suara tertawa dingin tadi sebuah pukulan dahsyat telah dibabat kearah tubuhnya dari belakang.

Mimpipun Gak Lam kun tidak mengira kalau ilmu meringankan tubuhnya yang demikian sempurna ternyata masih kalah satu tingkat bila dibanding dengan kepandaian Hoa kok khi untuk sesaat sulit bagi pemuda itu untuk menghindarkaa diri.

Dalam keadaan begini ia menjadi nekad, hawa murninya segera dihimpun menjadi satu lalu telapak tangan kirinya didorong kebelakang dan bersiap sedia menerima pukulan itu dengan keras lawan keras.

Siapa tahu pukulan yang dilancarkan itu ternyata sama sekali tidak menjumpai halangan, karena keheranan maka tanpa terasa dia menarik kembali serangannya itu.

Pada saat itulah segulung tenaga pukulan berhawa dingin mengikuti tenaga yang ditarik kembali itu memyusup kedalam tubuhnya, kenyataan tersebut sangat mengejutkan hatinya, buru-buru ia menyalurkan hawa murninya untuk melindungi isi perut, semua jalan darah penting ditutup dan hawa dingin yang sudah terlanjur menyusup kedalam tubuhpun berusaha didesak keluar.

Sayang sebelum usahanya itu mendatangkan hasil Kui to Thian yu Cinjin telah menyusul kedepan dan menghadang disehelah kanan belakang Gak Lam kun, sebuah pukulan dilepaskan pula dengan telapak tangan kirinya.

Waktu itu Gak Lam kun telah terkena sergapan maut Hoa Kok khi, serta merta serangan dahsyat dari Thian yu Cinjin sulit pula baginya untuk menghindarinya, apalagi serangan itupun merupakan sejenis ilmu pukulan berhawa dingin, yang mengerikan.

Tampaknya sebentar lagi Gak Lam kun bakal terluka parah oleh pukulan mematikan itu.

Disaat yang kritis mendadak terdengar suara tertawa dingin berkumandang memecahkan kesunyian.

Mengikuti suara tertawa dingin tadi, segulung angin pukulan yang lembut langsung menggulung kedepan dan menerjang serangan maut dari Thian yu Cinjin itu. “Blaaang….!” kedua gulung tenaga itu saling bertemu satu sama lainnya, terjadilah suatu gemuruh yang memekikkan telinga.

Oleh tenaga pantulan dari benturan tersebut, Thian yu Cinjin merasakan sepasang bahunya bergetar keras, tubuhnya terdorong mundur setengah langkah dari posisi semula.

Cepat-cepat dia mendongakkan kepalanya, kurang lebih tiga kaki dihadapannya berdiri seorang gadis cantik jelita yang mengenakan baju berwarna kuning emas, disisinya berdiri pula seorang sastrawan berbaju biru.

Siapakah kedua orang itu? Ternyata mereka bukan lain adalah Kim eng thamcu (thamcu elang emas Ki Li soat dan Lan ceng sin thamcu (Thamcu elang biru Cian seng kui si sastrawan aneh seribu bintang) Wan Kiam ciu, dua orang jago tangguh dari perkumpulan Thi eng pang.

Kui to Thian yu Cinjin kembali tertawa dingin.

“Selamat berjumpa, selamat berjumpa!” katanya, “tidak kusangka dua orang toa thamcu dari Thi eng pang juga telah berdatangan kepulau terpencil ini, heeehh…. heeehh…. heeehhh….”

Kim eng thamcu Ki Li Soat tertawa dingin sindirnya pula dengan nada sinis

“Akupun tidak menyangka kalau dua orang jago tangguh yang mempunyai nama besar dalam dunia persilatan telah melakukan perbuatan terkutuk serendah ini dengan mengerubuti seorang pemuda ingusan”

Mendengar sindiran tersebut, si tosu setan Thian yu cinjin merasa malu bercampur marah, sebenarnya ia hendak mengumbar hawa amarahnya, tapi setelah terbayang kembali bahwa pukulannya berhasil menghapuskan pengaruh tenaga serangannya tadi lagi pula mengetahui kalau thamcu ini merupakan orang pertama yang paling diandalkan ketua Thi eng pang, niat tersebut segera diurungkan.

Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi tergelak pula seraya berkata, “Sungguh mengagumkan!

Sungguh mengagumkan! Ki thamcu memang seorang jago perempuan yang tersohor namanya diseluruh dunia, setelah perjumpaan hari ini kubaru ketahui bahwa namamu bukan kosong belaka”

Pelan-pelan Cian seng ki su Wan kiam ciu maju kedepan, lalu katanya dengan dingin, “Saudara Hoa, baik-baikkah kau selama ini? Sudah hampir dua puluh tahun lamanya kita tak pernah bersua muka!”

“Baik sekali, baik sekali” jawab Thian kiam kuncu Hoa kok khi sambil memberi hormat “setelah berpisah pada dua paluh tahun berselang, tidak kusangka kalau Wan heng telah menjadi seorang toa thamcu dari perkumpulan Thi eng pang, siaute benar-benar ikut gembira atas kesuksesanmu ini”

Cian seng Kisu Wan kiam ciu mendengus dingin. “Dua puluh tahun tidak berjumpa tampaknya ilmu silat yang dimiliki Hoa heng telah mengalami kemajuan pesat kalau dugaanku tidak salah, rupanya ilmu Tay siu im khi telah berhasil kau kuasai secara sempurna….!”

Hoa kok khi tersenyum.

“Saudara wan terlalu memuji siaute tak berani menerimanya. Haaahh…. haahhh…. haaahh…. ilmu Tay siu im khi adalah sejenis kepandaian berhawa dingin yang amat sakti dan sukar dipelajari, dengan kebebalan otak siaute, mana mungkin ilmu tersebut bisa kupelajari secara sempurna? Haahh…. haaah…. cuma hadiah kitab pusaka Tay siu khi dari saudara Wan tempo hari memang sangat membantuku, disini siaute ucapkan banyak terima kasih dulu atas kerelaan hatimu”

Paras muka Cian seng Ki su Wan Kiam ciu berubah hebat, tapi segera ia tertawa dingin tiada hentihya.

“Heee…. heeeh…. heeeh…. Saudara Hoa, kau jangan terlalu sombong, dulu siaute hanya menyesal karena ilmu silatku bukan tandinganmu sehingga kitab pusaka Tay siu im khi tersebut berhasil kau rampas, tapi sepuluh tahun kemudian ketika kitab tersebut kau kembalikan kepadaku…. Hmm…. hmm…. Ternyata kau berniat busuk dengan menyerahkan sejilid kitab Tay siu im khi palsu kepadaku, membuat jiwaku nyaris ikut terbang meninggalkan raga”

“Haaah…. haaah…. haaah saudara Wan, kalau begitu kedatanganmu sekarang adalah ingin melakukan perhitungan lama dengan siaute?” tukas Hoa Kok khi sambil tertawa tergelak.

“Saudara Hoa, dahulu kita adalah sahabat karib tapi dengan cara yang rendah dan biadab kau telah mencelakaiku, mengkhianati persahabatan kita, kesemuanya ini membuat siaute benar-benar tak tahan untuk menyimpan terus rasa kesal dalam hatiku.”

Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi kembali tertawa lebar, ujarnya dengan suara lembut, “Kalau memang saudara Wan masih teringat dengan persahabatan kita dimasa lalu, aku lihat pertarungan ini lebih baik ditiadakan saja, apalagi sampai dimanakah ilmu silat yang dimiliki saudara Wan, siaute juga mengetahui sangat jelas, siapa menang siapa kalah aku rasa hatimu tentu lebih terang bukan?”

Jelas perkataan itu dia maksudkan bahwa Cian seng Ki su pada hakekatnya bukan tandingannya.

“Aah, belum tentu!” teriak Wan Kiam ciu gusar. Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi tertawa enteng.

“Saudara Wan, antara kami dengan perkumpulanmu cepat atau lambat akhirnya pasti akan terlibat dalam suatu pertarungan sengit dipulau ini, tetapi jika Wan heng memang sudah tidak sabar menunggu, tentu saja dengan senang hati siaute akan melayanimu”

Dengan suatu gerakan cepat Wan Kiam ciu mengeluarkan sebuah cambuk lemas yang penuh dengan kaitan perak dari sakunya, lalu dengan suara berat berkata, “Saudara Hoa. sambutlah seranganku ini!” Tangan kanannya lantas digetarkan dan hawa murninya disalurkan kedalam cambuk tersebut dengan jurus Kim ciam teng hay (jarum emas memaku samudra) ia langsung menyodok jalan darah Hu ciat hiat pada lambung Hoa Kok khi.

Seenteng awan yang bergerak diangkasa, Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi menyingkir tiga depa kesamping.

Siapa tahu Wan kiam ciu telah memperhitungkan sampai kesitu, cambuk lemasnya kembali diputar sedemikian rupa hingga melejit secara aneh menyusul kemudian telapak tangan kirinya memainkan ilmu pukulan cian seng ciang hoat (pukulan seribu bintang) untuk mengimbangi permainan cambuk lemasnya itu.
Sepi Banget euyy. Ramaikan kolom komentar dong gan supaya admin tetap semangat upload cersil :). Semenjak tahun 2021 udah gak ada lagi pembaca yang ninggalin opininya di kolom komentar :(