Lencana Pembunuh Naga Jilid 08

 
Jilid 08

Dipihak lain Gak Lam-kun telah berkata lagi setelah menghela napas panjang, “Locianpwe, bolehkah aku tahu julukan Long ji mu didalam dunia persilatan? Asal boanpwe, mengetahui julukannya itu pasti akan kubantu Locianpwe untuk menemukannya atau menyampaikan kabar kepadanya” Tiba-tiba perempuan aneh berambut panjang itu berubah menjadi amat murung dan sedih setelah menghela napas panjang jawabnya, “Long ji ku itu tak lain adalah Tok liong Cuncu Yo Long yang tersohor namanya dalam dunia pesilatan!”

Sungguh tak sedap suara helaan napasnya itu membuat setiap orang yang mendengarnya menjadi ikut murung kesal dan sedih.

Dengan cepat Bwe Li pek dan Gak Lam-kun menyadari bahwa setiap perubahan sikap dari perempuan yang berada dihadapannya ini sesungguhnya tersembunyi suatu daya pengaruh iblis yang cukup menggetarkan sukma dan perasaan siapapun.

Setelah mendengar julukan gurunya disebut oleh perempuan itu, Gak Lam-kun tidak ragu lagi kalau orang yang sedang dicari olehnya tidak lain adalah gurunya sendiri tapi ada satu hal yang tidak dipahami Gak Lam-kun, mengapa gurunya tak pernah menjelaskan kepadanya tentang perempuan ini serta apa hubungan diantara mereka?

Seingatnya sepanjang hidup didunia ini gurunya pernah mengadakan hubungan cinta dengan tiga orang perempuan saja, pertama adalah Soat san Thian li, kedua adalah Lam hay sin ni yang kini hidup mengasingkan diri sebagai pendeta, dan ketiga adalah Yan lo sat (perempuan iblis cantik) Hong Im yang lantaran cinta menjadi dendam.

Sebetulnya rasa cinta Yan lo sat Hong Im terhadap gurunya paling besar, tapi cemburunya justru paling besar juga, ia tak sudi membiarkan gurunya mengadakan hubungan cinta dengan orang lain, ketidak berhasilannya untuk mencegah Yo long berhubungan dengan perempuan lain mengakibatkan timbulnya perasaan dendam dalam hatinya, sebab itulah ia bertekad untuk turut serta dalam peristiwa ditebing Yan po gan serta mencelakai jiwa kekasihnya.

Keempat orang jago lihay yang pernah terlibat dalam pembunuhan atas Tok liong Cuncu ditebing Yan po gan segera merasakan jantungnya berdebar keras, terutama setelah mengetahui bahwa kekasih dari perempuan aneh berambut panjang yang sangat lihay itu bukan lain adalah korban yang telah mereka kerubuti.

Mereka mulai was-was, seandainya dia tahu jika Yo Long tewas ditebing Yan po gan akibat ulah mereka, dengan kepandaian silatnya yang maha dahsyat jelas perempuan tersebut merupakan bibit bencana terbesar bagi keselamatan jiwa mereka. Si Rase berekor sembilan Kongsun Po yang terkenal karena kelicikan serta kebusukan hatinya segera merenungkan kembali kejadian tersebut, tiba-tiba suatu rencana busuk timbul dalam hatinya.

Gak Lam-kun telah memusatkan kembali pikirannya, dengan suara lantang ia lantas berkata, “Locianpwe, konon Tok liong cuncu Yo Long masih hidup didunia ini, malah katanya tak lama kemudian dia akan datang kebukit Kun san untuk menyerahkan Lencana pembunuh naga tersebut, waktu itu locianpwe pasti akan bersua kembali dengannya, apa gunanya kau musti mencari dia orang tua dengan sikap macam orang kehilangan sukma?”

Sekali lagi perempuan aneh berambut panjang itu menghela napas panjang.

“Aaaai..! Gak Lam-kun, aku tahu hatimu sangat baik, cuma muridnya Yo Long pernah berkata kepadaku kalau Yo Long telah mati dipuncak Yan po gan dibukit Hoa san, mungkinkah ia berbohong kepadaku?”

Si Kakek ular dari lautan timur serta tujuh langkah pemutus nyawa Kwik To yang mengetahui asal usul Gak Lam-kun sebenarnya diam-diam mengernyitkan alis matanya setelah mendengar perkataan itu, pikirnya kemudian, “Murid Yo Long bukan lain adalah Gak Lam-kun yang berada didepan mata, darimana mungkin bisa muncul kembali seorang murid yang lain..? Aneh, benar-benar sangat aneh!”

Gak Lam-kun sendiripun lagi berpikir, “Entah bajingan keparat siapa yang mengaku- ngaku sebagai murid Yo Long untuk berbuat onar..?”

Tiba-tiba si Rase berekor sembilan Kongsun Po menyambung setelah tertawa serak, “Yo Long belum mati, kau ditipu oleh muridnya!”

Perempuan aneh berambut panjang itu menjadi tertegun, tiba-tiba bentaknya, “Mengapa muridnya membohongi aku? Kalau Yo Long belum mati, sekarang ia berada dimana?”

Rase berekor sembilan Kongsun Po sudah mempunyai perhitungan sendiri didalam hatinya, sambil tertawa seram kembali ia berkata, “Tok liong Cuncu Yo Long betul-betul belum mati, baru saja ia berada disini, bila kau bersedia menunggunya disini, maka dia pasti akan datang kemari untuk menjumpaimu.

Agaknya perempuan aneh berambut panjang itu merasa gembira sekali, dengan berseri katanya, “Kau tidak bohong bukan? Yo Long telah pergi kemana?” “Mengapa aku musti membohongimu? Setiap orang yang hadir disekitar gelanggang menyaksikan sendiri bagaimana Tok Liong cuncu Yo long mmuncul ditempat ini, tentu saja aku tidak tahu kemana ia telah pergi”

Mendengar jawaban tersebut, airmata segera jatuh bercucuran membasahi wajah perempuan aneh berambut panjang itu, segera gumamnya dengan amat sedih, “Yaa, aku tahu… dia pasti pergi karena tahu kalau aku hendak datang… ya, dia pasti enggan bertemu lagi denganku…”

Tiba-tiba ia mendengarkan jeritan lengking, kemudian teriaknya seperti orang kalap, “Ooo… Yo long, betapa kejamnya hatimu… Yo long wahai Yo long… kau berada dimana?

Cepatlah keluar… Yo long… cepat keluar… aku ingin bertemu denganmu…” Ditengah jeritan lengkingnya yang amat memilukan hati, tiba-tiba perempuan aneh berambut panjang itu berlalu dari sana dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.

Gak Lam-kun hanya bisa menghela napas setelah menyaksikan kejadian tersebut, bisiknya dengan lirih, “Orang yang pantas dikasihani, aaiiii…”

Sebetulnya si Rase berekor sembilan Kongsun Po sedang berencana untuk menahan perempuan aneh berambut panjang itu disitu, sebab ia tahu kepergian Tok liong Cuncu tadi kemungkinan besar untuk menghindari pertemuannya dengan perempuan ini, maka apabila ia tetap tinggal disana, Yo Long yang amat menakutkan itu tak nanti akan muncul kembali disitu, bila urusan disana telah beres, dengan segala akal muslihat serta mulutnya yang manis dia hendak menipunya dan mempergunakan tenaganya.

Tapi kenyataannya sekarang, dengan berlalunya perempuan aneh berambut panjang itu berarti rencananya berantakan pula.

Sepeninggal perempuan aneh berambut panjang itu, tiba-tiba Malaikat racun dari See ih berpaling kearah Gak Lam-kun kemudian berjalan menghampirinya, dengan suara yang dingin menyeramkan ia berkata, “Apakah engkau adalah jago lihay yang telah melukai Nian Eng hau sute ku itu?”

“Tidak berani, tidak berani” jawab Gak Lam-kun ketus, “dalam kejadian waktu itu, Ou thamcu dari Thiat eng pang juga ikut menyaksikan, siapa benar siapa salah rasanya ia juga tahu. Meski demikian aku merasa menyesal sekali telah salah melukai Nian tayhiap,”

Malaikat racun dari See ih memperdengarkan suara tertawanya yang amat dingin dan rendah, lalu katanya, “Aku orang She Lo merasa kagum sekali oleh ilmu sikat saudara yang melampaui orang lain itu, kalau bisa ingin sekali kumohon beberapa jurus petunjuk!”

“Setiap waktu tentu kulayani keinginanmu itu” kata Gak Lam-kun dengan ketus, “merupakan suatu kebanggaan bagiku dapat menyaksikan ilmu silat aliran See thian san, andaikata harus matipun aku akan mati dengan hati tentram.

Pelan-pelan ia lantas maju ketengah arena.

“Berhati-hatilah Gak sauhiap” kata malaikat racun dari See ih kemudian sambil menjura, “lohu segera akan mulai melancarkan serangan!”

Mendadak ia menerjang maju kedepan sambil melancarkan sebuah pukulan yang maha dahsyat.

Gak Lam-kun menggerakkan pula telapak tangannya sambil berkata dengan nada hambar, “Ingin kuketahui sampai dimanakah kehebatan tenaga pukulanmu itu?”

Ketika sepasang telapak tangan saling beradu, segera terjadilah suatu ledakan yang memekikkan telinga, Gak Lam-kun terdorong mundur sejauh tiga langkah sebaliknya Lo Kay seng masih berdiri tenang ditempat semula, namun sekilas perasaan tercengang segera menyelimuti wajahnya.

Sekalipun dipandang dari kejadiannya Gak Lam-kun seolah-olah masih kalah setingkat bila dibandingkan dengan kekuatan yang dimiliki Lo Kay seng, namun dalam pandangan para jago ahli justru sebaliknya, kiranya dalam bentrokan yang pertama tadi, Lo Kay seng telah menderita sedikit luka ringan akibat serangan pantulan yang digunakan oleh si anak muda itu.

Setelah berhasil dengan serangannya, Gak Lam-kun mempertahankan gayanya sebagai seorang laki-laki ksatria, ia tidak melancarkan serangan lebih jauh sebaliknya cuma berdiri tenang ditempat semula.

Lo Kay seng mengatur sebentar hawa murninya, ketika diketahui bahwa kerugian yang dideritanya tidak terlalu besar, cepat badannya menerjang maju lagi dengan kecepatan tinggi, sebuah tendangan segera dilancarkan mengarah lambung Gak Lam-kun.

Gak Lam-kun menggoyangkan tubuhnya menghindar kesamping lalu sepasang telapak tangannya melancarkan serangkaian pukulan berantai.

Lo kay seng tertawa dingin, telapak tangan kanannya dikebaskan melancarkan sebuah pukulan dahsyat untuk membendung ancaman dari Gak Lam-kun, kemudian telapak tangan kirinya dengan jurus Thiat khi to jut (penunggang baja muncul mendadak) melancarkan serangan balasan.

“Wees..! wees..!” begitu berhasil merebut kedudukan diatas angin, secara beruntun telapak tangan kanannya melepaskan tiga buah serangan berantai diiringi tendangan kaki kiri dan kanannya.

Bukannya mundur Gak Lam-kun malah menerobos maju kedepan, sepasang telapak tangannya mengembangkan pula serangkaian pukulan dahsyat untuk membendung tendangan-tendangan maut itu, semua gerakan yang dipergunakan boleh dibilang merupakan jurus-jurus serangan untuk bertarung dalam jarak dekat.

Makin lama pertempuran berlangsung makin sengit, pukulan demi pukulan, tendangan demi tendangan semuanya dipergunakan bukan saja dengan kecepatan tinggi, tenaga pukulan yang disertakan pun luar biasa hebatnya…

Pertarungan antara mereka berdua hakekatnya merupakan pertarungan untuk menentukan mati hidup mereka, semua ancaman hampir tak sebuahpun yang tidak tertuju pada bagian badan yang mematikan, ini membuat para jago yang ikut menyaksikan jalannya pertarungan itu merasa jantungnya berdebar keras.

Ditengah serunya pertarungan tersebut, tiba-tiba malaikat racun dari see ih Lo Kay seng mengeluarkan jurus See lay tok ing (irama sunyi dari barat) menghantam kedada lawan.

Jurus serangan tersebut merupakan salah satu jurus mematikan dalam aliran See thian san, bukan saja aneh dan sakti gerakannya bahkan membuat musuhnya menjadi bingung sebab sepintas lalu serangan tersebut seperti suatu totokan tapi mirip pula sebuah babatan.

Gak Lam-kun terkesiap, buru-buru dia mengeluarkan ilmu gerakan tubuh Jit gi ngo heng jit seng liong heng sin hoat untuk bergeser tiga depa kesamping kiri.

“Gak sauhiap, hati-hati!” tiba-tiba Lo Kay seng berseru sambil tertawa dingin. Ditengah seruan tersebut, jurus mematikan yang sengaja disembunyikan dibalik jurus See lay tok ing tersebut segera dilancarkan, tampak telapak tangan kanannya tiba-tiba terbalik keatas kemudian mengancam urat nadi pada pergelangan tangan kanan Gak Lam- kun.

“Hmm… Tidak segampang itu” jengek si anak muda ketus.

Tiba-tiba kelima jari tangan kanannya berputar menyambar diatas pergelangan tangan kanan Lo Kay seng, oleh sambaran tersebut Lo Kay seng segera merasakan urat nadi pada pergelangan tangan kanannya menjadi kaku, akibatnya tangan kanan yang sesungguhnya sedang mengancam pergelangan tangan musuhpun menjadi miring kesamping dan tidak menemui sasarannya…

Perubahan jurus serangan ini sungguh amat manis dan sedap dipandang, tanpa terasa semua jago berpekik dihati masing-masing, “Sebuah serangan yang amat bagus!”

Gak Lam-kun dengan demikian berhasil menang satu gebrakan dari lawannya, cepat Lo Kay seng mundur dua langkah, dengan tangan kirinya memegang pergelangan tangan kanan ia berkata dengan dingin, “Gak sauhiap, ilmu silatmu benar-benar amat sempurna, dengan tebalkan muka lohu ingin minta petunjuk lagi dalam kepandaian senjata”

Sebelum Gak Lam-kun mengucapkan sesuatu, Jit poh toan hun Kwik To telah maju kemuka sambil tertawa terbahak-bahak, katanya, “Lo Kay seng, kau jangan melayani orang lain terus menerus, bagaimana dengan pertikaian diantara kita? Bagaimanapun juga urusan kita musti diselesaikan pada malam ini juga, maka kuanjurkan kepadamu lebih baik pertarungan babak berikutnya ditiadakan saja”

Malaikat racun dari See ih tertawa seram.

“Kwik To!” demikian katanya, “sekalipun aku harus bertarung tiga babak lagi memangnya kau anggap aku tak punya keyakinan untuk memenangkan dirimu..?”

Jit poh toan hun Kwik To kembali mendongakkan kepalanya sambil tertawa terbahak- bahak.

“Haahh…haahh…haahh…sulit! Sulit! Tiga hari tidak bertemupun bisa mengakibatkan perubahan yang besar apalagi kita sudah dua puluh tahunan tak pernah bersua muka..?”

“Yang kau katakan tentang kau atau diriku?” tukas Malaikat racun dari See ih ketus. “Kau atau aku adalah sama saja, cuma aku orang she Kwik tidak ingin mempergunakan

keuntungan tersebut”

“Baiklah!” kata Lo Kay seng kemudian “bagaimana kalau penyelesaian diantara kita diundur tiga hari lagi?”

Jit poh toan hun Kwik To tertawa terbahak-bahak. “Haaahhh…haaahhh…haaahhh…bagus sekali, bagus sekali! Cuma sebelumnya aku

hendak berkata lebih dulu, ujung senjata itu tak bermata, bagaimana seandainya kau mati dalam pertarungan itu?” “Hmmm..! Kalau mampus anggap saja nasibku lagi jelek, atau mungkin kau lebih suka kalau melihat aku mati ditangan orang lain saja?”

“Aaah..! Kita sama-sama tidak mempunyai dendam sakit hati apa-apa, kalau cuma ingin mencoba kepandaian silat saja, kenapa harus mempergunakan nyawa sebagai taruhan?” sela Gak Lam-kun tiba-tiba.

Jit poh toan hun Kwik To sama sekali tidak menggubris perkataan dari Gak Lam-kun itu, lagi-lagi dia berkata, “Tidak berani! Tidak berani! Loheng tersohor sebagai malaikat racun, aku percaya kau masih mempunyai kepandaian simpanan untuk menolong jiwamu sendiri”

Terkesiap juga Gak Lam-kun setelah mendengar perkataan itu, pikirnya diam-diam. “Kwik To berulangkali membantuku, entah apa maksud sesungguhnya? Coba kalau

tidak diingatkan olehnya, hampir saja aku lupa kalau Lo Kay seng masih mempunyai ilmu

racun yang maha sakti…”

Malaikat racun dari See ih Lo Kay seng mendengus dingin.

“Hmmm..! Kwik To, seandainya aku orang she Lo hendak merebut kemenangan dengan mengandalkan ilmu racunku, aku yakin kau Tionggoan tok hu (si Tabib keji dari Tionggoan) tak akan lolos dari cengkeramanku”

Dari pembicaraan tersebut dapat diketahui bahwa dalam pertarungannya melawan Gak Lam-kun dia tidak ingin menyergap si anak muda itu dengan mengandalkan kepandaian racunnya.

Mendengar itu, Jit poh toan hun Kwik To segera tertawa terbahak-bahak. “Haaah…haaah…haaah…mana, mana, kalau begitu aku orang she Kwik telah

mempergunakan hati kecil seorang siaujin untuk menilai kebijaksanaan seorang kuncu”

Tiba-tiba dari sakunya Malaikat racun dari See ih Lo Kay seng mengeluarkan sebuah senjata Kim seng lun (roda bintang emas), diantara rentangan telapak tangannya kekiri dan kekanan, ternyata roda tersebut telah berubah menjadi lima buah roda bintang emas yang amat tipis, lantaran kelima roda itu besarnya sama dan lagi menempel antara yang satu dengan yang lainnya, maka sulit buat orang lain untuk membedakan satukah senjata roda itu atau limakah?

“Gak sauhiap, silahkan kau siapkan senjatamu, demikian Lo Kay seng berkata, “lohu hendak mempergunakan kelima buah roda bintang emas itu untuk menyambut permainan beberapa jurus seranganmu”

o0o

Terkesiap juga Gak Lam-kun setelah menyaksikan senjata lawan, pikirnya dengan cepat. “Tampaknya ilmu silat yang dimiliki Lo Kay seng benar-benar sudah mencapai tingkatan yang luar biasa, ia merupakan seorang musuh yang tangguh dalam dunia persilatan dewasa ini, biasanya orang yang menggunakan senjata tersebut kebanyakan cuma menggunakan dua biji senjata roda yang lebih dikenal sebagai Jit gwat lun (roda matahari dan rembulan) tapi sekaligus Lo Kay seng dapat mempergunakan lima buah roda bintang emas. Jelas sulit bagiku untuk melayani kelima senjata rodanya dengan tangan kosong belaka padahal kecuali Toa hun liong jiau (cakar naga perenggut nyawa) aku tidak membawa senjata lainnya, wah bagaimana enaknya sekarang…”

Sementara Gak Lam-kun masih sangsi dan tidak dapat mengambil keputusan, tiba-tiba terdengar seseorang menegur dengan suara yang merdu, “Saudara Gak entah pedang ini cocok dengan seleramu atau tidak?”

Bersama dengan berkumandangnya ucapan itu, tampak ketua dari perguruan panah bercinta Bwe Li pek muncul sambil ditangan kirinya membawa sebilah pedang pendek, lalu sambil tersenyum senjata itu diangsurkan kehadapan si anak muda.

Gak Lam-kun tersenyum.

“Terima kasih banyak saudara Bwe atas pinjaman pedangmu itu” katanya.

Dengan sepasang tangannya ia menyambut pedang pendek itu mendadak ia mengendus bau harum semerbak yang amat menusuk hidung, Gak Lam-kun segera tertegun, pikirnya kemudian, “Sudah tiga kali kucium bau harum aneh semacam ini dari tubuhnya, jangan-jangan..?” 

Ketika Gak Lam-kun berpaling kembali, Bwe Li pek telah memutar badannya sambil mengundurkan diri dari situ.

“Criiing..!” bunyi lengking tajam yang memekikkan telinga berkumandang memecahkan kesunyian, diantara berkelebatnya segulung cahaya putih, pedang pendek itu sudah diloloskan dari sarungnya.

Pedang itu putih mulus bagaikan kumala, tajam dan berkilau, sekilas pandangan saja orang akan tahu bahwa pedang tersebut adalah sebuah pedang mustika yang amat tajam.

“Pedang bagus, pedang bagus!” puji Gak Lam-kun dalam hati kecilnya.

Setelah meloloskan pedangnya, Gak Lam-kun mundur tiga langkah kebelakang dan berdiri dengan pinggang ditekuk, lima jari tangan kanannya direntangkan sejajar dada sedang tangan kirinya memegang pedang sebatas alis mata, dengan sinar mata setajam sembilu ditatapnya Lo Kay seng tajam-tajam.

“Nah saudara, silahkan turun tangan!” katanya.

Lo Kay seng yang menyaksikan gaya pembukaan dari Gak Lam-kun pun merasa amat terkejut, pikirnya, “Orang ini benar-benar seorang manusia berbakat aneh dari dunia persilatan tampaknya dalam pertarungan adu senjata tajampun aku harus terlibat lagi dalam suatu pertarungan yang amat seru”

Tergerak juga perasaan Bwe Li pek setelah menyaksikan jurus pedang dari Gak Lam- kun, terutama kemampuan pemuda tersebut memainkan pedang ditangan kiri dan tangan kanannya tak lupa menyerang dengan kepandaian Tok liong ci jiau, hal ini sungguh merupakan suatu kejadian yang jarang dijumpai dikolong langit. Mendadak… Suara desingan nyaring berkumandang memenuhi seluruh angkasa, sebuah roda Kim seng lun yang berada ditangan kiri Lo Kay seng dilontarkan kearah Gak Lam-kun.

Ketika anak muda itu membacok dengan pedang kirinya, diiringi desingan angin tajam tiba-tiba roda Kim seng lun tersebut berputar kebelakang punggungnya, lalu kembali ketangan Lo Kay seng. Dengan sendirinya bacokan itupun mengenai sasaran yang kosong.

“Ngiing…ngiing…ngiing…ngiing..!” bunyi desingan tajam kembali berdesing memenuhi seluruh angkasa, cahaya emas berkilauan darimana-mana diiringi biasan cahaya perak, lima batang roda Kim seng lun dari lima arah yang berbeda menerjang datang hampir bersamaan waktunya…

Serangan tersebut merupakan sebuah serangan yang maha dahsyat gerakan itu dinamakan gerakan Ban lun hud (selaksa roda membiaskan sinar sang Buddha).

Paras muka Gak Lam-kun agak berubah, pergelangan tangannya digoyangkan berulangkali, tiba-tiba ia menggunakan pula sebuah jurus tangguh yang merupakan suatu jurus pedang tingkat tinggi yakni Yang Kong bu ciau (sinar matahari memancar kemana- mana).

Diantara perputaran pedang pendek ditangan kirinya itu, terciptalah berlapis-lapis cahaya tajam yang melindungi sekujur tubuhnya.

Kendatipun Yang Kong bu ciau dinamakan satu gerakan, pada hakekatnya terselip berbagai perubahan yang beruntun, bukan saja perubahannya dahsyat, gerakannya juga tangguh.

Serentetan cahaya bianglala berwarna putih dengan cepat melesat keudara dan mengelilingi kelima buah roda Kim seng lun tersebut, suasananya waktu itu ibaratnya selapis awan tebal yang mengelilingi rembulan dan bintang.

Begitu turun tangan, kedua belah pihak segera terlibat dalam suatu pertarungan sengit yang menentukan mati hidup mereka, kejadian tersebut dengan cepat menarik perhatian para jago disekitar gelanggang untuk mengikuti jalannya pertarungan dengan lebih seksama lagi.

Lima gumpal cahaya emas dan selapis hawa pedang yang mengerikan hampir memenuhi seluruh angkasa, meski demikian ternyata sama sekali tidak kedengaran sedikit suarapun.

Mendadak… lima buah roda dari Lo Kay seng itu mempersatuksn diri lalu, berbareng menerjang kedada Gak Lam-kun, tentu saja kekuatannya ibarat lima ekor kerbau yang menyerbu bersama kesatu arah.

Gak Lam-kun membentak keras, cahaya putih berputar mengikuti arah pergeseran langkah kakinya yang maju mundur, diantara getaran ujung pedangnya, tiba-tiba lima jalur sinar putih memancar keluar, sedang selaksa roda membiaskan sinar Buddha mendadak menjadi sirap… Gak Lam-kun berdiri serius sambil memeluk pedang, sementara Lo Kay seng hanya berdiam diri sambil memperhatikan kelima buah roda Kim seng lunnya yang tergeletak diatas tanah.

Akhirnya setelah menghela napas katanya, “Gak sauhiap, ilmu silatmu benar-benar sudah mencapai tingkat kesempurnaan yang luar biasa, aku orang she Lo sungguh merasa amat kagum, baiklah kita akhiri pertarungan malam ini sampai disini saja.

Sehabis berkata ia memungut kembali kelima buah roda Kim seng lunnya dari tanah dan dimasukkan kembali kedalam saku.

Gak Lam-kun menyarungkan pula pedangnya lalu sambil tertawa dan menjura katanya, “Terima kasih banyak atas petunjuk ilmu silat yang telah Lo tayhiap berikan pada malam ini, kesemuanya tersebut sungguh mendatangkan manfaat yang tak terhingga buat aku orang she Gak.”

Kemudian sambil mengangsurkan pedang pendek itu kehadapan Bwe Li pek, katanya lagi sambil tertawa.

“Terima kasih banyak untuk pinjaman pedang dari saudara Bwe, harap pedang ini suka diterima kembali.”

Bwe Li pek tertawa ramah, katanya, “Saat ini adalah saatnya banyak urusan dalam dunia persilatan, apa salahnya kalau saudara Gak meminjamnya untuk beberapa waktu lagi.”

“Baiklah, daripada kutampik maksud baikmu, terpaksa siaute akan meminjamnya untuk sementara sampai besok.

Dari balik sinar mata Bwe Li pek yang tajam seperti sembilu, tiba-tiba terpancar sekilas cahaya lembut bagaikan hembusan angin sepoi, katanya lagi, “Bila saudara Gak merasa tidak keberatan, biar kuhadiahkan pedang itu sebagai kenang-kenangan untukmu, anggaplah hal ini sebagai tanda mata untuk mempererat jalinan hubungan kita.”

“Tidak berani, tidak berani, setiap orang yang termasuk kuli silat tidak pantas untuk menyoren pedang mustika semacam ini” ujar Gak Lam-kun tertawa.

“Kalau begitu, kembalikanlah pedang itu bila kita bertemu kembali besok malam.”

Gak Lam-kun menyimpan pedang pendek itu kedalam sakunya, lalu berkata dengan lantang, “Kentongan kelima esok, siaute pasti akan tiba tepat pada waktunya!”

Sementara itu Jit poh toan hun (tujuh langkah pemutus nyawa) Kwik To pelan-pelan maju kedepan, sambil memberi hormat kepada Lo Kay seng ia berkata, “Saudara Lo, bagaimana dengan permintaan aku orang she Kwik semalam mengenai masalah Soat san Thian li?”

“Dalam soal ini hanya terbatas untuk Buncu seorang” jawab See ih tok Seng Lo Kay seng dengan suara menyeramkan, “bila kalian ingin datang bergerombol, maka maaf jika hal ini tak bisa dikabulkan”

Bwe Li pek segera tertawa angkuh. “Adapun maksud aku orang she Bwe tidak lebih cuma ingin menyambangi Soat san Thian li, kami tidak mempunyai rencana atau tujuan lain, dan segenap anggota perguruanku akan menanti disini!”

“Bwe ji, biar aku ikuti dirimu” bisik perempuan berambut putih yang berada disamping kanannya dengan lembut.

Bwe Li pek segera berpaling dan tertawa.

“Nenek, legakan hatimu, tak nanti Soat san Thian li akan nenelan diriku bulat-bulat”

Berbicara sampai disitu ia lantas memberi hormat kepada Gak Lam-kun, kemudian pelan-pelan menghampiri Lo Kay seng, katanya, “Tolong bawalah aku kesana”

“Blaaam…” mendadak terdengar ledakan nyaring menggeletar memecahkan keheningan…

Dalam waktu singkat muncullah serentetan cahaya hijau yang menyambar ketubuh Bwe Li pek dengan kecepatan luar biasa.

Cahaya hijau itu meluncur tiba dengan kecepatan yang sukar dilukiskan dengan kata- kata, bagaikan serentetan benang hijau yang berada tujuh delapan kaki jauhnya tahu-tahu dalam sekejap mata telah melesat dihadapan mata Bwe li pek.

Terkesiap juga Buncu dari perguruan panah bercinta itu, tidak sempat melihat jelas lagi senjata rahasia apakah itu, pergelangan tanganrya digetarkan cepat dan jari tangannya segera menyentil kedepan.

“Blaaam..!” termakan oleh tenaga sentilan Tan ci sin thong (jari tunggal yang tembus kemana-mana) dari Bwe Li pek, cahaya hijau yang telah berada tiga depa dihadapannya itu segera terbendung dan terpental keempat penjuru.

“Blaam..!” sekali lagi benang hijau yang terpental itu meledak dan kemudian berubah menjadi tujuh buah titik bintang api berwarna hijau yang segera menyebar keempat penjuru.

Dua diantaranya langsung meluncur kearah Bwe Li pek, sedangkan lima buah titik hijau lainnya segera memancar mengancam Malaikat racun dari See ih Lo Kay seng serta dua orang laki-laki kekar dari Thi eng pang dengan kecepatan tinggi.

Baik Bwe Li pek maupun Lo Kay seng tidak berani menerima serangan tersebut dengan kekerasan, dengan perasan bergetar keras masing-masing berkelit kesamping.

Lain halnya dengan dua orang lelaki kekar dari pasukan delapan belas elang baja, untuk berkelit sudah tak sempat lagi, yang satu segera terkena pada lengannya sedang yang lain terkena pada paha kanannya, kedua-duanya bukan termasuk tempat yang mematikan.

Akan tetapi, dua orang laki-laki kekar dari perkumpulan elang baja itu serentak roboh ketanah, jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang memecahkan kesunyian mengikuti bergulingnya tubuh kedua orang itu kesana kemari. Senjata rahasia yang demikian lihay dan beracunnya belum pernah didengar ataupun disaksikan sebelumnya dalam dunia persilatan, kontan saja peristiwa itu mendatangkan kegemparan serta kepanikan bagi seluruh orang yang berada disekitar arena.

Kedua orang laki laki bertubuh tegap itu masing-masing memperdengarkan jeritan lengking yang mengerikan serta lolongan minta tolong, itulah pekikkan terakhir menjelang hidupnya didunia Ini, sedemikian menggenaskannya membuat bulu kuduk orang pada bangun berdiri semua.

Jeritan ngeri yang memilukan hati itu masih juga berkumandang tiada hentinya, kesemua ini semakin menambah seramnya suasana.

Akan tetapi semua jago yang hadir dalam arena tak berhasil mengetahui apa sebabnya kedua orang itu menjerit ngeri, mereka hanya menyaksikan tubuh kedua orang itu secara lamat-lamat memancarkan cahaya hijau, mungkin itulah penyebab yang mengakibatkan mereka menemui ajalnya.

Mendadak dari luar arena berkumandang suara tertawa panjang yang memekikkan telinga, menyusul kemudian dua sinar emas yang menyilaukan mata meluncur keudara dan langsung menyambar ketubuh laki-laki yang sedang berguling diatas tanah itu.

Diikuti dua kali jeritan kesakitan, kedua orang, laki-laki kekar itu telah berhenti berguling, akan tetapi cahaya hijau ditubuh mereka masih juga menggulung-gulung tiada hentinya.

Diantara berkelebatnya bayangan manusia, kini ditengah arena telah bertambah dengan seorang kakek berjubah panjang yang berambut putih diiringi tiga orang manusia yang berpakaian aneka macam.

Kakek itu berwajah bersih, berjenggot putih sepanjang dada, jubah hijau selutut, bermuka merah bercahaya dan sedikitpun tidak tampak ketuaannya terutama sekali matanya besar alisnya yang tebal dan sorot matanya yang tajam menggidikkan hati.

Dalam genggaman tangan kanannya membawa sebuah tongkat toya bukan toya yang pada gagangnya berukirkan elang baja yang sedang mementangkan sayap dengan ekor yang sangat panjang, inilah senjata andalan dari Thi eng sin siu (kakek sakti elang baja).

Dari antara tiga orang yang ikut datang, terlihat orang pertama adalah seorang sastrawan berusia setengah umur yang berjubah biru, orang kedua adalah seorang kakek kurus kering seperti bambu yang memakai jubah berwarna putih keperak-perakan, sedangkan orang ketiga adalah seorang gadis cantik jelita yang seluruh badannya seperti memancarkan sinar keemas-emasan.

Sekalipun tidak ditanyakan semua orang juga tahu bahwa kakek itu adalah pentolan dunia persilatan yang ternama dalam dunia dewasa ini, pangcu dari perkumpulan Thi eng pang, Thi eng sin siu Ou Bu hong.

Sastrawan berbaju biru adalah salah seorang diantara empat thamcu dibawah panji perkumpulan elang baja, yang merupakan thamcu dan panji elang biru, orang menyebut sebagai Cian seng khi si (sastrawan aneh seribu bintang) Wan Kiam ciu. Si kakek kurus kering adalah Thamcu panji elang perak Gan tiong ciang (telapak tangan ditengah karang) Kwan Kim ceng.

Sedangkan gadis cantik jelita itu adalah jago lihay nomor dua dalam perkumpulan Thi eng pang Kim eng ki thamcu atau Thamcu panji elang emas Ki Li soat.

Kakek sakti elang baja Ou Bu hong menyapu sekejap sekeliling arena dengan sorot matanya yang tajam, kemudian sambil tertawa terbahak-bahak tegurnya, “Diantara yang hadir disini, siapakah yang merupakan anak murid Jit poh lui sim ciam panah inti geledek yang mencabut nyawa dalam tujuh langkah) Lui seng thian?”

Dari balik kegelapan segera terdengar seseorang menjawab sambil tertawa menyeramkan.

“Heehhh…heehhhh…heehhh…Ou Bu hong lohu sendiri yang telah datang!”

Kakek sakti elang baja segera berpaling kearah mana berasalnya suara tersebut, maka tampaklah seorang kakek berwajah jelek pelan-pelan memasuki gelanggang, ditangannya menggenggam sebuah tabung bulat yang terbuat dari tembaga.

Gak Lam-kun cuma menonton semua peristiwa itu dari samping, ia kenali kakek bertampang jelek itu tak lain adalah Lui seng thian yang bersembunyi dibalik pohon itu.

Sekarang ia baru terkejut dan ngeri atas keganasan, kekejian serta kehebatan dari anak panah inti geledek yang dapat mencabut nyawa dalam tujuh langkah itu, seandainya Lui seng thian sampai turun tangan jahat kepadanya tadi, peristiwa itu sungguh merupakan suatu kejadian yang amat menakutkan.

Kecuali Gak Lam-kun, kakek sakti elang baja serta Malaikat racun dari See ih yang sedikit mengetahui tentang diri Lui Seng thian, hampir boleh dibilang tak seorang jagopun mengetahui asal-usulnya, tapi semua orang dapat merasakan bahwa manusia tersebut pasti merupakan seorang gembong iblis yang susah dihadapi, terutama setelah menyaksikan senjata rahasianya yang cukup menggetarkan sukma itu.

Kakek sakti elang baja Ou Bu hong segera tertawa dingin, lalu katanya ketus. “Bagus! Bagus sekali! Tak nyana setelah kau Lui Seng thian muncul kembali didalam

dunia persilatan, ternyata berani memusuhi diriku.

Jit poh lui sim ciam Lui Seng thian berhenti kurang lebih tiga kaki dihadapannya, dengan dingin ia menjawab, “Ou pangcu adalah seorang enghiong yang termashur diseluruh dunia persilatan, jago darimanakah yang berani mencari urusan dengan dirimu? Sebelum persoalan ini berkembang lebih lanjut, perlu aku terangkan lebih dulu bahwa kedua sosok nyawa anggota perkumpulanmu bukan sengaja mampus oleh Lak hap im hwee (enam gabungan api dingin) yang kulepaskan, aku sama sekali tidak berniat untuk membinasakan mereka, akan tetapi jika kau Ou Bu hong ingin mencari balas kepadaku tentu saja setiap saat aku Lui Seng thian bersedia untuk melayaninya.

Perlu diterangkan bahwa semua jago yang hadir digelanggang ketika itu hampir sebagian besar merupakan jago-jago kenamaan yang termashur dalam dunia persilatan, setiap orang kalau bukan memiliki ilmu silat yang tinggi tentu memiliki kecerdasan yang luar biasa. Dengan kemunculan kakek sakti elang baja beserta ketiga orang thamcunya serta merta ikut merubah pula kekuatan dalam gelanggang, secara otomatis antara perguruan panah bercinta dengan perkumpulan elang baja pun tercipta dua kekuatan paling besar yang seimbang.

Ou Bu hong merupakan seorang pemimpin yang cerdik dan mempunyai otak encer, sudah barang tentu diapun cukup memahami situasi yang sedang dihadapinya waktu itu, dia juga tahu bahwa Jit poh lui sim ciam Lui seng thian adalah seorang iblis yang sukar dihadapi, kendatipun ia telah mengucapkan kata-kata tantangan bukan berarti perkumpulan Thi eng pang harus menghadapi lebih dahulu.

Maka setelah mempertimbangkan sejenak untung ruginya. Ou Bu hong segera mendongakkan kepalanya sambil tertawa terbahak-bahak.

“Haahhh…haahhh…haahhh…bagus, bagus, kalau begitu utang ini akan kucatat atas namamu Lui Seng thian!”

Mendadak…Sreet! Sreet! Sreet!… serentetan hujan panah mendesing memenuhi angkasa.

Secara tiba-tiba kedelapan belas orang manusia berbaju putih dari perguruan panah bercinta telah melepaskan masing-masing dua batang anak panah, diantara kilatan cahaya putih yang menyilaukan mata, tiga puluh enam batang panah secara berbareng meluncur kearah tubuh Lui seng thian.

Kiranya para jago dari perguruan panah bercinta merasa marah sekali setelah menyaksikan Bwe Li pek diserang oleh kakek berwajah jelek itu, maka serentak mereka melancarkan serangan balasan.

Sungguh dahsyat dan cepat dua batang panah yang masing-masing dilepaskan oleh kedelapan belas orang manusia berbaju putih itu, tiga puluh enam batang panah itu dengan cepatnya memenuhi daerah sekitar tiga kaki disekeliling tubuh Lui Seng thian, sungguh mengerikan sekali keadaannya ketika itu.

Tapi Lui Seng thian sendiri juga bukan orang bodoh, ia telah menduga bahwa orang- orang dari perguruan panah bercinta bakal melancarkan sergapan kearahnya, maka baru saja suara gendewa berbunyi, secepat kilat tubuhnya sudah melambung lima enam kaki tingginya keudara dan langsung menerjang kearah orang-orang dari perguruan panah bercinta berada…

Bwe Li pek mengetahui bahwa ilmu silat yang dimiliki kakek jelek itu sangat lihay, dan lagi ia membekal senjata rahasia yang maha dahsyat, apabila orang itu dibiarkan mendekati orang-orangnya niscaya akan banyak jago perguruan panah bercinta yang terluka bahkan tewas.

Oleh karena itu baru saja Lui Seng thian melompat keudara seperti bayangan hitam Bwe Li pek menyusul pula dari belakang, jago tersebut melompat setinggi enam tujuh kaki keudara dan menghadang jalan pergi Lui Seng thian diudara.

Sekalipun menyusul belakangan, ternyata Bwe Li pek berhasil tiba lebih dulu ditempat tujuan, sebuah pukulan dahsyat secepat kilat dilancarkan kedepan. Sebetulnya Lui seng thian bermaksud untuk melepaskan panah inti geledeknya dari tengah udara dengan maksud ingin melukai beberapa orang anggota perguruan panah bercinta, akan tetapi berhubung jalan perginya terhadang oleh Bwe Li pek dan lagi pula sebuah pukulan dahsyat telah dilontarkan kearahnya, terpaksa ia harus menggetarkan telapak kirinya untuk menyambut datangnya ancaman tersebut.

“Blaang…suatu ledakan nyaring kembali menggelegar ditengah udara.

Jit poh lui sim ciam Lui Seng thian berjumpalitan beberapa kali ketengah udara sebelum melayang turun keatas permukaan tanah, sebaliknya Bwe Li pek melayang turun dengan tenangnya seakan-akan tak pernah terjadi sesuatu peristiwa apapun.

Dengan terjadinya peristiwa ini maka dengan cepat menimbulkan pula pandangan baru kawanan jago lainnya terhadap kekuatan perguruan panah bercinta, semula mereka memandang rendah kekuatan yang dimiliki Bwe Li pek karena dianggapnya masih ingusan dan tak tahu apa-apa, tapi sekarang terbukti bahwa kekuatannya ternyata tidak berada dibawah kekuatan perkumpulan Thi eng pang yang maha besar itu.

Dalam pada itu perempuan berambut putih dan Han Hu hoa dari perguruan panah bercinta secepat kilat telah melompat kekiri dan kanan Bwe Li pek, kedua orang itu masing-masing menghimpun tenaga dalamnya bersiap sedia melancarkan serangan.

Jit poh lui sim ciam Lui seng thian tidak berani melakukan serangan untuk kedua kalinya setelah serangan yang pertama kali tadi, ini disebabkan karena terlalu pandang rendah kekuatan lawannya sehingga cuma mempergunakan tenaga sebesar empat bagian, akibatnya isi perutnya kena digetarkan oleh kekuatan Bwe Li pek yang menyebabkan terluka ringan.

Dengan sorot mata setajam sembilu kakek sakti elang baja Ou Bu hong mengamati wajah Bwe Li pek sekian lama, kemudian tegurnya, “Nona, meskipun hanya sebuah pukulan tapi cukup untuk membuka lebar-lebar sepasang mataku, boleh aku tahu nona berasal dari perguruan mana dan murid siapa?”

Gak Lam-kun merasakan jantungnya berdebar keras, kendatipun para jago lainnya juga sama-sama tertegun sebab mereka tidak mengira kalau ketua perguruan panah bercinta ternyata adalah seorang nona.

Bwe Li pek sendiripun mengernyitkan alis matanya sambil berpikir, “Semenjak kecil aku sudah terbiasa mengenakan pakaian lelaki, lagi pula sudah kupelajari sedikit kepandaian menyamar, selama beberapa tahun ini berkelana dalam dunia persilatan, belum pernah ada orang yang mengetahui penyamaranku, hanya dalam sekilas pandangan saja?”

Berpikir sampai disitu tanpa terasa lagi ia menundukkan kepalanya sambil memperhatikan beberapa kejap dandanan sendiri.

Ou Bu-hong segera tertawa terbahak-bahak, sambil menuding kearah Thamcu elang emas Ki Li soat katanya, “Penyaruan nona memang terhitung sangat hebat andaikata Ki thamcu tidak memberitahukan hal ini secara diam-diam kepadaku, sampai melamur pun aku tidak akan mengetahui rahasia ini, apalagi semua gerak gerik nona tak ubahnya seperti pria-pria sejati lainnya. Setelah rahasianya dibongkar, tentu saja Bwe Li pek merasa tak enak hati untuk menyangkal lebih jauh, setelah tertawa dingin katanya dengan gusar.

“Hmm..! Sekalipun aku suka mengenakan pakaian pria, apa sangkut pautnya dengan kalian semua?”

Bagaimanapun jua kebiasaan seorang gadis tidak terlepas dari tubuhnya, dimana rahasianya berhasil dibongkar dihadapan umum, serta merta berkobar juga hawa amarah dalam hatinya.

Ou Bu-hong tersenyum.

Seorang perempuan mengenakan pakaian pria bagi dunia persilatan merupakan suatu kejadian yang lumrah, haaah… haaah… haaah… putri angkatku Ki thamcu juga sering mengenakan pakaian pria untuk berkelana dalam dunia persilatan.

Bwe Li pek cuma tertawa dingin sambil mengalihkan sinar matanya memandang awan diangkasa terhadap pertanyaan dari Ou Bu hong itu, dia tak mendengarkan maupun menjawab.

Kakek sakti elang baja Ou Bu hong kembali memandang sekejap sekeliling gelanggang, tiba-tiba tanyanya kepada Ou Yong hu, “Ou thamcu, kemana perginya komandan pasukan elang baja?”

Kakek ular dari lautan timur Ou Yong hu mengalihkan sinar matanya kewajah Gak Lam- kun, kemudian sambil menjura katanya, “Gak sauhiap, tolong tanya kemana perginya Si Tiong pek dari perkumpulan kami saat ini?”

Pelan-pelan Gak Lam-kun maju kedepan lalu menghela nafas sedih.

“Semalam Si heng bersama siaute datang menyelidiki perkampungan ini, sayang ia kena dilukai oleh irama Sang goan ki yang mengakibatkan jalan api menuju neraka, pagi tadi ia telah berpisah denganku, tidak kuketahui kemana ia telah pergi?”

Agak tergetar perasaan kakek sakti elang baja dan sekalian anggota perkumpulan Thi eng pang setelah mendengar perkataan itu, terutama sekali Kim eng thamcu Ki Li soat, wajahnya berubah dan airmata mengambang dalam kelopak matanya, semua orang tahu bahwa jalan api menuju neraka merupakan pantangan terbesar bagi seseorang yang belajar ilmu silat sebab kendatipun luka dalam tersebut berhasil disembuhkan, sekalipun tidak sampai mati paling sedikit akan mengakibatkan cacad.

Tiba-tiba Kakek ular dari lautan timur Ou Yong hu membentak dengan suara lantang, “Gak Lam-kun, bukankah kau telah mencelakainya secara diam-diam? Kenapa sekarang kau katakan…”

Jit poh toan hun Kwik To segera tertawa dingin dan menukas pembicaraannya yang belum selesai, katanya, “Ou Yong hu, kau jangan memfitnah orang yang bukan-bukan, dengan mata kepalaku sendiri aku orang she Kwik menyaksikan betapa Si Tiong pek memasuki perkampungan ini untuk melakukan penyelidikan, kemudian bagaimana ia terluka oleh Sang goan ki dan diserang gerombolan ular beracun dimana tubuhnya terpagut seekor ular beracun. Bukan aku saja. Say Khi pit dari Siau ngo tay serta Kongsun Po dari Hoa san pun mengalami nasib yang sama.” Setelah mendengar perkataan itu, kakek sakti elang baja merasakan kepalanya seperti disambar petir disiang hari bolong, untuk sesaat lamanya ia berdiri termangu.

Sebagaimana diketahui, Si Tiong pek adalah murid kesayangannya yang paling dimanja dan merupakan satu-satunya, bahkan dia pula yang merupakan tumpuan harapannya selama ini, bagaimana mungkin hatinya menjadi tidak pedih setelah mengetahui keadaan Si Tiong pek yang mendekati setengah mati itu?

Gak Lam-kun menghela napas panjang, katanya, “Aku merasa amat bersedih hati atas nasib buruk yang telah menimpa diri Si Tiong pek, tapi Thian selalu melindungi umatnya, semoga saja ia berhasil menemukan keberuntungan”

Pada saat itulah secara tiba-tiba Kakek ular dari lautan timur Ou Yong hu membisikkan sesuatu ketepi telinga Ou Bu hong.

Menyusul kemudian Kakek sakti elang baja Ou Bu hong dengan sorot mata yang tajam dan buas menatap wajah Gak Lam-kun lekat-lekat.

Terkesiap hati Gak Lam-kun, dia tahu apa yang telah dibisikkan kakek ular dari lautan timur Ou Yong hu kepada Kakek sakti elang baja.

Tiba-tiba Ou Bu hong menengadah dan tertawa panjang, suaranya keras memekikkan telinga telapak tangan kirinya segera didorong kemuka melancarkan sebuah pukulan dahsyat kearah Gak Lam-kun.

Sepintas lalu pukulan itu seolah-olah tidak mempergunakan tenaga besar, malah seperti sebuah pukulan mainan, padahal justru mengandung himpunan tenaga murni yang maha dahsyat.

Gak Lam-kun pun tahu bahwa gembong iblis tersebut mempunyai ilmu silat yang sangat dahsyat dari perubahan wajahnya dapat diketahui bahwa orang itu bermaksud membinasakannya dalam sekali pukulan, untung ilmu silat yang dimilikinya cukup tangguh, kalau tidak, sulit rasanya untuk mempertahankan diri dari ancaman tersebut.

Dalam keadaan gawat dan jiwanya terancam oleh mara bahaya tersebut, Gak Lam-kun tidak terlalu memikirkan soal rahasia dirinya lagi, hawa sakti Tok liong ci jiau segera dihimpun dalam telapak tangan kanannya diantara rentangan kelima jari tangannya, segulung desiran angin tajam segera memancar kedepan.

“Aaaah..! Tenaga sakti Tok liong ci jiau?” Pekik Say Khi pit yang berada disisi arena dengan terperanjat.

Ketika tenaga pukulan yang dilancarkan kakek sakti elang baja Ou Bu hong saling bertemu dengan tenaga sentilan Gak Lam-kun yang maha dahsyat itu diudara, tiba-tiba saja dia merasakan hatinya bergetar keras, sepasang matanya melotot besar dan maju selangkah kedepan, mendadak telapak tangan kirinya didorong kembali setengah depa lebih kemuka.

Gak Lam-kun segera merasakan timbulnya suatu gulungan tenaga yang maha kuat bagaikan gulungan ombak disamudra memantul balik ketubuhnya, ia merasa sangat terperanjat, telapak tangan kirinya ikut dikebaskan pula kedepan… Tiba-tiba saja Ou Bu hong merasakan timbulnya segulung tenaga tekanan yang maha dahsyat menghantam tubuhnya mengikuti kebasan telapak tangan kiri dari Gak Lam-kun.

Rasa kaget dihati kakek sakti elang baja Ou Bu hong sukar dilukiskan lagi dengan kata- kata, cepat toya elang baja ditangan kanannya dibuang kesamping lalu cepat-cepat telapak tangan kanannya dikebaskan kedepan…

“Blaaang..? suatu benturan nyaring mengakibatkan terjadinya ledakan yang memekikkan telinga, tenaga pukulan dari Ou Bu hong segera mendesak mundur tenaga pukulan Gak Lam-kun itu.

Berhasil dengan serangannya itu, kakek sakti elang baja membentak keras bagaikan guntur, pukulan dahsyatnya yang kedua kembali dilontarkan kedepan.

Terdengar Gak Lam-kun mendengus tertahan, badannya mundur setengah langkah, tapi tenaga pukulannya toh berhasil juga untuk membendung dorongan angin pukulan Ou Bu hong yang kuat.

Dengan demikian maka antara kedua orang segera terlibat dalam suatu pertarungan adu tenaga dalam yang amat sengit keempat orang thamcu dari Thi eng pang dengan cepat menyebarkan diri kebelakang Ou Bu hong sambil bersiap sedia, mereka takut ada orang yang tiba-tiba melancarkan serangan dari belakang.

Tiba-tiba si Rase berekor sembilan Kongsun Po melompat kebelakang punggung Gak Lam-kun dengan suatu gerakan cepat, tapi sebelum kakinya sempat menempel diatas permukaan tanah, tiba-tiba terdengar seseorang membentak sambil tertawa dingin.

“Kembali kau!”

Segulung angin pukulan yang maha dahsyat dengan cepat menerjang kemuka menyongsong kedatangan tubuhnya.

Oleh karena masih berada diudara, sulit bagi Kiu wi hou Kongsun po untuk menghindarkan diri dari ancaman tersebut, terpaksa ia harus mendorong sepasang telapak tangannya kedepan untuk menyambut datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan keras.

“Blaaang…” ternyata tenaga pukulan itu amat dahsyat, oleh bentrokan tersebut badannya terpental sampai sejauh lima enam langkah lebih, hatinya semakin tercekat.

Setelah berhasil menenangkan hatinya, Kongsun Po baru mendengus dingin, katanya, “Kwik To, sebenarnya apa maksudmu dengan perbuatan tersebut?”

Jit poh toan hun Kwik To tertawa dingin.

“Bagaimanapun juga saudara Kongsun adalah seorang jago kenamaan dalam dunia persilatan, bila perbuatanmu melakukan sergapan ini sampai tersiar luas dalam dunia kangouw, hal ini akan sangat mempengaruhi nama baik serta martabat saudara Kongsun dimata orang banyak…”

Si Rase berekor sembilan Kongsun po tertawa seram. “Heeehhh… heeehhh… heeehhh… masih ingatkah kau dengan peristiwa dipuncak Yan po gan? Digunung Hoa san? Tujuh belas orang jago mengerubuti seorang jago, hmm, apakah perbuatan itu merusak nama baik kita semua?”

“Saudara Kongsun” kata jit poh toan hun Kwik To dengan ketus, “bila kau singgung kembali peristiwa dipuncak Yan po gan, jangan salahkan kalau aku Kwik To tidak akan mengenal teman dan bersikap keji kepadamu…”

Betapa gemas dan mendendamnya si rase berekor sembilan Kongsun po, kalau bisa ingin sekali ia lumatkan manusia yang bernama Kwik To itu. Tapi iapun menyadari bahwa situasi yang terbentang dihadapannya sekarang sangat tidak menguntungkan posisinya, dengan jumlah jago yang begitu banyak dari perguruan panah bercinta jelas ia akan konyol sendiri kalau berani mencari urusan.

Sebab itu terpaksa ia harus mengendalikan perasaan dendam dan benci dalam hatinya, setelah tertawa kering katanya,

“Bagus! Bagus! Suatu hari aku Kongsun Po ingin menyaksikan bagaimanakah nasib akhir dari manusia yang bernama Kwik To!”

Dipihak lain, Gak Lam-kun yang masih kalah setingkat tenaga dalamnya dibandingkan dengan Ou Bu hong, telah terdesak mundur berulangkali kebelakang, ia tahu bila keadaan tersebut dibiarkan berlangsung terus, maka akhirnya Gak Lam-kun pasti akan mati kehabisan tenaga.

Jit poh lui sin ciam Lui seng thian segera berseru dengan suara menyeramkan, “0u Bu hong, bila orang itu kau bunuh, jangan harap lencana pembunuh naga bisa kau dapatkan!”

Mendengar perkataan itu, kakek sakti elang baja Ou Bu hong segera tertawa terbahak- bahak.

“Haaahhh… haaahhh… haaahhh… keadaanku sekarang ibaratnya sedang menunggang dipunggung harimau, mau turun juga susah sekali bagaimana baiknya menurut pendapatmu?”

Lui seng thian merasa ucapan itu ada benarnya juga, sebab dalam suatu pertarungan beradu tenaga dalam, kecuali salah satu pihak terluka atau tewas sulit memang untuk menghentikannya ditengah jalan.

Gak Lam-kun segera mendengus dingin.

“Diantara kita berdua tak pernah terikat dendam sakit hati atau perselisihan apa pun pertarungan adu jiwa semacam ini sangat tidak menguntungkan kedua belah pihak, sebaliknya justru menguntungkan orang lain, seandainya kau bersedia mendengarkan perkataanku, aku mempunyai suatu cara untuk mengatasi kesulitan ini.”

Ou Bu hong sendiri juga tahu bagaimana peliknya suasana waktu itu, apabila pemuda itu berhasil dibinasakan olehnya, kemungkinan besar Soat san thian li akan membatalkan perjanjiannya dan tidak jadi menyerahkan lencana pembunuh naga tersebut, dan otomatis diapun akan tidak berhasil merampasnya dari tangan Gak Lam-kun lagipula tenaga dalam yang dimiliki pemuda itu tidak terpaut banyak darinya, sekalipun ia berhasil membinasakan dirinya paling tidak dia sendiripun akan banyak sekali mengorbankan kekuatan sendiri.

Berbicara sesungguhnya, tenaga dalam yang dimiliki Ou Bu hong lebih tinggi tiga empat puluh tahun hasil latihan bila dibandingkan dengan Gak Lam-kun, tapi berhubung Gak

Lam-kun melawan tenaga dalamnya dengan ilmu sakti dari aliran yang bersifat lembek, maka kekuatan dari Ou Bu hong berhasil dibendung olehnya.

Hal mana hanya dipahami oleh dua orang saja dari sekian banyak jago yang hadir dalam gelanggang dewasa itu, seandainya rahasia tersebut sampai terbongkar maka akibatnya Gak Lam-kun segera akan binasa diujung telapak tangan Ou Bu hong.

Kedua orang itu bukan lain adalah Thamcu dari Panji emas Ki Li soat serta Bwe Li pek dari perguruan panah bercinta.

Sementara itu si kakek sakti elang baja telah berpikir sejenak, kemudian sambil tertawa katanya, “Bagaimanakah caramu itu? Coba kau katakan!”

“Cukup asal kau tarik kembali lima bagian tenaga dalammu!” kata Gak Lam-kun. Ou Bu hong segera tertawa terbahak-bahak.

“Haaah… haaah… haaah… apakah kau mempunyai niat jahat terhadapku?”

Thamcu panji elang emas Ki Li soat yang berada disamping segera berseru dengan suara merdu, “Gihu (ayah angkat), ikuti saja perkataannya andaikata ia bermaksud jahat, putrimu percaya masih sanggup untuk mendesak balik kekuatannya…!”

Perlu diketahui, selama hidupnya Ou Bu hong tidak pernah kawin, setelah menerima gadis tersebut sabagai anak angkatnya, dihari biasa dia selalu memanjakan dan menyayanginya terutama atas kecerdasan serta bakat ilmu silat yang dimilikinya, boleh dibilang Ou Bu hong selalu mengagumi dan menyanjungnya.

Karenanya setelah mendengar perkataan itu ia lantas tertawa sambil mengangguk. “Baiklah, akan kuturuti perkataanmu itu!” katanya.

Gak Lam-kun yang mendengarkan perkataan itu merasa terperanjat, segera pikirnya pula.

“Jangan-jangan ia pun mengetahui caraku mengerahkan tenaga..?”

Sementara ia masih termenung, Ou Bu hong telah berkata kepada si anak muda itu, “Pada hitungan yang ketiga, bersiap-siaplah… satu… dua… tiga..”

Begitu angka ketiga diucapkan, Gak Lam-kun segera merasakan berkurangnya tenaga tekanan ia tak berani berayal lagi telapak tangan kirinya segera dibalik sambil dikebaskan keatas…

“Weess…” gulungan tenaga pukulan Ou Bu hong yang kuat bagaikan gulungan gelombang itu segera terpancing keudara, entah kepandaian apa yang telah dipergunakan tahu-tahu tenaga tadi telah terpelanting kearah lain hingga lenyap. Sepasang bahu Gak Lam-kun bergetar keras… dan secara beruntun ia mundur tujuh delapan langkah kebelakang.

Sekonyong-konyong… pada saat itulah dari tempat kejauhan tiba-tiba terdengar suara dentingan nyaring… ting tang ting… bunyi irama khim yang tajam.

Suara tabuhan khim itu berasal dari tempat yang amat jauh sekali…

“Blaang..!” suatu ledakan keras terjadi, tiba-tiba gumpalan asap berwarna merah meluncur keudara dari langit sebelah barat dan meledak disana.

Ou Bu hong segera berpaling kearah Gak Lam-kun sambil memberi hormat, katanya, “Ilmu silat yang dimiliki murid Yo Long memang cukup tangguh, bila dikemudian hari ada kesempatan aku pasti akan mohon petunjuk lagi”

Sehabis berkata ia melompat pergi dari situ, dalam waktu singkat tubuhnya sudah berada empat kaki jauhnya dan tempat semula diikuti para jago Thi eng pang lainnya.

Jit poh lui sim ciam Lui seng thian ikut tertawa dingin dengan seramnya tiba-tiba ia melompat keudara dan menyerbu kedalam bangunan yang berlapis-lapis itu.

Kiranya See ih tok seng Lo Kay seng beserta Giok bin sin ang dan Kiu wi hou yang semula berada diarena, entah semenjak kapan telah ngeloyor pergi dari situ.

Bwe Li pek mengernyitkan alis matanya, dengan suara yang merdu ia berkata, “Perubahan terjadinya peristiwa ini sangat tiba-tiba, Kwik To! Apakah beritamu bisa dipercaya?”

“Lapor nona Bwe, berita itu sedikitpun tidak salah!” jawab Jit Poh toan hun dengan nada bersungguh-sungguh.

Mendengar itu, dengan wajah serius Bwe Li pek segera berkata, “Kwik To. Siau nay- nay, kalian sekalian membawa segenap anggota perguruan menyusul kesana untuk mengadakan pengecekan bila benar-benar sudah pergi usahakan mengadakan kontak, jangan sampai terkena siasat memancing harimau turun gunung, sedang aku dan Han Hio nio akan tetap tinggal dipulau ini.”

Selesai berkata, Kwik To, nenek berambut putih, Siangkoan It beserta delapan belas orang manusia berbaju putih itu berlalu dari situ dengan kecepatan tinggi.

Sepeninggal anakbuahnya Bwe Li pek segera menjura kepada Gak Lam-kun sambil berkata, “Gak siangkong, sampai jumpa lagi esok pagi!”

Dua orang perempuan itupun berlalu dari situ menyusul kearah mana Jit poh lui sim ciam melenyapkan diri.

Gak Lam-kun benar-benar tak dapat menebak kejadian misterius apakah yang telah terjadi disana ketika ditinggal seorang diri ditempat tersebut tiba-tiba ia merasakan suatu kesepian dan keheningan yang amat mencekam. Akhirnya setelah mengatur hawa murninya, Gak Lam-kun melompat masuk kedalam halaman dimana gadis berbaju perak berdiam semalam, pemandangan disana tetap seperti sedia kala, tapi suasananya amat sepi, hening dan tak kedengaran sedikit suarapun.

Dengan enteng dia melompat naik keatas atap rumah, diperhatikannya sebentar suasana sekitarnya, ketika terbukti bahwa disitu benar-benar tiada seorang manusiapun, anak muda itu mulai berpikir, “Jangan-jangan Soat san thian li telah berlalu? Tapi kalau didengar dari arah permainan khim tersebut, jelas suara itu berasal dari belakang halaman sana.”

Terpikir sampai disitu, dengan sorot matanya yang tajam Gak Lam-kun segera berpaling kebangunan dibelakang halaman sana.

Dibawah sinar rembulan dan bintang tampaklah delapan buah bangunan loteng yang sangat megah bertengger disudut timur barat utara maupun selatan.

Gak Lam-kun berhenti untuk merenungkan sejenak arah berasalnya irama khim Mi tin loan hun ki (irama pembingung tenaga pengalut sukma) yang dimainkan Soat san thian li tadi, kemudian secepat sambaran kilat tubuhnya melayang kearah delapan buah bangunan loteng itu.

Ternyata Soat san thian li telah berjanji pada saat penyerahan lencana pembunuh naga nanti, ia akan mainkan irama Mi tin loan hun ki tersebut sebagai pertanda.

opoooOooooo

Sejak irama khim tadi berkumandang, Gak Lam-kun telah mengetahui bahwa permainan khim tersebut dipancarkan dengan ilmu Mi tin loan hun ki, lagi pula bersumber dari dalam loteng yang menjulang kelangit atau daerah sekitarnya.

Pada saat Gak Lam-kun bergerak menuju kearah delapan buah bangunan loteng itu, dari atas atap bangunan tersebut berdirilah seperti sesosok bayangan sukma, kakek berwajah jelek dan berambut putih sepundak, dia tak lain adalah Jit poh lui sim ciam Lui Seng thian.

Setelah tertawa dingin berulangkali dengan suara menyeramkan, secepat kilat ia menguntit kearah mana Gak Lam-kun pergi.

Dalam waktu singkat Gak Lam-kun telah tiba didepan kedelapan buah bangunan loteng itu, diantara hembusan angin semilir dan dibawah cahaya bintang yang gemerlapan serta rembulan yang separuh bulat, tampak kedelapan buah bangunan loteng itu begitu megah, kokoh dan menyeramkan.

Atap rumah yang berjajar serta saling bersambungan berdempetan langsung dengan delapan buah bangunan loteng tersebut, bangunan itu benar-benar luar biasa, cukup dilihat dari kesemuanya itu dapat diketahui bahwa luas bangunan mencapai berhektar- hektar luasnya.

Gak Lam-kun menengok sekejap sekeliling tempat itu, kemudian dengan kening berkerut ia melayang turun kebawah dan masuk kebalik bangunan tersebut. Halaman bangunan yang kokoh dan megah kecuali dipenuhi dengan bangunan rumah dan berjejer serta loteng yang menjulang keangkasa, disekeliling tembok pekarangan yang lebar telah dipenuhi dengan pohon-pohon bunga yang rapat.

Yang lebih istimewa lagi ternyata setiap gerombolan bebungahan tersebut secara kebetulan menutup setiap pintu masuk menuju kebangunan loteng tadi dan diantara setiap gerombolan bunga yang lebat berdiri sebatang pohon siong yang tinggi dan besar membuat halaman itu tampak lebih megah dan menawan.

Diam-diam Gak Lam-kun menghela napas panjang, pikirnya, “Sungguh tak kusangka diatas pulau yang terpencil ini ternyata terdapat sebuah bangunan semegah itu…”

Berpikir demikian, pelan-pelan Gak Lam-kun masuk melalui sudut barat daya, setelah melewati gerombolan semak dan bunga serta membeloki juga beberapa tikungan akhirnya ia sudah melampaui semak belukar itu sejauh belasan kaki lebih.

Akan tetapi, menanti Gak Lam-kun memperhatikan kembali keadaan disekelilingnya, kontan saja ia berdiri tertegun dengan wajah penuh rasa kaget…

Ternyata dihadapannya tidak terlihat lagi kedelapan buah bangunan loteng itu, dimana ia berdiri sekarang tidak lain adalah pintu masuk dimana ia berjalan masuk tadi, kedelapan buah bangunan loteng itu justru berada dibelakangnya.

Gak Lam-kun pada dasarnya adalah seorang pemuda yang cerdik dan cekatan dengan cepat ia tahu bahwa gerombolan semak dan bunga itu ditanam menurut kedudukan suatu ilmu barisan yang amat sakti.

Sekalipun demikian Gak Lam-kun yang tinggi hati tidak percaya kalau barisan selihay itu sanggup membelenggu dirinya. Ia merasa cukup mempunyai bekal dalam ilmu barisan terutama dibawah petunjuk gurunya Tok liong cuncu Yo Long.

Setelah termenung sambil memperhatikan sekejap posisi ilmu barisan itu akhirnya Gak Lam-kun memutuskan untuk menerobos masuk lewat bagian tengah gerombolan semak itu.

Setelah berputar melalui beberapa tikungan akhirnya ia muncul dari mulut semak tadi tapi kembali ia menjadi tertegun setelah memperhatikan keadaan disekitar sana.

Apa yang terjadi? Ternyata ia telah balik kembali kemulut masuk semula, bahkan sepasang kakinya balik kembali keatas bekas telapak kaki semula.

Gak Lam-kun segera putar badan sambil memperhatikan kembali barisan bunga itu dengan seksama, sepasang keningnya tiba-tiba berkerut kencang, karena terbukti sudah kalau barisan tersebut benar-benar amat rumit dan kalut.

Kalau dibilang seperti barisan pat kwa, ternyata tidak mirip pat kwa, kalau dibilang seperti barisan Ngo heng nyatanya bukan ngo heng, untuk sesaat dia tak tahu barisan apakah itu?

Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benak Gak Lam-kun.

“Kenapa aku tidak melompat keatas atap rumah untuk coba memecahkan barisan ini?” Berpikir sampai disitu si anak muda itu segera melompat keatas rumah dan melewati dua buah bangunan rumah sekaligus.

Beberapa bangunan sudah dilewatkan kembali menurut perhitungan Gak Lam-kun ia sudah melewati belasan buah bangunan selama ini, tapi jaraknya dengan bangunan loteng disebelah selatan yang selisihnya cuma tujuh delapan buah rumah itu masih tetap terpaut lima enam buah bangunan rumah.

Kali ini Gak Lam-kun benar-benar merasa terperanjat, mimpipun ia tidak menyangka kalau bangunan rumahpun dibangun sesuai dengan kedudukan suatu ilmu barisan.

Kini ia sudah terjebak ditengah-tengah barisan rumah, mau masuk tidak bisa mau keluar juga tidak dapat, ia sungguh-sungguh menjadi bingung dan tidak habis mengerti.

Pada saat itulah dari balik kegelapan kurang lebih beberapa kaki disebelah kiri terdengar seseorang sedang tertawa dingin dengan suara yang menyeramkan.

“Gak Lam-kun, lebih baik duduklah untuk beristirahat malam ini, anggap saja kita buang tenaga dengan percuma!”

Gak Lam-kun kenali suara itu sebagai suara dari Jit poh lui sim ciam Lui Seng thian, pelan-pelan ia lantas berjalan menghampirinya.

Tampak seorang kakek berwajah jelek sedang duduk diatas atap rumah sambil mengatur napasnya yang terengah-engah, dia bukan lain adalah Jit poh lui sim cim Lui Seng thian.

Gak Lam-kun menjadi tertegun ia tidak menyangka kalau Lui Seng thian pun mengerti irama Mi tin loan hun ki sehingga ia ikut terpancing pula sampai disitu.

Agaknya si panah inti geledek yang membunuh orang dalam tujuh langkah Lui Seng thian dapat menebak isi hati Gak Lam-kun, ia lantas menengadah dan memperdengarkan gelak tertawa yang seram dan memekikkan telinga.

Sesungguhnya Gak Lam-kun memang tidak menaruh kesan baik terhadap keganasan serta kekejian senjata rahasia milik Lui Seng thian, ia lebih-lebih tak senang sehabis mendengar gelak tertawanya yang mengerikan itu sepasang alis matanya kontan berkernyit.

Baru saja ia hendak menegur kenapa dia tertawa, Jit poh lui sim ciam telah berkata dengan suara menyeramkan, “Gak Lam-kun, apakah kau menaruh curiga bahwa akupun memahami irama Mi tin loan hun ki (irama pengalut tenaga pembingung sukma) dari Soat san thian li? Haaahh… haaahh… haahh ketahuilah, aku bisa sampai disini karena diam- diam menguntil dibelakangmu, waktu itu lantaran aku lihat kau masuk kedalam barisan bunga tapi muncul kembali ditempat semula, maka kudahului dirimu naik keatas atap rumah, siapa tahu… haaahh… haaahh… haaahh… aku toh tetap terkurung disini”

Diam-diam terkejut juga Gak Lam-kun setelah mendengar perkataan itu, pikirnya, “Orang persilatan memang, kebanyakan licik, banyak tipu muslihatnya dan berbahaya sekali, coba kalau Lui seng thian bermaksud untuk mencelakai diriku, sudah pasti aku sudah terkena sergapan mautnya”