Lencana Pembunuh Naga Jilid 07

 
Jilid 07

Dalam waktu singkat hawa murni memancar keempat penjuru, gulungan angin puyuh tersebar keempat penjuru dan menerbangkan debu dan pasir disekelilingnya, dalam radius tujuh kaki benda apapun terbawa semua keudara.

Ledakan dahsyat memekikkan telinga ini belum pernah dijumpai dalam dunia persilatan sebelumnya. Setelah menyambut hawa pukulan bersifat lembut yang dipancarkan perempuan aneh berambut panjang itu, Gak Lam-kun merasakan hawa darah di rongga dadanya bergolak keras, betapa terperanjatnya pemuda itu, cepat-cepat telapak tangan kirinya diayunkan kembali kemuka dengan kecepatan tinggi, ia berusaha untuk memusnahkan sisa kekuatan yang masih tersisa dari pukulan lawan itu dari sekitar badannya.

Kemudian setelah bebas dari ancaman, Gak Lam-kun baru menegur dengan suara dingin, “Siapakah nama kekasihmu itu? Aku sama sekali tidak kenal dengannya, kenapa aku mesti mencelakai dirinya?”

Ketika perempuan aneh berambut panjang itu menyaksikan Gak Lam-kun berhasil memunahkan serangannya yang kedua, mimik wajahnya agak bergerak, lalu sekulum senyum menghiasi ujung bibirnya.

“Kenapa?” katanya, “masa kau tidak kenal dengannya, lantas tahukah kau siapa yang kenal dengannya?”

Diam-diam Gak Lam-kun menyadari bahwa perempuan yang sedang dihadapinya adalah perempuan gila, tapi harus diakui ilmu silatnya memang cukup menggentarkan perasaan siapapun, sekalipun sewaktu tersenyum mukanya kelihatan jelek dan menyeramkan, tapi dua baris giginya kelihatan begitu putih, bersih dan rata.

Diam-diam ia berpikir, “Aneh benar perempuan ini, bila ditinjau dari potongan badannya, jelas dia adalah seorang perempuan cantik, tiada sebagianpun dari tubuhnya yang cacad atau kurang sempurna, tapi justru raut mukanya berwarna merah hitam tak menentu, ditambah lagi daging merah terkuar dimana-mana membuat tampangnya kelihatan begitu jelek dan mengerikan lagi, disamping itu suaranya juga kadangkala tinggi melengking amat menusuk pendengaran, bagaikan jeritan setan dari neraka, tapi kadangkala merdu merayu bagaikan burung Nuri yang sedang berkicau, siapakah sebetulnya orang ini..?”

Ingatan tersebut berputar tiada hentinya dalam benak Gak Lam-kun, setelah pusing dibuatnya diapun tersenyum sambil berkata, “Locianpwe, bolehkah aku tahu siapa nama kekasihmu itu?”

Paras muka perempuan aneh berambut panjang itu berubah menjadi serius, hardiknya, “Hey, ngaco belo, apaan kamu ini? Long ji adalah kekasihku, calon suamiku, tapi ia pun merupakan muridku.” Gak Lam-kun menjadi kaget dan tertegun lalu menghela napas panjang, pikirnya, “Jelaslah sudah perempuan ini memang perempuan gila, sayang sekali dengan ilmu silatnya yang tinggi… aaai, setelah kuketahui bahwa dia adalah perempuan edan, kenapa aku musti berdebat terus, dengan perempuan edan semacam dia?”

Mimpipun Gak Lam-kun tidak menyangka kalau perempuan yang berada dihadapannya sekarang adalah Sucounya, sayang sebelum ajalnya tiba Tok-liong Cuncu Yo Long sama sekali tidak mengungkapkan kisah cintanya dengan perempuan tersebut.

Demikianlah, setelah berpikir sebentar, Gak Lam-kun lantas memberi hormat sambil berkata, “Locianpwe, aku tidak kenal dengan Long ji mu, akupun tidak tahu siapa yang kenal dengan dirinya, maaf aku masih ada urusan yang harus kukerjakan sekarang, jadi terpaksa aku harus mohon diri terlebih dahulu…”

Selesai berkata, dia lantas putar badan dan siap meninggalkan tempat itu. Bagaikan bayangan setan saja tahu-tahu perempuan aneh berambut panjang itu sudah berkelebat kemuka dan menghadang tiga depa dihadapan Gak Lam-kun, dengan hawa nafsu membunuh menyelimuti wajahnya, ia membentak nyaring, “Nama besar Long-ji ku menggetarkan seluruh dunia, tak seorang umat persilatanpun yang tidak kenal dengannya, kalau kau tidak kenal dengan Long-ji ku, apa pula gunanya tetap hidup dikolong langit?”

Tangannya diayunkan dan sebuah pukulan dahsyat kembali dilancarkan ketubuh Gak Lam-kun.

Segulung hawa pukulan yang dingin menggidikkan hati, mengikuti gerakan telapak tangan tersebut langsung menerjang ke dada Gak Lam-kun.

Berubah hebat paras muka anak muda itu, dengan suatu gerakan aneh ia mengegos kesamping dan berputar ke sisi kanan perempuan aneh berambut panjang itu, kemudian dengan serius katanya, “Locianpwe, jika kau bertindak secara sembrono terus menerus, maaf bila boanpwe terpaksa harus bertindak kurangajar!”

Perempuan aneh berambut panjang itu sama sekali tidak menggubris, sebelum Gak Lam-kun sempat melancarkan serangannya, telapak tangan kirinya sudah dikebaskan tiga kali masing-masing mengancam tiga buah jalan darah penting di dada lawan.

Tak terlukiskan rasa kaget Gak Lam-kun menghadapi serangan tersebut, untuk kedua kalinya dia gunakan kembali ilmu langkah yang sangat ampuh itu untuk melepaskan diri dari ancaman, kemudian jari tangan kirinya direntangkan, dengan gerak serangan yang tak kalah anehnya ia cengkeram persendian tulang sikut ditangan perempuan itu.

Agaknya perempuan aneh berambut panjang itu dapat merasakan datangnya bahaya, tangan kanannya segera dikebaskan kebawah, sementara tangan kirinya melancarkan sebuah pukulan lagi mengarah jalan darah penting di pinggang Gak Lam-kun.

Dengan suatu lompatan si anak muda itu menghindarkan diri dari ancaman, lalu telapak tangannya berputar membacok kebawah dengan kecepatan tinggi.

Baik menghindar maupun dikala melancarkan serangan balasan semua gerakan tersebut dilaksanakan dengan kecepatan serta ketepatan yang mengagumkan.

Sebaliknya, jurus serangan yang digunakan perempuan aneh berambut panjang itu sepintas lalu seperti jurus serangan biasa, tapi jurus-jurus serangan biasa itu dalam penggunaannya ternyata berubah menjadi satu ancaman yang disertai dengan tenaga penghancur yang mengerikan, seolah-olah dari balik gerak serangan yang sederhana, sesungguhnya mengandung perubahan jurus yang amat sakti.

Dalam keadaan demikian, kendatipun, jurus serangan balasan yang dipergunakan Gak Lam-kun mempunyai perubahan yang bagaimanapun saktinya namun setiap kali selalu berhasil dipunahkan dengan begitu saja oleh jurus sederhana yang dipergunakan perempuan aneh berambut panjang itu.

Untung Gak Lam-kun masih mempunyai ilmu gerakan tubuh Ji gi ngo heng Jit eng liong heng sin hoat, coba kalau tidak, sejak tadi ia sudah terluka ditangannya.

Beberapa saat kemudian, dua orang itu sudah bergebrak sebanyak belasan jurus lebih. Setiap kali didesak oleh pukulan-pukulan gencar dari perempuan aneh berambut panjang itu, tiap kali pula Gak Lam-kun harus mundur untuk menghindarkan diri, lama kelamaan hal ini menimbulkan kemarahannva.

Telapak tangan kiri pukulan tangan kanan segera dilancarkan bersamaan waktunya, tentu saja serangan-serangan itu dilancarkan dengan disertai tenaga pukulan yang dahsyat.

Serangkaian pertarungan yang sedang berlangsung ini benar-benar merupakan suatu pertarungan sengit yang jarang dijumpai dalam dunia persilatan, terlepas dari jurus serangan yang dipergunakan perempuan aneh tersebut, cukup meninjau dari setiap pukulan, setiap sodokan dan setiap tendangan yang dipergunakan Gak Lam-kun, semuanya merupakan jurus-jurus serangan yang jarang dijumpai dikolong langit.

Dibawah desakan dan terjangan Gak Lam-kun dengan pukulan dan tendangannya yang bertubi-tubi, perempuan aneh berambut panjang itu segera memperlihatkan pula rasa kaget dan tercengangnya.

Tiba-tiba ia meluruskan sepasang telapak tangannya ke depan, pergelangan tangannya agak ditekuk ke bawah, kemudian segulung angin pukulan lembut pelan-pelan dilontarkan ke depan.

Tapi setiap kali angin pukulan itu terbentur dengan jurus serangan yang dipergunakan oleh Gak Lam-kun, hawa pukulan itu seakan-akan terbendung sama sekali, setiap kali pukulan itu terpental dan tak mampu dikembangkan.

Akhirnya dengan jengkel perempuan aneh berambut panjang itu menarik kembali serangannya.

“Hey, siapakah kau?” bentaknya kemudian.

“Aku She Gak bernama Lam kun!” jawab pemuda itu hambar.

“Gak Lam-kun…Gak Lam-kun..?” seperti orang yang sedang mengigau, perempuan aneh berambut panjang itu mengulangi nama tersebut sampai berpuluh-puluh kali, suaranya lirih sekali.

Entah beberapa lama sudah lewat, tiba-tiba ia membentak keras, “Gak Lam-kun, kau harus mampus!”

Kena dibentak oleh perempuan itu, Gak Lam-kun tersentak kaget, serunya tanpa terasa, “Kenapa aku harus mampus?”

Perempuan aneh berambut panjang itu manggut-manggutkan kepalanya, lalu dengan lembut berkata, “Kenapa kau harus mampus? Sebab kau bisa mempergunakan ilmu silat dari Long-jiku!”

“Ilmu silatku berasal dari ajaran guruku sendiri, ilmu silat dia orang tua sudah mencapai taraf yang luar biasa, jurus silat dari perguruan manapun didunia ini telah dikuasai semua olehnya, tentu saja termasuk juga ilmu silat dari Long ji mu itu” “Wahai Gak Lam-kun, siapa nama gurumu? Aku hendak membunuh dirinya..!” bentak perempuan aneh berambut panjang itu dengan penuh kegusaran.

Gak Lam-kun segera menghela napas panjang.

“Aaaaai…guruku sudah tiada, jangan harap kau bisa beradu kepandaian dengannya”

Mendengar jawaban tersebut, tiba-tiba perempuan aneh berambut panjang itu menengadah dan tertawa seram.

“Haaahhh… haahhh… haaahhh… sudah mampus? Haahhh… haahhh… haaahhh… rupanya semua orang dikolong langit sudah pada mampus, Long-ji juga sudah mampus. Oooh…Long-ji ku yang patut dikasihani, kau berada dimana? Kau berada dimana? Yo Long, Yo Long, begitu tegakah kau tinggalkan aku seorang? Yo Long…oooh Yo Long betapa kejamnya hatimu, Yo Long…”

Sambil menjerit-jerit seperti orang gila, secepat sambaran kilat perempuan aneh berambut panjang itu menjejakkan kakinya ke atas tanah dan berkelebat menuju ke arah timur.

Teriakan-teriakannya dan jeritan-jeritannya penuh diliputi nada duka nestapa yang tebal, bukan saja mengharukan perasaan siapapun yang mendengarkan, bahkan bikin orang melelehkan air mata tanpa terasa…

Sewaktu Gak Lam-kun mendengar perempuan aneh berambut panjang itu, menyebut- nyebut nama gurunya, ia merasa terkejut sekali, segera teriaknya dengan suara lantang.

“Eeeh… locianpwe… locianpwe..! Tunggu sebentar, tunggu sebentar!”

Tapi gerakan tubuh dari perempuan aneh berambut panjang itu memang terlalu cepat dalam waktu singkat bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata.

Yang masih terdengar hanya suara jeritannya yang memilukan hati, “Yo Long! Oooh… Yo Long! Jangan kau tinggalkan diriku, jangan kau tinggalkan aku seorang diri, Yo Long…”

Menyaksikan kesemuanya itu. Gak Lam-kun hanya bisa menghela napas sedih pikirnya, “Bila kutinjau dari ilmu silat yang dimiliki perempuan ini, jelas ia sudah berhasil mencapai taraf paling sempurna yang tiada taranya didunia ini, mungkinkah Yo Long yang sedang dicari-cari olehnya adalah guruku?

Tidak! Tidak mungkin! Mungkin masih ada Yo Long yang lain, memang terlalu banyak manusia didunia ini, yang mempunyai nama marga dan nama kecil yang sama”

Setelah termenung beberapa waktu. Gak Lam-kun menengadah dan memandang awan diangkasa, lama kemudian ia baru menghela napas panjang.

“Diantara musuh-musuh besar pembunuh suhuku, sudah ada empat orang diantaranya yang muncul dipulau terpencil ini, diantara mereka berempat, ada dua orang yang sudah mengetahui asal usulku, apabila mereka sampai bekerja sama untuk menghadapi diriku,tentu aku tak kuat menghadapi mereka, aaaai… jika tidak kulenyapkan dulu beberapa orang diantara mereka, malu rasanya aku terhadap kebaikan suhu selama ini” Akhirnya setelah menghela napas panjang dia mengeluarkan sebuah topeng kepala naga dari sakunya dan dikenakan diatas wajahnya secara sempurna, kemudian ia lepaskan jubah hijaunya sehingga tampaklah pakaian berwarna emas yang berada dibaliknya.

Sesudah itu, Gak Lam-kun merogoh pula kedalam saku jubah berwarna emas itu dan mengeluarkan senjata Toh-hun-liong-jiau (cakar naga perenggut nyawa) senjata andalan Yo Long dikala masih menjelajahi dunia persilatan tempo dulu.

Ternyata senjata itu berupa sepasang sarung tangan berwarna kuning emas, cuma sarung tangan ini jauh berbeda dengan sarung tangan biasa, yakni pada ujung kelima jarinya tersembul cakar emas yang panjangnya satu setengah cun dengan bentuk yang melengkung seperti cakar naga.

Dengan cekatan Gak Lam-kun mengenakan sarung tangan itu ditangannya, dibawah sorot sinar rembulan terlihatlah sepuluh jari cakar mautnya memantulkan sinar gelap yang gemerlapan, sekilas pandangan semua orang akan mengetahui bahwa cakar itu tajamnya luar biasa.

Perlu diterangkan disini, kesepuluh buah jari cakar naga yang berada pada ujung sarung tangan Toh-hun-liong-jiau tersebut, dibuat Tok-liong Cuncu Yo Long dengan campuran baja dan emas murni, bukan saja tajamnya melebihi sebilah pedang mestika, bahkan sarung tangan itupun kebal terhadap segala bacokan ataupun tusukan pedang mestika.

Selesai berdandan, dengan sangat hati-hati Gak Lam-kun menyusupkan baju hijaunya kedalam saku, lalu sekali melompat, laksana sambaran kilat ia meluncur kembali ke arah bangunan gedung tersebut.

Setelah mengenakan dandanan istimewa semacam ini, Gak Lam-kun tak berani terlalu gegabah sehingga jejaknya ketahuan orang dengan langkah yang sangat berhati-hati ia menyusup dari satu halaman ke halaman yang lain, dalam waktu singkat ia telah tiba diluar halaman dimana mereka pernah dikurung oleh barisan ular beracun kemarin.

Ia menghimpun tenaga dalamnya, kemudian setelah mengincar sebatang pohon siong dekat pekarangan sana, bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya segera melesat kepuncak pohon itu, sementara sepasang matanya yang tajam menyapu sekejap sekeliling tempat itu.

Suasana halaman itu sepi dan tak nampak sesosok bayangan manusiapun, jangankan manusia, bangkai ular yang penuh berserakan ditanah kemarinpun kini sudah tersapu bersih.

Gak Lam-kun tak berani bertindak gegabah, ditunggunya sejenak dari atas pohon siong sambil mengamati situasi disekeliling tempat itu…

Tapi suasana tetap hening dan sepi, diantara hembusan angin musim rontok yang sepoi-sepoi, hanya bayangan daun yang bergoyang diatas permukaan tanah serta pasir yang mendesis terhembus angin.

Meski suasana terasa hening, tapi keheningan tersebut membawa suasana seram yang menggidikkan hati. Ketika Gak Lam-kun merasa suasana disana amat tenang dan tidak nampak sesosok bayangan manusiapun, dengan enteng ia melayang turun kembali keatas tanah, lalu sekali melompat pemuda itu menyusup ke arah gedung dimana perempuan berbaju perak yang memetik khim semalam berdiam.

Setelah melampaui dua buah halaman luas, sampailah pemuda itu diluar gedung dimana gadis itu tinggal.

Halaman diluar gedung itu luas sekali, pohon-pohon siong tumbuh berjajar di empat penjuru, Gak Lam-kun segera memilih sebatang pohon siong yang tumbuh dekat halaman bagian barat, lalu dengan hati-hati sekali melompat kebawah pohon tadi.

Pemuda itu merasa perlu berhati-hati, dalam gerak-geriknya, sebab dia tahu empat orang dayang yang tinggal digedung itu adalah jago-jago tangguh yang berilmu tinggi.

Sebelum melompat keatas, Gak Lam-kun memperhatikan lebih dahulu dahan pohon tersebut ternyata dari akar sampai ranting yang pertama tingginya mencapai lima kaki, bila seseorang tidak memiliki ilmu peringan tubuh yang sempurna, jangan harap dengan sekali lompatan bisa mencapai ranting pohon itu.

Dengan cekatan Gak Lam-kun memperhatikan keadaan pohon itu lalu menimbang pula kekuatan yang dimilikinya, setelah menghimpun hawa murninya ia getarkan sepasang lengannya lalu meluncur naik keatas, ketika tiba ditengah jalan, tangan kirinya menyambar sebatang ranting bercabang dan sekali berjumpalitan tahu-tahu tubuhnya sudah berdiri diatas dahan pohon.

Berbicara dari taraf ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Gak Lam-kun, sesungguhnya ia dapat mencapai dahan pohon siong itu tanpa menimbulkan sedikit suarapun, sayang sepasang tangannya mengenakan sarung tangan cakar naga perenggut nyawa, ketika ujung cakarnya yang tajam menggurat dahan pohon, segera berkumandanglah suara guratan yang lirih sekali.

Padahal suara itu lirihnya bukan kepalang, jangankan orang yang berada dikejauhan sekalipun berdiri disampingnya belum tentu bisa menangkap suara tersebut.

Akan tetapi, baru saja sepasang kakinya berdiri tegak, mendadak dari dua kaki disamping kiri, dari balik rimbunnya daun siong yang lebat, berkumandang suara tertawa aneh yang menyeramkan.

Suara itu tidak terlalu keras, namun membawa nada menyeramkan yang cukup menggidikkan hati orang.

Walaupun Gak Lam-kun dibuat tertegun oleh gelak tawa seram yang munculnya sangat mendadak itu, tapi ia masih dapat mengenali suara tersebut sebagai suara manusia.

Diam-diam hawa murninya segera dihimpun untuk bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan, sementara diluar ia bersikap seakan-akan tak pernah terjadi suatu apapun, seolah-olah suara tertawa aneh tadi sama sekali tidak terdengar olehnya. Setelah suara tertawa aneh tadi berkumandang, suasana pulih kembali dalam keheningan. Kecuali angin berhembus lembut dan daun yang saling bergoyang, tak kedengaran suara aneh yang lainnya.

Kurang lebih seperminum teh kemudian karena tidak mendengar juga suara aneh lainnya, lama kelamaan Gak Lam-kun tak dapat menahan diri, dia lantas memutar tubuhnya dan siap menghampiri ke arah mana berasalnya suara tertawa aneh tadi.

Siapa tahu, baru saja dia menggerakkan tubuhnya, mendadak terdengar seseorang membentak dengan suara yang dingin, rendah dan berat, “Jangan sembarangan bergerak, kau telah berada dibawah ancaman panah geledek Jit poh-lui-sim-ciam-ku, nah kemarilah dengan tenang, ada beberapa persoalan hendak kutanyakan kepadamu!”

Ucapan itu bukan saja bernada berat, dan lagi kedengaran dingin dan menyeramkan.

Sejak pertama kali tadi Gak Lam-kun sudah memperhatikan dengan seksama tempat persembunyian dari si pembicara tersebut, ia telah bertekad jika tempat persembunyiannya sudah diketahui dengan pasti maka sebuah serangan tiba-tiba mungkin akan berhasil menaklukkan orang itu.

Maka setelah mendengar ancaman tersebut dia hanya mendengus dingin tiada hentinya.

Dengusan itu sangat aneh, nadanya dingin kaku dan membuat orang merasa sangat tidak enak hati, tapi rendah dan berat bagaikan suara itu bisa terdengar oleh siapapun juga yang berada tiga kaki disekeliling tempat itu.

Ternyata Gak Lam-kun telah menggunakan kepandaian Liong-gin-heng (dengusan naga sakti) ajaran gurunya untuk menggetarkan perasaan musuh, sementara sepasang matanya dengan tajam mengawasi terus tempat persembunyian orang itu.

Kiranya tempat yang digunakan orang itu sebagai tempat persembunyiannya mempunyai daun yang istimewa rimbunnya, sekalipun dibawah cahaya rembulan, yang terlihat cuma sesosok bayangan manusia belaka, bagaimanakah bentuk badan dan raut wajah orang itu ternyata sukar ditentukan.

Mendengar ‘pekikan naga’ dari Gak Lam-kun tersebut, kembali orang itu tertawa dingin dengan suara yang menyeramkan katanya, “Dandanan atau dengusan naga saktimu memang mirip sekali dengan gaya Tok-liong Cuncu Yo Long, sayang kau tak bisa membohongi aku, Heeehh… heeehhh… bocah cilik, bukankah demikian?”

Mendengar ucapan tersebut, Gak Lam-kun merasa terperanjat yang tak terkirakan hebatnya, dia tak mengira kalau jejak atau rahasia penyaruannya ketahuan orang.

“Siapa kau?” akhirnya dia menegur, kalau kau memang ingin menjumpai aku untuk menanyakan suatu masalah, kenapa tidak segera munculkan diri..?”

Pelan-pelan orang itu berkata, “Sekalipun kusebutkan namaku, belum tentu kau akan mengetahuinya. Justru lantaran kusaksikan ilmu meringankan tubuhmu sewaktu melompat naik keatas pohon siong tadi melampaui kehebatan orang lain, maka kulanggar kebiasaanku dengan datang menjumpaimu, coba kalau diam-diam melepaskan serangan mautku, niscaya pada saat ini nyawamu sudah lenyap di ujung anak panah Jit poh lui sim cian (panah tujuh langkah pencabut nyawa) ku”

Ketika didengarnya perkataan orang itu makin lama semakin tidak sungkan-sungkan Gak Lam-kun naik darah, tapi dia bukan seorang pemuda yang bodoh, ia tahu dari kepandaian orang itu untuk mengenali penyamarannya hanya dalam sekejap mata, ini sudah membuktikan kalau dia bukan manusia sembarangan.

Sambil menahan rasa mangkel, kesal dan golakan perasaannya ia menjawab, “Kalau memang demikian, aku akan menyambangi dirimu!”

Seraya berkata tangan kanannya dikebaskan, kemudian tubuhnya meluncur ke arah mana berasalnya suara tadi.

Benar juga, orang yang menyembunyikan diri dibalik pepohonan itu sama sekali tidak turun tangan melancarkan sergapan, sebagai pemuda yang berilmu tinggi dan bernyali besar, Gak Lam-kun menerobosi daun-daun pohon yang lebat dan berdiri diatas sebuah dahan kurang lebih tiga depa diluar gerombolan daun tadi.

Ketika ranting-ranting pohon disingkapnya dengan kedua belah tangannya, hampir saja Gak Lam-kun menjerit kaget setelah menyaksikan orang yang berada disana.

Pada salah sebuah dahan pohon dengan daun yang lebat, duduklah seorang kakek bertampang jelek, berambut putih sepanjang punggung, mempunyai raut wajah jelek mengerikan dengan bibir yang tebal, hidung yang datar, mata rada juling, jidat lebar serta masing-masing sebuah codet diatas pipinya, sebuah tabung bulat berwarna hitam berada dalam genggamannya…

Tabung bulat itu besarnya selengan dengan panjang dua depa, sesungguhnya bukan suatu benda yang terlalu menarik perhatian, tapi siapapun tahu bahwa benda yang amat sederhana itu justru merupakan sebuah alat pembunuh yang sangat jahat, keji dan menggetarkan hati siapapun jua.

Tabung bulat itu kosong tengahnya dan terdapat tujuh buah lubang kecil, didalam setiap lubang kecil itu masing-masing tersimpan sebatang anak panah Jit-poh-liu-sim cian yang maha lihay.

Kakek aneh itu meletakkan tabung bulat tersebut disampingnya, lalu sambil menunjuk kesebuah dahan pohon disisinya dia berkata, “Duduklah disana, ada persoalan hendak kutanyakan kepadamu!”

Gak Lam-kun menurut dan duduk diatas dahan pohon yang dimaksudkan, ia masih tetap membungkam dalam seribu bahasa.

Dengan tatapan mata yang tajam kakek aneh itu mengamati Gak Lam-kun beberapa kejap, kemudian sambil tertawa katanya, “Bila dilihat dari ilmu meringankan tubuhmu  yang sempurna serta dandananmu yang aneh, tentunya kau adalah murid kesayangan dari Tok liong Cuncu Yo Long bukan?”

“Rupanya saudara pernah berjumpa dengan guruku?” tanya Gak Lam-kun agak tertegun. “Benar…” jawab kakek aneh itu dengan mata yang membalik-balik keatas.

Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, giginya saling bergemerutuk keras, jelas ia menaruh perasaan dendam dan benci yang amat mendalam sekali terhadap Tok liong Cuncu Yo Long.

Menyaksikan kejadian itu, diam-diam Gak Lam-kun menghimpun segenap tenaga dalam yang dimilikinya untuk bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan.

Kemudian pelbagai ingatan melintas kembali dalam benaknya, ia berpikir, “Dari tujuh belas orang musuh guruku yang tercantum dalam kitab catatan musuh-musuh besar, kecuali sepuluh orang diantaranya yang sudah tewas, dari sisa tujuh orang yang masih ada, kini telah muncul Jit-poh toan-hun (tujuh langkah pemutus nyawa) Kwik To, Giok-bin sin ang (kakek sakti berwajah kemala) Say khi pit, Kiu wi hou )rase berekor sembilan) Kongsun Po dan Tang hay coa siu (kakek ular dari lautan timur) Ou Yong hu diatas pulau terpencil ini, sementara tiga orang lainnya yang hingga kini belum muncul.

Kui to(imam setan) Thian yu Cin jin yang merupakan orang paling dahsyat kepandaian silatnya, menyusul kemudian adalah Yan lo sat (iblis perempuan cantik) Hong im, dan akhirnya adalah jago yang menduduki urutan kelima Che kiam kuncu (Laki-laki ksatria pedang uang) Hoa kok khi, kecuali mereka semua, belum pernah kudengar kalau suhu masih mempunyai musuh lainnya…”

Sementara itu si kakek aneh itu sudah tertawa dingin dengan seramnya, kemudian katanya lebih jauh, “Yo long adalah musuh cintaku, akupun tidak takluk dengan kehebatan ilmu silatnya, berulangkali aku ingin menjajal kepandaiannya, sayang tak ada kesempatan, namun aku kagum juga oleh kehebatan ilmu silatnya, akupun merasa kasihan atas tragedi serta musibah yang menimpanya dalam dunia persilatan, cuma kejadian itu sudah berlangsung pada dua puluh tahun berselang, kini Yo long sudah mati tapi perempuan rendah itu masih tetap hidup”

Berbicara sampai disitu tiba-tiba ia menghela napas panjang matanya tertuju keatas awan dan kepalanya bergeleng berulangkali, bisa dirasakan betapa sedih dan murungnya perasaan orang itu.

Agak terperanjat Gak Lam-kun setelah mendengar perkataan itu, pikirnya, “Darimana dia bisa tahu kalau guruku sudah tiada? Siapa orang ini? Mengapa suhu tak pernah membicarakan tentang dirinya?”

Gak Lam-kun melakukan perjalanan dalam dunia persilatan semenjak tiga tahun berselang, hanya sebagian besar ia bergerak disekitar daratan Tionggoan, jadi terhadap budi dendam yang menyangkut tentang kakek aneh ini boleh dibilang ia sama sekali tak tahu.

Kakek aneh itu melirik sekejap ke arah Gak Lam-kun, kemudian setelah tertawa dingin katanya lagi, “Rupanya kau masih curiga dengan perkataanku bukan? Terus terang kuberitahukan kepadamu, kekasihku tempo hari telah direbut oleh Yo long, sebenarnya beberapa kali aku ingin membunuhnya secara diam-diam, latar belakang mengenai kehidupan Yo Long pun sudah banyak yang berhasil kuselidiki, maka ketika belakangan ini tersiar kabar yang mengatakan bahwa ia muncul kembali dalam dunia persilatan, aku segera mengecek kebenaran dari kabar itu, akhirnya berhasil kuketahui bahwa Tok-Liong Cuncu yang konon telah muncul kembali itu sesungguhnya adalah kau…yaaa, tak kusangka memang dengan usiamu yang demikian muda ternyata berhasil memiliki kecerdasan serta tingkat ilmu silat yang sedemikian tingginya…”

Setelah mendengar perkataan itu, Gak Lam-kun baru mengakui bahwa dunia persilatan memang terlalu banyak jago lihay yang tersembunyi. Tipu muslihat serta kejahatan yang terjadi dalam dunia persilatan sukar diduga asal datangnya.

“Cianpwe!” kata Gak Lam-kun kemudian dengan suara lembut, “siapakah perempuan yang kau maksudkan itu?”

“Dia bukan lain adalah Soat san thian li yang telah tiba digedung ini. Kecantikan wajahnya tiada bandingan didunia ini, cuma cintanya tidak setia, dia suka ganti-ganti pacar dan lagi pikirannya terlampau cupat, ia hanya tahu ingin menangnya sendiri…”

Diam-diam Gak Lam-kun mengernyitkan alis matanya, pikirnya, “Bila didengar dari pembicaraan suhu mengenai Soat-san thian-li, agaknya suhu pernah berhutang budi kepada perempuan itu, sebaliknya manusia aneh ini malah menjelek-jelekkan Soat-san- thian-li, jelaslah sudah bahwa dia sendirilah yang sempit jalan pikirannya”

Berpikir sampai disitu, dengan suara tawar dia lantas bertanya, “Locianpwe, apakah kau mengundangku kemari karena ingin memberitahukan persoalan ini saja?”

Agaknya manusia bertampang jelek sedang terkenang kembali pengalamannya dimasa silam, kepalanya terdongak keatas sambil memandang awan dengan termangu-mangu, ketika selesai mendengar perkataan dari Gak Lam-kun, tiba-tiba ia berpaling sambil membelai dua buah codet dipipinya, lalu katanya dengan dingin, “Kau jangan menuduh aku yang bukan-bukan, apa yang kukatakan tentang watak Soat San-thian-li adalah pengakuan yang sesungguhnya, kau tahu, pipiku ini justru rusak ditangannya”

“Oooh…kalau begitu kedatanganmu pada malam ini adalah untuk menunggu kesempatan guna melampiaskan rasa dendam dalam hatimu?” tanya Gak Lam-kun hambar.

“Soal membalas dendam adalah soal kedua selain itu masih ada satu tujuan lagi” “Apakah tujuanmu itu?”

Dengan sinar mata setajam sembilu kakek bertampang jelek itu menatap lekat-lekat topeng naga di wajah Gak Lam-kun, setelah itu dengan sikap serius tanyanya, “Jangan kau tanyakan dulu apa tujuanku yang lain, sekarang tolong jawab dulu kepadaku, bersediakah kau membantu usahaku?”

“Itu tergantung pada urusan apakah yang bisa kubantu!”

Dengan suara agak marah kata kakek bertampang jelek itu, “Tahukah kau tentang rahasia perkampungan ini?”

Gak Lam-kun tertegun, pikirnya, “Masa didalam perkampungan ini ada rahasianya?” Karena keheranan dan ingin tahu maka tanyanya, “Rahasia apakah itu?” Si kakek bertampang jelek itu berpikir sebentar, lalu jawabnya, “Rahasia itu sesungguhnya adalah suatu rahasia yang sangat berharga, yang dapat bikin orang persilatan menjadi gila. Hingga kini hanya beberapa gelintir manusia saja yang mengetahui rahasia ini, maka bila kau bersedia membantuku, tentu saja rahasia tersebut akan kujelaskan kepadamu seterperinci mungkin, tapi bila kau tidak bersedia membantu, akupun tak akan memaksa”

Timbul juga kecurigaan dalam hati Gak Lam-kun, katanya kemudian setelah berpikir sebentar, “Terangkan dulu rahasia apakah yang kau katakan amat berharga itu, dan berilah kesempatan kepadaku untuk mempertimbangkannya, setelah itu baru bisa kuputuskan apakah bersedia membantumu atau tidak”

Kakek bertampang jelek itu tertawa angkuh.

“Mau membantu atau tidak, lebih baik sekarang juga kau putuskan. Hmm! Jangan kau anggap Jit poh lui sin ciam (panah inti guntur) Lui Seng thian adalah seorang manusia yang sudi minta bantuan orang!”

Gak Lam-kun mendengus dingin.

“Hmmm! Kau tak sudi minta bantuanku, kenapa aku harus membantu dirimu pula?”

Sehabis berkata tiba-tiba ia berputar badan dan melompat ke dahan lain, kini jaraknya dengan Jit-poh-lui sim-ciam Lui Seng-thian berselisih antara satu kaki lebih.

Demikianlah, untuk sesaat kedua orang itu duduk saling berhadapan dari tempat kejauhan, siapapun tidak berbicara lagi melainkan termenung memikirkan rahasia hati sendiri-sendiri.

Tiba-tiba dari sudut kegelapan disebelah utara sana berkumandang suara gelak tertawa yang amat nyaring menyusul kemudian seorang berseru dengan lantang, “Saudara Lo, dimanakah kita akan beradu kekuatan?”

“Didepan sana, ditengah lapangan kosong” jawab orang yang lain dengan suara mengerikan.

Berbareng dengan selesainya perkataan itu seorang manusia berkerudung berbaju abu- abu dan seorang kakek kurus pendek berbaju hitam masing-masing melayang datang dari bawah pohon dimana Gak Lam-kun berada, kemudian dengan kecepatan luar biasa berkelebat menuju ke arah tanah lapang kurang lebih empat lima kaki jauhnya.

Kedua orang itu bukan lain adalah Jit poh tui hun Kwik To dan See ih Tok seng Lo Kay seng yang semalam berjanji akan mengadakan pertarungan satu lawan satu.

See ih tok seng (malaikat racun dari See ih Lo Kay seng yang berbaju hitam berdiri menghadap ke selatan, dengan suara dingin ia berkata, “Kwik heng, apakah kalian orang- orang dari perguruan Cing cian bun telah berdatangan semua?”

Jit poh toan hun Kwik To tertawa ringan.

“Sebentar lagi mungkin mereka akan berdatangan, cuma kau tak usah kuatir, perselisihan kita diselesaikan juga oleh kita sendiri, orang lain tak akan mencampuri urusan ini semisalnya saja See ih sam seng lainnya dan Soat san Thian li sekalian berdatangan semua kemari, tentu saja mereka juga tak akan mencampuri urusan ini bukan?”

“Tepat sekali, tepat sekali!” jawab See ih tok seng Lo Kay seng dengan nada mengerikan, “selama orang-orangmu tidak turun tangan, tentu saja kamipun tak akan menyergap orang lain secara diam-diam”

Mendadak Jit poh toan hun Kwik To berpaling ke arah gedung sebelah barat, kemudian tegurnya dengan suara dalam, “Jago lihay darimanakah yang telah datang? Setelah berada disini, mengapa harus menyembunyikan diri macam cucu kura-kura?”

Baru habis teguran tersebut, gelak tertawa seram berkumandang kembali memecahkan kesunyian.

“Haaahhh…haaahhh…haaahhh… Selamat bertemu kembali saudara Kwik, sejak perpisahan kita ditebing Yan po gan pada belasan tahun berselang, tak kusangka kau telah berubah menjadi anteknya perguruan panah bercinta”

Dua sosok bayangan manusia bagaikan burung rajawali terbang diangkasa menyambar kebawah dengan kecepatan luar biasa, ternyata yang muncul adalah Giok bin sin ang (kakek sakti berwajah pualam) Say Khi pit serta Kiu wi hou (rase berekor sembilan) Kongsun Po.

Sambil tersenyum kembali si Rase berekor sembilan Kongsun Po berkata lantang, “Saudara Kwik, kau benar-benar bersikap kurang bersahabat, setelah berjumpa dengan sobat-sobat lama yang telah berpisah belasan tahun lamanya, mengapa kau mengenakan terus kain cadarmu itu, atau jangan-jangan wajahmu telah mengalami perubahan?”

Jit poh toan hun Kwik To tertawa terbahak-bahak, ia menarik lepas kain cadarnya sehingga terlihatlah raut wajahnya yang merah bercahaya dengan alis mata yang tebal dan mata yang besar, gagah sekali tampang wajahnya itu.

Setelah puas tertawa, dengan wajah membesi Kwik To berkata lagi.

“Saudara Say, saudara Kongsun, mau apa kalian datang kemari?” Kongsun Po terkekeh dengan suara parau.

“Heeee…heeee…heeee…ketika kudengar bahwa sahabat lama yang telah terpisah selama belasan tahun ada janji dengan orang lain, sebagai sesama saudara tentu saja kami datang untuk menyaksikan apakah ilmu silat yang dimiliki sahabat kita ini telah peroleh kemajuan yang pesat atau tidak?”

“Kongsun-heng” kata Jit poh toan hun Kwik To hambar, “kalau hendak mengucapkan sesuatu, mengapa tidak kau utarakan saja secara berterus terang..?”

“Aaah…mana, mana…” Kiu wi hou Kongsun Po kembali tertawa kering, “baiklah, setelah kau berkata demikian maka kamipun akan buka kartu bicara secara blak-blakan sesungguhnya kedatangan kami berdua adalah ingin menyaksikan wajah Soat san thian li yang cantik jelita itu serta wajah dari ketua perguruan panah bercinta yang cuma kami dengar namanya tapi belum pernah kami saksikan raut wajahnya itu” Malaikat racun dari See ih Lo Kay-seng tertawa dingin.

“Heeehhh… heeehhh… heeehhh… apakah saudara ini tidak merasa terlalu sungkan- sungkan? Seandainya dipulau gersang yang terpencil letaknya ini tiada lencana pembunuh naga, mungkinkah kalian bakal terpancing untuk datang kemari?”

Kakek sakti berwajah pualam Say Khi pit tertawa lebar.

“Lencana pembunuh naga memang merupakan benda mestika yang dapat membuat mata orang menjadi merah, tapi belum tentu kami datang kesini hanya lantaran benda semacam itu”

Jit poh toan hun Kwik To lantas berpaling ke arah Say Khi pit dan Kongsun Po seraya katanya, “Kalian berdua adalah orang-orang kangouw berpengalaman, tentunya kalian juga mengetahui bukan pertarungan dunia persilatan tentang suatu duel satu lawan satu!”

“Saudara Kwik, kau tak usah kuatir,” kata si Rase berekor sembilan Kongsun Po dengan cepat, “aku dan Say-heng hanya ingin menonton keramaian saja, kedua belah pihak sama- sama tidak akan dibantu”

Pada saat itulah, mendadak dari balik keheningan berkumandang suara dengusan naga yang menggetarkan sukma…

Ketika mendengar suara dengusan naga tersebut, Giok bin sin ang Say Khi pit dan Kiu wi hou Kongsun Po sama-sama berubah wajahnya, dengan cekatan mereka memutar badannya, lalu dengan dua pasang biji mata yang memancarkan perasaan takut mereka menyapu sekejap sekeliling tempat itu…

Akhirnya mereka temukan Tok liong Cuncu yang mengenakan topeng naga dengan sepasang tangannya mengenakan cakar naga perenggut nyawa serta mengenakan baju naga berwarna kuning, bagaikan sebuah patung arca berdiri kurang lebih dua kaki dibelakang mereka.

See ih tok seng Lo Kay seng sendiripun tampak agak tertegun ketika menyaksikan kemunculan Tok liong Cuncu ditempat itu.

Diantara sekian banyak orang, hanya Jit poh toan hun Kwik To seorang tetap berdiri dengan wajah sedingin es, sedikitpun tidak menampilkan perasaan kaget atau ngeri.

Sesaat kemudian, Kongsun Po dan Say Khi pit baru berhasil menenangkan kembali hatinya, si Rase berekor sembilan itu lantas berpaling ke arah Kwik To seraya ujarnya, “Saudara Kwik, langganan lama kita telah datang…”

Gak Lam-kun kembali memperdengarkan dengusan Liong leng heng yang dingin dan rendah untuk menukas pembicaraan si Rase berekor sembilan yang belum habis, kemudian bagaikan sukma gentayangan pelan-pelan ia mendekati kedua orang itu.

0000000o000000

Seketika itu juga suasana dalam arena tersebut berubah menjadi kaku dan tegang… Dengan menirukan suara Yo Long seperti dulu, pelan-pelan Gak Lam-kun menegur, “Kenapa kalian tidak segera bunuh diri? Mau menunggu sampai kapan lagi..?”

Sekalipun rasa ngeri dan ketakutan menghadapi maut menyelimuti perasaan Kakek sakti berwajah pualam Say Khi pit serta Rase berekor sembilan Kongsun Po, akan tetapi dalam keadaan tercekam oleh perasaan takut tersebut kadangkala akan muncul juga sebercak harapan untuk mempertahankan hidupnya, mereka tak sudi menyerahkan jiwanya dengan begitu saja, mereka harus melakukan perlawanan dengan segenap kemampuan yang dimilikinya.

Apalagi setelah melalui latihan yang tekun dan bersungguh-sungguh selama belasan tahun, mereka yakin masih mempunyai kemampuan untuk beradu kekuatan dengan Tok liong Cuncu yang cukup membuat pecah nyali setiap umat persilatan itu, lagipula bukankah disitu masih ada Kwik To dan Say Khi pit?

Selain dari pada itu, mereka tahu semenjak terjatuh kedalam jurang ditebing Yan po gan, Tok liong Cuncu Yo Long telah menderita luka yang cukup parah, ini ditambah lagi dengan racun jahat yang telah diminum sebelum pertarungan dimulai, berarti meski tidak sampai tewas, ilmu silatnya sudah jelas tak mungkin bisa pulih kembali seperti sedia kala.

Ingatan tersebut bagaikan sambaran kilat cepatnya melintas dalam benak mereka, kemudian sambil tertawa seram Si Rase berekor sembilan Kongsun Po berkata, “Heeehhh… heeehhh… heeehh… bagus… Yo Long! Belasan tahun tidak berjumpa rupanya kau makin lama semakin bertambah ganas..!”

Sekali lagi Gak Lam-kun mendengarkan dengusan naga Liong Gin heng nya, lalu seperti sukma gentayangan ia menyerang maju kedepan, pergelangan tangan kirinya berkelebat lewat dan langsung mencengkeram urat nadi pada pergelangan tangan kanan Kongsun Po, cepat nian ancaman tersebut.

Semenjak tadi si Rase berekor sembilan Kongsun Po telah bersiap sedia menghadapi serangan lawan sekalipun Gak Lam-kun menyerang dengan kecepatan luar biasa, namun ia berhasil juga menghindarkan diri dari ancaman tadi.

Dengan gerakan yang tak kalah cepatnya telapak tangan kirinya menangkis serangan Gak Lam-kun dengan jurus Tui po cut lam (mendorong membantu ombak).

“Say loji saudara Kwik” teriaknya “malam ini mari kita bersama-sama menyaksikan ilmu silat dari manusia latah ini setelah belasan tabun tidak bersua”

Jelas sudah maksud dari kata-katanya itu, yakni minta kepada dua orang itu agar bersama-sama membantunya untuk mengerubuti Tok liong Cuncu.

Dengan dingin Gak Lam-kun berkata, “Kongsun Po. lebih baik kau berkumpul saja dengan ketujuh belas orang yang lain didalam neraka!”

Secara beruntun sepasang tangannya melancarkan empat buah serangan berantai.

Keempat buah serangan tersebut rata-rata sangat lihay dengan gerakan yang sakti serta sukar diduga, empat buah pukulan dilancarkan berangkaian seakan-akan dilepas secara bersamaan… Kongsun Po menjadi kelabakan setengah mati untuk menangkis seluruh ancaman tersebut jelas tidak gampang, terpaksa ia melompat kebelakang dan mundur sejauh tujuh langkah.

Gak Lam-kun mendengus dingin, bagaikan bayangan ia menyusul maju kemuka, telapak tangan kirinya dibabat kemuka melancarkan sebuah pukulan aneh maha sakti dengan jurus Long tai cau gan (gulungan ombak menghantam karang).

Begitu jalan mundur Kongsun po tergencet, telapak tangan kanannya dengan kelima jari yang dibentangkan menyerang lagi kedepan dengan jurus Im siau ngo gak (awan tebal menyelimuti lima bukit), dibalik ancaman itu disertakan juga hawa sakti Tok liong ci jiau (cakar maut naga beracun) yang mengerikan itu.

Sungguh dahsyat ancaman dari Gak Lam-kun itu, bukan saja jurus serangannya ampuh membuat orang sukar menahannya, bahkan dilancarkan dengan mempergunakan beberapa macam tenaga yang berbeda besar kecilnya.

Dalam waktu singkat, dari atas bawah depan dan belakangnya seakan-akan muncul selapis kekuatan yang mengunci jalan mundur musuhnya, ini semua memaksa Kongsun Po mau tak mau harus menyambut serangan Tok liong ci jiau ditelapak tangan kanan Gak Lam-kun secara keras lawan keras.

Sebenarnya si Kakek sakti berwajah pualam Say Khi pit sedang memperhatikan ilmu silat Gak Lam-kun sambil mengambil kesimpulan-kesimpulan, tapi setelah menyaksikan dalam beberapa gebrakan saja Kongsun Po berhasil dipaksa sehingga tak sanggup melakukan perlawanan lagi, hatinya mulai terperanjat.

Dikala ia masih terkesiap sambil berdiri tertegun, hawa sakti Tok liong ci jiau dari Gak Lam-kun yang dilancarkan dengan jurus Im so ngo gak (awan tebal menyelimuti lima bukit) telah mengurung segenap batok kepala Kongsun Po.

Untung Say Khi pit telah mengadakan persiapan jauh sebelumnya, begitu dilihatnya Kongsun Po menjumpai bahaya maut, dia segera berpekik nyaring kemudian sambil melompat keudara sepasang telapak tangannya berbareng didorong kedepan.

Segulung tenaga pukulan yang lebih dahsyat dari ombak ditengah samudera dengan cepatnya menumbuk punggung Gak Lam-kun.

Serangan tersebut telah dilancarkan dengan mempergunakan segenap kekuatan yang dimilikinya, sebab berhadapan dengan Tok liong Cuncu Yo long yang disegani setiap umat persilatan ia harus bertindak cepat, karena bila lawan sampai diberi kesempatan untuk mengadakan persiapan, maka akibatnya kendatipun ia dan Kongsun Po serta Kwik To turun tangan bersama, belum tentu mereka sanggup menghadapi serangan maut dari Yo Long, atau dengan perkataan lain jiwa mereka bertiga pada hakekatnya berada dalam cengkeraman lawan.

Oleh sebab itulah begitu turun tangan ia lantas mempergunakan tenaganya sebesar dua belas bagian, ia berharap dikala Gak Lam-kun tidak siap pukulan itu berhasil membinasakan dirinya atau paling tidak melukai isi perutnya.

Berbareng disaat Giok bin sin ang Say Khi pit melancarkan serangan mautnya, si Rase berekor sembilan Kongsun Po telah menghimpun pula segenap kekuatan tenaga dalamnya untuk menyambut ancaman lawan, sebab keadaaan memaksanya mau tak mau harus menerima pukulan itu secara keras lawan keras.

Dan pukulan ini menyangkut soal mati hidupnya, maka dia musti berjuang dengan sungguh-sungguh untuk mempertahankan kehidupannya.

Terkesiap juga Gak Lam-kun menghadapi kejadian semacam ini, ia tahu sekalipun pukulan saktinya pasti dapat membinasakan Kongsun Po atau paling sedikit membuatnya terluka parah, tapi sergapan Giok bin sin ang Say Khi pit dari belakang yang disertai dengan hawa pukulan yang maha dahsyat, itu mungkin akan membinasakan juga dirinya atau paling tidak mengakibatkan isi perutnya bergoncang.

Situasi menjadi sangat gawat, pemuda itu agak sulit untuk menentukan pilihannya dalam waktu singkat…

Sementara itu angin pukulan Kakek sakti berwajah pualam Say Khi pit yang kuat telah tiba dibelakang punggungnya, sedangkan tenaga perlawanan yang dilancarkan Kongsun Po bagaikan amukan ombak samudra juga telah menggulung tiba…

Gak Lam-kun tak bisa berpikir panjang lagi tiba-tiba tenaga sakti Tok liong ci jiau nya ditarik kembali, lalu dengan gerakan sangat aneh badannya bergeser tiga depa kesamping kanan.

“Weees..! Weeees..!” pukulan kiri kanan dari Gak Lam-kun telah membabat keluar dengan kecepatan tinggi.

Sesungguhnya perubahan gerak badan dari anak muda tersebut sudah berada dalam dugaan Kwik To, tapi ketika pukulan yang dilancarkan setelah badannya bergeser tiga depa kesamping dengan kecepatan tinggi itu jauh diluar dugaannya, diam-diam ia merasa kagum juga oleh kelihayan ilmu silat yang dimiliki Gak Lam-kun.

Kwik To juga tahu bahwa Tok liong Cuncu yang berada dihadapannya sekarang merupakan penyaruan dari Gak Lam-kun, andaikata Yo Long sendiri yang memiliki kepandaian semacam itu, dia tak akan terkejut atau keheranan lagi.

Say Khi pit dan Kongsun Po yang menyaksikan Gak Lam-kun berkelit kesamping juga merasa amat terkejut, sebab dengan demikian tenaga pukulan mereka berdua justru akan saling berpapasan.

Untunglah kedua orang itu merupakan jago nomor satu dalam dunia persilatan dewasa ini, dalam kejutnya buru-buru mereka menarik kembali serangannya lalu sambil memutar badan mereka muntahkan kembali segulung tenaga pukulan dahsyat untuk menyongsong datangnya ancaman dari Gak Lam-kun yang tiba dari arah samping itu.

Sekalipun gerakan mereka berdua untuk membuyarkan serangan, dilakukan dengan kecepatan yang cukup tinggi, namun akhirnya serangan dari Gak Lam-kun tiba pada sasarannya lebih duluan.

Tenaga lwekang yang dimiliki kakek sakti berwajah pualam Say Khi pit jauh lebih sempurna daripada rekannya, maka disaat gerakan yang pertama telah dilancarkan tadi, serangan kedua yang disertai tenaga pukulan yang maha dahsyat telah dimuntahkan keluar lagi. Akan tetapi disaat dua gulung tenaga pukulan tersebut saling menumbuk antara yang satu dengan lainnya, tubuh Say Khi-pit segera tergetar keras sehingga mencelat tujuh delapan depa jauhnya keudara, ketika mencapai permukaan tanah lagi, dia harus mundur tiga empat langkah lagi dengan sempoyongan, hampir saja tubuhnya tak terbendungkan. Bukan matanya saja yang berkunang-kunang, telinganya ikut terasa mendengung keras seperti ditusuk-tusuk dengan jarum.

Menanti ia dapat mengatur napas kembali serta mendongakkan kepalanya, tampaklah Si Rase berekor sembilan Konsun Po sedang berjongkok dengan tangan sebelah menguruti dada, napasnya tersengal-sengal dan mukanya sangat pucat, agaknya tidak enteng luka dalam yang dideritanya itu.

Gak Lam-kun sendiri berdiri disamping dengan tenang, sikapnya amat biasa seolah-olah tak pernah terjadi suatu peristiwa apapun.

Selang sejenak kemudian, Gak Lam-kun mendengus dingin, kemudian pelan-pelan ia maju kedepan menghampiri si Rase berekor sembilan Kongsun Po yang masih berjongkok itu.

Sekonyong-konyong…pekikan nyaring yang amat memekikkan telinga berkumandang dari kejauhan, menyusul kemudian bayangan manusia saling berkelebat lewat, dalam waktu singkat delapan belas orang laki-laki berbaju biru yang menggembol pedang elang baja dipunggungnya telah munculkan diri dalam gelanggang, mereka adalah kedelapan belas elang baja yang tergabung dalam pasukan Thiat eng tui dibawah pimpinan Si Tiong pek.

Sebagai kepalanya ternyata adalah seorang kakek kurus yang kecil dan pendek, dia bukan lain adalah Tang hay coa siu (kakek ular dari lautan timur) Ou Yong hu.

Begitu munculkan diri, dengan kecepatan paling tinggi kedelapan belas elang baja itu meloloskan pedang masing-masing, cahaya perak gemerlapan dan menyiarkan hawa dingin yang menggidikkan hati, pelan-pelan mereka menggeserkan tubuhnya menyebar kesamping, agaknya orang-orang itu bermaksud hendak mengepung Gak Lam-kun.

Menyaksikan peristiwa tersebut, Gak Lam-kun menjadi tertegun dan segera menghentikan langkah kakinya, sebab dia tahu kalau si Kakek ular dari lautan timur Ou Yong hu telah mengetahui rahasia penyamarannya.

Sementara itu betapa leganya perasaan Kiu wi hou dan Giok bin sin ang setelah menyaksikan kemunculan Ou Yong hu dengan membawa serta kedelapan belas elang baja dari pasukan Thiat eng tui tersebut, mereka sadar kendatipun orang-orang tersebut masih bukan tandingan Tok liong Cuncu, akan tetapi dengan kehadiran mereka justru akan mempermudahkan niat mereka untuk mencari kesempatan mengambil langkah seribu dari situ.

Giok bin sin ang Say Khi pit mengatur napasnya sebentar untuk mengendalikan hawa darahnya yang bergolak, setelah itu sambil tertawa terbahak-bahak katanya, “Saudara Ou, tidak kusangka kalau kau akan muncul tepat pada saatnya..haaha… haaahhh… haaahhh…” “Bukan cuma aku saja yang telah datang coba lihatlah! Orang-orang dari perguruan panah bercintapun telah berdatangan semua” kata si Kakek ular dari lautan timur dengan suara ewa.

Baru selesai perkataannya itu, bayangan manusia tampak berkelebat dari arah timur menyusul kemudian muncullah empat orang manusia dengan gerakan tubuh yang enteng.

Sebagai kepala rombongan adalah seorang sastrawan berbaju putih, dia bukan lain adalah Bwee Li-pek, dikiri kanan kedua belah sampingnya mengikuti seorang perempuan berambut putih yang menggembol sepasang pedang dipunggungnya, pakaian mereka amat bagus dan mentereng, sedangkan dibarisan terbelakang adalah seorang kakek berjenggot panjang sedada, dia bukan lain adalah Tan ciang ceng kan kun (Telapak tangan tunggal yang menggetarkan jagad) Siangkoan Ik.

Menyusul kemunculan keempat orang itu, dari belakang muncul kembali delapan belas orang manusia berbaju putih, potongan badan kedelapan belas orang itu secara kebetulan justru merupakan kebalikan dari delapan belas elang baja dari pasukan Thiat eng tui tersebut, karena tubuh mereka rata-rata kurus kering seperti lidi.

Bwe Li pek membawa anak buah perguruan panah bercintanya bergeser ke arah selatan, Jit poh toan hun Kwik To segera memberi hormat kepada Bwe Li pek dan mengundurkan diri kesamping perempuan tua berambut putih.

Senjata yang digembol oleh kedelapan belas manusia berbaju putih dari perguruan panah bercinta adalah sebuah gendewa besar dengan tabung panah yang penuh dengan anak-anak panah, cuma bentuk panah itu lain daripada yang lain, bukan saja tidak berbulu pada tangkainya, bentuknya jauh lebih panjang dan ramping daripada anak panah biasa.

Setelah berdiri mengambil posisi, kedelapan belas orang manusia berbaju putih itu cepat melepaskan gendewanya dan memasang dua batang panah mereka diatas busur tersebut, ujung anak panah semuanya tertuju ke arah tubuh delapan belas elang baja dari Thiat eng tui.

Paras muka Bwe Li pek, ketua dari perguruan panah bercinta amat dingin tanpa emosi, sulit buat orang untuk menduga bagaimanakah perasaan hatinya waktu itu.

Kemunculan sekian banyak orang secara tiba-tiba serta pelbagai perubahan yang berlangsung secara beruntun dengan cepat membuat suasana ditengah gelanggang berubah menjadi beku dan kaku.

Meski demikian dibalik benak masing-masing orang justru berputar pelbagai ingatan yang beraneka ragam.

Karena perubahan yang berlangsung diluar dugaan itu, untuk sementara waktu Gak Lam-kun menghentikan pula semua kegiatannya.

Akan tetapi suasana hening dan sepi semacam ini tidak bertahan terlalu lama… Mendadak dari tempat kejauhan berkumandang lagi suara tertawa panjang yang

menggidikkan hati. Disela-sela tertawa panjangnya yang memilukan dan menggidikkan hati itu, terdengar pula jeritan-jeritan seram yang mendebarkan sukma, “Long ji… oh Long ji… kau berada dimana? Yo long… wahai Yo long… kembalilah kesisiku, aku tak dapat kehilangan kau”

Mendengar teriakan tersebut, Gak Lam-kun menjadi amat terperanjat, ia tak berani tinggal terlalu lama lagi disitu, bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya ia melompat setinggi enam kaki ke tengah udara, kemudian bersalto beberapa kali bagaikan kuda langit terbang di awan, dengan kecepatan bagaikan petir ia kabur keluar dari halaman gedung tersebut…

Sungguh amat luar biasa ilmu meringankan tubuh yang dimiliki si anak muda itu, untuk sesaat lamanya para jago yang hadir dalam gelanggang menjadi berdiri terbelalak dengan mulut melongo.

Baru saja bayangan tubuh Gak Lam-kun lenyap dari pandangan mata, sesosok bayangan manusia lain bagaikan seekor burung elang menerobos hutan menyambar datang dan muncul di arena, ternyata dia adalah seorang perempuan aneh berambut panjang.

Semua orang segera merasakan suara tertawanya itu bukan saja jauh membumbung ke angkasa, lagi pula suaranya tajam memekikkan telinga, apabila tenaga dalam yang dimilikinya tidak sempurna, jelas tak mungkin bisa melakukan kesemuanya itu.

Mereka lebih terperanjat lagi setelah menyaksikan gerakan tubuh orang itu lebih gesit dari burung elang. Jangankan Giok bin sin ang dan lain-lainnya, bahkan Bwe Li pek dari perguruan panah bercinta serta Jit poh lui sim ciang Lui Seng thian yang bersembunyi diatas dahan pohon pun mengakui bahwa ilmu meringankan tubuh yang dimiliki perempuan itu jauh berada diatas kepandaian mereka sendiri.

Dengan sepasang matanya yang jeli perempuan aneh berambut panjang itu memandang sekejap sekeliling gelanggang, mendadak ia berpaling ke arah Giok bin sin ang Say Khi pit kemudian pelan-pelan menghampirinya.

Terkejut juga si kakek sakti berwajah pualam ini, segera pikirnya dengan perasaan tercekat, “Aku merasa tak pernah kenal dengan perempuan ini, dalam dunia persilatan juga tak pernah kudengar namanya, waah… kalau begitu kedatangannya menghampiriku jelas tidak mengandung maksud baik…”

Untuk menjaga segala kemungkinan yang tidak diinginkan, Say Khi pit segera menghimpun segenap tenaga dalam yang dimilikinya untuk bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan.

Perempuan aneh berambut panjang itu berhenti lebih kurang satu kaki didepan Say Khi pit, lalu tegurnya dengan dingin, “Hey! tua bangka, kau pernah melihat Long ji ku?”

Giok bin sin ang Say Khi pit tertegun. Lalu tanyanya dengan keheranan. “Siapakah Long ji mu itu?”

“Long ji adalah kekasihku, siapa kau?” bentak perempuan aneh berambut panjang itu dengan marah, “tua bangka sialan, kau pantas dibikin mampus, masa cuma soal itu saja tidak tahu” Telapak tangannya segera diayun kedepan segulung angin pukulan yang maha dahsyat segera meluncur kedepan dan menerjang ketubuhnya.

Kecepatan gerak si perempuan aneh berambut panjang dalam melancarkan serangannya itu sungguh cepat bagaikan sambaran kilat karena terlalu cepat ancaman itu tiba didepan matanya, untuk sesaat sulit bagi Kakek sakti berwajah pualam Say Khi pit untuk menghindarkan diri, terpaksa sepasang telapak tangannya didorong kemuka untuk menyambut datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan keras.

Tapi baru saja hawa murninya disalurkan ia segera merasakan gelagat kurang menguntungkan, sebab kekuatan angin pukulan yang dihasilkan lawan hampir boleh dibilang belum pernah dijumpai sebelumnya.

Dalam kejut dan terkesiapnya buru-buru ia menarik kembali pukulannya sambil melompat mundur kekelakang.

Kendatipun demikian, ekor angin serangan yang dilancarkan perempuan aneh berambut panjang itu sempat mementalkan tubuhnya sejauh lima enam langkah, isi perutnya menyusul ikut bergetar keras dan…

‘Uaaak!’ ia muntah darah kental.

Peristiwa ini sungguh diluar dugaan siapapun juga, kontan saja membuat suasana disekitar gelanggang menjadi gempar, semua orang terkejut dan semua orang merasa jantungnya berdebar keras.

Sebagaimana diketahui, ilmu silat yang dimiliki kakek sakti berwajah pualam Say Khi pit termasuk golongan jago yang cukup lihay, akan tetapi nyatanya sekarang, ia tergetar sampai muntah darah kental hanya karena tersambar oleh kebasan si perempuan aneh berambut panjang yang amat enteng dan sederhana itu. Kejadian tersebut, sungguh membuat orang lain tercengang dan diluar dugaan.

Seketika itu juga suasana menjadi gempar, para jago pada berbisik membicarakan persoalan itu.

Sementara semua orang masih dibuat terkesiap oleh kelihayan lawan, perempuan aneh berambut panjang itu pelan-pelan sudah berjalan kembali menghampiri Malaikat racun dari See ih Lo Kay-seng.

Paras muka si Malaikat racun dari See ih Lo Kay seng segera berubah menjadi amat serius, dengan sepasang matanya yang lebih tajam dari sembilu ditatapnya perempuan aneh berambut panjang itu lekat-lekat, kemudian tegurnya ketus, “Kau adalah anggota perguruan Hay sim pay?”

Perempuan aneh berambut panjang itu tertegun, tiba-tiba ia balik bertanya, “Siapa kau? Darimana kau bisa tahu kalau dalam dunia persilatan terdapat juga ilmu silat aliran Hay sim it pay? Pernahkah kau berjumpa dengan Long ji ku?”

Menghadapi rentetan pertanyaan yang balik diajukan kepadanya itu, Malaikat racun dari See ih Lo Kay seng menjadi tertegun, untuk sesaat ia terbungkam dan tak tahu bagaimana musti menjawab. Perlu diterangkan, perguruan Hay sim it pay bersumber dari pulau Hay sim to yang berada diwilayah Cing hay, konon pada tiga ratus berselang dalam dunia persilatan telah muncul seorang manusia aneh maha sakti yang bernama Hay Ciong ji, dialah pendiri dari perguruan Hay sim it pay tersebut. 58

Tapi semenjak kemunculan Hay Ciong ji pada tiga ratus tahun berselang, dalam dunia persilatan tak pernah dijumpai orang dari aliran Hay sim it pay lagi, sebab itu ilmu silat aliran Hay sim it pay jarang sekali diketahui dalam dunia persilatan.

Begitu mendengar tentang Hay sim it pay satu ingatan dengan cepat melintas dalam benak Bwe Li pek, ia menjadi teringat kembali dengan kata-kata gurunya, “Tok liong Cuncu (rasul naga beracun) Yo Long adalah seorang jago dari perguruan Hay sim it pay, sejak kecil ia dibesarkan oleh Hay sim li dan diberi pula pelajaran ilmu silat, tapi pada akhirnya Hay sim li justru jatuh cinta sendiri kepada Yo Long…”

Teringat sampai disitu, paras mukanya berubah hebat, kembali pikirnya, “Jangan- jangan perempuan aneh berambut panjang itu adalah Hay sim li yang dikatakan amat cantik bak bidadari dari kahyangan dengan ilmu silatnya yang tiada tandingannya dikolong langit?”

Ditengah keheningan tersebut seorang pemuda berbaju hijau diam-diam berjalan menghampiri arena dan berdiri dipihak perguruan panah bercinta, orang itu bukan lain adalah Gak Lam-kun.

Ternyata Gak Lam-kun yang mendengar suara dari perempuan aneh berambut panjang itu berkumandang dari kejauhan, segera merasakan gelagat tidak menguntungkan baginya, dia kuatir Yo Long yang sedang dicari perempuan itu adalah gurunya, sebab jika dugaannya benar, maka pertemuannya dengan perempuan itu pasti akan mengakibatkan ia dianggap sebagai gurunya, itu berarti banyak kesulitan yang bakal dijumpainya.

Selain daripada itu, disekitar gelanggang telah bermunculan pula sekian banyak jago lihay, apabila orang-orang itu sampai bekerja sama untuk mengerubutinya, hal itu akan sangat berbahaya bagi keselamatan jiwanya.

Maka setelah mempertimbangkan sejenak untung ruginya, Gak Lam-kun memutuskan untuk cepat-cepat mengundurkan diri dari sana, disuatu tempat yang tiada manusia lain ia berganti pakaian hijaunya, lalu memburu kesitu untuk menonton keramaian.

Sementara itu Bwe Li pek telah menjura kepada Gak Lam-kun setelah mengetahui kemunculan anak muda itu.

“Saudara Gak, baik-baiklah kau? Sehat-sehatkah selalu selama ini?” Gak Lam-kun tersenyum.

“Waaah…rupanya siaute datang terlambat satu langkah, sedang Bwee heng sekalian sudah tiba lebih duluan”

Han Hu hoa menunjukkan pula sekulum senyumannya yang manis, seraya memberi hormat kepada Gak Lam-kun katanya, “Gak lote, lagi-lagi kita berjumpa muka!”

Gak Lam-kun segera menengadah dan tertawa terbahak-bahak. “Haaaah… haaah… haaah… yaa, itulah yang dikatakan orang jika memang berjodoh berselisih seribu li akhirnya juga ketemu, tapi kalau tidak berjodoh bertemu mukapun tidak saling mengenal sejak berpisah dengan nona Han diatas telaga Tong ting ou, tidak kusangka kalau kita kembali akan bersua diatas pulau terpencil ini, aku merasa benar- benar amat beruntung karena bisa bersua kembali dengan wajah cantikmu”

Ketika mendengar suara dari Gak Lam-kun tiba-tiba perempuan aneh berambut panjang itu memutar badannya kemudian pelan-pelan menghampirinya.

Menyaksikan Hay sim li, atau perempuan aneh berambut panjang itu mendekati ke arah mereka, serentak kedelapan belas orang manusia berbaju putih dari perguruan panah bercinta itu menarik gendewa masing-masing sambil mengarahkan ujung anak panahnya ke arah perempuan tersebut.

“Berhenti!” bentak mereka serentak, “kalau berani maju selangkah lagi, jangan salahkan kalau panah bercinta tidak berperasaan”

Menyaksikan situasi tegang itu, buru-buru Gak Lam-kun membentak, “Panah bercinta jangan buru-buru dilepaskan!”

Mendengar itu. Bwe Li pek segera mengulapkan tangan kanannya yang putih halus sambil berkata, “Delapan belas panah bercinta, jangan bertindak secara gegabah!”

Serentak kedelapan belas orang manusia berbaju putih itu menurunkan kembali busur masing-masing, cuma pengawasan sama sekali tidak dikendorkan, gerak-gerik perempuan aneh itu masih saja diikuti dengan seksama.

Perempuan aneh berambut panjang itu berjalan kehadapan Gak Lam-kun, kemudian setelah tertawa merdu tegurnya, “Gak Lam-kun, rupanya kau juga datang kemari, heeeh… heeeh…”

Dia setengah waras setengah tidak, entah apa yang sedang dibayangkan waktu itu, tiba-tiba ia mendongakkan kepalanya sambil tertawa terkekeh-kekeh.

Sekali lagi semua orang dibuat terkesiap sehabis mendengar gelak tertawanya itu, sebab bukan saja suara tertawanya sangat merdu dan sedap didengar, bahkan mengandung pula semacam daya pengaruh iblis yang dapat mencekam perasaan orang.

Gak Lam-kun mengernyitkan alis matanya, tapi ia masih tertawa kembali katanya, “Locianpwe, rupanya kau juga datang, apakah sedang mencari Long ji mu itu?”

Tiba-tiba perempuan aneh berambut panjang itu menghentikan gelak tertawanya, kemudian dengan suara yang lembut dan merdu merayu sahutnya, “Yaa! Gak Lam-kun, apakah kau telah bertemu dengan Long ji ku?”

Suaranya begitu merdu merayu, seandainya semua orang tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, siapapun tidak akan percaya kalau suara tersebut berasal dari mulut seorang perempuan bertampang jelek.

Sementara itu sejak tadi Bwe Li pek mengawasi terus raut wajah perempuan aneh berambut panjang itu, tiba-tiba ia menemukan setitik bagian yang mencurigakan, sambil menghela napas pikirnya kemudian, “Tak dapat diragukan lagi perempuan itu pastilah Hay sim li, gurunya Tok liong Cuncu Yo Long, menurut kata suhu kecantikan Hay sim li tiada bandingannya dikolong langit kesemuanya ini karena dia mengandalkan ilmu menyamarnya yang sangat hebat. Perempuan aneh bertampang jelek yang berada dihadapanku sekarang jelas adalah merupakan salah satu dari penyamarannya, atau mungkin ia mengenakan selembar kulit manusia diatas wajahnya…”