Lencana Pembunuh Naga Jilid 06

 
Jilid 06

PERLU kiranya diterangkan disini bahwa ular berbintik bintik merah itu merupakan jenis ular beracun yang jahat dan ganas sekali sari racunnya, meskipun Gak Lam kun telah mengerahkan tenaga dalamnya untuk mendesak racun itu terkumpul disuatu tubuhnya, akan tetapi lantaran dia barus mengerahkan tenaga saktinya untuk membinasakan ular- ular beracun tadi, maka karena kurang waspada racun ular yang berhasil disudutkan itu berhasil menjalar kembali kedalam isi perutnya mengikuti aliran darah.

Karena daya kerja racun yang berhasil lolos ketubuhnya itulah menyebabkan pemuda itu merasakan dadanya menjadi kaku, segenap tenaga murninya membuyar dan badannya menjadi lemas.

Masih untung tenaga dalamnya cukup sempurna, hingga sebelum keadaan bertambah fatal, ia sudah keburu menutup kembali semua saluran jalan darah dibagian kakinya.

Si Tiong pek tertawa sedih katanya, “Aku bisa mati bersama-sama saudara Gak sekalipun harus mati sekarang, mata juga akan meram!”

Sementara pembicaraan sedang berlangsung gerombolan ular beracun itu telah tiba didepan mereka terpaksa Gak Lam kun mengayunkan kembali telapak tangan kanannya untuk menghajar binatang-binatang tersebut.

“Blaaang…!” dimana angin pukulannya menyambar lewat, belasan ekor ular beracun yang bergerak dibarisan terdepan segera terhantam sampai hancur berkeping-keping.

Setelah melancarkan serangan dengan telapak tangan kanannya tadi Gak Lam kun merasakan dadanya kaku dan kesemutan, segenap kekuatannya punah tak berbekas, ia menjadi sempoyongan lalu bersama Si Tiong pek jatuh terjerembab diatas tanah.

“Saudara Gak, kenapa kau?” Si Tiong pek segera bertanya dengan perasaan cemas. Gak Lam kun menghela napas panjang.

“Aaaai…racun ular yang berada dalam tubuhku telah menyerang dalam isi perut”

Selesai mengucapkan kata-kata dengan cepat Gak Lam kun duduk bersila untuk mengatur pernapasan, dengan kaki kanannya dia berusaha menopang seluruh badannya.

Si Tiong pek yang mendengar perkataan itu ikut merasa terperanjat pikirnya, “Tenaga dalam yang dia miliki beberapa kali lipat lebih tinggi daripadaku, kenapa aku yang digigit ular dengan isi perutku sudah terluka parah tidak merasakan apa-apa kecuali tak mampu mengerahkan kembali tenaga dalamnya sedangkan dia yang tidak terluka isi perutnya malah menunjukkan gejala keracunan? Jangan-jangan ular hitam kecil yang menggigitku itu sama sekali tak beracun.”

Padahal mana dia tahu kalau racun dari ular hitam kecil itu jauh lebih jahat daripada racun ular berbintik-bintik merah yang menggigit Gak Lam kun itu?

Barangsiapa sampai tergigit oleh ular hitam kecil itu maka dalam waktu singkat jiwanya tentu akan melayang, tapi kenapa Si Tiong pek tidak mampus?

Alasannya yakni karena sebagian urat nadi dalam tubuhnya sudah membeku dan tembusan racun jahat itu tak sanggup menyerbu sampai kedalam tubuhnya karena itu dia masih tetap segar tanpa banyak menunjukkan gejala keracunan. Akan tetapi, justru karena kejadian ini maka luka dalam yang diderita Si Tiong pek akan semakin sukar disembuhkan, sekalipun sembuh nantinya, dia harus menderita kembali suatu penyakit jahat yang tak ada sembuhnya…

Sementara itu desisan tajam berkumandang lagi silih berganti, segerombolan ular racun muncul lagi dari semak belukar dan menyerbu kearah Gak Lam-kun serta Si Tiong pek.

Betapa gelisah dan cemasnya Si Tiong pek, cepat dia menarik bahu Gak Lam kun seraya teriaknya, “Saudara Gak, rada baikkah keadaanmu?”

Ketika sinar matanya dialihkan kewajah Gak Lam-kun, maka tampaklah pemuda itu memejamkan matanya rapat-rapat, mukanya tenang tapi dingin dan hambar, sama sekali tidak tampak rasa murung ataupun bersedih hati.

Puluhan sosok ular beracun yang besar kecil tak menentu itu sudah bergeser kurang lebih satu kaki dihadapan kedua orang itu, tampaknya sulit bagi mereka untuk meloloskan diri dari gigitan ular-ular tersebut…

Mendadak disaat yang kritis itulah bergema suara desisan kacau yang memecahkan kesunyian, ular-ular beracun yang berada disekitar tiga tombak dari kedua orang itu pada bergelut sendiri seperti kegilaan, lalu setelah saling gigit menggigit dengan kalap, binatang-binatang itu jumpalitan dan tewas secara misterius.

Sedangkan ular-ular beracun yang berada diluar radius tiga kaki, seakan-akan telah bertemu dengan raja iblis tandingannya, dengan ketakutan mereka putar badan dan lari tercerai-berai.

Saat itulah Si Tiong-pek sempat mencium bau harum yang tipis tersebar disana, bau itu seperti bau harum bunga anggrek, tapi jelas bukan bunga anggrek, dengan tercengang ia berpaling kearah Gak Lam kun.

Rupanya Gak Lam kun sendiripun mengendus bau harum yang tipis itu, segera ia membuka matanya dan memutar badan dengan sigap…

Kurang lebih empat kaki didepannya berdiri seorang manusia berbaju abu-abu yang mengenakan kain cadar diatas wajahnya, orarg itu tak lain adalah manusia berbaju abu- abu pendayung sampan Bwe Li-pek.

Tangannya waktu itu membawa sebuah botol yang berisi penuh bubuk putih setiap kali tangan kanannya menyebarkan bubuk putih keatas tanah ular-ular beracun yang berada beberapa kaki disekelilingnya segera melejit-lejit seperti kesurupan setelah terjadi adegan saling menggigit, binatang-binatang itu tewas semua dalam keadaan yang menggenaskan.

Ular-ular beracun yang memenuhi seluruh permukaan tanah, kini sudah terkendalikan oleh irama aneh tadi, masing-masing berebut melarikan diri keempat penjuru.

Suasana demikian kacaunya hingga serangan ular yang sesungguhnya sudah hampir berhasil itu segera terbengkalai dan menderita kegagalan total…

Saat itulah dari atas loteng gedung rumah itu berkumandang suara teguran yang dingin dan mengerikan. “Siapa kau? Bila kulihat dari bubuk hatinya yang kau miliki, tampaknya kau bukan manusia sembarangan!”

Manusia berbaju abu-abu itu segera tertawa tergelak. “Haaahhh…haaahhh…haaahhh..Lo Kay-seng ilmu irama naga pembetot sukmamu telah

mencapai tingkat yang keberapa?”

Orang yang berada diatas loteng gedung itu mendengus dingin.

“Hmm aku dengan saudara tak pernah saling mengenal, kenapa kau hancurkan barisan ularku?”

“Lo Kay seng, aku hanya mohon bantuan agar menyampaikan pesan kepada Soat-san Thian-li bahwa aku dengan membawa perintah dari pemimpin perguruan panah bercinta ingin menghadap dirinya”

Berbicara sampai disitu, manusia berbaju abu-abu itu selangkah demi selangkah berjalan mendekati Gak Lam kun serta Si Tiong-pek berdua.

Sementara itu orang yang berada diatas loteng gedung tersebut tertawa seram dengan suaranya yang melengking setelah mendengar perkataan itu, bukan saja suaranya tak sedap didengar bahkan bagaikan angin dingin yang berhembus datang dari gudang es, membuat siapapun yang mendengarnya menjadi bergidik dan seram.

Gelak tertawa itu berlangsung seperminum teh lamanya, setelah berhenti orang itu baru berkata, “Sungguh tak kusangka kaulah yang telah datang belasan tahun tak pernah muncul dalam dunia persilatan, siau-te mengira kau sudah kembali kebukit To san atau mungkin mengasingkan diri ditengah gunung yang terpencil dan jauh dari keramaian dunia. Hmmm… Sungguh tak kusangka kau begitu tak becus dan memalukan sehingga dengan kedudukan sebagai seorang Tokoh kenamaan dalam dunia persilatan kau rela menggabungkan diri dengan perguruan panah bercinta serta menjadi budaknya… heeeh…heeehh…heeehhh… siau-te sungguh merasa sayang untuk nama baikmu…”

Manusia berkerudung berbaju abu-abu itu mendengus dingin.

“Hmmm..! Lo Kay seng, aku rasa kemunculanmu kembali dalam dunia persilatan dewasa ini adalah untuk mencari diriku, bukankah demikian? Baiklah, hutang-hutang lama kita memang sudah seharusnya diselesaikan secepatnya, sebab dilain waktu mungkin sudah tak ada kesempatan lagi”

Orang yang berada diatas loteng tertawa dingin.

“Bagus sekali, bagus sekali, malam ini aku Lo-Kay-seng akan menanti petunjukmu didepan gudang sebelum bertemu tak akan bubar”

Semenjak semula Gak Lam kun sudah tahu kalau orang yang berada dihadapannya sekarang adalah satu diantara musuh-musuh besar gurunya yang bernama Jit poh-toan hun (tujuh langkah pemutus nyawa) Kwik To, dengan perasaan gelisah buru-buru dia himpun segenap tenaga dalamnya siap melancarkan serangan. Sayang racun ular itu sudah menyerang kedalam tubuhnya, sekalipun dia telah berusaha untuk menghimpun segenap tenaganya, akan tetapi setiap kali dadanya menjadi kaku tenaga yang telah terhimpun itu lenyap kembali tak berbekas.

Tiba-tiba manusia berbaju abu-abu itu merogoh sakunya dan mengeluarkan sebutir obat berwarna merah, lalu sambil diangsurkan kehadapan Gak Lam kun katanya, “Gak siangkong, obat ini adalah obat penolak racun yang kubuat sendiri secara khusus cepat telanlah obat ini untuk menawarkan racun yang berada dalam tubuhmu”

Gak Lam kun hanya mendengus dingin tiga kali ia tidak menjawabpun tidak menyambut obat itu.

Si Tiong-pek yang berada disisinya segera tersenyum katanya, “Locianpwe, aku merasa amat berterima kasih sekali atas bantuan yang telah kau berikan untuk membebaskan kami dari mara bahaya budi kebaikan ini tak akan kulupakan untuk selamanya. Bolehkah aku tahu siapa namamu, sehingga kemudian hari dapat kubalas budi kebaikan ini?”

Setajam sembilu sorot mata manusia berbaju abu-abu itu, setelah menatap sekejap wajah Si Tiong pek katanya dengan nada ewa, “Dua jam lagi, racun ular yang mengendon dalam tubuhmu akan menembusi nadi-nadimu yang membeku dan menyerang kedalam isi perut, lukamu tak mungkin bisa disembuhkan lagi, lebih baik carilah tempat yang cocok sebagai tempat istirahatmu untuk selamanya!”

Si Tiong-pek yang mendengar perkataan itu menjadi amat terkejut, namun paras mukanya masih tetap tenang seakan-akan tak pernah terjadi suatu kejadian apapun.

“Haaaahhh…haaahhh…haaaahhh…” ia tertawa tergelak, “sebagai seorang laki-laki sejati apa yang musti ditakuti sewaktu mati dan apa yang musti digembirakan dikala hidup?

Sejak dulu sampai sekarang tak ada manusia yang bisa melepaskan diri dari kematian, yang berbeda hanya selisih waktunya saja, ada yang mati lebih duluan ada pula yang mati belakangan. Si Tiong-pek hanya menyesal karena tak sempat menyaksikan keramaian yang bakal berlangsung dalam dunia persilatan”

Sehabis berkata, ia lantas memutar badan dan memberi hormat kepada Gak Lam kun, katanya lagi, “Saudara Gak, dewasa ini usia siau-te sudah tak akan lama, lebih baik kita berpisah disini saja!”

Kedengaran sekali kalau ucapan tersebut mengandung nada sedih yang amat sangat.

Selesai mengucapkan kata-kata itu, dengan sempoyongan Si Tiong pek memutar badannya dan berlalu dari situ.

Dengan satu kali lompatan, Gak Lam-kun menghadang dihadapannya, lalu serunya, “Saudara Si, lukamu bukan tak dapat ditolong lagi!”

Si Tiong-pek tertawa sedih.

“Saudaraku, aku cukup memahami bahwa maut sudah tak jauh lagi dari hadapanku”

Manusia berbaju abu-abu yang ada dibelakangnya dengan cepat ikut menambahkan, “Gak siangkong, ia benar-benar sudah tak dapat ditolong lagi, sebab irama ‘Sang goan-ki’ telah membuatnya mengalami jalan api menuju neraka, seluruh jalan darah dalam tubuhnya telah tersumbat dan membeku, apalagi dalam keadaan demikian ia terpagut pula oleh ular ‘Hek giok- coa’ (ular pualam hitam) yang amat jahat itu…”

Si Tiong pek yang ikut mendengar keterangan itu, perasaannya yang sudah putus asa kini kian bertambah putus asa, sambil memutar badan ia berlalu dari sana dengan langkah lebar.

“Saudara Si!” kata Gak Lam-kun lagi, “kalau kau harus pergi dengan begini saja, mana mungkin hatiku bisa tenang?”

Sambil berpaling Si Tiong-pek tertawa.

“Dari sekian banyak orang yang kukenal didunia ini, hanya beberapa orang saja yang benar-benar bisa akrab, walaupun siaute dan saudara Gak bertemu belum lama, tapi aku merasa cocok sekali denganmu. Perduli bagaimanapun jalan pikiran saudara Gak, siaute tetap menaruh perasaan persahabatan yang erat denganmu.

Aaai…cuma sayang kita harus menghadapi perpisahan antara hidup dan mati, hingga persahabatan ini tak bisa berlangsung lebih mendalam andaikata aku beruntung bisa lolos dari kematian, suatu hari kita tentu bisa bertemu lagi. Kenapa saudara Gak musti mengesampingkan masalah penting hanya untuk mengurusi diriku?”

Tiba-tiba ia berpaling sekejap kearah manusia berbaju abu-abu itu, kemudian sambil putar badan pelan-pelan ia berlalu dari situ.

Dari sikapnya ini, Gak Lam kun tahu kalau dia ada persoalan yang bendak dibicarakan secara pribadi terpaksa dia mengikutinya sehingga sejauh tujuh delapan kaki dari tempat semula.

Setelah jauh dari orang banyak. Si Tiong pek baru berkata dengan nada rendah, “Saudara Gak, apabila kau tidak percaya penuh dengan orang itu lebih baik jangan kau

makan obat tersebut, sebab sudah menjadi kejadian umum dalam dunia persilatan bahwa

orang saling tipu menipu, semakin licik orang itu semakin beruntung posisinya didunia ini, siapa tahu kalau ia mengandung maksud jahat untuk mencelakai jiwamu”

Sehabis berkata dia lantas memberi hormat, lalu memutar badan dan berlalu dengan langkah lebar.

Si Tiong-pek memang seorang manusia yang berhati keji seperti binatang buas, dengan wataknya yang licik dan banyak tipu muslihatnya ia merasa tak enak hati seandainya tidak mencelakai orang lain.

Padahal dia tahu kalau Gak Lam-kun sudah terpagut ular beracun yang sangat berbahaya, kendatipun tenaga dalamnya cukup sempurna, akan tetapi racun ular itu sudah menyerang kedalam isi perutnya, andaikata tidak cepat-cepat makan obat pemunah maka akibatnya akan fatal, yaitu tak sampai setengah jam jiwanya bakal melayang.

Si Tiong-pek cukup menyadari bahwa jiwanya sudah hampir berakhir, meski begitu ia tak lupa untuk mencelakai orang lain, maka kalau bisa dia akan berusaha untuk menghalangi Gak Lam-kun untuk menelan obat pemunah yang mujarab tersebut. Dengan termangu-mangu Gak Lam-kun memandang bayangan punggung Si Tiong pek lenyap dibawah sinar matahari disenja itu, akhirnya ia menghela napas panjang dan memutar badan.

Tiba-tiba terdengar suara dari manusia berbaju abu-abu itu berkumandang dari belakang, “Gak siangkong, Si Tiong pek adalah seorang manusia yang licik dan berbahaya lebih baik kau jangan bersahabat dengannya”

Mencorong sinar tajam dari balik mata Gak Lam kun, sambil memutar tubuhnya ia berkata dengan dingin, “Jikalau kau kuatir pembalasanku dikemudian hari, mumpung aku sedang keracunan cepat-cepatlah turun tangan untuk membunuhku”

Manusia berbaju abu-abu itu tertawa dingin, “Hutang uang bayar uang hutang nyawa bayar nyawa, lebih baik makan dulu obatku ini Gak siangkong, bila dikemudian hari kau ingin menuntut balas kepadaku, silahkan datang setiap saat aku pasti akan menaruhkan selembar nyawaku untuk melayanimu”

00000O00000

“Kalau memang demikian mari kita bertarung sekarang juga!” tantang Gak Lam kun. “Sekarang kau sudah tak punya sedikit tenagapun untuk bertarung, aku tak akan menggunakan kelemahan orang untuk melakukan sesuatu tindakan..!”

Keadaan Gak Lam-kun pada saat ini memang sangat lemah dan sama sekali tak berkekuatan, ketika mendengar ucapan tersebut, ia segera mendengus dingin.

“Berpura-pura sok baik hati. Hmm… perbuatan semacam ini hanya dapat membohongi anak kecil! Baiklah, bila kau memang tak mau berkelahi pada saat ini, jangan menyesal kau dikemudian hari”

Selesai berkata ia lantas memutar tubuhnya dan berlalu dari sana.

Giok bin-sin-ang Say Khi-pit dan Kiu wi hou Kongsun po serentak melompat kedepan dan menghadang jalan pergi Gak Lam-kun.

Sambil tertawa dingin jengek si Rase berekor sembilan itu, “Saudara apakah kau pergi dengan begitu saja?”

Gak Lam kun sama sekali tidak menggubris bahkan melirik sekejappun tidak, pelan- pelan ia melanjutkan langkahnya.

Rase berekor sembilan Kongsun po tertawa seram tiba-tiba ia menerjang kedepan, kelima jari tangan kirinya dipentangkan lebar-lebar untuk mencengkeram bahu Gak Lam kun.

Manusia berbaju abu-abu yang berada dibelakangnya mendadak bergerak kedepan secepat sambaran setan gentayangan ia menerkam kearah Rase berekor sembilan itu kemudian mengayunkan telapak tangan kanannya mengirim sebuah pukulan dahsyat.

Sungguh hebat angin pukulan itu, bukan saja cepat dibayar bahkan membawa daya penghancur yang sangat kuat. Untuk seaat si Rase berekor sembilan Kongsun po kehilangan posisinya ia sambut pukulan dari manusia berbaju abu-abu itu sementara cengkeraman tangan kirinya ketubuh Gak Lam kun sama sekali tidak berubah.

“Baaang..!” suatu benturan keras menggelegar diudara.

Termakan oleh tenaga tersebut, si Rase berekor sembilan Kongsun po tergetar mundur sejauh dua langkah, sedangkan manusia berbaju abu-abu itu hanya merasakan getaran pada bahunya.

Hampir pada saat yang bersamaan, Gak Lam kun telah mengeluarkan juga ilmu langkah Ji gi ngo heng jit seng liong heng sin hoat nya untuk menghindari cengkeraman dari Kongsun po itu secara manis, kemudian dengan langkah lebar dia meneruskan perjalanannya.

Betapa terkesiapnya Giok-bin sin-ang Say Khi-pit menyaksikan cara Gak Lam kun untuk menghindarkan diri dari serangan itu, dengan jurus To pit kim kong (membacok malaikat raksasa) ia menghantam pemuda itu.

Dengan suatu gerakan berputaran yang cepat manusia berbaju abu-abu itu memutar badannya, lalu telapak tangannya dikebaskan keluar melancarkan sebuah pukulan untuk membendung serangan dari Say Khi-pit, sementara tangan kirinya dengan jurus Hui-hong hud liu (pusaran angin melambaikan pohon Liu) melepaskan serangan balasan.

Kakek sakti berwajah pualam Say Khi-pit merasa amat gusar sekali karena manusia berbaju abu-abu itu ikut melibatkan diri dalam pertarungan itu segera bentaknya, “Bagus sekali, siapa kau? Berani benar tak tahu diri dihadapanku..?”

Sambil berkata dengan cepat ia menyerbu kedepan dan melancarkan sebuah sodokan kejalan darah manusia berbaju abu-abu itu.

Dengan cekatan manusia berbaju abu-abu itu berkelit kesamping, kemudian secara beruntun melancarkan tiga buah bacokan berantai.

Sungguh dahsyat dan buas pertarungan yang berlangsung antara kedua orang itu, perubahan jurus pukulan maupun tendangan yang tertuju dalam serangan ganas, buas dan sakti, tentu saja arah sasaran yang tertuju dalam serangan itu adalah tempat-tempat yang mematikan ditubuh manusia, tampaknya mati hidup mereka berdua telah ditetapkan pertarungan maut tersebut.

Sementara Gak Lam kun telah lenyap dibalik tikungan rumah sebelah depan sana. “Weess..! Weess..!” secara beruntun manusia berbaju abu-abu itu melancarkan dua

buah pukulan berantai yang memaksa Giok bin sin ang harus melompat mundur sejauh

tiga langkah.

Begitu musuhnya berhasil dipaksa mundur, sambil tertawa terbahak-bahak kata manusia berbaju abu-abu itu, “Haaaahhh…haaahhhh…haaahhh sudah lama

kudengar ilmu silat yang dimiliki Say Khi pit sangat lihay melebihi siapapun, setelah perjumpaan hari ini kubuktikan sendiri bahwa nama besarmu memang bukan nama kosong belaka, haaahhh…haaahh… haaahhh… kini orangnya sudah pergi, dan lagi kitapun tak punya perselisihan atau sakit hati apa-apa, aku rasa pertarungan juga tak perlu dilanjutkan lagi”

Sehabis berkata dia lantas melompat keudara, bagaikan burung elang yang terbang keangkasa tahu-tahu ia sudah berada diatas atap rumah dan berlalu dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.

Meskipun baru bertarung beberapa gebrakan saja, namun Giok-bin-sin ang Say Khi-pit dapat merasakan betapa tangguhnya ilmu silat lawan, bahkan tidak berada dibawah taraf kepandaiannya, dia menjadi heran dan tidak habis mengerti, siapa gerangan orang itu?

“Heran, siapakah orang tadi?” demikian ia berpikir, “padahal tidak terlalu banyak jago persilatan yang memiliki ilmu silat setangguh ini kenapa aku tidak kenali orang itu?”

0000O0000

Dikala Say Khi-pit terlibat pertarungan sengit melawan manusia berbaju abu-abu itu, menggunakan kesempatan yang sangat baik Gak Lam-kun telah berjalan keluar dari perkampungan tersebut dengan langkah cepat, selewatnya beberapa buah halaman, akhirnya ia menyelinap kedalam halaman sebelah barat.

Setelah menderita luka keracunan akibat pagutan ular berbisa, gerak gerik Gak Lam kun sudah tidak segesit dan secepat tadi, dia cukup menyadari mara bahaya yang sedang mengancamnya, apabila secara langsung dia keluar dari gedung itu. Kongsun Po atau musuh-musuh tangguh lainnya berhasil menyusulnya, tak bisa disangsikan lagi, jiwanya pasti akan terancam maut.

Gak Lam-kun berjalan terus dengan sekuat tenaga, lambat laun dadanya terasa sesak dan sukar bernapas, langkah kakinya makin lama makin berat dan susah, kepalanya pening dan matanya berkunang-kunang, terutama kaki. Anak muda itu makin sadar bahwa racun ular dalam tubuhnya segera akan mulai bekerja.

Sekalipun begitu, kesadarannya masih belum hilang, dalam hati kecilnya masih terlintas tekadnya yang kuat, sambil menahan penderitaan dan siksaan yang hebat ia berjalan terus menuju kearah barat.

Perkampungan itu betul-betul luasnya bukan kepalang, halamannya saja mencapai angka seratus, ketika Gak Lam-kun tiba digedung paling barat, tampaklah dihadapannya terbentang tanah perbukitan yang tandus dan sepi.

Waktu itu, racun ular yang mulai bereaksi dalam tubuhnya makin lama semakin parah, ia merasa dadanya makin sesak, perutnya mual sekali seperti mau tumpah, sepasang kakinya seakan-akan sudah tidak menuruti perintah lagi.

Pemuda itu menghela napas panjang, dia tahu andaikata racun ular itu tidak mendapatkan pengobatan tepat pada waktunya, besar kemungkinan ia akan tewas.

Terbayang akan kesemuanya itu semangat jantannya hampir buyar semua, dengan sempoyongan ia berjalan kebawah sebuah pohon siong dan duduk bersila disana. Tiba-tiba Gak Lam kun merasakan segulung angin sejuk berhembus lewat, sungguh terperanjat perasaannya telapak tangannya cepat disilangkan didepan dada siap melancarkan serangan, tapi sebelum ia keburu melakukan suatu tindakan, tahu-tahu urat nadi pada pergelangan tangan kanannya sudah dicengkeram orang.

Gak Lam kun segera menengadahkan kepalanya, ternyata orang itu adalah Jit-poh- toan-hun (tujuh langkah pemutus nyawa) Kwik To atau manusia berbaju abu-abu tadi.

Betapa geramnya pemuda itu dengan penuh emosi hardiknya, “Kwik To mau apa kau..?”

Belum habis kata-katanya, manusia berbaju abu-abu itu sudah mengayunkan telapak tangan kirinya sebiji obat yang dijepit dengan jari tengah dan jari telunjuknya itu tahu- tahu sudah dimasukan dalam mulut Gak Lam kun.

Begitu terkena air liur, obat itu segera melumer dan berikut air liurnya mengalir kedalam perut.

Selesai dengan perbuatannya itu, manusia berbaju abu-abu itu baru tertawa tergelak. “Haaahhh…haaahhh…haaahhh… Gak siangkong, memangnya kau anggap julukan Jit-

poh-toan hun hanya panggilan kosong belaka bagiku? Haaahh…haaahhh… haaahhh…”

Betapa tercekatnya perasaan Gak Lam kun sehabis mendengar perkataan itu, ia pentangkan mulutnya lebar-lebar dan berusaha menumpahkan obat tersebut, tapi walaupun sudah muntah tiga kali dan perutnya hampir terkuras, cairan obat itu belum berhasil juga dikorek keluar.

Pada saat itulah, mendadak lambungnya terasa sakit sekali seperti dililit-lilit, sedemikian dahsyatnya rasa sakit yang menyerang perutnya membuat pemuda itu merasa lebih baik mati daripada tersiksa.

“Uuaak..?” Gak Lam-kun muntah darah kental, kemudian tubuhnya tersungkur dan tak berkutik lagi.

©ooooo

Setelah meninggalkan Gak Lam-kun, dengan pikiran yang bingung dan kosong Si Tiong pek berjalan keluar dari gedung tersebut, berhadapan dengan maut yang setiap saat akan merenggut nyawanya, ia tak tahu harus kemanakah dia pergi?

Tiba-tiba telinganya menangkap suara gulungan ombak yang membentur batu karang, ketika ia menengadah kedepan, tampaknya tanpa disadari ia telah tiba diatas sebuah tebing curam yang berada disebelah timur pulau tersebut.

Dibawah tebing itu merupakan sebuah jurang beratus-ratus kaki tingginya dengan batu karang yang mencuat kesana sini, jika ia berdiri kurang hati-hati hingga terpeleset kebawah, tidak bisa disangsikan lagi, tubuhnya pasti akan remuk berkeping-keping.

Dengan pandangan sayu ditatapnya ombak yang saling berkejar-kejaran ditengah samudra, dibawah sorot cahaya sang surya, burung manyar dan burung laut terbang kian kemari mencari mangsa, suatu perpaduan pemandangan yang indah sekali. Tak kusangka lagi Si Tiong pek menghela napas sedih.

“Aaaai…mungkinkah aku Si Tiong pek harus mati dalam keadaan seperti ini?” keluhnya.

Setelah berpikir sebentar, tiba-tiba timbul kembali niatnya untuk mencari hidup, ia segera duduk bersila diatas tanah dan pelan-pelan mengerahkan hawa murninya.

Tapi begitu ia mencoba untuk mengatur napas, dadanya segera menjadi sesak dan hawa murninya bagaikan tersumbat, nyaris ia tak dapat bernapas, hatinya menjadi tercekat dan harapannya untuk hidup segera terputus sama sekali, perasaan bergidik muncul dari dasar hatinya dan mencekam seluruh perasaannya.

“Entah berapa lama lagi aku bisa hidup?” demikian pikirnya, “bila racun ular dan luka dalam yang kuderita kambuh bersamaan waktunya, niscaya aku bakal mati dalam keadaan yang mengerikan, daripada tersiksa pada akhirnya kenapa tidak kubereskan dulu nyawaku mumpung racun ular dan luka dalamku belum mulai kambuh?”

Berpikir sampai disini, pelan-pelan ia bangkit berdiri dan berjalan menuju ketepi tebing.

Sedetik menjelang perpisahannya antara mati dan hidup, pemuda itu merasakan hatinya pedih dan hampa, tanpa terasa airmata jatuh berlinang membasahi pipinya.

“Mendadak… Si Tiong-pek menangkap suara nyanyian yang amat memedihkan hati diantara gulungan ombak yang menerjang batuan karang, lamat-lamat nyanyian itu kedengaran sebagai berikut,

“…bertanya pada masyarakat, apakah cinta itu? Haruskah mati atau bidup untuk mendapatkannya..? Oh, jagat yang luas, mega yang tebal…

Langit selatan bumi utara, burung walet saling beterbangan…”

Suara nyanyian itu amat memedihkan hati, membuat orang amat berduka.

Untuk sesaat lamanya Si Tiong pek menjadi tertegun, menyusul kemudian pikirnya, “Aneh! Kenapa suara nyanyian itu bisa berasal dari dasar telaga..?”

Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benaknya. Si Tiong-pek segera menghela napas panjang, gumamnya, “Kemungkinan besar suara nyanyian itu berasal dari dalam sebuah gua dekat tebing karang sana, tapi siapa pula perempuan itu? Kenapa dia menyanyikan lagu yang begini sedih dan memedihkan hati?”

Nyanyian perempuan itu sekali demi sekali diulang terus menerus, tapi yang dinyanyikan melulu hanya bait lagu itu saja, bahkan suaranya makin lama semakin memedihkan hati…

Yaa, demikian mengharukannya suara nyanyian tersebut, membuat siapapun yang mendengarnya akan ikut melelehkan airmatanya karena sedih. Kembali Si Tiong pek berpikir, “Kini aku sudah menjelang menemui ajal, apa salahnya kalau kugunakan kesempatan baik ini untuk menambah pengalamanku yang terahir kalinya.”

Setelah berpikir sampai disitu, dia lantas memperhatikan keadaan tebing disekeliling tempat itu kemudian pelan-pelan turun kebawah.

Tak lama kemudian, ia sudah mengitari tebing curam itu dan menuruninya, sekarang yang terbentang dihadapannya cuma batu-batu karang ditepi pantai. Ombak yang menggulung-gulung diatas permukaan laut menggempur diatas batu karang dan memercikkan butiran-butiran air keseluruh penjuru…

Karena perasaan ingin tahunya, Si Tiong pek tak ambil perduli akan sulitnya jalan yang dihadapinya, pelan-pelan dengan berpijak pada batu-batu karang yang licin ia sampai juga didasar jurang sementara itu suara nyanyian yang memedihkan hati itu sudah tak kedengaran lagi.

Menggunakan sepasang matanya yang tajam Si Tiong pek memperhatikan kembali keadaan disekelilingnya, mendadak ia temukan sebuah mulut gua yang lebarnya tiga depa dan tingginya enam depa berada kurang lebih dua kaki dari atas permukaan air segera pikirnya kembali, “Rasanya suara nyanyian itu kecuali berasal dari dalam gua tak mungkin datang dari arah lain!”

Berpikir demikian, dengan langkah yang lebih berhati-hati lagi Si Tiong pek menelusuri tebing dan mendekati mulut gua itu.

Suasana dalam gua itu gelap gulita hingga susah untuk melihat kelima jari tangan sendiri, pelan-pelan ia berjalan masuk kedalam, kurang lebih sepuluh kaki kemudian ia sudah harus menikung sebanyak tiga kali, sementara lorong tersebut masih terbentang jauh kedalam sana.

Semakin kedalam suasananya semakin gelap gulita, entah berapa jauh lagi baru akan sampai didasar gua tersebut?

Akhirnya ia berhenti dan berusaha menenangkan kembali hatinya, kemudian ia berpikir, “Biasanya gua-gua karang dipulau yang terpencil banyak digunakan sebagai tempat bersembunyinya ular-ular beracun atau binatang-binatang buas, kini ilmu silatku sudah punah, kalau sampai diserang…waah, celakalah aku…”

Teringat sampat disitu, hatinya menjadi ragu-ragu, tapi bila teringat kembali bahwasanya ia sudah bakal mati pemuda itu segera tertawa pedih dan melanjutkan kembali perjalanannya.

Ternyata gua itu panjang sekali, diam-diam Si Tiong-pek telah mengukur bahwa pada saat itu ia sudah berada dalam kedalaman empat puluh kaki lebih, tanahnya makin lama sekali makin becek, angin dingin yang menggidikkan hati berhembus datang dari depan sana, entah angin tersebut asal mulanya darimana?

Mendadak terdengar suara teguran seorang perempuan yang bernada girang dan setengah gemetar berkumandang dari balik gua itu, “Kekasihku kau disitu?”

Si Tiong pek tertegun. “Siapakah perempuan itu? Siapakah kekasihnya?” demikian ia berpikir.

Ketika perempuan itu tidak mendengar suara jawaban, tiba-tiba ia menghela napas sedih seraya bergumam, “Oooh… Yo-long, kau sungguh amat keji! Tahukah kau, mengapa suhu berdiam seorang diri selama delapan belas tahun ditempai semacam ini? Hakekatnya aku sedang menantikan kedatanganmu untuk kembali kedalam pelukan suhu”

Mendengar perkataan itu, Si Tiong pek merasa hatinya terperanjat, segera pikirnya, “Yo long..? Yo long..? Bukankah dia adalah si bakat setan yang tersohor dalam dunia persilatan sebagai manusia paling aneh dikolong langit Tok liong Cuncu Yo-long? Wah, kalau benar-benar demikian, perempuan ini pastilah gurunya Tok liong Cuncu yang penuh diselimuti teka teki itu…”

Sementara itu, dari dalam gua karang itu kembali terdengar suara yang memilukan hati dari perempuan itu.

“Yo-long suhu tidak menaruh perasaan dendam apapun juga kepadamu, aku hanya berharap kau suka kembali lagi dalam pelukanku dan hidup bersama-sama disini… Yo- long, cepatlah datang kemari! Tahukah kau suhu sudah delapan belas tahun menantikan kedatanganmu, merindukan kasih sayangmu”

Si Tiong pek segera mengerutkan dahinya, ia berpikir lagi, “Aneh benar wah… jangan- jangan hubungan

Tok-liong Cuncu dengan perempuan ini bukan cuma hubungan antara guru dan murid saja, rasa-rasanya dibalik kesemuanya itu masih terselip hubungan cinta kasih..?”

Yaa benar, tokoh aneh nomor satu dalam dunia persilatan, Tok-liong Cuncu Yo long memang mempunyai kisah percintaan yang lain daripada yang lain dan penuh dengan kisah duka nestapa yang mengharukan.

Suara yang menggenaskan dari perempuan itu lagi-lagi kedengaran, “Yo long, apakah pikiran dan perasaanmu belum berubah? Apakah hatimu masih sebeku es, wajahmu sekeras baja..?”

Sewaktu mengucapkan kata-kata tersebut, tampaknya perempuan itu sedang terpengaruh emosi suaranya sampai kedengaran begitu parau dan gemetar.

Mendadak Si Tiong pek merasakan separuh badan bagian kanannya menjadi kesemutan, linu dan sakitnya bukan kepalang, betapa terkesiapnya pemuda itu, dia sadar luka dalam yang telah menjalar sampai kedalam urat syarafnya itu sudah mulai kambuh, berarti jiwanya sebentar lagi akan berakhir, saking pedihnya tanpa terasa ia menghela napas lirih…

Meskipun helaan napas itu lirih sekali, tapi perempuan yang berada dalam gua itu dapat mengenali sebagai bukan suara Yo long.

Tiba-tiba dengan suaranya yang keras bagaikan geledek ia membentak nyaring, “Siapa kau?” Belum sempat Si Tiong pek menjawab, tiba-tiba ia merasakan munculnya segulung angin pukulan lembut berhembus keluar dari balik gua, baru saja ia berusaha untuk menghindarkan diri kesamping tahu-tahu sekujur badannya sudah terkurung oleh tenaga pukulan itu.

Ia merasa hawa murni yang membelenggu tubuhnya itu mendadak dihisap kembali, seperti besi yang terkena pengaruh besi semberani, dengan sempoyongan ia terhisap maju kedalam sana.

Sebagaimana diketahui, waktu itu luka dalam yang diderita Si Tiong-pek sudah mulai bekerja, rasa sakit yang dideritanya sekarang sukar ditahan lagi, setelah tubuhnya terhisap oleh tenaga murni yang maha kuat itu, ia merasakan badannya lebih payah lagi, bukan saja semua persendian tulangnya menjadi kesemutan, lemas dan bunyar, badannya jadi lemah tak bertenaga, ia cuma bisa tergeletak ditanah tak mampu berkutik barang sedikitpun juga.

Tiba-tiba ia mendengar suara teguran yang menyeramkan berkumandang datang, “Hey bocah cilik, siapa kau? Kenapa datang kemari?”

Si Tiong-pek adalah seorang pemuda yang licik dan panjang akalnya, ia tahu jika kedudukan dan asal usulnya yang sebenarnya sampai diutarakan keluar, kemungkinan besar perempuan aneh itu akan membinasakannya, atau paling tidak akan membiarkan racun keji dalam tubuhnya bekerja hingga merenggut selembar jiwanya.

Sebaliknya jika ia berbohong, dengan kemampuannya sebagai gurunya Tok liong Cuncu siapa tahu kalau racun ular dan luka dalam yang dideritanya bisa disembuhkan malah?

Berpikir sampai disitu Si Tiong pek segera menghela napas sambil berkata, “Oooh… Sucou, oh…Sucou! Ampunilah kesalahan tecu ini…”

Sambil berkata ia lantas berpaling kearah perempuan tersebut.

Terlihatlah seorang perempuan yang buruk sekali rupanya dan rambut yang panjang kulit yang hitam berkilat seperti setan buas duduk disampingnya.

Tampang wajahnya memang jelek dan menyeramkan akan tetapi bila kau perhatikan potongan badannya, maka tampak langsing, montok dan padat berisi payudara perempuan itu, apalagi kulit tangannya dibalik pakaian tampak putih mulus, bersih dan halus sekali.

Si Tiong-pek yang menyaksikan kejadian itu menjadi tertegun ia merasa perempuan itu aneh sekali.

Mendadak sinar matanya terhenyak sebentar dilengan kanan perempuan aneh itu, ia temukan sebuah gelang baja membelenggu pergelangannya itu sementara sebuah rantai yang panjang sangat panjang menghubungkan gelang tersebut dengan dinding batu kemala putih yang berada empat kaki jauhnya dari situ.

Kiranya suasana dalam ruang gua itu tidak segelap lorong gua didepan sana, sebab empat buah dindingnya terbuat dari batu marmer yang putih berkilat, lagipula diatap dinding gua terdapat pula sebiji butir mutiara sebesar buah kelengkeng yang memancarkan sinar berkilauan.

Dibawah pancaran sinar bening yang dingin suasana dalam ruangan batu itu dapat terlihat jelas, ternyata dibagian bawah sekeliling ruangan itu terdapat ruang kecil dengan airnya berwarna hijau, begitu beningnya air tersebut sehingga ikan-ikan yang berenang dapat terlihat jelas.

Jelas dasar kolam kecil itu berhubungan dengan dasar lautan, atau dengan perkataan lain airnya adalah air laut.

“Apakan kau adalah muridnya Yo-long?” terdengar perempuan aneh berambut panjang itu membentak keras, “mengapa ia tidak datang sendiri?”

Sekali lagi Si Tiong-pek tertegun sesudah mendengar perkataan itu, pikirnya kemudian, “Konon Tok-liong Cuncu Yo Lak-long masih hidup didunia ini, bahkan telah muncul kembali dalam dunia persilatan, jika kukatakan padanya bahwa ia sudah mati lantas suatu ketika ia bertemu lagi dengan Tok-liong Cuncu, bagaimana jadinya nanti..?”

Dalam pada itu, ketika perempuan aneh berambut panjang itu melihat lawannya hanya membungkam diri, telapak tangan kirinya segera berkelebat kedepan dan mencengkeram jalan darah Ki-thiam hiat disikut kanan Si Tiong pek, kemudian bentaknya, “Hayo cepat katakan! Hayo cepat katakan! Kenapa Yo-long tidak datang sendiri?”

Ketika persendian tulang sikutnya kena dicengkeram, Si Tiong-pek segera merasakan hawa darah dalam isi perutnya bergolak keras, sedemikian hebatnya pergolakan tersebut sehingga hawa sesat itu menyumbat tenggorokannya, bukan kepalang sakitnya dada dan isi perutnya ketika itu, tanpa sadar ia merintih.

Perempuan aneh berambut panjang itu berseru tertahan, lalu teriaknya keheranan, “Hey, jika kau adalah muridnya, mengapa demikian tak becusnya kau?”

Sambil berkata dia lantas mengendorkan cengkeramannya.

Si Tiong-pek menghembuskan napas panjang, sahutnya dengan napas tersengkal, “Aku sudah terkena sergapan orang jahat, luka yang kuderita sekarang parah sekali, sebentar lagi jiwaku bakal melayang…”

Dengan tatapan sorot mata yang tajam, perempuan aneh berambut panjang itu menatap wajah Si Tiong-pek tanpa berkedip, kemudian dirabanya pula sekujur badan pemuda itu sekian lama, akhirnya dengan suara dingin ia berkata, “Betul, luka dalam yang kau derita memang parah sekali, tapi aku sanggup menyembuhkan luka yang kau derita itu”

Betapa girangnya Si Tiong pek setelah mendengar perkataan itu, tapi rasa gembiranya hanya dirahasiakan didalam hati, sedang diluar ia pura-pura menghela napas.

************http://ecersildejavu.wordpress.com/***************

“Aaaai…Sucou, luka yang kuderita bukan luka sembarangan luka, mungkin sudah tiada harapan lagi bagiku untuk melanjutkan hidupku didunia ini…” Dengan suara dingin kembali perempuan aneh berambut panjang itu berkata, “Memang tidak banyak jagoan tangguh dalam dunia persilatan yang bisa menyembuhkan luka yang kau derita itu, lukamu disebabkan karena serangan dahsyat tenaga dalam musuh yang dilancarkan dikala kau sedang berusaha menghimpun tenaga dalammu, sebab itu hawa murni yang terhimpun menjadi beku didalam urat nadi, itulah yang dikatakan orang sebagai Jalan api menuju neraka. Kalau keadaan itu saja yang kau alami masih mendingan tampaknya setelah menderita jalan api menuju neraka kau dilukai lagi olah sejenis makhluk yang amat beracun, mungkin orang lain tak akan bisa menyembuhkan luka parah ini tapi aku masih mampu untuk menolong.

Ketika Si Tiong pek mendengar bahwa apa yang dilukiskan tentang keadaan lukanya memang persis seperti apa yang dialaminya, diam-diam diapun lantas berpikir, “Kalau dilihat dari apa yang dikatakan, rupanya selembar jiwaku memang masih dapat diselamatkan, aku harus berusaha agar ia mau menyembuhkan luka parahku ini”

Setelah berpikir sampai disitu harapannya untuk hidup muncul kembali, katanya kemudian, “Sucou, aku dilukai oleh irama Sang goan ki yang lihay itu, lalu dipagut pula oleh ular beracun.”

Mendengar kata-kata itu, perempuan aneh berambut panjang itu segera mendongakkan kepalanya lalu bergumam, “Sang-goan-ki! Sang-goan-ki! Ternyata kau dilukai oleh Soat-san-thian-li perempuan siluman itu…”

Ketika menggumamkan kata-kata tersebut wajahnya berkejang keras sehingga kulit mukanya pada berkerut semua, lama sekali ia duduk termangu-mangu dengan mulut membungkam, rupanya sedang ia kenang kembali kisah pengalamannya dimasa lampau yang penuh dengan penderitaan dan kedukaan itu.

Tiba-tiba perempuan aneh berambut panjang itu membentak keras, “Hey, kau bilang Yo long masih berbaikan dengan siluman perempuan itu..?”

Ucapan tersebut diutarakan dengan nada emosi sampai-sampai rambutnya yang panjang ikut bergetar keras.

Tiba-tiba telapak tangan kirinya ditekankan keatas dada Si Tiong pek, persis diatas jalan darah Hian-ki-hiatnya, asal tenaga dalamnya dipancarkan keluar, tak bisa diragukan lagi Si Tiong pek pasti akan mati dalam keadaan yang mengerikan.

Si Tiong pek agak tertegun sewaktu mendengar ucapan yang tidak dipahami ujung pangkalnya itu, tetapi sebagai seorang pemuda yang cerdas, ia sadar bahwa keadaannya saat ini berbahaya sekali, satu kali dia salah berbicara berarti jiwanya akan melayang meninggalkan raga.

Maka sesudah termenung beberapa saat lamanya, diapun bertanya, “Sucou, perempuan yang manakah yang kau maksudkan sebagai perempuan siluman itu?”

Aneh! Ketika mendengar pertanyaan itu, pergolakan emosi dalam hati perempuan aneh berambut panjang itu segera menjadi tenang kembali, malah ia bergumam, “Yo Lak-long wahai Yo Lak-long, mungkin kau sudah melupakan perempuan itu, maka tidak kau ceritakan keadaan tersebut kepada muridmu…” Setelah berhenti sebentar, ia menghela napas panjang lalu katanya kembali, “Aaaaai… beritahu kepadaku, apakah Yo long pernah membicarakan tentang diriku kepadamu?”

Si Tiong-pek termenung sejenak, lalu menjawab, “Sucou, apabila suhu tak pernah membicarakan tentang dirimu kepadaku, mana mungkin aku bisa sampai disini?”

Betapa girangnya perempuan aneh berambut panjang itu, tiba-tiba ia tertawa terkekeh- kekeh…

Dibalik gelak tertawanya yang amat nyaring itu terselip begitu banyak perasaan, baik itu perasaan sedih, duka..

Kesepian, seorang diri… Gembira, bangga…

Selama ini Si Tiong-pek memperhatikan terus perubahan mimik wajahnya, dikala gelak tertawanya berakhir, terlihatlah butiran air mata jatuh berlinang membasahi pipinya…

Gelak tertawa telah berakhir, kini yang kedengaran hanya isak tangis yang mengharukan.

Didalam waktu yang relatif singkat ini, Si Tiong pek berhasil meraba garis besar keadaan yang sedang dihadapinya ia tahu perempuan aneh itu bukan saja menjadi gurunya Yo long diapun menjadi kekasihnya, kemudian mungkin disebabkan suatu kejadian tertentu Yo-long tidak mencintainya lagi, maka diapun mengurung diri selama delapan belas tahun disana.

Aaaai..!Perempuan yang menggenaskan ternyata cintanya kepada Yo long telah mencapai taraf sedemikian hebatnya.

Isak tangis perempuan aneh berambut panjang itu makin lama semakin menggenaskan kian lama kian mengharukan hati orang.

Mula pertama Si Tiong-pek masih tidak merasakan apa-apa terhadap isak tangis tersebut tapi akhirnya menjadi kecut dan tanpa terasa airmatanya jatuh bercucuran membasahi pipinya.

Si Tiong-pek sendiri tidak bisa mengatakan mengapa dia sampai ikut menangis ia cuma merasa bahwa dibalik isak tangis perempuan aneh berambut panjang itu terkandung suatu daya pengaruh aneh yang membuat orang ikut terpengaruh.

Mendadak perempuan aneh berambut panjang itu berhenti menangis, bentaknya lagi, “Apakah semua perkataanmu tak ada sepotong katapun yang palsu?”

Setelah dibentak olehnya, Si Tiong-pek baru merasa bagaikan sadar dari impian, ia menjadi tertegun.

“Heran, kenapa aku ikut menangis..?” pikirnya. Paras muka perempuan aneh berambut panjang itu kembali berubah, dicengkeramnya tubuh Si Tiong-pek dengan tangan kirinya, lalu bentaknya kembali, “Hay,sudah kau dengar perkataanku?”

“Perkataan apa?” tanya pemuda itu kebingungan.

“Benarkah Yo-long masih rindu kepadaku?” bentak perempuan aneh berambut panjang itu dengan mata mendelik.

Ingin tertawa rasanya Si Tiong-pek setelah mendengar perkataan itu, pikirnya, “Perempuan ini terlalu mencintai Yo Lak long, sehingga cintanya itu hakekatnya lebih mendekati kalap”

Dalam benak anak muda itu sekarang sudah tersusun suatu rencana matang, maka dengan wajah yang bersungguh-sungguh dia menjawab, “Suhu benar-benar amat rindu kepadamu, jika ada sepotong kataku yang bohong, biar aku mati secara menggenaskan!”

“Kalau memang begitu, mengapa ia tidak datang menjengukku?” kembali perempuan aneh berambut panjang itu membentak.

Si Tiong-pek menghela napas panjang.

“Aaaai… suhu merasa malu dan menyesal, ia merasa tak punya muka untuk menjumpai kau orang tua lagi!”

Begitu mendengar ucapan tersebut, perempuan aneh berambut panjang itu tertawa terkekeh-kekeh.

“Heeehhh…heeehhh…heeehhh… bocah cilik, pandai amat kau berbicara yang bukan- bukan”

Dari gelak tertawa tersebut, Si Tiong-pek dapat merasakan bahwa ia sedang merasa gembira,

“Cucu murid mana berani berbohong kepada sucou?”

“Lantas sekarang dia berada dimana? Aku segera akan pergi mencarinya..!”

“Suhu berada pula diatas pulau ini, cuma aku lihat Sucou tidak dapat bergerak dengan leluasa…”

“Kalau begitu cepat bebaskan aku dari rantai kunci kecintaan ini?” seru perempuan ini ketus.

“Apa? Rantai kecintaan?” pikir Si Tiong pek dengan wajah tertegun dan mulut melongo. Tiba-tiba paras muka perempuan aneh berambut panjang itu berubah hebat,

bentaknya, “Bagaimana? Apakah Yo Lak-long tidak berpesan kepadamu agar membukakan

rantai kecintaan?”

“Tidak!” sahut pemuda itu tanpa sadar. Kontan saja perasaan perempuan aneh berambut panjang itu bergolak keras, lalu sambil tertawa seram teriaknya, “Bagus…bagus sekali! Kau harus mampus”

Si Tiong pek ikut tertawa dingin, katanya pula lambat-lambat, “Jika kau ingin membinasakan diriku, cepatlah turun tangan dengan segera, aku tidak akan menyesal barang sedikitpun juga”

Mendadak sikap perempuan aneh berambut panjang itu berubah seratus delapan puluh derajat dan hangat katanya, “Anak kunci untuk membuka rantai kecintaan berada dalam ruang rahasia disudut timur sana, kesanalah dan ambil anak kunci tersebut..!”

Si Tiong pek menurut, dia menuju keruang timur betul juga diatas dinding yang berwarna putih terdapat sebuah tombol rahasia, ketika tombol tersebut ditekan dengan ujung jarinya terdengarlah suara gemerincingan yang nyaring berkumandang memecahkan kesunyian.

Diatas dinding ruang berwarna putih yang tertutup rapat itu, tiba-tiba muncul sebuah pintu rahasia ternyata dibalik pintu ada sebuah ruangan rahasia yang lain.

Dalam ruangan tersebut ternyata berisikan kitab-kitab kuno yang banyak sekali, sepintas lalu mirip dengan kamar baca, disebelah kiri ruangan terdapat sebuah meja tulis, diatas meja tergeletak beberapa jilid kitab dan diantara keliling kitab itu terletak sebuah anak kunci yang berwarna emas.

Dengan langkah cepat Si Tiong pek menghampiri meja tulis itu dan mengambil anak kunci emas itu, tanpa sadar matanya melirik sekejap tumpukan kitab disampingnya.

Mendadak sorot matanya tertarik oleh empat huruf besar yang tercantum dihalaman terdepan dari sejilid kitab tipis, tulisan itu berbunyi demikian, “HAY-CIONG-KUN-BOH”

“Hay-ciong-kun-boh!” Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benaknya, “Bukankah kitab ini ada hubungannya dengan manusia aneh yang pernah menggetarkan dunia persilatan pada tiga ratus tahun berselang..?” demikian pikirnya.

Sementara dia masih melamun! perempuan aneh beramput panjang yang berada diluar ruangan telah membentak, “Hey, sudahkah kau dapatkan anak kunci emas untuk membuka rantai kecintaan?”

Si Tiong-pek tidak berpikir panjang lagi, sambil menyelam minum air, ia sambar juga kitab pusaka “Hay ciong kun boh” tersebut dan segera dimasukkan kedalam sakunya.

“Sudah, anak kunci itu sudah kudapatkan!” sahutnya.

Dengan sikap yang santai selangkah demi selangkah ia berjalan balik kesamping perempuan itu.

“Aduuuh..!” tiba-tiba Si Tiong pek menjerit kesakitan, lalu sambil mendekap perutnya ia terhuyung-huyung, mukanya berubah menjadi hitam pekat, ternyata racun ular yang berada dalam tubuhnya telah mulai bekerja.

Dalam keadaan setengah sadar setengah tidak lamat-lamat Si Tiong-pek merasa perempuan aneh berambut panjang itu menekankan telapak tangannya diatas tubuhnya, segulung aliran hawa murni yang panas segera merembes masuk lewat jalan darah Mia- bun hiat dan tersebar kesegala penjuru tubuh…

Kemudian ia jatuh tak sadarkan diri.

Ketika Si Tiong-pek sadar kembali dari pingsannya, ia merasa seluruh tubuhnya yang semula sakit dan tersiksa kini sudah tak terasa lagi, cuma badannya menjadi lemas tak bertenaga, seakan-akan baru saja sembuh dari penyakit berat.

Si Tiong pek segera melompat bangun dari atas tanah…

“Criing..! Criing..!” tiba-tiba ia mendengar bunyi gemerincingan memecahkan kesunyian dilanjutkan pergelangan tangan kanannya terasa berat sekali sehingga gerak geriknya tidak leluasa.

Ketika ia perhatikan lengan kanannya dengan penuh keheranan, kontan saja hatinya menjadi terperanjat. Ternyata sebuah gelang baja yang sangat kuat telah membelenggu lengan kanannya itu.

“Tak usah keheranan!” tiba-tiba terdengar suara lembut dari perempuan aneh berambut panjang itu menggema dari sisi telinganya, “gelang baja itu terbuat dari inti lima jenis logam yang dicampur menjadi satu, bukan saja tak mempan dibacok dengan senjata, gelang yang membelenggu pergelangan tanganmu itu mempunyai sifat per yang sangat kuat, bagaimanapun kau berusaha untuk melepaskan diri, jangan harap gelang itu bisa kau copot dari situ lagipula semakin keras kau meronta semakin kencang pula gelang itu membelenggu tanganmu. Nah, sekarang aku hendak pergi mencari Yo Lak long bila ia tidak berhasil kutemukan maka kau boleh hidup sepanjang masa dalam gua batu itu, air dalam kolam adalah air tawar, bila lapar boleh kau tangkap sendiri ikan-ikan disana, mau minum juga ada air tawar yang tersedia, pokoknya kau terjamin tak sampai mati kelaparan.

Beristirahat saja disini dengan tenang, asal suhumu berhasil kutemukan dengan sendirinya dia akan datang kemari untuk membebaskan dirimu. Waktu itu akupun bersedia pula mewariskan ilmu silat tinggi kepadamu agar kau bisa menjagoi dalam dunia persilatan”

Perkataan dari perempuan aneh berambut panjang yang kedengarannya begitu enteng dan santai justru ibaratnya guntur yang membelah bumi disiang hari bolong bagi pendengaran Si Tiong pek siksaan dan penderitaan yang tiada akhirnya ini bukan sembarangan orang bisa mengalaminya.

Tak terlukiskan rasa marah, benci dan dendam Si Tiong pek menerima kenyataan tersebut, ia segera tertawa dingin.

“Heeeehh…heeehhh…heeehhh…siluman iblis bertampang jelek, kau tak usah berbangga dulu, terus terang kuberitahukan kepadamu, kekasihmu Tok-liong Cun-cu Yo Long telah tewas ditebing Yan-po-gan dibukit Hoa-san pada delapan belas tahun berselang, selama hidup jangan harap kau bisa berjumpa lagi dengannya”

Sekarang gilirannya perempuan aneh berambut panjang yang terbelalak kaget, matanya melotot lebar penuh kekosongan, ditatapnya Si Tiong-pek dengan termangu- mangu… Lama, lama sekali, akhirnya ia memperdengarkan suara tertawanya yang panjang tapi seram bagaikan tangisan setan iblis.

“Haaahhh…haaahh…haaahhh…haaahhh… ia benar-benar sudah mati…siapa yang telah membinasakan dirinya… haaahhh… haaahhh… Yo Long, wahai Yo Long… aku tidak menginginkan kematianmu… siapakah… siapakah pembunubmu? Haahh.. haahh dia belum mati, Lak-long, tidak akan mati… Yo Long wahai Yo Long aku tak dapat kehilangan dirimu…haahhh… haaahh…haaahh…”

Dalam waktu singkat, perempuan aneh berambut panjang itu sudah berubah seperti orang gila, ia berkaok-kaok sejadi-jadinya, sebentar tertawa tergelak sebentar menangis tersedu, keadaannya semakin mengerikan.

Mimpipun Si Tiong-pek tidak menyangka kalau beberapa patah katanya itu sudah cukup membuatnya menjadi gila, untuk sesaat pemuda itu menjadi tertegun dan tak tahu apa yang musti dilakukan.

Tiba-tiba perempuan aneh berambut panjang itu melotot kearah Si Tiong-pek dengan penuh kebencian, sambil tertawa dingin katanya, “Kau pasti adalah pembunuh dari Yo Long, aku hendak membinasakan dirimu… aku hendak mencincang tubuhmu…”

Sambil mengancam, perempuan aneh berambut panjang itu mengayunkan telapak tangan kanannya segulung angin pukulan yang sangat kuat dan dahsyat secepat sambaran kilat menerjang ketubuh Si Tiong pek.

Sejak mendengar kata-kata ancaman tadi, Si Tiong-pek sudah waspada dan bersiap- siap menghadapi serangan maut dari lawannya, maka begitu angin pukulan yang menyesakkan napas itu menindih tubuhnya buru-buru ia berkelit kesamping untuk menghidarkan diri.

Sekalipun pukulan yang mengarah langsung kedadanya berhasil dihindari anak muda itu, rupanya sisa angin pukulan yang melebar kesamping telah menyerempet pinggangnya…

Tidak ampun lagi pemuda itu menjerit kesakitan, sambil muntah darah segera badannya tergeletak ditanah dan tak bisa berkutik lagi.

Perempuan aneh berambut panjang itu segera terkekeh kekeh dengan seramnya. “Heeehhh…heeehhh…heeehhh… mampus!

Sudah mampus! Haaahhh… haaahhh… haaahhh… Yo Long wahai Yo Long, kau berada dimana? Kau tak dapat meninggalkan diriku seorang Yo Long.”

Secepat sambaran kilat perempuan aneh berambut panjang itu berkelebat keluar ruangan, jeritan-jeritan kalapnya yang memilukan hati makin lama semakin menjauh dari pendengaran sehingga akhirnya lenyap sama sekali.

Bagaimanakah dengan nasib Si Tiong-pek yang dirantai dalam gua? Untuk sementara waktu baiklah kita tinggalkan lebih dulu. 0000O0000

Bintang-bintang bertebaran dilangit yang kelam, cahaya yang lembut dan redup berkelip-kelip menyinari jagat, rembulan yang purnama mulai tampak dari balik awan di ufuk sebelah timur.

Sinar keperak-perakan yang lembut menyoroti sebatang pohon siong dan memantulkan cahayanya diwajah seorang pemuda tampan berbaju hijau yang sedang duduk bersila disitu.

Pemuda itu duduk bersila tak berkutik bagaikan seorang pendeta, uap putih mengepul dari atas kepalanya dan menciptakan awan yang amat tebal, rupanya ia sedang mengerahkan tenaga dalamnya untuk menembusi seluruh jalan darah penting dalam tubuhnya.

Kurang lebih seperminum teh kemudian ia membuka kembali sepasang matanya yang memancarkan cahaya tajam, lalu menghela napas panjang.

“Aaaai…aku tak sudi menerima budi kebaikan dari musuh besarku, sungguh tak kusangka ia memaksa untuk melepaskan budinya kepadaku, Kwik To wahai Kwik To! Meskipun aku Gak Lam kun telah menerima bantuan kali ini, akan tetapi aku tak akan melupakan dendam sakit hati atas kematian yang menimpa guruku”

Dengan pandangan termangu, sorot matanya dialihkan keangkasa dan memandang awan yang berkejaran, ia merasakan perasaannya, hampa dan pikirannya kosong.

Mendadak…serentetan suara nyanyian yang memilukan hati lamat-lamat berkumandang dari tempat kejauhan dan memecahkan keheningan yang mencekam sekeliling tempat itu.

Mula-mula nyanyian itu masih berada ditempat kejauhan, makin lama semakin dekat sehingga akhirnya bait-bait nyanyian itu dapat terdengar olehnya dengan jelas.

“…..Bertanya pada masyarakat, apakah cinta itu? Haruskah mati atau hidup untuk mendapatkannya..? Oh, jagat yang luas, mega yang tebal…

Langit selatan bumi utara, burung walet saling beterbangan…”

Begitu mendengar suara nyanyian tersebut. Gak Lam-kun merasakan hatinya terkesiap, sebab nyanyian itu terasa begitu kenal begitu hapal dalam benaknya sehingga ia sediripun dapat membawakan diluar kepala.

Bukan hanya sekali dua kali saja ia mendengar nyanyian tersebut, hampir setiap hari nyanyian itu pasti berkumandang, sebab tiap hari bila tengah malam telah tiba, gurunya selalu menyanyikan lagu tersebut.

Bagaimana mungkin Gak Lam-kun tidak terperanjat setelah mendengar kembali nyanyian tersebut ditengah keheningan malam seperti ini? Mimpipun tak pernah disangka olehnya bahwa nyanyian tersebut bakal didengarnya kembali diatas pulau yang terpencil ini.

Tiba-tiba suara nyanyian tersebut terputus sampai ditengah jalan.

Menyusul kemudian suara tertawa panjang yang menyeramkan dan mendirikan bulu kuduk orang menyayat-nyayat keheningan yang mencekam seluruh jagad, ditengah gelak tertawa tersebut menggema pula teriakan-teriakan yang amat nyaring, “Oooh…kekasihku…ooooh…sayangku… dimanakah kau sekarang? Dimanakah kau berada…”

Suara orang itu amat memilukan hati, bagaikan anak domba yang mencari induknya seperti juga ibu yang menangisi anaknya, membuat siapapun yang mendengar suara itu ikut merasa terharu dan melelehkan airmatanya…

Gak Lam kun tertegun, secara sigap ia segera menyadari bahwa nyanyian, gelak tertawa dan teriakan tersebut dipancarkan seseorang dengan menggunakan tenaga dalamnya yang sempurna.

0000000O0000000

Kalau ditinjau dari daya pengaruh yang diakibatkan dari suara nyanyian, gelak tertawa dan teriakan tersebut, jelaslah terbukti bahwa tenaga dalam orang itu sudah mencapai puncak kesempurnaan yang tiada taranya didunia ini.

“Siapakah dia?”

Tiba-tiba gelak tertawa aneh yang tinggi melengking dan tak sedap didengar berkumandang datang dari kejauhan.

Pelan-pelan Gak Lam-kun bangkit berdiri, lalu melongok kearah mana berasalnya suara itu, sesosok bayangan manusia laksana sambaran petir sedang meluncur datang kearahnya.

Ketika tiba beberapa kaki dihadapan Gak Lam kun, tiba-tiba bayangan manusia yang sedarg melintas dengan cepatnya itu menghentikan gerakan tubuhnya.

Dibawah cahaya rembulan tampak orang itu adalah seorang perempuan yang berwajah jelek berbaju compang camping dan mempunyai rambut sepanjang pinggang.

Sesudah melihat jelas tampang orang itu, Gak Lam kun baru merasa terperanjat, pikirnya dengan cepat, “Mungkinkah suara nyanyian tadi berasal dari perempuan gila itu..?”

Sementara pemuda itu masih termenung, dengan sepasang matanya yang jeli perempuan aneh berambut panjang itu sudah mengamati wajah Gak Lam kun dengan seksama, lalu sambil tertawa dingin tegurnya, “Hey, siapakah kau? Mengapa berada disini? Pernahkah kau jumpai kekasihku?”

Pertanyaan yang diajukan tanpa ujung pangkalnya itu disampaikan dengan kata-kata yang cepat, hal ini membuat Gak Lam-kun diam-diam harus mengerutkan dahinya. Betapa geramnya perempuan aneh berambut panjang itu setelah menyaksikan wajah Gak Lam-kun yang ketus sikapnya yang enggan menjawab pertanyaan itu, tiba-tiba bentaknya lagi, “Hey, rupanya kau yang telah membinasakan kekasihku? Kau…kau harus mampus!”

Tanpa banyak membuang waktu, sebuah bacokan keras segera diayunkan ketubuh Gak Lam-kun…

Mengikuti gerakan bacokan tersebut, segulung angin pukulan yang sangat kuat segera menyambar kedepan dan menindih dada lawan.

Sungguh tercekat perasaan Gak Lam-kun, mimpipun ia tak menyangka kalau perempuan aneh berambut panjang itu bakal melancarkan serangan secepat itu, lagipula angin yang dihasilkan orang itu ternyata belum pernah dijumpainya selama ini.

Ia tak berani menyambut pukulan itu dengan keras lawan keras, dengan cekatan tubuhnya berkelit tiga langkah kesamping dan menghindarkan diri dari ancaman tersebut, kemudian serunya dengan lantang.

“Hey locianpwe, tunggu sebentar..! Jangan melancarkan serangan dahulu!”

Rupanya perempuan aneh berambut panjang itupun merasa terkejut bercampur heran setelah menyaksikan Gak Lam-kun berhasil menghindarkan serangannya semudah itu, sambil mengayunkan kembali telapak tangan kirinya ia membentak, “Kekasihku telah kau bunuh, apalagi yang hendak kau katakan? Apalagi yang hendak kau katakan?”

Dari kejauhan kembali dia lancarkan sebuah pukulan dengan telapak tangan kirinya.

Dalam serangannya yang dilancarkan kali ini ternyata tidak membawa sedikitpun hawa pukulan yang mendesis, malah sepintas lalu seperti orang yang sedang berpura-pura melancarkan serangan.

Namun paras muka Gak Lam-kun segera berubah menjadi serius, dengan telapak tangan kirinya melindungi badan, kelima jari tangan kanannya dipentangkan lebar-lebar untuk melancarkan pula sebuah pukulan kearah depan.

“Blaaamm…!” ketika dua gulung angin pukulan itu saling bertemu ditengah udara, terjadilah ledakan dahsyat yang memekikkan telinga.
Terima Kasih buat para gan / ganwati yang telah meningglakan opininya di kolom komentar :). Sekarang ada penambahan fitur "Recent comment"yang berada dibawah kolom komentar, singkatnya agan2 dapat melihat komentar terbaru dari pembaca lain dari fitur tersebut. Semoga membantu :).