Lencana Pembunuh Naga Jilid 05

 
Jilid 05

GAK LAM-KUN tidak gugup ataupun cemas dengan sangat entengnya dia berkelit kesamping dan tahu-tahu semua ancaman tersebut berhasil dihindari.

Betapa penasarannya keempat orang nona itu sewaktu Gak Lam-kun berhasil menghindari serangan gabungan mereka dengan begitu gampang karena panas hatinya maka serangan yang mereka lancarkan pun makin lama makin bertambah cepat.

Bayangan telapak tangan memenuhi seluruh angkasa bagaikan beribu-ribu ekor kupu- kupu yang berterbangan diatas bunga, dalam waktu singkat sekujur badan Gak Lam-kun sudah terkurung dibawah ancaman musuh…

Gak Lam-kun sedikitpun tidak membalas, dia kembali menggunakan gerakan tubuhnya yang aneh dan sakti itu untuk menerobos kesana kemari diantara lapisan bayangan telapak tangan lawan.

Caranya menghindarkan diri dari serangan memang sangat lihay, kendatipun keempat orang nona itu sudah mengerahkan segenap kemampuan yang mereka miliki, jangankan melukai pemuda tersebut, untuk menjawil ujung bajunya pun susah.

Dengan sepasang mata yang terbelalak lebar Si Tiong pek mengawasi terus gerakan tubuh rekannya, ia merasa langkah sakti dari Gak Lam kun tersebut mengandung perubahan yang berdasarkan langkah Ngo-heng(lima unsur) setiap langkahnya membawa gerakan yang dalam artinya jauh berbeda bila dibandingkan ilmu meringankan badan pada umumnya karena tempat yang digunakan hanya beberapa meter persegi saja.

Memang, sepintas lalu gerakan Gak Lam-kun tampaknya santai, lambat dan tak ada artinya padahal kecepatannya bagaikan sambaran kilat. Sekalipun Si Tiong pek telah memperhatikan langkah kakinya dengan seksama, toh belum juga berhasil untuk menyadap kepandaian tersebut.

Angin puyuh mederu-deru serasa memekikkan telinga, dari keempat orang penyerang tersebut masing-masing telah melancarkan tiga sampai empat puluh jurus serangan, ketika mereka saksikan Gak Lam-kun sama sekali tidak membalas walau hanya satu gebrakanpun, si nona baju merah yang paling muda pertama-tama melompat mundur paling dulu, teriaknya, “Cici bertiga, kita tak usah bertempur lagi!” Ketiga orang nona itu menurut dan segera menghentikan serangan. Si nona baju merah yang paling muda diantara rekan-rekannya itu kembali berkata lebih jauh, “Kita toh tak mampu menangkap dia!”

“Siapa bilang tak bisa?” tanya nona baju biru agak penasaran.

“Dia tak pernah membalas serangan kita, malah cuma menghindar terus, coba kalau dia sampai membalas, habis sudah kita berempat”

“Yaa, kepandaian yang dimiliki orang ini memang keliwat hebatnya!” tiga orang nona lainnya mengangguk setuju.

Maka dengan suatu lompatan mereka mengundurkan diri kebelakang.

Suara merdu merayu yang lembut dan enak didengar tadi kembali berkumandang dari dalam ruangan, “Suatu ilmu gerakan tubuh Ji gi ngo heng jit seng liong heng sin hoat(gerakan naga dua urusan ilmu wujud tujuh bintang) yang sangat hebat! Tak nyana kalau dalam dunia persilatan didaratan Tionggoan ini masih terdapat seorang jago persilatan yang mempunyai kepandaian sedahsyat itu. Baiklah, sekarang akan kumainkan sebuah lagu dengan harpa untuk kamu berdua, asal kalian sanggup mendengarkan permainan harpaku ini, maka nyawa kalian berdua akan kuampuni”

Gak Lam-kun yang mendengar perkataan itu merasa amat terperanjat, ia kaget sebab sejak terjun kedalam dunia persilatan hingga kini, belum pernah ada orang yang mengenali gerakan tubuh Ji gi ngo heng jit seng liong heng sin hoat yang dia pergunakan, tapi sekarang, nona tak dikenal dapat mengenalinya, sedikit banyak kaget juga perasaannya…tanpa sadar dia mengangkat kepalanya.

Cahaya lampu memercik keluar dari ruangan sebelah selatan, daun jendela dibuka orang dan muncullah seorang nona berbaju perak yang cantik jelita bak bidadari dari kahyangan, duduk ditepi jendela sambil membawa sebuah harpa.

Sekalipun nona berbaju perak duduk dalam posisi miring sehingga Gak Lam kun berdua tak dapat melihat jelas seluruh raut wajahnya, tapi ditinjau dari tangannya yang putih mulus, separuh wajahnya yang mungil menawan hati serta potongan badannya yang ramping jelita, siapapun akan tahu bahwa dia adalah seorang nona cantik jelita.

Berdebar keras jantung Gak Lam-kun setelah menyaksikan kejadian itu, pujinya dalam hati, “Betapa cantiknya gadis itu, wajahnya ayu badannya ramping, suatu perpaduan yang amat serasi.

Jika Gak Lam-kun hanya mengutarakan kekagumannya dalam hati, maka berbeda dengan Si Tiong-pek, dia berdiri tertegun dengan mata terbelalak lebar, rupanya seperti orang kehilangan sukma. Maklumlah gadis itu memang terlampau cantik sedemikian cantiknya sehingga sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Gak Lam-kun kembali berpikir, “Kalau dilihat dari kelembutan, keayuan serta kemanjaan nona berbaju perak ini, tampaknya dia seperti seorang gadis yang tak pernah belajar ilmu silat, tapi bila kita lihat dari kepandaian silat yang dimiliki keempat orang dayangnya, jelas dia bukan manusia sembarangan, mungkinkah ilmu silatnya telah mencapai ketingkatan yang paling luar biasa sehingga kelihayannya itu sama sekali tak nampak dari luar?” Setelah berhenti sejenak, dia berpikir lebih jauh, “Waaah…kalau memang begitu, jelaslah sudah bahwa permainan harpanya bukan permainan biasa, dia pasti akan membawakan irama yang tak sedap didengar…”

Baru saja berpikir sampai disitu tiba tiba harpa itu disentil lagi dua kali… “Criiiiiing…! Criiiiiing…!”

Gak-Lam-kun merasakan jantungnya bergetar keras mengikuti suara dentingan tersebut, dan Si Tiong pek malah terpukul sampai badannya bergoncang keras

Sekarang si pemuda baru sadar kalau permainan harpa si nona tak boleh dianggap enteng, buru-buru dia menjura kearah jendela seraya serunya, “Nona, jangan kau lanjutkan permainan harpamu!”

“Kau takut untuk mendengarkan?” tegur si nona baju perak dengan suara yang lembut, tubuhnya masih tetap duduk miring ditepi jendela.

Si Tiong-pek segera tertawa ringan.

“Haaahhh…haaahha…haaahhh…nona demikian menaruh perhatian kepada kami, sepantasnya kalau kami nikmati permainan indahmu itu, cuma sayang aku adalah seorang pemuda bodoh yang tak mengerti irama musik, aku kuatir kalau permainan tersebut malah akan menyia-nyiakan harapan nona saja”

“Sekalipun kau tidak mengerti soal irama musik, orang lain toh memahaminya” kata nona baju perak lagi dengan hambar.

Si Tiong-pek terbahak-bahak. “Haaahh…haaahh…haaahhh…kalau begitu biarlah aku mohon diri terlebih dulu”

Begitu selesai berkata, dia lantas putar badan dan mengambil langkah seribu.

Perlu diketahui disini, bahwa Si Tiong pek adalah seorang pemuda yang cerdas otaknya, sekalipun ia kesemsem oleh kecantikan nona berbaju perak, tapi disaat bahaya yang menyangkut soal mati hidupnya ini, rasa kesemsemnya dapat diatasi dan otaknya segera menjadi sadar kembali.

Tampaknya si nona berbaju perak tidak rela membiarkan musuhnya pergi, jari jemarinya segera menarik diantara senar-senar harpanya.

Dentingan-dentingan nyaring menyebar keangkasa. Si Tiong-pek merasakan kepalanya seperti dipukul dengan martil besar, kaki kanannya segera ditarik kembali, sebab dentingan harpa itu ibaratnya panggilan ibu buat putranya, begitu halus, lembut membuat hati menjadi iba.

Dengan dahi berkerut, Gak Lam-kun segera berbisik, “Saudara Si, cepat duduk bersila dan mengatur pernapasan, pusatkan pikiranmu dan matikan perasaan”

Si Tiong-pek mengetahui pula kalau jiwanya berada diujung tanduk, dia lantas tersenyum. “Saudara Gak, bagaimana dengan kau sendiri? Sanggupkah menahan irama iblis tersebut?” ia balik bertanya.

“Aku tidak tahu!”

Si nona berbaju perak yang duduk disisi jendela kembali membuka suara, ucapnya dengan suara yang lembut, “Kalian tak usah takut, akan kupilihkan irama yang paling datar untuk kalian berdua!”

Satu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benak Si Tiong-pek, tiba-tiba saja ia teringat dengan kabar yang tersiar dalam dunia persilatan, kabar tentang irama Sang- goan-ci(irama peluka hawa murni) dari Soat-san Thian-li yang telah menggetarkan seluruh dunia.

Dia ingin berteriak, ingin mengutarakan perkataan itu…

Sayang waktu tidak mengijinkan, gadis berbaju perak itu sudah mainkan kelima jari tangan kanannya dan menyentil senar-senar harpa tersebut…

Suara detingan nyaring, berkumandang diangkasa dan menggetarkan perasaan siapapun, dalam keadaan demikian sudah barang tentu ia tak berani cabangkan pikiran untuk berbicara, cepat-cepat ia pejamkan matanya dan duduk bersila untuk mengatur napas guna melawan pengaruh iblis irama tersebut.

Terdengar suara harpa yang merdu dan lembut teruar keluar mengikuti gerakan jari jemari si nona baju perak yarg lembut, iramanya lembut dan menggetarkan sukma.

Meskipun iramanya merdu merayu, namun mengandung kekuatan yang seolah-olah mampu membetot sukma setiap orang.

Dalam waktu singkat Si Tiong-pek telah dipengaruhi oleh alunan musik aneh tersebut, pelbagai pikiran ataupun angan-angan yang serba aneh seketika mempengaruhi segenap pikiran maupun perasaannya, dia seperti lagi terbang dilangit, seperti menyaksikan apa yang diimpikan, seperti melakukan apa yang diangankan…

Gak Lam-kun pejamkan matanya pula rapat-rapat, dahinya berkerut dan butiran keringat membasahi jidatnya, jelas sudah diapun terpengaruh oleh gelombang irama iblis yang maha dahsyat itu.

Selang sesaat, Si Tiong-pek merasakan isi perutnya bergolak keras, ia tak dapat duduk lagi dengan tenang, sambil berteriak keras tiba-tiba ia bangkit berdiri lalu ingin kabur meninggalkan tempat itu.

Criing…! Criiing..! Criiing..! secara beruntun nona berbaju perak itu menyentilkan jari tangannya, suara nyaring seketika mengalun memecahkan keheningan…

“Uuaak…!” Si Tiong pek memuntahkan darah segar, kaki yang sudah melangkah pergi tiba-tiba terhenti kembali.

Oleh dentingan irama harpa tersebut, Gak Lam-kun ikut merasakan pula bergolaknya darah yang menggulung didalam dadanya ia merasa sempoyongan dan tak bisa bertahan lebih lama pemuda itu sadar jika permainan harpa tersebut dilanjutkan oleh si nona berbaju perak, niscaya dia sendiripun tak akan tahan.

Makin lama pengaruh yang dirasakan dari permainan harpa itu makin menghebat, akhirnya Gak Lam-kun tak tahan, dia bermaksud minta kepada nona itu agar menghentikan permainannya.

Tapi sebelum ucapan tersebut sempat diutarakan, tiba-tiba nona berbaju perak menghela napas panjang, permainan harpa itupun serentak berhenti.

Daun jendela ditutup kembali dan lampu lilinpun dipadamkan, suasana kembali menjadi hening.

Keempat orang dayang cantik yang berada dihalaman luarpun ikut putar badan dan masuk kedalam ruangan.

Dengan demikian suasana makin hening, makin sepi hingga tak kedengaran sedikit suarapun.

Si Tiong-pek yang semula terpengaruh oleh permainan harpa, kini telah sadar kembali namun lamat-lamat dia merasa dada maupun lambungnya menjadi sakit si pemuda segera sadar bahwa isi perutnya telah mengalami luka yarg sangat parah.

Dengan wajah yang lemas dan tak punya tenaga dia berpaling kearah Gak Lam kun, lalu bisiknya, “Saudara Gak, kau tidak terluka bukan?”

Sambil gelengkan kepalanya Gak Lam-kun menghela napas panjang.

“Aaaai… irama iblis itu memang kelewat lihay!” Sekali lagi Si Tiong-pek berusaha untuk mencoba mengerahkan tenaga dalamnya, siapa tahu begitu hawa murninya disalurkan, rasa sakit didada maupun lambungnya semakin menghebat, sadarlah dia bahwa hawa murninya telah menggumpal dalam pusar dan mengakibatkan luka dalam yang parah, luka semacam ini bila tidak cepat-cepat disembuhkan, niscaya akan berakibat fatal yaitu selama hidup jangan harap bisa berlatih ilmu silat lagi.

“Saudara Gak, siaute akan berangkat duluan!” bisik Si Tiong-pek.

Dia beranjak dan berusaha berlalu dari sana, apa mau dikata baru saja kakinya melangkah pergi, dada serta lambungnya terasa sakit bukan kepalang, hingga saking tak tahannya dia menjerit keras badannya makin sempoyongan.

Cepat-cepat Gak Lam-kun memburu kedepan serta memayarg tubuhnya, kemudian bertanya, “Saudara Si, parahkah luka yang kau derita?”

Sepucat kertas air muka Si Tiong pek, ia tertawa getir.

“Aaaaai…kurasa siaute sudah tak berguna tak kusangka kalau dia berbuat sekeji itu”

Kiranya ketika Si Tiong pek menghimpun segenap tenaga murninya untuk menahan pengaruh irama musik tersebut, tiba-tiba ia melompat bangun sambil menyalurkan hawa murni yang dimilikinya itu kedalam dada serta lambung, siapa tahu tenaga tersebut justru sukar disalurkan lagi… Dengan keadaan semacam ini, bila dalam waktu enam jam tidak mendapat pengobatan semestinya, maka hawa murni itu akan membeku, menvusup kedalam jalan darah dan mengakibatkan luka dalam yang fatal, hal ini bisa mengakibatkan kematian atau paling entengpun akan mendatangkan tubuh Cacad selama hidup.

Keadaan tersebut pada lazimnya disebut ‘jalan api menuju neraka’ oleh kalangan persilatan, semakin tinggi kepandaian yang dimiliki seseorang semakin parah pula luka yang dideritanya bila sampai mengalami jalan api menuju neraka.

Gak Lam-kun yang menyaksikan keadaan tersebut segera mengernyitkan alis matanya, ia lantas menegur, “Saudara Si, apakah kau mengalami jalan api menuju neraka?”

Sambi! tertawa sedih Si Tiong-pek mengangguk. “Yaa, aku tahu kehidupanku sudah tak lama lagi!”

Gak Lam-kun memayang rekannya itu berjalan keluar dari halaman rumah yang luas, lalu bisiknya lirih, “Saudara Si, untuk sementara waktu cobalah untuk mengatur pernapasanmu disini!”

“Percuma!” Si Tiong-pek tertawa getir, “setiap kali kucoba untuk mengatur pernapasan, dada serta lambungku seketika terasa amat sakit bagaikan ditusuk-tusuk dengan pisau”

Gak Lam kun menghela napas panjang.

“Aku tahu, dan kebetulan siaute mempunyai suatu cara untuk mengobati luka dalam, duduklah bersila lebih dulu”

Gak-Lam-kun mempersilahkan Si Tiong pek agar duduk bersila dulu, kemudian baru mewariskan rahasia ilmu itu kepadanya.

Si Tiong pek berlatih mengikuti cara yang diwariskan Gak Lam-kun kepadanya itu, kurang lebih sepertanakan nasi kemudian ia merasakan lukanya agak enteng juga, ini membuat hatinya sangat gembira cepat-cepat latihan dilanjutkan untuk mengobati luka tersebut.

Siapa tahu, ketika hawa murni dicoba untuk mengikuti seluruh tubuhnya lagi dada serta lambungnya sekali lagi terasa sakit sekali, malah tenggorokannya terasa anyir dan darah kental kembali tersembur keluar, mukanya yang pucat seperti mayat kini diikuti pula dengan kejang-kejang keras.

Sesungguhnya, ketika itu Gak Lam-kun sedang memandang bintang diangkasa dengan wajah murung betapa terperanjatnya setelah mendengar jeritan tersebut, telapak tangan kanannya bertindak cepat menepuk jalan darah Hiang-ki-hiat ditubuh Si Tiong pek, kemudian tegurnya, “Saudara Si kenapa kau?”

Si Tiong pek menghembuskan napas panjang, sahutnya dengan suara gemetar, “Saudara Gak, aku…aku benar-benar tidak tahan, kini nadi-nadiku mulai terasa kaku dan membatu…” Diam-diam terkejut juga Gak Lam kun sesudah mendengar perkataan itu, pikirnya, “Masakah begitu lihay irama iblis tersebut…? Irama apa itu…?”

Berpikir sampai disitu, dengan suara rendah segera hiburnya, “Tak usah kuatir saudara Si, apabila siau-te tidak berhasil menemukan cara pengobatan yang baik, pasti akan kucari nona berbaju perak itu untuk menanyakan cara pengobatannya”

Si Tiong-pek menghela napas panjang.

“Aaaai…tak kusangka saudara Gak begitu mulia hatinya dan bijaksana, siau-te merasa sangat beruntung dapat berkenalan denganmu, maksud baik saudara Gak akan kuingat selalu dalam hati. Aaaai…saudara Gak tahukah kau lagu apakah yang telah melukai isi perutku itu?”

“Aku tidak tahu!” jawab Gak Lam-kun sambil gelengkan kepalanya.

Pancaran sinar sedih menghiasi wajah Si Tiong pek, ia menghela napas panjang. “Aaaai… itulah lagu pukulan isi perut Sang-goan-ki dari Soat-san Thian-li!”

Baru saja ia menyelesaikan kata-katanya, mendadak dari tempat gelap tak jauh disisi tubuhnya berkumandang suara tertawa dingin.

“Sang-goan-ki…! Sang-goan-ki…! Sudah belasan tahun lamanya aku tak pernah mendengar lagi lagu ini, bocah muda, kau bisa nikmati lagu tersebut mendahului siapapun, sekalipun mati kenapa musti susah?”

Ketika Si Tiong pek mendengar ucapan tersebut ia agak tertegun lalu tanyanya tercengang, “Bukankah yang datang adalah Kiu-wi-hou (rase berekor sembilan) Kongsun po locianpwe?”

Gelak tertawa yang amat nyaring bagaikan suara gembrengan berkumandang memecahkan kesunyian, “Haaahhh…haaahhh…haaahhh… betul, tak kusangka kau si bocah dapat mengenali suaraku”

Sesosok bayangan melompat keluar dari tempat kegelapan, dia adalah seorang kakek bertubuh kurus kering, berjubah panjang bermuka kuda dan bermata tajam bagaikan sembilu.

Ketika mendengar nama orang itu, Gak Lam kun merasakan sekujur badannya bergetar keras, hawa napsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya, tapi sesaat kemudian lenyap kembali tak berbekas.

Dengan sikap yang hambar ia berpaling memandang bintang-bintang yang bertaburan diangkasa, terhadap kehadiran kakek tersebut jangankan menatapnya, melirik sekejappun tidak.

Yang muncul dihadapan mereka tak lain adalah ketua dari perguruan Hoa-san-pay yang menggetarkan seluruh dunia… Kiu-wi-hou(Rase berekor sembilan ) Kongsun Po.

Dengan sepasang sinar matanya yang tajam menggidikkan ia melirik sekejap kearah Si Tiong pek, kemudian mendengus dingin. “Hei bocah kecil, apakah setan tua gurumu juga ikut datang?” tegurnya sinis.

Sementara itu Si Tiong-pek, sedang menggerutu dalam hati kecilnya, dia tahu si Rase berekor sembilan ini bukan saja memiliki ilmu silat yang amat sempurna, jadi orangpun licik, keji dan berbahaya.

Konon dalam peristiwa keributan atas diri Tok-liong Cuncu ditebing Yanpo gan tempo dulu dialah otak yang menyusun semua siasat dan perangkap, dan kini dia telah muncul juga disini itu berarti kedatangannya pasti disertai d«ngan suara rencana tertentu.

“Siapa tahu kalau kedatangannya untuk menyatroni aku?” demikianlah Si Tiong pek berkuatir “Jika ia tahu kalau guruku belum datang, kemungkinan besar aku bisa dibunuh lebih dahulu sehingga menghilangkan seorang saingan beratnya untuk memperebutkan lencana pembunuh naga…”

Berpikir sampai disitu, dengan memaksakan diri Si Tiong pek merangkak bangun, kemudian setelah memberi hormat katanya, “Sungguh tak kusangka Kongsun locianpwe telah muncul disini, boanpwe Si Tiong pek menyampaikan salam hormat kepada cianpwe!”

Rase berekor sembilan Kongsun po mendehem beberapa kali, lalu katanya sambil tertawa, “Jangan sungkan-sungkan, jangan sungkan-sungkan, Sejak kapankah komandan pasukan elang baja dari perkumpulan Thi-eng pang begitu menaruh perhatian terhadap aku Kongsun po?”

Keadaan Si Tiong pek pada saat ini amat

lemah setelah isi perutnya terluka parah, sekalipun disindir orang ia masih tetap mengendalikan amarahnya didalam bati, katanya sambil tertawa, “Thi-eng pangcu si kakek sakti elang baja Oh-Bu-hong merupakan orang yang paling dimusuhi oleh perguruan- perguruan besar dalam dunia persilatan dewasa ini, hanya Kongsun Po locian-pwe dari Hoa-san yang mempunyai hubungan akrab dengannya, siapakah manusia-manusia dalam dunia persilatan dewasa ini yang tidak mengetahui akan bal tersebut…”

Paras muka Rase berekor sembilan Kongsun Po berubah membesi, setelah tertawa dingin ia menukas ucapan Si Tiong-pek, “Semua orang mengatakan kau berotak cerdas banyak tipu muslihatnya dan merupakan seorang manusia pilihan dari golongan muda, tampaknya berita ini memang tidak keliru, tapi kau tak usah kuatir, aku tak bakal membalikkan perahuku dalam selokan”

Si Tiong-pek tertawa.

“Kongsun locianpwe adalah orang yang cerdas dan bijaksana, pengetahuannya luas pengalaman banyak, namanya menggetarkan baik disungai bagian utara maupun dibagian selatan, siapakah dalam dunia persilatan dewasa ini yang tidak kagum oleh kecerdasan locianpwee, malah Tok liong Cuncu yang dikenal sebagai seorang manusia berbakatpun berhasil tewas ditanganmu, siapa yang tidak akan ngeri setelah berjumpa dengan kau?”

Ketika mendengar perkataan itu, tiba-tiba diatas paras muka Rase berekor sembilan Kongsun Po melintas napsu membunuh bentaknya, “Bocah keparat, lebih baik kau tak usah mencekoki kuah pemabuk kepadaku…?” Ditengah bentakan itu. Kongsun Po mengayunkan telapak tangan kirinya kedepan, segulung tenaga pukulan yang sangat hebat segera menggulung keluar dan langsung menghajar kedada Si Tiong-pek.

Sebagai seorang pemuda yang cerdas dan cekatan, semenjak tadi Si Tiong-pek telah menaruh perhatian terhadap segala gerak gerik Kongsun Po.

Dalam keadaan terluka parah, sudah barang tentu ia tak berani menyambut datangnya serangan tersebut dengan kekerasan, sesungguhnya dia ingin melompat mundur kebelakang untuk

menghindarkan diri, sayang luka dalamnya terlampau parah, luka tersebut telah menyebabkan ia tak sanggup mengerahkan tenaganya walau hanya sedikitpun.

Dengan begitu maka tampaklah angin pukulan yang maha dahsyat tersebut segera akan menghantam didada Si Tiong pek.

Untunglah Gak Lam kun yang berada disisinya bertindak cukup sigap, tiba-tiba dia melompat kemuka dan menghadang dihadapannya. Lalu dengan telapak tangan kirinya dia membabat keatas urat nadi pergelangan tangan Kongsun po.

Betapa terkejutnya si Rase berekor sembilan Kongsun po menyaksikan kecepatan gerak Gak Lam-kun, cepat-cepat ia buyarkan tenaga pukulan pada telapak tangan kirinya lalu ditarik kebelakang, sementara telapak tangan kanannya secepat sambaran kilat mencengkeram bahu Kiri Si Tiong pek.

Gak Lam kun miringkan sedikit tubuhnya, tiba-tiba tangan kirinya yang sedang membacok berputar satu lingkaran, kemudian berbalik menghantam pergelangan tangan kanan Kongsun po.

Kongsun po semakin terperanjat lagi menyaksikan keanehan gerakan yang dipergunakan Gak Lam kun ketika melancarkan serangan balasan itu, terutama terhadap serangan jari tangannya yang kesemuanya tertuju pada jalan darah jalan darah penting ditubuhnya.

Dengan suatu gerakan terpaksa ia tarik kembali lengan kanannya mentah-mentah, meskipun cepat ketika melancarkan serangan, sewaktu menarik kembalipun tak kalah cepatnya.

Dengan begitu kendatipun sapuan yang dilancarkan Gak Lam kun dilakukan dengan kecepatan tinggi, akan tetapi tidak berhasil menyentuh ujung baju lawannya.

Kongsun po menarik kembali tangan kanannya, sementara tangan kirinya telah dikembangkan kembali untuk melancarkan sebuah sapuan.

Mencorong sinar pembunuh dari sepasang mata Gak Lam kun, sumpahnya dihati, “Bagus sekali! Rase berekor sembilan Kongsun po, kau berani berbuat demikian sama artinya dengan mencari kematian buat diri sendiri…Hmm bersiap-siaplah untuk menerima kematianmu.”

Ketika ingatan tersebut sudah melintas lewat dari benaknya, dengan menghimpun tenaga pukulannya kedalam telapak tangan kanan, dia hantam dada Kongsun Po. Rase tua tersebut sungguh memang amat licik dan cerdik. Jikala sorot matanya berbenturan dengan sinar pembunuhan yang memancar dari mata Gak Lam-kun, segera timbul kecurigaan dalam hatinya.

Maka dari itu dikala Gak Lam-kun melepaskan sebuah pukulan dan segulung angin tajam yang menggidikkan hati ikut menerpa tiba, ia menjadi amat terkejut.

Dalam keadaan begitu, ketua dari Hoa san pay itu tak berani menyambut datangnya ancaman dengan keras lawan keras, sambil membuyarkan tenaga pukulannya, ia melompat dua kaki ketengah udara.

“Pleetaakk…baaam!”suatu benturan keras terjadi disusul terdengarnya suara gemuruh yang memekikkan telinga.

Tenaga pukulan Gak Lam-kun yang amat dahsyat bak kuda liar yang terlepas dari kendali meluncur kedepan dengan kecepatan tinggi dan langsung menghantam diatas sebuah pohon Pek-yang yang tinggi besar tiga tombak didepannya.

Padahal pohon Pek-yang itu besar lagi kuat, namun begitu tersambar oleh angin pukulan langsung terhajar patah dan tumbang keatas tanah.

Tiba-tiba berkumandang suara pekikan nyaring yang amat memekikkan telinga, dari atas pohon Pek-yang yang tumbang ketanah itu melayang turun sesosok bayangan manusia, orang itu ternyata adalah seorang kakek gemuk pendek yang berwajah merah seperti bayi tapi berambut putih keperak-perakan…

Dengan entengnya kakek gemuk pendek itu melayang turun keatas permukaan tanah, dengan sepasang matanya yang tajam menggidikkan ia perhatikan Gak Lam kun dari atas kepalanya hingga kebawah kaki.

Waktu itu, Si Rase berekor sembilan Kongsun po serta Si Tiong pek masih berdiri termangu-mangu ditempatnya, rupanya mereka tidak menyangka kalau serangan dari Gak Lam kun sedemikian dahsyatnya.

Untuk sesaat suasana disekeliling tempat itu menjadi sepi dan hening, seakan-akan dia merasa murung dan sedih lantaran pukulannya tidak berhasil mengenai tubuh lawannya.

Yaa, memang begitulah keadaan sesungguhnya, Gak Lam-kun memang sedang merasa mUrung dan sedih karena serangan mautnya tidak berhasil membinasakan Kongsun po, ia merasa musuhnya terlampau licin dan banyak tipu muslihatnya, keadaan itu semakin menipiskan harapannya untuk berhasil menuntut balas.

Gurunya, Tok-liong Cuncu pernah berkata kepadanya bahwa diantara ketujuh belas orang musuh besarnya, mulai dari Tang hay coa siu(kakek ular dari lautan timur) Ou Yong-hu sekalian bertujuh merupakan musuh-musuh paling berbahaya yang kian keatas kian tinggi ilmu silat yang mereka miliki!

Selapis awan mendung melintas dalam benak Gak Lam-kun, diam-diam pikirnya, “Dari tujuh orang musuh tangguh yang musti kuperhatikan, secara beruntun sekarang telah kujumpai Tang hay coa siu(kakek ular dari lautan timur), Jit poh toan hun(Tujuh langkah pemutus nyawa) dan Kiu wi-hou(rase berekor sembilan), menurut Catatan musuh besar yang ditinggalkan suhunya, Jit poh toan hun Kwik To merupakan jagoan nomer tiga, Kiu- wi-hou Kongsun Po merupakan jago nomer enam dan Tang hay-coa siu merupakan jago yang paling belakang, sekalipun ketujuh orang musuh utamaku belum kujumpai semua, tapi berbicara dari taraf ilmu silat yang dimiliki Kwik To bertiga, dapat dibuktikan bahwa ilmu silat yang mereka miliki rata-rata memang amat lihay, seandainya ketujuh orang itu sampai bersatu padu, mungkinkah aku bisa menahan mereka bersama…?”

Dalam pada itu, setelah si kakek gemuk pendek itu memperhatikan Gak Lam-kun sekian lama, tiba-tiba ia mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak, Suaranya nyaring bagaikan genta yang dibunyikan bertalu-talu, bukan saja menggetarkan daerah disekitarnya bahkan sangat menyakitkan telinga.

Rase berekor sembilan Kongsun Po mendehem ringan, setelah melirik sekejap kearah kakek gemuk pendek itu, katanya, “Say loji, sejak berpisah ditebing Yan-Po gan tempo hari, aku dengar belasan tahun belakangan ini kau tak pernah meninggalkan bukit Siau Ngo Tay barang selangkahpun, setelah hari ini muncul kembali diwilayah Kanglam, aku rasa tentu ada urusan penting yang hendak kau selesaikan bukan…?”

Gak Lam-kun yang mendengar perkataan itu merasakan hatinya bergetar keras pikirnya, “Jangan-jangan orang ini adalah orang keempat dari ketujuh orang musuh utamaku yang disebut Giok-bin-sin-ang (kakek sakti berwajah pualam) Say Khi pit dari bukit Siau-ngo-tay? Sungguh tak kusangka secara beruntun aku telah berjumpa dengan empat orang musuh besarku diatas pulau yang terpencil ini”

Kakek gemuk pendek itu memang tak lain adalah Kakek sakti berwajah pualam Say Khi- pit dari bukit Siau ngo tay, medengar perkataan itu dia lantas tertawa terbahak-bahak.

“Haaahh…haaahh…haahh…wahai rase tua, bukan aku seorang yang tiba disini, mungkin semua sobat-sobat lama yang pernah berkumpul ditebing Yan po gan belasan tahun berselang akan berkumpul semua disekitar bukit Kun san ini, waktu itu suasana tentu ramai sekali…haaahh…haaah…haaah…”

“Jadi kalau begitu kedatangan Say-heng pun untuk ikut serta dalam keramaian ini?” sambung Kongsun-Po dengan ketus.

Kakek sakti berwajah pualam Say Khi-pit tertawa tergelak. “Haaahhh…haaahhh…haaahhhh…tidak berani tidak berani, aku cuma mengiringi saja

dari samping, kedatanganku tak lebih cuma ingin menonton keramaian”

Rase berekor sembilan kongsun Po tertawa dingin, katanya lagi, “Say loji, kau tak usah berlagak, keadaan dalam dunia persilatan dewasa ini sudah berbeda jauh dengan keadaan dulu, si kakek ular dari lautan timur Ou Yong-hu telah menjadi anggota Thi eng pang, ia sudah mempunyai tulang punggung yang cukup kuat, sedang kau dan aku masih bujangan tanpa teman, untuk mengangkat diri dalam pertarungan dibukit Kun san ini…”

Rase berekor sembilan Kongsun Po tertawa lebar.

“Aku memang bermaksud demikian, asal kita mau bersatupadu maka urusan lebih gampang diselesaikan, sebaliknya kalau tercerai berai maka pasti akan ditunggangi orang dan hancur musnah dengan sendirinya. Maka…kalau begitu akan kuusahakan bantuan semaksimal mungkin..” kata Say Khi-pit kemudian sambil tertawa. Si Tiong pek diam-diam menjadi terkejut, dia tahu kedua orang itu semuanya merupakan jago-jago tangguh yang memimpin suatu golongan tertentu, ilmu silat mereka boleh dibilang sudah mencapai taraf yang sangat tinggi, terutama Giok-bin sin-ang Say Khi pit, kepandaiannya setingkat lebih tinggi daripada Kongsun po.

Bisa dibayangkan apa jadinya bila kedua orang tokoh persilatan itu sampai bersatu padu?

Si Tiong pek cukup mengerti, kerja sama kedua orang tokoh ini memang masih belum sanggup untuk mengalahkan perkumpulannya, meski demikian pasti akan merupakan halangan yang menjengkelkan bagi perkembangan ambisi perkumpulannya sebab itu dia mengambil keputusan untuk berusaha memecah belah kerja sama tersebut.

Karena itu setelah berpikir sebentar, Si Tiong pek pun memberi hormat kepada Say Khi- pi sambil katanya, “Ilmu silat Say cianpwe menggetarkan dunia persilatan, selama ini menjagoi pula wilayah sekitar Lam san, kegagahan tersebut sudah lama membuat hatiku amat bangga, maka beruntunglah hari ini aku bisa bersua dengan cianpwe, Boanpwe Si Tiong-pek dari pasukan elang baja mempersembahkan salam hormatku kepada locianpwe”

Selesai berkata ia lantas membungkukkan badannya dan memberi hormat.

Giok bin-sin-ang Say Khi-pit mengelus jenggotnya sambil tertawa terbahak-bahak. “Haaahh…haaahhh…haaahhh…semua orang bilang Oh Bu-hong mempunyai seorang

ahli waris yang cerdik dan bisa diandalkan, setelah perjumpaan hari ini dapat kubuktikan bahwa perkataan itu memang ada benarnya, haahh…haahh…haahh… kalau kulihat dari sikap hormatmu kepadaku, tentunya ada urusan yang hendak kau sampaikan kepadaku bukan?” 

Si Tiong-pek tersenyum.

“Oooh…tidak berani merepotkan Say locianpwe”

Rase berekor sembilan Kongsun Po yang ada disampingnya segera tertawa dingin. “Si Tiong-pek, siapakah dia?”

“Dia adalah seorang sahabat karibku!” jawab Si Tiong-pek sambil tersenyum lebar.

“Paras muka Kongsun Po berubah menjadi amat dingin, katanya ketus, “Apabila kau masih mempunyai perasaan hormat kepada angkatan tua, maka harus kau katakan asal usulnya.”

Tiba-tiba dari balik mata Gak Lam-kun memancar keluar sinar buas yang menggidikkan hati. Pelan-pelan maju kemuka mendekati Kongsun Po, lalu sambil mendengus katanya, “Apabila kau ingin tahu asal usulku, pergilah keakhirat dan tanyakan sendiri soal itu kepada Giam-lo-ong!”

Secara tiba tiba saja anak muda itu berubah menjadi ganas seperti seekor binatang buas, wajahnya penuh diliputi hawa napsu membunuh yang mengerikan. Rupanya hawa amarah yang berkobar dalam dada Konsun Po telah memuncak juga, sambil tertawa serak katanya, “Bocah keparat yang bau, berani betul kau pandang hina diriku..Hmm..! Agaknya kau sudah bosan hidup?”

Si Tiong pek sendiri, ketika secara tiba-tiba menyaksikan paras muka Gak Lam kun berubah seseram itu, hatinya ikut terperanjat pula, pikirnya, “Watak orang ini sungguh sulit diraba oleh siapapun, apalagi sikapnya yang begitu tinggi hati dan congkak, tampaknya sulit untuk kupergunakan tenaganya. Mumpung sekarang ada dua orang sakti disini, kenapa tidak kubiarkan mereka berdua bekerja sama untuk menghadapi Gak Lam kun. Asal orang she Gak ini sudah mampus, berarti pula aku akan kehilangan seorang musuh tangguh”

Berpikir sampai disitu, dengan dingin dia lantas berkata, “Kongsun locianpwe, ibaratnya rumput jerami ditumpuk sebukit, jangan harap bisa menindih mati seekor tikus, sekalipun kau sudah hidup sekian lamanya, belum tentu ilmu silatmu akan lebih tangguh daripada orang lain… jangan takabur dulu”

000000O000000

DALAM dunia persilatan, Kiu-wi-hou Kongsun po terhitung juga seorang jagoan yang bisa diandalkan sekalipun merasa bahwa Gak Lam kun adalah seorang musuh tangguh yang berilmu tinggi, terutama setelah terjadi pertarungan beberapa jurus tadi, tapi sebagai orang yang sombong dan sudah biasa bersikap latah, sudah barang tentu tak mau mengundurkan diri dengan begitu saja, terutama dalam ucapannya tadi Si Tiong pek jelas memandang hina kepadanya.

“Bocah keparat!” ia lantas membentak, “begitu berani kau menghina diriku? Hmm, akan kurenggut dulu selembar nyawamu!”

Sambil membentak, telapak tangan kanannya segera diayun membacok ketubuh Si Tiong pek.

Gak Lam kun tidak merasa kalau dibalik serangannya terdapat tipuan, cepat telapak tangan kirinya diayun kedepan untuk menyambut pukulan yang tertuju ketubuh Si Tiong pek itu.

Dalam melancarkan serangannya, tidak terjadi desingan angin tajam maupun tidak terjadi gelombang hawa tekanan yang dahsyat, gerakan itu enteng dan sederhana.

Ternyata serangan tangan kanan dari Rase berekor sembilan Kongsun po itu cuma serangan tipuan, ia telah menghitung bahwa Gak Lam kun pasti akan melancarkan serangan untuk menyambut ancaman itu.

Maka begitu Gak Lam kun melepaskan bacokannya kedepan, tiba-tiba ia menarik kembali telapak tangan kanannya dan menerobos maju kedepan…

Telapak tangan kirinya dengan membawa desingan angin pukulan yang kuat segera meluncur kedepan dengan jurus Sin-liong jut-im(naga sakti keluar dari awan), dasar memang licik, ternyata dibalik deruan angin puyuh yang sangat keras itu diam-diam ia sembunyikan sebuah serangan totokan secara keji mengancam dibawah ketiak Gak Lam kun. Serangan semacam ini sungguh merupakan Suatu serangan yang keji, ganas dan licik.

Gak Lam-kun sendiri bukan orang bodoh, ia telah menduga kalau si Rase berekor sembilan bakal melancarkan serangan dahsyat dikala ia menyambut pukulan yang tertuju ketubuh Si Tiong-pek, karenanya diam-diam hawa murninya sudah dikerahkan kedalam telapak tangan kanan, meskipun begitu mimpipun dia tak menyangka kalau dibalik serangan dahsyat tersebut si Rase berekor sembilan ini bakal menyembunyikan sebuah serangan mematikan lainnya.

Disaat telapak tangan kiri Kiu-wi-hou membacok kedepan, telapak tangan kanan Gak Lam-kun ditekan pula kedepan, tapi rupanya dia tak ingin telapak tangannya berbenturan dengan telapak tangan Rase berekor sembilan itu, ketika serangan sudah dilontarkan tiba- tiba ia menarik kembali telapak tangannya.

Si Rase berekor sembilan Kongsun Po sendiri diam-diampun merasa terkejut ketika telapak tangan kirinya baru saja dilancarkan, mendadak segulung tenaga pukulan yang maha dahsyat telah menggulung tiba, segera pikirnya dihati, “Ilmu silat yang dimiliki pemuda ini betul-betul tak boleh dipandang enteng, ia bisa menyembunyikan angin pukulan sedemikian dahsyatnya dalam telapak tangan tanpa diketahui orang, bahkan sewaktu dilontarkan kedepan kedahsyatannya mengerikan waah,..aku musti bertindak lebih waspada lagi…”

Baru ingatan tersebut melintas dalam benaknya serangan jari yang tersembunyi dibalik serangannya tadi telah bersarang dibahu Gak Lam kun yang dengan sigap telah berkelit kesamping dikala merasakan tibanya ancaman maut.

Kedengaran Gak Lam kun mendengus tertahan tulang diatas bahu kirinya terasa amat sakit seperti mau remuk, dengan sempoyongan mundur tiga langkah kebelakang.

Sekalipun begitu, si Rase berekor sembilan Kongsun po sendiripun tidak berhasil meloloskan diri dengan begitu saja, ketika angin pukulan dari Gak Lam kun yang maha dahsyat itu menyentuh telapak tangannya, segulung hawa dingin yang tajam terasa menyengat badan menembusi nadinya dan ia langsunglah kebelakang.

Tak terlukiskan rasa kaget dan ngeri yang mencekam perasaan Kongsun po ketika itu, cepat-cepat ia berjumpalitan beberapa tombak kebelakang…

Untung ia menghindar dengan cepat sehingga luka yang lebih parah bisa dihindari, kendatipun demikian isi perut Kongsun Po toh mengalami juga goncangan yang sangat keras, jelas ia sudah menderita luka ringan.

Adegan demi adegan dahsyat yang berlangsung secara beruntun ini membuat orang- orang yang hadir berdiri tertegun, semua orang membelalakkan matanya dengan wajah kaget, untuk sesaat tak seorangpun yang turun tangan lagi, masing-masing mengerahkan tenaga dalamnya untuk mengendalikan golakan darah didalam dadanya.

Pada saat itulah tiba-tiba dari dalam sebuah bangunan loteng disebelah barat berkumandang serentetan suara teguran yang dingin dan menyeramkan, “Bila kalian tidak segera meninggalkan tempat ini, hmm! Barangsiapa berani berdiam lebih lama lagi disini, akan kusuruh kalian mampus tanpa kuburan.” Sesungguhnya Giok-bin-sin ang(kakek sakti berwajah pualam) Say Khi-pit ada niat untuk melenyapkan Gak Lam-kun setelah menyaksikan ilmu silatnya yang sakti dan lihay itu daripada meninggalkan bibit bencana dikemudian hari.

Akan tetapi setelah mendengar suara peringatan tersebut, tak kuasa lagi ia menengadah dan tertawa terbahak-bahak.

“Haaahh…haaahhh…haaahhh…siapakah kau? Takabur amat perkataanmu itu, tidakkah kau takut bahwa ucapanmu itu akan ditertawakan oleh umat persilatan?”

Setelah menyampaikan suara peringatan tadi, suasana dalam bangunan rumah berloteng itu pulih kembali dalam keheningan, tak kedengaran sedikit suarapun.

Karena tiada yang menggubris teriakannya, Giok-bin sin-ang Say Khi pit pun tidak mendesak lebih lanjut, kembali ia berpaling kepada Gak Lam-kun kemudian tanyanya sambil tertawa, “Lote, bolehkah aku tahu kau berasal dari perguruan mana?”

Gak lam-kun hanya memicingkan sepasang matanya, ia membungkam dalam seribu bahasa.

Paras muka Say Khi-pit segera berobah hebat, katanya lagi dengan suara dalam, “Jikalau kau congkak dan tinggi hati selalu, jangan salahkan bila aku akan berbuat kurang ajar”

“Silahkan!” kata Gak Lam-kun hambar.

Bergetar juga perasaan Giok-bin-sin-ang Say Khi pit sebab dalam dunia persilatan dewasa ini belum pernah ada orang yang berani menantangnya secara terus terang macam begini, sekalipun dia adalah Oh Bu hong ketua perkumpulan elang baja.

Setelah tertegun beberapa saat, Say Khi pit mendengus dingin lalu katanya, “Besar amat bacotmu, dengan maksud baik aku bertanya kepadamu, tak kusangka kalau kau begini sombong dan tinggi hati, Hmm… tampaknya jika aku tidak memberi sedikit pelajaran kepadamu, kau masih belum tahu diluar langit masih ada langit, diatas manusia masih ada manusia yang lebih pintar”

Selesai berkata, tiba-tiba ia menerjang maju kedepan dan melancarkan sebuah bacokan.

Dengan cekatan Gak Lam-kun merendahkan tubuhnya kebawah, sekalipun pukulan itu berhasil dihindari, ia tidak melepaskan serangan balasan, sikapnya masih tenang dan seakan-akan tak pernah terjadi sesuatu apapun…

Betapa gusarnya Giok-bin sin-ang Say Khi pit menyaksikan kelatahan dan kesombongannya itu, pikirnya, “Betapa sombongnya orang ini, bila tak kuberi sedikit pelajaran kepadanya pasti dianggapnya bahwa dia paling hebat dan didunia ini cuma ada dia seorang yang pintar dan hebat”

Hawa murninya diam-diam dihimpun menjadi satu, lalu dengan satu dorongan telapak tangan kanan ia lepaskan serangan tersebut. Gak Lam kun mengebaskan telapak tangan kanannya, tanpa menimbulkan sedikit suarapun ia sambut datangnya ancaman tersebut.

Padahal didalam melancarkan serangannya tadi, Say Khi pit telah mengerahkan tenaga dalamnya sebesar delapan bagian, kekuatan angin pukulannya cukup untuk memukul hancur batu cadas.

Dalam perkiraannya semula, kendatipun serangan tersebut belum tentu bisa menghajar Gak Lam-kun sehingga terluka parah, paling sedikit kuda-kudanya pasti akan tergempur dan tubuhnya akan mundur beberapa langkah dengan sempoyongan.

Siapa tahu apa yang kemudian terjadi ternyata diluar dugaan Say Khi pit, setelah menyambut serangan itu tubuh Gak Lam-kun masih tetap tegak bagaikan bukit Tay-san, jangankan bergerak mundur, bergerak sedikitpun tidak…

Sementara itu secara tiba-tiba timbul segulung angin pukulan yang tajam langsung menghantam kedadanya.

Say Khi-pit tertegun, sepasang ujung bajunya dikebaskan untuk memunahkan datangnya ancaman tersebut.

Pada saat itulah tiba-tiba Gak Lam-kun menerjang maju kedepan, telapak tangan dan kakinya melancarkan serangan bersama, dalam waktu singkat lima buah pukulan dilepaskan.

Kelima jurus serangannya bukan saja dilancarkan dengan kecepatan tinggi, bahkan jurus serangannya aneh dan tenaganya dahsyat sedikit kurang waspada seketika Giok-bin- sin-ang Say Khi-pit terdesak mundur sejauh tiga langkah.

Diantara tujuh belas orang jago tangguh yang mengerubuti Tok-liong Cuncu dibukit Yan-po gan belasan tahun berselang, Giok-bin-sin-ang Say Khi-pit merupakan jago tangguh keempat.

Bukan saja ilmu silatnya sangat tinggi, diapun terhitung jago nomor satu dalam dunia persilatan dewasa ini.

Belasan tahun berselang ia sudah lihay apalagi belasan tahun kemudian, sudah barang tentu kemajuan yang dicapainya dalam ilmu silat sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Siapa menyangka dalam kemunculannya kembali dalam dunia persilatan dia harus berjumpa dengan musuh setangguh ini.

Selama hidup belum pernah ia menerima penghinaan dan rasa malu seperti yang dialaminya sekarang, kontan saja hawa amarahnya berkobar sambil mendengus dingin telapak tangannya diayun kedepan melancarkan sebuah pukulan dahsyat.

Dalam waktu singkat bayangan telapak tangan menyelimuti angkasa, segulung angin pukulan yang kuat dan berat tiba berlapis-lapis.

Dari catatan ‘Ciu jin-liok’ yakni catatan yang berisi keterangan tentang musuh-musuh besarnya. Gak Lam kun telah mendapat tahu bahwa Say Khi-pit merupakan jago keempat diantara tujuh jago lihay lainnya, dengan dasar keterangan itu tentu saja ia tak berani  bertarung secara gegabah, semua serangan-serangannya dilancarkan dengan aneh dan sakti bahkan beberapa gebrakan kemudian ia telah berhasil membendung semua serangan tangguh dari Giok bin sin ang.

Pertarungan yang berlangsung ini sungguh merupakan suatu pertarungan indah yang jarang ditemui dalam dunia persilatan, hal ini membuat Si Tiong pek yang menyaksikan kejadian itu merasa terkejut bercampur tercekat.

Ia tak mengira kelihayan Gak Lam-kun ternyata jauh diluar dugaannya semula, ia lebih- lebih tak menyangka dengan usia Gak Lam kun yang beberapa tahun lebih muda darinya ternyata memiliki ilmu silat sedemikian sempurna.

Untuk sesaat ia menjadi getun sendiri, bahkan makin dilihat rasa iri dan dengkinya semakin menghebat.

Ketika serangan berantai yang dilancarkan Giok bin-Sin-ang Say Khi pit berhasil dibendung semua oleh Gak Lam-kun, hatinya merasa kaget dan marah sambil membentak keras sekali lagi dia menyerbu kedepan sambil melancarkan serangan.

Semua bacokan telapak tangannya dan totokan jari tangannya tertuju pada jalan darah kematian disekujur badan Gak Lam-kun, bukan saja serangan itu amat dahsyat dan luar biasa, bahkan datangnya berantai bagaikan gulungan ombak yang saling berkejaran.

Gak Lam kun mengernyitkan sepasang alis matanya, dibawah serangan dan desakan Say Khi-pit yang bertubi-tubi, mendadak ia gunakan jurus serangan yang aneh dan sakti untuk membacok urat nadi ditubuh lawan.

Dengan terjadinya ancaman tersebut, maka secara tiba-tiba saja semua serangan ganas dari Giok bin-sin ang Say Khi-pit mengalami kemacetan total, bukan saja ia tak mampu melukai musuhnya bahkan oleh ilmu bacokan nadi yang dipakai Gak Lam kun seluruh kepandaian silatnya tak mampu dikembangkan kembali.

Sementara itu setelah mengatur pernapasan sekian lama, si Rase berekor sembilan Kongsun po telah berhasil menenangkan kembali golakan hawa darah dalam dadanya betapa terkesiapnya dia setelah menyaksikan pertarungan sengit antara Say Khi pit melawan Gak Lam kun, pikirnya kemudian dengan hati kebat-kebit, “Sepintas lalu orang ini tampaknya baru berusia dua puluh tahunan, tak nyana kalau kepandaian silatnya telah mencapai taraf setinggi ini bila ia diberi kesempatan untuk hidup sepuluh tahun lagi entah bagaimana jadinya nanti? Aaai…kenapa tidak kugunakan kesempatan yang sangat baik ini untuk bekerja sama dengan Say Khi-pit dan melenyapkannya dari muka bumi? Lebih baik bersusah payah sekarang, daripada menjadi bibit bencana yang besar buatku dikemudian hari…”

Berpikir sampai disitu, nafsu membunuh dihati Kongsun Po segera berkobar kembali, katanya sambil tertawa kering, “Say loji, bocah keparat ini terlalu hebat, mari kubantu untuk menaklukannya.”

Begitu ucapan diutarakan secepat sambaran kilat Kongsun Po menerjang maju kedepan dan melepaskan serangkaian pukulan dan tiga kali tendangan kilat, bukan saja gerakannya penuh bertenaga bahkan jurus-jurus serangan yang digunakan semuanya merupakan serangan yang ganas dan mengerikan hati. Sesungguhnya semenjak tadi Giok bin sin ang Say Khi-pit memang mempunyai ingatan tersebut maka dia cepat-cepat menarik napas panjang, kemudian sepasang telapak tangannya melancarkan serangan-serangan untuk mengimbangi kerja samanya dengan si Rase berekor sembilan.

Kendatipun Gak Lam-kun berilmu tinggi, tapi dibawah serangan berantai dari dua orang tokoh kelas satu yang amat lihay itu, terdesak juga dia sehingga harus mundur sejauh empat lima langkah dari kedudukannya semula.

Ditengah sengitnya pertarungan yang sedang berlangsung pada kegelapan menjelang fajar tiba-tiba dari dalam bangunan loteng itu berkumandang suara suitan aneh yang panjang tapi rendah dan berat. Suara itu sangat aneh dan seakan-akan membawa daya pengaruh iblis yang sanggup membetot sukma orang.

Bersamaan dengan berkumandangnya suara suitan aneh itu, mendadak dari balik semak belukar disekitar gelanggang itu berkumandang suara desisan yang ramai.

Dengan terkejut Si Tiong pek berpaling kearah mana berasalnya suara itu, tiba-tiba segulung bau amis berhembus lewat, menyusul kemudian muncullah beberapa ekor ular beracun yang bersisik emas dari balik semak belukar.

Ular-ular beracun yang menjijikkan sekali tampangnya itu dengan sigap dan sangat terlatih langsung menyerbu kedalam gelanggang pertarungan.

Sementara itu Gak Lam-kun yang berada dalam kancah pertarungan, kendatipun ikut mendengar suara suitan aneh tersebut akan tetapi berada dalam desakan dua orang musuh besarnya yang datang secara bertubi-tubi, meluap juga hawa amarahnya. Ia tak sempat untuk memikirkan persoalan lain lagi, sambil membentak keras sebuah pukulan dahsyat dilancarkan kearah depannya…

Dengan penuh kegusaran kakek sakti berwajah pualam Say Khi-pit mendengus dingin, ia melancarkan pula sebuah pukulan dahsyat untuk menyambut datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan keras.

“Blaaang..!” dikala dua gulung angin pukulan saling bertemu satu sama lainnya, terjadilah suatu ledakan dahsyat yang memekikkan telinga, akan tetapi justru karena itu gerak maju kedua belah pihakpun menjadi tertahan hingga jauh lebih lambat.

Gak Lam-kun tidak berhenti sampai disitu saja telapak tangan kirinya kembali melancarkan sebuah pukulan untuk menghantam kedada lawan, sementara tangan kanannya berputar mencengkeram urat nadi diatas pergelangan tangan Say Khi-pit.

Sesudah berlangsungnya adu kekuatan secara kekerasan tadi, Say Khi-pit merasakan isi perutnya tergetar keras, meskipun diwajahnya ia masih dapat mempertahankan ketenangannya seakan-akan tak pernah terjadi suatu kejadianpun, padahal isi perutnya sudah tergoncang keras, bukan saja hawa darah sudah bergolak keras, diapun sudah tak sanggup lagi untuk menyambut serangan lawan dengan kekerasan.

Oleh sebab itu, dikala serangan dari Gak Lam-kun yang maha dahsyat itu meluncur datang dengan cepat-cepat dia melompat mundur kebelakang. Gagal dengan serangannya yang pertama, Gak Lam kun mengangkat kaki kirinya dan menyusul kedepan.

Pada saat itulah si Rase berekor sembilan Kongsun Po membentak keras, dua gulung angin pukulan yang sangat kuat segera menggulung kedepan.

Gak Lam-kun tertawa dingin, ia merangkap sepasang telapak tangannya kedepan dada, setelah berputar satu lingkaran ditolaknya serangan tersebut kearah dada Kiu-wi-hou.

Sepanjang karirnya sebagai jagoan dalam dunia persilatan, sudah banyak jago lihay yang pernah ia temui belum pernah ia saksikan pukulan seaneh serangan yang dilancarkan Gak Lam-kun ini.

Buru-buru ia menarik napas panjang dan menekan tubuhnya yang sedang menyerbu kedepan itu sehingga merosot kebawah, lalu sepasang telapak tangannya yang penuh berisikan tenaga pukulan itu pada saat yang hampir bersamaan dilancarkannya kedepan, sementara Giok-bin-sin ang Say Khi-pit yang berada disebelah kanan ikut pula menyerbu kedepan…

Gak Lam-kun mendengus dingin, dengan jurus Giok liong hun-sim (naga kemala memecah perhatian) tiba-tiba sepasang telapak tangannya direntangkan kesamping, tangan kirinya digunakan untuk menangkis serangan dari Say Khi-pit, sedang telapak tangan kanannya bagaikan sambaran kilat cepatnya menghantam kedada Rase berekor sembilan.

Perubahan jurus serangan ini sangat diluar dugaan orang, lagi pula datangnya ancaman sedemikian cepatnya, peluh dingin segera membasahi sekujur badan Kongsun Po saking kagetnya.

Bagaimanapun juga dia adalah seorang rase tua yang sudah berpengalaman luas dalam menghadapi musuh, sekalipun peluh dingin telah membasahi tubuhnya karena kaget, gerak geriknya sama sekali tidak menjadi kalut, ia menarik napas panjang kemudian menyurut mundur kebelakang.

Waktu itu api dendam dan kebencian sedang membara dalam hati Gak Lam-kun, tentu saja ia tak sudi membiarkan musuhnya kabur dengan begitu saja dari cengkeramannya, ia tahu diantara ketujuh orang musuh besarnya Jit-poh-toan-hun (tujuh langkah pemutus nyawa) Kwik To dan Tang-hay-coa-siu (kakek ular dari lautan timur) Ou Yong-hu telah mengetahui asal usulnya yang sesungguhnya.

Ia cukup mengerti, apabila ia membiarkan mereka semua bersatu padu maka niscaya ia tak akan sanggup untuk menghadapi mereka sekaligus.

Oleh sebab itulah bagaimanapun juga dua orang musuh besar yang sedang dihadapinya ini harus dibinasakan dibawah telapak tangannya, daripada memberikan mereka pulang gunung dan meninggalkan bibit bencana kemudian hari.

Berpikir sampai disitu Gak Lam-kun segera menghimpun hawa sakti Tok-liong-ci jiau (cakar jari naga beracunnya kedalam telapak tangan…

Pada saat tenaga sakti yang maha dahsyat itu siap dilancarkan tiba-tiba terdengar Si Tiong pek membentak keras, “Ular beracun!!” Berbareng dengan teriakan itu, Gak Lam-kun merasa tumit kirinya amat sakit, ketika ia mencoba untuk memeriksanya maka tampaklah seekor ular beracun yang berbadan bintik- bintik merah sedang melingkar diatas kakinya erat-erat.

Tak terkira rasa kaget dan terkesiap Gak Lam-kun menghadapi kejadian tersebut, cepat kelima jari tangan kanannya disapu kebawah.

Termakan oleh pukulan yang sangat dahsyat itu kontan saja ular beracun yang menggigit tumitnya itu hancur berkeping-keping, tapi Gak Lam-kun keburu merasakan tumitnya menjadi panas seperti dibakar dengan api, dengan terkejut ia segera, menghimpun tenaga dalamnya untuk mendesak keluar racun ular tersebut.

Pekikan nyaring yang amat tajam dan tak sedap didengar tadi kembali berkumandang datang dari kejauhan.

“Sreeet..! Sreeet..!” bunyi desisan aneh berkumandang dari mana-mana, lalu tampaklah beratus-ratus ekor ular berbisa bermunculan dari balik semak belukar disekelilingnya, ular- ular tersebut sambil menjulurkan lidahnya yang merah membara, secara berpencar mendekati tubuh Si Tiong pek, Say Khi-pit, Kongsun Po dan Gak Lam-kun.

Gak Lam-kun marah sekali menyaksikan ancaman itu, sepasangtelapak tangannya dibacok kedepan berulang kali, gulungan angin puyuh yang disertai dengan batu dan kerikil segera menggulung kemuka serta membinasakan beberapa ekor ular beracun.

Pada saat yang hampir bersamaan, Say Khi-pit serta Kongsun po telah melancarkan juga pukulan-pukulan udara kosong untuk membinasakan ular-ular beracun yang menyerbu kearah mereka.

Tapi sayang ular-ular beracun itu sangat banyak Jumlahnya, apalagi dibawah komando suara lengkingan tajam yang sangat aneh itu, mereka bermunculan dari balik semak belukar disekitar tempat itu dan menyerbu kearah musuh-musuhnya secara ganas dan mengerikan.

Menyaksikan kejadian itu, si Rase berekor sembilan Kongsun po tertawa kering kemudian katanya, “Say loji, hari ini secara beruntun kita harus menghadapi beberapa kejadian aneh, benar-benar sedang sial!”

Tentu saja yang dimaksudkan sebagai beberapa persoalan aneh adalah masalah ilmu silat yang dimiliki Gak Lam-kun serta penyerbuan oleh ular beracun atas diri mereka berempat.

Kakek sakti berwajah pualam Say Khi-pit berkata, “Hei Rase tua, aku dengar Si Kakek ular dari lautan Timur adalah seorang ahli dalam menangkap ular apabila hari ini Ou loji juga berada disini, ingin kusaksikan dengan cara apakah dia akan menangkap gerombolan ular-ular beracun ini”

Rase berekor sembilan Kongsun po tertawa dingin.

“Sekalipun Ou Yong-hu terhitung seorang ahli dalam menangkap ular, tapi bila dibandingkan dengan orang ini, hmm…dia masih ketinggalan jauh sekali coba dengarkan irama musik yang mengendalikan gerakan maju ular-ular beracun itu, sungguh hebat dan mengagumkan coba terka siapakah orang itu?”

“Haaahhh…haaahhh…haaaahh…rase tua masa kau tahu siapakah pawang ular itu?” “Say loji, kau pernah mendengar kalau dari See Thian san terdapat tiga orang manusia

latah? Nah salah satu diantaranya adalah See hi Tong-seng malaikat racun dari See-hi Lo Kay seng…”

Sementara pembicaraan masih berlangsung gerombolan ular-ular beracun itu sudah berada beberapa kaki saja dihadapan kedua orang itu, terpaksa mereka harus mengayunkan telapak tangan masing-masing untuk menghajar ular-ular beracun itu.

Tenaga dalam yang dimiliki Gak Lam-kun cukup sempurna, kendatipun ia kena digigit oleh ular beracun itu, namun pukulan-pukulan yang dihasilkan dari sepasang telapak tangannya masih mantap dan penuh bertenaga dahsyat, ular-ular beracun yang berada disekitar tiga kaki darinya tak seekorpun berhasil meloloskan diri dalam keadaan selamat.

Si Tiong-pek paling menggenaskan keadaannya, setelah isi perutnya menderita luka yang cukup parah, ia telah kehilangan seluruh kekuatan hawa murninya, dikala ular-ular beracun itu menyerbu tiba, dia cuma bisa berkelit kesana kemari secara gelagapan, tapi sayang ular-ular beracun yang menyerbu datang terlampau banyak jumlahnya, tak selang beberapa saat kemudian sekeliling tubuhnya telah dipenuhi oleh ular-ular beracun yang ganas itu.

Tiba-tiba muncul seekor ular kecil berwarna hitam, sambil mendesis aneh ular itu melompat keatas secepat kilat menggigit lengan kanan Si Tiong pek.

“Aduuuh..!” saking sakit dan kagetnya, pemuda itu menjerit tertahan lalu jatuh terjerembab diatas tanah.

Gak Lam-kun yang menyaksikan kejadian itu dengan cepat melayang datang, ujung bajunya dikebaskan berulangkali, seketika itu juga berpuluh-puluh ekor ular beracun yang sedang menyerbu ketubuh Si Tiong pek berhasil dibinasakan.

Sungguh tak terlukiskan rasa kaget dan ngeri yang mencekam perasaan Si Tiong pek ketika itu buru-buru dia merangkak bangun.

Ular kecil berwarna hitam yang cuma beberapa depa panjangnya itu masih menggigit lengan kanannya kencang-kencang Gak Lam kun bergerak cepat, dengan jari tengah dan jari telunjuk tangan kirinya dia jepit ular hitam itu lalu ditarik hingga terlepas dari gigitan, kemudian setelah digencet sampai mati, bangkai ular itu dibuangnya jauh-jauh dari sana…

“Saudara Si cepat kerahkan hawa murnimu untuk mencegah menjalarnya sari racun tersebut!” serunya.

Si Tiong pek menghela napas panjang.

“Aaaaai…luka yang kuderita sudah terlampau parah, aku tak mampu untuk mengerahkan tenaga lagi, apalagi setelah digigit ular beracun sekarang, sudah pasti aku bakal mampus. Saudara Gak, cepat tinggalkan tempat ini, kau tak usah menggubris diriku lagi” Gak Lam-kun mengerutkan dahinya mendengar perkataan itu, katanya, “Saudara Si, apabila kau cepat tinggalkan tempat ini dan berhasil menemukan Ou Yong hu tham cu dari perkumpulanmu itu, mungkin jiwamu masih dapat diselamatkan, akupun sudah digigit oleh ular beracun, siapa tahu kalau sebentar lagi bakal mampus pula diujung mulut ular-ular beracun itu?”

Sementara pembicaraan masih berlangsung, Gak Lam-kun telah mengerahkan tenaga dalamnya untuk melancarkan beberapa buah pukulan dahsyat untuk membinasakan lagi beberapa ekor ular beracun.

Si Tiong-pek tertawa terbahak-bahak, katanya, “Saudara Gak, kendatipun kita hanya berjumpa dalam sekali perjumpaan belaka, tampaknya antara kau dan aku memang mempunyai kecocokan, bila saudara Gak tidak keberatan, beruntunglah aku bila saudara Gak bersedia mengangkat saudara denganku. Sekalipun kita tidak dilahirkan hari yang sama, aku bersedia mati pada waktu yang bebarengan, sayang keadaanku sekarang sudah amat payah, sekalipun berbasil menemukan Ou thamcu dan racun ular dalam tubuhku berhasil dipunahkan, luka parah yang kuderita dalam perutku belum tentu bisa disembuhkan maka dari itu saudara Gak, lebih baik kau saja yang tinggalkan tempat ini, temukan Ou thamcu dan mintalah kepadanya untuk mengobati luka racun ular itu…

Sungguh gagah dan perkasa sekali perkataan itu bukan saja bijaksana dan lagi pula amat tulus dan ikhlas, hal ini membuat Gak Lam kun merasa sangat terharu.

Tiba-tiba ia berpekik nyaring, sambil menahan rasa sakit dikakinya dia kerahkan hawa murninya sedemikian rupa untuk melepaskan pukulan-pukulan jauh lebih ganas, kontan berpuluh-puluh ekor ular beracun disekitar tempat itu berhasil dibinasakan.

Si Tiong-pek kembali dibikin tertegun oleh kejadian itu, mimpipun dia tak menyangka kalau tenaga dalam yang dimiliki Gak Lam-kun telah mencapai pada taraf setinggi itu.

Begitulah, setelah Gak Lam kun mengerahkan segenap tenaga dalamnya untuk membinasakan gerombolan ular beracun disekitar empat lima kaki disekeliling mereka, iapun berpaling seraya berkata, “Saudara Si, mari kubopong dirimu untuk meninggalkan tempat ini!”

Tanpa menunggu jawaban disambarnya tubuh Si Tiong pek, kemudian dibopong.

Sementara itu pekikan nyaring yang sangat aneh tadi mendadak semakin melengking tinggi, bukan saja tajam bahkan amat tajam bagaikan lolongan serigala atau jeritan setan- setan gentayangan.

Berbareng dengan munculnya suara itu, dari balik semak belukar disekitar tempat itu muncullah gerombolan demi gerombolan ular beracun yang menyerbu ketengah gelanggang bagaikan gulungan ombak dahsyat ditengah samudra.

Kali ini ular-ular beracun yang melancarkan serangan bukan ular-ular kecil saja diantaranya ada yang besar mengerikan seperti ular sanca, ada pula yang amat kecil bagaikan anak ular yang baru saja dilahirkan… Yaa, kejadian ini aneh tampaknya padahal dalam kenyataan hal ini kemungkinan besar bisa terjadi.

Rase berekor sembilan Kongsun po tertawa tergelak, katanya mendadak, “Say loji ular- ular beracun makin lama semakin banyak, kalau begini terus keadaannya, kendatipun tubuh kita terbuat dari baja murni akhirnya bakal mampus juga karena kehabisan tenaga”

“Hei, rase tua!” sahut Kakek sakti berwajah pualam Say Khi-pit, “aneh benar kedatangan ular-ular beracun itu, lebih baik kita cepat-cepat tinggalkan tempat ini”

Tiba-tiba paras muka rase berekor sembilan Kongsun po berubah hebat, katanya lagi, “Say loji, pernahkah kau baca kitab San hay keng yang membicarakan bahwa dijaman dahulu terdapat seekor naga aneh pemakan racun yang bisa mengeluarkan bunyi sangat aneh? Konon bunyi aneh itu bisa memancing datangnya beribu-ribu ekor ular beracun dan binatang beracun lainnya untuk menghampirinya”

Satu ingatan melintas dalam benak Giok-bin-sin-ang Say Khi-pit, seperti teringat akan sesuatu katanya, “Wahai rase tua, apakah ilmu yang digunakan See ih tok seng Lo Kay seng adalah ilmu Seh hun liong ing (irama naga pembetot sukma) yang sudah lenyap dari peredaran semenjak seribu tahun berselang?”

“Say loji, lebih baik cepat-cepat kita kabur dari sini, sekalipun tanpa memiliki ilmu irama naga pembetot sukma yang maha lihay itu, dewasa ini Si malaikat racun dari See-ih Lo Kay-seng telah memiliki irama suitan yang tampaknya mempunyai daya pengaruh iblis yang luar biasa. Yaa…bila dugaanku tidak keliru kemungkinan besar disetiap sudut bangunan gedung ini telah dipersiapkan berpuluh-puluh laksa ekor ular beracun yang siap melancarkan serangan setiap saat”

Baik Gak Lam-kun maupun Si Tiong-pek yang mendengar pembicaraan kedua orang itu, diam-diam merasa kaget dan terkesiap juga.

Sambil membopong tubuh Si Tiong-pek, Gak Lam-kun sudah mengundurkan diri sejauh beberapa kaki, mendadak dari balik semak belukar didepan sana terjadi kembali suara yang amat gaduh ternyata segerombolan ular beracun telah muncul kembali untuk melancarkan serbuan maut.

Menyaksikan itu, Gak Lam-kun menghela napas panjang, keluhnya, “Aaaai..tampaknya hari ini kita benar-benar akan tewas dimulut ular-ular beracun ini”

Kiranya pada waktu itu Gak Lam-kun telah merasakan betapa panas dan gatalnya sekitar mulut luka di tumitnya yang terpagut ular tadi, bukan saja telah membengkak satu kali lipat daripada keadaan semula, bahkan sedemikian kakunya sehingga tak medengar perintahnya lagi.