Lencana Pembunuh Naga Jilid 03

 

 Jilid 03


KETIKA dia masih melamun, Ji Kiu-liong sudah merintih lagi dengan penuh penderitaan, ‘Toako…Oh toako… sekujur urat nadiku terasa sakit, darah yang mengalir seperti mendidih tapi badanku kedinginan sekali, seperti terjatuh kedalam liang bawah tanah yang dingin dan membeku. Mendengar ucapan tersebut Gak Lam-kun menjerit kaget, secepat kilat tangan kirinya menotok delapan buah urat penting disekujur badan Ji Kiu-liong kemudian terakhir sepasang tangannya menempel diatas pusar anak muda itu…


Bagaimana hasilnya? Rasa kedinginan yang dialami Ji Kiu-liong sama sekali tidak berkurang, dia malah merintih kesakitan, sekujur badannya makin lama makin membeku membuat Gak Lam-kun makin gelisah dibuatnya.


Secara beruntun dia telah mencoba dengan berbagai cara pengobatan untuk mengurangi penderitaan dari saudaranya, namun hasilnya tetap nihil, pengobatannya tidak berhasil juga untuk mengurangi penderitaan yang dialami Ji Kiu-liong. bocah muda itu tetap kesakitan dan kedinginan bahkan selang sesaat kemudian ia malah jatuh tak sadarkan diri.


Gak Lam-kun yang memondong tubuhnya seakan-akan memondong sebuah batu pualam yang amat dingin.


Percuma Gak Lam-kun memiliki kepandaian silat yang amat tinggi, nyatanya ia tak berhasil mengetahui luka apakah yang diderita Ji Kiu-liong mendadak satu ingatan melintas dalam benaknya sambil memondong tubuh Ji Kiu-liong yang dingin kaku dia melompat ke arah sampan kecil yang masih terombang-ambing dipermainkan ombak itu.


Rupanya dia bermaksud membawa Ji Kiu-liong yang tak sadarkan diri untuk menyusul si anak muda berbaju putih itu..


Tapi belum jauh ia berjalan tiba-tiba diantara gulungan ombak nan hijau, dari puluhan ombak sebelah depan situ meluncur datang sebuah sampan berwarna merah, sampan itu meluncur datang ibaratnya anak panah yang terlepas dari busurnya dan sastrawan berbaju putih itu berdiri diujung geladak.


Tak selang sesaat kemudian, sampan itu sudah mendekati perahu yang ditumpangi Gak Lam-kun.


Ketika mencapai jarak empat kaki dari sampan itu, mendadak sampan merah itu putar haluan dan berhenti, sementara sastrawan berbaju putih yang berdiri diujurg perahu dengan setengah melirik Gak Lam-kun tiba-tiba tersenyum.


“Aliran hawa murni mengalir terbalik dalam delapan nadi penting, bila ditembuskan sampai Hian kwan, hawa itu akan balik kembali ke pusar!” ujarnya dari kejauhan dengan suara lembut.


Dibalik senyuman manisnya tersimpan beberapa bagian keanehan yang misterius, ia tampak demikian tampannya dibawah sorot cahaya matahari, membuat Gak Lam-kun sedikit tergetar juga hatinya setelah menyaksikan hal itu.


“Oooh…belum pernah kujumpai pemuda setampan dia didunia dewasa ini!”


Dalam pada itu, sastrawan berbaju putih itu sudah memutar kembali sampan merahnya sambil menjauh dari sana, sekejap kemudian bayangan tubuhnya sudah lenyap ditempat kejauhan sana. Menunggu bayangan orang sudah tak kelihatan lagi, Gak Lam-kun baru menghela napas ringan, dengan mengikuti cara pengobatan yang diterangkan pemuda berbaju putih tadi dia menyalurkan tenaga dalamnya kedalam kedelapan buah nadi penting ditubuh Ji Kiu-liong, kemudian sesudah berputar satu lingkaran hawa murni itu ditembuskan langsung ke Hian kwan kemudian digiring lagi masuk kedalam tiam-tam yang terletak dipusar.


Betul juga, setelah hawa panas mulai mengalir didalam pusar Ji Kiu-liong, hawa hangat itu segera membumbung ke atas dan menyusup kedalam keempat anggota badannya, dimana hawa dingin yang membekukan badan lambat laun terdesak keluar, paras muka yang pucat piaspun berubah jadi merah kembali, hanya saja ia belum sadarkan diri.


Untunglah tenaga dalam yang dimiliki Gak Lam-kun cukup sempurna, kendatipun cara pengobatan semacam itu paling banyak membutuhkan tenaga, tapi dengan tenaga murninya yang amat sempurna pemuda itu tidak nampak kecapaian kecuali diatas paras mukanya yang tampan semakin diliputi oleh kemurungan yang makin menebal.


Sebagaimana diketahui, kedatangan Gak Lam-kun kebukit Kun-san kali ini adalah demi mengemban tugas penting dari gurunya untuk menerima Lencana Pembunuh Naga yang dibawa oleh Soat-san Thian-li (perempuan langit dari bukit salju).


Pada mulanya, dia merasa tugas itu tidak akan terlalu banyak menemui kesulitan, tapi belakangan ini, orang-orang persilatan pada hakekatnya sudah dibuat mata gelap oleh kemustikaan Lencana Pembunuh Naga itu, malah jagoan yang berkumpul disekitar bukit Kun-san tak terhitung jumlahnya, hal ini mengakibatkan perasaannya menjadi bertambah berat.


Kendati demikian, dasar sebagai pemuda yang angkuh, ditambah lagi ia merasa bahwa ilmu silatnya tiada tandingan dikolong langit, sekalipun harus berhadapan dengan sekian banyak jago silat yang mengincar mustika itu, ia tak pandang sebelah matapun kepada mereka.


Tapi sekarang, dengan mata kepala sendiri ia menyaksikan betapa lihaynya sastrawan berbaju putih itu, meskipun ia belum menyaksikan kepandaian silatnya, tapi demontrasi berjalan diatas ombak yang dilakukan orang itu sudah cukup membuktikan bahwa ilmu meringankan tubuhnya sudah mencapai puncak kesempurnaan.


Dan sekarang, sastrawan tersebut memberitahukan pula bagaimana caranya mengobati luka kedinginan yang diderita saudaranya, dari kesemuanya itu semakin terbuktilah sudah bahwa ilmu silat yang dimiliki orang itu benar-benar luar biasa.


Demikianlah, kurang lebih seperminuman teh kemudian, Ji Kiu-liong telah sadar kembali dari pingsannya.


Dengan kepala tertunduk Gak Lam-kun memeriksa sebentar keadaan lukanya, lalu bertanya, “Adik Liong, apakah kau merasa ada sesuatu bagian tubuhmu yang kurang enak?”


Sambil menggigit bibir menahan gemasnya, Ji Kiu-liong segera berseru, “Toako, bila aku sampai berjumpa lagi dengan dayang itu, pasti akan kusuruh dia rasakan penderitaan yang jauh lebih hebat!” Baru saja ia menyelesaikan kata-katanya, mendadak dari arah belakang berkumandang suara bisikan lembut, “Saudara cilik, pukulan yang kau lancarkan tadi sudah cukup membuat dia menderita!”


Dengan terperanjat Gak Lam-kun berpaling ia lihat sampan merah yang, sudah berlalu itu entah sejak kapan sudah balik lagi, bahkan berlalu kurang lebih sepuluh kaki dibelakang sampannya.


Sekalipun selisih jarak antara kedua buah perahu itu masih jauh akan tetapi suara pembicaraan dari sastrawan si baju putih itu seakan-akan berkumandang disisi telinganya, dari sini semakin terbukti bahwa tenaga dalam yang dimiliki lawan memang benar-benar amat sempurna.


Agak tertegun Gak Lam-kun menyaksikan kesemuanya itu, sepasang matanya berkerenyit.


Sebelum dia sempat mengucapkan sesuatu Ji Kiu-liong sudah membentak lebih dulu, “Siapa kau? Darimana bisa tahu kalau pukulan yang kulancarkan itu sudah cukup membuat dayang tersebut menderita?”


Mendengar pertanyaan itu, si sastrawan berbaju putih itu tertawa berderai-derai. “Haaahhh…. haaahhh…. haaahhh…ilmu Sau-yang-tong-im sin-kang (ilmu jejaka hawa


panas)yang saudara cilik miliki memang luar biasa lihaynya, andaikata dia tidak melatih ilmu Soh-li ciat-im sin-kang (hawa dingin gadis perawan), niscaya jiwanya sudah kabur ke alam baka sejak tadi”


Sekali lagi Gak Lam-kun merasa terkejut sesudah mendengar nama Soh-li-ciat-im- sinkang tersebut, sebab dia tahu bahwa ilmu sakti itu merupakan kepandaian ampuh aliran Lam-hay, bukankah itu berarti pula bahwa kedua orang itu masih mempunyai hubungan dengan Lam-hay sinni?


Tertebak jitu ilmu kepandaian andalannya, untuk sesaat Ji Kiu-liong berdiri terbelalak dengan mulut melongo, dia tak mampu berkata-kata yang bisa dilakukan tak lebih hanya memandang ke arah Gak Lam-kun dengan sinar mata bodoh.


Gak Lam-kun sendiri setelah tertegun sesaat dia seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi sebelum kata-katanya meluncur keluar dengan suara yang nyaring sastrawan berbaju putih itu sudah berkata lebih jauh, “Duduk diatas sampan yang sempit hanya akan membiarkan tubuh basah oleh percikan ombak yang berhamburan, sungguh merusak suasana. Jika tidak keberatan, bagaimana kalau naik ke atas perahu kami?”


Terhadap kemunculannya yang secara tiba-tiba itu, Gak Lam-kun memang berhasrat untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut, maka mendengar tawaran tersebut tanpa berpikir panjang lagi dia berpaling ke arah tukang perahu itu sambil ulapkan tangannya.


“Hei tukang perahu!” serunya, “lebih baik kalian kembali dulu…”


Habis berkata, tiba-tiba Gak Lam-kun melompat kedepan dan melayang diatas permukaan telaga dengan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya yang sempurna, dalam beberapa tindakan saja tahu-tahu ia sudah mencapai diatas sampan merah. Ji Kiu-liong terpaksa harus cepat-cepat mendayung sampan kecilnya untuk menyusul kedepan.


Tampaknya demontrasi ilmu meringankan tubuh yang dilakukan Gak Lam-kun itu mendatangkan rasa terkejut pula dihati sastrawan berbaju putih itu, sebab pada hakekatnya gerakan yang dilakukan pemuda itu jauh berbeda dengan ilmu meringankan tubuh pada umumnya, dan kepandaian tersebut sedikitpun tidak berada dibawah kepandaian berjalan diair dari sastrawan berbaju putih tadi.


Padahal untuk menyeberangi permukaan telaga seluas beberapa kaki itu, orang harus memiliki hawa murni yang betul-betul sempurna, dan berarti pula bahwa tenaga dalam yang dimiliki Gak Lam-kun betul-betul sudah amat sempurna.


Ji Kiu-liong melompat naik ke atas sampan disusul kemudian oleh Gak Lam-kun, begitu sepasang kakinya menginjak diatas geladak, bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya, sampan itu bergerak kedepan membelah ombak.


“Hebat benar ilmu silat yang kau miliki” kata sastrawan berbaju putih itu sambil tertawa, “hari ini aku merasa beruntung sekali dapat naik sampan bersama-samamu”


Gak Lam-kun tersenyum.


“Tidak berani, tidak berani, justru akulah yang merasa beruntung dapat berkenalan dengan jago tangguh selincah harimau segesit naga macam dirimu!”


Menggunakan kesempatan dikala pembicaraan masih berlangsung, Gak Lam-kun mengamati sastrawan berbaju putih yang berada dihadapannya itu.


Pemuda itu memang menarik hati, alis matanya ibarat semut beriring, mukanya seperti buah Tho yang masak, kulitnya halus dan putih seperti sakura ditengah salju, demikian menawannya hingga sukar dilukiskan dengan kata-kata.


Ada sesuatu yang istimewa diantara keagungannya itu, yakni dia mempunyai sepasang mata setajam sembilu, membuat siapapun tak berani menengoknya lebih jauh.


Sastrawan berbaju putih itu supel sekali, dia tertawa tergelak dan berkata, “Saudara, pertemuan ditelaga Gak-ciu terhitung juga suatu jodoh yang tak bisa dibantah, untuk mempererat hubungan, bolehkah tahu siapa namamu?”


“Aku bernama Gak Lam-kun, dan saudara?”


Sastrawan berbaju putih itu tersenyum, biji matanya berputar sebentar kemudian baru menjawab, “Aku bernama Bwe Li-pek!”


Gak Lam-kun mengerutkan dahinya, tapi dengan cepat dia tertawa lagi.


“Saudara Bwe, namamu memang bagus sebagus orangnya, suatu perpaduan yang serasi”


Sastrawan berbaju putih itu tertawa ewa, dia tidak menjawab malah mengalihkan sorot matanya ketempat kejauhan, memandang ombak telaga yang saling berkejaran, lambat- laun timbul suatu kemasgulan diantara kerutan alis matanya. Gak Lam-kun tertegun, sekalipun dia cerdik toh dibuat kebingungan juga oleh sikap rekan barunya jtu.


Akhirnya setelah berpikir sebentar, dengan nada menyelidik dia bertanya kembali, “Bwe-heng, bolehkah kutahu, jauh-jauh dari Lam hay kau datang kedaratan Tionggoan, sebenarnya ada urusan apa?”


Bwe Li-pek berpaling, ditatapnya wajah Gak Lam-kun dengan sepasang biji matanya yang bening seperti kaca lalu lambat-lambat jawabnya lirih, “Darimana kau bisa tahu kalau aku datang dari Lam-hay? Aaai… aku datang kemari untuk mencari seseorang!


Berdebar jantung Gak Lam-kun ketika sorot matanya saling membentur dengan sinar mata orang, dia merasa betapa menawannya sorot mata orang itu, demikian keren dan berwibawanya sehingga mirip sekali dengan sepasang biji mata Ji Cin-peng, kekasihnya yang telah tiada.


Terbayang kembali akan kekasihnya yang telah tiada, kesedihan, kemurungan dan kepedihan tiba-tiba saja menyelimuti seluruh perasaannya, ia menjadi murung dan masgul, ditatapnya permukaan telaga dengan termangu dan terpesona…


“Yaa, betapa sedih dan murungnya pemuda itu!


Helaan napas panjang dari Bwe Li-pek menyayat keheningan disekeliling tempat itu, ketika Gak Lam-kun berpaling kembali sastrawan itu sudah beranjak, pelan-pelan


dia berjalan menuju keujung perahu, berdiri membelakanginya dan memandang nun jauh disana dengan termangu. Tiada suara yang terdengar, kecuali kibaran ujung bajunya yang terhembus angin.


Tiba-tiba satu ingatan kembali melintas dalam benak Gak Lam-kun, dia merasa potongan badan sastrawan berbaju putih itu terlalu mirip dengan punggung Ji Cin peng.


Sang surya sudah condong diujung langit sebelah barat, tak lama kemudian senja pun menjelang tiba.


Sampan itu bergerak makin lama semakin lambat, ternyata setelah melaju satu putaran, kini mereka sudah berada didermaga sebelah timur kota Gak-ciu.


Bwe-Li-pek berpaling, kemudian katanya sambil tertawa, “Sisa sinar senja yang terbias dari sang surya sungguh tampak indah menawan, sayang malam yang gelap sebentar lagi akan menjelang tiba. Saudara Gak terpaksa siaute harus berpisah denganmu”


Waktu itu Gak Lam-kun sudah tahu kalau sastrawan yang tampaknya lemah gemulai itu pada hakekatnya adalah seorang tokoh persilatan yang berilmu tinggi.


Padahal Gak Lam-kun juga orangnya angkuh, buktinya terhadap Han Nio nio yang cantik jelita dan mempesona hati, serta Si-Tiong-pek dari Tiat eng-pang yang hangat dalam pergaulan, dia tidak menaruh kesan apa-apa. Entah mengapa, sikapnya terhadap Bwe Li pek ternyata lain daripada yang lain, ia merasa kagum dan berkesan sekali, karena itu ketika sastrawan tersebut hendak mohon diri, dia jadi tertegun.


“Saudara Bwe, apakah kita harus berpisah dengan begini saja?” serunya setengah berbisik.


Bwe-Li-pek tertawa.


“Orang yang terlampau berkesan akhirnya cuma mendapatkan kekecewaan, apakah tidak seharusnya aku berpisah dengan dirimu?”


Gak Lam-kun tertegun, ia tak dapat menangkap arti lain dari perkataan itu. “Meskipun kita baru berjumpa muka” demikian katanya kemudian “tapi aku sudah


merasa cocok dengan dirimu, saudara Bwe, apa salahnya kalau kita mengangkat cawan untuk menggalang persahabatan yang jauh lebih akrab lagi?”


Bwe Li-pek tidak menjawab, sebaliknya malah bergumam seorang diri, “Arak yang mengalir dalam usus kemurungan, paling gampang menimbulkan air mata kenangan daripada bertemu lebih baik tak bertemu, hubungan yang akrab hanya menimbulkan kesan mendalam, aai..! Kalau sudah tahu bakal berpisah kenapa harus diadakan suatu pertemuan?”


Ucapan itu amat lirih, lembut bahkan hampir tak kedengaran, bukan ditujukan untuk diri sendiri, seakan-akan dia memang sengaja mengucapkan kata-kata tersebut khusus ditujukan buat permukaan telaga…


Gak Lam-kun segera menghela napas panjang.


“Aaa! Saudara Bwe siaute tahu bahwa aku ini orang yang tak becus, aku memang tidak pantas menggalang persahabatan dengan orang pandai seperti saudara Bwe ini. Yaa kalau memang begitu terpaksa siaute harus…”


Tiba-tiba Bwe Li-pek berpaling helaan napasnya yang pedih memotong perkataan Gak Lam-kun lebih jauh. Dari balik matanya memancar keluar sinar kelembutan yang penuh kemesraan, bukan sinar mata setajam sembilu yang menggidikkan hati melainkan sorot mata yang murung, sorot mata yang sedih, kehangatan yang tak terkirakan bagaikan dalamnya samudra bagaikan bersihnya sinar rembulan.


Tertegun Gak Lam-kun ketika sinar matanya bertemu dengan sorot mata Bwe Li-pek dia berdiri termangu lupa untuk kata-kata selanjutnya yang akan diutarakan…


Bwe Li-pek tersenyum kembali dia berkata, “Bila engkau bersedia menerima kemurungan lebih mendalam pada perpisahan nanti, baiklah malam ini mari kita minum arak ditengah telaga sambil menikmati indahnya bulan purnama”


Baru selesai dia berkata, tiba-tiba dari balik ruang perahu berkumandang suara sapaan yang merdu “Bwe siocia…” Seorang nona kecil berbaju merah melompat keluar dari dalam ruangan ketika melihat kehadiran Gak Lam-kun dan Ji Kiu-liong dalam perahu tersebut, tiba-tiba ia tahan kembali kata-katanya.


Dengan sepasang matanya yang jeli dia melotot sekejap ke arah Ji Kiu-liong, kemudian mendengus dingin.


“Hmm…! Bocah keparat, setelah puas mempermainkan aku, berani betul kau datangi perahu kami ini?”


Ji Kiu-liong tertawa dingin.


“Budak ingusan, kau belum puas, bagaimana kalau kita lanjutkan pertarungan lagi?” “Adik Liong, jangan kurangajar!” hardik Gak Lam-kun.


Sementara itu dipihak lain Bwe Li pek juga menegur nona kecil berbaju merah itu.


Karena ditegur, si nona baju merah itu menjulurkan lidahnya sambil membuat muka setan.


“Waduh rupanya Bwe…Bwe toako sudah saling berkenalan?” godanya.


Tiba-tiba Ji Kiu-liong berkata sambil tertawa ringan, “Nona, itu namanya kalau tidak berkelahi kita tak akan berkenalan, bila kau bersedia melupakan sakit hati, aku Ji Kiu-liong juga bersedia untuk mengikat tali persahabatan denganmu”


Nona kecil berbaju merah itu mendesis lirih.


“Huuuh…! Masa kau tidak tahu kalau antara lelaki dan perempuan itu ada batas- batasnya? Tak sudi aku Pek Siau-soh berkenalan dengan monyet kecil seperti kau”


Kena diserobot dengan kata-kata yang pedas dari nona tersebut, kontan saja air muka Ji Kiu-liong berubah menjadi merah padam, dengan tersipu-sipu dia tundukkan kepalanya rendah-rendah.


Untung Bwe Li-pek menengahi, sambil tertawa ringan dia berkata, “Saudara cilik, saudara Gak! Harap kalian jangan marah, adikku ini memang nakal, sifat kekanak- kanakannya belum hilang, jadi kalau kurang sopan yaa tolong dimaafkan!”


Gak Lam-kun gelengkan kepalanya sambil menghela napas.


“Dua orang bocah itu sama-sama lincahnya, sama-sama polosnya, aaai…..!Jarang dijumpai manusia-manusia seperti mereka”


Suara air telaga yang membelah kesamping mendadak terdengar dari belakang, ternyata sampan tersebut pelan-pelan kembali bergerak menuju ketengah telaga.


Sekarang Gak Lam-kun baru menaruh perhatian, rupanya kecuali Bwe Li-pek dan Pek Siau-soh, diatas sampan tersebut masih ada seorang lagi yakni si tukang perahu, rasa kejutnya bukan alang kepalang. Apa yang dia kejutkan? Ternyata sampan itu dapat bergerak cepat menerjang ombak dan meluncur bagaikan sambaran kilat tak lain tak bukan kesemuanya adalah berkat dayungan dari si tukang perahu atau perkataan lain, tenaga dalam yang dimiliki orang itu betul-betul mengerikan.


Dengan perasaan terkejut Gak Lam-kun memperhatikan tukang perahu itu sayang dia duduk membelakanginya kecuali bajunya yang berwarna abu-abu, ia tak dapat menyaksikan bagaimanakah raut wajahnya.


Orang itu duduk dengan wajah menghadap kebelakang sekalipun sedang mendayung dengan tangan sebelah, tampaknya tidak terlampau kepayahan, sudah jelas kalau orang itu tidak mempunyai ilmu silat yang lihay, tak mungkin hal itu bisa dilakukan.


“Saudara Gak! kata Bwe Li pek kemudian sambil tersenyum, maaf kalau kami tidak mempunyai persiapan yang cukup untuk menyambut kedatanganmu silahkan, silahkan, mari duduk lebih dulu diatas geladak…!”


Dia masuk kedalam ruang perahu dan mengambil sebuah permadani putih yang tebal, permadani itu diletakkan diatas geladak lalu Pek Siau-soh muncul dengan membawa sebuah keranjang bambu, dari dalam keranjang dia mengeluarkan delapan macam sayur, satu poci arak dan satu baskom penuh bakpao dingin.


“Saudara Gak” ujar Bwe Li-pek kemudian sambil tertawa, “diatas perahu tidak tersedia api, karena itu harap kau jangan mentertawakan jika kami hanya bisa menghidangkan sayur dingin dan arak dingin saja…”


Diangkatnya poci arak itu dan memenuhi cawan Gak Lam-kun serta Ji Kiu-liong, setelah itu dia penuhi pula cawan arak sendiri.


Perasaan Gak Lam-kun agak tergerak terutama ketika menyaksikan jari-jari tangan Bwe Li pek yang runcing, kulit badannya yang halus serta bau harum yang tersiar keluar dari tubuh sastrawan tersebut.


Tapi perasaan itu hanya melintas sebentar saja, karena waktu itu tiada kesempatan baginya untuk berpikir lebih jauh.


Bwe Li-pek mengangkat cawannya dan memberi hormat kepada rekannya, kemudian bersama Gak Lam-kun mereka teguk habis beberapa cawan arak.


Sambil memenuhi kembali cawan masing-masing, Bwe Li-pek berkata lagi sambil tertawa, “Selama hidup jarang kita bisa mabok beberapa kali saudara Gak! Apa salahnya kalau kita manfaatkan kesempatan ini untuk minum arak sampai sepuasnya?”


Demikianlah, dengan diliputi perasaan yang gembira dan penuh gelak tawa dalam waktu singkat mereka sudah menghabiskan puluhan cawan arak.


Bulan yang bulat dan memancarkan sinarnya yang bening benar-benar muncul dari permukaan telaga sebelah timur, sinar yang lembut memancar keempat penjuru dan mendatangkan suasana yang romantis.


Bwe Li-pek berhenti minum arak, ujarnya sambil tertawa, “Ditengah malam yang kelam, ditengah telaga yang sunyi suasana begitu paling romantis dalam kehidupan seorang manusia. Saudara Gak! Bagaimana kalau kau nikmati sebuah permainan serulingku sebagai pelipur hati yang lara?”


Sambil tertawa Gak Lam-kun manggut-manggut.


Maka Bwe Li-pek masuk kedalam ruang perahu dan mengambil sebuah seruling kemala yang halus tapi panjang.


Seruling kemala itu putih bersih dan tiada cacad, ukiran naga dan burung hong yang menghiasi disekelilingnya tampak hidup dan indah, dalam sekilas pandangan saja Gak Lam-kun sudah tahu kalau seruling itu adalah sebuah seruling kemala yang tak ternilai harganya, kenyataan tersebut diam-diam mengejutkan hatinya.


Bwe-Li-pek dapat menyaksikan ketertegunan orang, dia tertawa ewa.


“Saudara Gak!” demikian ujarnya, “kendatipun seruling kemala ini mahal harganya, sayang selama ini sukar kujumpai orang yang benar-benar memahami irama seruling, sehingga tersia-sialah nilai tinggi seruling itu”


“Seruling mustika dapat bertemu dengan Bwe-heng, pada hakekatnya hal ini merupakan suatu perpaduan yang amat serasi,” kata Gak Lam-kun sambil tertawa “jadi aku rasa, seandainya seruling itu bisa merasakan dia pasti akan bersyukur atas pertemuan ini”


Bwe-Li-pek tertawa, dia tempelkan seruling itu disisi bibir dan berkata, “Bila kau dapat memahami irama serulingku itu baru benar-benar tidak menyia-nyiakan seruling ini”


Begitulah dia lantas meniup seruling kemala itu dan muncullah serentetan irama yang merdu merayu.


Pada mulanya irama seruling itu lembut dan datar, tapi lama-kelamaan irama tersebut kian bertambah tinggi, akhirnya irama lagunya begitu menyedihkan hati, membuat orang jadi sedih dan sangat menderita.


Sejak pertama kali mendengar permainan seruling itu, Gak Lam-kun sudah merasa hatinya pedih, apalagi setelah permainan seruling tersebut mencapai puncak kepedihan, pemuda itu merasa tenggorokannya menjadi tersumbat, hidungnya keluar ingusnya dan hampir saja airmatanya meleleh keluar.


Akhirnya kesadaran Gak Lam-kun hampir boleh dibilang sudah hilang sama sekali, seluruh pikiran maupun perasaannya telah terpengaruh oleh permainan seruling itu.


Mendadak…irama seruling berhenti dan permainan yang memedihkan hatipun ikut membuyar ditengah keheningan malam.


Gak Lam-kun menghela napas panjang katanya, “Irama lagu ini hebat sekali, aaai…!


Rasanya hanya dilangit saja dapat menjumpai permainan semacam ini, beruntunglah hari ini aku sempat menikmatinya”


Bwe Li-pek tertawa. “Saudara Gak toh mengerti soal irama seruling bukan? Bagaimana kalau memberi sedikit komentar atas permainanku tadi?” pintanya.


“Iramanya sangat membetot sukma, bagaikan hujan rintik ditengah malam yang sunyi, aaai…! Membuat orang beriba saja. Bagusnya memang bagus, cuma sayang lagunya bernadakan kesedihan, membuat orang menjadi terkenang kembali masa sedih dimasa lalu”


Bwe-Li-pek tertawa lagi.


“Permainan serulingku bisa mendapatkan sahabat sehati, tidak sia-sia jerih payah siaute pada malam ini”


Baru saja dia menyelesaikan kata-katanya, mendadak dari balik ketenangan yang mencekam telaga itu, berkumandang suara dentingan musik yang merdu dan nyaring, dentingan tersebut entah berasal dari alat musik apa, tapi setelah mendengar suara tersebut, tiba-tiba saja paras muka Bwe-Li pek berubah hebat.


Gak Lam-kun merasakan juga sesuatu yang aneh dia segera alihkan perhatiannya ke arah mana berasalnya suara itu.


Sebuah perahu naga yang berbentuk sangat aneh muncul dari permukaan telaga sebelah barat laut perahu itu, muncul tanpa menimbulkan sedikit suarapun, lalu dengan kecepatan yang sangat tinggi melesat lewat dalam jarak belasan tombak dari sampan cepat berwarna merah itu.


Ternyata suara dentingan musik yang nyaring itu berasal dari balik perahu aneh tersebut.


Dengan alis mata berkenyit Bwe Li-pek berbisik kepada Gak Lam-kun, “Saudara Gak, sebenarnya siaute merasa gembira sekali karena dapat menemani engkau bergadang sampai pagi, sayang aku telah menjumpai suatu peristiwa yang sama sekali diluar dugaanku, terpaksa aku harus mohon maaf dan minta diri lebih dulu. Nah, saudara Gak! Kuhadiahkan sebuah sampan kecil untukmu, silahkan engkau kembali sendiri kedermaga!”


Gak Lam-kun sendiri juga merasa keheranan atas terjadinya peristiwa itu, setelah tertegun sejenak, sambil merangkap tangannya memberi hormat dia berkata, “Kalau begitu, terima kasih banyak atas layanan saudara Bwe selama setengah malam ini, bolehkah aku tahu Bwe-heng berdiam dirumah penginapan yang mana dalam kota Gak- ciu? Bila ada waktu, aku pasti akan datang untuk menyambangi dirimu”


“Aku ibaratnya burung manyar yang terbang sendirian, tempat tinggalku tak tetap, ujung langit empat samudra adalah tempat kediamanku, apabila saudara Gak memang berniat sungguh-sungguh untuk menganggap siaute sebagai sahabatmu, maka tidak sepantasnya kalau engkau berterimakasih kepadaku”


“Semoga Thian yang maha adil bersedia memberi kesempatan, agar siaute dapat bersua kembali dengan dirimu” kata Gak Lam-kun seraya menjura.


Selesai memberi hormat. Gak Lam-kun dan Ji Kiu-liong bersama-sama melompat naik ke atas sampan kecil itu. Baru saja mereka berdiri tegak diatas sampan itu, dengan kecepatan luar biasa sampan merah yang ditumpangi Bwe-Li-pek itu sudah membelah ombak dan meluncur kedepan mengejar ke arah mana perginya perahu aneh berbentuk naga itu.


Dengan termangu-mangu Gak Lam-kun mengawasi sampan merah itu hingga lenyap dari pandangan, lama…lama sekali dia baru menghela napas panjang.


Tiba-tiba Ji Kiu-liong berbisik lirih, “Hei toako cepat lihat! Begitu banyak perahu yang bergerak menuju ke arah barat laut!”


Gak Lam-kun segera menengadah betul juga dari antara dua puluh tombak disamping mereka, berkumandang suara ombak yang memecah kesamping, disusul kemudian muncul sebuah perahu berbentuk elang raksasa bergerak menuju kebarat laut. Perahu itu tak lain adalah perahu yang ditumpangi Si Tiong pek bersama pasukan elang raksasanya, mengikuti pula enam-tujuh buah titik cahaya lampu, jelas ada tujuh buah perahu layar yang mengikuti jejak perahu pertama tadi, bergerak menuju kebarat-laut.


Kesemuanya itu segera menimbulkan kesan dalam benak Gak Lam-kun, dia merasa tentu ada hal-hal yang luar biasa sedang terjadi dibarat laut, satu ingatan dengan cepat melintas dalam benaknya.


“Adik Liong duduk yang baik” bisiknya kemudian, “kita akan menyusul dibelakang mereka mari kita tengok apa gerangan yang telah tejadi disana”


Setelah Ji Kiu-liong duduk, Gak Lam-kun mengambil dan mendayung sendiri sampan itu. Dengan cepat dan mantap sampan itu bergerak mengikuti dibelakang perahu yang didepannya itu.


“Toako” kata Ji Kiu-liong ditehgah jalan, “aku rasa Bwe Li-pek pasti adalah seorang tokoh persilatan yang berilmu tinggi, terutama laki-laki berbaju abu-abu yang mendayung perahu dengan tangan tunggal itu, kekuatan tangannya sungguh mengerikan sekali. Aku rasa seandainya dia tidak memiliki tenaga dalam yang amat sempurna, tak mungkin ia dapat mendayung perahu tersebut dengan cara yang istimewa begitu”


Gak Lam-kun mengangguk.


“Apa yang adik Liong terangkan memang tepat sekali, jika kita tinjau dari kemampuan si orang berbaju abu-abu itu mendayung perahunya, aku rasa tenaga dalam yang dimiliki orang itu tidak berada dibawah Bwe-Li-pek maupun aku. Cuma anehnya, kalau toh dia seorang jago persilatan yang berilmu tinggi, kenapa dia rela dirinya diperintah Oleh Bwe- Li-pek? Tidakkah kau rasakan bahwa kejadian ini aneh sekali?”


“Toako, padahal tujuanmu kebukit Kun-san adalah untuk menerima Lencana pembunuh naga, jikalau Bwe-Li-pek sendiri juga berniat dengan benda itu, waaah! Kita benar-benar mendapat seorang musuh yang amat tangguh sekali.”


Gak Lam-kun mendengus dingin.


“Sebetulnya ilmu silat yang kumiliki sekarang sudah tiada tandingannya lagi dalam dunia persilatan tapi setelah kejadian demi kejadian menimpa diriku aku baru tahu kalau diluar langit masih ada langit didalam dunia persilatan yang begitu luas, banyak jago-jago silat yang tak terhitung banyaknya. Yaa walaupun aku merasa bukan tandingan dari jago tangguh yang ada dalam dunia persilatan, akan tetapi akupun tidak akan membiarkan orang lain menghalang-halangi atau merusak perintah yang dibebankan suhu kepadaku. Aku tahu asal usul diri Bwe Li-pek memang mencurigakan, tetapi sebelum aku yakin kalau kedatangannya adalah untuk memusuhi kita, aku tak ingin menimbulkan pelbagai bentrokan atau perselisihan dengannya”


“Toako!” tiba tiba Ji Kiu-liong bertanya, menurut pendapatmu, mungkinkah Soat-san- thian-li(perempuan langit dari bukit salju) mengingkari janjinya dan tidak menghantarkan Lencana pembunuh naga itu ke bukit Ku-san?”


Gak Lam-kun menghela napas sedih.


“Aaa…! sebelum menghembuskan napasnya yang penghabisan, suhu pernah membicarakan soal janjinya dengan Soat-san-thiat li, meskipun penjelasannya ketika itu tidak terperinci, tapi menurut pendapatku antara suhu dengan Soat-san-thian-li tentu mempunyai suatu hubungan yang luar biasa, karena itu aku yakin kalau dia pasti datang memenuhi janji. Hari ini baru tanggal sembilan, berarti tinggal enam hari menjelang bulan Tiong-ciu tanggal lima belas. Menggunakan sedikit sisa waktu yang masih ada ini, kita harus selidiki baik-baik jago persilatan dari mana saja yang telah berdatangan dibukit Kun- san ini, dengan demikian kita bisa hindari segala hal yang tidak diinginkan”


“Hingga kini Soat-san-thian-li masih belum tahu kalau toakolah yang akan datang untuk menerima Lencana Pembunuh Naga itu, bagaimana caranya untuk menemukan toako?” kembali Ji Kiu-liong bertanya.


Gak Lam-kun tersenyum.


“Kau tak perlu kuatir adikku, irama Mi-tin-loan-hun-ci (Irama Sakti Pembingung Sukma) dari Thian-san-soat-li tiada keduanya didunia ini, dan didunia ini kecuali mendiang guruku, hanya aku seorang yang memahami inti sari dari irama sakti itu. Maka apabila dia mainkan irama tadi, maka dengan mudahnya aku akan menemukan sumber dari suara permainannya itu”


Sementara mereka masih bercakap-cakap! beberapa buah perahu besar yang bergerak dimuka sudah lenyap dibalik kegelapan.


Dengan sorot mata yang tajam, Gak Lam-kun mencoba untuk memeriksa keadaan disekeliling tempat itu, namun kecuali ombak yang berwarna keperak-perakan, tiada suatupun yang kelihatan, termasuk jejak dari rombongan perahu besar tadi.


Gak Lam-kun keheranan dengan perasaan tercengang dia mengernyitkan sepasang alis matanya.


“Aneh betul!” demikian dia berpikir “kemana larinya perahu-perahu itu? Masa mereka dapat melenyapkan diri dengan begitu saja? Kecuali lampu-lampu mereka dipadamkan semua, tak mungkin jejak perahu yang berada sekitar satu li disekeliling tempat ini tak dapat diketemukan dengan jelas”


Dengan tertinggalnya anak muda itu ditengah telaga tanpa petunjuk sesuatu apapun, terpaksa Gak Lam-kun melanjutkan kembali perjalanannya menuju ke arah barat laut. Kurang lebih setengah jam kemudian, dibawah cahaya rembulan yang berwarna keperak-perakan, tampaklah munculnya setitik cahaya lampu ditengah permukaan telaga yang tak bertepian, Gak Lam-kun segera memutar kemudinya dan menjalankan perahunya menuju ke arah mana sumber dari cahaya tersebut.


Kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki Gak Lam-kun tak perlu disangsikan lagi, meskipun harus mendayung sekian lama, dia tidak nampak lelah atau kehabisan tenaga. Sampan itu masih meluncur kedepan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.


Kurang lebih sepertanak nasi kemudian, jaraknya dengan sumber cahaya itu tinggal tiga empat puluh tombak saja.


Sekarang, Gak Lam-kun sudah dapat melihat jelas sumber dari cahaya itu, ternyata tempat itu tak lebih adalah sebuah perahu yang sedang membuang sauh ditepi pantai.


Perahu itu besar sekali, dan yang paling penting perahu itu bukan lain adalah perahu aneh berbentuk naga yang bergerak tanpa menimbulkan suara itu.


Gak Lam-kun terkesiap. Segera pikirnya?


“Tak heran kalau aku kehilangan jejak, rupanya perahu-perahu itu sudah kehilangan jejak dari perahu aneh ini. Yaa, siapa yang menduga kalau perahu naga ini sudah berlabuh ditempat ini?”


00000O00000


Dengan perhatian yang seksama Gak Lam-kun memeriksa keadaan disekeliling tempat itu, rupanya didepan itu merupakan sebuah pulau kecil yang luasnya mencapai puluhan hektar lebih, kedua belah sisinya merupakan tebing karang yang saling berhadapan, sekitar pulau juga merupakan tebing-tebing karang yang terjal dan licin hanya ditengah pulau terdapat sebuah tanah datar yang sempit dan menjorok jauh kedalam pulau.


Semak belukar yang rindang dengan bukit yang sambung menyambung dan menciptakan suatu pemandangan alam yang sangat indah, tempat itu tepat sekali kalau digunakan sebagai tempat mengasingkan diri.


Gak Lam-kun mendayung perahunya dengan sangat berhati-hati, dia berputar menuju ke arah kanan, dari sisi tebing tersebut pelan-pelan ia menepi kepantai.


Tiba-tiba…dari balik ruang perahu naga yang berlabuh nun jauh disana berkumandang suara bentakan yang rendah tapi bernada berat, “Tangkap dua orang penyusup itu gusur kemari!”


Berbareng dengan bentakan itu, empat orang bocah laki-laki berbaju hitam berkelebat keluar dari balik perahu naga, lalu dengan kecepatan tinggi menerjang ke arah Gak Lam- kun serta Ji Kiu-liong.


Gak Lam-kun tidak panik menghadapi serbuan itu pelan-pelan dia mengalihkan sinar matanya dan memandang sekejap ke arah empat orang bocah baju hitam itu.


Mereka semua baru berusia empat sampai lima belas tahunan, mukanya bersih dan termasuk kategori tampan. Begitu mencapai perahu musuh serentak mereka berempat meloloskan pedangnya.


Sreeet…! Senjata-senjata itu disilangkan didepan dada dengan sikap yang keren, tangan kiri ditekuk sejajar dada dan pedang mereka ditumpangkan diatas lengan kiri yang menyilang, begitu gagah dan berwibawanya mereka sehingga menimbulkan hawa napsu membunuh yang mengerikan.


“Hayo ikut kami!” bentak bocah berbaju hitam yang berada diujung kanan dengan suara keras.


Gak Lam-kun hanya tertawa dingin tiada hentinya, ia sama sekali tidak menghiraukan teguran orang.


Lain halnya dengan Ji Kiu-liong, dia tertawa dingin dengan suara yang menyeramkan, kemudian dengan gerakan cepat dia meloloskan pedang dan membabat ketubuh lawan.


“Kurangajar, kau berani melawan? Hmm, rupanya sudah bosan hidup…?” bentak bocah berbaju hitam diujung kanan itu semakin naik darah.


Ditengah bentakan nyaring pedang yang dipalangkan diatas lengan kirinya itu meluncur kedepan, dengan gaya Tay-tiauw-tian-gi (rajawali raksasa mementangkan sayap) dia kunci ancaman tersebut dengan cara keras lawan keras.


Dalam pikiran bocah berbaju hitam itu, serangan tersebut kendatipun tidak memukul rontok senjata yang dipegang Ji Kiu-liong, paling sedikit senjata yang berada dalam genggamannya itu akan berhasil dipukul sampai miring dari posisi semula.


Padahal Ji Kiu-liong bukan anak kemarin sore yang tak punya kepandaian apa-apa, melihat cara orang menahan serangannya dia tertawa dingin, gerak pedang yang semula main membabat tiba-tiba dimiringkan sedikit kesamping, lalu menggeliat sambil menusuk kedalam.


Mengikuti gerakan pedangnya dia ikut menerobos kedepan, pedang digunakan untuk melindungi badan dan… “Traaang!” dalam suatu benturan nyaring yang memekakkan telinga, pedang si bocah berbaju hitam kena dikunci tergetar kesamping.


Bocah berbaju hitam kaget dia tak menyangka kalau musuhnya tangguh sekali dan diluar dugaannya, tak sempat lagi untuk menghindarkan diri, pedangnya kena dikunci diluar lingkaran serangan.


Dalam keadaan begini buru-buru dia melompat mundur sejauh tiga langkah untuk menyelamatkan diri.


Ji Kiu-liong merendahkan tubuhnya lalu menerobos maju lebih kedepan, dengan jurus Po-kong-liu-im (cahaya ombak bayangan mengalir) pedangnya digetarkan keras-keras menciptakan selapis cahaya pedang yang menyilaukan mata.


Tak sampai si bocah berganti gerakan tubuhnya ia sudah meryerang lebih jauh, kali ini pedangnya disertai kilatan cahaya tajam menusuk kedepan dengan jurus Giok-li-to-sou (gadis perawan memegang jarum). “Aduuh…!” jerit kesakitan yang menyayatkan hati berkumandang memecahkan kesunyian, si bocah berbaju hitam yang berada dihadapannya tak sempat menyelamatkan diri dadanya kena ditusuk hingga tembus kepunggungnya, darah kental seperti pancuran menyembur keluar dan berceceran disepanjang sampan. Tewaslah orang itu dalam keadaan yang mengerikan.


Peristiwa berdarah ini menimbulkan kemarahan yang luar biasa bagi rekan-rekannya, dua bentakan nyaring memecahkan kesunyian, dua orang bocah berbaju hitam lainnya serentak menerjang maju dua bilah senjata dengan membawa desingan angin yang memekakkan telinga serentak menyerang tubuh Ji Kiu-liong.


Menghadapi serangan dahyat Ji Kiu-liong tertawa terbahak-bahak, pedangnya membalik seraya menebas, tubuhnya ikut maju bersamaan dengan menyambarnya senjata tersebut, begitu terhindar dari bacokan senjata lawan, pedangnya kembali berputar, sambil membiaskan selapis bunga bunga pedang yang menyilaukan mata secara beruntun dia balas melancarkan serangan dengan jurus Im-liong san-sian (Naga berwarna muncul tiga kali).


Bocah berbaju hitam yang ketiga ikut bertindak sambil memutar senjatanya tiba-tiba ia menusuk kebahu kiri Ji Kiu-liong.


“Heeehhh…heeehhh…heeehhh…bagus sekali!” ejek Ji Kiu-liong sambil tertawa dingin “kau akan menjadi setan kedua yang mampus diujung pedangku!”


Kaki kirinya maju selangkah kemuka, pedangnya yang berada ditangan kanan balik menebas dengan jurus Liu-im-si gwat (aliran mega menutupi rembulan), pedangnya menciptakan selapis hawa pedang yang menggidikkan tubuh.


Selapis cahaya putih dengan cepatnya menyergap kemuka, sementara telapak tangan kirinya yang bersembunyi dibalik cahaya pedang diam-diam disentil kemuka melancarkan sebuah sentilan maut yang mengejar jalan darah sim-kan-hiat ditubuh musuh.


Bocah berbaju hitam itu mendengus tertahan, lalu roboh terjungkal ketanah dan tewas seketika itu juga.


Berhasil dengan serangannya, Ji Kiu-liong semakin bersemangat, pedangnya berputar bagaikan naga sakti yang bermain diawan, pergelangan tangannya berputar kencang, lalu dengan jurus It-huan-bu-tok (menyeberang dengan perahu layar) dia tangkis tibanya dua ancaman yang membacok dari sebelah kiri.


Tidak sampai disitu saja, berbareng itu juga badannya menerobos maju kedepan, ujung pedangnya menyusup masuk dari celah-celah kelemahan lawan kemudian melepaskan sebuah bacokan.


Jeritan ngeri yang menyayatkan hati kembali berkumandang memecahkan kesunyian, bocah berbaju hitam yang ada disebelah kanan kembali terbacok bahunya sehingga putus menjadi dua bagian.


Sekarang tinggal seorang bocah barbaju hitam yang masih hidup, saking terkejutnya karena menyaksikan ketiga orang rekannya mampus secara mengerikan diujung pedang Ji Kiu-liong, dia hanya berdiri melongo seperti orang kehilangan ingatan, untuk sesaat dia lupa untuk melancarkan serangan, dia lupa untuk bertindak lebih jauh, bahkan untuk kaburpun lupa…


Setelah membinasakan korbannya yang ketiga Ji Kiu-liong memutar senjatanya siap melancarkan bacokan lagi, tapi setelah menyaksikan ketertegunan lawan apalagi musuhnya masih muda belia, dia menjadi tak tega serangannya lantas ditarik kembali menyusul kemudian tubuhnya ikut melompat mundur.


“Pergilah!” dia berkata dengan dingin “aku tak akan mencabut selembar jiwamu!”


Saat itulah dari atas perahu naga tiba-tiba berkumandang suara tertawa dingin yang menggidikkan bati.


“Heeehhh…heeehhh…heeehhh… bocah kunyuk kau cukup keji! Hmm, rupanya kau harus diberi tandingan yang setimpal. Ciu Hong! Beng Gwat! Kalian maju bersama dan bunuh bajingan yang takut mati itu, kemudian tangkap bangsat sombong tersebut dan gusur ke atas perahu akan kuberi siksaan yang berpuluh-puluh kali lipat lebih keji untuknya.”‘


Baru selesai seruan itu, dua sosok bayangan manusia muncul dari balik perahu naga, satu warna merah yang lain berwarna putih, dengan kecepatan luar biasa menerjang kehadapan Ji Kiu-liong.


Dua orang itu adalah bocah-bocah lelaki berusia dua tiga belas tahunan, mereka berdiri berjejer, mukanya bersih, putih dan masih kebocah-bocahan, wajah mereka cukup tampan terutama matanya yang jeli. Seorang memakai baju berwarna merah dan seorang lagi memakai baju berwarna putih.


Berkrenyit sepasang alis mata Ji Kiu-liong menghadapi dua orang musuh yang usianya jauh lebih muda daripada dirinya itu, dia tak menyangka kalau bocah-bocah itu berwajah tampan dan menarik hati, timbul perasaan sayang dihati kecilnya.


Gak Lam-kun juga kaget sesudah menyaksikan kegesitan dua orang bocah itu, segera pikirnya.


“Hebat betul ilmu silat mereka, kalau ditinjau dari gerak-geriknya jelas kedua orang bocah cilik ini memiliki tenaga dalam yang cukup sempurna!”


Dalam pada itu dengan sepasang matanya yang jeli tapi mtmancarkan sinar menggidikkan, bocah berbaju putih itu sedang melototi rekannya yang berbaju hitam dengan wajah mengerikan, kemudian selangkah demi selangkah dia maju menghampirinya.


Air muka si bocah berbaju hitam yang pada dasarnya sudah memucat, kian bertambah pucat lagi setelah menyaksikan rekannya makin mendekati tubuhnya mungkin saking takutnya, sekujur tubuhnya yang kecil tampak gemetar keras, bibirnya membiru dan matanya menjadi sayu, menggenaskan sekali keadaannya.


Sekilas pandangan menghina menghiasi raut wajah si bocah berbaju putih yang dingin, tiba-tiba ujarnya dengan nada mengerikan, “Hmm…kenapa belum juga bunuh diri? Apalagi yang kau nantikan…?” “Oooh…Beng Gwat! Aku…aku…toh aku bukannya tidak berani, kau bisa melihat sendiri bahwa kepandaian silatku memang bukan tandingan lawan, masakah hanya kesalahan ini kau… kau…”


“Aaah! Kau tak usah banyak bacot lagi” tukas Beng Gwat atau bocah berbaju putih itu sambil membentak, “kau berani membangkang perintahku…?”


Diiringi bentakan nyaring, tubuhnya yang kecil meluncur kedepan dan langsung menerjang kehadapan bocah berbaju putih itu.


“Tahan!” bentak Ji Kiu-liong sangat marah, “kalau merasa punya kepandaian, hayo! sambut dulu beberapa buah bacokan pedangku ini!”


“Sreeet..!” sambil maju dia melepaskan sebuah tusukan kilat kedada lawan dengan jurus Thian-li-hui-ko (perempuan langit menangkis tombak), satu serangan yang cukup ampuh.


Beng Gwat si bocah berbaju putih itu tidak berkutik dari posisinya semula, meskipun ujung pedang sudah hampir mengancam dadanya, ia tidak melawan ataupun menghindar, sinar pedang tersebut malah diamatinya tanpa berkedip.


Terkejut Ji-Kiu-!iong menjumpai ketenangan musuhnya, tanpa sadar pergelangan tangannya disentak dan menarik kembali serangannya.


“Hei bocah keji, mengapa tidak kau cabut keluar senjatamu?” bentaknya dengan marah.


Beng-Gwat si bocah berbaju putih tidak menjawab mendadak telapak tangan kirinya diayunkan ketubuh bocah berbaju hitam, sementara telapak tangan kanannya menyerang Ji Kiu-liong.


Cara penyerangan ini memang tepat sekali, bukan saja diluar dugaan bahkan sekaligus mematahkan juga pertahanan orang terhadap niat jahatnya.


Sebetulnya Ji Kiu-liong hendak melepaskan serangan untuk melindungi keselamatan bocah berbaju hitam, tapi lantaran desingan angin tajam yang dilancarkan Beng Gwat sudah menyambar datang, mau tak mau dia harus mengutamakan keselamatan sendiri lebih dahulu. 


Dalam terkejutnya, dia tekuk pinggangnya sambil bergeser empat depa kebelakang baru saja serangan tersebut dapat dihindari dari pihak lain jerit kesakitan sudah berkumandang memecahkan kesunyian.


Ternyata bocah berbaju hitam itu terhajar telak oleh serangan rekannya, darah kental bercucuran dari ketujuh lubang indranya, tanpa banyak berkutik nyawanya sudah melayang pergi meninggalkan badannya.


Sesudah membinasakan rekannya sendiri Beng Gwat si bocah berbaju putih itu baru berpaling katanya dengan ketus, “Dengan mengandalkan beberapa jurus ilmu pedangmu itu, masih belum pantas untuk memaksa kami menggunakan senjata!” Sejak terjun kedalam dunia persilatan belum pernah Ji Kiu-liong dibina orang secara begini, sekalipun dia merasakan juga keanehan serta kesaktian ilmu silat yang dimiliki musuhnya namun cemoohan semacam itu menggelitik hatinya sebelum dilampiaskan keluar, maka diapun tertawa dingin.


“Bocah ingusan yang masih berbau tetek teriaknya jangan takabur dulu! Sebelum sesumbar, buktikan dulu sampai taraf yang bagaimanakah ilmu silatyang kau miliki itu”


Pedangnya dimasukkan kembali kedalam sarungnya, lalu dengan tangan kosong telapak tangan kanannya didorong kemuka melepaskan sebuah pukulan, berbareng itu juga dengan jari tengah dan jari telunjuk tangan kirinya dia menyodok jalan darah Mia- bun-hiat ditubuh lawan dengan jurus Hua liong-tiam-cing (melukis naga menulis mata).


Selincah ular kecil Beng Gwat si bocah berbaju putih berkelit kesamping. sepasang telapak tangannya bergantian melancarkan serangan, dalam sekejap mata dia sudah melancarkan empat buah serangan berantai, bahkan jurus serangan yang satu lebih hebat dari yang lain.


Seketika itu juga Ji Kiu-liong terdesak mundur tiga langkah.


Gak Lam-kun yang mengikuti jalannya pertarungan dari tepi gelanggang merasa terkesiap, mimpipun dia tak menyangka kalau seorang bocah semuda itu ternyata memiliki jurus serangan yang begitu ganas dan hebatnya sehingga adiknyapun kena didesak.


Sementara itu Ji Kiu-liong menggunakan kesempatan itu untuk mengatur pernapasan, lalu sekali lagi menerjang kedepan, kali ini diapun melancarkan serangan berantai, deruan angin pukulan yang dahsyat menyapu seluruh angkasa.


Beng-Gwat si bocah berbaju putih tidak jeri, dia membentak nyaring, sebuah pukulan telapak tangan kirinya yang membawa deruan angin tajam segera membendung ancaman dari Ji Kiu-liong, sementara telapak tangan kanannya dengan jurus Cuan-im-teh gwat (menembusi awan memetik rembulan) melepaskan sergapan kilat.


Ji Kiu-liong meraung keras, hawa sakti Sau-yang-tongcu-kang andalannya disalurkan kedalam telapak tangan kanan, kemudian dengan gerakan Lek sau ngo gak (menyapu rontok lima bukit) dia membacok kemuka menyambut datangnya ancaman itu.


“Braaak…!” benturan keras tak dapat dihindari lagi, tiba-tiba dua sosok bayangan manusia saling berpisah.


Dengan telapak tangan disilangkan didepan dada Ji Kiu-liong berdiri dengan wajah serius, sebaliknya sepasang bahu Beng Gwat si bocah berbaju putih bergetar keras, tak tertahan lagi badannya mundur sejauh lima langkah dengan sempoyongan telapak tangan kirinya memegang dada kanannya.


Wajah yang memerah kini berubah jadi pucat pias meski demikian dari balik sorot matanya yang pudar terpancar sinar kegusaran yang menyala-nyala, dia sedang mengawasi musuhnya tanpa berkedip.


Ciu Hong si bocah berbaju merah selama ini cuma berdiam diri mendadak tanpa menimbulkan sedikit suarapun maju sambil menyerang. Setelah terjadi bentrokan kekerasan dengan Beng Gwat si bocah berbaju putih, Ji Kiu- liong merasakan darah panas dalam rongga dadanya bergolak keras, dalam keadaan demikian ia tak berani gegabah.


Maka ketika menghadapi serangan yang muncul secara tiba-tiba, serentak dia mencabut keluar pedangnya, lalu dengan jurus Long kian-liu-san (gulungan ombak membawa pasir mengalir) dia lancarkan sebuah bacokan kilat.


Siapa tahu sebelum tusukan pedangnya sempat dilancarkan, tiba-tiba serentetan cahaya emas berkelebat lewat didepan matanya, menyusul kemudian bau amis menerpa hidungnya.


Dalam gugupnya dia tak sempat memperhatikan benda apakah itu, kepalanya segera dimiringkan kesamping, lalu dengan pedangnya dia mencoba melindungi diri.


Mendadak pergelangan tangan kanannya terasa sakit, ketika diperiksa, pemuda itu menjerit keras karena kaget tanpa disadari pedangnya ikut terlepas dari genggaman.


Terlihatlah seekor ular kecil berwarna emas yang panjangnya empat lima inci, dengan empat buah taring berbisanya menggigit pergelangan tangannya kencang-kencang. Tubuh ular tersebut masih melingkar diatas lengannya dan sama sekali tak berkutik.


Ji Kiu-liong merasa mulut luka bekas gigitan ular gatalnya bukan kepalang, selain itu terlihat juga beberapa jalur hitam pelan-pelan sedang merambat naik ke atas lengannya, ia semakin terkesiap, seluruh tenaganya tiba-tiba menjadi buyar, secara beruntun dia mundur beberapa langkah kebelakang hampir saja tubuhnya roboh terjengkang.


Gak Lam-kun juga tak kalah terkejutnya setelah menyaksikan ular emas kecil yang melilit pergelangan tangan Ji Kiu-liong saking sedihnya hampir saja dia melelehkan airmata.


Secepat sambaran kilat tubuhnya melompat kedepan, lalu dengan jari tengah dan jari telunjuknya dia totok beberapa jalan darah penting ditubuh saudaranya itu.


“Saudara Gak! harap tahan!” mendadak dari tempat kejauhan berkumandang suara bentakan keras. “jangan kau sentuh binatang itu, awas ular beracun benang emas!”


Dari belakang tebing karang yang gelap gulita melayang turun dua sosok bayangan manusia, yang satu berperawakan tinggi sedang yang lain berperawakan pendek.


Kedua orang itu ternyata bukan lain adalah Tang-hay-coa-siu (kakek ular dari lautan timur) Ou Yong-hu serta Si Tiong-pek, komandan pasukan elang baja dari perkumpulan Thiat-eng-pang.


Terdengar kakek ular dari lautan timur Ou Yong hu berkata lebih lanjut, “Bila engkau membinasakan ular yang menggigit diatas pergelangan tangannya, dalam keadaan terluka ular beracun itu pasti akan menyemprotkan seluruh cairan beracun yang berada dalam tubuhnya ke atas mulut luka itu, tak sampai satu jam maka saudaramu tentu akan mati secara mengerikan”


Ciu Hong, si bocah berbaju merah yang mendengar perkataan itu segera mendengus dingin. “Hmmm! Sungguh tak kusangka kalau disini masih terdapat seorang ahli ular, heeehhh…. heehh…. heehhh…. menggelikan sekali, jadi kalian masih mengira bendaku ini adalah seekor ular beracun benang emas sungguhan?”


Dengan sepasang matanya yang tajam Tang-hay coa-siu Ou Yong hu kembali memperhatikan sang ular yang membelenggu diatas pergelangan tangan Ji Kiu-liong itu, sekarang dia baru kaget, ternyata benda itu memang bukan ular sungguhan tetapi sebuah senjata rahasia yang bentuknya persis seperti ular.


Dalam pada itu Ciu-Hong si bocah berbaju merah telah berkata kembali, “Dia sudah terkena senjata rahasia ular berbisa benang emasku, racun yang terkandung dalam benda ini sepuluh kali lipat lebih ganas dari bisa ular hidup, barangsiapa yang terkena maka tujuh hari kemudian akan mampus dengan seluruh tubuhnya membusuk. Bukan begitu saja, selama saat-saat menjelang kematiannya dia harus merasakan siksaan dan penderitaan yang paling hebat, heehh…heeehhh…heeehh…nah, selamat menikmati hadiahku ini”


Tersirap darah panas Gak Lam-kun setelah mendengar keterangan itu hawa napsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya, mendadak dia himpun segenap kekuatan yang dimilikinya, lalu telapak tangan kirinya diayun kedepan…


Gulungan angin pukulan yang maha dahsyat ibaratnya gulungan ombak besar ditengah samudra dengan mengerikan sekali menyapu ketubuh Ciu Hong si bocah berbaju merah.


Ciu Hong cukup mengetahui akan kelihayan musuhnya. cepat-cepat dia berjumpalitan diudara dan berusaha menghindarkan diri.


Tentu saja Gak Lam-kun tidak sudi memberi kesempatan hidup bagi lawannya, begitu bocah itu mencoba untuk berkelit, pukulan yang sudah disiapkan ditangan kanannya sejak tadi segera dilontarkan kedepan.


Disaat yang kritis inilah pekikan nyaring mendadak berkumandang mencabik-cabik kesunyian, sesosok bayangan putih melayang datang dari udara, menyusul kemudian munculnya segulung tenaga pukulan yang maha dahsyat menyongsong datangnya ancaman dari Gak Lam-kun.


Padahal Ciu Hong si bocah berbaju merah sudah berjumpalitan untuk mengundurkan diri, sayang nasibnya memang lagi busuk, bukannya mundur untuk menyelamatkan diri, secara kebetulan tubuhnya justru terjatuh diantara gencetan tenaga pukulan dari Gak Lam-kun maupun pendatang itu…bayangkan saja apa yang bakal terjadi?


Jerit lengking menggelegar diudara, termakan oleh dua gulung angin pukulan yang maha dahsyat, tubuh Ciu-hong mencelat keudara dan terlempar sejauh puluhan kaki dari tempat semula.


Jangankan pukulan dari Gak Lam-kun memang sanggup menghancurkan batu karang merjadi bubuk, cukup termakan hembusan angin dingin yang dilancarkan si pendatang saja sudah cukup untuk menghantar nyawanya keneraka, apalagi pukulan itu beracun dan sekaligus terkena dua pukulan lagi.


Setinggi-tingginya tenaga dalam yang dimiliki Ciu-Hong si bocah berbaju merah, bagaimana mungkin dia bisa menahan gencetan dari dua buah kekuatan besar? Isi perutnya kontan terhajar sampai hancur, ketika tubuhnya melayang kembali ketanah, jiwanya sejak tadi sudah kabur kealam baka.


Peristiwa ini semakin menggusarkan pendatang itu, sambil membentak keras dia lancarkan sebuah pukulan yang memaksa Gak Lam-kun tergetar mundur sejauh tiga depa lagi kemuka, tangan kanannya diputar lalu menjojoh jalan darah Yu-bun-hiat ditubuh orang itu, tapi kemudian ia menyadari kalau musuhnya terlampau tangguh, maka menyusul serangan tadi, dia lancarkan kembali sebuah bacokan dengan telapak tangan kirinya.


Semua perubahan terjadi diluar dugaan, siapapun tidak mengira kalau kejadian tersebut bakal berkembang menjadi begini.


Ilmu silat yang dimiliki orang itu terlampau tinggi, ketika merasa terancam oleh serangan musuh dia menangkis ancaman dari Gak Lam-kun dengan tangan kanannya yang memainkan jurus Hui-tim-ciang-tham (membersihkan debu berbicara santai) sementara telapak tangan kirinya dengan jurus Sin-liong-sian-jiau (naga sakti unjukkan cakar) dengan membawa sapuan angin yang tajam berusaha mencengkeram tubuh lawan.


Gak Lam-kun menggerakkan sepasang bahunya miring kesamping dan terhindar dari cengkeraman lawan sementara kaki kanannya melepaskan sebuah tendangan kilat.


Berada dalam gencetan tendangan-tendangan maut membetot sukma ini mau tak mau orang itu harus melompat kebelakang untuk menyelamatkan diri…


Waktu itu Gak Lam-kun terlampau menguatirkan keselamatan Ji Kiu-liong, maka setelah musuhnya terdesak mundur, dia tidak mengejar lebih lanjut sebaliknya melayang kembali kesamping saudaranya.


Keadaan Ji Kiu-liong cukup parah, warna hitam lamat-lamat menghiasi kerutan alisnya, sekalipun senjata rahasia ular benang emas yang melilit pada pergelangan tangannya sudah dilepaskan oleh Tang-hay-coa-siu Ou Yong-hu, tapi mulut luka pada pergelangan tangan kanannya itu telah berubah menjadi semu biru.


Betapa sedihnya Gak Lam-kun, sambil menghela napas bisiknya, “Adik Liong cepat duduk bersila sambil mengatur pernapasan, tutup dahulu jalan darah Ci-ti-hiat pada sikut kananmu jangan membiarkan racun itu menjalar sampai kejantung!”


Ji Kiu-liong tertawa ewa, pelan-pelan dia duduk bersila pejamkan mata dan mengatur napas.


Kakek ular dari lautan timur Ou Yonghu yang ada disampingnya sedang mengawasi senjata rahasia ular benang emas dengan seksama, setelah termenung lama sekali, dia baru menghela napas.


“Aaai…! Tampaknya racun yang terkandung diujung senjata rahasia ini merupakan campuran antara racun ular benang emas ditambah beberapa macam rumput beracun lainnya, yaa, racun semacam ini memang mengerikan sekali”


“Ou-Thamcu, dapatkah kau punahkan pengaruh racun itu?” tanya Si Tiong pek. “Masih merupakan sebuah tanda tanya besar” jawab Kakek ular dari lautan timur Ou- Yong-hu sambil gelengkan kepalanya berulangkali. “cuma, kalau sudah kita ketahui racun apa yang bersarang ditubuhnya, mungkin bisa kita coba-coba”


Sebagaimana diketahui. Kakek ular dari lautan timur adalah seorang ahli dalam soal racun, terutama dalam masalah bisa racun, dia mempunyai kepandaian yang luar biasa. Tapi seorang ahli racun ularpun sudah berkata demikian, dari sini dapatlah diketahui bahwa racun yang terkandung dalam tubuh Ji Kiu-liong bukan racun sembarangan.


Diam-diam Gak Lam-kun berpikir dihati, “Ou-Yong-hu wahai Ou-Yong-hu. jika kau sanggup menolong nyawa adik liong, aku Gak Lam-kun juga akan mengampuni selembar nyawamu!”


Dalam pada itu kakek ular dari lautan timur Ou Yong hu telah mengeluarkan sebuah botol kemala putih dari sakunya, dari dalam botol itu dia mengeluarkan dua butir pil penawar racun lalu katanya, “Pil Keng-giok-ciat-tok-wan milikku ini khusus untuk menawarkan bisa dari berbagai racun ular, bila terpagut ular beracun macam apapun, asal minum sebutir pil ini niscaya racunnya akan tawar. Sekarang akan kugunakan daya kerja dari sebotol obat Keng-giok-ciat-tok-wan ini untuk melindungi jalan darah penting dalam isi perutnya, daya kerja obat ini cuma untuk mencegah agar racun ular tak sampai menyerang kejantung, dalam keadaan demikian mungkin nyawanya masih bisa dipertahankan selama beberapa hari lagi”


Sambil berkata dia mengeluarkan dua butir pil Keng-giok ciat tok wan dan dijejalkan kemulut Ji Kiu-liong.


Tiba-tiba manusia berbaju putih itu tertawa dingin.


“Heeehhh…heeehhh…heeehhh… Kalau kau ingin mencegah sari racun ular berbisa itu menyerang isi perut orang itu, sampai habis sepuluh botol pil Keng giok ciat tok wan juga percuma, menggelikan betul! Jangan kau anggap kepandaianmu itu sudah cukup untuk memunahkan pengaruh racun dari perguruanku”


Karena gelak tertawa dinginnya kedengaran mengerikan dan tak sedap, dengan sepasang matanya yang sipit Kakek ular dari lautan timur Ou Yong hu mengawasi lawannya.


Orang itu sudah tua usianya antara enam puluh tahunan badannya jangkung tapi kurus hingga tinggal kulit pembungkus tulang, jubah yang dikenakan panjang dan berwarna putih keabu-abuan.


Si Tiong-pek segera tertawa ringan.


“Luas amat pengetahan saudara katanya, kalau dugaanku tak keliru, rupanya kau adalah seorang tokoh persilatan yang punya nama?”


Dengan sepasang mata yang melotot, tiba-tiba kakek berjubah putih melotot sekejap ke arah Si-Tiong-pek, kemudian tertawa dingin tiada hentinya.


“Se-ih-Sam-seng (Tiga malaikat dari wilayah Se-ih), masa kau tak pernah mendengarnya?” dia berseru. Baik Si Tiong-pek maupun Ou Yong hu yang mendengar nama itu segera berseru tertahan.


Se-ih-Sam-seng atau tiga malaikat dari wilayah Se-ih adalah jago-jago lihay diluar perbatasan, mereka bertiga memiliki ilmu silat yang sangat tinggi, perguruan yang mereka bentuk kemudian dinamakan Se-thian-san.


Ketiga malaikat itu terdiri dari: Tok-seng (malaikat racun). Ciang-seng (malaikat pukulan) dan Kian-seng (malaikat pedang).


Setelah termenung sebentar, sambil tersenyum Si Tiong-pek lantas berkata, “Oooh…!


Rupanya kau toh yang bernama Tok seng (malaikat racun) Lo Kay-seng?” Kakek berbaju putih itu tertawa dingin.


“Jika aku adalah malaikat racun, masa kalian masih bisa hidup hingga sekarang?”


Ternyata kakek berbaju putih ini adalah malaikat pukulan Nian Eng-hau, salah seorang anggota Se-ih-sam-seng.


Diantara tiga bersaudara, konon ilmu silat malaikat pedang Siang Ban-im paling tinggi, dan malaikat racun Lo Kay-seng menduduki urutan kedua, jadi dengan begitu kakek berjubah putih tersebut pada hakekatnya adalah anggota yang terbuncit.


“Haaahhh…haaahhh…haaahh… belum tentu begitu” kedengaran Si Tiong-pek tertawa ringan, “segarang-garangnya Malaikat racun Lo Kay-seng, masa dia bisa menandingi keganasan dari Jit-poh tui-hun (tujuh langkah pemutus nyawa) Kwik To yang namanya sudah amat termashur didaratan Tionggoan?”


Malaikat pukulan Kian Eng-hau tertawa dingin.


“Tak usah ngebacot yang bukan-bukan lagi” tukasnya “kalian tahu, barangsiapa yang berani mengikuti jejakku sampai disini, jangan harap bisa meninggalkan tempat ini dalam keadaan selamat”


Tiba-tiba ujung bajunya dikebut kemuka, tidak tampak bagaimana caranya dia menggerakkan badan, tahu-tahu tubuhnya sudah berada dihadapan Si Tiong-pek.


Kakek ular dari lautan timur Ou Yong-hu tidak banyak bicara lagi, begitu dilihatnya Nian Eng bau mengejar kedepan, telapak tangannya segera diayun pula kedepan melepaskan sebuah pukulan.


Malaikat pukulan Nian Eng-hau bukan bocah dungu, sudah tentu sergapan Ou Yong-hu tak ada gunanya, baru saja si kakek ular dari lautan timur menggerakkan telapak tangan kirinya, berbareng juga dia melancarkan serangan balasan, telapak tangan kanannya menghadang ancaman lawan, sementara tangan kirinya bersiap-siap menghadapi sapuan dari tongkat kepala ular yang ada ditangan kanan lawan.


Kakek ular dari lautan timur Ou Yong hu terperanjat, buru-buru dia menekuk pinggang sambil menarik Kembali serangannya, lalu melompat mundur sejauh tiga depa. Mimpipun dia tak menyangka kalau serangan balasan musuh bisa datang secepat itu, hampir saja tubuhnya termakan oleh sapuan tersebut. Tiba-tiba Se-ih Ciang seng (malaikat pukulan dari Se-ih) merentangkan sepasang tangannya kekiri dan kekanan, yang satu menyerang Si Tiong-pek sedang yang lain menghantam Ou Yong hu, bukan saja cepat dalam serangan, tepat pula pada ancaman.


Buru-buru kakek ular dari lautan timur Ou-Yong hu memutar tongkat kepala ularnya, senjata itu sebentar disapu kekiri sebentar lagi disodok kekanan, secara beruntun dia lancarkan beberapa buah serangan.


Berbeda dengan Si Tiong pek, menghadapi ancaman itu dia tertawa tergelak, tubuhnya menyurut mundur sejauh tujuh depa, begitu lolos dari ancaman dengan gerakan cepat dia meraih kebelakang bahunya dan meloloskan pedang elang bajanya.


Setelah bersenjata dia menerjang maju pula kedepan, secara beruntun ia lancarkan beberapa buah serangan mematikan untuk mengimbangi permainan tongkat dari Ou Yong-hu.


Sebagaimana diketahui dari julukannya yakni malaikat pukulan, permainan sepasang tangan Nian Eng-hau betul-betul sudah mencapai taraf yang luar biasa, mengikuti gerakan pedang dan sambaran tongkat musuh, sepasang tangannya melepaskan serangkaian pukulan yang gencar, ditambah lagi posisinya memang lebih menguntungkan, praktis seluruh gelanggang berhasil dia kuasai.


Sia-sia saja Si Tiong pek dan Ou Yong hu menggunakan senjata masing-masing, sebab bagaimanapun mereka berusaha untuk memecahkan pertahanan musuh, toh akhirnya kena didesak mundur juga ketempat semula.