Lencana Pembunuh Naga Jilid 02

 

  Jilid 02


MEMANG aneh dan lihay gerakan tersebut malahan sama sekali diluar dugaan siapapun. Si Tiong-pek yang menonton jalannya pertarungan itu dari tepi gelanggang segera berseru tertahan, jelas dia sudah dibikin terkesiap oleh gerakan Gak Lam-kun yang aneh dan diluar dugaan itu.


Setelah Gak Lam-kun mengeluarkan gerakan aneh untuk menghindari tendangan lawan, Han Nio-nio tak sanggup melancarkan tendangan yang kedua kalinya, dalam posisi begini terpaksa ia tarik kembali kakinya sambil mundur ke belakang.


Enam jurus pertarungan jarak dekat yang baru saja berlangsung ini memang keliarannya tidak seberapa hebat, tapi dalam pandangan mata seorang ahli pertarungan tersebut justru merupakan sengit yang menentukan mati hidup seseorang……..


Tiba-tiba Han Nio hio menghela napas panjang katanya, “Gak siauhiap, ilmu silatmu memang sangat lihay Pun Kiong merasa benar-benar takluk dengan hati yang rela, Nah, kalian boleh segera berlalu.”


Pada waktu itulah, Si Tiong-pek ikut tertawa tergelak. “Haaah…… haaah…….. haaah…… sudah lama Han Nio-nio malang melintang dalam dunia persilatan nama besar juga sudah tersohor sampai di mana-mana, Sungguh beruntung pada malam ini aku orang she Si berkesempatan menyaksikan kelihayanmu”


Han Nio-nio melotot sekejap ke arah Si Tiong-pek dengan mata lebar, kemudian mendengus.


“Hmmm ! Seandainya aku tidak memandang diatas wajahnya pada malam ini, jangan


harap kau Si Tiong-pek bisa tinggalkan perahu ini dalam ke adaan selamat!”


Berkerut sepasang alis mata Si Tiong-pek sesudah mendengar perkataan itu, hawa amarah tertera ternyata diwajahnya, tapi secara tiba-tiba kemarahan itu ditahan kembali kemudian tertawa tergelak. “Haaahhh……. aaahhh……….. aaahhh bagus, bagus, bila


lain waktu ada kesempatan aku orang she-Si pasti akan berkunjung lagi kesini untuk merasakan kelihayanmu”


Selesai berkata dia lantas menjura kepada Gak Lam-kun seraya berkata. “Saudara Gak jika engkau tak ada urusan, apa salahnya kalau duduk sebentar diperahu kami?”


“Atas kebaikan saudara Si rasanya tidak pantas kalau kutolak tawaranmu itu, baiklah lebih baik aku turut perintah saja” Selesai berkata pelan-pelan dia berjalan menuju ke tepi perahu.


“Gak singkong, harap tunggu sebentar!” Tiba-tiba teguran lembut berkumandang lagi dari belakang.


Gak Lam-kun segera berpaling, dilihatnya Han Nio-nio dengan rambutnya yang panjang terurai sebahu sedang berdiri dibelakangnya dengan agung wajahnya tampak begitu cantik dan sikapnya begitu agung membuat orang merasa kagum dibuatnya.


“Ada urusan apa Nio-nio memangil aku?” tegur Gak Lam-kun kemudian dengan suara hambar.


“Pun-kiong benar-benar ada urusan penting yang hendak dibicarakan denganmu, bagaimana kalau kita masuk keruang belakang dulu untuk membicarakan persoalan ini?”


“Aku rasa kalau ada persoalan katakan saja di sini, toh disini atau disana juga sama saja”


Dari belakang terdengar suara Si Tiong-pek berseru sambil tertawa ringan, “Saudara Gak, siaute berjalan setindak dulu kutunggu kedatanganmu dalam perahu!”


“Si toako tunggu sebentar” suara teriakan Ji Kiu-liong berkumandang pula, “siaute ikut engkau lebih dulu!”


Habis berkata Ji Kiu liong melompat turun pu la keperahu kecil, dan kedua orang itupun mendayung sampannya menuju ke sebuah perahu besar yang membuang sauh beberapa puluh kaki jauhnya.


Sepeninggal kedua orang itu, Han Nio-nio baru berkata lagi sambil tertawa, “Kalau toh engkau tak mau masuk ke dalam ruangan, baiklah kita bercakap cakap di luar sana, silahkan Gak siangkong”


Dengan tubuhnya yang tinggi semampai perempu an itu menuju ke belakang perahu lebih dulu kepada seorang pelaut dia ulapkan tangannya memerintahkan orang itu mengundurkan diri.


Setelah suasana disekitar sana jadi hening, Han Nio-nio baru membereskan rambutnya yang awut-awutan lalu sambil tersenyum ia berbatuk. “Kehebatan ilmu silatmu, keketusan watakmu di tambah pula kebesaran nyalimu, sungguh merupakan suatu perpaduan yang baru pertama kali ini, aku Han Hu-hoa jumpai!”


“Kelihayan ilmu silat yang dimiliki Han Nio-nio juga baru kali ini kujumpai dalam dunia persilatan” sahut anak muda itu ketus.


Segulung angin berhembus lewat menyingkapkan gaun bajunya yang robek, hingga pahanya yang putih mulus kembali terlihat jelas.


Cepat tangannya menyambar gaun yang berobek itu dan menutupi pahanya yang kelihatan, pelan-pelan ia pejamkan matanya lalu berkata dengan sedih, “Selama malang melintang dalam dunia persilatan hampir tiga puluh tahunan, aku cuma pernah takluk kepada dua orang” “Dua orang tokoh silat macam apakah yang bisa peroleh kehormatan dari Nio-nio?” tanya Gak Lam-kun dengan perasaan ingin tahu.


Ha Hu-Hoa tertawa. “Yang satu adalah engkau dan yang lain adalah majikanku!”


Mula-mula Gak lam-kun agak tertegun, tiba-tiba selapis kemurungan melintas diatas wajahnya.


Ha-Hu-hoa tertawa kembali ujarnya. “Kalau kulihat dari kemurungan keputusan yang menyelimuti wajahmu tampaknya engkau punya kenangan masa lalu yang cukup menyedihkan hati, tapi kau musti tahu bahwa diantara sepuluh bagian di dunia ini ada delapan sampai sembilan bagian yang tak bisa diselesaikan dengan lancar. Sebagai anak muda kenapa pikiranmu tak bisa terbuka. Terus terang kukatakan kepadamu belasan tahun berselang kedaan kupun semua seperti dirimu sekarang, aaii..!”


Tiba-tiba ia menghela napas sedih, titik air mata mendadak mengembang dibalik kelopak matanya.


“Terima kasih atas petunjukmu” kata Gak Lam-kun cepat, “ Bila Nio-nio masih ada urusan cepatlah utarakan keluar”


Titik air mata mengembang dalam kelopak ma ta Hau Hu-hoa, dan akhirnya meleleh keluar membasahi pipinya.


“Sebenarnya aku ingin mengundang dirimu masuk ke perguruan panah bercinta kami, agar bisa menanggulangi masalah besar bersama sama majikan kami, tapi sekarang aku rasa kau pasti menolak tawaranku itu” ujarnya dengan sedih.


Gak Lam-kun tertawa ewa. “Terima kasih atas kebaikanmu, jika sudah habis perkataanmu, aku orang she-Gak segera akan mohon diri”


Setelah merangkap tangannya memberi hormat, dia putar badan dan berlalu dari sana.


“Gak siangkong, tunggu sebentar!” teriak Han Hu-hoa lagi.


Gak Lam-kun berhenti seraya berpaling, kemudian tegurnya, “Masih ada perkataan apa lagi yang hendak kau Ucapkan?”


Pelan pelan Han Hu-hoa maju ke depan lalu menyahut, “Apakah engkau sedikit memandang hina diriku karena aku menjadi budak orang lain?”


“Aku tidak tahu!”


Kembali Han Nio-nio menghela napas sedih “Setelah berpisah pada malam ini, entah dikemudian hari masih ada kesempatan untuk berjumpa lagi atau tidak, sekalipun kita hanya bertemu tanpa sengaja, aku Han Hu hoa mengucapkan semoga kau menjaga diri baik baik……. Oya, masih ada satu urusan hendak kuperingatkan kepadamu, Si Tiong-pek dari perkumpulan Tiat-eng-pang adalah seorang manusia licik dengan akal busuk yang berbahaya. kau musti berjaga-jaga atas manusia sema-cam itu” Gak Lam-kun bukan manusia sembarangan sudah tentu diapun merasakan betapa liciknya manusia yang bernama Si Tiong-pek itu, terutama melihat bagaimana caranya menghindari kobaran hawa amarah akibat sindiran dari Han Hu-hoa tadi.


Perlu diterangkan disini, Si Tiong-pek bisa memimpin pasukan elang baja, tentu saja ilmu silat yang dimilikinya bukan termasuk golongan yang lemah, tindakannya tak mau bertarung melawan Han Nio-nio tadi memang merupakan suatu tindakan yang cerdik, sebab ia telah mengesampingkan kekuatan yang sebenarnya untuk digunakan merebut lencana pembunuh naga dibukit Kun-san. Ia tak mau lantaran dua harimau yang berkelahi mengakibatkan dua belah pihak terluka hingga memberikan peluang yang baik bagi orang lain untuk mendapatkan keuntungan.


Gak Lam-kun sebagai orang yang berhak menerima Lencana Pembunuh Naga, sudah tentu mempunyai ilmu silat yang tinggi serta kecerdasan yang seimbang dengan kecerdikan gurunya Tok liong Cuncu dimasa lalu dengan kecerdasannya itu, masa ia tak dapat menebak jalan pikiran orang lain?


“Aku sudah tahu!” seru Gak Lam-kun kemudian sambil tersenyum.


Dia menjura lantas berlalu pergi, tapi baru beberapa langkah, Han Hu-hoa sudah berseru lagi dengan manja, “Gak sianngkong, bagaimana kalau kuperintahkan anak buahku untuk menyiapkan perahu bagimu?”


“Tak usah repot repot!”


Tiba-tiba dari belasan kaki sebelah depan sana berkumandang suara dari Si Tiong-pek, “Gak heng, siaute telah siapkan perahu untuk menyambut kedatanganmu…..!”


Menyusul teriakan itu, perahu besar tersebut pelan-pelan bergerak maju kedepan dan sekejap kemudian sudah berada empat kaki dari perahu Han Nio-nio.


“Gak siang kong, baik baiklah jaga diri!” kata Han Hu-hoa kemudian sambil tertawa sedih.


Gak Lam-kun segera merangkap tangannya memberi hormat, kemudian sekali loncat dia sudah be rada diatas perahu elang raksasa yang berada dua kaki jauhnya itu.


Begitu anak muda tersebut sudah melayanag pergi, Han Hu hoa segera memerintahkan anak buah nya untuk menaikkan layar, kemudian dalam sepeminuman teh perahu itu sudah lenyap dari pandangan mata…….


Perahu tiang raksasa dari Si Tiong-pek terang ben derang bagaikan ditengah hari, sambil tersenyum simpul pemuda itu menyambut kedatangan Gak Lam-kun ditengah geladak.


Ji Kiu-liong juga mengikuti dibelakangnya, sedang dibelakang sipemuda berbaris delapan belas orang laki-laki bertubuh kekar, beralis mata tebal dan berbaju biru dengan sebilah pedang bergagang burung rajawali yang sedang merentangkan sayapnya tersoren di punggung.


Menyaksikan kedelapan belas orang manusia ber baju biru itu, Gak Lam-kun segera berpikir. “Aku pikir kedelapan belas orang itu pastilah delapan belas elang baja yang dipimpin Si Tiong-pek dalam pasukan elang bajanya, aku lihat mereka rata-rata gagah perkasa dengan sorot mata yang tajam, jelas ilmu silat yang dimilikinya amat tinggi, tak heran kalau pasukan elang baja bisa populer dan disegani orang dalam dunia persilatan”


Ketika dia masih termenung, Si Tiong-pek sudah berseru sambil tertawa nyaring, “Haaahh…….haaah………haaahh Saudara Gak sedia menumpang diperahu kami


kejadian tersebut merupakan suatu kebanggaan bagi kami semua, sambutlah penghormatan diri delapan belas elang baja anak buah kami……!”


Cepat-cepat Gak Lam-kun menjura, “Kemampuan dan keehebatan apakah yang dimiliki aku orang she Gak, tak berani aku menerima sambutan dari delapan belas elang baja yang ramanya tersohor di dunia”


Sementara itu dari dalam ruang perahu berjalan seorang kakek cebol yang berbaju hitam dengan jenggot putih, badannya kurus seperti lidi dan senjatanya adalah sebuah tongkat berkepala ular hitam.


Dengan senyum tak senyum ia lantas berseru, “Si lote, jago muda dari manakah yang telah datang sehingga memerlukan sambutan semeriah ini.


Suara teriaknya itu menyeramkan, ditambah pula badannya yang kurus kecil melambung seperti setan gentayangan, membuat siapapun yang melihatnya merasa kurang begitu senang.


Sedingin salju panas muka Gak Lam-kun bahkan melirik sekejappun ke arahnya tidak, dia malahan menengadah sambil memandang bintang bintang yang bertaburan di angkasa.


Menyaksikan kecongkakan orang, kakek cebol itu semakin naik pitam, ia tertawa dingin tiada hentinya dengan suara yang menggidikkan hati….


Si Tiong-pek yang menyaksikan kejadian itu alis matanya kontan berkenyit, tapi cepat ia tertawa nyaring. “Ou thamcu, saudara ini adalah Gak Lam-kun sauhiap, dialah yang barusan mengalahkan Han Nio-nio dari perguruan panah bercinta!”


Kakek cebol yang kurus kering itu tertawa dingin tiada hentinya dengan suara yang mengerikan, “Heehh.…. heeeeh…. Heeeh ombak di belakang sungai Tiangkang


mendorong ombak yang di depannya, kembali dalam dunia persilatan telah muncul seorang toa-enghiong yang  gagah perkasa”


Sengaja perkataan yang terakhir itu diucapkan dengan nada memanjang, sudah tentu nadanya adalah nada mencemooh.


Diatas wajah Gak Lam-kun yang dingin tiba-tiba tersungging sekulum senyuman ia bertanya, “Saudara Si konon anggota elang bajamu itu terdiri dari manusia-manusia gagah yang kosen dan berilmu tinggi, tolong tanya apakah dia juga seorang anak buahmu?”


Kakek cebol berambut putih itu merupakan seorang jagoan yang angkuh dan tinggi hati, sudah tentu dia tak tahan mendengar sindiran dari Gak Lam-kun, maka sebelum Si Tiong-pek menjawab dia sudah membentak lebih dulu dengan nyaring, “Bagus sekali! Kau si bocah kunyuk memang pingin mampus!” Begitu selesai berkata, tongkat kepala ularnya langsung menyokot kemuka dengan jurus hui-pau-bong-cwen (air terjun merupakan sumber mata air)


Ji Kiu-liong yang berdiri disamping Gak Lam-kun bertindak cepat, sebelum saudaranya bertindak tiba-tiba dia cabut keluar pedangnya, kemudian pergelangan tangannya digetarkan menciptakan dua kuntum bunga pedang yang langsung manabas tubuh lawan.


“Kakek cebol, rupanya kau gemar bertarung? Hayo hadapilah seranganku ini!” hardiknya.


Kakek cebol berambut putih itu tertawa dingin tubuhnya mengigos kesamping kemudian menerobos maju kemuka secara tiba-tiba, jari tengah dan jari telunjuknya di kakukan bagaikan tombak, kemudian disodoknya jalan darah Hian-ki-hiat di tubuh Ji Kiu- liong dengan keras.


Ji Kiu-long tak berani gegabah, cepat dia mundur setengah langkah, kemudian pedangnya dengan menciptakan selapis cahaya yang menyilaukan mata balas menusuk ke depan.


0000000000


KAKEK berambut putih itu kembali menyelinap ke samping melepaskan diri dari ancaman tersebut, tiba-tiba ia membentak, “Lepas tangan!”


Toya kepala ularnya menyodok pergelangan tangan kanan Ji Kiu- liong yang memegang pedang, dan ….


“Criiing!” Diiringi dengusan tertahan bocah laki-laki itu, pedangnya benar-benar terjatuh dari genggaman.


“Kau juga lepas tangan!” tiba-tiba bentakan lain berkumandang memecahkan kesunyian.


Bagaikan sambaran sukma gentayangan, tahu tahu Gak Lam-kun sudah menyusup datang, tangan kirinya membabat pergelangan tangan kanan si kakek cebol, sedang tangan kanannya melancarkan sebuah totokan aneh.


Sambil berkerut kening cepat-cepat kakek cebol itu mundur dua langkah, begitu terhindar dari kebasan tangan kiri dan sodokan jari lawan, dengan membawa deruan angin pukulan yang tak kalah cepatnya dia lepaskan pula sebuah serangan balasan.


Sungguh dahsyat tenaga serangannya itu. Ibaratnya bendungan yang jebol dilanda air bah, bisa dilayangkan berapa besar tenaga dorongan yang dihasilkan oleh pukulan itu?


Ketika dua gulung angin pukulan saling bertemu jadi satu, tidak terjadi benturan apapun, bahu si kakek cebol itu cepat bergoyang untuk membuang daya tekanan yang menekan dirinya, namun toh badannya terdorong mundur juga dua langkah.


Sebaliknya Gak Lam-kun juga tidak berhasil meraih keuntungan apa apa, sambil mendengus, tubuhnya terdorong mundur setengah langkah. Setelah terjadi bentrokan kekerasan, kedua belah pihak sama sama mengagumi kehebatan tenaga dalam yang dimiliki musuhnya, merekapun tahu bahwa musuh yang sedang dihadapi adalah musuh yang paling tangguh, untuk sesaat kedua belah pihak tak ada yang berani melancarkan bentrokan untuk kedua kalinya.


Saat itulah Si Tiong-pek menyela sambil tertawa tergelak, “Haaahhh….. haaahhh….. haaahhh….. kagum, kagum! Ternyata tenaga dalam yang dimiliki kalian berdua memang seimbang! Itulah yang dinamakan kalau tidak saling bertarung tidak akan saling mengenal, kebanyakan orang persilatan baru akan kenal jika sudah terjadi pertarungan. Saudara Gak, untuk kejadian tersebut harap engkau jangan marah. Saudara ini juga merupakan seorang jagoan yang ternama dalam dunia persilatan, orang menyebutnya sebagai Tang-hay coa- siu (kakek ular dari lautan timur) Ou Yong-hu, kini jabatannya adalah Thamcu ruang elang sakti dari perkumpulan kami. mari…… mari….. mari ….. kita semua bersama sama minum seteguk arak dalam ruangan”


Ketika mendengar disinggungnya nama “Tang-hay-coa-siu Ou Yong-hu” paras muka Gak Lam-kun agak berubah, dendam sakit hati karena kematian gurunya Tok-liong Cuncu segera berkobar kembali dalam rongga dadanya, tanpa sadar ia bergumam, “Diantara tujuh belas orang musuh besarku, ada sepuluh orang yang sudah tewas ditanganku, sisanya yang tujuh orang sukar dilacaki jejaknya, sungguh tak disangka sekarang aku berhasil temukan seorang Ou Yong-hu lagi jadi, selama ini dia bersembunyi dalam perkumpulan elang baja… pantas jejaknya sukar ditemukan…… Ou Yong-hu wahai Ou Yong-hu….. saat kematianmu sudah tiba”


Berpikir sampai disitu, tiba-tiba dalam benaknya terlintas kembali pesan Tok-liong Cuncu sebelum tiba ajalnya, “…….diantara tujuh belas orang musuh besarku rata-rata mereka merupakan gembong iblis yang berilmu silat amat tinggi terutama sekali Si kakek ular dari lautan timur Ou Yong-hu mereka merupakan jago-jago yang berilmu paling tinggi, bahkan kungfu mereka yang satu lebih hebat dari yang lain Dalam catatan musuh besarku sudah kucatat masing-masing keistimewaan ilmu silat yang mereka miliki, bila kau jumpai salah seorang diantara ke tujuh orang itu, maka sebelum membalas dendam lebih baik periksalah dulu catatan musuh besarku!”


Teringat sampai disitu, hawa amarah dan rasa dendam yang semula berkobar di rongga dada Gak Lam-kun, tiba-tiba berhasil dikendalikan kembali, lagi pula dia tahu bahwa dialah yang mencatut nama gurunya untuk menuntut balas bila rahasianya terbongkar, niscaya orang persilatanpun akan mengetahui pula rahasia dibalik kemunculan Tok liong Cuncu dalam dunia persilatan.


Begitu selesai mempertimbangkan untung ruginya, dengan cepat paras muka Gak Lam- kun pulih kembali seperti sedia kala.


Baik Si Tiong-pek maupun Ou Yong-hu sama-sama merasakan pula perubahan wajah Gak Lam-kun, cuma mereka mengira anak muda itu sedang terperanjat setelah mengetahui nama besar dari Tang-hay-coa-siu, maka sekulum senyuman tanpa terasa tersungging diujung bibir Ou Yong-hu.


“Sungguh hebat ilmu silatmu” demikian ujarnya kemudian, “aku Ou Yong-hu merasa amat kagum!”


Gak Lam-kun tersenyum. “Aaah….. cuma ilmu silat kucing kaki tiga, malu untuk dibicarakan!” cepat Gak Lam-kun menyanggah. “Heeeehhh….. heeeehhh….. heeeehh…….. mana, mana…..” Tang hay-coa-siu Ou Yong- hu tertawa seram, “Aku Ou Yong-hu sudah memastikan diri untuk bersahabat lote!”


“Hmmm…….! Ou Yong-hu, engkau telah perkenalan dengan setan pencabut nyawa dari mereka!” menyumpah Gak Lam-kun dalam hati kecilnya.


Betul senangnya Si Tiong-pek setelah menyaksikan suasana yang semula serba kaku kini berubah jadi tenang kembali, ia lantas berseru dengan lantang, “Saudara Gak betul- betul seorang jagoan lihay yang sukar ditemui di dunia ini, sungguh beruntung aku bisa berkenalan dengan dirimu. Mari-mari kita masuk ke dalam ruangan dan minuman arak sambil bercakap-cakap!”


Berbicara sampai disitu, Si Tiong-pek melangkah masuk ke dalam ruangan lebih dahulu diiring salam hormat dari ke delapan belas elang baja yang berjajar di sekeliling sana.


Perlu diterangkan disini bahwasanya ke delapan belas elang baja itu adalah jago jago berilmu tinggi, hal ini rasanya tak perlu diterangkan lagi selain itu mereka juga berwatak tinggi hati. Dihari-hari biasa mereka tak pernah pandang sebelah matapun terhadap kawanan jago silat yang ditemuinya.


Tapi keampuhan angin pukulan yang didemontrasikan Gak Lam-kun tadi telah menimbulkan rasa hormat dihati kecil mereka, maka tanpa sadar timbul pula rasa kagumnya dihati mereka semua untuk menghormati jagoan muda itu.


Gak Lam-kun segera merangkap tangannya balas memberi hormat. “Terima kasih banyak atas perhatian saudara sekalian!” ujarnya.


Ruang dalam perahu itu luas sekali, kemewahan dan kemegahannya tidak kalah dengan perahu milik Han Nio-nio. Si Tiong-pek, Ou Yong-hu, Gak Lam-kun dan Ji Kiu-hong serentak masuk ke dalam ruangan.


Mereka duduk disebuah ruangan mungil yang dia tur dengan arsitek tinggi, empat dilapisi kain hor den berwarna biru langit, sebuah meja yang indah teratur ditepi jendela dan aneka masakan yang lezat telah dihidangkan di depan meja.


“Silahkan saudara Gak!” ujar Si Tiong-pek.


Maka diiringi pembicaraan yang amat santai, keempat orang itu duduk berbicara sambil menikmati hidangan.


Ji Kiu-liong tak pandai minum arak, setelah mereguk beberapa cawan, ia lantas berhenti, sebaliknya Gak Lam-kun, Si Tiong-pek maupun Ou Yong-hu mempunyai takaran minum yang luar biasa. Dalam waktu singkat puluhan cawan sudah di teguk ke dalam perut.


Si Tiong-pek adalah seorang jago kawakan yang sudah berpengalaman, ia berkenalan dengan Gak Lam-kun memang disertai dengan suatu rencana besar yakni menariknya masuk kedalam perkampungannya, tapi sampai perjamuan di langsungkan, niat tersebut sama sekali tak disinggung, bahkan pembicaraan yang berlangsungpun hanya pembicaraan yang santai-santai. Akhirnya Gak Lam-kun tak kuasa menahan diri, mendadak dia alihkan pembicaraan ke pokok persoalan yang sebenarnya tanyanya, “Saudara Si, konon aku dengar Tok-liong Cuncu yang namanya pernah menggetarkan dunia persilatan dimasa lalu telah memunculkan diri kembali, malah katanya pertengahan bulan delapan ini akan datang ke bukit Kun-san untuk menerima lencana pembunuh naga, benarkah ada kejadian seperti itu ?”


Berbicara sampai disitu, dengan ujung matanya Gak Lam-kun melirik sekejap ke arah Tang-hay-coa-siu. Betul juga paras muka kakek cebol itu segera diliputi oleh kemurungan dan kekesalan yang sangat tebal.


Si Tiong-pek segera menghela napas panjang seraya menjawab, “Kemunculan Tok- liong Cuncu dalam dunia persilatan sudah mulai tersiar sejak tiga tahun berselang, mengenai kehadiran Tok-liong Cuncu di bukit Kun-san untuk menerima lencana pembunuh naga pada pertengahan bulan delapan nanti, hal ini merupakan suatu janji Tok-liong cuma dengar Soat san thian li yang telah berlangsung dua puluh tahun berselang, tapi sejak


Tok-liong Cuncu tewas dibelakang tebing Yan-po-gan dibukit Hoa-san peristiwa itu juga sudah dilupakan oleh orang-orang persilatan, tapi anehnya dua puluh tahun kemudian tiba-tiba si Datuk naga beracun itu muncul kembali dalam dunia persilatan, ini mengakibatkan kawanan jago dari pelbagai perguruan telah berkumpul semua di wilayah Siang-pek. Aku dengar tidak sedikit jumlah manusia yang berkumpul disini. Yaa beberapa hari kemudian suatu perebutan mustika tak bisa dihindari lagi, entah berapa banyak manusia lagi yang bakal tewas peristiwa akibat Lencana Pembunuh naga? bagaimanakah keadaan yang sebenarnya, aku sendiripun kurang begitu jelas, tapi terus terang saja kukatakan kedatangan siaute kesini juga lantaran Lencana Pembunuhan naga itu, Apakah kehadiran saudara Gak dan saudara Ji juga disebabkan benda mustika tersebut ?”


“Aaaah aku orang she-Gak dengan adik Liong ku ini cuma mengembara didalam


dunia persilatan tanpa tujuan tertentu, adapun kehadiran kami kesini pun tak lebih cuma ikut menonton keramaian belaka. Mengenai soal Lencana pembunuh naga….. Haaahh…..


haaahhh Aku orang she-Gak tak lebih hanya mempunyai perasaan ingin tahu.”


Mendengar jawaban tersebut Si Tiong-pek segera menengadah dan tertawa terbahak- bahak. “Haaahhh….. haaahhh…… haaahhh bagus sekali, bagus sekali sebagai anak


muda memang harus mempunyai perasaan ingin tahu, cuma kalau toh kedatangan saudara Gak bukan lantaran lencana pembunuh naga, maka ada baiknya kalau jejak lain mulai kini lebih dirahasiakan, daripada mengundang datangnya segala kerepotan yang tak inginkan haahh….. haaahh……… haaahh……”


Si Tiong-pek kembali tertawa bergelak, dengan sepasang matanya yang jeli dia melirik sekejap wajah Gak Lam-kun, kemudian lanjutnya lebih jauh, “Haaahh…. haaahh…. haaahh ilmu silat yang dimiliki saudara Gak sangat tinggi, tentu saja kau tak takut


urusan, cuma saudara Gak harus waspada terhadap segala kelicikan serta kebusukan hati orang-orang persilatan, seringkali mereka lebih mengutamakan tercapainya tujuan daripada mengindahkan keselamatan serta kebajikan, sebab banyak urusan yang tak bisa dihadapi hanya mengandalkan dengan kekuatan ilmu silat belaka”


Perkataan tersebut betul-betul berpengalaman dan bermaksud luas, selain memberi peringatan ke pada Gak Lam-kun, diapun seakan-akan sedang berusaha menyelidiki suara hati lawannya, dari sini dapat diketahui bahwa Si Tiong-pek memang seorang manusia yang amat licik. “Terima kasih banyak atas petunjukmu!” jawab Gak Lam-kun hambar.


Sementara itu, Ji Kiu-liong yang berada disisinya ikut menimbrung pula dengan mata melotot besar , “Sebetulnya watak toako lembut dan baik hati, tapi bila ada orang berani mencari urusan dengannya, maka dia akan menjatuhkan hukuman yang berat kepadanya, tapi bila orang tidak memusuhinya, diapun segan untuk mencampuri urusan orang lain.


Maka Si toako, bila kau masih ada persoalan katakan saja cepat-cepat, sebab kami masih ada urusan lain yang perlu diselesaikan!”


Si Tiong-pek tertawa nyaring. “Saudara cilik. Kau memang orang pintar pandai berbicara, tindakanmu itu tak malu disebut sebagai tindakan seorang jagoan muda, kemanakah kalian berdua akan pergi selanjutnya? Mari sekalian kuhantar, dengan demikian bukan saja tak usah membuang waktu dengan percuma, kitapun bisa memanfaatkan waktu dalam perjalanan sambil bercakap cakap”


“Kami akan berhenti di kota Gak-ciu dekat bukit Kun-san” jawab Gak Lam-kun cepat, “tolong saudara Si hantar kami kesana saja”


“Aaah…… kita memang sejalan dan setujuan,


apa salahnya kalau kita menempuhnya bersama?” ujar Si Tiong-pek seraya tertawa dan gelengkan ke palanya berulang kali.


Sejak Gak Lam-kun menyinggung tentang diri Datuk naga beracun, Si kakek ular dari lautan timur Ou Yong-hu cuma membungkam diri tanpa berbicara, dengan sendirinya Gak Lam-kun juga tak dapat menebak begaimana jalan pikirannya itu.


Ditengah keheningan, tiba-tiba Ji Kiu-liong bertanya. “Si Toako. Barusan kau mengatakan bahwa kawanan jago persilatan berbondong-bondong telah mendatangi sekitar bukit Kun-san untuk ikut memperebutkan Lencana pembunuh naga, tolong tanya benda macam apakah Lencana pembunuh naga itu sehingga demikian berharganya sampai semua orang tak segannya menempuh perjalanan jauh demi benda itu?”


Si Tiong-pek tertawa ringan. “Saudara Ji, kamu sudah tahu pura-pura bertanya ataukah sungguh sungguh tidak tahu?”


“Tentu saja tidak tahu, tolong Si toako bersedia memberi penjelasan…..”


Si Tiong-pek seperti takut rahasianya yang berharga itu sampai diketahui orang. Dia termenung sebentar sebelum akhirnya menjawab, “Berita tentang betapa berharganya Lencana Pembunuh naga terdiri dari aneka macam raganya. Tiap orang persilatan mempunyai versi cerita yang berbeda. Aku tak bisa memberi jawaban yang sesungguhnya kepadamu……”


Ji Kiu-liong memang seorang setan cerdik yang cilik, dia tahu Si Tiong-pek enggan membicarakan rahasia itu, maka dia sengaja mendesaknya lebih lanjut, kembali ujarnya sambil tertawa, “Kalau begitu bicarakanlah secara singkat, Si-toako tentunya engkau tidak keberatan bukan?”


Si Tiong-pek benar-benar dibuat serba salah hingga mau menangis tak bisa mau tertawapun enggan, tapi diapun tahu jika dirinya menolak untuk memberi keterangan, orang pasti akan menuduh jiwanya terlalu sempit. Akhirnya sesudah merenung sebentar, dia lantas menengadah ke arah Gak Lam-kun dan balik bertanya sambil tertawa, “Saudara Gak, apakah engkau mengetahui raha sia tentang Lencana Pembunuh Naga itu?”


“Tidak!”


Si Tiong-pek segera terbahak bahak. “Haaahhh….. haaahhh….. haaahhh….. konon dimana tersimpan harta karun didalam petunjuk lencana pembunuh naga terdapat juga sejilid kitab pusaka yang tak ternilai harganya serta sebilah pedang emas yang tajam sehingga rambut yang ditiupkan ke atasnya akan putus, juga terdapat seorang gadis cantik jelita bak bidadari dari kahyangan serta emas permata yang tak terhitung jumlahnya”


“Kalau dikatakan lencana pembunuh naga menyimpan kitab pusaka, dengan mustika dan emas permata siapa saja akan percaya, bagaimana mungkin menyangkut pula seorang gadis yang cantik jelita?” sela Ji Kiu-liong keheranan.


Si Tiong-pek kembali tertawa misterius. “Apa yang kudengar hanya terbatas pada berita yang tersiar dalam dunia persilatan tentu saja keadaan yang sebenarnya tidak kuketahui”.


“Tapi…. tentu saja tanpa angin pohon tak akan bergoyung, masa orang akan menyiarkan berita bohong tanpa wujudnya?” gumam Ji Kiu-liong seorang diri, kalau bilang ada pedang dan kitab si orang percaya saja, tapi kalau dibilang bisa mendapatkan gadis cantik… aaah, aku tak akan percaya!”


Si Tiong-pek tidak memperdulikan gumaman orang, ujarnya lebih jauh, “Saudara Gak kita sudah berbicara lama sekali, tapi belum kuketahui siapakah nama gurumu?”


Ketika mendengar pertanyaan itu, sepasang mata Tan-hay coa-siu Ou Yong-hu yang jeli segera menatap tajam wajah Gak Lam-kun, dia ingin sekali mengetahui asal perguruan dari Gak Lam-kun setelah ia gagal untuk menebaknya sendiri terutama setelah pemuda itu berhasil memunahkan pula sebuah pukulan dahsyat yang lancarkan tadi.


Gak Lam-kun menghela napas sedih sahutnya, “Guruku sudah lama tutup usia, maaf bila aku tak akan sebutkan namanya daripada menambah kepedihan hatiku”


Jawaban itu sungguh bikin hati orang kecewa tapi Ou Yong-hu yang licik dan banyak tipu muslihatnya mendadak teringat akan sesuatu. kecurigaannya segera timbul.


Kepada Si Tiong-pek tiba-tiba tanyanya dengan nada menyeramkan, “Si lote, kau selamanya adalah orang yang pintar, tahukah engkau bahwa berita tentang kemunculan kembali Tok-liong Cuncu dalam dunia persilatan adalah sebuah berita yang patut dicurigai?”


Ketika mengucapkan kata-kata tersebut, dengan ujarnya matanya Ou Yong-hu melirik sekejap ke wajah Gak Lam-kun.


Diam diam Gak Lam-kun tertawa dingin didalam hati, pikirnya, “Ou Yong-hu kau jangan harap bisa mendapatkan keterangan apapun dari perubahan wajahku!” Yaa, memang! Paras muka Gak Lam-kun ketika itu amat dingin dan kaku, sedingin salju ditengah bukit yang tinggi membuat orang sukar untuk merasakan perubahan wajahnya.


Si Tiong-pek manggut-manggut lirih. “Ketika berada di puncak Hong-po-gan bukit Hoa- san tempo dulu, Tok-liong Cuncu sudah terkena delapan buah tusukan pedang yang mematikan, tiga buah pukulan beracun yang amat jahat, dua belas batang senjata rahasia yang amat beracun selain obat pemutus usus yang diminumnya lebih dulu sebelum pertempuran, kemudian sesudah terluka parah tubuhnya terjatuh pula ke dalam jurang dengan air terjun yang amat dahsyat, aku pikir sekalipun dia dewa juga jangan harap bisa lolos dari lubang kematian……”


Mendengar kembali kisah pembunuhan terhadap gurunya yang mengerikan, hawa amarah serasa mendidih dalam dada Gak Lam-kun, hampir saja ia menjerit dan menghajar musuh besar yang berada dihadapannya, meski demikian, paras mukanya sedikitpun tidak berubah.


Setelah selesai berkata Si Tiong-pek lantas berpaling ke arah Gak Lam-kun sambil bertanya, “Saudara Gak, apakah engkau tahu juga tentang peristiwa berdarah di bukit Hoa-san tebing Yan-po-gan tersebut?”


Gak Lam-kun tertawa. “Kalau dibicarakan kembali, sesungguhnya memalukan sekali, sebab walaupun aku orang she-Gak termasuk salah seorang anggota dunia persilatan, tapi oleh karena kurang suka bergaul, maka pengetahuanku mengenai peristiwa dalam dunia persilatan juga picik sekali. Tentang Tok-liong Cuncu, aku cuma tahu kalau dia telah dikerubuti oleh  orang-orang persilatan yang mendendam kepadanya, mengenai lainnya….. aku kurang begitu tahu”


Perkataan itu diucapkan dengan kata-kata yang sejujurnya, ditambah pula mukanya yang polos dan tidak berpura-pura, membuat orang jadi percaya bahwa perkataannya bukan kata-kata bohong.


Tang-hay-coa-siu Ou Yong hu tertawa dingin, “Ilmu silat yang dimiliki Tok-liong Cuncu waktu itu memang sangat luar biasa, bila orang lain yang terkena pukulan dan tusukan sebanyak itu mungkin jiwanya akan segera melayang tapi dia memang jauh berbeda dengan orang lain”


“Waaah……..jadi kalau begitu, dia benar-benar masih hidup di dunia ini…….?” seru Si Tiong-pek dengan kaget.


Ou Yong-hu kembali tertawa dingin. “Jika dia masih hidup, buat apa kukatakan kejadian ini sedikit mencurigakan?”


“Aduuh mak, kalau begitu aku malah dibikin tak mengerti dengan teka teki dibalik ucapan Ou thamcu!”


“Si lote tahukah kau racun pemutus usus yang diminum Tok liong Cuncu tempo hari adalah buatan siapa?”


Si Tiong-pek menggeleng. Sambil tertawa seram Ou Yong-hu berkata lebih jauh, “Dalam dunia dewasa ini masih ada siapa lagi yang mampu membuat obat racun lebih dahsyat daripada Jit-poh-toan-hun (tujuh langkah pemutus nyawa) Kwik To sianseng?”


“Bagus sekali!” pikir Gak Lam-kun dalam hati kecilnya dengan gemas, “Jadi Jit-poh- toan-hun Kwik To lah pembunuh utama yang menyebabkan kematian guruku!”


Ketika Ou Yong-hu menyebutkan nama orang itu, sepasang matanya dengan cepat melirik sekejap ke atas wajah Gak Lam-kun, tapi ia kembali ia merasa kecewa.


Kembali Tang-hay-coa-siu berkata lagi, “Arak beracun pemutus usus itu dibuat oleh Kwik To sianseng sebagai sejenis arak beracun yang bersifat amat keras, besar sekali daya pengaruhnya bila terteguk kedalam perut seseorang. Pada mulanya kami kuatir Tok-liong Cuncu tahu rencana busuk kami dan tak sudi meneguk habis arak beracun yang telah dipersiapkan, maka ketika menciptakan racun itu kami membubuhkan racun yang berdaya kerja sangat hebat, dimana asal Tok-liong Cuncu hanya meneguk setetes saja, sekalipun ia mencoba untuk mendesak keluar racun itu dari tubuhnya namun tak akan bisa menghindari suatu kematian yang mengerikan setelah racun tersebut mengeram selama belasan tahun dalam tubuhnya. Yaa, waktu itu Tok-liong Cuncu memang tidak menghabiskan arak racun yang kami siapkan, sekalipun demikian bukan berarti Tok-liong Cuncu tak akan mati apalagi tubuhnya yang terkena tiga buah pukulan rata-rata pukulan beracun yang amat dahsyat”


“Kalau memang begitu, lantas menurut anggapan Ou Thamcu, siapakah yang telah muncul diri didalam dunia persilatan sebagai Tok-liong Cuncu itu?”


“Kalau ditinjau dari tanda-tanda kematian yang dialami Kang lam Tiat-san-cu sekalian bersepuluh….. mereka memang terkena oleh Ton-liong jin (cakar naga perenggut nyawa) itu senjata rahasia andalan Tok-liong Cuncu dimasa lalu, konon menurut orang melihat kemunculannya, baik potongan badan maupun dandannya persis dengan Tok-liong Cuncu. Wajahnya juga mengenakan topeng kulit berkepala naga yang sama. Meski begitu aku berani yakin bila Tok-liong Cuncu sudah lebih banyak mampusnya daripada hidupnya kalau belakangan ini dalam dunia persilatan tersiar berita yang mengatakan bahwa Tok- liong Cuncu telah muncul kembali, sudah pasti hal itu merupakan perbuatan dari muridnya”


Si Tiong-pek melirik sekejap ke arah Gak Lam-kun, kemudian gelengkan kepalanya berulang kali. “Seandainya Tok-liong Cuncu mempunyai anak murid kenapa dalam dunia persilatan tidak tersiar berita tentang hal ini?”


Dalam pembicaraan yang berlangsung selama ini rupanya Tang-hay-coa-siu Ou Yong- hu tidak berhasil mendapatkan sesuatu yang mencurigakan diwajah Gak Lam-kun, dan agaknya kejadian ini membuat hatinya jadi mendongkol, dia lantas menghela napas. “Lohu yakin kalau kejadian ini besar kemungkinannya adalah demikian. Cuma tentu saja masih terbatas pada perkiraan belaka”


Diam-diam Gak Lam-kun tertawa dingin. pikirnya, “Heeehhh….. heeeehh….. heeeehh…… sekalipun Cuma anak muridnya, jangan harap kalian bisa lolos dari cengkeraman mautnya”


Sementara dia masih termenung, Si Tiong-pek sudah berkata sambil tertawa ringan, “Ou thamcu. sekarang kau adalah seorang thamcu dari perkumpulan elang baja, ilmu silatmu juga luar biasa lihaynya, sekalipun Tok-liong Cuncu itu berilmu tinggi, tak nanti dia berani mengganggu seujungpun rambut dari anggota anggota Tiat-eng-pang”


Dengan perkataannya jelas dia mengartikan bahwa seandainya Tang hay coa siu Ou Yong-hu sampai dicari oleh Tok-liong Cuncu untuk dibunuh. maka seluruh jago lihay dari Tiat-eng-pang akan serentak membantu dipihaknya……..


Tiba-tiba Tang-hay-coa-siu Ou Yong-hu menengadah sambil tertawa seram. “Haaahhh…. haaaahh…. haaahhh…. masih mendingan kalau Tok-liong Cuncu tidak datang kebukit Kun-san, asal ia berani berkunjung kebukit Kun-san, akan kami buat orang itu tak mampu lolos dari jebakan langit dan bumi yang kami atur”


Mendengar perkataan itu, Gak Lam-kun merasa hatinya agak tergerak, segera pikirnya, “Masa mereka sudah mengadakan persiapan? Suhu sendiri juga tewas oleh siasat busuk yang mereka susun, aku tak boleh terlalu gegabah menghadapi mereka……”


Ji Kiu-liong mengetahui jelas asal usul dari Gak Lam-kun, diapun dengan jelas menyaksikan adu otak yang sedang berlangsung antara ketiga orang itu, maka cepat- cepat dia unjukkan pula sikap seakan akan tidak tahu urusan.


Tiba-tiba Gak Lam-kun buka suara, ujarnya ke pada Si Tiong-pek, “Pengetahuan yang dimiliki saudara Si sungguh amat luas, apa yang kudengar malam ini ibaratnya bersekolah selama sepuluh tahun, semua kebodohanku selama ini dapat diungkapkan sedikit demi sedikit. Oya, ada satu urusan ingin kutanyakan kepada saudara Si, apakah kau bersedia memberi petunjuk?”


“Aaah mana tahu” Si Tiong pek tertawa lirih, “saudara Gak terlalu sungkan, tentu


saja kalau aku mengetahui tentang persoalannya, akan kuterangkan sejelas-jelasnya”


Gak Lam-kun merenung sebentar dengan wajah membesi, kemudian ujarnya, “Atas kebaikan dan kepercayaan nona Han yang kujumpai malam tadi, sebenarnya dia hendak mengajak siaute untuk masuk menjadi anggota perguruan panah bercinta, padahal siaute boleh dibilang merasa asing terhadap segala sesuatu yang menyangkut perguruan Cing- cian-bun tersebut, maka bila saudara Si tidak keberatan, bersediakah kau terangkan segala sesuatu yang menyangkut perguruan itu?”


Agak terperanjat Si Tiong-pek ketika mendengar perkataan itu, segera pikirnya: Meskipun asal-usul orang ini tidak begitu jelas, tapi kelihayan ilmu silat yang dimilikinya mungkin tidak lebih lemah daripada Ou Yong hu pada hal sejak Cing-cian-bun muncul dalam dunia persilatan, pengaruhnya meluas sampai dimana-mana, terutama sebagai saingan utama dari perkumpulan kami, bila manusia berbakat semacam Gak Lam-kun sampai kena ditarik oleh pihak Cing-cian-bun, maka peristiwa ini tanpa serasa justru akan menambah daya pengaruh mereka, yaa, bagaimanapun, juga aku harus berusaha untuk menariknya ke pihakku”


Ingatan tersebut secepat kilat melintas dalam benak Si Tiong-pek. dia lantas tersenyum. “Saudara Gak” ujarnya kemudian, “jadi engkau sudah menyanggupi tawaran dari Han Nio- nio untuk bergabung dengan pihak Cing-cian-bun?”


Gak Lam-kun segera menggeleng tanda belum. Jangan dilihat usia Si Tiong-pek masih muda. Pada hakekatnya dia adalah seorang manusia yang berotak cerdas, begitu menyaksikan gerak gerik Gak Lak-kun, dia lantas tahu bahwa manusia semacan ini bukanlah manusia yang gampang dipergunakan tenaganya, sudah tentu tanpa ditanyapun dia sudah tahu kalau Gak Lam-kun tidak secepat itu menggabungkan diri dengan pihak Cing-cian-bun.


Paras muka Si Tiong-pek berubah jadi serius, ujarnya dengan suara rendah, “Saudara Gak! bukannya aku sengaja menjelek-jelekkan orang, tapi jika saudara Gak sudah menyanggupi untuk menjadi anggota Cing-cian-bun, maka runyamlah keadaannya. Orang persilatan dewasa ini jarang sekali ada yang tahu tentang perguruan panah bercinta tersebut, tapi siaute bukan sombong nih! Sedikit banyak soal rencana busuk organisasi perguruan itu masih mengetahuinya juga. Mereka adalah suatu organisasi perkumpulan yang khusus menggunakan perempuan-perempuan cantik sebagai umpannya untuk membohongi kawanan jago di dunia ini agar bersedia menjual tenaganya bagi mereka serta bantuan mereka untuk mencapai suatu ambisi yang jahat terhadap umat persilatan!”


“Oya, lalu rencana ambisi apakah mereka tuju?”


Si Tiong-pek merenung sebentar sebelum akhirnya menjawab, “Ambisi itu adalah suatu rencana yang busuk begitu kejam begitu, buas dan begitu jahatnya untuk menumpas seluruh umat persilatan di dunia ini. Kalau dibicarakan pada hakekatnya betul-betul membuat bulu kuduk orang pada bangun berdiri”


Diam-diam Gak Lam-kun tertawa dingin dalam hal kecilnya, ia membatin, “Huuh…… aku rasa engkau sendiri tak tahu keadaan mereka yang sebenarnya, maka sengaja menjual kecap dan mengaco belo tak karaun…. sialan!”


Tapi diluaran dia pura-pura bertanya lagi, “Apakah saudara Si tahu, siapakah ketua pergurua panah bercinta itu…….?”


Dengan cepat Si Tiong-pek menggeleng. “Tentang soal ini aku rasa kecuali beberapa orang pentolan dalam perguruan Cing-cian-bun, tak seorangpun yarg akan tahu. Sebab orang luaran tak seorangpun yang tahu siapa gerangan ciangbunjin mereka, maaf, tentang soal ini siaute sendiripun kurang begitu jelas,”


Satu ingatan tiba-tiba melintas dalam benak Gak Lam-kun, dia kembali berpikir, “Yaa benar, ketika kuajukan pertanyaan kepada Telapak tangan tunggal penenang jagat Siangkoan It, jago tersebut segera menunjukkan perasaan keberatan dan mengemukakan alasannya waktu itu bahwa dia mendapat perintah untuk merahasiakan hal itu. Atau mungkin Siangkoan It sendiripun tak tahu siapa nama majikannya? Wah, kalau begitu perguruan panah bercinta memang terhitung sebuah perguruan yang amat misterius”


Perahu melaju dengan lancarnya, waktu itu kentongan kelima sudah menjelang tiba, itu berarti fajar hampir menyingsing dari ufuk sebelah timur


Tiba-tiba seorang laki-laki berbaju ringkas warna biru masuk kedalam seraya lapor, “Komandan Si kota Gak-ciu sudah tiba!”


Si Tiong-pek mengangguk seraya mengulapkan tangannya mengundurkan orang itu.


Gak Lam-kun segera berkata sambil tertawa, “Waktu berlalu dengan cepat, berbicara setengah malaman tanpa terasa kota Gak-ciu sudah di depan mata, sayang siaute masih ada urusan yang harus diselesaikan, terpaksa aku harus minta diri dulu ke pada saudara Ou thamcu”


“Haaahhh….. haaahhh…. haaahhh….” Si Tiong-pek tertawa tergalak, Mumpung perahu belum merapat, siaute ingin menggunakan kesempatan ini untuk menyampaikan sesuatu kepada saudara Gak cuma sukur rasanya untuk membuka suara”.


Gak Lam-kun sudah dapat menebak persoalan apakah yang hendak disampaikan, maka berkata, “Tak apa saudara Si, katakanlah!”


Dengan raut wajah yang bersungguh-sungguh Si Tiong pek berkata, “Aku lihat saudara Gak gagah perkasa dan jiwa besar, sekalipun baru bertemu untuk pertama kalinya dengan saudara Gak, namun aku merasa engkaulah sahabatku yang paling berkenan dihati…….”


Setelah berhenti sebentar, lanjutnya, “Dan engkaulah yang paling mencocoki watak ku maka setelah kuketahui bahwa saudara Gak mengembara tak menentu tanpa tempat tinggal yang tetap, dengan memberanikan diri siaute ingin menawarkan diri untuk mengajak saudara bergabung dengan perkumpulan kami. Ilmu silat yang dimiliki saudara Gak amat lihay. Ditambah pula masih muda usia, asal kau setuju untuk menggabungkan diri dengan Tiat-eng-pang, Oh pangcu kami pasti akan menyelenggarakan suatu upacara besar dengan memimpin keempat thamcu kami untuk menyambut kedatanganmu….


Apalagi Saudara Gak juga tahu, dewasa ini dunia persilatan sedang mengalami goncangan besar dengan ancaman badai berdarah yang setiap saat bisa melanda seluruh jagad, padahal mereka yang menganggap dirinya sebagai sembilan partai besar dalam dunia persilatan tak pernah memandang sebelah matapun kepada kita, bila kita manusia- manusia persilatan tidak bersatu padu dalam wadah yang sama, niscaya kita-kita juga yang bakal menjadi sasaran pembunuhan bagi mereka yang kuat. Karena itu, bersediakah saudara Gak untuk bergabung dengan kami serta bersama sama angkat senjata melawan penindasan dari perguruan perguruan besar lainnya?”


Meskipun hanya suatu ajakan, namun tanpa di sadari pemuda itu sudah menerangkan pula tujuan dari perkumpulan Tiat-eng-pang ini membuat Gak Lam-kun diam-diam merasa terkejut.


Sekarang dia baru tahu kalau beginilah keadaan yang sebenarnya dari dunia persilatan tapi dari situ pula dia menjadi tahu bahwa ketua Tiat-eng-pang, Tiat eng-sin-siu (kakek sakti elang baja) Oh Bu-bong sebenarnya adalah seorang pemimpin dunia persilatan yang tak boleh dianggap remeh.


Tang-hay-coa-siu Ou Yong-hu ikut pula berkata “Saudara Gak, apa yang dia ucapkan memang benar, sekarang pertikaian dalam dunia persilatan telah dimulai, sekalipun kau memiliki ilmu silat yang tinggi, jangan harap kau bisa melawan anggota persilatan yang begitu banyak jumlahnya. Memang perkumpulan Tiat-eng-pang yang sekarang bukan suatu perkumpulan orang-orang pandai belaka, tapi pada hakekatnya hampir semua orang pandai dari sembilan partai besar telah bergabung dalam perkumpulan Tia-teng- pang kami bukan saja ilmu silat pangcu kami sangat lihay, lagi pula dia berjiwa besar dan penuh kebijaksanaan…….”


Gak Lam-kun cuma tertawa ewa belaka, sementara dalam hati dia berpikir iapun berkata pula. “Tiat-eng-sin-siu Oh Bu-hong ternyata memang seorang manusia luar biasa, buktinya orang yang bisa mengalahkan Teng-hay-coa-siu Oh Yong-hu tunduk seratus persen hanya dia seorang saja. “Saudara Si, Ou-thamcu, maksud baik kalian biarlah kusimpan saja didalam hati. Sementara ini masih banyak urusan yang harus kuselesaikan, maka maaf kanlah daku jika tak bisa cepat-cepat mengambil keputusan”


“Haaahhh…. Haaahhh…. haaahhh…. apakah saudara Gak bersedia menggabungkan diri dengan Tian-eng-pang kami atau tidak, tentu saja kami tidak akan memaksa” kata Si Tiong-pek sambil tergelak, “kalau toh begitu, harap saudara Gak bersedia mempertimbangkan kembali persoalan ini sebaik-baiknya. Yang pasti pintu Tiat-eng-pang selalu terbuka lebar lebar untuk menyambut kedatangan para jago dari seluruh kolong langit yang ingin menggabungkan diri. Nah, mari kita keringkan cawan yang terakhir demi kesejahteraan kita semua”


“Terima kasih atas kebaikan saudara Si!” sambil tersenyum Gak Lam-kun menjura, kemudian ia sambar cawan arak dimeja dan sekali teguk menghabiskan isinya.


Perahu elang raksasa sudah menepi ke pantai, di antar sendiri oleh Si Tiong-pek dan Ou Yong-hu, Gak Lam-kun. serta Ji Kiu-liong segera berpamitan sambil melompat ke daratan.


“Semoga menjaga diri baik-baik!” masing-masing saling memberi hormat sebagai tanda perpisahan.


Maka perahu besar itupun meneruskan kembali pelayarannya menuju ketengah telaga, sekejap kemudian bayangan mereka sudah lenyap dibalik kegelapan.


Waktu itu fajar belum menyingsing, orang yang berlalu lalang ditengah jalan masih amat sedikit, Gak Lam kuu serta Ji Kiu liong segera mencari sebuah penginapan didekat dermaga untuk beristirahat, setengah harian lewat tanpa kejadian apa apa.


Kota Gak-ciu betul-betul merupakan sebuah kota yang amat besar diselatan sungai Tiang-kang dan diutara telaga Tong-ting-ou, bukan saja letak kota itu ditepi telagapun berdempetan dengan bukit yang permai, ini menyebabkan pemandangan disekitarnya tampak sangat indah menawan hati.


Tengah harinya, Gak Lam-kun serta Ji Kiu-liong kembali menyewa sebuah sampan untuk berpesiar di telaga.


Sampai itu hilir mudik kurang lebih tujuh li di luar dermaga, Gak Lam-kun duduk ditepi jendela sambil menikmati keindahan alam di sekeliling telaga, dalam keadaan seperti ini mukanya tetap dingin dan penuh diliputi kemurungan, sebaliknya Ji Kiu-liong masih kekanak-kanakan berdiri di ujung geladak sambil celingukan kesana kemari.


Tiba-tiba…. dari arah sebelah barat sana muncul sebuah sampan berwarna merah yang meluncur datang deagan kecepatan tinggi.


Ketika Ji Kiu-liong menyaksikan sampan berwarna merah itu indah menawan hati, dia lantas memerintahkan tukang perahu untuk menjalankan sampannya menyongsong kedatangan sampan merah itu.


Yang satu meluncur datang yang lain menyongsong pergi, ibaratnya dua buah anak panah yang terlepas dari busurnya, sekejap kemudian selisih jarak kedua buah perahu itu tinggal dua kaki saja. Betapa terperanjatnya kedua orang tukang perahu itu setelah melihat sampan merah tersebut langsung menerjang keperahu mereka, cepat-cepat mereka mendayung dengan sekuat tenaga untuk memutar haluan perahu dengan menyingkir ke sebelah kiri.


Tapi rupanya sampan merah itu memang bermaksud mencari gara-gara, mendadak mereka putar haluan kembali dan meluncur pula ke muka untuk meneruskan terjangannya ke atas perahu yang ditumpangi Gak Lam-kun.


Merasakan gelagat tidak baik, terutama setelah dilihatnya orang hendak merusak mangkuk nasi mereka, serentak dua orang tukang perahu itu melompat bangun lalu dengan menggunakan dayung ditangan, mereka siap membela diri.


Ji Kiu liong tidak berpeluk tangan belaka, dia melompat keluar lalu merampas sebuah dayung dari tangan tukang perahu itu dan bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan.


Ketika selisih jarak antara kedua buah perahu itu tinggal dua tiga depa belaka, serentak Ji Kiu-liong menggerakkan lengan kanannya dan menutul ujung perahu merah itu dengan dayung.


Pada saat itulah, tiba-tiba cahaya putih berkelebat keluar menyilaukan mata, tahu- tahu muncul sebilah pedang yang langsung menebas ke arah dayung Ji Kiu-liong diiringi gelak tertawa yang merdu. “Hei, hati-hati dengan dayungmu, awas kalau kena di papas kutung…..”


“Aaaah…..belum tentu!”


Cepat si anak muda itu putar pergelangan tangannya memutar dayung itu ke samping, kaki kirinya menginjak dipinggir perahu sementara kaki kananya menyongsong datangnya terjangan perahu itu sambil putar dayung dengan jurus Hong-im-pit-gwat (menyegel awan menutup rembulan).


Serangan itu ditujukan untuk memaksa lawan menarik kembali senjatanya. Setelah itu sepasang kakinya direntangkan dan diapun melompat ke atas perahu lawan.


Bentakan nyaring segera menggelegar memecahkan keheningan jendela segera terpental lebar dan sesosok bayangan manusia berikut pedangnya menerobos keluar dengan kecepatan yang luar biasa.


Dengan lompatnya itu, orang tak justru sudah mendahului pemuda kita untuk berdiri lebih dulu diatas perahu yang ditumpangi Gak Lam-kun.


Ketika itu Ji Kiu-liong baru saja berdiri tegak ketika pedang lawan sudah menerobos tiba dengan membawa kilatan cahaya yang menyilaukan mata.


Buru buru Ji Kiu-liong menarik tubuhnya sambil melompat mundur ke belakang, dayungnya menyapu kedepan untuk menghalau serangan tersebut, tapi pergelangan tangan lawan sudah keburu berputar, ujung pedangnya dengan membawa getaran cahaya keperak perakan yang menyilaukan mata tahu-tahu mengancam urat nadi penting diatas pergelangan tangan kanan Ji Kiu-liong.


Sungguh cepat serangan pedang itu. Rasanya jarang ditemui dikolong langit dewasa ini. Ji Kiu-liong sangat terperanjat, ia merasa dua buah serangan pedang yang dilancarkan orang itu sedemikian cepatnya, sampai-sampai dia tak empat menyaksikan raut wajah lawannya yang sebenarnya.


Ketika pikirannya bercabang, sekali lagi dia kena didesak sehingga mundur selangkah ke belakang. Lebar sampan kecil itu cuma beberapa kaki saja setelah didesak berulang kali oleh si baju merah, ia sudah mundur sampai ditepi perahu, tapi saat itu juga pemuda tersebut dapat melihat juga kalau musuhnya tak lebih hanya seorang nona cilik berusia empat lima belas tahunan yang mengenakan baju warna merah dengan muka seperti bunga Tho, rambut tergulung menjadi satu, mata yang jeli bibir yang mungil serta senyuman yang polos.


Setelah berhasil dengan serangan-serangannya nona kecil berbaju merah itu semakin tak mau mengalah, sambil tertawa cekikikan, pedangnya sekali lagi menggulung kedepan membacok tubuh bagian tengah dari anak muda itu.


Padahal Ji Kiu-liong sudah berdiri ditepi perahunya, bila ia sampai terdesak mundur selangkah saja, niscaya tubuhnya akan tercebur ke dalam te laga padahal pemuda itu masih bingung dan tak tahu bagaimana caranya untuk memecahkan jurus serangan lawan.


Gak Lam-kun yang berada dalam ruangan dengan wajah murung, kali ini tampil dengan sikap keheranan dia tahu ilmu silat yang dimiliki Ji-Kiu-liong cukup tangguh sebab sendirilah yang mendidik anak muda itu sejak kecil, tapi nyatanya untuk menghadapi seorang bocah perempuan dengan usia sebaya saja ia tak sanggup mempertahankan diri, malahan secara berulang-ulang kena didesak sampai tak bertenaga untuk melancarkan serangan balasan, siapa tak jadi kaget karenanya?


Dengan dahi berkerut Gak Lam-kun segera memberi petunjuk, “Lam-hay-poh-liang (menangkap naga dilaut selatan)!”.


Waktu itu Ji Kiu-liong sedang gugup dan gelagapan setengah mati, maka demikian mendapat petunjuk dari Gak Lam-kun, seperti baru sadar dari impian, secepat sambaran petir tubuhnya melejit ke udara, lalu berputar keselatan mengikuti gerakan pedang, begitu berhasil merebut posisi ti-ong kiong, tangan kirinya segera menyambar kemuka balas mencengkeram pergelangan tangan kanan si nona baju merah yang memegang pedang.


Jurus serangan tersebut memang tangguh dan luar biasa, si nona berbaju merah itu benar-benar tak mampu menghindarkan diri.


Hampir saja telapak tangan kanan Ji Kiu-liong mencengkeram diatas pergelangan tangan nona itu ketika satu ingatan tiba-tiba melintas dalam benaknya, cepat dia tarik kembali tangannya, lalu menggunakan kesempatan tersebut badannya berputar satu lingkaran dan menyelinap ke belakang punggung si nona.


Merah padam selembar wajah si nona berbaju merah itu lantaran jengah, ia segera membentak gusar, “Kau tak usah berlagak sok gagah, huuh! Tak tahu malu!”


Ditengah bentakan nyaring, pedangnya melancarkan serangan semakin gencar, maka tampaklah cahaya bayangan setinggi bukit dan menekan tiba tiada hentinya, semua serangan tertuju pada jalan darah penting di sekujur badan Ji Kiu-liong. Ji Kiu-liong mendengus dingin. “Hmm….. budak sialan, siapa yang kau maki?” tegurnya.


Serangannya dipergencar, dalam waktu singkat tiga buah pukulan berantai sudah dilepaskan secara beruntun, ini membuat gadis tersebut terdesak hebat sehingga harus mundur dua langkah untuk menyelamatkan diri…….


Saking marahnya sepasang alis mata sinona kecil berbaju merah itu sampai melentik, dengan mata melotot karena gusar bentaknya, “Kunyuk kecil, siapa yang kau maki?


Memangnya kalian sudah bosan hidup semua?”


Permainan pedangnya segera berubah, kali ini dia menyerang dengan jurus serangan yang jauh lebih dahsyat, sekejap kemudian ilmu jurus sudah lewat tanpa terasa.


Dasar masih muda dia berjiwa panas, sementara pembicaraan baru saja berlangsung, kedua orang itu sudah saling bertempur belasan gebrakan banyaknya, yang dipakaipun rata-rata merupakan jurus serangan terkeji dan arah yang dituju juga jalan darah kematian di tubuh manusia.


Gak Lam-kun yang menyaksikan jalannya pertarungan itu, mengerutkan dahinya semakin rapat, namun sepasang matanya masih tetap mengawasi jalannya pertarungan tanpa berkedip.


Ji Kiu liong diam-diam mengakui juga akan kelihayan ilmu pedang lawannya, waktu dia rada lega karena mendapat petunjuk dari Gak Lam-kun hingga bisa lolos dari jebakan lawan, tahu-tahu si nona berbaju merah itu sudah menyerang lagi dengan jurus Pek-im- jut-siu (awan putih muncul dari lembah).


Dengan cepat Ji Kiu-liong berkelit ke samping sambil melancarkan serangan balasan, telapak tangan kirinya menggunakan jurus Tui-bung-kian-san (mendorong pintu melihat bukit), sedang tangan kanannya menggunakan jurus Sam-seng-cut-gwat (tiga bintang mengejar rembulan), yang atas menyerang jalan darah Thian-leng-hiat, yang bawah mengikut Ci-jit-hiat di lengan.


Si nona berbaju merah itu segera membuyarkan pedang sambil berkelit kesamping Ji Kiu-liong menerobos maju makin kedepan, begitu tiba di samping si nona, telapak tangan kanannya secepat kilat membacok kebawah dengan jurus Pang-hoa hud-liu(disini bunga pohon liu melambai)……..


Jurus serangan itu adalah salah satu diantara tiga jurus yang ampuh diajarkan Gak Lam-kun kepada anak muda tersebut, jurus itu paling tetap di gunakan untuk suatu pertarungan jarak dekat.


Serentak si nona berbaju merah itu merasakan pergelangan tangan kanannya yang memegang pedang jadi kaku, dan tahu-tahu dia sudah termakan sebuah sapuan ujung jari pemuda itu.


Gak Lam-kun kuatir kalau Ji Kiu-liong melancarkan serangan mematikan tiba-tiba ia berseru, “Adik liong, cepat tahan!” Mendengar seruan itu, Ji Kiu-liong benar-benar tak berani turun tangan keji, ia tarik kembali serangan sambil melompat mundur ke belakang sementara cekalan si nona baju merah atas senjatanya mengendor, pedangnya itu lantas terjatuh ke atas geladak.


Tapi menggunakan kesempatan itulah mendadak nona itu melompat kedepan, secepat kilat telapak tangan kirinya melepaskan sebuah pukulan ke depan.


Mimpipun Ji Kiu-liong tidak menyangka kalau nona itu tak mau menghentikan pertarungan sampai disini saja. untuk sesaat sulitlah baginya untuk menghindarkan diri…….


Tak ampun sebuah pukulan keras dengan telak bersarang diatas dadanya……..


Ji Kiu-liong menjerit tertahan lalu muntah darah segar, seluruh tubuhnya mencelat ke belakang dan tercebur kedalam telaga.


Betapa terkejutnya Gak Lam-kun ketika dilihatnya Ji Kiu-liong tercebur kedalam telaga dengan tubuh menderita luka parah, lalu tangannya berkelebat dan menyambar tubuh Ji Kiu-liong yang baru tercebur kedalam telaga itu.


Begitu korbannya berhasil disambar, telapak tangan kirinya kembali menepuk permukaan air telaga, menggunakan tenaga pantulan tersebut sambil memandang tubuh Ji Kiu-liong, tubuhnya melambung lima depa ke udara, kemudian berjumpalitan dan melayang turun dengan tenangnya diatas geladak.


Ketika itu si nona kecil berbaju merah berdiri termangu-mangu disana dengan wajah tercekat rupanya dia tak mengira kalau serangannya berhasil melukai lawannya, maka waktu Gak Lam-kun menyalamatkan dirinya saudaranya dari air telaga dia malah berdiri mematung.


Setelah diatas geladak, Ji Kiu-liong yang berada dalam bopongan Gak Lam-kun tiba-tiba melejit bangun, lalu sambil membentak marah dia menerjang ke arah si nona berbaju merah itu…….


“Duuub !” sebuah pukulan dahsyat bersarang pula diatas dada si nona cilik berbaju


merah sambil mendengus tertahan, nona itu mundur tiga langkah dengan sempoyongan, kemudian roboh kejengkang ke atas geladak dengar wajah pucat pias bagaikan mayat.


Ji Kiu-liong sendiri, begitu berhasil menyerangkan pukulan di tubuh lawan dia mundur dengan sempoyongan, setelah muntah darah segera pelan-pelan tubuhnya roboh terjengkang pula ke atas geladak


Yaa, pada hakekatnya kedua orang muda-muda itu sama-sama tak ada yang mau mengalah, akibatnya kedua belah pihak sama-sama berluka parah.


Sambil gelengkan kepalanya Gak Lam-kun menghela napas panjang, dia maju dan membopong tubuh Ji Kiu-liong.


Belum habis helaan napas panjangnya, tiba-tiba terdengar suara helaan napas lain berkumandang pula dari belakang. Dengan cepat Gak Lam-kun berpaling, ia lihat seorang pemuda berbaju putih berada diatas sebuah sampan kecil kurang lebih lima kaki disisi sara pan merah tersebut, waktu itu dengan melangkah diatas ombak orang itu sedang bergerak mendekat


Sepintas lalu, orang itu tampak berjalan sangat lambat, padahal cepatnya bukan kepalang, dalam waktu singkat dia membopong tubuh si nona berbaju putih itu dan melayang kembali ke atas sampan merah tersebut


Lalu beberapa dayungan saja, sampan itu berlalu pula dari sana dan lenyap ditengah gulungan ombak.


Gak Lam-kun yang menyaksikan kejadian itu merasa amat terkejut padahal ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya memang, sempurna dan tak sulit baginya untuk berjalan pula diatas ombak seperti apa yang dilakukan orang itu.


Tapi cara pemuda berbaju putih itu berjalan diantara gulungan ombak mempunyai kelainan dibandingkan dengan cara pada umumnya, yang lebih sulit lagi ternyata langkahnya begitu santai dan lembut hingga sepintas lalu orang akan menganggap dia berjalan dengan sangat lambat, padahal kecepatannya tak terkirakan.


Sejak orang itu menghela napas sampai dia pergi sambil memandang nona berbaju merah itu, boleh dibilang waktu yang dipakai teramat singkat, jelek-jelek begini Gak Lam- kun termasuk juga seorang jago persilatan yang amat lihay, tapi kenyataannya dia tidak berhasil menyaksikan raut wajahnya.


Rasa kejut dan heran menyelimuti seluruh benak Gak Lam-kun, pikirnya, “Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki orang ini sungguh amat lihay dan jelas setingkat diatas kepandaianku, siapakah dia? Kenapa belum pernah kudengar kalau dalam dunia persilatan terdapat seorang jagoan muda selihay itu?”


Tanpa sadar Gak Lam-kun mengawasi berlalunya orang itu dengan terpesona, hampir saja dia lupa untuk memeriksa luka yang diderita Ji Kiu-liong.


Dua orang tukang perahunya waktu itu sedang berlutut sambil menyembah ke arah dimana orang tadi lenyap, mulut mereka berkemak-kemik seperti sedang berdoa rupanya mereka sudah menganggap pemuda berbaju putih tadi sebagai malaikat yang baru turun dari kahyangan. Tiba-tiba Ji Kiu-liong merintih, “Toako… aku…. aku kedinginan…..?


Seperti baru sadar impian, Gak Lam-kun segera memeriksa keadaan tubuh saudaranya itu, ia merasa jidatnya dingin bagaikan salju kenyataan ini membuat jago muda kita merasa amat terperanjat, ia tak tahu ilmu pukulan apakah yang telah dipergunakan lawan untuk melukai Ji Kiu-liong itu?

Terima Kasih buat para gan / ganwati yang telah meningglakan opininya di kolom komentar :). Sekarang ada penambahan fitur "Recent comment"yang berada dibawah kolom komentar, singkatnya agan2 dapat melihat komentar terbaru dari pembaca lain dari fitur tersebut. Semoga membantu :).