Lencana Pembunuh Naga Jilid 29 (Tamat)

 
Jilid: 29

KALAU senjata rahasia yang ada di dunia ini kebanyakan dipakai untuk melukai orang atau menotok jalan darah dengan mengutamakan soal ketepatan dalam sasaran, kekuatan dalam penyerangan, atau ketajaman dari senjata rahasia tersebut, maka hanya Peng pok cu saja yang jauh berbeda. Karena keistimewaannya terletak pada hawa dingin luar biasa yang sanggup membekukan badan dan peredaran darah.

Ketika butiran Peng pok cu itu hancur terkena pukulan, maka hawa dingin yang terpanca keluar. Hebatnya bukan kepalang, bahkan bisa merasuk sampai ke tulang sumsum.

Sebenarnya dengan tenaga dalam yang di miliki Gak Lam-kun, ia masih bisa melawan pengaruh hawa dingin tersebut. Akan tetapi berhubung dia harus memusatkan segenap perhatiannya untuk menghadapi serangan dari kesembilan orang nikou tersebut, dimana selain pikirannya bercabang tenaga dalamnya harus terpisah. Ditambah lagi tekanan hawa pedang kesembilan orang nikou yang amat menusuk badannya itu, lama kelamaan pemuda itu merasa semakin terdesak dan tak sanggup mempertahankan diri.

Akhirnya sambil membentak keras, sepasang telapak tangannya diayunkan ke depan seperti orang kalap. Peluh sudah membasahi seluruh badannya, sekujur badanpun gemetar keras sekali, tapi pemuda itu semakin mata gelap. Serangan yang dilancarkan juga semakin dahsyat dan membabi buta.

Mendadak dari atas bangunan loteng itu berkumandang kembali serentetan suara yang amat nyaring, “Hei bocah muda, jangan kau mengira dengan mengandalkan tenaga dalam secara berlebihan itu bisa menimbulkan hawa panas yang dapat mengusir bawa dingin di dalam badanmu. Jika sampai terjadi keadaan begini, maka pertentangan antara hawa panas dan hawa dingin yang terjadi di dalam tubuhmu akan melukai isi perutmu. Kali ini sekalipun kau berhasil menyelamatkan jiwamu, paling tidak kau akan jatuh sakit selama beberapa ahri”

Dengan suara keras Gak Lamkun segera berseru, “Lam-hay locianpwe, untuk pertama kalinya aku Gak Lam-kun ingin memohon kepadamu”

“Apakah kau sudah bertekad takluk pada kelihayan barisan leng bun kiam tin?” seru suara di atas loteng tingkat ke tujuh itu dengan nyaring.

Gak Lam-kun segera mendengus dingin, “Maaf locianpwe, selamanya aku Gak Lam-kun tak pernah membuat malu perguruanku, cuma saja aku tak ingin melukai anak murid locianpwe. Maka aku tak sampai menggunakan serangan mematikan selama ini”

“Omong kosong!” bentak Lam-hay sinni dari atas loteng. “Dengan andalkan tenaga dalammu itu, kau anggap bisa melukai anak muridku?”

“Kalau tidak percaya, kau boleh saja untuk mencobanya!” “Bagaimana caranya untuk mencoba?”

“Barisan Leng hun kiam tin dari perguruan locianpwe ini adalah semacam barisan yang dirobah dari sejenis Pat kwa toh yang digabung dengan barisan kiu kiong. Barisan semacam ini aku yakin masih sanggup untuk memecahkannya”

Tampaknya Lam-hay sinni seperti tertegun dibuatnya, dia seperti tidak menyangka kalau Gak Lam-kun bisa mengetahui rahasia ilmu barisannya itu. Setelah termenung sejenak, dengan suara hambar Lam-hay sinni lantas berkata, “Dengan cara apakah kau hendak memecahkan barisanku ini?”.

“Asal kuserang pemimpin dari barisan yang menjaga Kiu kiong maka segenap barisanmu itu akan hancur berantakan”

Terdengar Lam-hay sinni di atas loteng berkata, “Sekalipun kau sudah mengetahui cara untuk memecahkan barisan ini, tapi belum mampu untuk melakukannya. Ini menunjukkan kalau tenaga dalammu belum cukup”

Gak Lam-kun tersenyum. “Boanpwe sadar kalau tenaga dalamku belum sampai mencapai titik kesempurnaan. Cuma bila anak muridmu ingin melukaiku, aku rasa hal ini masih terlampau sulit. Jika kita harus bertarung terus dalam keadaan begini entah sampai kapan pertarungan baru akan berakhir. Boanpwee yakin masih memiliki kemampuan untuk mengatur napas sambil bertarung. Sekalipun bakal kehilangan banyak tenaga juga tidak menjadi soal. Tapi seandainya anak murid lecianpwe yang mengalami keadaan begitu, bisa saja segenap kepandaian silat mereka akan punah sama sekali. Oleh sebab ito aku mohon locianpwe suka memerintahkan anak buahmu untuk menarik kembali barisan pedang itu, andaikata ingin mengajak locianpwe selesaikan persoalan ini dengan secepatnya”

Lam-hay sinni segera mendengus dingin, “Bocah muda, sombong amat kau” serunya “Berani betul menantang aku untuk bertarung”.

“Tidak berani, tidak berani. Locianpwe adalah seorang tokoh sakti nomor wahid didunia ini. Sekalipun boanpwe bernyali besar juga takkan berani untuk bertarung melawan locianpwe”

“Lantas mau apa kau?”

“Menurut pengamatan boanpwe secara diam-diam, dapat kuketahui bahwa satu- satunya keistimewaan dari Leng hun kiam tin adalah dimilikinya segulang aliran hawa dingin yang sukar ditahan. Seandainya seseorang tidak memiliki tenaga dalam yang cukup sempurna, jangankan melakukan pertarungan, sekalipun berdiri di dalam barisan juga akan mati kaku karena kedinginan, terutama sekali sebutir Peng pok cau yang locianpwe lancarkan barusan….”.

“Apakah kau menuduh aku melakukan penyergapan terhadap dirimu?” tukas Lam-hay sinni.

Gak Lam-kun tidak menjawab pertanyaan itu, tapi melanjutkan, “Sekalipun seorang jago kelas satu yang berilmu tinggi didalam dunia persilatan, sulit rasanya untuk menahan serangan senjata rahasia itu, tapi boanpwe yakin masih mampu untuk menahan tiga buah senjata rahasia Peng pok ou tersebut. Jika locianpwe tidak percaya, kita boleh bertaruh.

Bagaimana?”

Begitu ucapan tersebut diutarakan, Lam-hay sinni yang berada diatas loteng itu termenung beberapa saat lamanya. Tapi tak lama kemudian, dengan nada kurang percaya katanya, “Kalau toh sudah kau rasakan betapa lihaynya peng pok-cu tersebut, kenapa kau masih berani mengajukan diri untuk merasakan kelihayan senjata rahasia itu lagi?” “Sekarang aku telah terjerumus dalam keadaan yang sangat berbahaya, sedang kelihayan dari senjata rahasiamu juga telah kurasakan. Apa salahnya jika kurasakan dua butir lagi?”

“Serangan Peng pok-cu yang kulancarkan tadi sudah cukup untuk menimbulkan racun dingin dalam tubuhmu, apakah kau ingin mempercepat daya kerja racun itu?”

Mendadak Gak Lam-kun mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak bahak…… Suara tertawa itu keras bagaikan bunyi genta, mengetarkan lubuk hati orang dan

menusuk pendengaran setiap orang. Dalam kegelapan malam yang hening, suara tertawa mengalun sampai ditengah angkasa sana….

Seusai tertawa, kembali Gak Lam-kun berkata, “Locianpwe, seandainya aku sudah terkena racun hawa dingin, apakah aku masih memiliki tenaga dalam sehebat ini?”

Dengan demontrasi tenaga dalam itu, Lam-hay sinni yang berada diatas loteng baru merasa terkejut bercampur tercengang. Dalam pekikan tadi jelas terdengar kalau Gak Lam-kun memiliki tenaga dalam yang amat sempurna. Kekuatan itu bahkan sama sekali tidak berada dibawah kemampuannya.

Dengan usianya yang masih begitu muda tapi sudah memiliki tenaga dalam sedemikian sempurna, entah dengan cara apa Yo Long mendidik muridnya ini?

Padahal, darimana ia bisa tahu kalau Gak Lam-kun telah mengalami banyak penemuan aneh yang membuat ilmu silatnya memperoleh kemajuan yang melampaui siapa-pun. Tapi Lam-hay sinni juga tahu bahwa senjata rahasia Peng pok cu itu tak mungkin bisa dilawan dengan tenaga dalam. Lantas kenapa ia sanggup menahan serangan hawa dingin itu tanpa merasakan pengaruhnya?

Lam-hay sinni tertawa nyaring, kemudian berkata, “Bagus sekali! Kau memaksaku untuk menghamburkan dua biji peng pok cu lagi, terpaksa aku harus mengamalkannya untukmu”

“Tunggu sebentar! Locianpwe, sebelum pertaruhan dimulai, aku ingin menerangkan dulu bahwa hal ini merupakan suatu barter yang adil sekali….”

“Barter apa? Coba katakan!”

“Apa maksud kedatanganku, rasanya kau sudah pasti mengetahui jelas. Aku hanya memohon kepada kau orang tua agar bersedia memberitahukan kepadaku, dimanakah Ji Cin-peng dan putraku berada”

Lebih kurang sepeminum teh kemudian, Lam-hay sinni baru berkata, “Baiklah? Kau boleh sambut dulu kedua butir senjata rahasia Peng pok cu ini!”

Selesai berkata, desingan angin tajam segera mendesis datang….

Sebutir Peng pok cu yang berwarna putih mulus pelan-pelan telah meluncur datang dari atas puncak loteng tingkat ke tujuh itu dengan kecepatan luar biasa.

Gak Lam-kun segera menyentilkan tangan kirinya kedepan. “Plaaak!”

Diiringi suara yang cakup keras peng pok-cu tersebut segera meledak dan memancar ke empat penjuru.

Gak Lam-kun merasakan sekujur badannya menjadi dingin dan kaku. Sekujur badannya menggigil keras dan bergoncang keras.

“Criiit……!” Lagi-lagi terdengar segulung desingan angin tajam menyambar lewat.

Sebiji senjata rahasia Peng pok-cu kembali meluncur kebawah dengan kecepatan luar biasa.

Gak Lam-kun merasakan hatinya tercekat sepasang kakinya menjadi lemas, kepalanya pusing tujuh keliling dan akhirnya jatuh berlutut diatas tanah,

“Gak toako… jerit Ji Kiu-liong keras-keras.

Buru buru ia lari mendekat dan memegang sepasang bahu Gak Lam-kun, terasa olehnya ada segulung hawa dingin yang menyengat badan muncul dari atas lengan pemuda itu dan menyerang kedalam tubuhnya.

Ji Kiu-liong menjadi terkejut sekali, buru-buru ia menarik kembali tangannya dan melompat mundur kebelakang.

Semacam rasa sedih yang amat hebat menguasahi seluruh perasaannya, tiba-tiba sam bil menangis tersedu serunya, “Gak toako, ooh Gak toako….. kau tak boleh mati….”

Ketika ia mencoba untuk memeriksa dengusan napas Gak Lam-kun, ternyata hidungnya sudah menjadi dingin, dadanya juga turut menjadi dingin, sekujur badannya ibarat sebongkah batu es yang keras.

Ji Kiu-liong segera menubruk ke atas tubuh Gak Lam-kun dan menangis tersedu-sedu.

Air mata jatuh bercucuran bagaikan hujan deras.

Ia merasakan kehilangan sesuatu yang besar, sebab didunia ini dia sudah tak akan memiliki sanak keluarga lagi. Ingatan semacam itu menambah sedihnya Ji Kiu liong sehingga isak tangisnya menjadi bertambah memilukan.

Sementara itu Lem hay sinni yang berada dialas loteng tetap membisu dalam seribu bahasa dia seperti lagi bersedih hati karena kematian Gak Lam-kun atau entah karena apa?

Dalam kesedihan yang luar biasa itu mendadak Ji Kiu liong merasakan dari belakang punggung Gak Lam-kun pelan-pelan menyebar keluar segulung aliran hawa panas. Hawa panas itu aneh sekali rasanya dan muncul dan punggung Gak Lam-kun langsung menembusi pusarnya.

Dalam sekejap mata sekujur badan Gak Lam-kun yang dingin kaku itu telah berubah menjadi hangat dan segar, kemudian tampak Gak Lam-kun menggerakkan tubuhnya dan pelan-pelan membuka kembali sepasang matanya. Kejut dan girang Ji Kiu liong menyaksikan kejadian itu segera teriaknya, “Gak toako, kau… kau belum mati….”

Gak Lam-kun tertawa misterius sahutnya. “Sungguh berbahaya! Peng pok cu dari Lam- hbay sinni memang semacam senjata rahasia yang luar biasa hebatnya dalam dunia persilatan. Coba kalau bukan pedang Hiat kong kiam milikku ini adalah tandingan dari hawa dingin tersebut, sudah sedari tadi aku mampus secara konyol”

Ternyata Gak Lam-kun terpengaruh oleh hawa dingin yerg dipancarkan oleh Peng pok cu sehingga membekukan badannya tadi. Mendadak ia merasa bahwa pedang Hiat kong kiat yang tersoren di punggungnya itu pelan-pelan mengeluarkan aliran hawa panas yang menghangatkan sekujur badannya.

Dengan cepat hawa dingin yang semula menyelimuti seluruh tubuhnya menjadi tersapu lenyap dari seluruh badannya.

Maka diapun lantas sadar bahwa Hiat kong kiam sesungguhnya adalah lawan tandingan dari racun hawa dingin. Itulah sebabnya pula mengapa Gak Lam-kun berani bertaruh dengan Lam-hay sinni.

Terdengar suara helaan nafas berkumandang dari atas loteng itu, kemudian terdengar rahib itu berseru, “Gak Lam-kun, naiklah ke atas loteng!”

Gak Lam-kun bangkit berdiri dan maju ke depan. “Locianpwe, aku datang!” serunya.

Sekali melompat keudara, tubuhnya lantas meluncur ke depan dan melompat naik ke atas tingkat ke tujuh.

Ketika tiba diatas tingkat ke enam, lengan kirinya segera menekan diujungi atas loteng dan sekali berjumpalitan, secepat kilat tubuhnya segera menyusup masuk ke dalam ruangan lewat jendela.

Setelah berada dalam ruangan loteng, Gak Lam-kun menyaksikan didalam ruangan itu hanya diterangi oleh setitik cahaya lentera. Ditengah ruangan tampak sebuah tempat duduk berbentuk bunga teratai. Di atasnya duduklah bersila seorang perempuan berambut panjang.

Ternyata Lam-hay sinni adalah seorang pendeta yang memelihara rambut…

Gak Lam-kun baru pertama kali ini berjumpa dengan Lam-hay sinni. Tanpa terasa dia mengawasi pendeta itu beberapa kejap.

Tampak Lam-hay sinni yang namanya amat tersohor didalam dunia persilatan itu telah berambut putih semua, sudah tak ada rambutnya yang berwarna hitam. Mukanya cantik, putih dan halus. Sekalipun usianya sudah lanjut namun sama sekali tidak nampak ketuaannya…

Dalam sekali pandangan saja, Gak Lam-kun segera tahu kalau dahulunya Lam-hay sinni merupakan seorang perempuan yang cantik jelita bak bidadari dari kahyangan. Lam-hay sinni sendiripun memperhatikan pemuda itu dari atas kepala sampai ke ujung kakinya. Setelah mengamatinya beberapa saat, dia baru manggut-manggut.

Gak Lam-kun segera maju kedepan dan memberi hormat, katanya, “Menghunjuk hormat buat lociapwe. Jika aku telah melakukan kesaiaban harap suka memaafkanku”

“Duduklah!” kata Lam-hay sinni dengan suara merdu. “Aku ingin bertanya kepadamu!” Sambil berkata dia lantas menuding sebuah bantalan kasur didekatnya.

Gak Lam-kun berjalan maju kedepan dan duduk bersila dihadapkannya, kemudian katanya, “Harap lociapwe suka memberi petunjuk kepadaku”

Saat itu. Gak Lam-kun telah menarik kembali semua kesombongan, keangkuhan kekerasan hatinya dan berubah menjadi lemah tulus dan amat terpelajar.

‘“Sudah berapa tahun kau berkenalan dengan Ji Cin-peng?” tanya Lam-hay sinni kemudian.

“Sudah hampir tiga tahun lamanya,” jawab Gak Lam-kun pelan.

“Benarkah kau sangat mencintai Cin-peng?” kembali Lam-hay sinni bertanya.

Gak Lam-kun segera manggut-manggut. “Aku cinta kepadanya dan dia mencintai diriku.

Langit dan bumi bisa menjadi saksi untuk perasaan kami ini” katanya.

“Bagus sekali! Semoga saja semua orang yang punya hati didunia ini akhirnya bisa menjadi suami istri semua!”

Gak Lam-kun merasakan hatinya bergetar keras, dia tak tahu apa maksud yang sesungguhnya dibalik perkataan dari Lam-hay sinni tersebut.

Sementara itu Lam-hay sinni termenung sebentar, kemudian kembali ia bertanya, “Apakah kau mempunyai perempuan lain?”

Gak Lam-kun mendongakkan kepalanya, tampak sepasang mata Lam-hay sinni yang jeli itu sedang mengawasinya dengan suatu keheranan yang luar biasa, seakan akan berusaha untuk menembusi perasaan hati kecilnya…..

Gak Lam-kun menjadi amat rikuh dan jengah, ia menjadi tergagap, “Aku… aku… aku…”

Sudah setengah harian lamanya dia mengulangi perkataan itu, namun tak sanggup untuk melanjutkan perkataan selanjutnya.

Mendadak Lam-hay sinni menghela napas panjang, katanya lagi, “Bocah bodoh, kau tak usah sangsi lagi. Pasangan yang serasi di dunia ini seringkali hancur berantakan lantaran terlalu romantis. Kalau toh kau memang sangat mencintai Cin-peng, maka kau tidak boleh berpikir untuk orang kedua. Daripada meninggalkan kemurungan dan kesengsaraan saja di kemudian hari”

“Baik. Baik! Terima kasih banyak atas petunjuk dari locianpwe….” kata Gak Lam-kun. Sekalipun dibibir ia berkata begitu, padahal hatinya kalut sekali. Perasaannya gundah dan merasa sangat tak tenang.

Bagaimanapun juga ia telah terlibat hubungan cinta dengan yo Ping. Kalau suruh ia menge-sampingkan gadis itu serta meninggalkannya, terus terang dia tak tega. Apalagi Yo Ping adalah putri kesayangan gurunya, sudah barang tentu dia tak mau melupakan budi orang, apalagi menyia-nyiakan putri gurunya.

Pelan pelan Lam-hay sinni mengangguk, katanya lagi. “Bocah yang pintar memang bisa diberitahu, nah pergilah!. Cin-peng dan putramu tinggal dikaki bukit Kiu kiong-san sebelah selatan”

Gak Lam-kun segera bangkit berdiri dan menjura dalam-dalam, katanya kembali, “Terima kasih banyak atas petunjuk dari locianpwe. Budi kebaikanmu akan Gak Lam-kun ukir didalam hati tak akan kulupakan untuk selamanya…”

“Andaikata kalian bisa berkumpul kembali, ajaklah keluargamu untuk bermain di pulau Si-soat-to” kata Lam-hay sinni

“Kami pasti akan seringkali berkunjung kemari sambil memohon petunjuk dari locianpwe. Sampai jumpa, bovanpwe mohon diri lebih dulu”

Selesai berkata, sekali lagi Gak Lam-kun memberi hormat dulu melompat keluar lewat jendela…..

oooOOooo

REMBULAN yang redup memancarkan sinarnya menerangi sebuah tanah perbukitan yang sepi.

Daun kering berguguran terhembus angin bunyi air hujan merintik membasahi dedaunan.

Telaga Su ci ou atau telaga empat musim di sebelah selatan bukit Kiu kiong san merupakan sebuah telaga yang sangat indah dan menawan hati. Aneka bunga tumbuh dan mekar terus sepanjang masa. Air telaga yang tenang dan angin malam yang berhembus sejuk, sungguh membuat suasana disana amat nyaman dan menyenangkan.

Ditepi telaga empat musim berdiri tiga empat buah rumah bambu. Dibawah cahaya rembulan tampak kilatan cahaya lentera dari balik rumah bambu itu.

Sesosok bayangan gadis berbaju merah sedang duduk sendirian didepan jendela sambil mengawasi air telaga dengan termangu.

Malam semakin kelam, bunyi jengkerik memecahkan keheningan, memadukan irama yang aneh di tempat itu.

Pada saat itulah, mendadak terdengar suara derap kaki kuda yang ramai berkumandang datang dari kejauhan sana. Mendengar suara derap kaki kuda itu. buru- buru gadis berbaju merah itu melompat bangun, kemudian bisiknya, “Mungkinkah dia telah datang? Sayang keadaan sudah amat terlambat”. Baru selesai dia bergumam, dua ekor kuda sudah berhenti didepan pagar rumah, menyusul penunggangnya melompat turun dari atas punggung kudanya.

Siapakah mereka. Kedua erang itu bukan lain adalah Gak Lam-kun serta Ji Kiu liong yang baru meninggalkan pulau Si soat to.

Ketika Gak Lam-kun menyaksikan keempat buah rumah bambu itu, hatinya terasa bergolak keras, kalau bisa dia ingin menyerbu masuk ke dalam…..

Baru dua tiga langkah masuk ke dalam, mendadak Gak Lam-kun berhenti, seakan-akan kuatir kalau penghuni rumah itu bukan orang yang dicarinya….

Maka dengan suara lantang dia lantas berseru. “Adakah seseorang disini?” “Siapa?” suara seseorang gadis berkumandang datang dari dalam ruangan rumah.

Mendengar suara itu, selapis rasa kecewa putus asa, sedih, murung dan kesal menghiasi wajah Gak Lam-kun.

Setelah menghela nafas sedih ia membalikkan badan menengok ke arah Ji Kiu-liong dengan wajah termangu-mangu.

Rupanya Ji Kiu-liong juga sudah mendengar kalau suara itu bukan suara encinya… Diapun memendang termangu ke arah Gak Lam-kun tanpa mengucapkan sesuatu apa-

apa. Tampak jelas wajahnya kelihatan amat kecewa, sedih dan kesal.

Gadis yang berada di dalam rumah itu, kembali berseru, “Siangkong berdua yang berada di luar, silahkan masuk”

Bagaikan baru sadar dari mimpi Gak Lam-kun menghela napas panjang, lalu berkata. “Adik Liong, mari kita masuk dan menanyakan persoalan ini kepadanya….”.

Sembari berkata, mereka berdua lantas masuk ke dalam. Dari balik ruangan bambu yang diterangi cahaya lentera, pelan-pelan muncul seorang gadis berbaju merah. Orang ini bukan lain adalah gadis baju merah yang pernah bersama Ji Cin-peng menuju ke bukit Kun san naik sampan kecil tempo hari… Pek Siau soh.

Ketika Gak Lam-kun menjumpai dirinya, seketika ia merasa lega, katanya sambil tertawa, “Nona Pek, rupanya kau…!”

Ji Kiu-liong yang menyaksikan kemunculannya juga merasa tergetar sekali hatinya.

Sebagaimana diketahui, Pek Siau-soh pernah bertarung dengannya. Waktu itu kedua belah pihak sama-sama merasa ingin mencari menangnya sendiri yang berakibat kedua belah pihak sama-sama terluka.

Akan tetapi, semenjak peristiwa itu bayangan tubuhnya selalu muncul didalam hatinya.

Maka setelah berjumpa lagi dengannya sekarang, Ji Kiu liong tak tahu haruskah merasa sedih ataukah merasa gembira? Dengan sepasang biji matanya yang jeli Pek Siau-soh mengerling sekejap kearahnya, kemudian setengah mengomel katanya, “Kedatangan kalian terlambat sekali’“

“Kenapa? Sudah terlambat, Cin-peng….. dia…….”

“Sebelum senja tadi, dia telah pergi!” tukas Pek Siau soh dengan cepat.

“Kapan Cin-peng baru akan kembali ke sini?” buru-buru Gak Lam-kun bertanya.

Pek Siau-soh tahu kalau dia belum memahami maksud ucapannya, maka sambil menghela napas katanya, “Enci Ji tak akan kembali kesini lagi untuk selamanya!”

Bagaikan kepalanya diguyur air dingin sebaskom, Gak Lam-kun berdiri tertegun, kemudian bisiknya, “Apakah….. Apakah dia tahu kalau aku akan datang kemari?”

Pek Siau-soh mengangguk. “Yaa, seekor burung merpati telah membawa sepucuk surat dari Lam-hay, surat itu sudah tiba disini tujuh hari berselang!”

Mendengar itu Gak Lam-kun segera berteriak keras, “Ooh… Lam-hay sinni, wahai Lam- hay sinni, kenapa kau musti memberi kabar kepadanya? Dengan susah payah aku Gak Lam-kun datang mencarinya, kalau begini caranya bukankah semua usahaku akan sia-sia belaka….?”

Air mata bercucuran pula dari mata Pek Siau toh, katanya dengan suara sedih, “Gak siangkong, enci Ji telah meninggalkan sepucuk surat untukmu, bacalah dulu isinya!”

Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan sepucuk surat kemudian diberikan kepada Gak Lam-kun.

Buru-buru Gak Lam-kun merobek sampulnya dan membaca isinya, terbaca olehnya surat itu berbunyi begini, “Suamiku yang tersayang Lam-kun

Perpisahan selama dua tahun terasa berat sekali bagiku. Siang malam aku selalu membayangkan dan teringat kepadamu, karena aku mencintaimu untuk selama lamanya.

Dikala kutulis surat ini, hatiku amat sedih air mataku jatuh bercucuran bagaikan anak sungai. Selamanya aku tak dapat melupakan kau, selamanya aku tak bisa melupakan kasih sayangmu.

Aaai!

Cinta memang bagaikan cuaca yang berubah-ubah. Segala sesuatunya yang ada di dunia ini selamanya tak akan abadi.

Dulu, aku sangat berharap kita bisa mendapat kebahagiaan dan kegembiraan tapi harapanku itu akhirnya harus lenyap dan hancur berantakan bagaikan terjatuh ke dalam jurang yang tiada taranya….

Akhirnya aku terjerumus ke dalam jaring cinta, terjerumus ke dalam pelukan kasih sayangmu. Dalam dasar hatiku hanya ada bayangan tubuhmu yang selalu menghiasi hatiku. Apalagi jika malam telah tiba, aku tak pernah melupakan dirimu…… “Lam-kun kenapa di dalam kebun bunga cinta dalam kehidupan kita bisa terdapat bunga-bunga yang rontok? Dalam samudra cinta yang luas bisa terdapat hancuran bunga yang tenggelam?

Dimasa lalu cinta kasih kita ibaratnya kupu-kupu yang terbang diantara aneka bunga, dibelai oleh hembusan angin yang lembut….. tapi sekarang tinggal hancuran bunga yang tercabik cabik dan hembusan angin dingin yang membuat aku menyesal, membuat aku bersedih hati…….

Lam-kun, jangan kau tanya mengapa, makin gencar kau menanyakan mengapa, semakin terluka perasaan hatiku.

Kehidupan manusia ibaratnya bintang yang lewat diangkasa, yang cuma berhenti sebentar ditengah jagad yang luas, untuk kemudian lenyap kembali.

Tapi aku dapat merasakan pula saat-saat kehidupan manusia itu. Hanya didasar hatiku saja yang merasa kesepian, seperti air sungai yang mengalir tiada habisnya…..

Selamat tinggal cintaku yang abadi, entah diujung langit atau dasar samudra, kau tak akan kembali,

Didunia ini memang tiada perjamuan yang tidak bubar, apalagi perpisahan kali ini bukan suatu kebetulan, sudah semenjak dua tahun berselang aku mengambil keputusan, aku telah lama berencana untuk meninggalkan dirimu.

Oleh karena itu, akupun mengambil keputusan pada saat ini, kasihan anak kita itu, dia sudah tidak memperoleh kasih sayang ibunya lagi. Yaa… kejadian ini merupakan suatu kejadian yang paling kusesalkan. Cuma aku rasa, ada kaupun sudah cukup. Dia adalah darah dagingmu, kau harus baik baik merawatnya hingga tumbuh menjadi dewasa.

Sekalipun aku berada di alam baka, aku pun akan meram dengan hati yang lega.

Akhirnya kupesan kepadamu agar kau jangan terlalu bersedih hati, jangan terlalu menyesali diri sendiri, kau harus baik baik merawat anakmu.

Tertanda: Ji Cin-peng yang selalu mencintaimu”

Ketika selesai membaca isi surat tersebut air matanya segera jatuh bercucuran membasahi pipinya. Ia menutupi muka sendiri dan menangis tersedu-sedu. Dia benci, diapun merasa sangat menderita, tapi ia tak tahu apa yang musti dibencikan…

Dia tidak membencinya, pun tidak membenci diri sendiri, tapi apa yang dia benci? Ji Kiu liong menerima surat itu dan membacanya dengan seksama, kemudian diam-

diam pekiknya dihati, “Oooh cici! Kenapa pikiranmu tak bisa terbuka….? Kau tak dapat

melupakan engkoh Gak, tapi mengapa kau meninggalkan dirinya? Mengapa kau tidak melupakan pula semua kejadian tragis yang telah terjadi dimasa lalu? Apakah ayah dan ibu yang menyuruh kau melakukan semuanya ini? Kasihan keponakanku yang masih kecil…”

Berpikir sampai disitu, Ji Kiu-liong segera menghela napas panjang, lalu bisiknya, “Nona Pek, apakah kau tidak tahu kemana enciku telah pergi?” Seandainya berada diwaktu waktu biasa, Ji Kiu-liong pasti tak akan berani berbicara dengan Pek Siau-soh. Tapi keadaannya sekarang sama sekali berbeda, ia sama sekali tidak memperlihatkan sikap bermuka merah atau jengah.

Pek Siau-soh segera mencibirkan bibirnya lalu berseru, “Andaikata aku tahu, kenapa tidak kukatakan kepada kalian?”

ooOOOoo

“SELAMA ini enciku selalu berada bersamamu. Aku rasa kau… Kumohon kepadamu, bersedia bukan…?” seru Ji Kiu-liong.

Tiba-tiba Pek Siau-soh menutup mukanya dan menangis tersedu-sedu, serunya dengan sedih, “Mengapa kau begitu tak percaya dengan perkataanku? Kau tahu ketika enci Ji pergi, aku tidak berada di rumah, ia pergi setelah meninggalkan surat di tempat ini”

Ketika menyaksikan dia menangis, Ji Kiu-liong menjadi tertegun.

Ji Kiu-liong yang sama sekali tidak memahami perasaan wanita, tentu saja tidak mengerti apa sebabnya dia sampai menangis.

Perlu diketahui Pek Siau soh adalah seorang yang romantis. Sejak perjumpaannya ditengah samudra tempo lagi, diam diam benih cinta telah tumbuh didalam hatinya. Tapi sekarang ia menyaksikan orang yang dicintainya, tidak percaya dengan perkataannya, bayangkan saja bagaimana mungkin ia tidak bersedih hati?

Gak Lam-kun menghela napas panjang, tiba-tiba ujarnya, “Nona Pek, dimana bocah itu?”

“Siau kun sedang tidur!”

“Dia bernama Siau kun?” tanya Gak Lam-kun dengan kening berkerut.

Pek Siau-soh manggut-manggut. “Yaa, sejak dilahirkan, ibunya telah memberikan nama Siau-kun kepadanya”

Mendengar perkataan itu Gak Lain-kun merasa sedih sekali, dia tahu Cin peng sengaja tidak memberikan nama kepadanya, melainkan hanya ‘menyebutkan Siau-kun’ kepadanya tentu dimaksudkan agar ia tidak melupakan dirinya….

Sambil menghela nafas, Gak Lam-kun berkata, “Dikala Cin-peng ada disini, dia dipanggil Siau kun, tapi sekarang aku hendak memanggilnya sebagai Siau Kun peng!”

Baru selesai dia berkata, mendadak terdengar suara seorang bocah sedang berseru, “Ibu…. kau sudah pulang? Apakah ayah telah pulang bersama sama dirimu….”

Mendengar perkataan tersebut, Gak Lam-kun merasakan hatinya menjadi kecut. Air matanya tanpa terasa jatuh bercucuran membasahi pipinya.

Dari ruangan sebelah kiri tampaklah seorang bocah berusia dua tahun yang lucu dan menarik pelan-pelan sedang berjalan keluar. Dia tampak putih lagi kuat. Sepasang matanya jeli dan terutama sekali bibirnya, persis sekali seperti bibir Gak Lam-kun, sedangkan mukanya yang bulat telur sangat mirip dengan ibunya.

Melihat itu, Gak Lam-kun, segera menubruk ke muka dan berteriak keras keras, “Anakku, kenapa kau lari keluar?”.

Sambil membelalakkan sepasang matanya yang bulat besar, sahutnya Siau Kun peng, “Paman, kenapa aku tidak kenal denganmu?”

Sambil tersenyum Pek Siau soh segera berseru, “Siau Kun-peng, dia bukan pamanmu.

Dia adalah ayahmu”

Ketika mendengar perkataan tersebut, dengan sepasang mata terbelalak lebar Siau Kun-peng memperhatikan Gak Lam-kun lekat-lekat, sedikitpun tidak berkedip.

Mendadak teriaknya dengan girang, “Ayah!”

Dengan cepat dia lari ke muka dan menubruk ke dalam pelukan Gak Lam kum. Anak muda tersebut sogera memeluknya kencang-kencang dan mencium pipinya sambil berkata dengan lembut dan penuh rasa sayang, “Nak, ayah tidak akan meninggalkan dirimu lagi”

“Ayah, mana mama? Ia bilang mau pergi mencarimu, kenapa sampai sekarang dia belum pulang?”

“Nak, mama belum pulang untuk sementara waktu dia ada urusan pergi ke Lam-hay.

Selama beberapa hari ini kau akan bersama ayah, mau bukan?” “Ayah ajari aku terbang seperti mama yaa?”

Gak Lam-kun manggut-manggut. “Baik, ayah akan mengajarkan kepadamu”.

Tampaknya Siau Kun-peng merasa girang sekali, sambil tertawa dan bertepuk tangan, serunya, “Bagus sekali, bagus sekali. Nanti aku juga bisa terbang. Ayah tahukah kau kenapa mama tidak ajari aku terbang?”.

“Sebab mama kuatir kau pasti akan jatuh!”

“Ayah aku tidak akan jatuh. Aku juga tidak takut sakit. Aku ingin seperti mama bisa terbang keatas pucuk pohon”

Begitulah untuk sementara Gak Lam-kun dan Siau Kun peng, Ji Kiu liong serta Pek Siau soh tinggal disitu. Tapi belasan hari sudah lewat sedang Ji Cin-peng belum juga muncul kembali.

Walaupun sepanjang hari Siau Ku peng bermain bersama Gak Lam-kun sekalian, tapi jika malam telah tiba dan ia terbangun dari tidurnya, bocah itu selalu menangis sambil mencari ibanya. Sungguh kasihan bocah itu. Benarkan dia akan kehilangan ibunya dengan begitu saja?

Dari pagi sampai sore sang surya satu kali demi satu kali tenggelam kelangit barat, lalu sekali demi sekali terbit kembali di langit sebelah timur, tapi Ji Cin-peng belum juga kembali. Sementara, Siau kun peng sepanjang hari ribut ingin mencari ibunya. Ini semua membuat Gak Lam-kun akhirnya musti membohonginya untuk diajak pergi ke Lam-hay untuk menyusul ibunya. Padahal yang benar Gak Lam-kun sekali-kali naik ke bukit Si ciong san tebing pek im shia karena dia punya janji dengan Ki Li-soat, Han hu hoa dan Kwik To…

ooOOOoo

BUKIT Thian ciong san tebing pek soat sim adalah sebuah bukit yang selalu diliputi oleh kabut tebal. Pepohonan tumbuh disekeliling lembah dengan tebing karang yang menjulang tinggi ke angkasa, pemandangannya indah menawan.

Disisi sebelah kiri dekat tebing tampak sebuah rumah kayu bewarna putih, didepan bangunan kayu merupakan sebuah selokan yang membentang jauh kedepan, sebuah jembatan kecil merupakan satu-satunya tempat penghubung antara tebing dengan bangunan rumah itu.

Malam sudah semakin kelam, pepohonan bergoyang kencang terhembus angin malam dan menimbulkan suara keras.

Saat itulah diujung jembatan kecil itu berdiri seorang pemuda. Sepasang matanya memandang ke tengah angkasa dan berdiri termangu-mangu, tampaknya ada sesuatu yang membuat hatinya menjadi murung.

Sejak ia pindah ketebing Pek im shia selama setengah bulan yang lalu, saban hari dia selalu berdiri sendiri diatas jembatan, seakan-akan sedang menantikan kedatangan kekasihnya.

Tiap kali angin berhembus lewat dan menggoncangkan perubahan, dengan jantung berdebar ia selalu mengalihkan sorot matanya mengawasi sekeliling tempat itu, tapi dimanakah bayangan tubuh dari Ji Cin-peng?

Hari ini adalah bulan dua belas tanggal dua puluh sembilan, itu berarti akhir tahun sudah diambang pintu. Ia berniat untuk menyerahkan Siau Kun peng kepada Ki Li-soat besok. Setelah itu dia baru akan menyusul kepergiannya..

Tiba-tiba terdengar helaan napas sedih menggema memecahkan keheningan, dengan cepat Gak Lam-kun berpaling, tampaklah rambut dikedua belah sisi kepalanya telah memutih.

Padahal tahun ini dia baru berusia dua puluh sembilan tahun, masih muda dan kuat, tidak seharusnya rambut tersebut berubah memutih. Apalagi dengan tenaga dalamnya yang sempurna sekalipun, hidup sengsara selama beberapa waktu juga tak mungkin akan terjadi perubahan itu.

Maka hampir saja ia menjadi tak mengenali diri sendiri setelah menyaksikan rambutnya telah memutih.

Dia mencabut beberapa lembar rambutnya ternyata dari tiga lembar rambut yang dicabut, ada dua diantara telah memutih. Dari sini dapat diketahui betapa sedih dan sengsaranya dia selama dua bulan belakangan ini? Mendadak…..

Gak Lam-kun mendongakkan kepalanya dan mengalihkan sinar matanya ke depan.

Dibawab sinar bintang, tampak diujung jembatan sebelah depan sana berdiri seorang manusia berbaju hitam. Gak Lam-kun amat terperanjat dan segera bersiap sedia.

Tarayata orang itu tak lain adalah San tian hek ih jiu atau manusia kilat berbaju hitam yang memiliki ilmu sangat lihay itu.

Sungguh tak disangka kalau manusia kilat berbaju hitam itu bisa menyusulnya sampel ditebing Pek im shia.

Satelah tertegun beberapa saat lamanya Gak Lam-kun segera bertanya dengan suara dingin?, “Apakah kau ada urusan?”

Agak mendongkol manusia berbaju hitam itu ketika melihat pihak lawan menegurnya dengan dingin, ia segera mendengus kemudian menjawab, “Malam ini aku datang khusus untuk merenggut nyawamu!”

Mendengar ucapan tersebut, Gak Lam-kun semakin tertegun. pikirnya, “Heran, padahal dengan dirinya aku tidak mempunyai dendam atau sakit hati apa-apa, kenapa dia hendak datang untuk merenggut nyawaku…..?”

Berpikir sampai disitu, sambil tertawa dingin katanya, “Aku merasa tak pernah berkenalan dengan kau, apalagi soai dendam sakit hati, atas dasar apa kau hendak mencabut nyawaku?”

Manusia kilat berbaju hitam itu tertawa seram tiada hentinya. “Hee… hee… hee… dikala kau hendak merenggut nyawa orang, apakah kaupun menanyakan dulu soal dendam sakit hati atau kenal tidak?”

“Jadi kalau begitu, kematian dari Thi kiam kuncu sekalipun sama sekali tidak dendam sakit hati apa-apa denganmu?” tegur Gak Lam-kun dengan kening berkerut.

Manusia kilat berbaju hitam itu segera tertawa dingin. “Tentu sija mereka tiada dendam sakit hati apa-apa denganku. Cuma beberapa orang itu ada dendam kesumat dengan seorang sahabatku, maka aku membantu temanku untuk membalas dendam!”

“Jadi kalau begitu, akupun mempunyai dendam kesumat dengan temanmu itu?” tanva Gak Lam-kun.

Manusia kilat berpaju hitam itu manggut-manggut, tapi ia tidak menjawab apa apa “Tolong tanya siapakah sahabatmu itu?” tanya Gak Lam-kun kemudian.

Mendadak manusia kilat berbaju hitam itu menuding ke belakang sambil berseru, “Dia!”

Mengikuti arah yang ditunjuk Gak Lam-kun segera berpaling, dengan cepat hatinya bergetar keras, kemudian serunya tertahan, “Aaaah, kau….!” Gelak tertawa nyaring bergema memecahkan keheningan, dan balik kegelapan pelan- pelan berjalan keluar seseorang manusia berbaju biru yang berlengan tunggal. Orang itu bukan lain adalah Si Tiong pek.

Selesai tertawa, Si Tiong pek segera berkata, “Saudara Gak, tidak kau sangka bukan, kalau malam ini kita bakal bersua muka di tempat ini!”

Gak Lam-kun tertawa dingin. “Hee… hee… hee… kukira siapa yang datang ternyata saudara Si yang telah berkunjung kemari”.

Si Tiong pek tersenyum, katanya kemudian, “Tidak berani, tidak berani, sahabatku inilah yang akan datang mencarimu!”

Seraya berkata dia lantas menuding ke arah manusia kilat berbaju hitam itu.

Saat itu Gak Lam-kun sudah tahu kalau kesulitan yang lebih besar bakal dihadapi. Kemungkinan besar kesulitan tersebut bakal menimbulkan bencana lebih besar yang mungkin akan mempengaruhi juga keselamatan jiwanya, kesemua ini membuat keningnya semakin berkerut.

Dia cukup mengerti bahwa kepandaian yang dimilikinya sekarang masih belum cukup mampu untuk menangkan manusia kilat berbaju hitam itu, apalagi jika ditambah pula oleh Si Tiong-pek, sudah pasti dialah yang berada dipihak yang kalah.

Dia cukup akan memahami kekejaman serta kebusukan hati Si Tiong-pek dan terbukti seka-rang manusia kilat berbaju hitam itu sejalan dengan dirinya. Dari sini dapat diambil kesimpulan kalau dia pun seoraag manusia yang amat berbahaya.

Pada saat itulah mendadak dari dalam rumah muncul dua orang manusia, mereka adalah Ji Kiu liong serta Pek Siau soh.

Ketika Ji Kiu liong menyaksikan kehadiran Si Tiong-pek dan manusia kilat berbaju hitam di tempat itu, hatinya segera merasa bergetar keras….

Gak Lam-kun segera berpaling sambil serunya. “Adik Liong, kalian berdua kembalilah dan baik baik menjaga Siau Kun peng”

Maksud yang sebenarnya dari ucapan Gak Lam-kun itu adalah menyuruh kedua orang itu mengajak Siau Kun peng pergi meninggalkan tempat tersebut.

Tiba tiba terdengar manusia kilat berbaju hitam itu tertawa dingin, kemudian berkata. “Aku sudah mengerti kalau kalian berempat, seorangpun tak bakal lolos dari sini”

Gak Lam-kun menjadi marah sekali setelah mendengar perkataan itu dia mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak bahak, “Haa… haa… haa… memangnya kau anggap aku Gak Lam-kun takut kepadamu?”

“Tentu saja tidak takut” ejek merusia berbaju hitam itu sinis, “siapa yang tidak tahu kalau Gak Lam-kun adalah seorang manusia yang bertulang keras”

“Baik baik. Mari kita mulai dengan pertarungan ini. Si Tiong pek tertawa dingin ejeknya. “Saudara Gak, jika ingin mati, kenapa musti terburu napsu?”

Mendengar ucapan tersebut, Gak Lam-kun sama sekali tidak menjadi marah malah sebaliknya segera tersenyum, pelan-pelan dia berjalan menghampiri Si Tiong-pek, kemudian katanya, “Saudara Si, belakangan ini ilmu silat yang kau miliki tentu mendapatka banyak kemajun bukan?”.

Si Tiong-pek yang cerdas tentu saja mengerti kalau Gak Lam-kun akan melancarkan serangan mematikan. Secara tiba-tiba, mendadak dia mundur tiga langkah ke belakang, lalu ujarnya sambil tertawa, “Aaaah… Terlalu sungkan. Terlalu sungkan. Siaute cuma lebih banyak mempelajari beberapa macam ilmu pukulan saja”

Menyaksikan musuhnya bergerak mundur, tangan kanan Gak Lam-kun secepat kilat segera diayunkan ke muka….

Inilah ilmu Hud meh ciang (pukulan menyambar nadi) yang berhasil diciptakanny ketika berada dalam kuil Ngo kok koan setelah berhadapan dengan Tiang pek sam him.

Kelihayannya bukan kepalang.

Tapi Si Tiong-pek yang amat licik itu segera melompat ke belakang dan menyembunyikan diri dibelakang manusia berbaju hitam itu….

Dengan gerakan itu, otomatis serangan Hud meh ciang yang maha dahsyat itu langsuwg menyambar si manusia kilat berbaju hitam itu…..

Dengan cepat manusia berbaju hitam itu mengebas tangannya kedepan dan menyongsong datangnya ancaman tersebut dengan keras lawas keras…..

Perlu diketahui, ilmu Hud meh ciang ini adalah suatu kepandaian yang lihay sekali. Sayang manusia berbaju hitam itu terlalu memandang enteng datangnya ancaman Gak Lam-kun tadi.

Terdengar dengusan tertahan bergema memecahkan keheningan. Secara beruntun manusia berbaju hitam segera mundur lima langkah ke belakang….

Sebaliknya Gak Lam-kun sendiri pun merasakan hawa darah yang berada dalam dadanya bergolak keras, tanpa terasa dia mundur tiga langkah ke belakang.

Bagaikan terluka parah akibat serangan tadi, manusia berbaju hitam itu menjadi marah bercampur dendam. Dengan tubuh gemetar keras serunya, “Kau… kau… kau benar-benar teramat keji….”

Kali ini Gak Lam-kun menjadi tertegun dibuatnya, sebab secara tiba-tiba ia mendengar kalau suara tersebut adalah suara seorang perempuan.

Kiranya manusia berbaju hitam itu adalah seorang perempuan, sedangkan Gak Lam- kun sama sekali tidak tahu apa sebabnya dia sampai mengucapkan kata-kata semacam itu. Bukankah dalam suatu pertempuran, melukai musuh merupakan tujuan dari setiap orang. Setelah tertegun beberapa saat lamanya Gak Lam-kun segera tertawa dingin, ujarnya kemudian, “Jika kau menghendaki kematianku, kenapa pula aku tak boleh menghendaki kematianmu?”

Setelah mendengar perkataan itu, dari balik mata si manusia berbaju hitam yang berkerudung tiba-tiba menetes keluar dua titik air mata. setelah itu bentaknya keras-keras, “Gak Lam-kun, malam ini juga aku bertekad hendak membunuh dirimu!”

Selesai berkata dia lantas menerjang maju ke depan dan sebuah pukulan segera di lancarkan.

Dengan cekatan Gak Lam-kun menggegos ke samping, kemudian ujarnya dengan dingin, “Belum tentu kau mampu untuk membunuhku!”

Sembari berkata kaki kirinya melancarkan serangkaian tendangan berantai sementara telapak tangan kiri kanannya secepat kilat melancarkan dua belas buah pakuan berantai. Tapi semua serangan tersebut secara mudan berhasil dihindari oleh manusia berbaju hitam itu.

Menyaksikan kejadian ini, Gak Lam-kun menjadi terkejut sekali. Dia tahu jika hari ini tidak ia gunakan ilmu saktinya, sudah pasti akan sulit untuk menahan serangan lawan.

Berpikir demikian, dengan cepat dia gunakan ilmu Hud meh ciang untuk melancarkan serangan.

Sebelum pukulan itu mengenai ditubuh si manusia berbaju hitam itu, terdengarlah suara ledakan keras yang memekakkan telinga, seolah-olah tulang belulang disekujur tubuhnya hendak retak dan hancur berantakan.

Diam-diam manusia berbaju hitam itu merasa amat terkejut. Dia tidak menyangka bahwa tenaga dalam yang dimiliki Gak Lam-kun telah memperoleh kemajuan yang demikian pesatnya. Maka sikapnya segera sikutnya direndahkan ke bawah. Setelah itu kelima jari tangan kirinya diayunkan kedepan menyambut datangnya ancaman tersebut.

Didalam melancarkan serangan kali ini, Gak Lam-kun telah menyertakan pula tenaganya sebesar seribu kati. Sekalipun belum bisa dikatakan memiliki kemampuan untuk menghancurkan bukit berkarang, tapi sudah pasti tidak akan mampu ditahan oleh tubuh manusia.

Akan tetapi, ketika angin pukulan itu saling membentur dengan serangan dari manusia berbaju hitam itu ternyata ia merasa bahwa tenaganya serasa menjadi lenyap tak berbekas sama sekali tidak menimbulkan hasil apa-apa, ini membuat hatinya tercengang.

Buru-buru tangan kirinya diayunkan pula ke depan melancarkan sebuah pukulan tambahan.

Manusia berbaju hitam itu mendengus dingin, mendadak sikut kanannya disodok ke depan setelah itu jari-jari tangannya diayunkan ke tubuh lawan….

Gak Lam-kun adalah seorang yang ahli dalam menggunakan ilmu cakar Tok liong ci jiau sinkang. Tapi sungguh tak disangka olehnya kalau serangan tersebut ternyata berpuluh kali lipat lebih dahsyat dari ilmu To liong ci jiau sinkang nya. Perlu diketahui, serangan Toan im ci yang dipergunakan, manusia berbaju hitam itu boleh dibilang telah mencapai puncak kesempurnaan. Hawa serangan yang terpancar keluar dari jarinya itu seperti lembut dan halus, padahal kemampuannya luar biasa sekali dan sukar dibendung dengan serangan apapun.

Dalam kejutnya Gak Lam-kun segera menyingkir kesamping, lalu melancarkan sebuah tendangan kedepan.

Dalam waktu singkat kedua orang itu kembali terlibat dalam tiga empat gebrakan, tapi dibalik setiap jurus serangan tersebut justru terkandung jurus ancaman yang paling dahsyat dan mematikan didunia ini.

Si Tiong-pek yang menyaksikan kejadian itu dari samping, diam diam berpekik dihati, “Ooooh, sungguh berbahaya!”

Kemudian setelah berhenti sebentar, dia berpikir lebih jauh, “Walaupun aku sudah berlatih tekun selama hampir dua bulan lamanya di pulau terpencil itu, kendatipun kepandaian silatku telah memperoleh kemajuan yang amat pesat, tapi bila ingin beradu kepandaian dengan Gak Lam-kun tampaknya kekuatanku masih belum sanggup untuk memadahi. Andaikan aku sampai bentrok dengannya tadi, mungkin semenjak tadi tubuhku sudah terluka di tangannya”

Berpikir sampai disitu, tanpa terasa timbul perasaan kosong dan bimbang didalam hatinya….

Waktu itu dia menyaksikan manusia berbaju hitam itu sedang terlibat dalam suatu pertarungan yang amat seru melawan Gak Lam-kun. Makin sengit pertarungan itu berlangsung makin jauh mereka terseret pergi sehingga akhirnya kedua orang itu sudah berada dua kaki lebih jauh dari tempat semula.

Agaknya kedua orang itu sama-sama telah mempergunakan segenap kepandaian yang dimilikinya. Seran-meyerang jarak jauh dilancarkan berulang kali.

Si Tiong-pek yang menonton jalannya pertarungan itu dari sisi kalangan dapat melihat bahwa asap tebal telah muncul dari arah ubun-ubun Gak Lam-kun. Kabut putih itu kian lama kian bertambah tebal seperti asap diatas kukusan. Jelas, dia sedang mengerahkan segenap tenaga dalam yang dimilikinya….

Mendadak manusia berbaju hitam itu melompat ke depan, lalu secepat kilat mendorong sepasang telapak tangannya ke depan.

Gak Lam-kun sama sekali tidak menyangka kalau gerakan tubuh lawan sedemikian cepatnya, tahu-tahu iga kanan dan dada kirinya berbareng terkena totokan.

Seandainya berganti dengan orang lain, sekalipun serangan mereka berhasil menghajar telak diatas jalan darah Gak Lam-kun belum tentu bisa menyumbat jalan darahnya tersebut. Tapi kedua totokan jari yang dilancarkan manusia berbaju hitam itu cukup lihay dan tiada ketiganya didunia saat ini. Yakni sebuah menggunakan ilmu Tayci sin thong, sedangkan yang lain mempergunakan ilmu Tun im ci yang maha sakti, bayangkan saja bagaimana mungkin Gak Lam-kun sanggup menahan diri?. Ditengah dengusan tertahan, denga sempoyongan, Gak Lam-kun mundur sejauh beberapa langkah.

Melihat ada kesempatan baik, Si Tiong-pek segera maju ke depan dan langsung menghadiahkan sebuah pukulan lagi keatas jalan darah Ci yang hiat diatas punggungnya, kemudian sambil tertawa, “Saudara Gak, roboh kamu!”

Gak Lam-kun merasakan sepasang kakinya menjadi lemas, ia segera jatuh terduduk di atas tanah.

Si Tiong-pek menjadi amat terkesiap segera pikirnya, “Dia benar-benar sangat lihay. Sekalipun tubuhnya sudah terkena tiga buah pukulan berat, ternyata tidak sampai roboh terjengkang ke tanah. Manusia semacam ini berbahaya sekali kalau dibiarkan hidup terus didunia ini?”

Berpikir Sampai disitu, timbul niat jahat didalam hatinya, secepat kilat tangan kanannya meloloskan pedang lalu melancarkan seruah tusukan ke depan.

Tlndakan keji yang dilakukan ini boleh dibilang dilakukan sangat cepat, sehingga manusia berbaju hitam itupun tak sempat untuk menghalanginya, tampak ujung pedang itu sudah berada tiga inci didepan dada Gak Lam-kun.

“Sreeet! Sreeet….!”

Desingan angin tajam menderu-deru dan amat memekikkan telinga.

Lengan tunggal Si Tiong-pek bagaikan terkena aliran lstrik bertegangan tinggi, mendadak menggigil keras kemudian mundur dengan sempoyongan, ternyata dua batang senjata rahasia telak menetap diatas lengannya itu

“Criing!”

Pedang yang berada dalam genggamannya itu segera terjatuh ketanah.

Pada saat yang bersamaan, sesosok bayangan manusia dengan kecepatan luar biasa telah meluncur datang, kemudian sebuah pukulan dahsyat dilontarkan ke dada Si Tiong pek.

Dengan perasaan terkesiap Si Tiong pek menggegos ke samping lalu ujung baju kirinya dikebaskan ke muka.

Orang ini mendengus dingin, serunya. “Kau anggap masih mampu untuk kabur dari sini?”

Kaki kirinya melancarkan sebuah serangan yang keras ke atas lutut sebelah kanan Si Tiong pek, ini menyebutkan tubuhnya segera roboh terkapar keatas tanah dan tak sanggup melarikan diri lagi.

Pendatang itu sedikitpun tidak nampak gugup dengan tenangnya dia membungkukkan badan untuk mengambil pedang ditanah, kemudian dengan ganas ditusukkan ke atas dada Si Tiong-pek. Mendadak terdengar seseorang menjerit, “Enci Ji, ampuni selembar jiwanya!” “Sreeet….!”

Pedang ditangan pendatang itu sudah diayunkan merobek baju panjang yang dikenakan Si Tiong-pek, sementara dari kejauhan sana kelihatan Ki Li-soat sedang berlarian mendekat.

Ketika Gak Lam-kun dapat melihat jelas pendatang tersebut, kejut dan girang, berkecamuk dalam hatinya sehingga tanpa terasa titik air mata jatuh bercucuran membasahi pipinya.

Orang itu bukan lain adalah Ji Cin-peng yang dirindukannya siang dan malam.

Ternyata ia telah balik kesana, muncul tepat dikala suasana tegang dan jiwanya terancam oleh bahaya maut. Bayangkan saja keadaan tersebut mana mungkin tidak menggetarkan seorang Gak Lam-kun? Malah dia menganggap dirinya seakan-akan sedang berada dalam impian.

Dengan air mata bercucuran Ji Kiu liong maju menyongsong kedatangannya, kemudian berderu, “Cici, oooh cici… kau telah kembali”

Titik air mata juga jatuh berlinang membasahi pipi Ji Cin-peng, teriaknya pula dengan lirih, “Adikku…. aku….”

Dia merasakan kesedihan dan pergolakan emosi yang luar biasa, sehingga untuk beberapa saat lamanya tak mampu mengucapkan sepatah katapun.

Dengan suara keras Pek Siau soh segera berseru, “Enci Ji, bebaskan dahulu jalan darah Gak toako yang tertotok”

Ji Cin-peng maju setengah langkah ke muka, tapi sebelum ia melakukan sesuatu tiadakan….

Tiba-tiba terdengar manusia berbaju hitam itu membentak keras, “Berhenti kau! Yang bisa kau bebaskan hanya jalan darah Si Tiong pek yang tertotok, tak mungkin kau bisa membebaskan tua buah totokanku itu. Hmmm…! Kau juga telah datang. Bagus sekali, aku memang sedang mencari dirimu”.

Sementara itu, Ki Li-soat, Kwik To dan Han Hu-hoa bertiga telah muncul disana.

Dengan sorot mata tajam Ki Li-soat memperhatikan Si Tiong-pek sekejap, kemudian katanya dengan lembut, “Engkoh Si, tampaknya watakmu belum juga berubah”

Sehabis mengucapkan perkataan itu, tanpa terasa dua titik air mata jatah berlinang membasahi pipinya.

Seakan akan menyadari sesuatu secara mendadak, tiba tiba Si Tiong-pek juga menangis tersedu-sedu, katanya, “Adik Ki…. aku telah bersalah kepadamu…. aku telah melakukan kesalahan kepadamu” Han Hu-hoa yang berada disampingnya segera tersenyum, kemudian menyela dari samping, “Saudara Si, kau jangan bersedih hati, menyesal sekarang pun belum terlambat. Bila kau benar-benar ingin bertobat dan kembali ke jalan yang benar, sekarang pun masih terbuka kesempatan bagimu. Selanjutnya kau masih bisa berkumpul bersama Li-soat”

Pelan-pelan Si Tiong-pek bangkit berdiri lalu katanya, “Adik Ki, aku…. aku tak punya muka untuk bertemu dengan dirimu lagi….”

Berbicara sampai disitu, dia membalikkan badan dan siap berlalu dari situ.

Dengan cepat Kwik To menghadang dihadapannya, kemudian berseru, “Saudara Si, tunggu sebentar disini, bagaimana kalau tunggu saja sampai kalian pergi berduaan nanti?”

Dipihak lain Ji Cin-peng telah berusaha untuk membebaskan jalan darah Gak Lam-kun yang tertotok. Tapi seperti apa yang di katakan manusia berbaju hitam itu, dua buah totokannya memang tidak berhasil dibebaskan, jelas jalan darah itu telah ditotok oleh semacam ilmu totokan jalan darah yang istimewa.

Melihat kegagalan orang, manusia berbaju hitam itu segera tertawa dingin, ejeknya, “Sampai dimanakah kehebatan yang kau miliki? Memangnya kau mampu untuk membebaskan totokan jalan darahku?”

Ji Cin-peng mengerutkan dahinya rapat-rapat, kemudian tegurnya dingin, “Siapakah kau?”

“Hmmm, siapakah aku, perduli amat dengan dirimu? Mau apa kau mencampurinya?” Dalam pada itu, dengan suara lirih, Ki Li-soat juga sedang bertanya kepada Si Tiong-

pek, “Engkoh Si, siapakah perempuan ini?”

“Perempuan ini sangat aneh” jawab Si Tiongpek dengan muka agak memerah padam, “dia mengetahui jelas sekali semua asal-usulku, tapi sebaliknya aku justru tidak kenal dengan dirinya, sampai sekarangpun dia masih enggan untuk mengucapkan namanya”

Dengar pedang terhunus, Ji Cin-peng segera maju dua langkah ke depan, setelah itu katanya, “Aku tak akan ambil peduli siapakah dirimu, tapi aku minta kepadamu untuk membebaskan jalan darahnya yang tertotok itu”

“Seandainya aku tidak mau?” ejek orang berbaju hitam itu sambil tertawa dingin.

“Maka kaupun jangan harap bisa meninggalkan tempat ini dalam keadaan selamat”

Kontan saja manusia berbaju hitam itu tertawa dingin, “Hee… hee… hee… mungkin aku bakal mati, tapi dia pun bakal menemani aku juga untuk bersama-sama berangkat ke alam baka”

Mendengar ancaman tersebut, Ji Cin-peng merasakan hatinya bergetar keras, mendadak matanya melotot besar, secepat kilat pedangnya diayunkan kemuka. Dalam waktu singkat dia telah melancarkan tujuh buah serangan berantai. Ketujuh buah serangan itu dilancarkan dangan kecepatan bagaikan sambaran kilat.

Semua jurus dan ancaman hampir seluruhnya ditujukan ke bagian bagian yang mematikan ditubuh orang berbaju hitam itu.

Akan tetapi ilmu silat yang dimiliki manusia berbaju hitam itu memang lihay sekali.

Tampak bahu kiri dan bahu kanannya bergoyang kesana kemari mengikuti gerakan pedang. Meski Ji Cin-peng sudah melancarkan tujuh buah serangan berantai namun semuanya berhasil dibendung olehnya.

Dengan gusar Ji Cin-peng membentak keras, tiba-tiba badannya berjumpalitan, pedang kanannya secepat sambaran kilat langsung menusuk ke tenggorokan orang berbaju hitam itu.

Tusukan pedang yang dilancarkan Ji Cin-peng ini bukan saja sangat aneh juga lihay sekati, belum pernah ada jurus pedang di dunia ini yang begitu anehnya, membuat Gak Lam-kun yang menyaksikanpun diam-diam mengaguminya.

Menghadapi ancaman itu, ternyata orang berbaju hitam itu tetap berdiri tak berkutik ditempat semula.

Tampakrya tusukan pedang itu segera akan menembusi tenggorokannya, buru buru Ji Cin-peng miringkan gerakan pedangnya dan berganti menusuk ke atas bahunya.

Tapi, disaat rasa kasihannya muncul dalam hati itulah telapak tangan kiri orang berbaju hitam itu tahu-tahu mencengkeram pergelangan tangannya, sementara tangan kanannya melepaskan sentilan tajam.

Mimpipun Ji Cin-peng tidak menyangka kalau musuhnya begitu licik dan buruk. Menanti dia hendak menarik kembali pedangnya, keadaan sudah terlambat.

Buru-buru Ji Cin-peng membalikkan pinggangnya mencoba menghindarkan diri dari sentilan jari tangannya, tapi urat nadi diatas pergelangan tangan kanannya sudah kena dicengkeram lawan, pedangnya terjatuh ke atas tanah.

Saat itulah dari belakang terdengar suara seorang bocah sedang berteriak, “Mama, kau telah pulang?”

Siau Kun peng dengan cepat berlarian mendekat, lalu memeluk sepasang kaki Ji Cin- peng erat-erat.

Si Tiong-pek, Ki Li-soat, Kwik To, Han Hu-hoa, Ji Kiu-liong dan Pek Siau-soh yang menyaksikan kejadian itu menjadi amat terperanjat. Serentak mereka maju mengerubung sambil meloloskan senjata tajam masing-masing.

Dengan tangan kiri mencengkeram urat nadi pada pergelangan tangan Ji Cing-peng dengan gusar manusia berbaju hitam itu membentak keras.

“Jika kalian berani maju selangkah lagi, jangan salahkan kalau aku segera akan menghancurkan isi perutnya!”

Sambil berkata, telapak tangan kanannya segera diayunkan ke tengah udara. Menyaksikan ancaman tersebut, semua orang menjadi terkejut dan segera menghentikan gerakan tubuhnya,

Siau Kun peng seolah olah tidak mengetahui kalau situasi yang sedang dihadapi berbahaya sekali, sambil melototkan sepasang matanya yang kecil, ia memperhatikan manusia berbaju hitam itu sekejap, lalu serunya. “Aneh, kenapa bibi ini mengerudungi mukanya dengan kain?”

Manusia berbaju hitam itu memandang wajah Siau Kun-peng sekejap kemudian sahutnya sambil tertawa, “Muka bibi sangat jelek, tidak berani menjumpai orang dengan muka aslinya”

“Bibi omong kosong, aku tidak percaya!”

Ketika selesai mengucapkan perkataan itu, tiba-tiba Siau Kun-peng mengayunkan tangan kanannya dengan cepat.

“Sreeet…..!”

Kain cadar hitam yang dikenakan manusia berbaju hitam itu segera tergambar hingga terlepas.

Tampaknya orang berbaju hitam itu tidak menyangka sampai ke situ. sambil menjerit kaget dia segera mundur sejauh tiga empat langkah ke belakang.

Sementara itu cengkeramannya pada nadi dipergelangan tangan Ji Cin-peng juga sudah terlepas.

Tampaklah Siau Kun sambil memegang kain cadar berwarna hitam itu sedang mengawasi wajah orang berbaju hitam tadi dengan pandangan termangu.

Dengan cepat Cin-peng menghadang di hadapan Siau Kun-peng, dia kuatir lantaran malu orang berbaju hitam itu menjadi marah dan turun tangan keji kepadanya.

Tampaklah muka orang berbaju hitam itu sudah hangus dan berwarna hitam pekat, kecuali sepasang biji matanya yang jeli dan indah, boleh dibilang wajahnya sama sekali bagaikan hangus terbakar.

Suasana di tempat itu menjadi hening, sepi dan tak kedengaran sedikit suarapun. Tapi dibalik keheningan tersebut tercekam rasa tegang dan seram yang cukup menggidikkan hati.

Pada saat itulah mendadak dari balik mata Gak Lam-kun tertetes keluar air mata yang membasahi pipinya. Perempuan jelek itupun dapat menyaksikan bahwa pemuda tersebut sedang melelehkan air mata.

Mendadak perasaannya menjadi lemah. Setelah menghela napas panjang, pelan-pelan dia berjalan mendekati Gak Lam-kun.

Ketika Ji Cin-peng sekalian menyaksikan sikap Gak Lam-kun yang sangat aneh. semua orang menjadi tertegun, sehingga dengan begitu mereka jadi lupa untuk menghalangi jalan perempuan jelek itu. Ketika tiba dihadapkan Gak Lam-kun, mendadak jari tangannya yang putih bersih itu dikebas ke ke atas tubuh anak muda tersebut.

Kemudian dia membalikkan badan dan berlalu dari sana.

Siapa tahu, pada saat itulah tangan kanan Gak Lam-kun dengan kecepatan luar biasa telah mencengkeram lengannya, kemudian dengan suara gemetar teriaknya, “Adik Ping, jangan pergi kau! Aku telah mengenali dirimu”

Setelah mendengar perkataan itu, Ji Cin-peng sekalian baru merasa amat terkejut, diam-diam pekik mereka didalam hati.

“Ooooh…. rupanya dia!”

Cepat-cepat Ji Cin-peng memburu kemuka lalu sambil memegang lengannya yang lain dan air mata jatuh bercucuran membasahi pipinya, dia berkata. “Adik Ping, Kau….. kau tak usah pergi. kau jangan pergi meninggalkan kami”

Perasaan orang berbaju hitam saat itu benar-benar amat kalut. Gejolak emosi yang besar berkecamuk di dalam benaknya, dia menyesali semua kesalahan yang telah dilakukannya selama ini. Air mata bagaikan air terjun jatuh bercucuran membasahi seluruh wajahnya.

“Adik Ping” kata Gak Lam-kun dengan sedih “Maafkanlah aku. kasihanilah daku.

Ketahuilah bahwa sejak dulu sampai sekarang aku belum pernah berniat meninggalkan dirimu”

Mendadak oraog berbaju hitam itu merentangkan tangannya lebar-lebar, kemudian memeluk Ji Cin-peng dan Gak Lam-kun erat-erat. Sambil menangis tersedu-sedu, serunya, “Aku….. Aku tahu salah, tapi segala sesuatunya telah terlambat. Engkoh Gak…. aku telah membunuh anakmu. oleh sebab itu kuhancurkan paras mukaku sendiri”

“Kau…. kau telah menggugurkan kandunganmu?” bisik Gak Lam-kun terperanjat.

Ternyata orang berbaju hitam ini tak lain adalah gadis berbaju perak Yo Ping adanya.

Setelah pergi dengan gusar dati kuil Ong kok koan, makin membayangkan, gadis itu merasa hatinya makin mendongkol. Ia menjadi benci kepada Gak lam-kun, diapun menjadi benci kepada kandungannya, darah daging dari Gak Lam-kun. Dasar pikirannya memang cupat dan jalan pikirannya memang sempit, ia menjadi nekad dan menggugurkan kandungannya.

Tapi setelah kejadian, dia baru merasa amat menyesal. Kesedihan yang luar biasa membuat ia menjadi nekad untuk merusak paras mukanya sendiri…

Sebab dia beranggapan meski wajahnya cantik tapi hatinya sangat busuk dan jelek. Kemudian diapun merasa bahwa semua kesalahan ini merupakan hasil ciptaan Gak

Lam-kun. Dia menganggap pemuda itu sebagai biang keladinya, maka dia bertekad hendak membunuh Gak Lam-kun dari muka bumi….. Dengan suara gemetar, Yo Ping kembali berkata, “Aku… aku amat menyesal. Aku amat membenci kepada diriku sendiri. Oooh engkoh Gak….”

Dengan lembut Ji Cin-peng menggandeng lengannya, kemudian menghibur, “Adik Ping, kini semua tentu mempunyai kesulitannya sendiri-sendiri. Kini nasi sudah menjadi bubur. Sesal kemudian apa gunanya? Yang sudah lewat biarkan lewat. Mari kita bersama-sama melupakannya! Yang penting sekarang adalah kehidupan kita dikemudian hari. Untung saja besok adalah tahun baru. Marilah dengan tahun yang baru kita lewatkan penghidupan yang baru pula. Buksnkah sekarang kita telah berkumpul menjadi satu!”

Gelak tertawa keras bergema memecahkan keheningan, sambil tertawa, tiba-tiba Jit poh toan hun Kwik To berseru, “Si lote mari kita menjadi tamu. Tahun depan kita baru pikirkan tempat pemondokan yang baru”

Malam semakin kelam tapi rumah putih ditebing Pek im sia memperlihatkan permainan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Suasana riang dan kebahagiaan dijumpai dimana- mana…. Inilah pertanda bahwa kebahagiaan hidup telah terselip di hati para penghuninya.

Yaa, memang begitulah kehidupan manusia, setelah kesengsaraan dan penderitaan lewat kegembiraan dan kebahagiaanpun akan datang.

Sampai di sini pula ceritera ”Lencana Pembunuh Naga”. Semoga pembaca sekalian menjadi puas adanya, terima kasih.

TAMAT