Lencana Pembunuh Naga Jilid 26

 
Jilid 26

DENGAN cepat Gak Lam-kun berkerut kening, sambil membentak keras dia maju melepaskan serangan berantai……. “Sreeet! Sreeet! Sreeet……!”

Dalam waktu singkat tiga jurus serangan telah dilancarkan, pedang itu bergerak bagaikan naga sakti, seketika itu juga memaksa Thian-jit, Thian-gwat dan Thian-seng terdesak mundur beberapa depa ke belakang.

Tampaknya asal Gak Lam-kun melancarkan beberapa jurus serangan lagi dia pasti akan berhasil, tiba-tiba terdengar bentakan keras menggelegar memecahkan keheningan….

Thian sin ang ma, Thian leng ang ma dan Thian kin ang ma bersama sama memutar senjata pena baja dan kencrengan tembaga sedemikian rupa untuk menyerang punggung Gak Lam-kun.

Si anak muda tertawa terbahak bahak, bagaikan setan gentayangan tiba-tiba badannya tergeser ke samping, sebentar kekiri sebentar kekanan. Yaa, menghindar, yaa menghadang yaa menerjang, seketika itu juga ke enam orang tosu itu dibikin kocar kacir dan kalang kabut tak karuan….

Ki Li-soat dapat melihat betapa aneh dan saktinya gerakan tubuh pemuda, itu, diantara ayunan senjata yang begitu rapatnya ternyata ia sanggup mengegos kesana kemari dengan langkah yang lincah, kehebatannya sungguh pantas terpuji.

Dalam waktu singkat, dari posisi menyerang Ang ma jit tin telah berubah menjadi posisi bertahan. Oleh serangan Gak Lam-kun yang membacok dari kanan menebas dari kiri ini, mereka terdesak mundur terus berulang kali. Kencrengan tembaga dan baja mereka harus menangkis ke kiri membendung ke kanan, tak sedikit pun mendapat kesempatan untuk melancarkan serangan balasan.

Menyaksikan kesemuanya itu, Ki Li-soat bertambah heran, sepintas lalu dapat dilihat kalau gerakan tubuhnya itu lihay dan mengandung perubahan yang tak ada batasnya, tapi kalau diperhatikan langkah kakinya ternyata bagitu sederhana dan biasa.

Tiba tiba terdengar dua kali suara dengusan tertahan…….

Menyusul kemudian terdengar suara jeritan ngeri yang memilukan hati…… Thian sin ang ma dan Thian seng ang mi tahu-tahu sudah tertusuk jalan darah

kematiannya oleh pedang Gak Lam-kun sehingga roboh tewas di tanah, sedangkan Thian kin ang ma kena dihajar secara telak sehingga muntah darah dan roboh terkapar diatas tanah dengan terluka parah.

Thian jit ang ma, Thian gwat ang ma dan Thian leng ang ma yang menjumpai tiga orang rekannya kembali tewas sacara mengerikan, dengan gusar dan dendam mereka membentak keras, pena baja serta kencrengan tembaganya diayun secara membabi buta lalu menerjang kemuka.

Gak Lam-kun tertawa dingin, tiba-tiba pedangnya disambit kedepan. Serentetan cahaya patih yang menyilaukan mata bagaikan sambaran petir segera meluncur kedepan…….

Dimana cahaya tajam itu menyambar lewat dua kali jeritan ngeri yang menyayatkan hati kembali bergema memecahkan keheningan malam. Darah segar berhamburan kemana mana. Thian gwat ang ma dan Thian leng ang ma tahu tahu sudah tertembus oleh sambaran pedang sehingga tewas seketika itu juga.

Setengah abad malang melintang diluar perbatasan, belum pernah Thian jit ang ma menderita kekalahan yang demikian mengenaskan seperti apa yang dialaminya saat ini. Tidak sampai setengah jam lamanya, Ang ma jit tin yang nama besarnya sudah menggetarkan luar perbatasan dan belum pernah terkalahkan, sudah ada aaam oraag diantaranya yang tewas ditangan orang lain

Peristiwa ini benar-benar membuat hatinya merasa amat pedih sekali, tapi dia berilmu tinggi tenaga dalamnya juga cukup sempurna. Sekalipun menghadapi pukulan batin yang berat, sikapnya tak sampai terbodoh bodoh separti orang yang kehilangan sukma.

Gak Lam-kun telah tertawa dingin tiada hentinya. Setelah memandang sakejap keenam sosok mayat yang tergeletak diatas tanah itu katanya, “Aku lihat, lebih baik kau juga mengikuti mereka saja untuk berpulang ke akhirat!”

Seusai berkata, tiba tiba ia maju kedepan sambil melancarkan serangan, sebuah pukulun dahsyat segera dilontarkan.

Sampai detik itu Thian jit ang ma masih berada dalam keadaan sadar, kaki kanannya segera maju setengah langkah kedepan, badannya berputar kencang lalu kencrengan tembaganya digetarkan ke atas, dengan jurus ing hong toan cau (menyongsong angin memotong rumput) dia bacok lengan musuh.

Gak Lam knn tersenyum sinis, kaki kirinya segera berputar dan mundur beberapa depa ke belakang, sepasang telapak tangannya digerakkan silih berganti, dalam waktu singkat dia telah melancarkan empat buah pukulan dahyat bahkan serangan yang jaun lebih dahsyat daripada serangan yang lalu.

Thian jit ang ma mengerahkan tenaganya ke dalam pena baja kencrengan tembaganya. Dengan menciptakan setengah lingkaran bianglala berwarna perak membendung keempat buah serangan tersebut, setelah itu dia balas melancarkan tiga buah tusukan dengan pena baja itu.

Tapi sayang semua serangannya itu berhasil dipunahkan oleh pukulan pakulan yang dilancarkan Gak Lam-kun.

Pada waktu itu Thian jit ang ma baru dapat merasakan betapa sempurnanya tenaga dalam yang dimiliki Gak Lam-kun, diam diam ia lantas menghimpun tenaganya manjadi satu. Kali ini dia tidak berebut untuk melancarkan serangan lagi, melainkan hanya siap menanggap dengan ketenangan bagaikan batu karang.

Gak Lam knn segera tertawa keras katanya, “Ilmu silatmu memang benar benar lebih tinggi daripada mereka. Sambutlah beberapa jurus seranganku ini lagi!”

Selesai berkata kakinya melangkah ke tiong-kiong dan mendesak maju ke muka.

Thian jit ang ma segera menggetarkan senjata penanya melakukan serangan dengan jurus Hui pau liu suan (air terjun mengalir ke mata air), mata pena menusuk dada dari Gak Lam-kun sementara kencrengan tembaganya dengan jurus su hoa cun hi (hujan rintik diatas bunga) menyapu bagian bawah lawan.

Tapi dibawah serangan pena baja dan kencrengan tembaga itu masing masing justru tersembuyi sejurus perubahan To coan-im yang (membolak balikkan im yang) yang maha dahsyat.

Asal Gak Lam-kun menghindarkan diri dari serangan itu, dia akan segera merubah tusukkannya menjadi sapuan, kemudian dari sapuan berubah menjadi tusukan. Kedua duanya bisa menyerang bersama secara kombinasi.

Siapa tahu Gak Lam-kun sama sekali tidak menghindarkan diri dari ancaman pena mau pun kencrengan tersebut, telapak tangan kirinya direntangkan lalu diayun ke muka.

Setelah memaksa gerak pena dan kencrengan itu tersumbat ditengah jalan, telapak tangannya dengan jurus Ci kou thian bun (menyembah-pintu langit) membacok batok kepala lawan.

Didalam serangannya ini, Gak Lam-kun telah mempergunakan empat bagian tenaga dalamnya, kehebatannya luar biasa. Thian jit ang ma hanya merasakan tekanan yang maha dahsyat menindih dadanya, terpaksa ia tarik kembali serangannya sambil melompat mundur sejauh lebih kurang tujuh depa ke belakang.

Gak Lam-kun segera mengikuti gerakan tersebut mengejar ke muka. Sepasang telapak tangannya melancarkan serangan secara beruntun, angin pukulan menderu deru. Makin lama serangannya semakin gencar, beberapa jurus kemudian tenaga serangan yang maha dahsyat itu sudah melanda hampir tujuh kaki lebih.

Thian jit ang ma telah mengerahkan segenap tenaga murni yang dimilikinya ke dalam pena baja serta kencrengan tembaga tersebut. Diantara kilatan cahaya tajam yang berkilauan, terkandung angin pena dan angin kencrengan yang sangat kuat. Sepintas lalu kedua orang itu tampak seperti saling menggunakan kepandaian saktinya untuk menguasai keadaan. Sesungguhnya dibalik serangan demi serangan tersebut justru terjadi saling adu kekuatan yang mengerikan.

Bukan saja di dalam serangan telapak tangan dan pedang itu mengandung perubahan perubahan jurus yang mematikan, bahkan terkandung pula tenaga serangan yang maha dahsyat.

Empat belas gebrakan kemudian, Thian jit ang ma sudah merasa keteter hebat dan tak sanggup untuk bertahan terus. Dia merasa tenaga pukulan yang terpancar dari balik telapak tangan Gak Lam-kun itu makin lama semakin ganas. Jurus serangan yang digunakan juga makin lama semakin aneh ternyata dia sudah didesak sehingga tak sanggup lagi untuk mengendalikan keadaan.

Mendadak……. terdengar dengusan tertahan berkumandang memecahkan keheningan.

Kemudian terlihatlah Thian jit ang ma dengan wajah hijau membesi, senjata penanya terkulai ke bawah, kencrengan tembaganya terlempar ditanah, tubuhnya berdiri kaku dua kaki jauhnya diri sisi kalangan tersebut.

Sikap Gak Lam-kun sendiri amat santai, dengan sinar mata memancarkan sinar tajam yang menggidikkan hati katanya dengan suara sedingin salju. “Sekarang aku tak akan membinasakan dirimu. Sekarang cepat kembali ke kuil dan beritahu kepada Tiang pek sam him, pada kentongan kedua nanti aku Gak Lam-kun akan naik ke kuil untuk meminta orang”

Thian jit ang ma mendongakkan kepalanya dan tertawa seram. “Haa… haa… haa… bagus. bagus sekali. Dendam kesumat dan hutang darah ini pasti ada orang yang akan memperhitungkannya denganmu!’

Seusai berkata, sambil menahan rata sakit akibat luka yang dideritanya itu, Thian jit ang ma segera berangkat menuju kearah utara.

Menanti bayangan tubuh orang itu sudah lenyap dari pandangan mata, Ki Li-soat baru pelan-pelan berjalan menghampirinya, katanya sambil tersenyum. “Kini Ang ma jit tin sudah tewas enam orang itu berarti kekuatan Ngo kok koan yang sesungguhnya telah lenyap separuh bagian besar”

“Nona Ki!” tanya Gak Lam-kun kemudian, “bagaimanakah pendapatmu tentang ilmu silat yang dimiliki Sam Him jika dibandingkan dengan Ang ma jit tin?”

“Tentu saja jauh lebih tinggi dari ketujuh orang itu. Cuma sampai dimanakah kelihayannya aku sendiripun kurang begitu jelas”

Gak Lam-kun segera menhela napas panjang. “Dengan kepandaian silat yang dimiliki Ji Cin-peng pun nyatanya dia berhasil ditawan oleh mereka, aku rasa Tiang pek sam him (tiga beruang dari bukit Tiang pek) sudah pasti merupakan manusia-manusia yang tak dapat dianggap enteng!”

Diiringi belian napas panjang, berangkatlah ketiga orang itu meneruskan kembali perjalanannya, menuju ke arah utara.

Setelah melewati tujuh delapan bukit yang tinggi, waktupun menunjukkan permulaan kentongan yang pertama.

Agaknya Ji Kiu liong sudah tidak sabar lagi tidak tahan dia lantas bertanya, “Enci Ki, sebenarnya kuil Ngo kok koan itu terletak di mana? Masih jauhkah letaknya dari sini?”

“Itu dia, diatas puncak bukit yang sangat tinggi itu!” jawab Ki Li-soat sambil menuding bukit paling tinggi yang berada di sebelah barat laut itu.

Gak Lam-kun mencoba untuk mengerahkan ketajaman matanya dan memeriksa keadaan disana. Tampak bukit yang berserakan di sekitar sana amat banyak. Dibawah sinar rembulan tampak salju yang putih menyelimuti hampir seluruh pemukaan tanah, bahkan pada puncak bukit itu seperti terselimuti oleh selapis kabut yang tebal sekali.

Setelah perjalanan dilanjutkan kembali beberapa saat lamanya, sampailah mereka di depan mulut bukit tersebut.

Gak Lam-kun kembali memeriksa keadaan sekitar perbukitan itu. Dia menjumpai bahwa mulut masuk ke bukit itu merupakan selat sempit yang diapit oleh dua buah bukit. Dinding karang yang terjal dan licin itu mencapai ketinggian ratusan kaki lebih dan memanjang kearah barat. Ditengahnya terpentang sebuah selat sempit yang luasnya paling banter dua kaki.

Gak Lam-kun dapat merasakan betapa berbahayanya tempat tersebut, apalagi dinding tebing yang licin dan terjal itu hakekatnya halus seperti cermin dan sama sekali tiada batu yang menonjol maupun pohon yang tumbuh disana.

Selain daripada itu makin menjorok kedalam, selat itu semakin sempit. Tiga puluh kaki kemudian tiba-tiba selat itu berbelok ke arah kiri sehingga tidak diketahui berapa panjang sesungguhnya selat sempit itu.

Dengan situasi medan semacam ini, seandainya ada musuh yang bersembunyi diatas dinding bukit dikedua belah sisi selat, baik mereka mau menyerang secara tersembunyi atau terang terangan, tidak gampang bagi mereka untuk meloloskan diri.

Maka Gak Lam-kun segera maju ke depan lebih duluan untuk membuka jalan. Setelah melewati lima puluh kaki lebih dan berbelok ke sebelah kiri, tampaklah dinding bukit di kedua belah sisi jalan itu makin tinggi. Keadaan medanpun semakin berbahaya.

Kurang lebih seperempat jam kemudian, merekapun baru berhasil keluar dari daerah berba-haya yang ratusan kaki panjangnya itu tanpa mendapat serangan dari lawan.

Sesudah keluar dari lembah itu pemandangan yang terbentang didepan matapun kembali berubah. Tampak sebuah bukit tinggi yang menjulang ke angkasa berdiri angker ditengah kegelapan malam.

Didepan puncak tinggi itu merupakan sebuah tanah datar yang beberepa ratus hektar luasnya. Lapangan itu dikelilingi tebing yang terjal tapi tidak setinggi puncak utama tersebut. Sayang malam itu sangat gelap sehingga yang bisa dilihat hanya garis besarnya saja.

Mendadak dari arah depan meluncur datang empat sosok bayangan manusia. Belum lagi sampai ditempat tujuan, salah seorang diantaranya sudah berteriak lebih dulu dari kejauhan, “Apakah yang berada didepan adalah orang she Gak?”

Gak Lam-kun tertawa terbahak bahak, “Haa… haa… haa… benar! Kalian berpesan kepada Tiang pek sam him agar membuat persiapan yang lebih matang lagi”

Salah seorang diantara keempat orang itu kembali berseru dengan suara dingin, “Jika ingin berkunjung ke kuil Ngo kok koan, harap mengikuti kami”

Selesai berkata mereka berempat segera membalikkan badan dan berlarian kembali dengan kecepatan tinggi.

Gak Lam-kun, Ki Li-soat dan Ji Kiu liong memang merupakan jago jago yang bernyali besar dan berilmu tinggi. Dengan cepat mereka mengikuti di belakang dengan ketat.

Sesudah melalui jalan gunung yang sempit mereka mendaki terus lebih keatas. Pada mulanya meski medan amat berbahaya, masih ada jalan setapak yang dapat dilalui. Akan tetapi semakin naik keatas, keadaannya semakin berbahaya. Satelah berada pada ketinggian empat ratus kaki, jalan setapak itu boleh dibilang telah terputus sama sekali. Sambil melakukan perjalanan dengan gerakan tepat. Ki Li-soat segera menuding kedepan sambil berseru.

“Dibelakang hutan sana adalah telaga langit dari bukit Tiang pek san….”

Dibawah sebuah tebing curam benar juga Gak Lam-kun menemukan sebuah telaga yang besar

Bagaimana pun juga Ji Kiu liong masih kekanak-kanakan, buru-buru serunya keherenan, “Telaga langit? Apakah telaga langit itu?”

Ki Li-soat berpaling dan memandang sekejap kearah pemuda itu, kemudian katanya, “Konon menurut dongeng, pada suatu hari putri kaisar Thian tee telah turun dari kahyangan, untuk menolong meringankan kerisauan umat manusia di alam semesta ini. Diapun mencabut tusuk kondenya dan membuat sebuah garis lingkaran dipuncak bukit ini, seketika itu juga tanah diperbukitan ini tenggelam dan muncul sumber air yang menutupi tanah ledakkan tersebut. Sehabis mandi di telaga itu putri Thian tee baru kembali ke kahyangan. Semenjak itulah telaga ini dinamakan telaga langit telaga ini merupakan suatu tempat indah yang amat terkenal dinegeri kita ini”

Selesai mendengar cerita itu, Ji Kiu liong baru manggut-manggut tanda mengerti.

Maka Gak Lam-kun, Ki Li-soat dan Ji Kiu liong segera melanjutkan kembali perjalanannya ke depan.

Setelah melewati hutan yang gelap gulita didepan mereka terbentanglah suatu dunia lain yang sangat indah.

Empat penjuru bukit yang mengitari sana dilapisi oleh salju putih yang tebal. Angin dingin yang berhembus lewat serasa menyayat badan.

Bila seseorang tidak memiliki ilmu meringankan tubuh yang sempurna, jangan harap mereka bisa melewati tempat itu.

Sesudah melewati padang salju yang tebal mereka harus mendaki lagi sebuah tebing vang curam sebelum akhirnya tiba di puncak bukit tersebut, sementara itu waktu telah menunjukkan kentongan kedua.

Sekali lagi Gak Lam-kun memperhatikan situasi diatas puncak bukit itu….

Tampak olehnya, kuil Ngo kok koan yang merupakan tempat paling berpengaruh dan menakutkan bagi orang orang diluar perbatasan itu bertengger diatas puncak bukit, bangunan itu berdiri dengan menempel padi dinding bukit yang terjal, bangunan ini berbeda sekali dengan bangunan kuil yang lainnya. Rumah dibangun bersusun susun dengan amat menterengnya, daripada disebut kuil, tempat itu lebih mirip kalau dikatakan sebagai suatu perkampungan.

Tiba tiba terdengar tiga kali bunyi tambur berkumandang memecahkan keheningan. Menyusul kemudian terdengar bunyi genta bertalu-talu dan memekakkan telinga, tapi sembilan kali kemudian genta itupun berhenti berbunyi suasanapun pulih kembali dalam keheningan. Lama sekali setelah tambur dan genta berkumandang tadi, tiba-tiba muncul seseorang pendeta baju putih dengan langkah targesa-gesa, kemudian ia membisikkan sesuatu kepada keempat orang itu.

Mendengar bisikan tadi, keempat orang pendeta tersebut segera masuk kedalam kuil dengan langkah tergesa-gesa.

Sedangkan pendeta berbaju putih tadi segera menjura kepada Gak Lam-kun sekalian lalu katanya sambil tertawa. ”Kami tidak menyangka akan kedatangan beberapa orang tamu yang datang dari jauh. Bila penyambutan kami kurang menyenangkan, harap kalian sudi memaafkan, sekarang silahkan kalian masuk kekuil dan menunggu sebentar”

Gak Lam-kun bertiga sama sekali tidak mengucapkan sepatah kata pun, dengan berjajar tiga mereka mengikuti dibelakang pendeta penerima tamu berbaju putih itu.

Dibalik pagar pekarangan yang tinggi, selain bangunan rumah yang didirikan melingkari bukit disanapun terbentang sebuah tanah lapang yang sangat luas, dibawah sinar rembulan tampak bayangan manusia berkelebat kesana kemari.

Walaupun sepintas lalu mereka tampak seperti hwesio, tapi dandanan maupun warna pakaian yang dikenakan berbeda-beda. Bila dilihat dari langkah mereka yang tergesa-gesa tampaknya mereka sedang repot sekali, tapi semuanya membungkam dan tak seorangpun yang berbicara. Masing-masing mengambil jalannya sendiri sendiri seperti satu sama lainnya adalah orang asing.

Sepanjang jalan Gak Lam-kun bertiga entah sudah bertemu dengan berapa banyak hwesio, tapi semuanya hanya memandang sekejap kearah beberapa orang itu dengan pandangan dingin, tidak menegur tidak menyapa bahkan ada pula diantaranya yang melirik sekejappun tidak.

Situasi yang serba dingin dan aneh ini dengan cepat menciptakan semacam suasana yang misterius, tegang dan penuh keseraman, membuat seseorang merasa seakan-akan dirinya berada dalam neraka.

Baik Gak Lam-kun maupun Ki Li-soat, ke dua duanya adalah jago persilatan yang sudah lama malang melintang didunia. Pertarungan apapun, tempat macam apapun sudah banyak yang dilihat, tapi sekarang tak urung juga timbul perasaan bergidik dihati mereka.

Mereka semua merasa bahwa lembah ini penuh diliputi hawa setan yang mengerikan membuat orang tidak tenang terutama Gak Lam-kun yang sangat menguatirkan keselamatan Ji Cin peng, hatinya merasa gelisah cemas dan tak karuan.

Pendeta penerima tamu berbaju putih itu membawa mereka menuju ke sebuah ruangan disebelah kiri kuil.

Ruangan itu agaknya khusus digunakan un tuk menyambut kedatangan tamu, baik dekorasi maupun perabotnya amat bersih dan indah.

Waktu itu udara sangat bersih tiada awan diangkasa, rembulan bersinar lembut diatas awang-awang dan menyorokan sinarnya menembusi jendela menerangi ruangan. Ketika cahaya lentera didalam ruangan itu tertimpa sinar rembulan, jilatan apinya segera berubah menjadi kehijau-hijauan.

Tiba tiba pendeta penerima tamu berbaju putih itu berpaling dan memandang sekejap kearah Ki Li-soat. Ia saksikan perempuan itu duduk di samping Gak Lam-kun dengan senyuman dikulum dibawab sinar lentera wajahnya kelihatan amat cantik mempersonakan hati. Untuk sesaat lamanya ia menjadi tertegun.

Tiba tiba Ji Kiu liong mendengus dingin, kemudian serunya dengas suara lantang. “Sialan, memangnya Tiang pek sam him sudah mampus semua? Kenapa sampai sekarang belum datang juga?”

Mendengar perkataan itu, paras muka si pendeta penerima tamu berbaju putih itu segera be-rubah hebat, kemudian sambi! tertawa seram teriaknya. “Bocah keparat, mulutmu kotor dan tak tahu sopan, sebentar akan kusuruh kau mampus tanpa tempat kubur”

oooOooo

JI KIU LIONG tertawa dingin. “Hee… hee… hee… setelah kami berani kemari, itu berarti mati hidup sudah bukan masalah lagi. Suhu, berapa usiamu tahun ini?’

Sambil berkata selangkah demi selangkah dia maju kedepan menghampiri pendeta tersebut.

Ketika dilihatnya pihak lawan tak lebih cuma seorang kanak-kanak, pendeta penerima tamu berbaju putih itu sama sekal tidak memikirkannya dihati, sahutnya dingin. “Tahun ini aku berusia empat puluh tujuh tahun.

“Kalau begitu hari ini ditahun depan adalah ulang tahun pertama dari kematianmu!” sambung Ji Kiu liong lagi.

Mendadak sepasang tangannya dirapatkan menjadi satu kemudian didorong ke depan, segmung tenaga pukulan yang maha dahsyat dengan cepat meluncur ke depan.

Pendeta penerima tamu berbaju putih itu tertawa seram, ia berdiri dengan telapak tangan tunggal lalu diayun kebawah sekuatnya, angin pukulan segera berhembus lewat menyongsong datangnya ancaman yang dilancarkan oieh Ji kiu liong tersebut.

‘Blaaaam…!”

Dengan cepat dua gulung tenaga pukulan itu bertemu menjadi satu menimbulkan ledakan dahsyat, sekujur badan pendeta itu segera bergetar keras lalu terdorong lima langkah ke belakang dengan sempoyongan.

Kali ini dia benar-benar merasa terperanjat sekali, mimpipun tidak disangka olehnya kalau bocah cilik itu memiliki tenaga dalam yang sedemikian sempurnanya.

Tiba-tiba ia melihat senyuman dingin dari Ki Li-soat yang begitu dingin dan sinis diujung bibirnya. Tiba-tiba saja pendeta baju putih penerima tamu itu dan malunya menjadi gusar, sambil meraung keras dia mendesak ke depan dengan langkah lebar, kemudian dengan jurus-jurus To pit hoa san (membacok runtuh bukit Hoa san) telapak tangan kanannya langsung dihantamkan ke atas ubun ubun Ji Kiu liong.

“Ci Seng, tahan!” mendadak seseorang membentak dengan suara lantang.

Sepertu sambaran kilat seorang pendeta berbaju hijau berkelebat masuk ke dalam ruangan.

Sementara itu, si pendeta penerima tamu itu telah menghimpun tenaga dalamnya sebesar dua belas bagian untuk menghantam tubuh Ji Kiu liong. Ketika mendengar peringatan tersebut, ia sudah tak kuasa untuk menahan serangannya lagi, angin pukulan yang dahsyat segera meluncur ke depan dan menumbuk tubuh Ji Kiu liong.

Terdengar Gak Lam-kun mendengus dingin telapak tangan kirinya segera dikebaskan ke muka.

Suatu jeritan ngeri yang menyayatkan hati segera berkumandang di dalam ruangan itu. Tubuh si pendeta penerima tamu berbaju putih itu segera mencelat ke tengah udara,

kemudian seperti layang-layarg yang putus benang, tubuhnya meluncur keluar pintu.

Tampaknya ilmu silat yang dimiliki pendeta baju hijau yang sedang melayang masuki dari luar ruangan itu tinggi sekali. Ketika tubuh si pendeta penerima tamu yang tinggi besar itu meluncur ke muka dan menumbuk ke arahnya, dia segera mundur setengah langkah ke belakang, telapak tangan kirinya melepaskan satu pukulan kedepan, sementara tangan kanannya menyambar bahu kanan pendeta tadi.

Ketika memeriksa keadaannya, tampak pendeta penerima tamu itu sudah mati dalam keadaan mengerikan. Sepasang matanya membalik ke atas dan darah mengucur keluar dari panca indranya.

Menyaksikan kematian yang begini mengenaskan dari Ci Seng hwesio, paras maka pendeta berbaju hijau itu segara menampilkan suatu perubahan yang sangat mengerikan dengan cepat dia mendongakkan Kepalanya dan melotot ke wajah Gak Lam-kun, Ki Li-soat serta Ji Kiu Liong bertiga.

Sementara itu, Ki Li-soat sendiripun menampilkan sikap yang tercengang dan keheranan, segera bisiknya, “Gak siangkong, itukah pukulan Hud keng ciang (pukulan Kebutan maut)…?”

Gak Lam-kun segera tersenyum “Oooh… itulah pukulan yang baru saja berhasil kupahami. Sungguh tak kusangka sama sekali kepandaian ilmu pukulan yang demikian tinggi dan hebatnya ini berhasil kupahami didalam keadaan seperti ini”

Ternyata ilmu pukulan Hud keng ciang itu merupakan suatu ilmu pukulan maha sakti yang telah menggetarkan dunia persilatan pada ratusan tahun berselang. Ilmu pukulan itu ciptaan seorang jago persilatan kenamaan yang waktu itu disebut Ku Yang cu.

Sesungguhnya ilmu pukulan itu maha dahsyat, bahkan bila dibandingkan dengan Bok sian ciang dari kaum agama to pun jauh lebih hebat dan luar biasa. Terutama sekali waktu dikibaskan keluar sana sekali tidak menimbulkan desingan suara apa apa. Akan tetapi begitu bertemu dengan tenaga pukulan lawan, maka segera timbullah suatu tenaga pantulan yang luar biasa dahsyatnya.

Yang lebih istimewa lagi adalah ilmu pukulan semacam itu dapat memancing tenaga pukulan yang dilancarkan lawan untuk berbalik menumbuk tubuhnya sendiri, sehingga orang tidak akan menyangka sampai kesitu……

Dengan kehebatan serta keistimewaan semacam itu, mana mungkin pendeta penerima tamu itu sanggup menahan pukulan hud heng ciang dari Gak Lam-kun? Kontan saja seluruh nadi penting didalam tubuhnya putus dan hancur, tidak sempat merintih sepatah katapun jiwanya sudah keburu melayang dulu meninggalkan raganya.

Lama sekali pendeta berbaju hijau itu berdiri termangu-mangu, kemudian setelah menyingkirkan mayat sipendeta penerima tamu itu kesamping dia merangkap tangannya didepan dada seraya berkata, “Ilmu silat yang cisu miliki benar-benar sangat lihay, siapa suruh pendeta penerima tamu itu punya mata tak berbiji dan mencari kematian buat dirinya sendiri. Kini Koancu kami menyuruh aku mengundang kehadiran saudara sekalian untuk berjumpa diistana Tiang seng tian”

Ternyata pendeta berbaju hijau itu adalah searang pembantu dari Tiang pak sam him, ilmu silatnya sangat lihay. Ketika menyaksikan ilmu pukulan Hud keng ciang yang dilancarkan Gak Lam-kun tadi dia sadar bahwa ilmu silatnya masih jauh sekali bila dibandingkan kepandaian orang, maka dia menekan kobaran api dendamnya serta menanggapi sebagaimana mestinya. Boleh dibilang pendeta ini cukup licik dan tahu diri sehingga pandai mengikuti perkembangan situasi.

Gak Lam-kun berpaling dan memandang sekejap ke arah Ki Li-soat, kemudian pelan- pelan bangkit bersama dan mengikuti di belakang pendeta berbaju hijau itu keluar dari rumah itu

Setelah melewati sebuah tanah lapang mereka menelusuri sebuah jalan beralaskan batu putih dan menuju ke dalam sana.

Jalan setapak itu mengitari banguna rumah dan berliku-liku menuju ke dalam sana.

Sesudah melewati beberapa kali tikungan, pemandangan kembali berubah. Tampak pohon siong raksasa yang tinggi dikedua belah tepian jalan. Dibawah sinar rembulan tampaklah diujung pohon siong itu berdiri sebuah bangunan yang amat besar dan megah.

Dari kejauhan tampaklah bangunan itu bermandikan cahaya lampu. Bayangan manusia bergerak kesana kemari tetapi tidak kedengaran suara sedikitpun.

Pendeta berbaju hijau itu membawa Gak Lam-kun sekalian langsung menuju ruang tengah.

Bangunan istana itu seluruhnya terbuat dari batu hijau yang keras, tingginya mencapai tiga kaki dan terdiri dari dua belah bilik. Dalam ruangan tengah terdapat tiga puluh enam buah lilin besar yang memancarkan sinar terang. Suasana amat terang benderang bagaikan ditengah hari saja. Kedua belah sisi ruangan itu berdiri berjajar dua baris pendeta dan memanjang sampai ke dinding sebelah belakang sana. Diujung ruangan terdapat sebuah mimbar yang terbuat dari batu dengan bentuk sekuntum bunga teratai. Di atas mimbar berbentuk teratai itu berdiri tegak tiga orang manusia.

Yang berada ditengah adalah seorang manusia aneh yang jangkung dan ceking. Di sebelah kanannya seorang kakek aneh berbulu emas yang ceking dan kecil, sedangkan disebelah kiri berdiri seorang Touto (hwesio yang memelihara rambut) berwajah bengis dan bertubuh gemuk seperti sebuah tong.

Mereka bertiga bukan lain adalah Tiang pek-sam-him (tiga buruang dari bukit Tiang pak) yang amat termashur namanya didalam dunia persilatan itu.

Gak Lam-kun belum pernah bersua dengan Tiang pek sam him, akan tetapi setelah menyapo sekejap ketiga orang itu dengan pandangan tajam, hatinya kontan saja bergetar keras, pikirnya, “Kelihatannya Tiang pek sam him tak bisa disamakan dengan umat persilatan pada umumnya. Mereka rata-rata berwajah sangar dan keras, jelas tenaga dalamnya lelah mencapai pada puncak kesempurnaan yang luar biasa sekali. Aku musti berhati hati, bisa jadi kalau terlalu gegabah malah akan merugikan diriku sendiri”.

Dibelakang Tiang pek sam him, yakni di setengah lingkaran belakang bunga teratai besar itu berdiri berjajar dua belas orang pendeta berbaju hijau.

Usia mereka rata-rata diantara lima puluh tahunan. Sinar matanya tajam dan keningnya pada menonjol keluar. Jelas tenaga dalam yang mereka miliki amat sempurna.

Ternyata kawanan pendeta berbaju hijau itu adalah para Hu hoat taysu (pendeta pelindung) yang berada dalam Ong kok koan. Ilmu silat mereka rata-rata sudah mencapai pada puncak kesempurnaan, bahkan kehebatannya sama sekali tidak berada dilawan Ang ma jit tin.

Pendeta berbaju hijau itu segara maju kedepan selangkah lebih cepat, kemudian memberi hormat sambil berkata. “Tiga orang yang menerobos wilayah suci kuil kita telah mengikuti tecu masuk ruangan!”

Ong kok bim cun (Rasul beruang dari kuil Ong kok koan) mengalihkan dulu sorot matanya untuk memandang sekejap ke wajah Gak Lam-kun, kemudian sinar mata itu beralih pula ke tubuh Ki Li-soat, setelah itu baru katanya sambil tertawa dingin, “Ada urusan apa kalian berkunjung ke tempat kami? Silahkan mengemukakan maksud tujuan kalian!”

Sikapnya amat angkuh dan tinggi hati, suaranya dingin bagaikan es, sungguh amat tak sedap dipandang maupun didengar.

Gak Lam-kun merasa kheki sekali, tapi ia berusaha keras untuk menahan diri, sahutnya kemudian dengan lantang, “Tanpa urusan tak akan kami ganggu ketenangan kalian. Aku hanya ingin bertanya ketika beberapa hari berselang kalian mengnjungi wilayah Tionggoan dan membasmi perguruan Panah Bercinta konon ketua perguruan itu sudah kalian tawan. Hari ini aku sengaja datang kemari untuk meminta kembali orang itu” Belum lagi Ong kok him cun sempat menjawab, Im yang him (beruang banci) yang berada disebelah kiri itu sudah tertawa dingin sambil mengejek, “Minta orang? Hee… hee… hee… kau anggap begitu gampang?”

Paras muka Gak Lam-kun segera berubah hebat, serunya dengan penuh kegusaran, “Bila kalian tidak segera menyerahkan ketua dari perguruan Panah Bercinta itu kepadaku, jangan salahkan kalau segera kubasmi kuil Ong kok koan kalian ini sehingga rata dengan bumi”

Kendengar ucapan tersebut, Ong koh him cun segera tertawa terbahak bahak. “Haa… haa… haa… Sejak dulu sampai sekarang kau boleh dianggap sebagai orang pertama yang berani mendatangi kuil Ong kok koan untuk bikin keonaran. Sekarang aku ingin bertanya kepadamu, kau telah membantai anggota perguruan kami, tahukah kau berapa besar dosamu itu?”

Gak Lam-kun tertawa angkuh. “Kau anggap berhak untuk menuntut kepadaku?”

Pertanyaan tersebut kontan saja membuat paras muka Ong kok him cun kembali berubah hebat. Sekarang ia sudah dapat merasakan bahwa pemuda tersebut memiliki suatu kewibawaan yang besar dan mengerikan sekali.

Hui thian bu im kim si him (beruang bulu emas terbang diangkasa tanpa bayangan) segera melejit ke udara, kemudian secepat sambaran kilat menubruk ke muka.

Menyaksikan gerakan tubuhnya itu, Gak Lam-kun merasa terperanjat sekali. Cepat- cepat kakinya berputar dan bergeser tiga depa kesamping kiri.

Tapi, ketika Gak Lam-kun mempersiapkan telapak tangannya untuk melancarkan bacokan, tahu tahu bayangan tubuh Hui thian bu im kim si him yang berada dihadapannya sudah lenyap dari pandangan mata. Ternyata ia telah balik kembali ke atas mimbar teratai itu.

Menyaksikan kesemuanya itu, diam diam Gak Lam-kun berkerut kening, Ia merasa gerakan tubuh orang ini sedemikian cepatnya sehingga sukar diikuti arah tujuannya dengan mata telanjang. Itu berarti jika ingin menyerang orang tersebut, maka dia harus mempergunakan jurus serangan yang paling cepat.

Berpikir demikian, tanpa terasa Gak Lam-kun meningkatkan kewaspadaannya tiga bagian lebih besar.

Mendadak…..

Sekilas ingatan aneh melintas didalam benaknya…

Gak Lam-kun segera tertawa ringan, dengan sikap yang santai dan acuh tak acuh dia maju ke muka dan pelan pelan mendekati mimbar eratai dtmana Tiang pek sam him sedang berdiri.

Lebih kurang satu tombak dari mimbar bunga teratai, Gak Lam-kun segera menghentikan langkahnya, lalu sambil tersenyum dia berkata, “Silahkan kalian mencoba untuk menerima satu jurus Lian hon seng hong (bunga teratai mekar besar) ku ini…!” Sambil berkata telapak tangan kanannya secara beruntun mengibaskan sebuah pukulan ke arah tiga beruang dari bukit Tiang pek san tersebut.

Ketika pukulan Hud keng ciang ini dilancarkan, tiada hembusan angin tiada suara desingan. Sepintas lalu ancaman tersebut seolah-olah enteng bagaikan sama sekali tak berwujud.

Tapi buat Tiang pek sam him yang bermata tajam, tidak gampang mereka terkecoh dengan begitu saja. Begitu Gak Lam-kun melancarkan serangan, mereka segera tahu akan kelihayan orang. serentak tiga gulung angin pukulan dilontarkan pula bersama ke tubuh si anak muda itu.

Kedua belah pihak boleh dikata sama-sama merupakan jago kelas satu di kolong langit.

Begitu mereka melancarkan serangan, suasana dalam ruangan serangan diliputi gelombang angin pukulan yang dahsyat dan amat menyesakkan nafas.

Cahaya lilin dari ketiga puluh enam batang lilin raksasa dalam ruangan Tiang seng tian segera bergoncang keras seakan setiap saat bisa jadi padam.

Tapi ketika cahaya lilin itu bergoyang untuk ketiga kalinya, hawa pukulan yang menyesakkan napas itu tiba-tiba lenyap tak berbekas.

Tiang pek sam him yang berdiri diatas mimbar bunga teratai segera berubah wajah, bagaikan tiga butir putik yang meletup keudara. Ketiga orang itu segera melejit ketengah udara dan menyebar ketiga arah yang berbeda.

Dalam sekejap mata itulah….. Dua batas orang pendeta baju hijau yang berada dibalakang mimbar bunga teratai itu segera merasakan desakan angin pukulan dahsyat yang menekan keatas dada meraka, tanpa bisa dihindari tubuh mereka segera terlempar keudara.

Beberapa kali jeritan ngeri yang menyayatkan hati segera menyusul menggema pula di udara.

Dari dua belas orang pendeta baja hijau yang semula berada disitu, secara misterius tahu-tahu ada empat orang diantaranya yang roboh terkapar ditanah.

“Blaaaamm……!”

Suatu ledakan dahsyat yang memkakkan telinga menyusul menggema disitu.

Empat belah dinding ruangan Tiang seng tian seolah-olah bergoncang keras, bagaikan tertimpa gempa bumi saja, suasana menjadi kacau, panik dan mengerikan.

Suasana yang luar biasa hebatnya ini kontan saja membuat semua orang yang berada didalam ruangan itu tertegun dan berdiri melongo, saking kagetnya mereka tak tahu apa yang musti dilakukan.

Sedang Gak Lam-kun sendiripun menampilkan juga rasa kaget yang luar biasa. Dia tidak menyangka kalau pukulan Hud keng cang yang dilancarkan olehnya itu bisa menghasilkan kekuatan yang demikian besarnya. Ternyata ketika ketiga buah pukulan dahsyat yang dilancarkan oleh Tiang pak sam him tadi bertemu dengan pukulan Hud heng ciang tersebut secara tiba-tiba saja arah sesarannya terpancing hingga berubah arah dan malahan berbalik untuk menghantam ketubuh ketiga beruang dari Bukit Tiang pek.

Kenyataan ini sangat mengejutkan hati mereka, buru-buru mereka melejit ke udara dan menghindarkan diri.

Dengan perginya ketiga orang itu secara tiba-tiba, akibatnya kedua belas orang pendeta baju hijau yang berada dibelakangnya justru persis menyongsong datangnya pukulan dahsyat itu.

Benar tenaga dalam yang mereka miliki sangat tinggi, tapi tak mungkin bisa manahan serangan dahsyat yang betul-betul mengerikan itu? Maka, akibatnya empat orang pendeta yang persis berada di muka serangan dahsyat itu segera terhajar telak dan tewas seketika itu juga.

Sesungguhnya dengan tenaga dalam yang dimiliki Gak Lam-kun sendiri, mustahil baginya untuk menghasilkan angin pukulan yang sedahsyat itu, lalu dari mana datangnya tenaga pukulan yang begitu hebatnya?

Ternyata angin pukulan maha dahsyat itu dihasilkan dari himpunan segenap tenaga dalam yang dimiliki oleh Tiang pek sam him.

Untuk sesaat lamanya, Tiang pek sam him, Gak Lam-kun maupun Ki Li-soat hanya berdiri termangu-mangu ditempat. Sepasang mata mereka memandang jauh ke depan sana, seakan akan ada sesuatu yang sedang mereka pikirkan.

Rupanya orang-orang itu sedang berpikir, dengan tenaga dalam yang dimiliki Gak Lam- kun, mengapa bisa menghasilkan tenaga serangan yang begitu dahsyat?

Dalam pada itu, kawanan pendeta yang berada di dalam ruangan itu mulai menggeserkan tubuhnya dan bergerak maju kedepan. Makin lama mereka semakin maju kedepan dan mendekati Gak Lam-kun bertiga. Sementara posisi yang mereka ambil jelas adalah suatu posisi pengepungan.

Menyaksikan keadaan tersebut, diam diam Gak Lam-kun merasa amat terperanjat. Ada dua-tiga ratusan orang banyaknya pendeta yang berada dalam ruangan itu. Andaikan mereka menggunakan taktik ‘“gelombang manusia” untuk mendesak mereka, sekalipun bagi dia pribadi hal mana masih bukan merupakan suatu ancaman, akan tetapi buat Ji Kiu liong yang lebih rendah ilmu silatnya, besar kemungkinan dia akan mengalami musibah yang tidak diinginkan.

Berpikir sampai disitu, Gak Lam-kun segera mengambil keputusan untuk melakukan serangan lebih dulu, tiba tiba ia mendongakkan kepalanya dan berpekik nyaring…..

Tiba-tiba Gak Lam-kun menerjang maju ke muka, pergelangan tangannya diayunkan berulang kali. Baik serangan jari maupun serangan pukulan seluruhnya ditujukan pada jalan darah kematian ditubuh lawan.

Hanya didalam Waktu yang relatip amat singkat ada dua puluhan jago yang sudah tertotok olehnya. Mendadak menggelegar suara bentakan keras dalam ruangan itu, barisan pendeta yang berada dipaling depan tiba tiba mengayunkan tangannya dan melancarkan serangan senjata rahasia.

Dalam waktu singkat pisau terbang, panah pendek, pisau baja, jarum lembut serta aneka macam senjata rahasia lainnya berhamburan datang dari empat penjuru.

Bagaikan tempaan hujan badai yang sangat deras, semua senjata rahasia itu disambit ke arah Ki Li-soat, Ji Kiu liong serta Gak Lam-kun. Keadaannya benar-benar mengerikan sekali.

Gak Lam-kun membentak marah, sepasang telapak tangannya diayunkan berulang kali.

Pukulan demi pukulan yang sangat dahsyat segera merontokkan seluruh senjata rahasia yang tertuju ke arahnya itu.

Dalam gusarnya ini serangan yang dilancarkan olehnya itu sudah menggunakan segenap tenaga dalam yang dimilikinya. Ini menyebabkan angin serangan yaag dihasilkan pun luar biasa dahsyatnya

Tampak angin puyuh menggulung di angkasa. Desingan angin tajam memekakkan telinga, senjata rahasia yang menyerang ketubuh Gak Lam-kun, kontan saja berhamburan keempat penjuru dan mencelat balik kebelakang,

Kiranya saking banyaknya senjata rahasia yang disambitkan kemuka akibatnya ketika tertumbuk oleh pukulan tenaga dalam yang dilancarkan oleh Gak Lam-kun, senjata rahasia itu segera saling bertumbukan satu sama lainnya

“Triiing…! Traang…! Traaang…!”

Bunyi dentingan nyaring yang memekakkan telinga berkumandang memecahkan keheningan. Aneka senjata rahasia yang berupa golok terbang, panah pendek, pisau baja serta lain sebagainya itu beterbangan ke angkasa dan saling bertumbukan satu sama lainnya yang berakibat senjata rahasia itu banyak yang mencelat balik kebelakang dan sebaliknya malah banyak melukai kawanan pendeta tersebut.

Menggunakan sedikit peluang yang tersedia inilah, sebagian dari kawanan pendeta itu bergerak maju secara berantai. Selapis demi selapis, segelombang demi segelombang menyerang maju untuk menyergap Ki Li-soat serta Ji Kiu liong.

Gelombang paling depan segera mundur setelah melancarkan serangan, manyusul gelombang berikutnya maju ke depan menggantikan gelombang yang terdahulu, demikian seterusnya yang barlangsung berulang kali.

Ki Li-soat dengan mengandalkan sebilah pedang tipis menciptakan selapis cahaya tajam yang menyelimuti seluruh angkasa dan melindungi tubuh Ji Kiu liong.

Sekalipun ilmu silat yang dimilikinya sangat lihay, akan tetapi berhubung dia harus melindungi juga keselamatan dan Ji Kiu liong, ini menyebabkan gerakan pedang maupun perubahan gerak turunnya menjadi kurang lincah. Seringkali dia di paksa menjadi gelagapan dan kalang kabut oleh serangan-serangan gencar yang datang dari empat arah delapan penjuru…. Untung saja setiap saat Gak Lam-kun melancarkan pukulan untuk membebaskannya dari serangan, sehingga untuk sesaat lamanya suasana masih bisa teratasi.

Ditengah sengitnya pertarungan yang sedang berlangsung, tiba-tiba terdengar Im yang him tertawa seram.

Tubuhnya yang gemuk dan pendek itu bagaikan gulungan angin berpusing menerjang kemuka dan menyerang diri Ki Li-soat

Ki Li-soat cukup mengetahui kelihayan dari tiga beruang tersebut. Menghadapi ancaman bahaya maut yang muncul di depan mata itu, ia tak berani bertindak gegabah. Buru-buru tenaga dalamnya dihimpun menjadi satu, kemudian pedangnya dengan jurus Hong yau pek wu (angin menggoyangkan pohon hijau) menciptakan selapis bayangan pedang untuk melindungi badannya.

Im yang him tertawa cabul, tubuhnya bukan mundur kebelakang sebaliknya malah menerjang ke depan dan menerobos ke balik bayangan pedang yang berlapis lapis itu.

Ki Li-soat tertawa dingin, pergelangan tangan kanannya segera digetarkan, titik-titik bayangan pedang yang menyebar di udara mendadak bergabung menjadi satu, kemudian secepat kilat ujung pedangnya itu menusuk ke jalan darah Hian ki hiat ditubuh Im yang him.

Didalam melancarkan tusukannya itu, segenap tenaga dalam yang dimilikinya telah terhimpun menjadi satu, kekuatannya hebat dan luar biasa sekali sehingga batu atau emas pun akan tembus bisa tertusuk. Lagi pula kecepatannya luar biasa, kebetulan lagi Im yang him sedang menerjang ke depan, maka kecepatan saling menyongsong itu boleh dibilang hanya berlangsung dalam beberapa detik.

Tampaknya tusukan pedang dari Ki Li-soat itu segera akan berhasil menembusi jalan darah penting ditubuh Im yang him.

Tiba tiba…. pada detik yang paling akhir, tubuh Im yang him miring kesamping, ujung pedang itu hanya sempat menyambar bajunya lalu melesat kesamping.

Tahu tahu Im yang him sudah menyelinap ke belakang punggung Ki Li-soat, bahkan telapak tangannya segera diayun kemuka menghantam bahu kiri gadis itu pelan-pelan.

Mimpi pun Ki Li saat tidak menyangka kalau dalam keadaan semacam itu, Im yang him masih sempat untuk menghindarkan diri dari sergapan kilat tersebut. Baru saja ia merasakan gelagat tidak beres, tahu-tahu bahu kirinya sudah terhajar telak.

Ia segera merasakan sepulung hawa panas yang menyengat badan menerobos masuk ke dalam tubuhnya. Tiba-tiba saja peredaran darah ditubuhnya menerjang keatas, matanya menjadi berkunang-kunang dan kesadarannya kalut. Seluruh badannya gemetar keras lalu menerjang kemuka.

Im yang him tertawa cabul, lengan kanannya segera diayun kemuka menyambar pinggang Ki Li-soat. Ji Kiu liong yang menyaksikan kejadian itu segera berteriak keras, tiba-tiba dia mengeluarkan jurus Siang hok liang gi (bangau dewa mementang sayap) dan menyerang ke tubuh Im yang him.

Cepat-cepat Im yang him mengayunkan telapak tangan kirinya. Menyusul ayunan tangan kirinya, segulung angin pukulan segera meluncur ke depan dengan kecepatan luar biasa….

Dengan kelihayan ilmu silat Im yang him, mana mungkin Ji Kiu liong bisa menahan serangan yang maha dahsyat itu?. Sambil berpekik nyaring seluruh tubuhnya mencelat ke udara akibat dari serangan itu. Daa……

“Bluk!” Tububnya roboh terpelanting beberapa kaki jauhnya dari tempat semula.

Tiga orang pendeta yang berada dihadapan nya segera berteriak keras. Tiga bilah pedang mereka serentak diayunkan ke tubuh Ji Kiu liong dan berusaha untuk mencincangnya.

Tenaga dalarn yang dimiliki Ki Li-soat untung saja amat sempurna! kebetulan pula Im yang him memang tidak berniat mencelakai jiwanya, maka sesudah maju beberapa langkah dengan sempoyongan, kesadarannya segera pulih kembali.

Saat itulah dia menyaksikan selembar nyawa Ji Kiu liong sedang berada diujung tanduk.

Menyaksikan keadaan itu. gadis tersebut segera membentak keras, pedang tipisnya langsung diayunkan kedepan.

“Criing….! Cring….! Criing..!” Tiga kali dentingan nyaring berkumandang memecahkan keheningan. Tiga bilah pedang panjang itu segera tersapu oleh babatan pedang lemas itu sehingga patah semua menjadi dua bagian.

Ki Li-soat segera mengayunkan kembali tangannya. Tiga kali jeritan ngeri yang menyayatkan hati segera bergema memecahkan keheningan. Darah kental segera berhamburan kamana-mana. Tiga orang pendeta ita tahu-tahu sudah mampus di ujung pedangnya.

Ketika Im yang him menyaksikan daging angsa yang sudah didepan mata kembali lolos dari tangannya, ia menjadi naik darah. Sambil tertawa cabul tubuhnya segera menerjang maju ke muka.

Ki Li-soat segera memutar pedangnya kencang-kencang. Bagaikan kitiran air hujan hawa pedangnya menyelimuti seluruh angkasa dan melindungi seluruh badannya. Untuk sesaat lamanya Im Yang-him tak mampu berbuat apa apa.

Gak Lam-kun yang meyaksikan mati hidup Ji Kiu liong tidak jelas, hatinya menjadi gelisah sekali. Sambil membentak keras mendadak badannya berputar kencang lalu menerobos ke tengah lautan manusia.

Rupanya waktu itu dia sudah dipisah dari rombongannya dan terkepung di lain tempat. Gak Lam-kun segera melakukan pembunuhan secara besar besaran. Setiap sodokan jari tangan atau pukulan tangannya selalu menghasilkan korban yang berjatuhan. Dalam sekejap mata sudah ada puluhan orang lagi yang tewas ditangannya.

Hawa napsu membunuh yang mengerikan telah membakar didalam benak Gak Lam- kun. Ketika itu semua serangan yang dilancarkan olehnya rata rata keji dan mematikan.

Setiap korban yang terkena pukulannya atau totokan jari tangannya, kalau bukan tewas dengan nadi yang putus tentu karena jalan darah kematiannya tertotok. Setiap korban yang terkena hajarannya, tentu mengucurkan darah yang sangat banyak dari lubang hidungnya.

Pembunuhan besar-besaran yang dilakukannya secara ganas dan tak kenal ampun itu dengan cepat mengejutkan kawanan pendeta kuil Ong kok koan yang rata-rata berani mati itu. Tapi sekarang, saking ngerinya berhadapan maka dengan pembunuh keji yang tak kenal ampun itu, masing-masing segera mengundurkan diri ke belakang.

Mencorong sinar mata yang menggidikkan hati dari balik mata Gak Lam-kun, ia mendongakkan kepalanya dan tertawa seram mendadak dari balik bahunya dia meloloskan sebilah pedang antik.

Begitu pedang antik tersebut diloloskan dari sarungnya, seluruh ruangan tiang Seng tian secara tiba tiba diselimuti oleh selapis cahaya merah yang menyilaukan mata.

Ternyata pedang yang diloloskan oleh Gak Lam-kun itu telah memancarkan selapis cahaya merah darah yang menyilaukan mata. Sesungguhnya cahaya tersebut sangat indah dan menawan, membuat siapa saja yang melihat pedang tadi segera mengetahui kalau pedang itu adalah sebilah pedang mestika yang amat tajam dan tak ternilai harganya.

Ketika Ong kok him cun menyaksikan pedang tersebut, paras mukanya kontan berubah hebat, tapi sejenak kemudian sekulum senyuman tampak mengulasi ujung bibirnya.

Dengan pedang merah itu ditangan, sinar muka Gak Lam-kun berubah semakin seram.

Selapis hawa napsu membunuh vang mengerikan pun semakin tebal menyelimuti wajahnya.

Mendadak ia menggetarkan pedangnya dan membuka serangan dengan sebuah tusukan.

Tampak selapis cahaya merah yang menyilaukan mata, secepat sambaran kilat menerjang ke balik lapisan manusia. Dimana cahaya pedangnya berkelebat lewat, hujan darah berhamburan dimana-mana. Jeritan ngeri yang menggidikkan hati berkumandang susul menyusul, keadaannya betul betul luar biasa.

Sungguh cepat gerakan tubuh dari Gak Lam-kun. Dinana pedangnya menyambar ternyata tak seorang manusia pun yang sanggup mempertahankan diri…..

Dalam waktu singkat, tiga empat puluh orang pendeta yang berada disekeliling tempat itu roboh bertumbangan keatas tanah. Mayat bergelimpangan memenuhi tanah, darah kental menggenangi. Keadaan disana sungguh mengerikan sekali.

Seluruh ruangan Tiang seng tian diselimuti oleh lapisan cahaya merah yang menyilaukan mata. Bau anyir darah cukup membuar perut terasa mual dan ingin tumpah.

Suasana pembunuhan yang begini menggidikkan hati ini cukup membuat para pendeta itu lari ketakutan dengan badan menggigil dan keringat dingin bercucuran.

Sepasang mata Gak Lam-kun sudah berubah menjadi merah membara. Bagaikan seekor naga berapi dia melompat, menerkam, menerjang dengan pedang merahnya. Pembantaian secara besar-besaran masih berlangsung terus dengan hebatnya.

Mendadak terdengar suara tertawa dingin yang menyeramkan berkumandang datang dari belakang, menyusul kemudian segulung angin pukulan berhawa dingin yang menyayat tubuh berhembus datang dari belakang tubuh Gak Lam-kun.

Rupanya Gak Lam-kun cukup tahu bahaya, telapak tangan kirinya segera melancarkan sebuah pukulan dengan ilmu Hud keng ciang. Sementara badannya melambung tinggi tiga empat kali ke tengah udara, kemudian setelah berjumpalitan dia melayang turun kembali lima kali jauhnya di depan sana.

Ketika ia mencoba untuk berpaling, maka tampaknya Ong kok him cun dengan membawa senjata sebuah trisula yang berwarna hitam pekat sedang bardiri di situ dengan sorot mata yang bengis dan penuh kemarahan.

“Sungguh sebilah pedang Hiat kong kiam (pedang cahaya darah) yang sangat bagus.

Pedang itu rupanya khusus untuk menghirup darah manusia” serunya sambil tertawa seram.

Mendengar ucapan itu, Gak Lam-kun merasa hatinya bergetar keras. Tak disangka olehnya pedang Hiat kong kiam yang sudah hampir enam puluh tahun lamanya hilang dari peredaran dunia persilatan ini masih bisa dikenal Tiang pek sam him hanya di dalam sekejap pandangan saja.

Ternyata pedang Hiat kong kiam adalah sebilah pedang mestika yang pernah digilai dan dikejar-kejar umat persilatan pada enam puluh tahun berselang? Dimasa lalu pedang ini tersebut ditangan Ku Yang cu. semenjak Ku Yang-cu mengasingkan diri, pedang Hiat kong kiam juga turut tersimpan didalam istana air.

Dengan suara hambar Gak Lam-kun segera berkata, “Kalau kau sudah tahu bahwa pedang ini adalah senjata mestika yang khusus untuk menaklukkan siluman membasmi iblis, hal ani lebih bagus lagi”

Ong kok him cun mandesis sinis. “Hee… hee… hee… Seandainya kau bersedia untuk meninggalkan pedang ini buat kami. dosa kalian yang telah membunuhi anak murid kuil kami tak akan kuperhitungkan lagi. Tapi kalau tidak… Hmmmm! Kalian bertiga bakal mati di tempat ini tanpa tempat kubur!”

Gak Lam-kun segera mendengus dingin, lalu dengan suara yang amat sinis katanya, “Kalau dilihat tampangmu mah persis seorang gembong iblis tua kenamaan. Tak kusangka engkau pun bisa mengucapkan kata-kata yang bersifat kekanak-kanakan semacam itu. Huuuh…. Sungguh menggelikan sekali!”

Dicemooh oleb musuhnya, dari malu Ong kok him cun menjadi naik pitam, ia segera tertawa seram tiada hentinya. “Hee… hee… hee… Kalau kau sendiri yang mencari jalan kematian buat dirimu sendiri, jangan salahkan kalau kami akan bertindak keji”

Sambil berseru, senjata trisulanya segera digetarkan untuk menusuk dada lawan.

Sejak mengetahui kalau musuhnya mempergunakan senjata trisula sebagai andalannya, kewaspadaan dalam hati Gak Lam-kun telah ditingkatkan. Sebab ujung trisula tersebut berwarna hijau kehitam-hitaman. Ini menunjukkan kalau senjata itu sudah dipolesi dengan racun jahat yang teramat keji.

Serangan yang di lancarkan oleh Ong kok him cun ini boleh dibilang dilakukan dengan kecepatan yang luar biasa sekali, tapi cara Gak Lam-kun untuk menghindarkan diri juga tak kalah cepatnya. Hawa murni yang telah disalurkan mengelilingi seluruh badannya, tanpa menggerakkan kaki maupun tangannya, tahu tahu dia sudah berada sejauh delapan depa ke belakang.

Gagal dengan tusukan trisulanya, tita-tiba Ong kok him cun mendesak maju kemuka, belum lagi tubuhnya tiba ditempat sasaran, senjata trisulanya sudah menyapu keluar.

Gak Lam-kun segera mengerutkan dahinya rapat-rapat. Dari dua gerakan tersebut, la sudah merasakan bahwa ilmu silat yang dimiliki gembong iblis itu lihay sekali.

Dengan cepat pemuda itu menghindarkan diri kesamping. Begitu meloioikan diri dari serangan trisula, pedang Hiat kong kiam tersebut segara melancarkan dua buah serangan balasan.

Kedua orang itu sama-sama merupakan jago kelas satu didalam dunia persilatan. Setiap gerakan setiap jurus yang mereka pergunakan hampir seluruhnya merupakan serangan-serangan yang disertai tenaga penuh.

Didalam melancarkan serangan balasannya itu Gak Lam-kun telah mempergunakan tenaga dalamnya sebesar enam bagian. Begitu pedangsya diayunkan kedepan, segera terdengarlah desingan angin serangan yang memekakkan telinga, Hal mana segera memaksa Ong kok him cun harus menarik kembali serangannya sambil melompat mundur kebelakang.

Ong kok him cun tertawa seram, pelan-pelan senjata trisula ditangannya diayunkan kembali ke depan dengan melancarkan sebuah tusukan sejajar dengan dada.

Begitu senjata trisula itu meluncur ke muka, tiga gulung terjangan serangan yang amat tajam turut memancar ke depan.

Gak Lam-kun terkesiap sekali, buru buru dia melompat mundur sejauh beberapa langkah.

Setelah terjadinya bentrokan ini, sedikit banyak dalam hati masing-masing sudah mempunyai perhitungan sendiri. Sambil tertawa seram Ong kok him cun lantas berseru, “Suatu gerakan Liu hong biau (pohon liu berkibar terhembus angin) yang amat cepat. Sambutlah sekali lagi serangan trisula ku ini!”

Sebuah tusukan yang sejajar dengan dada kembali dilancarkan ke arah depan.

Gak Lam-kun tertawa dingin, tubuhnya kembali melayang mundur sambil mengayunkan pedengnya melancarkan sebuah serangan balasan.

Dalam sekejap mata bayangan trisula dan hawa pedang bergabung menjadi satu. Satu cahaya hitam satu cahaya merah saling bergumul dan saling melebur menjadi satu.

Pertarungan sengit yang berlangsung saat itu boleh dibilang merupakan suatu pertarungan seru yang jarang sekali dijumpai di kolong langit. Dalam waktu singkat disekeliiing arena dimana kedua orang itu sedang bertarung, dipenuhi oleh bayangan trisula dan bunga pedang yang hampir boleh dibilang telah membungkus seluruh tubuh mereka berdua.

Dalam waktu singkat ratusan gebrakan sudah dilewatkan.

Ditengah pertempuran, mendadak Gak Lam-kun mengeluarkan ilmu saktinya secara beruntun. Satu jurus demi satu jurus dilancarkan terus berulang kali hawa pedang yang dahsyat bagaikan sambaran halilintar memaksa Ong kok him cun terdesak mundur sejauh tiga langkah.

Dengan mundurnya orang itu maka posisi Gak Lam-kun menjadi semakin menguntungkan. Jurus pedangnya yang lihay dengan cepat dilancarkan secara gencar dan beruntun.

Semua jurus serangannya disertai dengan perubahan yang tak terhitung banyaknya.

Setiap tusukan selalu disertai dengan kekuatan yang dapat membetot sukma, keadaannya sungguh mengerikan sekali.

Dalam waktu singkat, Gak Lam-kun telak melancarkan tiga belas buah serangan berantai yang memaksa Ong kok him cun menjadi kelabakan dan terdesak mundur berulang kali.

Asalkan Gak Lam-kun melancarkan lagi dua tiga kali serangan beruntun, niscaya Ong kok him cun akan tewas diujung pedang Gak Lam-kun atau paling tidak juga akan terluka parah.

Baru saja dia akan menggerakkan pedang untuk menciptakan serangan kembali, mendadak ia mendengar suara jeritan ngeri yang memilukan hati berkumandang dari melut Ki Li-soat.

Gak Lam-kun menjadi sangat terperanjat, cepat-cepat ia menarik kembali serangannya sambil melompat mundur, kemudian ia berpaling ke samping.

Tampak sekujur badan Ki Li-soat telah bermandi darah, bajunya terkoyak-koyak tidak karuan. Dencen tangan kanan menggenggam pedang, tangan kirinya membopong Ji Kiu liong, ia mundur terus berulang kali dengan tubuh sempoyongan Mencorong sinar bengis yang mengerikan dari balik mata Im Yang-him. Sambil tertawa cabul, selangkah demi selangkah dia berjalan menghampiri Ki Li-soat, tapi langkahnya juga sudah limbung dan sempoyongan, jelas orang inipun sudah terluka parah.

Menyaksikan kejadian itu, Gak Lam-kun menjadi naik pitam. Sambil membentak keras tubuhnya menerjang maju ke depan.

Tampak bayangan manusia berkelebat lewat, Hui thian bu im kim si him yang bergerak bagaikan sukma yang bergentayangan itu tahu-tahu sudah menerjang maju ke muka.

Sepasang cakar setannya yang tajam langsung menyambar ke atas tubuh Gak Lam-kun.

Menghadapi ancaman itu, Gak Lam-kun mendengus gusar, pedangnya diputar kemudian dengan membawa kilatan cahaya merah darah segera menebas ke bawah.

Dengan ganas Hui thian hu im kim si him mengayunkan sepasang cakar setannya ke bawah. Siapa tahu dari pedang yang berada di tangan Gak Lam-kun itu seolah-olah terpancar keluar segulung tenaga hisapan yang kuat sekali. Mengikuti perputaran tenaga dalamnya, secara jitu dan aneh tahu-tahu serangan tersebut seperti punah dengan begitu saja, padahal gerakan pedang lawan masih menebas ke bawah seperti semula.

Hui thian bu im kim si him menjadi amat terkejut, dia tak tahu jurus serangan apakah itu.

Pada saat itu Gak Lam-kun benar-benar merasa gelisah sekali, maka didalam melancarkan serangannya itu dia telah mempergunakan suatu jurus serangan yang dahsyat sekali bernama Ban lo cu si (selaksa gulung sarang laba-laba). Peduli bagaimanapun besarnya tenaga serangan itu dan bagaimanapun ganasnya senjata tajam lawan, jangan harap bisa menembusi serangan lembut berhawa dingin yaag sangat hebat itu.

Pedang Hiat kong kiam tersebut dengan cepatnya menyambar ke bawah dan membabat Pergelangan tangan lawan.

Suatu jeritan ngeri yang menyayat hati segera barkumandang memecahkan keheningan.

Tahu-tahu sepasang tangan Hui thian bu im kim si him sebatas pergelangan tangannya sudah tertebas kutung oleh babatan pedang Hiat kong kiam tersebut.

Menyusul kemudian terdengar seseorang mendengus tertahan. Ternyata suatu sergapan maut yang dilancarkan Ong kok him cun dari belakang telah berhasil menghajar telak di atas punggung Gak Lam-kun.

‘Uuuuaaakk…!”

Tak ampun Gak Lam-kun muntah darah segar. Dengan sempoyongan tubuhnya terdorong sejauh beberapa kaki dari tempat semula.

Tapi ia tak sampai roboh, tubuhnya tetap tegak bagaikan batu karang, malahan pelan- pelan ia membalikkan badannya. Kenyataan ini segera membuat bergidiknya hati Ong kok him cun. Dia tidak menyangka kalau Gak Lam-kun kuat menahan serangannya tanpa cedera.

Padahal dangan pukulan yang dilancarkannya tadi, sekalipun tubuh yang terdiri dari baja murnipun akan hancur berantakan. Apalagi badan yang terdiri dari darah dan daging.

Setelah membalikkan badannya, Gak Lam-kun mengangkat pedangnya tinggi-tinggi.

Tapi ia segera merasakan kepalanya pusing tujuh keliling. Hawa darah didalam badannya bergolak keras, kakinya gemetar dan akhirnya karena tak tahan ia menjatuhkan diri duduk bersila diatas tanah.

Ong kok him cun tertawa terkekeh kekeh dengan serimnya, bagaikan sesosok sukma gentayangan pelan-pelan dia berjalan maju ke muka.

Tangan kanannya juga pelan-pelan diangkat ke udara rupanya sebuah pukulan yang mematikan segera akan dilancarkan.

Seluruh tubuh Gak Lam-kun mengejang keras. Dia berusaha untuk meronta bangun, tapi ia merasakan badannya lemas sekali seolah-olah sama sekali tak berkekuatan……

Mengetahui akan keadaannya sekarang, ia segera menghela napas panjang, tak disangka olehnya dia bakal terkubur untuk selamanya ditempat itu….

Akhirnya Ong kok him cun berhenti pada satu kaki didepan si anak. muda itu, katanya sambil tertawa seram,
Terima Kasih buat para gan / ganwati yang telah meningglakan opininya di kolom komentar :). Sekarang ada penambahan fitur "Recent comment"yang berada dibawah kolom komentar, singkatnya agan2 dapat melihat komentar terbaru dari pembaca lain dari fitur tersebut. Semoga membantu :).