Lencana Pembunuh Naga Jilid 24

 
Jilid 24

BARU saja Ji Cin-peng akan melancarkan serangan kembali dengan ilmu Boan yok ciang yang maha dahsyat itu tiba tiba terdengar jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang kembali tiada hentinya.

Tak terlukiskan betapa sakit hatinya gadis ini menyaksikan peristiwa sersebut, merah membara sepasang matanya.

Tampaklah para jago dari perguruan Panah Bercinta ada separuh diantaranya sudah tewas dalam keadaan yang mengenaskan. Mayat bergelimpangan memenuhi permukaan tanah, darah berceceran bagaikan sebuah anak sungai, pemandangan disitu mengerikan sekali.

Ketika itu, si Beruang berbulu emas sedang melanjutkan pembantaiannya terhadap sisa-sisa jago yang masih hidup. Di mana tubuhnya menyambar tiba, seseorang segera menjerit kesakitan dan menggeletak ke tanah dengan tubuh hancur.

Menyajikan kesemuanya itu Ji Cin-peng merasakan bawa amarahnya meluap sampai ke atas benak. Sambil tertawa seram dia menerjang maju ke muka dengan kecepatan tinggi…..

Ibaratnya burung elang yang meluncur ke udara, lompatannya ini mencapai ketinggian tujuh-delapan kaki dari posisi semula, agaknya Ngo kok him cun tidak menyangka kalau gadis itu memiliki ilmu silat sedemikian lihaynya, untuk sesaat dia tidak berhasil menghalanginya.

Dengan kecepatan tinggi Ji Cin-peng berjumpalitan di udara lalu meluncur turun ke bawah, telapak tangan kirinya diayunkan ke depan melepaskan sebuah pukulan dengan tenaga sakti Boan yok sin kang.

Sementara itu si beruang berbulu emas sedang mengayunkan lengan kanannya siap melancarkan serangan mematikan terhadap seorang pemanah jitu dari perguruan Panah bercinta.

Ketika secara tiba tiba merasakan berhembus datangnya segulung tenaga pukulan yang sangat aneh, ia menjadi terkejut.

Bagaimanapun juga dia adalah seorang tokoh silat yang berilmu tinggi. Dari hembusan angin serangan yang menerpa datang itu, dia segera tahu lihay, cepat cepat tubuhnya berjumpalitan dengan gerakan mendatar ke samping. Secara aneh tapi jitu tahu-tahu ia sudah menyelinap sejauh dua kaki lebih dari posisi semula. Melihat orang itu sanggup menyelamatkan diri secara cerdik, diam diam Ji Cin-peng merasa terperanjat. Kegusarannya saat ini benar-benar tak terlukiskan dengan kata-kata, pedangnya segera diangkat dan pelan pelan menusuk kemuka.

Walaupun si beruang berbulu emas merasa tercengang dan tidak habis mengerti ketika dilihat-nya serangan pedang dari gadis itu meluncur tiba dengan gerakan lamban, namun ia tak berani berayal. Telapak tangannya segera didorong ke muka untuk melakukan pembendungan.

Waktu itu Ji Cin-peng sudah bertekad untuk melancarkan serangan mematikan. Secara diam-diam mendadak pergelangan tangannya menekan ke bawah, pedang pendek Giok siang kiam itu secepat sambaran kilat meluncur ke muka dan langsung menusuk lambung bagian kiri lawan.

Angin pedang mendesis amat memekakkan telinga, kehebatannya sungguh mengerikan.

Si beruang berbulu emas amat terperanjat. Untung saja dia memiliki gerakan tubuh yang jauh lebih cepat ketimbang orang lain. Ketika dilihatnya gerakan pedang dari Ji Cin- peng mengalami perubahan, cepat cepat tubuhnya menyurut mundur sejauh empat lima langkah.

Ji Cin-peng tertawa dingin, sambil memutar pedangnya ia melancarkan serangkaian serangan kilat. Jurus demi jurus serangan yang aneh dilancarkan secara bertubi-tubi. Dalam waktu singkat dia telah melepaskan tujuh buah serangan berantai yang memaksa si beruang berbulu emas harus berkelit ke kiri menghindar ke kanan dengan gugup dan kelabakan setengah mati.

Ji Cin-peng benar benar telah bertekad untuk membalaskan dendam bagi kematian anak buahnya. Semakin lama dia melancarkan serangan semakin aneh jurus serangan yang digunakan.

Sekalipun si beruang berbulu emas yang terbang tanpa bayangan terhitung seorang jagoan yang tersohor dalam dunia persilatan namun ia terdesak juga oleh serangkaian serangan kilat dari Ji Cin-peng itu. Ia sama sekali terkurung dan kehilangan posisinya untuk melancarkan serangan balasan.

Ditengah pertarungan yang amat seru itu, tiba-tiba Ji Cin-peng berjumpalitan di udara.

Pedang mestikanya diputar sedemikian rupa menyebarkan selapis bintik2 cahaya kilat yang menyilaukan mata.

Inilah jurus Thian ho to kwa (sungai langit jatuh terbalik) yang pernah diandalkan oleh Lam-hay sinni untuk merajai dunia persilatan di masa lalu.

Satu kali si Beruang berbulu emas salah bertindak, seketika itu juga ia terkurung di balik bayangan pedang yang diciptakan oleh putaran pedang Ji Cin-peng.

“Suheng, cepat mundur….!” buru-buru Im yang him (si beruang banci) membentak keras. Tangan kanannya segera diayunkan ke depan. Dua buah pisau Liu yap to yang tipis dengan membawa suara desingan tajam yang memekikkan telinga segera menyambar ke muka.

Pada saat yang bersamaan, Ngo-kok him-cun juga melepaskan sebuah pukulan udara kosong dari kejauhan. Meskipun angin serangan amat kuat dan cepat, namun sama sekali tidak membawa suara desingan barang sedikitpun juga

Waktu itu Ji Cin-peng sudah nekad. Sekalipun ia menyaksikan datangnya dua ancaman maut yang mungkin bisa merenggut nyawanya itu namun ia tidak gentar maupun membuyarkan serangannya. Lebih2 ia enggan untuk melepaskan kesempatan yang sangat baik ini untuk melukai si beruang berbulu emas.

Segenap tenaga dalam yang dimilikinya segera disalurkan keluar. Pergelangan tangannya digetarkan keras dan mempergunakan kecepatan yang paling tinggi ia hujamkan pedangnya kemuka.

Dengusan tertahan segera berkumandang memecahkan keheningan.

Ujung pedang yang tajam dan mengerikan itu telah menembusi iga kiri si beruang berbulu emas hingga tembus kepunggungnya, darah segar segera berhamburan ke mana- mana.

Hampir pada saat yang bersamaan……

Sebatang pisau liu yap to telah menyambar lewat dari bahu kiri Ji Cin-peng dan melukainya, darah segar segera muncrat keluar membasahi seluruh pakaian yang dikenakannya.

Berbareng itu juga, segulung tenaga pukulan yang maha kuat telah menerjang tubuh Ji Cin-peng membuat tubuhnya terpental sejauh tiga kaki lebih dari posisi semula.

Paras mukanya segera berubah menjadi pucat pias bagaikan mayat, rambutnya yang panjangpun terurai tak karuan.

Jeritan ngeri, keluhan sedih berkumandang saling susul menyusul…..

Tampaklah kawanan jago dari perguruan Panah Bercinta bertumbangan satu demi satu diujung golok In yang him yang menyambar kesana kemari. Setiap kali cahaya goloknya menyambar lewat, percikan darah segar segera berhamburan ke mana mana.

Dalam waktu singkat, delapan orang pemanah jitu dari perguruan Panah Bercinta telah punah tak berbekas, seorangpun tak ada yang dibiarkan hidup.

Han Hu hoa sambil melindungi Jit poh toan hun Kwik To dengan cepat mengundurkan diri kearah timur.

Dengan demikian, dalam arena yang begitu luas tinggal Ji Kiu-liong dan Sangkoan It dua orang.

“Cici….” tiba-tiba terdengar jeritan pedih berkumandang memecahkan kesunyian Jeritan pedih itu segera menyadarkan kembali Ji Cin-peng yang hampir kehilangan kesadarannya karena keliwat sedih.

Tampaklah Im yang him dengan wajah yang bengis dan mengerikan, selangkah demi selangkah berjalan mendekati Ji Kiu-liong

Sambil menahan rasa sedih yang luar biasa Ji Cin-peng membentak gusar, “Kalian tak boleh membunuhnya!”

Menyusul suara bentakan itu, pedang mestikanya digetarkan dan langsung menusuk ke perut Im yang him.

Dengan licik Im yang him tertawa licik. Belum lagi serangan itu menyambar, tubuhnya berputar dan secepat sambaran kilat menerjang ke arah Sangkoan It.

Sementara itu Sam ciang lam kok (tiga pukulan sudah dilewati) Sangkoan It berdiri, dengan telapak tangannya disilangkan didepan dada. Sedari tadi ia sudah bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan.

Im yang him tertawa terbahak-bahak, bagaikan bunyi genta yang menggelegar diudara.

Pelan pelan sepasang telapak tangannya didorong ke depan.

Sangkoan It membentak keras segenap tenaga dalam yang dihimpun ke dalam telapak tangan kiri dan kanan itu susul menyusul dilontarkan ke depan.

Tapi Sangkoan It segera merasakan semua pukulan yang dilepaskan itu seakan akan dibendung oleh suatu kekuatan yang maha dahsyat yang tak terlukiskan dengan kata- kata, mendadak sontak semua kekuatannya itu mental kembali kebelakang.

Padahal pada waktu itu Sangkoan It sedang bersiap-siap untnk menerjang maju kemuka, ketika secara tiba tiba menjumpai bahwa segenap kekuatan serangannya tertahan balik, bahkan lenyap dengan begitu saja ia baru merasa amat terkesiap….

Cepat-cepat tenaga dalamnya dihimpun mencapai dua balas bagian lebih kemudian sekali lagi dia melancarkan sebuah pukulan yang maha dahsyat kedepan.

Siapa tahu semakin kuat Sangkoan It melancarkan serangannya semakin kuat pula tenaga pantulan yang dihasilkan pulang. Sekujur badannya seakan-akan tersambar geledek, mendadak mencelat ke udara setinggi beberapa depa…..

Sangkoan It, seorang jago yang sepanjang hidupnya menjagoi dunia persilatan dengan mengandalkan pukulan telapak tangannya, terakhir harus mengalami nasib yang amat tragis.

Ketika termakan oleh tenaga pantulan yang sangat dahsyat itu, seketika semua urat nadi dalam tubuhnya putus, isi perutnya juga ikut hancur remuk tak ada wujudnya. Belum sempat mengeluh, dia sudah muntah darah segar dan tewas seketika itu juga.

Keberhasilan Im yang him membinasakan seorang jago yang termashur namanya dalam dunia persilatan hanya dalam satu gebrakan ini sungguh mengejutkan Ji Cin peng. Paras mukanya sampai berubah hebat. Ia tahu masa jayanya sudah lewat, sekarang satu-satunya hal yang dipikirkan gadis ini adalah bagaimana caranya melindungi adik Liong nya dari bencana ini, sebab dia tahu Tiang pek sam him adalah manusia manusia buas yang tak kenal perikemanusiaan. Sudah pasti mereka akan melakukan pembasmian sampai keakar-akarnya.

Betul juga, setelah berhasil membinasakan Sangkoan It, Im yang him segera berpekik nyaring. Selincah kupu-kupu, ia menerjang ke muka mengejar Han Bu hoa dan Jit poh toan hun Kwik To yang sedang melarikan diri.

Sekulum senyuman licik yang penuh kebanggaan tersungging di ujung bibir Ngo kok him cun (Malaikat beruang dari panca lembah). Ujarnya dengan suara menyeramkam, “Jika kau tidak menyerahkan Lencana pembunuh naga itu lagi kepadaku, jangan salahkan kalau aku berlaku keji”

Seraya berkata pelan-pelan ia mengejar ke depan.

Dengan tenang tapi angkuh Ji Cin-peng berdiri kaku ditempat. Telapak tangan kanannya diangkat ke tengah udara…..

Ngo kok him cun masih mengejar selangkah demi selangkah. Sekulum senyuman dingin yang menyeramkan semakin menghiasi wajahnya yang mengerikan itu.

Walaupun gerak tangan Ji Cin-peng yang diayun ke atas itu dilakukan sangat lambat, tapi akhirnya juga toh terayun pula ke tengah udara. Tangan itu berhenti sebentar disana, kemudian baru diayunkan ke depan menghajar tubuh Ngo kok him cun.

Dalam serangan yang dilancarkan ini, ia telah mengerahkan segenap kekuatan terakhir yang dimilikinya. Dia tahu serangan tersebut telah tak berkekuatan lagi. Itu berarti nasib buruk yang mengerikan kian lama sudah kian mendekati hadapannya.

Akhirnya serangan tersebut dilepaskan juga. Segulung tenaga pukulan yang sama sekati tidak menimbulkan suara meluncur ke depan dan menerjang tubuh lawannya……

Ngo kok him cun tertawa dingin, ejeknya. “Nona, kau memang tahu kalau kepandaian silatmu hebat dan melebihi siapapun. Sayangnya justru kau telah kehabisan tenaga pada saat ini. Seranganmu itu sudah tidak bertenaga sama sekali”.

Sembari berrketa telapak tangan kanannya didorong ke muka. Segulung tenaga pukulan yang kuat langsung menyongsong datangnya ancaman tersebut.

Bagaimanapun juga Ngo kok him cun sudah terlampau memandang enteng kekuatan serangan dari Ji Cin-peng tersebut.

Tendengar dengusan teriakan berkumandang memecahkan keheningan, tah- tahu tubuh Ngo kok him cun sudah terlempar ke belakang sejauh satu kaki lebih dan terjengkang di atas tanah.

Kiranya ketika Ji Cin-peng menyaksikan Ngo kok him cun mendesak semakin mendekat, ia telah menghimpun segenap hawa murni yang dimilikinya. Dia ingin melukai musuh tersebut dalam sekali serangan, maka pertama-tama telapak tangan kanannya melepaskan sebuah pukulan dengan ilmu Boan yok sin kang. Haruslah diketahui, Boan yok sin kang adalah semacam kepandaian sakti yang luar biasa kegunaannya. Segenap tenaga serangan yang dilancarkan oleh Ngo kok him Cun itu segera tersapu lenyap hingga tak berbekas oleti serangannya itu. Sedangkan tenaga pentulan yang maha dahstyat itupun segera membalik dan berbalik menyerang diri sendiri.

Masih untung kepandaian silat yang dimilikinya terlalu hebat. Walau terancam bahaya pikirannya tak sampai kalut. Hawa murninya segera dihimpun keluar. Telapak tangan kirinya cepat-cepat melepaskan sebuah pukulan dahsyat untuk membendung tenaga pantulan tersebut.

Betul juga sebagian dari tenaga pantulan yang dilancarkan Ji Cin-peng itu berhasil di punahkan.

Siapa tahu pada saat itu Ji Cin-peng mengayunkan kembali telapak tangan kanannya melancarkan sebuah totokan maut dengan ilmu jari Thian kangci.

Desingan tajam yang memekakkan telinga langsung meluncur ke muka dan menerjang tubuh kakek tersebut.

Mimpi pun Ngo kok him cun tidak menyangka kalau Ji Cin-peng masih memiliki tenaga dalam yang demikian sempurnanya meski sudah berada dalam keadaan terluka parah.

Sekali salah perhitungan, fatallah akibatnya. Baru saja dia hendak menghimpun tenaga Soat him tee sin kangnya, keadaan sudah terlambat.

Terasa dadanya seakan-akan dihantam oleh martil yang beribu-ribu kati beratnya, tak bisa dikendalikan lagi tubuhnya mencelat ke udara dan terlempar keluar arena.

Namun keadaan Ji Cin-peng sendiripun amat payah. Setelah terluka parah secara beruntun dia harus melancarkan serangan berulang kali, ini menyebabkan lukanya makin parah. Hawa murninya terasa tersendat-sendat, kepalanya pusing tujuh keliling dan wajahnya pucat pias seperti mayat. Keempat anggota badannya menjadi lemas dan tak ampun lagi tubuhnya roboh terduduk di tanah.

Dsngan air mata bercucuran karena sedih Ji Kiu-liong berteriak keras keras, “Cici kau… lukamu amat parah…”

Ji Cin-peng membuka matanya yang sayu dan memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, dilihatnya Ngo koh him cun, si beruang berbulu emas, Mao Tam maupun ketua Thian san pay Tong Bu kong sedaag duduk bersila semua untuk mengatur pernapasan.

Tahulah gadis itu jika Ji Kiu-liong tidak kabur menggunakan kesempatan ini jelas tiada harapan lagi baginya untuk melarikan diri.

Diapun tahu kalau tenaga dalam yang dimiliki Ngo kok him cun amat sempurna, kemungkinan besar sebentar lagi kekuatannya akan pulih kembali seperti sedia kala.

”Adik Liong” rintihnya kemudian dengan air mata bercucuran, “kau… kau harus segera pergi meninggalkan tempat ini”

“Tidak… tidak… aku tak akan pergi meninggalkan tempat ini” seru Ji Kiu-liong menggertak gigi menahan marah, “aku hendak membalaskan dendam bagi cici, sekalipun harus mati aku juga akan membalaskan dendam untuk cici!”. Ji Cin-peng menghela napas panjang, “Aaai! Adik Liong, aku memahami perasaanmu.

Tapi keturunan keluarga Ji kita tinggal kau seorang yang bisa melanjutkan. Kau musti menuruti perkataan cici. Bila ingin membalaskan dendam untuk cici, tunggulah sampai ilmu silatmu berhasil mencapai tingkat yang lebih tinggi”

“Oooh… cici… seru Ji Kiu-liong menangis tersedu sedu. “Mana mungkin… Mana mungkin… Aku tega untuk meninggalkanmu”

“Adik Liong” kata Ji Cin-peng dengan air mata bercucuran. “Jika bertemu dengan Gak toako ceritakanlah kejadian ini kepadanya. Tapi kau tak usah menyinggung soal dendam kesumat antara keluarga kita dengannya. Terutama sekali soal keponakanmu yang berada ditempatnya Lam-hay sinni, dia adalah darah daging Gak toakomu. Suruhlah Gak toako untuk menjumpainya di tempat guruku itu serta merawatnya sendiri…”

Ketika berbicara sampai disitu, paras muka Ji Cin-peng berubah semakin memucat, napasnya juga terengah-engah, terpaksa dia harus pejamkan matanya untuk mengatur pernapasan.

“Cici… kau… apakah kau benar-benar hendak meninggalkan aku dan Gak toako…” seru Ji Kio liong sambil terisak.

Ji Cin-peng tertawa getir, katanya, “Adik Liong… kaya miskin ada di langit, mati hidup sudah ditetapkan takdir. Cepatlah pergi meninggalkan tempat ini. Kalau tidak maka kau akan menjadi orang yang paling berdosa dari keluarga Ji. Tidak berbakti ada tiga, tak punya keturunan merupakan yang terutama, hayo cepat pergi, cepat tinggalkan tempat ini!”

Ji Kiu-liong adalah seorang pemuda yang cerdas walaupun berada dalam suasana perpisahan antara mati dan hidup yang menyedihkan, tapi ia cukup tahu keadaan dan bisa membedakan enteng beratnya persoalan.

Sambil menggigit bibir menahan cucuran air matanya, pemuda itu lantas berkata, “Cici, percayalah, bila adik Liong ini tidak mampu membalaskan dendam bagimu, aku bersumpah tak akan hidup sebagai seorang lelaki dari keturunan keluarga Ji”

Selesai berkata dia membalikkan badan dan melotot sekejap kearah Ngo kok him cun si beruang berbulu emas yang terbang tanpa bayangan Mao Tam dan Thian san ciang bunjin Tong Bu kong dengan sorot mata penuh kebencian. Kemudian tanpa mengucapkan separah katapun segera mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya berlalu dari situ.

Dalam waktu singkat bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata.

Memandang kepergian adik kandungnya itu tanpa teraaa air mata Ji Cin-peng jatuh bercucuran dengan derasnya.

ooOOOoo

KENTONGAN ketiga baru saja menjelang. Bunyi jangkrik dan binatang kecil lainnya berbunyi amat memekikkan telinga…. Kecuali bunyi binatang binatang kecil itu, jagad serasa sunyi, sepi daii tiada sedikit gerakan apa pun.

Rembulan bersinar terang jauh di awang awang dan memancarkan cahaya keperak perakan keempat penjuru dunia.

Perkampungan rahasia yang luas dipulau terpencil itu tampak lebih menyeramkan dan menggidikkan hati Orang.

Ditengan sebuah halaman kecil yaag indah di banguuan sebelah timur berdiri termangu seorang pemuda baju hijau yang menyoren pedang antik dipunggungnya. Sejak kentongan kedua ia sudah berdiri termangu seorang diri ditempat itu.

Helaan napas panjang bergema dari bibirnya, lalu pemuda itupun bergumam. “Mengapa nona Bwe belum juga datang? Dengan kedudukannya dan wataknya tak mungkin akan mengingkari janji… Aaai, bukannya aku Gak Lam-kun terlampau romantis. Sesungguhnya aku tak kuasa untuk menangkan rasa pergolakan hatiku terhadap keanggunannya sebab ia begitu mirip dengan Ji Cin-peng”

Seusai bergumam, kembali ia mendongakkan kepalanya memandang awan diangkasa, sekali lagi hatinya terasa amat murung dan kesal.

Pemuda itu merasa bahwa kehidupan manusia begitu mirip dengan awan yang melayang diangkasa. Membuat orang sukar menduga akhir dari kehidupannya bahkan apa yang bakai terjadi dalam sekejap kemudian.

Yaa, Gak Lam-kun waktu itu benar-benar meresapi bahwa awan putih yang tebal sesungguhnya merupakan suatu perlambang bagi kehidupan manusia didunia ini.

Tiba tiba terdengar helaan napas panjang berkumandang dari belakang tubuhnya. “Engkoh Gak mengapa kau berada disini seorang diri? Apa yang sedang kau lakukan disini?”

Terkesiap Gak Lam-kun setelah mendengar teguran itu. Dengan cepat ia membalikkan badannya, terlihat si nona baju perak yang cantik jelita bak bidadari dari kahyangan itu sedang melangkah mendekat dengan gerakan tubuh yang ringan.

Gak Lam-kun segera menghela napas sedih katanya, “Mengapa kau belum tidur juga?” Selapis rasa kesal dan sedih menghiasi wajah si nona baju perak yang cantik, sahutnya,

“Ujung tembok menutupi daun jendela. Asap tipis menyelimuti wajah, rembulan serasa hamba. kekasih ada di mana…? Oh engkoh Gak…”

Ketika mengucapkan kata kata tersebut, tanpa terasa titik air mata jatuh berlinang membasahi wajahnya yang murung itu.

Gak Lam-kun segera menghampirinya, lalu berbisik lirih. “Adik Ping, mengapa kau?”

Diambilnya secarik sapu tangan dan disekanya air mata yang membasahi pipinya itu dengan penuh kelembutan dan kehangatan, sikapnya itu amat mesra. Tampaklah dari balik sepasang mata si nona baju perak yang besar, air mata jatuh bercucuran membasahi pipinya. Tapi sekulum senyuman muncul diujung bibirnya dengan manis pelan-pelan dia memejamkan matanya dan bersandar dalam pelukan pemuda itu.

“Engkoh Gak. apakah kau sedang menunggu Bwe Li-pek?” tegurnya.

Gak Lam-kun mengangguk “Benar, aku ada urusan hendak dibicarakan dengannya, karena itu aku harus bertemu dengannya!”

Nona berbaju perak segera mencibirkan bibirnya, dengan nada cemburu dia bertanyalagi, “Engkoh Gak, cintakah kau kepadanya?”

Gak Lam-kun tidak menyangka kalau gadis itu bakal mengajukan pertanyaan secara terang-terangan. Dia tahu perempuan itu paling mudah cemburu apalagi dia telah mencintai dirinya sedemikian rupa, tak nanti dia akan ijinkan orang lain untuk terjun pula dalam kancah percintaannya dengan pemuda tersebut.

Berpikir demikian Gak Lam-kun segera berkata.: ”Adik Ping. Kau tak usah berpikir yang bukan-bukan. Aku pasti akan mendampingimu selama hidup”

Mendengar janji tersebut sekulum senyuman yang manis dan hangat kembali menghiasi wajahnya yang cantik. Dalam sekejap itu pula perasaannya terasa lega dan terbuka, katanya: ”Engkoh Gak. kalau begitu bagaimana kalau kita hidup tenang dalam istana kaca Siu bing kiong yang didirikan oleh Kiu tiong-kiongcu Ku Yang-cu itu? Aku pasti akan melayanimu secara baik-baik. Aku dapat memberikan seorang anak lelaki dan seorang anak perempuan kepadamu. Waktu itu kita tak akan banyak ribut dengan seorang persilatan, sepanjang hari memetik harpa bermain pedang untuk menghibur diri…”

Sesungguhnya si nona berbaju perak itu adalah seorang gadis aneh yang aneh pula wataknya. Ia tinggi hati, terlalu egois dan tahunya menang sendiri. Tapi ketika ia sudah menjadi istrinya Gak Lam-kun, watak yang aneh itu ternyata seratus delapan puluh derajat mengalami perubahan yang besar. Ia berubah menjadi begitu romantis, begitu polos dan lembut, seakan akan sama sekali tiada hubungannnya dengan keanehan serta keeksentrikan wataknya dimasa lalu.

Gck Lam-kun merasa terharu sekali setelah menyaksikan ketukusan dan dalamnya cinta orang, diam diam ia berpikir di hati, “Gak Lam-kun wahai Gak Lam-kun, sekarang kau sudah mempunyai seorang istri yang paling cantik didunia ini, apakah kau masih belum merasa puas? Apakah kau tidak merasa tindakanmu sekarang telah menyakiti hati Adik Ping….”

Berpikir sampai disitu, timbul perasaan dihati kecil Gak Lam-kun. Ia merasa hatinya hancur lebur menjadi berkeping-keping. Dipeluknya tubuh gadis itu dengan hangat dan mesra, tak sepatah katapun yang sanggup diucapkan. Hanya titik air mata yang jatuh berlinang membasahi wajah gadis cantik itu.

Tiba tiba nona berbaju perak itu membelalakkan sepasang matanya, kemudian katanya sambil tertawa, “Engkoh Gak, sedihkah hatimu?”

“Tidak… Aku… aku… terlalu gembira” sahut pemuda itu seraya menggeleng. Sehabis berkata, ia menundukkan kepalanya dan mancium bibirnya dengan mesra. “Ehmm… kau jahat…” bisik nona berbaju perak itu dengan wajah memerah.

Menyaksikan pipinya yang merah karena jengah, Gak Lam-kun merasa makin dipandang gadis itu semakin mempesona hati, sehingga tanpa terasa ia membelai rambutnya dengan mesra dan timbul perasaan nyaman dan hangat yang tak terlukiskan dengan kata-kata.

Pelan-pelan gadis berbaju perak itu memejamkan matanya. Sekulum senyuman manis masih menghiasi ujung bibirnya, seakan-akan ia merasa bahwa detik itu merupakan detik yang paling bahagia dalam sejarah hidupnya selama ini.

Gak Lam-kun memperlihatkan sekejap matanya yang besar dan jeli itu, senyuman manis yang menghiasi bibirnya dan sorot matanya yang lembut dan penuh kemesraan itu, tanpa terasa dia menghela napas dalam hati pikirnya. “Kenapa aku Gak Lam-kun pernah merasakan kebahagiaan hidup seperti sekarang ini? Sejak mendapatkan Ji Cin-peng sebagai istriku, kini aku mendapat pula seorang gadis yang cantik jelita bak bidadari dari kahyangan sebagai istriku pula. Aaai… semoga Thian melimpahkan rahmatnya kepada kami sehingga bisa hidup bahagia sampai akhir masa nanti….”

Gak Lam-kun memajamkan matanya rapat-rapat dan diam-diam berdoa didalam hati.

Tiba tiba terdengar nona berbaju perak itu berseru, “Engkoh Gak, aku ingin memberituhukan sebuah rahasia besar kepadamu. Mau dengar tidak?”.

Mendengar ucapan tersebut, bagaikan baru sadar dari impian, cepat-cepat pemuda itu bertanya, “Rahasia apa?”

“Kau bersedia tidak untuk mendengarkan?”

Menyaksikan wajahnya yang manja dan manis itu, apalagi kalau sedang aleman begini, kecantikannya terasa bertambah mempesonakan hati, tanpa terasa sahutnya berulang kali, “Aku bersedia! Aku bersedia! Cepatlah kau katakan!”

Nona berbaju perak itu menatap wajah Gak Lam-kun lekat-lekat, kemudian bertanya, “Engkoh Gak, beritahu kepadaku secara terus terang, sesungguhnya gurumu Yo Long sudah mati atau belum?”

Pertanyaan itu sangat mencengangkan hati Gak Lam-kun. Ia tidak habis mengerti apa sebabnya gadis itu mengajukan pertanyaan seaneh itu. “Adik Ping. mengapa kau mengajukan pertanyaan tersebut?” tegurnya kemudian.

Sepasang mata nona berbaju perak itu merah karena sedih bisiknya, “Tahukah kau asal usulku?”

Diam-diam Gak Lam-kun merasa menyesal, pikirnya, “Yaa, benar! Aku telah menjadi suami istri dengannya tapi asal usulnya masih belum kuketahui dengan jelas. Bukankah kejadian ini lucu dan menggelikan sekali?”

Berpikir demikian, dia lantas tersenyum, katanya, “Bukankah kau putrinya Soat san thian li?” “Kau hanya tahu itu saja, tahukah kau siapa nama ibuku?”

Merah padam selembar wajah Gak Lam-kun lantaran jengah, sahutnya agak tergagap, “Sungguh menyesal aku….”

Nona berbaju perak itu menghela napas panjang, katanya, “Dalam dunia dewasa ini, mungkin hanya gurumu seorang yang mengetahui asal usul ibuku… Padahal aku sendiripun tidik tahu siapakah nama ibuku yang sesungguhnya. Aku hanya lahu dia orang tua bernama Gi-gi”

Gak Lam-kun menjadi amat keheranan, segera tanyanya, “Adik Ping, apakah ibumu tak pernah memberitahukan kepadamu siapakah nama lengkapnya?. Kalau begitu siapakah ayah-mu?”

Nona berbaju perak itu tak kuasa menahan rasa sedihnya lagi setelah mengenang kembali asal usulnya yang mengenaskan itu tanpa terasa titik air mata kembali jatuh bercucuran membasahi pipinya.

Gak Lam-kun mengeluarkan sapu tangan dan menyeka air mata yang membasahi pipinya itu, kemudian berbisik, “Adik Ping, aku benar-benar tidak mengerti kau memiliki asal usul semacam ini”

Tiba tiba nona berbaju perak itu tertawa kembali, katanya, “Asal kau benar benar mencintaiku, aku tak akan pernah merasakan sedih lagi dengan asal usulku yang mengenaskan itu”

Ucapan tersebut sangat menggetarkan perasaan Gak Lam-kun. Sekalipun hanya sepatah kata yang sederhana tapi sudah terpancar betapa dalamnya cinta gadis itu kepadanya. Itu berarti dia sendiri tak boleh sampai menyia-nyiakan limpahan rasa sayangnya itu.

“Adik Ping kau jangan kuatir” janjinya, “sampai mati aku Gak Lam-kun akan tetap mencin-taimu”

“Engkoh Gak tahukah kau barusan mengapa aku bertanya soal gurumu? Karena lamat- lamat menurut dugaanku ayahku besar kemungkinan adalah gurumu sendiri Yo Long”

Tak terlukiskan rasa kaget Gak Lam-kun setelah mendengar perkataan itu, seruuya, “Apa…? Hal ini… hal ini mana bisa jadi?”

“Sejak aku tahu urusan, ibu sudah malai mengajarkan aku membaca buku, bermain khim. Tapi setiap kali aku bertanya soal ayahku, wajahnya selalu memucat dan menangis dengan sedih. Dia bilang ayahku sudah lama meninggal dunia, dia suruh aku baik-baik berlatih memetik harpa serta ilmu silat, agar setelah dewasa nanti bisa pergi membunuh seorang musuh besarnya. Selama enam tujuh tahun lamanya selain ibu mengajarkan ilmu syair dan ilmu silat, mengenai soal jago-jago dalam dunia persilatan serta watak manusia di dunia luar boleh dibilang tak pernah membicarakannya. Dia selalu membungam dalam seribu bahasa, bahkan nama margaku pun tak pernah mau dikatakan. Akan tetapi sebelum dia orang tua meninggal dunia, ternyata dia telah menyerahkan Lencana Pembunuh Naga itu kepadaku. Ia berpesan agar aku datang ke pulau terpencil ini dan menunggu kedatangan Tok liong cuncu Yo long. Ia suruh aku memetikkan khim baginya. Waktu itu aku bertanya kembali siapakah nama margaku sebab bila seorang tidak memiliki nama marga berarti dia adalah anak jadah, aku tidak ingin seorang anak yang tidak berbapak.”

“Apakah ibumu memberitahukan kepadamu siapa nama margamu?” tukas Gak Lam-kun Nona berbaju perak itu menghela napas panjang, sahutnya. “Ketika kuajukan

pertanyaan ini, sekujur tubuh ibu segera mengejang keras, akhirnya ketika ia menyebutkan bahwa aku she Yo. Dia orang tua telah menghembuskan napasnya yang penghabisan”

Gak Lam-kun segera menghels napas panjang pula. “Aaai… ilmu silat yang dimiliki Soat san-thian li tiada tandinganya diseluruh dunia, mengapa dia bisa meninggal secara tiba- tiba…..?”

Pada saat itu, si nona berbaju perak itu sudah tak dapat menahan rasa sedihnya lagi mengenang kembali kematian ibunya. Air mata bercucuran dengan derasnya, dengan sedih ia berkata, “Berhubung terlalu banyak pikiran dan hatinya tak pernah tenang, maka sewaktu melihat sejenis ilmu silat yang maha sakti dia telah mengalami jalan api menuju ke neraka yang mengakibatkan kematiannya”

Sekali lagi Gak Lam-kun menghela napas panjang. “Bila perasaen tidak tenang pikiran ikut tak tenang, hal mana justru merupakan pantangan bagi orang untuk berlatih ilmu. Apakah dia tidak mengetahui akan hal ini?”

“Mungkin ia lebih suka cepat-cepat mati daripada hidup menanggung sengsara?” “Kau jangan terlalu bersedih hati, kejadian dimasa lampau bagaikan impian, apa yang

sudah lewat biarkan saja dia lewat”

“Engkoh Gak….” pekik Yo Ping, si nona berbaju perak itu lirih, “semenjak kematian ibu, siang dan malam aku selalu memikirkan hubungan apakah yang sesungguhnya terjalin antara dia dengan Yo Long. Pada akhirnya aku sudah mulai merasakannya secara lamat- lamat bahwa besar kemungkinan Tok liong cuncu Yo Long adalah ayahku yang sesungguhnya. Engkon Gak, beritahu kepadaku apakah dia sudah mati? Mari kita pergi mencarinya dan membongkar keadaan yang sebenarnya”

“Adik Ping, kau tak usah bersedih hati. Guruku telah meninggal dunia pada tiga tahun berselang!” kata Gak Lam-kun sambil menghela napas sedih.

“Kalau begitu asal-usulku kan tak bisa ku ketahui sepanjang masa….?” “Aku rasa masih ada seorang yang mungkin tahu…”

“Siapa?”

“Hay sim li yang sinting itu. Asal kita dapat menyembuhkan penyakit yang menderitanya besar kemungkinan dia bisa memberitahu hubungan yang sebenarnya antara guruku dengan ibumu”

“Sekarang Hay sim li berada dimana?”

“Dia pergi mengambil tulang dari guruku. Mungkin masih berada dipulau ini” “Engkoh Gak, malam sudah semakin kelam, mari kita pulang kcdalam rumah!” bisik Yo Ping lirih.

Dengan mesra Gak Lam-kun merangkul pinggangnya yang ramping dan menempelkan wajah-nya diatas wajahnya. Sikap itu begitu hangat dan mesra, penuh dengan luapan rasa cinta yang dalam.

Pelan-pelan mereka beranjak dan kembali ke ruangan.

Tapi baru tiga kaki dia berjalan tiba- tiba dibawah sebatang pahon siang tampak sesosok bayangan manusia berdiri tegak disitu.

Yo Ping menjadi naik pitam ketika dilihatnya ada orang yang begitu berani mengintip perbuatan mereka. Sambil membentak nyaring tangan kirinya diayunkan kedepan siap membinasakan orang itu.

Gak Lam-kun yang memiliki sepasang mata yang tajam segera dapat menangkap siapa gera-ngan orang itu, buru-buru serunya. “Adik Ping jangan sembarangan bertindak!”

Tiba tiba orang itu meloloskan pedangnya dan secepat kilat menyambar datang.

Cahaya pedang memancar keempat penjuru amat menyilaukan mata dengan jurus Cun han Hau siau (Kabut dingin menyelimuti bukit) ia gulung tubuh kedua orang itu.

“Liong te, ako!” Gak Lam-kun segera berteriak keras.

Di bawah sorot sinar rembulan, tampaklah bahwa orang itu tak lain adalah Ji Kiu-liong. Dengan wajah penuh kesedihan dan perasaan aei ci Ji Kiu-liong membentak keras.

“Justru karena aku tahu kalau kau, maka aku hendak membunuh kalian berdua!”

Bukannya mundur kebelakang. pemuda itu malah maju menerjang ke muka dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.

“Adik Liong, kau…..?”

Berbareng deegan bentakan yang berat, tangan kirinya secepat kilat mencengkeram kedepan.

“Aduuhh…!” Diiringi jeritan tertahan, pedang ditangan Ji Kiu liong itu tahu-tahu sudah dipukul rontok keatas tanah oleh serangan dari Gak Lam-kun itu.

Ji Kiu-liong membentak amat gusar. Sepasang telapak tangannya secara beruntun melepaskan tiga buah serangan berantai dan sebuah tendangan kilat.

Kaki dan tangan digunakan bersama… itulah jurus ampuh yang diwariskan Gak Lam- kun kepadanya.

Ketika dilihatnya pemuda itu menyerang bagaikan orang kalap, bahkan begitu turun tangan lantas mempergunakan jurus-jurus serangan yang dahsyat dan mematikan, Gak Lam-kun menjadi tertegun dan tidak habis mengerti. Dia tak tahu apa sebabnya Ji Kiu- liong bisa melancarkan sergapan maut kepadanya? Gak Lam-kun dan Yo Ping segera memutar tubuhnya dan secara aneh dan gesit dia menghindarkan diri sejauh tiga depa lebih dari posisi semula.

Dengan gusar Gak Lam-kun segera membentak keras, “Adik Liong, kau jangan bergurau terus, hayo cepat hentikan seranganmu itu!”

Benar juga. Ji Kiu-liong segera menghentikan serangannya. Dengan sepasang mata melotot lebar diawasinya Gak Lam-kun lekat lekat. Titik air mata jatuh bercucuran membasahi pakaiannya. Ia tampak amat sedih dan tersiksa, mulutnya terbungkam dalam seribu bahasa.

Dari sakunya Gak Lam-kun mengeluarkan sapu tangan dan menyeka air mata yang membasahi wajah Ji Kiu-liong, kemudian dengan suara lirih dia bertanya, “Adik Liong, apa yang telah terjadi denganmu?”

Ji Kiu-liong tidak menjawab, dia malah menangis tersedu sedu.

Menyaksikan tindak tanduk pemuda itu, Gak Lam-kun semakin tertegun lagi lagi dibuatnya sehingga ia menjadi melongo dan tak tahu apa yang musti dilakukan.

Tiba tiba satu ingatan melintas dalam benaknya, dengan cepat dia berseru, “Adik Liong, apakah nona Bwe sudah tertimpa sesuatu kejadian besar?”

Sambil menangil terisak kata Ji Kiu-liong, “Engkoh Gak, terima kasih kuucapkan atas perhatianmu Selama banyak tahun kepadaku. Hari ini hubungan kita sudah berakhir. Sejak sekarang kita akan berpisah untuk selama-lamanya. Kau…. baik-baiklah menjaga dirimu” 

Selesai berkata dia lantas membalikkan badan dan berlalu dari tempat itu.

Gak Lam-kun menjadi sangat gelisah, teriaknya keras keras, “Adik Liong, adik Liong, harap tunggu dulu. Kau harus menjelaskan dahulu apa yang telah terjadi…!”

Pada waktu itu perasaan Ji Kiu-liong amat sedih bagaikan ditusuk-tusuk dengan pisau. Terhadap teriakan dari Gak Lam-kun, hampir tak digubris olehnya. Dalam waktu singkat bayangan tubuhnya sudah lenyap tak berbekas ditelan kegelapan.

Pelan- pelan Yo Ping menghampirinya dan berkata, “Engkoh Gak. bocah itu telah menghina dirimu. Biarkanlah dia pergi dari sini!”

Gak Lam-kun mengaela napas panjang. “Adik Ping!” katanya, “tunggulah aku di dalam istana Sui cin kiong… sebentar aku datang!”

Sehabis berkata dia telah membalikkan badannya dan siap pergi meninggalkan tempat itu.

Paras muka Yo Ping segera berubah hebat. “Engkoh Gak, kau…..”

“Maafkanlah aku Adik Ping. Aku tak dapat membiarkan bocah itu pergi dengan begitu saja. Ia perlu pengawasan dariku!” Sehabis berkata, secepat sambaran kilat Gak Lam-kun berlalu dari sana mengejar kemana Ji Kiu-liong melenyapkan diri tadi.

Menyaksikan bayangan punggung Gak Lam-kun yang lenyap dari pandangan, air mata jatuh bercucuran membasahi wajah Yo Ping.

Rasa sedih yang amat tebal menyelimuti wajahnya. Dia bergumam seorang diri, “Lelaki bedebah, rupanya mulutmu saja yang manis. Rupaya kau lebih mencintai orang she Bwe itu daripada kepadaku?”

Bergumam sampai disitu selapis hawa napsu membunuh amat tebal segera memancar keluar diatas wajah Yo ping yang dingin bagaikan es itu, serunya lagi dengan gemas, “Baik! Kalau ingin mati, kita akan mati bersama…!”

Perempuan memang sebagian besar berhati culas dan curiga. Apalagi terhadap masalah kecil yang sepele, biasanya mereka akan memandangnya amat serius dan berat. Bila suatu persoalan sudah menyusup dalam benaknya maka masalah itu seakan akan selalu merongrong hatinya. Makin dipikir persoalan yang mulanya kecil itu akan makin di besar-besarkan sehingga akhirnya akan rnenciptakan suatu tragedi yang akan disesalinya setelah semua itu telah terjadi.

Begitu pula dengan keadaan Yo Ping sekarang. Dia mengira Gak Lam-kun telan menghianati cintanya. Dia menganggap pemuda itu lebih mencintai gadis lain daripada mencintainya. Ini membuat gadis tersebut makin dipikir semakin marah, akhirnya kobaran api yang membara dalam dadanya mendorong hawa napsu membunuhnya. Ini pula akibatnya dia melangkah ke suatu jalan yang salah yang akhirnya nyaris mengakibatkan kematian banyak orang.

Sebenarnya apa yang terjadi dengan Ji Kiu-liong? Mengapa secara kebetulan dia dapat berjumpa dengan Gak Lam-kun serta Yo Ping disana?

Kiranya setelah senja menjelang tiba tadi, Ji Kiu liong telah meninggalkan Ji Cin peng.

Ia tahu ingin melepaskan diri dari cengkeraman Tiang pek sam him, maka tak boleh ia tinggalkan tempat itu. Maka pemuda tersebut bersembunyi di suatu sudut dari bangunan tersebut. Menanti kentongan keempat sudah menjelang, tiba-tiba ia teringat kembali janji Gak Lam-kun dengan kakaknya itu.

Maka secara diam-diam dia menyelinap masuk ke dalam. ruangan bangunan itu. Apa mau dibilang pada saat itulah ia menyaksikan adegan mesra antara Gak Lam-kun dengan Yo Ping. Hal ini kontan saja membangkitkan rasa sedih dan sakit hatinya.

Terbayang kembali kakaknya yang bernasib jelek, hidup sengsara sepanjang masa… bukankah kesemuanya itu karena cinta kasihnya kepada Gak Lam-kun?

Benar dia kurang begitu jelas tentang dendam keluarganya, tapi ia tidak menyangkal bahwa kesengsaraan yang dialami kakaknya tak lain adalah hasil perbuatan dari Gak Lam- kun. Bagaimanapun juga Gak Lam-kun wajib memikul tanggung jawab ini.

Cinta kasih kakaknya terhadap pemuda itu begitu mendalam, begitu suci dan murni sehingga ia rela mengorbankan segala sesuatunya demi pemuda itu. Sebaliknya Gak Lam- kun sendiri…. Semakin dipikirkan, Ji Kiu-liong dengan jalan pemikiran kekanak-kanakannya itu semakin mendendam sehingga tanpa terasa api kemarahannya berkobar didalam dada. Itulah sebabnya dengan geram ia melancarkan tusukan maut ke tubuh Gak Lam-kun.

Dalam pada itu, Ji Kiu-liong seding berlarian dengan kencangnya. Pelbagai ingatan berkecamuk dalam benaknya, kini kakaknya sudah ditawan orang. Mati hidupnya tidak diketahui. Dengan cara apakah dia harus menyelamatkan jiwanya…..

Seandainya ia sampai mati, maka keponakanku itu mengapa harus diserahkan kepada Gak Lam-kun……

Ternyata didalam hati kecilnya itu sudah mengambil keputusan untuk memikul tanggung jawab untuk mendidik bocah kecil itu. Dia tak rela menyerahkan keponakannya itu kepada Gak Lam-kun, sebab bagaimanapun juga bocah itu dilahirkan oleh kakaknya….

Dalam sekejap mata, Ji Kiu-liong sudah berada di pantai laut sebelah barat, memandcang gulungan ombak di samudra yang bewarna biru kehitam-hitaman itu. Ia duduk termangu….

Angin dingin berhembus lewat membuat ombak menggulung makin ganas.

Kobaran api amarah yang membara daiam dadanya, pelan-pelan mulai mereda dan membuyar……

Dengan begitu, otaknya juga mulai dingin. Kesadarannya mulai pulih kembali seperti sediakala….

Tapi ia menangis, menangis tersedu-sedu persis seperti seseorang anak kecil.

Kemudian, dari belakang tubuhnya tiba-tiba kedengaran seseorang menghela napas panjang. “Adik Liong, kesedihan apakah yang kau alami, sehingga membuat batinmu begitu tertekan. Kenapa kau tidak menjelaskan kepadaku? Tahukah kau bila kau sampai berbuat demikian, aku merasa malu kepada kakakmu dialam baka. Aku merasa seakan- akan tak sanggup menanggung pertanggungan jawab ini”

Ji Kiu-liong makin meledak tangisannya. Tiba-tiba ia melompat bangun dari menjatuhkan diri ke dalam pelukan Gak Lam-kun.

“Adik Liong!” kata Gak Lam-kun sambil menepuk bahunya, “sebagai seorang lelaki sejati, tidak pantas kau melelehkan air mata dengan begitu saja. Bila ada persoalan, katakanlah secara terus terang!”

“Gak toako!”, kata Ji Kiu-liong, sambil menahan isak tangisnya. “Aku… Aku… merasa bersalah kepadamu….”

Kasih sayang yang diperlihatkan Gak Lam-kun itu sangat mengharukan Ji Kiu-liong.

Sebagaimana diketahui seorang bocah adalah paling gampang terpengaruh emosinya, tapi paling gampang pula dibikin terharu. Tidak terkecuali Ji Kiu-liong sendiri.

“Kau jangan bersedih hati” kata Gak Lam-kun lagi. “aku tahu didalam hati kecilmu pasti terdapat kesulitan yang tak mampu diutarakan dengan kata-kata…” Ji Kiu-liong semakin tergetar perasaannya, tak tahan lagi dia lantas berteriak keras, “Engkoh Gak, cici ku telah ditawan oleh Tiang pek sam him….!”

Mendengar perkataan itu, Gak Lam-kun mengerutkan dahinya rapat-rapat lalu berkata, “Ilmu silat yang dimiliki nona Bwe sangat lihay, bagaimana mungkin ia bisa…..”

“Nona Bwe adalah kakak kandungku. Dia adalah enci Cin peng…!” seru Ji Kiu-liong lagi dengan pedih.

Ibarat disambar geledek di siang hari bolong Gak Lam-kun merasakan benaknya serasa benaknya terasa kosong. Tak terasa, dengan suara gemetar, bisiknya agak tergagap, “Apaa….. apaa kau bilang? Nona Bwe adalah Cin peng? Sedang mimpikah aku ini?”

“Engkoh Gak mengapa kau tidak percaya?” teriak Ji Kiu-liong “Ia telah melahirkan seorang anak lelaki untukmu. Dia benar-benar adalah kakak kandungku…”

Gak Lam-kun berusaha keras untuk menekan pergolakan perasaan dalam hatinya ia berkata lirih, “Adik Liong, sesungguhnya apa yang telah terjadi? Cepat kau terangkan kepadaku”

Secara ringkas Ji Kiu-liong lantas menceritakan bagaimana Ji Cin-peng mengakui keadaannya serta bagaimana terjadinya pertarungan dengan Tiang-pek sam him, sehingga mengakibatkan tertawannya dia. Cuma dia secara sengaja telah merahasiakan hubungan dendam keluarganya dengan si anak muda itu.

Seusai mendengar kisah tersebut, Gak Lam-kun lantas bergumam, “Dia adalah adik Peng. Yaa dia memang mirip sekali dengan Adik Peng. Baik raut wajahnya maupun potongan badannya. Tapi kenyataan ini serasa sukar diterima dengan akal…. Yaa… Yaa…! Dia pasti adalah Ji Cin-peng. Dia benar-benar adalah Ji Cin-peng….”

“Oooh adik Peng… adik Peng… mengapa kau harus meninggalkan kami…? mengapa..?

Belum pernah pikiran dan perasaan Gak Lam-kun sekalut sekararg ini. Sedemikian kalutnya kepala terasa menjadi pusing tujuh keliling.

Ji Kiu-liong segera berkata, “Cici meninggalkan kita hampir setahun karena ia hendak melahirkan anak itu.”

Gak Lam-kun menatap wajahnya lekat-lekat, kemudian berkata, “Kiu-liong, kau jangan berbohong. Setelah melahirkan anak itu, mengapa tidak datang mencari kita berdua?”

Ji Kiu-liong merasa amat terkejut pikirnya. “Aduuuh… celaka? Bila ia sampai menaruh curiga, habislah sudah segala galanya”

Berpikir demikian, dengan cepat Ji Kiu-liong berkata. “Cici meninggalkan kita tentu saja karena ia mempunyai rahasia yang tak bisa diungkapkan kepada orang. Apa salahnya bila kau tanyakan sendiri persoalan tersebut kepadanya dikemudian hari?

Gak Lam-kun manggut manggut. kemudian ia bertanya lagi dengan cemas, “Adik Liong, bagaimana keadaan lukanya?” “Luka yang dideritanya itu parah sekali” jawab Ji Kiu-liong dengan sedih. “Mungkin sekali akibat lukanya itu bisa mempengaruhi jiwanya. Andaikata ia mati. sungguh kasihan keponaklanku itu. Dia tak akan bisa merasakan kasih sayang dari ibunya lagi!”

Mendengar itu dengan geram Gak Lam-kun menggigit bibirnya menahan rasa gusar dan bencinya dihati. Ia bersumpah. “Tiang pek san him wahai Tiang pek san him apabila Ji

Cin-peng sampai mengalami sesuatu cedera, aku Gak Lam-kun bersumpah akan membumi ratakan Ngo kok kosu kalian dan mencincang tubuh kamu bertiga…..!”

Diam diam Ji Kiu-liong merasa girang setelah mendengar perkataan itn, serunya dengan cepat, “Engkoh Gak. Mereka sudah berangkat semalam lebih awal, bila kita mengejarnya sekarang jaga mungkin ditengah jalan masib bisa menghalangi jalan pergi mereka”

Mendengar perkataan itu, bagaikan baru sadar dari impian Gak Lam-kun segera berseru, “Adik Liong, perjalanan menuju kebukit Tiang pek san jauh sekali, apakah kau hendak ikut?”

“Gak toako, apakah kau suruh aku berada di sini seorang diri tiap hari sambil menanggung derita?”

Gak Lam-kun segera manggut manggut “Kalau begitu urusan tak bisa ditunda lagi, mari kita segera berangkat…..!”

Selesai berkata Gak Lam- kun dan Ji Kiu-liong segera mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya meluncur ke depan dengan kecepatan luar biasa. Setibanya dipantai, dengan sampan mereka berangkat meninggalkan pulau terpencil itu, kemudian dengan dua ekor kuda jempolan berangkat menuju ke bukit Tiang pek san.

Perjalanan dilakukan dengan kecepatan luar biasa, siang malam terus berjalan untuk mengejar waktu. Dalam waktu belasan hari kemudian tibalah ke dua orang itu diperbatasan.

Sepanjang jalan mereka selalu mencari kabar tentang rombongan Tiang pek-sam him, tapi tak pernah ada berita yang didapatkan.

Perasaan hati Gak Lam-kun dan Ji Kiu-liong bertambah berat dan murung. Mereka melanjutkan perjalanannya makin cepat. Sepanjang jalan kedua orang itu jarang berbicara. Kurang lebih tujuh-delapan hari kemudian tibalah kedua orang itu di wilayah Tiang pek-san.

Oleh karena jalan yang tidak hapal. setelah naik keatas bukit selama hampir tiga hari lamanya mereka tak pernah melihat ada jejak manusia, apalagi rasa haus yang luar biasa. Tak setetes airpun yang bisa dipakai untuk mengusir dahaga.

Hari itu, mereka berdua kembali melewati sebuah tebing karang yang sangat curam dan tiba dipuncak bukit sebelah utara. Sepanjang mata memandang meski tampak tanah rerumputan yang terpentang luas, namun tak setetes air pun yang ditemukan.

Tenaga dalam yang dimiliki Ji Kiu-liong agak cetek. Setelah melakukan perjalanan selama dua puluh hari lebih tanpa berhenti, ia sudah kepayahan dan kehabisan tenaga, tapi ia tetap bertahan ,untuk melanjutkan perjalanan. Gak Lam-kun tahu, bila tidak berhasil menemukan air lagi disekitar tempat itu, niscaya Ji Kiu-liong tak akan kuat untuk menahan diri lebih jauh….

Gak Lam-kun termenung beberapa saat lamanya. Mendadak secara lamat-lamat ia menangkap suara yang amat lirih berkumandang datang dari dinding karang sebelah kanan. Satu ingatan segera melintas dalam benaknya, dengan menelusuri dinding bukit tersebut dia bergerak menuju ke sebelah kanan.

Lebih kurang seratus kaki kemudian, tampak sebatang pohon siong yang amat besar tumbuh tegak didepan sana. Suara percikan air tadi terdengar menggema datang dari dinding tebing di belakang pohon siong yang amat besar itu.

Ji Kiu iioag segera merasakan semangatnya berkobar kembali, teriaknya keras keras, “Gak toako disitu ada air!”

Gak Lam-kun segera menyingkap daun pohon siong yang lebat itu dan melongok kedepan. Dimuka situ tampaklah sebuah gua yang tingginya mencapai ketinggian seorang manusia.

Segulung angin sejuk berhembus lewat dari balik gua itu membawa bau harum yang semerbak.

Gak Lam-kun segera berpikir, “Jikalau dari gua tersebut bisa berhembus keluar angin sejak, itu menandakan kalau gua tersebut tak akan terlalu dalam”

Ia lantas berpaling seraya berkata, “Ikutlah dibelakangku!”

Seraya berkata dia lantas miringkan badan sambil melangkah masuk kedalam telapak tangannya yang sebelah melindungi dada, sementara tangannya yang lain disiapkan menghadapi lawan, selangkah demi selangkah berjalan maju kedepan.

Setelah melewati dua buah tikungan, dari depan situ tampak kilatan cahaya terang suara percikan airpun kedengaran makin jelas. Dengan hati girang pemuda itu segera mempercepat langkahnya keluar dari ujung gua tersebut.

Tanpa terasa Ji Kiu-liong segera berpekik tertahan, “Oooh…… alangkah indahnya pemandangan alam ditempat ini!”

Ternyata diluar gua tersebut seolah olah terdapat dunia lain, disana rumput tumbuh amat subur dengan aneka warna bunga yang indah menawan, angin lembut berhembus lewat membawa kelembaban air yeng sejuk. Lebih kurang beberapa tombak jauh didepan sana, tepatnya ditebing sebelah barat tampak pohon siong tumbuh dengan suburnya.

Dahan yang melengkung diudara membuat selat sempit yang panjangnya seratus kaki dengan lebar belasan kaki ini terasa rimbun dan nyaman.

Ji Kiu-liong dan Gak Lam-kun hanya tertarik untuk menyaksikan keindahan alam di sekitar sana hingga rasa dahagapun sampat terlupakan untuk sesaat. Tiba-tiba dua puluh kaki dari tempat itu berkumandang suara helaan napas……..

oooOOOooo WALAUPUN helaan napas itu sangat lirih, tapi bagi Gak Lam-kun yang memiliki tenaga dalam sempurna dapat menangkapnya dengan jelas sekali. Iapun bisa menangkap bahwa suara tersebut berasal dari suara seorang perempuan.

Gak Lam-kun merasa terkejut, segera pikirnya, “Siapakah dia?”

Sebab ia merasa suara helaan napas itu agak sedikit dikenal olehnya, itu berarti perempuan itu dikenal pula olehnya.

Pelan pelan Gak Lam-kun berjalan menghampiri asal suara dari helaan napas itu. Setelah melewati aneka bebungaan yang indah, akhirnya ditepi sebuah kolam kecil ia menyaksikan seorang gadis berbaju putih sedang duduk termenung disana.

Gadis itu duduk dengan punggung menghadap Gak Lam-kun dan wajah menghadap kedepan. Entah apa yang sedang dipikirkan olehnya? Ketika angin sejuk berhembus lewat, rambut dan bajunya yang berwarna putih itu segera berkibar kibar.

Memandang bayangan punggungnya itu, Gak Lam-kun merasakan hatinya bergetar keras, segera pikirnya, “Dia?! Bukankah dia adakah Ki Li-soat…”

Sementara itu si nona baju putih itu sedang menghela napas sedih, terdengar ia bergumam seorang diri, “Aaai….. sebetulnya aku ingin melepaskan diri dari segala urusan keduniawian. Siapa tahu begitu banyak percobaan yang harus kuhadapi, apakah Thian hendak melimpahkan penderitaan tersebut kepadaku….?”

Bergumam sampai disitu, dengan suatu gerakan yang enteng dara berbaju putih itu segera bergerak menuju ke puncak sebelah kiri itu dengan gerakan ringan, seakan akan dia tidak menyadari bahwa Gak Lam-kun telah berada belasan kaki dihadapannya.

Dalam waktu singkat nona berbaju putih itu sudah tiba diatas puncak bukit itu.

Oleh tindak tanduknya yang serba aneh itu Gak Lam-kun dibikin tidak habis mengerti. An-daikata gadis itu benar-benar adalah Ki Li-soat maka itu menandakan kalau ilmu silat yang dimilikinya sudah terhitung nomor satu dalam dunia persilatan, tapi kenapa ia tidak menyadari kalau ada orang sedang mendekatinya?

Kalau dikatakan bukan, mengapa nada suara maupun bayangan punggungnya begitu mirip apalagi kalau didengar dari gumamnya tadi tampaknya….

Semakin dipikir Gaik Lam-kun semakin keheranan sementara dia masih termenung, tiba-tiba terdengar suara dari Ji Kiu-liong berkumandang dari belakang, “Gak toako, siapakah perempuan itu? Cepat benar gerakan tubuh yang dimilikinya”

“Adik Liong, nantikan aku disini akan kutengok keadaan orang tersebut”

Seraya berkata Gak Lam-kun segera meluncur ke arah tebing curam yang berbatu karang itu. Dalam beberapa puluh kali lompatan saja, tubuhnya sudah berada diatas tebing itu, setinggi ratusan kaki. Kemudian dalam waktu singkat telah mencapai diatas tebing tersebut.

Terasalah derusan angin dingin yang berhembus lewat amat menusuk badan. Ternyata dasar lembah dan puncak tebing itu seolah olah dua buah dunia yang berbeda. Dalam pada itu sinona berbaju putih itu sedang berdiri diatas sebuah batu karang lebih kurang tujuh-delapan kaki dihadapannya. Ia berdiri disana tak berkutik, seakan akan sedang menyaksikan sesuatu benda.

Satu ingatan dengan cepat melintas dalam benak anak muda itu. Tanpa terasa dia berjalan pula menuju ke batu cadas tersebut.

Ia tahu ilmu silat yang dimiliki gadis itu sudah mencapai puncak kesempurnaan, suara daun yang rontok pada lima kaki dari tubuhpun bisa didengar olehnya dengan jelas.

Mungkinkah dia sengaja berlagak tidak mendengar kehadirannya?

Siapa tahu sekalipun Gak Lam-kun sudah tiba dibelakang punggung gadis berbaju putih itu, dia masih tetap tidak memalingkan kepalanya, seakan akan kehadirannya itu sama sekali tidak dirasakan olehnya……

Akan tetapi, ketika Gak Lam-kun dapat menyaksikan raut wajah si nona dari dekat, ia menjadi benar-benar tertegun, sebab dia memang tak lain adalan Ki Li-soat dari perkumpulan Thi-eng pang.

Sesudah termangu beberapa saat lamanya dengan suara rendah Gak Lam-kun segera menegur, “Tolong tanya nona, kalau ingin menuju ke Ngo kok koan, jalan manakah yang harus kutempuh?”

Dari antara kelopak matanya yang lebar, tampak air mata nona baju putih itu jatuh bercucuran dengan wajah sedih dan sayu dia tertawa lirih kemudian tanyanya, “Siangkong, tolong tanya ada urusan apakah kau pergi ke Ngo kok koan”

Gak Lam-kun pura pura berlagak kaget, segera jeritnya tertahan, “Kau…. bukankah kau adalah nona Ki?”

Dengan sinar mata penuh pancaran sinar lembut dan kemesrahan, Ki Li-soat bertanya lirih: ”Gak Siangkong, kau…. kau datang kemari mencari siapa?”

Dengan perasaan agak kaget Gak Lam-kun menghela napas dihati pikirnya. “Aaai….. kenapa aku Gak Lam-kun bisa mempunyai begitu banyak persoalan dalam hal cinta?

Agaknya dia memang sengaja memancing kedatanganku kemari…..”

Sebagaimana diketahui, sejak berjumpa dengan Gak Lam-kun, luapan rasa cinta yang aneh lelah menyelimuti seluruh benak Ki Li-soat, tapi sikap Gak Lam-kun terhadapnya sewaktu dipulau terpencil di dekat bukit Kun san itu begitu dingin dan kaku. Lagipula ia dapat merasakan pula bagaimana si nona berbaju perak Yo Ping maupun ketua dari perguruan Panah Bercinta juga menaruh hati kepada pemuda itu, diam-diam kesemuanya ini membuat hati gadis itu menjadi amat sedih hati.

Ia sadar, baik dalam soal kecantikan mau pun dalam soal ilmu silat, dirinya masih ketinggalan jauh bila dibandingkan dengan kecantikan serta kepandaian orang. Timbul suatu perasaan rendah diri dihati kecilnya dan membuatnya menjadi sangat putus asa.

Ia tahu cinta semacam ini hanya akan menambah kerengsaraan dan kepedihan dalam hatinya. Ditambah lagi dengan dibubarkannya perkumpulan Thi eng pang, membuat gadis ini merasa hidup terluntang lantung seorang diri tanpa seorang manusia pun yang menaruh perhatian kcpadanya.

Maka pandangannya terhadap kehidupan manusia menjadi kecewa sekali, diapun bertekad untuk mengasingkan diri ditempat pengasingan gurunya ini dan selama hidup tidak muncul kembali dalam dunia persilatan.

Tapi rupanya Thian tidak merestui keputusannya itu, tiba-tiba saja Gak Lam-kun telah muncul disitu. Semua perasaan cintanya yang sudah mulai terpendam selama sebulan inipun segera bergolak kembali dengan kerasnya.

Kalau bisa, dia ingin memeluk tubuh Gak Lam-kun dan menangis tersedu-sedu. Dia ingin mengutarakan luapan perasaan cintanya yang sudah lama terpendam didalam hatinya ini.

Akaa tetapi, ketika dilihatnya Gak Lam-kun sama sekali tidak mengucapkan sepatan katapun. dia menjadi pedih kembali hatinya. Air mata tanpa terasa jatuh berlinang membasahi pipinya. “Aku… sudah tahu banyak bercinta akan merdatangkan kepedihan. Siapa suruh aku melibatkan diri dalam masalah semacam itu? Kenapa? Kenapa?

Sebetulnya hatiku sudah bersih dan terang apa mau dibilang….. Aaai….!”

Suaranya begitu pedih, begitu murung, membuat orang turut merasa beriba hati.

Gak Lam-kun sendiripun ikut merasa amat sedih, ia tidak tahu mengapa ada begitu banyak gadis yang mencitainya? Mengapa ia harus dibuat pusing oleh masalah semacam itu?

Akhirnya sambil menghela napas, Gak Lam-kun berkata, “Nona Ki, buat apa kau musti bersikap demikian?”

Ki-li Soat tertawa sedih, sahutnya. “Gak siangkong tak usah kuatir, aku tak akan membuat dirimu menjadi repot. Aku sudah dapat merasakan penderitaan akibat persoalan cinta, apakah aku tak tahu bagaimanakah perasaan orang lain? Kalau toh aku sendiri yang mencari kesengsaraan bagiku sendiri, mengapa pula aku harus mendendam kepada orang lain? Aku hanya benci kenapa nasibku begitu buruk? Mengapa aku tidak berjodoh dengarmu sehingga musti menanggung semua penderitaan dan kepedihan ini?”

Ucapan tersebut sungguh membuat Gak Lam-kun menjadi terharu, ia merasa Ki-li Soat baik dalam soal kecantikan, budi pekerti mau pun ilmu silatnya tidak kalah dibandingkan dengan isteri yang tercintanya Ji Cin-peng terutama cinta sucinya itu, sungguh membuat orang merasa tak tahan.

Yaa… sesungguhnya dia memang bisa dibilang tak borjodoh, mengapa ia tidak berjumpa dengannya sedari dulu? Kalau tidak, seperti juga dengan Ji Cin peng, dia akan dicintainya sepenuh hati.

Pikir punya pikir, Gak Lam-kun merasakan hatinya semakin murung dan kesal hingga untuk sesaat tak tahu apa yang harus dilakukan.

Menyaksikan pemuda itu membungkam diri, Ki-li Soat menghela napas sedih, katanya, “Gak siangkong, entah karena persoalan apakah kau datang kebukit Tiang-pek ini?

Ketahuilah, ilmu silat yang dimiliki Tiang-pek sam him lihay sekali….” Mendengar perkataan itu, seperti baru sadar dari impian Gak Lam-kun segera berseru, “Nona Ki. aku harus segera melanjutkan perjalanan”

Dari kemurungan dan kesedihan yang menyelimuti wajah pemuda itu, Ki-li Soat segera dapat menebak apa gerangan yang telah terjadi, katanya dengan cepat, “Gak Siangkong, Ngo kek koan amat berbahaya dan penuh dengan ancaman bahaya maut. Bila tidak mengetahui tempat yang sebenarnya, kau pasti akan tersesat. Untung saja aku sedang menganggur, aku bersedia menjadi penunjuk jalanmu”
Ada kabar sedih nih gan, situs ini dinyatakan spam oleh pihak facebook :(:(. Admin mau minta tolong kepada para pembaca yang budiman untuk mengisi form di Link ini : Facebook Debugger dan menulis bahwa situs ini bukan spam. Semoga kebaikan dari pembaca dibalas berlipat ganda oleh Tuhan yang maha kuasa😇. Selaku Admin ~ Iccang🙏