Lencana Pembunuh Naga Jilid 22

 
Jilid 22

“BAIK!” kata Gak Lam-kun sambil maju dengan langkah lebar, “Ingin kulihat sebetulnya kalian memiliki kekuatan macam apa yang disebut melampaui kemampuan orang itu!”

Dengan Wajah yang hambar dan dingin seperti es, selangkah demi selangkah ia berjalan kedepan Kongsun Po serta Say Khi pit.

Pucat pias selembar wajah Kongsun Po, bisiknya dengan badan menggigil keras, “Kau amat keji…”

Paras muka Gak Lam-kun agak berubah, katanya lagi, “Dalam pandangan orang lain perbuatan ini mungkin dianggap kejam, tapi dalam pandanganku hal ini justru merupakan suatu hal yang lumrah, sebab tindakan yang kalian gunakan untuk menghadapi guruku jauh lebih kejam dan busuk daripada perbuatan sekarang!”

Menyaksikan musuhnya yang maju mendekat bagaikan malaikat dari langit, tanpa terasa Say Khi pit dan Kongsun Po mundur terus berulang kali. Wajahnya memperlihatkan rasa takut bercampur ngeri. Peluh dingin mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya.

Tiba-tiba Oh Bu-hong membentak keras, “Harap kalian berdua cepat lari ke tempat lohu sini!”

Gak Lam-kun segera berpaling dan memandang sekejap kearahnya, kemudian katanya, “Bila perkumpulan kalian hendak turut campur persoalan ini, jangan salahkan kalau aku akan menegakkan keadilan dan kebenaran bagi umat manusia!”

Setiap patah katanya tegas dan mantap, dingin seperti angin yang berhembus datang dari gunung es.

“Hey orang she Gak, kau tak usah sombong!” teriak Si Tiong-pek sambil memutar senjatanya.

”Hee… hee… hee… Jangan dianggap setelah memperoleh beberapa jurus ilmu silat rahasia maka kau bisa menjagoi dunia persilatan” ujar Gak Lam-kun sambil tertawa dingin.

Si Tiong-pek tak mau kalah, ia tertawa seram pula. “Yaa, tapi tak akan jauh selisihnya darimu”

Pada saat itulah si nenek berambut putih itu telah menarik kembali kaitan emas Wu kim cui kou nya. Naga api itu segera barpekik nyaring. Tubuhnya yang amat besar tiba tiba melambung ke udara dan membuat satu lingkaran di angkasa, setelah itu sambil membentangkan cakar raksasanya menerjang orang-orang Thi-eng pang.

Dimana cakar raksasanya menyambar lewat selapis warna merah segera menyelimuti seburuh angkasa.

“Cepat mundur!” buru-curu Oh Bu-hong membentak keras.

Bayangan manusia, segera menyebar ke empat penjuru. Beratus-ratus orang jago dari Thi-eng pang tercerai berai kemana-mana untuk mencari keselamatan sendiri.

Oh Bu-hong sendiri sambil mengerahkan tenaga dalamnya ke dalam talapak tangan, ia menerjang kearah Gak Lam-kun dengan suatu ge-rakan yang amat ganas, serunya sambil tertawa geram, “Gak Lam-kun, kau berani melukai orang dengan menggunakan kekuatan naga. Tidak takutkah perbuatanmu ini akan dikutuk oleh setiap manusia yang ada didunia ini?”

Bayangan tangan menyambar silih berganti. Secara beruntun dia melancarkan serangkaian pukulan bertubi-tubi yang ditujukan ke sekujur badan Gak Lam-kun.

Dengan gesit dan lincah Gak Lam-kun berkelit kesana kemari, lalu katanya. “Untuk menghadapi manusia bengis semacam kalian ini, kupikir cara ini merupakan suatu cara yang paling cepat”

Siapa tahu baru saja tubuhnya mundur ke belakang tiba-tiba terasa desingan angin tajam menyambar datang dari arah belakang.

Sewaktu dia berpaling, maka dilihatnya Si Tiong pek, Kongsun Po serta Say Khi pit sekalian, dengan kekuatan gabungan dari empat orang sedang menyergap dirinya dengan kecepatan luar biasa.

Lam-kun tertawa terbahak-bahak, katanya, “Haa… haa… haa… Aku menjadi rikuh sendiri kalau tidak memenuhi harapan kalian, setelah kamu semua begitu baik memberi muka kepadaku!”

Dengan suatu gerakan yang amat cepat, tubuhnya berputar kencang. Sepasang telapak tangannya direntangkan keatas bawah dan sekaligus ia sambut datangnya beberapa gulung tenaga pukulan itu.

oooOOOOooo

BEBERAPA orang jago ini semuanya sudah menyaksikan sendiri betapa dahsyatnya tenaga serangan yang dimiliki anak muda tersebut, ketika melihat garangnya pukulan itu masing masing segera mengigos ke samping untuk menghindarkan diri.

Tapi sayang, walaupun mereka menghindar cukup cepat, namun datangnya serangan itu jauh lebih cepat lagi. Ditengah benturan yang memekakkan telinga, empat orang jago lihay itu bersama sama terpental ke belakang dan jatuh terduduk ditanah.

Sepasang mata Oh Bu-hong segera berkaca-kaca. Sambil merangkak bangun dari tanah katanya. “Gak sauhiap, lohu mengaku kalah!” “Suhu, menang kalah bukan urusan yang penting” seru Si Tiong pek dengan mulut bepelopotan darah, “Dikemudian hari kita masih ada kesempatan untuk menagihnya kembali….”

Dengan wajah yang amat sedih dan air mata bercucuran, Oh Bu-hong hanya menggelengkan kepalanya berulang kali, dia membungkam dalam seribu bahasa

Orang bilang “Seorang enghiong tak akan melelehkan air mata. Jika tidak menghadapi persoalan yang betul betul memedihkan hati Thi-eng siu Oh Bu-hong adalah seorang jago tua yang sudah lama berkecimpungan dalam dunia persilatan, baik nama besar maupun kedudukannya sama sekali tidak berada di bawah siapa pun. Tak heran kalau pukulan batin yang diterimanya kali ini membuat ia begitu sedih sehingga tanpa terasa air matanya jatuh bercucuran.

Gak Lam-kun tak ingin bertindak kebangetan, cepat cepat dia berseru, “Aku betul betul berbuat ceroboh, bila telah kulakukan kesalahan….”

“Tak usah banyak bicara lagi,” tukas Si Tiong pek sambil membentak gusar. “Aku orang she Si pasti akan menuntut balas atas penghinaan yang kuterima hari ini!”

Ketika mengucapkan kata kata itu, matanya membelalak memancarkan sinar buas.

Giginya saling gemerutuk menahan emosi. Sedemikian mengerikannya wajah pemuda itu, membuat Gak Lam-kun diam diam merasa amat bergidik.

Tapi Oh Bu-hong segera menggoyangkan tangannya berulang kali, ujarnya lirih. “Pek ji, kau tak usah banyak bicara lagi. Lohu akan segera membuyarkan perkumpulan Thi-eng pang kita!”

“Haah!? Hal ini mana boleh jadi?” teriak Si liong pek dengan perasaan terkesiap. “Keputusanku telah bulat. Kau tak usah banyak berbicara lagi!” kata Oh Bu-hong tegas.

Sementara itu, dari balik arena berkumandang lagi suara jeritan-jeritan ngeri yang menyayatkan hati. Puluhan orang jago lihay sudah roboh terkapar diatas genangan darah sendiri.

“Gak sauhiap” ujar Oh Bu-hong kemudian dengan wajah sedih, “Lohu sudah menderita kekalahan total, buat apa kau harus menciptakan pembunuhan yang tak berguna”

Gak Lam-kun mengambil keluar Lencana Pembunuh Naga dari sakunya, kemudian menerjang maju menghampiri naga berapi itu.

“Naga keparat, kenapa belum kembali ke sarangmu” bentaknya lantang dari tengah udara.

Rupanya naga api itu tahu kalau orang tersebut adalah tandingannya, sambil mengipat ekor buru-buru makhluk raksasa itu menerobos kembali ke dalam istana api.

Setelah naga itu lenyap dari pandangan, Oh Bu-hong baru memandang sekejap kearah anak buahnya dengan perasaan berat, ujarnya dengan suara sedih, “Saudara sekalian, sampai berjumpa lagi…” “Suhu, kau hendak kemana?” teriak Si Tiong-pek cemas.

“Setinggi tingginya pohon daun akan gugur kembali kebumi. Dunia persilatan demikian luas tak sulit bagiku untuk mencari tempat pertapaan baru…”

Si Tiong-pek segera menggoyangkan tangannya berulang kali, katanya. “Seenak- enaknya dunia persilatan, di rumah sendiri adalah paling enak. Suhu! Baliklah ke dalam markas!”

Oh Bu-hong menghela napas sedih. “Kenangan lama paling mudah menimbulkan kesedihan. Aku tak ingin kembali ke tempat lama yang penuh kenangan itu, lebih baik pergi jauh dari semua orang!”

“Suhu apakah kau sama sekali tak memperdulikan lagi usaha kita selama ini untuk membangun perkumpulan Thi-eng pang?” keluh Si Tiong pek, wajahnya murung.

“Kenangan lama pasti akan berlalu. Kesemuanya itu sudah tinggal impian belaka. Sejak sekarang dalam dunia persilatan sudah tiada orang yang bersama Thi-eng siu lagi….”

Si Tiong pek menghela napas panjang, kembali ia berkata, “Kekayaan Thi-eng pang tak terhitung dengan jari tangan, apakah suhu tak akan memperdulikannya juga?”

Oh Bu-hong menggeleng. “Nama kedudukan den harta sudah banyak kurasakan. Mulai sekarang aku tidak suka memburu hal-hal itu lagi. Aku hanya ingin mencari ketenangan hidup, melihat burung dihutan, memancing ikan di telaga hidup bebas tanpa pikiran, damai merdeka sentausa selamanya”

Tiba tiba si nenek berambut putih dari perguruan Panah Bercinta itu maju kedepan dan menuju kehadapan Oh Bu-hong sambil membawa kaitan Wu kim cui kou miliknya. Setelah menghela napas, dia berkata, “Untuk kemenangan atas bertobatnya Oh-Pangcu dari semua kesesatan, aku si perempuan tua ingin menyumbangkan sedikit tanda mata ini sebagai kenangan…”

Air mata Oh Bu-hong jatuh bercucuran semakin deras, tiba tiba ia memegang tangan perempuan tua itu dan berbisik, “Si-hun ikutlah aku. Mari kita pergi bersama!”

“Bu-hong, kau masih kenal aku?” bisik nenek berambut putih itu dengan air mata bercucuran.

“Habis gelap terbitlah terang, sudah lama aku mencarimu dalam impian. Tak nyana setelah kita sama sama menjadi tua, akhirnya bisa bersua kembali…. Yaaa, semenjak bertemu denganmu, aku sudah menduga siapakah kau….!”

Perempuan tua itu menggeleng pelan, “Sinar senja menang cantik jelita, sayang selewatnya magrib malam haripun tiba. Kita sudah sama-sama tua renta, tak mungkin lagi untuk berdampingan sepanjang masa…”

“Sepuluh tahan kita berpisah, sembilan tahun aku terlalu tarkanang. Rembulan ada kalanya setengah ada kalanya purnama. Si hun, Walaupan kita berdua sudah tua namun perasaan kita tetap kekal, aku bisa baik-baik marawat dirimu!” Nenek berambut putih itu tertawa sedih, “Bertemu kembali dengan kekasih, kekasih telah tua. Sepuluh tahun terkenang air matapun mengering. Aku bertanya kepada gunung gunung tak menyahut, aku bertanya kepada telaga telaga tak juga menjawab. Bu-hong aku tak bisa mengikutimu!”

“Kenapa?” seru Oh Bu-hong dengan perasaan gelisah.

“Sepuluh tahun kita berpisah sembilan tahun kau selalu terkenang. Apa yang telah kau lakukan pada setahun yang terakhir?” tanya nenek itu pedih.

“Untuk menemukan kekasih, ujung langit kujelajahi. Sepuluh tempat yang kukunjungi sepuluh tempat kosong. Pada tahun yang terakhir aku betul betul merasa putus asa!”

Saking terharunya air mata jatuh bercucuran membasahi seluruh wajah nenek berambut putih itu .

“Kenangan lama tak akan kembali. Lebih baik kita cari dari kenyataan saja…” bisiknya. “Jadi kau telah setuju?” seru Oh Bu-hong dengan wajah berseri karena gembira.

Sambil menangis si renek berambut putih itu manggut manggut. “Setelah kudengar pembicaraan kekasih kuketahui hati kekasih. Aku bersedia mengikutimu sampai mati. Bu- hong, Mari kita pergi!”

Ji Cin-peng segera maju ke depan, serunya sambil tertawa, “Siau popo, kuucapkan selamat berbahagia untukmu. Semoga kalian berdua bisa rukun selalu sepanjang masa….”

Dengan terharu nenek itu menjawab. “Sepuluh tahun menunggu derita akhirnya derita menjadi beres. Aku tak berharap bisa hidup sepanjang masa. Asal bisa pulang ke alam baka bersama, sekalipun harus mati di tengah gunung, apa pula yang musti dirisaukan?”

“Orang persilatan ada yang tua ada yang muda, meski ambisi kalian telah lenyap golok mestika belumlah tua moga-moga dikemudian hari kalian berdua masih mau sering-sering berkunjung ke perguruan Panah Bercinta sebagai tamu kehormatanku!”

Oh Bu-hong segera tertawa terbahak bahak, “Kematian melenyapkan budi dan dendam senjata ditukar dengan batu kemala. Walaupun lohu telah pergi semoga Thi-eng pang dan Cian-cing kau bisa hidup damai berdampingan sepanjang masa. Moga-moga kalian jangan bertarung lagi dan bersama-sama membangun dunia persilatan…..”

Agaknya gelak tertawa itu merupakan gelak tertawa yang paling bebas dan gembira selama banyak tahun ini. Selesai tertawa ia merasa hatinya amat lega.

Tapi pada saat itulah tiba-tiba terdengar Si Tiong pek mendengus dingin, kemudian melengos ke arah lain.

Sambil menggelengkan kepalanya Oh Bu-hong menghela rapas panjang, katanya lembut, “Anak Pek kau tak usah merasa tak puas, dikemudian hari….”

Dengan kasar dan marah Si Tioug pek mematahkan pedangnya menjadi dua bagian.

Kemudian sambil membantingnya ke atas tanah, ia mundur beberapa langkah ke belakang seraya membentak, “Sekarang kau sudah bukan suhuku lagi, kau sudah bukan guruku yaeg berada dalam bayangan ku. Dulu guruku adalah seorang jago yang gagah perkasa dan menguasahi wilayah utara dan selatan sungai besar, sedang kau? Huuuh…! Kau tak lebih cuma seorang pangemis tua yang berusaha melarikan diri dari kenyataan”.

Oh Bu-hong menghela napas panjang. “Aaai.. Semua kejadian didunia ibaratnya awan di angkasa. Setelah tertembus angin maka semuanya akan buyar, apa gunanya kau mesti menyinggung kembali persoalan itu?”

“Baik!” kata Si Tiong pek kemudian sambil tertawa. Rupanya dia telah mengambil keputusan, “Soal yang tua mundur yang muda muncul memang suatu hal yang umum terjadi dalam dunia persilatan. Kalau kau hendak pergi silahkan pergi. Aku pasti akan membangun duniaku sendiri….”

Seusai berkata dia lantas membalikkan badan dan melangkah pergi.

“Siau-pangcu!” buru-buru Cian seng khi-su Wan Min ciu berseru, “Bagaimana dengan kami?”

Sambil berpaling dan tertawa seram jawab Si Tiong pek, “Kalian semua telah menjadi tua mengikuti berkembangnya usia. Tunggu saja, mungkin suatu hari aku bisa membutuhkan kembali bantuan kalian…”

Oh Bu-hong gelengkan kepalanya berulang kali sambil menghela napas, katanya. “Kini murid durhakaku sudah pergi, perkumpulan Thi-eng pang telah buyar. Dalam dunia persilatan sudah tiada nama kami lagi”

Selesai berkata, sambil membimbing si nenek berambut putih itu pelan pelan mereka berjalan menuju ke barat.

“Suhu….!” tiba-tiba Ki Li-soat menjerit sambil menangis, lalu munculkan diri dari kerumunan orang banyak.

Oh Bu-hong berpaling seraya menghela napas panjang, katanya sedih. “Tiada daun didunia ini yang tidak gugur. Inilah saatnya buat kita untuk berpisah”

“Tidak aku hendak mengikuti sahu!” teriak Ki Li-soat sambil menggelengkan kepalanya.

Oh Bu heng tertawa sedih, sambil mengelus jenggotnya ia berkata. “Sekarang masa remajamu lagi mulai. Sedang aku tak lebih cuma tua bangka yang hampir memasuki liang kubur. Terlalu sayang kalau kau harus mengubur masa remajamu itu bersama kami. Anak bodoh, pergilah dari sini dan dampingilah kekasihmu…”

Belum selesai ia berkata bayangan tubuhnya sudah berada puluhan kaki dari tempat semula. Keputusannya untuk pergi betul-betul diluar dugaan siapapun .

“Suhu..! Tunggu aku!” teriak Ki Li-soat sambil menyusul dari belakang.

Terlihat gadis itu makin lama semakin menjauh dan akhirnya ikut lenyap pula dari pandangan mata.

Malam semakin mendekat, waktu senja makin berakhir mengikuti beredarnya sang waktu. Bubarnya perkumpulan Thi-eng pang jauh diluar dugaan siapupun. Perginya Oh Bu- hong serta nenek berambut putih dan minggatnya Si Tiong Pek dengan membawa dendam akan menjadi topik yang paling ramai dalam kisah selanjutnya.

Ji Cin-peng memandang keadaan cuaca, lalu berkata, “Gak sauhiap kita….”

Sebelum habis ia berkata, tiba tiba terdengar suara pekikan panjang yang memekikkan telinga berkumandang datang dari tempat kejauhan.

Menyusul kemudian sesosok bayangan manusis yang bertubuh ramping, dengan kecepatan luar biasa meluncur datang.

Koogsun Po menjadi amat girang segera teriaknya, “Nona Hong!”

Tampak seorang perempuan setengah umur yang berwajah cantik dengan gerak gerik yang genit masuk ke arena dan melirik sekejap sekeliling tempat itu.

Lalu sambil tertawa terkekeh-kekeh katanya, “Siapakah dlantara kalian yang menjadi muridnya Tok liong Cuncu?”

Gak Lam-kun segera mendengus. “Aku orang she Gak orangnya”

Suara itu sinis dan dingin, seakan-akan tidak memandang sebelah matapun terhadap perempuan itu.

Tiba-tiba paras muka perempuan itu berubah hebat, ia mendongakkan kepalanya dan tertawa seram.

Kemudian setelah berhenti tertawa dia berkata “Apakah Tok liong Cuncu masih hidup didunia ini?”

“Kau anggap itu urusanmu?” jengek Gak Lam-kun ketus.

“Manusia yang tak punya pendidikan, apakah suhumu tak pernah menyinggung tentang aku?”

Mendengar makian itu, Gak Lam-kun naik pitam dia langsung menyerbu kedepan sambil membentak. “Kau sendiri yang telur busuk!”.

Dengan suatu gerakan yang enteng dan seenaknya, telapak tangan kirinya ditonjok kemuka dengan jurus kim cian gin seng (jarum emas bintang perak).

Paras muka perempuan itu berubah hebat dengan cepat dia menghindar ke samping, kemudian dengan gerakan yang manis dia maju ke depan dan menotok bawah sikut Gak Lam-kun.

Cepat nian serangan tersebut. Hakekatnya dilakukan pada saat yang hampir bersamaan.

Gak Lam-kun terkesiap cepat dia mundur ke belakang seraya berseru, “Kau adalah Yan Lo-sat (perempuan iblis cantik) Hong Im!” Jelas dalam satu gebrakan barusan ia telah menduga siapakah lawannya.

Padahal hal ini tak perlu diherankan sebab dalam kitab catatannya Tok liong Cuncu telah menjelaskan secara terperinci ilmu silat andalan dari setiap orang musuh besarnya.

“Kalau kau sudah tahu siapakah aku, mengapa belum juga berlutut untuk minta ampun….” seru Yan Lo-sat Hong Im dengan suara sedingin salju.

Gak Lam-kun segera tertawa terbahak babak. “Haa.. haa… haa… Berlutut dan minta ampun kepadamu? Huuh, jangan mimpi! Justru aku hendak membunuhmu!”

“Kau tak akan mampu!”

Gak Lam-kun gelengkan kepalanya berulang kali. “Dulu mungkin aku tak mampu. Tapi sekarang hanya masalah waktu. Coba kalau aku tidak teringat dengan pesan guruku yang ingin membalas dendam sendiri atas sakit hatinya, hari ini kau tak akan lolos dari tanganku!”

Dengan nada kurang percaya Yan Lo-sat (iblis perempuan cantik) Hong Im berkata, “Bila Tok liong Cuncu dapat muncul sekali lagi, meski aku harus mati, aku akan mati dengan hati pasrah!”

“Baik” jawab Gak Lam-kun sambit tertawa. “Tiga hari mendatang, suhuku pasti akan datang menemuimu”

“Aku rasa hal itu tampaknya suatu yang mustahil, tak mungkin bisa terjadi”

Berada dalam keadaan yang begitu jelas dan nyata, dia tetap tak percaya kalau Tok liong Cuncu masih bisa lolos dari kematiannya walaupun sekujur badannya sudah penuh ditandai dengan puluhan buah bacokan yang dalam.

Sudah barang tentu masih terdapat banyak hal yang dicurigai olehnya, apalagi Yan Lo- sat Hong Im pernah menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana parahnya luka yang diderita Tok liong Cuncu. Waktu itu dia sendiripun berkeyakinan, sekalipun Hoa To lahir kembali, belum tentu ia sanggup mengobati lukanya itu.

Mendadak…

Dengan suara yang keras bagaikan geledek Jit poh lui sim ciam (tujuh langkah panah inti geledek) Lui Thian seng membentak, “Orang she Gak, jangan bergerak!. Kalau kau berani sembarangan bergerak, jangan salahkan kalau aku akan bertindak keji!”

Tampak panah inti geledek yang dahsyat dan mematikan itu sudah dirasakan persis ke ulu hati Gak Lam-kun. Dalam keadaan begini, asal dia memencet tombol pada senjatanya itu, niscaya anak panah yang mematikan itu akan berhamburan kemana-mana.

”Mau apa kau?” tegur Gak Lam-kun sambil mengangkat bahu.

Pelan-pelan dia bergeser dari posisinya semula. Ini membuat Jit poh lui sim ciam Lui Thian tidak berani sembarangan bergerak dan melepasksn serangan. “Serahkan Lencana Pembunuh Naga itu kepadaku!’“ bentak Jit poh lui sim ciam Lui Thian seng sambil tertawa seram.

Gak Lam-kun tertawa. “Huuh! Kau lagi bermimpi disiang hari bolong, apa tidak kuatir kalau sampai ikut melayang” serunya.

Kembali Lui Thian seng tertawa seram. “Hee… hee…hee… Orang mampus lantaran harta, burung mati lantaran makanan, itulah teori yang umum dan sudah lazim berlaku didunia ini”

Tiba tiba….

Serentetan suara kim yang datar dan rendah menggeletar memecahkan keheningan, suasana disekeliling jagadpun seakan-akan berubah menjadi gelap gulita.

“Plaaaak!” percikan bunga-bunga api berhamburan kemana-mana entah bagaimana caranya, tapi tahu-tahu panah Jit poh lui-sim cian yang maha dahsyat itu sudah rontok diatas tanah dan meledak sendiri. Pasir dan debu segera beterbangan kemana-mana, ledakan yang keras itu amat memekikkan telinga.

Sementara Lui Thian seng, sendiri sudah terkapar diatas tanah dalam keadaan terluka parah.

“Uuaaaak….!”

Darah segar muntah keluar bagaikan air mancur dari mulut Jit poh lui sim ciam Lui Thian seng, kemudian ia mendengus karena kesakitan, pancaran sinar gusar, dendam dan penasaran mencorong keluar dari balik matanya,

Mengikuti arah yang ditatap olehnya tampak si gadis berbaju perak itu sedang pelan- pelan meletakkan harpanya ke dalam pangkuan.

Sambil tertawa merdu ia berkata, “Barusan, aku cuma mempergunakan tenaga sebesar dua bagian saja. Coba kalau ku-gunakan tenaga. sebesar lima bagian, siapapun pasti sudah tak bisa bertemu lagi denganmu”

Lui Thian seng mendengus dingin. “Hmmm… Antara kita berdua telah terikat dendam sakit hati yang lebih dalam dari samudra. Ingat saja? Hutang ini pasti akan ku tuntut suatu ketika”

Selesai berkata dengan susah payah dia merangkak bangun dari atas tanah, lalu dengan sempoyongan berlalu dari tempat itu.

Nona berbaju perak itu tertawa merdu, dia bergeser ke depan dan memandang ke arah Gak Lam-kun sambil tertawa manis.

Semua jago disekeliling tempat itu yang menyaksikan kejadian tersebut menjadi tertegun dan termangu-mangu, sebab senyuman tersebut benar-benar indah, cantik dan mempersona hati orang.

Yan Lo-sat Hong Im yang menyaksikan senyuman itu juga ikut tertegun, kemudian sambil menjatuhkan diri berlutut, sapanya, “Susiok!” “Siapa kau?” tegur nona berbaju perak itu agak tertegun, “Mengapa kau sebut aku sebagai paman guru?”

“Bukankah kau adalah Ang ih kim cha (tusuk konde emas baju merah) dari perguruan Tay khek bun, Gui Bok eng yang sudah lenyap semenjak enam puluh tahun berselang?” seru Iblis Perempuan cantik Hong Im dengan Wajah tercengang.

Sebagaimana diketahui, semenjak Ang Ih kim cha Gui Bok eng menjatuhkan arwahnya ke dalam tubuh si nona berbaju perak itu, baik potongan wajah maupun potongan badannya telah mengalami suatu perubahan yang sungat aneh, banyak dibanyak bagian tempat justru mempunyai kemiripan dengan Ang ih kim cha itu pribadi.

Maka dengan cepat nona berbaju perak itu tersenyum,ujarnya. “Aku telah berjumpa dengan susiokmu itu. Dia sudah lama meninggalkan dunia….”

“Bohong!” tiba tiba Yan Lo-sat Hong Im membentak keras.

Seraya berkata, tiba-tiba badannya melompat ke atas dengan kecepatan luar biasa, kemudian menggunakan jurus Hui hong ti seng (pelangi terbang memetik bintang), suatu jurus serangan yang tangguh dari perguruan Tay khek bun dia totok dada si nona terse- but.

Tiga malaikat dari wilayah See ih menyaksikan kejadian itu menjadi amat teperanjat, buru-buru mereka memburu ke tengah arena untuk memberi pertolongan.

Sinona berbaju perak sendiri juga merasa tertegun oleh kejadian itu. segera bentaknya “Kau berani?”

Entah bagaimana caranya menghindari tanpa disadari ia telah pergunakan suatu gerakan tubuh yang sangat aneh dan belum dikenali sebelumnya untuk berkelit dan meloloskan diri dari sisi tubuh Yan Lo-sat Hong im.

Cepat cepat Yan Lo-sat Hong Im mengundurkan diri dari situ, dengan sikap yang sangat menghormat dia berkata, “Susiok, kenapa kau masih mencoba untuk mengelabuhi aku?”.

“Kau sudah salah melihat orang” seru nona berbaju perak itu dengan wajah masih diliputi hawa kegusaran.

“Tidak mungkin salah!” jawab Yan Lo-sat Hong Im dengan nada yang tegas dan mantap, “Gerakan Im liong jut siu (naga mega tiga kali mencuat) yang kau pergunakan barusan merupakan gerakan tubuh susiok yang paling diandalkan. Dalam dunia persilatan dewasa ini tak mungkin ada orang kedua yang bisa pergunakan gerakan tubuh itu kecuali Susiok seorang…”

Kiranya untuk membuktikan apakah si nona berbaju perak itu benar-benar adalah Ang ih kim cha yang dulu atau bukan, Yan Lo-sat Hong Im telah mempergunakan jurus Hui hot ti seng dari Tay khek bun yang merupakan suatu serangan serangan paling dahsyat untuk melakukan percobaan. Jurus serangan yang ia pergunakan itu merupakan salah satu ilmu yang paling diandalkan oleh perguruan Tay khek bun, tidak gampang untuk melepaskan diri dari ancaman itu kecuali bila orang tersebut sanggup menggunakan ilmu Im liong jut siu yang amat sakti tersebut. Kalau tidak maka korban pasti akan terluka oleh serangan tersebut.

Padahal kalau dibicarakan sesungguhnya, si nona berbaju perak itupun tak tahu sedari kapan dia bisa mempergunakan ilmu langkah semacam itu, diam-diam ia merasa kaget bercampur heran.

Dari mana dia bisa tahu kalau sukma Ang ih kim cha yang berada dalam tubuhnya telah mulai mempengaruhi semua jalan pemikirannya. Tanpa ia sadari, semua kepandaian Tay khek bun yang maha dahsyat telah dipahami olehnya tanpa terasa.

Setelah tertegun sejenak nona berbaju perak itu berkata, ”Kau bilang gerakan tubuh yaug barusan kugunakan itu adalah gerakan Im liong sam siu?”.

“Betul!” Yan lo sit Hong Im manggut-manggut tanda membenarkan “Gerakan tubuh itu merupakan salah satu ilmu langkah rahasia dari perguruan Tay khek bun yang paling tersohor dimasa silam…..”

Mendengar semua penjelasan tersebut nona berbaju perak itu menghela nafas panjang. “Aaaaah….! Mungkin saja aku adalah susiok mu, mungkin juga bukan….”

Yan Lo-sat Hong Im menjadi girang sekali, segera teriaknya, “Susiok mari kita bersama segera pulang ke perguruan Tay khek bun….!”

Nona berbaju perak itu menggelengkan kepalanya berulang kali, sambil menarik tangan Gak Lam-kun mereka berangkat menuju keluar.

Menyaksikan hal itu Yan Lo-sat Hong Im menjadi amat gelisah dengan cepat dia mengejar dari belakang.

Gak Lam-kun segera berpaling lalu setelah tertawa dingin katanya, “Aku sekarang belum ingin membunuhmu, buat apa kau mencari penyakit buat diri sendiri?”

Yan Lo-sat Hong Im kembali menjadi tertegun, terpaksa dia menghentikan gerakan tubuhnya dan berdiri termangu-mangu ditem-pat.

Gak Lam-kun kembali tertawa dingin tiada hentinya, bersama nona berbaju perak itu kembali mereka melanjutkan langkahnya.

Semua gerak-geriknya bersama gadis berbaju perak itu dapat dilihat semua oleh Ji Cin- peng dengan amat jelasnya. Tanpa terasa timbul perasaan yang amat sedih dalam hatinya. Ia merasa hatinya seperti disayat-sayat dengan pisau tajam. Ia membenci kepada diri sendiri kenapa tak berani berterus terang kepada kekasihnya bahwa dia adalah kekasihnya yang dahulu.

Menyaksikan Gak Lam-kun dan nona berbaju perak itu sudah siap meninggalkan tempat itu, tanpa sadar Ji Kiu liong segera berteriak keras, “Gak toako, kau hendak kemana?” Ketika mendengar seruandari Ji Kiu liong itu Gak Lam-kun sendiripun merasakan hatinya bergetar keras, buru-buru dia menghentikan gerakan tubuhnya seraya berpaling. “Adik Liong!” katanya kemudian, “Untuk sementara waktu, kau boleh berada bersama- sama enci Bwe. Setelah aku menyelesaikan semua pekerjaan pasti akan kujemput kembali dirimu”

Berbicara sampai disitu, dia lantas berpaling dan memandang sekejap kearah Ji Cin- peng.

Ketika itu Ji Cin-peng sedang berdiri dengan air mata membasahi seluruh wajahnya, ia balas memandang tatapannya dengan wajah yang lesu, murung dan pedih.

oooOOOOoooo

MENYAKSIKAN keadaannya yang cukup mengenaskan itu, Gak Lam-kun menjadi tertegun. Belum pernah ia menyaksikan Ji Cin-peng memperlihatkan mimik wajah seperti ini, dengan demikian kata kata yang sebenarnya telah disiapkan segera ditelan kembali kedalam perut.

Selelah termenung sekian lama, akhirnya setelah menghela napas sedih pikirnya dihati, “Aaaaai…! Semoga saja nona Bwe jangan menaruh rasa cinta kepadaku. Sesungguhnya akupun cinta kepadamu, menghormati dirimu. Tapi sekarang aku telah menjadi suami-istri dengan nona berbaju perak ini. Sekarang aku tak berani menaruh ingatan lain kepadamu, tapi selalu akan kuingat dirimu, seperti juga rasa hormatku kepadamu di masa-masa yang lalu….”

Pikiran Gak Lam-kun terasa gundah, kalut dan bercampur baur tak karuan.

Sebaliknya Ji Cin peng merasakan hatinya hancur lebur, rasa sedihnya tak terlukiskan dengan kata-kata.

Ketika empat buah rnata saling bertemu sampai lama sekali mereka tak mengucapkan sepatah katapun .

Selapis rasa cemburu yang keji dan mendendam tiba tiba melintas diatas wajah si nona berbaju perak yang cantik jelita itu…

Ditengah suasana seperti inilah, Yan Lo-sat Hong Im berjalan kehadapan si nona berbaju perak itu. Kemudian berkata dengan menghormat. “Susiok, tecu mendapat pesan dari mandiang guruku untuk mengundang susiok agar kembali keperguruan Tay khek bun serta membangun perguruan kita agar cemerlang dan makin terkenal”

Mendengar ucapan tersebut, selapis hawa napsu membunuh yang tebal segera menyelimuti wajah noia berbaju perak itu, katanya sambil tertawa dingin, “Aku sudah bilang tidak pulang yaa tidak pulang. Apakah kau hendak menangkap aku untuk diajak pulang? Apalagi aku juga bukan susiok kalian, aku bukan Kong ih kim cha Gui Bok eng. Kalau kau berani menghalang halangi gerakanku lagi, jangan salahkan kalau aku akan bertindak keji, dan tidak sungkan-sungkan lagi terhadapmu”

Paras muka Yan Lo-sat Hong Im berubah hebat setelah mendengar perkataan itu, tapi nada ucapannya masih tetap sungkan dan menghormat. Kembali katanya. “Susiok mendiang guruku pernah berpesan Bila susiok bisa ditemukan kembali, maka bagaimanapun juga kau harus diundang pulang ke perguruan, sebab hanya susiok seorang yang bisa mengembangkan perguruan Tay-khek-bun kita sehingga menjadi termashur dalam dunia persilatan”

Nona berbaju perak itu mendengus dingin dampratnya. “Kurangajar, rupanya kau benar-benar sudah bosan hidup lagi didunia ini!”’

Seraya berkata jari tangannya segera disentil ke depan melancarkan sebuah serangan Segulung desingan angin tajam yang terasa menyayat badan segera meluncur kemuka

dan menerjang ketubuh Yan Lo-sat Hong Im.

Menghadapi ancaman yang begitu dahsyatnya Yan Lo-sat Hong Im merasa amat terperanjat. Buru-buru dia melangkah ke samping dan beruntun menghindar sebanyak tiga kali dengan suatu gerakan tubuh yang sangat aneh

“Breeet!”

Betapa cepatnya dia menghindar, jubah panjangnya toh sempat tersambar juga oleh desingan jari tangan sinona baju perak yang maha dahsyat itu. Paha putihnya yang montok dan halus segera tampak jelas didepan mata.

Paras muka Yao Lo-sat Hong Im segera berubah hijau membesi. Sambil tertawa dingin serunya. “Bagus sekali. Susiok! Kau dulu yang bersikap kasar kepade boanpwe. Jangan salahkan kalau Hong Im tak akan bersikap sungkan-sungkan lagi kepadamu”

“Kau purya kepandaian apa? Gunakan saja semuanya!” jengek sinona baju perak itu dengan suara dingin.

Tiba-tiba Yan Lo-sat Hong Im tertawa seram serunya, “Susiok, ilmu silatmu sudah termashur di kolong langit semenjak enam puluh tahun berselang. Boanpwe juga tahu kalau kepandaianmu nada tandingannya di kolong langit. Tentu saja kepandaian boanpwe tak lebih hanya sinar kunang-kunang yeng dibandingkan dengan sinar rembulan.

Walaupun demikian, boanpwe persilahkan susiok untuk merasakan kehebatan dari Tay khek ngo heng kiam tin yang baru saja kami ciptakan. Bila ada sesuatu kekurangan, sudilah kiranya susiok memberi petunjuk”

Dari perkataannya itu dapat diketahui bahwasanya dia hendak mempergunakan ilmu barisan Tay khek ngo kiam tin dari perguruan Tay-khek bun untuk mengurungi si nona berbaju perak itu.

Pada saat itulah, dari sebelah timur pelan-pelan berjalan keluar lima orang kakek berjubah abu-abu yang sama-sama menyoren pedang.

Ketika tiba disamping Yan Lo-sat Hong Im, salah seorang kakek yang bertubuh kurus dan ceking itu segera berkata dengan serak serak basah. “Hong buncu, ada petunjuk apakah kau mengundang kami?”

Dengan suara dalam Yan Lo-sat Hong Im berkata, “Tay khek ngo kiamsu, bentuk barisan Tay- khek ngo-heng kiam tin kali ini!” Gak Lam-kun kuatir kalau nona berbaju perak itu kena dipecundangi orang, buru-buru dia melompat kedepan sambil tertawa tergelak-gelak dengan nyaringnya. “Hong Im!” dia berseru keras. “Biar aku orang she Gak yang mencoba dahulu kehebatan ilmu barisan itu, ingin kulihat sebenarnya sampai dimana kelihayannya”

Sementara itu, kelima orarg kakek berbaju abu-abu itu sudah menyebarkan diri dan masing masing berdiri pada posisi Ngo-heng yang terdiri dari Kim (emas), Bok (kayu), Sui (air), Hwee (api) dan Teh (Tanah).

Kelima orang itu berdiri dengan tangan kiri menyanggah pedang, tangan kanan bersiap siaga, mereka bersiap-siap dengan tubuh yang tegap kokoh bagaikan batu karang.

Dengan pandangan sinis, Yan Lo-sat Hong Im memandang sekejap ke arah Gak Lam- kun.

Kemudian tanpa terasa mendongakkan kepalanya dan tertawa terkekeh kekeh. Suara tertawanya penuh mengandung nada sindiran mengejek serta mencemooh.

Gak Lam-kun yang ditertawakan seperti itu menjadi naik pitam, dengan suara keras bentaknya, “Hong Im, kau pastas dibikin mampus!”

Ditengah bentakan tersebut, telapak tangannya segera diayunkan ketengah udara melepaskan sebuah pukulan dahsyat yang langsung menerjang ke badan Hong Im.

Mimpipun Yan Lo-sat Hong Im tidak mengira kalau dalam usia yang begitu muda ternyata Gak Lam-kun memiliki tenaga dalam yang begitu sempurna. Kekuatan dari serangannya itu sudah cukup untuk menggempur sebuah bukit.

Terlepas soal tenaga dalam, yang terutama adalah tenaga aneh yang terpancar ke luar dari tubuhnya itu sungguh membuat orang sukar untuk menghadapinya. Ternyata dibalik kekuatan tadi terkandung suatu tenaga hisapan yang menyerupai dengan hawa Khikang tingkat tinggi.

Sikap Yan Lo-sat Hong Im yang semula mencemooh dengan cepat beralih menjadi serius dan berat, tiba tiba saja sepasang telapak tangannya diputar dan didorong sebanyak tiga kali kedepan.

“Sret! Sreer! Sreet!” gulungan hawa pukulan yang kuat memancar kemana-mana.

Selembar wajah Yan Lo-sat Hong Im yang putih dan halus, segera berubah menjadi merah padam. Lama sekali belum juga membuyar….

Kiranya gaun panjang Hong Im sebatas lutut kebawah telah dipapas robek oleh sambaran angin pukulan Gak Lam-kun yang tajam, sehingga tampaklah tumitnya yang putih bagaikan pualam dan halus itu.

Selama hidup belum pernah Yan Lo-sat Hong Im mengalami penghinaan seperti apa yang dialaminya hari ini. Sedemikian gusarnya dia sampai sepasang matanya melotot keluar dan memancarkan selapis cahaya tajam yang menggidikkan hati, ditatapnya wajah Gak Lam-kun tanpa berkedip. Pelan-pelan Ji Cin-peng menghampiri Gak Lam-kun, lalu ujarnya dengan nada sedih, “Engkoh Gak, gunakan pedangku ini!”

Sebutan “Engkoh Gak” itu kontan saja menggetarkan perasaan Gak Lam-kun. Ia seperti masih teringat bahwa tiga tahun berselang, ada orang juga memanggilnya dengan sebutan itu. Dialah kekasih hatinya Ji Cin- peng!

Dari balik biji mata Ji Cin-peng yang jeli, Gak Lam-kun dapat menangkap sorotan cahaya pedih yang amat memilukan hati……

Pada ketika itu juga, kembali Gak Lam-kun merasa bahwa sorot mata itu persis seperti sorot mata Ji Cin-peng….

Mendadak gelak tertawa yang menyeramkan memotong jalan pemikiran Gak Lam-kun itu.

Tampak sebilah pedang panjang yang memancarkan cahaya berkilauan, dengan kecepatan luar biasa menusuk datang.

Menyaksikan datangnya ancaman tersebut Ji Cin-peng segera menjerit tertahan karena kaget.

Gak Lam-kun sedkitpun tidak menjadi gugup. Dengan cepat tubuhnya berjumpalitan dan mundur sejauh tiga depa lebih dari posisi semula. Pergelangan tangannya segera diputar. Pedang pendek Giok siang kiam ini diputar sedemikian rupa membendung datangnya sergapan kilat dan pedang Hong Im tersebut.

Rasa marah dan dendam yang berkobar dalam hati Yan Lo-sat Hong Im pada saat ini tak terlukiskan dengan kata kata. Apalagi peristiwa itu merupakan suatu kejadian yang paling memalukan untuk kaum perempuan pada jaman itu. Dalam gelisah dan gusarnya dia membentak keras, sambil menerjang ke muka pedangmya langsung melepaskan serangan mematikan.

Ilmu silat yang dimiliki Gak Lam-kun saat ini sudah mencapai tingkatan yang luar biasa sekali. Sesudah menyambut tiga buah serangan berantai dari Hong Im dengan cepat dia unjukkan gigi pula dengan memutar senjatanya dan secara beruntun melepaskan tiga buah serangan kilat.

Menghadapi tiga serangan berantai yang tertuju ke arahnya itu, ternyata Yan Lo-sat Hong Im, sama sekali tidak berkelit ataupun menghindar. Hawa murninya segera dihimpun ke pusat dan disalurkan ke dalam tubuh pedang. Dengan gerakan menotok mencakil dan menekan secara beruntun ia lepaskan pula tiga kuntum bunga pedang.

“Traang. Traang! Traang!” benturan senjata yang amat ramai menggema di udara.

Diantara beterbangannya percikan bunga api, dengan kekerasan ia bendung datangnya ketiga buah serangan tersebut.

Tapi setelah menyambut ketiga buah serangan tadi, Yan Lo-sat Hong Im merasakan lengan kanannya menjadii kesemutan dan kaku. Telapak tangannya pecah-pecah sakitnya bukan kepalang. Kenyataan ini membuat hatinya amat terkesiap, pikirnya, “Jangan-jangan ia sudah berhasil mencapai tingkatan tenaga dalam seperti apa yang dimiliki Tok Liong cuncu Yo Long dimasa lalu…”

Berpikir sampai disitu, tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benak Yan Lo-sat Hong Im.

Cepat-cepat dia memusatkan segenap pikirannya. Dengan melangkah ke posisi Tiong kiong, hawa murninya dihimpun kembali kepusar. Lalu dari pusar hawa murni itu disalurkan kembali kedalam pedang.

Agaknya dia hendak mempergunakan ilmu pedang Tay khek cap sa kiam, suatu ilmu pedang andalan partai Tay khek bun untuk menghadapi kelihayan lawan.

Begitu ilmu pedang Tay khek cap sau kiam digunakan, maka ketenangannya bagaikan bukit karang. Gerakannya bagaikan aliran sungai, begitu lembut tepi berkepanjangan sehingga membikin hati orang bergidik rasanya.

Sekalipun Gak Lam-kun sendiri berilmu tinggi, ilmu pedangnya juga telah mencapai puncak kesempurnaaan, tapi setelah bertemu dengan ilmu pedang yang tiada tandingannya di dunia ini, sesaat lamanya dia agak kewalahan juga dibuatnya hingga belum juga berhasil untuk memecahkannya.

Tampaklah serangan demi serangan dari Gak Lam-kun yang dahsyat dan kuat itu semuanya berhasil dipunahkan oleh Hong Im dengan ilmu pedang Tay khek cap sa nya yang memanfaatkan beberapa macam taktik lembut seperti menempel, mementil, menggetar, memancing, memunah, menggulung dan menghisap.

Tenaga dalam yang dimiliki Gak Lam-kun sungguh mengejutkan hati. Setiap bacokan dilancarkan tentu disertai dengan hawa pedang yang sanggup membelah batu dan baja. Lagipula pengetahuanya dalam ilmu silat luas sekali. Banyak jurus-jurus serangan partai- partai lain yang dipahaminya. Ini membuat Hong Im yang bertarung dengan pergunakan Tay khek kiam dibikin kewalahan juga oleh tenaga dalamnya yang sempurna.

Pada mula pertarungan, keadaan mereka masih seimbang dan sama kuat. Tapi setelah bergebrak puluhan jurus kemudian, lambat laun jurus-jurus pedang yang dipergunakannya itu mulai didesak deh segulung tenaga tak berwujud yang memaksa gerakan serangannya makin lama semakin lamban, sedangkan Gak Lam-kun sendiri makin bertarung semakin bersemangat.

Dalam keadaan begitulah kelima orang jago pedang dari perguruan Tay Khek bun melakukan pengepungan secara tiba tiba dan mengurung Gak Lam-kun serta Hong Im ditengah arena, lima pedangnya segera bergerak bersama ikut melancarkan serangan.

Menyaksikan kejadian itu Yaan Lo-sat Hong Im menjadi amat kegirangan. Sambil membentak gusar dia lepaskan tiga buah serangan berantai yang memaksa Gak Lam-kun harus miringkan badan sambil bergeser beberapa jengkal jauhnya, kini ia berdiri dihadapan seorang kakek yang bertubuh kurus kering.

Gak Lam-kun memandang sekejap sekeliling tempat itu. Semangatnya tiba-tiba berkobar sambil berpekik nyaring katanya sambil tertawa, “Sudah lama aku dengar orang bilang, Tay khek ngo heng kiam tin adalah suatu ilmu barisan yang sangat iihay dan sejajar namanya dengan barisan Lo han tin dari partai Siau lim. Banyak tahun sudah aku ingin menjajalnya tanpa menjumpai kesempatan. Sungguh tak nyana aku bakal menjumpai barisan kenamaan ini di atas pulau terpencil semacam ini. Kejadian ini benar benar merupakan kesempatan bagus yang belum pernah kujumpai. Hari ini juga aku akan mencoba sampai dimanakah kehebatan dari ilmu barisan ini….”

Ditengah gelak tertawa panjangnya, Gak Lam-kun telah berdiri sambil menyilangkan pedangnya didepan dada. Ia berdiri kokoh dingin seperti sebuah bukit karang.

Ilmu barisan Tay khek ngo heng kiam tin meski merupakan ilmu sakti dari perguruan Tay khek, namun selama enam puluh tahun belakangan ini belum pernah Tay khek pay mempergunakan barisan itu.

Kiranya Tay khek ngo heng kiam tin tersebut ikut lenyap dan punah bersamaan dengan hilangnya Ang ih kim cha Gui Bok Eng dari dunia persilatan. Entah bagaimana kemudian enam puluh tahun kemudian, akhirnya rahasia ilmu pedang tersebut berhasil ditemukan kembali oleh Yan Lo-sat Hong Im setelah melewati suatu penyelidikan yang makan waktu cukup lama.

Setelah munghimpun tenaga dalamnya, pelan-pelan Gak Lam-kun mulai bergeser mendekati posisi sebelah timur kemudian ia tersenyum kepada jago jago Tay khek bun itu dan tidak berbicara.

Ditengah keheningan yang mencekam seluruh angkasa, mendadak pedang paodek Giok siang-kiam itu melejit ke udara dan langsung menghajar ke tubuh kakek itu.

Dengan suatu gerakan yang enteng sikakek miringkan badannya untuk menghindar, kemudian dengan jurus Ih hwe kun tun (perputaran roda dalam jagad) dia tangkis datangnya ancaman itu.

Begitu pertarungan berkobar, barisan pedang Tay khek ngo heng kiam tin pun segera mengalami perubahan….

Si kakak disebelah timur yang menangkis pedang Gak Lam-kun itu segera memutar senjatanya dan tiba-tiba berkelit kembali kesamping gelanggang pertarungan.

Begitu menjumpai peluang baik, Gak Lam-kun bermaksud untuk maju ke depan dan menyerang Yan Lo-sat Hong Im yang merupakan motor dari ilmu barisan tersebut.

Tiba-tiba bayangan manusia berkelebat lewat. Kakek yang berdiri dihadapannya itu telah menerjang ke muka menghadang jalan perginya. Lalu pedangnya dengan jurus Ji gi jut ciau (dua unsur mulai berkembang) menciptakan dua kuntum bunga pedang yang menusuk bagian atas dan bagian bawah tubuh lawan.

Gak Lam-kun tertawa dingin, pedang Giok siang kiamnya diputar menciptakan selapis cahaya bianglala yang menyilaukan mata. Senjata itu diayunkan ke muka dan segera memunahkan serangan yang aneh itu secara gampang.

Tapi sebelum Gak Lam-kun melancarkan serangan balasan, kakek yang berjaga disebelah barat telah menyelinap pergi, sementara kakek yang berjaga diposisi selatan mulai melancarkan serangan.

Semua perubahan dalam barisan Tay khek ngo heng kiam tin itu berubah dalam sekejap mata. Sekalipun Gak Lam-kun tak sampai terkurung oleh serangan demi serangan yang dilancarkan oleh barisan Tay khek ngo heng kiam tin tersebut, tak urung hatinya dibikin terkesiap juga olehnya.

“Ilmu barisan Tay kheh ngo heng kiam tin ini benar-benar bukan nama kosong belaka.

Hari ini aku musti menghadapinya secara berhati-hati” demikian ia berpikir.

Padahal sesungguhnya pengaruh ilmu barisan Tay khek ngo heng kiam tin tersebut jauh lebih lihay dari pada apa yang dibayangkan semula. Cuma saja didalam bentrokan yang barusan berlangsung, kelihayan dari ilmu barisan tersebut masih belum tertampak semua.

Haruslah diketahui, urusan dasar dari ilmu barisan itu adalah sebuah unsur dingin ditambah lima unsur panas. Tay khek dan ngo heng saling dorong mendorong saling bantu membantu yang berakibat timbulnya suatu sistem pertahanan serta penyerangan berantai yang berganti-ganti secara bergilir.

Gak Lam-kun adalah seorang pemuda yang cerdik, begitu dirasakan keamehan dari gerakan barisan tersebut, dengan hawa murninya dihimpun untuk bersiap siap menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan.

Kiranya dalam tiga gebrakan yang barusan berlangsung, iapun dapat merasakan bahwa dalam barisan Tay khek ngo heng kiam tin tersebut bukan saja merupakan suatu kombinasi kerja sama yang erat dan rapat dari enam jago, bahkan dalam setiap serangan dan pertahanan selalu mengandung perubahan tay khek dan ngo heng yang saling berubah tiada hentinya.

ia sadar, sekali kurang berhati-hati bisa berakibat fatal dari berubahnya, unsur ngo heng tersebut, jika pikirannya sudah dibikin kalut maka dia akan terkurung dibalik barisan pedang yang dikendalikan urusan tay khek.

Perlu diketahui, ilmu barisan Tay khek ngo heng kiam tin yang dibentuk dengan tenaga manusia, bukan saja mengandung perubahan dari unsur ngo heng yang pada umumnya berlaku. Lagipula lantaran maju mundurnya manusia seringkali akan mengalami pula seluruh perubahan dari gerakan barisan tersebut.

Tentu saja semua perubahan yang bakal terjadi itu sama sekali terlepas dari peraturan yang umum berlaku bagi perubahan ngo heng ini. Ini menyebabkan seseorang yang memahami unsur Ngo hengpun kadangkala dibikin kewalahan juga untuk menghadapi perubahan didalam barisan pedang.

Apalagi sekarang ditambah lagi dengan sebuah unsur tay khek yang sifatnya Im (dingin). Bukan saja hal mana membuat barisan pedang itu makin aneh dan rumit perubahannya membuat orang lain pun susah untuk menemukan titik kelemahan dari ilmu barisan tersebut.

Akibatnya setiap erang yang mulai terbawa oleh gerakan iimu barisan tersebut, akan kehilangan segenap kekuatannya untuk melepaskan serangan balasan.

Walaupun Gak Lam-kun angkuh dan tinggi hati, namun setelah merasakan sendiri tiga perubahan yang terjadi dalam barisan Tay khek ngo heng kiam tin tersebut, kesombongannya segera sirna tak berbekas. Dia pusatkan semua tenaga dan pikirannya untuk bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan. Yan Lo-sat Hong Im sendiri ketika dilihatnya secara tiba-tiba Gak Lam-kun meninggalkan posisi bergerak dengan berubah menjadi tenang serta enggan melepaskan serangan lagi, diam-diam kagum juga hatinya. Dia berpikir, “Orang ini memang jauh berbeda dengan orang-orang yang lain, ternyata dalam sekejap mata ia berhasil mengatasi keangkuhannya”

Pedang panjang dalam genggamannya segera di angkat, lalu dengan jurus peng sah liok ing (bubung manyar melayang dipasir) dia tusuk ke muka sementara kaki kirinya, maju selangkah dan memimpin Ngo heng melakukan perubahan…..

Dalam sekejap mata, lima kakek yang berjaga pada posisi ngo heng itu mulai bergeser dan berpindah tempat. Cahaya pedang bermunculan dari empat arah delapan penjuru dan bersama sama meluncur tiba dengan kecepatan luar biasa.

Gak Lam-kun membentak keras, pedang Giok siang kiam nya memancarkan selapis cahaya berkilauan yang tajam, dengan jurus Im wu mi thian (kabut dan mega menyelimuti angkasa) dia ciptakan berlapis kabut pedang yang menyongsong datangnya lapisan cabaya pedang lawan.

“Traaang! Traang! Traaaang”

Serentetan bunyi gemerincingan nyaring bergema memecahkan keheningan. Cahaya pedang yang menyerang kearahnya itu seketika lenyap dan sirna

Sementara itu, kelima orang kakek itupun merasa kaget bercampur terkesiap, karena sewaktu pedangnya saling membentur lengan pedang pendek Gak Lam-kun bukan saja mereka rasakan timbulnya segulung tenaga pantulan yang memantulkan kelima belah pedang tersebut, bahkan lengan kiri mereka menjadi kesemutan sehingga pedangnya nyaris terlepas dari genggaman.

Dengan cepat mereka berpikir. “Tenaga dalam yang dimiliki orang ini benar-benar amat sempurna. Untuk menghadapi manusia semacam ini paling benar kalau berusaha menghindar dari bentrokan kekerasan”

Perlu diketahui, kelima orang kakek ini, merupakan jago jago pilihan dari perguruan Tay khek bun. Mereka semua sama sama cekatan dan lihay. Tanpa diberi komando oleh Yan Lo-sat Hong Im, tiba-tiba mereka memutar tubuh masing-masing sambil melepaskan kembali sebuah tusukan kilat.

Lima bilah pedang menyergap lima buah tempat yang berlainan, bahkan dilancarkan pada waktu yang bersamaan. Jika seorang kurang lihay ilmu silatnya, jangan harap bisa menghindarkan diri dari ancaman tersebut dalam keadaan selamat.

GaK Lam-kun sendiri kian lama kian bertambah terkesiap juga setelah dilihatnya perubahan serangan musuh lambat laun semakin gencar dan aneh.

Dalam keadaan demikian, ia lantas menekuk lutut kirinya, mendadak seluruh badannya menjadi lebih rendah separuh bagian. Hawa murninya dihimpun kedalam kaki kanan lalu sekuat tenaga berputar. Pedang kirinya mengikuti perputaran tersebut secepat kilat melepaskan lima buah tusukan kilat. Dalam waktu singkat pedang-pedang yang menusuk tiba dan empat penjuru berhasil dibendung semua. Tidak menunggu barisan lawan sampai melakukan perubahan lagi, Gak Lam-kun berpekik nyaring. Kaki kanannya menjejak tanah sepenuh tenaga, lalu melejit ke udara. Pergelangan tangan kanannya segera diputar dengan kecepatan tinggi….

Dimana pedang Giok Siang kiam itu menyambar, segera terciptalah selapis bayangan pedang yang tebal yang diikuti dengan hawa pedang yang memekakkan telinga. Serangan dahsyat itu langsung mengurung sekujur badan Yan Lo-sat Hong Im dengan kecepatan tinggi.

Gak Lam-kun dapat merasakan akan keanehan serta kesaktian dari perubahan baris pedang itu. Dia sadar bila mengambil sistem pertahanan tanpa melakukan serangan balasan, dia akan terperosok dalam posisi yang terdesak dan lambat laun besar kemungkina akan dilukai orang.

Maka satu ingatan melintas dalam benaknya, timbul niatnya untuk melancarkan serangan balasan.

Itulah sebabnya, begitu selesai membendung perubahan jurus dari lima orang kakek itu, badannya langsung melejit ke udara dan menyergap perempuan itu dari tengah udara.

Dia tahu orang yang berjaga diposisi Tay khek adalah Yan Lo-sat Hong Im sendiri.

Posisi tersebut merupakan bagian yang terpenting dari barisan pedang itu, maka serangan yang dilancarkan dalam sergapan tersebut dilakukan dengaa kedahsyatan yang luar biasa, dia berhasrat untuk berhasii didalam serangannya.

Ketika dilihatnya serangan Gak Lam-kun dari tengah udara sangat lihay dan garang. Yan Lo-sat Hong Im tak berani menyambut secara keras lawan keras, tubuhnya segera melejit ke samping dan menghindar sejauh lima langkah lebih.

Setelah itu pedangnya segera menuding ke atas dia segera menggerakkan gerakan Ngo heng kiam yang dikombinasikan dengan Tay khek kiam. Seketika itu juga hawa pedang menyelimuti seluruh angkasa dan menciptakan selapis kabut pedang yang tebal, bayangan pedang dengan cepat bermunculan dari empat arah delapan penjuru.

Gagal dengan serangannya, dengan cepat Gak Lam-kun terjerumus ke dalam kepungan cahaya pedang yang sangat tebal.

Tay khek ngo heng kiam tin telah memperlihatkan perubahan yang lebih dahsyat lagi.

Enam sosok bayangan saling berkelebat sambil melancarkan serangan. Perubahan gerakan pedang mereka semakin sukar untuk diduga arah tujuannya.

Hawa pedang memenuhi seluruh angkasa, Gak Lam-kun seperti seekor naga sakti bergerak kian kemari diantara gulungan hawa pedang yang

tebal. Saban kali berputar kian kemari, sebentar dia menyerang kebarat sebentar lagi menerjang ke timur, kehebatannya tak terlukiskan dengan kata- kata

Tiba tiba Yan Lo-sat Hong Im membentak nyaring setelah memancing sebuah setangan dahsyat dari Gak Lam-kun sehingga miring kesamping, tiba-tiba ia maju dua langkah kesamping kanan pe-dangnya diayunkan dua kali dengan serangan gencar. Seteluh itu sambil memutar badannya, pedang itu menuding ke atas dan langsung melepaskan serangan kilat

Tindakan yang diperlihatkan Yan Lo-sat Hong Im itu sekaligus merupakan suatu kode rahasia untuk melakakan perubahan terhadap barisan pedang itu.

Terdengar lima orang kakek itu bersama-sama berpekik nyaring. Diantara ujung baju yang berkibar pedangnya berkibar diangkasa menciptakan pelbagai gerakan yang aneh. Mengikuti gerakan itu posisi dimanapun segera mengalami perubahan.

Begitu ilmu barisan Tay khek ngo heng kiam tin mulai berubah semua keadaan dan situasi disekitar sanapun ikut mengalami perubahan yang sangat besar.

Enam bilah pedang dengan mengeluarkan suara pekikan yang amat nyaring serta bayangan tebal bagaikan selapis kebut seperti ombak samudra ditengah amukan angin puyuh melanda datang berbarengan.

Secara lamat-lamat kedengaran bunyi angin dan guntur menggelegar di angkasa, baik bayangan tubuh Yan Lo-sat Hong Im mau pun lima jago pedang dari Ngo heng kiam tin seolah-olah sudah dilapisi oleh hawa pedang yang tebal sekali.

Untung saja tenaga dalam yang dimiliki Gak Lam-kun cukup sempurna. Walaupun di kurung oleh kabut pedang yang dahsyat ba-gaikan amukan ombak di tengah samudra, namun dia tetap berdiri sekokoh batu karang dan sedikitpun tidak terpengaruh oleh dahsyatnya serangan lawan.

Pedang pedang Giok siang kiam ibaratnya seekor naga, berlompatan kian kemari ditengah lapisan hawa pedang yang sangat tebal.

Ilmu barisan Tay khek ngo heng kim tin memang benar benar amat dahsyat dan lihay. Walaupun Gak Lam-kun cukup memahami soal ilmu barisan dan kepandaian sebangsanya, namun dia gagal untuk menemukan titik kelemahan dan keistimewaan dari Ilmu barisan ini.

Sementara itu, kawanan jago yang berada di sekitar kalanganpun sudah tertarik semua oleh barisan pedang yang ampuh dan jarang ditemui di kolong langit ini.

Tampaknya perubahan dalam Tay khek ngo heng kiam tin itu makin lama semakin rapat, gerak-gerakannya pun semakin kacau dan rumit.

Berbicara yang sesungguhnya, hampir sebagian besar kawanan japo yang hadir saat ini pada memahami soal ilmu barisan dan ilmu perbintangan namun setelah menyaksikan perubahan dari Tay khek ngo heng kiam tin itu, mereka mulai merasa berkunang-kunang juga dibuatnya.

Semenjak peristiwa berdarah di tebing Yan po gan dibukit Hoa san pada delapan belas tahun berselang, Yan Lo-sat Hong Im sudah mulai melakukan penyelidikan yang seksama atas ilmu kepandaiannya. Ilmu barisan Tay khek ngo heng kiam tin juga semenjak waktu itu dilatih.

Ke lima orang kakek berbaju abu abu itu merupakan jago kelas satu dalam perguruan Tay khek bun. Selama delapan belas tahun, mereka boleh dibilang selalu memusatkan perhatiannya untuk mendalami ilmu barisan Tay khek ngo heng kiam tin. Bukan saja hapal terhadap semua perubahan dalam ilmu barisan itu, merekapun menguasai semua keistimewaan serta kelebihan-kelebihannya. Malah dalam tenaga dalampun mereka rata- rata memiliki kesempurnaan yang hampir seimbang.

Itulah sebabnya, serangan-serangan gerak-gerik dari ke enam orang itu sama sekali berlawanan dari keadaan pada umumnya. Sebentar mereka bergerak lurus, sebentar berbalik anehnya bukan kepalang. Sekalipun seseorang yang memahami soal Ngo heng tin, dibuat kebingungan juga olehnya.

Jit poh toan hun Kwik To yang menyaksikan kejadian itu segera menghela napas panjang. katanya, “Sudah lama orang persilatan rnengatakan bahwa ilmu pedang dari perguruan Tay khek bun telah mengalami kejadian yang pesat. Setelah dibuktikan sekarang, ternyata perkataan itu memang benar. Ilmu barisan Tay khek ngo heng kiam tin mereka memarg terang merupakan suatu cabang ilmu silat yang luar biasa lihaynya”.

Ji Cin-peng manggut-manggut, “Perkataanmu memang benar” katanya. “Aku sendiripun mempunyai perasaan demikian…”

Ketika ia mercoba melirik sekejap ke arah nona berbaju perak itu dilihatnya gadis tersebut sedang memusatkan semua pikiran dan perhatiannya untuk mengikuti perubahan-perubahan dari ilmu barisan Tay khek ngo heng kiam tin tersebut bahkan sering manggut-manggut sambil memuji. Tapi sebentar kemudian gelengkan kepalanya sambil menghela napas seolah-olah dia telah memahami seluk-beluk dari ilmu barisan tersebut.

Mendadak terdengar gadis berbaju perak itu bergumam seorang diri, “Sayang….. ..

Sayang sekali…… Coba kalau antara keng kim dan kun terjalin hubungan pertahanan yang ketat….”

Waltu itu Gak Lam-kun yang sedang bertarung sudah mulai merasa rada kalut pikirannya, tentunya dia tidak mendengar petunjuk rahasia yang diberikan gadis berbaju perak itu untuk memecahkan barisan padahal barisan Tay khek ngo heng kiam tin itu kerapkali mengalami perubahan yang besar sekali.

Gak Lam-kun dengan kekuatan seorang ternyata sanggup bertarung melawan kerubutan enam jago lihay dari perguruan Tay khek bun tanpa memperlihatkan tanda- tanda akan kalah. Kejadian ini merupakan suatu peristiwa yang langka dalam dunia persilatan, hal mana membuat para penonton harus menahan napas dan mengikuti semua perubahan dengan wajah yang sangat tegang.

Ketika gadis berbaju perak itu menyaksikan Gak Lam-kun belum juga memahami kisik- kisiknya, pelan-pelan segera maju ke depan. Diikutinya semua perubahan dari Tay khek ngo kiam tin dengan seksama, lalu sekulum senyuman manis menghiasi ujung bibirnya.

“Engkoh Gak!” serunya kemudian dengan merdu, “Pusatkan perhatianmu menjadi satu, jangan terlalu buru napsu untuk mencari kemenangan”

Setelah berhenti sejenak, kembali dia berkata, “Barisan ini mempergunakan sistem Tay khek bu ceng ngoh heng. Silahkan engkoh Gak menyerang ke utara lalu berbalik ke barat. Dengan air mengatasi api, dengan belakang yang berupa api mengganjal Tay khek.

Dengan begitu keadaan pasti beres!” Ketika mendengar panggilannya tadi, mula-mula Gak Lam-kun merasa terperanjat, cepat cepat dia memusatkan perhatiannya untuk melaksanakan seperti apa yang dikatakan.

Mendadak pedang Giok siang kiamnya menyerang ke arah utara dengan jurus Mong coa to sim (ular sawah mengeluarkan lidah).

Pada saat dia melepaskan serangannya itu, tepat dikala keng sim dan jimkui dua tempat sedang saling bergeser untuk tukar tempat, dengan, dilancarkannya serangan oleh Gak Lam-kun, kedua posisi tersebut segera kena terhadang.

Akibatnya, barisan Tay khek ngo heng kiam tin tersebut mengalami sedikit kekalutan yang nyaris berakibat kekacauan.
Ada kabar sedih nih gan, situs ini dinyatakan spam oleh pihak facebook :(:(. Admin mau minta tolong kepada para pembaca yang budiman untuk mengisi form di Link ini : Facebook Debugger dan menulis bahwa situs ini bukan spam. Semoga kebaikan dari pembaca dibalas berlipat ganda oleh Tuhan yang maha kuasa😇. Selaku Admin ~ Iccang🙏