Lembah Nirmala Jilid 56

 
Jilid 56

Dengan bekal ilmu Ciat khi mi khi yang dahsyat, keselamatan jiwa Kim Thi sia memang tak akan terpengaruh, tapi begitu luka itu kambuh, sedikit banyak pemuda itu harus merasakan juga penderitaan yang amat hebat.

Saat itulah mendadak dari arah jalan kecil disisi hutan bergema datang suara langkah manusia, suara itu bergema mendekati tempat persembunyiannya...

Kim Thi sia sadar, situasi saat ini amat berbahaya, dalam kondisi lemah dan sama sekali tak bertenaga begini, seandainya tempat persembunyiannya itu sampai ketahuan orang, niscaya akibatnya tak akan terlukiskan dengan kata kata.

Sdara akan bahaya, cepat cepat pemuda itu menutup semua pernapasannya dan sambil melotot bulat bulat dia mengawasi daerah disekitar situ dengan seksama.

Dibawah sinar rembulan, terlihatlah sepasang muda mudi sedang berjalan mendekat dengan langkah santai.

Yang perempuan tampak lemah gemulai dengan paras muak yang cantik jelita, ternyata dia tak lain adalah Hay Jin, gadis yang dimimpikan siang maupun malam.

Sedangkan yang lelaki adalah Ang Thian tong, pemuda gagah yang berwajah tampan itu. tiba-tiba saja Kim Thi sia merasa cemburu sekali setelah melihat kedua orang muda mudi itu

jalan bersama, ia merasa sakit hati. pikirnya kemudian,

"Aai, beginikah perasaan cinta antara muda mudi? Mengapa aku harus sakit hati. ?"

Tapi setelah menyaksikan kegagahan serta ketampanan Ang Thian tong, mendadak timbul perasaan rendah diri dihati kecilnya, kembali dia berpikir,

"Oooh, nona Hay Jin, kau memang pantas menjadi istri Ang Thian tong, aku Kim Thi sia berwajah biasa dan rudin sekali, aku tak lebih hanya seorang pengembara yang tidak mempunyai tempat tinggal tetap, kebahagiaan macam apakah yang bisa ku berikan untukmu. "

Sementara dia masi termenung, Ang Thian tong serta Hay Jin pun telah berjalan mendekat dengan mulut bungkam dalam beribu basa, agaknya pikiran dan perasaan mereka pun dibebani oleh masalah yang berat, sehingga boleh dibilang mereka tidak sadar bahwa dibalik semak belukar

, Kim Thi sia sedang berbaring disitu.

Dengan luapan emosi Kim Thi sia pelan pelan menyingkap semak dihadapannya lalu mengintip keluar.

Ia menyaksikan Ang Thian tong dan Hay Jin sedang duduk besanding disebuah batu besar. Suasan hening sampai lama sekali.

Tampak Hay Jin hanya duduk termangu sambil memandang ke langit, sementara titik air mata jatuh bercucuran membasahi pipinya.

Melihat itu, sambil menghela napas Ang Thian tong segera menegur,

"Dimalam pengantin yang seharusnya dilewatkan dalam suasana gembira, mengapa kau justru mengucurkan air mata?"

"Aku sedang menangisi nasibku!" sahut Hay Jin sambil terisak. Ang Thian tong tertawa getir, "Apa jeleknya dengan nasibmu?"

"Semenjak masih kecil aku sudah tidak tahu siapakah ayahmu, sedang ibu, meski dia menyayangi aku, tapi ia lebih sibuk dengan urusan dunia persilatannya hakekatnya dia tidak memperdulikan kehadiranku didunia ini."

"Sekarang kau tak perlu risau lagi." tukas Ang Thian tong cepat. "Aku sudah menjadi suamimu, aku berjanji akan memperhatikan serta menyayangimu sebesar mungkin."

Kembali Hay Jin menghela napas,

"Aaai, tak akan ada yang memahami kepahtian dan penderitaan hatiku."

"Terus terang saja aku bilangm berapa banyak si suami yang baik kepada istrinya seperti aku?" tukas Ang Thian tong tidak senang hati.

"KEbaikan apa yag kau berikan kepadaku?" Hay Jin balik bertanya dengan tertegun,

"Aku sangat menuruti perkataanmu, kecuali mengambilkan rembukan diangkasa, permintaaan apapun yang kau ajukan selalu kuusahakan untuk dipenuhi, berbicara menurut liangsimmu, dalam hal yang manakah aku tak pernah penuhi kehendakmu?"

Sambil menghela napas Hay Jin menggelengkan kepalanya berulang kali, ucapnya: "Aku bukannya tidak mengerti atas kebaikanmu selama ini."

"Aaaah, kau ini mengetahui soal apa?" tukas Ang Thian tong mendongkol, "disaat malam pengantin kita, engkau malah bersikeras hendak datang kemari, dan setelah sampai ditempat sini, kau pun hanya menangis melulu."

"Sebab aku pun tak akan melupakan untuk selamanya semua kejahatan yang telah kau perbuat terhadap diriku," kata Hay Jin tiba tiba dengan wajah serius.

Ang Thian tong segera mendehem beberapa kali, setelah itu ucapnya, "Kejelekan dan kejahatan apa sih ayng pernah kulakukan terhadapmu..."

"Aku selalu mengingatkan secara baik baik, disaat aku diculik oleh lima naga dari wilayah Biau dibukit Ya be Poo tempo hari, kau telah memperlihatkan perbuatan biadabmu bagaikan binatang."

"Kau jangan salah melihat," tukas Ang Thian tong cepat, "Seandainya aku tidak muncul tepat pada saatnya, mungkin kau telah diperkosa secara bergantian oleh kelima naga dari wilayah Biau tersebut, kau anggap dirimu masih bisa mempertahankan kesucian badanmu?"

"Tapi setelah kejadian itu, bukankah kau pun memperkosa aku, menodai kesucian diriku?" pekik Hay Jin sengit.

Dengan jengkel, Ang Thian tong menukas,

"Aaaah, sama saja, toh sekarang kita telah menjadi suami istri!"

"Hmmn, kau tahu sesungguhnya aku tidak sudi kawin dengamu." teriak Hay Jin lagi sambil menggertak gigi menahan emosi "justru lantaran tubuhku sudah ternoda ditanganmu, aku hanya terpaksa menuruti kehendakmu."

Ang Thian tong yang mendengar perkataan ini, agaknya semakin gusar pula dibuatnya, dengan mendongkol ia berseru lagi.

"Sebelum itu, kita sudah bertunangan, kawin hanyalah masalah peresmian belaka" "setelah tahu hubungan kita belum diresmikan, tidak seharusnya kau mendahului untuk

menodai aku. "

Akhirnya dengan perasaan apa boleh buat Ang Thian tong berkata

"Kau tahu, betapa cintanya aku kepadamu, aku mencintai dirimu dengan setulus hati." "Aku justru benci kepadamu, aku benci setengah mati kepadamu. rasa benciku sudah merasuk samapi ke tulang sum sum."

Ang Thian tong segera menghela napas panjang.

"Apa gunanya kau selalu mengungkit ungkit kejadian yang telah lewat?" Sambil membesut air matanya Hay Jin berseru,

"Ketahuilah dengan jelas, jangan harap kita bisa menjadi sepasang suami istri yang berbahagia, jangan harap ini bisa terjadai sepanjang hidup kita."

Ang Thian tong merasa gusar sekali, namun ia berusaha mengendalikan perasaan jengeknya itu, kembali dia mencoba menbujuk

"Janganlah terlalu emosi, jangan kelewat menuruti perasaan sendiri, kau harus mengerti, kita sudah bakal punya anak..."

"Aku benci dengan anak itu." teriak Hay Jin keras keras. "Kenapa?" tanya Ang Thian tong dengan tertegun.

Sambil menangis tersedu sedu Hay Jin berseru

"karena anak yang berada dalam perut ini mengalir darahmu, darah kaum durjana, darah manusia cabul."

Mungkin sangking bencinya, tiba iba saja dia menghantam perut sendiri keras keras. sambil memukul teriaknya terus.

"Aku tak sudi melihat anak keparat dari bibit cabul itu lahir didunia. aku menghendaki kematian dari bocah ini.... aku ingin bocah ini mampus. "

Ang Thian tong sangat terkejut, dengan suatu gerakan cepat ia menccengkram tangan Hay Jin dan menekannya diatas batu, kemudian serunya..

"Bagaimana sih kau ini? sudah gila nampanya. "

Hay Jin masih mencoba untuk meronta, ketika usaha ini gagal, dia mulai menangis tersedu sedu sambil berteriak,

"Aku memang gila, aku dibuat gila oleh bibit yang ditanamkan diperutku, aku gila karena bocah cabulmu itu. "

Makin menangis makin menjadi, seakan akan perempuan itu hendak melampiaskan keluar seluruh rasa benci yang tertanam dihatinya ini.

Menyaksikan kejadian ini, Ang Thian tong segera menghela napas panjang, keluhnya, "Aku tidak sejahat apa yang kau bayangkan. sungguh!! aku tidak sejahat apa yang kau

pikirkan "

"hhmnn, tak usah berkata begitu, percuma aku tak akan menaruh kasihan kepadamu, sebab aku membencimu setengah mati. "

Lalu setelah menagis terisakm dia melanjutkan.

"Kau tak usah memegangi tanganku, cepat lepaskan, aku tak ingin bersentuhan dengan tubuhmu... kumohon... lepaskanlah aku dengan cepat.."

"Boleh saja aku lepaskan dirimu, tapi kau tak boleh menggila lagi, tak boleh memukul diri sendiri lagi.."

"Baik...baik.. apapun syaratmu akan kupenuhi, asal kau segera lepaskan aku. "

Terpaksa Ang Thian tong menurut dan melepaskan Hay Jin dari cengkramannya, setelah mengehela napas berkata

"Sekarang kau telah membebaskanmu, tentunya kau pun bisa tenang kembali bukan?" "Tidak!! selama hidup aku tak bakal tenang."

"Buat apa sih mencari penderitaan buat diri sendiri?" Ang Thian tong mulai mengeluh, "Apa gunanya bila tubuhmu menjadi rusak akibat ulahmu sendiri...?"

"Tubuhku telah kau nodai, bagiku hidup sudah tak ada artinya lagi..." Ang Thian tong amat tak senang hati, tiba tiba serunya,

"Benarkah aku adalah binatang yang buas dan berbahaya?"

"Kau lebih kejam dari binatang, lebih buas daripada harimau, kau.. kau... kejam.." Sampai disini, Ang Thian tong segera menghela napas panjang,

"Aaai, semenjak peristiwa ditebing YA be poo, setiap kali kau selalu menangis dan ribut tiada habisnya, sesungguhnya apa maksudmu?"

"AKu ingin berpisah denganmu, semakin cepat semakin baik!" teriak Hay Jin keras keras.

Ang Thian tong sudah merasa amat sedih hatinnya, ia merasa hatinya bagaikan diiris iris dengan pisau tajam, paras mukanya segera berubah menjadi amat tak sedap dipandang, ucapnya agak tergagap,

"Kalau memang begitu, rasanya hubungan antara kita berdua memang sudah tak bisa diselamatkan lagi.."

"Semoga kau lebih memahami tentang masalah tersebut sehingga mendapat mempertimbangkan diri dengan semakin baik."

Ang Thian tong menghembuskan napas panjang.

"Baiklah, mari kita kembali dulu ke kamar sekarang, mari kita pikirkan bersama persoalan diantara kita dengan lebih seksama"

"Lebih baik kau pergi dulu." sahut Hay Jin cepat. "kecuali dipaksa dengan mempergunakan kekerasan, kalau tidak, aku tak sudi tidur sekamar denganmu."

Ang Thian tong bangkit berdiri lalu tertawa sedih, katanya cepat.

"Kau enggan pergi dari sini? Apakah kau senang duduk diluar hingga fajar menyingsing nanti?" "Aku tidak tahu."

Bagaimanapun juga, Ang Thian tong adalah seorang lelaki, sudah barang tentu dia tahan diperlakukan semacam ini oleh wanita yang secara resmi sudah menjadi istrinya . tak urung meledak juga hawa amarahnya, dengan geram ia berseru,

"Sekarang aku telah mempunyai keputusan, aku akan kembali kekamar untuk tidur, sedang kau... hmmn, kau boleh tetap duduk disini sambil mempertimbangkan hubungan kita selanjutnya secara seksama, apabila persoalannya sudah menjadi jelas, ku harap kau bisa kembali kekamar untuk memberitahukan keputusanmu kepadaku."

"Keputusan sudah lama kuambil, selama hidup aku tak pernah akan berhubungan secara baik denganmu."

"Apabila memang begini kenyataannya, aku pun tak usah terlalu memaksa dirimu lagi, terserah kehendak hatimu sendiir kemanapun kau hendak pergi, silahkan pergi kesitu.."

Kali iniAng Thian tong betul betul sewot dan tak mampu menahan gejolak emosinya lagi. Mendadak Hay Jin bertanya dengan serius,

"Sungguhkah perkataanmu itu?"

"perkataan seorang lelaki bagaikan kuda yang dicambuk, sekali telah diutarakan untuk selamanya tak akan ditarik kembali." Ketika selesai mengucapkan perkataan ini, paras mukanya telah berubah menjadi hijau membesi karena mendongkolnya, dengan langkah lebar ia segera beranjak pergi meninggalkan tempat tersebut.

Dengan termangu mangu Hay Jin mengawasi bayangan punggung Ang Thian tong ayng berlalu dari situ dengan rasa benci hingga lenyap dari pandangan, kini dia tidak tertegun lagi, tapi menangis tersedu sedu dengan amat sedihnya.

Sementara itu........

Kim Thi sia yang berbaring dibalik semak belukar sambil mengatur pernapasan, kini kekuatannya sudah pulih kembali.

Begitu ia merasa yakin kalau Ang Thian tong telah pergi jauh, pelan pelan pemuda ini bangkit berdiri dan berjalan menghampiri gadis tersebut, bisiknya kemudian lirih,

"Nona Hay Jin, sudah lama kita tidak bersua.."

Hay Jin yang sedang menangis tersedu sedu menjadi tertegun seudah mendengar teguran itu, apalagi setelah dia dapat melihat dengan jelas siapa gerangan yang muncul, tak kuasa lagi serunya tertahan,

"Engkoh Thi sia, sungguh tak disangka engkau yang telah datang."

Dengan cepat dia memburu maju kemuka dan menubruk ke dalam pelukannya Kim Thi sia, dirangkulnya pemuda tersebut dengan mesra.

Kim Thi sia balas memeluk gadis itu dengan luapan rasa haru, sampai lama sekali dia tak sanggup berkata kata.

Dengan dasar tak mampu banyak bicara tentu saja pemuda ini semakin gelagapan lagi dalam luapan emosi begini, ditambah pula hubungan yang menjadi makin rumit dengan munculnya Ang Thian tong sebagai suami resmi gadis tersebut, untuk beberapa saat lamanya dia tak tahu bagaimana mesti bertindak.

Dengan mesra dan hangat mereka saling berpelukan, saling berciuman dua hati serasa bersatu padu, mereka melupakan diri sendiri, lupa dengan lingkungan, lupa dengan adat,lupa denga tradisi.... pokoknya tiada persoalan yang mereka pikirkan saat itu...

Yang tersisip dan menyelimuti perasaan mereka berdua sekarang hanyalah luapan cinta yang membara...

Ehtah berapa lama sudah lewat...

Tiba tiba Hay Jin tersedara kembali dari rasa gembiranya, dengan gugup rasa takut ia berbisik, "Engkoh Thi sia, kenapa kau kembali kesini?"

"Aku ingin mejengukmu, ingin bersua kembali denganmu!" sahut pemuda itu gembira.

Tapi paras muka Hay Jin segera berubah menjadi pucat pias bagaikan mayat, dengan perasan tegang dia berkata,

"Engkoh thi sia, keadaan sudah berubah, kita bisa celaka.... kita bisa celaka. "

Tadi dengan jelas Kim Thi sia menyaksikan Ang Thian tong pergi meninggalkan disekeliling tempat tersebut tiada orang itu.

Tapi sikap tegang dan gugup dari Hay Jin sekarang membuatnya terkejut juga, ia segera celingukan memandang sekejap sekeliling tempat itu, lalu katanya,

"Kenapa aku tidak melihat sesuatu yang tak beres?" Dengan napas tersengal sengal sahut Hay Jin "Tentu saja kau tak akan melihatnya, tapi Lembah Nirmala telah menjadi sarang naga gua harimau, selain ibuku dan Cian sianseng, disinipun hadir lima naga dari wilayah Biau, hadir pula pukulan sakti tanpa bayangan."

"Aku sudah tahu!!"

"Tidak! kau tak akan tahu, semalam mereka telah berunding, mereka telah sepakat dengan cara apa untuk menghadapi dirimu."

Mendengar kabar tersebut, Kim Thi sia segera berkerut kening, katanya kemudian,

"Aneh, kenapa sih secara tiba-tiba aku bisa berubah menjadi begitu penting sehingga harus menggerakkan begitu banyak orang khusus hanya untuk menghadapi aku seorang?"

"Sebab mereka telah mendapatkan lentera hijau dan sekarang mengincar pedang mestika Leng gwat kiam mu." Hay Jin menerangkan "ibuku bahkan pernah sesumbar, dia akan mempersatukan pedang Leng Gwat kiam dengan lentera hijau sebagai modal dalam usahanya memimpin seluruh dunia persilatan."

"Waaah.... besar amat ambisi ibumu..." kata Kim Thi sia sambil tertawa.

Kembali Hay Jin celingukan memandang sekejap sekeliling tempat itu, lalu serunya gelisah. "Cepat pergi, jangan sampai jejak kita diketahui mereka, ayoh cepat tinggalkan tempat ini."

Tanpa bertanya lagi kepada Kim Thi sia apakah setuju dengan pendapatnya itu, begitu selesai berkata ia segera mencengkram ujung baju Kim Thi sia dan tergopoh-gopoh menelusuri jalan setapak untuk pergi meninggalkan tempat tersebut.

Terpaksa Kim Thi sia mengintil terus dibelakangnya, sambil berlarian tanyanya agak tertegun, "Kita hendak kemana?"

"Aku hendak mengajakmu pergi kegua neraka." bisik Hay Jin lirih, "Disudut lorong tersebut terdapat sebuah lorong rahasia yang bisa berhubungan langsung dengan dunia luar, kecuali ibuku, jarang sekali ada yang mengetahui letak lorong rahasia tersebut."

"Masa ibumu tak akan memberitahukan lorong rahasia tersebut kepada mereka semua?" "Sssttt... jangan berisik, jangan berbicara dengan suara yang begini keras... " bisik Hay Jin lagi

dengan wajah yang amat tegang.

Dalam waktu singkat ia telah membawa Kim Thi sia menelusuri hutan dan menyusup ke sebuah jalan setapak diantara gundukan batu cadas kembali bisiknya,

"SEkarang malam sudah larut, sekalipun mereka tahu tempat tujuan yang sedang kita tempuh, rasanya belum tentu bisa menemukan kita secara cepat, Engkoh Thi sia,ikuti saja diriku dengan perasaan lega."

"Baik!" sahut Kim Thi sia sambil tertawa.

Padahal untuk menyerbu ke dalam lembah Nirmala seorang diri pun Kim Thi sia tidak merasa ngeri,apa lagi yang ditakutinya sekarang? Ia mengikuti Hay Jin saat ini tak lain hanya tak ingin menampik maksud baiknya saja...

Dalam waktu singkat sampailah mereka dimuka sebuah gua, suasana dalam gua itu sangat dingin dan menggidikan hati, rintihan kesakitan berkumandang tiada hentinya dari balik gua tersebut.

Mendadak Kim Thi sia merasa seperti pernah mengenali tempat itu, segera tanyanya.

"Bila kita masuk melalui mulit gua tersebut, seharusnya kita akan sampai di gua neraka bukan?" "Lebih baik kita tak usah mencampuri urusan itu, bila kita belok kekiri dari tempat ini maka kita

akan sampai dilorong rahasia tersebut, mari kita menuju ketempat yang aman terlebih dulu sebelum membicarakan soal yang lain..." Terpaksa Kim Thi sia mengangguk tanda mengiakan dan mengikut dibelakangnya berangkat kelorong rahasia tersebut.

Setelah belok kekiri dari sisi goa neraka, mereak berjalan selama seperminum teh lamanya sebelum akhirnya sampai dmuka sebuah jalan setapak yang amat sempit

Jalan setapak itu sudah dipenuhi lumut, titik air mengalir terus tida hentinya bila ditinjau dari keadaannya yang sama sekali tak terawat, terbukti kalau tempat tersebut sudah lama tak pernah dilewati manusia

Hay Jin menarik Kim Thi sia untuk duduk diatas sebauh batu dibawah pohon besar, kemudian sambil membetulkan rambutnya yang kusut, dia berkata lembut,

"Engkoh Thi sia, sekarang kita sudah aman."

"Kau benar benar amat menguatirkan keselamatanku!" ucap Kim Thi sia sambil tertawa girang. Dengan wajah serius dan bersungguh-snugguh Hay Jin cepat menyela,

"Kenapa sih aku tak pernah memperhatikan dirimu? Tahukah kau, engkoh Thi sia, hampir setiap saat, setiap detik aku selalu merindukan dirimu. "

Merah padam selembar wajah Kim Thi sia sehabis mendengar ucapan mana, buru buru katanya pula...

"Akupun demikian. "

"Sungguhkah itu?" tanya Hay Jin sambil tertawa senang.

"Tentu saja sungguh, kalau tidak begitu, akupun tak akan menyerempet bahaya untuk datang kemari untuk mencarimu!"

Melihat kesungguhan hati anak muda itu Hay Jin segera menghela napas sedih, katanya, "Akupun pernah berusaha untuk pergi mencarimu, sayang sekali belum lama aku meninggalkan

Lembah Nirmala, lima naga dari wilayah Biau telah berhasil membekukku kembali ditebing kuda liar, mereka sengaja membohongiku dengan mengatakan kau berada ditebing itu, tapi dengan cepat aku menyadari bahwa diriku tertipu, kemudian kemudian Ang Thian tong si manusia cabul

yang tak tahu malu itupun turut datang, dia... dia "

Berbicara sampai disini, gadis itu merasakan emosi meluap-luap, air matapun jatuh bercucuran dengan derasnya. ia menangis terisak.

Cepat cepat Kim Thi sia menghibur,

"Sudahlah, tak usah kau lanjutkan ceritamu itu, sebab aku sudah mengetahui semua penderitaan dan pengalaman yang kau alami selama ini."

"Dari mana kau bisa tahu?" tnaya Hay Jin agak tertegun.

"Ketika kau sedang cekcok hebat dengan Ang Thian tong tadi, aku bersembunyi disisi kalian, karenanya semua percakapan kalian berdua sudah kudengar semua "

"Apa? kau telah mendengar semuanya?" Hay Jin merasakan hatinya amat pedih bagaikan diiris dengan pisau tajam.

Pelan-pelan Kim Thi sia mengangguk, "Yaa.. benar!!"

BAgaikan kehilangan pegangan secara tiba tiba, dengan perasaan yang kosong Hay Jin berakat lagi.

"Kalau begitu, kaupun tahu kalau akupun telah menjadi istrinya Ang Thian tong? kau tahu kalau aku telah mengandung bibit dari Ang Thian tong ?" "Yaa.. benar!!" Kim Thi sia menghela napas panjang, "Sesungguhnya kesemuanya ini merupakan sesuatu kenyataan yang tragis buatku. agaknya Thian telah mengatur yang lain buat kita berdua..."

"Tahukah engkau Engkoh Thi sia, bahwa aku tak sudi menjadi istrinya Ang Thian tong?" "Aku tahu!!"

"Mengertikah kau bahwa aku tak sudi mengadakan hubungan suami istri dengan Ang Thian tong?"

"Yaa.. aku mengerti"

"Pahamkah kau bahwa akupun tak sudi melahirkan anak untuk Ang Thian tong??" "Aku Paham.."

Sampai disini, Hay Jin tak bisa mengedalikan sedihnya, ia menangis tersedu-sedu.

Sedangkan Kim Thi sia hanya bisa menggelengkan kepala berulang kali sambil menghela napas panjang lebar.

Untuk beberapa saat lamanya sepasang muda mudi yang bernasib jelek itu hanya bisa saling berpandangan dibawah cahaya rembulan, air mata berlinang mengiringi kesunyian yang mencekam.

Sampai lama kemudian, Kim Thi sia baru menghela napas panjang sambil berkata. "Kesemua ini memang merupakan kesalahanku, kenapa aku tidak mengajak kau pergi

bersamaku ketika meninggalkan Lembah Nirmala dulu!"

"Yang sudah lewat biarlah leat, disesalipun tak ada gunanya." sahut Hay Jin sambil menangis terisak. "Sekarang kenapa engkau datang lagi kesini?"

"Aku ingin datang kemari untuk menjengukmu, apakah tindakan ku ini tidak benar?" Hay Jin segera menghela napas sedih.

"Aku tidak mengatakan tindakanmu keliru, lagipula saat ini aku sudah tidak pantas lagi untuk mendampingi dirimu."

"Kenapa?" tanya Kim Thi sia dengan wajah tertegun.

"Karena... karena aku sudah ternoda, tubuhku sudah tidak suci bersih lagi."

Ia membelalakan sepasang matanya lebar-lebar dan menaguasi pemuda itu tanpa berkedip. terutama disaat mengucapkan kata katnaya itu rasa sedih yang pedih yang amat sangat tercermin jelas dibalik wajahnya."

"Terhitung seberapakah hal tersebut?" Aku tak pernah merisaukan masalah sepele itu!" kata Kim Thi sia tertawa.

pikiran dan perasaan Hay Jin sangat kalut, untuk sesaat dia hanya bisa mempermainkan rambutnya sambil termenung,

Entah berapa saat telah lewat, akhirnya ia berkata lagi dengan tiba tiba, "dan kini statusku sudah menjadi istri resmi dari Ang Thian tong"

"Apa maksudmu mengucapkan kata-kata tersebut?" tanya Kim Thi sia. Dengan perasaan yang bertentangan Hay Jin menjawab ragu,

"Aku kuatir kau memandang hina diriku!"

"Kenapa harus begitu?" tanya Kim Thi sia serius "Tahukah kau, selama ini aku selalu menilaimu amat tinggi, ku anggap kau sebagai dewi suci yang tiada taranya didunia ini."

"Tapi kenyataannya sekarang , aku adalah bini seorang lelaki rendah yang terkutuk." Kim Thi sia garuk-garuk kepalanya. sembari menggeleng, dia berkata,

"Mengapa sih kau peringatkan diriku terus menerus bahwa kau adalah istri Ang Thian tong?

Apakah kau berharap aku meninggalkan tempat ini secepatnya? Padahal gampang sekali, aku tak pernah akan melakukan perbuatan rendah yang memalukan, aku pun tak akan membuntuti dirimu terus menerus, nah selamat tinggal, aku akan segera pergi."

Berbicara sampai disitu, dia segera angkat kepala sambil membusungkan dada, dengan langkah lebar dia siap meninggalkan tempat tersebut.

Hay Jin menjadi terperanjat sekali sesudah mendengar perkaatn itu, sebelum Kim Thi sia sempat beranjak dari tempat itu. dengan cepat dia memeluk pemuda itu kencang-kencang, lalu keluhnya dengan sedih.

"Jangan! kau tak boleh meninggalkan aku, kau tak boleh meninggalkan aku..."

Agaknya dia takut Kim Thi sia pergi meninggalkan dirinya dalam keadaan gusar, karena itu dipeluknya pemuda tersebut erat erat.

Pada waktu itulah, tiba-tiba Ang Thian tong datang munculkan diri dari balik hutan belukar, sambil tampilkan diri dia berseru sambil tertawa dingin.

"heeeh.. Heehh..... Heeehh... bagus sekali, ternyata beginilah kejadiannya.."

Hay Jin seklihatan sangat ketakutan setelah melihat kemunculan Ang Thian tong secara tiba- tiba.Dengan wajah pucat pias, dia semakin erat memeluk Kim Thi sia.

Kepada pemuda she Ang itu, tegurnya "Sedari kapan kau... kau datang kemari?"

Hijau membesi selembar wajah Ang Thian tong, sahutnya sambil mendengus dingin, "Hmmn, semenjak kau menjadi biniku, baru pertama kali ini kau memperhatikan kau." Hay Jin terbungkam seketika dan tak mampu mengucapkan sepatah katapun.

Kembali Ang Thian tong berpaling kearah Kim Thi sia sambil menegur nyaring, "Apakah kau senang dengan seorang istri semacam ini?"

Kim Thi sia agak tertegun, tiba-tiba dia merasa seperti dihina, hawa amarahnya segera berkobar, teriaknya keras.

"Antara aku dengan istrimu sama sekali tidak melakukan apa-apa. kuharap kau jangan terlalu memojokkan orang dengan kata kata yang begitu ta sedap!"

Ang Thian tong tertawa terbahak-bahak.

"Haah...Haah... aku selamanya memutuskan suatu masalah secara tenang dan damai, sesuatu yang tak mungkin bisa kuperoleh, tak akan kurebut kembali secara paksa."

"Apa maksud perkataan mu itu?" tegur Kim Thi sia dengan kening berkerut kencang.

"Aku tak pernah berhasil merebut perasaan hati nona Hay Jin terhadap diriku, segala upaya da usaha ku selalu sia sia belaka, oleh sebab itu dengan perasan sedih telah ku tulis surat pengunduran diri dengan darah jari tanganku, dalam surat mana telah kujelaskan bahwa mulai sekarang nona Hay Jin sudah bukan istriku lagi, aku pun bukan suaminya lagi."

"Hmmn, sejak dulu hingga sekarang aku belum pernah mengakui dirimu sebagai suamiku!" bentak Hay Jin sewot.

Sebalinya Kim Thi sia berseru agak tersipu sipu.

"Ang Thian tong, kau jangan melakukan tindakan yang begitu ceroboh dan gegabah gara gara penampilanku disini." Tapi Ang Thian tong telah mengeluarkan sepucuk surat darah dari sakunya, lalu dengan suara lantang dia berseru,

"Kim Thi sia, persoalan ini sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan dirimu, karena jauh sebelum kau munculkan diri disini, aku telah selesai mempersiapkan surat cerai ini."

"Apakah kau menulisnya setelah kembali kekamar tadi?" tanya Hay Jin tiba-tiba. Ang Thian tong segera tertawa.

"Seharusnya kau dapat menyelami bagaimanakah perasaanku sewaktu menulis surat cerai ini bukan?"

Dengan cepat ia serahkan surat darah itu ketangan Hay Jin, serunya keras keras. "Ambillah! Mulai detik ini kau telah peroleh kembali kebebasanmu..."

Sesungguhnya Hay Jin ingin menyambut surat cerai tersebut dan memutuskan hubungan mereka dengan begitu saja, tapi berhubung surat cerai itu datangnya sangat tiba tiba, sehingga sama sekali diluar dugaan maka untuk beberapa saat dia tak berani mempercayai kenyataan tersebut. jadinya dia telah berdiri tertegun serta tak tahu apa yang mesti dilakukan.

Kim Thi sia dalam posisi saat itu menjadi serba salah, buru buru dia berkata.

"Lebih baik kalian suami istri berdua membicarakan sendiri masalah tersebut. maaf kalau aku harus pergi lebih dulu!"

"Kau tak boleh pergi!" hampir pada saat yang bersamaan Ang Thian tong dan Hay Jin berteriak bersama.

Kim Thi sia tertawa getir,

"Tapi, aku benar benar tidak berkepentingan untuk tetap tinggal disini."

"Bila persoalan ini bisa ada penyelesaiannya." kata Ang Thian tong cepat cpeat "dan nona Hay Jin bersedia menerima surat cerai tersebut, maka dia akan segera tinggalkan tempat ini bersamamu, kuharap kau bisa merawat serta menjaganya secara baik baik."

"Tapi, mana boleh aku membawahnya pergi dengan begitu saja?" seru Kim Thi sia gelagapan. Dengan mata terbelalak lebar lebar Hay Jin berseru pula.

"Engkoh Thi sia, apakah kau bersedia mengajakku pergi dari tempat ini?" Setelah menelan air ludah, Kim Thi sia menyahut,

"Kau harus mengerti, bagaimanapun juga kau tetap adalah istri Ang Thian tong, kalian telah dikawinkan secara resmi sudah menyembah langit dan bumi, tapi yang terpenting adalah kalian sudah punya anak."

"Tapi aku lebih suka pergi mengikutimu!" seru Hay Jin sambil menangis tersedu-sedu. "kemanapun kau pergi, biar harus menderita ditimpa terika matahari dan hujan, aku rela

menyertai dirimu, aku tak pernah akan mengeluh mendampingimu."

Melihat ketulusan hati dan kesungguhan hati gadis tersebut, Kim Thi sia benar-benar terharu, untuk sesaat ia menjadi terbungkam dan tak tahu apa yang mesti diucapkan untuk membujuk gadis tersebut.

Berapa saat lamanya dia hanya berdiri termangu mangu ditempat. tiba tiba Ang Thian tong tertawa dingin, bentaknya

"Kim Thi sia, apakah kau sudah mendengar? Istriku sedang berbicara denganmu!"

Sementara itu keadaan Hay Jin sudah menyerupai orang kalap, terdengar dia berteriak keras keras. "Ang Thian tong, cepat serahkan surat cerai kepadaku, aku akan tinggalkan tempat ini secepatnya."

Ang Thian tong tertawa dingin, sambil menyimpan kembali surat cerai tersebut kedalam sakunya dia menjengek,

"Boleh saja kuserahkan surat itu kepadamu, tapi...?"

"Kau hendak mempersulit diriku lagi?" tukas Hay Jin kesal.

"Tidak.. aku ingin berbicara dulu dengan Kim Thi sia." kata Ang Thian tong dengan suara dalam.

Kim Thi sia melirik sekejap ke arah Hay Jin, lalu tanyanya kepada pemuda itu. "Apa yang hendak kau bicarakan denganku?"

Ang Thian tong tertawa dingin, sambil memperlihatkan kembali surat cerai tersebut, bagikan malaikat bengis yang berwajah buas, dia berseru penuh kebencian.

"Kim Thi sia, karena kau telah mengadakan hubungan gelap dengan istriku,maka secara resmi aku akan menyerahkan biniku ini kepadamu.."

Hay Jin menjadi amat gusar sesudah mendengar perkataan ini, sambari menahan isak tangisnya dia membentak.

"Ang Thian tong, mengapa kau mengucapkan kata-kata seperti ini?"

"KEnapa aku tak boleh berbicara?" teriak Ang Thian tong pula. "Apakah setelah kehilangan istri, aku tak boleh berbicara barang sepatah katapun juga??"

"Tentu saja kau boleh berbicara !" sela Kim Thi sia sambil tertawa getir.

"Tapi kata katamu harus sedikit tahu diri, jangan menggunakan kata yang begitu menyakitkan hati," sambung Hay Jin mendongkol.

Paras muka Ang Thian tong berubah menjadi amat serius, dengan melototkan sepasang matanya bulat bulat dia mengawasi kedua orang itu secara bergantian tanpa berkedip.

Sampai lama... lama sekali... dia masih mengawasi terus tanpa berkedip, lama kelamaan Kim Thi sia dan Hay Jin menjadi rikuh sendiri dan amat tak tentram.

Agaknya pemuda itu merasa gembira melihat ketidak tenangan kedua orang muda itu, mendadak serunya lagi sambil tertawa bergelak..

"Haaah... haaahhh... haahhh... baik, kalian menuduhku tak tahu diri, mengatakan kata-kataku menyakitkan hati, maka aku pun ingin bertanya pula kepada kalian, apa yang dimaksud tak tahu diri dan apa pula kata yang menyakitkan hati? Hmm, kalian berdua mengadakan hubungan gelap ditengah malam buat begini, apakah kejadian semacam ini tidak lebih tak tahu diri, apakah perbuatan kalian tidak lebih menyakitkan hati?"

Bagaimanapun jua Kim Thi sia adalah seorang lelaki yang berperasaan dan mengutamakan tata kesopanan, sekalipun dia berpendapat bahwa perkawinan Hay Jin dengan Ang Thian tong buka muncul atas kehendak sendiri, tapi dikawinkan dalam keadaan terpaksa, meskipun dia pun menaruh rasa iba dan simpatik terhadap pendriaan serta musibah yang menimpa gadis tersebut.

Namun bagimanapun juga Hay Jin telah dinikahkan secara resmi dengan Ang Thian tong,ini berarti Hay Jin sudah menjadi istri pemuda tersebut secara sah.

Ini berarti pula perkataannya ditengah malam buat begini dengan istri orang lain memang bisa dituduh sebagai melakukan hubungan dengan bini orang lain.

Tak heran kalau pemuda kita jadi kelabakan setengah mati, wajahnya merah padam seperti kepiting rebus, untuk beberapa waktu dia cuma berdiri tertegun ditempat semula. Hay Jin sendiri pun terbungkam dalam seribu basa, sementara air matanya jatuh berlinang dengan derasnya, sungguh tak terlukiskan rasa pedih yang dideritanya sekarang.

SEkalipun Ang Thian tong mempunyai kesalahan yang bertumpuk tumpuk, tapi resminya dia adalah suaminya.

Sekalipun Hay Jin mempunyai berbagai alasan untuk tidak mengakui Ang Thian tong sebagai suaminya, meski dia membenci pemuda tersebut atas perlakuan yang pernah dilakukan terhadapnya, tapi bagaimanapun jua ia memang tak bisa menyangkal bahwa dia adalah bini sah Ang Thian tong.

Dalam posisi serta kondisi seperti ini, apa yang bisa dikatakan lagi oleh Kim Thi sia. apa yang bisa diperbuat olehnya, dan apa pula yang bisa dikemukakan olehnya?

Cinta segitiga memang suatu kasus yang peluk dan memusingkan kepala, untuk beberapa saat ketiga orang itu masih berdiri termenung tanpa berkata kata.

Setelah hening beberapa saat lamanya....

Tiba tiba Hay Jin menyeka air matanya dan berkata dengan suara nyaring...

"Apa yang terjadi sampai hari ini merupakan kejelekan dari nasibku sendiri.. tampaknya kehidupanku didunia ini sesungguhnya percuma. "

Dalam anggapan Ang Thian tong dan Kim Thi sia, Hay Jin berakata begitu tentu mempunyai alasan yang luar biasa, maka merekapun memperhatikan lebih jauh dengan lebih seksama.

Akan tetapi Hay Jin yang ditatap sedemikian rupa oleh kedua orang itu, tiba tiba saja dia merasa apa yang seungguhnya merasa perlu dikatakan, kini menjadi sama sekali tak berarti lagi.

Maka setelah tertegun beberapa saat, diapun berkata sambil menangis terisak.

"Ooohh. Thian, dalam kehidupanku yang lalu, kejahatan apakah yang pernah kulakukan?

kenapa kehidupanku didunia saat ini menjadi begini tak berarti?... aku. aku tak ingin hidup lagi,

aku tak ingin hidup lagi "

Dengan luapan emosi, dia segera berlarian meninggalkan tempat tersebut bagaikan orang kalap.

Sesungguhnya Hay Jin pun tidak mampunyai suatu tujuan tertentu, dia hanya menganggap kehidupannya didunia ini sudah tidak berarti lagi, amak dia berharap bisa meninggalkan tempat tersebut, makin jauh makin baik, dia tak ingin berdiri dihadapan Ang Thian tong, bahkan dia pun tak ingin menyaksikan Kim Thi sia yang berdiri tersipu sipu dan serba salah itu.

KArenanya dia berlarian seperti orang gila berlari kencang meninggalkan tempat itu secepat cepatnya.

Baik Kim Thi sia maupun Ang Thian tong sama sekali tidak menduga sampai kesitu, mereka berdua sama sama tertegun dibuatnya.

Sambil menangis Hay Jin berlari kencang meninggalkan tempat itu, dalam waktu singkat gadis itu berada dikejauhan sana.

Tiba-tiba Kim Thi sia menegur sambil menghela napas,

"Ang Thian tong, apakah kau tidak berniat mengejar istrimu?"

Sebenarnya Ang Thian tong masih berdiri tertegun disitu, dia sekaan lupa akan segala-galanya.

Tapi setelah mendengar seruan tersebut, bagaikan baru sadar dari lamunannya, ia menepuk kepala sendiri lalu berseru

"Mengejar? Ya.. betul, aku harus mengejar kembali istriku."

Dengan kecepatan bagaikan kilat ia segera berlarian kencang menyusul kearah mana Hay Jin melenyapkan diri tadi. Tak selang berapa lama kemudian bayangan kedua orang itu sudah tertelan dibalik kegelapan.

Kini tinggal Kim Thi sia seorang diri termangu mangu disitu, dia merasa seperti kehilangan sesuatu, sementara isak tangis Hay Jin sekaan akan masih berdengung disisi telinganya.

Ia menghela napas panjang, rasa sedih dan kosong tiba tiba saja menyelimuti seluruh perasaanya.

Lama kemudian ia bergugam

"Semenjak aku terjun dan berkelana didalam dunia persilatan banyak anak gadis yang kukenal, tapi rasanya aku tak pernah bisa melupakan kasih sayang Hay Jin kepadaku...Kim Thi sia wahai Kim Thi sia sesungguhnya kau pun manusia yang terdiri dari daging dan darah, kau punya liangsim, punya sukma, punya pikiran. "

Pada saat itulah....

Mendadak Kim Thi sia mendengar suara geeresek ramai bergema dari balik hutan, ketika ia berpaling, terlihatlah sepasang lelaki tua muda sedang berkejaran kearahnya.

Ternyata kedua orang iut adalah Sastrawan menyendiri Khu cu kian serta si pukulan sakti tanpa bayangan Ang Bu Im dari bukit Tiang peksam. Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki kedua orang itu benar benar sempurna, daam waktu singkat mereka telah berada dihadapannya.

Waktu itu Khu Cu kian si Sastrawan menyendiri sedang melarikan diri terbirit- birit . keadaannya tak berbeda seperti anjing yang kena gebuk, sungguh menggenaskan sekali.

Sebalikanya si pukulan sakti tanpa bayangan Ang Bu im mengjear dengan kencang bagaikan malaikat bengis. Telapak tangannya diayunkan berulang kali, sekana akan dia berniat menghabisi nyawa musuhnya dalam sakali ayunan tangan saja.

Padahal Kim Thi sia sendiripun sedang berdiri ditengah jalan, karena peristiwa itu berlangsung sangat mendadak sekali, pada hakekatnya dia tidak mungkin sempat lagi baginya untuk menghindarkan diri.

Betapa terperanjatnya Sastrawan menyendiri ketika dalam usahanya melarikan diri, tiba-tiba dia melihat ada seseorang berdiri menghadang ditengah jalan.

Ia semakin tertegun lagi setelah mengetahui dengan jelas bahwa orang yang berdiri ditengah jalan itu tak lain adalah Kim Thi sia.

Sesungguhnya Kim Thi sia sama sekali tidak menaruh perasaan benci atau dendam terhadap Sastrawan menyendiri Khu Cu kian, tapi sebaliknya si Sastrawan menyendiri justru menganggap pemuda tersebut sebagai musuh besar pembunuh ayahnya.

Tak heran kalau kemunculannya yang sangat tiba-tiba itu sempat membuatnya bermandikan peluh dingin.

Sambil menghentikan gerak larinya, Sastrawan menyendiri berpekik tertahan, "Tak disangka, aku bersua denganmu disini, habis sudah riwayat ku kali ini."

Belum habis perkataan itu diutarakan, si pukulan sakti tanpa bayangan Ang Bu Im yang mengejar dari belakang telah menyusulnya dengan kecepatan luar biasa.

Sambil menerjang kedepan musuhnya, kedengaran si pukulan sakti tanpa bayangan membentak keras.

"Hey, Sastrawan menyendiri, jikalau kau tak berhasil mampus ditanganku, aku bersumpah tak akan menjadi manusia mulai hari ini."

Dengan mengayunkan telapak tangannya dia mengembangkan serangan dahsyat mengancam jalan darah Yu bun hiat ditubuh lawan dengan jurus "Kemunculan iblis mengagetkan hati", sebuah pukulan yang dahsyat dari ilmu pukulan tanpa bayangan. SEbagaimana diketahui, jalan darah Yu bun hiat merupakan jalan darah mematikan ditubuh manusia, apabila tempat itu sempat terserang, niscaya jiwanya akan melayang.

Sastrawan menyendiri jadi amat terperanjat ketika secara tiba-tiba merasa datangnya sambaran angin tajam dari belakang, ia makin terkesiap lagi setelah sadar bahwa tiada kesempatan lagi baginya untuk menghindarkan diri.

Paras mukanya segera mengejang keras, rasa ngeri dan seram menjelang ajal menghiasi seluruh wajahnya.

Kim Thi sia tak tega membiarkan Sastrawan menyendiri kehilangan nyawa ditangan musuhnya, disaat yang kritis itulah dia rentangkan tangannya lalu melontarkan sebuah pukulan ke arah lawan.

Siapa tahu dengan tangkisannya itu, ternyata situasi dalam arena segera mengalami perubahan yang amat besar.

Sejak permulaan Kim Thi sia sudah tahu kalau si Pukulan sakti tanpa bayangan bukan manusia sembarangan, karena itu dia selalu berpendapat bahwa serangan musuh tak akan berhasil dibendung apabila ia tak menggunakan tenaga yang besar.

Oleh sebab itulah dalam tangkisannya kali ini, dia telah sertakan tenaga dalamnya sebesar sepuluh bagian, sedangkan jurus serangan yang digunakan pun merupakan jurus serangan paling tangguh dari ilmu Tay goan sinkang, yakni, jurus "kejujuran membelah batu emas."

"Bllaaammmm...!"

Ditengah benturan keras yang memekikan telinga, terlihat pasir dan debu beterbangan memenuhi angkasa.

Kim Thi sia mengerti, bagaimana pun juga hebatnya serangan yang dilepaskan tak mungkin Si pukulan Sakti tanpa bayangan akan terluka diujung telapak tangannya, maka sewaktu melihat Ang Bu im roboh terjengkang keatas tanah, dengan rasa heran ia menegur,

"Ang Bu Im, usiamu sudah cukup tua, buat apa sih masih bergurau denganku. permainan busuk apa yang sedang kau persiapkan?"

Tapi kali ini, si pukulan sakti tanpa bayangan ternyata tidak bergurau, ia benar benar yang terkena serangan Kim Thi sia hingga roboh terjengkang dan muntah darah segar.

Dengan perasaan apa boleh buat Kim Thi sia mengangkat bahunya, tapi setelah melihat keadaan dari Sastrawan menyendiri, segera serunya tertahan,

"Hey Khu Cu kian, bagaimana keadaanmu?"

Khu Cu kian bersandar dibawah sebuah pohon besar, sekujur badannya basah kuyup oleh keringat, mulutnya berbuih dan napasnya pun tersengal sengal bagaikan napas kerbau.

Dengan kening berkerut, kembali Kim Thi sia menegur,

"Berapa jauh sih perjalanan yang kau tempuh? Nampaknya kau begitu kecapaian?"

Melihat Kim Thi sia tidak berniat melukainya, diam diam Sastrawan menyendiri merasa leag, ia menghembuskan napas panjang.

SEmentara itu Kim Thi sia telah menghampiri Si pukulan sakti tanpa bayangan dan memeriksa keadaannya, lalu dengan kaget bercampur keheranan gugamnya,

"Waaah, sama sekali tak ku sangka kalau serangan yang ku lancarkan menyebabkan luka yang begitu parah bagi Ang Bu Im, kalau dilihat dari darah yang bercucuran terus agaknya tidak jauh lagi ajal orang ini..."

Pelan pelan Khu Cu kian bangkit berdiri, dengan napas masih tersengal sengal dia mencoba bergerak maju kemuka lalu siap melepaskan sebuah pukulan keatas tubuh Ang Bu Im. Walaupun serangan yang dipergunakan sangat aneh, lagipula dengan kecepatan luar biasa, namun kekuatan yang disertakan jelas tidak seberapa...

Dengan perasaan heran Kim Thi sia segera menegur,

"Eeeh, Khu cu kian, apakah kau bermaksud membersihkan debu diatas tubuh Ang Bu Im?"

Sastrawan menyendiri sama sekali tidak menggubris sindiran tersebut, wajahnya kelihatan amat serius, Hawa amarah menyelimuti seluruh mukanya, dengan mengerahkan segenap sisa kekuatan yang dimiliki dia memukul si pukulan sakti tanpa bayangan dengan gencar. 

Dalam pandangan Kim Thi sia, pukulan-pukulan seperti itu tak lebih hanya menimbulkan rasa geli saja, tapi bagi si pukulan sakti tanpa bayangan yang sudah terluka parah, ia segera merintih kesakitan, wajahnya kelihatan amat tersiksa.

Sastrawan menyendiri seperti sadar kalau kesempatan sebaik ini jarang ditemukan, ia sama sekali tidak melepaskan peluang itu dengan begitu saja, pukulan dan tendangan yang bertubi-tubi dilancarkan dengan gencar,

Lebih kurang sepertanak nasi kemudian, ia baru menghentikan perbuatannya itu. dengan napas tersengal sengal dia mencari sebuah batu besar lalu duduk bersila disitu untuk mengatur pernapasan.

Kim Thi sia sangat keheranan melihat tingkah laku kedua orang itu, dengan rasa tercengang segera tegurnya kepada Ang Bu Im.

"Sebetulnya permainan sandiwara apakah yang sedang kalian perankan??"

Waktu itu, pukulan sakti tanpa bayangan masih berbaring diatas tanah dengan tubuh berlepotan darah, serangkaian pukulan dari Khu Cu kian membuat wajahnya sembab dan membengkok, mukanya jadi amat tak sedap dipandang.

Tapi ia merasa agak lega juga setelah melihat Kim Thi sia hanya berdiri saja disitu. Terdengar Kim Thi sia menegur lagi dengan tertawa,

"Hey, apa maksudmu berbaring saja diatas tanah membiarkan orang lain menggebukimu? Apa gunaya berlagak mati?"

Pukulan Sakti tanpa bayangan muntahkan darah segar, dengan napas terengah-engah katanya "Aku...Aku... aku sudah hampir mati..."

"Aaah, jangan bicara sembarangan, buat apa kau membohongi aku?" tegur Kim Thi sia tak senang hati.

"Aku...aku tidak berbohong" kembali si pukulan sakti tanpa bayangan berkata dengan napas terengah engah, "isi perutku sekarang telah hancur karena termakan seranganmu tadi..."

Mendengar ucapan mana, Kim Thi sia segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhhh... Haaahhh.. setan tua, mana mungkin seranganku bisa membunuhmu? Kau tak usah kelewat mengunggulkan diriku.."

Dengan mata mendelik, si pukulan sakti tanpa bayangan menelan kembali darah kental yang hampir muntah keluar, lalu katanya,

"Kalau dulu, jangan harap bisa melukai tubuhku... tapi hari ini... keadaannya sama sekali berbeda..."

Kim Thi sia semakin tertegun, terutama setelah menyaksikan darah yang meleleh keluar dari mulut orang itu berwarna hitam, segera katanya

"Kenapa bisa begitu?"

Setelah terbatuk batuk, si pukulan sakti tanpa bayangan berkata "Aku telah bertarung ribuan jurus melawan Sastrawan menyendiri... dan akhirnya kami saling beradu tenaga dalam... ketika terpisah tadi, kekuatan kami saling sama sama sudah habis...jangan kau lihat kami masih bisa berlarian dengan begitu cepat... padahal keadaan kami tak berbeda dengan cahaya lilin yang hampir padam... kami tak mampu menahan gempuran seperti apa saja... dalam keadaan seperti ini, bagaimana mungkin aku bisa menahan pukulan ilmu.. ilmu pukulan Panca Buddhamu,, apalagi disertai dengan ilmu Tay goan sinkang yang maha dahsyat..."

"Oooh... rupanya begitu, aku sama sekali tidak menduga sampai kesitu!" Kembali si pukulan sakti tanpa bayangan tertawa getir.

"Akupun lebih-lebih tak mengira kalau pada akhirnya aku bakal tewas diujung telapak tanganmu."

"Kau jangan mengira kau memang sengaja berbuat demikian untuk memanfaatkan kesempatan yang ada, coba aku tahu begini, tak nanti akan kupergunakan cara seperti ini untuk menyerangmu!"

"Aku... aku tak akan menyalahkan dirimu..." kembali si pukulan sakti tanpa bayangan batuk- batuk. "sebab diantara kita memang sudah ada perjanjian untuk melangsungkan pertarungan mati hidup."

"Yaa, betul dan aku yakin dapat mengungguli dirimu, tapi hal ini baru bisa diselenggarakan apa bila kekuatan tubuhmu telah pulih kembali seperti sedia kala."

Pukulan sakti tanpa bayangan menghela napas panjang.

"Aaai.. akupun merasa agak menyesal karena tak bisa melangsungkan pertarungan itu... sebelum pertarungan bisa dilangsungkan, rasanya matipun aku tak akan mati dengan mata meram."

Menyaksikan si pukulan sakti tanpa bayangan sudah mendekati ajalnya, tiba tiba saja kesan jelek Kim Thi sia terhadapnya berkurang banyak sekali, serta merta hiburnya lagi.

"Sudahlah, kau jangan terlalu memikirkan soal mati, cobalah bertahan sebisa mungkin, mari kutotok jalan darahmu, siapa tahu masih ada cara lain mengatasinya."

Sebelum Kim Thi sia melakukan sesuatu tindakan, si pukulan sakti tanpa bayangan telah menggoyangkan tangannya berulang kali sambil menampik,

"Tidak usah, biarlah maksud baikmu kuterima dalam hati saja..."

Melihat semangat kakek itu mendadak nampak lebih segar, buru buru Kim Thi sia berseru, "Tak usah mengatakan begitu, coba lihat semangat mu tiba tiba menjadi segar kembali,

agaknya masih ada harapan bagimu untuk melanjutkan hidup!"

"Percuma, tak ada harapan lagi....tak ada harapan lagi..." kata si pukulan sakti tanpa bayangan sambil tertawa lemah

"sekarang aku hanya nampak segar menjelang saat ajalku tiba... mumpung ada kesempatan aku ingin berbicara secara baik baik denganmu, bersediakah kau membantuku akan satu hal..."

"Hey, mengapa secara tiba tiba kau mengharapkan bantuanku? Bukankah kita saling bermusuhan?" ucap Kim Thi sia sambil tertawa.

"Dari berumusuhan kita dapat menjadi kawan, apalagi saat ajalku sudah hampir tiba sekarang. kuharap diantara kita tak perlu memperbincangkan masalah lampau yang sudah lewat lagi, akupun berharap aku jangan memikirkan dihati semua kejahatan yang pernah ku perbuat terhadapmu, bahkan aku sendiripun tak akan mempersoalkan lagi seranganmu tadi yang membuatku tak ada harapan untuk hidup lagi, sejak kini kita adalah sahabat, biarpun persahabatan ini mungkin hanya berlangsung dalam waktu singkat, tentunya kau bersedia bukan?" Perkatan ini diutarakan dengan wajah tulus dan bersungguh sungguh, sehingga siapapun yang mendengarkan tak urung tergetar juga perasaan hatinya...

"Baiklah..." kata Kim Thi sia kemudian, "Sekarang kuakui dirimu sebagai sahabatku, bila menjumpai suatu persoalan katakan saja kepada dirimu, aku tentu akan berusaha untuk menyelesaikannya bagiu!"

Si Pukulan Sakti tanpa bayangan tertawa puas,

"sesungguhnya masalah yang ingin kutitipkan kepadamu sederhana sekali, yaitu bila suatu saat kau bertemu dengan putra kesayanganku Ang Thian tong, tolong sampaikan beberapa patah kata pesanku ini kepadanya,"

"Pesan apa?" tanya Kim Thi sia serius.

Mendadak Si Pukulan sakti tanpa bayangan muntah darah tiada hentinya, sambil muntah darah serunya berulang kali,

"Aduh celaka... aduh celaka.. isi perutku sudah terjadi pendarahan hebat, aku hampir mati..." "kalau begitu, cepat kau sampaikan pesan tersebut kepadaku.." desak Kim Thi sia dengan

perasaan tegang.

Darah kental telah menodai seluruh wajah dan badan si Pukulan sakti tanpa bayangan, tapi sekulum senyuman lega tersungging di ujung bibirnya, ia berkata dengan napas tersengal,

"Tolong... tolong beritahu kepadanya.. tidak.. tidak gampang kucarikan bini baginya.. aku....

aku... telah banyak mengeluarkan tenaga untuk itu... maka... kau kau harus beritahukan

kepadanya.. agar dia menjadi orang baik baik. "

"Masih ada pesan yang lain?" desak Kim Thi sia lebih jauh.

"Selain itu, keluarga... Keluarga Ang hanya ada seorang putra saja... katakan.. katakan kepadanya aku... aku... sangat menyayanginya "

Belum selesai kata kata tersebut diutarakannya, pukulan sakti tanpa bayangan telah menghembuskan napas yang penghabisan.

Tiba tiba saja Kim Thi sia merasa hatinya amat pedih, sambil memegangi jenazah Ang bu lim, bisiknya pelan,

"Kau tak usah kuatir Ang lo-cianpwee, aku tentu akan menyampaikan pesanmu itu kepada Ang Thian tong"

Dalam pada itu.....

Sastrawan menyendiri telah menyelesaikan semedinya, ia berdiri dibelakang Kim Thi sia sambil tertawa dingin tiada hentinya, kemudian dengan suara melengking berseru,

"Kim Thi sia, sesungguhnya aku membencimu hingga merasuk ke tulang sumsum, sedang saat ini kau sedang dipengaruhi oleh emosi sehingga ketajaman pendengaran maupun perasaan mu amat terganggu, andaikata kulancarkan sebuah pukulan yang menggempur punggungmu tadi, maka saat ini jiwamu pasti dalam perjalanan menuju ke akhirat."

"Lalu mengapa kau melepaskan kesempatan tersebut?" tanya Kim Thi sia sambil membalikkan badan dan bangkit berdiri..

Sastrawan menyendiri mendengus dingin,

"Aku sendiri pun sedang bertanya kepada diri sendiri, mengapa kesempatan sebaik ini kulepaskan dengan begitu saja, mengapa aku tidak manfaatkan peluang itu untuk membunuhmu?" 
Terima Kasih buat para gan / ganwati yang telah meningglakan opininya di kolom komentar :). Sekarang ada penambahan fitur "Recent comment"yang berada dibawah kolom komentar, singkatnya agan2 dapat melihat komentar terbaru dari pembaca lain dari fitur tersebut. Semoga membantu :).