Lembah Nirmala Jilid 55

 
Jilid 55

Mengetahui bahwa Nirmala nomor tujuh tewas ditangan Sastrawan menyendiri, Nirmala nomor delapan menjadi sangat berang. Dengan sepasang mata merah membara,bentaknya keras keras"

"Kalau begitu, kau harus menyerahkan nyawa."

Dengan memutar senjata sekopnya, ia segera menyerang Sastrawan menyendiri dengan amat dahsyatnya.

Menghadapi datangnya ancaman tersebut, Sastrawan menyendiri tertawa dingin.....

Ditengah senyuman dingin ia sama sekali tidak menggerakkan tangannya, tapi sepasang kakinya dengan gerakan "Bintang berubah meteor berpindah" ia melompat kian kemari meloloskan diri dari ancaman, kenyataannya seluruh serangan dari Nirmala nomor delapan berhasil dipunahkan olehnya dengan mudah sekali.

Dalam waktu singkat, sepuluh jurus telah lewat, sikap Nirmala nomor delapan mulai tegang, peluh bercucuran membasahi seluruh tubuhnya.

Mendadak terdengar Nirmala nomor enam berteriak keras,

"Nirmala nomor dua puluh, kau cepat memberi laporan kepada Sin-cu, hanya Nirmala nomor sembilan yang bisa menaklukan bocah keparat ini."

"Baik. aku segera berangkat!!" sahut Nirmala nomor dua puluh cepat.

Selesai berkata, ia segera melejit ke udara dan kabur menuju kearah Lembah Nirmala. Sebagaimana diketahui, andaikata Nirmala dua puluh berhasil lolos dari situ dan memberi laporan kepada Dewi Nirmala, niscaya dari pihak Lembah Nirmala akan dikirim sekelompok besar jagoan untuk membasi mereka berdua, sudah barang tentu Kim Thi sia tidak ingin kejadian tersebut sampai berlangsung.

Menyaadari akan bahaya yang sedang mengancam, cepat cepat Kim Thi sia melejit ketangan udara dengan gerakan "Naga sakti terbang ke angkasa"

Bagaikan perputaran roda kereta, dengan gerakan amat cepat dia mengejar Nirmala nomor dua puluh, lalu dengan pedang Leng gwat kiam yang di putar bagaikan ular berbisa, secepat petir ia lancarakan tusukan kemuka menggunakan jurus "Bunga Buddha tumbuh berkembang."

Diluar dugaan ternyata Nirmala nomor dua puluh sama sekali tidak becus, belum sempat membalikkan badan atau memberikan suatu reaksi, tahu tahu tubuhnya sudah tertusuk telak.

Diiringi jeritan ngeri yang menyayat hati, tubuhnya segera terjungkal ke atas tanah dan tewas seketika.

Melihat gelagat tidak menguntungkan pihaknya, Nirmala nomor enam menjadi amat terkejut, pikirnya,

"Aaah, ilmu silat yang dimiliki kedua orang pemuda ini sungguh lihay, aku tidak boleh melayani mereka secara tolol."

Mengutamakan kesempatan itu segera teriaknya keras-keras.

"Bocah keparat, kalian jangan kabur, tunggu saja orang lain akan datang membereskan kalian. "

Selesai berkata, bagaikan burung rajawali yang mementangkan sayap, dengan suatu gerakan cepat dia melarikan diri dari situ.

Setelah membereskan Nirmala nomor dua puluh,Kim Thi sia segera membalikkan badannya, tentu saja dia tak membiarkan Nirmala nomor enam berhasil kabur dari situ.

Dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya, secepat sambaran petir dia melakukan pengejaran dari belakang.

Keadaan Nirmala nomor enam saat ini seperti seekor anjing ayng kena di gebug. seluruh otot tubuhnya hanya kelihatan gemetar keras, dengan mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya dia melarikan diri terbirit-birit.

Dalam waktu singkat dua buah bukit telah dilewatinya, sementara itu selisih jarak diantara mereka berdua pun kian lama kian bertambah dekat,

Mendadak......

Dari depatn situ muncul kembali seorang kakek bermuka merah yang memakai gelang emas diatas kepalanya, kakek itu sedang berjalan mendekat dengan langkah santai.

Nirmala nomor enam menjadi teramat girang sesudah menyaksikan kemunculan orang itu, buru-buru teriaknya

"Nirmala nomor sembilan, cepat kemari dan tolonglah aku. "

Siapa sangka gara-gara teriakan tersebut, gerak langkahnya menjadi lebih melamban. Kim Thi sia segera menyusul ke depa dengan kecepatan luar biasa.

lalu dengan menggunakan jurus "Daun kerng gugur berterbangan." hawa pedang serasa menyelimuti seluruh angkasa, tahu-tahu batok kepala Nirmala nomor 6 sudah terpapas kutung dan jatuh menggelinding diatas tanah.

Saat ituah secara kebetulan Nirmala nomor sembilan mendengar teriakan tadi dan memburu ketempat kejadian, melihat apa yang barusan berlangsung, ia pun membentak nyaring

"Bocah keparat, lihat pukulan!!" "Blaaaaaammm. "

Dengan segulung angin pukulan yang maha dahsyat bagaikan gemuruh guntur disiang bolong, dia melancarkan sergapan yang mengerikan ke depan.

Agaknya Kim Thi sia pun mengerti bahwa Nirmala nomor sembilan bukan manusia sembarang, dia tak berani bertindak gegabah.

Cepat-cepat ilmu Ciat Khi mi khi-nya dikerahkan untuk melindungi tubuhnya menyurut mundur kebelakang.

Rupanya dia bermaksud mencoba kekuatan lawannya terlebih dulu sekalian menghidap sari kekuatan musuh sebelum melancarkan serangan balasan.

Namun sayang, serangan yang dilancarkan Nirmala nomor sembilan itu tiba-tiba saja ditarik kembali, Aliran hawa murni yang semula menyelimuti seluruh angkasa pun secara tiba-tiba hilang lenyap tak membekas.

Dari sini bisa diketahui pula bahwa tenaga dalam yang dimiliki kakek ini sudah mencapai puncak kesempurnaan hingga bisa dipergunakan dan ditarik kembali sekehendak hati sendiri.

Tat kala dia menyaksikan Kim Thi sia sama sekali tidak berhasrat melancarkan serangan balasan, ia segera mengerti bahwa sistem pertarungan semacam ini belum tentu mendatangkan hasil seperti yang diinginkan, oleh sebab itulah cepat-cepat dia menarik kembali serangannya.

Menggunakan kesempatan yang ada, tubuhnya segera melejit ketengah udara seperti burung walet yang terbang diangkasa, lalu dengan kecepatan luar biasa dia menyelip kebelakang punggung Kim Thi sia/

Mimpipun Kim Thi sia tidak menyangka kalau ilmu meringankan tubuh yang miliki Nirmala nomor sembilan telah mencapai kesempurnaan yang luar biasa, untuk sesaat ia menjadi kelabakan dan tak tahu bagaimana mesti menghadapi ancaman tersebut. tak heran kalau pertahanan tubuhnya otomatis terbuka sama sekali.

Nirmala nomor sembilan segera tertawa terbahak-bahak..

"Haaahh...Haahh. bocah keparat, sebelum mati kau harus mengerti lebih dulu nama dari

kemampuanku ini, kepandaiant ersebut tak lain adalah gerakan Lompatan Dewi yang amat tersohor dikolong langit!"

Berbicara sampai disitu, dengan jurus "Kapak raksasa membelah batu" dia membabat punggung pemuda itu keras-keras.

"Duuukkk. !!"

Dengan telak serangan tersebut bersarang ditubuh pemuda tersebut. Kim Thi sia segera maju sempoyongan dan akhirnya roboh terjungkal diatas tanah.

Melihat kejadian ini, Nirmala nomor sembilan segera tertawa terbahak-bahak lagi.

Belum habis gelak tertawanya itu, tiba-tiba suaranya terhenti sampai ditengah jalan dengan wajah berubah hebat dan sikap tertegun, serunya kaget

"Apa....? Mengapa kau kau bocah keparat belum mampus?"

Rupanya dia sedang menyaksiakn Kim Thi sia merangkak bangun dari atas tanah

Sekalipun serangan yang dasyat tadi bersarang telak diatas punggungnya dan mengakibatkan tubuhnya roboh terjerembab keatas tanah hingga muntah darah, namun dengan ilmu Ciat Khi mi khi, ia mampu memunahkan kekuatan serangan lawan dan kini bangkit berdiri kembali.

Kembali Nirmala nomor sembilan berseru dengan suara yang keheranan

"Hey, bocah keparat, betulkah kau tak mempan digebugi? sebenarnya apa yang kau andalkan?" Kim Thi sia segera tersenyum. "Aku Kim Thi sia sudah termasyur didalam dunia persilatan sebagai manusia yang paling susah dihadapi, kepandaian inilah yang menjadi modal utamaku, aku tak mempan digebugi.."

"Apa sebabnya bisa begitu?" tanya Nirmala nomor sembilan dengan kening berkerut. "sekalipun kuberitahukan kepadamu, belum tentu kau akan emngerti, inilah ilmu Ciat khi mi khi

yang diwariskan oleh guruku, si Malaikat Pedang berbaju Perlente kepadaku."

Tiba-tiba Nirmala nomor sembilan mengaruk garuk rambut putihnya yangt ak gatal, seperti memahami sesuatu, segera serunya.

"Aaah, jadi kaulah Kim Thi sia, anak murid Malaikat pedang berbaju perlente kesepuluh." "Benar-benar omong kosong!" tukas Kim Thi sia sambil membentak, "bukankah sudah

keberitahukan kepadamu sedari tadi?"

Dengan cepat Nirmala nomor sembilan menunjukkan wajah yang amat serius, katanya lebih lanjut,

"Benar-benar suatu peretua yang tak kusangka, sudha bersusah payah kucari jejakmu tanpa berhasil, tak tahu akhirnya berjumpa dalam keadaan tak terduga. Hhmmm. aku memang sedang

mengemban tuas dari Dewi Nirmala untuk mencarimu serta menggusurmu ke Lembah Nirmala."

"Bukankah aku sudah datang di Lembah Nirmala sekarang? Kebetulan aku pun sangat berharap bisa bersua dengan Dewi Nirmala."

"Kalau begitu, kebetulan sekali." seru Nirmala nomor sembilan sambil bertepuk tangan. "Cepat serahkan pedangmuitu dan membelenggu diri sendiri, aku segera akan membawamu ke sana."

Berbicara sampai disitu dia benar benar mengeluarkan sebuah tali otot kerbau dan dilemparkan ke arah Kim Thi sia.

Melihat benda ini, Kim Thi sia segera tertawa terbahak-bahak.

"Eeeh, apa yang kau tertawakan?" seru Nirmala nomor sembilan dengan wajah tertegun, "memangnya aku telah salah berbicara?"

"tentu saja salah besar, kau anggap aku Kim Thi sia manusia macam apa? Hmmnn bila ingin bertemu dengan Dewi Nirmala kalian, buat apa aku mesti memikirkan segala hal yang sepele begitu?"

"Hmnn, bila kau tak mau menuruti perkataanku, maka ajalmu akan segera tiba di tempat ini juga." ancam Nirmala nomor sembilan dengan wajah yang amat serius.

"Antara aku dan dirimu toh tiada ikatan dendam sakit hati apapun jua, buat apa sih kau mesti mejual jiwa tuamu untuk Dewi Nirmala?"

"Terus terang saja aku beritahukan kepadamu, aku bekerja bagi Dewi Nirmala sesungguhnya demi diriku."

Kim Thi sia memang berhasrat untuk menyelidiki rahasia dari para utusan Nirmala, maka sambil menyabarkan diri dan sama sekali tidak menjadi gusar dia bertanya lebih jauh.

"Apa maksud perkataan itu?"

"Sesungguhnya aku sendiri pun amat membenci terhadap Dewi Nirmala. rasa benciku boleh dibilang sudah merasuk ke tulang sumsum. dia merayu ku dengan menggunakan kecantikan wajahnya sehingga membuat aku hancur, namaku dan pamorku kemudian tersekap didalam gua neraka hampir sepuluh tahun lamanya. dalam keadaan terpaksalah akhirnya kukabulkan permintaan Dewi Nirmala dan bersedia menuruti seluruh perintahnya."

"Bukankah sejak saat itu kau pun kehilangan hak mu untuk mendapatkan kebebasan?" kata Kim Thi sia sambil tertawa.

Nirmala nomor sembilan segera menghela napas perlahan. "Kebebasan memang merupakan hal yang paling berharga, dan sekarang Dewi Nirmala telah menjanjikan harapan tersebut kepadaku."

"Harapan apakah itu?" desak Kim Thi sia lebih jauh.

"Asal aku dapat membekukmu baik mati atau hidup, maka aku bisa peroleh kembali kebebasanku, tapi bila dalam keadaan hidup. Maka aku harus membekukmu hidup-hidup, nah kuanjurkan kepadamu lebih baik sedikilah tahu diri dan segera menyerahkan diri untuk diikat."

Kim Thi sia segera tertawa geli, jengeknya,

"Bagaimana mungkin hal semacam ini bisa terjadi? Sekalipun kau peroleh kembali kebebasanmu, baukankah kebebasanmu yang justru kau korbankan?

"Aku sudah tua dan umurku hampir berakhir, aku ingin melewatkan sisa hidupku dalam alam kebebasan.

"Hal semacam ini bukan merupakan alasan yang kuat."

Nirmala nomor sembilan segera melotot gusar, bentaknya kemudian:

"Bagimu tak berartim bagiku justru merupakan alasanku yang terutama, ketahuilah, kebebasan tiada bernilai begitu, dari muda aku hidup tersiksa sepanjang masa, lebih baik kau saja yang aku korbankan."

Berkata sampai disini, dia segera melejit kedepan dengan menggunakan gerakan sakti lompatan dewanya.

Dalam waktu singkat tampaklah bayangan pukulan telah menyelimuti seluruh angkasa, deruan angin serangan serasa menusuk pendengaran.

Dengan perasaan apa boleh buat, terpaksa Kim Thi sia meloloskan pedang Leng Gwat kiam-nya dan mengeluarkan ilmu pedang panca Budha untuk menghadapi serangan serangan musuh yang gencar itu.

Secara beruntun pedangnya mengeluarkan serangkaian jurus serangan yang aneh, kabut pedang yang tebal menyelimuti seluruh tubuhnya, sementara tubuhnya selangkah demi selangkah maju menyongsong ke depan.

Dalam waktu singkat......

Terasa angin pukulan menyelimuti seluruh arena, hawa pembunuhan mencekam empat penjuru, keadaan saat itu sungguh mengerikan hati siapapun yang melihatnya.

Ditengah gulungan kabut dan debu yang berterbangan, tampak dua sosok bayangan manusia saling menggempur dengan serunya, sebentar mereka saling bergumul, sebentar lagi saling berpisah.

Perlu diketahui semasa masih mudanya dulu Nirmala nomor sembilan lebih dikenal sebagai Pangeran berkaki sakti, ilmu meringankan tubuhnya memang luar biasa mengagumkan, dengan andalkan kepandaian inilah dia banyak mengalahkan musuh-musuhnya.

Akan tetapi Kim Thi sia dengan bakat hebatnya telah mewarisi pula seluruh kepandaian sakti dari Malaikat pedang berbaju perlente, baik gerakan tubuh maupun tenaga khikangnya semua nya boleh dibilang top, terutama sekali ilmu pedang panca buddhanya, boleh dikata jarang menemui lawan tandingan....

Sementara itu pertarungan antara kedua orang tersebut yang telah berlangsung mencapai ratusan gebrakan lebih, namun menang kalah maish belum bisa ditentukan.

Dalam pada itu....

Sastrawan menyendiri telah berhasil menghabisi nyawa Nirmala nomor delapan dan menyusul ke sana, kini dia sedang menonton jalannya pertarungan dari tepi arena. Pada mulanya secara lamat-lamat dia masih bisa menyaksikan bagaimana Kim Thi sia dan Nirmala nomor sembilan bertarung sengit. lama kelamaan secara pelan pelan ia berhasil menemukan keadaan yang sebenarnya dari kedua orang itu.

Dalam waktu singkat ia berhasil mengenali jurus-jurus silat yang dipergunakan oleh Nirmala nomor sembilan, tanpa terasa gugamnya

"Ah, jurus serangan ini adalah seratur dewa menyembah malaikat... ya... jurus yang ini adalah tongkat berdiri tampak bayangan sedang yang ini adalah lompatan dewa, ilmu andalan dari

keluarga Khu kami di Hoa-im "

Perlu diketahui ilmu "Lompatan Dewa" milik si Pangeran berkaki sakti Khu Kong hanya diwarikan kepada putra bungsunya Khu Cu kian seorang, dia pernah bersumpah selain ahli warisnya, biar putri kesayangannya pun tidak diajarkan.

Dan kebetulan sekali Sastrawan menyendiri tak lain adalah putra dari si Pangeran berkaki sakti Khu Kong-ci yang bernama Khu Cu kian itu.

Sejak kecila ia telah kehilangan ayahnya hingga membuat dia terseret untuk berkelanan didalam dunia persilatan, tujuannya yang utama tak lain adalah untuk melacaki jejak ayahnya itu.

Mimpipun dia tak menyangka kalau utusan Nirmala yang sedang bertarung melawan Kim Thi sia sekarang, menguasai pula ilmu Lompatan Dewa yang merupakan kepandaian khas dari keluarga Khu mereka.

Tergopoh-gopoh Sastrawan menyendiri mengamati wajah kakek itu dengan lebih seksama, begitu melihat wajah Nirmala nomor sembilan yang merah membara, air matanya segera jatuh bercucuran dengan deras.

Teriaknya keras-keras.

"Ayah... ayah... kau adalah ayahku... kau adalah ayahku. "

Dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya, secepat anak panah yang terlepas dari busurnya ia segera menerjang masuk ke dalam arena pertarungan.

Betapapun lamanya mereka berpisah, antara ayah dan anak memang selalu terjalin hubungan batin yang akrab.

Apalagi Nirmala nomor sembilan memang tak lain adalah Pangeran berkaki sakti khu Kong. Ketika secara tiba tiba dia mendengar teriakan dari Sastrawan menyendiri Khu Cu kian tadi,

indera keenamnya segera terasa bergetar keras, tanpa menggubris serangan dari Kim Thi sia lagi serta merta ia menghentikan serangannya secara mendadak dan berdiri tertegun.

"Anak Ce kian, benarkah kau " serunya kemudian.

Dalam pada itu Kim Thi sia yang sedang bertarung sengit sedang melancarkan sebuah serangan dahsyat dengan jurus "Panca buddha duduk di teratai. "

"Seeerrr!!"

Ditengah desingan angin tajam yang menyambar lewat, tahu tahu tubuh si Pendekar berkaki sakti telah terpapas kutung menjadi dua bagian, darah segar segera menyambar ke empat penjuru dan tewaslah kakek tersebut seketika itu juga.

Kebetulan sekali Sastrawan menyendiri memburu datang pada waktu yang bersamaan, dia segera memeluk tubuh ayahnya dan berpekik nyaring

"Kim Thi sia!! apa apa yang sedang kau lakukan??"

Dengan napas tersengal-sengal jawab Kim Thi sia

"sungguh hebat kepandaian silat yang dimiliki Nirmala nomor sembilan, aku harus bersusah payah mengerahkan segenap kemampuan yang kumiliki sebelum berhasil mengakhiri hidupnya." Dalam pada itu Sastrawan menyendiri Khu Cu kian telah menyandarkan mayat ayahnya ditepi pohon besar,lalu sambil melotot penuh kegusaran, bentaknya keras-keras.

"Kim Thi sia, aku si bajingan keparat benar-benar kelewat kejam dan tak berperi kemanusiaan."

Sesungguhnya dalam arena pertarungan tadi, Kim Thi sia sama sekali tidak mendengar bagaimana Sastrawan menyendiri memanggil ayah kepada Nirmala nomor sembilan, oleh sebaba itu dia masih belum mengetahui dengan jelas hubungan erat antara kedua orang tersebut.

Ia menjadi tertegun setelah mendengar teguran tadi, cepat cepat serunya keras.

"Kenapa aku kejam? Kenapa aku tak berperi kemanusiaan? Bukankah Nirmala nomor sembilan adalah begundalnya Dewi Nirmala?"

"Dia adalah ayahku!" pekik Sastrawan menyendiri dengan suara lantang.

"Aaai..." Kim Thi sia berseru tertahan setelah mendengar pekikan tersebut, "kejadian ini benar- benar diluar dugaanku."

Sambil menggertak gigi menahan gejolak emosi yang membara didalam dadanya. Sastrawan menyendiri kembali berseru dengan rasa benci.

"Sekarang kau telah menjadi musuh besar pembunuh ayahku.. dalam kehidupan selanjutnya, aku bersumpah tak akan melepaskan dirimu dengan begitu saja..."

Kim Thi sia hanya berdiri tertegun serperti sebuah patung, untuk sesaat lamanya dia tak tahu apa yang mesti diperbuatnya...

Tiba tiba terdengar suara seruan tertahan dari Nirmala nomor sembilan, rupanya kakek itu belum putus nyawa, dengan suara keras terdengar ia berkata.

"Oooh, anak cu-kian, akhir yang dialami ayahmu sekarang bukan menjadi kesalahan Kim Thi sia... sesungguhnya akulah yang mencari celaka bagi diri sendiri..."

"Ooohh ayah.. apa yang harus ananda lakukan bagimu?" pekik Sastrawan menyendiri sedih. "Kau harus membalasakn dendam bagiku."

"Bila Kim Thi sia tidak ku bunuh. kepada siapa dendam sakit hati ini harus ku tuntut balas?"

Pangeran berkaki sakti Khu kong memuntahkan darah segar, kemudian dengan suara terputus- putus katanya lagi

"Kau... kau harus membunuh Dewi Nirmala... sebab... sebab dia... dialah musuh besar ayahmu yang sesungguhnya."

Kata kata itu diutarakan dengan bersusah payah, seakan akan terdapat beribu patah kata yang hendak disampaikan, anmun kekuatannya sudah tak mampu untuk berbuat begini.

Melihat keadaan ayahnya semakin lemah, tanpa terasa air mata jatuh bercucuran mebasahi wajah Sastrawan menyendiri, buru-buru dia menempelkan bibirnya disisi telinga ayahnya dan berbisik.

"Ayah.. pesan apa lagi yang hendak kau sampaikan... katakanlah cepat. "

Tapi sayang keadaan sudah terlambat, selembar nyawa Pangeran Berkaki sakti Khu kong sudah keburu meninggalkan raga untuk selamanya.

Isak tangis yang memedihkan hatipun bergema memecahkan keheningan malam. Kim Thi sia berdiri menyesal disisi arena, dengan mulut membungkam, dia membantu

Sastrawan menyendiri untuk menggali liang kubur serta mengubur jenazah ayahnya.

Mereka berdua sama-sama merasakan pikiran dan perasaannya sangat berat, siapapun tidak berbicara, mereka hanya mengangkuti batuan dengan mulut membungkam dan membentuk sebuah kuburan batu yang megah dan kuat. Menjelang larut malam akhirnya pekerjaan telah diselesaikan, mereka berdua duduk bersama didepan kuburan sambil melepaskan lelah.

Angin malam berhembus sepoi-sepoi mendatangkan perasaan yang sepi di hati mereka. Tiba-tiba Sastrawan menyendiri menghela napas panjang, lalu gugamnya pelan.

"Aaaai,... perubahan nasib manusia memang sukar diduga, sore tadi aku masih mamaksamu dengan ancaman pedang untuk membunuh Utusan Nirmala, sungguh tak disangka, menjelang malam aku justru membencimu setengah mati setelah melihat kau membunuh seorang Utusan Nirmala."

Sambil menghela napas panjang Kim Thi sia mengelengkan kepalanya berulang kali, katanya "Yaa, siapa yang menyangka akan terjadi perubahan seperti ini, aku pun tidak menyangka

Nirmala nomor sembilan yang berhasil ku bunuh sesungguhnya adalah ayah kandungmu."

"Seandainya kau menjadi aku, apa yang hendak kau lakukan?" tanya Sastrawan menyendiri secara tiba-tiba.

Kim Thi sia termenung sejenak, kemudian sahutnya.

"Aku adalah orang yang tak senang berbohong, maaf kalau aku akan berbicara terus terang, kuharap kau jangan marah setelah mendengar nanti. "

Dengan tak sabar Sastrawan menyendiri menukas,

"Tak usah berbasa basi lagi, aku ingin tahu seandainya ada orang telah membunuh mati ayahmu, apa yang hendak kau perbuat?"

"Aku pasti tak akan mengampuni dia dengan begitu saja!" jawab Kim Thi sia cepat. Sastrawan menyendiri segera tertawa sedih.

"Yaa. perkataan mu memang benar!"

Tapi setelah memandang kuburan ayahnya sekejap, ia segera menghela napas panjang sambil menyambung,

"Tapi... aku pun tak bisa melanggar pesan terakhir dari ayahku tadi. "

"Perkataan dari ayahmu tadi memang benar, meski kita saling berhadapan tadi, namun orang yang sesungguhnya membunuh ayahmu bukan aku, melainkan Dewi Nirmala."

"Bagaimanapun juga kita tak bisa menghilangkan kenyataan yang ada dengan begitu saja." seru Sastrawan menyendiri ketus.

"Aku toh melihat dengan mata kepalaku sendiri bagimana ayahku tewas diujung pedamu tadi." "Lalu apa yang sebenarnya hendak kau perbuat?"

Kembali Sastrawan menyendiri menghela napas panjang. "Aaai, sekarang aku sudah kehilangan pegangan sama sekali."

"Kau tak boleh berputus asa, aku harus bangkitkan kembali semangatmu, mari kita bekerja sama menyerbu. Lembah Nirmala bisa kita kalahkan, akupun yakin Dewi Nirmala pasti dapat kita cincang hingga hancur berkeping-keping."

Mendadak Sastrawan menyendiri membentak keras.

"Membalas dendam atau tidak adalah urusanku sendiri, dalam kejadian mana kau sama sekali tak ada sangkut paunyta denganku!"

"Tapi aku berbicara sejujurnya kepadamu " seru Kim Thi sia agak tertegun.

"Harap kau jangan berbicara itu lagi denganku, harap kau tinggalakn aku secepatnya." "Mengapa harus begitu?" "tak ada alasan lain, aku cuma tak ingin bertemu lagi denganmu. tak ingin melihat tampangmu yang memuakan lagi.." teriak Sastrawan menyendiri lantang.

"Tapi.. buat apa kau mesti berteriak begitu? Aku toh tidak berniat sungguh sungguh untuk membunuh ayahmu, takdirlah yang telah salah mengatur kesemua ini, mengapa kita tidak bersahabat saja?"

"Aku tak ingin bersahabat dengan siapapun, selama hidup aku suka menyendiri, dalam melakukan pekerjaan apapun aku lebih senang melakukannya seorang diri, lebih baik tinggalkan tempat ini secepatnya, kau tak usah mengganggu ketenanganku lagi!"

Kim Thi sia mengerti bahwa rasa benci Sastrawan menyendiri terhadapnya sudah merasuk hingga ke tulang sum sum, akan tetapi dia tak pandai bicara dan tak mampu menjelaskan soal ini kepada Khu cu-kian, akhirnyasambil menghela napas, katanya

"Kalau memang begitu, aku pun tak ingin memaksa lagi."

"Cepat pergi dari sini. cepat tinggalkan tempat ini!" bentak Sastrawan menyendiri keras-keras. Sambil tertawa getir, Kim Thi sia segera menjura dan berkata.

"Terlepas bagaimana pun anggapanmu terhadapku, aku masih tetap menyebut kau sebagai sahabat, selamat tinggal!"

Selesai berkata ia segera membalikkan badan dan meneruskan perjalannnya menuju ke Lembah Nirmala.

Sastrawan menyendiri sama sekali tidak menghantar kepergiannya, sambil tetap duduk didepan kuburan ayahnya, dia berseru keras.

"Kuharap kita jangan pernah bersua kembali dikemudian hari, sebab bila sampai bertemu muka, aku pasti akan mencari alasan lain untuk membunuhmu, kuharap kau bisa memahami keadaan ini."

Kata-kata tersebut sengaja diucapkan dengan suara keras-keras sehingga sekeliling hutan itu penuh dengan gema suaranya.

Tentu saja Kim Thi sia dapat mendengar seruan tadi dengna jelas, namun dia tak ambil pusing, sambil tertawa getir, ia meneruskan kembali perjalanannya kedepan.

Pikiran dan perasaannya saat ini sangat kalut, pada hakekatnya dia tak tahu apa yang mesti diperbuatnya.

Tanpa terasa betapa buah bukit telah dilewati, kini dia mulai memasuki kawasan Lembah Nirmala.

Ditengah lembah terbentang hutan batu yang amat luas sekali.

Diantara bebatuan cadas, seringkali ia jumpai tengkorak-tengkorak manusia yang berserakkan dimana-mana, yang aneh adalah diantara tengkorak manusia yang berserakkan tadi tersebar pula emas yang berbongkah-bongkah banyaknya, dibawah pantulan sinar rembulan terlihat biasan cahaya emas yang menusuk pandangan mata.

Kim Thi sia memang bukan seorang pemuda yang kemaruk akan harta, selama ini dia selalu menganggap harta kekayaan bagaikan kotoran manusia, ditambah lagi pikiran dan perasaannya sekarang amat kalut, karenanya meski ia sudah melampaui banyak sekali tengkorak manusia dan gemerlapannya bongkah emas pikirannya sama sekali tak tergerak.

Tapi......

Pemadangan yang terbentang didepan mata sekarang segera mengingatkan Kim Thi sia akan suatu persoalan.

Sambil menghela napas panjang pikirnya: "Sebelum menghembuskan napas yang penghabisan dulu, ayah pernah beritahu kepadaku bahwa pihak Lembah Nirmala sengaja menyebarkan uang emas dalam jumlah yang banyak disekitar lembahnya untuk memikat orang mengambilnya, malah ayah sendiri pernah keracunan hebat akibat uang emas ini. Aaaah. mungkin jalan yang kutempuh hari ini adalah jalan yang

pernah ditempuh ayahku dulu."

Berpikir sampai disini, Kim Thi sia segera merasakan semangatnya berkobar kembali. Sambil meloloskan pedang Leng gwat kiamnya, dia mendongakkan kepalanya dan berdoa.

"Ayah kau orang tua tak usah kuatir, hari ini juga ananda akan menyelesaikan pesan

terakhirmu itu, akan kubongkar rahasia Lembah Nirmala yang sebenarnya."

Baru selesai dia memanjatkan doa, mendadak dari balik semak belukar takjauh dari tempatnya berdiri, bergema suara tertawa dingin yang kaku menyeramkan bagaikan hembusan angin beku dari gudang salju itu.

Dengan cekatan Kim Thi sia membalikkan badan kemudian melejit kemuka dengan mengerahkan gerakan "delapan langkah menempuh ombak."

Begitu melihat dengan jelas siapa gerangan yang berada disitu, dia segera menyapa:

"ooh, rupanya cian sianseng yang amat termasyur namanya telah hadir disini, selamat bersua kembali"

cian sianseng tertawa keras, kemudian tegurnya:

"Ditengah malam buta begini berani amat kau datang kemari. Kaupun nampaknya tidak tertarik menyaksikan begini banyak bongkahan emas yang berserakkan diatas tanah. Hei anak muda, kau hebat sekali." Kim Thi sia segera tertawa.

"Sesungguhnya aku tidak terlalu hebat, tapi bila dibandingkan dengan kawanan manusia munafik yang baik diluar busuk didalam, sesungguhnya aku masih jauh dari bagus."

Merah padam selembah wajah cian sianseng sesudah mendengar perkataan itu, agak tergagap serunya:

"Tidakkah kau merasa bahwa masalah yang kau singgung sama sekali tidak menarik hati. "

Kim Thi sia tertawa dingin.

"IHeeeh....heeeh. aku pingin bertanya, persekongkolan apakah yang sebenarnya sedang kau

lakukan dengan Dewi Nirmala? Rencana busuk apapula yang hendak kau perbuat? Aku anjurkan kepadamu lebih baik berterus terang saja dihadapanku."

Dengan penuh amarah cian sianseng segera berseru:

"Baik, akan kukatakan apa yang sebenarnya terjadi kepadamu, siburung Hong lampeng dengan membawa kelima pengikutnya, lima naga dari wilayah Biau yang telah membawa lentera hijau datang ke Lembah Nirmala, bukan itu saja mestika tersebut telah memulihkan kekuatan Kun han sam coat khikang ku, bahkan membantu Dewi Nirmala dalam latihan ilmu Tay yu sinkannya hingga memperoleh kemajuan yang amat pesat. Hmmm, kini kau telah memasuki daerah terlarang, lebih baik berhati-hatilah sedikit kalau berbicara" Kim Thi sia tertawa nyaring.

"soal itu mah sudah kuketahui sejak dulu lama dengan andaikan kalian berdua barang rongsokan, aku belum bisa dibuat ketakutan"

"Pukulan sakti tanpa bayangan Ang Bum ayah dan anak berduapun sudah hadir disini sekarang. " sela ciang sianseng cepat.

"Mau apa mereka datang kemari?"

"Kau mesti tau keluarga Ang dari Tiang pek san adalah besan Dewi Nirmala, sudah sepantasnya bila mereka saling mendukung." "Hmmm, sayang sekali nona Hay Jin tak sudi kawin dengan Ang Thian tong, ia sudah kabur keujung langit danjejaknya tidak ketahuan rimbanya lagi. " sela Kim Thi sia.

"Hmm, sayang sekali kau hanya tahu itu, tak tahu yang lain?"

Sesudah tertegun sejenak Kim Thi sia segera berseru: "Jadi nona Hay Jin telah berhasil kalian temukan kembali?"

"Bukan hanya ditemukan saja, bahkan sudah melangsungkan perkawinan dengan Ang Thian tong, malam ini adalah malam pengantin mereka."

Seketika itu juga Kim Thi sia merasakan darah yang mengalir dalam tubuhnya telah mendidih, teriaknya cepat:

"Kau. kau situa bangka hanya ngaco belo, rupanya kau sengaja hendak membohongi aku"

Mendengar itu, ciang sianseng tertawa terbahak-bahak. "Haaah.....haaaah.....haaaah. rasanya tiada kepentingan bagiku untuk berbohong."

"Lalu apa maksudmu memberitahukan semua persoalan tersebut kepadaku. "

"Aku hanya bermaksud agar kau mengetahui kenyataan dengan sejelasnya, dalam Lembah Nirmala sekarang bukan cuma ada aku bersama Dewi Nirmala, disinipun hadir lima naga burung hong, hadir pula Pukulan sakti tanpa bayangan serta putranya, dengan kekuatan sebesar ini,jelas kau bukan apa- apa dalam pandangan kami semua"

"Hmmm, sayang aku justru datang kemari untuk menumpas kawanan anjing semaCam kalian itu"

Kembali ciang sianseng tertawa terbahak-bahak.

Rasa benci dan dendam telah menyelimuti seluruh wajah Kim Thi sia, dengan wajah merah membara bentaknya lagi:

"Beranikah kau memberitahukan kepadaku, dimanakah letak kamar pengantin orang she Ang itu?"

"Hmmm, tampaknya kau tidak mempercayai perkataanku." seru ciang sianseng dengan kening berkerut. "Baik, akan kuberitahukan kepadamu, kamar pengantin mereka diruang burung hong, dari sini belok kiri akan kau turuni sebuah bukit, dipunggung bukit itulah letaknya, disitu akan kau jumpai Cahaya lentera yang terang benderang."

"Baik" seru Kim Thi sia dengan amarah yang berkobar-kobar. "Sekarang juga aku akan berangkat kesana dan membumi ratakan gedung tersebut."

Baru saja dia hendak beranjak pergi dari situ, tiba-tiba terasa desingan angin pukulan yang sangat dahsyat menyergap tiba dengan hangatnya.

Tampak olehnya ciang sianseng telah turun tangan melancarkan serangan, jelas dia bermaksud mencabut selembar nyawa Kim Thi sia.

cepat-cepat pemuda itu mengeluarkan gerakan "impian indah berputar dikebun" lalu meloloskan diri dari ancaman lawan lalu dengan amarah yang membara bentaknya: "Sungguh aneh, mengapa aku jadi begitu garang dan buas macam harimau kelaparan saja?"

ciang sianseng tertawa dingin.

"Aku merasa amat menyesal karena tidak berhasil membacok mampus dirimu dalam sekali ayunan tangan"

"Padahal antara kau dengan aku toh tak terjalin permusuhan apapun. Buat apa kau mesti senekad ini?" kata Kim Thi sia sambil tertawa getir. Dengan kebencian yang meluap ciang sianseng menyahut: "Ilmu Tay goan sinkang dari guru setanmu telah merusak ilmu Kun goan sam coat khikangku sehingga hal ini membuatku tersiksa selama banyak tahun. Dendam sakit hati ini tak pernah akan kulupakan kembali untuk selamanya."

"Jadi kau hendak melampiaskan rasa dendammu itu kepadaku?" kata Kim Thi sia.

"Kau adalah murid terakhir dari Malaikat pedang berbaju perlente, sudah sepantasnya bila kau yang menanggung segala resikonya."

"Kalau toh kau berpendapat demikian, bukankah Dewi Nirmalapun masih terhitung adik seperguruannya Malaikat pedang berbaju perlente, kenapa kau tak berani mencari gara-gara dengannya?"

"Hmmm, aku bebas menentukan lawan tandinganku" seru ciang sianseng agak tersipu-sipu.

Mendengar itu, Kim Thi sia tertawa tergelak.

"Haaah.....haaaah sudahlah, kau tidak usah berlagak sok gagah dimulut, padahal aku Cukup

memahami bagaimanakah watak manusia rendah semaCam kau itu. Hmmm oleh karena kau melihat perempuan itu mempunyai banyak anak buah dan pengaruhnya besar, maka kau hendak mendukung serta menjilat pantatnya IHmmm, kalau dibicarakan sesungguhnya, aku malah

menaruh perasaan kasihan kepadamu."

"Lebih baik kau mengasihani dirimu sendiri" terlak ciang sianseng dengan gemas. "Sekarang kau hidup berkelana seorang diri bukankah kau merasa sedih setelah mendengar bahwa Ang Thian tong telah mengawini nona Hay Jin dan sekarang lagi menikmati malam pengantinnya?"

Merah padam selembar wajah Kim Thi sia, buru-buru ia berseru: "Aku justru merasa gembira akan hal ini"

"Tapi sayang dengan kehadiranku disini, aku tak akan membiarkan kau merasa gembira" ucap ciang sianseng dengan suara dalam.

"Lantas apa yang kau kehendaki?"

Kemudian setelah meludah keatas tanah, kembali lanjutnya:

"Aku justru akan berkunjung kesitu, akan kubumi hanguskan gedung burung hong tersebut, mau apa kau?"

"Haaaahhhh boleh saja kalau kau ingin berkunjung kesitu, tapi aku mempunyai sebuah

syarat yang mesti kaupenuhi dulu."

Kim Thi sia berkerut kening, agakjengkel serunya:

"Apa syaratmu?"

"Silahkan kau minta ijin dulu dengan sepasang kepalanku ini" kata ciang sianseng sambil mengacungkan tinjunya.

Hawa amarah yang berkobar didada Kim Thi sia benar-benar tak terkendalikan lagi, dia berseru:

"Kalau begitu kau hendak mencari kesulitan denganku rupanya. Baik, mari kita bertarung untuk menentukan siapa yang berhak untuk melanjutkan hidup didunia ini?"

"Malam ini adalah saat berlangsungnya malam pengantin yang amat meriah. Kau tahu aku telah berjanji kepada Dewi Nirmala untuk persembahkan pedang Leng gwat kiam kepadanya"

"Hmmm, aku lihat, mungkin kau sudah dibuat mabuk oleh air kata- kata sehingga mengigau tak karuan Pedang Leng gwat kiam toh menjadi milikku, atas dasar apa kau hendak mendapatkannya? "

Berbicara sebenarnya, ciang sianseng memang masih terpengaruh oleh alkohol waktu itu, hanya suatu munculkan diri pertama kali tadi Kim Thi sia belum merasakan hal itu, setelah pembicaraan berlangSung dan ia mengendus bau arak. rahaSia mana baru diketahui olehnya. Benar juga, dibawah Sinar rembulan tampak paras muka ciang sianseng merah padam seperti bara api, otot-ototnya pada menonjol keluar semua.

Ketika mendnegar ejekan pemuda tadi, dengan suara berang ia segera berteriak: "Kenapa aku tak bisa mendapatkan pedang Leng gwat kiam itu?"

"Hmmm, tentu saja tak bisa, karena pedang Leng gwat kiam adalah benda milikku dan sekarangpun masih berada ditanganku."

"Bukankah lentera hijau dulunya juga menjadi milikmu? Tapi buktinya sekarang. benda

tersebut telah berpindah tangan."

"Keadaan tersebut sama sekali berbeda, lentera hijau bisa berpindah tangan karena si burung hong Lam Peng telah mendapatkannya dengan Cara yang amat licik. Akupun tidak rela menyerahkan benda itu kepadanya."

"Sudahlah, tak usah dipersoalkan lagi rela atau tidak, pokoknya sekarang pun aku datang untuk merampasnya dari tanganmu."

"Hmmm, ngomong sih gampang, tapi dengan cara apa kau hendak merampasnya dari tanganku?" jengek Kim Thi sia sambil tertawa dingin.

"Akan kuandalkan dengan ilmu pukulan Tiu khi ciang." Kembali Kim Thi sia tertawa. "Lebih baik jangan terlalu percaya dengan kemampuan sendiri, ketahuilah aku Kim Thi sia

bukan kucing atau anjing yang bisa digertak secara mudah. Bukan saja kau sedang mabuk

sekarang, pikiranmupun dalam keadaan tak jernih. Betapapun hebatnya ilmu silatmu, jelas kekuatannya akan menderita banyak kekuarangan."

"Mabuk bukan masalah yang serius" bantah ciang sianseng penuh keyakinan pada diri sendiri. "Aku perCaya dalam tiga gebrakan saja kau paSti sudah keok ditanganku."

"Haaaah.....haaaaah......haaaaah. kau terlalu merendah-rendah kemampuanku" Kim Thi sia

tertawa tergelak.

ciang sianseng pun ikut tertawa seram.

"Bukan memandang rendah, tapi memang begitulah kenyataannya, ketahuilah dibalik pukulan Tin khi ciang ku ini tersisip racun jahat sembilan bisa yang mematikan- Kau tahu, gurumu sendiri si Malaikat pedang berbaju perlentepun tak berani menyambut dengan kekerasan."

begitu mendengar asal "racun jahat sembilan bisa" tanpa terasa Kim Thi sia teringat pula dengan si Utusan beracun, diam-diam segera pikirnya:

"Rasul raCun adalah raja diantara pelbagai raCun, tapi dengan andalkan ilmu ciat khi mi khi buktinya aku toh tak terpengaruh apapun, apalagi hanya sembilan bisa dari ciang sianseng ?"

Berpikir sampai disitu, diapun segera berkata:

"Aku jauh berbeda dengan guruku tempo dulu Malaikat pedang berbaju perlente belum berhasil menguasai ilmu ciat khi mi khi sedang saat ini ilmu ciat khi mi khi ku telah menembusi semua bagian tubuhku. "

"Sudah, tak usah banyak ngaco belo lagi." tukas ciang sianseng tak sabar, "Asal kau mampu menerima tiga buah pukulanku tanpa Cedera "

"Apa yang hendak kau perbuat saat itu?" sela Kim Thi sia dingin.

"Aku akan musnahkan seluruh kepandaian ku dengan tenaga Kun goan sam coat khikang ku sendiri"

Menyaksikan keyakinan orang, Kim Thi sia pun berkata:

"Baiklah, akan kusambut ketiga buah serangan tersebut tanpa melakukan perlawanan-" "Apa? Kau benar-benar tidak akan melawan?" tanya ciang sianseng agak tertegun. "UCapan seorang Kun Cu ibarat kuda yang dipecut, sekali dicambuk tanpa akan bisa ditarik kembali. Aku harap kaupun bisa menepati janjimu sendiri "

"Tak usah kuatir, aku tak pernah mengingkari janji."

"Hmmm, yang ku kuatirkan sekarang justru dirimu, berpuluh-puluh tahun berupaya memperdalam ilmu, beratus pertarungan dialami untuk meraih kedudukan dan pamor yang tinggi, tidakkah merasa sayang apabila kedudukan dan nama besar yang berhasil kau raih, dengan bersusah payah ini akhirnya mesti hancur gara-gara dorongan emosi?"

"Justru kau sendiri yang mesti merasa sayang dengan keberhasilan yang berhasil kau raih hingga sekarang." teriak ciang sianseng keras-keras.

"Hmmm, bila kau hendak menyampaikan pesan terakhir, cepat katakan, mengingat usiamu masih kecil, dalam keadaan yang memungkinkan aku bersedia memenuhi untukmu."

Kim Thi sia tertawa lebar.

"Aku tidak merasa perlu untuk meninggalkan pesan terakhir."

Lalu setelah mencopot pedang Leng gwat kiam dan meletakkannya keatas tanah dia berdiri sambil bertolak pinggang dan berseru:

"Sekarang bersiap-siap. bila ingin menggunakan pukulan thian khi ciang mu, silahkan di gUnakan secepatnya."

"Baik" seru ciang sianseng sambil tertawa nyaring.

begitu selesai berkata, tubuhnya telah melejit kedepan sambil merentangkan tangannya lebar- lebar, sebuah pukulan segera dilontarkan kedepan-

"Jurus seranganku ini bernama Bintang dan rembulan berebut sinar"

Dalam perkiraan Kim Thi sia semula, serangan yang dilancarkan lawan sudah pasti dahsyat dan mengerikan hati.

Siapa tahu ang in serangan yang dilontarkan ciang sianseng begitu ringan sehingga dia hanya merasakan badannya bergetar sedikit saja tanpa perubahan apapun. Tanpa terasa ia berseru: "Hmmmm, rupanya Cuma begitu saja.^. "

Setelah melepaskan serangannya tadi tiba-tiba ciang sianseng menggerakkan tubuhnya melingkari sekeliling pemuda tersebut tiga kali, setelah kembali ujarnya: "Dalam serangan yang kedUa akan kupergunakan jurus bunga berguguran ditengah salju"

"Huh, ilmu pukulan Thian khi ciang macam apaan itu?" jengen Kim Thi sia sambil tersenyum. "Aku lihat lebih mirip dengan gerak membersihkan debu"

Gerak serangan dari ciang sianseng kali ini dilakukan dengan keCepatan bagaikan sambaran kilat, dalam waktu Singkat terdengar suara ujung baju yang terhembus angin, tahu-tahu ia sudah menempuh lagi jalan darah cian Ceng hit dibahu Kim Thi sia pelan.

Tiba-tiba saja Kim Thi sia merasakan tubuhnya bergetar keras, hampir saja ia bersin berapa kali.

Tapi pemuda tersebut mengandalkan kemampuan ilmu ciat khi mi khi nya, sekalipun dia dapat merasakan bahwa pukulan Thian khi ciang lawan agak berbeda dengan pukulan lain, akan tetapi ia tidak teriak memikirkannya dihati. Segera ujarnya lagi:

"ciang sianseng, kau sudah melepaskan dua buah serangan tanpa menimbulkan Celaka bagiku, aku lihat usahamu cuma sia-sia belaka."

Sementara itu paras muka ciang sianseng telah berubah menjadi merah membara, napasnya tersengkal-sengkal, peluh membasahi tubuhnya dan agak payah untuk berbicara. Dengan ucapan yang terputus-putus terdengar ia berkata: "Siapa bilang seranganku ini sia-sia saja. Aku tahu tenaga dalammu amat sempurna, tapi aku telah menggunakan dua belas bagian tenaga dalamku untuk melancarkan serangan tadi. "

"Kau telah menggunakan tenaga sebesar dua belas bagian?" Kim Thi sia semakin tercengang. "Mengapa aku hanya merasakan pukulan yang begitu ringan?"

"Jangan kau anggap seranganku enteng....padahaL. padahal besar sekali pengaruhnya

bagimu....kaau....kau akan merasakan akibatnya nanti. "

"Tapi hingga sekarang aku tidak merasakannya sama sekali" ucap Kim Thi sia sambil tertegun. "Sepintas lalu kau memang tidak merasakan apa- apa, padahal isi perutmu sudah terluka parah

biarpun Hoa Tho hidup kembali pun belum tentu bisa mengobati luka itu."

Diam-diam Kim Thi sia mencoba untuk menyalurkan tenaga dalamnya, kemudian berkata:  "Aku hanya merasakan diatas hatiku secara lamat- lamat terasa sakit, tapi aku percaya sakit itu

tak akan berpengaruh besar. "

Sementara itu ciang sianseng telah berhasil mengatur kembali pernapasannya, ia segera berseru keras:

"Bocah keparat, saat ajalmu tiba sudah dekat diambang pintu "

"Tak mungkin, aku tidak akan mati secepat itu." ciang sianseng tertawa terbahak-bahak.

"Haaah....haaah....haaaah. inilah seranganku yang terakhir. Setan iblis pembetot sukma.

kuharap kau bersikap lebih berhati-hati lagi "

Selesai berkata, sepasang telapak tangannya segera didorong sejajar dada serangan itu dilancarkan amat lembut, baru saja menyentuh tubuh Kim Thi sia. Sea kan- akan tersentuh aliran listrik berarus kuat, cepat-cepat serangannya ditarik kembali. Tiba-tiba saja Kim Thi sia merasakan tubuhnya bergetar keras kemudian terbatuk-batuk.

Melihat keadaan pemuda tersebut, ciang sianseng segera tertawa terbahak-bahak seraya berseru:

"Haaaah.....haaaaah.....haaaaah. Kim Thi sia. Wahai Kim Thi sia, sekalipun kau mempunyai

nyawa rangkap tiga pun. Hari ini kau bakal mampus secara mengenaskan."

"Eeeei, rupanya kau sedang mabuk hebat, kenapa bicaramu ngelantur tak ada ujung pangkalnya " tegur Kim Thi sia agak tertegun.

Dengan wajah serius dan bersungguh-sungguh kembali ciang sianseng berkata:

"Aku sama sekali tidak ngelantur, aku pun tidak berbicara sembarangan. Bila dalam hitungan kesepuluh nanti kau tidak roboh binasa, aku akan melaksanakan janjiku tadi, menghabisi nyawaku sendiri dihadapanmu."

Kim Thi sia semakin keheranan, dari keseriusan kakek tersebut dia dapat merasakan betapa besarnya keyakinan ciang sianseng dengan ucapannya, agak terCengang ia segera berkata:

"Baiklah, kau boleh menghitung sampai angka sepuluh"

Ternyata ciang sianseng benar-benar mulai menghitung dengan suara lantang. "Satu. . . dua . .

.tiga . . . empat. . . lima . . . enam. . .tujuh . . . delapan. . .sembilan. sepuluh " Angka kesepuluh

sengaja diucapkan dengan suara yang keras sekali.

Hampir saja Kim Thi sia dibuat terperanjat oleh hitungan kesepuluh dari ciang sianseng yang menggeledek itu, cepat tegurnya:

"Bagaimana sih kamu ini, kenapa berteriak sekeras itu? Memang nya kau hendak mengagetkan aku?" ciang sianseng sama sekali tidak menggubris perkataan mana, dengan wajah sangat tegang ia berteriak lagi. "Roboh.....roboh.....roboh "

Secara beruntun dia meneriakkan kata "roboh" sampai berapa kali, tapi Kim Thi sia masih tetap berdiri tegak ditempat semula tanpa bergerak sedikitpun jua, malah pemuda itu berdiri sekokoh batu karang.

ciang sianseng segera berdiri tertegun dengan mata terbelalak lebar dan mulut melongo. Sesudah terbatuk sedikit, Kim Thi sia berkata sambil tertawa.

"Nah bagaimana sekarang? Tentunya kau boleh segera menghabisi nyawamu sendiri bukan?"

ciang sianseng kelihatan amat sedih, tanpa sadar air mata telah jatuh berCucuran membasahi wajahnya, ia berseru kemudian: "Bagus, bagus, bagus sekali"

"Jadi kau benar-benar mengakui kekalahanmu?" tegur Kim Thi sia dengan wajah keheranan. "Yaa kejadian ini memang tak bisa dibantah lagi" ucap ciang sianseng sambil menyeka air

matanya. "Aku telah berusaha dengan sepenuh tenaga, seluruh hasil latihanku selama puluhan tahun telah kupergunakan habis-habisan, tapi nyatanya masih belum mampu menandingi bocah cilik macam kau Aaaai. apa lagi yang bisa kukatakan sekarang? Rasanya hanya satujalan yang

bisa kutempuh sekarang yakni mati dengan cepat. Namun sebelum ajalku tiba nanti, kuharap kau bersedia mengabulkan sebuah permintaanku"

"Apakah itu?"

Dengan wajah bersungguh-sungguh ciang sianseng berkata:

"Kuharap kau jangan menceritakan kejadian yang kualami hari ini kepada siapapun setelah aku mati nanti, rusaklah wajahku dengan bacokan pedangmu lalu kuburlah aku dalam-dalam, makin dalam makin baik Kau harus melakukan kesemuanya itu bagiku, aku tidak ingin orang lain

memandang rendah nama ciang sianseng yang sudah menggetarkan seluruh dunia persilatan, buatlah orang lain menganggap hilangnya ciang sianseng sebagai sebuah teka teki besar yang tak pernah terjawab"

Mendengar permintaan ini, diam-diam Kim Thi sia berpikir:

"Aaaai, tampaknya nama besarpun dapat menyiksa orang, gara-gara soal nama dan kedudukan, sampai menjelang ajalnyapun setan tua ini masih berusaha untuk melindungi nama baiknya."

Dengan cepat dia menyahut: "Aku rasa soal ini bukan masalah lagi."

Setelah mendengar jawaban tersebut, dengan suatu gerakan yang amat cepat ciang sianseng menyambar pedang Leng gwat klam yang tergeletak diatas tanah itu dan ditempatkan diatas leher sendiri, kemudian teriaknya keras-keras.

"Puluhan tahun lamanya aku ciang sianseng mengembara didalam dunia persilatan dengan susah payah kuraih nama serta kedudukan sehingga setenar saat ini. Tapi hari ini. akhirnya

semuanya punah dan hilang dengan begitu saja. "

Selesai mengucapkan perkataan tersebut, tiba-tiba saja ia menggorok leher sendiri dalam- dalam.

PerCikan darah segar segera berhamburan dimana-mana, diiringi jeritan ngeri yang menyayat hati, robohlah ciang sianseng keatas tanah dalam keadaan tak bernyawa lagi.

Semua peristiwa berlangsung begitu cepat dan sama sekali di luar dugaan, untuk beberapa saat lamanya Kim Thi sia sampai berdiri termangu-mangu tanpa memberikan reaksi apapun.

Lama.....lama......sekali........

Entah berapa lama sudah lewat, akhirnya Kim Thi sia tersadar kembali dari lamunannya, dia memungut kembali pedang Leng gwat kiamnya, lalu sambil menghela napas panjang keluhnya: "See.....sesungguhnya apa. apa yang telah terjadi?"

Sesuai dengan pesan terakhir ciang sianseng, Kim Thi sia segera membuat liang kubur yang amat dalam ditempat tersebut dan mengubur jenasah ciang sianseng. Ketika semua pekerjaan telah selesai dilakukan, malam sudah makin kelam.

Bintang bertaburan diangkasa, sinar rembulan yang terang menyinari seluruh lembah Nirmala.

Dikejauhan sana, dalam gedung burung Hong terlihat Cahaya lentera belum padam, mungkin disitulah letak kamar pengantin Ang Thian tong dengan nona Hay Jin.

Memang sinar yang gemerlapan dikejauhan sana, Kim Thi sia meludah keatas tanah seraya bergumam:

"Nona Hay Jin, kecuali perkawinan ini kau lakukan atas dasar keinginanmu sendiri. Kalau tidak, aku pasti akan berusaha untuk menyelamatkan dirimu dari lautan kesengsaraan."

Dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya, ia segera berangkat menuju kearah cahaya api tersebut dengan kecepatan tinggi.

Bila menuruti perasaan Kim Thi sia saat itu, kalau bisa dia ingin selekasnya bertemu dengan Hay Jin.

Tapi sayang kakinya enggan menuruti keinginan hatinya itu, walaupun ia telah mengerahkan segenap kemampuannya yang dimilikinya, kecepatan yang berhasil dicapaipun tak seberapa.

Tiba-tiba saja Kim Thi sia merasa sangat dahaga, kepalanya pusing dan peluh bercucuran amat deras setelah menempuh perjalanan selama setengah jam lebih ia baru mencapai tanah perbukitan tersebut dan tiba didepan sebuah hutan lebat. Dari balik hutan itulah cahaya lentera yang terlihat tadi terpancar keluar.

Dibawah sinar lilin merah, lamat-lamat ia melihat ada sepasang lelaki perempuan sedang berbisik-bisik dengan asyik.

Jelas kedua sosok bayangan manusia itu adalah Ang Thiang tong serta nona Hay Jin- "Apa yang sedang diperbincangkan sepasang pengantin baru dimalam pertamanya ini?"

"Membicarakan nona Hay Jin dengan perkawinannya itu? Tidakkah ia merasa muak dan benci terhadap suaminya?"

Dalam keadaan begitu, Kim Thi sia merasa emosinya bergelora keras, tak tahan lagi ia berteriak keras-keras: "Nona Hay Jin, aku telah datang "

Begitu membuka mulut gumpalan darah kental segera melompat keluar dari mulutnya.

Teriakanpun kedengaran amat lemah sehingga dia sendiri juga tak mendengar dengan jelas, jangan lagi Hay Jin yang berada dalam kamar pengantinnya.

Begitu gumpalan darah itu muntah keluar, ia segera terbatuk berulang kali darahpun muntah keluar tiada hentinya.

Setelah mengalami batuk-batuk yang gencar ini, tiba-tiba Kim Thi sia merasa tak sanggup untuk melanjutkan perjalanannya lagi, ia segera roboh terjungkal dibalik semak.

Sambil berbaring dibalik semak belukar dengan napas tersengkal, diam-diam ia mulai berpikir. "ciang sianseng, ternyata pukulan Tin khi ciang mu memang bukan bernama kosong. sekarang

tubuhku mulai terasa sakit, lemas dan sedikitpun tak bertenaga. Aku seperti seorang yang

kehilangan seluruh ilmu silatku saja. "

Perlu diketahui, ilmu pukulan Thian khi ciang memang merupakan pukulan tenaga Im yang lembut. Pada mulanya sang korban memang tak merasakan apa- apa tapi sesungguhnya isi perut mereka sudah terluka dan mulai rusak. ketika saatnya tiba, seluruh isi perutnya akan hancur dan akhirnya mati secara mengerikan. Sayang sekali Kim Thi sia merasakan akibatnya jauh lebih lamban seperti keadaan pada umumnya, hal ini jauh diluar dugaan ciang sianseng hingga ia mengira dirinyalah yang menderita kekalahan dalam pertarungan tersebut.......