Lembah Nirmala Jilid 54

 
Jilid 54

"Apakah kau menyuruh aku bermesraan dan berCinta dengan seorang yang sudah mati?

Apakah aku harus menyia-nyiakan kehidupanku ini dengan menjanda sepanjang masa?" cepat- cepat Kim Thi sia menyela. "Waah, kalau masalah itu sih merupakan urusan pribadimu sendiri, tiada sangkut pautnya denganku "

"Engkoh Thi sia. " cepat-cepat putri Kim huan berseru.

Belum sempat gadis itu melanjutkan kata-katanya, dengan cepat Kim Thi sia telah menukas. "Kuminta kau jangan menyebut aku dengan istilah itu lagi. "

"Mengapa?" tanya putri Kim huan tertegun. "Apakah kau lupa bahwa dahulu akupun selalu menyebut koko kepadamu?"

"Persoalan antara kita dimasa lalu, kini telah berakhir sama sekali, lebih baik kita tak usah menyinggung kembali kejadian tersebut" kata Kim Thi sia dengan wajah serius.

"Engkoh Thi sia. " pekik putri Kim huan dengan manjanya. "Apakah semua perasaan cintamu

kepadaku waktu itu, semua sikapmu yang begitu menurut kepadaku "

"Sudahlah, tak perlu kau lanjutkan kata- kata mu itu" kembali Kim Thi sia menukas dengan serius. "Ketahuilah, Kim Thi sia tak pernah mengerti tentang hal-hal semacam itu terhadap kaum wanita. "

Tapi putri Kim huan tetap merengek dengan manja.

"Aku tahu, dalam hati kecilmu sekarang bukan aku yang kau cintai lagi. " Kim Thi sia tertawa

dingin, sambungnya cepat.

"Lebih baik lagi kalau kau sudah mengerti benar. Aku Kim Thi sia memang sudah bersumpah serta akan sehidup semati dengan nona Hay Jin, dan lagi. "

"Dan lagi kalian pernah melihat rembulan bersama-sama, menunggu matahari terbit bersama- sama, dan pernah mendaki bukit bersama-sama bukan?" sela putri Kim huan agak marah.

Dengan kewibawaan seorang lelaki, Kim Thi sia mengangguk dengan angkuhnya.

"Ehm, benar Kami pernah melewati saat-saat yang paling manis dan bahagia. Apa sangkut pautnya persoalan ini denganmu?"

"Tentu saja semua persoalan tersebut ada sangkut pautnya dengan diriku" kata putri Kim huan cepat.

"Aneh benar kami ini" Agak tertegun Kim Thi sia sehabis mendengar jawaban mana. "Dimanakah letak sangkut pautnya persoalan ini dengan dirimu. ?"

"Disaat aku menjumpai seorang pria yang kucintai sedang bermesraan dan berkasih-kasihan dengan perempUan lain, perasaan pedih dan sakit hati yang kualami saat itu tak terlukiskan dengan kata- kata, lagipula. "

"Lagipula kau merasa cemburu? Merasa tak senang dan tak puas?" sambung Kim Thi sia polos. "Benar, aku memang merasa sangat tidak puas, terus terang saja aku katakan, mungkin hal ini

dikarenakan rasa cintaku yang terlalu mendalam kepadamu, orang bilang perempuan adalah wajar bila merasa cemburu. Engkoh Thi sia, apakah kau masih belum memahami perasaan hati seorang wanita."

"Aku minta janganlah kau membicarakan persoalan semacam ini lagi denganku, mau bukan?" Kim Thi sia merasakan agak sebaL

Tapi putri Kim huan tidak melepaskan korbannya dengan begitu saja, ia merengek lebih jauh.

"Tidak. aku harus membicarakan persoalan ini denganmu, kita harus berbicara dengan sebaik- baiknya. Engkoh Thi sia, kuminta kau mengucapkan sepatah kata lagi kepadaku, hanya sepatah kata saja. "

"Apa yang harus kukatakan?" Pelan-pelan putri Kim huan menjatuhkan diri kedalam pelukan pemuda tersebut. Lalu dengan manja katanya:

"Aku hanya berharap kau mengatakan sekali lagi kepadaku bahwa kau tetap mencintai ku, maka biarpun aku harus mati dalam pelukanmu, hatiku akan rela dan puas Engkoh Thi sia,

katakanlah cepat Hayolah katakan cepat "

Berbicara sampai disitu, ia membenamkan sama sekali tubuhnya kedalam pelukan anak muda tersebut, Sepasang matanya dipejamkan rapat-rapat, seakan-akan dia sedang menikmati kehangatan tubuh pemuda itu.

Kim Thi sia tidak berkata apa-apa, tiba-tiba saja ia mendorong tubuh gadis tersebut hingga terjaga dari pelukannya.

Akan tetapi keadaan putri Kim huan waktu itu ibarat seekor ular kecil saja, dengan cepat dia bersandar kembali diatas tubuh Kim Thi sia bahkan meliuk-liuk kesana kemari melakukan gerakan yang amat merangsang hawa napsu.

Dengan cepat gerak gerik gadis tersebut menimbulkan perasaan muak dan sebal dihati kecil Kim Thi sia, sebab orang yang dia cintai bukan putri Kim huan, paling tidak ia tidak menyenangi sikap serta tingkah laku gadis tersebut. Dengan gemas ia mendorong tubuh itu kesamping.

Tapi dikala dia melihat putri Kim huan sedang mengawasi wajahnya dengan pandang an merengek serta sikap yang mengenaskan hati, dia menjadi tertegun dan tak tega.

Akhirnya pelan-pelan ia jalan menghampiri gadis tersebut dan memeluknya dengan lembut.

Sementara itu air mata telah jatuh bercucuran membasahi wajah putri Kim huan dengan sedih dia berbisik:

"Engkoh Thi sia, kau....kau amat tega. "

Isak tangis putri Kim huan makin lama semakin keras, makin lama semakin memedihkan hati, isak tangis yang memilukan hati itu seakan-akan memerlukan sikap keras kepala Kim Thi sia, membuat pemuda itu tak tega dan merasa terharu. Akhirnya dengan nada menyesal Kim Thi sia berbisik:

"Putri Kim huan, aku aku memang bersikap terlalu kasar, maafkan aku"

Begitu ucapan tersebut meluncur keluar dari bibirnya, putri Kim huan segera merangkul tubuh pemuda itu kencang-kencang. Bahkan sembari merapatkan tubuhnya diatas tubuh pemuda tersebut, dia berbisik dengan suara merangsang.

"Engkoh Thi sia, peluk aku, rangkullah tubuhku erat-erat, ciumlah aku. ciumlah bibirku dengan

mesrah. "

Mereka berdua segera saling berpelukan dengan hangat.

Kedua orang itu seakan-akan sudah melupakan keadaan disekelilingnya lupa akan segala sesuatunya.......

Mereka saling berciuman dengan hangat, saling meraba dengan penuh napsu.

Disaat keadaan makin panas dan tindak lanjut segera akan berlangsung antara sepasang muda mudi ini, mendadak dari tengah udara terdengar suara bentakan keras seorang pria yang mendekati kalap.

"Kalian sepasang laki perempuan anjing yang tak tahu malu, berani benar kamu berdua melakukan perbuatan terkutuk yang memalukan ditempat terpencil ini, cepat hentikan semua perbuatan kalian"

Bentakan yang muncul sangat mendadak ini seketika membuat Kim Thi sia dan putri Kim huan jadi tertegun dan segera menghentikan perbuatan mereka.... Dengan suatu gerakan cepat Kim Thi sia mendorong tubuh putri Kim huan kebelakang, lalu dengan cekatan sekali meraba pedang leng gwat kiamnya.

Pada saat itulah tampak sesosok bayangan tubuh manusia melayang turun dihadapan mereka berdua dengan kecepatan luar biasa.

dalam sekilas pandangan saja Kim Thi sia telah mengenali sipendatang tersebut sebagai sipedang emas Ko Hong liang serta sipedang kayu Gl CU yong.

Dengan pandangan penuh amarah Kim Thi sia mengawasi kedUa orang musuhnya itu lalu membentak.

"Bagus sekali kehadiran kalian berdua, aku memang berniat mencari kamu berdua untuk dikirim keakhirat. Hmmm, sekarang kalian telah muncul sendiri, akupun tak usah repot- repot lagi mencari kalian lagi."

Baru selesai perkataan itu diutarakan, pedang emas telah tertawa dingin sambil mengejek. "Bocah keparat, lebih baik jangan bicara sombong. Jangan kau kira setelah memiliki pedang

leng gwat kiam maka dunia persilatan berada dibawah telapak kaki mu, terus terang saja aku bilang, aku sipedang emas akan membunuhmu hari ini. "

Tanpa banyak membuang waktu lagi, sipedang emas Kho Kong liang menerjang maju kedepan dan melancarkan serangkaian serangan dengan jurus "Raja dari segala kekuatan" serta "kaitan seribu tahun" dari ilmu Tay jin eng nya......

Sementara itu putri Kim huan telah menyusul datangpula dengan meloloskan sepasang pedang, agaknya ia telah bersiap sedia mendampingi Kim Thi sia untuk menghadapi serangan musuh.

Pedang kayu Gl CU yong yang menyaksikan hal tersebut dari sisi arena menjadi amat gusar, bentaknya keras- keras:

"PerempUan rendah, kau jangan bertindak seenaknya sendiri. "

Dengan menggunakan ilmu pukulan Sian ka ciang, ia segera melepaskan dua buah serangan kedada kiri putri Kim huan,jurus yang dipakai adalah jurus yang melompat harimau mengaum serta "api membawa air menggulung."

Dengan cepat sipedang kayu telah terlibat dalam pertarungan yang amat seru melawan putri Kim huan-

Dipihak lain Kim Thi sia dan sipedang emas telah saling berhadapan dengan tak kalah serunya pula.

Selang berapa saat kemudian....

Ketika sipedang emas melihat ilmu pukulan Tay Jin engnya tak berhasil mengungguli lawannya, dengan suara keras ia segera membentak:

"Bocah keparat, sungguh tak kusangka baru berpisah berapa hari, ilmu silatmu kembali telah memperoleh kemajuan yang amat pesat."

"Hmmm, kau jangan mengira aku takut dengan ilmu pukulan tay Jin eng tersebut. Ayoh lancarkan kembali seranganmu" seru Kim Thi sia penuh amarah.

Sampai disini, anak muda itu melancarkan pula serangkaian pukulan dengan ilmu Tay goan sinkangnya.

Pertarungan yang berlangsung saat ini benar- benar sangat hebat dan ramai, begitu hebatnya pertarungan itu membuat pasir dan debu beterbangan menyelimuti angkasa, udara serasa menjadi gelap secara tiba-tiba.

Berapa ratus gebrakan telah lewat, namun sipedang emas dan Kim Thi sia masih bertempur terus dengan serunya, menang kalah susah ditentukan dalam waktu singkat. Melihat itu, sipedang emas segera mengeluarkan ilmu pedang tangan kirinya untuk menghadapi serangan musuh.

Kim Thi sia sendiripun bukan orang bodoh, ketika ia melihat musuhnya telah mengandalkan ilmu pedang tangan kiri untuk menggencet dirinya, dengan cepat dia mengeluarkan jurus "Kejujuran melebihi batu emas" dan "Hawa sakti menyelimuti sembilan langit" dari ilmu pukulan Tay goan sinkang untuk membendung datangnya ancaman itu. Berapa puluhan gebrakan kembali sudah lewat. Tiba-tiba terdengar sipedang emas berseru:

"Bocah keparat, aku lihat lebih baik kau menyerah kalah saja, dengan begitu akupun bersedia mengampuni selembar jiwamu."

Kim Thi sia menjadi gusar sekali setelah mendengar perkataan mana, teriaknya lantang: "Hmmm, lebih baik kau tak usah berkentut disiang hari belong. Ketahuilah aku Kim Thi sia. "

^

"Mengapa dengan dirimu?"jengek pedang emas.

"Tidak sampai berapa gebrakan lagi, aku pasti dapat memenggal batok kepalamu" Mendengar itu, sipedang emas tertawa seram.

"Haah....haaah. lebih baik tak usah takabur lebih dulu Jangankan memenggal kepalaku,

menyentuh ujung bajukupUn kau belum mampu. Aku lihat justru kau sendiri yang bakal mampus hari ini."

Pertarungan kembali dilanjutkan kali ini kedua belah pihak sama-sama telah mengeluarkan segenap kemampuan yang dimiliki.

Suatu ketika, mendadak sipedang emas mengayunkan pukulannya menggempur sebuah batu cadas besar dan langsung melontarkan batu tadi menerjang dada musuh.

Kim Thi sia mendengus dingin, dengan sikap yang tenang sekali ia memutar pedang Leng gwat kiamnya dan membendung datangnya ancaman tersebut. "Braaaakkkk. "

Ditengah suara benturan keras yang memekikkan telinga batu cadas itu kena ditangkis oleh bacokan pedang hingga hancur berguguran keatas tanah.

Melihat keampuhan musuhnya, pedang emas agak tertegun, segera tegurnya keras- keras: "Bocah keparat, tak kusangka kepandaian mu sangat tangguh. Hmmm coba lihat kelihayanku

ini sekali lagi"

Sambil menghimpun tenaga dalamnya sipedang emas menyambar sebatang pohon raksasa dan membetotnya keluar, lalu melemparkan batang pohon yang besar itu kearah lawan-

Kim Thi sia segera melejit ketengah udara dengan gerakan cepat dan enteng, menanti batang pohon itu sudah tumbang keatas tanah. Ia baru berdiri diatas batang pohon tadi sembari mengejek sinis.

"Hey bajingan murtad, lebih baik jangan kaupergunakan cara yang amat bedoh ini untuk menghadapiku"

Gagal dengan kedua serangannya, pedang emas merasa gusar bercampur mendendam.

Tanpa mengucapkan sepatah katapun dia segera mengeluarkan jurus "bunga mar dibulan lima" dan "bunga anyelir dibulan sembilan", dua diantara jurus-jurus serangan ilmu pedang tangan kiru yang paling tangguh untuk menerjang Kim Thi sia.

Si anak muda itupun merasa gusar sekali tak segan-segan dia mengeluarkan jurus serangan yang paling tangguh pula untuk balas menusuk pinggang musuh.

"Traaanggg"

Benturan nyaring bergema memecahkan keheningan. Pada saat itulah mendadak sipedang emas membentak keras, memanfaatkan kesempatan disaat Kim Thi sia belum berhasil mengubah gerak serangannya, ia membacok lengan dan pinggang kiri pemuda itu dengan sepenuh tenaga.

Kim Thi sia menjadi kaget sekali, sekalipun ia dapat melihat datangnya serangan tersebut namun tak sempat lagi untuk menghindarkan diri tak ampun lengan kirinya tertusuk telak hingga darah segar jatuh bercucuran dengan derasnya. Pedang emas segera tertawa terbahak-bahak. serunya:

"Haaah.....haaaah.....haaaah. apa kataku tadi? Lebih baik letakkan senjata dan menyerah

kalah saja, asal kau masih pingin hid up, sekarang masih belum terlambat" Kim Thi sia benar- benar merasa gusar sekali, dia balas mengumpat.

"Manusia busuk, babatan pedangmu bahaya menyebabkan kulit lenganku lecet sedikit, kau anggap seranganmu hebat?"

Kembali sipedang emas tertawa seram.

"Hmmm, bukankah tadi kau bilang akan memenggal batok kepalaku dalam berapa jurus? Aku lihat, justru batok kepalamu sendiri yang bakal tak utuh."

"Omong kosong, mari kita buktikan saja perkataan siapa yang lebih tepat."

"Kemarilah kunyuk jelek, hari ini akan kulihat seberapa hebat sih kepandaiaan silat yang kau miliki?"

Dengan mengerahkan jurus "Buddha sakit membersihkan debu" Kim Thi sia melancarkan sebuah tubrukan kilat kearah lawan-

Jurus serangan ini merupakan sebuah jurus yang sangat aneh dari ilmu pedang panca Buddha.

Tidak sembarangan orang dapat menghindarkan diri dari sergapan tersebut.

Sipedang emas hanya merasa berkelebatnya bayangan hitam dihadapannya, kemudian ia merasakan perutnya sakit sekali.

"Aduh celaka" pikir sipedang emas cepat. "Jurus pedang ini aneh sekali. "

Ingatan tersebut belum habis melintas, Kim Thi sia telah menyusulkan sebuah pukulan lagi dengan ilmu Tay goan sinkang.

Tak ampun sipedang emas menjerit ngeri, tubuhnya gemetar keras, darah segar menyembur keluar dari mulutnya.

Kemudian setelah berkelejitan berapa kali, dia awasi Kim Thi sia dengan pandangan sayu, kemudian tubuhnya pelan-pelan robeh ketanah dan menghembuskan napas yang penghabisan.

Melihat musuhnya telah tewas, Kim Thi sia mendongakkan kepalanya dan tertawa seram, serunya:

"Haaah......haaaaah. akhirnya pentolan dari sembilan pedang dunia persilatan berhasil

kubasmi dari muka bumi haaaah.....haaaaah. "

Kemudian dengan suara lirih dia berdoa:

"Suhu, aku telah melaksanakan perintahmu dengan baik, akhirnya aku tidak mengecewakan hatimu, sipedang emas telah kubasmi dari muka bumi. "

Mendadak......

Terdengar jerit lengking bergema memecahkan keheningan, jeritan itu amat memilukan hati.

Rupanya ujung pedang sipedang kayu Gl cU yong telah menempel diatas tenggorokan putri Kim huan.

Sementara putri Kim huan sendiri berdiri dengan wajah pucat pias bagaikan mayat, ia nampak kelabakan dan tak tahu apa yang mesti dilakukan. Sekalipun ilmu pedang tiga ribu air lemahnya berasal dari dudukan pedang air tapi kemampuannya masih terbatas sekali, bagaimana mungkin ia bisa menandingi kehebatan pedang kayu?

Disaat pedang kayu melontarkan pedangnya melancarkan tusukan kedepan, pada hakekatnya putri Kim huan tak sempat lagi untuk menghindarkan diri......

Belum habis gadis itu menjerit kesakitan, tubuhnya telah robeh terjungkal keatas tanah.

Kim Thi sia yang menyaksikan peristiwa tersebut buru-buru berteriak keras: "Tunggu sebentar."

Tapi tubuh putri Kim huan sudah keburu robeh terjungkal keatas tanah dengan darah segar bercucuran membasahi seluruh tanah gadis itu telah kehilangan tenaganya sama sekali.

Sementara itu sipedang kayu telah siap melancarkan tusukan kembali untuk menghabisi nyawa gadis tersebut, untung pada saat itulah Kim Thi sia muncul tepat pada waktunya.

Dengan geram dan sepasang mata berapi-api sipedang kayu membentak nyaring: "Bocah keparat, sembilan pedang dunia persilatan beleh dibilang telah punah sama sekali

ditanganmu"

"IHmmm, aku hanya menjalankan pesan terakhir dari suhu. Malaikat pedang berbaju perlente menjelang ajalnya"

"Apakah orang terakhirpun tak akan kau lepaskan? Apakah kau tega membunuh diriku pula?" tanya pedang kayu sambil tertawa pedih.

"Sudah menjadi tugasku untuk membasmi kalian sampai seakar-akarnya." Pedang kayu segera mendengus dingin.

"Hmmm, kalau toh kau berniat jahat kepadaku, akupun tak akan melepaskan dirimu dengan begitu saja."

Dengan menggunakan jurus "hati kesal pikiran kalut" ia melancarkan sebuah tusukan kedepan.

Kim Thi sia menjengek dingin, tanpa gugup barang sedikitpun ia sambut datangnya ancaman tersebut dengan jurus "menuding langit selatan."

"Traaaangggg. "

Sepasang pedang saling membentur satu sama lainnya dengan keras, percikan bunga api memancar keempat penjuru.

Akibat dari bentrokan ini Kim Thi sia tetap berdiri tegak ditempat semula, tubuhnya sama sekali tak bergeser.

Sebaliknya pedang kayu merasakan pergelangan tangannya menjadi kesemutan, dengan sempoyongan tubuhnya mundur Sejauh berapa langkah kebelakang.

"Bocah keparat" Pedang kayu Segera berteriak keras. "Tak nyana tenaga dalammu telah mendapat kemajuan yang begitu pesat."

Kim Thi sia sama seklai tidak menanggapi seruan itu, dengan gerakan yang enteng dan cekam ia mendesak maju lebih jauh.

Pedang kayu berusaha meloloskan diri dari ancaman, ia mencoba berkelit kian kemari namun usahanya tak pernah berhasiL

Sementara itu Kim Thi sia telah mendesak maju lebih jauh, dengan ilmu pedang panca Buddha, ia menciptakan berkuntum-kuntum bunga pedang yang amat menyilaukan mata. sekali lagi sipedang kayu terdesak hebat hingga mundur berulang kali kebelakang. Mendadak dari gusar ia menjadi tertawa, serunya dengan suara keras:

"Saudara Thi sia, mengapa sih kau harus mengumbar hawa amarahmu semacam ini, bagaimanapun juga kita kan masih terhitung sesama saudara seperguruan." "Hmmm, tak usah banyak bicara, rasa benciku kepadamu sudah telanjur merasuk ketulang sumsum" bentak Kim Thi sia sambil mendesak maju lebih jauh.

"Haaah.....haaah.....haaaah. buat apa saling membenci? Kalau ada persoalan kita kan bisa

membicarakan seCara baik-baik."

"Tak usah banyak bicara lagi" tukas Kim Thi sia kesaL "Diantara kita berdua tak ada persoalan lagi yang bisa dibicarakan- "

Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benaknya, pemuda itu segera berpikir kembali: "Pedang kayu adalah seorang yang licik dan berakal busuk. jangan-jangan ia sedang mengatur siasat untuk menjebakku?"

Sementara itu sikap sipedang kayu kian lama kian bertambah lunak, kembali dia berkata: "Aku bermaksud baik kepadamu, harap kau pertimbangkan perkataan tadi. "

"Hmmm, bukankah kau berniat menyelamatkan jiwamu?" "Toh tak ada salahnya aku berbuat begini."

"Hmm, bila manusia busuk semacam kau pun dibiarkan hidup terus didunia ini semua umat persilatan bakal mencaci maki aku."

Berbicara sampai disini, ia semakin mempergencar serangannya, jurus pedangnya bagaikan amukan angin topan melanda kedepan dan meneter musuhnya habis-habisan.

Sipedang kayu jadi kelabakan setengah mati, dia mencoba menangkis kian kemari namun tubuhnya mundur terus tiada hentinya.

Desingan tajam kembali menyambar tiada hentinya, kini pakaian yang dikenakan pedang kayu sudah compang camping tak karuan lagi bentuknya.

Namun Kim Thi sia tidak melepaskan lawannya dengan begitu saja, serangan demi serangan kembali dilancarkan dengan gencar.

Dalam waktu singkat seluruh badan sipedang kayu sudah penuh dengan luka bacokan, darah segar yang masih bercucuran deras membuat pemuda itu berubah menjadi manusia berdarah.

Dengan sinar mata buas dan penuh luapan rasa dendam, Kim Thi sia meneter terus dengan serangan yang lebih gencar.

Mendadak terdengar pedang kayu menjerit ngeri, tubuhnya robeh terjungkal keatas tanah dan tewas seketika itu juga.

Begitulah nasib pedang kayu yang semasa hidupnya banyak melakukan kejahatan- Kini dia harus tewas dalam keadaan yang mengerikan.

Selesai membantai musuhnya, cepat-cepat Kim Thi sia memburu kesamping putri Kim huan- Saat itu putri Kim huan masih berbaring diatas genangan darah sambil merintih kesakitan.

Wajahnya pucat pias bagaikan mayat, napasnya amat lemah,jelas luka tusukan yang dideritanya amat parah dan jiwanya susah diselamatkan lagi.

Melihat nasib tragis yang menimpa gadis cantik itu, Kim Thi sia merasa sangat beriba hati, cepat-cepat ia berjongkok disisi tubuhnya dan berbisik dengan lembut. "Apakah kau ingin kugendong?"

"Tidak usah" putri Kim huan tertawa manis, "Tapi. "

"Tapi apa?"

"Aku harap kau.......aku harap kau "

"Apa yang kau inginkan?" Dengan napas yang lemah putri Kim huan berbisik: "Kau harus memenuhi dua buah permintaanku"

"Apa permintaanmu?"

"Kau jangan tanya dulu, jawablah apakah kau bersedia atau tidak. "

"Mana boleh jadi kalau tidak kau kata kan dulu?" seru Kim Thi sia tertawa paksa. "Mengapa tidak boleh?"

"Bila tidak kau katakan dulu. "

"Apakah kau merasa kuatir?"

"Yaa, aku takut aku tak mampu melaksanakan permintaanmu itu"

"Kau pasti dapat melakukannya, kau pasti dapat melakukannya" seru putri Kim huan cepat. "sebenarnya apa sih permintaanmu itu?"

"Katakan saja, bersedia tidak kau memenuhinya?" "Aku "

Melihat keraguan anak muda itu, dengan sedih putri Kim huan berbisik: "Aku sudah hampir mati, apakah kau masih tetap ragu " Kemudian setelah menghela napas panjang, terusnya:

"Apakah kau tidak menaruh perasaan kasihan terhadap seorang wanita yang sebentar lagi akan mati?"

Kim Thi sia menjadi amat pedih, setelah termenung sejenak akhirnya dia berkata: "Baiklah." "Kau.... kau. kau benar- benar menyanggupinya?" seru putri Kim huan dengan gembira.

"Yaa, benar"

"Pertama, aku minta kau memanggilku dengan sebutan. "

"Putri Kim huan"

"Tidak, aku minta kau memanggilku sebagai "

Tiba-tiba ia menarik kepala pemuda tersebut dan membisikkan sesuatu disisi telinganya. Mendengar bisikan ini, paras muka Kim Thi sia segera berubah menjadi merah padam.

tapi karena ia sudah berjanji akan memenuhi permintaannya, terpaksa dengan wajah tersipu- sipu dia berbisik: "Adikku sayang......adikku sayang. "

Biarpun panggilan itu diucapkan dengan nada tersipu-sipu, namun bagi pendengaran putri Kim huan justru jauh lebih merdu dari nada suara musik yang terindah pun. Pelan-pelan putri Kim huan pejamkan matanya rapat-rapat, gumamnya pelan: "Engkoh Thi sia, boleh kau kusebut demikian kepadamu? Aku......aku. "

Tiba-tiba ia merasa darah panas mengalir keluar dengan derasnya. Dengan perasaan terkesiap Kim Thi sia segera berseru: "Kee kenapa kau?"

"Aku tidak apa-apa. " sahut putri Kim huan sambil menyeka darah yang membasahi

tubuhnya itu.

"Apakah permintaanmu yang kedua?" Kim Thi sia segera bertanya.

Dengan pandangan penuh rasa cinta putri Kim huan memandang sekejap wajah pemuda lalu bertanya:

"Apakah kaupun bersedia melakukannya bagiku?"

"tentu saja, akan kulakukan dengan senang hati" janji Kim Thi sia sambil tertawa getir. "Sungguh?" "Bila aku berbehong dihadapanmu, biarlah aku Kim Thi sia mati tanpa sempat kabur." "Kalau begitu peluklah aku erat-erat, peluklah tubuhku didalam rangkulanmu. "

Tanpa membuang waktu Kim Thi sia segera merangkul tubuh putri Kim huan yang penuh berlepotan darah itu dan memeluknya dengan lembut dan mesrah.

"Apakah begini?" ia bertanya. "Tidak, bukan begitu "

"Lantas harus bagaimana?" Kim Thi sia agak tertegun.

"kau harus memelukku kencang-kencang, memelukku dengan penuh kehangatan cinta." "Aku bukannya tak mau memelukmu erat-erat, tapi. " pemuda itu mencoba memberi

penjelasan.

"Kau takut tubuhmu menjadi kotor?" tanya putri Kim huan cepat. "Tidak aku tidak bermaksud berbuat begitu"

"Lalu apa maksudmu?"

"Saat ini kau sedang terluka parah, aku kuatir."

"Kau kuatir aku mati dalam pelukanmu karena dipeluk terlalu keras?" Dengan cepat anak muda tersebut mengangguk.

"Yaa, begitulah maksudku"

"Kalau begitu kau tak perlu kuatir. " kata si nona sambil menghela napas panjang.

"Kenapa harus begitu, tahukah kau bahwa nyawa merupakan benda yang paling berharga bagi manusia."

"Tapi nyawa sudah tidak berharga lagi bagiku" tukas putri Kim huan- "Aaaah, masa ada pendapat seperti ini dipikiran manusia. ?"

"Sesungguhnya alasanku sederhana sekali" kata si nona dengan sedih. "Kuharap kau jangan menyalahkan aku, terus terang saja aku sudah tergila-gila olehmu sehingga aku rela mati dalam pelukanmu. "

"Tapi mana boleh begitu?" seru Kim Thi sia gugup,

"Kenapa tidak boleh, aku toh sudah tak mungkin untuk hidup lebih lanjut. "

"Jangan teriampau emosi" bujuk pemuda Kim. "Aku bersedia menggendongmu untuk pergi mencari Lentera hijau, siapa tahu benda mestika itu bisa menyelamatkan jiwamu."

Kata- kata itu diucapkan dengan jujur, serius dan penuh dengan perasaan sayang. "Tidak, aku tak mau hidup, aku tak ingin hidup terus. " tampik putri Kim huan.

"Apakah kau memang berniat untuk mati?" "Benar, aku ingin mati."

"Aaaai, sungguh tragis kejadian ini " bisik Kim Thi sia sambil menghela napas.

"Tidak tragis, sama sekali tidak memedihkan hati, aku justru menganggap pikiranku ini lebih terbuka. "

"Sebenarnya bagaimana sih jalan pemikiranmu?"

"Aku merasa kehidupan di dunia ini sama sekali tak berarti lagi."

"Kau toh bisa pulang kenegeri Kim, kembali kepangkuan orang tuamu serta mencicipi kehidupan yang mewah dan penuh kebahagiaan?" "Aaaai.....? Kau toh enggan pulang bersama ku, apa artinya kehidupan menyendiri bagiku ?"

sahut putri Kim huan sambil menghela napas sedih.

Kim Thi sia jadi gelagapan-

"Soal ini.....soal ini. sesungguhnya aku mempunyai alasanku sendiri."

"Yaa aku tahu, orang yang kau cintai sesungguhnya bukan aku, kau lebih mencintai nona Hay Jin bukan?"

cepat-cepat Kim Thi sia mengalihkan pokok pembicaraan kesoal lain, ujarnya: "Mari kita jangan membicarakan persoalan ini?"

"Kalau begitu peluklah aku,peluk aku kencang-kencang "

Kali ini Kim Thi sia menurut, ia peluk gadis tersebut kencang-kencang. Kembali putri Kim huan berseru:

"Panggillah aku, panggillah aku, Cepat panggil aku. ?"

"Adikku sayang?"

Kegelapan malam makin larut, ketika fajar mulai menyingsing terdengar putri Kim huan berseru lagi dengan suara:

"Peluklah aku......panggillah aku..^..ooh engkoh Thi sia jangan tinggalkan aku, peluklah aku dan panggillah aku hingga ajalku tiba....aku.....aku ingin mati dalam pelukanmu. "

Begitulah, akhirnya putri Kim huan menghembuskan napasnya yang terakhir didalam pelukan Kim Thi sia.

Sinar matahari telah berada diatas awang-awang Cahaya yang panas bersinar diatas pusara putri Kim huan-

Suasana terasa begitu sepi, begitu hening seakan-akan dunia turut terharu atas kematian nona yang cantik jelita.

Kim Thi sia berdiri termangu didepan pusara, peluh telah bercucuran membasahi seluruh tubuhnya, tetapi ia masih termangu merasa sedih sekali. Dia tak ambil perduli bau busuk yang terendus dari mayat si Pedang emas, iapun tak ambil perduli bau busuk dari mayat sipedang kayu.

Kim Thi sia amat membenci kedua jahanam ini, ia bersyukur mereka berhasil dibunuh dari muka bumi ini.

Sambil memandang keangkasa ia bergumam:

"oooh, suhu sekarang kau dapat beristirahat dengan tenang dialam baka, walaupun dengan susah payah akhirnya muridmu yang tak becus berhasil juga membalaskan sakit hatimu, apa yang disebut sebagai sembilan pedang dunia persilatan berhasil kutumpaskan- "

Setelah termenung sejenak kembali ia bergumam:

"Aku harus pergi ke Lembah Nirmala secepatnya, kesatu untuk membasmi dewi Nirmala, keduanya untuk menolong nona Hay Jin, selain itu akupun harus memenuhi janjiku dengan sipukulan sakti tanpa bayangan- "

Makin berpikir ia makin risau dan kesal, akhirnya dengan suara lantang ia membawakan lagu dendam kesumat.

"Dendam sakit hatiku, jauh melebihi samudra. Harus kan aku mati dalam keadaan begini? Biar badan hancur, biar tubuh remuk, akan kucuci semua sakit hatiku ini Lidahku dipotong,

mataku dicukil, rambutku dipapas, tulangku dikunci, telingaku diiris, ototku dicabut, lenganku dikuntung dan kakiku ditebas. Rasa dendamku serasa merasuk ketulang. Aku merasa pedih, aku merasa sedih. Dendam kesumat ini harus kutuntut balas." Dengan mengerahkan kemampuan yang ada Kim Thi sia berangkat kelembah Nirmala. ia bergerak bagaikan sambaran kilat.

Menjelang matahari terbenam sampailah pemuda itu disebuah tebing, dari situ ia dapat melihat pemandangan di Lembah Nirmala dengan amat jelas. Mendadak ia menyaksikan suatu pemandangan yang amat mengerikan hati.

la melihat Dewi Nirmala sedang memeluk Hay Jin dengan senyum licik buas menghias wajahnya, begitu kencang ia memeluk gadis tersebut hingga membuat si nona terengah-engah. Paras muka Hay Jin kelihatan pucat pias seperti mayat, rambutnya amat kusut.

Menyaksikan peristiwa itu merah padam paras muka Kim Thi sia, dengan mata melotot bentaknya keras- keras: "Lepaskan dia.......lepaskan dia. "

Bagalkan kemasukan setan ia mengayunkan pedang Leng gwat kiamnya sambil menyerang Dewi Nirmala. "Braaaakkkk"

Sebatang pohon besar tersambar pedangnya hingga tumbang, pasir dan debu beterbangan menyelimuti udara. Tiba-tiba Kim Thi sia berdiri tertegun.

Pada saat itulah terdengar seseorang berseru sambil tertawa dingin, suara itu berasal dari balik hutan yang lebat.

"Lepaskan dia......? Haaaah....haaaaah. aku rasa tidak segampang itu."

Gelak tertawa yang keras menyadarkan kembali Kim Thi sia dari lamunannya.

la mengerti Lembah Nirmala bukan tempat sembarangan, tempat itu berupa sarang naga gua harimau yang diliputi kemisteriusan dan ancaman bahaya yang mengerikan.

cepat-cepat ia menghimpun tenaga murninya, lalu dengan gerakan burung walet terbang keselatan secepat kilat ia menyembunylkan diri dibalik sebuah batu cadas. Sementara itu orang didalam hutan kembali menegur dengan suara dingin: "Hey, yang berbicara barusan nirmala nomor berapa?"

Kim Thi sia tidak menjawab, dengan sangat berhati-hati ia melongok keluar dan memperhatikan keadaan disekelilingnya.

Walaupun hutan yang lebat membuat ia tak dapat melihat dengan jelas, namun secara lamat- lamat tampak olehnya seorang pemuda sedang mencengkeram tubuh seorang kakek berambut putih yang mengenakan gelang emas dikepalanya.

Agaknya pemuda tersebut telah berhasil menotok jalan darah Mia meh hiat ditubuh kakek berambut putih itu sehingga sama sekali tak mampu bergerak^ oleh sebab itu sewaktu mendengar ada orang berteriak, ia kelihatan gusar sekali. Menyaksikan kesemuanya ini, diam- diam Kim Thi sia berpikir:

"Ternyata sudah terjadi kesalahan paham dia mengira aku hendak mencampuri gerak geriknya, padahal andaikata dia tidak berteriak keras, mungkin akupun akan bertindak gegabah dan tidak menyangka dalam hutan ini masih ada orang yang lain-"

Sementara itu pemuda tersebut makin bertambah gusar setelah tidak mendapat reaksi apapun dari lawannya, ia membentak nyaring:

"Aku tak perduli kau adalah Nirmala nomor berapa, setelah berani membentakku untuk lepaskan dla, kenapa tidak berani tampilkan diri?"

Saat itu, kendatipun Kim Thi sia tidak berani memastikan siapa gerangan orang tersebut, namun bila ditinjau dari bentakannya, sudah dapat dipastikan orang itu bukan anggota Lembah Nirmala, itulah sebabnya tanpa ragu-ragu dia munculkan diri dari balik tempat persembunyiannya .

Baru muncul dari balik hutan, dia sudah melihat dengan jelas paras muka pemuda tadi, tanpa terasa serunya tertahan:

"Aaaah, rupanya kau adalah Sastrawan menyendiri" "Betul, memang aku yang berada disini, mau apa kau?" bentak sastrawan menyendiri lagi penuh amarah. Kim Thi sia tertawa.

"Buat apa sih kau marah-marah dan menganggap diriku seperti musuh besar saja?" Sastrawan menyendiri mendengus dingin:

"Hmmm, Kim Thi sia, aku tak akan berkata terus terang kepadamu setiap manusia yang membantu Dewi Nirmala untuk melakukan kejahatan, aku akan menganggapnya sebagai musuh besarku"

"Apa yang hendak kau lakukan terhadap mereka?" "Akan kutumpas mereka sampai keakar-akarnya. "

cepat-cepat Kim Thi sia mengacungkan jempolnya memberi pujian, serunya dengan lantang:

"Tindakan yang tepat, perbuatan yang amat bagus, kalau begitu kita mempunyai cita-cita serta tujuan yang sama. Sudah sepantasnya bila kita berkomplot dan bekerja sama untuk membasmi Dewi Nirmala serta melenyapkan bibit bencana umat persilatan-"

"Apa maksudmu?" tanya Sastrawan menyendiri dengan wajah tertegun-Kim Thi sia segera tersenyum.

"Harap jangan menaruh kesalahan paham kepadaku, teriakanku tadi bukan ditujukan kepadamu. Akupun tidak bermaksud membantu pihak Lembah Nirmala, sesungguhnya apa yang terjadi tadi hanya kebetulan saja. Sebab aku sedang bermimpi disiang hari bohong. Aku seolah- olah melihat Dewi Nirmala sedang mencekik leher putrinya sehingga nyaris putrinya mati konyol, kau tahu bukan, nona Hay Jin adalah seorang nona yang baik hati "

"Apakah kau telah jatuh cinta kepada nona Hay Jin, putri dari Dewi Nirmala itu?" tegur Sastrawan menyendiri ketus.

"Paling tidak. aku dan nona Hay Jin pernah menjalin hubungan yang sangat baik."

"Kalau memang begitu, bagaimana mungkin aku bisa mempercayaimu? Siapa tahu kau sudah menjadi begundalnya Dewi Nirmala?"

Kim Thi sia menjadi sangat marah, serunya:

"Apakah kau baru percaya setelah kurobek keluar hatiku dan diperlihatkan kepadamu?" Sastrawan menyendiri segera tertawa tergelak.

"Haaaah......haaaah.......haaaaah. itu mah tak usah, tapi ada satu kesempatan bagimu

untuk membuktikan ucapanmu tadi" "Kesempatan apakah itu?"

Sambil menuding kearah kakek berambut putih yang sedang dicengkeramnya itu Sastrawan menyendiri berkata:

"Tua bangka ini mengenakan gelang emas diatas kepalanya, kau tentu sudah tahu bukan siapakah dia?"

"Semestinya dia adalah Utusan nirmala anak buah dari Dewi Nirmala bukan?"

"Tepat sekali" sahut Sastrawan menyendiri sambil tertawa dingin, "Dia adalah Nirmala nomor tujuh yang paling dipercayai oleh Dewi Nirmala ^"

"Waaah, aneh sekali kalau begitu" seru Kim Thi sia keheranan, "Sudah jelas Nirmala nomor tujuh telah tewas, lagipula sewaktu menghembuskan napasnya, akupun berada dihadapanya, mustahil kakek ini adalah Nirmala nomor tujuh."

Kakek berambut putih yang dicengkeram jalan da rah Mia meh hiatnya segera meronta keras dan berseru: "Aku bukan gadungan, selama ini dalam peraturan Lembah Nirmala berlaku satu undang- undang, yaitu utusan nirmala harus berdiri dari dua puluh orang Jika terdapat seroang anggotanya yang terkena musibah. Maka akan dicari pengganti  lainnya  dari  dalam  tanah  Yu  ming  toe tong "

Begitu mendengar nama gua neraka tersebut, tanpa terasa Kim Thi sia teringat kembali cerita ayahnya dulu. Konon di gua tadi disekap berpuluh orang jago persilatan yang kehilangan kebebasannya serta menjalani penghidupan yang amat menderita disitu. Sementara dia masih termenung, dengan sinis Sastrawan menyendiri telah berkata lagi:

"Padahal tua bangka ini sudah cukup banyak merasakan penderitaan dan siksaan ditangan Dewi Nirmala, tapi sungguh aneh setelah diangkat menjadi Utusan nirmala dia malah seolah-olah menerima budi kebaikan yang amat besar saja, bukan cuma melupakan segala penderitaannya, bahkan bersedia pula untuk membantu Dewi Nirmala untuk melakukan pelbagai macam kejahatan "

"Aaaai sesungguhnya aku sendiri pun mempunyai kesulitan yang tak bisa diterangkan" keluh

Nirmala nomor tujuh sambil menghela napas panjang.

"Sudahlah, tak usah banyak bicara lagi. Nah Kim Thi sia, beranikah kau membunuh Nirmala nomor tujuh?"

"Kenapa tak berani?" jawab Kim Thi sia agak tertegun.

Walaupun ia menaruh perasaan benci yang merasuk sampai ketulang sumsum terhadap Lembah Nirmala, tapi sebutan nirmala nomor tujuh menaruh kesan yang amat mendalam baginya.

Walaupun Nirmala nomor tuuh yang berada dihadapannya sekarang sama sekali tidak mempunyai hubungan apa- apa dengannya, tetapi entah bagaimana, dia merasa agak ragu juga untuk menghukum mati dirinya. Maka setelah berhenti sejenak, kembali ia berkata: "Mengapa sih kita harus membunuhnya?"

"Hmmm, dengan susah payah aku mengembara untuk mencari sanak keluargaku, tapi dia telah berbuat buas, ia telah membunuh mati satu-satunya adik perempuanku yang masih hidup,. "

"Tapi setahuku, mereka hanya menjalankan perintah dari Dewi Nirmala yang bukan bertindak menurut kehendak sendiri"

Sastrawan menyendiri mendengus dingin.

"Siapa yang berani membunuh, dia harus mampus, dosa kesalahan orang ini tak bisa diampuni lagi"

Kim Thi sia merasa iba sekali, terutama setelah melihat kegaduhan Nirmala nomor tujuh yang nampak tersiksa hebat ditangan Sastrawan menyendiri, bukan saja seluruh badannya gemetar keras, mukanya menyeringai seram dan peluh dingin jatuh bercucuran membasahi seluruh tubuhnya. Dengan suara lantang ia pun berseru kemudian:

"Kalau toh kau menaruh perasaan benci yang mendalam terhadap terhadap Nirmala nomor tujuh, mengapa kau tidak memberi kematian yang cepat baginya?"

Sastrawan    menyendiri     segera     tertawa     terbahak-bahak. "Haaah.....haaaah......haaaah. keenakan baginya diberi kematian yang terlalu cepat IHmmm,

akan kupetoti otot-otot tubuhnya, akan kulubangi tulang belulangnya, akan kukuliti tubuhnya dan akan kukorek hatinya akan kubuat dia mati tak bisa, hiduppun serasa tersiksa, akan kusuruh

dia merasa kan bagaimana tersiksanya dia karena berani membunuh adik kandung Sastrawan menyendiri"

"Kau kelewat kejam, buas dan tidak berperikemanusiaan, tak heran orang lain menyebut Sastrawan menyendiri" kata Kim Thi sia sambil menghela napas panjang. Kembali Sastrawan menyendiri mendengus dingin. "Hmmm, setelah bertemu denganmu barusan, tiba-tiba saja aku berubah pikiran. Aku merasa siksaanku terhadap Nirmala nomor tujuh sudah lebih dari cukup, maka aku putuskan untuk tidak menghabisi nyawanya dengan tanganku sendiri..."

"Kenapa?" tanya Kim Thi sia agak tertegun. "Apakah secara tiba-tiba kau menjadi tak tega, apakah kau merasa beriba hati menyaksikan penderitaannya?" Sastrawan menyendiri tertawa hambar.

"Tidak, karena aku ingin kaulah yang membunuh orang itu." "Kenapa mesti aku?" seru Kim Thi sia dengan wajah tertegun.

Paras muka sastrawan menyendiri dingin dan kaku bagaikan es, dengan suara dalam ia berkata:

"Aku ingin menikmati jeritan ngeri yang memilukan hati dari Nirmala nomor tujuh disaat dia menemui ajalnya diujung pedang Leng gwat kiamnya, karena hanya suara jeritan yang memilukan hati itulah yang bisa melenyapkan kecurigaan dihatiku, membuktikan bahwa kau Kim Thi sia memang suci bersih. Menunjukkan bahwa kau bukan begundalnya Dewi Nirmala."

"omong kosong" bentak Kim Thi sia teramat gusar. "Kau mesti tahu dengan jelas aku Kim Thi sia adalah seorang lelaki sejati yang tak sudi dieprintah oleh siapa pun aku selalu bertindak menuruti suara hatiku sendiri."

"Kalau memang begitu, hadiahkan saja dua tusukan pedang diatas dada Nirmala nomor tujuh" kata Sastrawan menyendiri sambil mendorong tubuh Nirmala nomor tujuh kedepan-

Waktu itu, Nirmala nomor tujuh berdiri dengan tubuh terbetot kebelakang, begitu didorong kuat-kuat oleh Sastrawan menyendiri, tubuhnya menjadi gontai dan akhirnya roboh terjungkal keatas tanah.

Ia segera muntahkan darah hitam, matanya melotot makin besar, dengan wajah berkerut kencang menahan penderitaan yang luar biasa, serunya dengan terengah-engah:

"Kim, Kim Thi sia......berbuatlah kebaikan padaku.....bunuh. bunuhlah aku dengan sekali

tusukan- "

Rupanya ilmu silat yang dimiliki Nirmala nomor tujuh telah dimusnahkan, meskipun tak sampai tewas namun tubuhnya sudah berada dalam keadaan cacad. Jarak dengan saat ajalnya pun sudah tak jauh lagi, tak heran kalau dia berusaha mencari kepastian yang cepat untuk melepaskan diri dari siksaan dan penderitaan tersebut.

"Baik. " sahut Kim Thi sia sambil melolos kan pedang Leng gwat kiamnya.

Dengan memutar pedangnya kencang-kencang, dia bermaksud menusuk jalan darah Tiong leng hiat didada kakek itu, serta mengakhiri kehidupannya dalam waktu singkat.

Tapi sayang.....

Belum sempat tusukan tersebut menembusi dada Nirmala nomor tujuh, tiba-tiba Sastrawan menyendiri membentak keras: "Tunggu sebentar"

Sambil membentak ia rentangkan telapak tangannya lebar-lebar, dengan jurus "Harum bunga menyebar luas" ia melepaskan sebuah pukulan yang maha dahsyat mengancam tubuh Kim Thi sia.

"Hey, apa-apaan kamu ini?" dengan perasaan amat terkesiap Kim Thi sia berseru.

Dalam keadaan terancam ia tak berayal-ayal lagi dengan gerakan "kupu-kupu menyelinap dibalik bunga" ia segera mengerahkan ilmu meringankan tubuh tanpa bayangan untuk melejit ketengah udara dan menghindarkan diri dari sergapan kilat itu sejauh tiga depa dari posisi semula.

Kemudian setelah berhasil berdiri tegak. dengan wajah tertegun tegurnya sengit: "Sastrawan menyendiri, bagaimanapun jua ia terhitung seorang jago kenamaan dalam dunia persilatan, mengapa perbuatanmu justru begitu licik dan memalukan? Kenapa kau menyergapku secara munafik?"

Sastrawan menyendiri tertawa nyaring.

"Sesungguhnya aku tidak berniat sama sekali untuk melancarkan sergapan terhadapmu meski ilmu silatmu cukup tangguh, namun aku, Sastrawan menyendiri masih mampu untuk bertarung melawanmu. Hmmm, kenapa aku mesti main bokong. ?"

"Hmmm, tapi buktinya kau telah menyerangku secara tiba-tiba, bagaimana penjelasanmu dengan perbuatan ini?" teriak Kim Thi sia marah.

"Aku hanya berniat menghalangi niatmu untuk menghabisi nyawa Nirmala nomor tujuh dengan sebuah tusukan saja"

"Tapu kau sendiri yang menyuruh aku menghabisi nyawa Nirmala nomor tujuh. " bantah

Kim Thi sia keheranan-

"Aku kan menyuruh kau menusuknya tiga kali" tukas Sastrawan menyendiri dengan wajah mendongkol. "Tusukan pertama maupun tusukan kedua tak boleh membuat Nirmala nomor tujuh mati konyol, aku ingin dia mampus secara pelan-pelan tusukan yang ketiga. "

Sastrawan menyendiri tertawa dingin.

"Heeeh....heeeeh.....heeeeh pada tusukan yang pertama kau harus menusuk tulang bahu

Nirmala nomor tujuh, luka pada bagian bahu cuma menyebabkan darah yang bercucuran deras, tapi untuk sesaat tak sampai membuatnya menemui ajalnya mengerti? Nah, cepat tusuklah"

Diam-diam Kim Thi sia mempertimbangkan tawaran tersebut, dia berpendapat bagaimana pun jua Nirmala nomor tujuh telah membantu durjana untuk berbuat kejahatan, dosa semacam ini memang tak terampuni, ditambah pula jiwanya sudah berada diambang pintu kematian, bila ia tidak mengikuti permintaan Sastrawan menyendiri, niscaya sikapnya akan menimbulkan kecurigaan dalam hatinya.

oleh sebab itu tanpa banyak berbicara, dia segera melaksanakan apa yang diminta orang itu. "Aduuuuuh"

Akibat dari tusukan yang tepat melubangi tulang bahu Nirmala nomor tujuh itu membuat kakek tersebut menjerit kesakitan, suara pekikkannya amat mengerikan hati, bisa dibayangkan betapa tersiksanya orang itu. Sastrawan menyendiri segera tertawa terbahak-bahak. pujinya:

"Haaah....haaaah^. sebuah tusukan yang tepat sekali, tusukan kedua harus kau tujukan pada

tulang iga Nirmala nomor tujuh. "

Tanpa berpikir panjang lagi Kim Thi sia segera melaksanakan kata-katanya itu.

Untuk kedua kalinya Nirmala nomor tujuh menjerit ngeri, tapi tindakan yang dilakukan Kim Thi sia ini sungguh teramat cepat, belum habis Nirmala nomor tujuh menyelesaikan jeritan ngerinya, pedang Leng gwat kiamnya sekali lagi menyambar kemuka kali ini dia menusuk jalan darah Yu bun hiat ditubuh lawan-

Tampak cahaya putih yang berkilauan tajam berkelebat lewat, lalu tampak Nirmala nomor tujuh menyeringai seram, selembar jiwanya segera melayang meninggaikan raganya. Dengan wajah berubah hebat Sastrawan menyendiri berseru:

"Kim Thi sia, gerak serangan pedangmu sungguh amat cepat da njarang dijumpai dalam dunia persilatan."

Pada saat yang bersamaan itupula tiba-tiba dari balik hutan bergema suara derap kaki manusia yang cukup ramai. Berbareng dengan gema suara derap kaki manusia tadi, muncullah berapa orang kakek berambut putih yang semuanya memakai gelang emas diatas kepalanya ditempat tersebut. Terdengar beberapa orang Utusan Nirmala itu membentak keras:

"Manusia latah darimana yang berani membuat keonaran didalam Lembah Nirmala. Hmmm, tampaknya kalian sudah bosan hidup semua"

cepat-cepat Kim Thi sia mencabut keluar pedang Leng gwat kiamnya dari atas mayat Nirmala nomor tujuh, kemudian dengan gerakan "Ikan terbang pantang sayap" ia melejit sejauh berapa depa dari posisi semula dan memilih sebuah tempat yang strategis untuk bersiap diri menghadapi segala sesuatu yang tidak diinginkan.

Sikap Sastrawan menyendiri amat tenang, ditatapnya berapa orang Utusan Nirmala itu sekejap. kemudian katanya:

"oooh, ternyata lagi- lagi ada tiga orang Utusan Nirmala yang datang menghantarkan diri hmmmm Kalian dengarkan baik-baik, saat kiamat bagi Lembah Nirmala sudah diambang pintu, bila tahu diri lebih baik kalian tinggaikan tempat ini selekasnya. Kalau tidak. hmmm, jangan

menyesal bila kepala sudah terpapas kutung. Nirmala nomor tujuh merupakan contoh soal yang terjelas untuk kalian semua."

Ketiga orang Utusan Nirmala itu mendengus dingin kemudian tertawa terbahak-bahak.

Terdengar salah seorang diantara mereka bertiga, seorang kakek bermuka hitam berteriak lantang.

"Siapa kalian berdua dan berasal dari mana? cepat laporkan sejelasnya kepada kami ketahuilah diujung tangan Nirmala nomor enam tak pernah ada setan tanpa nama yang dibikin mampus."

"Aku adalah Kim Thi sia" sahut pemuda kita lantang. "sedangkan dia adalah jagoan muda yang amat tersohor dari dunia persilatan, orang menyebutnya sebagai Sastrawan menyendiri. "

Seorang utusan Nirmala yang berdiri paling dekat, bersenjatakan sebuah sekop berbentuk aneh yang berwarna hitam segera membentak keras sebelum Kim Thi sia menyelesaikan kata-katanya. Sambil memutar senjata sekop anehnya, dia berseru:

"Bocah keparat, kau berani membunuh Nirmala nomor tujuh, hmmm Hari ini aku harus menumpas dirimu dari muka bumi"

Dengan kecepatan bagaikan sambaran petir, dia memutar senjatanya menciptakan lapisan sekop yang berlapis-lapis ditengah udara, dalam waktu singkat jalan darah Lo leng hiat, Yu bun hiat, Im ku hiat, dan Yang wi hiat ditubuh Kim Thi sia sudah terkurung dibawah ancamannya.

Serangan yang dilancarkan Nirmala nomor delapan benar- benar dilakukan sangat mendadak dengan kecepatan bagaikan sambaran petir, bukan saja diluar dugaan, lagipula amat mengerikan.

Baru saja Kim Thi sia hendak melakukan satu tindakan, tiba-tiba terdengarlah berapa kali suara dentingan nyaring bergema memecahkan keheningan-....

"Traaang.... Traaanng..... Traaaannng "

Dentingan demi dentingan yang bergema susul menyusul ini seketika membuat senjata sekop itu miring kian kemari tak berbentuk serangan lagi, otomatis ancamannya terhadap Kim Thi sia punjadi buyar.

Tak terlukiskan rasa kaget Nirmala nomor enam, buru-buru serunya dengan lantang:

"Nirmala nomor delapan, senjata rahasia yang dilancarkan Sastrawan menyendiri adalah jarum penggetar langit, kau tak boleh bertindak gegabah. "

Kembali Nirmala nomor delapan memutar senjata sekopnya melepaskan tiga buah serangan berantai, tapi berhubung jarum penggetar langit yang dilancarkan Sastrawan menyendiri kelewat dahsyat, pada hakekatnya susah baginya untuk mendekati Kim Thi sia, otomatis semua ancamannya pun mengenai sasaran yang kosong. Kepada Sastrawan menyendiri segera bentaknya:

"Kenapa sih kau suka mencampuri urusan orang lain? Aku hendak menghajar Kim Thi sia untuk membalaskan dendam bagi kematian Nirmala nomor tujuh, apa sangkut pautnya urusanku denganmu?"

Sastrawan menyendiri tertawa sinis.

"Aku tahu, kalian menjadi anggota perguruan Nirmala bukan atas dasar kemauan sendiri, kini musuh tangguh sudah muncul didepan mata, saat kiamat Dewi Nirmala pun sudah berada diambang pintu, lebih baik kaburlah cepat-cepat untuk menyelamatkan diri, apa artinya menuntut balas buat kalian semua ?"

"Tidak bisa" teriak Nirmala nomor delapan dengan mata mendelik. "Nirmala nomor tujuh adalah saudara kandungku, kini Kim Thi sia telah membunuhnya maka kaupun berkewajiban untuk membalaskan dendam bagi sakit hatinya itu "

"Kau justru salah menuduh" jengek Sastrawan menyendiri dengan wajah penuh amarah. "Nirmala nomor tujuh mampus karena aku, maka bila kau ingin membalas dendam lebih baik langsung membalas kepadaku."

"Apa maksud ucapanmu itu?" seru Nirmala nomor delapan agak tertegun-

"Sederhana sekali maksudnya, oleh karena Nirmala nomor tujuh telah membunuh adik kandungku si Dewi awan Khu Hui cu, maka. "

"Apa? kau adalah saudaranya si Dewi awan Khu Hui cu?" seru Nirmala nomor delapan agak tertegun.

"Tepat sekali, itulah sebabnya aku harus membalaskan dendam bagi kematian adik kandungku, maka dari itu bila kalian merasa tidak terima atas kematian dari Nirmala nomor tujuh, silahkan langsung mencari aku"