Lembah Nirmala Jilid 53

 
Jilid 53

"Kim Thi sia, ayoh Cepat katakan, apa yang sebenarnya kau tertawakan ? "

Pelan-pelan Kim Thi sia menarik kembali gelak tertawanya dan mengambil tempat duduk diatas sebuah batu besar, lalu dengan pandangan yang meyakinkan dia mengawasi sekejap kedua orang tersebut.

Sikap serius dan bersungguh-sungguh yang mendadak diperlihatkan Kim Thi sia itu sekali lagi membuat sipencuri dari selatan dan pencuri dari utara dibuat kebingungan setengah mati.

Akhirnya kedua orang pencuri ini saling berpandangan sekejap yang bersih untuk duduk bersila. Suasana menjadi hening untuk sesaat....

Mendadak sipencuri dari selatan menengok sekejap kewajah Kim Thi sia, lalu dengan tak senang hati ia menegur:

"Hey kenapa kau? Kim Thi sia, mengapa kau hanya membungkam diri dalam beribu bahasa?" Kim Thi sia sama sekali tidak menjawab pertanyaan itu, dia menghela napas panjang. Sesaat kemudian pemuda itu baru berkata dengan wajah serius.

"Pantangan pertama bagi umat persilatan adalah saling bunuh membunuh, kenapa kalian berdua justru saling gontok-gontokan sendiri ditempat yang sepi begini? Apa lagi artinya sesama teman saling menyerang?"

Mendengar perkataan itu, gemas dan mendongkol sipencuri dari selatan berseru: "Maknya, aku masih mengira kau mempunyai sesuatu pendapat yang hebat, tak tahunya cuma mengucapkan kata-kata yang membosankan begitu."

"Tidak. aku tidak berbicara sembarangan- Aku berkata menurut suara hatiku sendiri." "Apakah kau tidak mengetahui tujuan dari kedatangan kami kemari. ?" seru sipencuri

selatan-

Pelan-pelan Kim Thi sia mengangguk.

Melihat itu sipencuri dari selatan segera berkata lebih jauh:

"Selama aku sipencuri dari selatan berkelana didalam dunia persilatan, maka disaat kita pergi mencuri mutiara Teng hoo cu di gedung Siau yan lo, tentunya kaupun memahami bukan apa maksud dan tujuan yang sebenarnya ?"

"Aku tahu, tujuan kalian dalam mencuri mutiara Teng hong cu adalah untuk menolong kaum rakyat yang menderita akibat bencana serta membantu mereka untuk meringankan penderitaan."

"Benar, memang begitulah maksud tujuan ku, siapa tahu sipencuri dari utara ini justru mengacau rencana tersebut, maka. "

Tidak sampai perkataan tersebut selesai diutarakan, Kim Thi sia telah menukas dengan cepat. "oleh karena itu kalian berdua melangsungkan pertarungan mati-matian disini?"

Sipencuri dari utara tidak ambil diam, dengan cepat dia menimbrung:

"Terus terang saja aku bilang, nama serta kedudukanku sebagai sipencuri utara dalam dunia persilatan cukup tinggi dan terhormat, tapi hari ini aku mesti berjuang keras, tentunya nama baikku itu tak boleh dirusak orang lain dengan begitu saja bukan?"

"Kalau begitu kalian telah bersikeras akan melangsungkan pertarungan mati-matian pada hari ini?"

Baik sipencuri dari selatan maupun pencuri dari utara, mereka serentak menganggukkan kepalanya berulang kali.

Kim Thi sia jadi kebingungan, ia segera bangkit berdiri dan berjalan bolak balik tak hentinya, dia seperti lagi memutar otak untuk memecahkan masalah tersebut. Selang berapa saat kemudian Kim Thi sia baru berkata:

"Kalau toh kalian berkeinginan untuk beradu kepandaian disini. Baiklah, akupun bersedia menyumbangkan ide kepada kamu berdua."

begitu ucapan tersebut diutarakan, kedua orang pencuri sakti itu menjadi terkejut, katanya kemudian-

"Menurut pendapatku, ada baiknya kalian memilih sebuah batu cadas sebagai arena pertarungan."

"Apa yang harus kami lakukan?" tanya pencuri dari selatan ragu-ragu.

"Kalian berdua harus menutupi mata kalian dengan secarik kain, kemudian tapi boleh aku akan menjadi wasitnya, bila aku sudah menghitung sampai angka ketiga, kalian boleh segera mulai."

"Mulai untuk apa?" tanya pencuri dari utara gelisah.

"Mulai saling meraba, siapa yang terjatuh lebih dulu dari atas batu cadas tersebut, dia harus dianggap kalah."

"Tapi apa maksudmu?"

"Maksudnya kalian boleh bertarung tapi bukan bertarung yang membahayakan jiwa sebagai jago-jago lihay didalam dunia persilatan bukan cuma ilmu Silatnya yang tangguh, akal dan kecerdikanpun harus dipuji. Sebab hanya orang yang berakal cerdik yang pantaS disebut jagoan hebat." Kedua orang itu segera berunding sendiri berapa saat, akhirnya setelah saling berpandangan sekejap mereka menyahut: "Baiklah, kita boleh segera mencoba?"

Dengan cepat Kim Thi sia mengambil sapu tangan mereka dan menutupi sepasang mata pencuri selatan kemudian pencuri utara, lalu mereka berdua diajaknya naik keatas batu besar.

Mendadak terdengar sipencuri dari utara berseru: "Hey Kim Thi sia, aku hendak bicara dulu." "Apa yang hendak kau ucapkan? Katakanlah "

"Aku hanya berharap sampai waktunya nanti sipencuri dari selatan jangan mengingkari janji lagi."

Pencuri dari selatan menjadi sangat marah, teriaknya:

"Aah, kau si keparat hanya bisa menilai orang lain dengan pikiran yang picik, bila kali ini kau benar-benar kalah, tak akan kuingkari janjiku lagi. "

"Bagus "

Sementara itu Kim Thi sia merasa amat kegelian, tapi ia berusaha menahan diri, setelah menempatkan kedua orang yang bermusuhan itu pada posisi masing-masing, dia sendiripun berkemak kemik dengan suara lirih. Dengan perasaan keheranan sipencuri dari selatan segera bertanya: "Kim Thi sia, apa yang sedang kau lakukan?"

"Aku sedang mendoakan kalian berdua?" "Mendoakan apa?"

"Aku berdoa agar kalian berdua bisa meraih kemenangan dengan mengandaikan kecerdikan" "Sudah, sudahlah, ayoh cepatan sedikit memberi aba- aba."

Dengan suara keras Kim Thi sia mulai menghitung. "Satu....dua....tiga. "

begitu angkat ketiga disebutkan, pencuri dari utara dan selatanpun mulai saling meraba diatas batu cadas yang lebarnya cuma berapa kaki itu.

Kim Thi sia menyaksikan perbuatan kedua orang itu dari sisi arena, ia merasa amat kegelian- Entah berapa lama lewat.....

Tiba-tiba ia mendengar ada suara orang yang terjatuh dari atas batu, ketika ia berpaling, tampaklah sipencuri dari utara dan pencuri dari selatan saling berangkulan satu sama lainnya. Bahkan mereka berdua sama-sama terjungkal dari atas batu. Dengan cepat kedua orang itu melepaskan sapu tangan yang menutupi mata masing-masing. Pencuri dari selatan segera merangkak bangun dari atas tanah, kemudian serunya:

"Tidak bisa, tidak bisa. Kim Thi sia, kalau mesti berbuat begini, mak selamanya kita tak akan mendapatkan jawabannya."

Sedangkan sipencuri dari utara segera mengomel.

"Hmmm, Kim Thi sia, kau rupanya memang sengaja berbuat begini untuk mempermainkan kami. "

"Siapa bilang aku berniat mempermainkan kalian?" bantah Kim Thi sia. "Tujuanku yang terutama adalah tidak berharap kalian saling membacok, akupun tak berharap kalian gontok- gontokan sendiri, maka. "

"Maka ia berpaling sengaja mempermainkan kami, agar kami berdua tersiksa?" sambung pencuri dari selatan-

"Tidak,^ aku sama sekali tidak bermaksud begitu, jika kalian masih bersikeras hendak saling beradu jiwa. Yaa apa boleh buat, terpaksa aku harus angkat kaki dari sini."

Sipencuri dari selatan kelihatan agak sangsi sebentar, akhirnya diapun berkata: "Baiklah, bila ingin pergi, kau boleh sekarang. Kim Thi sia sampai berjumpa lagi lain waktu. "

"Apakah kalian bersikeras hendak saling membunuh, apakah kalian belum puas bila salah seorang diantara kalian tewas?" tanya Kim Thi sia kemudian-Sipencuri dari selatan tertawa terbahak-bahak.

"Haah....haaaah. ^.asal mutiara Teng hong cu berada ditanganku, urusan bisa diselesaikan.

Kalau tidak, silahkan memenggal batok kepalaku lebih dulu." Sipencuri dari utara segera tertawa dingin.

"Heeeeh.....heeeeh.....heeeeh kalau begitu biar kupenggal batok kepalamu."

begitu selesai berkata, dia segera melepaskan sebuah pukulan dengan jurus " Matahari terbenam dibalik sungai". Bersamaan waktunya ia mendesak maju kedepan dan mengancam jalan darah Tiong teng hiat, Impoh hiat dan Hiat hay hiat ditubuh lawan.

Reaksi dari pencuri setan benar-benar amat cepat, belum lagi deruan angin serangan musuh meluncur datang, pedangnya telah meluncur lebih dulu kedepan dengan jurus "pencabut nyawa berdiri tegak" berkuntum-kuntum bunga pedang menyelimuti seluruh angkasa dengan cepat.

Pertarungan sengitpun kembali berkobar.

Sesungguhnya Kim Thi sia berusaha untuk mencegah berkobarnya pertarungan, tapi sayang keadaan sudah terlambat.

Melihat keadaan tersebut, tanpa terasa ia menghela  napas  panjang  sambil  berpikir: "Aaai. tampaknya soal mana, kedudukan dan harta hanya menjadi bibit bencana bagi umat

manusia, hanya gara-gara mutiara Teng hong cu saja kedua orang pencuri yang telah berusia lanjut itu harus saling gontok-gontokkan sendiri macam anak kecil saja. Aaai. benar-benar

keterlaluan. "

Berpikir sampai disitu, ia segera menjura seraya berseru:

"cianpwee berdua, aku benar-benar tak sanggup untuk menyelesaikan urusan kalian-Maaf kalau terpaksa aku harus mohon diri"

Baik pencuri selatan maupun sipencuri utara sama-sama tidak menggubris teriakan itu, mereka telah memusatkan pikiran dan pertarungannya dalam pertarungan itu.

Dengan perasaan berat Kim Thi sia pun berpisah dengan mereka dan meneruskan perjalanannya.

Dengan ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya sekarang pemuda itu bergerak dengan kecepatan luar biasa, sekejap mata kemudian berpuluh-puluh li sudah dilewati tanpa terasa.

Suatu ketika Kim Thi sia mendengar suara deruan angin puyuh yang dingin menyeramkan berhembus datang.

Sebagai seorang jagoan, Kim Thi sia segera merasakan sesuatu yang aneh, cepat- cepat dia menghentikan langkahnya sambil melakukan terhadap sekeliling tempat itu.

Tapi sungguh aneh, ia tak berhasil menemukan sesuatu apapun disekitar tempat itu bahkan yang terlihat disekitar sanapun hanya sebuah hutan yang gelap gulita.

Dengan langkah yang amat berhati-hati, pemuda itu menelusuri hutan dan menyelinap diantara pepohonan untuk mencari sumber suara aneh tadi.

Akhirnya setelah melalui hutan yang lebar ia menemukan sebuah jalan setapak yang amat sempit.

Di ujung jalan tadi terpancang sbeuah tugu dengan beberapa tulisan yang amat besar, tulisan tersebut berbunyi begini: "Aku yang membuka jalan ini, aku yang membeli tempat ini, bila ada yang ingin lewat, tinggalkan dulu batok kepalamu." Membaca tulisan mana, Kim Thi sia pun berpikir:

"Sungguh tak disangka aku akan menjumpai tulisan semacam ini ditengah hutan yang terpencil begini, benar-benar suatu kejadian yang sangat aneh "

Dengan cermat sekali lagi berapa huruf yang berarti. "Ditulis oleh orang Tiang Pek san."

Siapakah orang Tiang pek san yang dimaksud? Kim Thi sia tidak habis mengerti tapi timbuljuga rasa ingin tahu didalam hatinya.

Sementara pemuda itu masih ragu-ragu mengambil keputusan, tiba-tiba......

Dari balik keheningan bergema suara gelak tertawa yang amat menyeramkan. Suara tertawa itu amat keras dan amat menusuk pendengaran-

Kim Thi sia tertegun dibuatnya, ia segera sadar bahwa manusia yang menyebut diri sebagai orang Tiang pek san itu merupakan seorang tokoh persilatan yang berilmu tinggi. Kalau tidak. mustahil gelak tertawanya dapat menimbulkan getaran sekeras ini.

Dengan suatu gerakan yang cepat Kim Thi sia meloloskan pedang Leng gwat kiamnya dan bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan.

Menyusul suara gelak tertawa yang amat mengerikan tadi, terdengar pula seseorang menegur dengan lantang.

"Haaah.....haaaah bajingan busUk dari mana yang berani membUat keonaran disini?"

Belum sempat ingatan kedua melintas lewat dalam benaknya, Kim Thi sia telah menyaksikan seorang kakek ceking berambut putih telah melayang turun dihadapannya.

Kakek ceking itu memiliki sepasang mata yang tajam menggidikkan, diatas bibirnya tertera sebuah codet bekas bacokan golok sepanjang tiga inci, dandanan maupun potongan mukanya memberi kesan yang menyeramkan bagi siapapun yang memandang.

Namun Kim Thi sia tidak merasakan kesan seram tersebut, malah pikirnya dihati:

"Ia bisa bercokol disini dengan peraturannya, pasti dikarenakan sesuatu alasan tertentu." Karena berpendapat begini, Kim Thi sia segera menjura seraya menegur:

"Tolong tanya cianpwee, mengapa kau bercokol disini dengan peraturan yang begitu aneh?" orang Tiang pek san itu tersenyum sahutnya:

"Haaaah.....haaaah.....haaaah sudah cukup lama aku siorang gunung menanti disini"

"Boleh aku tahu cianpwee, apa yang sedang kau nantikan?" Kim Thi sia makin tercengang. "Aku sedang menantikan kedatangan dari para jago lihay dunia persilatan dan menantang

mereka untuk berduel."

Kim Thi sia semakin keheranan lagi setelah mendengar perkataan itu, kembali dia berkata: "cianpwee, apa maksudmu menunggu para jago dan mengajak mereka berduel?"

Kali ini orang dari Tiang pek san itu tertawa seram. "Haaaah.....haaaaah. "

"cianpwee, apa yang gelikan?"

"Aku geli terhadap CeCunguk ingusan macam dirimu itu, ternyata kaupun berani berlagak didepanku. Hmmm, tidakkah hal ini menggelikan."

Sikap congkak dan tinggi hati dari orang ini dengan cepat mendatangkan kesan jelek dihati kecil Kim Thi sia, namun dia pun berusaha untuk menghindarkan diri dari pertarungan tak berguna. Karenanya sambil tertawa paksa kembali pemuda itu berkata:

"Akupun mengerti, cianpwee bisa bercokol disini tentu disebabkan sesuatu alasan. Bolehkah kau utarakan alasan tersebut sehingga akupun ikut tahu, bila ada sesuatu yang kurang jelas, aku Kim Thi sia bersedia pula membantu."

"Aku Sun It tiong orang Tiang pek san selalu malang melintang seorang diri. Hmmm, dulu dengan susah payah kucari si raja pedang berbaju putih dan mengangkatnya menjadi guru dengan harapan bisa mempelajari ilmu silat yang tangguh, tak disangka akhirnya guruku itu mati disaat bertarung melawan Malaikat pedang berbaju perlente, itulah sebabnya aku melatih diri disini sambil menanti saatnya untuk melakukan pembalasan dendam."

"Waaah, sungguh tak kusangka cianpwee adalah murid kesayangan si Raja pedang berbaju putih, maaf, maaf."

Belum habis pemuda itu berbicara, dengan gusar orang Tiang pek san itu memotong. "Siapa kau? cepat sebutkan namamu."

Kim Thi sia mengangguk pelan, katanya:

"Aku adalah Kim Thi sia anak murid Malaikat pedang berbaju perlente. "

begitu mengetahui siapa yang dihadapi, amarah orang Tiang pek san itu semakin membara, serunya cepat:

"Bagus sekali, sudah tiga tahun lamanya aku menanti disini, akhirnya kau munculkan diri juga disini."

"Tapi cianpwee, diantara kita berdua toh tak pernah terjalin permusuhan apapun, mengapa kau menunjukkan sikap bermusuhan terhadapku. ?" seru Kim Thi sia tercengang. orang Tiang pek

san itu segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

"Haaah....haaaah.....haaaah. kautahu, apa sebabnya aku Sun It tiong hidup menyendiri dalam

jangka waktu yang lama ditempat seperti ini? Tak lain harapanku adalah suatu saat bisa bertarung melawan anak muridnya Malaikat pedang berbaju perlente serta melampiaskan rasa dendamku"

Kim Thi sia segera tersenyum.

"cianpwee, kau tak usah gusar, bila ada persoalan katakan saja seCara terus terang mari kita selesaikan seCara baik-baik."

Tapi orang Tiang pek san itu sama sekali tidak menggubris, tiba-tiba saja ia mendongakkan kepalanya dan berhembus keras-keras keatas sebatang ranting pohon-

Entah bagaimana jadinya, tahu-tahu saja ranting sepanjang lima enam kaki itu sudah terpapas kutung dan terjatuh keatas tangannya.

Menyaksikan kelihaian musuhnya, diam-diam Kim Thi sia merasa terperanjat sekali. Terdengar orang Tiang pek san itu berkata lagi:

"Marilah bocah muda, hari ini kau telah muncul diwilayahku, bila ingin berlalu dari sini maka kalahkan dulu aku."

Seusai berkata, kembali segulung desingan angin tajam berkelebat kemuka dengan hebatnya.

Kim Thi sia segera meloloskan pedang Leng gwat kiamnya, lalu berkata dengan tenang: "Baiklah, kalau toh cianpwee berkeinginan untuk melangsungkan pertarungan, Kim Thi sia

tentu akan melayani keinginanmu itu"

Sambil menggetarkan pedang Leng gwat kiamnya, pemuda tersebut melancarkan sebuah terkaman kilat kedada orang Tiang pek san-

Merasakan datangnya serangan yang begitu hebat, orang Tiang pek san itu buru-buru mengeluarkan jurus "cecak mendaki gunung." untuk meloloskan diri dari ancaman yang tiba. dalam waktu singkat pertarungan berlangsung dengan serunya, tiga ratus gebrakan kemudian keadaan tetap berimbang.

Kim Thi sia yang diserang terus menerus akhirnya marah juga dibuatnya, darah mudanya membuat pemuda tersebut menyerang makin bersemangat.

Secara beruntun dia melancarkan serangkaian serangan mautnya dengan jurus-jurus tangguh dari ilmu pedang panca Buddha, ia berusaha menekan lawannya sampai kepayahan.

Namun orang Tiang pek san itupun tidak jeri, sebaliknya dia justru mengembangkan pula ilmu silat andalannya untuk melancarkan serangan balasan. Terdengar ia berseru sambil menyerang dengan gencar:

"Bocah keparat, bila aku tak mampu membelah dua tubuhmu dengan jurus serangan ini, percuma aku dipanggil orang Tiang pek san-" Kim Thi sia tak mau kalah, ia segera balas mengejek:

"Hmmm, dulu gurumu siraja pedang berbaju putih pun keok ditangan guruku sudah dapat dipastikan kaupun bukan tandinganku hari ini, lebih baik cepat- cepat menyerah kalah saja?"

Sambil mengcjek pemuda itu segera mengancam jalan darah Ki hay hiat, to boan hoan hiat, Koan ciau hiat dan Thian teng hiat dengan jurus "naga sakti muncul disamudra."

orang Tiang pek san bukanlah jagoan sembarangan, merasakan datangnya ancaman yang begitu hebat, cepat- cepat dia punahkan ancaman dengan gerakan "menggeser bayangan memindah posisi", lalu teriaknya:

"Bocah kunyuk, sungguh tak kusangka ilmu silatmu hebat sekali, tak malu kau menjadi anak muridnya Malaikat pedang berbaju perlente"

Kim Thi sia sama sekali tidak menggubris tiba-tiba ia menyelinap kebelakang punggung orang Tiang pek san dengan gerakan "sepasang walet terbang berbareng".

Baru saja pedang Leng gwat kiamnya siap menusuk punggung lawannya tiba-tiba siorang Tiang pek san itu membalikkan badan, lalu melepaskan sebuah serangan balasan-" Duuuukkkk "

Diluar dugaan serangan tersebut bersarang didada Kim Thi sia dengan telak. Pemuda itu segera mengeluh dan memuntahkan darah segar.

Menyaksikan musuhnya terluka, orang Tiang pek san tertawa senang, ejeknya:

"Haaaah.....haaaah.....haaaaah bagaimana rasanya? Sekarang kau si kunyuk pasti sudah

mengetahui bukan akan kelihayan aku si orang Tiang pek san?"

Kim Thi sia mendengus dingin, biarpun dadanya terhajar sampai memuntahkan darah segar, namun berkat ilmu ciat khi mi khi nya yang lihay, kejadian tersebut sama sekali tidak berpengaruh banyak terhadap kekuatan badannya.

Dengan badan bergetar keras Kim Thi sia bangkit berdiri kembali, serunya lantang: "cianpwee, tahukah kau bahwa aku, Kim Thi sia termashur didalam dunia persilatan sebagai

manusia yang paling susah dihadapi?"

orang Tiang pek san itu menjadi semakin mendendam dan marah setelah menyaksikan Kim Thi sia tidak roboh akibat serangannya dengan kesal dan geram ia berteriak:

"Aku tak perduli kau susah dihadapi atau tidak. pokoknya hari ini kau si kunyuk harus mampus disini"

Berbicara sampai disitu, kembali ia menggerakan ranting pohonnya melancarkan serangan.

Kim Thi sia tak sudi menunjukkan kelemahannya, dengan pedang Leng gwat kiam nya ia melancarkan serangan balasan-

sekali lagi pertarungan sengit berkobar dengan hebatnya. Tiga kentongan sudah pertarungan itu berlangsung, baik Kim Thi sia maupun si orang Tiang pek san, kini kedua belah pihak sama-sama sudah kehabisan tenaga dan keCapaian setengah mati.

Mendadak terdengar si orang Tiang pek san itu berteriak keras:

"Bocah keparat, hari ini aku telah merasakan sampai dimanakah kelihayan ilmu silatmu, bagaimana kau sekarang kita beristirahat dulu kemudian baru dilanjutkan pertarungan ini setelah fajar nanti?"

Mendengar perkataan tersebut, Kim Thi sia tertawa seram.

"Heeeh....heeeeh. bila cianpwee sudah mengaku kalah, aku Kim Thi sia akan menyudahi

pertarungan sampai disini saja, kalau tidak, hmmm Jangan harap bisa lolos dari ujung pedang leng gwat kiam ku."

orang Tiang pek san itu menjadi geram, serunya jengkel.

"Bocah keparat, kau tak usah sombong, biarpun harus mampus diujung pedangmu sekarang, akupun rela, ayoh maju"

Sambil berkata ia langsung menerkang kedepan Kim Thi sia dengan jurus "sukma gentayangan menggapai angin-"

Tapi Kim Thi sia sudah bertekad akan mengakhiri pertarungan tersebut secepat mungkin, begitu musuhnya datang menyerang, ia segera mengeluarkan jurus "naga sakti bermain dilaut" untuk menggempur lawan-

Betapa kagetnya si orang Tiang pek san itu ketika secara tiba-tiba bahu kirinya sudah tergempur oleh serangan musuh, tak ampun tubuhnya mundur berapa langkah dengan sempoyongan-

Kim Thi sia tidak ambil diam, secara beruntun dia melancarkan dua serangan lagi untuk membacok lengan kanan lawan-

Dengan usia si orang Tiang pek san yang telah lanjut lagipula tenaga dalamnya sudah banyak berkurang, bagaimana mungkin ia sanggup melawan serangan musuh yang begitu gencar?

Tak bisa dihindari lagi, kengan kanan orang Tiang pek san itu tertusuk tepat oleh serangan pemuda itu, darah segar bercucuran keluar dengan derasnya.

Merasakan keadaannya semakin terdesak. orang Tiang pek san itu menjadi marah bentaknya: "Bocah keparat, jangan engkau kira setelah berhasil menusuk lenganku dua kali maka aku si

orang Tiang pek sanjadi takut kepadamu. Hmmm kalau jantan, ayoh majulah."

Seraya berkata, dia segera mengeluarkan jurus "pekerja langit membuat tangga" siap untuk merobohkan musuh.

Kim Thi sia mendengus dingin, dengan suatu gerakan cepat dia membalikkan badannya menggunakan jurus burung walet kembali kesarang, lalu secepat kilat menusuk kedada orang Tiang pek san itu.

Di luar dugaan, siorang Tiang pek san itu sama sekali tak bergerak dari posisinya semula, ia tidak nampak berusaha untuk berkelit ataupun melancarkan serangan balasan tubuhnya berdiri kaku bagaikan patung. Dengan keheranan Kim Thi sia segera menegur:

"Cianpwee, meng apa kau tidak berusaha untuk bercelit ataupun menghindarkan diri dari seranganku ini?"

Pelan-pelan orang Tiang pek san itu membuka matanya kembali, kemudian menjawab: "Sungguh tak disangka setelah malang melintang dalam dunia persilatan selama puluhan tahun

tanpa tandingan, akhirnya aku si orang Tiang pek san harus. "

"Kenapa kau Cianpwee?" buru-buru Kim Thi sia menukas. "Sungguh tak disangka aku telah menderita kekalahan total ditangan seorang pemuda ingusan pada hari ini, dengan kekalahan tersebut, bagaimana mungkin aku punya muka untuk berkelana lagi didalam dunia persilatan?"

"Cianpwee" Kim Thi sia mencoba menghibur. "Memang kalah adalah suatu kejadian yang lumrah dalam setiap pertarungan, meng apa sih persoalan tersebut harus dipikirkan?"

orang Tiang pek san itu tidak berkata-kata, ia cuma berdiri tertegun disitu tanpa bergerak, sementara sepasang matanya mengawasi Kim Thi sia tanpa berkedip.

Menyangka musuhnya amat berputus asa, buru-buru Kim Thi sia memberi hormat seraya berkata:

"Cianpwee, maafkan aku bila aku telah bertindak kurang hormat kepadamu tadi."

Belum habis perkataan tersebut diutarakan mendadak orang Tiang pek san itu menerobos maju kedepan dan merebut pedang Leng gwat kiam ditangan Kim Thi sia dengan kecepatan luar biasa.

Dengan amat cekatan Kim Thi sia melompat mundur beberapa langkah kebelakang lalu serunya:

"Locianpwee, apa. apa maksudmu?"

Setelah berhasil merampas pedang Leng gwat kiam dari tangan Kim Thi sia tadi, si orang Tiang pek san itu sama sekali tidak menggunakannya untuk melancarkan serangan, sebaliknya sambil mendonggakkan kepala ia menghela napas panjang.

"oooh suhu " keluhnya. "Dalam masa hidupku saat ini tak mungkin aku si orang Tiang pek

san membalaskan dendam bagimu tampaknya hal ini hanya bisa dibicarakan dalam penitisan mendatang..^. "

Kemudian ia berdiri kaku ditempat tersebut, sikapnya persis seperti sebuah patung tembaga. Bukan cuma begitu, malah sambil menatap kearah Kim Thi sia, dia seolah-olah berkata begini:

"Sobat, apa gunanya kita mesti bertarung? Apa gunanya kita mencari nama besar dan kedudukan?"

Kemudian dengan sekali ayunan pedang tahu-tahu ia telah menghujamkan pedang Leng gwat kiam tersebut kedalam perutnya.

Kim Thi sia tak sempat lagi menghalangi perbuatannya itu, tampak olehnya orang tersebut roboh terjungkal keatas tanah sambil bermandikan darah segar.

Untuk berapa saat lamanya pemuda itu hanya berdiri tertegun, dia seolah-olah dibuat terperanjat oleh peristiwa yang berlangsung didepan matanya saat itu.

Sampai lama kemudian ia baru menghela napas panjang dan mencabut keluar pedangnya dari perut orang itu, setelah membersihkan dari noda darah, dengan masgul dan murung berangkatlah pemuda itu meninggalkan tempat tersebut.

Pertarungan yang baru saja berlangsung seru membuat pemuda itu merasa amat letih tapi ia mencoba berjalan terus tanpa berhenti, dia berniat menggunakan kesempatan tersebut untuk pergi meninggalkan tempat tersebut sejauh-jauhnya.

Angin berhembus sepoi-sepoi, hari berganti hari, suatu ketika disaat Kim Thi sia sedang menempuh perjalanan tanpa tujuan tiba-tiba ia mencium bau harum semerbak berhembus lewat.

Bersama dengan berhembusnya angin sejuk itu, terlihat pula sesosok bayangan manusia menerjang datang kehadapannya.

Begitu melihat siapa yang berada dihadapanya, Kim Thi sia jadi melengak, serunya tanpa sadar: "oooh, rupanya kau"

Ternyata orang yang barusan datang bukan lain adalah putri Kim huan. Tampaknya gadis itu sudah berhasil memiliki ilmu meringankan tubuh yang cukup sempurna, gerak geriknya sangat enteng, lincah dan cepat sekali.....

Melihat kegugupan serta kepanikan yang menyelimuti wajah gadis tersebut, dengan keheranan Kim Thi sia segera menegur: "Putri Kim huan, mengapa kau?"

"Aduh celaka, aduh celaka. " seru putri Kim huan dengan napas tersengkal-sengkaL "Harap

kau sudi menolongku "

"Kesulitan apa sih yang sebenarnya kau hadapi?" tanya Kim Thi sia keheranan-

"Dia.....dia sedang mengejar diriku, dia.....dia hendak membunuhku " seru putri Kim huan

dengan cemas bercampur panik.

"Iyaa, sudah tahu kalau kau ada kesulitan, tadi siapa yang kau maksudkan sebagai dia?" sela Kim Thi sia.

Dengan cepat putri Kim huan menarik tangan Kim Thi sia dan diajak lari menuju kedalam hutan, katanya kemudian-

"Cepat kita sembunyikan diri disini, jangan sampai ketahuan orang itu "

"Kau tak usah takut, katakan kepadaku siapakah orang yang sedang mengejarmu?" kata Kim Thi sia dengan suara dalam, ia menarik tangan gadis itu dan mengajaknya berhenti berlari.

"Tapi aku takut sekali" keluh putri Kim huan dengan keringat bercucuran keluar. "Wajahnya buas dan seram, ilmu silatnya lihay dan luar biasa sekali. "

Cepat-cepat Kim Thi sia memeluk gadis itu erat-erat, kembali hiburnya dengan lembut: "Selama ada Kim Thi sia disini, kau tak usah merasa takut lagi"

Berbicara sampai disitu, ia segera mengalihkan pandangan matanya kearah mana berasalnya gadis tersebut.

Dikejauhan situ terlihatlah sebuah titik hitam yang sedang bergerak mendekat dengan kecepatan luar biasa.

Dalam waktu singkat bayangan hitam itu kian lama kian bertambah besar dan semakin dekat didepan mata.

Ternyata orang itu adalah seorang jago persilatan yang sedang berlarian dengan pedang terhunus.

Dengan mata melotot besar Kim Thi sia segera berteriak:

"Hey pedang perak. kenapa kau tergopoh-gopoh seperti orang yang gugup saja?"

Pedang perak nampak agak tertegun setelah mengetahui siapa yang berada dihadapannya, serunya tertahan: "Thi sia sute, kau. "

Sesudah berhenti sejenak, segera katanya lagi:

"Apakah kau telah berjanji lebih dulu dengan perempuan ini dan kau sengaja menunggu kedatangannya disini?"

"Tidak. sama sekali tidak ada kejadian seperti ini" jawab Kim Thi sia sejujurnya. Mendengar jawaban tersebut, sipedang perak segera tersenyum, katanya pelan: "Kalau begitu bagus sekali, harap kau segera menyingkir dari sini. "

"Kenapa?"

Setelah melotot sekejap kearah putri Kim huan denganpandanganpenuh kebencian sipedang perak berseru:

"Aku hendak mencabut nyawa perempuan ini" "Hmmm, kau tak bisa berbuat semena-mena disini" "Jadi kau tidak mengijinkan aku berbuat begitu?" tanya sipedang perak dengan wajah tertegun. "Tepat sekali"

Sebetulnya sipedang perak terhitung juga sebagai seorang jagoan yang angkuh dan tinggi hati, kontan saja ia merasa tak senang hati setelah mendengar perkataan ini, segera peringatnya:

"Kuharap kau jangan main api, hati- hati kalau sampai membakar jenggotmu sendiri" "Heeeeh.....heeeeh omong kosong" Kim Thi sia tertawa dingin.

"Hmmm, tahukah kau, mesti putri Kim huan berparas cantik, sesungguhnya ia jahat, berhati busuk dan kejam seperti kalajengking"

"Itukan terbatas pada pandanganmu seorang terhadapnya." "Bukan pandanganku, tapi memang begitu kenyataannya." "Kenyataan yang bagaimana maksudmu?"

"Mula-mula dia memikat toa suheng, dengan kecantikan mukanya, kemudian secara beruntun dia merayU sipedang kayu, pedang air dan lain-lainnya, dia perempUan jalang."

"HUUuh, ngaco belo " tukas putri Kim huan sambil meludah.

Pedang perak tidak menggubris seruan tersebut, kembali ujarnya kepada Kim Thi sia:

"Gara-gara ulah perempuan ini, hubungan kami kakak adik seperguruan menjadi tak akur, lebih baik kau jangan menerjunkan diri lagi dalam persoalan ini, daripada kau sendiripun turut tertipu."

"Aku berbeda sama sekali dengan kalian tadi mungkin aku akan menimbrung dengan begitu saja."

Putri Kim huan yang mengikuti pembicaraan tersebut tiba-tiba menimbrung lagi:

"Pedang perak. katakanlah sejujur hati didalam hal yang manakah aku pernah bersikap jahat kepadamu?" Pedang perak tertawa dingin.

"Heeeh....heeeeh.....heeeeh memangnya aku tak tahu akan semua ulahmu. Hmmm, dengan

bujuk rayumu kau berhasil membohongi sipedang air sehinga dia mengajarkan ilmu pedang tiga ribu air lemasnya kepadanya. "

"Tapi ia toh mengajarkan ilmu tersebut kepadaku secara rela dan tanpa paksaan?"

"Tapi tidak seharusnya kau mencelakai sipedang air hingga tewas secara mengenaskan-"

"Kau jangan menfitnah orang dengan kata-kata yang tak karuan" bantah putri Kim huan cepat. sekali lagi sipedang perak mendengus dingin.

"Hmmm, setelah berhasil mempelajari ilmu silat dari sipedang air, siang malam kau telah menghisap sari lelakinya, kau menggunakan kecantikan wajahmu untuk merayu dan memikat hatinya sehingga pada akhirnya sipedang air tewas karena kehabisan air mani"

"Kau.....kau jangan menfitnah orang dengan tuduhan yang bukan-bukan-..^ " jerit putri Kim

huan sambil menangis tersedu-sedu. Kim Thi sia segera berpaling kearah pedang perak dan menegur: "Apakah kau mempunyai bukti dengan tuduhanmu itu?"

"Kau ingin melihat mayat sipedang air yang tewas karena kehabisan air mani? Dia berada ditebing kuda liar, tidak jauh dari tempat ini"

"Sungguhkah itu?" tanya Kim Thi sia agak tertegun. Tanpa terasa dia berpaling dan menengok kearah putri Kim huan-

berada dalam pandangan dua orang pria secara bersamaan waktu, putri Kim huan segera merasa amat malu bercampur sedih.

"Putri Kim huan" tiba-tiba sipedang perak membentak lagi. "Cepat katakan, benarkah ada kejadian seperti ini?" "Aku tak bisa disalh kan dalam peristiwa tersebut " putri Kim huan mencoba untuk membela

diri.

"Kurang ajar, kau masih berusaha membantah?" bentak sipedang perak dengan gusarnya. "Buat apa aku membantah, didepan Thian sebagai saksi, aku tak ingin berbohong,

kenyataanpun berkata begitu."

"Nona, lebih baik kau berbicara secara terus terang saja" desak Kim Thi sia pula.

setelah didesak berulang kali, putri Kim huan menjadi nekad, serunya kemudian: "Baiklah, aku akan memberitahukan hal yang sebenarnya, semoga saja kau bisa

mempertimbangkan dengan bijaksana."

"Akupun berharap agar kau tidak merahasiakan kejadian yang sebenarnya."

Setelah menyeka air mata yang membasahi wajahnya, putri Kim huan mulai bercerita. "Malam tadi, kondisi badan sipedang air mulai melemah."

"Sebab musabab melemahnya kondisi badan sipedang air sudah pernah kudengar dari penuturan pedang kayu, didalam persoalan ini kau memang tak bisa disalahkan." setelah berhenti sejenak, putri Kim huan berkata kembali. "Waktu itu, dia......dia minta kepadaku. "

"Kalau toh kau sudah tahu bahwa kondisi badannya lemah, sudah sepantasnya bila aku memikirkan keadaannya dengan akal yang sehat serta menampik permintaannya." sela pedang perak cepat.

Dengan sedih putri Kim huan menghela napas panjang. "Aaaai, tapi aku terlalu mencintai dirinya"

"Apa kau mencintai pedang air?" tanya Kim Thi sia dengan wajah agak tertegun, berita tersebut sama sekali diluar dugaannya.

Dengan sedih kembali putri Kim huan menghela napas panjang.

"Benar, setiap kali dia berlutut dihadapanku dan mulai memohon agar aku bersedia melayani keinginannya, maka betapapun besarnya alasan yang tersedia, aku tak akan menampik keinginannya lagi."

"Hmmm, itu toh menurut pembelaanmu sendiri" jengek pedang perak dengan penuh amarah. "Kalian sama sekali tidak memahami perasaan seorang wanita, kau tahu perasaan kaum wanita

adalah paling lemah, disaat ia sudah terpengaruh oleh perasaannya maka persoalan apapun tak pernah akan membuatnya takut atau sangai"

"Bagaimana selanjutnya?" tanya Kim Thi sia.

"Kemudian sipedang air memeluk aku sambil berteriak-teriak keras, dia bilang ingin mati dihadapanku" ucap putri Kim huan lebih sedih lagi. Air matanya meleleh semakin deras.

Tapi pedang perak cepat menyela.

"Dan saat itulah kebetulan aku menyusul kesana dan melihat semua kejadian. "

"Waktu itu sipedang air sudah. sudah berada diambang pintu kematian, aku cepat-cepat

merangkak bangun sambil berpakaian saking gugupnya, aku sampai tak tahu apa yang mesti dilakukan, tapi aku bersumpah bila aku bisa menyumbangkan nyawaku untuk menggantikan kematian dari sipedang air, aku rela berbuat begitu." Pedang perak mendengar dingin.

"Hmmm, kasihan sipedang air, belum sempat ia berpakaian kembali, nyawanya sudah keburu melayang selagi masih berada dalam pelukanku"

"Pedang perak. seharusnya kau pergunakan ilmu Tay kim kong lek untuk menolong nyawa sipedang air " tegur Kim Thi sia.

Putri Kim huan yang mendengar ucapan mana buru-buru nimbrung. "Dia sama sekali tidak berbuat begitu bukan saja tidak melakukan usaha apa-apa untuk menyelamatkan jiwa pedang air, malahan memanfaatkan kesempatan tersebut dia mempermainkan aku"

"Aku mempermain bagaimana terhadap dirimu?" sela pedang perak dengan wajah berseru marah.

"Kau menyuruh aku tidak usah memikirkan sipedang air lagi tapi ikut bersamamu kabur sejauh- jauhnya darisini, bahkan mengatakan pula "

Ketika berbicara sampai disitu, tiba-tiba dia menghentikan pembicaraannya sementara paras mukanya berubah menjadi merah padam.

Bagaimana pun juga dia adalah seorang wanita sebagai perempuan tentu saja ada banyak persoalan yang kurang leluasa untuk diutarakan dengan begitu saja.

"Dia bilang apalagi?" desak Kim Thi sia agak tertegun.

Putri Kim huan melirik sekejap kearah pedang perak, kemudian berkata lebih jauh. "Dia bilang, kemampuannya jauh lebih hebat dari pada pedang air. "

Kim Thi sia segera berseru tertahan dengan cepat ia memahami apa arti "kemampuan" disini, tentu saja diapun merasa rikuh untuk bertanya lebih jauh.

Setelah berkata demikian, agaknya putri Kim huan pun tidak merasa rikuh atau malu lagi, dengan cepat ia berkata lebih jauh.

"Pedang perak. seandainya kau adalah seorang manusia yang berperasaan, coba bayangkan sendiri, pantaskah kau mengucapkan perkataan seperti ini ?"

"Apa yang kukatakan?" dari malunya sipedang perak jadi gusar.

"Kau mengatakan kepadaku, asalkan bersedia kabur bersamamu, tanggung hidupku akan penuh kenikmatan dan kehangatan cinta. "

"Pedang perak" seru Kim Thi sia kemudian- "Kalau begini persoalannya, maka kaulah yang berada dipihak yang salah"

"Salah atau tidak, aku rasa tak ada sangkut pautnya dengan kalian" bentak pedang perak segera dengan sewot. Kim Thi sia tak senang hati, ia berkata:

"Kalau begitu, kau tidak seharusnya berniat mencelakai jiwa putri Kim huan. "

"Tidak, aku bertekad hendak membunuhnya."

Mendengar ucapan mana, tanpa terasa tubuh putri Kim huan bergetar keras sekali. Sedangkan Kim Thi sia segera berseru:

"Pedang perak terus terang aku berkata kepadamu, Kau tahu, nyawamu sendiripun berada dalam ancaman"

"Apa maksudmu?"

"Maksudnya aku hendak memenggal batok kepalamu."

"Apakah dikarenakan perempuan yang bernama putri Kim huan?" jengek pedang perak dengan wajah tercengang.

"Bukan dikarenakan persoalan ini saja." bentak Kim Thi sia. "Lalu dikarenakan persoalan apa lagi?"

"Untuk menuntut balas bagi kematian suhuku, Malaikat pedang berbaju perlente." Pedang perak menjadi gusar sekali, teriaknya gusar:

"Hmmm, saban kali bertemu, engkau si kunyuk busuk selalu berkaok-kaok tentang peristiwa itu, sungguh memuakkan" "Asal batok kepalamu sudah terpenggal dan lepas dari badan, akupun tak akan menyinggung persoalan itu lagi dihadapanmu"

Agaknya sipedang perak sadar bahwa jiwanya tak akan lolos dari kematian, ia menjadi nekad dan segera memutuskan untuk melancarkan serangan lebih dulu, serunya kemudian:

"Manusia keparat, jangan kau anggap pedang perak adalah manusia yang gampang dipermainkan dengan begitu saja, aku memang sudah lama berniat menyelesaikan persoalan ini secepatnya denganmu"

Berbicara sampai disitu, ia segera meloloskan pedangnya lalu dengan jurus "sukma pedang arwah mutiara" melepaskan sebuah sergapan kilat kedepan-

Kali ini amarahnya benar-benar telah berkobar dia berniat membacok mati Kim Thi sia didalam serangan kilatnya itu.

Kim Thi sia tertawa dingin, bukannya mundur dia malah mendesak maju kemuka tiba-tiba saja tubuhnya melejit ketengah udara, lalu pedang Leng gwat kiamnya berkilauan membiaskan selapis cahaya pedang menyelimuti seluruh angkasa.

Begitu ilmu pedang panca Buddha dilancarkan, dalam waktu singkat kabut pedang telah mengurung musuhnya rapat-rapat.

Melihat kelihayan musuhnya, tak urung timbul juga perasaan gugup dalam hati pedang perak, tapi ia sudah terlanjur bicara besar sehingga sekarang menyesalpun tidak ada gunanya.

Dalam keadaan begini dia hanya bisa memberi perlawanan dengan sekuat tenaga.

sementara pikirannya berputar terus mencari akal untuk meloloSkan diri dari situ. Dalam waktu singkat tiga ratus jurus sudah lewat.

Sementara itu Kim Thi sia makin bertarung semakin bersemangat, makin menyerang jurus- jurus serangannya makin ganas dan mematikan.

Sebaliknya pedang perak makin lama makin terdesak hebat, tenaga serangannya bagaikan air yang mengalir kebawah, mengalir keluar tiada habisnya.

Sedang kan putri Kim huan, pada mulanya merasa hatinya kebat-kebit karena menguatirkan keselamatan jiwa Kim Thi sia. Secara diam-diam ia berdoa terus dihati kecilnya.

"oooh Thian, moga-moga kau bisa membantu pihak yang benar untuk menegakkan keadilan didunia ini. "

Tatkala putri Kim huan menyaksikan posisi pedang perak mulai terdesak hebat apa lagi dibawah kepungan lapisan pedang Kim Thi sia, tubuhnya mundur terus dengan sempoyongan, peluh bercucuran deras dan keadaannya sangat mengenaskan, dia menjadi amat kegirangan-Dengan suara keras soraknya:

"Pedang perak, jangan harap kau bisa berbuat kejahatan lagi didalam dunia persilatan- "

Tak terlukiskan rasa gusar pedang perak mendengar teriakan itu sambil mengerahkan segenap tenaga dan kepandaian silatnya untuk melakukan perlawanan. teriaknya keras- keras: "Putri Kim huan, kau jangan keburu bersenang hati. "

"Haaaah.....haaaaah......haaaah......aku justru merasa senang aku merasa gembira. "jengek

putri Kim huan sambil tertawa terbahak-bahak.

Kemudian dengan suara lantang teriaknya lagi:

"Aku ingin melihat batok kepalamu menggelinding teriepas dari badan akupun ingin melihat hatimu hitam atau tidak warnanya."

Pedang perak benar-benar merasa mendendam. Tiba-tiba saja dia manfaatkan peluang yang ada untuk melejit setinggi tiga depa ketengah udara, lalu melesat keluar dari arena pertarungan- Ilmu meringankan tubuh yang dipergunakan kali ini adalah ilmu "seratus setan berubah wujud", bukan saja luar biasa anehnya pun amat jarang dijumpai dalam dunia persilatan-

Untuk berapa saat lamanya Kim Thi sia menjadi tertegun, tahu-tahu saja dia telah kehilangan jejak pedang perak.

"Aaaah, sungguh tak kusangka kau masih memiliki ilmu simpanan setangguh ini " keluh

Kim Thi sia dengan perasaan terkejut.

Sementara dia masih tertegun, tubuh pedang perak telah melejit balik seperti bola karet, tahu- tahu ia telah menyerang datang lagi.

Kali ini dia menyerang datang dengan kecepatan bagaikan kilat, pada hakekatnya tidak memberi kesempatan kepada orang untuk mempertimbangkan lebih dulu.

Dalam keadaan begini Kim Thi sia tidak melakukan tindakan apapun, dia cuma berdiri termangu-mangu diposisi semula.

Putri Kim huan yang menyaksikan kejadian itu menjadi amat terperanjat dengan peluh dingin bercucuran membasahi tubuhnya, ia berteriak:

"Hati-hati "

Belum habis seruan tersebut, pedang sipedang perak telah mendesak muncul didepan mata.

Pedang perak mendengus dingin, begitu pedangnya diayun kedepan, ia sudah memperhitungkan bahwa pedang Leng gwat kiam ditangan Kim Thi sia tentu akan menyongsong kedepan, maka dia segera melepaskan pula sebuah pukulan tangan kirinya dnegan kekuatan luar biasa.

"Bocah keparat, hari ini kau tak akan lolos dari tanganku lagi, jiwamu hanya bisa selamat bila matahari dapat terbit dilangit barat"

Mimpipun Kim Thi sia tak pernah menduga sampai kesitu, dia tak mengira kalau disaat terakhir musuhnya masih mengeluarkan ilmu simpanan yang begitu dahsyat.

Sadar bahwa ia tak mampu memusnahkan serangan tersebut, cepat- cepat pemuda itu mengerahkan ilmu Ciat khi mi khi nya untuk menahan setiap serangan yang datang sementara tubuhnya melompat mundur dengan sempoyongan-

Sayang sekali gerak serangan dari sipedang perak meluncur datang dengan kecepatan luar biasa, Kim Thi sia tak sempat lagi untuk menghindarkan diri. "Blaaaammmm. "

Dimana angin pukulan itu menyambar lewat,pusaran angin tajam menyebar kemana-mana dan membumbung keangkasa.

Putri Kim huan pun tidak mengira akan datangnya pusaran angin tajam tersebut.

Tak ampun tubuhnya segera tersambar hingga jatuh terjengkang menubruk diatas dahan pohon, gadis itu menjerit tertahan lalu memuntahkan darah segar.

Waktu itu, keadaan Kim Thi sia lebih mengenaskan lagi, dengan jurus serangan pedang perak yang begitu aneh, bukan saja ia berhasil meraih kemenangan dari kekalahannya, bahkan berhasil pula merobohkan Kim Thi sia dan membuat pemuda tersebut memuntahkan darah segar.

Sambil tertawa terbahak-bahak sipedang perak mengejek.

"Bocah keparat, habis sudah riwayatmu kali ini....haaahh....haaaahh ^."

Dalam keadaan begini dia dicekam rasa bangga yang meluap-luap sehingga dia pula kalau Kim Thi sia memiliki ilmu Ciat khi mi khi yang mampu menahan pukulan serta menyelamatkan dirinya dari luka yang parah. Sementara itu Kim Thi sia telah merangkak bangun kembali.

Baru selesai sipedang perak tertawa tergelak. tiba-tiba saja Kim Thi sia melompat bangun dan menyerbu kedepan sambil melancarkan serangan dengan jurus "kejujuran mengalahkan batu emas." Dalam gusar dan dendamnya, Kim Thi sia telah mengerahkan tenaga nya hingga mencapai sepuluh bagian, bisa dibayangkan betapa dahsyatnya serangan tersebut.

Benturan keras yang memekikkan telinga segera bergema diangkasa dan hampir boleh dibilang menyelimuti gelak tertawa pedang perak.

Mendadak terdengar jerit kesakitan yang memilukan hati bergema diudara. Tahu-tahu terlihatlah tubuh pedang perak mencelat kebelakang kemudian roboh terjungkal keatas tanah.

Ia cuma berkelejitan beberapa kali, kemudian menghembuskan napasnya yang penghabisan.

Melihat kematian sipedang perak, Kim Thi sia mendengus dingin, kemudian pelan-pelan mengalihkan pandangan matanya kearah putri Kim huan-

Waktu itu, putri Kim huan masih berbaring ditepi pohon sambil merintih kesakitan. Cepat- cepat Kim Thi sia membimbingnya bangun dan menegur: "Bagaimana keadaanmu sekarang? "

Putri Kim huan menghembuskan napas panjang, lalu manggut-manggut. "Keadaanku masih rada mendingan."

Dengan seksama Kim Thi sia mengawasi sekejap keadaan wajah tersebut, setelah yakin kalau lukanya tidak berbahaya, hatinya baru terasa amat lega katanya kemudian-

"Bagus sekali kalau begitu"

"Bagaimana apakah pedang perak telah mampus?" tanya putri Kim huan sambil tertawa. Pedang perak telah meninggaikan dunia ini dengan membawa semua dosa serta kejahatannya,

dia mati dengan mata melotot besar. Mendapat pertanyaan tersebut, Kim Thi sia mengangguk.

"Yaa benar, pedang perak sudah mati konyol manusia berhati busuk semacam dia memang tak ada perlu dikasihani, dia harus dibunuh secara keji. "

"Kenapa?"

"Bila manusia berhati busuk macam dia bisa mati dengan tenang, bukankah kejadian lebih menyayangkan lagi?"

Putri Kim huan segera tertawa.

"Tak kusangka pikiranmu sudah sejauh itu....aku. "

Melihat gadis itu ragu-ragu untuk melanjutkan kata-katanya, dengan cepat Kim Thi sia bertanya:

"Apa yang ingin kau katakan, katakan saja berterus terang." "Aku merasa amat berterima kasih kepadamu"

"Aaah, soal itu mah tak perlu dibicarakan lagi. " ucap Kim Thi sia sambil tertawa nyaring.

"Tapi untuk kesekian kalinya aku telah menyelamatkan jiwa kau lagi. "

"Sudah sepantasnya bila kita hidup didunia ini saling tolong menolong, apa lagi sebagai sebagai anggota persilatan, aku memang berkewajiban menolong kaum lemah dari penindasan kaum kuat."

Putri Kim huan segera menghela napas panjang, tanya tiba-tiba: "Apakah kau menyukai kehidupan dalam dunia persilatan?"

"Kini aku sudah hidup dalam dunia persilatan, kenapa mesti dipersoalkan kembali suka atau tidak?"

"Seandainya kau merubah lingkungan hidupmu serta merubah kebiasaan hidupmu dalam suasana yang lain- Apakah kau bersedia untuk menjalaninya?"

"Tidak. karena aku memang ditakdirkan sebagai manusia pengembara yang hidup dialam dunia persilatan" Putri Kim huan segera tersenyum, katanya lembut:

"Tapi takdir belum tentu akan membiarkan seseorang hidup menuruti kehendak hatinya." "Apa maksudmu?" tanya Kim Thi sia agak tertegun.

"Kuharap kau jangan terlalu kesemsem dengan kehidupan tak menentu yang penuh dengan rintangan, percobaan serta ancaman bahaya maut ini. "

Kim Thi sia segera tertawa.

"Ada kalinya akupun pernah berpendapat demikian tapi. "

"Apalagi yang kau risaukan?"

"Dendam sakit hatiku belum terbalas penghinaan yang pernah kualami belum pernah kutuntut, lagipula aku masih berhutang budi kepada beberapa orang."

"Tapi kesemuanya itu tak terhitung apa-apa, sama sekali tak ada harganya untuk dipikirkan "

seru putri Kim huan cepat. Kemudian setelah berhenti sejenak. lanjutnya:

"Kau toh bisa saja membuang jauh-jauh semua persoalan tersebut serta tidak memikirkannya lagi?"

"Apa yang harus kulakukan?" tanya Kim Thi sia ragu-ragu.

"Aku hanya berharap kau bisa memahami apa maksud tujuan seorang manusia hidup didunia ini, kita hidup untuk merasakan serta menikmati kebahagiaan hidup,"

"Sayang sekali aku tak punya rejeki untuk merasakan kesemuanya itu" keluh anak muda tersebut.

"Siapa bilang begitu? Kaupun dapat merasakannya " jerit putri Kim huan keras- keras.

Kemudian setelah berhenti sejenak. lanjutnya lagi:

"Ikutlah bersamaku kembali ke negeri Kim. Ayah Baginda pasti akan menerimamu secara baik- baik dan sejak itu pula kau akan terangkat menjadi kaum bangsawan. Kau tak usah berkeliaran lagi didalam dunia persilatan sebagai pengembara yang tak menentu kehidupannya "

"Tidak mungkin hal ini terjadi atas diriku " tampik Kim Thi sia sambil tersenyum.

"Kenapa?" tanya putri Kim huan agak tertegun. "Apakah kau menganggap aku sudah ternoda, menganggap aku sudah bukan gadis perawan lagi sehingga memandang rendah diriku?"

"Bukan, bukan begitu maksudku"

"Lalu apa maksudmu yang sebenarnya?" tanya putri Kim huan sambil membelalakkan mata nya lebar-lebar. Kim Thi sia tersenyum.

"Sebab aku tahu orang yang paling kau cintai sesungguhnya adalah sipedang air" "Tapi sayang ia telah meninggal dunia"

"Bila seorang gadis telah mencintai seseorang dengan tulus hati, maka tidak seharusnya dia mengalihkan perasaan cintanya itu kepada orang lain, kendatipun orang dicintainya itu sudah meninggal dunia."
Terima Kasih buat para gan / ganwati yang telah meningglakan opininya di kolom komentar :). Sekarang ada penambahan fitur "Recent comment"yang berada dibawah kolom komentar, singkatnya agan2 dapat melihat komentar terbaru dari pembaca lain dari fitur tersebut. Semoga membantu :).