Lembah Nirmala Jilid 52

 
Jilid 52

"Bocah keparat, paras muka sudah mulai berubah menjadi kehitam-hitaman- "

"Aku mengerti"jawab Kim Thi sia masih bertarung dengan penuh semangat. "Tahukah kau, bahwa kau segera akan mati?"

"Aku tak mungkin akan mati"

"Apakah kau sama sekali tidak merasakan apa-apa?" "Tentu saja ada"

"Bagaimana perasaanmu sekarang?"

"Mulutku kering, sekujur badanku terasa panas sekali."

Mendengar itu, si utusan beraCun segera tertawa terbahak-bahak. serunya Cepat: "Haaah.....haaah.....haaah. bagus sekali, itu tandanya saat kematianmu sudah hampir tiba"

"Aku sama sekali tidak berpendapat begitu. " jengek Kim Thi sia sambil tertawa nyaring.

"Tak lama kemudian kau akan kehilangan sama sekali seluruh tenaga dan kekuatanmu." "Tidak mungkin, saat ini aku justru merasakan tenaga dalamku meningkat tajam. Bukan

mundur malahan kuperoleh kemajuan yang luar biasa sekali. "

"Kau sedang bohong"

"Jadi kau tak perCaya? baiklah, aku akan segera membuktikan kepadamu. "

"Bagaimana cara membuktikan?" si utusan beracun mulai ragu-ragu dan curiga. "Tak ada salahnya jika kita beradu kekerasan"

"Kalau sampai begitu, berarti kau akan segera roboh."

Sekalipun pertarungan diantara mereka berdua berlangsung amat seru, namun kedua belah pihak sama-sama menghindari suatu pertarungan kekerasan, sehingga untuk berapa saat lamanya kedua belah pihak sama-sama bertahan seimbang. Ketika ucapan mana diutarakan, si Utusan beracun menjadi amat bergirang hati. Diam-diam pikirnya :

"Bocah keparat ini sudah keracunan hebat, kenapa aku mesti takut untuk beradu kekerasan dengannya?" Berpendapat begitu, buru-buru sahutnya: "Baiklah"

Kim Thi sia sendiripun merasa amat gembira setelah mendengar persetujuan itu, katanya kemudian:

"Kalau memang setuju, bagaimana kalau kau segera menyerang dengan jurus pedangmu?" "Jurus serangan apa sih yang hendak kaupergunakan?" tiba-tiba saja si utusan beracun

bertanya.

Sesungguhnya pertanyaan semacam ini merupakan pantangan terbesar bagi umat persilatan dan tak mungkin ada orang yang bersedia menyebutkan jurus serangan yang hendak digunakan itu kepada musuhnya.

Tapi Kim Thi sia justru menjawab dengan polos.

"Aku akan pergunakan jurus "pedang menunjuk langit selatan" dari Ilmu pedang panca Buddha."

"Bagus sekali" si utusan beracun segera mendengus dingin.

"Dan kau sendiri akan menggunakan jurus apa?" tanya Kim Thi sia kemudian-

Utusan beracun sama sekali tidak menjawab pertanyaan itu, dengan mulut membungkam dia menggerakkan pedangnya langsung menyerang kedepan. Sambil melancarkan terkaman kilat bentaknya keras-keras: "Aku akan pergunakan jurus seranganku ini untuk memenggal batok kepalamu."

Jurus serangan yang dipergunakan saat itu merupakan jurus tertangguh dari ilmu pedang pencabut nyawa.

Kim Thi sia sama sekali tidak menjadi gugup dengan tenaganya dia sambut datangnya serangan musuh dengan jurus "kecerdikan menguasahi seluruh langit." "Traaaanggg. "

Benturan nyaring yang amat memekikkan telinga bergema memecahkan keheningan-Dengan amat terkesiap si utusan beracun berseru: "Ternyata kau.....kau. "

Rupanya dia hendak berkata begini kepada Kim Thi sia:

"Ternyata kau menipu ku, kau tidak menggunakan jurus "Pedang menuding langit selatan" seperti yang dikatakan tadi. "

Atau mungkin juga dia hendak berkata begini:

"Ternyata kau sama sekali tidak terluka oleh racunku ternyata tenaga dalammu masih sempurna "

Apa yang sebenarnya hendak dikatakan tak akan diketahui oleh siapapun, sebab pada saat itulah....

Sambil membentak keras Kim Thi sia melancarkan tiga buah serangan dahsyat secara beruntun.

Diiringi jeritan ngeri yang memilukan hati, si utusan beracun segera tertusuk oleh serangan maut itu dan roboh binasa keatas tanah.

Memandang mayat yang terkapar didepan mata, Kim Thi sia menghembuskan napas panjang kemudian memasukkan kembali pedangnya kedalam sarung.

Dalam pada itu, Yu Hong yang berbaring diatas tanah dapat mengikuti semua peristiwa tersebut dengan amatjelas, melihat orang yang dibencinya telah binasa, sekulum senyum kepuasan segera tersungging dibibirnya. la berusaha meronta bangun, lalu serunya: "Aku aku

merasa gembira sekali."

"Kau benar-benar gembira?" tanya Kim Thi sia sambil berjalan menghampirinya. Yu Hong tertawa hambar.

"Setelah utusan beracun menemui ajalnya secara tragis ditanganmu, biar matipun aku akan mati dengan perasaan tenang."

"Jangan menyebut soal mati, aku tak senang mendengar kata-kata semacam itu. " buru-buru

Kim Thi sia berseru.

Yu Hong membelalakan sepasang matanya lebar-lebar, kemudian berkata lagi: "Sebelum ajalku tiba, aku berharap "

"Apa harapanmu?"

"Aku harap kau sudi membopongku dan pergi menjumpai sipelajar bermata sakti. "

pinta Yu Hong dengan napas tersengkal-sengkaL "Tidak bisa"

"Tegakah kau melihat aku mati dengan membawa rasa sesal yang berkepanjangan?"

"Saat ini gedung Siau yau li sedang diliputi kekalutan yang luar biasa, bila kita harus kembali kesitu, jiwa kita bakal terancam bahaya maut ^"

Yu Hong segera menghela napas panjang setelah mendengar perkataan itu, ucapnya kemudian:

"Aaaai, aku memang tak bisa menyalahkan dirimu^ Kau memang tidak pantas membawaku pergi menyerempet bahaya."

"Bukannya aku takut pergi menyerempet bahaya." "Kalau begitu aku mohon bantuanmu" desak Yu Hong.

Perkataan tersebut diutarakan dengan perasaan amat sedih dan nada yang bersungguh- sungguh, dalam keadaan begini biarpun seseorang berhati sekeras bajapun tentu akan luluh dibuatnya.

Kim Thi sia mengangguk juga akhirnya, dia berkata: "Baiklah kalau begitu."

Dengan cepat dia menggendong Yu Hong kemudian dengan langkah lebar berlarian kembali kegedung Siau yau lo.

Sepanjang jalan darah mengucur keluar dengan derasnya dari mulut luka Yu Hong kondisi tubuhnya yang sudah lemah kini semakin lemah lagi.

Sebetulnya Kim Thi sia sudah berlarian dengan sepenuh tenaga, kecepatan larinya luar biasa sekali. Tapi sepanjang jalan tiada hentinya Yu Hong berseru: "Ayolah cepatan sedikit. cepatan

sedikit. "

Mendadak.....

Dari depan situ muncul seseorang yang berjalan mendekat dengan langkah sempoyongan. Begitu bertemu dengan orang tersebut, Yu Hong segera berteriak keras-keras. "Lepaskan aku, turunkan aku. "

Ternyata orang yang muncul dari depan situ tak lain adalah sipelajar bermata sakti. cepat-cepat Kim Thi sia menurunkan tubuh Yu Hong dari bopongannya.

Entah dari mana datangnya kekuatan, ternyata Yu Hong dapat bangkit berdiri dan menatap wajah pelajar bermata sakti dengan wajah termangu-mangu.

Waktu itu seluruh badan sipelajar bermata sakti telah berlumuran darah, tapi keadaannya mengerikan sekali. Tapi pemuda itu masih berusaha mempertahankan diri, agaknya sebelum ajalnya tiba dia ingin menjumpai Yu Hong lebih dulu, sehingga dengan mengerahkan sisa tenaga yang dimilikinya dia menempuh perjalanan jauh untuk mencari gadis itu.

Kini kedua orang tersebut telah berdiri saling berhadapan, namun kedua belah pihak sama- sama terbungkam dalam seribu bahasa.

Kim Thi sia merasa terharu sekali melihat adegan ini, untuk berapa saat dia sampai berdiri tertegun tanpa berbicara.

Mendadak terdengar pelajar bermata sakti dan Yu Hong saling menyebut nama lawannya, kemudian berlarian kedepan, saling berpelukan dengan kencang dan bersama-sama roboh terjungkal keatas tanah.

Akhirnya disaat ajal hampir tiba, sepasang kekasih ini dapat bertemu kembali satu dengan lainnya.

Mereka bertemu tanpa berbicara.... berpelukan tanpa kata-kata. dalam keadaan tanpa bicara

dan saling berpelukan inilah kedua orang tersebut menghembuskan napasnya yang penghabisan.

Kim Thi sia yang menyaksikan kesemuanya itu hanya bisa menghela napas panjang. Sementara itu.....

Matahari sudah condong kelangit barat, tapi cahaya api dari arah gedung siau yau lo masih berkobar dengan hebatnya. Pertarungan masih berlangsung amat seru, percikan darah masih menyebar menodai seluruh permukaan tanah.

Dengan perasaan sedih Kim Thi sia mengubur jenasah Yu Hong dan sipelajar bermata sakti ditepi jalan.

Kemudian setelah berdoa sebentar didepan pusara kedua orang itu, pelan-pelan ia berjalan menelusuri tepi hutan. Tiba-tiba dia merasa lapar, segera pikirnya:

"Perutku sudah mulai sekarang, perduli amat dengan urusan di gedung Siau yau lo kenapa aku tidak mengisi perut dulu?"

Dengan langkah cepat pemuda itu berlarian menuju kearah sebuah rumah penduduk yang berada tak jauh dari tepi jalan.

dalam anggapannya dirumah penduduk itu tentu akan diperoleh makanan paling tidak dia tak sampai kelaparan.

Siapa sangka walaupun ia sudah berteriak berulang kali didepan rumah, ternyata tak seorangpun yang menyahut.

Dengan perasaan ingin tahu ia segera membuka pintu rumah dan nyelonong masuk kedalam.

Pada saat itulah mendadak......

Sebilah pedang tajam tahu-tahu sudah meluncur dengan langsung mengancam dada anak muda itu.

Tergopoh-gopoh Kim Thi sia mengeluarkan jurus "bintang bergerak komet bergeser" untuk meloloskan diri dari ancaman mana. Setelah itu dengan perasaan tegang bentaknya keras-keras:

"Jagoan darimana yang bersembunyi disitu? Berani amat main sergap siauyamu?"

Seraya membentak pemuda itu mengawasi sekeliling ruangan dengan seksama, dengan cepat dijumpainya mayat bergelimpangan disana sini, ada mayat lelaki ada pula mayat perempuan.

Mendadak dari antara mayat- mayat tersebut ia menemukan selembar raut muka yang amat dikenal olehnya, dengan suara keras segera teriaknya: "Ooooh, rupanya kau. "

Ternyata orang yang dimaksud adalah Nyoo Soat hong. Waktu itu Nyoo soat hong pun telah mengetahui bahwa sipendatang adalah Kim Thi sia, sambil tertawa serunya: "Engkoh Thi sia"

"Adik Nyoo " teriak Kim Thi sia pula.

Pertemuan yang sangat mendadak dan sama sekali diluar dugaan ini membuatnya berdiri menjublak, hampir saja ia tak mampu bergerak. Nyoo Soat hong segera berseru lagi:

"Engkoh Thi sia, kau tak usah takut, aku yang menyerangmu tadi."^

"Jadi kau yang menyambitku dengan pedang?" seru Kim Thi sia dengan wajah tertegun. "Yaa, maklumlah aku tidak tahu kalau orang tersebut adalah kau. "

Melihat Kim Thi sia masih berdiri termangu-mangu, kembali gadis itu berkata: "Tak usah kuatir, kecuali aku disini hanya ada mayat-mayat belaka."

"Mengapa kau harus berbaring diantara tumpUkan mayat?" seru Kim Thi sia keheranan, dengan langkah cepat ia maju mendekati.

Tapi belum selesai perkataan itu diutarakan, kembali ia berteriak kaget: "ooooh adik Nyoo, siapa yang telah mencelakai dirimu hingga menjadi begini rupa?"

Ternyata separuh tubuh bagian bawah Nyoo Soat hong telah hancur dan berlumuran darah.

Sambil tertawa gadis itu menukas.

"Engkoh Thi sia, lebih baik kita tak usah membicarakan persoalan seperti ini."

"Tapi kau ahrus memberitahukan kepadaku, aku hendak membalaskan dendam bagimu" "Tidak usah" si nona tertawa hambar.

"Apakah kau tak ingin menuntut balas atas sakit hati ini?"

"Bukannya aku tak mau menuntut balas, karena orang yang mencelakai diriku sebagian besar telah kubunuh sampai mati."

Mendengar ucapan mana Kim Thi sia segera berseru tertahan.

"Aaaah, tak kusangka kau benar-benar seorang jagoan wanita yang luar biasa." Nyoo Soat hong tertawa lirih, katanya kemudian:

"Engkoh Thi sia, aku hendak memberitahukan sesuatu kepadamu. "

Tampaknya luka yang diderita amat parah, ketika berbicara sampai disitu napasnya sudah nampak tersengkal-sengkaL

"Apa yang hendak kau bicarakan? Katakan cepat?" buru-buru Kim Thi sia berseru. "Sebetulnya banyak persoalan yang hendak dibicarakan, tapi sayang tidak banyak waktu yang

tersedia. "

"Kalau begitu katakan yang penting-penting saja." "Soalpertama, toako. dia telah tewas."

"Apa?" seru Kim Thi sia tertegun.

Sebagaimana diketahui toako yang dimaksud Nyoo Soat hong adalah Nyoo Jin hui, padahal dia adalah saudara angkat Kim Thi sia. Itulah sebabnya pemuda tersebut menjadi sedih sekali setelah mendengar berita kematian itu, tanpa terasa titik air mata jatuh bercucuran.

"Toa ko tewas dikarenakan. "

"Karena apa?" tukas Kim Thi sia cepat.

"Dia tewas karena lentera hijau. " pelan-pelan Nyoo Soat hong menghembuskan napas

panjang. "Ia tewas lentera hijau?" seru Kim Thi sia dengan perasaan amat terperanjat. setelah berhenti sejenak, Nyoo Soat hong berkata lebih jauh:

"Kami telah bersua dengan lima naga burung hong, ternyata siburung hong Lam Peng memiliki lentera hijau"

"Yaa benar, dia memang mendapatkan benda tersebut dari tanganku." Kim Thi sia membenarkan dengan perasaan dendam.

"Toako telah tewas ditangan lima naga dan burung hong, sedang akupun sudah habis. "

"Kau tak usah kuatir" Kim Thi sia mencoba menghibur. "Merekapun tak akan memperoleh akhir yang baik."

"Kini mereka telah berkomplot dengan Dewi Nirmala."

"Aaaah " dengan perasaan terkejut Kim Thi sia berseru tertah an. "Sama sekali tak

kusangka semua orang jahat didunia ini telah berkumpul menjadi satu."

"Dengan berkomplotnya mereka, berarti daya pengaruh orang-orang itu menjadi bertambah besar, kau mesti bersikap hati-hati."

"Aku sama sekali tak takut kepada mereka" ucap Kim Thi sia dengan gagah. "Setahuku, saat ini mereka sedang berkumpul didalam Lembah Nirmala "

"Bagus sekali, aku tentu akan pergi menjumpai mereka. "

"Kau harus merampas kembali lentera hijau itu" buru-buru Nyoo Soat hong berseru. "Soal ini. " Kim Thi sia jadi tertegun dan gelagapan sendiri.

Agaknya Nyoo Soat hong dapat menemukan keanehan itu, dengan cepat dia menegur: "Apakah kau menjumpai suatu kesulitan?"

Kim Thi sia adalah seorang pemuda yang jujur, dengan cepat ia berterus terang: "Dihadapan Lam Peng aku pernah bersumpah tidak akan merebut kembali lentera hijau dari

tangannya."

"Kenapa?" tanya Nyoo Soat hong tercengang.

Secara ringkas Kim Thi sia segera menceritakan apa yang telah dialaminya kepada gadis tersebut.

Nyoo Soat hong mendengarkan keterangan itu dengan tenang, kecuali sering terbatuk-batuk dan muntah darah, dia sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun. Sampai lama kemudian......

Akhirnya Nyoo Soat hong menghela napas dan berkata:

"Aaaaai kalau jadi orang jujur seperti kau, memang selamanya kerugian yang diperoleh."

Kim Thi sia hanya membungkam diri dalam seribu bahasa. Kembali Nyoo Soat hong berkata: "Aku merasa ajalku sudah hampir tiba, kuharap....kau kau bisa menjaga diri baik-baik."

Dengan cepat Kim Thi sia memeluk gadis itu kedalam pelukannya, lalu berseru dengan pedih. "Tidak kau tak akan mati, kita akan berada bersama untuk selamanya. "

"Moga-moga saja begitu" Nyoo Soat hong tertawa pedih.

"Selain itu kita tak akan berpisah kembali, kita tak akan berpisah kembali. " sambung Kim

Thi sia dengan penuh luapan emosi.

Mungkin terdorong oleh luapan emosi yang berkobar-kobar sehingga sewaktu berbicara, suaranya seperti orang sedang berteriak. Pukulan batin yang diterima selama berapa hari ini terasa amat berat baginya. Pertama-tama adalah kematian dari Yu Hong. Dilanjutkan kemudian dengan kematian dari Yu Hong.

Kini, dia hanya bisa memeluk tubuh Nyoo Soat hong sambil menangis tersedu-sedu. Ia rela menyerahkan seluruh cinta kasihnya kepada gadis tersebut asal ia mati,

tapi. mungkinkah hal ini bisa terjadi?

Dan kini Nyoo Soat hong telah menghembuskan napas nyayang terakhir didalam pelukannya. Dalam keadaan begini, ia tak bisa berbuat lain kecuali menangis sambil berteriak: "Adik Nyoo,

jangan tinggalkan aku...^ jangan tinggalkan aku "

Tapi mungkinkah gadis tersebut dapat hidup kembali?

Sementara itu, Lin lin sedang menanti kedatangan Kim Thi sia di "GUbuk.".

Hari demi hari dia menanti tanpa melihat kekasihnya kembali, ketika kesabarannya sudah mulai hilang, tiba-tiba suatu hari ia menerima sepucuk surat. Rupanya surat itu dikirim oleh si Unta.

Ketika ia selesai membaca surat tadi, perasaan hatinya menjadi amat terperanjat sehingga gadis itu cepat- cepat berangkat meninggalkan "gubuk". Ternyata surat itu bertuliskan begini:

"Nona Lin lin. Engkoh Thi sia mu meski menempuh perjalanan bersama kami, namun

ditengah perjalanan ia telah bertarung dengan orang lain sehingga tidak datang kegedung Siau yau lo bersama-sama kami."

Bila dihitung waktunya, kemungkinan sekali engkoh Thi sia mu sudah berada digedung Siau yau lo sekarang.

Menjelang mag rib tadi, pertarungan sengit telah berkobar digedung Siau yau lo. Pertarungan ini merupakan suatu pertempuran yang belum pernah terjadi sebelumnya. Mayat bertumpuk- tumpuk membukit, darah segar bercucuran menganak sungai, tapi kami tak pernah bersua kembali dengan engkoh Thi sia mu. Bukankah kau merasa amat kuatir?

Aku tahu, kau tentu amat kuatir itulah sebabnya tak ada salahnya bila kau pun segera datang kemari untuk menengok sendiri keadaan ditempat ini. Tertanda "Unta"

Tatkala Lin lin selesai membaca isi surat tersebut, perasaan hatinya menjadi amat berat, dia bingung dan kesal.

Yang paling menguatirkan adalah keselamatan jiwa Kim Thi sia yang telah pergi dan hilang jejaknya itu.

Dengan membawa perasaan sedih dan kuatir, berangkatlah Lin lin menuju kearah gedung siau yau lo.

Akhirnya dibelakang kebun gedung tersebut mereka berhasil menemukan Kim Thi sia. Waktu itu Lin lin merasa kegirangan setengah mati, dia ingin segera maju mendekatinya,

namun apa yang kemudian terlihat membuat hatinya amat kecewa. Sambil tertawa si unta segera berkata:

"Sungguh tak disangka bocah keparat itu telah bersua kembali dengan seorang gadis cantik disini. "

Tiba-tiba ia seperti merasa telah salah berbicara, cepat- cepat sambungnya kembali: "Lin lin tunggulah sejenak disini, biar aku pergi memanggilnya."

"Tidak usah" sahut Lin lin dengan air mata bercucuran- "Kenapa?" si unta agak tertegun.

"Saat ini dia sedang memeluk gadis tersebut, mengapa kita harus mengusik ketenangannya? " "Tapi...... mengapa kau memandang persoalan ini begitu serius. " "Tentu saja, aku memang menganggap serius persoalan ini." Mendengar itu, si unta segera menghela napas panjang. Terdengar Lin lin berkata lagi:

"Alu tidak tahan melihat dia memeluk gadis itu dengan begitu hangat dan mesrah." "Aku bisa menyuruh dia datang minta maaf kepadamu" bujuk si unta sambil tertawa. "Persoalan semacam ini tak mungkin bisa diselesalkan dengan cuma minta maaf saja." "Lalu apa keinginanmu sekarang?"

"Aku tak ingin berbuat apa-apa"

"Apakah kau tak ingin bertemu denganku lagi?" Lin lin tertawa hambar.

"Untuk saat ini tidak, entah kalau hatiku yang duka telah bisa kuatasi dan pikiranku yang sempit bisa kubuka "

"Kau. "

Lin lin hanya menggelengkan kepalanya berulang kali, sementara air matanya jatuh berlinang membasahi pipinya.

"Nona Lin lin, kau jangan bersedih hati. " cepat-cepat si unta berusaha membujuk.

Pelan-pelan Lin lin membasuh air matanya yang meleleh membasahi pipinya, kemudian berkata:

"Tuan Unta, mari kita pergi dari sini." "Bagaimana dengan Kim Thi sia. ?"

"Biarkan dia memeluk gadisnya itu." "Tapi. "

"sudahlah, tak usah banyak berbicara lagi, aku ingin secepatnya pergi dari sini." "Mendadak?"

"Aku hendak pergi dari sini untuk sementara waktu dan tak ingin bertemu dengannya dalam jangka waktu tertentu."

"Tapi kemana kau hendak pergi?"

"Aku berniat mencari sebuah tempat yang sepi dan hidup sebagai rakyat biasa disitu. Siapa tahu hatiku yang lara bisa terobati dan suatu ketika aku bisa menerima kehadirannya kembali"

"Tapi, mana boleh kau berbuat begitu?"

"Aaaai aku tidak ingin kau merintangi niatku ini, aku cuma berharap kau bisa menemani aku

selama ini......kuharap kau tidak menampik permohonanku ini. "

"Baiklah, untuk sementara waktu aku akan melindungi keselamatan jiwamu, moga-moga saja kau bisa cepat berubah pikiran "

"Kalau memang begitu, mari kita tinggalkan tempat ini secepatnya " Si unta manggut-

manggut.

Maka berangkatlah Lin lin, gadis yang bersedih hati itu meninggalkan tempat tersebut diiringi si Unta.

Bayangan tubuh mereka makin lama makin mengecil akhirnya lenyap dikejauhan sana. Kim Thi sia tersadar kembali dari lamunannya, lalu menghela napas panjang.

Nyoo Soat hong yang berada dalam pelukannya sudah lama menghembuskan napas yang penghabisan-

Kematian Nyoo Soat hong nampak begitu tenang, seakan-akan ia tidak merasa berat hati untuk meninggalkan dunia ini. Menjelang malam, pemuda tersebut kembali berkerja keras untuk mengubur jenasah gadisnya. Perasaan Kim Thi sia saat itu amat kaku dan bingung.

Seusai berdoa didepan pusara Nyoo Soat hong, dengan langkah agak gontai ia berjalan kembali menuju ke Gedung Siau yau lo.

Tampak pertempuran sengit yang berlangsung ditempat itu sudah mencapai titik terakhir, tapi suasana disitu benar-benar amat seram dan menggidikkan hati.

Sepanjang jalan yang dijumpai hanya mayat- mayat yang bergelimpangan diatas genangan darah.

Ada yang lengannya kutung, ada pula yang kakinya terpapas kutung.

Tapi Kim Thi sia sama sekali tak acuh terhadap mayat- mayat tersebut, dengan memegang pedangnya erat-erat dia melanjutkan perjalanannya menuju kearah gedung Siau yau lo.

Mendadak ia menyaksikan ada serombongan besar jago persilatan yang berkumpul disuatu tempat, rombongan itu terdiri dari empat, lima puluhan orang.

Dari keempat, lima puluhan orang itu, mereka terbagi dalam dua barisan yang berdiri saling berhadapan.

orang-orang yang berada disebelah kiri mengenakan pakaian berwarna kuning, mereka adalah kawanan jago dariperkumpulan cahaya emas.

Sedangkan orang-orang yang berada disebelah kanan memakai baju berwarna hitam, mereka adalah orang-orang perkumpulan Tay sang pang.

Rupanya kedua belah pihak saling menghentikan pertarungan karena ditengah arena saat itu sedang berlangsung pertarungan sengit antara dua orang jago tangguh.

Mereka berdua tak lain dalah ciau thong kongCu melawan Khu It cing, ketua perkumpulan Tay sang pang.

Dengan pertarungan itu pula agaknya pihak perkumpulan cahaya emas dan perkumpulan Tay sang pang ingin menentukan siapa menang pun siapa kalah dalam pertarungan tersebut. Pelan- pelan Kim Thi sia berjalan mendekati arena pertarungan itu.

tak seorang manusiapun yang merasakan kehadiran pemuda itu, sebab seluruh pikiran dan perhatian mereka saat ini telah tertuju kearena pertarungan sehingga tak seorangpun yang memperhatikan kedatangan Kim Thi sia.

Sesungguhnya Kim Thi sia sama sekali tidak menaruh kesan baik terhadap ciu thong kongcu, tapi tentu saja ia tak akan membiarkan Khu It Cing hidup dengan tenang didunia

Ditengah gelap dan remang-remangnya suasana, tampak dua orang yang sedang bertarung itu berpisah satu sama lainnya.

Agaknya suatu bentrokan kekerasan baru saja berlangsung dengan gebatnya, menang kalahpun nampaknya segera akan ketahuan-

Para jago dari Tay sang pang dan perkumpulan cahaya emas sama-sama berseru tertahan, mereka maju setengah langkah kedepan tanpa terasa untuk melihat siapa yang berhasil meraih kemenangan dalam bentrokan itu.

Mendadak terdengar sipukulan sakti penggetar langit Khu It cing tertawa terbahak-bahak.

Dengan perasaan tak senang hati, ciu thong kongcu segera menegur: "Khu It cing, apa yang kau tertawa kan?"

"Tak kusangka kau memang seorang jago muda yang tangguh" ucap Khu It cing uring-uringan- "Selama puluhan tahun kulatih ilmu pukulanku, tak disangka akhirnya hanya mampu mengimbangi permainan silat seorang bocah cilik macam kau. " Kemudian setelah menyeka air ludahnya dia berkata lebih jauh:

"ciu tong kongcu, usiamu masih muda biarpun akhirnya harus mampus ditanganku, rasanya kau tetap bisa merasa berbangga hati."

"Hmmm, kongcu mu berasal dari perguruan kenamaan-Justru kaulah yang harus merasa bangga bila dapat mampus diujung pedangku."

"Sudahlah, kita tak perlu meributkan masalah tersebut lebih dulu. sebelum kau mampus nanti, bersediakah kau untuk memberitahukan sesuatu kepadaku secara berterus terang." ciu tong kongcu tertawa dingin.

"Hmmm.. mengingat kematianmu sudah berada diambang pintu. Baiklah, kau boleh menanyakan persoalan yang tidak kau pahami."

Khu It cing termenung sambil berpikir sejenak, kemudian baru katanya: "Berapa hari berselang kau pernah datang kemari. "

"orang yang kau maksud bukan kongcu mu sendiri, dia adalah salah seorang duplikatku" tukas ciu tong kongcu cepat.

"oh, rupanya begitu " Khu It cing seperti baru memahami akan sesuatu.

"Apa "

"Berapa waktu berselang, perkumpulan Tay sang pang telah membinasakan dua orang secara beruntun, pertama adalah ciu tong kongcu "

"Haaah....haaah. siapa pula orang yang satunya lagi?" tanya ciu tong kongcu sambil

mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

"orang itupun terhitung seorang jagoan tenar didalam dunia persilatan, dia masih muda namun memiliki ilmu silat yang cukup tangguh."

"Hmmm, tampaknya kau seperti tak berani mengatakan siapa kah orang yang kau maksudkan itu?" ^

"Kenapa tidak berani? orang itu adalah Kim Thi sia."

Kim Thi sia yang turut mendengarkan pembicaraan tersebut menjadi kegelian, tanpa sadar ia tertawa terbahak-bahak.

Gelak tertawa yang muncul secara tiba-tiba ini sangat mencengangkan hati para jago, tanpa terasa mereka semua sama-sama berpaling kearah mana berasalnya suara tertawa itu.

Tampaknya Kim Thi sia berdiri dengan wajah dingin dan kaku, ketika melihat semua orang berpaling memandang kearahnya, sambil tertawa dingin ia segera berseru:

"Sekalipun aku Kim Thi sia bukan manusia yang terdiri dari tiga kepala atau sembilan lengan, namun aku percaya orang-orang Tay sang pang tidak akan mampu berbuat apa- apa terhadap diriku."

Sambil berkata dengan pedang siap ditangan selangkah demi selangkah dia berjalan mendekati arena.

Sipukulan sakti penggetar langit Khu It cing kini menjadi sangat terperanjat sekali, serunya tertahan: "Sii.....sii......siapa kau^ ?"

Kembali Kim Thi sia tertawa dingin.

"Akulah Kim Thi sia, orang yang siang malam ingin kau bunuh tapi tak pernah mampus ditanganmu"

"Kau^ kau juga ikut datang?" kembali Khu It cing berseru tertahan ia kelihatan agak panik.

ciu tong kongcu yang menyaksikan hal tersebut kontan saja tertawa terbahak^bahak, jengeknya dingin: "Sungguh tak disangka dua orang musuh tangguh yang ingin dibunuh oleh pihak Tay sang pang ternyata tak seorangpun yang mampus" Kemudian setelah tertawa dingin sambungnya lebih jauh: "Itu berarti saat kematianmu sudah hampir tiba Khu It cing...^."

Khu It cing sama sekali tidak menggubris ejekan tersebut, dan ia segera berpaling kearah Kim Thi sia dan menegur: "sebenarnya apa maksudmu datang kemari?"

"Apa lagi, tentu saja akan memenggal batok kepalamu" "Tidak bisa " tiba-tiba ciu tong kongcu menyela.

"Kenapa tidak bisa?" seru Kim Thisia agak tertegun.

"Pertarunganku dengannya belum berakhir menang kalahpun belum berhasil ditentukan-"

"Tapi aku datang dengan membawa maksud ingin menuntut balas kepada bajingan tua itu." "Kim Thi sia, lebih baik aku jangan mengambil kesempatan untuk mencari keuntungan" seru

Khu It cing pula. Kim Thi sia tertawa nyaring.

"Aku tak ambil perduli apapun perkataanmu,pokoknya aku merasa cukup beralasan untuk datang mencabut nyawamu"

"Tapi dendam kesumat atau permusuhan apa yang terjalin diantara kita berdua?"

"Kau tentu masih ingat bukan dengan nama-nama Yu Hong, Yu Klem, Li Beng poo. "

"Jadi kau datang demi mereka semua?" "Tepat sekali ucapanmu itu."

"Tidak bisa.......tidak bisa " cepat- cepat ciu tong kongcu menukas kembali.

"Sudah terlalu banyak anggota perkumpulanku yang tewas ditangan mereka.Jumlahnya tak tehitung dengan jari tangan, oleh sebab itu perkumpulan kami berhak untuk menuntut balas kepada pihak mereka."

"Aku tak ingin mencampuri urusan kalian masalah tersebut merupakan masalah kalian dengan pihak Tay sang pang sendiri."

"Tapi Khu It cing adalah ketua Tay sang pang jadi sudah sepantasnya bila kongcu yang menghadapi manusia" sambung ciu tong kongcu sambil tertawa hambar.

"Tapi. "

Kim Thi sia memang tak pandai berbicara untuk sesaat diapun menjadi kelabakan dan tak tahu bagaimana harus mengemukakan alasannya. Melihat itu ciu tong kongcu segera bertanya lagi: "Apa alasanmu?"

Tiba-tiba Kim Thi sia teringat akan sesuatu, cepat- cepat serunya:

"Sebab kau sudah terlalu lama bertarung melawannya tanpa berhasil ditentukan siapa menang siapa kalah.Jadi aku cukup beralasan untuk mendapat giliran berikut"

Sipukulan sakti penggetar langit Khu It cing segera tertawa terbahak-bahak, selanya: "Wahai Kim Thi sia, yakinkan kau untuk bisa mengungguli diriku?"

"Tentu saja."

"Kau tahu Kim Thi sia, aku sudah bertarung tiga ratusan jurus melawan Khu It cing "

sambung ciu tong kongcu cepat.

"Tapi sekarang aku hanya berharap bisa bertarung dalam tiga jurus saja melawannya."

"Tiga jurus?" ulang ciu tong kongcu dnegan wajah tertegun. "Seandainya belum bisa ditentukan hasil akhirnya?"

"Tentu saja aku akan segera angkat kaki meninggalkan tempat ini" ciu tong kongcu segera termenung dan berpikir berapa saat lamanya, kemudian baru berkata: "Jadi aku mengabulkan permintaanku?"

"Ehmm, aku bersedia untuk mengalah dan memberi kesempatan kepadamu untuk bertarung sebanyak tiga jurus melawan Khu It cing." Sementara itu Khu It cing telah menjengek sambil tertawa keras.

"IHaaaah......haaaaah.......haaaaah....^...belumpernah kudengar ada orang yang mampu menentukan menang kalah melawanku dalam tiga jurus saja. Seandainya terjadi, sudah pasti batok kepalamu yang bakal berpindah tempat"

"Bagaimana akhir dari pertarungan nanti, lebih baik kita buktikan dengan kenyataan saja."

Ia segera menyarungkan kembali pedangnya, kemudian berseru lagi dengan nyaring: "Khu It cing, kau tersohor karena ilmu pukulanmu, maka sekarang akupun hendak

membunuhmu dengan tangan kosong."

"Kau hendak bertarung menggunakan tangan kosong?

Haaaah......haaaaah.......haaaaah akan kulayani keinginanmu itu dengan senang hati."

Kim Thi sia tertawa keras pula, kepada ciu tong kongcu dia segera menjura seraya berkata:

"ciu tong kongcu memang tak malu menjadi anak murid perguruan kenamaan, kegagahan serta kesediaanmu untuk mengalah pada hari ini sungguh membuat hatiku amat terima kasih."

ciu tong kongcu tidak berkata apa- apa dia hanya tersenyum sambil memberi hormat.

Dalam pada itu Khu It cing sudah diliputi hawa amarah yang meluap-luap diam-diam ia berpikir:

"Kurang ajar, kau anggap aku sebagai barang rongsokan yang tak berguna sehingga bisa dioperkan semaunya sendiri?"

Tapi sebagai seorang jagoan yang berilmu tinggi dan berotak licik, sekalipun dalam hati kecilnya merasa amat gusar namun perasaannya itu tidak sampai diperlihatkan diwajahnya, dia tertawa seram kemudian berkata pelan-pelan:

"Kim Thi sia, kulihat kau begitu yakin bisa mengungguli diriku, sebetulnya kepandaian apa sih yang kau andaikan?"

"Tay goan sinkang"

"Haaaah? Tay goan sinkang? Masa kepandaian tersebut memiliki daya kekuatan yang hebat?" Khu It cing berseru tertahan.

"Tepat sekali perkataanmu."

"Lantas ketiga jurus serangan yang manakah dari ilmu Tay goan sinkang yang memiliki kekuatan amat besar?"

"Tiga jurus serangan yang manapun"

"Jadi kau hendak menggunakan ketiga jurus serangan tersebut?" "Hmmm, sekarang juga akan kupertunjukkan kepadamu."

Begitu selesai berkata, tiba-tiba saja pemuda itu melejit ketengah udara dengan kecepatan tinggi.

Lalu seperti seekor rajawali raksasa yang mementangkan sayapnya, dia menukik kebawah sambil melancarkan serangan, bentaknya keras-keras: "Jurus pertama. "

Belum habis suara itu berkumandang, sebuah serangan yang amat dahsyat telah dilontarkan kebawah. Khu It cing bukan manusia sembarangan sudah barang tentu dia tak akan tergetar perasaannya oleh ancaman tersebut.

Dengan sikap yang sangat tenang dia sambut datangnya serangan tersebut dengan kekerasan, lalu tegurnya:

"Apa nama jurus seranganmu yang pertama ini?"

"Jurus ini bernama Mati hidup di tangan nasib" bentak Kim Thi sia seraya membiaskan beratus- ratus bayangan pukulan yang amat menyilaukan pandangan mata.

"Itu mah sederhana sekali, coba lihat jurus matahari tenggelam disungai panjangku ini" seru Khu It cing.

Dengan sebuah terjangan kilat ia sambut datangnya ancaman tersebut.

ciu tong koncu yang melihat kejadian ini segera berseru sambil menghela napas ^ "Bagus sekali"

Kemudian bagaikan sedang bergumam ia berkata lebih jauh:

"Serangan dari Kim Thi sia kuat dan tangguh, sedangkan pukulan Khu It cing mantap dan berpengalaman, nampaknya dalam jurus serangan yang pertama ini menang kalah belum bisa ditentukan-"

Baru selesai perkataan tersebut diutarakan, dalam arena pertarungan sudah terjadi benturan yang amat keras.

"Blaaaammmm. "

Ditengah suara bentrokan yang memekikkan telinga serta beterbangannya pasir dan debu, terlihatlah Khu It cing serta Kim Thi sia telah berganti posisi tubuh masing- masing .

Mendadak terdengar Khu It cing berseru lagi: "Berhati-hatilah kau Kim Thi sia." Dengan cepat tubuhnya mendesak maju kemuka dan berseru kembali:

"Jurus seranganku ini bernama kuda berpekik angin berhembus"

Kim Thi sia segera menekuk pinggang samil memutar tangan, sahutnya keras- keras: "Serangan yang hebat."

Telapak tangannya diputar kencang lalu menyongsong datangnya ancaman sambil berseru: "Lihatlah jurus kejujuran meretakkan batu emasku ini. "

"Blaaaaammmm. "

Benturan yang terjadi kali ini berlangsung lebih keras dan dahsyat, jauh lebih hebat dari pada bentrokan yang pertama kali tadi.

Tampak pasir dan debu beterbangan mengakibatkan suasana menjadi amat kabur sehingga untuk seperminum teh lamanya orang susah untuk mengetahui hasil dari pertarungan tersebut.

Menyaksikan hal ini, ciu tong kongcu segera menghela napas panjang, serunya dengan perasaan terkejut:

"Sungguh tak disangka pertarungan yang berlangsung saat ini merupakan pertarungan terhebat yang pernah kusaksikan selama ini."

Semua orang hanya termangu, karena merekapun tidak mengerti apa yang dimaksudkan orang tersebut.

Mendadak terdengar seseorang dari pihak Tay sang pang menegur keras:

"Hey ciu tong kongcu, kau bilang ilmu silatmu hebat, apakah kau bisa dengan menemukan sesuatu dari pertarungan ini?" "Aku memiliki ketajaman mata yang luar biasa, tentu saja dapat kulihat semua kejadian dengan jelas^"

"Kalau begitu siapa yang menang siapa yang kalah didalam pertarungan jurus kedua ini?" sementara itu pasir dan debu sudah mulai membuyar secara pelan-pelan, kemudian tampaklah

Khu It cing dan Kim Thi sia masih berdiri saling berhadapan dengan kaku.

Sikap mereka amat serius namun tak seorangpun yang tahu apa yang sedang mereka pikirkan sekarang.

Tapi ada satu hal yang pasti yakin kedua belah pihak sama-sama sudah merasa lelah dan kehabisan tenaga sesudah terjadinya pertarungan sengit tadi, dan sekarang mereka sedang memanfaatkan kesempatan yang ada untuk mengatur pernapasan. Mendadak terdengar jagoan dari Tay sang pang tadi berseru lagi:

"Kalian coba lihat, paras muka ketua kita amat tenang dan wajar, tampaknya ia sama sekali tak terpengaruh oleh pertarungan yang barusan berlangsung "

"Tapi aku lihat Kim Thi sia pun masih gagah perkasa dan bersemangat tinggi" "Hmm, memangnya kau bisa mengikuti semua peristiwa dengan jelas?"

"Tentu saja, aku rasa Khu It cing mengangap tenaga dalamnya terlalu sempurna sehingga dalam serangannya tadi ia kombinasikan pukulan dengan ilmu jari Tay lek kim kong ci. "

"Ya benar, ilmu Tay lek kim kong ci memang merupakan ilmu silat andalan ketua kami." "Hmm, ilmu silat itu memang licik, ganas dan hebat, suatu kepandaian yang susah dihadapi." "Kalau dugaanku tak keliru, semestinya isi perut Kim Thi sia sudah mengalami luka parah

bukan?"

"Hmm, justru sebaliknya." "Maksudmu?"

"Tay goan sinkang milik Kim Thi sia mengandung unsur keras dan lembut, ia sama sekali tidak terpengaruh oleh serangan lawannya."

"Huuuh lebih baik jangan mengumpak. bagaimana hasil pertarungan kali ini?"

"Kenyataan yang berada didepan mata membuktikan bahwa menang kalah belum bisa ditentukan "

"IHmmm, ini berarti pada jurus ketiga akan diketahui dengan segera siapa yang paling tangguh."

ciu tong kongcu tertawa dingin. "Tepat sekali perkataanmu itu. "

sementara mereka masih berbincang-bincang, Kim Thi sia sudah mulai menggerakkan tubuhnya pelan-pelan berjalan maju kemuka.

Sebaliknya Khu It cing dengan sepasang matanya yang tajam mengawasi tanpa berkedip setiap langkah tubuh musuhnya.

suasana menjadi tegang dan setiap saat suatu pertarungan yang dahsyat akan berkobar. Tiba- tiba terdengar jagoan Tay sang pang tadi berseru lagi:

"Aku lihat, bagaimanapun juga kim Thi sia tetap adalah seorang bocah cilik yang belum pernah mengalami situasi seperti ini."

"Apa maksudmu berkata begini?" tanya ciu tong kongcu sambil tertawa.

"Bukankah keadaan sudah jelas terlihat lantaran takut maka tiada hentinya Kim Thi sia berusaha untuk menghindarkan diri."

"Atas dasar apa kau berkata begini?" "coba kau lihat."

Sepintas lalu gerak gerik Kim Thi sia memang mirip orang yang ketakutan, setiap Khu It cing mengerakkkan tangannya melakukan sesuatu gerakan, pemuda tersebut selalu menghindar kesana kemari dengan cepat.

Tapi ciu tong kongcu agaknya berpendapat lain, setelah menyaksikan kejadian tersebut, ia segera berkata:

"Pendapat kalian itu keliru besar menurut pandanganku justru ketua kalian yang mulai dicekam oleh perasaan takut."

Jawaban tersebut tentu saja membuat para jago dari Tay sang pang jadi tertegun. Namun kenyataan yang tertera didepan mata memang menunjukkan keadaan begitu.

Setiap kali Kim Thi sia menggerakkan tangannya, maka segera terlihatlah Khu It cing menggeserkan badannya secara panik untuk menghindar kian kemari.

Melihat kejadian mana, para jago dari Tay sang pang jadi tercengang dan gelagapan sendiri. "Waaaah......kalau begini......kalau begini. "

"Kau tentu tak akan mengerti kenapa jadi begini bukan?" jengek ciu tong kongcu sambil tertawa nyaring.

"Hmmm, ketua kami gagah dan berilmu tinggi, siapa tahu ia sengaja berbuat begitu untuk menjebak lawannya?"

"Tak mungkin begitu, coba jawab dulu bukankah mereka berdua telah berjanji hanya akan bertarung sebanyak tiga gebrakan?"

"Benar"

"Dan sekarang jurus ketiga sudah menjelang tiba, bukankah menang kalah segera akan ditentukan?"

"Benar"

"Padahal dalam pertarungan yang menentukan begini maka kecepatan dan ketetapan sekarang sangat mempengaruhi hasil terakhir, itulah sebebanya mereka nampak agak tegang."

Sementara itu Kim Thi sia dan Khu It cing telah saling melancarkan serangan dengan kecepatan luar biasa.

Dalam waktu singkat kedua orang itu sudah bermandikan peluh, napasnya tersengkal-sengkal seperti dengusan napas kerbau. Mendadak terdengar ciu tong kongcu berteriak keras: "Bagus sekali"

"Apanya yang bagus?" tanya jagoan dari Tay sang pang itu dengan wajah tertegun. "Aku aku merasa sangat gembira."

"Apa yang kau gembira kan?"

"Gerak serangan yang digunakan kedua belah pihak dalam serangan tadi sungguh indah dan mempunyai makna yang mendalam boleh dibilang jurus serangan mereka amat jarang ditemui didalam dunia persilatan."

Pada saat itulah terdengar suara jeritan ngeri yang memilukan hati bergema memecahkan keheningan.

Bersamaan dengan bergemanya suara pekikkan tadi, tampak Khu It cing mundur setengah langkah dengan sempoyongan.

Sipukulan sakti penggetar langit Khu It cing memang tak malu menjadi seorang pemimpin dunia persilatan, kendatipun tubuhnya terhajr oleh serangan musuh dan lukanya terletak pada bagian yang mematikan namun ia masih sanggup untuk mempertahankan diri. Sebaliknya Kim Thi sia berdiri ditempat semula sambil tertawa dingin tiada hentinya. la bersikap serius dan penuh wibawa bagaikan dewa.

Setelah berusaha keras untuk mempertahankan tubuhnya, sipukulan sakti penggetar langit Khu it cing memuntahkan darah segar.

Tiba-tiba Kim Thi sia menggerakkan tubuhnya beranjak dari posisi semula, kepada ciu tong kongcu katanya sembari menjura:

"Pertarungan tiga jurus telah berlalu, sayang tenaga ku kurang memadai sehingga gagal untuk membunuh Khu It cing, tapi aku berharap kongcu suka meneruskan usahaku yang gagal tadi dengan melenyapkan bibit bencana bagi umat persilatan ini dari muka bumi"

"Tak perlu sungkan-sungkan"jawab ciu tong kongcu sambil tertawa nyaring.

Kemudian sambil menyerbu kedepan dengan jurus pasir dingin bayangan meluncur, dia terkam kehadapan musuhnya seraya membentak: "Khu It cing, serahkan nyawamu sekarang"

Dalam pada itu, Khu It cing tidak menunggu lebih lama lagi ditempat tersebut, ketika selesai berkata tadi ia segera beranjak pergi meninggalkan tempat tersebut.

Belum jauh dia melangkah pergi, dari arah belakang sana sudah terdengar suara jeritan ngeri yang memilukan hati.

Menyusul jeritan yang mengerikan hati tadi, terdengar pula suara bentakan nyaring dari ciu tong kongcu.

Pertarungan sengit rupanya berkobar kembali, kawanan jago dari perkumpulan cahaya emas mulai melancarkan serbuannya untuk menumpas orang-orang dari perkumpulan Tay sang pang.

Tak lama kemudian terdengar lagi ciu tong kongcu membentak nyaring:

"Ketua Tay sang pang Khu It cing telah tewas ditanganku, kita jangan biarkan kawanan manusia dari perkumpulan Tay sang pang itu meloloskan diri dari sini. Mereka adalah orang-orang jahat yang tak boleh diampuni, bantai saja sampai tumpas "

Ucapan tersebut bagaikan perintah saja, segenap jago dari perkumpulan cahaya emas serentak memperketat serangannya dan membantai musuhnya habis-habisan.

Kim Thi sia dapat mendengar suara jeritan kesakitan yang bergema tiada hentinya itu, namun ia tak ambil perduli, sambil tertawa terbahak-bahak pemuda ini malah mempercepat langkahnya meninggalkan tempat itu.

Entah berapa lama ia sudah menempuh perjalanan, akhirnya sampailah pemuda tersebut disebuah tebing bukit yang amat sepi.

Mendadak dari balik keheningan malam yang mencekam tanah perbukitan itu, secara lamat- lamat ia mendengar ada orang yang sedang bercekcok sengit.

Kim Thi sia segera dibuat terkejut bercampur keheranan setelah mendengar suara percekcokan itu, dengan langkah cepat ia memburu kemana berasalnya suara tadi.

Akhirnya ia memilih sebuah batu cadas yang tingginya mencapai dua kaki untuk menyembunyikan diri dari pengintaian orang lain-

Ketika ia mencoba untuk melongok kearah tebing tersebut segera terlihatlah cahaya senjata yang berkilauan memenuhi angkasa, rupanya pertarungan seru sedang berlangsung ditempat itu.

Bukan hanya begitu, diapun merasa suara caci maki yang bergema berasal dari suara seseorang yang amat dikenalnya.

Terdengar salah seorang diantara mereka yang bertarung itu berseru lantang:

"Demi mendapatkan mutiara penenang angin dari gedung Siau yan lo, aku telah membuang banyak pikiran dan tenaga untuk mendapatkannya. Eee tahunya kau hendak mengangkanginya sendiri sekarang. " suara seorang lagi segera menyerocos keluar.

"IHmmm, kau anggap aku tidak membuang banyak pikiran dan tenaga untuk mendapatkan mutiara mestika ini ?"

"Baiklah, kalau begitu mari kita tentukan pemilik mutiara tersebut lewat suatu pertarungan-" "Hmm, boleh-boleh saja, asaikan kau bisa menangkan diriku biar setengah juruspun, aku pasti

akan serahkan mutiara mestika itu kepadamu."

"Bagus sekali, kita tetapkan dengan sepatah kata ini. Hmmm, terus terang saja aku bilang, aku tak akan takut terhadap ilmu silat cakar kucingmu itu. "

Pertarungan sengitpun segera berkobar kembali dengan ramainya.

Dalam pada itu Kim Thi sia telah dapat melihat dengan jelas raut muka dua orang yang sedang bertarung itu.

Ternyata mereka berdua tak lain adalah si Pencuri ulung dari utara Yoji kian dan pencuri sakti dari selatan Ho Tay hong.

Satu ingatan dengan cepat melintas dalam benaknya, pemuda itu segera berpikir:

"Aneh betul, kenapa si pencuri ulung dari utara saling bertarung sendiri dengan pencuri sakti dari selatan? Apa gerangan yang telah terjadi dengan mereka berdua?"

Sekalipun Kim Thi sia tahu bahwa mereka berhasil mencuri mutiara mestika Teng Hong cu dari gedung Siau yan lo, lagi pula diapun tahu bahwa mutiara Teng hong ci merupakan mestika dari perkumpulan Tay sang pang, namun satu hal membuatnya tak habis mengerti yaitu mengapa kedua orang pencuri yang semula bersahabat kini malah saling membantai sendiri?

Sementara dia masih ragu-ragu, mendadak terdengar si pencuri dari selatan berteriak keras: "Bagaimana kunyuk?Bila kau belum puas aku akan menyerang sekali lagi. "

"Hmmm, enam gebrakan sudah kita lalui tanpa berhasil diketahui siapa yang menang dan siapa yang kalah" ucap pencuri dari utara cepat. "Sayang Kim Thi sia tak ada disini kalau dia berada ditempat ini dia pasti bisa memberikan penilaian yang adil."

Mendengar ucapan tersebut, si pencuri dari selatan Ho Tay hong segera tertawa tergelak. "Haaah.....haaaah.....haaaah. persoalan yang kita hadapi sekarang adalah mutiara Teng hong

cu, apa sangkut pautnya dengan Kim Thi sia?"

"Hey, kau masih ingat bukan, sebelum kita berhasil mencuri mutiara Teng Hong ci dari gedung Siau yan lo, akulah yang pertama kali menemukan jejak Kim Thi sia. Apakah kau sudah melupakannya?"

"Haaah.....haaaah.....haaaaah omong kosong" tukas pencuri dari selatan sambil tertawa

seram. "Waktu itu Kim Thi sia tertotok jalan darah kakunya ditangan si burung hong Lam Peng dari wilayah Biau. Andaikata bukan aku yang membebaskan pengaruh totokannya, memangnya kita bisa berhasil mendapatkan mutiara tersebut? Sudahlah, tak usah banyak ngebacot lagi, bila kau memang mengaku kalah, mutiara Teng hong ci akan segera kubawa pergi. Mulai detik kini kitapun tak usah bekerja sama lagi "

Agaknya sipencuri ulung dari utara menjadi naik pitam setelah mendengar kata-kata yang sombong itu, dengan amarah yang berkobar teriaknya:

"Kita sama-sama terhitung lelaki tinggi hati, baiklah, kita tak usah banyak bicara lagi. Asal kau dapat mengalahkan aku hari ini, aku segera akan menyerah kalah. Kalau tidak. hmmm Lebih

baik tak usah bermimpi disiang hari belong."

Maka pertarungan sengitpun kembali berlangsung dengan hebatnya disitu. Lama kelamaan Kim Thi sia tidak tega juga melihat adegan tersebut, dengan cepat ia munculkan diri dari balik batu, lalu teriaknya kepada mereka berdua keras- keras. "Hey, sobat berdua, hentikan pertarungan kalian"

Bentakan yang bergema sangat mendadak ini amat mengejutkan dua orang pencuri yang sedang bertarung itu, serentak mereka menghentikan serangan masing-masing.

Begitu mengetahui siapa yang datang, dengan penuh bersemangat si pencuri selatan berteriak: "Bagus sekali kedatanganmu Kim Thi sia, ayoh cepat kemari." Sementara itu sipencuri utara

berteriak pula:

"Hey, sungguh tak kusangka kau malah menonton pertarungan dari situ ayoh kesini."

Tidak sampai perkataan mereka berdua selesai diutarakan, Kim Thi sia telah melompat kehadapan mereka dengan kecepatan tinggi.

Memandang wajah kedua orang itu mendadak pemuda kita merasa kegelian sehingga tertawa terbahak-bahak.

Tentu saja pencuri selatan dan pencuri utara dibuat kebingungan setengah mati, mereka tak habis mengerti kenapa si anak muda itu tertawa tergelak secara tiba-tiba.

Si pencuri ulung dari utara segera menarik kembali pedang Go binya yang tajam, lalu sambil menatap anak muda tersebut lekat-lekat, tegurnya keras: "Kim Thi sia, apa sih yang kau tertawakan?"

Sementara itu Kim Thi sia masih tertawa tiada hentinya, saking kerasnya dia tertawa sehingga seluruh tubuhnya bergoncang keras.

Lama kelamaan habis sudah kesabaran si pencuri dari selatan, ia menepuk bahu si anak muda itu dan tegurnya.