Lembah Nirmala Jilid 50

 
Jilid 50

cepat-cepat dia membalikkan badan sambil meloloskan senjatanya, kemudian seCepat kilat menyerang sipedang emas sambil bentaknya nyaring: "coba kau saksikan kehebatan permainan ilmu pedang awan bergerak ku ini..^. "

Belum selesai bentakan itu bergema, tubuhnya telah mendesak maju kedepan sementara ujung pedangnya telah mengancam didepan mata.

Sipedang emas hanya merasakan pandangan matanya menjadi kabur, tahu-tahu berkuntum- kuntum pedang yang amat rapat telah memancar diseluruh angkasa dan mengancam bagian- bagian mematikan ditubuh lawan-

Dengan terjadinya sergapan ini, situasi dalam arena pertarunganpun segera mengalami perubahan besar.

Keadaan Kim Thi sia saat itu bagaikan harimau ganas tumbuh sayap. semangat tempurnya nampak berapa kali lipat lebih membara.

Ilmu pedang awan bergerak dari siburung hong Lam Peng mengutamakan kelincahan serta keringanan badan, serangannya lebih mengandalkan kegesitan tubuh ketimbang kekuatan badan, biar begitu serangan demi serangan yang dilancarkan hampir semuanya mengandung daya ancaman yang menggidikkan hati... Waktu itu sesungguhnya sipedang emas sudah berada dalam keadaan lemah dan lelah, ketika secara tiba-tiba harus menghadapi seorang musuh yang begitu tangguh lagi, kontan saja dia menjadi kelabakan setengah mati dan tak sanggup untuk mempertahankan diri lebih jauh.

dalam waktu singkat dua puluh gebrakan sudah lewat.

Memanfaatkan peluang yang sangat baik ini, Kim Thi sia segera melancarkan sebuah gempuran dahsyat dengan jurus "harimau serigala merajalela."

Jurus serangan tersebut amat dahsyat dan hebat, begitu hebatnya hingga persis menghantam diatas jalan darah Thian teng hiat ditubuh sipedang emas tersebut.

Sebagaimana diketahui jalan darah Thian teng hiat merupakan salah satu jalan darah penting ditubuh manusia, bilamana sampai tergempur maka orang akan kehilangan kesadarannya.

Tampak sipedang emas memuntahkan darah segar akibat gempuran yang bersarang telak itu.

Menyusul kemudian ia berteriak keras, suaranya seram dan menggidikkan hati membuat siapapun yang mendengarkan merasakan bulu kuduknya pada bangun berdiri.

Jeritan itu hanya berlangsung sebentar, tahu-tahu badan sipedang emas sudah roboh terjengkang keatas tanah dalam keadaan tak sadar, ia sudah kehilangan sama sekali tenaga untuk perlawanan.

Dengan napas terengah-engah Kim Thi sia segera meloloskan pedang Leng gwat kiamnya dan siap menghabisi nyawa musuhnya itu.

"Jangan" teriak siburung hong Lam Peng secara tiba-tiba sambil menghalangi perbuatannya. "Kenapa?" tanya Kim Thisia agak tertegun.

"Tadi akukan sudah bilang, demi menjaga keseimbangan kekuatan didalam dunia persilatan, aku tak ingin membinasakan sipedang emas"

"Tapi itukan merupakan pandanganmu, pandangan tersebut tiada sangkut pautnya dengan aku?"

"Tapi kau tidak berhak untuk membunuhnya" Dengan gemas Kim Thi sia segera berseru:

"Tapi sipedang emas merupakan penghianat perguruanku, dia adalah murid murtad yang harus mempertanggung jawabkan semua kejahatan serta kebejadannya. Aku wajib membunuhnya Sekarang juga ."

"Bila kau ingin membalaSkan dendam bagi gurumU, sudah barang tentu aku merasa segan untuk menghalangi niatmu."

"Kalau toh kau merasa tak keberatan, mengapa kau halangi usahaku untuk membunuhnya?" "Sebab kau tidak menantangnya untuk berduel secara jujur, terang-terangan dan terbuka." "Tapi apa salahnya kalau kubunuh dirinya sekarang juga ?"

"Hmmm, kau harus ingat, paling tidak kau belum tentu bisa mengunggulinya tanpa bantuanku"

Mendengar perkataan ini, Kim Thi sia termenung berapa saat lamanya, kemudian baru mengangguk.

"Yaa benar juga perkataanmu itu."

"Maka dari itu bila kalian bisa bersua kembali dikemudian hari dan kau berhasil mengungguli dirinya, sekalipun kau hendak menghabisi nyawanyapun aku pasti tak akan mencoba untuk menghalangi."

Berbicara sampai disitu, ia segera membungkukkan badan dan mengambil lentera hijau tersebut dari dalam saku sipedang emas.

Menyaksikan kesemuanya ini, Kim Thi sia segera menghembuskan napas panjang, katanya kemudian: "Sungguh tak kusangka akhirnya kaulah yang keluar sebagai pemenang terakhir" Siburung hong Lam Peng tertawa tergelak.

"Haaah....haaah....haaaah. tujuan kemunculanku didalam persilatan kali ini adalah

mendapatkan Lentera hijau, coba bila aku mengincar pedang Leng gwat kiam tersebut, mungkin semenjak dulu benda tersebut telah terjatuh ketanganku."

"Bagaimana kau bisa berkata begitu?"

Siburung hong tertawa hambar. "Kau masih ingat dengan Lam Wi?" "Tentu saja masih ingat"

"Seandainya dia yang mengambil pedang Leng gwat kiam tersebut dari tanganmu, tolong tanya apakah kau mampu untuk melindungi benda mestika tersebut?"

Kim Thi sia menjadi tertegun, selang sesaat kemudian dia baru menyahut agak tergagap: ".......Yaaa, rasanya rasanya aku memang tak sanggup untuk melindungi benda tersebut."

Kembali siburung hong Lam Peng tertawa.

"Kalau begitu aku perlu memberitahukan kepadamu, orang yang bernama Lam Wi tersebut tak lain adalah aku sendiri"

"Aaaah, rupanya kau adalah wanita yang sedang menyaru sebagai pria"

Ia segera menengok kearah lain, tampaknya kelima naga dari suku Biau tersebut masih terlibat dalam suatu pertarungan amat seru.

Waktu itu sipedang kay userta Kek Jin sudah kehabisan tenaga dan merasa amat penat, serangan demi serangan yang mereka lancarkan sudah tidak pakai aturan lagi keadaannya amat kritis.

Bila keadaan saat itu dibiarkan berlangsung lebih lanjut, tak bisa disangkal lagi mereka berdua pasti akan tewas dalam keadaan yang amat mengerikan hati.

Untunglah pada saat itu siburung hong Lam Peng telah memberikan perintahnya dengan memakai bahasa suku Biau.

Tampaknya kelima naga tersebut amat tunduk dibawah perintah Lam Peng, begitu perintah diturunkan serentak mereka menarik kembali serangannya sambil melompat mundur kebelakang.

Sebetulnya sipedang kayu dan Kek Jin merasa amat penasaran, mereka berniat mengejar musuhnya lebih lanjut.

Tapi sayang meski ada kemauan namun tenaga kurang, baru berjalan dua tiga langkah tubuh mereka telah gontai dan akhirnya roboh terjungkal keatas tanah.

Dalam keadaan begitu mereka cuma bisa saling berpandangan saja dengan wajah tertegun, napasnya kelihatan tersengkal-sengkaL

Ditengah keheningan, tiba-tiba terdengar si burung hong Lam Peng berkata lagi kepada Kim Thi sia:

"Nah, sekarang kita harus melaksanakan janji yang telah disepakati tadi "

"Sebagai seorang lelaki sejati, tentu saja aku takakan memungkirinya, silahkan turun tangan" Baru selesai perkataan tersebut diutarakan Lam Peng telah menotok jalan darah kaku ditubuh

Kim Thi sia keras-keras.

Seketika itu juga Kim Thi sia merasakan peredaran darahnya membeku, tubuhnya terasa lemas dan ia segera roboh terjungkal keatas tanah.

"Maaf!" kata siburung hong kemudian sambil tertawa hambar. Waktu itu, kendatipun Kim Thi sia merasa amat tak puas dengan cara kerja siburung hong terutama terhadap dirinya, namun ada satu hal yang membuatnya merasa amat berterima kasih.

Karena Lam Peng telah memerintahkan kelima naga dari suku Biau untuk mengobati luka Lin lin dengan mempergunakan lentera hijau.

Bersamaan itu juga , siburung hong telah membopong tubuh Kim Thi sia dan membawanya pergi dari situ dengan gerakan tubuh secepat sambaran petir.

Setelah melewati beberapa bukit dan sampai didalam sebuah hutan yang lebat, gadis tersebut menurunkan Kim Thi sia keatas tanah.

Walaupun Kim Thi sia tak mampu bergerak saat itu, namun kesadarannya masih tetap jernih. Dia dapat mengendus bau harum kegadisan yang terpancar keluar dari tubuh Lam Peng, diapun dapat mencium bau harum rambut sinona tersebut, tanpa disadari ia menaruh rasa senang atas keindahan serta kecantikan dari gadis tersebut. Diam-diam pikirnya :

"Aaaaai, andaikata hatinya tidak selicik dan sekeji ini, alangkah baiknya gadis ini.."

Ketika dia mencoba untuk menengok kearah lain, tampak olehnya Lin lin telah dibaringkan juga tak jauh dari tubuhnya, waktu itu wajahnya kelihatan merah segar. Terdengar siburung hong berkata:

"Sepanjang jalan menuju kemari tadi, Lin lin telah memperoleh pengobatan dengan menggunakan lentera hijau."

"Terima kasih atas bantuanmu"

"Kau tak perlu berterima kasih kepadaku, tak sampai setengah jam kemudian, kesehatan tubuhnya akan pulih kembali seperti sedia kala."

"Aaai, tak kusangka kau begitu pandai mengatur urusan" puji Kim Thi sia sambil tertawa. Burung hong Lam Peng ikut tertawa pula.

"Aaaai, aku tak berkemampuan apa-apa, yang kuharapkan sangat adalah kau masih bisa teringat akan diriku"

"Selama hidup aku tak akan melupakan dirimu " janji sang pemuda sambil tertawa.

Kembali burung hong Lam Peng tertawa hambar, ia segera memberi tanda kepada kelima naga dari suku Biau untuk pergi dari situ, sebelum berangkat katanya lagi lembut.

"Kim sauhiap. sampai jumpa lagi dikemudian hari"

Dengan suatu gerakan yang amat cepat bagaikan hembusan angin, berangkatlah gadis itu meninggalkan tempat tersebut, dalam waktu singkat bayangan tubuhnya telah lenyap dikejauhan sana. Setengah jam kemudian-.......

Akhirnya Lin lin sadar kembali dari pingsannya.

Tapi pada saat yang bersamaan, tiba-tiba saja Kim Thi sia mendengar ada suara langkah manusia yang berjalan mendekati tempat tersebut.

Ia tak tahu apakah musuh atau teman yang muncul ditempat tersebut, andaikata musuh yang munculkan diri dalam keadaan lemah tak berkekuatan begini bukankah dia bakal dibunuh secara mudah oleh lawan?

Kim Thi sia menjadi amat gelisah, keluhnya berulang kali: "Waduh, bisa celaka, bisa celaka "

"Kenapa sih kamu ini?" Lin lin yang tak tahu apa yang terjadi bertanya agak tercengang. Gadis ini sama sekali tidak mengira kalau ancaman bahaya maut telah berada didepan mata.

"Sttt, jangan berisik Lin lin ayo jangan bergerak secara sembarangan- " bisik Kim Thi sia lagi.

sikapnya amat serius dan tegang seolah-olah menghadapi sesuatu yang amat gawat. Lin lin yang baru sadar dari pingsannya menjadi tertegun setelah menyaksikan keadaan itu.

Sejak sadarkan diri dan melihat dirinya berada ditempat yang sepi, gadis tersebut sudah merasa gugup dan takut.

Apalagi sekarang ia melihat Kim Thi sia begitu tegang dan serius, tentu saja hatinya makin terperanjat lagi, saking kagetnya untuk berapa saat ia tak mampU berbuat apa-apa.

Menanti Kim Thi sia sudah memberi tanda dan minta Lin lin berjalan mendekat, gadis itu baru memberanikan diri untuk maju menghampirinya.

Tapi sayang Lin lin berjalan kurang hati-hati, kakinya menginjak diatas berapa buah ranting pohon sehingga menimbulkan suara berisik.

Ditengah hutan yang begitu sepi dan leng gang, biarpun suara tersebut sebenarnya amat pelan, tapi dalam keadaan begitu justru kedengarannya cukup nyaring. Lin lin amat menyesal, ia menjadi tertegun untuk berapa saat lamanya.

Kim Thi sia lebih tegang lagi, buru-buru ia menarik tangan Lin lin agar cepat menghampirinya .

Mungkin karena terlalu tegang hingga tenaga betotannya kelewat keras, atau mungkin juga keseimbangan tubuh Lin lin kurang baik. Begitu tertarik, tak kuasa lagi tubuh gadis itu terjatuh kedalam pelukan Kim Thi sia.

Dengan cepat anak muda itu merasakan sebuah tubuh yang empuk dan halus terjatuh menindihi tubuhnya.

Sebaliknya Lin lin sendiripun tiba-tiba merasa bau lelaki yang khas menerobos masuk kedalam penciumannya .

dalam waktu singkat kedua orang ini saling berpelukan satu sama lainnya, walaupun dalam suasana tegang dan seram, namun rasa malu, manis, hangat dan terangsang bercampur aduk didalam perasaan hati mereka.

Paras muka Lin lin seketika berubah menjadi merah padam lantaran amat jengah.

Sebaliknya Kim Thi sia merasa terangsang sifat kejantanannya, sambil mengawasi wajah sinona ia berteriak:

"Lin lin, kau tak usah takut, aku pasti akan melindungi mu sebisa mungkin."

Berbicara sampai disitu, dia segera merentangkan tangannyalebar-lebar dan memeluk gadis tersebut erat-erat.

Lin lin sendiripun segan mengeluarkan banyak tenaga, dengan manjanya diapun menjatuhkan diri bersandar dalam pelukan pemuda itu.

Sementara sepasang matanya yang bulat besar dan jernih menatap wajah Kim Thi sia tanpa berkedip.

Sekalipun ia tak berkata-kata, namun pandangan matanya itu seakan-akan sedang berkata. "Lindungilah aku engkoh Thi sia, aku rela menerima perlindungan seperti ini. "

Begitulah, untuk berapa saat lamanya kedua orang itu bagaikan terbuai dalam mabuk cinta, seakan-akan sudah melupakan keadaan disekelilingnya lagi.

Tapi hal tersebut hanya beriangsung sebentar, tak selang berapa saat kemudian Kim Thi sia dan Lin lin sudah terjaga kembali dari lamunan mereka.

Dengan suara lirih Lin lin segera berbisik:

"Engkoh Thi sia, apa yang sedang engkau takuti? Mengapa aku bisa sampai disini? Seingatku, aku telah terluka ditangan seorang hwesio gemuk. apakah kau yang telah menolongku?

Bagaimana caramu menolongku ?" Serangkaian pertanyaan diajukan secara bertubi-tubi, seakan-akan semua persoalan ingin diketahui dalam waktu singkat.

Kim Thi sia tidak langsung menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, dia masih dicekam perasaan tegang, sebab jalan darahnya masih tertotok hingga sekarang, berarti bila yang muncul adalah musuh tangguh maka keselamatan jiwa mereka akan terancam. Sampai lama kemudian, pemuda itu baru menjawab gelagapan-"Lin lin, kau....kau "

"Kenapa dengan aku?" tanya Lin lin terheran-heran-

Dengan peluh membasahi seluruh tubuhnya karena cemas, Kim Thi sia berbisik: "Kuminta kau jangan berbicara lagi. "

Ia tak berani berbicara terlalu keras, namun dia berharap gadis itu bisa mendengar dengan jelas tak heran kalau wajahnya nampak lucu dan menggelikan hati. Sambil mencibirkan bibirnya Lin lin berseru manja: "Tapi kau belum menjawab semua pertanyaan yang kuajukan tadi?"

Dengan jelas Kim Thi sia memeluk tubuhnya dengan mesrah kemudian berbisik pelan: "Pertanyaanmu terlalu banyak, aku tak tahu bagaimana mesti menjawabnya. "

"Tapi sebenarnya apa maumu?"

Sementara itu suara langkah manusia kedengaran semakin mendekati tempat tersebut.

Didengar dari langkah kaki yang kacau balau, bisa diketahui bahwa pendatang bukan terdiri dari seorang saja.

Rombongan pendatang itu berjalan kesitu dengan langkah cepat, bila yang muncul adalah sipedang emas, pedang perak atau pedang kayu sekalian, maka bagaimana akhirnya pasti susah dibayangkan dengan perkataan.....

Mengetahui etapa gawatnya situasi waktu itu, buru-buru Kim Thi sia berbisik lagi: "Lebih baik kau jangan bergerak dulu dan jangan berbicara, berbaringlah saja dalam

pelukanku"

Mungkin saking cemasnya, pembicaraan tersebut tanpa disadari telah diutarakan dengan suara agak keras.

Baru selesai perkataannya diucapkan, terdengar suara langkah manusia itu telah berhenti secara mendadak.

Disusul kemudian terdengar seorang berseru keras:

"Bagus sekali, tingkah laku sibocah keparat ini benar-benar menarik hati, rupanya dia sedang bermesrah-mesrahan disini. "

Jelas sudah, rombongan pendatang itu telah melihat kehadiran mereka disana.

Waktu itu Lin lin masih belum sadar kalau bahaya sedang mengancam, dia malah berseru dengan manja.

"Engkoh Thi sia, kau jangan memelukku begitu kencang. "

Diam-diam Kim Thi sia mengeluh, tanpa terasa dia mengendorkan pelukannya atas gadis tersebut.

Ketika ia berpaling kembali, maka terliharlah didepan mata telah muncul tiga orang jagoan persilatan.

sebagai orang pertama, ternyata ia tak lain si Unta, musuh bebuyutannya.

Dibelakang si unta mengikuti dua orang lelaki lagi, yang seorang bertubuh jangkung sedang lainnya bertubuh ceboL

Yang jangkung bertubuh kurus kering tinggal kulit pembungkus tulang, mukanya panjang dengan sepasang mata menonjol keluar persis seperti mata ikan emas. Sedangkan yang cebol bertubuh gemuk seperti babi, mukanya bulat dan mempunyai sepasang mata yang sipit tinggal sebuah garis.

Melihat sipendatang adalah si unta, diam-diam Kim Thi sia berhembus napas lega, serunya kemudian:

"Hey tua bangka, tak disangka kita akan bersua lagi disini"

"Ya betul" sahut si unta tak acuh. "Kita telah bersua kembali, tapi rasanya pertemuan kali ini bukan pada saat yang baik."

"Kenapa?" tanya Lin lin polos.

Si unta mendehem beberapa kali, kemudian baru sahutnya:

"Kalian berdua sedang bermesrah-mesrahan disini, rasanya aku situa bangka jadi iri hati."

Begitu ucapan tersebut diutarakan, sijangkung dan sicebol sama-sama tertawa tergelak. Gelak tertawa mereka amat keras dan seakan-akan membutuhkan banyak tenaga, begitu habis tertawa napas mereka kedengaran tersengkal-sengkaL

Paras muka Lin lin kontan saja berubah menjadi merah padam bagaikan kepiting rebus.

Ilmu meringankan tubuh ketiga orang tersebut memang kelewat sempurna, dengan gerakan yang cepat sekali mereka munculkan diri didepan mata sehingga tidak memberi kesempatan kepada kedua orang muda mudi itu untuk memberikan reaksinya.

Waktu itu Lin lin hanya memusatkan perhatiannya untuk berbicara, dia seperti lupa kalau tubuhnya masih berada dalam pelukan mesrah Kim Thi sia.

Seorang gadis tanggung ternyata tertangkap basah sedang bermesrahan dengan seorang lelaki ditengah gunung yang sepi, kejadian seperti ini boleh dibilang merupakan peristiwa yang merikuhkan.

cepat-cepat Lin lin melompat bangun dari pelukan, lalu serunya kepada Kim Thi sia dengan gemas:

"Huuuh, semuanya gara-gara kau"

Saking malunya dia tak berani mendongakkan kepalanya lagi, cepat-cepat gadis itu bersembunyi dibalik pepohonan-Melihat itu, si unta segera berseru sambil tertawa: "Tadi, apa yang dia lakukan terhadapmu?"

"Dia.....minta kepadaku. " Lin lin merasa amat malu, kepalanya sampai tertunduk rendah-

rendah.

Ternyata si unta tak ambil perduli apakah gadis itu merasa malu atau tidak, kembali desaknya: "Dia minta apa kepadamu?"

"Dia yang menyuruh aku berbaring dalam pelukannya. " sahut Lin lin seraya menutupi

wajahnya dengan kedua belah tangan. Si unta segera tertawa terbahak-bahak. "Haaah.....haaaah.....haaaah.....bagus, suatu permintaan yang bagus. "

Sementara itu sijangkung dan si cebolpun ikut tertawa terpingkal-pingkaL

Lin lin sigadis polos ini masih belum sadar apa yang sebenarnya sedang mereka tertawa kan-

Dia malah mengira Kim Thi sia telah melakukan suatu gerakan yang lucu sehingga memancing gelak tertawa mereka. Tanpa sadar dia melirik sekejap kearah pemuda itu.

Tampak Kim Thi sia masih berbaring diatas tanah agaknya diapun dibuat tersipu-sipu oleh godaan si unta sambil menuding orang itu serunya gemas: "Hey tua bangka, kau.....kau "

"Kenapa aku?" tanya si unta cepat. "Aku mah sudah tua, sudah tak berguna lagi, mana mungkin aku bisa seromantis dirimu?" "Apa itu romantis atau tidak?" teriak Kim Thi sia dengan wajah memerah, "Tadi aku takut. "

"oooh, takut?" si unta kembali menggoda.

Setelah  berseru  keheranan,  ia  segera  berkata  lagi  kepada  sijangkung  dan  sicebol:   "Wah hebat betul dia, rupanya setelah memeluk seorang gadis dengan mesrah maka semua

rasa takut bisa hilang. Ehm, tentu cara ini bagus sekali. "

Kim Thi sia amat mendongkol, ia ingin membantah, tapi sebelum sempat berbicara, kembali siunta telah berkata lagi:

"Sayang aku sudah tua, tak laku mencari nona lagi, coba kalau tidak. "

"Eh tua bangka, kau tidak memahami maksudku" seru Kim Thi sia dengan cemas. "Kenapa aku tak mengerti? Akupun takut. " seru si unta.

"Apa gunanya kau merasa takut?" teriak siceboL Sambil melotot si unta segera berseru: "Kalau aku takut, akupun bisa memeluk seorang nona untuk menghilang rasa takutku itu." "Aaaah, kalian tidak mengerti " teriak Kim Thi sia keras- keras.

"Bagaimana mungkin aku tidak mengerti tentang perbuatan kaum muda seperti kalian? Dulu aku masih muda dan mengalami hal yang sama "

"Aku kau tahu, jalan darah kaku ku telah ditotok oleh siburung hong Lam Peng hingga tak

mampu berkutik, oleh sebab itu aku takut jejakku diketahui musuh hingga dicelakai jiwanya oleh mereka. " tutur Kim Thi sia cepat.

"Apa kau bilang?" si unta berseru sambil menarik muka. "Saat ini aku tak mampu berkutik"

"Aduh celaka. " pekik siunta kemudian dengan wajah tertegun.

Ucapan tersebut diutarakan dengan wajah serius, seakan-akan menghadapi suatu kejadian yang gawat.

Lin lin yang mendengar seruan itu menjadi terkejut sekali.

Tanpa ambil perduli persoalan lain lagi ia segera berlutut didepan Kim Thi sia dan bertanya dengan rasa kuatir. "Engkoh Thi sia, gawatkah keadaanmu?"

"Tidak ada yang gawat" sahut Kim Thi sia sambil tertawa dingin.

Dengan penuh kasih sayang Lin lin membelai rambutpemuda itu, menyeka peluhnya dengan sapu tangan, lalu katanya lagi: "Mungkinkah "

Tapi berbicara sampai disitu ia segera berhenti berkata, sedih sempat melintas diatas wajahnya. dalam keadaan begini ternyata si unta belum dapat menghilangkan juga sifat menggodanya,

cepat dia berkata:

"Hey bocah kunyuk. nona ini menguatirkan dirimu apakah kau bakal mampus atau tidak. "

"Aku tak bakal mati" Kim Thi sia tertawa nyaring.

"Asal tidak mati, hatikupun merasa lega. " kata Lin lin sambil tertawa pula.

"Bocah kunyuk, andaikata kau benar-benar sampai mati, tentu tragis sekali keadaannya." "Hey tua bangka, aku bakal mati atau tidak, apa sangkutpautnya dengan dirimu?" "Dengan diriku tentu saja tak ada sangkut paut yang terlalu besar" teriak si unta.    "Tapi. "

Bicara sampai disitu, dia sengaja mengerling sekejap kearah Lin lin-Dengan cepat Lin lin bertanya: "Tapi kenapa?" "Tapi keadaanmu tentu tragis." "Siapa bilang aku bakal begitu?"

"Hmmm, kau berbicara lain dimulut lain dihati, andaikata Kim Thi sia benar-benar ketimpa suatu kemalangan, bila kau sedang takut, siapa yang akan memelukmu?"

"Hmmm" dengan gemas Lin lin mencibir.

Tapi kali ini dia tidak menyingkir jauh, melainkan hanya bersandar disisi Kim Thi sia dengan wajah tersipu-sipu.

dalam pada itu si cebol dan sijangkung sudah tak tertawa lagi, mereka saling berpandangan berulang kali, agaknya antara mereka berdua sedang merundingkan sesuatu. Akhirnya dengan suara dingin sijangkung berseru: "Jadi bocah ini bernama Kim Thi sia?"

"Wah coba lihat, aku memang sudah pikun." si unta segera berteriak lantang. "Aku hanya bicara melulu hingga lupa untuk memperkenalkan kalian semua. "

Ternyata kedua orang itu mempunyai asal usul yang luar biasa.

Sijangkung bernama Yo Kian, dia selalu malang melintang diwilayah utara dan selama praktek sebagai pencuri belum pernah meleset dari sasarannya, karena kemampuannya itu orang menyebutnya sebagai si Pencuri ulung dari utara.

Sebaliknya sigemuk pendek bernama Ho Tay hong, orang menyebutnya sipencuri sakti dari selatan, orangnya licik dan pintar, selama praktek belum pernah menjumpai lawan tandingan-

Baik sipencuri ulung dari utara maupun sipencuri sakti dari selatan, mereka berdua tidak termasuk dalam golongan partai apapun selama ini merekapun segan turun tangan bila sasarannya bukan bernilai luar biasa besarnya.

Dan kini kedua orang pencuri sakti tersebut telah munculkan diri bersama-sama disitu tak heran kalau peristiwa tersebut amat mengejutkan hati.

Yang lebih mengagetkan lagi adalah kehadiran si unta, setan kemaruk harta ini dengan mereka berdua.

Dilihat dari bergabungnya tiga manusia rakus harta dalam satu kelompok, bisa diduga bahwa bendayang sedang mereka incar pasti merupakan sebuah benda langka yang amat berharga.

Kalau bukan demikian, bagaimana mungkin mereka bertiga bisa berkumpul menjadi satu? Tapi benda mestika apakah yang sedang mereka incar?

Walaupun dalam hati kecilnya Kim Thi sia merasa amat terperanjat, namun ia tetap berusaha untuk mengendalikan diri dan berlagak pilon. Sambil manggut-manggut dan tertawa paksa segera katanya: "ooooh, aku harus minta maaf karena tak mampu memberi hormat kepada kalian"

Pencuri sakti dari utara maupun selatan sama-sama mendengus, mereka sama sekali tidak menanggapi sikap hormat pemuda itu.

Ketika si unta memperkenalkan nama mereka, kedua orang itu malahan mendongakkan kepalanya dan sama sekali tak menggubris. Lin lin jadi gemas sendiri, pikirnya tanpa terasa:

"Sombong amat kedua orang ini, apanya sih yang luar biasa dengan mereka berdua?"

Tapi sebagai seorang perempuan dari golongan baik-baik, sudah barang tentu Lin lin tak ingin menunukkan sikap yang kurang meng hormat, katanya kemudian sambil tertawa paksa.

"Engkoh Thi sia, keadaanmu diluar kemampuan, aku yakin kedua lo siangseng ini tidak akan menyalahkan dirimu."

Pencuri ulung dari utara dan pencuri sakti dari selatan segera mendengus dingin, mereka tetap membungkam dalam seribu bahasa. Si unta menjadi tak senang hati, dia menegur keras: "Hey, bagaimana sih kalian berdua ini?" "Tidak apa-apa" sahut pencuri sakti dari selatan Ho Tay hong dingin. "Aku hanya merasa keheranan."

"Apanya yang perlu kau herankan?"

"Dalam bayanganku semula, Kim Thi sia yang tersohor sebagai manusia yang paling susah dihadapi semestinya "

Sikap memandang rendah yang diperlihatkan orang ini dalam sekejap mata telah menimbulkan perasaan anti patik dalam hati si unta.

Belum lagi ucapan Ho Tay hong selesai diutarakan, si unta telah menukas cepat:

"Jadi kau anggap Kim Thi sia semestinya adalah manusia luar biasa yang mempunyai tiga kepala dan enam lengan?"

"Bukan begitu maksudku"

"Lalu apa maksudmU?" desak si unta sambil melotot.

"Bagaimanapun jua, tidak seharusnya dia adalah seorang bocah kecil seperti pemuda yang berada dihadapan kita sekarang."

"Tapi masih mudakan bukan kesalahan yang berdosa?" Sipencuri ulung dari utara mendengus dingin.

"Hmmm, kalau masih muda, bicaranya melantur, manusia begini tak bisa dipercayai" "Biarpun umurmu lebih tua, apanya yang luar bias a?" bantah si unta cepat. Sipencuri ulung

segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaaah....haaaah......haaaaah selama aku menjalankan aksi mencuri diutara, belum pernah

usahaku meleset."

"Dan kau?" si unta balik bertanya kepada sicebol.

Sipencuri sakti dari selatan Ho Tay hong tertawa tergelak pula. "Haaah.....haaaah....haaaah. selama aku melakukan pekerjaanku diselatan semua

perbuatanku bisa kulakukan secara hebat tanpa diketahui orang." "oooh, inikah prestasi kerja yang

berhasil kalian raih?" jengek si unta.

"Memangnya masih kurang?" Kali ini si unta tertawa terbahak-bahak. "Haaah....haaaah.....haaaah. kalian benar-benar sudah pikun, makin tua semakin melamur

saja."

"Aku sungguh tak mengerti apa sebabnya kau berkata demikian?" teriak sipencuri ulung penuh amarah.

"Sesungguhnya prestasi yang berhasil kalian raih selama ini masih terlalu minim. Bahkan memalukan untuk diutarakan keluar."

"Jadi menurutmu Kim Thi sia luar biasa? Apa sih prestasi yang berhasil diraihnya?" seru pencuri sakti dari selatan tidak puas.

"Biarpun Kim Thi sia masih muda, namun kepandaian silatnya sangat hebat, nama besarnya sejajar dengan orang kenamaan didalam dunia persilatan, bukan saja ia berhasil mengalahkan sembilan pedang dunia persilatan, ciang sianseng serta si pukulan sakti tanpa bayanganpun bukan tandingannya malahan diapun berani menentang kekuasaan Dewi Nirmala. "

Tiada hentinya dia mengutarakan smeua kegagahan dan kehebatan Kim Thi sia, tentu saja hal ini membuat anak muda tersebut merasa ripuh sendiri. Buru-buru pemuda itu menukas:

"Tua bangka, kau tak perlu mengibul terus, apalah artinya?"

Si unta mendelik besar, kepada pencuri dari utara maupun selatan serunya cepat: "coba lihat, biar hebat dia masih tahu merendah"

Dengan sorot mata yang tajam pencuri ulung dari utara dan pencuri sakti dari selatan sama- sama melotot sekejap kearah Kim Thi sia, kemudian serunya bersama: "Apalah artinya kesemua itu?"

"Hey, kalian jangan sombong."

"Sombong atau tidak. toh kebebasan kami kenapa kau mesti mencampuri urusan kami?" "Eeeeh, terus terang saja aku bilang, bila tak ada Kim Thi sia maka benda itu "

"Memangnya dengan kemampuan yang kami miliki, benda tersebut tak bisa didapatkan?" "Yaa, memang itulah maksudku."

Sipencuri ulung dari utara YoJin kian segera tertawa menghina.

"Huuuh, seandainya Kim Thi sia memang memiliki kemampuan sehebat itu kenapa jalan darah kakunya bisa ditotok oleh Lam Peng hingga badannya sama sekali tak mampu berkutik?^

Perkataan ini memang mempunyai daya pengaruh yang amat besar, seketika itu juga siunta dibuat tertegun dan mulutnya terbungkam sama sekali.

Sebetulnya Kim Thi sia sendiripun segan untuk menggubris kata-kata semacam itu, setelah disindiri berulang kali, akhirnya berkobar juga amarahnya.

Dengan hati panas ia segera menceritakan semua pengalamannya selama ini hingga bagaimana dia ditotok jalan darah kakunya.

Bila berada dihari-hari biasa, Kim Thi sia tak akan berbuat begitu, dia memang bukan orang yang suka menonjolkan diri. Tapi sikap kedua orang pencuri itu kelewat batas, sehingga mau tak mau timbul juga kesan jelek dihatinya.

Ketika ia menyelesaikan kata-katanya itu untuk berapa saat suasana dalam arena menjadi hening, sepi dan tak kedengaran suara apapun. Masing-masing sedang terbenam didalam jalan pemikirannya sendiri-sendiri.

sipencuri ulung dari utara dan pencuri sakti dari selatan sudah lama hidup memencilkan diri, sekarang mereka mulai menyadari akan keadaan yang sebenarnya.

Mereka mulai menaruh kesan baru terhadap sembilan pedang dari dunia persilatan-

Merekapun mulai memberi penilaian yang lain terhadap lima naga dan burung hong yang baru muncul didalam dunia persilatan-

Diantara semua yang hadir nampak si unta paling gembira, wajahnya berseri-seri. "Haaah....haaah.....haaaah. sobat-sobat tua, sekarang mata kalian tentu sudah melek

bukan?" serunya sambil mengelus jenggot dan tertawa tergelak. "Dunia persilatan dewasa ini

sudah jatuh ketangan kaum muda lebih baik kita yang sudah tua tak usah berlagak sok tua lagi, sebab sikap demikian tak bakal menguntungkan diri sendiri"

Sementara itu Lin lin nampak amat bersedih hati, tiba-tiba ia berseru dengan gemas: "Hmmm, engkoh Thi sia, kau kau bukan orang baik-baik"

"Apa maksudmu?" tanya Kim Thi sia tertegun.

"Hmmm, kau harus mengerti, bahwa hubunganmu dengan Lam Peng. "

"Hubungan apa antara diriku dengan Lam Peng?" tukas sang pemuda semakin keheranan. Sepasang mata Lin lin berubah menjadi merah, sambil menahan lelehan air matanya ia berkata: "Lam Peng si siluman kecil itu pernah berkumpul bersamamu."

"Lin lin, kau tak boleh mencaci maki Lam Peng"

"Kenapa?" teriak Lin lin sambil melotot. "la pernah menyelamatkan jiwamu" "Hmmm, siapa yang kesudian " seru Lin lin sambil mencibirkan bibirnya.

Kim Thi sia semakin tertegun.

"Lin lin, mengapa kau jadi tak tahu diri?"

"Hmmm, memangnya kau sendiri tahu diri?" kata Lin lin semakin mendongkol. Diam-diam Kim Thi sia mengeluh dihati, katanya kemudian:

"Lin lin,jika kulihat dari perubahan muka mu, agaknya kau sedang marah kepadaku?" "Hmmm, tentu saja kau merasa gembira"

"Kenapa aku mesti gembira?" Kim Thi sia makin tertegun.

Tiba-tiba saja air mata jatuh bercucuran membasahi wajah Lin lin, agak terisak ia berkata: "Perempuan yang bernama si burung hong Lam Peng mana cerdik, cantik jelita lagi." "Tapi apa sangkut pautnya Dia menyukai dirimu, membantumu."

"Tapi justru dia yang menotok jalan darah kaku ku sehingga sampai sekarang badanku tak mampu berkutik" teriak Kim Thi sia dengan kening berkerut.

"Aku tak perduli" kata Lin lin sembari menghentak-hentakkan kakinya keatas tanah. "Pokoknya. "

"Sebetulnya mau apa sih kamu ini?"

Merah padam selembar wajah Lin lin-"Pokoknya mulai sekarang. "

"Mulai sekarang, jika aku bersua lagi dengan Lam Peng, tak akan kuampuni dirinya dengan begitu saja"

"Apakah kau berbicara dengan sejujurnya?" tanya Lin lin sambil membelalakan matanya lebar- lebar.

"Tentu saja sejujurnya"

"Nah, begitu baru lumayan- " kata Lin lin dengan perasaan amat gembira.

sementara sepasang muda mudi ini sedang cekcok, sipencuri ulung dari utara dan pencuri sakti dari selatan sedang berunding pula dengan serius, namun suara pembicaraan mereka amat lirih sehingga tak kedengaran dengan jelas apa yang sedang dibicarakan.

Tap ijika dilihat dari keseriusan wajahnya, dapat diketahui bahwa persoalan yang dibicarakan amat serius.

Dipihak lain, si unta hanya mengawasi terus Kim Thi sia dan Lin lin sambil tertawa tiada hentinya.

Sepintas lalu dia nampak seperti asyik menonton percekcokan antara kedua orang tersebut.

Padahal sebagai seorang jago kawakan yang sudah berpengalaman dalam melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, dia mempunyai tujuan yang lain-

Selama ini dia memasang telinga tajam-tajam, dia sedang berusaha untuk menyadap apa yang sedang dibicarakan antara sipencuri ulung dari utara dnegan pencuri sakti dari selatan-

Tapi sayang apa yang dibicarakan kedua orang tersebut terlalu lirih sehingga tak sepatah katapun yang berhasil didengar oleh si unta.

Lama kelamaan habis sudah kesabarannya, amarahnya mulai berkobar didalam hati. Dengan suara yang tinggi melengking, ia berteriak keras:

"Hey pencuri ulung dari utara, pencuri sakti dari selatan, sebenarnya apa yang sedang kalian kasak kusukkan disitu?"

"Kami sedang merundingkan suatu masalah besar" sahut sipencuri selatan Ho Tay hong. "Ya betul, hey unta, persoalan ini tak ada sangkut pautnya denganmu" sambung sipencuri utara.

"Kalau toh persoalannya tak ada sangkutpautnya dengan diriku, kenapa kalian tidak berbicara keras- keras sehingga akupun bisa turut menyumbangkan pendapat?"

"Aku rasa hal ini kurang leluasa" ucap pencuri dari selatan, sedang pencuri dari utara segera

berseru:

"Kemarilah kau hey unta, mari kita berunding secara baik-baik"

Seraya berkata mereka berdua segera beranjak pergi meninggalkan tempat tersebut.

Rupanya mereka berniat mengajak si unta meninggalkan tempat tersebut sehingga dapat diajak berunding dengan leluasa.

"Baiklah" kata si unta kemudian- "Mau berunding juga boleh, agar akupun ikut mengetahui apakah yang sedang kalian lakukan."

Berbicara sampai disitu, dia segera bersiap-siap meninggalkan tempat tersebut. Lin lin takut si unta akan meninggalkan mereka buru-buru teriaknya: "Tuan unta, harap jangan pergi dulu."

Dalam pada itu sipencuri ulung dari utara dan pencuri sakti dari selatan telah berada disebuah tebing dan berdiri menanti disitu. Dengan perasaan serba salah si unta segera berkata: "Nona Lin lin, kenapa sih kamu ini?"

"Apakah kau tega meninggalkan dia dengan begitu saja?" tanya Lin lin sambil menuding kearah Kim Thi sia.

"Ada persoalan apa?" tanya si unta berlagak tidak mengerti.

"Jalan darah kaku engkoh Thi sia telah ditotok oleh Lam Peng, sehingga badannya sama sekali tak mampu berkutik, andaikata ada orang jahat yang memanfaatkan kesempatan ini, akibatnya tentu luar biasa. Apakah kau tak pernah berpikir kesitu?"

"Lantas apa yang kau kehendaki?"

"Kau adalah orang yang mengerti akan ilmu silat, tentunya kau bisa menolong dia bukan?" pinta sinona. Si unta segera tertawa.

"Nona Lin lin, rupanya kau tidak mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya, kau tahu sesungguhnya permintaanmu ini hanya akan menyusahkan orang lain saja"

"Kenapa?"

"Si burung hong Lam Peng merupakan anak murid si Raja langit bertangan delapan, ilmu totokan jalan darahnya berasal dari wilayah Biau yang jauh berbeda dengan sistem didaratan Tionggoan, sesungguhnya aku sendiripUn kehabisan daya"

"Lantas bagaimana. bagaimana baiknya?" Lin lin mulai murung dan berkerut kening.

"Kau jangan takut Lin lin, tiada jalan buntu didunia ini asal kita mau berusaha" hibur Kim Thi sia cepat. Si unta turut tertawa.

"Bocah kunyuk, tak kusangka kau mempunyai keyakinan yang begitu besar." Lin lin segera berseru lagi dengan gelisah:

"Tuan unta, bagaimana kalau kau memohon kepada sipencuri dari utara dan pencuri dari selatan- "

"oooh nona, kau jangan begitu aaah, aku tak akan bantu. "

"Apa maksudmu?"

"Si unta yaa si unta, tua bangka yaa tua bangka, kau jangan memanggil tuan kepada ku.

Seperti Khong hucu lagi berkentut saja baunya menyebar sampai dimana-mana, membuat aku yang mendengarpun ikut geli rasanya." "Aku ingin memohon kepadamu untuk mengajak mereka berunding, bersediakah mereka memberi bantuan. "

"Aku memang bermaksud mengajak mereka berunding" kata si unta sambil tertawa aneh.

Berbicara sampai disitu ia segera beranjak dan meninggalkan tempat tersebut.

Sesungguhnya Kim Thi sia tidak berniat untuk memohon bantuan dari kedua orang pencuri sakti itu, dia berniat menghalangi maksud pencuri sakti tersebut, belum sempat ia berbicara, si unta sudah keburu meninggalkan tempat tersebut, terpaksa ia menghela napas panjang. "Aaaai "

"Mengapa sih kau menghela napas?" tanya Lin lin penuh rasa kuatir.

"Aku tak ingin dibantu mereka, apa lagi dibantu manusia seperti pencuri-pencuri utara dan selatan-"

"Apakah kau sendiri sudah memukul jalan darahnya?" tanya Lin lin keheranan- "Jalan keluar apa yang kudapat?" Kim Thi sia balik bertanya sambil tertawa getir. "Kenapa sih kau berkeras kepala bila kau sendiri tak bisa menemukan cara terbaik?"

"Lin lin, kau adalah seorang gadis pingitan, kau tak akan memahami seluk beluknya dunia persilatan-"

"Tapi apa salahnya?"

"Kau mesti tahu, baik siunta maupun kedua orang pencuri dari utara dan selatan, semuanya adalah orang-orang dari rimba hijau"

"Kenapa kita mesti takut kepada mereka?"

"Sekarang kita tak berduit, sepeserpun tak punya, tentu saja keadaan seperti ini bukan masalah, tapi. "

"Memangnya mereka bisa mencelakai dirimu?" tanya Lin lin lagi dengan perasaan ingin tahu. "Tentu saja tak sampai begitu" kali ini Kim Thi sia tertawa.

"Kalau memang tak sampai begitu, apa lagi yang mesti kita kuatirkan ?"

"Setelah kita mohon bantuan kepada mereka, sudah pasti merekapun akan mengajukan syarat kepada kita."

"Kau toh boleh saja pergi membantu mereka? Apa salahnya bisa saling tolong menolong?" "Seandainya aku disuruh membunuh orang atau membakar rumah apakah akupun mesti

menurut serta melaksanakannya?"

Lin lin termenung berapa saat lamanya kemudian ia menjawab:

"Tapi aku rasa  tak  mungkin  permintaan  sampai  melampaui  batas  seperti  itu." "Aaaai kalau tak percaya, tunggu saja nanti" ucap Kim Thi sia sambil menghela napas.

Sementara itu dipuncak seberang sana terlihat si unta bersama pencuri dari utara dan selatan sedang melangsungkan perundingan yang amat sengit dan serius.

Berapa saat kemudian jelas terlihat bahwa mereka bertiga telah berhasil mendapatkan penyesuaian pendapat.

Dengan wajah berseri-seri mereka bertiga segera menuruni bukit dan berjalan menghampiri mereka.

Belum sempat Lin lin dan Kim Thi sia mengajukan pertanyaan, sipencuri sakti dari selatan Ho Tay hong telah berjalan mengelilingi tubuh Kim Thi sia sampai beberapa kali, kemudian mulai tersenyum. Lin lin yang menyaksikan peristiwa itu kontan saja berkerut kening, dia tidak mengerti apa yang sedang dilakukan orang itu.

Berapa saat kemudian, sipencuri sakti dari selatan Ho Tay hong baru berkata dengan nyaring. "Kim Thi sia, berbicara sebenarnya, bagi kami membebaskan totokan jalan darahmu itu

merupakan suatu pekerjaan yang mudah dan sederhana sekali."

"Tapi kami punyasyarat yang mesti kau sanggupi" sambung si unta dengan cepat.

Mendengar sampai disini, Kim Thi sia segera berpaling kearah Lin lin dan berkata sambil tertawa.

"coba lihat, dugaanku tak salah bukan?"

"Tidak bisa, tidak bisa. " Lin lin segera berteriak dengan suara keras.

"Kenapa?" tanya si unta agak melengak.

"Engkoh Thi sia tak sudi melakukan segala macam perbuatan yang jahat seperti membunuh orang atau membakar rumah."

"Andaikata syarat kami bukan menyuruhnya melakukan perbuatan jahat?" si unta balik bertanya sambil tertawa.

Lin lin jadi tertegun, kemudian sambil berpaling kearah Kim Thi sia katanya: "Kalau soal ini. kalian harus bertanya sendiri kepada engkoh Thi sia."

Si unta segera tertawa tergelak.

"Haaah.....haaah.....haaaah. aku justru tak mau bertanya kepadanya tapi ingin bertanya dulu

kepadamu."

"Hal ini mana boleh?" tanya Lin lin dengan perasaan sangsi.

"Masa kau sendiripun tak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang jelek?" "Tentu saja aku dapat membedakan mana yang baik dan mana yang jelek. "

Si unta segera berpaling kearah Kim Thi sia dan berseru: "Kalau begitu tentu gara-gara kau sikunyuk kecil"

"Hey, kenapa dengan aku?" seru Kim Thi sia tertegun.

"Apakah kau tidak setuju kalau Lin lin yang mewakili dirimu untuk mengambil keputusan?" "Aku sama sekali tidak bermaksud begitu."

Kembali si unta berpaling kearah Lin lin seraya berkata:

"Kalau memang begitu, kau boleh memberikan jawaban untuk mewakili dirinya. "

"Aku rasa hal ini. hal ini kurang baik" ucap Lin lin dengan perasaan serba salah,

"sebab....sebab. "

"Sebab apa?"

"sebab persoalan ini merupakan masalah pribadi engkoh Thi sia"

"Masa antara kalian berduapun masih dibedakan antara kau dan aku?" kata si unta sengaja mengejek.

Dengan perasaan apa boleh buat Kim Thi sia menjawab kemudian:

"Lin lin, biarlah mereka bertanya kepadamu dan yang memberikan jawabannya."

Karena orang yang bersangkutan telah memberikan persetujuannya, Lin linpun segera berkata: "Baiklah, aku bersedia mendengarkan syarat kalian."

"Nona Lin lin, apakah membunuh orang jahat merupakan suatu perbuatan jahat?" "Bukan"

Si unta segera berpaling kearah Kim Thi sia dan^ bertanya pula.

"Hey kunyuk kecil, apakah orang-orang yang tergabung dalam perkumpulan Tay sang pang terhitung orang jahat?"

"Tentu saja orang-orang jahat" sahut Kim Thi sia tanpa berpikir panjang lagi. Kali ini si unta bertanya kepada Lin lin-

"Bila ada orang pergi membunuh kawanan orang jahat dari perkumpulan Tay sang pang, pantaskah bila kita pergi membantunya?"

"Soal ini. " Lin lin jadi tertegun.

Kim Thi sia yang berada disampingnya segera menyambung: "Tentu saja pantas dibantu" "Jadi kau menghendaki engkoh Thi sia memberikan bantuan itu?" tanya Lin lin cepat. si unta

tertawa.

"Tak usah terburu napsu, aku masih ingin mengajukan pertanyaan lagi kepadamu" "Soal apa?"

"Ketua perkumpulan Tay sang pang, Khu It cing telah berhasil mengumpulkan banyak sekali harta kekayaan selama hidupnya. Aku yakin kau tak pernah tahu tentang hal ini bukan?"

"Yaa, aku memang tak tahu" sahut Lin lin agak tertegun.

"Aku tahu" sela Kim Thi sia, "Semua harta kekayaannya itu didapatkan dari cara yang tidak halal."

Si unta segera tertawa, kembali ujarnya kepada Lin lin:

"Pantaskah bila barang-barang yang diperoleh secara tak halal itu dirampas dan dikembalikan lagi kepada rakyat?"

"Ha a, memang pantas."

"Asal kau menganggap pantas saja, ini sudah lebih dari cukup," "Aku tidak memahami maksudmu."

"Aku mempunyai sebuah rencana yang sangat baik." "Apa rencana mu?" tanya Kim Thi sia.

"Pada saat ini wilayah disekitar Kangsiok sedang dilanda kekeringan dan kelaparan. Aku ingin merampok semua harta kekayaan milik Khu It cing itu guna dipakai menolong rakyat jelata yang sedang menderita."

"Sebuah rencana yang amat bagus" seru Lin lin sambil bertepuk tangan memuji. "Itulah sebabnya aku membutuhkan bantuanmu."

"Apa yang bisa kubantu?" Lin lin agak tertegun.

"Setelah kurubah harta kekayaan tersebut menjadi bahan rangsum, kuminta kau bersedia membantu kami untuk membagikan kepada rakyat yang ketimpa bencana alam itu."

Lin lin sama sekali tak mengira kalau si unta bakal memilih dirinya, dengan ragu-ragu ia bertanya:

"Tapi mampukah aku melaksanakan tugas ini?"

"Aku yakin pasti bisa."

Lin lin termenung dan berpikir berapa saat lamanya, kemudian ia bertanya lagi: "Tapi siapa yang mampu merampok harta kekayaan milik ketua perkumpulan Tay sang

pang, Khu It cing itu?"

"Lin lin, kau tak perlu terlalu gelisah, aku telah mengatur segala sesuatunya" kata si unta sambil tertawa.

"Bagaimana caramu mengaturnya?"

"Pencuri ulung dari utara, pencuri sakti dari selatan akan membantu usahaku ini, dan lagi ada bantuan pula dari Kim Thi sia"

"Eeeeg, sedari kapan aku mengatakan bersedia membantu usaha kalian itu. ?" tegur Kim Thi

sia cepat.

"Kau berani ingkar janji?" "Ingkar janji?"

"Sewaktu aku bertanya kepadamu tadi, pantaskah orang-orang Tay sang pang dibunuh, kau mengatakan pantas, dan waktu aku bertanya pantaskah kau membantu, kau bilang pantas. Aaah, masa kau sudah melupakan hal tersebut ?"

"Jika kau belum lupa, sekarang tidak boleh menyangkal lagi."

"Yaa aku memang tidak menyangkal" kata Kim Thi sia dengan perasaan mendongkol.

"Bila suatu persoalan sudah dianggap pantas untuk dilakukan, sebagai seorang lelaki sejati, kau tidak boleh mengingkarinya kembali" kata si unta lebih jauh.

"Eeeeh tua bangka, kau memang pandai bersilat lidah, aku tak mampu mengungguli dirimu." "Bukankah Lin lin pun telah menyanggupi untuk membantu kaum rakyat yang sedang

menderita akibat bencana alam? Apakah kau tetap menolak untuk merampas barang-barang milik

Khu It cing itu?"

"Tapi kita bukan merampas, tapi merampoknya. " teriak Kim Thi sia penasaran-

"Kau tak perlu kuatir, pokoknya aku tak akan menyuruhmu merampoknya barang-barang itu." "Kalau tidak dirampok. memangnya Khu It cing bersedia mempersembahkan harta

kekayaannya itu kepadamu?"

"Tentu saja tidak. tapi kami mendapat laporan pihak perkumpulan cahaya emas telah berangkat keselatan dan bermaksud menumpas habis perkumpulan Tay sang pang"

"oooh, rupanya begitu. "

"Kau tahu bukan dalam perkumpulan cahaya emas terdapat seorang yang bernama Ciu tong kongcu, orang ini berotak cerdas dan berilmu pedang sangat hebat"

"Rasa-rasanya aku sudah pernah bertemu dengan orang ini"
Terima Kasih buat para gan / ganwati yang telah meningglakan opininya di kolom komentar :). Sekarang ada penambahan fitur "Recent comment"yang berada dibawah kolom komentar, singkatnya agan2 dapat melihat komentar terbaru dari pembaca lain dari fitur tersebut. Semoga membantu :).