Lembah Nirmala Jilid 49

 
Jilid 49

"Hmmm" kembali Kim Thi sia berkata sambil mendengus, "Kau telah mendapat budi dan pendidikan dari pihak istana pembesar Kanglam, kaupun diberi kedudukan yang terhormat, besar sekali budi kebaikan yang ia berikan kepadamu, tapi nyatanya kau justru membalas air susu dengan air tuba, engkau manusia keparat yang tak mengenal budi"

Mimpipun si pedang kayu tak mengira kalau Kim Thi sia akan membongkar rahasia kemunafikannya dihadapan orang banyak. kontan saja ia menjadi tak senang hati, katanya Cepat:

"Ayoh katakan, kesalahan apa lagi yang telah kuperbuat?"

Dalam anggapannya Kim Thi sia tak pandai berbicara, sekalipun hendak memaki orang lainpun tak akan mampu banyak bicara, maka dia berusaha menahan diri sebisa mungkin, agar hal tersebut justru membangkitkan amarah si pedang emas sekalian hingga mereka menyerang si pedang emas sekalian hingga mereka menyerang seCara bersama-sama dan menghabisi nyawa Kim Thi sia. Terdengar Kim Thi sia membentak lagi:

"Apa dosa dan kesalahan nona Lin lin terhadap dirimu? Mengapa kau mengancam jiwanya dengan ujung pedang disaat dia berada dalam keadaan tak sadar? Hmm, bukankah tindakan seperti ini membuktikan pula kemunafikan dan kelicikanmu?" Dari malunya si pedang kayu menjadi naik darah ia segera mengancam.

"Hey bocah keparat, bila kau berani banyak cincong lagi, jangan salahkan bila kubacok Lin lin sampai mampus"

Sambil berkata, dia segera mengayunkan pedangnya dansiap melancarkan sebuah bacokan yang mematikan.

Kim Thi sia menjadi sangat gelisah, buru-buru serunya: "Eeeeh tunggu dulu"

Siburung hong Lam Peng yang mengikuti adegan tersebut, tiba-tiba saja merasakan hatinya kecut, serunya cepat:

"Kenapa? Kau merasa sakit hati bukan Kim Thi sia?"

"Aku sih tidak merasa sedih hati" sahut sang pemuda cepat.

Padahal sewaktu melihat pedang si pedang kayu hendak membacok tubuh Lin lin tadi, ia sudah ketakutan setengah mati hingga mandi keringat dingin. Sambil tertawa licik si pedang kayu berkata:

"Hmmm, aku tahu meskipun diluar kau mengatakan tak sakit hati, padahal tubuh sudah gemetar keras."

"Mengapa engkau harus gemetar keras?" teriak Kim Thi sia sambil menahan geramnya.

"Sebab kauamat mencintai Lin lin" kata siburung hong Lam Peng dengan suara lantang. "Sebab kau merasa tak tegamelihat ia mati diujung pedangmu, maka setelah melihat jiwanya terancam bahaya, kau segera berteriak-teriak seperti orang kerasukan setan."

Waktu itu, Kim Thi sia benar-benar merasa amat gelisah, sebagai orang yang polos dan jujur, beleh dibilang ia tak berhasil menemukan sesuatu carapun untuk mengatasi keadaan.

Ia cukup tahu, manusia sebangsa pedang kayu merupakan manusia yang keji dan berhati buas, apa yang telah diucapkan sanggup pula dilaksanakan-

Itu berarti jika ia bersikap kurang hati- hati atau terpengaruh oleh emosi, maka akibatnya akan susah dihayangkan dengan kata-kata.

Maka untuk berapa saat lamanya ia cuma berdiri tertegun dengan perasaan cemas, peluh sebesar kacang kedele bercucuran membasahi seluruh wajahnya. Wajah si pedang kayu kelihatan seram dan mengerikan hati, sambil menatap kearah pedang emas ia bertanya: "Toa suheng, menurut pandanganmu perlukah bagi kita untuk menghabisi nyawa Lin lin Sibudak ingusan ini?"

pedang emas berdiri tegak ditempat semula sambil memandang kelangit, wajahnya nampak amat serius.

Sementara itu siburung hong Lam Peng telah melihat sesuatu yang tak beres, ia segera berkata:

"Jangan kau naik dirinya, saat ini pedang emas sedang memutar otak memikirkan suatu masalah penting yang amat besar"

"Baik, kalau begitu biar kubacok mampus dulu Lin lin" kata si pedang kayu kemudian-Kim Thi sia makin gelisah, buru-buru teriaknya keras: "Eeeeh, tunggu dulu"

"Haaah....haaaah....haaaaah. sungguh tak kusangka ternyata Kim Thi sia adalah seorang

lelaki romantis yang banyak menebarkan benih cinta" jengek siburung hong Lam Pang sinis.

Kim Thi sia tak ambil perduli terhadap sindiran tersebUt, buru-buru katanya lagi:

"pedang kayu, apakah kau benar-benar tak ingin bertahan lebih lanjut digedung pemerintahan Kanglam?"

"Itu urusan pribadiku, lebih baik tak usah kau campuri"

"Kim sauhiap. tak usah berkeras kepala" sela siburung hong Lam Peng lagi. "Aku dapat melihat, bila Lin lin sampai mati, sudah pasti kau akan bersedih hati, malah bisa jadi akan mengakhiri hidupmu sendiri."

Kim Thi sia yang mendengar perkataan tersebut segera tertawa terbahak-bahak. "Hey setan cilik, apa yang kau tertawa kan?" si pedang kayu segera menegur keras.

"Aku sedang mentertawakan ketololanmu, lebih baik janganlah melakukan perbuatan yang bakal merugikan diri sendiri"

"Ngaco belo."

"Ketahuilah pedang kayu, andaikata kau sampai membinasakan Lin lin, maka jangan harap kau bisa tancapkan kaki terus dalam gedung istana pemerintahan Kanglam ini"

"Tapi aku rasa, seandainya kau bersedia menyerahkan pedang Leng gwat kiam kepada kami, bisa jadi dia tak akan membunuh Lin lin" seru burung hong Lam Peng.

"ooooh, rupanya kalian mengincar pedang mestika Leng gwat kiamku. ?"

"Tepat sekali dugaanmu itu."

"pedang tersebut berada ditanganku sekarang, bila menghendakinya, silahkan mencoba merampasnya dari tanganku."

"Hmmm, sekarang juga kami akan merampasnya dari tanganmu" kata si pedang kayu hambar.

Berbicara sampai disitu, dia melirik sekejap kearah si pedang emas.

Waktu itu si pedang emas masih berdiri tak bergerak. keadaannya tidak berbeda seperti pendeta tua yang sedang duduk bersemedi, suasana terasa sangat hening.

Dalam keadaan seperti ini, si pedang emas seolah-olah menganggap orang yang hadir dalam arena sekarang bagaikan rerumputan atau batang kayu.

Sebaliknya para jago yang hadir diarena pun seakan-akan telah melupakan kehadiran si pedang emas disitu.

Dengan suara lantang Kim Thi sia berseru lagi:

"Bila ingin merebut pedang Leng gwat kiam dari tanganku, mengapa tidak kalian pergunakan cara yang jujur dan terbuka?" "Kami toh memintanya secara blak-blakkan, apakah tindakan seperti ini kurang jelas dan terbuka?"

"Hmmm, menyandera orangpun cara yang jujur?"

"Tentu saja, menyandera orang merupakan salah satu tindakan yang jujur dan terbuka." "Kalau begitu tak ada perbuatan yang rendah dan memalukan lagi dikolong langit ini" teriak

Kim Thi sia jengkel.

"Mencuri baru perbuatan yang memalukan, main cinta dimana-mana atau menipu orang lain juga merupakan perbuatan yang memalukan-"

"Oooh, rupanya itulah prinsipmu?"

"Ya, terutama sekali manusia semacam kau, tak setia dalam bercinta dan menipu orang dimana-mana, perbuatan semacam inilah baru merupakan yang memalukan-"

Pada dasarnya Kim Thi sia memang tidakpandai berbicara, setelah menghadapi pemutar balikkan fakta oleh Lam Peng, ia menjadi sangat pusing tujuh keliling dan tak tahu bagaimana mesti berbuat.

Sementara itu si pedang kayu telah mendesak lebih jauh: "Hey orang she Kim, lebih baik kau sedikit tahu diri"

Dalam cemas dan bingungnya mendadak Kim Thi sia teringat kembali dengan sikap yang diambilnya sewaktu menghadapi Dewi Nirmala tempo hari, maka sambil berlagak acuh tak acuh ia segera berkata:

"Hmmm, aku rasa sekalipun pedang leng gwat kiam tidak kuberikan kepada kalianpun tak akan berpengaruh apa- apa denganku." Sedang dihati kecilnya ia berpikir:

"Bagaimanapun juga meski pedang ini kuserahkan kepada mereka, tapi karena lentera hijau berada ditangan si pedang emas, tak mungkin aku bisa menolong Lin lin, alangkah baiknya jika kutunjukkan sikap acuh tak acuh saja, tentu mereka tak akan mengancam diri ku lagi dan untuk berapa saatpun mereka tak bakal mencelakai Lin lin." Berpikir demikian, Kim Thi sia pun mengambil keputusan untuk menyerempet bahaya.

pedang kayu menjadi bertambah sewot lagi melihat sikap lawannya yang acuh tak acuh, segera ancamnya:

"Perduli amat kau mengacuhkan atau tidak, atau kubacok dulu Lin lin sampai mampus" Sembari berkata dia segera menggetarkan pedangnya dan siap membabat leher Lin lin.

Kim Thi sia merasa tak mungkin untuk menolong kekasihnya, cepat-cepat ia melengos kearah lain sambil berteriak:

"Kalau ingin membacok. silahkan saja membacok. toh mati hidup Lin lin tak ada sangkutpautnya denganku."

"ooooh, jadi nyawa Lin lin tak senilai sebilah pedang mestika Leng gwat kiam?" desak siburung hong Lam Peng.

Kim Thi sia amat terdesak. tubuhnya sampai menggigil menahan diri, namun ia mencoba menggigit bibir seraya berkata:

"Biarpun ara seratus orang perempuan semacam Lin linpun tak akan bisa menandingi nilai pedang Leng gwat kiamku ini"

Mendengar perkataan ini, siburung hong Lam Peng segera berkerut kening sambil melototkan matanya bulat-bulat.

Pada saat itulah, kembali si pedang kayu membentak keras:

"Bocah keparat, bila kau memang bernyali coba berpaling dan menengoklah sendiri." Kim Thi sia memang sudah tak tahan untuk berpaling, maka sahutnya segera: "Berpaling yaa berpaling, memangnya aku takut?"

Tapi apa yang kemudian terlihat seketika membuat paras mukanya berubah menjadi pucat pias seperti mayat.

Ternyata diujung pedang si pedang kayu itu sudah ternoda oleh percikan darah segar.

Sementara leher Lin lin sudah terluka, darah segar masih bercucuran keluar dengan derasnya dari mulut luka tersebut, keadaannya kelihatan mengerikan hati.

"Nah bocah keparat, sudah terlihat jelas?" jengek si pedang kayu dengan suara bangga.

Paras muka Kim Thi sia seketika itu berubah menjadi pucat pias bagaikan mayat, untung saja sinar rembulan agak redup sehingga perubahan wajahnya tidak terlihat lawan-

"Tentu saja sudah kulihat dengan jelas." sahutnya sambil berusaha menahan diri. "Kini aku telah merobek tenggorokan Lin lin sedalam setengah inci"

"Bagus, bagus sekali, setengah inci memang merupakan ukuran yang paling ideal" sahut Kim Thi sia sambil memaksakan tertawa^ Dengan serius pedang kayu segera berseru:

"Aku sengaja berbuat demikian dengan maksud memberi jalan mundur untuk mu tapi bila kau tetap tak mau sadar dan berkeras kepala terus. "

"Hmmmm. "

Si burung hong Lam Peng menyambung pula:

"Yaa, kecuali kau memang menghendaki kematian Lin lin. Kalau tidak. lebih baik serahkan pedang Leng gwat kiam tersebut kepada kami."

"Tidak, aku tak akan menyerahkan pedang ini kepada kalian,jangan mimpi disiang hari belong." "sebenarnya apa maksud tujuanmu yang sebenarnya?"

"Sederhana sekali, pedang Leng gwat kiam merupakan benda mestika dari dunia persilatan, sedangkan Lin lin tak lebih hanya seorang wanita."

"Seorang wanita? Apa maksudmu?"

"Didunia ini terdapat banyak sekali kaum wanita."

"Kurang ajar" umpat si pedang kayu dengan gemas. "Bila kau berani bicara sembarangan lagi, jangan salahkan kalau sekali ayunan pedang kubacok mampus perempuan ini."

"Huuuh, paling banter juga mati, apa lagi yang mati toh bukan aku tapi Lin lin, kenapa aku mesti takut?"

"Kau.......kau benar-benar manusia yang tak berperasaan didunia ini " dengan agak terkejut

siburung hong Lam Peng berseru.

Kim Thi sia segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak. menggunakan kesempatan itu kembali dia berpaling kearah lain-

Ia kuatir si pedang kayu menunjukkan kembali sikap garang dan buasnya sehingga membuat ia merasa amat bersedih hati.

Sebaliknya si pedang kayu menjadi mendongkol setengah mati, teriaknya agak sewot: "Baik, kalau toh kau tidak acuh, kenapa aku mesti segan-segan untuk membacok mati

perempuan ini?"

Seraya berkata, pedangnya kembali diayunkan kebawah membabat tubuh Lin lin. Disaat yang amat kritis inilah, mendadak terdengar seseorang membentak keras: "Ampuni selembar jiwanya"

Ketika semua orang berpaling, tampaklah Kek Jin telah munculkan diri disitu dengan langkah tergesa-gesa. "Hey, melihat seluruh badanmU basah kuyup dengan keringat, apa sih yang membuat hatimu risau?"

pedang kayu segera menegur. "Apakah kau. kau sudah gila?" tegur Kek Jin keras- keras.

Perlu diketahui Kek Jin masih termasuk anak buah si pedang kayu, dihari-hari biasa ia selalu bersikap menghormati serta mengiakan semua perkataannya.

Tak disangka sikapnya hari ini berubah sama sekali, bahkan sempat mengumpat si pedang kayu sebagai gila.

Bisa dibayangkan betapa gusarnya si pedang kayu mendengar makian tersebut, segera bentaknya: "Apa kau bilang?"

"Mengapa kau hendak mencelakaijiwa Lin lin?" tegur Kek Jin lagi dengan wajah bersungguh- sungguh .

Sementara itu Kim Thi sia telah berpaling, cepat-cepat dia menyambung:

"Sungguh kebetulan kedatanganmu, hampir saja nyawa Lin lin terbang meninggalkan raganya, mati hidupnya sekarang tergantung pada keputusan si pedang kayu."

"Tidak bagaimanapun juga Lin lin tak boleh dicelakai jiwanya" tukas Kek Jin lagi. Seraya berkata, ia segera berjalan menghampiri si pedang kayu.

"Dari mana kau tahu kalau aku hendak mencelakaijiwa Lin lin?" seru pedang kayu kemudian- "Aku toh bertindak begini sebagai suatu tipu muslihat saja?"

cepat-cepat Kek Jin merebut tubuh Lin lin dari bopongan si pedang kayu, setelah itu baru katanya:

"Bagaimanapun juga jiwa Lin lin tak boleh dianggap sebagai barang permainan"

Dari sakunya dia segera mengeluarkan obat luka serta membubuhi mulut luka Lin lin dengan obat.

Melihat itu, dengan gemas si pedang kayu segera berseru:

"Kek Jin, kau boleh dibilang merupakan manusia paling tolol dikolong langit dewasa ini." Sedangkan Kim Thi sia tertawa terbahak-bahak seraya berseru:

"Haaaah......haaaaah......haaaaah. sedari tadi aku sudah menduga perbuatanku ini hanya

berupa tipu muslihat belaka."

"Siapa yang mengusulkan tipu muslihat ini?" Kek Jin segera menegur.

"Aku" si burung hong Lam Peng menjawab lantang. Kepada si pedang kayu kembali Kek Jin menegur:

"Andaikata benar-benar sampai terjadi sesuatu, bagaimana kau akan memberikan pertanggunganjawabnya? Apakah perbuatan seperti ini bukan merupakan suatu perbuatan tolol?"

"Sudahlah, tak usah dibicarakan lagi" tukas pedang kayu sengit. "Jadi kau menganggap dirimu sebagai manusia paling pintar dikolong langit?"

"Tapi aku toh tidak salah bertindak?" Kek Jin membantah.

"Hmmmm, tahukah kau bahwa perbuatanmu itu telah menggagalkan sebuah rencana besar kita?"

Dengan suara dingin si burung hong Lam Peng menyambung pula:

"Walaupun kita gagal dalam rencana ini, tapi aku berhasil mendapatkan suatu hasil yang diluar dugaan."

"Apa yang telah kau peroleh?" tanya si pedang kayu keheranan.

"Sekarang aku telah mengenali perasaan hati seseorang secara jelas dan nyata." "Perasaan siapa?" tanya Kek Jin pula.

"orang itu berhati keji dan buas bagaikan bisa, kebuasannya boleh dibilang tiada ternyata didunia ini"

Pada saat itulah mendadak terdengar si pedang emas berseru sambil tertawa keras: "Haaah....haaaah bagu sekali, bagus sekali. tak kusangka rupanya begitu"

begitu ucapan tersebut diutarakan keluar, semua yang hadir segera dibikin tertegun dan berdiri melongo.

sebaliknya paras muka siburung hong Lam Peng berubah menjadi pucat kemerah-merahan: "Eeeeei, apa yang kau gelikan?" dengan rasa heran Kim Thi sia segera menegur.

Si pedang emas tidak menjawab, kembali wajahnya berubah menjadi amat serius dan berat sekali.

"Haaaaah, dasar sinting" umpat Kim Thi sia kemudian sambil meludah ketanah.

Si burung hong Lam Peng segera mengangkat kepalanya lagi dan ia menegur dengan marah. "Dasar orang kasar, kenapa sih tanpa sebab musabab kau selalu mencaci maki orang dengan

seenaknya saja?" Kim Thi sia jadi tertegun.

"Aku kan tidak memaki mu, aneh betul kenapa sih kau selalu mencari gara-gara denganku?" "Haaaah.....haaaah.....haaaaah aku merasa tidak leluasa meyakinkan segala tingkah laku

mu" jengek si burung hong sambil tertawa dingin.

Boleh dibilang Kim Thi sia dibuat tak habis mengerti oleh sikap maupun tingkah laku gadis berwajah cantik tapi bermulut tajam ini, dia tak tahu mengapa gadis tersebut selalu mengusiknya.

Setelah termenung sejenak. akhirnya diapun berkata:

"Aku adalah seorang lelaki yang terbuka dan jujur, aku tak ambil perduli kau merasa leluasa atau tidak menyaksikan tingkah polaku."

"Hmmm, tentu saja kau tak acuh, sampai mati hidup teman wanita sendiri yang paling akrab dan intimpun tak ambil perduli apakah perbuatan semacam ini bukan merupakan perbuatan orang kejam yang tidak berperasaan?"

"Itu merupakan urusan pribadiku sendiri kenapa kau mesti turut campur ?" seru Kim Thi sia

jengkel.

Burung hong Lam Peng membenahi rambutnya yang kusut, kemudian menjawab:

"Tentu saja aku tak akan turut campur, tapi aku sudah menaruh perasaan seram dan bergidik terhadapmu"

"Tak menjadi soal, karena selamanya aku Kim Thi sia tak pernah melupakan sahabat sejak aku terjun kedunia persilatan sampai sekarang, kejadian semacam ini belum pernah kualami."

"Haaaah.....haaaaah......haaaaah. benarkah itu?Jadi kau masih ingat dengan orang yang

pernah menempuh perjalanan bersamamu tempo hari? Hmmm. aku rasa kau sudah lama

melupakan dirinya?"

Untuk berapa saat Kim Thi sia tak bisa mengingat kembali siapa yang dimaksudkan, karena itu segera tanyanya: "siapa yang kau maksud kan?"

"Tentu saja kau tak akan teringat kembali, bukankah dihati kecilmu sekarang hanya ada bayangan nona Lin lin seorang?"

"omong kosong, aku tak pernah berbuat salah keapda siapa saja" Kim Thi sia mulai berkerut kening.

Dalampada itu...... Secara tiba-tiba si pedang emas tertawa tergelak lagi, sambil melompat kegirangan teriaknya nyaring:

"Bagus sekali, bagus sekali, akhirnya kau berhasil juga memahami hal tersebut." "Toa suheng, apa yang berhasil kau pahami?" tegur si pedang kayu keheranan.

"pedang kayu, masih ingatkah kau disaat kita masih bersama-sama belajar silat dulu? Setiap pagi, suhupasti melatih diri dibukit belakang, ia selalu melarang kita semua untuk melihatnya?"

"Yaa benar, waktu itu kita selalu menaati perintah suhu dan tidur diatas pembaringan."

"Tapi aku tak pernah berbuat begitu, sering kali aku mencuri lihat dibelakang, sehingga semua ilmu silat yang dilatih suhu secara diam-diam kulatih pula seorang diri siapa tahu akibat perbUatanku itu darah segarku susah beredar dengan lancar hingga nyaris mengalami jalan api menuju neraka. "

"Ilmu silat apaan itu? Apakah ilmu sakti Tay goan sinkang?"

"Betul, memang ilmu Tay goan sinkang" si pedang emas Ko Hong liang menyahut sambil tertawa hambar.

"Kau tidak mendapat petunjuk dari suhu tentu saja setiap saat bisa mengalami keadaan jalan api yang menuju keneraka" timbrung Kim Thi sia dengan suara yakin-

la cukup menyadari akan kehebatan ilmu Tay goan sinkang, barang siapa melatih ilmu tersebut kurang berhati-hati niscaya akan mengalami marabahaya yang membahayakan jiwanya.

Malahan dia sendiripun nyaris mengalami jalan sesat apa bila tidak segera mendapat tuntunan dari gurunya.

Sementara itu si pedang emas telah berkata lebih jauh:

"Tapi semenjak aku mendapatkan pergobatan lewat lentera hijau, semua pikiranku yang tersumbat telah terbuka sama sekali, semua kesulitan yang semula mencekam ku kini sudah tertembus semuanya"

"Kalau begitu kaupun telah berhasil mempelajari ilmu Tay goan sinkang?" tanya Kim Thi sia tertegun.

Si   pedang   emas   segera    tertawa    terbahak-bahak. "Haaaah.....haaaah......haaaaah^. dengarkan baik-baik bocah keparat, sejak kini ilmu Tay

goan sinkang bukan hanya milikmu seorang. "

Rupanya selama ia berdiri termenung disisi arena tadi, pemuda tersebut sedang menggunakan semua kecerdikannya untuk menyaring kembali semua inti sari kepandaian Tay goan yang dlingatnya, dan ternyata ia berhasil memahami semua rahasia kepandaian tersebut bisa dibandingkan betapa gembiranya dia sekarang.

Menggunakan kesempatan itulah siburung hong Lam Peng segera menyela. "Sungguh mengherankan, rupanya kedatangan kita semua ketempat ini seperti hanya

bertujuan untuk cekcok mulut saja"

"Lantas bagaimana menurut pendapatmu?" tanya si pedang emas.

"Bila aku merasa yakin kalau ilmu silat yang kumiliki jauh mengungguli lawan, sedari tadi aku telah turun tangan untuk merampas benda yang kuharapkan."

"Yaa betul toa suheng" sambung si pedang kayu cepat. "Ia sedang memperingatkan kepadamu agar tidak melepaskan bocah keparat she Kim tersebut dengan begitu saja."

"Sudah,jangan ribut dulu" tukas si pedang emas cepat, "Aku cukup memahami persoalan ini, aku akan segera memaksanya untuk menyerahkan pedang Leng gwat kiam tersebut kepadaku" Sambil berkata ia segera berjalan mendekati Kim Thi sia, kini ia merasa yakin dengan kemampuan yang dimilikinya sehingga terhadap kemampuan Kim Thi sia, ia tidak memandang sebelah mata lagi.

"Tunggu dulu" bentak Kim Thi sia tiba-tiba.

"Mau apa lagi kamu?" tegur pedang emas agak melengak.

"Barusan kau mengakui telah berhasil menguasahi ilmu Tay goan sinkang, padahal kepandaian itu memiliki daya kemampuan yang luar biasa, nampaknya kau seperti yakin bisa menangkan aku secara mudah?"

"Tentu saja" sahut si pedang emas bangga.

"oleh sebab itulah tak ada salahnya bila kita berduel dengan mengandalkan ilmu Tay goan sinkang itu?"

"Memang cara tersebut paling baik"

"Seandainya aku yang kalah, aku bersedia menyerahkan pedang Leng gwat kiam itu kepadaku" "Haaaah.....haaaah.....haaaah bukan kau yang berhak menentukan hal tersebut, sebab

bagaimanapun jua, pedang tersebut harus kau serahkan kepadaku." ucap si pedang emas Ko

Hong liang sambil tertawa terbahak-bahak.

"Bagaimana kalau kau yang kalah?" tanya Kim Thi sia lagi.

"Aku tak mungkin kalah" si pedang emas menegaskan dengan nada yang meyakinkan.

"Aku rasa, penemuan yang berhasil kau peroleh tanpa sengaja tentu tak akan terhindar dari segala kebocoran dan kesilafan, terus terang saja aku bilang, diantara kita berdua, masing-masing memegang separuh kemungkinan untuk meraih kemenangan-"

"Itu toh menurut jalan pemikiranmu sendiri."

"Aku tak perduli bagaimana jalan pemikiranmu, tapi kau harus menyebutkan dulu bagaimana tindakanmu seandainya kau yang menderita kalah."

Si pedang emas tidak menjawab pertanyaan itu, dia malah mendongakkan kepalanya dan tertawa keras.

Kembali Kim Thi sia mendesak:

"Bila kau yang menderita kekalahan, maka kau harus memenuhi sebuah syaratku." "Apa syaratmu?" tanya si pedang emas sinis.

"Serahkan lentera hijau kepadaku dan ijinkan aku membawa pergi nona Lin lin dan mengobati lukanya."

"Hmmm, nampaknya kau sedang bermimpi disiang hari belong"

"Berhasil atau tidak^ itu urusanku sendiri." Tiba-tiba siburung hong Lam Peng menimbrung: "Seringkali didalam suatu pertarungan antara jago- jago lihay, menang kalah hanya selisih

sekali, apakah kau berani mengaku kalah bila benar-benar menderita kekalahan nanti?"

Kim Thi sia tertawa nyaring.

"Hmmm, itu mah soal gampang, pokoknya aku tak bakal menyangkal bila terbukti aku memang kalah?"

"Yaa, kalau ngomong sih gampang sekali, tapi kalau sudah sampai waktunya aku takut kau bisa mengingkari janji."

"Begini saja kalau begitu biar kau yang menjadi jurinya?" "Apa kau bilang?" seru Lam Peng tercengang. "Biar kau yang menjadi wasitnya serta menentukan siapa menang dan siapa kalah dalam pertarungan melawan si pedang emas nanti."

"Kau benar-benar percaya kepadaku?" tanya siburung hong sambil tertawa-tawa.

Belum sempat Kim Thi sia memberikan jawabannya, dengan tak sabar si pedang eams telah menukas.

"Nona Lam, kau tak usah menampik lagi"

Dengan langkah pelan siburung hong Lam Peng segera tampilkan diri kedepan diikuti kelima naga dibelakangnya. Si pedang emas segera berkata lagi:

"Setelah menjadi wasit, kuharap nona Lam jangan berat sebelah didalam keputusanmu nanti, berilah keputusan yang jujur dan adil." Sementara berbicara, ia mengerdipkan matanya kepada nona itu.

Padahal siburung hong sudah mempunyai perhitungan sendiri didalam hati kecilnya iapun segera berkata:

"Kalau dilihat dari sebutannya, ilmu Tay goan sinkang, aku pikir pertarungan ini tentu dilangsunkan dengan saling beradu tangan kosong. Nah sekarang kuharap kedua belah pihak sama-sama menjulurkan lengannya bersiap sedia. Disaat aku berteriak mulai nanti kalian boleh mulai melangsungkan pertarungan."

Baik si pedang emas maupun Kim Thi sia segera menuruti perkataannya dan bergerak maju kedepan.

Agar bisa mengikuti jalannya pertarungan dengan lebih seksama, tanpa sadar si pedang kayu maju berapa langkah kemuka.

Sebaliknya Kek Jin kuatir gelombang angin pukulan yang dihasilkan dari pertarungan tersebut akan mencelakai nona Lin lin yang tak sadar, maka cepat-cepat dia membepong gadis itu dan menyingkir kebawah pohon besar.

Ditengah keheningan yang mencekam seluruh arena tiba-tiba terdengar si burung hong Lampeng berseru: "Yaa dimulai"

Sambil berseru dia segera melompat mundur sejauh berapa kaki kebelakang dengan gerakan cepat.

Kim Thi sia dan si pedang emas segera mulai saling menyerang, kedua belah pihak sama-sama mengandalkan ilmu Tay goan sinkang untuk menggepur musuhnya, mereka sama-sama berusaha untuk mendapatkan lentera hijau, dan pedang Leng gwat kiam sekaligus.

Sebab merekapun tahu, barang siapa bisa mendapatkan lentera hijau dan pedang Leng gwat kiam sekaligus, besar kemungkinannya dia akan memimpin dunia persilatan-

Pertarungan inipun merupakan pertarungan yang pertama bagi Kim Thi sia dalam menghadapi musuhnya dengan mempergunakan ilmu Tay goan sinkang.

Tak selang berapa saat kemudian, baik siburung hong Lam Peng, maupun si pedang kayu, Kek Jin serta kelima naga, mereka semua sama-sama mengikuti jalannya pertarungannya yang berlangsung diarena dengan pandangan terkejut dan mulut melongo.

Rupanya si pedang emas dan Kim Thi sia telah berdiri saling berhadapan, mereka berdua sama- sama membungkam dengan wajah serius, sementara sepasang tangannya saling menempel satu sama lainnya secara ketat dan kencang sekali.

Bukan hanya begitu, dari atas ubun-ubun mereka berduapun, mengepul keluar asap putih yang amat tebal.

Melihat adegan ini, diam-diam siburung hong mengeluh.

"Habis sudah riwayat Kim Thi sia kali ini, dia tentu akan kalah secara mengenaskan." "Atas dasar apa kau berkata begitu?" tanya Kek Jin. Si pedang kayu menyela.

"Toa suheng memiliki tenaga dalam yang amat sempurna, bagaimana mungkin Kim Thi sia sanggup menandinginya?"

ooooooo

"Kalau sudah tahu begitu, apa sebabnya Kim Thi sia bersikeras hendak memberi perlawanan?" tanya Kek Jin lagi. "Apakah kau merasa sayang dan kuatir baginya?"

"Seandainya aku menjadi dia, tak nanti akan kulakukan perbuatan bedoh ini, sudah tahu tenaga dalam sendiri bukan tandingan musuh, aneh dia malah mengajak lawannya beradu tenaga dalam, apakah perbuatan semacam ini bukan perbuatan tolol?" Sementara itu Kim Thi sia sendiripun sedang mengeluh.

Sesungguhnya dia sendiripun tidak bermaksud mengajak si pedang emas untuk beradu tenaga dalam.

Rupanya disaat siburung hong Lam Peng menyuruh sepasang tangan mereka saling menempel tadi, si pedang emas telah menggunakan akal licik untuk menjebak pemuda tersebut.

Begitu sepasang tangan mereka saling menempel tadi, si pedang emas segera memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengalirkan tenaga dalamnya untuk menggencet musuh.

Dalam keadaan begini, Kim Thi sia hanya bisa mengeluh didalam hati, sebab tahu-tahu saja dia merasakan datangnya segulung tenaga kekuatan yang menggencet serta menggempurnya .

Bila ia tidak memberi perlawanan dalam keadaan begini, niscaya isi perutnya akan terluka parah, atau bahkan bisa merenggut selembar jiwanya.

berada dalam keadaan apa boleh buat terpaksa Kim Thi sia harus membungkam diri serta melakukan perlawanan dengan menggunakan ilmu Toa kim kong leknya.

Menanti semua orang dapat melihat kejadian tersebut, sesungguhnya mereka berdua sudah cukup lama saling menggempur.

Walaupun banyak ocehan dan pendapat dari para jago yang terdengar oleh Kim Thi sia waktu itu namun keadaannya tak berbeda seperti si bisu empedu, biar kepahitanpun tak mampu mengeluh.

Sebaliknya si pedang emas merasa gembira sekali setelah mendengar pelbagai pendapat itu, sambil tertawa tergelak segera serunya:

"Bocah keparat, kau sendiri yang mencari mampus, hmmm jangan sala h kan bila aku bertindak kejam."

Menggunakan kesempatan itulah Kim Thi sia berjumpalitan secara tiba-tiba kebelakang seperti sebuah bola yang menggelinding.

Padahal si pedang emas sedang menggempur dengan sekuat tenaga, begitu musuhnya mengendor, ia jadi gelagapan hingga nyaris jatuh terjerembab keatas tanah.

Masih untung kepandaian silat yang dimiliki si pedang emas cukup tangguh sehingga secara paksa ia mampu mengendalikan keseimbangan badannya. Sebaliknya keadaan Kim Thi sia waktu itu sungguh mengenaskan sekali.

Secara beruntun dia berjumpalitan sampai belasan kali sebelum akhirnya jauh terduduk diatas lumpur, badannya berubah jadi kotor sekali, keadaannya menggelikan.

"Aduh celaka" tiba-tiba terdengar siburung hong Lam Peng menjerit kaget: "Ada apa?" si pedang kayu menegur dingin.

"Tampaknya Kim Thi sia menguasahi ilmu menyembah Kwan Im" Sebagaimana diketahui, bila sepasang jago sedang beradu tenaga dalam, maka peristiwa tersebut hanya bisa diakhiri bilamana salah satu pihak sudah terluka atau mati. Sebaliknya ilmu menyembah Kwan Im merupakan ilmu peringankan tubuh tingkat tinggi.

Ketika Kim Thi sia berhasil menggunakan kepandaian yang luar biasa untuk meloloskan diri dari gencatan senjata musuh tadi, kejadian tersebut boleh dibilang jarang terjadi dalam dunia persilatan, tak heran bila orang-orang menjadi terperanjat dibuatnya. Si pedang kayu pun dapat menyaksikan peristiwa itu, ia segera berkata:

"Huuuh, apanya yang luar biasa, toh toa suheng masih tetap mampu untuk membinasakan dia."

Dalampada itu si pedang emas Ko Hong liang telah melejit maju kedepan, kemudian sambil mengayunkan telapak tangannya ia melepaskan sebuah bacokan dahsyat kedepan-

Kim Thi sia melejit dengan kecatan, tubuhnya berputar kencang bagaikan putaran roda lalu meluncur kesamping.

si burung hong yang melihat itu, diam-diam berpikir dihatinya:

"orang ini memiliki tenaga dalamnya yang hebat, kemajuan yang dicapai dalam ilmu silatnya benar-benar mengagumkan-" Sementara itu si pedang kayupun sedang berpikir:

"Bila bangsat ini tidak dilenyapkan secepatnya, dikemudian hari dia tentu akan menjadi bibit bencana, itu berarti sebuah ancaman yang berbahaya sekali bagi kami." Dalam pada itu Kim Thi sia telah melayang turun keatas tanah seraya berteriak keras: " pedang emas, kau terlalu kurang ajar, mengapa kau mengingkari janji?"

"Hmm, bukankah kau sedang bertarung dengan menuruti peraturan yang telah ditentukan" "Kau seharusnya bertarung dengan mengandaikan ilmu Tay goan sinkang. ^"

"Kepandaian silat yang kugunakan sekarang tak lain adalah ilmu Tay goan sinkang" sahut pedang emas cepat.

Begitu selesai berkata, ia kembali mendesak maju kedepan, sebuah pukulan yang maha dahsyat dilancarkan ketubuh musuh.

Ternyata jurus serangan yang dipergunakan adalah jurus "kecerdikan menguasahijagad dari ilmu Tay goan sinkang.

Pada dasarnya Kim Thi sia memang tak pandai bicara sehingga biarpun mempunyai alasan yang kuat namun ia tak mampu mengutarakannya keluar.

Sebetulnya dia hendak menegur pedang emas mengapa begitu dimulai musuh telah mengajaknya beradu tenaga dalam.

Tapi tindakan serta desakan si pedang emas kelewat cepat sehingga pada hakekatnya dia tak berkesempatan untuk memberi reaksi.

Hal ini masih ditambah lagi dengan sikap berat sebelah dari Lam Peng sebagai wasit, kesemuanya itu membuat posisinya menjadi sangat tidak menguntungkan. Kim Thi sia merasa amat gusar, darah panas serasa mendidih didalam dadanya.

Maka dikala melihat si pedang emas telah melancarkan serangan lagi, Kim Thi sia pun segan untuk banyak berbicara. Diam-diam pikirnya dihati:

"Baiklah, bertarung yaa bertarung, percuma banyak bicara lagi biar menang kalah yang menentukan Segala Sesuatunya."

Dengan menggunakan jurus yang Sama dia Sambut datangnya serangan musuh itu. sewaktu berhembus datang tenaga serangan dari kedua belah pihak sama-sama tidak

menimbulkan suara. Tapi begitu bertemu maka terjadilah benturan demi benturan meski suara benturan itu kecil sekali.

Sebagai akibat dari benturan- benturan ini kawasan selUas tiga kaki disekeliling tempat itu segera tercekam dalam daya pengaruh tenaga sakti Tay goan sinkang.

Melihat kedahsyatan tersebut, semua jago menjadi tertegun dibuatnya, terutama sekali kelima naga, untuk sesaat mereka sampai saling berpandangan dengan wajah tertegun.

Perlu diketahui, kelima naga itu termasuk anak buah dari si Raja langit berlengan delapan yang berdiam dikawasan Biau, suatu daerah yang jauh dari daratan Tiong goan-

Untuk kawasan Biau dan sekitarnya, kelima orang itu memang mempunyai nama serta reputasi yang luas biasa.

oleh karena selama ini belum pernah menjumpai lawan tandingan yang hebat, selama ini mereka selalu berpendapat bahwa ilmu silat sendiri amat tangguh dan tiada taranya dikolong langit.

Siapa tahu setelah menginjakkan kakinya didaratan Tionggan dan menyaksikan kedahsyatan dari ilmu Tay goan sinkang tersebut, mereka baru sadar bahwa diatas langit masih ada langit, diatas manusia pandai masih ada manusia pandai lainnya.

Dalam pada itu pertarungan antara Kim Thi sia melawan pedang emas sudah mencapai tingkat yang amat sengit.

Kini mereka makin bertarung makin lamban, setiao gerakannya kelihatan amat berat dan ngotot.

Peluh sebesar kacang kedelai pun telah bercucuran membasahi seluruh wajah dan tubuh mereka.

Pada saat inilah mendadak terdengar siburung hong Lam Peng berseru dengan bahasa yang sangat aneh.

Bahasa yang digunakan gadis itu sangat aneh, baik si pedang kayu maupun Kek Jin sama-sama tidak mengerti.

Tapi kelima naga itu segera memencarkan diri menjadi dua rombongan, dua orang diantaranya langsung mendekati Kek Jin.

Belum sempat Kek Jin memberikan reaksinya, tahu-tahu kedua orang tersebut telah merampas Lin lin dari bopongannya.

Kejadian yang sama sekali tak terduga ini kontan saja membuat Kek Jin menjadi kelabakan setengah mati, buru-buru serunya: "Heeeeey......mau apa. mau apa kalian?"

Kedua orang itu tidak menjawab, seorang diantaranya yang berhasil merampas tubuh Lin lin segera melompat mundur kebelakang, sedang rekannya dengan cepat mengeluarkan sebuah ilmu pukulan yang sangat aneh tapi dahsyat, langsung menggempur Kek Jin.

Dalam keadaan tidak siap sama sekali Kek Jin menjadi semakin gelagapan, dia terdesak mundur terus kebelakang.

Dipihak lain, pada rombongan kedua yan terdiri dari tiga orang, saat itu sudah mengambil posisi dan mengepung si pedang kayu.

Menanti salah satu dari lima naga itu berhasil mendesak Kek Jin mundur hingga kesisi si pedang kayu, keempat naga tersebut baru memencarkan diri pada posisi empat penjuru dan mengepung Kek Jin serta si pedang kayu ditengah arena.

Keempay orang itu tidak berbicara apa- apa, namun wajah mereka nampak bangis, sorot matanya memancarkan sinar yang menggidikkan hati^ "Hey, apa- apaan kalian ini?" Kek Jin segera menegur dengan perasaan kesal bercampur menyesaL

sedangkan si pedang kayu membentak penuh amarah:

"Lam Peng, sebenarnya apa maksud tujuanmu?" Sahut siburung hong Lam Peng sambil tertawa dingin.

"Aku rasa, lebih baik kalian berdua jangan sembarangan bergerak."

Bicara sampai disitu kembali dia berkata dengan menggunakan bahasa yang tidak dimengerti.

Lelaki yang menyerobet Lin lin tadi segera mengiakan berulang kali, dengan cepat dia menyandarkan tubuh Lin lin diatas sebatang pohon, kemudian lelaki itu maju kemuka dan menggabungkan diri dengan keempat orang rekannya.

Semua perbuatan dan tingkah laku mereka ini membuat Kek Jin maupun si pedang kayu menjadi tertegun, keheranan dan tidak tahu apa yang mesti diperbuatnya.

Selang berapa saat kemudian-.....

Kelima naga itu sudah membuat posisi pengepungan yang amat ketat, dari depan, belakang, kiri maupun kanan, mereka menempati lima posisi yang berbeda. Dengan suara lantang siburung hong Lam Peng berseru:

"Hey Go yong, orang menyebutmu si pedang kayu, tahukah kau akan perubahan dari barisan ngo heng?"

"Kalau mengerti kenapa? Kalau tidak mengerti kenapa pula?" sahut si pedang kayu dengan kening berkerut.

"Dengan dialek suku Biau aku telah memberitahukan kepada lima naga agar mengurung kalian dengan menggunakan barisan naga beracun ular emas. "

"Hmmmm Aku tahu barisan naga beracun ular emas memang termasuk sebuah barisan yang besar dan hebat, tapi aku takut barisan tersebut belum cukup tangguh untuk mengurungi diriku"

"Kau jangan memandang kelewat rendah kemampuan dari lima naga dari wilayah Biau ini.

Sejak terjunkan diri kedalam dunia persilatan, belum pernah ilmu pukulan naga beracun ular emas mereka menjumpai tandingan. Kau tahu, pendekar besar dari Hong san, Ko An Jin sendiripun pernah dikurung oleh kelima naga tua dari wilayah Biau didalam barisan naga beracun ular emasnya hampir setengah bulan lamanya , kini putra dari kelima naga tersebut muncul pula didaratan Tiong goan setelah melatih diri sekian waktu nah bila kau tetap tak tahu diri serta mencoba untuk melawannya, itu berarti kau sudah bosan hidup terus didunia ini"

Mendengar uraian tersebut, Kek Jin merasa sangat tegang, buru-buru bisiknya kepada si pedang kayu:

"Waduh celaka, jagoan yang begitu lihay seperti pendekar bukit Hong san, Ko AnJ in kena terkurung, apa lagi manusia macam kau dan aku ?"

Si pedang kayu terhitung seorang jagoan yang tinggi hati, ketika mendengar perkataan mana buru-buru bentaknya:

"Benar-benar omong tak karuan, kenapa sih kau mesti merasa bingung dan tegang?" Kemudian dengan suara lantang serunya:

"Sudah cukup lama aku si pedang kayu melakukan perjalanan didalam dunia persilatan, aku tak pernah percaya dengan segala macam tahayul. "

Seraya berkata dia segera meloloskan pedangnya dan melancarkan serangan dengan kecepatan bagaikan sambaran petir.

Serangan tersebut dilancarkan tanpa dibebani perasaan takut barang sedikitpun jua, malahan dengan mengandung kekuatan penuh dia langsung menyergap kelima naga itu. Tampaknya Kek Jin merasa terangsang oleh semangat si pedang kayu yang tinggi serta merta dia meloloskan juga senjata andalan sambil berteriak keras:

"Bagus sekali, akupun akan mencoba kepandaian mereka, aku tak percaya kalau kita berdua bakal dipecundangi oleh beberapa orang kurcaci dari wilayah Biau ini"

Dengan semangat yang berkobar dia segera melancarkan serangkaian bacokan ketubuh musuh.

Kelima naga tersebut sama sekali tak gugup, tampaknya mereka telah mempersiapkan diri secara baik-baik untuk menyambut datangnya serangan dari si pedang kayu serta Kek Jin.

Tanpa gugup barang sedikitpun jua, kelima orang tersebut mulai menggerakkan barisannya melakukan pengepungan.

Tampaknya lima bayangan manusia bergerak kesana kemari, setiap kali bergerak mereka saling mempersempit ruang gerak lawan-

Begitu kuat dan tangguhnya pertahanan mereka, sehingga betapa pun lihay dan gencarnya serangan yang dilancarkan si pedang kayu serta Kek Jin, ternyata tak sebuah seranganpun dari mereka yang berhasil menembusi pertahanan barisan itu.

Sebaliknya si pedang kayu dan Kek Jinpun jangan harap bisa menembusi pertahanan musuh untuk meloloskan diri dari sana.

Dalam waktu singkat, pertarungan sengit telah berlangsung dengan hebatnya disana.

Dalam pada itu, pertarungan antara si pedang emas melawan Kim Thi sia telah mencapai puncaknya, kedua belah pihak sama-sama merasa lelah dan kehabisan tenaga.

Dalam keadaan beginilah siburung hong Lam Peng menampilkan diri menghampiri mereka berdua, kemudian ucapnya:

"Kim Thi sia, keadaanmu sekarang sudah amat berbahaya, tahukah kau akan keadaan tersebut?"

"Saat ini aku masih memiliki sisa tenaga, aku rasa kau pasti akan menderita kekalahan total" sambung si pedang emas Ko Hong liang dengan napas tersengkal.

Kim Thi sia membalikkan telapak tangannya dengan cepat menyongsong serangan musuh, sahutnya gagah:

"Silahkan saja menyerang terus, kecuali aku sudah mampus, kalau tidak. "

Belum selesai perkataan tersebut diutarakan keluar, serangan dari si pedang emas telah menyambar datang, serangan tersebut langsung mengancam jalan darah Leng tay hiatnya.

"Kalau tidak kenapa kau?" jengeknya lebih lanjut.

Kim Thi sia segera menghindarkan diri dengan jurus "angin berhembus menimbulkan reaksi", lalu sahutnya:

"Kalau tidak. aku tak akan bertekuk lutut untuk selamanya"

Sementara kedua orang itu masih melangsungkan pertarungannya yang amat seru, siburung hong Lam Peng telah berkata lagi: "Kim Thi sia, aku bersedia membantumu"

pedang emas yang mendengar seruan tersebut menjadi naik darah buru-buru teriaknya: "Kurang ajar, kau berani menghianati aku."

"Menghianati atau bukan, rasanya bukan urusanmu" jengek siburung hong sambil tertawa.

"Hey, sebetulnya apa maksudmu?" tegur Kim Thi sia pula dengan wajah keheranan- "Maksudku? Dalam sebuah pertempuran, toh tak ada salahnya bila seseorang menggunakan

strategi perang bukan? "

Dengan amat mendongkol si pedang emas berseru: "Kim Thi sia kau jangan mau diperalat olehnya, dia bisa memperalat diriku lagi kemudian menghianati aku, sampai waktunya kaupun bisa diperalat olehnya, dan kemudian dihianati pula olehnya "

Kim Thi sia jadi tertegun dibuatnya, untuk sesaat dia tak tahu apa yang mesti diperbuatnya.

Menggunakan kesempatan disaat pemuda tersebut sedang tertegun, kembali si pedang emas melancarkan gempuran dengan menggunakan jurus "tenaga murni menembusi jagad."

Perlu diketahui, jurus "tenaga murni menembusi jagad" tersebut merupakan sebuah jurus serangan yang paling dahsyat dan keji dalam ilmu Tay goan sinkang.

Agaknya si pedang emas hendak memanfaatkan kesempatan disaat lawannya teledor untuk menghabisi nyawanya dalam serangan tersebut.

Sayang sekali Kim Thi sia bukan orang bedoh, lagi pula sejak kecil ia telah memperoleh didikan yang tinggi dari guru kenamaan.

Dalam kagetnya ia tidak menjadi gugup, cepat-cepat dia mengeluarkan jurus "gaya burung hong menganggukkan kepala" untuk memusnahkan ancaman lawan-

Lalu dengan suatu kecepatan luar biasa dia melancarkan serangan balasan dengan menggunakan jurus "membacok runtuh bukit timur."

sekali lagi kedua orang tersebut terlibat dalam suatu pertarungan yang amat seru.

Burung hong Lam Peng yang menyaksikan peristiwa ini segera tertawa cekikikan, serunya kemudian:

"Kim Thi sia, kau seharusnya dapat berpikir lebih jelas bukan?" Dengan geramnya si pedang emas berseru:

"Perempuan sialan,awas kamu, bila bersua kembali dikemudian hari, itulah saat kematian bagimu"

Si burung hong Lam Peng tidak menanggapi ancaman tersebut, sebaliknya berkata lagi:

"Kim Thi sia , kita tak usah membicarakan soal peraturan persilatan untuk menghadapi manusia semacam si pedang emas "

"Aku mengerti" sahut Kim Thi sia sambil bertarung terus, "Sekalipun kau bersedia menolong ku, itupun disertai dengan syarat bukan?"

"oooh, sudah barang tentu demikian." "Apa syaratmu?"

"Bukankah kau ingin menolong Lin lin?" "Benar."

"Dan kau ingin mendapatkan kembali lentera hijau tersebut dari tangan orang ini?" "Tentu saja."

"Bila kau mengharapkan bantuanku, maka kau jangan berharap bisa mendapatkan kembali lentera hijau tersebut."

"Tapi.....tapi tanpa lentera hijau, bagaimana mungkin aku bisa menolong Lin lin?" seru Kim

Thi sia cemas.

"Soal itu sih tak perlu dikuatirkan, aku mempunyai cara yang lain." Sementara itu si pedang emas telah membentak penuh amarah:

"Hmmm, dasar perempuan, rupanya benakmu cuma dipenuhi dengan segala macam akal busuk." Si burung hong Lam Peng tetap tidak menggubris umpatan tersebut, kembali dia berkata: "Setelah kubantu dirimu untuk mengalahkan si pedang emas. "

"Saat itulah waktu ajalmu telah tiba" sambung si pedang emas segera sebelum Kim Thi sia sempat berbicara.

Si burung hong  Lam  Peng  segera  tertawa  cekikikan. "Haaaah.....haaaaah....haaaaah demi menjaga keseimbangan kekuatan dalam dunia

persilatan, aku tak akan membunuh siapapun diantara kalian berdua."

"Sebenarnya apa yang kau inginkan?" tanya Kim Thi sia. "Aku akan membantumu untuk menyembuhkan Lin lin-"

"Tapi kau akan membawa pergi lentera hijau tersebut, mana mungkin janjimu itu bisa terwujud?"

"Bukan hanya itu saja permintaanku" kata Lam Peng cepat.

"Apakah kau masih ada syarat yang lain?" tanya Kim Thi sia sambil berkerut kening. "oleh karena ilmu silatmu terlalu hebat dan melebihi siapa saja. "

"Apakah kau ingin memusnahkan ilmu silatku?" tanya sang pemuda agak terperanjat. "oooh tidak. aku tak bermaksud begitu?"

"Lantas apa keinginanmu?"

"Asal kau bersedia ditotok jalan darah kakunya saja, itu sudah lebih dari cukup," "Kau hendak menotok jalan darah kaku ku?"

"Yaa, selain itu kaupun harus bersumpah untuk tidak menangis soal lentera hijau lagi kepadaku."

"Aku bukan bermaksud begitu, maksudku tadi. "

"Buat apa sih kau banyak bicara lagi?" sela si pedang emas cob amenghasut. "Saat itu kau pasti akan menjadi seekor anak domba yang siap untuk dijagaL. "

"Apa kau bilang?" seru Kim Thi sia marah. "Kau tak pernah melepaskan setiap kesempatan untuk membinasakan aku. Hmmm, kau anggap aku akan termakan oleh hasutanmu itu?"

Sementara pembicaraan tersebut berlangsung pertarungan masih berjalan terus dengan serunya.

Selama ini si pedang emas masih tetap berusaha untuk membinasakan Kim Thi sia secepat mungkin.

Siapa sangka gara-gara kerakusannya itu, sekarang siburung hong Lam Peng lah yang bakal meraih keuntungan.

Sementara itu siburung hong Lam Peng telah berkata lagi sesudah memutar biji matanya sebentar.

"Kim Thi sia, kau tak perlu cemas, aku sudah memahami maksud hatimu itu" Dengan cepat Kim Thi sia berkata lagi:

"Bagaimanapun juga aku toh tak bisa berada dibukit ini untuk selamanya karena pengaruh totokanmu tersebut. "

"Bukankah kau masih ada nona Lin lin yang akan mendampingimu?" tanya siburung hong dengan perasaan kecut.

"Bagaimana mungkin dia sanggup menolongku?" "Soal itu mah bukan urusanku, pokoknya jawab saja sekarang mau atau tidak kau terima syaratku ini. "

Dalam pada itu, serangan yang dilancarkan si pedang emas kian lama kian bertambah gencar, segenap tenaga yang dimiliki telah dipergunakan, rupanya ia sadar bahwa mengulur waktu lebih lama hanya akan merugikan pihaknya sendiri.

oleh sebab itulah mumpung perjanjian antara kedua orang itu belum terwujud, dia berusaha keras untuk membinasakan lawannya lebih dulu.

Kim Thi sia segera terdesak hebat, dalam waktu singkat keselamatan jiwanya sudah terancam berulang kali. Terdengar siburung hong kembali berseru:

"Ayo cepat beri jawaban, bersedia atau tidak kau menerima syarat yang kuajukan?" Sambil tertawa terbahak-bahak si pedang emas mencoba menghasut lagi:

"Haaaah.....haaaah.....haaaaah Kim Thi sia merupakan seorang jago kenamaan, seorang

lelaki sejati, manusia segagah dia mana mau menuruti bujuk rayu seorang wanita?"

Waktu itu Kim Thi sia benar-benar sudah merasa tak sanggup lagi untuk mempertahankan diri segera serunya:

"Lam Peng mari kita rundingkan persoalan ini secara baik-baik." Burung hong Lam Peng tertawa hambar.

"Bila kau bersikeras tak mau menerima syaratku tadi, terus terang saja aku sendiri pun tak ingin menyalahi si pedang emas lebih jauh."

Selesai berkata, ia segera membalikkan badan dan siap pergi meninggalkan tempat tersebut.

Dalam gelisah dan cemasnya, buru-buru Kim Thi sia berteriak keras "Baiklah Lam Peng, mari kita robehkan si pedang emas lebih dulu"

Mendengar jawaban tersebut, siburung hong Lam Peng menjadi kegirangan setengah mati.