Lembah Nirmala Jilid 46

 
Jilid 46

Tak selang berapa saat kemudian, sipedang kayu baru nampak munculkan diri dengan langkah tergesa-gesa, begitu masuk kedalam kamar, ia segera berseru: "Sute, apakah kau telah bertemu dengan toa suheng?" Dengan mata terbelalak Kim Thi sia menggelengkan kepalanya berulang kali. "Tidak, aku tak bersua dengan suheng"

Pedang kayu segera menghela napas panjang, katanya lagi: "orang yang barusan datang kemari tak lain adalah toa suheng"

"Suheng, kau jangan membohongi aku" teriak Kim Thi sia berang. "Aku bukannya tak pernah bersua dengan toa suheng. "

"Buat apa aku membohongimu?" kata pedang kayu sambil menghentakkan kakinya keatas tanah. "orang itu tak lain adalah sipedang emas yang tulen. "

"Aaaai baiklah, biar kuceritakan keadaan yang sebenarnya kepadamu. "

^^ooo

Pedang emas mengajak pedang perak. pedang kayu, pedang air dan putri Kim huan menuju kesuatu tempat yang sangat rahasia, disitulah tiba-tiba terlintas suatu pemikiran yang sangat aneh didalam benaknya.

Pemikiran yang sangat aneh ini membuat sipedang emas tertawa terkekeh-kekeh tanpa disadari.

Dengan perasaan tertegun bercampur keheranan putri Kim huan segera berpaling seraya menegur:

"Pedang emas, apa yang kau tertawakan?"

"Apa urusanmu dengan gelak tertawaku?" sahut pedang emas sambil menarik muka. Putri Kim huan agak tertegun, kemudian katanya lagi:

"Aku hanya merasa keheranan, mengapa kau harus bersikap begitu dingin dan menyeramkan- " "Kau tak usah berlagak sok dihadapanku" ujar sipedang emas dengan wajah serius.

"Dihadapanku kau bukan putri akan permaisuri, pokoknya setelah mengikuti aku, lebih baik jangan banyak bicara. "

Saat itulah pedang kayu berkata lirih kepada putri Kim huan:

"Tabiat toa suheng kami memang sangat aneh, lebih baik kau jangan mencari gara-gara dengannya. "

Putri Kim huan sangat tak puas dengan keadaan itu, tak tahan dia menggerutu lagi: "Aku hanya menganggap gelak tertawanya tidak pada tempat, bukankah sipedang perak

saudara seperguruan kalian? Kini dia menderita luka yang begitu parah, jiwanya tak mungkin bisa diselamatkan sebagai orang yang berperasaan mengapa dia malah tertawa dalam keadaan begini."

Belum habis perkataan itu diutarakan, dengan marah sipedang emas telah berkata:

"IHmmm, kau hanya tahu berkentut, seandainya aku tidak menguatirkan keselamatan pedang perak. mengapa aku gunakan "lentera hijau" untuk menyembuhkan lukanya?"

Putri Kim huan jadi tertegun dan terbungkam. Terdengar sipedang emas kembali berkata: "Putri Kim huan, lentera hijau memiliki kasiat yang luar biasa sekali, aku yakin tak sampai

setengah jam kemudian, luka yang diderita sipedang perak telah sembuh kembali."

Waktu itu sipedang kayu telah meletakkan "lentera hijau" diatas tubuh pedang perak, kalau semula tubuh pedang perak basah oleh darah yang menguncur keluar tiada hentinya, maka dalam waktu singkat aliran darah tersebut telah terhenti semua. Menyusul kemudian kelihatan tubuh pedang perak mulai bergerak.

Pedang air sebagai orang yang berperasaan paling baik diantara sembilan pedang segera kegirangan setelah melihat kejadian itu, serunya tak tertahan: "Lentera hijau benar-benar merupakan benda mestika dari dunia persilatan, kelihatannya jiwa pedang perak bakal tertolong, haaah...haaah...haaah..."

"Apa yang kau tertawakan" mendadak pedang emas membentak. "Sekalipun pedang perak dapat sembuh kembali, apa yang perlu kau girangkan?"

Sekalipun kata-kata itu tanpa alasan, namun pedang air segera terbungkam dalam seribu bahasa, sekalipun dia masih ingin berbicara sesuatu, terpaksa kata-kata itu ditelan kembali kedalam perut.

Sementara itu sipedang emas mulai tertawa, ia tak mengira lentera hijau memiliki kasiat yang begitu dahsyat sehingga seseorang yang hampir tewas pun dapat disembuhkan kembali.

Tanpa terasa dia teringat pula dengan wajah sendiri yang rusak dan buruk akibat perbuatan suhunya dulu. Bila lentera hijau tersebut dapat digunakan untuk menyembuhkan wajahnya yang jelek. bukankah dia akan mendapatkan kembali ketampanannya seperti dulu?

Sementara itu sipedang emas telah berpaling kembali kearah putri Kim huan dan menatapnya lekat-lekat.

Merah padam selembar wajah putri Kim huan ketika ditatap seperti itu, dengan mulut cemberut serunya:

"Pedang emas, sekalipun kain kerudung wajahmu menutupi selembar wajahmu hingga aku tak tahu perubahan perasaanmu sekarang tapi. "

Berbicara sampai disitu, ia menundukkan kepalanya lagi rendah-rendah.

Sebetulnya sipedang air hendak mengucapkan berapa patah kata untuk mencegah putri Kim huan membangkitkan amarah pedang emas tapi sebelum ia sempat berbicara, pedang emas telah berkata:

"Hey tuan putri, apakah kau ingin melihat wajahku?" Putri Kim huan tertawa hambar. "Aku tak usah melihat wajahmu, sebab dari sepasang matamu itu dapat menebak jalan

pikiranmu"

"oya? Lantas apa yang berhasil kau lihat dari balik mataku itu?"

"Yang berada dibalik matamu, semuanya hanya kesesatan dan kejahatan- "

"Kesesatan? Bagus sekali, aku memang seorang manusia sesat yang banyak melakukan kejahatan-"

Pelan-pelan putri Kim huan mengalihkan pandangan matanya ketempat kejauhan, kemudian katanya lebih jauh:

"Kau bukan seorang manusia sesat, aku pernah mendengar ayah Baginda berkata disaat seseorang merasa bahwa dirinya berdosa, maka orang itu bukan orang yang berdosa lagi."

"Kenapa? "tanya pedang emas keheranan

"Sebab disaat dia merasa dirinya berdosa berarti dia telah mengakui dosanya, manusia, dia pasti akan berusaha menghindarkan perbuatan dosa untuk mencari kebajikan."

Padahal dia sendiripun tidak tahu apa sebabnya kata-kata seprti itu bisa meluncur keluar dari mulutnya, tapi putri Kim huan merasa kata-kata tadi seperti melompat keluar dari mulutnya secara spontan. Dengan gemas pedang emas segera mendengus. "Hmmm, dasar pendapat seorang perempuan" Tiba-tiba putri Kim huan berseru lagi:

"Hmmm, akupun tahu apa yang sedang kau pikirkan sekarang?" "Kau tahu apa yang sedang kupikirkan?"

Dalam mendongkolnya putri Kim huan segera berseru: "Hmmm, yang kaupikirkan semuanya adalah perbuatan-perbuatan cabul yang kotor" Kali ini pedang emas tertawa tergelak.

"Haaaah.....haaaah.....haaaaah......betul memang itulah tabiatku yang sebenarnya. cabul

Haaaah.....haaaah memang kau tepat menebak watakku, sebab kau sendiripun orang cabul

hanya orang cabul yang memahami jalan pemikiranku. Terus terang saku bilang aku ingin makan dirimu"

Pada saat inilah mendadak sipedang kayu berkata kepada pedang emas:

"Toa suheng, menurut pendapatku meski luka bacokan yang diderita pedang perak sudah disembuhkan oleh lentera hijau namun kerusakan tenaga dalamnya masih cukup memusingkan kepala "

"Yaa betul" sipedang air segera menyambung. "Aku rasa luka dari suheng tak bisa disembuhkan sama sekali dengan lentera hijau."

Untuk berapa saat lamanya suasana menjadi hening, semua orang tak tahu bagaimana mesti menanggapi perkataan itu.

Akhirnya dengan perkataan agak terbata-bata, sipedang air berkata:

"Toa suheng, aku rasa...... untuk menyembuhkan luka yang begitu parah dari suheng maka

dia mesti ditolong oleh seseorang yang memiliki tenaga dalam sempurna....... kalau tidak........

sekalipun kita bisa menyembuhkan lukanya dengan mengandalkan lentera hijau.....tapi dia dia

tetap akan cacad seumur hidup, ilmu silatnya tetap akan musnah."

"Ehmmmm, ucapanmu memang benar" pedang emas manggut-manggut sambil berjalan kian kemari. "coba lanjutkan kata-katamu itu." Pedang air berkata lebih jauh:

"Dari sembilan orang bersaudara banyak diantara kita telah tewas. Sekarang yang tersisapun tinggal tak seberapa, bila suheng sampai lumpuh, hal ini pasti mempengaruhi kekuatan kita dikemudian hari. "

Setelah berhenti lagi untuk menukar napas, terusnya lebih jauh:

"Aku kuatir bila keadaan seperti ini dibiarkan berlangsung terus, pandangan umat persilatan terhadap sembilan pedang akan mengalami perubahan yang besar, mungkin merka tak akan takut lagi kepada kita. Lagipula Kim Thi sia yang baru munculkan diri itu akan semakin tenar dimana- mana.

"Yaa betul" pedang kayu segera menimpali. "Kim Thi sia pasti akan bertambah angkuh dan meraja rela dimana-mana."

Mendadak pedang emas berhenti berjalan, teriaknya keras-keras:

"Huuuh, manusia macam apakah Kim Thi sia itu, seorang bocah ingusan kemarin sore. Kenapa mesti kita takuti?"

Pedang air dan pedang kayu segera saling bertukar pandangan tanpa berkata-kata. Kembali pedang emas berkata:

"Tapi aku memang setuju untuk menyembuhkan pedang perak selekasnya, sebab persoalan ini amat penting buat kita"

Sementara pembicaraan berlangsung, terdengar sipedang perak mulai merintih kesakitan-

Tentu saja hal ini merupakan gejala baik, karena dengan merintih kesakitan berarti pedang perak telah mendapatkan kembali perasaannya. Pedang air segera berkata:

"Toa suheng, berbicara menurut keadaan saat ini, walaupun tempat kita ini terletak sangat rahasia tapi aku kuatir akan segera ditemukan oleh para begundalnya Dewi Nirmala"

"Kalau ditemukan lantas kenapa?"

"Aku takut pertemuan itu bakal mengobarkan kembali suatu pertarungan yang amat seru" "Yaa betul" putri Kim huan menimpali. "Jika sampai terjadi pertarungan sengit, siapa yang akan mengurusi pedang perak? Bukankah riwayat hidupnya bakal kiamat?"

"Sungguh aneh"jengek pedang emas kemudian- "Kenapa sih kau menaruh perhatian yang begitu besar terhadap pedang perak. Jangan-jangan "

"Hmmm, ngaco belo tak karuan" bentak putri Kim huan sengit. "Kau jangan menilai seorang kuncu dengan pandangan sempit seorang manusia kurcaci " Pedang emas tertawa terbahak-

bahak.

"Haaaah......haaaaah......haaaaah. maaf, maaf, rupanya kau masih terhitung seorang lelaki

sejati?"

Merah padam selembar wajah putri Kim huan dibuatnya, kembali ia berseru dengan sengit: "Aku toh cuma bicara seadanya, mau menolong sipedang perak atau tidak, itu mah urusan

kalian sendiri, apa sangkut pautnya dengan diriku?"

"Tapi sipedang perak terhitung seorang lelaki jantan juga" seru sipedang emas dengan suara dalam.

"Huuuh, dasar manusia cabul" umpat sigadis.

Sipedang air dan pedang kayu yang mendengar umpatan tersebut sama-sama tertegun dibuatnya. Mereka menduga sipedang emas pasti tak senang hati dan akan mengumbar hawa amarahnya.

Ternyata dugaan mereka melesat sama sekali tidak menjadi gusar oleh umpatan tersebut sebaliknya malah tertawa cengar cengir belaka.

"Sesungguhnya apa yang telah terjadi?"

Rupanya tanpa disadari sipedang emas telah jatuh cinta kepada putri Kim huan-

Memang begitulah kalau manusia sedang dimabuk cinta. Sekalipun putri Kim huan memakinya sebagai manusia "cabul" dihadapan orang banyak. lagi bagi pendengaran pedang emas, umpatan tersebut justru amat sedap didengar.

Sementara itu pedang perak telah menggeliat sambil mengingau terus dengan suara lemah. Melihat itu, pedang emas segera berkata:

"Aaaai, bila ditinjau dari keadaan sipedang perak sekarang, tampaknya bila tiada seseorang yang bertenaga dalam sempurna membantunya, tak mungkin kesehatan tubuhnya dapat pulih kembali dalam waktu singkat, persoalannya sekarang kemana kita harus mencari orang yang bertenaga dalam amat sempurna. ?" Pedang air dan pedang kayu serentak berseru:

"Didalam kolong langit dimasa ini, rasanya hanya toako seorang yang memiliki tenaga dalam paling sempurna."

"Jadi maksudmu, kau berharap aku menolong pedang perak dengan menggunakan tenaga dalamku?" tanya pedang emas seraya berpaling kearah pedang kayu.

"Tentu saja begitu" dengan cepat pedang air manggut-manggut.

"Bagaimana dengan dirimu?" tanya pedang emas lagi sambil berpaling kearah pedang kayu. "Apakah kaupun berpendapat demikian?"

Pedang kayu tak bisa meraba jalan pemikiran pedang emas, terpaksa dla mengangguk juga. "Yaa benar"

Mendadak pedang emas mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak. suaranya keras menusuk pendengaran.

Seperminum teh kemudian ia baru berhenti tertawa, lalu sambil menuding kearah pedang air danpedang kayu, serunya: "Bagus sekali, rupanya kalian dua manusia busukpun sedang menyusun rencana untuk mengerjai diriku?"

Untuk berapa saat lamanya pedang air dan pedang kayu cuma saling berpandangan saja, mereka ingin mengucapkan sesuatu, namun tak tahu apa yang mesti dikatakan. Terdengar sipedang emas berkata lagi:

"Tapi kalian coba pikir kembali, seandainya para utusan dari Lembah Nirmala menyerbu datang secara tiba-tiba, siapakah yang akan melawan mereka. ?"

Seandainya dihari biasa, pedang air dan pedang kayu tentu akan menuruti adatnya dengan berteriak begini:

"Apa yang mesti ditakuti, tentara datang menyerang kita cegat, air bah datang kita bendung, apa yang mesti kita takuti semua?"

Tapi berada dihadapan dipedang air dan pedang kayu tak berani mengucapkan perkataan seperti ini.

oleh sebab itulah mereka terbungkam dalam seribu bahasa dan untuk sesaat lamanya hanya bisa saling berpandangan belaka.

Sementara itu terdengar sipedang emas berkata lagi:

"Padahal menurut keadaannya saat ini, luka yang diderita sipedang perak bukannya masalah yang dapat ditunda lagi "

Belum selesai perkataan itu diutarakan sipedang air telah menimbrung dengan cepat: "Itulah sebabnya kami jadi teringat akan toa suheng, dengan kesempurnaan tenaga dalam

yang kau miliki. "

"Hmmm, kentut anjingmu" teriak sipedang emas sewot.

"Tapi aku berbicara sejujurnya " seru pedang air sedikit agak ketakutan-

"Berbicara sejujurnya, kaulah yang seharusnya mengeluarkan tenaga untuk membantu sipedang perak"

"Aku?" pedang air tertegun-

"Yaabetul, memang kau" pedang emas menegaskan-Saat itulah putri Kim huan menimbrung: "Pedang kayu, kaupun seorang jagoan kenamaan, apakah kaupun berniat untuk pekerjaan

mulia ini?"

Pedang emaspun segera memerintahkan:

"Pedang air, cepat pergunakan ilmu Siaut cut thian kui goan tong hian hoat mu untuk membantu abang seperguruanmu "

Begitu perintah dikeluarkan, paras muka pedang air segera berubah sangat hebat.

Seperti diketahui, ilmu yang dimaksudkan abang seperguruannya adalah sejenis ilmu tenaga dalam yang sering kali dipakai untuk membantu orang lain menembusi dua jalan darah penting ditubuh manusia.

Tapi cara tersebut paling banyak menghabiskan tenaga dalam biasanya apabila sudah digunakan maka tenaga dalamnya akan menderita kerusakan hampir sepuluh tahun hasil latihan-

Dengan keadaan seperti ini siapakah yang bersedia mengorbankan tenaga latihannya selama sepuluh tahun untuk menolong orang lain?

Tentu saja kecuali orang tersebut adalah ayah atau ibu kandungnya sendiri.

Untuk berapa saat lamanya sipedang air sendiri termangu-mangu dengan mulut membungkam, dia tak tahu apa yang mesti dikatakannya sekarang. Terdengar sipedang emas berkata lagi: "Pedang air, apakah kau sudah mendengar perintahku?" Terpaksa pedang air menyahut: "Sudah mendengar"

"Kalau toh sudah mendengar, mengapa masih belum kau lakukan?"

Tanpa terasa pedang air berpaling kearah pedang kayu, dia berharap pedang kayu bisa mengucapkan sepatah dua patah kata, sehingga dia terlepas dari kesulitan tersebut.

Tapi pedang kayu hanya menolongakkan kepalanya memandang ketempat lain, ia membungkam dalam seribu bahasa.

Dalam keadaan begini terpaksa pedang air merengek.

"Toa suheng, biarlah kita mengurut jalan darahnya menggunakan tenaga panas, toh kita tak perlu terburu napsu."

"Kentut busuk. cara semacam itu membutuhkan waktu selama tiga hari, siapa yang kemudian berdiam hampir tiga hari lamanya ditempat seperti setan ini. "

"Tapi....tapi. " suara sipedang air kedengaran sangat gemetar keras.

"Kurang ajar" pedang emas mulai marah.

"Memangnya kau belum pernah mempelajari ilmu Kui goan tong hian hoat tersebut." Begitu ucapan tersebut diutarakan, sipedang air menjadi kegirangan setengah mati. Dengan cepat dia menyahut: "Yaa betul, aku memang tak bisa." Pedang emas segera mendengus dingin.

"Baiklah, kalau memang kau tidak bisa, biar ku ajarkan cara tersebut kepadamu"

"Pedang air" sipedang kayu segera menimbrung. "Mengapa kau tidak segera menyembah toa suheng dan mengucapkan terima kasih kepadanya karena mewariskan kepandaian sakti itu kepadamu?"

Padahal sipedang air sebagai seorang jago kenamaan, tentu saja dapat menggunakan ilmu Lui thian tong goan hiat hoat tersebut. Hanya saja ia sengaja mengatakan tak bisa agar terhindar dari tugas yang sangat berat itu.

Tapi urusan telah berkembang menjadi begini, hal mana membuatnya kehabisan daya dan apa boleh buat.

Sambil tertawa kering buru-buru pedang air maju berlutut dan berkata dengan sikap yang seolah-olah serius.

"Terima kasih toa suheng, atas pelajaran yang akan kau wariskan kepadaku." Tanpa sungkan-sungkan lagi pedang emas segera berseru:

"cepat bangkit berdiri, mendekati pedang perak. pegang jalan darah pada pergelangan tangannya, Ngo khi kui sim, Lo song siau goan "

Dalam keadaan begini terpaksa pedang air harus melaksanakan perintah kakak seperguruannya itu, tapi perasaan hatinya dibuat terkejut juga setelah mendengar perkataan tersebut, tiba-tiba serunya:

"Toa suheng, kenapa kau suruh aku menggunakan cara "lo song tiau goan- tersebut? bukankah hal ini sama artinya dengan mengurangi masa hidupku didunia ini?" Pedang emas sama sekali tidak menggubris, kembali dia melanjutkan-"Hian thian oh tee, Pat piau ji sim."

Ternyata yang diwariskan kepada sipedang air waktu itu hampir semuanya merupakan cara menyalurkan tenaga dalam yang paling merusak kekuatan inti sendiri serta merugikan usia hidup pribadi.

Pedang air benar-benar mengeluh dihati namun tak berani membantah diluar, terpaksa dia harus menuruti semua perintah tersebut.

Bagi putri Kim huan yang menyaksikan semua kejadian tersebut, mungkin saja dia tak merasakan sesuatu keistimewaan atau keanehan- Tapi bagi sipedang kayu, dia justru terbelalak dibuatnya dengan hati terkesiap dan jantung berdebar keras:

sementara itu pedang emas masih mengoceh tiada hentinya, makin bicara suaranya semakin nyaring.

Sedangkan sipedang air menggetarkan tangannya berulang kali menuruti semua petunjuk yang diberikan abang seperguruannya itu.

Makin cepat pedang emas berbicara, semakin cepat pula gerakan yang dilakukan pedang air. Sampai pada akhirnya, bukan saja putri Kim huan tak melihat bayangan tubuh sipedang air,

sekalipun bayangan tubuh pedang perakpun sudah tertutup oleh bayangan badan pedang air.

Mendadak terdengar suara jeritan kesakitan yang amat keras.

Bersamaan itu juga terdengar suara bentakan keras dari pedang emas dan teriakan kesakitan yang muncul dari mulut pedang air.

Pedang kayu yang menyaksikan adegan tersebut selain merasa girang, diapun menghela napas panjang.

ia bergembira karena melalui cara pengobatan semacam itu, kesehatan badan pedang perak akan segera pulih kembali seperti sedia kala.

Dia menghela napas karena sejak peristiwa tersebut, sipedang air telah ditakdirkan akan kehilangan usianya hampir belasan tahun lamanya.

Selain itu, bila sipedang air bertindak kurang hati-hati, niscaya dia akan hidup dalam keadaan cacad mental dan cacad badan-Dalam pada itu, sipedang emas telah membentak keras: "Berhenti"

Tiba-tiba saja tampak pedang air terjatuh keatas tanah dengan mandi keringat, napasnya tersengkal-sengkal dan mukanya pucat pias bagaikan mayat. sebaliknya sipedang perak tertidur bagaikan bayi tidur tanpa bergerak sedikitpun jua.

Dengan air mata bercucuran pedang kayu segera melangkah maju mendekatinya lalu berbisik: "Wahai pedang perak. untung sekali pedang kayu bersedia untuk berkorban demi

menyelamatkan jiwamu "

Sedangkan putri Kim huan berebut maju mendekati pedang air dan memeluknya erat-erat sambil berbisik:

"Pedang air, bagaimana keadaanmu sekarang?"

Menghadapi pelukan sigadis cantik ini, pedang air jadi terbelalak dan napasnya semakin memburu.

"Pedang air, kau terlalu lelah. " kembali putri Kim huan berpikir lembut. Pedang air

memaksakan diri untuk tersenyum sambil mengiakan.

"coba kau lihat" kembali putri kim huan berbisik. "Sekujur badanmu basah oleh keringat, seperti baru tercebur kedalam air kolam saja." Baru selesai kata-kata tersebut diutarakan pedang emas telah berteriak keras: "Tuan putri, kemari kau. Mau apa kau?"

Dengan suara lembut pedang emas berkata:

"Kemarilah kau, ada urusan penting hendak kubicarakan dengan dirimu." Terpaksa putri Kim huan bangkit berdiri dan berjalan menghampirinya.

Tapi setelah gadis itu tiba dihadapannya, ternyata tiada sesuatu apapun yang dikatakan pedang emas.

Dalam keadaan begini terpaksa gadis itu mengambil tempat duduk dan duduk dengan kesal disitu. Setelah duduk sejenak. putri Kim huan baru berkata lagi: "Apakah kau hanya menyuruh aku duduk disampingmu?"

"Benar" pedang emas mengangguk.

Putri Kim huan segera berkerut kening, tapi mulutnya membungkam dalam seribu bahasa.

Pedang emas segera berseru pula kepada pedang kayu. "Pedang kayu, kaupun kemarilah." Tentu saja pedang kayu tak berani membantah perintah itu.

Untuk berapa saat lamanya mereka bertiga duduk bersama, sampai lama sekali tak seorangpun yang berkata-kata.

Lama kelamaan habis sudah kesabaran putri Kim bhuan, mendadak serunya dengan sengit: "Pedang emas, sebenarnya apa maksud tujuanmu?"

Pedang emas membungkam diri, sipedang kayupun tak berani mengucapkan sesuatu, suasana tetap hening dan sepi.

Senja sudah menjelang tiba, namun suasana tetap hening dan tak terdengar suara apapun. Putri Kim huan benar-benar tak mampu menahan sabar lagi, teriaknya kembali secara tiba-tiba. "Pedang emas, sebenarnya apa maksudmu?"

Pedang emas tetap membungkam dia malah pejamkan mata dan mengatur pernapasan-Tentu saja pedang kayu tak berani membantah perintah itu.

Untuk berapa saat lamanya mereka bertiga duduk bersama, sampai lama sekali tak seorangpun yang berkata-kata.

Lama kelamaan habis sudah kesabaran putri Kim huan, mendadak serunya dengan sengit: "Pedang emas, sebenarnya apa maksud tujuanmu?"

Pedang emas membungkam diri, sipedang kayupun tak berani mengucapkan sesuatu, suasana tetap hening dan sepi.

senja sudah menjelang tiba, namun suasana tetap hening dan tak terdengar suara apapun. Putri Kim huan benar-benar tak mampu menahan sabar lagi, teriaknya kembali secara tiba-tiba. "Pedang emas, sebenarnya apa maksudmu?"

Pedang emas tetap membungkam dia malah pejamkan mata dan mengatur pernapasan-

Ketika menengok kearah pedang kayu, ternyata orang itupun sedang duduk bersemedi tanpa bergerak.

melihat itu putri Kim huan segera berseru dengan sengitnya:

"Hey pedang emas, kalau kau tak bicara lagi, bila ada orang masuk ketempat ini." "Tuan putri, kau takut?" sela pedang emas.

"Aku tak takut, hanya. "

"Apa yang kau pikirkan?"

"Aku pikir, bila ada orang lewat disini, mereka tentu akan mengira kalau kita. "

"Mengira apa?"

"Mereka akan mengira aku serta pedang kayu sedang belajar ilmu semedi darimu."

Begitu perkataan tersebut diutarakan, pedang emas dan pedang kayu menjadi kegelian hingga tertawa terbahak-bahak. ^

Terutama sekali pedang emas, dia tertawa sampai terpingkal-pingkal. Terdengar putri Kim huan berkata lagi: "Aaaaah, kalian hanya tahu tertawa, tak seorangpun diantara kalian yang menggubris pedang perak maupun pedang air."

"Siapa bilang kami tidak menggubris? Bukankah pedang perak telah memperoleh pertolongan, sekarang dia butuh beristirahat secukupnya, buat apa kita mesti mengganggu ketenangannya? "

"Bagaimana dengan pedang air?"

"Pedang airpun membutuhkan ketenangan untuk memulihkan kembali kekuatan tubuh dimilikinya."

"Dia nampak begitu kelelahan, mengapa kau tidak pergi menghibur hatinya, agar dia merasa sedikit terhibur."

Waktu itu sipedang air tetap merintih dan mengeluh kesakitan, kelihatan sekali kalau dia amat tersiksa.

"Dia tak boleh dihibur" tampik pedang emas. "Kenapa?"

"Sebab bila dia berani berbicara dengan orang lain dalam keadaan seperti ini, berarti dia akan kehilangan usianya dengan lima tahun lagi."

"Aaaah " putri Kim huan menjerit kaget. "Dia sudah kehilangan usianya hampir sepuluh

tahun, bila ditambah lima tahun lagi, bukankah menjadi lima belas tahun?"

"Yaa, begitulah keadaan yang sebenarnya itulah sebabnya dia tak boleh diganggu sekarang." "Aku benar-benar tidak habis mengerti" kata putri Kim huan setelah termenung sebentar. "Apanya yang tak mengerti?" kata pedang kayu. "Seandainya pedang air bisa hidup sampai usia

delapan puluh lima tahun, maka sekarang dia hanya bisa hidup sampai usia tujuh puluh lima tahun."

"Benar-benar tak kusangka kalau persoalan demikian serius dan gawatnya."

"Apakah kau senang melihat pedang air cuma bisa hidup sampai usia tujuh puluh tahun?" ancam pedang emas.

"Antara dia dengan aku sama sekali tiada jalinan permusuhan atau sakit hati apapun, kenapa aku mesti memperpendek usia hidupnya?"

"oleh sebab itulah kau tak boleh mendekatinya, tak boleh mengajaknya berbicara untuk sementara waktu "

Putri Kim huan segera memandang sekejap kearah pedang emas dengan pandangan mendalam, kemudian serunya:

"Sungguh tak kusangka kau adalah seorang yang baik hati." Pedang emas tertawa dingin. "Hmmmm. bukankah kau menuduhku sebagai seorang manusia rendahan yang cabul?"

Ternyata sindiran tersebut tidak mendatangkan reaksi apapun, putri Kim huan hanya tertawa saja.

Pedang emas segera berkata lagi:

"Tuan putri, apabila kau menyukai sipedang air, aku bisa memerintahkan kepadanya. "

Siapa tahu belum selesai perkataan itu diutarakan, putri Kim huan telah berteriak keras: "Kentut busukmu"

"Ya a, bau sekali kentutmu. " pedang emas menimpali.

Pedang kayu tak tahan untuk ikut tertawa pula, selanya: "Belum pernah kujumpai toa suheng menunjukkan kegembiraan seperti hari ini. Tuan putri, kau seharusnya mengerti."

"Pedang kayu, kau tak ada sangkut pautnya dengan persoalan ini, lebih baik kau tak usah banyak bicara" tiba-tiba pedang emas berseru.

"Baik......baik. " buru-buru pedang kayu mengiakan.

Sementara itu putri Kim huan telah berkata lagi:

"Seandainya ada orang hendak mencari pedang air untuk diajak berkelahi, apa yang akan terjadi dengannya?"

"Seandainya benar-benar terjadi peristiwa semacam ini. Hmmm, anggap saja nasibnya memang lagi sial" kata pedang emas dengan wajah bersungguh-sungguh.

"Apakah dia akan mati?"

"Sekalipun dia tak akan mati terbunuh ditangan lawan, dalam kehidupan selanjutnya pedang air pasti akan menjadi setan penyakitan yang lemah dan hingga mati tetap sengsara. tapi apa

maksudmu bertanya begini?"

"Aaaah, aku hanya bertanya seadanya saja." Mendadak terdengar pedang kayu berseru:

"Aduh celaka, ada orang yang menemukan jejak kita ditempat ini"

"Yaa betul" sahut pedang emas sambil meraba gagang pedangnya. "Aku lihat orang itu memiliki ilmu meringankan tubuh yang sangat lihay kita tak boleh memandang enteng dirinya"

sementara itu "lentera hijau" masih berada diatas kepala pedang perak, ketika pedang kayu menyaksikan hal tersebut, diapun segera berbisik: "Toa suheng, perlukah kita ambil kembali lentera hijau?"

Baru saja sipedang emas hendak pergi mengambilnya, tiba-tiba muncul seorang gadis muda yang cantik sekali bak bidadari dari khayangan menghampiri tempat tersebut.

Gadis cantik itu muncul dengan pedang terhunus, begitu melihat lentera hijau, ia segera berteriak kaget:

"Aaaaah. bukankah benda itu lentera hijau, benda mestika dari dunia persilatan?"

Sesaat kemudian kembali muncul seorang kakek berambut putih, dengan wajah berseri dia segera berteriak pula:

"Benar-benar tak kusangka benda yang kucari kemana-mana tak berhasil ditemukan, akhirnya kutemukan disini dengan tanpa sengaja. Anak Kian, cepat ambil benda itu"

Begitu perkataan tersebut diutarakan gadis cantik tersebut benar-benar berjalan mendekati pedang perak dan siap mengambil lentera hijau tersebut.

sejak munculkan diri hingga detik itu, ternyata dua orang tamu yang tak diundang itu sama sekali tak menggubris akan kehadiran orang-orang lain disitu seakan-akan mereka sama sekali tak memandang sebelah matapun terhadap orang-orang itu.

Pedang emas menjadi mencak-mencak kegusaran, dengan suara keras bagaikan guntur ia membentak. "Tunggu dulu"

Sambil membentak dia segera menerobos maju kedepan menggunakan gerakan bintang lewat mengejar rembulan-

Dalam waktu singkat ia telah tiba disisi pedang perak dan merebut kembali lentera hijau tersebut.

Gadis cantik itu kedengaran berseru tertahan lalu serunya:

"Sungguh tak kusangka kau memiliki ilmu gerakan tubuh yang begitu indah dan luar biasa" Pedang emas hanya mendengus dingin tanpa memberikan tanggapan apapun jua. Sebaliknya sipedang kayu segera mengumpat: "Budak ingusan, besar amat bacotmu"

"Hey anjing keparat" teriak sikakek berambut putih itu mendadak. "Selama hidup belum pernah kusebut putriku sebagai budak ingusan, tampaknya kau sudah bosan hidup?"

ooooooooo

Pedang kayu segera tertawa terbahak-bahak, sikapnya sinis dan memandang hina. Kakek berambut putih itu segera berseru lagi:

"Anak Kian, bocah keparat itu sangat kurang ajar, coba beri tiga kali tempelengan keras pada mulutnya"

Gadis cantik yang biasa dipanggil "Anak Kian", itu segera mengiakan dan berjalan menghampiri pedang kayu.

Nampaknya dia benar-benar bermaksud memberi hadiah tiga kali tamparan keras diwajahnya, tentu saja pedang kayu tidak membiarkan musuhnya berbuat sekehendak hati sendiri.

Melihat gerak maju sinona yang begitu mantap dan tegas, mau tak mau pedang kayu berpikir juga.

"Maknya, dua orang ayah beranak ini tangguh sombong dan takabur, aku harus bersikap lebih berhati-hati."

Berpikir demikian, diapun segera berseru:

"Budak ingusan, apakah kau mempunyai kemampuan tersebut? Baiklah, jika kau mampu menampar mulutku tiga kali. "

sementara berbicara sampai disitu, gadis cantik itu telah tiba dihadapannya dan siap menampar, karena itu terpaksa dia harus menghentikan pula kata-katanya.

"Ayoh lanjutkan perkataanmu, kau bermaksud untuk berbuat apa?"jengek kakek berambut putih itu.

Sambil mendengus dingin, pedang kayu segera berseru:

"Sejak hari ini, biarlah namaku sipedang kayu ditulis orang secara terbalik"

"oooh, rupanya kau adalah pedang kayu, anak murid Malaikat pedang berbaju perlente" kata sikakek berambut putih itu sambil tertawa.

"Betul"

"Bagus, bagus sekali"

Sementara itu meskipun sipedang emas tidak ikut berbicara namun dari samping arena secara diam-diam dia awasi terus gerak gerik musuhnya.

Ia segera menyimpulkan bahwa ayah dan anak berdua ini memiliki tenaga dalam yang amat sempurna, jelas ilmu silat yang mereka milikipun luar biasa hebatnya.

sementara itu, kakek berambut putih tersebut telah berkata lagi kepada gadis cantik itu. "Anak Kian, dengan dasar kepandaian yang dia miliki, yakinkah kau untuk bisa menampar

mulutnya tiga kali."

Dalam perkiraan pedang kayu semula, setelah ayah beranak dua orang itu mengetahui identitas dirinya yang sebetulnya, mereka tentu akan takut atau paling tidak tak berani memandang akan menampar mulutnya.

Siapa sangka apa yang diduganya semula ternyata meleset sama sekali. Terdengar gadis cantik itu menyahut sambil tertawa:

"Tak usah kuatir ayah, bila putrimu berniat menampar pipi kirinya, tak nanti aku akan salah menampar pipi kanannya" Dengan bergemanya ucapan mana, bukan saja sipedang emas dan mulai dicekam rasa gusar yang meluap-luap.

"Baik" seru pedang kayu kemudian, "Aku akan berdiri disini budak cilik, akan kulihat sampai dimanakah taraf kemampuanmu"

Dengan memperkokoh kuda-kudanya dia sengaja menjulurkan kepalanya kemuka siap menantikan tamparan lawan-

Biarpun ia bersikap demikian, sesungguhnya secara diam-diam ia telah mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Dengan sorot mata yang tajam dia awasi terus gerak gerik sinona itu tanpa berkedip.

Apabila gadis cantik itu turun tangan menamparnya, maka pedang kayu telah bersiap sedia membabat tubuhnya hingga kutung. Mendadak terdengar pedang emas berteriak keras:

"Pedang emas tak perlu sungkan-sungkan lagi terhadapnya, ia begitu memandang hina kita semua, bunuh saja tanpa ampun."

"Tentu saja" sahut pedang kayu dengan bersemangat. "Budak cilik ini tak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi. Aku mesti memberi ganjaran yang setimpal kepadanya."

Dalam pada itu Kiau ji telah mengalihkan pedangnya ketangan kiri, kemudian teriaknya nyaring.

"Nah, berhati-hatilah sekarang, akan kugunakan tangan kananku untuk menampar pipi kirimu"

Belum selesai perkataan itu diutarakan, tubuh Kian ji telah berkelebat lewat kemuka dengan kecepatan luar biasa.

"Plaaaaakkk. "

Tahu-tahu saja bunyi tamparan keras telah bergema memecahkan keheningan-Terdengar kakek berambut putih itu berseru sambil tertawa terbahak-bahak:

"Haaaaah.....haaaaah......haaaaah bagus sekali tamparanmu kali ini selain cepat pun amat

cekatan-"

Sebaliknya paras muka pedang emas berubah sangat hebat, dia sama sekali tak mengira kalau musuhnya memiliki kecepatan gerak tubuh yang begitu luar biasa hebatnya.

Pedang kayu yang kena ditampar tergetar mundur sampai beberapa langkah jauhnya dari posisi semula, wajahnya telah berubah pucat bercampur semu merah. Sambil tertawa dan mempermainkan kuncirnya, Kian Ji segera menjengek:

"Nah, bagaimana hasil tamparanku ini pedang kayu? Bukankah aku boleh menulis namamu secara terbalik sekarang?"

Pedang kayu benar-benar berdiri kaku ditempat semula. Rasa malu, menyesal, kesal, mendongkol dan gusar bercampur aduk menjadi satu dalam perasaannya sekarang. Putri Kim huan yang selama ini membungkam, mendadak berseru:

"Tidak bisa, kalian telah berjanji dengan tiga kali tamparan, sekarang kau baru satu kali tamparan-"

"Kalau begitu akan kutampar dua kali lagi pipinya, dengan begitu jumlahnya akan menjadi tiga" sahut Kian Ji ringan.

Berbicara sampai disitu, tiba-tiba saja dia segera mendesak maju kemuka dengan kecepatan tinggi.

"Hati-hati" teriak pedang emas cepat. "Gerakan tubuh yang digunakan budak ini adalah ilmu langkah tanpa bayangan pembingung sukma"

Pedang kayu mengiakan, buru-buru dia sambut datangnya terjangan musuh dengan ayunan pedang. Berbicara seharusnya, dengan kemampuan pedang kayu sekarang, tidak sepantasnya kalau ia sampai kena tertampar oleh Kian Ji sebab bagaimanapun jua dia masih terhitung seorang jagoan tangguh dari dunia persilatan-

Tapi sayang pedang kayu terlalu memandang rendah kemampuan musuhnya, sehingga sifat memandang entengnya membuat ia kurang sigap dan waspada.

Tapi sekarang rasa memandang rendah musuhnya telah hilang sama sekali, ia telah menghadapi musuhnya secara bersungguh-sungguh. Sudah barang tentu Kian Ji tak bisa memenuhi pengharapannya secara gampang. Sementara itu sipedang emas telah berseru lagi:

"Pedang kayu, cepat pergunakan ilmu pedang awan guntur untuk melancarkan serangan dengan gencar"

Perlu diketahui, ilmu pedang awan guntur merupakan salah satu ilmu simpanan dari Malaikat pedang berbaju perlente, kelihayannya luar biasa.

Dalam waktu singkat berkobarlah suatu pertarungan yang amat sengit ditengah arena.  "Anak Kian" kedengaran kakek berambut putih itu memberi petunjuk. "cepat kau pergunakan

jurus naga marah menembusi langit untuk meloloskan pedangmu, lalu gunakan ilmu pedang ular

emas untuk mengancam batok kepalanya."

Kian Ji segera menuruti petunjuk itu, dibawah kepungan cahaya emas dari pedang kayu, tubuh gadis tersebut melejit keudara dengan kecepatan luar biasa.

Berada diudara, Kian Ji berjumpalitan beberapa kali dengan pelbagai gaya, menggunakan kesempatan tersebut dia meloloskan pedangnya dari dalam sarung.

Pedang kayu tak berani berayal, ia menerjang maju kemuka dengan menggunakan jurus "Bunga berguguran putik bertumbangan."

Tapi sayang gerakan tubuh Kian ji jauh lebih cepat. tiba-tiba saja terjadi benturan yang amat keras. "Traaaaangggg. "

Ditengah dentingan nyaring yang bergema terdengar Kian Ji berseru dengan keras: "Ayah, bolehkah kupenggal batok kepalanya?"

"Tentu saja boleh" sahut sikakek.

Maka pertarunganpun kembali berkobar dengan sengitnya.

Dipihak lain, kemarahan sipedang emas sudah mencapai pada puncaknya dengan suara keras dia membentak:

"Tua bangka celaka, sebetulnya apa maksud tujuanmu?"

"Aku menghendaki lentera hijau" jawab sikakek terang-terangan- Kontan saja pedang emas tertawa dingin tiada hentinya.

"Heeeeeh......heeeeeh......heeeeeh. aku lihat kau belum mempunyai kemampuan yang

cukup untuk berbuat begitu"

"Haaaaah.....haaaaah kau tahu, waktu itu Ko Anjin sendiripun pernah menderita kekalahan

sebanyak tiga jurus ditanganku, sekarang kau baru berhasil mempelajari kulitnya saja dari Malaikat pedang berbaju perlente, tapi nyatanya lagakmu luar biasa" Perlu diketahui, Ko Anjin yang dimaksud adalah ayah kandung sipedang emas.

Mendengar perkataan mana, pedang emas menggertak giginya kencang-kencang menahan emosi, serunya kemudian-

"Rupanya kau sitelur busuk tua masih punya perselisihan dengan ayahku?" "Ko Hong liang, kepandaian apa sih yang kau miliki?" jengek kakek berambut putih itu. "Apa itu pedang emas? IHuuuuh, kalau hendak digunakan untuk menakut-nakuti seorang bocah cilik mah pantas, tapi kalau untuk mengancam diriku? Waaaah, masih ketinggalan jauh."

Rupanya nama asli sipedang emas adalah Ko Hong liang, teguran secara langsung itu semakin mengobarkan hawa amarahnya. Terdengar kakek berambut putih itu berkata lagi: "Ko Hong liang, ayoh cepat serahkan lentera hijau itu kepadaku"

Didalam gusarnya pedang emas segera mengerahkan lentera hijau ketangan putri Kim huan, lalu serunya:

"Hey tua bangka celaka, sekarang juga akan kuserahkan lentera hijau ini kepada putri Kim huan."

"oooh, rupanya kau masih mempunyai pendukung yang tangguh?" kata sikakek sambil mengelus jenggotnya dan tertawa.

Dalam pada itu putri Kim huan telah menerima lentera hijau itu seraya berseru: "Hey, mana boleh jadi, aku tak sanggup melindungi benda mestika tersebut."

Untuk berapa saat lamanya gadis itu kebingungan setengah mati dan tak tahu apa yang mestu diperbuat.

Sambil tertawa dingin pedang emas segera berseru:

"Aku toh berada disampingmu, siapa yang berani merebut lentera hijau itu dari tanganmu?" "Siapa lagi? Tentu saja aku" sambung sikakek sambil tertawa terkekeh-kekeh suaranya sangat

aneh.

"Bagus sekali" dengus pedang emas. "Asal kau memiliki kemampuan tersebut, tentu saja lentera hijau akan kuserahkan kepadamu"

"Kalau begitu, aku akan segera merebutnya"

Dengan suatu gerakan cepat pedang emas menghadang dimuka gadis tersebut, lalu katanya: "Tua bangka celaka, sebelum kau berhasil merampas benda tersebut, coba melangkahi dulu

mayatku"

"Haaaah.....haaaaah^.....haaaaaah. kalau itu mah gampang sekali"

Seraya tertawa tergelak. selangkah demi selangkah kakek berambut putih itu maju mendekat. "Tua bangka celaka" kembali pedang emas membentak. "Tahukah kau, siapa yang berdiri

dihadapanmu sekarang?"

"Hey pedang emas Ko Hong liang, buat apa sih kau berkaok-kaok terus macam kera kepanasan-"

"Kalau sudah tahu, mengapa kau tidak segera meloloskan senjata andalanmu itu?"

Dibelakang punggung sikakek tersoren sepasang senjata poan koanpit,jelas benda itu merupakan senjata andalannya, tapi kakek itu sama sekali tidak mencabutnya keluar.

Pedang emas segera menganggap tindakan musuh sebagai suatu penghinaan terhadapnya, dengan geram ia berseru:

"Tua bangka busuk. bila kau enggan mencabut keluar senjatamu, jangan menyesal kalau mati konyol nanti."

"Haaaah.....haaaah......haaaaah. untuk menghadapi manusia seperti kau, kenapa aku mesti

mempergunakan senjata andalanku?"

Sikapnya amat angkuh dan sama sekali tak memandang sebelah mata pun terhadap lawannya. Putri Kim huanpun turut tertegun sehabis mendengar perkataan itu, diam-diam pikirnya: "Kalau dibilang siapakah manusia paling latah dikolong langit dewasa ini, rasanya orang tersebut adalah kakek ini, ia betul-betul sombong dan takabur" Sementara itu kakek berambut putih tadi telah berkata lagi:

"Ko Hong liang, kau jangan kuatir, asal aku betul-betul tak sanggup menghadapi dirimu nanti, aku akan pergunakan senjata. Nah cabutlah pedangmu sekarang."

Sebagai seorang jago kenamaan, sudah barang tentu pedang emas enggan menunjukkan kelemahannya dihadapan orang lain, dengan cepat dia menyarungkan kembali pedangnya, kemudian berkata:

"Baiklah, jika kau tak pergunakan senjata akupun tak akan menggunakan pedang ku." "Hey, kalau pedang mu tak dipergunakan jangan menyesal bila sampai mampus diujung

telapak tanganku nanti"

Berbicara sampai disitu, kedua belah pihak sama-sama mulai bergerak menuju kedepan.

Gerakan tubuh mereka berdua sama-sama diluar dengan kecepatan luar biasa dalam waktu singkat mereka telah terlibat dalam suatu pertarungan yang amat seru.

Suatu ketika sepasang telapak tangan mereka saling beradu satu sama lainnya tanpa menggerakkan posisi semula, dan hal ini dilanjutkan dengan gerakan saling menggempur. Berapa saat kemudian seluruh badan pedang emas sudah basah kuyup oleh keringat.

Begitu pula keadaan sikakek berambut putih itu, badannya basah kuyup bagaikan baru tercebur kedalam air.

sementara tanah yang mereka injak pun kian lama melesat kian kedalam dari sini dapat dibayangkan petapa serunya pertarungan adu jiwa yang berlangsung saat itu.

Dalam pada itu pertarungan antara pedang kayu dengan Kian Ji pun berlangsung tak kalah serunya:

Sesudah bertempur seperminum teh lamanya dengan cepat pedang kayu menemukan bahwa jurus serangan yang digunakan Kian Ji meski sangat hebat dan luar biasa namun tenaga dalam yang dimilikinya amat bersahaja.

Berhasil menemukan titik kelemahan itu pedang kayu segera memanfaatkan dengan sebaik- baiknya.

Kian Ji bukan orang bodoh, dengan cepat diapun berhasil menebak jalan pemikiran lawannya, serta merta dia mengandaikan kelincahan dan kegesitan tubuhnya untuk bergerak kian kemari.

Makin bertarung pedang kayu semakin gemas karena usahanya tak pernah berhasil seperti yang dlinginkan, akhirnya sambil bertarung dia mengumpat tiada hentinya. Suatu ketika, tiba-tiba pedang kayu berpikir:

"Jika aku tak berhasil membunuh sibudak ingusan, dan merobek mulutmu yang kotor, aku bersumpah tak akan hidup sebagai manusia dikemudian hari "

Begitu amarahnya makin berkobar, tanpa disadari dia semakin terperangkap oleh jebakan Kian

Ji.

Rupanya Kian Ji memang bermaksud hendak membangkitkan hawa amarah lawannya sebab

dengan berkobarnya amarah musuh, berarti kekuatan serangannya akan bertambah mengendor.

Mendadak terdengar suara ledakan keras yang amat memekikkan telinga bergema memecahkan keheningan-

Rupanya pertarungan antara sipedang emas dengan kakek berambut putih itu sudah mencapai pad a puncaknya, dua kekuatan yang saling beradu menimbulkan ledakan yang amat dahsyat. Pasir dan debu berguguran dimana-mana, bukan saja seluruh badan pedang emas berpelepotan lumpur, bahkan kakek berambut putih itupun menjadi mengenaskan sekali keadaannya, baik badan maupun jenggot putihnya penuh dengan pasir dan tanah.

"Hey tua bangka" seru pedang emas kemudian- "Pertarungan semacam ini benar-benar memantapkan hati bukan?" Kakek itu tertawa tergelak.

"Haaaaah.......haaaaah.......haaaaaah Ko Hong liang, ilmu Tay jiu eng hoatmu memang

benar-benar luar biasa hebatnya"

"Hey tua bangka celaka, kau tak usah banyak bicara lagi, bagaimanapun juga ilmuku masih seimbang dengan ilmu pukulan Tui mo jiu mu bukan?"

Mendengar perkataan tersebut berubah hebat paras muka sikakek berambut putih itu dia sama sekali tak mengira kalau musuhnya dapat mengenali ilmu pukulan andalannya secara tepat.

Setelah menghela napas panjang, akhirnya kakek itu mengeluh: "Aaaai, dasar sudah tua, dasar sudah tua. "

"Bagaimana? Sekarang kau harus meloloskan senjata andalanmu bukan?" jengek sipedang emas lagi.

"Kau anggap ilmu pedangmu memiliki kemampuan yang luar biasa?"

"Tentu saja,aku justru akan menyuruh kau rasakan kehebatan ilmu pedang tangan kiriku" Pelan-pelan kakek berambut putih itu meloloskan senjata poan koan pitnya lalu bergumam: "Sudah lama sekali aku tak pernah menggunakan sepasang penaku ini. "

"Oleh sebab itu kau pasti akan teledor dengan latihanmu dan aku percaya kau bukan tandinganku lagi."

"Aaaah, belum tentu begitu"

Meski berkata begini, namun ia sudah tak berani memandang enteng kemampuan lawannya lagi.

Dalam pada itu pedang emas pun telah meloloskan dan melepaskan sebuah serangan gencar kedepan.

Kakek berambut putih itu sama sekali tak menjadi gugup, dengan cekatan dia menggetarkan senjata poan koan pitnya lalu melancarkan bacokan balasan-Pertarungan sengitpun berkobar dengan serunya.

Dalam pada itu, pedang perak masih belum sembuh sama sekali, dia tetap tertidur dengan nyenyaknya.

Sebaliknya pedang air telah sadar kembali sepasang matanya sedang mengawasi kearena tanpa berkedip.

Walaupun dia melihat bagaimana sipedang kayu terdesak hebat dan saban kali menghadapi ancaman bahaya maut, tapi sayang kekuatan tubuhnya sudah banyak menderita kerugian hingga ia tak berani maju kemuka untuk memberikan bantuannya. Putri Kim huan yang melihat kejadian ini kontan saja berseru:

"Hey pedang air, bagaimanapun jua pedang kayu adalah sesama saudara seperguruanmu.

Apakah kau hanya akan berpeluk tangan belaka membiarkan saudaramu dibunuh orang?" Ucapan mana dengan cepat membangkitkan kembali semangat didalam dada pedang air.

Tanpa memikirkan resikonya lagi, pedang air segera melompat bangun, meloloskan pedangnya dan langsung membacok tubuh Kian Ji.

Dengan ikut sertanya pedang air didalam pertarungan ini, keadaan situasi perta runganpun segera mengalami perubahan besar. Pedang kayupun merasakan semangatnya berkobar kembali, serangan demi serangan segera dilancarkan makin bersemangat dan bertenaga.

Dibawah gencetan sipedang kayu dan pedang air yang hebat, pelan-pelan keadaan Kian Ji makin terdesak. Posisinya makin terjepit dan keselamatan jiwanya berada diujung tanduk.

Tak selang berapa saat kemudian tiba-tiba terdengar Kian Ji menjerit kesakitan lalu roboh terjungkal keatas tanah dengan tubuh berlumuran darah.

Kasihan gadis yang cantik jelita itu, jiwanya segera melayang meninggalkan raganya.

Melihat putri kesayangannya tewas, kakek berambut putih itu menjadi amat gusar, teriaknya keras-keras:

"Bocah keparat, aku bersumpah akan mencincang tubuh kalian berdua hingga hancur berkeping- keping . "

Sayang sekali serangan demi serangan yang dilancarkan pedang emas dengan ilmu tangan kirinya terlampau cepat dan luar biasa, sehingga untuk berapa saat kakek berambut putih sama sekali tak mampu bergeser dari kedudukannya semula.

Belum lagi kakek berambut putih itu sempat menyerang pedang kayu dan pedang air, sebaliknya kedua orang lawan tangguhnya ini telah menyerbu masuk kearena pertarungan dan mengerubutinya dari empat penjuru.

Dengan demikian, kakek berambut putih itu harus menghadapi serbuan dari tiga orang musuhnya sekaligus.

Mendadak terdengar pedang emas berteriak:

"Kalian tak usah membantu aku, ayoh cepat mundur."

Padahal perkataan itu hanya diucapkan untuk melindungi dirinya dari rasa malu, sebab yang benar dia memang sangat mengharapkan bantuan dari pedang kayu danpedang air.

Bagaimanapun jua kepandaian silat mereka berimbang, ini berarti tanpa bantuan dari kedua orang saudara seperguruannya mustahil baginya untuk bisa meraih kemenangan-

sementara itu sikakek berambut putih itu paling benci terhadap pedang kayu, sebab dengan mata kepala sendiri dia menyaksikan bagaimana sipedang kayu membunuh putrinya.

oleh sebab itu begitu pedang kayu terjunkan diri kedalam arena pertarungan, ia segera mengalihkan seluruh serangannya ketubuh pedang kayu.

Jalan darah Hu tiong hiat merupakanjalan darah penting yang mematikan, saat itu sikakek telah memusatkan perhatiannya untuk menghajar jalan darah itu ditubuh pedang kayu dengan senjatanya.

Bisa dibayangkan, andaikata jalan darah tersebut sampai terhajar, niscaya selembar jiwa pedang kayu akan melayang.

Namun pedang kayu sama sekali tak gentar, dengan memutar pedangnya menggunakan jurus sukma gentayangan dalam neraka, dia sambut datangnya ancaman tersebut. "Traaaaannnggggg. "

sepasang senjata saling beradu menimbulkan suara benturan yang amat nyaring.

Akibat dari bentrokan tersebut, tubuh sipedang kayu tergetar mundur sejauh beberapa langkah dari posisi semula.

Tapi pada saat itu pula sipedang emas dengan jurus "delapan penjuru angin berhembus" langsung melepaskan ancaman maut ketubuh kakek berambut putih itu.

Serangan itu datangnya sangat cepat dan sama sekali diluar dugaan menanti kakek berambut putih itu menyadari akan datangnya ancaman, ia tak sempat lagi untuk berkelit kesamping.