Lembah Nirmala Jilid 45

 
Jilid 45

Dengan langkah lebar dia maju beberapa tindak kemuka, lalu serunya lantang: "Hey tua b angka, kita telah berjumpa lagi"

Siapa tahu si unta sama sekali tidak menggubris, malahan suara dengkurannya makin lama semakin bertambah nyaring.

Mendongkol juga perasaan melihat lagak musuhnya, dengan gemas dia menginjak kaki si unta keras-keras, kemudian serunya:

"Hey si tua bangka, aku sedang menunggumu disini, mengapa kau tidak segera bangun untuk berbicara?"

Biarpun sudah diinjak kakinya keras-keras, namun si unta masih mendengkur dengan kerasnya.

Melihat lagak lawannya ini, habis sudah kesabaran, dia segera mengayunkan telapak tangannya dan siap melancarkan pukulan-Pada saat itulah si unta baru melompat bangun dan berteriak:

"Hey kunyuk kecil, mau apa kau kemari? Apakah ingin berebut dagangan dengan abangmu?" Melihat dia sudah bangun, sambil menahan diri berkata:

"Hey tua bangka, aku menantimu bangun dari tidur untuk diajak berangkat bersama." "Hey bocah keparat, siapa yang mengutusmu kemari untuk menungguku? Aku harus

membunuhnya sekarang juga."

Tapi secara tiba-tiba dia menghentikan pembicaraannya kemudian berseru pelan-"Hey jangan berisik dulu, ada orang datang kemari"

Secara lamat-lamat pun mendengar suara derap kaki kuda yang bergema datang dari kejauhan sana.

dalam waktu singkat rombongan manusia berkuda itu sudah berada didepan mata. Mendadak terdengar si unta berteriak lagi: "Aduh celaka, aku salah melihat orang"

dalam waktu singkat belasan ekor kuda jempolan itu sudah berada didepan mata, berada dalam keadaan begini tak sempat lagi buat kedua orang itu untuk melarikan diri. Si unta segera berteriak lagi:

"Kim Thi sia berada disini, kenapa kalian sukma-sukma gentayangan tidak segera turun dari kuda?"

Sebetulnya rombongan itu sudah hampir melintas lewat dari situ, tapi begitu mendengar teriakan dari si unta, separuh dari rombongan itu serentak menghentikan lari kudanya dan melompat turun dari kuda masing-masing.

Sebelum Kim Thi sia sempat melihat dengan cepat siapa gerangan yang datang, si unta telah berbisik:

"Hey bocah keparat, coba bantulah aku menahan serbuan mereka, kawanan cecunguk pencabut nyawa itu telah berdatangan semua."

Dengan cepat Kim Thi sia membalikkan tubuhnya, kini dihadapannya telah berdiri tujuh, delapan orang lelaki kekar berbaju hijau.

Terdengar salah seorang diantara mereka berteriak keras: "Kim Thi sia, kau hendak kabur kemana lagi?"

Sementara pembicaraan masih berlangsung, deruan angin pukulan telah dilontarkan ketubuh siunta serta Kim Thi sia. Buru-buru si unta berteriak lagi: "Bocah keparat cepat kau sambut serangan itu."

Buru-buru Kim Thi sia mengeluarkan jurus "kecerdikan menyelimuti seluruh langit" dari ilmu Tay goan sinkang untuk menyambut datangnya ancaman musuh. dalam waktu singkat pemuda itupun bertarung melawan tiga, empat orang musuhnya. Ketika melihat pertarungan telah berlangsung, si unta segera membalikkan badan dan melarikan diri dari situ meninggalkan Kim Thi sia seorang yang masih bertempur. Melihat itu, buru- buru Kim Thi sia berteriak: "Hey tua bangka celaka, kaujangan kabur dari sini" Dari kejauhan sana kedengaran suara si unta menyahut:

"Hey bocah kunyuk, apalagi aku datang terlambat, barang berharga itu bisa diketahui orang lain, lebih baik kau bantulah aku untuk mengundang mereka sejenak."

Lari si unta memang amat cepat, sementara pembicaraan berlangsung, bayangan tubuh-sudah lenyap dari pandangan mata.

dalam keadaan begini mustahil buat Kim Thi sia untuk meloloskan diri dengan begitu saja.

Melihat si unta kabur meninggalkan taman tersebut dia cuma bisa menggertak gigi menahan diri.

Sesungguhnya sianak muda itupun tidak berminat untuk melanjutkan pertarungan- Akan tetapi ketiga, empat orang musuhnya ternyata bukan manusia sembarangan, untuk berapa saat lamanya Kim Thi sia dipaksa sampai kalang kabut dan terdesak dalamposisi yang amat berbahaya.

Betapapun mendongkol dan gelisahnya Kim Thi sia ketika itu, semua perasaannya tak mampu terlampiaskan keluar, saking gelisahnya dia seperti seekor semut yang kepanasan diatas kuali panas, tidak tahu apa yang harus diperbuatnya.

Mendadak terdengar salah seorang penunggang kuda itu berteriak dengan suara keras: "hiocu sekalian, tak usah menunda waktu gara-gara bocah keparat itu lagi, ayoh kita harus

berangkat secepatnya"

"Tapi orang yang mengaku sebagai Kim Thi sia ini harus dibekuk sekalian- " sahut seseorang

lantang.

Secara beruntun Kim Thi sia melepaskan dua buah serangan dahsyat dengan jurus "mati hidup ditangan takdir" serta "kelincahan menguasahi empat samudra", kontan saja ketiga orang musuhnya berhasil didesak mundur.

Begitu melihat ada kesempatan yang sangat baik didepan mata, Kim Thi sia segera manfaatkan dengan sebaik-baiknya, dia membalikkan badan kemudian kabur dari situ menuju kearah mana si unta pergi tadi.

Biarpun baru pertama kali ini dia mengambil sikap untuk melarikan diri dari suatu pertarungan, akan tetapi dalam keadaan begini Kim Thi sia tak ingin berpikir panjang lagi.

Sayang sekali walaupun Kim Thi sia dapat lari dengan cepat, para pengejarnya bukan manusia- manusia kemarin sore yang tak mampu berlari cepat, dalam sekejap mata ada delapan orang lelaki kekar berbaju hijau yang membuntuti dari belakangnya secara ketat.

Sudah sekian lama Kim Thi sia mencoba kabur selekasnya, tapi ia tak pernah berhasil melepaskan diri dari kejaran mereka.

Pada saat itulah dia sampai disuatu tebing yang tinggi, dengan dasar ilmu meringankan tubuh yang tak seberapa Kim Thi sia tak berani melompat kebawah, akibatnya sementara dia masih ragu-ragu. Kedelapan orang pengejarnya telah mengepung datang dari empat penjuru.

Empat gulung tenaga pukulan yang maha dahsyat langsung dilontarkan kearah pemuda itu. dalam gugup dan kalutnya buru-buru Kim Thi sia mengeluarkan ilmu ciat khi mi khi sinkangnya

untuk menahan serangan, sementara sepasang tangannya diayunkan kemuka menyambut serangan musuh dengan jurus "Kelincahan menguasahi empat samudra"

"Blaaaaammmm. "

Ditengah getaran keras yang diselingi empat, lima kali benturan nyaring, tampak air dan debu beterbangan diangkasa, tahu-tahu tubuh Kim Thi sia sudah terpental sejauh lima kaki lebih danjatuh terjungkal keatas tanah. Saat itulah seorang lelaki berbaju hijau mengangkat tinggi-tinggi sebuah tanda perintahnya seraya berteriak keras:

"Tanda perintah Tay sang leng hu berada disini, kuperintahkan kailan segera berangkat barang siapa berani melanggar perintah ini segera dijatuhi hukuman sesuai dengan peraturan perkumpulan- "

"Turut perintah" sahut kedelapan orang lelaki berbaju hijau itu serentak.

Sebelum berangkat meninggalkan tempat tersebut, terdengar kawanan jago itu melirik sekejap kearah Kim Thi sia dan berseru:

"Ternyata orang ini cuma gadungan, Kim Thi sia terkenal sebagai manusia yang paling sukar dilayani dalam dunia persilatan, mana mungkin dia akan melarikan diri dari pertarungan?"

"Ucapan Tan hiocu memang benar, orang ini pasti gadungan- Ayoh kita teruskan perjalanan" sambung yang lain-

Tak lama kemudian suasana disekeliling tempat itupun pulih kembali. dalam keheningan, diatas pasir yang gersang tinggal Kim Thi sia seorang masih terkapar disitu, sekalipun dia anggap sebagai gadungan, namun jiwanya berhasil diselamatkan dari lubang jarum.

Waktu itu senja telah menjelang tiba. Tiba-tiba dari arah jalan raya sana muncul seorang perempuan-

Ketika perempuan itu melihat ada orang terkapar ditepi jalan, ia segera mendekati sambil memeriksa keadaannya, Tapi tiba-tiba saja ia berteriak kaget: "Bocah, kenapa bisa kau?"

Sambil berseru dia memeriksa keadaan Kim Thi sia dengan lebih seksama lagi, sewaktu tak berhasil ditemukan tanda luka, dengan perasaan lebih lega dia bergumam: "Rupanya cuma jatuh tak sadarkan diri."

setelah itu ia bergumam lagi:

"Disini tak ada air, bagaimana caraku untuk menyadarkan dia. tapi menolong orang paling

penting, terpaksa aku harus bertindak menurut keadaan-"

Bicara sampai disitu dia memandang sekejap sekeliling tempat itu, setelah yakin disana tak ada orang, perempuan tadi segera melepaskan celananya dan berjongkok diatas kepala Kim Thi sia.

Tak lama kemudian pancaran air kencingnya telah menyirami seluruh tubuh Kim Thi sia hingga basah kunyup,

dalam suasana beginilah pelan-pelan Kim Thi sia tersadar kembali dari pingsannya, dia mencoba memperhatikan sekejap sekitar situ. Tubuhnya masih berbaring diatas pasir, tapi lima kaki disisinya telah bertambah dengan seorang perempuan-

Perempuan itu sangat dikenal olehnya, begitu bersua dengannya, Kim Thi sia segera melompat bangun seraya berteriak keras: "Lin lin, Lin lin. "

Dengan air mata bercucuran, perempuan itu berseru pula: "Engkoh Thi sia, aku telah mencarimu dengan bersusah payah."

Kim Thi sia segera memeluk tubuh Lin lin dalam rang kulannya, menciumi pipi dan bibirnya, lalu berbisik: "Kau semakin kurus."

"Kau pun bertambah kurus" sahut Lin lin penuh rasa cinta. Mendengar itu Kim Thi sia segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaaah.....haaaah......haaaaah. hampir setiap hari aku berkelahi dengan orang bagaimana

mungkin tubuhku tidak bertambah kurus?"

"Engkoh Thi sia, mengapa sih setiap hari kau mesti berkelahi?"

"Hmmm kawanan telur busuk itu selalu mencari gara-gara denganku" sahut Kim Thi sia menahan rasa dongkol. "Engkoh Thi sia, bukankah ilmu silatmu sangat hebat, masa masih ada orang yang berani mencari gara-gara denganmu?"

"Sekalipun memiliki ilmu silat bukan berarti bisa menjamin keselamatan hidup sendiri. Hal ini masih tergantung pada sikap serta watak orang tersebut. Apakah cukup jujur dan terbuka atau tidak- seperti misalnya kesembilan orang abang seperguruanku itu, bukankah nama besar mereka tersohor diseantero jagad, bukankah ilmu silat mereka sangat hebat dan luar biasa? Tapi nyatanya dari sembilan orang ada lima orang diantaranya telah mampus secara konyol. Apakah hal ini bukan merupakan contoh yang jelas sekali?" Lin lin segera menghela napas sedih.

"Aaaah, rupanya begitu, aku masih menganggap hanya kaum wanita seperti kami saja yang sering dianiaya orang."

"dalam persoalan ini tak ada bedanya antara pria dan wanita, semuanya sama saja. seperti perempuan yang bernama Dewi Nirmala, lelaki seperti mana yang tidak menaruh tiga bagian rasa takut kepadanya?"

"Apakah kaupun takut dengan Dewi Nirmala?" tanya Lin lin penuh rasa kuatir.

"Siapa bilang aku takut kepadanya, aku sempat bertarung sebanyak dua kali melawan dia. Dia tak bisa berbuat apa-apa denganku, bahkan sekarang dia sedang mencari-cari jejakku"

"Dia toh seorang wanita, buat apa mencari dirimu? Hmmm, kalian orang lelaki memang tak ada yang baik" seru Lin lin tak senang hati, nada suaranya jelas mengandung nada cemburu.

cepat-cepat Kim Thi sia memeluk pinggangnya erat-erat dan berseru memberi penjelasan- "Adik Lin lin, mengapa kau memaki diriku juga? Dewi Nirmala mencari diriku karena alasan

yang lain-"

Lin lin berusaha meronta namun usahanya tak pernah berhasil, terpaksa katanya sengit: "Hmm, kalau seorang wanita mencari seorang lelaki, alasan apa lagi yang digunakan?"

"Tapi adik Lin. kau jangan salah paham" Kim Thi sia merasa sangat gelisah. Melihat pemuda

itu panik, Lin lin segera berkata serius:

"Pokoknya jika kau tidak mengaku sendiri, jangan salahkan bila aku tak akan menggubris dirimu lagi." selesai berkata dia segera melengos kearah lain.

"Adik Lin, kau memang keterlaluan, Dewi Nirmala mencari aku karena dia sedang mengincar ilmu silatku" Tapi Lin lin tetap tak percaya, serunya dingin:

"Bukankah ilmu silatmu tak mampu mengungguli dirinya, buat apa dia mengincar ilmu silatmu itu? Sudahlah, kau tak perlu membohongi aku dengan kata-kata yang manis, sekalipun aku tak mengerti ilmu silat, kalau teori semacam itu mah cukup kupahami"

Kim Thi sia memang seorang pemuda yang tak pandai berbicara, apalagi dalam keadaan panik begini, dia semakin kebingungan dan tak tahu apa yang mesti diperbuatnya.

Lama kelamaan watak kerbaunya segera kambuh kembali, dengan suara lantang dia segera berteriak:

"Adik Lin, aku tak akan berbicara lagi denganmu, pokoknya aku berbuat demikian demi dirimu.

Aku bersedia angkat sumpah."

Sambil bicara ia segera berlutut diatas tanah dan bersumpah dengan suara nyaring: "Demi Thian diatas langit, Kim Thi sia bersumpah tak punya hubungan apa-apa dengan

perempuan yang bernama Dewi Nirmala. Biar aku berbohong biar guntur menyambarku sehingga aku mati secara mengenaskan"

Menyaksikan keseriusan Kim Thi sia disaat mengangkat sumpahnya, dari marah Lin lin menjadi kegirangan setengah mati. Tidak menunggu sampai Kim Thi sia bangkit berdiri seperti seekor burung yang pulang sarang dia segera menubruk kedalam pelukannya. Dipeluk oleh gadis pujaan hatinya secara hangat dan begitu mesrah, kontan saja semua kesalahan dan kemasgulan yang dialami Kim Thi sia selama berapa hari ini tersapu lenyap hingga tak berbekas.

Lin lin sendiri pun harus bersusah payah selama belasan hari lamanya sebelum berhasil menemukan kembali jejak kekasih hatinya, dalam gembiranya yang meluap-luap tanpa terasa air matanya jatuh bercucuran.

Kim Thi sia benar-benar mencintai Lin lin, melihat gadis itu menangis, ia segera menjilati air matanya hingga mengering. Rasa asin yang bercampur aduk mendatangkan suatu perasaan yang aneh dalam hati kecilnya.

Lin lin merasa kegelisahan setengah mati, dia menggeliat kian mesrah dalam pelukan pemuda tersebut.

Akibatnya Kim Thi sia merasa amat terangsang, dia segera memeluk tubuh Lin lin semakin kencang lagi membuat gadis tersebut hampir saja tak dapat bernapas. Sampai lama kemudian-

......

Dengan napas tersengkal-sengkal, Lin lin berbisik: "Engkoh Thi sia, aku benar-benar tak tahan."

Tentu saja Kim Thi sia enggan melepaskan gadis tersebut dengan begitu saja, dia tetap memeluknya dengan amat kencang. Akhirnya Lin lin berbisik dengan napas terengah-engah:

"Engkoh sayang, hari sudah hampir gelap. lepaskanlah aku dari pelukanmu. Toh waktu dikemudian hari masih panjang, buat apa kau mesti tergesa-gesa dalam keadaan begitu?"

Mendengar perkataan tersebut, bagaikan baru sadar dari impian dengan sepasang mata merah membara Kim Thi sia mengawasi wajah Lin lin tanpa berkedip. Kembali Lin lin berkata dengan suara lembut:

"Engkoh yang baik, ampunilah aku dikemudian hari aku pasti menuruti semua permintaanmu, tapi jangan sekarang. "

Kim Thi sia segera memeluk tubuh sinona dan mengecup bibirnya dengan mesra h setelah itu katanya:

"Adikku sayang, kau sendiri yang berjanji begitu, lain kali jangan sangkal lagi yaa "

"Koko, aku tak akan ingkar janji. "

Setelah peroleh janji dari gadis tersebut, Kim Thi sia baru melepaskan pelukannya dan mengajak Lin lin meneruskan perjalanan menelusuri jalan raya.

Setelah menempuh perjalanan sekian lama akhirnya sampailah kedua orang itu ditepi sebuah dermaga, kebetulan disana terdapat sebuah perahu yang siap berlayar. Melihat itu, dari kejauhan Kim Thi sia telah berteriak keras: "Eeeeeh, tunggu sebentar, aku mau menumpang perahu kalian"

Sambil membopong tubuh Lin lin, dia segera berlarian dan melompat naik keatas perahu. Tentu saja kejadian tersebut sangat menggemparkan semua orang, tak heran kalau orang-

orang yang berada diatas perahu sama-sama mengawasi gerak gerik mereka dengan pandangan terkejut.

Sampai Kim Thi sia melotot kearah mereka, orang-orang itu baru melengos kearah lain dan tak berani banyak mencari urusan-

Tali pengikat perahu telah dilepaskan tukang perahu sudah mulai menggerakkan bambu galanya untuk mendorong perahu menuju ketengah sungai.

Tiba-tiba......

Saat itulah terdengar seseorang berteriak keras dari tepi pantai.

"Tukang perahu, tunggu sebentar, lolap juga ingin menumpang perahu kalian-" Teriakan orang itu amat nyaring bagaikan suara genta, suaranya jauh lebih hebat dari pada teriakan Kim Thi sia tadi.

Semua penumpang perahu segera berpaling kearah mana berasalnya suara teriakan itu, tampak diatas daratan lebih kurang sepuluh kaki dari dermaga tampak sepasang pendeta sedang berlarian mendekat dengan langkah tergesa-gesa. Kim Thi sia menjadi agak tertegun, pikirnya: "Besar amat lagak Hwesio itu "

Belum habis ingatan tersebut melintas lewat, langka h perjalanan pendeta itu tampak semakin bertambah cepat lagi, dalam waktu singkat mereka telah tiba ditepi pantai. Ternyata mereka adalah seorang pendeta setengah umur dan seorang pendeta muda.

Yang setengah umur berusia antara tiga puluh tahunan, tubuhnya tinggi besar dan mengerikan sekali, kepalanya amat besar dengan pinggang yang amat kasar dan gemuk.

Pada batok kepalanya yang gundul licin tertera sembilan buah bekas cap yang dalam, mukanya bulat gemuk dandanannya seperti sebuah patung dalam kuil saja. Sebaliknya Hwesio yang seorang lagi justru mempunyai dandanan yang bertolak belakang.

Kalau ditinjau dari usianya mungkin dia baru berumur dua puluh tahunan, bertubuh kecil, ramping dengan hidung yang mancung dan bibir yang kecil, terutama sekali sepasang matanya nampak amat jeli dan bening.

Bila kedua orang itu berjalan bersama, maka dapat dibilang yang satu gemuk yang lain ceking, satu tampan, dua perbedaan yang menyolok sekali.

Saat itu mereka berdua telah tiba ditepi pantai, jaraknya dengan perahu tinggal satu kaki lagi. Mendadak......

Diiringi desingan angin tajam, tahu-tahu sepasang pendeta itu sudah berlompatan naik diatas perahu, langkah tubuhnya ringan bagaikan daun kering, ternyata perahu kecil itu sama sekali tidak bergerak sedikitpun.

Agaknya semua penumpang perahu tahu kalau ditempat itu banyak terdapa tjagoan lihay, tak seorangpun diantara mereka yang banyak komentar atau memperhatikan dengan seksama.

Hanya Kim Thi sia dan Lin lin saja yang memandang berapa kejap terhadap dua orang Hwesio tersebut.

Dengan cepat Lin lin menundukkan kepalanya rendah-rendah dengan wajah merah padam, ia tak berani memandang kedua orang Hwesio itu lagi.

Kim Thi sia yang seksama segera menyaksikan bagaimana si Hwesio gemuk itu dengan sepasang mata bajingannya sedang mengawasi tubuh Lin lin dari atas hingga kebawah, tanpa terasa lagi dia mendengus dingin dan semakin memperhatikan gerak gerik mereka.

Setelah mengambil tempat duduk. tiba-tiba Hwesio tampan itu berkata kepada sHwesio gemuk: "Suheng, kenapa perahu inipun ada tikusnya?"

Agaknya untuk berapa saat si Hwesio gemuk itu tidak memahami apa yang dimaksud. ia nampak agak tertegun sejenak setelah mendengar perkataan itu, kemudian sambil tersenyum katanya:

"Sute, mengapa kau selalu gemar bergurau, perahu ini tidak terbang melayang tidak pula menginjak daratan, darimana bisa muncul tikus? Sebetulnya kau telah melihat dimana?"

Dengan pandangan ngeri Hwesio tampan itu melotot sekejap kearah Kim Thi sia, lalu sengaja berteriak keras:

"Suheng, bukankah yang berjongkok disitu adalah seekor tikus?"

Hwesio gemuk itu mengira rekannya maksudkan Lin lin, merasa rahasia hatinya sudah terbongkar, diapun berseru: "Sute, mana mungkin tikus itu berani berjongkok untuk dipertonton orang lain?"

Bicara sampai disitu dia segera membisikkan sesuatu disisi telinga rekannya membuat Hwesio tampan tadi tertawa terkekeh-kekeh, nampaknya perkataan tersebut telah membangkitkan rasa gelinya. Saat itulah........

Kebetulan Hwesio gemuk itu melotot kembali kearah Kim Thi sia, ketika dilihatnya pemuda tersebut sedang mengawasi si Hwesio tampan tanpa berkedip. dia segera mendelik dan dengan wajah berubah hebat bentaknya:

"Anjing budukan, jika kau berani sembarangan melotot lagi, jangan salahkan bila kukorek keluar sepasang mata anjingmu itu"

Tentu saja Kim Thi sia menjadi panas hatinya setelah mendengar ucapan mana, baru saja dia akan mengumbar hawa amarahnya, Lin lin telah menghalangi niatnya itu dengan cepat.

Terdengar Lin lin berseru sambil tertawa:

"Koko, coba lihatlah betapa indahnya bianglala senja. "

Kim Thi sia mengetahui maksud tujuan gadis tersebut mendengar perkataan mana terpaksa ia harus menahan rasa gusarnya dan melengos kearah yang lain-

Terdengar Hwesio tampan itu berkata lagi:

"Waaah. tikusnya sudah kabur, suheng Tikus manakah dikolong langit ini yang tidak takut

dengan manusia?"

Bicara sampai disitu ia segera tertawa, wajahnya kelihatan sangat bangga.

Kim Thi sia tetap berpura-pura tidak mendengar, ia sama sekali tidak menggubris ajakan lawan- Tak lama kemudian....

Ketika secara kebetulan Lin lin berpaling tiba-tiba saja dia menyaksikan dibalik jubah pendeta si Hwesio tampan yang agak tersingkap. lamat-lamat dia melihat ujung gaun berwarna merah yang berkibar terhembus angin.

Sebagai seorang wanita sudah barang tentu Lin lin mengetahui apa arti dari ksemuanya itu, dengan cepat diapun mengetahu bahwa si Hwesio gemuk tampan tersebut merupakan hasil penyaruan dari seorang wanita. Buru-buru bisiknya kepada Kim Thi sia: "Koko, sipendeta kecil itu hanya pendeta gadungan"

Baru selesai ucapan dari Lin lin, terdengar si Hwesio gemuk dan Hwesio tampan itu sudah tertawa dingin tiada hentinya, jelas perkataannya itu sempat terdengar juga oleh kedua orang tersebut.

Dengan angkuh Kim Thi sia berpaling, ia saksikan Hwesio tampan itu menundukkan kepalanya dengan cepat. Sepasang pipinya berubah menjadi merah padam, jelas ia merasa sangat malu hingga keadaannya nampak mengenaskan sekali.

Sebaliknya si Hwesio gemuk itu melotot bulat-bulat seperti mata kerbau saja, dengan cahaya merah berapi dia mengawasi lawannya tanpa berkedip. sepasang giginya saling beradu gemerutukan-

Kim Thi sia menjadi sangat kegelian sekali, tak kuasa lagi serunya sambil tertawa: "Adik Lin, sebetulnya tikus yang takut manusia, atau manusia yang takut tikus?" Lin lin melotot sengit, dia menyalahkan pemuda kekasihnya yang banyak bicara. Tapi Kim Thi sia tak ambil perduli, sekali lagi dia tertawa angkuh.

Tak lama kemudian-......

Perahu sudah merapat didaratan, para penumpangpun beruntun turun kedarat, agaknya kedua orang Hwesio itu sengaja berjalan dipaling belakang. Mereka menunggu sampai Kim Thi sia yang membimbing Lin lin melangkah naik kepapan penyebrangan lebih dulu sebelum mereka berdua membuntuti dari belakang.

Dasar kaum wanita berhati kecil, Lin lin melewati papan penyebrang tersebut menuju kedaratan.

Kim Thi sia sendiripun takut sinona kekasih hatinya tercebur kedalam air, dengan berhati-hati sekali dia membimbingnya melewati papan penyeberangan itu.

Dengan susah payah akhirnya Kim Thi sia berhasil membimbing Lin lin mencapai setengah jalan-

Pada saat itulah tiba-tiba Hwesio gemuk yang berjalan dibelakangnya melepaskan sebuah pukulan dengan jurus "naga sakti muncul dilaut" sodokan tangan kanannya langsung menghajar telak diatas punggung Kim Thi sia.

dalam keadaan tak bersiap sedia, sama sekali mustahil bagi Kim Thi sia untuk menghindarkan diri. Tak ampun lagi dia bersama Lin lin segera terjungkal dari atas papan penyeberangan dan tercebur kedalam air.

Melihat serangannya berhasil dengan baik Hwesio gemuk itu segera menarik tangan Hwesio tampan dan melarikan diri dari situ.

Masih untung tempat dimana Kim Thi sia dan Lin lin tercebur masih berada didekat pantai, dan lagi pula air sungai itu tidak begitu terlalu dalam dengan cepat pemuda itu telah menarik Lin lin dan mengajaknya naik keatas daratan-

Lin lin mengira pemuda tersebut berjalan kurang berhati-hati hingga terpeleset jatuh kesungai, dengan penuh rasa kuatir ia bertanya: "Koko, apakah kau terluka?"

"Tidak- aku tak apa-apa, bagaimana dengan keadaanmu sendiri?"

"Aku hanya merasa sepasang kakiku rada sakit" Dengan gemas Kim Thi sia berseru:

"Aku harus membunuh kedua orang itu serta mencincang tubuhnya hingga hancur berkeping- keping . "

"Koko, siapa yang hendak kau bunuh?" tanya Lin lin dengan wajah tak habis mengerti. "Siapa lagi kalau bukan sepasang pendeta bajingan itu"

Peristiwa tersebut dengan cepat menarik perhatian banyak orang, hampir semua mata tertuju pada kedua orang muda mudi yang basah kuyup itu.

Setibanya diatas daratan, Kim Thi sia mencoba mencari jejak kedua orang Hwesio tadi namun tak terlihat lagi, dalam keadaan basah kuyup terpaksa kedua orang itu beranjak pergi

dari situ dengan langkah tergesa-gesa.

Setibanya dalam rumah penginapan, Kim Thi sia dan Lin lin bertukar pakaian sambil merubah dandanan mereka, sewaktu muncul kembali mereka berdua telah berubah seolah-olah dua manusia yang berbeda.

Karena lapar mereka berduapun memasuki sebuah rumah makan yang memakai merek "Bian kang cu lo", suasana disitu amat ramai.

Baru naik keatas loteng, Kim Thi sia telah melihat bahwa kedua orang pendeta tadi berada pula disitu waktu itu mereka sedang bersantap dengan lahapnya, bukan saja hidangannya masakan berjiwa, lagipula minum arak.

Tanpa mengucapkan sepatah katapun Kim Thi sia mencari tempat duduk yang bersebelahan dengan mereka.

Kebetulan si Hwesio gemuk itu mendongakkan kepalanya, ketika melihat Kim Thi sia serta Lin lin duduk disamping mereka, ia nampak tertegun dan berpikir: "Heran, mengapa seranganku tadi tak berhasil membunuh bocah keparat itu? Hmm, kini mereka datang mengantarkan diri lagi, betul-betul jalan kesurga tak ditempuh. Jalan keneraka justru dipilih jangan salahkan kalau aku akan bertindak kejam nanti." dalam gembiranya ia segera meneguk habis tiga cawan arak sekaligus.

Mungkin karena terpengaruh oleh arak^ ternyata pendeta gemuk itu tak sempat berpikir apa sebabnya serangan yang biasanya berhasil menghancurkan isi perut orang lain, kini tidak membaringkan hasil yang baik bagi pemuda lawannya.

Begitulah, tak sampai setengah jam kemudian Kim Thi sia pun sudah selesai bersantap. Lin lin meski merasakan ketegangan suasana disekitar sana, namun dia tak tahu apa yang bakal terjadi selanjutnya, oleh sebab itu dia cuma mengikuti perubahan situasi dengan tenang.

Mendadak.......

Ketika si Hwesio gemuk itu sedang bersantap dengan lahapnya, ia mendengus tertahan secara tiba-tiba.

Rupanya dia merasa mulutnya dijejali dengan sebuah benda yang empuk, berminyak dan panas sekali rasanya.

Saking banyaknya benda itu menyumbat mulutnya, untuk sesaat dia tak mampu untuk mengeluarkannya sekaligus, akibatnya keadaan Hwesio itu menjadi lucu sekali. Dia harus mengeluh sambil repot mengorek keluar benda tadi dari mulutnya.

Setelah berusaha sampai lama sekali, benda-benda itu baru dapat terkorek keluar semua. Kim Thi sia yang melihat kejadian itu kontan saja mengejek sambil tertawa: "Haaaah.....haaaah.....haaaaah inilah yang disebut daging terbang memberi makan tikus"

Tak terlukiskan rasa gusar sipendeta gemuk itu, darah panasnya serasa mendidih, tanpa banyak bicara lagi dia melompat bangun dari tempat duduknya dan langsung menerjang kearah Kim Thi sia.

Sepasang telapak tangan raksasanya dengan menggunakan jurus "jenderal langit memberi cap" secepat samba ran petir langsung dihantamkan keatas batok kepala lawan-

Waktu itu, Kim Thi sia sendiripun telah mempersiapkan diri sebaik-baiknya, dengan jurus "kedamaian menenangkan sembilan langit" dari ilmu Tay goan sinkang, ia sambut datangnya serangan lawan-

Agaknya Hwesio gemuk itu tak mengira akan kelihayan musuhnya, begitu sepasang tangan saling beradu sama lainnya, kontan saja tubuhnya yang gemuk besar terpental mundur sejauh lima langkah dan tidak mampu lagi berdiri dengan tegak. sesudah terhuyung sesaat akhirnya ia jatuh terduduk diatas tanah membuat mangkuk dan cawan bertumpahan diatas tanah.

Untung saja si Hwesio tampan itu tak bersikap lebih cekatan, dengan cepat dia membangunkan rekannya, dan kepada Kim Thi sia serunya lengking: "Tempat ini kelewat sempit, kalau berani mari kita berbicara diluar saja"

Agaknya Kim Thi sia sudah mempunyai perhitungan yang matang, tanpa mengucapkan sepatah katapun dia menuntun Lin lin dan diajak beranjak meninggalkan tempat itu.

Setelah turun dari loteng rumah makan, kedua orang Hwesio itu segera mempercepat langkahnya mengejar Kim Thi sia berdua. Mendadak Kim Thi sia membentak:

"Keledai gundul, kalau berani kita berbicara diluar kota saja"

"Binatang kecil, tunggu saja sampai tanggal mainnya, akan kusuruh kau rasakan kelihayan" sahut Hwesio gemuk itu sambil menahan rasa geramnya.

Tak lama kemudian sampailah mereka berempat disebuah tempat yang sepi dan jauh dari keramaian manusia. Melihat disekitar tempat itu tak ada orang lagi, Hwesio gemuk itu segera mendengus dan maju kedepan menghantam tubuh Kim Thi sia.

Waktu itu Kim Thi sia takut Hwesio gemuk itu melukai Lin lin, dia tidak sempat lagi untuk menghindarkan diri, dengan mengerahkan ilmu ciat khi mi khinya ia siap menerima serangan tersebut dengan kekerasan-

Tentu saja Hwesio gemuk itu tak mengira kalau kepandaian yang paling diandalkan Kim Thi sia adalah ilmu ciat khi mi khi.

Begitu serangannya yang gencar menghajar telak diatas bahu Kim Thi sia, tiba-tiba saja dia merasa seperti menghantam sebuah kapas saja, semua tenaganya seakan-akan lenyap dengan begitu saja.

Bukan hanya begitu, saking besarnya tenaga yang dipergunakan, ia tak sanggup lagi untuk menahan diri, badannya langsung menyerunduk kearah Hwesio tampan itu. cepat-cepat si Hwesio tampan memegangi tubuhnya sambil berbisik: "Suheng hati-hatilah, tikus itu cukup tangguh"

Tampaknya Hwesio tampan itu jauh lebih teliti, dalam sekilas pandangan saja ia sudah mengetahui kalau kepandaian silat yang dimiliki Kim Thi sia cukup tangguh itulah sebabnya dia memperingatkan rekannya agar bertindak lebih hati-hati.

Setelah berhasil berdiri tegak, dari malunya Hwesio gemuk itu menjadi naik darah, sambil memutar senjata sekopnya ia segera membentak: "Bocah keparat, hendak kabur kemana kau?"

Dengan menggunakan jurus serangan tertangguh "naga marah menggulung samudra" dia melepaskan sebuah sapuan maut kedepan.

dalam waktu singkat angin pukulan yang menderu- deru seperti amukan topan menyambar kian kemari dan mengepung seluruh arena.

Kim Thi sia sama sekali tidak menjadi gugup ataupun gelagapan, pedang Leng gwat kiamnya telah dipersiapkan sejak tadi, dengan jurus "batu merekah bukit membelah" dari ilmu pedang Panca Buddha, ia sambut datangnya serangan lawan-"Traaaaaaanggg. "

Ditengah dentingan nyaring yang menimbulkan percika n bunga api, tahu-tahu senjata sekop ditangan Hwesio gemuk itu sudah berubah lebih pendek separuh bagian-

Kontan saja kejadian mana membangkitkan hawa amarahnya, sambil menggertak gigi dia berkaok-kaok marah, caci maki yang kotorpun berserakkan keluar dari balik mulutnya.

Melihat serangannya yang pertama mendatangkan hasil, dengan cepat Kim Thi sia mengeluarkan jurus "guntur menggelegar angin menderu" untuk melancarkan serangan berikut.

Sementara itu si Hwesio tampan telah meloloskan senjata kebutannya begitu melihat senjata rekannya terpapas kutung oleh senjata lawan, bulu-bulu senjata kebutannya yang menyebar luas bagaikan bidadari menyebar bunga, dalam waktu singkat tampak percikan cahaya keperak- perakan menyebar kemana-mana dan menggulung pedang Leng gwat kiam tersebut.

Melihat si Hwesio tampan telah turun tangan menghadang Kim Thi sia, si Hwesio gemuk itu segera tertawa dingin, dari sakunya dia mengeluarkan tiga batang jarum sin lo teng dan segera diayunkan kedepan seraya membentak keras: "Kena"

Tiga cahaya bintang dalam posisi segi tiga langsung menyambar ketubuh Kim Thi sia serta Lin lin.

ujung jarum sin lo teng itu amat tajam lagipula beracun amat ganas, begitu mencium darah, darah itu segera akan bekerja dan menewaskan korbannya, boleh dibilang senjata tersebut merupakan senjata andalan Hwesio gemuk itu.

Sebagaimana diketahui, Kim Thi sia paling tak becus dalam soal senjata rahasia, melihat datangnya ancaman tersebut, tergopoh-gopoh dia melejit keudara untuk menghindarkan diri. Tapi saat itulah mendadak....... "Aduuuuh"

Lin lin menjerit kesakitan lalu tubuhnya roboh terjungkal keatas tanah.

Kim Thi sia menjadi terkejut sekali, cepat-cepat dia mengeluarkan dua jurus serangan berantai untuk mendesak mundur sepasang pendeta itu.

Dengan manfaatkan kesempatan yang ada Kim Thi sia melompat mundur sambil memeluk tubuh Lin lin, tampak olehnya paras muka gadis itu pucat pias bagaikan mayat, darah segar bercucuran keluar dari bahunya yang teriuka parah.

Terkejut bercampur gusar Kim Thi sia melihat kejadian itu, dia tahu Lin lin sudah kena bokongan musuh, dalam keadaan begini dia tak berminat lagi untuk melanjutkan perjalanan, untuk kedua kalinya dia mengambil langkah seribu untuk kabur dari situ.

Hwesio gemuk itu segera berteriak:

"Bocah keparat, kau hendak kabur kemana ?"

Tiba-tiba.......

Dari balik kegelapan malam terdengar seseorang berseru:

"Kurang ajar, siapa yang begitu beryali, berani berkaok-kaok sembarangan disini?" Menyusul kemudian terdengar Kim Thi sia berteriak marah:

"Tua bangka celaka gara-gara ulahmu, aku cukup menderita dibuatnya."

"Tak usah takut bocah kunyuk. biar aku yang membereskan semua persoalan ini." Ternyata orang yang munculkan diri saat itu adalah si Unta.

Kembali terdengar Kim Thi sia membentak gusar:

"Tua bangka celaka, aku harus membacok mampus dirimu untuk melampiaskan keluar semua rasa mangkel dan mendongkol dalam hatiku"

"Huuuuh, kau sibocah kunyuk benar-benar manusia tak tahu diri, bukan berterima kasih dulu kepada lo toako mu, sekarang malah mengancam akan membacokku, benar-benar dunia sudah terbalik."

"Hmm, mengapa aku harus berterima kasih kepadamu?"

"Kau si kunyuk benar-benar tolol, kalau bukan lo toako membantumu, bagaimana mungkin kau bisa temukan kembali perempuan dalam boponganmu itu. Betul-betul manusia tak tahu budi"

Untuk berapa saat lamanya Kim Thi sia dibuat terbungkam oleh perkataan si unta itu, dia tak tahu bagaimana mesti menjawab.

dalam pada itu, Hwesio gemuk tadi sudah mengejar semakin mendekat, si Hwesio tampan yang mengikuti dari belakangnya tiba-tiba berteriak keras: "Suheng, jangan lepaskan bocah keparat itu"

Kim Thi sia pun makin berang, dia berteriak pula: "Hey tua bangka, cepat jagakan keselamatan adik Lin lin ku"

Seraya berkata dia menurunkan gadis tersebut dari bopongannya, kemudian sambil meloloskan pedang Leng gwat kiamnya dia maju menyongsong kedatangan lawannya.

Dengan hilangnya beban yang merisaukan hatinya, Kim Thi sia segera merasakan semangatnya semakin berkobar, jurus-jurus serangan yang sangat ampuh dari ilmu pedang panca Buddha yang dikombinasikan dengan ilmu pukulan Tay goan sinkang segera dilontarkan secara beruntun.

Mimpipun si Hwesio gemuk itu tak mengira kalau serangan dilancarkan Kim Thi sia bisa berubah seganas itu secara tiba-tiba. dalam waktu singkat dia dibuat kalang kabut tak karuan dan terdesak hebat.

Suatu saat dia bersikap lengah hingga sebuah babatan kilat menyambar diatas tengkuknya.... Tak sempat menjerit kesakitan lagi, batok kepalanya yang gemuk besar tahu-tahu sudah terpapas kutung dari tubuhnya dan menggelinding jatuh keatas tanah, tamat pulalah riwayat hidup Hwesio gemuk itu.

HHwesio tampan tersebut menjadi ketakutan setengah mati, tiba-tiba saja paras mukanya pucat pias bagaikan mayat, sambil menjadi kaget dia membalikkan badan dan melarikan diri terbirit-birit.

Waktu itu Kim Thi sia sudah terlanjur naik darah, tentu saja tak sudi melepaskan musuhnya dengan begitu saja, dengan suatu lompatan cepat ia mengejar kemuka, lalu pedangnya menyambar lagi kedepan. "Aduuuuh"

Kasihan si Hwesio tampan itu, batok kepalanya segera terlepas pula dari tubuhnya tentu saja selembar jiwapun ikut melayang menyusul arwah suhengnya kealam baka.

Si unta segera maju kedepan menendang batok kepala itu, tiba-tiba kain penutup kepalanya terlepas hingga rambutnya yang panjang terurai, melihat itu iapun berseru tertahan:

"Waaaah, rupanya betina "

"Hey tua bangka" dengan gelisah Kim Thi sia berseru. "Siapa suruh kau datang kemari, mana adik Lin lin ku?"

Si unta segera mendehem berulang kali, lalu menjawab:

"Hey bocah kunyuk, lebih baik jangan bersikap kasar dihadapan lo toako mu, kalau aku sampai mendongkol dan kabur dari sini, kau bisa celingukan macam tikus kepanasan"

Dengan gemas Kim Thi sia mendesak maju kedepan, dan mencengkeram tengkuk si unta, setelah itu teriaknya:

"Tua bangka, akan kulihat kau hendak kabur kemana?"

Si unta sama sekali tak menduga sampai kesitu, terpaksa katanya:

"Siapa bilang aku hendak kabur? Padahal bila aku pingin kabur dari sini, dalam keadaan begini pun sama saja."

Kim Thi sia segera mengerahkan tenaganya mencengkeram tengkuk orang itu makin keras, tentu saja si unta segera menjerit kesakitan-

Kim Thi sia belum puas sampai disitu, kembali dia mencengkeram dengan lebih keras lagi.

Akibatnya si unta kesakitan setengah mati, air matanya sampai bercucuran keluar, tiba-tiba sepasang kakinya menjejak kebawah kemudian tak bergerak lagi. Kim Thi sia takut rekannya itu tercekik mati, buru-buru dia mengendorkan tangannya.

Siapa tahu begitu dia mengendorkan cengkeramannya, si unta segera meronta dan melepaskan diri dari cengkeraman, kemudian melarikan diri terbirit-birit meninggalkan tempat itu.

Sebelum pergi jauh, dia sempat berpaling seraya mengancam.

"Bocah kunyuk, kau benar-benar manusia tak tahu diri, tunggu saja pembalasanku"

Kim Thi sia tak berani mengejar lebih jauh, apalagi mati hidup Lin lin belum diketahui, terpaksa dia membiarkan si unta kabur meninggalkan tempat tersebut.

Kembali ketempat semula, Lin lin sudah berada dalam keadaan tak sadar, tubuhnya terbanting kaku diatas tanah seerti orang mati.

Menyaksikan kejadian ini, Kim Thi sia segera mendepakkan kakinya berulang kali dan menghela napas seraya mengeluh:

"ooooh adik Lin, akulah yang menyebabkan dirimu jadi begini. "

"Adik Lin, kau tak boleh mati. " "Adikku yang kusayang, biarpun Kim Thi sia harus mengarungi ujung langitpun, aku harus menyelamatkan dirimu dari kematian."

"Adik Lin, biar kita tak dilahirkan pada saat yang sama, aku ingin mati pada saat yang sama denganmu serta dikubur dalam satu liang yang sama. "

Begitulah keadaan Kim Thi sia waktu itu, dia hanya bisa merintih, mengeluh dan menelusuri jalan itu sambil membopong tubuh Lin lin-

dalam keadaan begini, dia tak ingin memikirkan persoalan yang lain, menyelamatkan jiwa Lin lin merupakan satu-satunya persoalan penting baginya sekarang.

Malam sudah lewat, fajarpun mulai menyingsing.

Kim Thi sia masih saja berjalan terus, dia tak mengenal arti lelah, juga tak mengenal arti lapar, sebab saat pertemuannya dengan Lin lin dirasakan terlalu pendek.

Mendadak........

Ia teringat kembali dengan lentera hijau yang berada ditangan sipedang emas, dengan "lentera hijau: itulah dia baru bisa menyelamatkan jiwa Lin lin dari kematian-

"Tapi dimanakah sipedang emas sekarang? Kemanakah dia harus mencari dirinya?"

Dengan termangu- mangu dia berdiri sambil termenung, akhirnya teringat olehnya akan gedung pembesar Kanglam dimana sipedang kayu berada.

"Ya a, mengapa aku tidak datang kesana untuk melacaki jejak toa suhengku ?"

demikian ia berpikir.

Karena dianggapnya hal tersebut merupakan satu-satunya jalan yang bisa ditempuh, Kim Thi sia segera mengambil keputusan untuk menyerempet bahaya.

Dengan menempuh perjalanan siang malam tanpa berhenti, akhirnya Kim Thi sia berhasil tiba ditempat tujuan-

Kemudian tanpa banyak berpikir panjang dia melompati dinding pekarangan dan langsung menerobos masuk kedalam gedung.

Belum jauh dia menelusuri halaman rumah, mendadak dari balik kegelapan terdengar seseorang membentak keras:

"Manusia dari mana yang berani mendatangi tempat ini? Hayo cepat berhenti"

Ketika Kim Thi sia mendongakkan kepalanya dia segera mengenali orang yang berdiri dihadapannya adalah Kan Jin.

Agaknya Kan Jin segera mengenali pula orang itu sebagai Kim Thi sia, sambil mengubah nada suaranya dia berseru:

"ooooh, rupanya Kim sauhiap yang telah datang"

"Tuan Kak" Kim Thi sia menegur kemudian- "Apakah suhengku berada disini?"

"Kedatangan sauhiap sangat kebetulan baru saja suhengmu tiba disini, kau telah menyusul tiba, cuma saja. "

"cuma kenapa?" tukas Kim Thi sia tak sabar. "Aku ada urusan hendak pergi mencarinya." "Saat ini Tuan Gi sedang menemani tamu agung, aku rasa ia tak punya waktu sekarang. "

"Aku tak ambil perduli apakah suheng punya waktu atau tidak, pokoknya aku harus menemui dia sekarang juga" sambil berkata anak muda itu menerjang kangsung kedalam halaman rumah.

"Kalau memang begitu, biar kulaporkan kedatanganmu itu kepadanya" seru Kan Jin cepat. seryaa berkata ia segera bertepuk tangan dua kali. Dari balik kegelapan dengan cepat muncul dua orang lelaki kekar berbaju ringkas. Kepada kedua orang itu, Kan Jin berseru:

"Lim Ji, cepat kau laporkan kepada Tuan Gi bahwa Kim sauhiap telah datang berkunjung" Lim Ji menyahut dan buru-buru beranjak pergi dari situ.

Tak lama kemudian, sipedang kayu Gi Cu yong telah munculkan dirinya didepan mata. Belum tiba orangnya, suara teguran telah bergema datang.

"Sute, angin apa yang menghembusmu kemari? Benar-benar tumben- benar- benar tak

kusangka."

Sewaktu melihat dalam bopongannya memeluk seorang wanita, ia segera berseru lagi dengan terkejut:

"Sute, siapakah perempuan itu? Apakah perempuan itu lagi"

dengus Kim Thi sia gusar. "Lantas siapakah dia?" desak sipedang kayu. "Lin lin"

Mendengar nama itu Kan Jin serta pedang kayu segera menjerit kaget, agaknya hal tersebut sama sekali tak terduga oleh mereka.

"Apakah Lin lin sudah tertimpa suatu musibah?" tanya Kan Jin lagi dengan perasaan ingin tahu^

"Ia telah tewas"

"Aaaah, mana mungkin?" seru Kan Jin tak percaya.

"Lin lin baru belasan hari minggat dari gedung ini, bagaimana mungkin dia bisa mati?"

Kim Thi sia tidak menanggapi pertanyaan tersebut, kepada sipedang kayu kembali ujarnya: "Aku sedang mencari toa suheng, tahukah kau dia berada dimana sekarang? cepat beritahu

kepadaku"

Agak ngeri juga sipedang kayu melihat wajah seram dari adik seperguruannya itu, namun diluaran dia berusaha untuk menenangkan diri, katanya cepat:

"Sute, kita tak usah membicarakan persoalan ini lebih dulu, mari biar kuselenggarakan sebuah perjamuan untuk menjamu kedatanganmu." Sampai disitu, iapun berteriak keras:

"Hey, cepat kalian siapkan perjamuan untuk menghormati adik seperguruanku ini" Tapi Kim Thi sia tetap berdiri tak bergerak dari posisi semula, kembali ia bertanya:

"cepat katakan kepadaku dimana toa suheng berada sekarang. Aku ada urusan hendak mencarinya."

"Sute, mengapa kita tak membicarakan persoalan ini selesai perjamuan nanti?" "sudah kubilang aku tak akan bersantap"

"Aaaah, hal ini mana boleh terjadi? Kita sudah lama tak karuan, dengan menggunakan kesempatan ini aku ingin berbicara sebaik-baiknya dengan sute."

Mendadak Kim Thi sia meloloskan pedang leng gwat kiamnya, lalu berseru dengan gusar. "suheng, jika kau enggan berbicara jangan salahkan kalau aku akan bertindak kejam"

Melihat kejadian ini buru-buru sipedang kayu memutar haluan menurut arah angin, katanya sambil tersenyum:

"Sute tak perlu gelisah, aku benar-benar tidak tahu dimanakah toa suheng berada sekarang, tapi kalau toh sute ingin mencarinya segera, silahkan berdiam barang dua hari dulu disini."

"Tidak. menolong nyawa sama dengan menolong kebakaran" tukas Kim Thi sia tidak sabar. "Aku tak bisa menunggu terlalu lama." Sipedang kayu Gi cu yong segera termenung berapa saat lamanya, setelah itu baru katanya: "dalam tiga hari mendatang toa suheng pasti akan singgah ditempat ini, bila sute bersedia

tinggal disini, bukankah kau akan segera bertemu dengannya?"

Sementara itu Kan Jin tidak mengetahui kalau antara sesama saudara seperguruan itu sudah terjadi perselisihan- Kalau semua dia merasa tak leluasa untuk turut menimbrung maka sekarang dia bantu membujuk.

"Kim sauhiap, lebih baik tinggallah barang dua hari lebih dulu disini."

Kim Thi sia berpikir sebentar sewaktu dianggapnya memang tak ada jalan lain, terpaksa dia manggut-manggut.

"Baiklah, kalau dalam tiga hari mendatang toa suheng belum muncul juga, akan kubakar tempat ini hingga rata dengan tanah."

"Sute, jangan gusar, jangan gusar dulu. " buru-buru sipedang kayu berseru agak tergagap.

"Yaa" sambung Kan Jin- "Kim sauhiap jangan bergurau macam begitu "

"Hmmmm, aku tak ambil perduli, pokoknya apa yang telah kuucapkan, akan kubuktikan dengan kenyataan-"

Sipedang kayu segera mengajak Kim Thi sia menuju keruang tamu, pemuda itu mengenali kamar tersebut sebagai ruangan yang pernah didiami tempo hari, tanpa terasa dia menundukkan kepala memandang sekejap wajah Lin lin, setelah itu menghela napas panjang. Pedang kayu yang melihat hal ini, dengan cepat berseru:

"Sute, cepat baringkan dulu Lin lin keatas pembaringan, biar kutolong dulu apakah dia bisa tertolong atau tidak"

"Suheng tak perlu repot-repot, maksud kedatanganku mencari toa suheng tak lain adalah untuk menolong Lin lin"

Baru sekarang sipedang kayu dapat menghembuskan napas lega, sambil tersenyum diapun berkata:

"Biar kuperiksa sebentar saja, kau tak usah kuatir"

"Baiklah, kau boleh memeriksanya, tapi dilarang menyentuh tubuhnya secara sembarangan" Sipedang kayu mencoba untuk memperhatikan beberapa saat lamanya, kemudian ia berkata: "Aku rasa Lin lin terluka oleh sejenis senjata rahasia beracun, kemudian tertotok pula jalan

darahnya. "

Kim Thi sia menjerit kaget, serunya cepat:

"Yaaa h, sudah pasti situa bangka itu yang melakukan- Hmmm, bila aku bertemu dengannya, dikemudian hari, pasti akan kukuliti tubuhnya dan kucincang dagingnya "

"Sute, kau jangan salah menuduh orang, seandainya orang itu tidak menotok jalan darah Lin lin, mungkin selembar jiwa Lin lin sudah lama melayang dari tubuhnya."

"Kalau begitu aku harus berterima kasih kepadanya?" tanya Kim Thi sia tak habis mengerti. "Yaa memang seharusnya begitu"

Kim Thi sia menjadi sangat gembira, tanpa terasa diapun semakin mempercayai sipedang kayu, tanyanya lagi:

"Suheng, menurut pandanganmu apakah Lin lin masih bisa diselamatkan jiwanya?"

Paras muka sipedang kayu segera berubah menjadi amat serius katanya dengan nada sungguh- sungguh :

"Soal ini.....soal ini......aku tak berani sembarangan berbicara " "Ya a, asal lentera hijau itu sudah kudapat, nyawa Lin lin pasti dapat tertolong. " gumam

pemuda itu.

Begitu mendengar gumaman tersebut, tiba-tiba saja paras muka sipedang kayu berubah hebat, cepat-cepat dia mencari alasan untuk mengundurkan diri dari sana. dalam keadaan begini, terpaksa Kim Thi sia harus sabar menanti.

Pada malam hari kedua itulah, disaat Kim Thi sia sedang berjaga-jaga disisi Lin lin, mendadak dari luar menerobos masuk seorang pemuda yang berwajah tampan-

Kim Thi sia tak kenali orang ini, dengan langkah cekatan ia segera melompat bangun dan membentak:

"sobat, mau apa kau datang kemari?"

"Bukankah kau hendak mencariku?" seru orang tersebut lantang.

Tentu saja Kim Thi sia tercengang sekali dibuatnya, dia segera balik bertanya: "Siapa yang hendak mencarimu? Jangan-jangan kau salah mencari orang ?"

"Hmmm, kaulah yang salah mengenali orang" jengek orang tersebut sambil tertawa dingin- Tiba-tiba tangan kirinya meloloskan pedang dan langsung menusuk tenggorokkan Kim Thi

Berada dalam keadaan tak siap. Kim Thi sia segera terdesak mundur sejauh tiga langkah lebih kebelakang sebelum berhasil meloloskan pedang Leng gwat kiamnya. Kemudian sambil melancarkan serangan balasan, dia berteriak keras-keras: "Bagaimana sih orang ini? Sudah gila nampaknya? Hey, aku tidak mengenali dirimu."

orang itu sama sekali tidak berbicara, dengan mulut membungkam secara beruntun dia melancarkan tiga buah seragan berantai yang segera mendesak anak muda itu kelab akan setengah mati.

Mimpipun Kim Thi sia tidak menyangka kalau orang tersebut begitu lihay, terpaksa dia harus mengeluarkan dua jurus serangan dari ilmu pedang Panca Buddha untuk menyelamatkan diri dari ancaman bahaya maut. Terdengar orang itu berseru:

"Hmmm, tak kusangka ilmu pedangmu kembali memperoleh kemajuan yang sangat pesat."

Kim Thi sia yang diserang secara terus menerus akhirnya naik darah juga. ilmu pukulan Tay goan sinkang dan ilmu pedang Panca Buddha segera dipergunakan secara bergantian.

Belasan gebrakan kemudian, orang tadi sudah kena terdesak hebat hingga berada pada posisi dibawah angin.

Kembali kedua orang itu bertarung belasan gebrakan, ketika orang itu mulai sadar bahwa kemungkinan untuk menang tak ada tiba-tiba saja dia melancarkan dua buah serangan gencar mendesak musuhnya, kemudian cepat-cepat dia melompat mundur dari ruangan dan berlalu dari situ.

Kim Thi sia pun tidak melakukan pengejaran, dia hanya berdiri termangu-mangu tak tahu apa yang harus diperbuatnya.