Lembah Nirmala Jilid 43

 
Jilid 43

Rombongan jago itu serentak menghentikan perjalanannya. Salah seorang diantara mereka, seorang pendek yang tangan kanannya masih dibalut kain putih segera berseru lagi keras-keras:

"Keparat ini satu rombongan dengan bajingan tersebut, sewaktu aku hendak mengambil pedangnya sore tadi, bajingan itu mengacau secara diam-diam. " Mendengar pembicaraan ini,

tanpa terasa Kim Thi sia berpikir:

"Bangsat, rupanya kalian mempunyai maksud untuk mengincar pedang Leng gwat kiam ini.

Bagus hari ini aku harus memberi pelajaran yang setimpal kepada kalian."

Berpikir sampai disini, diapUn bersiap sedia untuk memberi pelajaran yang setimpal kepada mereka.

Pada saat itulah, seorang lelaki setengah umur berbadan bungkuk yang berdiri ditepi arena telah berkata dengan serius:

"Tutup mulut, kau jangan membuat aku kehilangan muka."

Bila didengar dari nada pembicaraan, jelas dia adalah pemimpin dari rombongan tersebut. Seorang lelaki setengah umur yang lain segera tampailkan diri pula, serunya sambil menuding kearah Kim Thi sia:

"Sembilan pedang dunia persilatan mengandalkan ilmu silatnya untuk membantai rekan-rekan perguruan dan melukai banyak diantaranya. Untuk itu aku khusus datang untuk minta petunjuk. Harap sobat jangan bersungkan-sungkan lagi."

Selesai berkata dia berdiri dengan angkuh siap menanti serangan dari Kim Thi sia.

Baru sekarang Kim Thi sia dapat menangkap bahwa dibalik pembicaraan terselip arti lain, segera pikirnya:

"Entah dari mana datangnya rombongan manusia ini, kenapa urusan dari sembilan pedang dunia persilatan diselesaikan denganku."

Makin dipikir dia semakin keheranan, baru saja akan menanyakan persoalan ini hingga jelas.....

Mendadak terdengar lelaki setengah umur itu berkata lagi sambil tertawa dingin. "Sobat, apakah kau merasa ketakutan karena berada seorang diri? Sebutkan kau adalah

pedang yang mana dari sembilan pedang? Aku bersedia memberi waktu satu dua hari kepadamu, bila kau telah menghimpun kembali rekan-rekanmu yang lain, barulah perhitungan kita mulai dengan begitu perkumpulan kamipun tak usah membuang banyak waktu lagi untuk mencari kalian satu persatu "

Ucapan yang berbau memandang rendah ini dengan cepat mengobarkan hawa amarah Kim Thi sia, sambil menarik muka serunya hambar

"Kau jangan bicara sembarangan, memangnya kau anggap aku takut kepadamu. Sambutlah seranganku ini. "

Belum selesai perkataan itu diutarakan, dia telah melancarkan serangan dengan jurus "kelembutan mengatasi air dan api" dari ilmu Tay goan sinkang. Gerakan tubuhnya cepat bagaikan sambaran petir, cengkeraman mautnya lansung mengancam tubuh lelaki setengah umur itu dengan membawa desiran angin tajam.

Lelaki setengah umur itu adalah seorang Liong bon thamau dari perkumpulan cahaya emas yang bernama sipeluru perak Si Goanpah.

Sesungguhnya dia sama sekali tak kenal dengan Kim Thi sia, tentu saja dla tak mengira kalau musuhnya akan menyerang begitu mengatakan hendak menyerang, bahkan serangannya begitu cepat dan ganas.

Keadaannya waktu itu benar-benar, sangat kritis dan berbahaya sekali.

Dalam waktu singkat angin serangan dari Kim Thi sia telah menghimpit didepan dadanya, membuat thamcu dari perkumpulan bahaya emas ini tak sampai lagi melancarkan serangan untuk menyambut datangnya serangan tersebut.

Untung saja kepandaian silat yang dimilikinya cukup tangguh, berada dalam keadaan begini dia harus memikirkan keselamatan diri lebih dulu.

Mendadak sepasang lengannya ditekan kebawah. perawakan tubuhnya yang tinggi besar segera dijatuhkan kesisi kanan- Secara nyaris sekali dia meloloskan diri dari ancaman tersebut.

Kendatipun berhasil lolos dari kematian, tak urung seluruh badannya kotor juga dibuatnya, keadaannya waktu itu sungguh mengenaskan.

Akhirnya si Goanpah melompat bangun dan melihat Kim Thi sia masih berdiri tak bergerak dari posisi semula, dari diam dia menjadi naik darah, serta merta ruyung baja beruas tiganya diloloskan dari pinggang, lalu teriaknya keras-keras:

"Bocah keparat, mari kita beradu kepandaian dengan senjata" Kim Thi sia sama sekali tak ambil pusing atas teriakan lawan, melihat senjata ruyung musuh meluncur datang dengan kekuatan dahsyat, dia segera tahu bahwa musuh memiliki tenaga dalam yang sempurna.

Ia tak berani Berayal lagi, sambil membalikkan badan, pedang Leng gwat kiam segera diloloskan dari sarungnya.

Kedua belah pihak sama-sama telah menghimpun tenaganya, agaknya mereka bermaksud menentukan menang kalah dalam satu gebrakan. Pada saat itulah,

mendadak.......

Tampak seseorang melompat turun diantara kedua orang itu, dengan pedang terhunus orang itu berseru nyaring:

"Si thamcu, beristirahatlah dulu untuk sementara waktu biar kongcu yang menghadapinya "

si Goanpah segera mengenal orang itu sebagai ciu thong kongcu Kim Si dari perkumpulannya, tahu kalau ilmu pedang orang ini sangat lihay, diapun menyahut:

"Kalau toh kongcunya berniat turun tangan, tentu saja aku orang she Si akan menuruti perintah."

ciu thong kongcu Kim Si segera berpaling dan melotot sekejap kearah Kim Thi sia, lalu katanya dingin.

"Selama ini kami orang-orang dari perkumpulan cahaya emas cukup jelas membedakan mana budi dan mana dendam, tapi nyatanya selama ini sembilan pedang dari dunia persilatan selalu mencari gara-gara dengan ulah dimana-mana dosa dan kejahatan sudah melampaui batas. Nah sobat, sebutkan terlebih dahulu siapa dirimu, kau adalah pedang yang mana diantara pedang emas, besi, tembaga, perak, kayu, air, api, tanah dan bintang?"

Kim Thi sia segera dibuat kebingungan setengah mati oleh perkataan tersebut, padahal dari sembilan pedang, sudah lima orang diantaranya telah mati. Namun kenyataan mereka masih belum mengetahuinya, maka dari itu diapun menjawab lantang: "Aku bukan pedang yang manapun dari sembilan pedang" Begitu perkataan tersebut diutarakan, para jago pun menjadi gempar dibuatnya. Tiba-tiba terdengar salah seorang diantara mereka berteriak: "Hey sobat, apakah kau hendak menyangkal?" Dengan amarah yang meluap-luap sahut Kim Thi sia:

"Aku bernama Kim Thi sia, aku adalah murid kesepuluh dari Malaikat pedang berbaju perlente" ciu thong kongcu segera tertawa dingin.

"Asalkan saja kau masih anak muridnya Malaikat pedang berbaju perlente, hutang piutang ini masih menjadi bebanmu, sungguh tak disangka anak-anak murid dari Malaikat pedang ternyata telah menjalin hubungan dengan kelima naga dan seorang burung hong dari raja langit berlengan delapan, silahkan mulai menyerang"

Sehabis berkata dia segera menudingkan pedangnya keluar, menanti Kim Thi sia melancarkan serangannya.

Kim Thi sia semakin kebingungan setengah mati, biarpun dia mencoba memikirkan persoalan ini namun belum juga peroleh jawabnya:

"Ia memang pernah mendengar nama si Raja langit berlengan delapan dari Nyoo Soat hong, tapi siapa pula kelima naga dan burung hong yang dimaksud? Apa pula hubungan dengan dirinya?"

Biarpun demikian, beberapa patah kata lawan sempat membangkitkan juga hawa amarahnya, tanpa berpikir panjang lagi dia menggetarkan pedang Leng gwat kiamnya dan berseru lantang:

"Hey orang she Kim, akan kusuruh kau rasakan kelihayan ilmu silat dari si Malaikat pedang berbaju perlente"

"Bocah keparat, kau jangan takabur" seru ciu thong kongcu sambil tertawa dingin. "Dalam sepuluh gebrakan bila aku tak berhasil mengungguli dirimu, aku bersedia dihukum menurut keputusan kalian-"

Mendengar itu, ciu thong kongcu segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak- bahak.

"Haaaah....haaaaah......haaaaah sungguh tak disangka di kawasan Kanglam terdapat begitu

banyak orang gila, bila dalam sepuluh gebrakan kongcu sampai menderita kalah ditanganmu, mulai saat ini jangan anggap diriku sebagai anggota perkumpulan cahaya emas. Kecuali dendam sakit hati ini bisa terbalas, kalau tidak aku tak akan menginjakkan kaki lagi diwilayah Kanglam ini, tapi bila hari ini kongcu bisa mengungguli dirimu, maka kau mesti meninggalkan selembar nyawamu"

Kim Thi sia tidak banyak berbicara lagi, pedangnya segera dipersiapkan dengan jurus "awan muncul kabut membuka" dari ilmu pedang panca Buddha. Ujung pedangnya menuding kelangit sementara kakinya melangkah kedepan, ia siap mengancam alis mata ciu thong kongcu.

Sebaliknya ciu thong kongcu pun tak malu menjadi anak didik ketua perkumpulan cahaya emas serta Kim seng nio-nio pedangnya segera digetarkan pula sambil serunya lantang:

"Ilmu pedang bagus, selama ini kongcu selalu membanggakan ilmu pedangku, sungguh beruntung aku bisa menjumpai anak murid dari Malaikat pedang berbaju perlente untuk mencoba kemampuannya."

Pedangnya segera digetarkan dan melancarkan serangan dengan jurus "Malaikat bengis sukma dingin pekikan beku". Pedangnya dengan membawa suara guntur segera mendesing kedepan-

Sebaliknya ilmu pedang panca Buddha dari Kim Thi sia yang merupakan sejenis ilmu pedang yang luar biasa hebatnya dibalik setiap jurus serangan terselip banyak perubahan-Tampak ia menyambut serangan musuh dengan ujung pedang ditujukan keujung pedang.

Waktu itu kendatipun ciu tong kongcu telah mengerahkan segenap tenaga dalam yang dimilikinya, namun ia selalu berpendapat tiada kekuatan yang bisa digunakan- Melihat pedang musuh berulang kali mengejar dirinya bagaikan bayangan badan hatinya benar-benar amat terperanjat dibuatnya.

Tak salah lagi Kim Thi sia memang mengeluarkan ilmu ciat khi mi khinya yang khusus digunakan untuk menghisap sari hawa murni pihak lawan sebagai orang yang awam tentu saja ciu tong kongcu tak sempat menduga sampai kesitu....

Diam-diam perasaan hati ciu tong kongcu tersekat dalam waktu singkat dia telah merubah jurus serangannya menjadi gerakan "awan menyelimut dipuncak bukit."

Tampak berpuluh-puluh jalur cahaya pedang yang memancarkan hawa pedang menyelimuti angkasa seperti gulungan ombak dahsyat.

Kim Thi sia segera melakukan gerakan pancingan dengan pedang Leng gwat kiamnya, kemudian dengan gerakan kedua "bintang lenyap rembulan sirna" dia menangkal pergi pedang ciu tong kongcu.

Dalam keadaan begini, ciu tong kongcu segera merubah jurus serangannya menjadi "Bangau berpekik terbang tinggi". Pedang berikut tubuhnya berputar kencang melingkari tubuh musuh.

Kebetulan sekali Kim Thi sia telah merubah gerak serangannya menjadi Jaring langit perangkap bumi." kabur hawa pedang yang menyelimuti angkasa segera menyambar kebawah dengan hebatnya.

Dalam waktu singkat kedua orang itu sudah bertarung tiga jurus enam gerakan-Sementara para penonton menyaksikan jalannya pertarungan dengan mata terbelalak mulut melongo. Selama hidup belum pernah mereka saksikan pertarungan setegang dan sesengit ini.

Tampak kedua orang itu saling menempel kemudian berpisah. cahaya putih hawa perak amat menyilaukan mata, pertarungan kedua orang ini benar-benar tegang dan mencekam perasaan. Berapa gebrakan kemudian, Liong hou tha meu Si Goanpah serta dua orang jago lihay dari perkumpulan cahaya emas lainnya dapat melihat gelagat yang tidak menguntungkan pihaknya, dengan mata melotot besar mereka menggenggam senjata masing-masing lebih kencang dan bersiap sedia untuk turun tangan memberi bantuan.

Sekejap kemudian, antara ciu tong kongcu dengan Kim Thi sia telah bertarung sebanyak delapan jurus.

Kini, ciu tong kongcu telah mengerahkan segenap tenaga dalam yang dimilikinya, dengan jurus "mencari pahlawan memburu naga" terlihat cahaya perak memancar rata diatas permukaan tanah, hawa serangan memercik bagaikan gulungan ombak yang terhembus angin-

Kim Thi sia mendengus dingin, sambil mengerahkan ilmu ciat khi mi khinya, dengan jurus "Buddha mengembang kejahatan sirna" pedang Leng gwat kiamnya memancarkan berpuluh cahaya putih yang langsung menerobos masuk kebalik sinar keperakan musuh.

Ditengah bentorkan inilah terdengar ciu tong kongcu menjerit kesakitan dan terhuyung mundur kebelakang.

Hampir pada saat yang bersamaan Si Goanpah sekalian tiga orang jago membentak keras dan secara beruntun melompat ke arena langsung menerjang Kim Thi sia.

Mendadak terdengar lagi suara bentakan nyaring, tiga titik cahaya emas secara terpisah menyergap ketiga orang itu.

Sebagai jago-jago lihay dari dunia persilatan, rata-rata mereka bermata tajam, dalam sekilas pandangan saja ketiga orang itu tahu kalau senjata rahasia yang mengancam mereka merupakan sejenis senjata rahasia yang paling lihay, yaitu jarum emas penembus jalan darah.

Tergopoh-gopoh mereka menyelinap kesamping untuk menghindarkan diri dan melompat mundur sejauh tiga depan.

Terlihatlah seseorang melayang turun dari atas sebatang pohon tak jauh dari arena pertarungan-

Ketika Kim Thi sia memperhatikan dengan lebih seksama, dia segera mengenali orang itu sebagai Lam Wi, tentu saja hal ini membuatnya terkejut bercampur keheranan, diam- diam pikirnya :

"Jangan-jangan orang inipun memiliki ilmu silat yang sangat tangguh. ?"

Belum habis ingatan tersebut melintas lewat, Lam Wi telah berkata dengan nada santai: "Kalian beberapa orang adalah kawanan jago yang datang dari utara, tak disangka rupanya

jagoan dari utara cuma bisanya mencari kemenangan dengan mengandalkan jumlah banyak. Bila

kalian ingin berbuat sesuatu, silahkan saja mencari gara-gara denganku."

Waktu itu, meskipun ciu tong kongcu belum menderita kekalahan secara total, dalam kenyataan sudah kalah satu jurus. Paras mukanya nampaknya amat tak sedap dipandang. sewaktu mendengar perkataan itu, ia segera berkata: "Jadi kaupun bermaksud membuat perselisihan dengan kami "

"Heeeeh......heeeeh.......heeeeh berkelahipun sudah, apalagi soal persilatan?" jengek Lam

wi sambil tertawa dingin. Liong hou tamcu Si Goanpah turut menimbrung:

"Bila dilihat dari gerak gerikmu, agaknya sobat mempunyai asal usul yang besar. Aku bersedia untuk memenuhi keinginanmu itu." selesai berkata, diapun, bersiap sedia untuk turun tangan.

"Si thamcu, tunggu dulu." mendadak ciu tong kongcu mencegah. "Apakah kongcu masih ada pendapat lain?"

"Kedatanganku keselatan kali ini tak lain adalah hendak menyelidiki duduk persoalan yang sebenarnya hingga tuntas sehingga sekembalinya dari sini bisa memberi laporan kepada kongcu nio-nio. Padahal apakah betul dua orang yang berada didepan kita adalah orang yang sedang dicari, hingga kini persoalannya belum jelas, karena itu aku pikir kita tak usah membuang waktu dengan sia-sia" Mendengar perkataan itu, Lamwi segera mendengus dingin. "Perkataan kongcu memang benar, silahkan anda mengambil keputusan." ciu tong kongcu mendehem pelan, kemudian katanya kepada kedua orang lawannya:

"Aku selalu membedakan mana budi, mana dendam serta tidak melakukan pembunuhan secara mengawur, sekarang aku ingin mengajukan pertanyaan kepada kalian, bersediakan kalian untuk menjawabnya?"

Sekarang, Kim Thi sia pun sudah mulai jelas dengan masalah yang dihadapinya, mengetahui bahwa persoalan dapat diselesaikan secepatnya, buru-buru dia berseru sesudah mendengar perkataan ini:

"Bila hendak bertanya, cepat ajukan pertanyaanmu"

Sebaliknya Lam wi dengan mata melotot dan menghentakkan kakinya keatas tanah segera berseru kepada Kim Thi sia: "Hmmm, kau hanya tahu berkentut"

Kemudian sambil berpaling kearah, ciu tong kongcu serunya lagi:

"Kalau ingin bertanya, lebih baik ajukan saja kepadaku" ciu tong kongcu tertawa tergelak. "Haaah........haaaah.......haaaah. sobat memang seorang yang amat terbuka"

"Sudah tak usah banyak ngebacot lagi" tukas lam wi tak sabar. Merah padam selembar wajah ciu tong kongcu, katanya kemudian:

"Tiga hari berselang, kantor-kantor cabang perkumpulan kami disepanjang sungai Tiang kang telah menerima selembar kartu undangan secara tiba-tiba yang menerangkan bahwa pemimpin dari sembilan pedang dunia persilatan yakni sipedang emas dengan membawa pusaka lentera hijau dan seorang wanita yang punya asal-usul besar hendak melewati daerah disekitar sini apakah sipenulis surat tersebut adalah anda?"

"Benar" jawab Lam wi lantang.

"Apakah kau telah mencatut nama perkumpulan kami untuk melakukan banyak perselisihan dengan sembilan pedang dunia perselisihan hingga menimbulkan serangan dari sembilan pedang yang melakukan pembantaian secara besar-besaran terhadap anggota perkumpulan kami, dengan peristiwa tersebut perkumpulan kami jadi bermusuhan dengan sembilan pedang sedang kau berpeluk tangan saja menonton kami saling gontok-gontokan. Apakah perbuatan inipun merupakan hasil karyamu?"

"Benar. "

"Hmmm, semua orang yang dikirim perkumpulan kami untuk menguntilmu akhirnya dipecundangi semua. Sekalipun hatimu keji, namun cara kerjamu kurang bersih hingga meninggaikan bekas yang sengaja memancing anak buah kami datang kekawasan Kanglam, apakah perbuatan inipun benar-benar dilakukan olehmu?"

"Benar. "

"Benarkah anda telah membuat persiapan disekeliling kawasan kota Kanglam ini, yang membuat sobat-sobat dari perkumpulan kami yang tidak mengetahui persoalan sebenarnya menjadi bermusuhan dengan pelbagai partai dan perkumpulan lain?"

"Memang begitu."

"Dari nada jawabanmu, aku percaya kau telah menjawab jujur, tapi aku ingin bertanya.

Sesungguhnya apa maksud dan tujuanmu dengan semua perbuatan ini?" "Soal ini kau tak perlu turut campur"

"Kau harus tahu, sejak perkumpulan cahaya emas muncul didalam dunia persilatan kami tak pernah takut dengan siapa saja. Apakah kau tak berani mengutarakannya keluar?" "Kenapa tak berani?"

"Kalau memang berani, ayoh katakan" "Aku hanya melaksanakan perintah."

Mendengar jawaban tersebut semua orang menjadi terperanjat dibuatnya.

Bukan hanya orang-orang dari perkumpulan cahaya emas yang dibikin tercengang, bahkan Kim Thi sia timbul kecurigaan didalam hatinya. Diam-diam iapun berpikir:

"Kalau dibilang dia melaksanakan perintah dari Dewi Nirmala, lantas Nirmala nomor berapakah dia? Semua utusan Nirmala memiliki ilmu silat yang sangat tangguh, bahkan sipedang tembagapun tewas ditangan Nirmala nomor tujuh."

"Tapi setahuku, para utusan Nirmala rata-rata sudah berusia lanjut, sedangkan dia baru berumur dua puluhan tahun, mana mungkin? Tapi. Kalau dipikir-pikir Dewi Nirmalalah yang

paling mencurigakan-"

"Atau mungkin juga dia sedang melaksanakan perintah dari ketua perkumpulan Tay sang pang, sipukulan sakti penggetar langit Khu It cing, Tapi setahuku perkumpulan Tay sang pang tidak mempunyai ikatan dendam yang terlalu dalam dengan sembilan pedang dunia persilatan, jadi kemungkinannya kecil."

"Selain kedua orang ini, rasanya cuma si Pukulan sakti tanpa bayangan serta ciang sianseng yang berhasrat merebut lentera hijau tapi siapakah atasan orang ini?"

Sementara dia masih berpikir, ciu tong kongcu telah berkata lagi sambil tertawa dingin: "Seorang lelaki sejati tak akan melakukan perbuatan gelap. perduli perintah siapa yang sedang

kau laksanakan- Perkumpulan cahaya emas pasti akan menanggapi peristiwa ini dengan serius.

Nah, apakah anda bersedia memberi penjelasan lebih dulu?"

"Tak perlu terburu napsu" tukas Lamwi dingin. "Sampai waktunya kalian toh akan mengetahui dengan sendirinya" Mendadak terdengar seseorang berseru keras:

"Bajingan ini sangat menggemaskan, biar siaute yang membereskan dirinya lebih dulu" Lam wi segera tertawa terkekeh-kekeh, serunya mendadak.......

"Haaaah.....haaaah.....haaaaah benar-benar menggelikan, katanya saja dari perkumpulan

cahaya emas, ternyata ilmu jarum emas penembus jalan darah pun tidak dikenali, sungguh mengenaskan. Benar-benar mengenaskan-"

Sambil berkata ia menggelengkan kepalanya berulang kali dengan wajah mengejek.

orang itu sangat gusar, dnegan mata melotot besar ia membentak dan menyiapkan senjatanya untuk melancarkan serangan-

Siapa tahu dia cepat, Lam wi jauh lebih cepat lagi, tampak dia mengayunkan tangan kanannya, beberapa titik cahaya emas segera meluncur kedepan dengan kecepatan luar biasa.

"Kawanan tikus yang tak tahu diri" serunya sambil tertawa. "coba kau rasakan dulu bagaimana hebatnya jarum emasku"

Waktu itu selisih jarak antara kedua belah pihak tidak terlalu jauh, walaupun orang itu menyerang lebih dulu namun serangan dari Lam wi ternyata mengenai sasaran duluan.

Terdengar orang itu menjerit kesakitan, tubuhnya terbanting keatas tanah berikut senjata dan tak mampu merangkak bangun lagi. Ternyata jalan darahnya sudah ditotok oleh Lam wi.

Tidak menunggu sampai orang lain berbicara, kembali Lam wi mengayunkan tangan kanannya berulang kali. Lagi-lagi tampak berapa kali cahaya emas berkelebat lewat dan menyerang kawanan jagoan tersebut.

Dalam waktu singkat suasana menjadi kalut sekali, kembali ada dua orang yang roboh terluka oleh serangan jarum itu. Para jago lainnya yang selamat segera membentak sambil menyerbu kedepan, tak selang sesaat Kim Thi sia serta Lam wi sudah terkepung rapat-rapat ditengah arena.

Berada dalam keadaan begini, sekalipun Kim Thi sia tidak berniat untuk turun tanganpun tak bisa. Apalagi tiga orang jago langsung menyerang kearahnya sambil tertawa, pedang Leng gwat kiam dengan jurus "guntur menggelegar angin berhembus" dengan membawa cahaya putih yang berkilauan langsung menyambar tiga orang itu. Terdengar salah seorang diantaranya berteriak:

"Bocah keparat, kau jangan takabur, enam harimau dari bukit saiju siharimau hijau bermuka besi cu Ho tin siap membereskan dirimu"

Dengan mengayunkan senjata ia maju menyongsong datangnya serangan tersebut.

Sebagai seorang jago kawakan yang sudah berpengalaman dalam pertarungan, begitu melihat jurus pedang yang digunakan Kim Thi sia membawa segulung tenaga hisapan tak berwujud yang kuat, ia segera sadar kalau musuhnya memang tangguh dan bukan bernama kosong belaka.

Maka pergelangan tangannya segera diputar, tangan kanannya langsung menyerang pinggang musuh. Sementara tangan kirinya menotok jalan darah siau yau hat ditubuh pemuda itu.

Dari senjata poan koan pit yang digunakan lawan, Kim Thi sia pun tahu kalau musuhnya seorang ahli dalam menotok jalan darah. Kewaspadaannya segera ditingkatkan-

Dengan mengandalkan ilmu tay goan sinkang, ilmu pedang panca Buddha serta ciat khi mi khi dia segera melayani musuhnya dengan cermat dan seksama. Sebab dia sadar, sekali bertindak kurang hati-hati, niscaya dia akan roboh terjungkal ditangan lawan-

Saat ini, ketika ia melihat sepasang penanya menyodok tiba, cepat-cepat tubuhnya berkelit kesamping untuk menghindarkan diri. Ketika berpaling ia melihat dua orang lainnya dengan senjata terhunus sedang bersiap sedia dengan penuh keseriusan-Kim Thi sia yang melihat kejadian tersebut segera berpikir:

"Mereka berjumlah sangat banyak. bila aku tak menyelesaikan pertarungan ini secepatnya, rasanya sulit untuk meninggalkan tempat ini secara gampang. "

Berpikir sampai disini, dia segera berpekik nyaring dan mengeluarkan jurus serangan terampuh dari ilmu pedang panca Buddhanya.

Tampak bayangan pedang yang amat tebal menyelimuti seluruh angkasa dan mengurung ketiga orang musuhnya rapat-rapat.

Ketiga orang itu sama sekali tak menduga kalau Kim Thi sia bernyali begitu besar. Dimana dengan seorang diri berani melawan tiga orang musuh sekaligus.

Si Harimau bermuka besi cu ci tin segera mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya untuk melancarkan serangan, sepasang penanya dengan gerakan menotok, memukul, mengetuk, mencukil dan merejam semuanya ditunjukkan untuk merobohkan musuh. Dalam waktu singkat, keempat orang itu sudah bertarung puluhan gebrakan lebih.

Sementara itu, dipihak lain Lam wi telah bertarung pula melawan tiga orang musuh, hanya saja sistim pertarungannya berbeda dengan keempat orang dipihak sini.

Tampak sepasang tangannya diayunkan berulang kali memancarkan bertitik cahaya emas yang meluncur kedepan sambil menyerang serunya sambil tertawa:

"Aku mah tak ada waktu banyak untuk bermain-main dengan kawanan harimau kertas semacam kalian."

Mendadak terdengar ketiga orang jago yang mengerubutinya menjerit kesakitan pada saat yang bersamaan dan serentak melompat mundur kebelakang.

Dipihak sini, begitu merasa gelagat kurang menguntungkan, salah seorang diantaranya seorang lelaki bergolok besar segera mengayunkan pula tangan kirinya. "criiiiing.....criiiing......criiing. " Tiga dentingan nyaring berbunyi bersamaan dengan melesetnya tiga batang senjata rahasia Kim Chee piau mengarah ketubuh Kim Thi sia.

Sementara itu, Kim Thi sia sedang mengeluarkan jurus "bintang lenyap rembulan punah", melihat datangnya sambaran Kim cheepiau, cepat-cepat dia mengerahkan ilmu ciat khi mi khi untuk melindungi tubuh.

Aneh memang kalau dibicarakan, tatkala ketiga batang Kim cheepiau tersebut hampir mengena pada sasarannya, tiba-tiba seperti membentur suatu dinding tak berwujud yang kuat sekali, tanpa menimbulkan sedikit suarapun segera rontok keatas tanah.

orang yang melancarkan serangan dengan ketiga Kim cheepiau itu bukan lain adalah orang kedua dari Enam harimau puncak salju, yaitu si harimau sutera berwajah kemala.

Betapa terkejutnya jagoan ini setelah melihat kemampuan Kim Thi sia untuk mematahkan serangan senjata rahasianya yang begitu aneh. Pada saat itulah, mendadak terdengar suara teriakan seseorang. "Angin kencang cepat mundur" Ternyata yang berteriak adalah ciu tong kongcu.

Begitu mendengar teriakan tersebut, serentak orang-orang itu mengundurkan diri dari sana.

Baru saja Kim Thi sia hendak melakukan pengejaran, mendadak Lamwi menghalangi jalan perginya seraya berseru:

"Saudara Kim, penjahat yang melarikan diri tak perlu dikejar. Dengan siasat licik mereka jangan bisa lolos dari cengkeramanku. Kenapa kita mesti terburu napsu? sekarang yang penting kita mesti mencari jejak Yu Kilem lebih dahulu." Kim Thi sia menjadi terperanjat sekali setelah mendengar kata itu, pikirnya segera: "Aneh, darimana dia bisa mengetahui semua urusanku?"

Tanpa terasa dia mulai mengamati Lam wi yang misterius asal usulnya itu dengan lebih seksama.

Lam wi segera tertawa rahasia, katanya:

"Saudara Kim, kau tak usah banyak bertanya ikutlah aku"

Dalam keadaan begini, Kim Thi sia segera merasa bahwa kepandaian silatnya seakan-akan sama sekali tak berguna lagi, terpaksa dia mengiakan. "Baiklah"

Lamwi pun segera berangkat menuju ketenggara. Gerakan tubuhnya amat cepat dan tak bisa ditandingi Kim Thi sia. Sampai detik itulah Kim Thi sia baru sadar bahwa Lam wi sesungguhnya merupakan seorang jagoan yang berilmu silat sangat hebat, hanya saja hingga kini ia masih belum mengetahunya secara pasti akan asal usulnya.

Setelah menempuh perjalanan berapa saat akhirnya sampailah mereka didekat sebuah bukit kecil.

Mendadak......

Ditengah keheningan yang mencekam seluruh jagad, terdengar seseorang membentak keras: "Berhenti"

Baru saja suara itu bergema, tampak bayangan manusia munculkan diri diatas puncak bukit kecil itu.

Lam wi yang berjalan dimuka segera menghentikan langkahnya, sedangkan Kim Thi sia yang membuntuti dari belakang turut berhenti pula. Terdengar orang yang berada dibukit itu berseru lagi:

"Ada urusan apa sobat berdua berkunjung kemari ditengah malam buta begini?" "Kami datang untuk menjenguk seorang sahabat kami" sahut Lam wi cepat-cepat.

"Kalau toh kedatangan kalian untuk menjenguk seorang teman, lebih baik sebutkan dulu siapa nama kalian, agar kami bisa memberi laporan dengan segera." Tampaknya Lam wi sudah mempunyai perhitungan yang masak. ketika mendengar perkataan itu segera sahutnya dengan suara hambar:

"Boleh saja bila ingin mengetahui namaku, tapi kalian mesti memperkenalkan diri terlebih dulu." "Kami adalah orang-orang Tay sang pang" sahut orang diatas bukit cepat. "Nah harap sahabat

menyebutkan nama kalian."

Selama ini Kim Thi sia hanya berdiri dibelakang Lam wi tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Sewaktu mendengar nama "Tay sang pang", darahnya segera mendidih, hampir saja dia akan turun tangan melancarkan serangan-Mendadak terdengar Lam wi berkata lagi:

"Kami datang untuk menjenguk si Ulung beracun. Aku bernama Lam wi, sedang dia adalah Kim Thi sia."

Belum habis perkataan itu diucapkan tampak Lam wi telah menerobos maju kedepan dan langsung menyerbu keatas bukit. Bersamaan waktunya ia mengayunkan tangan kanannya, dua titik cahaya emas segera melesat kedepan menghajar tubuh kedua orang tersebut.

Terdengar dua kali dengusan tertahan, tahu-tahu kedua orang itu sudah roboh terjungkal keatas tanah.

Setibanya diatas bukit ternyata Lam wi sama sekali tidak menghentikan gerakan tubuhnya, kembali dia melambung ketengah udara. Sepasang tangannya diayunkan berulang kali masing- masing diayunkan kebalik semak belukar sana.

Berapa kali jeritan kesakitan dan suara robohnya tubuh berat segera bergema susul menyusuli. Mendadak.......

Terdengar suara ledakan keras ditengah udara, ternyata ada sebatang anak panah berapi yang meledak ditengah udara. Cahaya api berwarna merah yang tersebar keempat penjuru dapat terlihat jelas dari jarak berapa puluh li.

Lam wi tahu, musuh telah melepaskan tanda bahaya, ini berarti jejak mereka segera akan ketahuan musuh.

Maka sambil berpaling kearah Kim Thi sia yang berada dibawah tebing, serunya lantang: "Saudara Kim ayoh, cepatlah naik keatas pertunjukkan bagus segera akan dimulai"

Dalam pada itu Kim Thi sia sedang berpikir keras setelah menyaksikan kemampuan Lam wi untuk mencabut berapa lembar jiwa sekaligus dalam berapa kali gebrakan saja, pikirnya:

"Sepintas lalu ia kesakitan begitu lembut dan halus, tapi nyatanya serangan yang dilancarkan tidak mengenal ampun- Bahkan kekejamannya melebihi aku, aku mesti bersikap lebih waspada terhadap sobat kejam seperti ini."

Ketika dilihatnya Lam wi sedang menggapainya, diapun segera melejit keudara dan melompat naik kepuncak tebing itu. Sambil tersenyum Lam wi segera berkata:

"Bila kulihat dari tampang wajahmu, bukankah dalam hati kau sedang mengumpat kekejaman hatiku?"

Kim Thi sia yang mendengar teguran mana, dalam hati kecilnya segera berpikir:

"Lihay amat ketajaman mata orang ini. Baru saja ingatan tersebut melintas lewat, kau sudah dapat membacanya secara tepat." Berpikir begitu, agak tersipu-sipu iapun berkata:

"Aaaaah, mana, mana. Aku hanya berpikir bahwa kepandaian silatmu ternyata jauh lebih hebat berapa kali lipat ketimbangan aku "

Sampai disini tanpa terasa dia menggelengkan kepalanya sambil menghela napas.

"Saudara Kim" Lam wi segera menegur lagi dengan wajah gusar. "Diantara kita berdua boleh dibilang hanya perkenalan biasa, berteman karena cocok dalam pandangan pertama. Sekarang mengapa kau justru mengucapkan kata-kata semacam ini? Padahal bicara sesungguhnya ilmu silatmu masih beratus kali lipat lebih hebat ketimbang kemampuanku, cuma tenaga dalamnya saja belum mencapai kesempurnaan. Dengan usia semuda itu, apakah kau takut dikemudian hari tak bisa mengejar ketinggalan itu?"

"orang ini benar-benar lihay. " batin Kim Thi sia lagi.

Baru saja dia hendak membantah, mendadak......

"Sreeeettt..... Sreeeettt..... Sreeeet "

Ditengah desingan angin tajam, tampak ada lima sosok bayangan manusia melayang turun ketengah arena, seorang diantaranya adalah seorang kakek yang membawa kipas lebar.

Begitu muncul ditengah arena, kakek tersebut segera menegur sambil menuding kearah kedua orang tersebut

"Bocah keparat, siapa yang menyuruh kalian datang menghantar kematian?" Kemudian, seorang yang lain menyambung pula:

"Kim Thi sia, tak disangka kita akan bersua kembali disini" Selesai berkata ia tertawa dingin tiada hentinya.

Kim Thi sia segera mengenali orang tersebut sebagai salah satu diantara dua belas orang tongcu dari perkumpulan Tay sang pang, tanpa terasa sahutnya sambil tertawa dingin pula:

"Dimanakah ketua kalian? Aku sedang mencarinya."

"Bocah keparat" tukas kakek berkipas lebar itu gusar. "Kau anggap ketua kami adalah orang yang bisa ditemui secara sembarangan-"

Belum selesai perkataan itu diutarakan, mendadak ditengah kegelapan malam terdengar lagi dua kali ledakan yang amat keras. Satu berasal dari arah barat laut, sedang yang lain berasal dari selatan-

Rupanya kembali ada dua batang panah api yang meluncur ketengah udara dan meledak keras.

Pancaran cahaya merah segera menghiasi kegelapan malam.

Paras muka kelima orang jago dari perkumpulan Tay sang pang ini segera berubah hebat, sebab ditinjau dari tanda bahaya yang dilepaskan hampir saja yang bersamaan waktunya dari dua arah yang berbeda, menunjukkan bahwa anggota perkumpulan mereka telah bertemu dengan musuh tangguh hampir pada saat yang bersamaan. Bila keadaan tidak semakin kritis, tak mungkin orang-orang itu akan melepaskan tanda bahana untuk mohon bantuan-

Pada saat itulah.....

Dari arah jalan raya disebelah selatan, kembali muncul ketiga sosok bayangan hitam yang meluncur datang dengan kecepatan tinggi.

Dalam waktu singkat ketiga orang tersebut telah muncul disisi arena, ternyata mereka terdiri dari dua pria dan seorang wanita.

Dalam sekilas pandangan saja, Kim Thi sia segera kenali orang yang berjalan dipaling muka adalah sastrawan bermata sakti, dibelakangnya mengikuti Yu Hong serta adik seperguruannya Li Beng po.

Begitu tiba, sipelajar bermata sakti segera berseru nyaring:

"Selamat bersua Selamat bersua Rupanya kedatangan kami tepat pada waktunya. "

"Hey pelajar bermata sakti" Kim Thi sia segera menegur. "HHutang piutang diantara kita berdua harus diperhitungkan lebih dulu."

"Aku harap kalian bersedia menolong ciciku lebih dulu sebelum melakukan perhitungan atas hutang piutang kalian" seru Yu Hong cepat-cepat.

"Tentu saja begitu" sahut pelajar bermata sakti keras. Sampai disitu, dia lantas berpaling kearah kelima orang musuhnya dan berseru lagi: "Benarkah nona Yu Kiem telah kalian tangkap?"

Kakek berkipas lebar itu segera mendehem beberapa kali, kemudian baru menyahut: "Benar atau tidak. rasanya tak perlu kau campuri urusannya"

Perlu diketahui, kakek tersebut merupakan salah satu diantara dua belas orang tongcu dari perkumpulan Tay sang pang. orang menyebutnya si Rajawali emas berkipas baha Cu Kim, kepandaian gwakang maupun kwekangnya begitu hebat, boleh dibilang jarang menjumpai musuh tandingan dikawasan Kanglam oleh sebab itu sikapnya menjadi sombong, angkuh dan sangat takabur.

"Kalau aku bersikeras akan mencampuri, mau apa kau?" teriak sipelajar bermata sakti sambil mendelik.

"Ya a, bila kalian tidak membebaskan ciciku, kalian akan kami bantai sampai ludes" sambung Yu Hong dengan marah.

"Kalian mau membebaskannya atau tidak" teriak Kim Thi sia pula keras-keras.

Dalam pada itu sikap Lam wi lebih santai, dia berdiri disisi Kim Thi sia dengan senyuman dikulum. Seakan-akan persoalan tersebut sama sekali tiada sangkut paut dengan dirinya.

si Rajawali emas berkipas besi cu Kim kontan saja tertawa dingin tiada hentinya. "Heeeeh......heeeeeh......heeeeeh. akan kulihat sampai dimana sih kehebatan dari jagoan

yang disebut "manusia yang paling susah dilayani dari dunia persilatan "

Kim Thi sia segera meloloskan pedang Leng gwat kiamnya dan siap untuk turun tangan-Tapi saat itulah........

Mendadak dari arah barat laut muncul dua sosok bayangan manusia yang meluncur datang dengan kecepatan luar biasa, kalau dilihat dari gerak tubuh mereka, dapat diketahui bahwa mereka adalah sepasang jagoan yang berilmu tinggi. Belum lagi orangnya muncul, terdengar ia sudah berteriak keras:

"Thian tong, semua orang yang kita cari telah berkumpul disini. Rasanya tidak sia-sia penjelasan kita ayah beranak kali ini."

Sementara pembicaraan berlangsung, kedua orang tersebut sudah muncul dihadapan banyak orang.

Hal mana tentu saja amat mengejutkan semua orang tanpa terasa mereka sama berpikir. "Kenapa si tua bangka inipun bisa mencari sampai disini?"

Ternyata dua orang yang datang tak lain adalah ketua Tiang pek pay, sipukulan sakti tanpa bayangan serta putra kesayangan Ang Thian tong." Begitulah munculkan diri, sipukulan sakti tanpa bayangan segera berseru:

"Kalian jangan bertarung dulu, tunggu sampai persoalannya menjadi jelas sebelum kita membuat penyelesaian hingga tuntas."

"Makhluk tua, kau jangan mencampuri urusanku" teriak Kim Thi sia. Sipukulan sakti tanpa bayangan segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaaah.....haaaah.......haaaah kau masih ada kesempatan hidup selama sepuluh hari lagi.

Sekarang aku tak ingin ribut denganmu."

"Kalau ingin berkelahu, sekarang juga aku dapat melayani" seru Kim Thi sia marah. "Kenapa kita mesti menunggu sepuluh hari lagi di Lembah Nirmala?"

"Jadi kau benar-benar tak takut mampus? Kau anggap paling susah dilayani?"

Kim Thi sia tertawa dingin. "Hmmm, jadi kau baru tahu sekarang?" Mendadak terdengar Ang Thian tong menyela. "Ayah, tak usah banyak cincong dengannya, yang penting kita selidiki dulu jejak Hay Jin" "Apa? Nona Hay Jin telah lenyap?" sela Kim Thi sia terperanjat.

"Hmmm, soal ini bukan urusanmu. Lebih baik tak usah turut campur" tukas sipukulan sakti tanpa bayangan dingin.

Lalu sambil berpaling kearah lima orang jago dari perkumpulan Tay sang pang, ia berkata lebih jauh:

"Apakah kalian telah berjumpa dengan menantuku?"

"Hmmm, kau toh tidak pernah serahkan menantuku kepadaku, dari mana aku bisa tahu?" sahut si rajawali emas berkipas besi Cu Kim sambil tertawa dingin. Sipukulan sakti tanpa bayangan kembali tertawa seram.

"Hmmm, menantuku telah hilang di kawasan Kanglam, sedang perkumpulan Tay sang pa adalah penguasa diwilayah ini. Kalau tidak bertanya kepada kalian, lantas kepada siapa aku mesti bertanya?"

Tuduhan yang dilontarkan setengah paksa ini tentu saja membuat kelima orang jago dari Tay sang pang menjadi meringis dan serba salah. Mau mengaku tak bisa, tak mengakupun rasanya tak mungkin, bisa diduga suatu pertarungan sengit tak bisa dihindari lagi.

Tiba-tiba terdengar si Pelajar bermata sakti menyela:

"Ang locianpwee, harap jangan gusar dulu. Sekalipun apa yang locianpwee katakan memang benar, namun sebelum diperoleh bukti yang nyata, kau tidak boleh bersikeras menuduh pihak Tay sang pang sebagai biang keladinya, kuharap locianpwee suka berpikir tiga kali dulu sebelum bertindak"

"Bocah keparat, jadi kau hendak membonceng nama besar gurumu untuk mencampuri urusan orang lain?" seru sipukulan sakti tanpa bayangan dengan wajah merah membara.

"Hmmm, ilmu cakar kucing gurumu masih belum kupandang sebelah matapun.Jika kau berani mencabut gigi harimau disini, hakekatnya tindakanmu ini benar-benar kelewat memandang rendah orang." Buru-buru sipelajar bermata sakti menjelaskan-

"Ang locianpwee, aku sama sekali tidak bermaksud begitu, tapi kalau ingin berkelahi kita harus lihat dulu siapa duluan dan siapa belakangan. Tunggulah sampai kudapatkan kembali orang yang kucari sebelum locianpwee membuat perhitungan dengan pihak Tay sang pang."

"Kurang ajar " teriak sipukulan sakti tanpa bayangan semakin sewot. "Jadi hanya kau yang

boleh meminta orang sedang orang lain tidak. ?"

"Tentu saja boleh, cuma aku datang menuntut karna dasar dan bukti yang nyata, aku tidak menuntut secara mengawur"

Agaknya hawa amarah sipukulan sakti tanpa bayangan sudah tak terbendung lagi, dengan suara keras teriaknya:

"Menantu ku telah hilang tak berbekas. Apakah kejadian ini bukan suatu fakta yang jelas? Bocah keparat, kalau kau tidak memberi penjelasan yang memuaskan hati ini akan kubunuh dirimu lebih dulu sebelum membuat perhitungan dengan sisetan tua"

Tampaknya si Pukulan sakti tanpa bayangan sudah mata gelap sehingga siapa saja dituduh sebagai pembawa lari menantunya.

Sementara itu semua orang membungkam diri tanpa banyak bicara siapapun. Berselisih dengan sipukulan sakti tanpa bayangan mencari penyakit buat diri sendiri. Hanya Kim Thi sia seorang yang masih saja tertawa dingin tiada hentinya.

Dalam pada itu, sikap sipelajar bermata sakti nampak lebih tenang dan mantap pelan-pelan ia berkata: "Aku merasa beruntung sekali bisa peroleh petunjuk dari cianpwee. Bila aku disuruh memberi penjelasan, mungkin aku tak berkemampuan begitu, hanya saja aku dapat memberi sebuah petunjuk kepadamu?"

Sipukulan sakti tanpa bayangan ingin mengetahui kata-kata selanjutnya dengan cepat, buru- buru dia menyela:

"cepat katakan, asal betul aku pasti akan memberi kebaikan untukmu"

"Itu sih tak perlu, cara pertama yang paling baik tentu saja mencari keterangan langsung kepada pihak Tay sang pang .Jalan kedua, silahkan locianpwee mengunjungi Lembah Nirmala, sedangkan cara yang ketiga. rasanya jauh lebih sulit lagi."

"Ngaco belo, benar-benar ngaco belo. Ayoh cepat katakan bagaimanakah caramu yang ketiga itu" seru sipukulan sakti tanpa bayangan tidak sabar.

"Belakangan ini, didalam dunia persilatan telah muncul Lima naga satu burung hong. Konon mereka adalah murid-murid kesayangan dari Pat pit thian ong si raja langit berlengan delapan dari bukit sin bau toa san. Aku dengan orang-orang kenamaan dari daratan Tiong goan, bisa jadi menantu cianpwee telah diculik oleh lima orang naga satu burung hong"

Paras mukanya Ang Thian tong segera menunjukkan kegelisahan yang amat sangat sesudah mendengar perkataan ini.

Sedang sipukulan sakti tanpa bayangan nampak termenung sebentar, kemudian serunya: "Bocah keparat, kenapa bicaramu makin lama semakin melantur"

Lam Wi melirik sekejap kearah sipelajar bermata sakti, lalu serunya pula, sambil mendengus dingin:

"Hmmm, pendapatmu memang bagus sekali."

Tiba-tiba sipukulan sakti tanpa bayangan melancarkan sebuah pukulan kearah lima orang jago dari perkumpulan Tay sang pang itu.

Kelima orang jagoan tersebut pun bukan manusia sembarangan- Mereka sudah mengerahkan tenaga dalamnya untuk bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan, begitu serangan dilancarkan merekapun serentak melakukan perlawanan.

Pertarungan sengitpun berkobar dengan hebatnya, kedua belah pihak sama-sama mengerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya untuk merobohkan lawan-

Kim Thi sia gembira sekali setelah menyaksikan peristiwa ini. Diapun bersiap-siap untuk terjun kearena pertarungan-

Pada saat itulah bergema suara gelak tertawa yang amat keras dari tengah udara. Suara tertawa itu yang amat nyaring dan menggema tiada hentinya ditengah kegelapan malam, dari sini bisa disimpulkan bahwa orang tersebut memiliki tenaga dalam yang teramat sempurna.

Walaupun gelak tertawa itu kedengarannya amat mengejutkan hati, akan tetapi para jago yang hadir disitu rata-rata merupakan jagoan berilmu tinggi. Nyatanya mereka sama sekali tak terpengaruh oleh gelak tertawa ini.

Ditengah gelak tertawa yang amat nyaring inilah, kembali muncul dia orang manusia.

Ketika melihat kehadiran dua orang tersebut, kelima orang jago dari perkumpulan Tay sang pang itu segera menunjukkan wajah berseri.

orang yang baru datang itu memiliki perawakan badan setinggi tujuh depa, Jenggotnya panjang dan jubahnya berwarna hijau, hidung belang, mata tajam dan wajahnya amat licik serta menyeramkan-

Ternyata orang ini tak lain adalah kelima perkumpulan Tay sang pang, sipukulan sakti penggetar langit Khu It cing, sedang dibelakangnya mengikuti si utusan beracun Hon chin. Dengan sorot matanya yang tajam sipukulan sakti penggetar langit Khu It cing memperhatikan sekejap kesekeliling arena lalu dengan senyum tak senyum ia berkata:

"Setelah kehadiran sobat sekalian disini, rasanya bila aku tak datang sendiri, kalian akan menganggap aku Khu It cing kurang bersahabat. Sekarang aku tak ambil perduli apa maksud kedatangan kalian semua, paling tidak aku adalah tuan rumah disini, mumpung jarak dari sini ke Siau yan lo tak begitu jauh bagaimana kalian memberi muka kepadaku dengan ikuti aku kesana?"

Sipukulan sakti tanpa bayangan segera tertawa tergelak. "Haaaaah.....haaaaaah......haaaaah sudah lama kukagumi nama siau yau lo. Beruntung

sekali aku bisa membuka mata hari ini" Kim Thi sia tak mau kalah, serunya pula:

"Sekalipun harus memasuki sarang naga gua harimau, aku Kim Thi sia tetap akan mengunjunginya pula"

"Bagus sekali" seru Khu It cing kemudian- "Kalau toh kalian bersedia memberi muka untukku.

Nah Yap tongcu, Cu tongcu, cepat membawa jalan. "

Dua orang anak buahnya segera mengiakan dan beranjak lebih dulu meninggalkan tempat tersebut.

Walaupun semua orang tahu bahwa kepergian mereka kali ini tak akan membuahkan keberuntungan, akan tetapi tak seorangpun yang berbicara, bagaimanapun juga mereka enggan memperlihatkan kelemahan sendiri dihadapan orang lain- Sebab itu, biarpun harus mendaki bukit golok terjun ke kuali berminyak mendidih, mereka tidak akan menolak.

Sipukulan sakti tanpa bayangan bersama putranya Ang Thian tong berjalan lebih dulu  mengikuti dibelakang musuhnya sipelajar bermata sakti, Yu Hong dan Li Beng po bertiga menyusul pada rombongan kedua, sedangkan Kim Thi sia dan Lam wi mengikuti dipaling belakang.

Setelah melewati sebuah tikungan bukit loteng, Siau yau lo telah nampak didepan mata.

Tak lama kemudian sampailah mereka didepan gedung itu, pintu gerbang nampak terpentang lebar, cahaya lentera memancarkan sinarnya menerangi setiap sudut ruangan-

Ketika para anggota perkumpulan melihat kedatangan tamunya, ternyata tak seorangpun yang menghalangi jalan perginya .

Dengan menelusurijalan besar, secara mudah mereka tiba dibawah sebuah bangunan loteng yang amat tinggi. Waktu itu semua orang sudah mengambil tempat duduk maka Kim Thi sia dan Lam wipun segera mencari tempat duduk yang kosong.

Tak lama kemudian, ketua Tay sang pang sipukulan sakti penggetar langit Khu It cing bangkit berdiri dari tempat duduknya, sambil mengangkat cawan arak. ia berseru lantang:

"Jarang sekali aku mendapat kesempatan sebaik malam ini untuk menyelenggarakan suatu pertemuan, apalagi pertemuan yang dihadiri dua orang murid dari dua tokoh termashur dalam dunia persilatan, ditambah lagi kehadiran ketua Tay sang pang dari tepi perbatasan- benar-benar suatu kehormatan besar untukku. Nah, silahkan saudara sekalian mengeringkan secawan arak lebih dahulu" Selesai berkata dia mengeringkan isi cawannya lebih dulu.

Namun tak seorangpun dari tamunya yang menanggapi ajakan itu, jangan lagi mengeringkan isi cawan, menyantun cawan arakpun tidak.

Sudah barang tentu Khu It cing dapat menyaksikan kejadian ini secara jelas sekalipun hati kecilnya tak senang namun ia tak sampai hati untuk mengumbar hawa amarahnya dalam keadaan begini.

Setelah berhenti sejenak. Khu It cing memperhatikan kembali kawanan jago tersebut dengan mata siangnya, kemudian berkata lebih jauh:

"Aku cukup memahami maksud kedatangan anda sekalian, tapi ada satu hal perlu kujelaskan dulu. Yu Kiem adalah menghianat partai, soal ini menyangkut urusan rumah tangga kami yang tak bisa dicampuri urusan orang luar. Tentang lenyapnya menantu ketua Ang, aku berani bersumpah tidak tahu menahu. Kuharap saudara sekalian dapat memahami dan memaklumi keadaan ini."

"Hmmm, maknya" tiba-tiba Kim Thi sia berteriak keras. "Perkumpulan apaan Tay sang pang ini, aku mah tak ambil perduli urusan rumah tangga atau bukan. Pokoknya jika kalian tidak membebaskan Yu Kiem maka siauya akan segera membakar habis gedung atau yau lo ini"

Teriakannya yang begitu lantang seketika membangkitkan hawa amarah itu dari para jago perkumpulan Tay sang pang. Hampir bersamaan waktunya mereka berpaling dan melotot kearah pemuda tersebut.

Sedangkan sipelajar bermata sakti tertawa dingin tiada hentinya. Mendadak......

Belasan orang lelaki kekar yang berdiri ditepi arena melompat bangin bersama-sama dan menghampiri Kim Thi sia, dengan mata mendelik mereka berteriak: "sobat, tak usah berkaok-kaok terus disini, kalau berani kita berbicara diluar saja."

Kesepuluh orang lelaki kekar itu kesemuanya memakai baju biru dengan senjata tersoren dipinggang, wajahnya keren dan tenaganya sempurna. Sambil tertawa dingin Kim Thi sia balas menjengek:

"Apa salahnya kalau berbincang disini saja?"

Belum habis perkataan itu diutarakan seorang lelaki bermata tajam telah mendesak maju secara tiba-tiba dan secepat kilat mencengkeram jalan darah Sang hi hiat ditubuh pemuda itu.

Dalam waktu singkat belasan orang lelaki kekar itu telah mengepung Kim Thi sia ditengah arena. Suasana menjadi amat tegang.

Kontan saja Kim Thi sia naik darah setelah diperlakukan begitu, melihat datangnya sambaran tersebut cepat-cepat doa menarik lengan kirinya kebelakang, sementara telapak tangan kanannya didorong kedepan-" Duuuuukkkk. "

Lelaki kekar itu segera terhantam hingga mundur sejauh dua langkah kebelakang.

Dalam pada itu ketua Tay sang pang Khu It cing cuma tertawa dingin tiada hentinya tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Setelah berhasil berdiri tegak. lelaki kekar tadi kembali membentak nyaring. "Bocah keparat, kau berani bersikap kasar? Saudara sekalian, beresi bajingan ini"

Dalam waktu singkat deruan angin pukulan telah menyambar kian kemari, tubuh Kim Thi sia seketika terkepung ditengah arena.

Kim Thi sia berpekik nyaring, dengan cepat dia menggunakan dua jurus terdahsyat dari ilmu Tay goan sinkang yakni jurus mati hidup ditangan nasib dan kelembutan mengatasi air dan api.

Begitu dua serangan tersebut dilontarkan bayangan pukulan yang berlapis-lapis segera mengurung sepuluh orang musuhnya ditengah ancaman mautnya. "Duuuukkkkkk Duuuuukkkkk Duuuukkkkk"

Beruntun kedengaran suara benturan keras yang saling menyusul, berapa orang lelaki kekar diantaranya segera tergetar mundur sejauh empat lima langkah sembari memegangi dada sendiri, rasa kaget dan ngeri jelas terpancar dari balik wajahnya.

Mendadak......

"Berhenti" terdengar seseorang membentak keras.

Waktu itu Kim Thi sia sedang asyik bertarung, ia sama sekali tidak menggubris teriakan tersebut. Bacokan demi bacokan dilancarkan terus secara gencar. Sebaliknya kesepuluh orang lelaki itu serentak mengundurkan diri setelah mendengar bentakan ini. Akibatnya beberapa orang diantaranya yang sial kena dihajar oleh Kim Thi sia hingga roboh terjungkal diatas tanah.

Pelan-pelan muncullah seorang kakek ceking dihadapan anak muda itu.