Lembah Nirmala Jilid 42

 
Jilid 42

"Jadi kau meninggalkan Yu Kiem seorang diri untuk menyelamatkan diri sendiri?" tiba-tiba Kim Thi sia menegur.

"Huuuuh, kau jangan sembarangan bicara." bentak Nyoo Soat hong panik, "Aku seorang diri tak sanggup menghadapi kerubutan mereka, posisiku amat terdesak hingga untuk melarikan diripun tak mampu. itulah sebabnya tadi aku telah salah menganggap dirimu sebagai salah seorang

yang mengejarku sehingga secara diam-diam kuhadiahkan sebuah tusukan kepadamu"

"Tak apa, sekarang kau boleh beristirahat sendiri disini, aku segera pergi mencari orang-orang itu."

"Kau hendak mencari siapa?" tanya sinona penuh perhatian-

"Tentu saja mencari orang-orang yang mengejarmu itu untuk membuat perhitungan." Nyoo Soat hong segera tertawa manis, pesannya:

"Mereka pasti masih berada dibelakang sana, tempat disekeliling sini merupakan daerah kekuasaan mereka, kau mesti berhati-hati, cepat pergi dan cepat kembali, aku akan menantimu disini"

"Kau tak usah kuatir"

Selesai berkata, dengan langkah cepat pemuda itu meluncur kedepan menelusuri jalan setapak tersebut.

Kim Thi sia berjalan amat cepat, perasaan gusar dan benci yang bercampur aduk membuat semangat tempurnya makin berkobar, dia bersumpah akan mencari orang-orang dari perkumpulan Tay sang pang dan melampiaskan seluruh rasa benci dan mendongkolnya itu kepada mereka.

Tiba-tiba terdengar ia berseru keras: "Yaa...betul betul sudah pasti semuanya ini hasil perbuatan dari komplotan yang sama" Waktu itu fajar mulai menyingsing, setitik cahaya terang mulai muncul diufuk timur.

Dibawah sinar matahari yang masih samar-samar, terlihatlah ada tiga sosok bayangan manusia munculkan diri dari depan sana.

Selisih jarak ketiga orang tersebut dengan dirinya masih teramat jauh, namun secara lamat- lamat dapat terlihat bahwa ketiga orang itu berbaju hijau, mempunyai langkah yang tegap dan cepat.

cukup ditinjau dari kepandaian tersebut, dapat diduga bahwa mereka adalah sekawanan jago persilatan yang berilmu silat tinggi. Dalam waktu singkat........

Tampak bayangan manusia berkelebat lewat, tahu-tahu tiga orang lelaki setengah umur berwajah dingin kaku telah munculkan diri dan berdiri menghadang dihadapannya. Menyusul kemudian-.....

Dari belakang ketiga orang tersebut, bermunculan lagi belasan sosok bayangan manusia.

Seorang diantaranya sedang membopong tubuh Yu Kiem.....

Menyaksikan adegan ini, meledak hawa amarah Kim Thi sia, tanpa mengucapkan sepatah katapun dia segera meloloskan pedang Leng gwat kiam dari sarungnya.

Salah seorang diantara ketiga orang jago tersebut, seorang lelaki setengah umur yang berkulit agak hitam, segera mendengus dingin seraya menegur:

"Anda adalah sobat dari golongan mana? Ayoh cepat sebutkan dulu namamu. Kami coat bun kiam Ban Sang Teng pasti akan memenuhi semua pengharapanmu. "

Kim Thi sia tertawa terbahak-bahak.

"Haaaah......haaaah......haaaaah. aku adalah manusia yang hidup dibumi ini. Hey, bila

kulihat dari tampang serta dandanan kalian, tampaknya kamu semua berasal dari pukulan Tay sang pang? Nenek busuk dengan kemampuan dari ketua kalian Khu It Cing pun aku masih belum memandang sebelah mata, kalian tiga manusia rongsokan sudah berani sesumbar dihadapanku. Hmmm Betul-betul manusia tak bermata, permainan kalian ini masih belum dapat menggertak jari aku Kim Thi sia"

Begitu nama "Kim Thi sia" disebutkan, kontan saja Ban Sang teng dan kedua orang rekannya menjadi terperanjat hingga tanpa terasa mundur selangkah kebelakang. Berapa saat kemudian, Bang Sang baru berseru dengan suara dalam:

"Antara perkumpulan Tay sang pang dengan diri anda sama sekali tak terjalin perselisihan apapun, ketua kami pun sudah beberapa kali berjumpa dengan Kim tayhiap. Aku harap Kim tayhiap jangan mencampuri urusan ini"

Mendengar perkataan mana, Kim Thi sia segera tertawa dingin tiada hentinya.......

"Heeeeh.....heeeeh......^heeeeh. bila aku tak mau menuruti anjuranmu?"

Ban Seng segera melototkan sepasang matanya bulat-bulat, serunya dengan gusar:

"Kim Thi sia, aku bermaksud baik dengan menganjurkan dirimu tidak mencampuri urusan ini, hal mana dikarenakan mencari nama bukan pekerjaan yang gampang, lagipula kau pernah mempunyai hubungan dengan ketua kami, maka kamipun tak ingin menyusahkan dirimu, namun bila anda menganggap partai Tay sang pang kami hanya macan kertas, maka hal ini sama artinya dengan mencari penyakit buat diri sendiri" Seorang jago yang berada disampingnya segera membentak pula:

"Hey orang she Kim, lebih baik jangan mencampuri urusan orang lain, bila kau menolak arak kehormatan dengan memilih arak hukuman, aku Sam kiam coat hun sitiga pedang mencabut nyawa Ho cuan pasti akan memberi pelajaran kepadamu" "Haaaah....haaaah......haaaah. " Kim Thi sia kembali tertawa tergelak. "orang bilang aku

adalah manusia yang paling susah dilayani, nyatanya kalian lebih susah dilayani ketimbang aku, orang bilang aku tak takut mampus, rupanya kalian lebih tak takut mampus daripada aku"

Sementara ketiga orang itu masih tertegun, karena perkataan tersebut sambil tertawa tergelak tiba-tiba saja Kim Thi sia sudah melancarkan serangan dengan jurus "Guntur menggelegar angin berhembus" serta "awan muncul kabut membuyar" dari ilmu pedang panca Buddha.

Tampaklah pedang Leng gwat kiam dengan kecepatan bagaikan sambaran petir secara langsung menyerang ketiga orang tersebut.

Semenjak tadi ketiga orang tersebut telah membuat persiapan yang matang, dua pedang dan sepasang telapak tangan serentak melancarkan serangan pula bersama-sama.

Kim Thi sia sama sekali tidak memberi kesempatan kepada musuhnya untuk berganti napas, serangan demi serangan dilancarkan dengan mempergunakan jurus-jurus serangan paling ampuh dari ilmu pedang panca Buddhanya.

Suatu ketika, dia menyerang kekiri dan kanan secara bersamaan sehingga penjagaan pada tubuh bagian depannya terbuka sama sekali.

Salah seorang dari lelaki setengah umur itu segera mendengus dingin, tangan kirinya disapu kedepan kuat-kuat, segulung tenaga pukulan yang kuat langsung menerjang kedepan.

Kim Thi sia tak mampu berdiri tegak lagi, secara beruntun tubuhnya mundur dua langkah kebelakang.

Terdengar lelaki itu segera menjengek dingin:

"Heeeeh.....heeeeh.....heeeeh tak disangka kau cuma seorang gentong nasi yang sama

sekali tak berguna"

Kim Thi sia gusar sekali, pedangnya diputar kencang dan secara beruntun melancarkan serangan dengan jurus jaring langit perangkap bumi dan batu merekah bukit merekah dari ilmu pedang panca Buddha.

Begitu kedua jurus serangan tersebut dilancarkan, hawa pedang yang menyayat badanpun memancar bagaikan jaring laba-laba yang menyelimuti seluruh angkasa.

Ditengah jeritan ngeri yang bergema secara beruntun, dengan suatu gerakan sangat cepat Kim Thi sia telah merampas Yu Kiem dari tangan musuh.

Anak buah perkumpulan Tay sang pang menjadi tertegun semua ketika mereka mendengar suara jeritan ngeri yang menyayat hati bergema susul menyusul diikuti robohnya bayangan manusia.

Begitu mereka tahu apa yang sebenarnya telah terjadi, kontan saja rasa kaget dan ngeri mencekam perasaan setiap orang.

Ternyata orang yang roboh paling duluan bukan lain adalah sipedang sakti.

Ban Seng, pedang andalannya telah terpapas kutung menjadi dua bagian dan tergeletak diatas tanah. Lengan kanan hingga kepinggangnya telah robek dan merekah besar, darah segera bercucuran keluar dengan derasnya.

Kalau dilihat dari keadaannya, mungkin tipis harapan baginya untuk tetap hidup, sementara itu Kim Thi sia dengan mata melotot dan pedang terhunus masih berdiri angker ditempat semula.

Sitiga pedang pencabut nyawa Ho cuanpun berdiri tertegun setelah melihat rekan-rekannya kalau tidak tewas, tentu berada dalam keadaan luka parah. Ia sadar apabila keadaan seperti ini dibiarkan lebih jauh, niscaya dia sendiri pun akan menjadi korban-

Kontan saja semua kebengisan dan kebuasannya lenyap tak berbekas, katanya cepat: "Tak nyana kau betul-betul berhati keji, kami mengaku kalah" Selesai berkata ia segera mengulapkan tangannya segenap anak buahnya serentak menggotong orang-orang mereka yang terluka dan tewas dan cepat-cepat kabur meningalkan tempat tersebut.

Waktu itu hawa amatah berkobar dalam dada Kim Thi sia, sebetulnya dia enggan menyudahi persoalan tersebut sampai disitu saja, namun setelah melihat sekejap Yu kiem didalam bokongannya yang masih belum sadarkan diri, semua semangatnya mengendor kembali.

"Betul" bentaknya kemudian- "Kaupun bukan si penanggung jawab dalam peristiwa ini. Toaya tak akan menarik panjang persoalan- Untuk kali ini aku bersedia mengampuni jiwamu, tapi lain kali, jika sampai kamu semua terjatuh lagi ketangan toaya. Hmmmjangan salahkan kalau aku akan bertindak kejam"

Selesai berkata, dia memandang sekejap kawanan jago itu dengan pandangan gusar tentu saja kawanan manusia itu menjadi ketakutan setengah mati dan secara beruntun mundur berapa langkah.

Dengan angkuh Kim Thi sia maju beberapa langkah kedepan, mendadak ia membalikkan badan lagi sambil bentaknya kepada Ho cuan:

"Enyah dari sini dan beritahu kepada ketua kalian, suruh dia menunggu, dalam sebulan mendatang akan kusuruh ketua kalian tahu akan kehebatanku"

Tiga pedang pencabut nyawa Ho cuan tak berani banyak bicara, dia hanya bisa mengawasi bayangan tubuh Kim Thi sia menjauhi tempat tersebut.

Mendadak......

Kim Thi sia melayang kembali dengan gerakan amat cepat.

Pada mulanya Ho cuan mengira pemuda tersebut tak bersedia mengampuni jiwa mereka semua, baru saja akan bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan, tahu-tahu Kim Thi sia sudah menggeledah saku Ban Seng dan mengeluarkan berapa buah bungkusan kecil dari balik dadanya yang basah oleh darah.

Kemudian tanpa mengucapkan sepatahpun, dia berlalu lagi dari situ, sekejap mata kemudian bayangan tubuhnya telah lenyap dari pandangan mata.

sementara itu Kim Thi sia dengan membopong Yu Kiem telah menempuh perjalanan sekian waktu, setelah tiba disuatu tempat yang jauh dari keramaian manusia. Dia baru membaringkan tubuh gadis itu keatas tanah dan meneliti berapa buah bungkusan yang diperolehnya dari Ban Seng.

Tapi sayang, biarpun sudah diteliti setengah harianpun, ia tak berhasil menemukan obat penawar racun itu.

Menjumpai Yu Kiem tetap tak sadarkan diri, sedang kemungkinan datangnya serangan dari perkumpulan Tay sang pang juga bisa muncul setiap saat. Cepat-cepat ia membopong kembali gadis itu dan muncul ditepi jalan raya.

Secara kebetulan lewat sebuah kereta kuda, ia segera menghadangnya dan naik kedalam kereta tersebut.

Belum berapa puluh mil mereka berjalan tiba-tiba dari depan situ terdengar seseorang membentak keras, disusul kereta itu berhenti berlari.

Kim Thi sia menjadi amat tertegun, cepat-cepat dia mengintip dari balik tirai kereta, tampak olehnya sikusir kereta sedang berdiri termangu- mangu ditepijalan mengawasi dua batang pohon besar yang roboh melintang ditengah jalan raya.

Kedua batang pohon itu besar sekali, paling tidak harus ada tiga orang yang mengangkat untuk menggesernya dari situ, jelas ada orang yang sengaja berbuat demikian disana. Ketika sikusir melihat Kim Thi sia sedang melongok keluar, dengan nada murung diapun berkata:

"Toaya, coba lihatlah, jalanan ini menjadi buntu. Apa daya kita sekarang ?"

Sambil tertawa dingin Kim Thi sia melompat turun dari kudanya, kepada sang kusir dia berseru: "Beristirahatlah sebentar, biar aku yang menyingkirkan batang pohon itu. "

"toaya, aku rasa lebih baik kita memutar kejalanan yang lain saja"

Tergerak perasaan Kim Thi sia setelah mendengar perkataan itu, tapi segera pikirnya lebih jauh:

"Aaaah, aku tak boleh berbuat begini, jelas perbuatan ini merupakan hasil permainan busuk dari perkumpulan Tay sang pang. Bila aku mengambil jalan melingkar, bukankah sama artinya aku pengecut? Mereka tentu akan mentertawakan aku"

Maka sambil menggelengkan kepalanya berulang kali, ia berkata dengan suara pelan: "IHey kusir kuda, kau tidak usah gelisah, aku punya rencana sendiri" Sambil berkata, pelan-pelan dia berjalan mendekati pohon tersebut.

Sikusir kelihatan agak melongo setelah mendengar perkataan tersebut, seperti orang ingin tahu seperti juga hendak maju membantu, dengan membawa pecutnya ia menyusul dari belakang.

Kim Thi sia sama sekali tidak menaruh perhatian akan hal itu, dihampirinya ujung pohon lalu sambil merentangkan sepasang tangannya, ia mendorong batang pohon tersebut kesamping.

Terdengar bunyi gemericik yang amat nyaring, belum sempat sikusir melihat secara jelas, tahu- tahu batang pohon yang besar itu sudah mencelat ketepi jalan.

Siapa sangka, baru saja Kim Thi sia berhasil mengangkat batang pohon tersebut, mendadak kakinya terasa mengendor dan tubuhnya segera terjerumus kebawah dengan cepatnya.

Pada waktu itu, seluruh perhatian Kim Thi sia sedang dipusatkan pada batang pohon tersebut, maka sewaktu tanah injakannya amblas kebawah. Pemuda itu sama sekali tidak menaruh perhatian khusus.

Siapa sangka menyusul amblasnya tanah injakan terdengar pula suara gemuruh yang amat keras, diikuti pasir dan ranting pohon yang berguguran dimana-mana, batang pohon tersebut ambruk kembali kebawah dan menekan badannya. Tak ampun tubuhnya langsung terjerumus kebawah.

Menghadapi perubahan yang sangat mendadak dan sama sekali diluar dugaan ini, mustahil bagi Kim Thi sia untuk menghindarkan diri.

Untunglah disaat yang begitu berbahaya, tiba-tiba muncul sebuah akal dalam benaknya, sambil menghimpun tenaganya kedalam tangan, ia tempelkan badannya pada batang pohon tersebut, dengan begitu badannya segera terjerumus kebagian liang tanah yang melekuk kebawah.

Andaikata ia tak berbuat begitu, niscaya badannya akan segera tertindih oleh batang pohon yang amat berat itu, bahkan badannya akan penuh berlubang begitu terhujam ketanah dan menghajar batang-batang tombak runcing yang agaknya telah dipersiapkan dibawah liang tersebut.

Berada dalam keadaan begini, dengan perasaan terkejut bercampur gusar Kim Thi sia meloloskan pedang Leng gwat kiam nya sambil membabat kian kemari. Setelah bersusah payah sekian waktu akhirnya berhasil juga dia melompat keluar dari liang tanah.

Tapi begitu lolos dari ancaman dan memandang sekejap sekeliling tempat itu kontan saja pemuda kita dibuat malu bercampur gusar.

Ternyata disitu sudah tak nampak lagi bayangan kereta berkuda itu, jelaslah sudah sekarang bahwa ia sudah terjebak oleh siasat licik perkumpulan Tay sang pang. Masih beruntung ia tak sampai terluka oleh jebakan musuh sehingga kesempatan baginya untuk membalas dendampun tetap ada.

Dengan geram bercampur penasaran dia segera berlari menelusuri jalan dengan mengikuti bekas roda kereta diatas tanah.

Tak lama kemudian sampailah dia dibawah kaki bukit, disana bekas roda kereta sudah makin kabur dan susah diikuti lagi.

Kim Thi sia kehilangan akal, dalam terkejut bercampur gugupnya mendadak dari tebing bukit ia saksikan kereta kuda terguling ditepi jalan-Dengan gerakan cepat ia segera memburu kedepan- Tak selang berapa saat kemudian-.....

Kim Thi sia telah tiba ditepi kereta tersebut, namun disana tak dijumpai lagi bayangan tubuh dari Yu Kiem, akibatnya dia semakin naik darah. Sambil mengepal tinjunya dia menghantam kereta tersebut keras-keras. "Braaaakkk......braaakkkk "

Dalam waktu singkat ruangan kereta itu sudah hancur berantakan tak berwujud lagi. Tiba-tiba......

Ditengah suara benturan keras, bergema pula suara benturan senjata yang amat nyaring, jelas ada orang yang sedang bertarung sengit sekitar tempat tersebut.

Kim Thi sia merasakan semangatnya bangkit kembali, dengan cepat dia memburu kearah mana datangnya suara tersebut.

Setelah melalui dua buah gunduk bukit kecil, suatu pertarungan terdengar makin lama semakin dekat. Selain itu dari balik suara bentrokan senjata secara lamat-lamat terdengar suara seorang pria sedang berseru keras: "IHey budak. tak usah bertempur lagi. "

Kata selanjutnya tak terdengar dengan jelas karena segara tenggelam dibalik suara bentrokan senjata yang ramai.

Buru-buru Kim Thi sia memburu kedepan, kali ini suara pembicaraan semakin jelas. Terdengar lelaki itu berkata sambil tertawa terkekeh-kekeh.

"Masa kau belum tahu, coba lihat lentera hijau pun tidak menarik perhatianku. Sebaliknya aku malah tertarik kepadamu. Kau sibudak malah tak tahu diri, kenapa sih mesti begitu?"

Kemudian terdengar ia berkata lagi:

"Sekalipun pertarungan dilanjutkan, kau toh akhirnya tetap menjadi milikku. Disini tak ada seorang manusiapun, kau anggap mampu untuk melarikan diri dari cengkramanku?" selesai berkata, kembali ia tertawa terbahak-bahak.

Sementara itu, jarak antara Kim Thi sia dengan mereka sudah makin dekat, namun belum nampak bayangan tubuh mereka, tapi ia bisa menduga besar kemungkinan sinona yang dimaksud adalah Yu Kiem.

Akan tetapi, ketika dia tidak mendengar suara bentakan atau umpatan dari Yu Kiem lama kelamaan timbul juga rasa herannya.

Dengan langkah cepat dia memburu kemuka, setelah melalui sebuah tikungan tebing, maka muncullah didepan mata bayangan tubuh dari sepasang lelaki dan perempuan-

Sang pria bersenjatakan tombak berantai, sedangkan yang perempuan menggunakan sebilah golok besar. Bila ditinjau dari potongan badannya, perempuan itu adalah Yu Kiem yang sedang dicari.

Sementara itu sang nona sedang melancarkan serangkaian serangan yang gencar, namun tak berhasil menempati posisi diatas angin, sedang yang pria dengan tombaknya menangkis kekiri menyodok kekanan, serangan demi serangan, gerakan demi gerakan, semuanya dilakukan secara tingan dan amat santai. Meninjau dari keadaan tersebut, tahulah Kim Thi sia bahwa sang pria sedang mengalah.

Andaikata ia benar-benar berniat memenangkan pertarungannya melawan Yu Kiem, hal tersebut bisa dilakukan olehnya semudah membalikkan telapak tangan sendiri.

Begitulah, sambil berjalan sambil mengamati jalannya pertarungan, tanpa terasa selis ih jarak mereka tingal satu panahan-

Waktu itu, Kim Thi sia merasa amat lega hatinya dan tak bermaksud turun tangan cepat-cepat steelah dilihatnya Yu Kiem berada dalam keadaan selamat tanpa kekurangan sesuatu apapun, sebaliknya kedua orang itupun sama sekali tidak mengetahui kehadirannya, sehingga pertarungan masih berlangsung dengan sengitnya.

Makin lama Kim Thi sia berjalan semakin dekat, suatu ketika secara kebetulan pria itu membalikkan badan dan melihat kehadiran pemuda tersebut, ia nampak agak terperanjat menyusul kemudian sambil menarik muka tertawa seram tiada hentinya.

Kim Thi sia yang melihat kejadian tersebut segera mengetahui bahwa lelaki itu mempunyai maksud tertentu, buru-buru serunya kepada Yu Kiem: "Nona Yu, berhati-hatilah, biar aku saja yang membereskan bajingan keparat ini"

Baru selesai perkataan itu diutarakan, pedang Leng gwat kiamnya dengan jurus "bintang lenyap rembulan hilang" segera menciptakan berkuntum- kuntum pedang dan langsung menghadang senjata tombak berantai dari lelaki tersebut.

Agaknya sinona itu belum sempat melihat dengan jelas sipendatang, ia tetap memutar goloknya sedemikian rupa dengan melancarkan serangkaian serangan beradu jiwa yang mematikan.

Tampaknya lelaki itu menganggap ilmu silat yang dimilikinya amat tinggi sehingga sama sekali tak memandang sebelah matapun terhadap orang lain, sekalipun sedang diserang oleh Kim Thi sia

, dia bersikap acuh tak acuh, bahkan memandang sekejappun tidak.

Ketika serangan dari Kim Thi sia sudah meluncur datang, ia segera menggetarkan pergelangan tangan kirinya dengan tombak berantai dia gulung pedang lawan, sementara tangan kanannya menggunakan ilmu merampas senjata untuk mencengkeram bacokan golok dari sinona.

"Kurang ajar" terdengar dia membentak gusar. "Dari mana datangnya pemuda liar, toaya harus memberi pelajaran yang setimpal kepadamu"

Habis berkata, tombak berantainya dengan mengerahkan tenaga sebesar delapan bagian langsung menyerang Kim Thi sia.

Pemuda itu tertawa dingin, pedang ditangan kanannya mengikuti gerak menggulung tombak berantai itu langsung menusuk kedalam dengan jurus "batu merekah bukit ambruk", seketika itu juga dua macam senjata saling menggulung satu sama lainnya.

Kim Thi sia merasa terkejut juga sewaktu melihat senjata musuh tak berhasil dikutungi. Buru- buru tangan kirinya menyambar kedepan mencengkeram ujung tombak yang menggulung dan segera berhasil mencengkeramnya erat-erat^

Tindakan tersebut sama sekali diluar dugaan lelaki mimpipun dia tidak menyangka kalau musuhnya berani berbuat seberani ini, pikirnya:

"Kurang ajar benar orang ini, nampaknya toaya mesti beradu jiwa denganmu. "

Berpikir demikian, ia segera membetot senjatanya kuat-kuat lalu dengan suatu gerakan yang amat lincah dia menghindarkan diri dari bacokan golok Yu Kiem.

Setelah itu sambil membentak dia mengerahkan seluruh kekuatannya kedalam tangan, maksudnya dia hendak menggulung pergi pedang Kim Thi sia dan berusaha membinasakan dirinya diujung senjata tombak berantainya.

Dipihak lain bacokan golok Yu Kiem baru saja mengenai sasaran yang kosong dan belum sempat membalikkan badan, ia sudah mendengar lelaki tersebut membentak keras: Ketika dia mencoba melirik sekejap. tampaklah Kim Thi sia masih berdiri tegak d itempat semula, ujung tombak berantai itu masih melilit pedangnya kencang-kencang dengan ujung yang lain masih tergenggam ditangannya.

Senyuman dingin menghiasi ujung bibirnya Kim Thi sia, namun kedua belah pihak sama-sama membungkam diri dalam seribu bahasa, agaknya mereka telah saling beradu tenaga dalam.

Entah apa sebabnya, tahu-tahu dari atas pedang dan tombak berantai itu mengepulkan asap panas kemudian terlihat lelaki itu menunjukkan rasa kaget dan rasa kesakitan yang luar biasa, seakan-akan dia sudah berusaha melepaskan senjatanya namun entah mengapa tangannya seperti tertempel kuat-kuat pada senjatanya itu.

Menyaksikan mimik wajahnya itu, Yu Kiem segera mengerti bahwa kesempatan baik tak boleh disia-siakan dengan begitu saja. Sambil membalikkan badan ia segera melancarkan sebuah bacokan maut.

Tampaknya bacokan golok itu segera akan memenggal kutung batok kepala pria tersebut, ketika secara tiba-tiba terdengar orang itu menjerit kesakitan dan senjata rantainya sudah terputus-putus menjadi beberapa bagian.

Menanti bacokannya sudah hampir tiba pria itu telah roboh terjungkal lebih dulu keatas tanah akibatnya babatan golok itu cuma memapas kulit kepalanya saja.

Baru saja peria itu roboh keatas tanah, Yu Kiem kembali telah mengayunkan goloknya melakukan bacokan- Kali ini nampaknya lelaki tersebut tak akan mampu lagi untuk meloloskan diri.

siapa tahu, disaat kritis inilah.....

Mendadak terdengar Kim Thi sia membentak keras, sambil melancarkan sebuah pukulan dahsyat ia berseru:

"Nona Yu, jangan bunuh dia. orang ini masih ada kegunaannya"

Berbareng dengan seruan itu, bacokan goloknya seketika itu terdorong kesamping hingga meleset dari sasaran-

Merah padam selembar wajah nona itu dengan termangu- mangu dia mengawasi sekejap wajah Kim Thi sia tanpa berkata-kata.

Dalam pada itu lelaki yang roboh terjungkal diatas tanah itu sudah melompat bangun sambil menahan tubuhnya yang gemetar ia berseru:

"Baiklah, anggap saja ilmu silat toayamu memang kurang sempurna, tapi awas kau bocah keparat. selama gunung nan hijau dan air tetap mengalir, kita akan bersua lagi lain waktu" Habis berkata, ia cepat-cepat angkat kaki meninggalkan tempat tersebut.

"Berhenti" dengan suara keras, tiba-tiba Kim Thi sia membentak.

"Bocah keparat, mau apa kau?" teriak lelaki itu sambil melotot penuh amarah.

"Hey, kalau kulihat tampangmu, agaknya lagakmu masih lebih besar ketimbang aku. Apakah kau kira bisa pergi dari sini dengan begitu saja?"

"Hari ini, aku siraja akhirat pelesiran Nyoo Beng tong memang sudah jatuh pecundang ditanganmu, anggap saja nasibku memang jelek. Hey bocah keparat, apa lagi yang kau kaok- kaokkan? "

"Aku ingin bertanya, apakah kau berasal dari perkumpulan Tay sang pang?"

Sambil membusungkan dadanya si Raja akhirat pelesiran Nyoo Beng tong segera menjawab dengan angkuh:

"Ehmm, hitung-hitung kau memang bermata jeli. Betul, toaya memang seorang hiocu dari perkumpulan Tay sang pang. Bila kau serahkan kembali nona itu kepadaku, maka kau pasti akan memperoleh banyak keuntungan" Mendadak......

Kim Thi sia tertawa dingin tiada hentinya, dengan sekali ayunan pedang tahu-tahu batok kepala si Raja akhirat pelesiran Nyoo Beng tong sudah terbabat putus dan berpisah dengan badannya.

Semua rasa mendongkol, gusar dan mangkelnya selama ini, seketika sudah terlampiaskan keluar semua.

Sesaat kemudian, ia baru bertanya dengan lembut: "Nona Yu, apakah kau masih ketakutan?"

Gadis itu menggelengkan kepalanya berulang kali dengan wajah tersipu-sipu malu, mulutnya tetap membungkam dalam seribu bahasa.

Kim Thi sia tidak habis mengerti, sambil menggandeng tangannya kembali ia berkata: "Nona Yu, apakah sudah terjadi sesuatu denganmu?"

Paras muka nona itu berubah makin merah seperti kepiting rebus, ia semakin malu, setelah meronta dan melepaskan diri dari genggaman tangan Kim Thi sia, ia membetulkan letak bajunya dan menuding kesana kemari.

Untuk sesaat Kim Thi sia cuma melongo. Dia tidak memahami apa yang dimaksudkan gadis itu.

Melihat pemuda itu tetap tak mengerti, sinona segera mendelik, kemudian setelah mencari tempat duduk diatas sebuah batu besar, diapun memberi tanda kepada Kim Thi sia agar duduk pula.

Kim Thi sia segera menyarungkan kembali pedang Leng gwat kiamnya, setelah duduk disampingnya dia menghibur:

"Bila aku bertemu lagi dengan orang-orang Tay sang pang dikemudian hari, pasti akan kubantai mereka satu per satu, akan kulihat apakah mereka masih berani mengganggu dirimu atau tidak"

Gadis itu tersenyum dan manggut- manggut. Kembali Kim Thi sia berkata:

"Gara-gara mesti menolong adik angkatku Nyoo Soat hong, nona baru mengalami nasib seperti ini, kejadian mana benar-benar membuat perasaanku menjadi tak enak."

Melihat gadis itu tetap melengos tanpa menggubris dirinya, pemuda kita menjadi amat mendongkol. Dia segera merangkul pinggang sinona dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya digunakan untuk memutar kepalanya.

Gadis itu berusaha meronta dari pukulannya, tapi sayang tenaga pemuda itu kelewat besar sehingga ia sama sekali tak mampu meloloskan diri.

Kim Thi sia segera menundukkan kepalanya memandang sekejap wajahnya, tapi dengan cepat ia dibuat tertegun-

Ternyata gadis itu menunjukkan wajah tersipu-sipu malu disamping rasa gusar. Dibalik rasa jengahnya terselip pula kewibawaan yang membuat orang tak berani mengusik secara sembarangan-

Tanpa terasa Kim Thi sia mengendorkan genggamannya. Bangkit berdiri dan berdiri menjauhinya.

Melihat pemuda itu menjauh, sinona segera mengambil goloknya dari atas tanah, lalu tanpa mengucapkan sepatah katapun menggoreskan goloknya keatas tanah.

Lama sekali gadis itu menanti, namun Kim Thi sia tetap berdiri membelakanginya tanpa bergerak.

Lama kelamaan gadis itu tak sabar lagi menunggu, dia mendekati dan mendorong tubuh Kim Thi sia, tapi pemuda itu tetap tidak menggubris.

Agaknya sinona menjadi gelisah, sambil mendelik ia segera menjewer Kim Thi sia dan menyeretnya. Mimpipun Kim Thi sia tak mengira kalau gadis tersebut akan berbuat begini, tak kuasa lagi badannya terseret kebelakang, tapi begitu ia melihat keatas tanah, hatinya menjadi terkejut.

Rupanya diatas tanah tertera berapa huruf yang berbunyi begini:

"Kim siangkong, terima kasih atas pertolonganmu, tapi aku bukan Yu Kiem yang sedang kau cari. Ia telah ditangkap orang-orang Tay sang pang"

Ketika Kim Thi sia selesai membaca, gadis tersebut melepaskan cewerannya.

Dengan perasaan terkejut anak muda itu membalikkan badan dan menatap sinona dengan lebih seksama.

Gadis itu berdiri dihadapannya dengan wajah bersemu merah dan penuh nada minta maaf.

Tapi yang aneh, baik potongan badan, raut wajah maupun dandanannya tak berbeda seperti Yu Kiem.

Kalau dibilang ada perbedaan, mana bedanya hanya terletakpada sikap. Gadis ini nampaknya lebih binal dan galak.

Tiba-tiba......

Kim Thi sia seperti teringat akan sesuatu buru-buru ia bertanya: "Nona, siapa namamu?

Rasanya kita pernah bertemu muka."

Sambil tertawa gadis itu manggut- manggut, dengan goloknya dia segera menulis sebuah huruf "hong" diatas tanah.

Membaca tulisan ini, Kim Thi sia berseru tertahan sambil manggut- manggut. "oooh. rupanya

nona adalah Yu Hong, adik kandung Yu Kiem" Kembali Yu Hong manggut- manggut. Tiba-tiba Kim Thi sia menegur: "Nona, mengapa kau tidak berbicara?"

Yu Hong tertawa getir, dengan jari tangannya ia menuding jalan darah bisu dibelakang tengkuknya.

"Apakah jalan darah bisumu tertotok?" Kim Thi sia segera bertanya. Yu Hong manggut- manggut membenarkan.

"Ditotok oleh siapa? Apakah bisa dibebaskan?" kembali pemuda itu bertanya cepat.

Sambil tertawa getir Yu Hong menggelengkan kepalanya berulang kali, namun sepasang matanya mengawasinya wajah Kim Thi sia dengan pandangan sangsi serta tak habis mengerti. Dengan wajah kebingungan Kim Thi sia bertanya lagi:

"Masa kau sendiri pun tak tahu siapa yang telah menotok jalan darahmu itu?" Kembali Yu Hong mengangguk.

"Nona, aku lihat ilmu silatmu cukup tangguh." kata Kim Thi sia tercengang. "Apakah kau sudah menduga siapa yang menotok jalan darahmu itu?" Dengan wajah serba susah Yu Hong mengangguk.

"Siapakah dia?" desak sang pemuda. Tapi Yu Hong telah menggeleng kembali. Dengan perasaan gelisah Kim Thi sia berseru: "Bagaimana sih kau ini, jangan membuat aku gelisah. "

Lama sekali suasana menjadi hening, akhirnya Yu Hong menuding kearahnya. "Siapa orang itu? Nona mengatakan aku orangnya?" seru Kim Thi sia keheranan- Sambil tersenyum Yu Hong manggut- manggut.

Kim Thi sia betul-betul dibuat tak habis mengerti, katanya cepat:

"Nona, jangan salah menuduh, buat apa aku mesti bergurau denganmu?" Dengan wajah serius, Yu Hong menggelengkan kepalanya berulang kali. Kim Thi sia berpikir bahwa keadaan seperti ini kalau dibiarkan berlangsung terus, niscaya tak akan ada habisnya, maka dia pun berseru kemudian:

"Nona, aku akan memeriksa dulu tubuhmu, kemudian baru berusaha untuk membebaskan totokan jalan darahmu."

Habis berkata ia segera memeriksa tengkuk sinona dengan seksama, diatas jalan darah bisunya ia segera menemukan sebuah titik berwarna hitam, tapi tak diketahui olehnya tertotok karena ilmu apa.

Sesudah termenung sebentar, diapun berkata kemudian:

"Aku segera akan membebaskan jalan darahmu dengan menggunakan tenaga dalam." Yu Hong memandang sekejap kearahnya dengan pandangan kaget.

Kim Thi sia sama sekali tak menggubris apakah gadis itu setuju atau tidak. Sambil menghimpun tenaga dalamnya dia menempelkan telapak tangannya diatas tangan sinona.

Dalam waktu singkat Yu Hong merasakan munculnya aliran hawa panas yang menyusup kedalam telapak tangannya bagaikan aliran listrik, kemudian dengan melewati pusar membalik keatas menembusi bagian-bagian penting dibadannya hingga akhirnya terhimpun dibalik telinga dan tidak mampu lagi mengalir lewat.

Makin lama hawa panas yang terhimpun disitu makin banyak dan deras, tapi kenyataannya jalan darah bisunya belum berhasil juga ditembusi.

Yu Hong mulai merasakan kepanasan setengah mati, hampir saja dia tak mampu menahan diri.

Melihat kejadian ini, Kim Thi sia segera menarik kembali sebagian tenaganya untuk mengurangi penderitaan dari Yu Hong.

Pada saat itulah tiba-tiba dari belakang tubuhnya muncul sesosok bayangan manusia.

Dengan suatu gerakan yang amat cepat orang itu menyusup kebelakang punggung Kim Thi sia, lalu menempelkan ujung pedangnya dipunggung pemuda tersebut.

Dalam keadaan begini, asal orang tersebut menghujamkan senjatanya, niscaya Kim Thi sia akan tewas seketika.

Namun Kim Thi sia masih tidak menyadari hal tersebut, seluruh perhatian dan tenaganya sekarang telah terhimpun untuk berusaha menembusi jalan darah bisu Yu Hong.

Mendadak dia mengerahkan kembali tenaganya kuat-kuat. Yu Hong yang sama sekali tak menyangka akan hal ini menjadi terperanjat sekali tahu-tahu segulung hawa panas yang luar biasa hebatnya menerjang tembus jalan darah bisunya dan memancarkan peredaran darah dengan hebatnya.

Yu Hong tak mampu menahan diri lagi ia segera berseru tertahan, kemudian teriaknya: "Sute, cepat hentikan perbuatanmu"

Sementara itu Kim Thi sia pun merasa hatinya lega setelah mendengar Yu Hong dapat berteriak. Hawa murninya segera membuyar dan tubuhnya tertunduk lemas diatas tanah.

Berada dalam keadaan begini, dia sama sekali tidak menaruh perhatian lagi atas teriakan gadis tersebut. Dia hanya tahu duduk bersila dan segera mengatur kembali pernapasannya .

Yu Hong pun tidak mengusiknya, kepada orang yang dipanggil sute tadi ia memberi tanda agar menyingkir dari situ.

Lelaki yang disebut sute tadi bernama Li Beng poo, dengan gelisah segera bertanya: "Sute, kau tidak terluka bukan?"

"Luka sih tidak" jawab Yu Hing. "Tapi aku sudah tiga hari tak berbicara Untung dia telah membantuku membebaskan totokan jalan darah bisuku." Seraya berkata, dia segera memandang sekejap kearah Kim Thi sia dengan mesrah. Dengan perasaan tak habis mengerti Li Beng poo bertanya lagi:

"Bukankah dia berada bersama mereka?Jangan-jangan orang ini mempunyai maksud dan tujuan tertentu?"

Yu Hong tertawa dingin.

"Sekarang, kekuatanku sudah pulih kembali seperti sedia kala. Seandainya ia berniat melakukan sesuatu, memangnya kekuatan kita berdua tak mampu untuk menghadapinya?"

"Suci" Li Beng poo segera berbisik, "Mengapa kita tak manfaatkan kesempatan yang baik saat ini untuk membelkuknya dulu, bila duduk persoalan yang sebenarnya telah jelas, kita baru melepaskannya kembali?" Dengan cepat Yu Hong menggeleng.

"Bila kita membekuknya sekarang, dia tentu akan menuduh kita benar-benar rakus. Hmmm, aku tak sudi berbuat begitu" Kemudian setelah mendengus lagi, dia berkata lebih jauh: "Sute, apakah kau telah berjumpa dengan ayahku?"

"Semenjak berpisah dengan suhu, aku tak pernah bersua lagi dengan dia orang tua.

Kemungkinan besar suhu sedang mengejar jejak sipedang emas. "

"Dengan kekuatan ayah seorang, aku kuatir kena dicelakai mereka. " kata Yu Hong risau.

"Yaa, anak murid si Malaikat pedang berbaju perlente memang rata-rata berakal busuk dan kejam. Dengan kemampuan suhu seorang, belum tentu ia sanggup menghadapi kerubutan orang banyak akupun amat menguatirkan keselamatannya" Mendadak terdengar Kim Thi sia membentak keras:

"Hey, kau jangan bicara sembarangan- Siapa bilang anak murid Malaikat pedang berbaju perlente semuanya orang jahat?"

"Maksud anda semuanya orang baik?"jengek Li Beng poo dengan suara keras.

Merah padam selembar wajah Kim Thi sia setelah mendengar ucapan ini, cepat-cepat dia berkata:

"Paling tidak aku, Kim Thi sia toh bukan manusia sebangsa apa yang kau katakan" "Aaaah, tahu muka, tahu wajah belum tentu tahu hatinya" sela Yu Hong tersipu-sipu. "Siapa tahu kaupun mempunyai rencana lainnya?"

Dengan wajah serius Kim Thi sia segera berkata: "Siapa bilang aku mempunyai maksud tertentu? Kau jangan memfitnah orang baik"

"orang baik?" Yu Hong tertawa dingin. "Tak nyana kau berani menempeli wajah sendiri dengan emas. Huuuh, tak tahu malu"

"Apakah nonapun tidak percaya kepadaku?" seru Kim Thi sia gelisah. "Bukankah aku telah membebaskan- "

"Jadi kau anggap setelah menolongku lantas kau menganggap dirimu sebagai orang baik?

IHmmm, apa yang telah kauperbuat dengan ciciku?" Sambil melompat bangun Kim Thi sia berseru:

"cicimu telah ditangkap orang-orang Tay sang pang. Sekarang pun aku sedang bersiap-siap pergi menolongnya. coba tidak bertemu denganmu, aku telah pergi mencarinya. Nona bagaimana kalau kita bersama-sama pergi menolong cicimu?"

"Kalau hendak pergi, kau boleh pergi sendiri" kata Yu Hong sambil mencibirkan bibirnya. "Aku hendak pergi mencari ayah. Bila kau tak berhasil menolong ciciku, tanggung ada orang yang akan datang untuk membunuhmu."

"Hmmm, siapa orangnya? Orang-orang dari Tay sang pang? Aku sih tak bakal takut" "Orang itu bukan anggota Tay sang pang" "Lantas siapa?"

LoBeng poo menyela secara tiba-tiba:

"Suci, tak usah ribut dengannya, mari kita mengurusi pekerjaan sendiri." Dengan mata melotot Kim Thi sia segera menegur:

"sewaktu aku berbicara dengannya, lebih baik kau jangan turut menimbrung. "

"Hmmm, kau tak usah berlagak sok sekarang." jengek Li Beng poo sinis. "Andaikata suci tidak melarang ku tadi, semenjak tadi pedangku telah menembusi punggung mu"

"oooh, rupanya kau berbuat begitu?" seru Kim Thi sia sambil tertawa dingin dengan angkuhnya. "Mari, mari kita coba sekarang dan buktikan bersama, punggung siapa yang bakal ditembusi pedang"

Seraya berkata dia segera mencabut ke luar pedang Leng gwat kiamnya siap melancarkan serangan.

Li Beng poo menyiapkan pula pedangnya seraya berkata: "Memangnya kau anggap aku takut kepadamu?"

Kedua belah pihak sama-sama telah meloloskan pedang masing-masing, nampaknya pertarungan sengit tak bisa dihindari lagi. Dengan perasaan gelisah Yu Hong segera berseru:

"Kalian jangan berkelahi dulu, bukan suteku yang berniat membinasakan kau "

Dengan pedang terhunus Kim Thi sia segera berpaling kehadapan gadis itu, katanya dengan perasaan mendongkol:

"Bila kau tidak menerangkan hingga jelas, jangan harap bisa pergi dari sini"

Dengan geram Li Beng poo maju selangkah kedepan, tapi ia segera ditarik oleh Yu Hong dan melarangnya untuk turun tangan-

"Hey, jangan kau halangi dirinya" teriak Kim Thi sia setelah melihat kejadian itu.

"Terus terang saja aku katakan kepadamu, si pelajar bermata sakti ang berniat membunuhmu." "ooh, rupanya orang ini" Kim Thi sia segera tertawa tergelak^ "Haaah.....haaah....haaah.....

cepat atau lambat aku memang akan mengajaknya untuk berduel serta menentukan siapa mati. Baiklah, sehabis menyelamatkan jiwa cicimu nanti, aku segera akan pergi mencarinya"

Belum lagi pergi meninggalkan tempat tersebut, tiba-tiba dia berpaling dan tanyanya lagi: "Apalagi yang telah dia katakan kepadamu?" Yu Hong tertawa misterius.

"Dia bilang, selama kau masih berkelana didalam dunia persilatan, maka tak pernah ada kedamaian ditempat ini, tapi bila kau telah menolong jiwa ciciku, akupun bersedia membantumu untuk menengahi masalah tersebut "

"Hmmm, siapa yang kesudian dengan maksud baikmu itu?"

Selesai berkata ia segera membalikkan badan dan beranjak pergi dengan perasaan mendongkol.

Dari kejauhan sana kedengaran Yu Hong sempat mengomel. "Huuuh, betul-betul manusia yang tahu diri"

Dengan membawa perasaan mangkel dan mendongkol, Kim Thi sia berangkat meninggalkan kedua orang itu, dia tak menyangka air susu telah dibalas dengan air tuba.

Kini dia berencana untuk berangkat mencari Nyoo Soat hong terlebih dulu, ia kuatir gadis tersebut menunggunya terlalu lama. Baru berjalan sejauh empat, lima li angin terasa berhembus amat kencang. Pemuda kita merasa haus, ketika melihat ada warung teh dikejauhan situ, cepat-cepat dia berjalan menghampirinya .

Diluar kedai teh parkir sebuah kereta kuda, semenjak pandangan pertama Kim Thi sia sudah menaruh perhatian atas kereta tersebut dan berkeinginan untuk melongoknya, namun diapun merasa rikuh untuk melongok kereta orang tanpa sebab musabab yang jelas, untuk berapa saat lamanya dia menjadi bimbang dan tak tahu apa yang mesti diperbuatnya.

Tiba didalam warung, terdengar si kusir kereta sedang menggerutu dengan keringat bercucuran membasahi wajahnya.

"Menyuruh orang lain menempuh perjalanan siang malam, tapi enggan membayar mahal, apa- apaan ini. "

Kim Thi sia yang mendengar omelan itu segera berpaling dan memandang lagi kearah kereta yang diparkir didepan pintu, pikirnya: "Entah barang apa yang diangkat didalam kereta tersebut."

Karenanya dia semakin menaruh perhatian atas kereta tersebut.

Ketika si kusir kerera melihat pemuda kita berbaju kotor karena debu, dia tahu orang ini pasti sedang menempuh perjalanan jauh, maka segera tegurnya: "Siangkong, apakah kau hendak menuju kebarat pula?"

Kim Thi sia segera manggut- manggut dan bersiap-siap mengadakan perkenalan dengan si kusir kereta itu.

Terdengar si kusir kembali berkata:

"Kebetulan sekali keretaku akan menuju kebarat juga. Siangkong, bila kau bersedia memberi uang arak untukku, mari ikut menumpang diatas keretaku saja."

Kim Thi sia segera merasakan pucuk dicinta ulam tiba, serta merta dia mengangguk tanda setuju. Selesai minum teh diapun duduk disisi si kusir kereta itu.

Mendadak.....

Dari balik kereta terdengar seseorang mendengus dingin dengan suara yang tinggi melengking. Dengan cepat Kim Thi sia menghentikan langkah kakinya.

Menyusul kemudian dari balik kereta menongol sebuah kepala orang. Sebetulnya wajah orang itu diliputi hawa amarah, tapi setelah melihat Kim Thi sia, semua amarahnya seperti lenyap tak berbekas.

Kim Thi sia memperhatikan kembali wajah orang itu, dia menjumpai tamu tersebut beralis mata tipis, mata yang tajam bagaikan kilat, hidung mancung mulut kecil dan suatu perpaduan yang serasi sekali.

Segera pikirnya cepat:

"Aaaah, rupanya aku telah salah sasaran-"

Baru saja hendak mengundurkan diri dari situ, orang tersebut telah manggut- manggut sambil tertawa kepadanyha, dengan kejadian ini terpaksa dia harus keraskan kepala dan naik keatas kereta.

Ketika saling memperkenalkan diri, orang itu mengaku bernama Lam wi, sedang Kim Thi sia memperkenalkan nama yang sebenarnya.

orang itu kelihatan sangat aneh, agaknya dia belum pernah mendengar nama Kim Thi sia bahkan sama sekali tak memandang sekejappun kearah pedang Leng gwat kiamnya.

Menjelang tengah hari, ketika kereta mereka melalui sebuah kota. Lam wi berkata sambil tersenyum: "Saudara Kim, tempat ini bernama Ban kian, si sute berniat beristirahat dulu disini, kemudian baru meneruskan perjalanan lagi magrib nanti"

Terpaksa Kim Thi sia harus manggut- manggut menyetujui, selain itu dia sendiripun merasa amat penat dan berniat manfaatkan kesempatan tersebut untuk beristirahat.

Kereta berhenti didepan sebuah rumah penginapan, kedua orang itu segera turun dari kereta. Lam wi langsung menuju kesebuah tumpukan batu diluar rumah penginapan agaknya ia sedang menghitung hari.

Kim Thi sia masuk kedalam penginapan lebih dulu dan memesan sebuah kamar. Lam wi segera menyusuk pula dari belakang dan berseru pelan: "Pelayan, kami memesan dua buah kamar"

Kim Thi sia yang mendengar perkataan itu menjadi tertegun segera pikirnya:

"Aneh, mengapa mesti memesan dua kamar? Atau mungkin dia enggan tidur sekamar denganku?"

Karenanya diapun membungkam dalam seribu bahasa.

Agaknya Lam wi dapat menebak jalan pemikiran pemuda kita, dia segera berpaling dan berkata sambil tertawa:

"Saudara Kim, siaute sudah terbiasa tidur sendirian, harap kau jangan marah" "Aaah, mana, mana, silahkan saudara Lam."

Setelah masuk kedalam kamar, Kim Thi sia segera membaringkan diri keatas ranjang. Menurut perhitungannya sudah beberapa hari dia tak dapat tidur nyenyak maka saat ini tanpa berpikir panjang lagi ia tidur dengan nyenyaknya.

Ditengah kegelapan tidurnya, mendadak terdengar suara yang pelan mengejutkan hatinya ketika pemuda itu membuka matanya, ia seakan-akan melihat ada sesosok bayangan manusia berkelebat lewat.

Melihat kejadian ini Kim Thi sia segera melompat bangun, ia menjumpai pintu kamar masih tertutup rapat. Pedang Leng gwat kiampun masih utuh dibawah ranjangnya.

Maka diapun menghembuskan napas lega, ketika mendekati jendela, ternyata sore telah menjelang.

Keluar dari kamar ia segera bertanya kepada seorang pelayan:

"Hey pelayan, apakah siangkong yang datang bersamaku belum bangun?" "Siangkong itu belum bangun, apakah perlu hamba memanggilnya?" "ooh, tidak usah, biarkan ia tidur. "

Pelayan itu mengiakan berulang kali.

Sampai sekarang Kim Thi sia masih teringat dengan bayangan manusia yang membangunkannya dari tidur tadi. Pelan-pelan dia berjalan keluar dari penginapan dan memandang sekejap sekeliling tempat itu.

Mendadak ia melihat dari seberang jalan sana terdapat dua orang yang membalikkan badan segera tiba-tiba kemudian beranjak pergi dengan langkah tergesa-gesa. Melihat kejadian ini timbul rasa curiga dihati kecilnya, ia segera berpikir: "Kebetulan sekali, aku memang sedang risau karena tak dapat mencari jejak kalian-" Maka sambil menguntil dibelakang kedua orang tersebut, dia melakukan pengejaran-baru berjalan berapa langkah, tiba-tiba pikirnya lagi:

"Mereka mempunyai banyak akal muslihat, aku tak boleh terperangkap oleh siasatnya, lagi pula pedang Leng gwat kiam tidak kubawa. Aku tidak boleh bertindak gegabah."

Maka diapun meninggalkan kedua orang tersebut dan cepat-cepat balik kembali kedalam rumah penginapan. Belum lama ia tiba didalam kamar, pelayan telah muncul menghantarkan hidangan dasar sudah laparpemuda itu segera bersantap dengan lahapnya.

Tiba-tiba pintu kamar didorong orang dan muncul seseorang, ternyata orang itu adalah Lam wi.

Dengan cepat Lam wi duduk disisinya seraya berseru: "Saudara Kim, bagaimana kalau aku turut bersantap?"

Buru-buru Kim Thi sia mengangguk ketika melihat wajah dan kulit tubuh rekannya yang putih bersih dan halus itu, untuk sesaat ia nampak tertegun dan termangu-mangu.

Lam wi kelihatan berkerut kening, dengan pancaran sinar tajam dia mengawasi pemuda itu lekat-lekat.

Kim Thi sia segera menyadari kehilafannya, sambil tertawa minta maaf katanya: "Selesai bersantap nanti, kita harus melanjutkan perjalanan, setuju bukan ?"

"Tentu saja "

Kim Thi sia memang ingin cepat-cepat berangkat, mendengar jawaban tersebut ia segera mengambil pedangnya dan siap berangkat.

Keluar dari kota, sampailah mereka ditepi sungai, terdengar Lam wi berkata secara tiba-tiba: "Saudara Kim, bagaimana kalau kita lanjutkan perjalanan dengan menumpang perahu?" "Bagus sekali" sahut Kim Thi sia sambil mengangguk.

"Mari kita mencari perahu." Lam wi segera mencari perahu lalu mengajak Kim Thi sia keatas sebuah perahu kecil.

Tak lama kemudian perahu mulai berlayar, ketika Lam wi melongok ketepi pantai tiba-tiba saja dia mendengus dingin.

Kim Thi sia pun melihat ditepi pantai berdiri dua orang manusia yang sedang mengawasi gerak gerik mereka, tanpa terasa dia berpikir: "Besar kemungkinan kedua orang itu datang mencari gara-gara denganku"

Berpikir begitu, hatinya pun menjadi gusar bercampur mendongkol sehingga tanpa terasa dia turut mendengus.

Lam wi segera berpaling dengan sorot matanya yang tajam bagaikan sembilu dia awasi sekejap pemuda kita. Sekulum senyumanpun segera tersungging diujung bibirnya.

Waktu itu senja telah menjelang tiba, setelah berlayar sekian waktu sampailah perahu itu ditepi sebuah dermaga.

Tiba-tiba Kim Thi sia menemukan lagi ada tiga, empat lelaki sedang mengawasi gerak gerik mereka dengan tindak tanduk yang sangat mencurigakan-

Dengan perasaan amat mendongkol Kim Thi sia melotot sekejap kearah beberapa orang itu, kemudian dengan langkah lebat berjalan mendekatinya.

Paras muka ketiga, empat orang lelaki itu berubah hebat. Tanpa banyak bicara mereka segera terjunkan diri kedalam sungai.

Melihat kawanan manusia itu bernyali sekecil tikus hingga kabur dalam keadaan mengenaskan, tanpa terasa lagi Kim Thi sia tertawa bangga. Sekembalinya keatas perahu, terdengar Lam wi menyapa sambil tertawa terkekeh: "Saudara Kim, mengapa sih kau mengusir orang-orang itu kedalam air?" Sambil mengangkat bahu Kim Thi sia tertawa nyaring, sahutnya:

"Siapa suruh kawanan cecunguk itu mengikuti diriku terus? Aku memang bermaksud membekuk mereka untuk ditanyai keterangan- Aaah slapa tahu mereka telah terjun semua kedalam air"

"Jadi kau tak kenal dengan mereka?" "seorangpun tak kukenal, memang aneh sekali."

"Aku sih tahu" batin Lam wi. "Kejadian semacam ini sama sekali bukan kejadian aneh"

Tapi diluaran dia tersenyum, lalu sambil menyambar pedang Leng gwat kiam ditangan pemuda itu, katanya hambar:

"Kelihatannya pedangmu ini bukan barang sembarangan"

Kim Thi sia sama sekali tak menduga sampai kesitu, dia amat terperanjat dan buru-buru merebut kembali pedang tersebut dari tangannya.

"Soal ini......bukan " saking gelagapannya dia sampai tak tahu apa yang mesti dikatakan-

Melihat kepanikan pemuda itu, Lam wi kembali tertawa geli.

"Buat apa kau panik dan gelisah macam cacing kepanasan? Aku toh cuma melihatnya sebentar.

Bila sampai diambil orang-orang tadi, bagaimana jadinya ?"

"sore tadi. siapakah dia?"

Tanpa terasa dia teringat kembali dengan bayangan manusia yang lamat-lamat terlihat sewaktu mendusin dari tidurnya sore tadi. Dengan rasa curiga bercampur keheranan dia segera mengawasi rekannya lekat-lekat

Kembali Lam wi tertawa misterius. Mendadak.......

Dari arah pantai sana berkumandang datang suara langkah kaki manusia yang ramai sekali. Kali ini Kim Thi sia tak bisa menahan diri lagi, dengan membawa pedang Leng gwat kiamnya, ia melompat keatas daratan-

Sementara itu, kawanan manusia tersebut sudah mendekat ketika Kim Thi sia mengamati dengan lebih seksama, terlihat olehnya jumlah mereka semua mencapai belasan orang, maka dia pun segera menghadang jalan perginya.

Mendadak terdengar seseorang berseru: "Yaa betul, dia orangnya"

Kim Thi sia mengalihkan perhatiannya ternyata orang yang berbicara tak lain adalah sipendek yang bertarung dengannya kemarin.