Lembah Nirmala Jilid 40

 
Jilid 40

Begitu suara bentakan bergema, serentak puluhan orang jago persilatan itu menarik kembali senjata masing-masing sambil melompat mundur kebelakang, suasana dalam arenapun menjadi hening, sepi dan tak kedengaran suarapun.

Menanti semua jago telah mundur teratur, kakek berjenggot pendek itu baru berkata lagi: "Harap kalian mendengar perkataanku dulu "

Belum selesai ucapan tersebut diutarakan, mendadak terdengar seseorang berseru sambil tertawa merdu:

"Ayoh bertarung lagi. kenapa sih kalian menghentikan pertarungan ini?"

Begitu mendengar suara merdu tersebut, bagaikan disengat kalajengking beracun, dengan cepat berpaling dan mengawasi sekeliling tempat itu dengan sorot matanya yang tajam, kemudian dengan wajah kaku dan serius ia membentak: "Sungguh tak disangka Dewi Nirmalapun telah hadir disini. Bagus, bagus sekali. "

Tiba-tiba nampak sesosok bayangan manusia meluncur datang dengan kecepatan bagaikan sambaran petir, sedemikian cepatnya gerakan tubuh orang itu membuat bukan saja kawanan jago itu menjadi terkejut, Kim Thi sia sendiripun amat terperanjat jadinya.

Ternyata orang itu adalah seorang perempuan berbaju ungu, begitu munculkan diri dan semua orang dapat melihat wajahnya dengan jelas, kawanan jago persilatan itu segera berpikir dengan perasaan kaget.

"ooooh, benar-benar amat cantik sungguh tak disangka perempuan secantik ini ternyata

memiliki kepandaian silat yang luar biasa hebatnya. "

Perempuan cantik itu memang tak lain adalah Dewi Nirmala, sambil tertawa terkekeh ia berkata:

"Wahai Kim Thi sia, aku sudah tahu kalau kau tak bakal mampus" Kim Thi sia seperti sudah melihat panah beracun yang tersembunyi dibalik senyuman manisnya itu, bukan saja ia tidak terpikat oleh kecantikan wajahnya, malahan dengan perasaan muak dan sebal dia tertawa dingin.

"Heeeh..... h eeeeh...... h eeeeh perkataanmu memang benar. Takdir belum menentukan

Kim Thi sia harus mati, tentu saja aku tak akan mati konyol"

"Aku dengar, kau berhasil mengobrak abrikan sembilan pedang dari dunia persilatan semalam?" kata Dewi Nirmala sambil tertawa.

"Terima kasih atas perhatianmu" dengus sang pemuda makin sebal.

"Kau memang seorang lelaki hebat, hanya didalam semalaman saja, sembilan pedang dari dunia persilatan yang begitu termashur ternyata berhasil dikalahkan "

Berbicara sampai disitu ia tertawa terkekeh-kekeh, kemudian baru lanjutnya lebih jauh: "Bukan cuma begitu, konon sipedang besi, pedang tanah, dan pedang api tewas pula

ditanganmu. "

"Hmm, kau tak usah gembira karena tragedi yang menimpa orang lain" dengus Kim Thi sia sinis. "cepat atau lambat kau "

Gelak tertawa Dewi Nirmala bertambah keras, berapa saat kemudian ia baru berkata: "Bagaimanapun juga, aku patut berterima kasih kepadamu, sebab kau telah membantuku untuk

mengurangi banyak kerepotan."

"Masalah ini merupakan masalah budi dan dendam dari saudara seperguruanku tak usah kau berterima kasih kepadaku. Kaupun tak usah mencampurinya. "

"Tidak!! kedatanganku hari ini adalah untuk menyampaikan rasa terima kasihku "

Kim Thi sia mengetahui kekejaman serta kebuasan hatinya. Ketika mendengar perkataan tersebut, tak kuasa lagi ia tertawa terbahak-bahak.

"Haaaah......haaaah.......haaaaah. kau hendak menggunakan ilmu Tay yu sinkang untuk

berterima kasih kepadaku?"

" Keliru,aku justru hendak menggunakan "darah" untuk membalas kesungguhan hatimu itu. "

"Apa kau bilang?" seru Kim Thi sia tertegun.

Sebagai seorang yang pintar, dari perkataan tersebut secara lamat-lamat ia bisa menarik kesimpulan, kontan saja hatinya bergetar keras. Selapis awan hitam yang tidak menguntungkan pun secara menyelimuti sekeliling tubuhnya.....

sementara itu kawanan jago persilatan lainnya telah meninggalkan tempat itu secara diam- diam, mereka pergi sejauh-jauhnya dari tempat kejadian tersebut.

Biarpun nama "Dewi Nirmala" belum lama muncul didalam dunia persilatan, namun mereka dapat menyadari dan memahami manusia macam apakah perempuan tersebut.

oleh sebab itulah dikala semua orang tahu bahwa perempuan yang berada dihadapannya adalah "Dewi Nirmala", pikiran dan perasaan merekapun segera berubah.

Mereka sudah sering kali mendengar orang bercerita bahwa Dewi Nirmala adalah seorang perempuan yang cantik rupawan namun berhati keji bagaikan ular berbisa.

Itulah sebabnya mereka segera mengambil keputusan untuk meninggalkan tempat tersebut sejauh-jauhnya.

Kemunculan Dewi Nirmala mendatangkan pula pelbagai kesulitan bagi Kim Thi sia, dengan kehadirannya bukan saja semua rencananya selama ini mengalami kegagalan total lagi pula memberikan ancaman yang lebih sering bagi keselamatan putri Kim huan. Ia sengaja tidak menggubris keadaan putri Kim hUan, dengan berbuat begitu dia berharap Dewi Nirmala tidak mengetahui akan kekuatirannya sehingga turun tangan mencelakai gadis tersebut.

Tiba-tiba Dewi Nirmala bertepuk tangan nyaring, disusul kemudian dari balik hutan tak jauh dari situ muncul tiga orang kakek berambut putih yang kepalanya mengenakan gelang emas.

Ketiga orang itu munculkan diri dengan langkah lebar dan tegap. jelas ilmu silat yang mereka miliki amat hebat.

Kim Thi sia mengalihkan sorot matanya kearah orang yang berdiri dipaling kiri dari ketiga orang tersebut, mendadak serunya kaget: "Aaaah bukankah dia adalah Nirmala nomor tujuh?"

Nirmala nomor tujuh memang orang yang bersikap paling baik terhadapnya. andaikata tiada bantuan dari orang tua ini, bisa jadi dia tak akan berhasil lolos dari Lembah Nirmala untuk selamanya.

Kini, Nirmala nomor tujuh yang tegap dan gagah sama sekali tak bergerak ditangan rekan- rekannya, jelas orang tua itu sudah mendapat celaka. Tampak Dewi Nirmala menarik kembali senyumnya, lalu berkata dingin: "Yaa betul, dia memang Nirmala nomor tujuh."

"Kenapa dia? Kenapa ia berada ditangan- "

Paras muka Dewi Nirmala berubah sangat cepat, terdengar ia tertawa dingin tiada hentinya kemudian berkata:

"Bila ditinjau dari kegelisahan yang mencekam wajahmu, rasanya apa yang kuduga memang benar. Hmmm^ hmmm. ia berani berhianat dan bersekongkol dengan musuh, dosanya tak bisa

diampuni lagi"

"Mengapa ia tak mampu berkutik? Sebetulnya apa yang telah kau lakukan kepadanya?" seru Kim Thi sia semakin terkejut.

"Ia sudah mampus" jawab Dewi Nirmala singkat.

Kata-kata itu muncul dari bibirnya tanpa sesuatu reaksi, pada hakekatnya ia tak menganggap peristiwa ini sebagai suatu kejadian yang berarti. Menyaksikan hal mana, tanpa terasa para jago berpikir:

"Apa yang diduga ternyata benar, kekejaman siluman perempuan ini melebihi ular berbisa." Sementara itu Kim Thi sia telah berteriak keras:

"Apa? Sudah mati? Kau yang membunuhnya?"

" omong kosong, memangnya aku harus bertanya dulu kepada orang lain bila hendak menghukum anak buahku sendiri?" jengek Dewi Nirmala sambil tertawa dingin. Kim Thi sia semakin gusar, teriaknya:

"Siluman perempuan, kau jahat, kau kejam. Berani amat kau mencabut nyawanya. "

Sementara berteriak. titik air mata tanpa terasa jatuh berlinang membasahi wajahnya.

Dipandangnya mayat Nirmala nomor tujuh sekejap dengan pandangan tertegun, kemudian sambil berusaha mengendalikan kobaran api dendamnya, dia bertanya: "Dosa dan kesalahan apa yang telah diperbuatnya? coba kau terangkan kepadaku"

"Ia telah berhianat, telah bersekongkol dengan musuh" dengus Dewi Nirmala. "Siapa yang kau maksudkan sebagai musuh?"

"Kau"

"Apa?" bagaikan peluru yang dibidikkan Kim Thi sia melompat keatas, lalu teriaknya lagi. "Atas dasar persoalan inikah kau telah membunuhnya secara keji?" Kembali Dewi Nirmala mendengus dingin. "Hmmm, aku bukan orang tolol, terus terang sudah lama aku ini menaruh curiga kepadanya, sejak ia gagal menemukan tubuhmu didalam kolam, kecurigaanku makin bertambah. Aku curiga kau belum mampus dan atas bantuannya kau berhasil meloloskan diri. Hmmm kini terbukti kau masih hidup, bukankah hal ini membuktikan bahwa dugaanku memang benar?"

"Jadi ia mati lantaran aku?"

"Boleh dibilang begitu" mencorong sinar tajam dari balik mata Dewi Nirmala yang jeli. " Nirmala nomor tujuh telah menghianati diriku, bersahabat dengan musuh, dosanya tak bisa diampuni lagi. Hmmm gara-gara ulahnya kau sikeparat yang meraih keuntungan-"

"Jadi ia mati lantaranaku. ...... dia mati lantaran aku. oooh Nirmala nomor tujuh aku telah

mencelakai dirimu. " gumam Kim Thi sia amat sedih.

Mendadak api dendam dan benci membara didalam dadanya, dengan mata berapi-api pemuda itu segera membentak keras:

"Dewi Nirmala , bila kau tak mampus hari ini, akulah yang akan tewas"

Seusai berkata, dengan menghimpun tenaga Tay goan sinkangnya sebesar sepuluh bagian, ia lancarkan sebuah pukulan yang maha dahsyat ketubuh lawan-

Belum lama berselang, Dewi Nirmala sudah pernah bertarung melawan pemuda ini, dia cukup mengetahui sampai dimanakah taraf kepandaian silat yang dimilikinya, iapun mengerti kecuali ilmu Tay goan sinkang, pemuda itu tidak memiliki ilmu silat lain yang patut dikuatirkan-

Atas dasar pandangan itulah, dengan suatu gerakan yang santai dia melontarkan pula sebuah pukulan kedepan-

Benturan keras yang kemudian terjadi seketika membuat perasaan kedua orang itu sama-sama bergetar keras.

Dengan sempoyongan Kim Thi sia mundur kebelakang hingga bahunya menumbuk diatas batanga pohon, walaupun tubuhnya berhasil untuk berdiri tegak. namun menimbulkan rasa sakit yang luar biasa.

Tapi Dewi Nirmala lebih terkejut lagi, ia dapat merasakan bahwa kekuatan yang dimiliki Kim Thi sia sekarang sudah jauh berbeda dari keadaan semula, kemajuan yang berhasil dicapainya sama sekali diluar dugaan- Kejadian mana seketika menimbulkan perasaan ngeri yang baru pertama kali ini timbul dalam hatinya.

Sementara itu Kim Thi sia sama sekali tidak ambil perduli dengan keadaan luka yang dideritanya, kembali ia membentak keras:

"IHey Dewi Nirmala manusia keparat, jika bernyali ayoh sambut sekali lagi pukulanku ini" ^ sambil berkata dia menghimpun kembali tenaga dalam Tay goan sinkangnya, kemudian

melepaskan sebuah pukulan lagi.

Dewi Nirmala mendengus dingin, hawa napsu membunuh telah menyelimuti wajahnya, dia sambut datangnya ancaman tersebut dengan keras melawan keras......

Kini, ia sudah bertekad akan melenyapkan "bocah keparat" tersebut secepatnya, sebab ia sadar, kehadiran pemuda itu sudah menjadi sebuah ancaman yang mengerikan baginya, terutama kemajuan ilmu silat yang berhasil dicapainya dalam waktu singkat, jelas hal ini merupakan suatu momok baginya.

Bentrokan demi bentrokan segera berlangsung susul menyusul, setiap kali bentrokan kekerasan terjadi, diluarnya Kim Thi sia nampak tak tahan dan mundur dengan sempoyongan Padahal setiap kali sehabis terjadi bentrokan tenaga dalam yang dimilikinya mendapat kemajuan yang lebih hebat.

Disaat bentrokan keenam selesai berlangsung, Dewi Nirmala mulai merasakan akan gejala tersebut, mendadak ia berteriak keras: "Tunggu dulu" "Mau apa kau?" tegur sang pemuda sambil menghentikan serangannya. "Aku ingin bertanya kepadamu"

"Apa yang ingin kau tanyakan?" seru Kim Thi sia tak sadar. "Ayoh cepatlah sedikit, toaya tak sabar untuk menunggu lebih lama lagi."

Untuk pertama kali ini Dewi Nirmala harus menahan sabar, sekalipun dia merasa tak terbiasa dengan sikap tersebut, tidak urung dia harus berusaha untuk mengendalikan diri, katanya dengan tenang:

"Selain ilmu Tay goan sinkang, kepandaian apa lagi yang diwariskan Malaikat pedang berbaju perlente kepadamu?"

"Buat apa kau menanyakan tentang persoalan ini?" tanya Kim Thi sia keheranan- "Tak usah bertanya, jawab dulu pertanyaanku itu"

"Aku tak mau menjawab"

Berubah hebat paras muka Dewi Nirmala teriaknya dengan marah:

"Bila kau tak bersedia menjawab, akan kuperintahkan orang untuk mencincang mayat Nirmala nomor tujuh hingga hancur berkeping-keping. "

Kim Thi sia sama sekali tidak menyangka kalau perempuan tersebut akan berbuat serendah ini, untuk sesaat dia menjadi terbelalak dengan mata melotot, untuk berapa waktu lamanya tak sepatah katapun yang mampu diucapkan-

Melihat pemuda itu " masuk perangkap". Dewi Nirmala segera mengetahui bahwa lawannya adalah seorang setia kawan yang tak tega melihat sobatnya mengalami keadaan tragis. Maka sambil tertawa puas ia berkata:

"Bersedia untuk menjawab atau tidak silahkan kau pertimbangkan sendiri. "

Karena terdesak oleh keadaan, terpaksa Kim Thi sia berkata:

" Ilmu pukulan Panca Buddha"

Dewi Nirmala segera manggut-manggut.

"Yaa benar, ilmu pedang dan ilmu pukulan ini merupakan kepandaian silat yang luar biasa, batu emaspun tak akan mampu membendungnya." Kemudian setelah berhenti sejenak. ia bertanya lagi: "Kecuali ilmu pukulan panca Buddha, masih ada yang lain?"

"Aku rasa, hanya satu itupun sudah lebih dari cukup," cepat-cepat Dewi Nirmala menggeleng. "Yang kumaksudkan adalah semuanya, ayoh cepat sebutkan semua ilmu yang telah diwariskan

Malaikat pedang berbaju perlente kepadamu."

"Kau kelewat memojokkan orang, aku tak sudi menjawab" seru Kim Thi sia mulai marah. Dewi Nirmala tertawa dingin.

"Heeeeh......heeeeh......heeeeh aku mampu untuk memaksamu agar memberi jawaban"

Ia segera mengulapkan tangannya, seorang kakek berjenggot panjang yang berdiri disisinya segera tampilkan diri dengan langkah lebar, tanyanya dengan hormat: "Sincu ada perintah apa?"

"Turunkan nirmala nomor tujuh"

Orang yang disebelah kiri menurut dan turunkan jenasah tersebut, lalu berdiri tegap dengan sikap yang menghormat.

"Siap menunggu perintah selanjutnya dariSincu" katanya kaku. " Loloskan pedang" hardik Dewi Nirmala. orang yang berada disebelah kanan segera meloloskan sebilah pedang, tampak tubuh pedang tersebut bergetar keras hingga mendengung nyaring, jelas senjata itu merupakan sebilah senjata mestika.

Dengan kaku orang itu mengangkat pedangnya, lalu berkata singkat: "Siap melaksanakan perintah Sincu"

Dewi Nirmala tertawa terkekeh-kekeh, setelah memandang sekejap kearah Kim Thi sia pelan- pelan ia berkata:

"Inilah peraturan pertama dari lembah kami, cincangan pedang menembus hati" "Aku mengerti."

Sembari berkata matanya dipejamkan, sikapnya seakan-akan tak acuh, namun butiran air mata sempat bercucuran keluar membasahi pipinya. Terdengar pemuda itu berkata:

"Apa yang hendak kau perbuat, lakukanlah sesuka hatimu."

"Kau benar-benar tak bersedia untuk menjawab?" Kim Thi sia mengangguk. "Aku tak berhak untuk membocorkan rahasia perguruanku"

Mendengar perkataan mana, tiba-tiba saja Dewi Nirmala tertawa dingin, serunya lantang: "Turun tangan"

Suara tertawa dinginnya yang bergema nyaring, ibarat tusukan jarum yang menembusi hati siapapun yang mendengarnya, bukan saja seluruh badan terasa tak sedap perasaan hatinya pun ikut bergetar keras.

Ditengah gelak tertawa yang mengerikan hati itu, dua orang kakek berjenggot panjang yang nampaknya sudah kehilangan sukma itu, tanpa perasaan mengangkat senjata masing-masing dan siap melaksanakan hukuman "cincangan pedang penembus hati."

Ketika ujung pedang sudah tinggal tiga inci diatas jantung Nirmala nomor tujuh, tiba-tiba Kim Thi sia merasa hatinya amat sakit, segera teriaknya keras-keras: "Berhenti.....berhenti. "

Pada saat yang hampir bersamaan, Dewi Nirmala berteriak keras: "Berhenti"

Dengan gerakan yang kaku, kakek berjenggot panjang itu menarik kembali gerakan pedangnya dan diangkat tinggi-tinggi keatas. Wajahnya termangu- mangu, sorot matanya kaku, seakan-akan ia sedang menunggu perintah berikutnya. Dengan suara keras Kim Thi sia berteriak lagi:

"Bila kau berani merusak tubuh Nirmala nomor tujuh, dikemudian hari pasti akan mati secara mengenaskan- " Dewi Nirmala tertawa dingin.

"Heeeh.....heeeeh......heeeeh. jangan kau anggap setelah mengatakannya keluar berarti

kau telah membocorkan rahasia perguruan, ketahuilah Malaikat pedang berbaju perlente adalah abang seperguruanku, sedang kau masih terhitung keponakan muridku. Mengungkap keadaan yang sebenarnya dihadapanku, boleh dibilang merupakan suatu kejadian yang lumrah?"

"Aku tidak mengakui dirimu sebagai paman guruku, kau tak usah banyak lagak lagi" seru Kim Thi sia marah.

Bukan  marahi  Dewi  Nirmala  malahan  tertawa  tergelak.  "Haaaah......haaaaah.......haaaaaah kau memang tak malu disebut seorang enghiong hohan

yang berhati lurus dan jujur. Malaikat pedang berbaju perlente memang benar-benar bernasib

baik."

Setelah berhenti sejenak dan menarik kembali senyumnya, dengan suara dalamnya ia berseru lebih jauh:

"Soalnya ini tak usah diperbincangkan lagi, yang penting jawab dulu kepandaian silat apa saja yang pernah kau pelajari darinya." "Ilmu Tay goan sinkang"

"Kau ingin mengulur waktu?" Dewi Nirmala menegur dengan nada tak senang hati. "Aku sudah lama mengetahui kepandaian tersebut."

Kim Thi sia melirik sekejap kearah Nirmala nomor tujuh, lalu sambil mencoba menahan diri katanya:

"Ilmu sim hoat ciat khi mi khi"

Apa yang dibicarakan selama ini antara perempuan itu dengan sang pemuda, boleh dibilang hanya diketahui mereka berdua, oleh karena itu dikala Kim Thi sia mengungkapkan ilmu sakti yang pernah dipelajarinya dari Malaikat pedang berbaju perlente, kawanan jago lainnya hanya berdiri melongo tanpa memahami maksudnya.

Apakah ilmu Tay goan sinkang itu? Apa pula ilmu pukulan panca Buddha serta sim hoat ciat khi mi khi?jangan lagi memahami, mendengarpun baru pertama kali ini.

Untuk berapa saat lamanya semua orang cuma bisa saling berpandangan tanpa bicara, sementara dihati kecilnya tambah semacam pemikiran yang sangat aneh.

Tentu saja pemikiran yang aneh itu bukan disebabkan nama-nama ilmu silat yang dilaporkan Kim Thi sia itu, melainkan pengakuan Dewi Nirmala sebagai paman guru Kim Thi sia.

Selama ini, orang persilatan hanya tahu kalau Kim Thi sia adalah murid terakhir dari Malaikat pedang berbaju perlente, siapapun tak pernah mendengar kalau pemuda tersebut mempunyai hubungan yang erat dengan Dewi Nirmala, bahkan perempuan iblis itu masih terhitung paman gurunya.

Maka, dikala rahasia tersebut tersiar kedalam pendengaran para jago, semua orang merasa tertegun dan diluar dugaan, siapapun tidak menduga kalau perempuan iblis Dewi Nirmala yang begitu termashur namanya dalam dunia persilatan sebetulnya adalah adik seperguruan dari Malaikat pedang berbaju perlente.

"Tak aneh kalau ilmu silat yang dimilikinya begitu hebat dan luar biasa, rupanya dia mempunyai asal usul yang hebat" pikir para jago dengan perasaan ngeri. Sementara itu Dewi Nirmala telah berkata lagi:

"Belum pernah kudengar ilmu silat tersebut, rupanya sisetan tua berbaju perlente sengaja merahasiakan ilmunya ini. "

Sebagai adik seperguruannya, dia memang cukup ber "hak" untuk mengatakan demikian terhadap Malaikat pedang berbaju perlente. Mendengar ucapan mana, Kim Thi sia segera berteriak gusar: "Hey, kalau bicara jangan mencoba menghina atau memperolok-olok guruku."

"Heeeeh......heeeeeh. kau memang seorang muridnya yang baik" jengek Dewi Nirmala

sambil tertawa dingin.

Dengan sorot matanya yang tajam ia memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, kawanan jago persilatan yang bersembunyi disekeliling tempat tersebut menjadi sangat terkejut, tanpa terasa pikirnya:

"Jangan-jangan dia telah mengalihkan sasarannya kepada kami?" Ternyata Dewi Nirmala tidak berniat untuk berbuat begitu, terdengar ia berkata lagi: " Keponakan muridku, apa sih yang dinamakan ilmu ciat khi mi khi?"

"Meminjam kekuatan musuh untuk menyerang musuh."

"Ehmmm, jawabanmu amat berterus terang, aku sangat gembira" senyuman manis kembali tersungging diujung bibir Dewi Nirmala. "Tapi aka sih kegunaan serta manfaatnya?"

"Soal ini. aku sendiripun kurang begitu jelas, aku hanya dapat merasakan, tak dapat

mengemukakan alasannya." "Kau benar-benar aneh " tegur Dewi Nirmala dengan perasaan mendongkol. "Baru saja

kupuji akan keterus teranganmu. sekarang kau sudah berubah pendirian-"

Sewaktu marah, kecantikan wajahnya makin menawan hati, terutama sepasang lesung pipinya yang tampak jelas, menambah daya tarik dan pesona siapapun yang memandangnya.

Namun Kim Thi sia cukup memahami tabiatnya itu, dia tahu perempuan tersebut adalah seorang siluman wanita yang berhati kejam karenanya hatinya sama sekali tidak tertarik. "Aku telah berbicara secara terus terang" katanya.

"Apakah ilmu ciat khi mi khi dapat menambah tenaga dalam seseorang?" tanya Dewi Nirmala kemudian-

Tiba-tiba saja ia teringat dengan "sikap aneh" Kim Thi sia, dimana tenaga dalamnya dapat tumbuh dengan aneh, mungkinkah hal ini dikarenakan ilmu ciat khi mi khi?

"Yaa, kepandaian tersebut mampu menghisap tenaga murni musuh untuk memperkuat tenaga sendiri. " sahut Kim Thi sia menerangkan.

Iapun tak ingin banyak berbicara, demi keuntungan jenasah Nirmala nomor tujuh, banyak sudah pengorbanan yang dilakukan olehnya. Ketika mendengar perkataan tersebut, tergelak hati Dewi Nirmala, pikirnya:

"Ternyata dugaanku tidak meleset, "sikap aneh" bocah keparat ini disebabkan ilmu ciat khi mi khi nya, kalau begitu ilmu simhoat tersebut bukan kepandaian sembarangan- "

Segera timbullah tekadnya untuk merebut kepandaian tersebut, namun diluaran ia sama sekali tidak menunjukkan perubahan apapun- Katanya sambil tertawa terkekeh:

"Tak aneh kalau aku tidak takut menghadapi pertarungan apapun, rupanya kau memiliki kepandaian untuk melindungi badan-"

"Sudah selesai pertanyaanmu?" tegur Kim Thi sia sambil memandang sekejap kearahnya dengan pa ndangan dingin. "Apakah sudah tak ada yang lain?"

"Apa yang kau pelajari selama ini hanya terbatas sampai disini, tapi semua kepandaian tersebut cukup kugunakan seumur hidupku."

"Betul" Dewi Nirmala sependapat dengan pikirannya. "Semua kepandaian yang kau pelajari memang termasuk ilmu pilihan dari dunia persilatan, kepandaian tersebut memang cukup untuk seumur hidupmu." Kim Thi sia mendengus dingin.

"Hmmm, sekarang kau harap mengubur jenasah Nirmala nomor tujuh dengan sebaik-baiknya.

Kau harus memberi jaminan tak akan mengusik seujung rambutnya lagi."

"ooooh, tentu saja. tentu saja" Dewi Nirmala tertawa. "Tapi setelah kau selesai

mengucapkan permintaanmu, akupun hendak mengajukan permintaan pula agar adil" Diam-diam Kim Thi sia terkesiap. namun tanyanya juga dengan suara dingin dan berat: "Apa yang kau inginkan?"

Dewi Nirmala tersenyum.

"Tidak banyak. cuma Tay goan sinkang serta sim hoat ciat khi mi khi tersebut."

Tidak sampai ia selesai berkata, Kim Thi sia sudah mendonggakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

"Haaah.....haaaah......haaaah.......ternyata kalian memang satu komplotan.....haaah. haaaah"

Gelak tertawa kalapnya itu mengandung suara yang amat tak sedap didengar, terselip juga perasaan gusar yang amat tebal.

Dewi Nirmala nampak agak tertegun sejenak. lalu tanoa terasa tegurnya keras-keras: "Apa yang kau tertawakan? Apa sih yang perlu ditertawakan?" Kim Thi sia tertawa kalap tiada hentinya dengan suara lantang dia menyahut:

"Rupanya kalian memang berasal dari satu golongan- Haaah.....haaaah lebih baik tak usah

kubicarakan lagi, sebab kalau dibicarakan membuat aku teringat pula dengan dua orang yang lain- Haaah.......haaaah merekapun mempunyai maksud yang sama denganmu, sungguh kebetulan

sekali."

"Siapakah kedua orang itu?" tanya Dewi Nirmala agak tertegun.

"Yang seorang adalah sipedang emas sedangkan yang lain adalah sipukulan sakti tanpa bayangan, sobat lama mu" Dewi Nirmala semakin tertegun.

"Apa? Sipukulan sakti tanpa bayangan pun telah turun gunung?"

"Benar" Kim Thi sia berhenti tertawa dan melanjutkan dengan lantang. "Si tua bangka itu selalu memaksaku untuk menyerahkan Tay goan sinkang. Akhirnya dia kebentur batunya, tak disangka kaupun demikian juga, hmmm Agaknya kalian memang sealiran dan sependirian."

Dewi Nirmala tidak menggubris soal itu, cepat dia berseru: "Kalau begitu, kaupun telah bertemu dengan putriku Hay jin?"

Menyinggung soal Hay jin, paras muka sianak muda tersebut segera berubah hebat sambil tertawa dingin serunya:

"Tentu saja, dia mendapat perintah darimu untuk pergi bersama pemuda tersebut." Tampaknya Dewi Nirmala rikuh sekali, buru-buru tanyanya lagi:

"Kau melihat kemanakah mereka telah pergi? Sudah lamakah kepergian mereka?"

"Tak usah terburu-buru, gampang sekali bila kau ingin mencari jejak mereka" ucap Kim Thi sia dengan suara dalam. "Tengah malam nanti, sipukulan sakti tanpa bayangan telah berjanji denganku untuk meneruskan pertarungan yang belum selesai semalam ditempat ini"

"Sungguh?" Dewi Nirmala sedikit agak tak percaya. "Pertarunganmu dengan sipukulan sakti tanpa bayangan belum selesai dilaksanakan? Jadi ilmu pukulan saktinya juga tak mampu berbuat banyak terhadap dirimu?" Kim Thi sia mendengus dingin.

"Hmmm, tua bangka itu cuma pandai mengibul, padahal kepandaian aslinya belum tentu sangat hebat"

Dari mimik wajah serta sikapnya, Dewi Nirmala dapat merasakan sikap "tidak menghormat" pemuda tersebut terhadap sipukulan sakti tanpa bayangan, jelas ilmu silat yang dimiliki sipukulan sakti tanpa bayangan tak mampu mengejutkan hatinya, itulah sebabnya menyinggung soal kakek botak ini. Nada pembicaraannyapun berubah tak menghormat. "Apakah malam nanti sipukulan sakti tanpa bayangan pasti datang?"

Kim Thi sia sendiripun dapat menangkap ketidak tenangan perempuan tersebut, hal mana membuat hatinya jadi bingung, segera pikirnya:

"Toh putrinya sudah dijodohkan kepada keluarga Ang, memangnya dia mempunyai perselisihan dengan kakek botak itu?"

Berpikir sampai disitu, diapun menjawab:

"Tentu saja dia akan datang, tapi kenyataannya sipukulan sakti tanpa bayangan benar-benar akan kehilangan muka." Terdengar Dewi Nirmala bergumam lirih: "Ternyata dia tak lebih

hanya begitu, hmmm "

Sewaktu berbicara, hawa pembunuhan telah menyelimuti seluruh wajahnya, seakan-akan setiap saat ia bisa membunuh orang untuk melampiaskan hawa amarahnya itu hal mana tentu saja membuat Kim Thi sia keheranan dan tidak habis mengerti. Pada saat itulah mendadak, terdengar suara rintihan lirih bergema datang.... Kim Thi sia terperanjat sekali setelah mendengar suara itu, dengan satu gerakan cepat dia melompat kesamping putri Kim huan lalu sambil menghimpun tenaga dalamnya dia berdiri sering disitu sambil berusaha menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan- 

Dewi Nirmala kelihatan agak tercengang, ia tak mengerti apa sebab terjadinya gerak gerik yang aneh itu.

Sementara itu putri Kim huan yang berbaring tak bergerak. kini secara pelan-pelan telah bangun dan duduk.

Perasaan sedih, kaget, gembira berkecamuk didalam benak Kim Thi sia. Keberaniannya meningkat, dengan suara amat nyaring dia membentak:

"Dewi Nirmala, dengarkanlah baik-baik bila kau berani maju selangkah lagi, jangan salahkan kalau ilmu Tay goan sinkang ku tak mengenal belas kasihan-"

Dewi Nirmala merasa amat terkejut oleh kecantikan wajah putri Kim huan, pikirnya segera: "Bila dibandingkan dengan Hay jin, kecantikan perempuan ini boleh dikata seimbang, tapi

darima na datangnya wanita secantik ini?"

Terdorong oleh perasaan ingin tahunya, sambil tertawa merdu ia segera menegur: "Siapa kau?" tanya putri Kim huan tertegun.

"Aku bernama Dewi Nirmala."

Dengan sepasang matanya yang jeli putri Kim huan memperhatikan sekejap sekeliling arena, lalu sahutnya sambil tersenyum:

"Namamu memang bagus sekali, aku rasa kau pasti seorang perempuan yang lembut suci bersih dan romantis."

Lalu dengan suara yang amat santai, ia memperkenalkan diri:

"Aku berasal dari Negeri Kim, orang-orang menyebutku putri Kim huan-"

"oooh, kalau begitu kau adalah tuan putri dari negeri Kim?" tanya Dewi Nirmala tertegun. Putri Kim huan segera tersenyum.

"Ehmm, sudah lama kukagumi daratan Tiongg goan, itulah sebabnya aku sengaja datang kemari untuk menikmatinya."

"Kau pernah berkunjung ke Lembah Nirmala?"

"ooooh, sbeuah nama yang amat menawan hati" puji putri Kim huan tersenyum. "Meski belum pernah kesana, tapi dari namanya sudah pasti tempat tersebut merupakan sebuah tempat yang indah dan sangat menawan hati. Dewi Nirmala, betul bukan perkataanku ini?"

"Perkataanmu memang tepat sekali, pemandangan alam di Lembah Nirmala memang nomor wahid didunia."

Ia seperti merasa cocok dengan perempuan tersebut, dengan cepat katanya lagi: "Bersediakah kau untuk berpesiar ke Lembah Nirmala?"

Melihat pihak lawan memberikan undangan dengan hati tulus, putri Kim huan siap-siap menyanggupi sambil mengucapkan terima kasih, tapi sebelum perkataan itu sempat diucapkan, mendadak terdengar Kim Thi sia yang berada disisinya telah menimbrung: "Jangan kesitu, jangan kesitu, tempat itu tak baik"

Putri Kim huan yang tidak mengetahui keadaan yang sebenarnya ternyata menurut sekali, dengan nada minta maaf, ujarnya kepada Dewi Nirmala:

"Aku harus minta maaf, karena dia menyuruh ku jangan pergi, akupun tak ingin kesitu." "Apa sih hubunganmu dengannya?" Mendapat pertanyaan ini putri Kim huan menjadi tersipu-sipu dan tanpa terasa menundukkan kepalanya.

"Kami  adalah  teman"  Kim  Thi  sia  segera  menjelaskan-Dewi  Nirmala  tersenyum.  "Kau. kau tidak seharusnya mengganggu kegembiraan orang lain, kalau toh kalian cuma

teman biasa, siapapun berhak untuk menetapkan kebebasan sendiri, benar bukan perkataan ini?"

Mendengar perkataan itu, dengan perasaan keheranan Kim Thi sia segera berpikir: "Kenapa sih perempuan ini? Mengapa secara tiba-tiba ia berubah sikap dan nada pembicaraannya?

Mungkinkah"

Ia cukup memahami sifat kekejian dan kekejaman dibalik senyuman manis si Dewi Nirmala, karena itulah dia berpikir lebih jauh, ia sadar bahwa perempuan itu mempunyai maksud yang jahat, tapi rencana keji apakah yang sedang diperbuat perempuan ini? Karena tak bisa menebak jalan pemikirannya, terpaksa dia berkata: "Kau memang benar, tapi sayang dia sudah sama sekali tak berniat untuk berpesiar."

Pelan-pelan putri Kim huan bangkit berdiri, perawakan tubuhnya yang indah menawan segera mendapat perhatian yang serius dari Dewi Nirmala. Terdengar perempuan keji itu memuji. "Kau benar-benar amat cantik"

Dengan tersipu-sipu putri Kim huan menundukkan kepalanya, tapi ia merasa amat senang, sebab pu Jian dari sesama kaum memberikan bobot yang berbeda, tanpa terasa kesan baiknya terhadap perempuan inipun semakin bertambah. "Apakah kau yang merasa lebih baikan?"

Dengan perasaan tak habis mengerti putri Kim huan balik bertanya: "Apa maksudmu?" "Maksudku, apakah tubuhmu sudah jauh lebih segar?" Kim Thi sia segera memberi penjelasan- "Yaa, aku merasa agak baikan"

Lalu sambil melemparkan sekulum senyuman manisnya, dengan sikap tersipu-sipu dia melanjutkan:

"Aku sudah tertidur sesaat, bagaimanapun jua kesegaranku sudah jauh lebih membaik."

Kim Thi sia manggut-manggut, dengan cepat dia mengambil " lentera hijau" dari atas tanah dan cepat-cepat dimasukkan kembali kedalam saku.

Dia tak ingin orang lain tahu kalau "lentera hijau" berada ditangannya, tapi tindakannya ini justru menimbulkan kecurigaan Dewi Nirmala. Terdengar perempuan itu menegur sambil tertawa merdu:

"Hey, gerak tanganmu cepat benar, benda apa sih yang kau sembunyikan itu?" Merah padam selembar wajah Kim Thi sla, sahutnya segera: "Sebuah benda milikku sendiri, kau tidak berhak untuk mengetahuinya." Dewi Nirmala semakin curiga, pikirnya kemudian:

"Sudah pasti benda tersebut menyangkut diriku, kalau tidak tak mungkin sikapnya setegang itu. "

Terdorong oleh rasa ingin tahu, tanpa terasa dia maju beberapa langkah kedepan sambil gumamnya: "Rasanya benda itu seperti. "

Kim Thi sia makin terkejut, tanpa terasa ia berpikir: "Jangan-jangan ia sudah mengetahui?"

Tatkala Kim Thi sia melihat Dewi Nirmala mendekatinya ia lantas mengira peremuan kejam itu sudah mengetahui kalau benda yang disembunyikan adalah lentera hijau dan sekarang siap merampasnya, secara diam-diam diapun menghimpun tenaga Tay goan sinkangnya untuk berjaga- jaga terhadap segala kemungkinan yang diinginkan-

Sudah barang tentu segala tindakan serta gerak gerik dari Kim Thi sia ini tak bisa mengelabuhi Dewi Nirmala, sambil tersenyum ia segera menegur: "Apakah kau hendak bertarung melawanku?"

"Kau hendak merampas barangku" Mendengar ucapan ini, Dewi Nirmala semakin curiga, dia tahu apa yang diduganya besar kemungkinan benar, maka dengan berlagak tidak mengerti katanya: "Barang apa yang pantas kurampas?"

"Sekali salah berbicara, tak mungkin buat Kim Thi sia menariknya kembali" paras mukanya berubah menjadi merah padam karena gelisah, untuk berapa saat lamanya dia berdiri tertegun dan tak mampu mengucapkan sepatah katapun.

Dewi Nirmala tahu, saat itu disekeliling tempat tersebut hadir banyak sekali anak buah dari Pek kut sinkun. Dia merasa rahasia pribadinya tak boleh sampai ketahuan orang laun, maka kepada para utusan Nirmala ia menitahkan:

"cepatlah kalian usir semuanya kurcaci- kurcaci disekeliling tempat ini, jangan biarkan siapapun memasuki wilayah seluas tiga li disekitar tempat ini barang siapa berani melanggar,jatuhi hukuman sesuai dengan peraturan kita"

Ketiga orang kakek berjenggot panjang yang berdiri disisinya serentak menjawab dengan kaku: "Siap melaksanakan perintah sincu."

Dengan pedang terhunus mereka segera beranjak pergi meninggalkan tempat tersebut. Tak selang berapa saat kemudian suasana disekeliling tempat itu dicekam kegaduhan yang luar biasa. Anak buah Pek kut sin kun pada melarikan diri terbirit-birit. Dalam waktu singkat tak seorangpun yang masih tertinggal disana.

Kini yang masih hadir dikawasan tersebut tinggal Dewi Nirmala, Kim Thi sia , putri Kim huan beserta Nirmala nomor tujuh yang sudah terkapar diatas tanah dalam wujud mayat.

Dengan sorot matanya yang tajam Dewi Nirmala memandang sekejap kesekliling tempat itu, setelah dirasakan amat sesuai dengan kehendak hatinya, dengan senyuman dikulum ia baru berkata:

"Mengapa kau tidak menjawab pertanyaan ini?"

" Kau kau hendak merampas putri Kim huan ku" tiba-tiba Kim Thi sia memberikan jawaban

yang amat cerdik.

Baru pertama kali ini dia berbicara bohong, hal mana membuat perasaan hatinya amat tidak tenang.

Sebaliknya putri Kim huan segera memandang sekejap kearahnya dengan pandangan penuh rasa cinta yang mendalam. Agaknya dia merasa amat terhibur oleh perkataan anak muda tersebut.

Sambil tersenyum Dewi Nirmala berkata lagi:

"Kau tak perlu curiga, aku tak akan merebut putri Kim huan mu"

Apa yang dikatakan Kim Thi sia sesungguhnya merupakan alasan yang dibuat-buat untuk mengatasi situasi sesaat, sudah barang tentu diapun tahu bahwa Dewi Nirmala tak akan merampas putri Kim huan-

Ketika situasi telah berkembang lain, diapun berseru lagi dengan suara cepat: "Kalau toh kau tak berniat merampasnya, biar aku mohon diri lebih dulu "

Sekali lagi Dewi Nirmala tersenyum.

"Kau hendak pergi dari sini? HHmmm^ tidak akan semudah itu"

"Aneh benar" Kim Thi sia berseru tertegun. "Aku toh punya sepasang kaki yang tumbuh ditubuhku sendiri, kenapa tak boleh pergi? Baik, akan kuperlihatkan bahwa aku dapat pergi sendiri dari sini"

Dewi Nirmala tidak mengucapkan perkataan apapun, dia cuma tertawa terkekeh-kekeh. Gelak tertawanya itu mendatangkan perasaan yang amat tak sedap bagi Kim Thi sia, dan kakinyapun sudah disiapkan untuk kabur meninggalkannya, tanpa terasa ditarik kembali, serunya gusar:

"Hey, apa yang kau tertawakan?"

Suara tertawa Dewi Nirmala semakin keras, sesaat kemudian dia baru berkata:

"Apakah orang yang termashur dalam dunia persilatan sebagai manusia yang paling susah dilayani pun berniat hendak melarikan diri" Kim Thi sia sangat mendongkol, teriaknya keras-keras: "Kau mengatakan aku, Kim Thi sia bermaksud melarikan diri?"

"Benar"

"Mengapa aku harus melarikan diri?" seru Kim Thi sia gusar. "Hari ini bila kau tak bisa menrangkan alasannya yang tepat kepada ku, jangan harap pertikaian diantara kita akan berkahir."

"Heeeh......heeeeh......heeeeh sesungguhnya diantara kita memang terjalin pertikaian yang

tak ada akhirnya" jengek Dewi Nirmala sambil tertawa dingin. Selesai berkata dia segera berjalan mendekati putri Kim huan.

Terhadap Dewi Nirmala, putri Kim huan sama sekali tidak menaruh kesan jelek. melihat perempuan tersebut menghampirinya, dengan lembut dia berkata: "Dewi Nirmala, sesungguhnya dia adalah seorang yang baik"

Dewi Nirmala sama sekali tidak menggubris perkataannya itu, sambil menggenggam tangannya yang putih dan halus, dia  memuji:  "Nona,  tubuhmu  betul-betul  putih,  halus  dan  amat lembut "

Mendadak.......

Dewi Nirmala merasakan datangnya desingan angin tajam dari belakang tubuhnya, ketika ia berpaling secara tiba-tiba, tampaklah Kim Thi sia sedang melancarkan sebuah bacokan kilat tanpa menimbulkan sedikit suarapun.

Melihat datangnya ancaman itu, dengan suatu gerakan yang sangat ringan Dewi Nirmala mengayunkan telapak tangannya melancarkan pula sebuah pukulan untuk membendung datangnya ancaman tersebut.

Ketika dua gulung tenaga pukulan itu saling beradu satu sama lainnya, segera terjadilah suara benturan keras yang amat memekikkan telinga.

Kim Thi sia segera merasakan datangnya segulung tenaga tekanan yang menghimpit dadanya, hal mana membuat kuda-kudanya tergempur dan tak kuasa lagi ia mundur tiga langkah dengan sempoyongan-

Sambil tersenyum Dewi Nirmala segera berseru:

"Hey, aku rasa lebih baik simpanlah tenagamu baik-baik"

Kim Thi sia tidak mengucapkan sepatah katapun, sambil membungkukkan badan dia menyerbu maju kemuka, sepasang telapak tangannya diayunkan bersama, agaknya sikap Dewi Nirmala telah membuat berkobarnya api kegusaran didalam dadanya, sehingga dia melanggar pentungan terbesar dalam suasana pertarungan melawan jago tangguh.

Dewi Nirmala masih berdiri tetap ditempat semula, tiba-tiba saja dia membalikkan badan, lalu sambil menghimpun tenaga dalamnya sebesar enam bagian sebuah pukulan dahsyat dilontarkan kedepan-

Kim Thi sia membenci ucapannya yang penuh sindiran, menyembunyikan golok dibalik senyuman serta kelicikan akal muslihatnya karenanya dalam serangan kali ini dia telah mengeluarkan jurus "kekerasan menguasahi seluruh jagad" dari ilmu Tay goan sinkangnya yang amat dahsyat itu. Melihat berkobarnya pertarungan sengit antara kedua orang tersebut putri Kim huan hanya bisa merasa amat cemas dan gelisah. Teriaknya tiba-tiba dengan suara keras:

"Hey, kalian jangan berkelahi, bila ada persoalan mari kita bicarakan dengan sebaik-baiknya" "Blaaaammm "

Sementara itu terjadilah kembali bentrokan keras yang memekikkan telinga rupanya kedua orang itu sudah beradu tenaga lagi.

Terdengar Kim Thi sia mendengus tertahan tubuhnya mundur dua langkah secara beruntun, ia merasakan hawa murninya bergejolak keras, matanya berkunang-kunang dan telinganya mendengung nyaring.

Sebaliknya Dewi Nirmala seperti tidak merasakan sesuatu yang aneh, dengan santai dia malah mengejek:

"Hey anak muda, jangan terburu napsu, mari kita bertarung secara pelan-pelan- " Kim Thi sia

tertawa dingin-

"Heeeeh.....heeeeh.......heeeeh pokoknya sebelum kau memberi keterangan sejalannya.

Kita bakal bertarung sampai salah satu diantara kita mampus"

Sehabis berkata, kembali dia mengeluarkan jurus "mati hidup ditangan nasib" dan "kejujuran melebihi batu emas" dari ilmu Tay goan sinkang untuk melepaskan serangan-

Terlihatlah selapis bayangan, pukulan yang berlapis-lapis menyelimuti seluruh angkasa dan mengurungi tubuh Dewi Nirmala rapat-rapat.

Dewi Nirmala amat terkejut, dari menotok serangannya dirubah menjadi bacokan, dia segera menciptakan pula selapis bayangan telapak tangan untuk melindungi diri dari ancaman-

jurus serangan yang dipergunakan kali ini adalah jurus "selaksa lentera menyemburkan api, dari ilmu pukulan nirmala nya, dibalik kelembutan terselip perubahan yang luar biasa, kemanapun musuhnya menghindar, serangan tersebut akan segera menerobos masuk serta menarik musuhnya terjerumus kedalam lingkaran pengaruhnya.

Baru saja Kim Thi sia merasakan serangannya mengenai sasaran yang kosong, tahu-tahu bahu kirinya sudah tersambar oleh ujung jari tangan Dewi Nirmala rasa sakit, panas dan linu segera menyelimuti seluruh tubuhnya.

Melihat serangannya berhasil mengenai sasaran, sambil tertawa genit Dewi Nirmala berseru: "Anak muda, kau harus berhati-hati" Secara beruntun dia melancarkan serangkaian serangan,

lalu dengan jurus "tangan suci menggapai sukma" dia mengancam jalan darah Thian leng hiat dan Tiong hu hiat ditubuh Kim Thi sia.

Dua buah jalan darah tersebut merupakan jalan darah kematian- Barang siapa terkena totokan niscaya jiwanya akan melayang.

Keadaan dari Kim Thi sia pun segera terancam dalam bahaya maut, jiwanya amat kritis.

Putri Kim huan yang menyaksikan kejadian itu menjadi amat terperanjat hingga menjerit keras.

Kim Thi sia memang amat hebat, walaupun jiwanya terancam bahaya maut ternyata ia sama sekali tak gugup atau kelabakan. Sepasang kakinya dijajakkan keatas tanah lalu pinggangnya ditekuk dan tubuhnya dilemparkan kebelakang, maksudnya untuk menjauhkan diri dari jarak totokan tersebut.

Dengan tindakan tersebut, maka serangan Dewi Nirmala yang seharusnya dapat mencapai sasaran, kini malah selisih sejauh tiga inci dari sasaran yang sesungguhnya.

Pemuda tersebut segera manfaatkan kesempatan yang sangat baik ini dengan sebaik-baiknya, mendadak kaki kanannya melancarkan telapak tangannya melancarkan pukulan bersama dengan menggunakan jurus "kelincahan menguasahi empat samudra." Dalam waktu singkat seluruh angkasa telah diliputi bunga pukulan dan hujan serangan yang amat gencar.

Bergidik juga perasaan Dewi Nirmala menghadapi serangan itu, ia tak berniat untuk beradu kekerasan, terpaksa ia memutar tubuhnya secepat petir dan menghindari sejauh lima depa dari posisi semula.

Kim Thi sia tidak berniat memberi kesempatan kepada musuhnya untuk berganti napas, kembali dia melancarkan serangan dengan jurus- jurus "kepercayaan menguasahi dunia", "kekerasan mengurungi seluruh jagad" dan "hembusan angin mencabut pohon-"

Berada dalam keadaan begini, ternyata Dewi Nirmala tidak berniat untuk beradu kekerasan, dia hanya berputar dan melompat kian kemari menghindari setiap ancaman yang tiba.

Begitulah pertarungan pun segera berkobar dengan hebatnya, untuk berapa saat keadaan tetap berimbang, siapapun tak berhasil menentukan menang ataupun kalah....

Dalam pada itu, kegelapan malam sudah mulai mencekam seluruh jagad, kentongan kedua telah lewat, rembulan bersinar dengan terangnya menyelimuti angkasa.

Dewi Nirmala yang melihat keadaan tersebut diam-diam merasa amat girang, dengan cepat ilmu Tay yu sinkangnya dihimpun siap melancarkan serangan maut. Seperminum teh kembali telah berlalu. "B laaaaaammmmmmm. "

Mendadak terdengar suara benturan keras bergema memecahkan keheningan, lalu terlihat Kim Thi sia mendengus tertahan dan roboh terjungkal kebelakang. Putri Kim huan segera menjerit

keras:

"Engkoh Thi sia"

Dewi Nirmala sendiripun berusaha keras untuk mengendalikan gejolak perasaannya, pelan- pelan dia berkata:

"Nona, kau tidak usah terkejut ataupun gugup,"

seraya berkata, dia segera berjalan menghampiri Kim Thi sia. Tiba-tiba........

Dari balik kegelapan terdengar seseorang membentak nyaring: "Jangan sentuh orang itu."

Belum lagi orangnya muncul, angin pukulannya telah menyambar datang dengan hebatnya, serangan tersebut amat kuat dan segera menghadang jalan pergi Dewi Nirmala.

Tak terlukiskan rasa terkejut Dewi Nirmala menghadapi kejadian ini, satu ingatan segera melintas didalam benaknya, dia sadar sang penyergap adalah seorang tokoh persilatan yang berilmu sangat tinggi.

Berada dalam keadaan begini, ia tak berani berayal lagi, ilmu Tay yu sinkang segera dilontarkan keluar.

Dua gulung tenaga pukulan yang sangat dahsyat dan hebat itu segera saling bertemu ditengah udara. "B laaaaaammmmmmm"

Ledakan dahsyat yang memekikkan telinga bergema memecahkan keheningan ditengah hujan pasir dan batu. Tubuh putri Kim huan serta Kim Thi sia segera tergulung sejauh tiga kaki lebih dan jatuh berguling keatas tanah.

Bersamaan waktunya......

Dari balik kegelapan, muncullah kakek botak berwajah penuh senyuman menyeramkan-Begitu tahu siapa yang datang, Dewi Nirmala segera menegur dengan suara ketus: "TUa bangka celaka, baik- baiklah kau selama ini?"

"Hey besanku, kau terlampau serius" Ternyata orang yang baru saja munculkan diri tak lain adalah ketua Tiang pek san sipukulan sakti tanpa bayangan Ang Bu im. Dewi Nirmala segera tertawa dingin, kembali ia berseru: "IHey tua bangka celaka, kemana perginya putriku Hey Jin?"

"Besanku, kau tak usah kuatir, putrimu berada bersama putraku" jawab pukulan sakti tanpa bayangan Ang Bu im gembira.

"Hmmm, kau harus membawa putriku kemari. Aku ada urusan hendak disampaikan kepadanya."

Tiba-tiba sipukulan sakti tanpa bayangan Ang Bu im menarik muka lalu dengan wajah masam dia berkata:

"Ehmmm, aku rasa persoalan ditempat ini jauh lebih penting daripada urusan apapun biar kuselesaikan dulu masalah ditempat ini sebelum mengajakmu pergi mencari putrimu." Selesai berkata, dia segera berjalan mendcekati Kim Thi sia.

"Berhenti kau" mendadak Dewi Nirmala membentak nyaring.

Ternyata kali ini sipukulan sakti tanpa bayangan sangat menurut, ia segera berhenti, berpaling sambil tertawa dan tegurnya:

"Besanku, kau masih ada pesan apa lagi?"

"Jadi kau yang telah menyergapku barusan? Ayoh katakan, apa maksud tujuanmu yang sebenarnya?"

Sipukulan sakti tanpa bayangan  tertawa  terbahak-bahak. "Haaaah.....haaaah.......haaaaah. aku takut kau akan melukainya, karena itu seranganku

tadi berusaha menghalangi hal tersebut sampai terjadi. Aku sudah cukup merasakan sampai

dimanakah kehebatan dari ilmu Tay yu sinkang mu itu." Ketika mendengar perkataan ini, diam- diam Dewi Nirmala berpikir:

"Nampaknya ilmu pukulan sakti tanpa bayangan yang dimiliki situa bangka ini memang bukan nama kosong belaka, nyatanya ilmu Tay yu sinkang tak mampu berbuat banyak terhadapnya. "

Berpikir demikian, dia segera berusaha keras untuk mengendalikan hawa amarahnya lalu dengan wajah senyuman dia berkata lagi:

"Kim Thi sia mempunyai hubungna yang amat besar denganku, karenanya aku bermaksud hendak membawanya pulang ke Lembah Nirmala. IHey tua bangka, urusan penting apakah yang sedang kau risaukan? Mari kita selesaikan persoalan ini didalam Lembah Nirmala saja " 

Seraya berkata dia melanjutkan perjalanan lagi menghampiri Kim Thi sia.

Mendengar perkataan itu, sipukulan sakti tanpa bayangan Ang Bu im segera mendengus dingin- "Hmmm, aku telah berjanji dengannya untuk melanjutkan pertarungan pada kentongan ketiga

ini. Besanku, lebih baik kau mengalah saja untukku. "

Dewi Nirmala segera tertawa dingin.

"lHeeeh.....heeeeh......heeeeh. ia sudah tergetar pingsan oleh ilmu Tay yu sinkang ku, dalam

tiga jam dia tak bakal sadar kembali. Aku lihat perjan Jian diantara kalian terpaksa harus diundurkan pelaksanaannya."

Seraya berkata dia segera membungkukkan badannya sambil merogoh kedalam saku Kim Thi sia dan mengeluarkan bungkusan persegi empat itu, selanjutnya bungkusan itupun dibuka satu persatu.

Dibawah cahaya rembulan terlihatlah dengan jelas bahwa benda tersebut berupa sebuah kotak terbuat dari besi.

Mendadak satu ingatan melintas dalam benak perempuan itu, baru saja dia hendak membuka kotak tadi. Pada saat itulah, tiba-tiba........ Sipukulan sakti tanpa bayangan membentak dengan suara keras:

"Benda tersebut merupakah hadiah bagiku. Hey besanku kau jangan menyentuhnya"

Bersamaan waktunya, dia mendorong sepasang telapak tangannya kemuka, dua gulung tenaga pukulan yang lembut dan kuat tanpa mengeluarkan sedikit suarapun segera meluncur kedepan dan menggempur tubuh Dewi Nirmala.

Dalam keadaaan tak siap Dewi Nirmala menjadi sangat terperanjat, dalam keadaan begini ia tak sempat memperdulikan kotaknya lagi, serta merta sebuah pukulan Tay yu sinkang dilontarkan kemuka.

Akibat dari bentrokan tersebut, ternyata Dewi Nirmala tergetar mundur sejauh tiga langkah lebih, wajahnya berubah menjadi merah padam seperti orang mabuk.

Jelas terlihat dalam bentrokan kali ini, sipukulan sakti tanpa bayanganlah yang berhasil menempati posisi diatas angin-Dewi Nirmala segera membentak keras:

"Tak kusangka kau situa bangkapun mempunyai rencana serapi ini" Sipukulan sakti tanpa bayangan mendengus dingin.

"Kau tahu apa maksudku turun dari bukit Tiang pek san dan jauh-jauh datang kedaratan Tlonggan ini tidak lain adalah disebabkan benda tersebut, bukan cuma aku seorang yang

mengincar benda ini, aku tidak lebih hanya salah seorang diantara sekian banyak manusia yang datang lebih duluan-"