Lembah Nirmala Jilid 39

 
Jilid 39

"Kita hidup sebagai manusia harus bisa membedakan antara budi dan dendam secara jelas. Kita tak boleh menerima budi orang, tak mau pula disakiti orang lain."

"Padahal seharusnya kau selalu berdoa agar dia selalu terancam jiwanya." "Apa maksud perkataanmu itu?"

Sang pemuda tampan tidak segera menjawab, katanya tergagap: "Aaaah, aku. aku tidak

bermaksud apa-apa."

Nona cantik berbaju putih itu segera tertawa dingin.

"Heeeh.... heeeeh...... heeeeh sekalipun tidak kau katakan akupun mengerti, harap kau

jangan salah menilai orang. Aku tak menaruh perasaan dengki atau iri atas hubungan mereka yang harmonis. "

Merah padam selembar wajah pemuda tampan itu, dengan kepala tertunduk kembali bisiknya: "Aku tidak bermaksud demikian."

Sementara itu sipukulan sakti tanpa bayangan telah muncul sambil menggandeng tangan putri Kim huan, sembari mendekati putranya, kakek itu berpesan: "Jaga dia baik-baik, jangan beri kesempatan kepadanya untuk melarikan diri" Lalu sambil berpaling, katanya pula kepada Kim Thi sia yang masih kebingungan: "sekarang, dengarkan baik-baik. Aku akan mengajukan permintaanku "

"Apa.......apa maksudmu......cepat......cepat serahkan dia. " Kim Thi sia sangat tergagap.

Mendadak seperti memahami akan sesuatu, mendadak dia melompat kemuka dan menatap wajah kakek botak itu lekat-lekat teriaknya lantang.

"Ang locianpwee apakah kau apakah kau sama seperti mereka, menghendaki ilmu Tay

goan sinkang?"

Pukulan sakti tanpa bayangan tertawa terbahak-bahak.

"Haaah......haaaah tepat sekali, kau memang pintar tanpa kuterangkanpun kau sudah

mengerti."

"Ayah " sipemuda tampan itu berteriak pula.

Perasaan kaget, bingung, gugup dan perasaan tak habis mengerti berkecamuk dibalik seruan itu, ia benar-benar tidak menyangka kalau ayahnya akan berbuat demikian-

Belum lama dia membual tentang kebajikan serta kebijaksanaan ayahnya siapa sangka kini telah terjadi perubahan yang begitu besar, ia tak berharap ayahnya melakukan perbuatan tidak terpuji seperti ini, paling tidak selama berada d ihadapan sinona kekasih hatinya.

Benar juga, baru saja ingatan tersebut melintas lewat, sinona cantik berbaju putih itu telah bertanya keheranan- "Apakah ayahku bukan berniat sungguh-sungguh untuk menolongnya dari ancaman bahaya?"

Pemuda tampan itu memperhatikan sekejap wajah putri Kim huan, untuk sesaat dia tak tahu bagaimana mesti menjawab pertanyaan dari nona cantik berbaju putih itu.

Setelah tergagap berapa saat, dia baru berkata:

"Mung kin mungkin ayahku mempunyai maksud lain."

"Maksud apa?" desak Hay jin lebih jauh.

Dibalik nada pertanyaannya jelas tersisip perasaan memandang hina atas kakek botak tersebut.

Pemuda tampan itu jadi pusing tujuh keliling, untuk berapa saat dia tidak berhasil menemukan kata-kata yang tak cocok untuk menjawab pertanyaan itu, tak kuasa lagi ia berdiri tertegun-

Tiba-tiba terdengar sipukulan sakti tanpa bayangan berkata dengan suara dalam: "Setuju atau tidak tergantung dirimu, ayoh pertimbangkan secepatnya "

Lalu setelah berhenti sejenak dia melanjutkan-

"Atas jawabanmu tadi aku merasa amat puas, bukankah kau mengatakan asal kau sanggup melakukannya tentu aka dipenuhi. Nah sekarang aku akan melihat sampai dimanakah kata- katamu dapat dipercaya "

Putri Kim huan amat sedih, belum lama dia lolos dari cengkeraman iblis sipedang emas, kini dia terjatuh pula ketangan sipukulan sakti tanpa bayangan, perasaan sedih yang luar biasa membuat gadis itu menangis tersedu-sedu.

Sekarang Kim This ia baru tahu bahwa umat persilatan tak bisa dipercaya, siapa kuat dia bisa berbuat semena-mena.

Maka sambil mengacungkan tinjunya dia berteriak:

"Hey sipukulan sakti tanpa bayangan, kuhormat dirimu sebagai seorang Bulim cianpwee. tak kusangka kaupun sama bajingannya dengan mereka. Ayoh maju, asal kai mampu menangkan aku dengan kungfumu sejati, tanpa ragu akan kuserahkan ilmu Tay goan sinkang kepadamu. Kalau tidak- biar dibunuhpun jangan harap aku bersedia mengucapkan sepatah katapun?"

Sipedang emas yang menyaksikan adegan tersebut segera menimbrung pula sambil tertawa tergelak.

"Haaaah.....haaaah......haaaah kau sudah mendengar belum hey simakhluk tua. Terus

terang aku bilang, adik seperguruanku ini bukan manusia yang gampang ditipu." Kim This ia yang mendengar perkataan itu segera berpikir pula:

"Hmmm, semua gara-gara kau, coba kau tidak berbuat begitu, mustahil sipukulan sakti tanpa tandingan akan mengincar ilmu Tay goan sinkang ku."

Berpikir demikian, hawa amarahnya segera berkobar, dengan suara keras bentaknya: "Hmmm, siapa yang menjadi sutemu, betul-betul manusia yang tak tahu malu"

Dengan menghimpun tenaga Tay goan sinkangnya, dia melepaskan sebuah bacokan maut kedepan.

Sipedang emas sama sekali tak menyangka kalau pemuda tersebut akan bertindak begini, diapun membentak gusar sambil menyambut datangnya serangan tersebut dengan keras melawan

" Duuuukkkk. "

Akibat dari bentrokan yang terjadi, kedua orang itu sama-sama tergetar mundur satu langkah.

Sipedang emas merasakan pusarnya sangat sakit bagaikan ditusuk dengan jarum tajam, tak kuasa lagi dia berseru tertahan-"Tunggu sebentar, aku hendak berbicara dulu."

Kim Thi sia yang sudah teria njur membenci sama sekali tidak menggubris teriakannya itu, sekali lagi dia melancarkan sebuah gempuran dengan ilmu Tay goan sinkangnya. Dalam keadaan terkejut bercampur gugup, sipedang emas tak berani menyambut serangan dengan keras melawan keras, buru-buru dia menghindarkan diri kesamping.

Kim Thi sia sudah nekad hendak mengajak musuhnya mengadu jiwa, tak sampai berdiri tegak. dia maju kembali kedepan sambil melepaskan sebuah pukulan dahsyat.

Jurus "kekuasaan menguasahi seluruh dunia" ini merupakan jurus yang ampuh, ganas dan amat dahsyat. seketika sipedang emas terdesak mundur lagi sejauh berapa langkah.

Dari malunya sipedang emas jadi naik darah, dia maju menyerang dengan pedangnya, tapi lagi- lagi tubuhnya tergetar mundur dengan sempoyongan terhajar dengan jurus "mati atau hidup ditangan nasib" yang dilancarkan pemuda Kim, keadaannya bertambah mengenaskan-

Melihat Kim Thi sia menyerang secara bertubi-tubi bagaikan orang kalap. sipedang emas terperanjat sekali, dalam gugupnya dia memindahkan pedangnya ketangan kiri dan melancarkan sebuah tusukan dengan jurus "selaksa panah menembusi hati."

Kim Thi sia bendung datangnya serangan lawan dengan tangan kirinya yang memainkan jurus " kecerdikan mencapai tingkatan langit", sementara telapak tangan kanannya dengan jurus "hembusan angin mencabut pohon" mencengkeram dada musuh.

Pedang emas sama sekali tak menyangka akan datangnya ancaman tersebut, seketika itu juga dadanya kena dicengkeram oleh kelima jari tangan lawan yang kuat bagaikan jepitan besi, kontan separuh badannya menjadi kaku dan kesemutan-

Baru saja Kim Thi sia hendak menggerakkan tenaga dalamnya untuk membunuh lawan d isaat itu juga dia merasakan datangnya semburan cahaya pelangi yang amat menyilaukan mata.

Berada dalam keadaan begini, dia tak sempat lagi mengurusi musuhnya, buru-buru cengkeramannya dibetot kedepan dan- "Braaat" pakaian yang dipakai sipedang emas sudah

tertarik hingga robek. Mendadak......

Sebuah benda hitam dari balik saku bajunya dan terjatuh ketanah, buru-buru sipedang emas berusaha merebutnya, namun sebuah tendangan dari Kim Thi sia membuat benda tersebut mencelat ketempat yang jauh.

cepat-ceoat sipedang emas, menengok kearah dimana benda tersebut terjatuh agaknya ia sudah tak bersemangat lagi untuk melanjutkan pertarungan, tergopoh-gopoh sebuah bacokan dilancarkan, setelah itu dia cepat-cepat menerjang kemuka.

Menyaksikan sikap musuhnya yang panik, satu ingatan segera melintas didalam benak Kim Thi sia:

"Benda itu pasti penting sekali artinya kalau tidak mustahil dia kelihatan begitu tegang dan panik"

Berpikir demikian, dia segera mengerahkan tenaga dalamnya dan melancarkan sebuah pukulan dengan jurus "kelincahan menguasahi empat samudra."

Menggunakan kesempatan disaat sipedang emas tertegun karena datangnya ancaman itu, Kim Thi sia menyerbu benda yang terjatuh tadi.

kemudian tanpa diperiksa lagi apa isinya dia masukkan bungkusan tersebut kedalam sakunya.

Pemuda itu memang berdiri tak jauh dari sipedang emas, apalagi diapun mendapat bantuan yang amat besar dari ilmu Tay goan sinkang, karenanya ia berhasil mendapatkan benda tadi jauh mendahului sipedang emas.

Tak terlukiskan rasa gusar sipedang emas melihat kejadian ini, dengan gemas dia melotot sekejap kearah lawannya, lalu sambil menjulurkan tangannya kemuka dia berteriak: "Kembalikan kepadaku"

"Hmmm, tidak akan semudah itu" sahut Kim Thi sia sinis. Raut muka sipedang emas yang jelek nampak mengejang berapa kali, tapi akhirnya dia berusaha membujuk dengan suara yang lebih lunak.

"Benda tersebut sama sekali tak berguna bagimu, kembalikanlah kepadaku"

"Tidak bisa" sahut Kim Thi sia lantang. "Tatkala kau berhasil membekuk putri Kim huan tadi,akupun pernah memohon kepadamu dengan sikap yang lembut dan halus, namun kau sama sekali tak menggubris, bahkan menuntut kepadaku untuk menukarnya dengan ilmu Tay goan sinkang. Nah sekarang aku harus memberi pelajaran kepadamu."

"Kalau dihitung-hitung, kita masih termasuk sesama saudara seperguruan- Betapapun jeleknya hubungan kita, toh tidak pantas bergurau sehebat ini, lagi pula. "

Baru berbicara sampai separuh jalan, tiba-tiba ia menerjang maju kedepan sambil melakukan cengkraman kilat.

Nyaris Kim Thi sia termakan sambaran itu, amarahnya semakin memuncak. tanpa mengucapkan sepatah katapun dia menghimpun tenaga Tay goan sinkangnya hingga mencapa delapan bagian, lalu melepaskan sebuah serangan dengan jurus " kejujuran mengalahkan batu emas."

Sejak menderita luka pada pusarnya, sipedang emas tak berani menghadapi musuhnya dengan kekerasan, dengan perasaan apa boleh buat ia terpaksa menarik diri kebelakang. Kim Thi sia tidak melakukan pengejaran lebih jauh, dia berdiri sambil termenung. Rupanya pada saat itulah, dia telah merasakan suatu kejadian yang sangat aneh.

Kalau pada mulanya, setiap kali dia beradu tenaga dengan sipedang emas, pihaknya selalu didesak mundur secara mudah, maka sekarang keadaan justru terbalik, bukan saja ia berhasil mendesak musuh bahkan mampu membuatnya gelagapan setengah mati, lantas apa yang sebenarnya telah terjadi?

Kalau dibilang dia berbakat kelewat bagus sehingga kemajuan yang dicapai amat cepat. Hal ini mustahil bisa diterima dengan akal sehat, sebab kejadian satu dengan kejadian lainnya hanya terpaut dua jam, rasanya selama seribu tahun sejarah dunia persilatan belum pernah ada kejadian seperti ini.

"Atau mungkin dialah yang mengalami kemunduran secara drastis?" ingatan ada sempat melintas didalam benaknya.

Tapi hal inipun tak mungkin sipedang emas tidak terluka, diapun tidak kehabisan tenaga, bagaimana mungkin ilmu silatnya bisa menderita kemunduran sebesar itu? setelah berpikir berapa saat akhirnya ditemukan satu titik terang tentang persoalan ini.

Sebagaimana diketahui sebelum dia bertarung melawan sipukulan sakti tanpa bayangan tadi setiap serangan yang dilepaskan olehnya selalu berhasil dipukul balik oleh pedang emas, namun setelah berlangsung pertarungan sengit, ia justru berhasil mendesak musuhnya secara mudah, jelas kunci dari jawaban persoalan ini terletak padadiri sipukulan sakti tanpa bayangan-

Dia masih teringat dengan jelas bagaimana situasi pada awal pertarungan, serangan demi serangan yang dilancarkan kakek botak itu selalu dahsyat dan mematikan, kehebatannya sukar dilukiskan dengan kata-kata, namun setelah berlangsung berapa saat, bukan saja musuhnya bertambah lemah, bahkan diapun mulai mendapat kesempatan untuk melancarkan serangan balasan-

Ketika sipukulan sakti tanpa bayangan menemukan keadaan yang tak beres ini, dia segera menghentikan pertarungannya .

seingatnya, peristiwa semacam ini belum pernah dialami sebelumnya. Diam-diam Kim Thi sia berpikir:

"Sudah pasti dia menderita kerugian karena ilmu Tay goan sinkangku menurut ciang sianseng, kepandaianku ini sanggup menghancurkan tenaga dalam musuh tanpa wujud dan gejala apapun, agaknya apa yang dia katakan memang menjadi kenyataan sekarang" Kemudian dia berpikir lebih jauh:

"Sipukulan sakti tanpa bayangan sebagai seorang tokoh sakti dari Tiang pek san nyata memiliki ilmu silat yang luar biasa hebatnya, kini aku telah banyak menghisap tenaga murninya dengan ilmu ciat khi mi khi, tak heran banyak manfaat yang berhasil kuperoleh sehingga sipedang emaspun merasa tak mampu menandingiku."

Berpikir demikian, rasa percaya pada kemampuan sendiripun semakin meningkat, dengan sangat berani dia mengambil keluar bungkusan milik sipedang emas itu serta membuka bungkusannya .

Ternyata benda itu berbentuk segi empat ketika dibuka maka dibawah sinar rembulan yang redup tampaklah benda tadi berupa sebuah kotak besi.......

Begitu kotak tadi diamati dengan seksama, tiba-tiba saja ia berseru tertahan-"oooh, rupanya lentera hijau."

Dia masih teringat dengan jelas betapa " lentera hijau" tersebut pernah menyelamatkan jiwanya, waktu itu dua sudah terkapar ditempat yang terpencil, bila tidak datang pertolongan niscaya dalam berapa hari kemudian jiwanya akan melayang.

Siapa tahu d isaat yang kritis itulah dia berhasil menemukan kasiat " lentera hijau" sehingga jiwanya terselamatakan, tak disangka setelah benda itu terlepas dari tangannya berapa saat, kini terjatuh kembali ketangannya, inikah yang dinamakan berjodoh?

Diapun teringat kembali dengan pembicaraan antara ciang sianseng dengan Dewi Nirmala, dia tahu benda tersebut merupakan benda mestika yang amat langka, kasiatnya selain mampu mengobati luka juga untuk memanjangkan usia seseorang.

Lebih-lebih bagi orang persilatan yang mengalami keadaan "jalan api menuju neraka" benda ini sanggup memulihkan kembali kekuatannya.

Tak heran kalau ciang sinseng dan Dewi Nirmala sekalian berusaha dengan segala kemampuannya untuk mendapatkan benda ini.

Maka sambil tertawa terbahak-bahak dia membungkus kembali benda tersebut dan dimasukkan kembali kedalam sakunya. Kini diapun telah mengambil sebuah keputusan, pikirnya:

"Rasanya untuk bisa menyelamatkan jiwa putri Kim huan tanpa kehilangan ilmu saktiku, satu- satunya jalan cuma menyerempet bahaya."

Dia amat percaya dengan kemampuan serta kasiat dari "lentera hijau", sebab benda itu pernah menyelamatkan jiwanya, ini berarti benda ini jauh lebih bisa diandalkan daripada benda apapun-

Maka dengan nada pembicaraan yang lebih meyakinkan dia berseru kepada sipukulan sakti tanpa bayangan dingin-

"Empek Ang, bila kau ingin menggunakan keselamatan gadis tersebut untuk ditukar dengan ilmu silatku, maka rencanamu itu pasti akan gagal total, sebab hubungan ku dengannya tal lebih cuma teman biasa.Jadi sama sekali tiada hubungan yang istimewa, bila kau mendesakku terus menerus, sama artinya memaksaku membuka kartu lebih awal."

"Kau betul-betul kelewat polos dan kekanak-kanakan, kau anggap dengan berkata demikian, maka aku akan membebaskannya?"

"Aku tak perduli, pokoknya aku tak ambil pusing dengan keselamatannya toh kau pun tak mampu berbuat apa-apa kepadaku?"

"Kau jangan sembarangan mengaco belo lagi bila amarahku sampai berkobar, akan kuhajar sampai mampus" ancam sikakek geram. Kim Thi sia sengaja tertawa sinis sahutnya:

"Alahkan, silahkan"

"Kau mengira aku tak berani?" teriak sipukulan sakti tanpa bayangan lagi dengan gemas. Sambil tertawa dingin jari telunjuk dan jari tangannya segera ditempelkan diatas jalan darah Tay gi hiat ditubuh putri Kim huan- Dalam keadaan begini, asal dia mengerahkan sedikit tenaga saja, niscaya gadis tersebut akan mampus dalam keadaan yang mengenaskan.

"Kau harus tahu" ancam slkakek lagi, "Sepanjang hidupku, aku selalu menganggap nyawa orang bagaikan rumput, bila amarahku sudah berkobar, aku bisa membacoknya sampai mampus, tanpa perduli siapakah dia."

Walaupun dihati kecilnya Kim Thi sia amat tegang, namun dia berniat menyerempet bahaya, buru-buru dia unjukkan lagak "acuh tak acuh" nya, malah sambil tertawa teriaknya:

"Ang locianpwee, kau memang seorang algojo yang amat hebat, haaaah......haaaah.....haaaah "

Sipukulan sakti tanpa bayangan berwatak berangasan, setelah bersabar terus akhirnya dia tak mampu lagi menahan diri pikirnya:

"Perduli amat dengan ilmu Tay goan sinkang, keparat ini amat menggemaskan, dia berani memperolok-olok diriku, biar kubunuh gadis tersebut terlebih dulu."

Napsu membunuhnya segera memancar keluar dari balik mata, baru saja dia akan mengerahkan tenaga dalamnya, mendadak terdengar seseorang berseru dari belakang: "Empek harap tunggu sebentar"

Dengan wajah tertegun sipukulan sakti tanpa bayangan berpaling, setelah mengetahui siapa orangnya, dengan wajah tertegun ia bertanya: "Keponakan perempuan, ada urusan apa?"

Ternyata orang yang berseru barusan tak lain adalah sinona cantik berbaju putih, putri dari Dewi Nirmala.

Terdengar gadis itu berkata dengan pelan:

"Empek dia toh sama sekali tak bersalah, harap kau sudi mengampuni selembar jiwanya"

Ketika Kim Thi sia mendengar perkataan tersebut, dalam hati kecilnya segera timbul perasaan tak senang hati disamping rasa terima kasih, pikirnya cepat:

"Aku justru sengaja memaksanya berbuat demikian, siapa tahu kau malah menghalangi perbuatannya, sungguh menjengkelkan- "

Sementara itu sipukulan sakti tanpa bayangan telah bertanya agak keheranan: "Maksudmu, aku harus membebaskan dirinya?"

"Yaa benar" gadis itu mengangguk.

Sambil menarik mukanya kakek botak itu berseru lagi:

"Mengapa sih kau mencampuri urusanku ini?"

"Keponakan perempuan tidak ingin menyaksikan orang yang tak bersalah "

Sipukulan sakti tanpa bayangan segera memahami maksud dihatinya, setelah memandang sekejap wajahnya yang cantik dan polos itu, dia berpikir:

"Gadis ini berwajah halus, lembut dan saleh, nyata sekali dia memang seorang nona yang lembut dan berwelas kasih. "

Karena itu diapun segera memaafkan tindakannya itu, katanya pelan:

"Aku tahu, kau merasa tak tega melihat orang yang tak bersalah menemui ajalnya tapi. "

Sesudah berpikir sebentar, kembali dia melanjutkan:

"Kau tentu menganggap diriku sebagai seorang manusia yang gemar membunuh, tapi aku benar-benar tak habis mengerti, kau adalah putri dari Dewi Nirmala, sedangkan perbuatan maupun sepak terjang Dewi Nirmala sepanjang hidupnya justru berlipat ganda lebih kejam dan buas ketimbang aku. Kau yang tambah dewasa dalam suasana begini, mengapa masih bisa mempertahankan kewelas kasihanmu itu? Apakah kau belum pernah melihat semua kekejaman dan kebuasan dilembah Nirmala? Atau mungkin gadis ini adalah sahabatmu. ?"

Air mata segera bercucuran keluar dari mata sinona ketika ia selesai mendengar perkataan itu, dengan kepala tertunduk katanya pelan:

"Aku tak tahu kalau ibuku sangat gemar membunuh orang, dia tak pernah menyinggung persoalan ini kepadaku. Aku. "

sementara itu, putri Kim huan yang menghadapi saat kematiannya justru dapat mengendalikan gejolak perasaannya, dia menghela napas dengan sedih, lalu sambil memandang rembulan diangkasa, selanya pelan:

"Adikku, aku matipun tak menjadi soaL paling-paling cuma mengurangi beban baginya. Kalau bukan begini, dikemudian hari dia pasti akan bertambah repot karena aku."

Kim Thi sia paling suka melihat wajah gadis tersebut disaat ia sedang termenung, memandang wajahnya yang cantik dan begitu menawan hati, hampir-hampir saja dia akan berubah pikiran-

Dalam pada itu sipukulan sakti tanpa bayangan kelihatan mulai ragu, tapi kemudian ia berkata: "Bagaimanapun juga, aku tak kuat menahan diri melihat lagak bocah keparat tersebut."

Hay Jin, sinona cantik berbaju putih itu mengangkat kepalanya dan memandang sekejap kearah putri Kim huan dengan sepasang matanya yang keji, sesudah menghela napas katanya: "cici, aku tak berdaya membuat ia. "

Belum selesai perkataan itu diutarakan, air matanya telah jatuh bercucuran membasahiu wajahnya. Dia menutupi mukanya dengan kedua belah tangan kemudian berpaling kearah lain, agaknya dia tak tega melihat gadis tersebut mati secara mengenaskan-Kim Thi sia cepat-cepat mengeraskan hatinya seraya membentak nyaring: "Hey sipukulan sakti tanpa bayangan, kalau memang bernyali, cepatlah turun tangan"

Mencorong sinar tajam dari balik mata sipukulan sakti tanpa bayangan, dengan gemas dia melotot sekejap kearahnya, lalu menegur:

"Sekali lagi aku ingin bertanya kepadamu, kau menyanggupi permintaanku atau tidak?" "Tidak" sahut Kim Thi sia lantang.

Sipukulan sakti tanpa bayangan segera mendengus, jari tangannya disodokkan kuat-kuat keatas jalan darah Tay gia hiatnya.

Tanpa sempat mengeluarkan sedikit suara pun, putri Kim huan segera roboh terjungkang keatas tanah.

Dengan sinar mata yang tajam Kim Thi sia memandang sekejap tubuh putri Kim huan yang tergeletak tak berkutik diatas tanah. Perasaan gugup, tak senang, kaget dan marah bercampur aduk didalam benaknya. Sampai berapa saat lamanya dia tak mampu mengucapkan sepatah katapun.

Tindakannya "menyerempet bahaya" telah tercapai setengah bagian, ini berarti masih ada keadaan yang lebih berat dan lebih mengejutkan hati yang belum sempat dilaksanakan. Bila hal ini sampai gagal berarti dia tak akan memperoleh ketentraman hidup lagi dikemudian hari.

Menghadapi pilihan yang begini kritis dan menyeramkan, sekalipun pemuda itu berjiwa luar biasa pun tak urung juga dibuat bergidik juga hatinya.

sementara itu sipukulan sakti tanpa bayangan yang sedang mengawasi putri Kim huan dengan wajah yang cantik jelita, telah roboh ditangannya. Betapapun gusarnya kakek tersebut tak urung timbul juga perasaan menyesalnya.

Dengan wajah yang lesu kakek itu menggelengkan kepalanya berulang kali, sambil menghela napas ia berbisik: "Aaaah, dia telah tewas." Kim Thi sia melompat maju kemuka, teriaknya keras-keras:

"Yaabetul, dia memang sudah mati, tapi urusanmu denganku belum selesai."

Teriakan ini seketika melenyapkan perasaan menyesal yang muncul didalam hati sipukulan sakti tanpa bayangan, dia berseru dingin: "Biar mampus, siapa suruh kau menolak permintaanku?"

Dengan penuh amarah Kim Thi sia menghimpun tenaga murni Tay goan sinkangnya, sekarang tiada persoalan yang merisaukan lagi, dalam keadaan gusar dan dendam yang

meluap-luap. tenaga serangannya menjadi dua kali lipat lebih hebat.

Tergopoh-gopoh sipukulan sakti tanpa bayangan menghimpun tenaga dan melepaskan pula sebuah pukulan untuk membendung datangnya ancaman tersebut.

Dua gulung tenaga pukulan yang sangat kuat, tanpa menimbulkan suara ataupun desing suara segera bertumpukan satu dengan lainnya.

Akibat dari benturan tersebut, kedua belah pihak sama-sama tergetar mundur kebelalang, air mukanya berubah menjadi merah membara.

Kim Thi sia tahu bahwa ilmu tay goan sinkang memiliki kemampuan untuk merusak ten-dalam lawan, maka begitu tergetar mundur sekali lagi dia menubruk kemuka.

Sepasang telapak tangannya disilangkan kekiri kanan, dan secara beruntun dia melancarkan dua buah serangan sekaligus dengan jurus "menyapu rata seluruh bumi" serta "kepercayaan menguasahi seluruh dunia."

Untuk sementara waktu sipukulan sakti tanpa bayangan menempati posisi diatas angin, namun dihati kecilnya dia merasa amat sedih danpedih hatinya, sebab setiap kali terjadi bentrokan kekerasan, ia segera merasakan tenaga dalamnya makin lemah dan berkurang. 

Makin bertarung pikirnya semakin risau, sepuluh gebrakan kemudian, tenaga serangannya sudah tidak selancar awal pertarungan lagi, kenyataan tersebut kontan saja membuat hatinya sangat terkejut.

Waktu itu kentongan kelima sudah menjelang tiba, secercah fajar muncul diufuk timur.

Dibawah cahaya sang surya yang redup tampaklah dua sosok bayangan manusia sedang saling bertarung dengan serunya, untuk beberapa saat sukar untuk diketahui siapa bakal menang dan siapa bakal kalah.

Tiba-tiba sipukulan sakti tanpa bayangan menarik diri kebelakang seraya berserur "TUnggu sebentar"

"Ada apa?" tegur Kim Thi sia sambil menghentikan pula serangannya.

Suara pembicaraannya memburu, persis seperti dengusan napasnya yang memburu dan cepat, ditengah pagi hari yang dingin, jidatnya justru basah oleh peluh sebesar kacang kedelai.

Ternyata keadaan dari sipukulan sakti tanpa bayangan tidak jauh berbeda, sekujur badannya telah basah oleh keringat. Dengan napas tersengkal-sengkal dia berkata: "Lebih baik pertarungan hari ini kita tunda dulu sampai besok "

Baru berbicara sampai disetengah jalan, mendadak teringat kembali olehnya akan kedudukan serta pamornya dalam dunia persilatan, cepat-cepat dia menutup mulutnya kembali.

Tapi semua jago yang hadir dalam arena dapat memahami maksud dan arti dari perkataannya itu.

Kim Thi sia sama sekali tidak mengejek ataupun mencemooh dirinya, dengan suara dalam dia berkata:

"Baik, kita lanjutkan pertarungan ini besok" Dia memang terbuuru-buru ingin menyelesaikan persoalan terakhir putri Kim huan maka setelah mendengar usul lawannya, semangat tempurnya ikut mengendor pula.

Tampaknya sipukulan sakti tanpa bayangan tak ingin membuang waktu terlalu lama disitu, dia segera berpaling kearah pemuda tampan itu dan berseru keras: "Ayoh berangkat"

Dari wajah ayahnya yang letih dan murung, pemuda tampan ini mengerti kalau orang tua tersebut butuh waktu untuk beristirahat, diapun tidak menunggu terlalu lama lagi. Sambil menggandeng tangan nona cantik berbaju putih itu, cepat-cepat mereka pergi meninggalkan tempat tersebut.

Sepeninggal ketiga orang itu, ternyata bayangan tubuh dari sipedang emas sekalianpun sudah tak nampak lagi disitu.

Kim Thi sia mencoba melakukan pencarian disekeliling tempat itu, namun sesosok bayangan setanpun tak nampak. dengan perasaan heran ia segera berpikir: "Aaaaah, sungguh aneh, kenapa mayat pun sudah dipindahkan semua?"

Padahal diarena pertarungan masih terdapat puluhan sosok mayat, tapi semuanya berasal dari pihak Juan tiong supa.

Sebaliknya mayat-mayat dari pihak sembilan pedang dunia persilatan, kini sudah lenyap tak berbekas, jelas sudah semuanya ini merupakan hasil karya dari sipedang emas, pedang air dan pedang kayu.

"Beginipun ada baiknya juga, biar persoalan ini diperhitungkan kembali dikemudian hari. "

pikir pemuda itu cepat.

Pelan-pelan dia berjalan menuju kearah putri Kim huan, sesuai berlangsungnya pertarungan sengit, tiba-tiba saja dia merasakan setiap langkah kakinya sangat berat.

Setiap langkahnya seakan-akan diberi beban ribuan kati beratnya.

Dengan wajah yang teramat letih dia mendekati putri Kim huan, tampak gadis itu memejamkan matanya bagaikan bidadari sedang tidur, hatinya tercekat, pikirnya segera:

" celaka, rupanya lentera hijau telah kehilangan kasiatnya, aku terlalu menyerempet bahaya, kini semua telah berakhir "

Ia mulai menyesal, menyesal telah menyerempet bahaya yang amat besar.

Dia mencoba mengulurkan tangannya untuk memayang bangun gadis tersebut siapa tahu tenaganya seakan-akan sudah membuyar semua, tangannya lemas dan tak berkekuatan lagi, dengan lunglai dia terduduk kembali diatas tanah.

sebagaimana diketahui, dia sudah bertarung setengah harlan lamanya tanpa berhenti, terutama sekali pertarungan sengitnya melawan sipukulan sakti tanpa bayangan, seandainya dia tak memiliki watak tinggi hati, niscaya sejak tadi ia sudah roboh terjungkal diatas tanah dan mampu bangun kembali....

Sekarang, sekujur badannya terasa lemas dan sama sekali tak bertenaga, kelopak matanya terasa berat sekali ingin terpejam tak tahan lagi gumamnya sambil menghela napas:

"Aaaa i mengapa keadaanku berubah selemah ini? Bila muncul musuh dalam keadaan

begini, bagaimana caraku untuk menghadapinya?"

Pelan-pelan dia merangkak kesamping tubuh putri Kum huan dan duduk bersandar diatas batu besar, matanya buru-buru dipejamkan kemudian mengatur pernapasan untuk memulihkan kembali kekuatannya.

Tapi rasa mengantuk yang datang menyerang membuat dia tak sanggup menahan diri lagi, akhirnya dia terduduk dan tidur nyenyak. Tak lama kemudian-....

Ditengah keheningan yang mencekam seluruh jagad, tiba-tiba terdengar suara derap kaki kuda yang amat ramai berkumandang datang dari kejauhan sana. Disusul kemudian muncullah serombongan penunggang kuda yang semuanya mengenakan baju hijau dengan ikat kepala berwarna biru, wajah mereka nampak keren dan sorot matanya amat tajam Jelas orang-orang itu merupakan sekawanan manusia yang berilmu tinggi.

Namun Kim Thi sia sudah tertidur nyenyak dalam keadaannya begini kendatipun ada sebuah batu besar yang jatuh menindihi tubuhnya pun, belum tentu ia akan terjaga dari tidurnya.

Derap kuda yang amat ramai semakin mendekat, gulungan pasir dan debu memancar keempat penjuru.

Mendadak rombongan jago persilatan itu menghentikan perjalanannya dan terdengarlah seseorang berteriak keras:

"Hey coba lihat,Juan tiong supa, empat macan kumbang dari Juan tiong telah habis ditumpas orang"

Kawanan jago itu segera berpaling kearah yang ditunjuk. bergemalah kemudian teriakan gusar dan suara orang yang melompat turun dari kudanya memburu ketempat kejadian tersebut.

Terdengar mereka berseru keras:

"Sudah pasti peristiwa ini merupakan hasil karya dari bocah keparat itu, nyata benar kelihayan dari keparat tersebut. "

Tak lama kemudian terlihatlah ada tiga orang lelaki kekar berjalan menuju kearah Kim Thi sia. Rupanya mereka segera menemukan jejak anak muda tersebut, tiba-tiba mereka berhenti sambil berbisik: "Jangan berisik, sasaran kita berada disini."

Dengan berjalan pelan ketiga orang itu menyusup maju kedepan, sementara tangan mereka merogoh kedalam saku dan mengeluarkan sebuah tongkat tulang dan segulung tali agaknya mereka hendak menangkap sang pembunuh dalam keadaan hidup,

Tak lama kemudian, empat arah delapan penjuru disekeliling Kim Thi sia telah berdiri puluhan orang manusia berbaju biru yang rata-rata bersinar tajam. Mereka adalah jago-jago pilihan dari dunia persilatan dengan ilmu silat yang luar biasa, bila orang-orang itu sampai turun tangan bersama-sama, kemungkinan besar kekuatan mereka sanggup untuk melenyapkan kawanan jago yang tiga kali lebih hebat daripada mereka.

Tampaknya rombongan tersebut mempunyai disiplin yang tinggi dengan pengalaman yang hebat, mereka tidak langsung melancarkan serangan, tapi meninggalkan empat orang untuk mengurusi kuda-kudanya.

Dalam waktu singkat puluhan ekor kuda itu sudah diperintahkan berjongkok keatas tanah tanpa menimbulkan sedikit suarapun, jelas kuda-kuda itu merupakan jenis unggul yang hebat.

Sementara puluhan orang penunggangnya dengan sorot mata yang tajam mengawasi sang pembunuh yang masih tertidur itu tanpa berkedip.

Mereka tidak tahu kalau Kim Thi sia sudah kehabisan tenaga hingga tertidur nyenyak. Mereka mengira musuhnya sengaja berbuat demikian untuk menjebak mereka masuk perangkapnya.

Maka semua orangpun tidak berani bergerak secara sembarangan, setiap orangpun berusaha menjaga jaraknya sejauh tiga kaki dari Kim Thi sia, dengan begitu seandainya Kim Thi sia melancarkan serangan secara tiba-tiba mereka tidak akan sampai dibuat kacau.

Tunggu punya tunggu, Kim Thi sia belum bergerak juga dari posisi semula, napasnya tetap teratur, matanya tetap terpejam, sikap seperti ini persis dengan sikap yang dikata orang "biar gunung meletuspun wajah tidak berubah", tentu saja hal mana semakin meningkatkan kewaspadaan kawanan jago itu hingga siapapun tak berani bertindak secara sembarangan-

Mendadak salah seorang diantara mereka maju selangkah kedepan dan menegur:

"Sobat, kau benar-benar manusia luar biasa. Ditinjau dari keteranganmu ini bisa diduga bahwa kau bukan manusia sembarangan tapi. " Setelah tertawa dingin berulang kali, lanjutnya:

"Dalam semalam saja sobat telah membantai mereka hingga punah, tindakan semacam ini benar-benar merupakan tindakan yang kelewat batas, kau anggap dibawah pimpinan Pek Kut sinkun sudah tiada orang pandai lagi?"

Kim Thi sia sama sekali tidak mendengar perkataan itu, entah sedang apa bermimpi atau mengingau, tiba-tiba ia berteriak keras: "Telur busuk. mau apa kau?"

Bentakan tersebut seketika menggemparkan semua jago yang hadir, sebagai manusia berilmu tinggi dan tak pernah percaya dengan segala tahayul, sebetulnya mereka sudah bersiap-siap melancarkan serangan, karena musuhnya tak bergerak sama sekali.

Siapa sangka sebelum tindakan tersebut dilakukan, sang pemuda telah membentak keras, kontan saja orang-orang itu menjadi amat terperanjat dan segera mengurungkan niatnya untuk menyerang.

Sambil tertawa dingin orang itu berseru:

"Sobat, kaupun terhitung seorang lelaki jantan dari dunia persilatan, sepantasnya kau tahu bahwa siapa membunuh orang dia harus membayar dengan nyawa sendiri. Apa gunanya kami banyak bicara, haaaaah.....haaaaah. "

Suasana hening untuk berapa saat, mendadak terdengar Kim Thi sia berseru lagi: "Maknya, bila kau berani maju lagi, jangan salahkan kalau toaya akan bertindak keji."

Mungkin dalam impiannya dia sedang mengalami kejadian yang sama, terdengar ia bergumam lagi:

"Huuuuh, apa sih hebatmu, kau tak lebih hanya seorang manusia kurcaci yang tak berguna.

Aaai. berani amat berlagak dihadapanku, apakah kau tak tahu kalau Kim Thi sia adalah manusia

paling susah dilayani."

Gumaman itu cukup keras, apalagi ditengah tanah lapang yang sepi seperti sekarang, hampir semua orang dapat mendengar nama Kim Thi sia dengan jelas sekali. Perasaan terkejut, ngeri dan tergetar menyelimuti mereka semua.... "Aaaah, rupanya dia adalah Kim Thi sia. "

Tampaknya lelaki bermuka kuning yang tampilkan diri kedepan itupun sudah pernah mendengar nama besar "Kim Thi sia", ia segera berpikir:

"Orang bilang Kim Thi sia adalah manusia bernyali yang paling susah dilayani, betapapun lihaynya ilmu silat seseorang, bila sudah berurusan dengannya pasti akan dibuat pusing kepalanya. Tak nyana apa yang dikatakan orang memang benar, cukup dilihat dari sikapnya yang begini tenang, hati orang sudah cukup dibuatnya menjadi keder "

Ia mencoba memperhatikan wajah Kim Thi sia dengan seksama, tampak ia memiliki wajah yang lebar dengan alis mata tebal, mukanya meski tak terhitung tampan namun cukup menarik hati.

"Tak heran orang lain ngeri kepadanya, ia memang memiliki wajah yang cukup keren dan menyakinkan. " demikian dia berpikir lebih jauh.

Ketika melihbat Kim Thi sia tidak menggubris mereka lagi setelah bergumam tadi, ia semakin tak senang hati, pikirnya lebih jauh:

"Sekalipun pamormu cukup besar, namamu cukup tersohor, tapi sikap memandang rendahmu sangat menjengkelkan- Aku tak percaya kau benar-benar mempunyai tiga kepala enam lengan sehingga tak takut mati "

Sambil maju mendekat, ia menegur keras:

"Perkataan Kim tayhiap memang benar, aku tak lebih cuma seorang manusia tidak bernama yang tak berkemampuan apa-apa. Tapi biar tak bernamapun masih terhitung seorang manusia. Kim tayhiap. perbuatanmu membantai puluhan orang saudara kami telah menimbulkan amarah khalayak ramai, betapapun hebatnya asal usulmu, betapa lihay ilmu silatmu, kami bertekad akan membalaskan dendam bagi kematian saudara-saudara kami."

Suasana hening untuk sesaat, lalu terdengar Kim Thi sia menjengek sambil tertawa dingin: "Hmm, kau benar tak tahu diri, hari ini aku bertekad akan menghancur lumatkan tubuhmu

menjadi berkeping-keping."

Lelaki bermuka kuning itu gusar sekali, mendadak dia mengayunkan telapak tangannya sambil menyerbu kedepan, sebuah pukulan dahsyat siap dilontarkan ketubuh lawan-

Namun baru mencapai tengah jalan tiba-tiba ia buyarkan serangan sambil melompat mundur kebelakang.

Rupanya pada saat itulah Kim Thi sia telah mengayunkan pula telapak tangannya seolah-olah hendak membendung serangannya.

Untuk sesaat lamanya lelaki berwajah kuning itu menjadi tertegun, beginikah cara Kim Thi sia yang termashur namanya itu menghadapi serangan musuhnya?

Sekalipun ia belum pernah menyaksikan sendiri kehebatan ilmu silat Kim Thi sia namun sering mendengar dari cerita rekan-rekannya, beginilah cara Kim Thi sia menghadapi lawannya?

Bertarung dengan sikap kemalas-malasan? Atau mungkin musuhnya memandang rendah dirinya dan merasa tak sudi bertarung seorang lawan seorang dengannya? Sementara dia masih kebingungan, tiba-tiba terdengar Kim Thi sia berseru lagi:

" Keparat, tak nyana kau punya ilmu simpanan juga. Haaaah......haaaah.......haaaaah. "

Gelak tertawanya penuh diliputi perasaan bangga, seakan-akan ia memiliki kemampuan cukup untuk membasmi musuhnya.

Lelaki bermuka kuning itu dibuat terperanjat sekali oleh gelak tertawa itu, rasa takut yang tiba- tiba muncul membuat paras mukanya berubah hebat, tergopoh-gopoh dia melompat mundur kebelakang.

Biarpun saat ini dia didampingi oleh keempat orang rekannya yang terkenal sebagai "chin nia su coa" atau empat ular dari tebing chin, namun bila dipertimbangkan kekuatan gabungan mereka, jelas masih ketinggalan jauh bila dibandingkan dengan kehebatan Kim Thi sia.

Empat ulat dari tebing chin segera saling bertukar pandangan ketika melihat rekan mereka ini menyusut mundur dengan wajah ngeri.

Agaknya mereka telah dapat menebak jalan pikiran rekannya itu, sambil mendengus marah, serentak mereka maju mendekati Kim Thi sia, lalu teriaknya keras-keras:

"Hey Kim Thi sia, apa sih hebatmu. jangan harap kau bisa menakuti orang lain dengan andalkan pamormu itu, kalau ingin hebat, tunjukkan dulu kepandaian silatmu yang sebenarnya "

Sambil berkata serentak mereka meloloskan golok masing-masing.

Ucapan dari keempat orang ini kontan saja membuat lelaki bermuka kuning itu menjadi tersipu- sipu malu, sekalipun dihati kecilnya dia tahu maksud dan tujuan keempat ular dari tebing chin ini, namun tak urung timbul juga rasa tak senangnya. Tiba-tiba Kim Thi sia menggeliat, lalu berkata dengan kemalas-malasan-"Siapa yang barusan membicarakan diriku?"

Tampaknya dia belum tersadar kembali dari tidurnya, sehingga sewaktu bertanya matanya masih tetap terpejam.

Empat ular dari tebing chin tidak mengetahui keadaan sebenarnya, bahkan mereka menganggap pemuda tersebut berada dalam keadaan sadar selama ini, melihat lagaknya itu kontan mereka tertawa dingin seraya menjawab:

"Kim tayhiap. orang yang membicarakan dirimu berada disisimu sekarang " Kim Thi sia segera mengenyitkan alis matanya yang tebal, baru sekarang dia merasakan sesuatu yang tak beres. Dia merasa bukan lagi bermimpi maka sambil membuka matanya ia mulai Celingukan memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu.

Dengan cepat terlihat olehnya serentak wajah-wajah asing yang belum dikenalnya selama ini.

Keempat lembar wajah yang hitam kemerah-merahan itu sedang menyeringai dan tertawa seram, sorot matanya berkilat penuh amarah. Mimik muka yang menyeramkan ini kontan saja mengejutkan hatinya.

cepat-cepat dia melompat bangun sambil mengawasi lagi sekeliling arena, segera dilihatnya ada sekelompok manusia yang tak dikenal telah mengepungnya ditengah arena.

Untung saja reaksinya cukup cepat, dari mimik wajah kawanan manusia itu, ia segera mengetahunya kalau memang orang-orang itu datang dengan " maksud tak baik", dengan perasaan terkesiap buru-buru ia membuat persiapan-

"Sobat, apa maksud kalian datang mencari aku orang she Kim?" dengan suara yang keras tegurnya.

"Kim tayhiap. apakah kau masih akan berlagak pilon?"jengek keempat ular dari tebing chin dingin. "Apakah orang-orang yang mati mengenaskan itu bukan merupakan hasil karyamu?"

Sembari berkata mereka menuding kearah mayat-mayat yang terkapar ditanah, mati oleh sipukulan sakti tanpa bayangan itu.

Sebelum Kim Thi sia sempat mengucapkan sesuatu, keempat ular dari tebing chin telah berkata lagi:

"Kim tayhiap. setelah membunuh orang kau masih bisa berbaring dan tiduran disini tanpa menggubris apapun, memangnya kau anggap manusia yang terbunuh itu sama sekali tak bernyawa?"

"Telur busuk sialan" umpat Kim Thi sia dihati. "Orang lain yang membunuh sahabat kalian, masa aku Kim Thi sia yang kena getahnya? Betul-betul sekawanan manusia bodoh." Ia tidak langsung menanggapi perkataan terse but, sebaliknya malah bertanya: "Apakah sobat adalah saudara-saudara mereka?"

"Betul" jawab empat ular serentak. "Kami memang sengaja datang kemari untuk mengganggu Kim tayhiap sebentar"

Yang dimaksud " mengganggu" disini jelas adalah hendak melakukan "pembalasan dendam".

Sebagai pemuda yang tak bodoh tentu saja Kim Thi sia dapat menangkap arti dari perkataan itu, dia segera tertawa terbahak-bahak.

"IHaaaah......haaaaah.......haaaaah rupanya kedatangan sobat untuk menuntut balas,

sayang kalian telah salah mencari orang. "

Dengan nada tak senang hati empat ular dari tebing chin berseru:

"Seorang lelaki sejati berani berbuat berani pula bertanggung jawab.Jawaban dari Kim tayhiap sangat mengecewakan hati kami semua."

"Apa maksud perkataanmu itu?" Kim Thi sia segera menegur.

"Sudah lama kami mendengar akan nama besar Kim tayhiap. dalam anggapan kami Kim tayhiap pasti seorang lelaki j antan yang berani berbuat berani pula bertanggung jawab. Siapa tahu setelah bertemu muka sekarang, kami jumpai dirimu hanya seorang gentong nasi belaka. Tahu begini, kamipun tak usah banyak bicara lagi." Kim Thi sia merasa kegelian setelah mendengar perkataan itu, segera katanya:

"Sobat Jangan salah sangka, mereka semua tewas dibunuh oleh si Pukulan sakti tanpa bayangan, ketua dari Tiang pek san" Empat ular dari tebing chin kembali mendengus: "Hmmm, mayat belum diangkat, kenyataan masih terpampang didepan mata, tidakkah Kim tayhiap menganggap sangkalanmu itu sungguh menggelikan hati?"

Melihat kawanan manusia itu menuduh dirinya terus menerus sedangkan dia sendiri tak mampu memberikan penjelasan, lama kelamaan Kim Thi sia menjadi naik darah, dengan nada tak senang hati ia berseru:

"Aku sudah mengatakan yang sesungguhnya namun kalian tak mau percaya, hmmmm Tentu saja kalian tak berani mempercayainya karena orang yang melakukan pembunuhan adalah tokoh tersohor dari dunia persilatan- Kini kalian telah meninggalkan musuh besar yang sebenarnya dengan mencari gara-gara kepadaku. Perbuatan kalian inilah yang benar-benar menggelikan hati"

"Ngaco belo" teriak empat ular dari tebing chin dengan wajah berubah dan nada penuh amarah?

Kim Thi sia tertawa dingin.

"Heeeeh......heeeeh......heeeeh si pukulan sakti tanpa bayanganpun yang memang

mempunyai nama besar yang termashur, nama besarnya didengar dimanapun- sekarang kalian tak berani pergi mencarinya, sebaliknya malah berkaok-kaok dihadapanku, memangnya kau anggap aku adalah manusia tak berguna yang mudah dipermainkan?"

"Siapa membunuh orang, dia harus membayar dengan nyawa sendiri. Betapapun liciknya Kim tayhiap untuk menyangkal peristiwa inijangan harap bisa mengelabuhi aku. Hmmm kenyataan masih terpampang didepan mata, siapa yang melihat peristiwa ini pasti akan menganggap kau sebagai pembunuhnya, tentu saja kecuali kalau orang itu adalah orang tolol. "

sekali lagi Kim Thi sia tertawa dingin.

"Baiklah, kalau toh kalian bersikeras menuduh diriku sebagai pembunuhnya, rasanya biar aku bicara apapun kalian tak akan percaya, sebelum kalian hendak bertindak lebih jauh, aku harap kamu semua bersedia untuk berpikir lagi dengan kepala dingin. Sebetulnya kalian menyaksikan dengan mata kepala sendiri atas kejadian ini ataukah ada orang lain yang memberitahukan soal ini kepada kalian?"

Sesungguhnya ia tak pernah bersikap mengalah seperti hari ini, tapi berhubung keselamatan putri Kim huan masih menjadi tanda tanya, kedua iapun merasa terfintah, maka pemuda tersebut berusaha untuk mengendalikan gejolak hawa amarahnya.

Untuk sesaat lamanya keempat ular dari tebing chin terbungkam dalam seribu bahasa, lama kemudian mereka baru berkata lagi:

"Bagaimanapun juga, kematian dari saudara-saudara kami itu tak akan terlepas dari dirimu. siapa suruh kau berbaring ditempat ini?"

Dengan geram Kim Thi sia mengumpat dihati kecilnya:

"Hmmmm. kurang ajar betul, nampaknya manusia-manusia ini memang sengaja mencari

gara-gara dihadapanku"

Walaupun amarahnya telah berkobar, namun sikapnya tetap tenang sekali, pelan-pelan dia berkata:

"Jadi persoalan ini biar dijelaskanpun tak akan menjadi jelas?"

"Benar, sekalipun bukan perbuatanmu, namun berdasarkan kehadiranmu ditempat ini. Kau tak mungkin bisa menjelaskan apa-apa lagi, kau hanya bisa mengatakan nasibmu lagi sial." Tak terlukiskan rasa gusar Kim Thi sia sehabis mendengar ucapan ini, pikirnya lagi:

"Kalian betul-betul punya mata, tak berbiji, selama ini aku sudah cukup sadar dan memberi muka kepada kalian, tak disangka kalian justru membuat gara-gara terus. HHmmm, nampaknya kalian memang sudah bosan hidup lagi didunia ini." Berpikir sampai disitu, diapun berkata: "Bila kalian bersikeras hendak mencari gara-gara denganku, akupun tak bisa berbuat lain kecuali melayani kalian dengan sepasang telapak tanganku."

Tampaknya pemuda ini sadar bahwa pertarungan tak mungkin bisa dihindari lagi, maka ia mengeluarkan "lentera hijau", membuka bungkusannya dan menempelkan lentera tersebut diatas hidung putri Kim huan-

Setelah itu dia baru berpaling kembali kearah keempat ular dari tebing chin sambil bentaknya: "Agaknya pertarungan memang tak bisa dihindari lagi, sekarang coba sambut dulu sebuah

pukulan ini"

Empat ular dari tebing chin sebagai manusia-manusia tinggi hati pada hakekatnya telah berhasrat untuk membunuh lawannya karena dengan berbuat demikian kemungkinan besar nama besar mereka akan menanjak tinggi.

Karenanya, tidak sampai lawannya sempat melepaskan pukulan, serentak mereka bertindak lebih dulu dengan melepaskan pukulan yang maha dahsyat.

Dengan bertindaknya keempat orang itu, kawanan jago persilatan lainnya berteriak pula sambil mengayunkan senjata masing-masing dan ikut menyerbu kedepan-

Dengan sebuah pukulan yang kencang Kim Thi sia menghalau keempat ular tersebut, kemudian katanya sambil tertawa terbahak-bahak:

"Haaaah......haaaah......haaaah ternyata kemampuan kalian hanya begini-begini saja."

Sejak meninggalkan Lembah Nirmala, tenaga dalam yang dimilikinya hari demi hari mendapat kemajuan yang semakin pesat. Kemampuannya saat ini boleh dibilang sudah mencapai tingkatan yang luar biasa.

Itulah sebabnya serangan dahsyat yang dilancarkan kali ini kontan menyapu hilang semua kecongkakan dan kejumawaan empat ular dari tebing chin, baru sekarang mereka sadar bahwa apa yang tersiar dalam dunia persilatan selama ini nyata bukan kosong belaka.

Sementara itu, lelaki berwajah kuning itu sangat berharap kematian dari keempat rekannya, kendatipun ia mempunyai hubungan persahabatan dengan keempat ular dari tebing chin, namun bila keempat orang rekannya tak mampus dalam pertarungan ini, berarti dia akan kehilangan muka untuk selamanya atas sifat kepengecutannya tadi.

Pertarungan ditengah arena berlangsung makin seru, sebuah tendangan kilat dari Kim Thi sia yang dikombinasikan dengan sebuah pukulan dahsyat langsung dilancarkan kearah lima orang lelaki bermuka merah yang berdiri disisi kiri.

Kelima orang lelaki bermuka merah itu memiliki perawakan badan yang tinggi kekar, ketika melihat datangnya serangan tersebut, serentak mereka sambut datangnya ancaman dengan keras melawan keras.

Dalam sekejap mata, kuda-kuda kelima orang itu menjadi tergempur, tergesa-gesa mereka melompat mundur kesamping untuk menghindarkan diri dari ancaman maut.

Kim Thi sia sadar kini bahwa musuh yang dihadapi sekarang merupakan jagi pilihan dari dunia persilatan, namun ia sama sekali tak gentar, serangan demi serangan yang dilancarkan olehnya selalu memaksa musuhnya mundur dengan mandi keringat dingin.

Tak lama kemudian puluhan gebrakan telah lewat, Kim Thi sia yang harus bertarung melawan puluhan jago lihay, bukannya bertambah lemah, sebaliknya makin bertarung ia nampak semakin perkasa. Tiba-tiba bentaknya lantang:

"Hey, apakah kepandaian yang kalian miliki cuma bisa makan nasi saja? Ayoh keluarkan simpanan yang lain-"

Paras muka empat ular dari tebing chin berubah hebat, sambil mendengus mereka mengeluarkan ilmu toya menghancur bukitnya. Bayangan toya yang berlapis-lapis meluncur keempat penjuru bagaikan amukan ombak besar ditengah samudra, kelih ayannya sungguh mengagumkan-

Kim Thi sia tidak gentar, dia menyerobot maju kedepan sambil mencengkeram sebatang toya yang mengancam tubuhnya, lalu membetot kebelakang kuat-kuat.

Jerit kesakitan segera bergema memecahkan keheningan, ternyata telapak tangan orang itu pecah dan berdarah, sementara senjatanya sudah mencelat entah kemana.

Dalam keadaan begini, orang itu menjadi bergidik dan ketakutan setengah mati sambil berteriak keras buru-buru ia melompat mundur dan melarikan diri terbirit-birit.

Kim Thi sia tertawa tergelak. dengan toya hasil rampasannya dia menghajar serangan toya orang lain-.... "Traaaangg. "

Kembali terjadi bentrokan nyaring, orang itu menjerit tertahan, lengannya menjadi lunglai kebawah dan ternyata tak mampu diangkat kembali.

Untuk sesaat kawanan jago itu saling berpandangan dengan perasaan ngeri, ketika semua orang menjadi bimbang dan tak tahu apa yang mesti dilakukan, mendadak tampak seorang kakek berjenggot pendek melompat kedepan dengan langkah lebar sambil membekuk nyaring.

"Berhenti semua!!" 
Sepi Banget euyy. Ramaikan kolom komentar dong gan supaya admin tetap semangat upload cersil :). Semenjak tahun 2021 udah gak ada lagi pembaca yang ninggalin opininya di kolom komentar :(