Lembah Nirmala Jilid 38

 
Jilid 38

Andaikata dia tidak merisaukan keselamatan putri Kim huan, andaikata jalan darah Ki bun hiatnya tidak tertotok sehingga sama sekali tak berkekuatan untuk mengerahkan tenaga, dalam keadaan begini bisa jadi ia akan menghabisi nyawa sendiri daripada dirinya terhina ditangan orang lain.

Perhatian semua orang tertuju ketengah arena, masing-masing menahan napas untuk mengendalikan perasaan tegang yang mencekam perasaan setiap orang.

Tampak sipedang emas berdiri sempoyongan, seakan-akan tergempur oleh segulung kekuatan tak berwujud yang maha dahsyat, tubuhnya terdorong mundur sejauh dua langkah lebih.

Mendadak...... Kain kerudung yang dikenakan olehnya tersapu oleh sisa kekuatan pukulan yang dilancarkan sipukulan sakti tanpa bayangan hingga terjatuh keatas tanah, seketika itu juga terlihatlah raut mukanya yang jelek, seram dan mengerikan hati.

Dalam sekejap mata, semua orang terbelalak dibuatnya dengan mulut melengos, mereka rasakan darah yang mengalir dalam tubuhnya seakan-akan membeku.

Yaa, berbicara sesungguhnya, raut muka orang ini jauh lebih jelek dan menyeramkan daripada wajah memedih atau dedemit sekalipun. Begitu jelek dan seramnya sehingga susah untuk dilukiskan dengan perkataan.

Selama ini, para umat persilatanpun belum pernah melihat raut wajah aslinya selain berita yang tersiar, maka hampir pada saat yang bersamaan mereka sama-sama berpikir:

"Konon dia berwajah tampan dan amat menarik hati, jangan-jangan berita tersebut hanya bernada menyindir akan keseraman raut wajahnya....? Yaa. bila dilihat dari tampangnya yang

merah berdarah, panca inderanya yang tak utuh serta mimik mukanya yang begitu seram bagaikan dedemit. Dimana letak "ketampanan" serta "daya tarik" nya ?"

Sekalipun semua orang tidak mengemukakan jalan pemikiran tersebut, namun ingatan semacam itu telah menyelimuti perasaan mereka semua.

Hanya Kim Thi sia seorang yang mengetahui keadaan sebenarnya, pikirnya kemudian: "Inilah pembalasan bagi manusia jahat yang terkutuk macam dia. Siapa suruh dia berniat

mencelakai guru sendiri."

"Toa suheng. " terdengar sipedang tanah menjerit dengan suara yang amat memilukan hati.

Segala sesuatunya telah terbongkar wajah asli sipedang emas pun telah diketahui oleh umum.

Dalam keadaan begini dia hanya bisa menahan perasan sedih dan sakit hati yang luar biasa.

Pukulan terakhir si Malaikat pedang berbaju perlente telah menghancur lumatkan wajahnya yang tampan- Selain sepasang matanya masih tetap utuh, yang lain telah terjadi perubahan besar. Ia benci.......benci........benci........

Perasaan "malu" yang lebih banyak dipengaruhi perasaan rendah diri membuat pedang emas menutupi wajahnya secara tiba-tiba dengan kedua belah tangan dan menjerit lengking bagaikan tangisan setan-

Suara jeritannya yang seram dan memedihkan hati itu cukup membuat semua orang merasakan bulu kuduknya pada bangun berdiri.

Disusul kemudian ia memukul dada sendiri sambil menangis keras-keras.

Sementara itu, sipukulan sakti tanpa bayangan telah bisa menilai usia sipedang emas dari tubuhnya. Ketika melihat pemuda terseut sangat menderita, diapun menegur: "Hey kau murid siapa? Siapakah yang telah merusak wajahmu itu?"

Dari bentuk daging merah yang meliputi wajah pedang emas, diapun bisa menduga kalau wajahnya bukan berbentuk begitu semenjak dilahirkan, tapi terluka oleh serangan dari luar.

Dengan suara keras penuh geram, pedang tanah menyahut:

"Tua bangka Ang, dengarkan baik-baik. Hari ini kau telah menyingkap raut wajah toa suheng ku sehingga membuatnya sangat menderita. Hal ini membuat kami semua menaruh dendam kepadamu, untuk membalas sakit hati ini. Hmmm, tunggu saja tanggal mainnya."

"Boleh- boleh saja" sahut pukulan sakti tanpa bayangan sambil tertawa dingin. " Kalian boleh menyerangku bersama-sama buktikan saja siapa yang akhirnya bakal mampus."

Sebagai pentolan suatu perguruan besar sipukulan sakti tanpa bayangan memang memiliki watak yang sangat aneh, ditambah lagi putra kesayangannya yang ditemukan dalam keadaan terluka parah, maka semua rasa mendongkol dan jengkelnya pun segera dilampiaskan keluar. Begitu selesai mengucapkan kata-kata itu dengan sorot mata yang tajam diawasinya orang- orang itu tanpa berkedip. Dia telah bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan.

Mendadak sipedang emas berhenti menangis, sambil mengalihkan sorot mata buasnya menatap sekejap kearah sipukulan sakti tanpa bayangan, dia membentak:

"Setan tua Ang, bila sipedang emas tak ammpu menghancur lumatkan tubuhmu, hari ini aku bersumpah tak akan menjadi manusia."

Pukulan sakti tanpa bayangan berkerut kening kemudian tertawa dingin lagi.

"oooh rupanya kau adalah anak murid dari Malaikat pedang berbaju perlente. bagus sekali kalau ebgitu. Sudah lama aku tak puas akan nama besar si Malaikat pedang berbaju perlente, hanya sayang selama ini tak berkesempatan untuk mencobanya, kalian sebagai anak muridnya sudah pasti memiliki ilmu silat yang tangguh, kalau begitu akupun bisa memenuhi pengharapanku itu. "

"Heeeeh......heeeeeh........heeeeeh. bagus, bagus sekali" sipedang emas tertawa seram.

"Aku tak percaya kalau ketua dari Tiang pek san memiliki kepandaian yang sangat luar biasa"

Sambil menghimpun segenap tenaga dalam yang dimilikinya, dia melepaskan sebuah pukulan dahsyat kedepan-

"Tunggu sebentar" mendadak Kim Thi sia berteriak keras.

Mendengar seruan tersebut, sipedang emas segera menarik kembali serangannya sambil menegur dengan marah:

"Apa yang hendak kau katakan?"

"Kau tidak berhak untuk mewakili suhu, sebab kau tak lebih cuma seorang murid murtad.

Akulah yang lebih berhak untuk menghadapi pertarungan ini"

"Heeeeh.....heeeeh.....heeeeh bukankah kau ingin mempergunakan kesempatan yang baik

ini untuk memulihkan kembali kebebasanmu?" jengek sipedang emas sambil tertawa dingin- Kim Thi sia menjadi sangat mendongkol teriaknya:

"Kau jangan menilai rendah orang lain dengan kaca mata anjingmu, aku Kim Thi sia bukan manusia rendah seperti apa yang kau bayangkan-"

Dengan perasaan heran sipukulan sakti tanpa bayangan segera menimbrung dari samping. "Mengapa sih hanya kau yang berhak untuk mewakili Malaikat pedang berbaju perlente? Apa

hubunganmu dengannya."

"Aku adalah muridnya yang terakhir bila kau tak puas, lebih baik carilah aku."

"ooooh, jadi kaupun anak muridnya?" nampak jelas sipukulan sakti tanpa bayangan amat terkejut. "Aku hanya mendengar kalau Malaikat pedang berbaju perlente cuma mempunyai sembilan orang murid. Aneh, kenapa aku tak pernah mendengar kalau kau Kim Thi sia juga merupakan anak muridnya?"

"Masalah ini merupakan urusan pribadi perguruan kami. Kau sebagai orang luar memang tak pantas untuk mengetahuinya, lagi pula biar diterangkanpun belum tentu kau akan mengerti.

Pokoknya aku berhak mewakili suhuku karena mereka semua murid murtad, mereka sama sekali tidak berhak untuk mencampuri urusan budi dan dendam perguruan "

"Mengapa begitu?" desak sipukulan sakti tanpa bayangan dengan perasaan tak mengerti. "Seingatku, Malaikat pedang berbaju perlente belum pernah mengumumkan kepada umum kalau ia sudah mengusir sembilan pedang dunia persilatan dari perguruannya, menurut adat sepantasnya murid pertama yang mewakili gurunya, mengapa tanggung jawab tersebut malah terjatuh ketanganmu?" "Aku rasa, masalah yang penting itu tak perlu disinggung kembali. Katakan saja sekarang, kau masih ingin mencoba kemampuan silat dari Malaikat pedang berbaju perlente atau tidak?"

Kemudian setelah berhenti sejenak. dengan nada tak sabar dia berkata lebih jauh:

"Jika kau tak berani, tarik kembali kata-katamu yang mengatakan "tak puas" terhadap guruku tadi, kemudian sifat ekor dan cepat angkat kaki dari tempat ini."

"Telur busuk" umpat sipukulan sakti tanpa bayangan teramat gusar. "Sudah lama aku ingin beradu kepandaian dengan Malaikat pedang berbaju perlente, hanya sayang selama ini kami tak berjodoh untuk saling bertemu. Kau anggap aku bakal kembali dengan tangan hampa? Paling tidak. aku harus pulang dengan membawa sebuah telinga milik murid kesayangannya lebih dulu. "

Kim Thi sia semakin gusar lagi setelah mendengar perkataannya makin membual dan latah, tanpa sungkan-sungkan lagi dia berseru:

"Banyak berbicara tak ada gunanya, bila kau memang merasa bernyali, silahkan saka mencabut nyawaku ini, tapi sebelum itu kau mesti membebaskan jalan darahku lebih dulu yang tertotok. sebab kalau tidak biar menangpun tidak jantan- Tentunya kaupun tahu bukan bahwa aku tak mampu bergerak sekarang."

Sipukulan sakti tanpa bayangan segera tertawa terbahak-bahak. "Haaah.....haaaah......haaaah. bocah muda, kau jantan dan bersemangat. Belum pernah

kujumpai pemuda setinggi hati dirimu, baik akan kuturuti semua keinginanmu itu."

Seraya berkata, diapun mengayunkan tangannya siap membebaskan jalan darah Ki bun hiat ditubuh Kim Thi sia yang tertotok.

Tapi sipedang emas segera menangkis dengan cepat, terdengar ia membentak nyaring: "Sebelum mendapat persetujuanku, atas dasar apa kau si setan tua Ang hendak membebaskan

jalan darahnya yang tertotok?" Sipukulan sakti tanpa bayangan benar-benar naik darah, ia mendongakkan kepalanya dan tertawa seram, kemudian balik bertanya:

"Baik, kalau begitu akupun ingin bertanya, apa pula yang kau andalkan sehingga berani mengajukan pertanyaan tersebut kepadaku?"

"Aku?" sipedang emas tertawa seram. "Heeeh.....heeeh. sebagai murid terakhir dari Malaikat

pedang berbaju perlente, aku yang menjadi toa suhengnya berhak untuk menghukum kekurang ajaran adik seperguruanku ini." Kim Thi sia tertawa dingin.

"Huuuh, siapa sih yang menjadi adik seperguruanmu? Hmmm, kalian bersembilan telah berkomplot untuk membunuh guru sendiri. Apakah kalian masih punya muka untuk mengaku sebagai murid suhu? Aku ikut malu oleh ulah kalian ini."

Waktu itu, sipukulan sakti tanpa bayangan sedang gelagapan karena tak mampu mengucapkan sepatah katapun, dia menjadi sangat kegirangan setelah mendengar perkataan tersebut, segera serunya sambil tertawa tergelak:

"Haaaah.....haaaah......haaaaah. bagus, bagus sekali. Nah manusia-manusia kurcaci,

sudahkah kalian mendengar perkataan itu?"

Baru selesai perkataan tersebut diutarakan, mendadak terlihat olehnya sipedang emas sedang melepaskan sebuah pukulan dahsyat kearah Kim Thi sia dengan wajah penuh amarah.

Serangan yang dilancarkan dalam keadaan gusar ini benar-benar hebat serta mengandung tenaga yang luar biasa, bila sampai terkena serangan itu biar tak mampuspun paling tidak akan terluka parah.

Sesungguhnya sipukulan sakti tanpa bayangan memang tidak menaruh kesan jelek terhadap Kim Thi sia, baik untuk kepentingan umum atau pribadi, dia merasa berkewajiban untuk melindungi keselamatan jiwa anak muda itu Karenanya cepat-cepat dia melancarkan pula sebuah pukulan dahsyat, gulungan tenaga lembek yang sangat hebat tanpa menimbulkan sedikit suarapun menyambar kedepan dan memaksa sipedang emas tergetar mundur dua langkah kebelakang.

Menyusul kemudian tampak sesosok bayangan abu-abu menerjang kebawah, dengan jurus "sepasang gunting memapas ranting", ia desak mundur sipedang emas, pedang tanah, pedang air dan pedang kayu secara bersama.

Ia tak berani berayal lagi, sepasang kakinya begitu melayang turun keatas tanah dengan suatu gerakan cepat dia menotok bebas jalan darah Ki bun hiat ditubuh Kim Thi sia yang tertotok.

seketika itu juga Kim Thi sia memperoleh kembali kebebasannya.

Dengan cepat dia meluruskan otot-otot tubuhnya yang kaku sambil mengatur pernapasan, setelah terbukti bahwa tenaga dalamnya telah pulih kembali seperti sedia kala, diapun berkata kepada sipedang emas sekalian-

"Terus terang saja kubilang, kalian sama sekali tidak berhak untuk mewakili suhu nah tunggulah sebentar disini, setelah menang kalah antara aku dengan dia telah ditentukan, akan kuajak kalian untuk berduel pula."

sementara itu sipukulan sakti tanpa bayangan berdiri menghadang didepan pedang emas, pedang tanah dan pedang kayu. Asal seorang saja diantara mereka berani bertindak secara gegabah, niscaya dia akan melancarkan pukulan untuk melakukan penghadangan.

Dengan kemampuan ilmu pukulan sakti tanpa bayangannya, dia percaya pedang emas, pedang air, pedang tanah maupun pedang kayu tak akan mampu melewati rintangannya.

Sebaliknya putra kesayangan sipukulan sakti, yakni sipemuda tampan itu telah sadar kembali dari pingsannya setelah mendapat pertolongan dari ayahnya, namun berhubung tubuhnya masih lemah, maka dia hanya berdiri menonton saja.

Kemudian pelan-pelan dia berjalan menuju kesuatu tempat yang amat rahasia tempat itu penuh dengan batuan karang yang berserakan dengan rumput ilalang tumbuh setinggi lutut, tempatnya amat rahasia.

Tapi pemuda tersebut berjalan terus tanpa berpaling, entah apa yang sedang diperbuatnya disana?

Setelah berjalan sejauh lebih kurang puluhan kaki, mendadak dia berhenti disamping setumpukan batu cadas dan berbisik pelan:

"Hay sin, keluarlah. Kita sudah aman sekarang."

Ketika sampai lama sekali tidak nampak juga sesuatu gerakan, dia maju lebih kedepan dan memperhatikan dengan lebih seksama. Mendadak serunya lagi sambil tertawa geli:

"Aaaah, rupanya kau telah tertidur, tak heran kalau suasananya begitu sepi dan hening."

Ketika sipukulan sakti tanpa bayangan berpaling dibawah cahaya rembulan dan bintang yang redup terlihat sepasang muda mudi munculkan diri dari balik semak belukar.

Yang pria adalah putra kesayangannya sedang yang perempuan berwajah cantik jelita bak bidadari dari khayangan, namun sama sekali tak dikenal. Tanpa terasa iapun menegur:

"Diakah nona Hay jin yang datang dari Lembah Nirmala?"

"Benar ayah" sahut pemuda tampan itu sambil manggut- manggut.

Dengan cepat gadis cantik berbaju putih itu maju memberi hormat seraya berseru: "Siauli Hay jin memberi hormat untuk kesehatan empek Ang"

Sembari berkata, dengan sengaja tak sengaja dia melirik sekejap kearah Kim Thi sia. Ketika tidak dijumpai kehadiran putri Kim huan disitu, selapis hawa marah segera menghiasi wajahnya. Terdengar sipukulan sakti tanpa bayangan tertawa terbahak-bahak. "Haaah......haaaah.......haaaah betul, betul keponakan perempuan memang amat cantik dan

menawan hati, tak malu menjadi putri kesayangan si Dewi Nirmala."

Setelah memuji berulang kali, ia baru berpaling kembali kearah Kim Thi sia, sambil berkata lebih jauh:

"Silahkan dimulai, aku ingin menyaksikan sampai dimanakah kehebatan ilmu simpanan dari Malaikat pedang berbaju perlente. Demi kejayaan perguruamu, kau sianak muda harus mengeluarkan segenap kepandaian silat yang kau miliki. Hmmm, kutemukan bahwa kau sedang menyembunyikan ilmu silatmu, akan kujatuhi hukuman kepadamu."

Selesai berkata, tubuhnya yang tinggi besar nampak bergetar dua kali, tampaknya sedang menghimpun tenaga, kemudian sambil bersenyum dia berdiri sekokoh batu karang dan tak nampak melakukan suatu gerakan lagi.

Kim Thi sia memandang sekejap sinona cantik berbaju putih itu, tiba-tiba dia berseru: "Sebelum pertarungan dilangsungkan aku ingin mengajukan sebuah pertanyaan lebih dulu.

Apakah empek bersedia menjelaskan?"

" Katakanlah"

Sambil menuding kearah nona cantik berbaju putih itu, Kim Thi sia segera bertanya: "Apakah dia adalah calon menantu empek?"

Pukulan sakti tanpa bayangan tertawa terbahak-bahak.

"Haaaah.......haaaah........haaaah bocah muda, kau terlalu senang mencampuri urusan

orang lain- Masalah perkawinan tersebut tergantung pada reaksi dari kedua belah pihak. tapi sejak bertemu dengan nona ini, aku telah menyenangi kepolosannya, tapi hay anak muda, mengapa

kau bertanya soal ini?"

Sambil menunduk sahut Kim Thi sia:

"Memang beginilah tabiatku, suka mencampuri urusan orang lain-"

Lalu setelah berdiri tegak dan menatap lawannya tajam-tajam, dia berkata lebih jauh:

"Baiklah, kita mulai sekarang juga, kalau ditunda-tunda lagi niscaya empek akan marah."

Sambil tertawa sipukulan sakti tanoa bayangan manggut- manggut, ucapnya cepat: "Kau boleh melancarkan serangan lebih dulu."

"Baik" bentak Kim Thi sia dengan suara rendah.

Sepasang kakinya segera direntangkan lebar-lebar, telapak tangannya diputar kencang, kemudian dengan jurus " menimpuk batu merontokkan burung" dari ilmu pukulan panca Buddha, dia mencoba kemampuan musuhnya.

"Hey bocah muda, seranganmu cukup mantap" puji sipukulan sakti tanpa bayangan sambil tertawa.

Tubuhnya yang tinggi besar bergerak cepat dengan merubah posisinya dari hadapan musuh menjadi sisinya, lalu dengan tangan sebelah dia memusnahkan serangan lawan secara jitu dan manis.

Kim Thi sia amat terperanjat, sesaat menarik kembali ancamannya, dia berpikir:

"Bila dilihat dari gerak jurus serangan yang digunakan sipukulan sakti tanpa bayangan untuk memusnahkan serangan-seranganku, rasanya sulit untuk meraba maka serangan sungguhan dan mana tipuan, dari sini dapat disimpulkan bahwa ilmu silatnya memang sangat hebat, agaknya dia menganut prinsip menghadapi "kekerasan" dengan "kelincahan" dengan "kelembutan" mematahkan "keganasan" " Berpikir demikian, secara beruntun dia melancarkan dua buah serangan berantai dengan jurus "Buddha tumbuh dimimbar suci" serta "cahaya Buddha memancar dijagad" dari ilmu pukulan panca Buddha.

Angin pukulan yang menderu-deru dengan membawa suara guntur yang memekikkan telinga segera menyambar kedepan dan mengancam lambung musuh.

Dia tahu si pukulan sakti tanpa bayangan memiliki tenaga dalam yang amat sempurna karena itu dia berusaha menghindari suatu pertarungan beradu tenaga dengannya.

"Bocah muda itu memang cerdik" puji sipukulan sakti tanpa bayangan lagi keras-keras. Ditengah teriakan tersebut, tubuhnya yang tinggi besar berkerut kencang, pinggangnya seakan-

akan terbuat dari bola karet saja, dengan mudah sekali dikempeskan untuk menghindari sergapan msuuh.

Melihat keampuhan tersebut, Kim Thi sia segera berpikir.

"Bila ditinjau dari keluwesannya mempermainkan pinggang sendiri untuk mematahkan serangan musuh, jelas ilmu tersebut telah dipelajarinya semenjak kecil. Kalau tidak. bagaimana mungkin bisa mencapai tingkat kesempurnaan seperti ini?"

Belum habis ingatan tersebut melintas lewat, pukulan yang dilancarkan sipukulan sakti tanpa bayangan telah menggulung datang dengan cepatnya.

Kim Thi sia segera menundukkan kepalanya rendah-rendah, dengan membawa sedingan angin tajam serangan tersebut segera menyambar lewat dari atas kepalanya, keadaan amat mengerikan-

Setelah berhasil lolos dari ancaman tersebut, diapun mulai berpikir.

"Aneh, andaikata dia menumbuk tubuhku dengan lengan kiri sementara membacok dengan tangan kanannya niscaya akan sulitlah bagiku untuk menghindarkan diri mengapa ia tidak berbuat demikian, mungkinkah dia tidak mengerti? Aaaa h. tak mungkin, tak mungkin."

Sipukulan sakti tanpa bayangan adalah manusia luar biasa, mustahil dia tidak memahami hal tersebut, lalu mengapa ia tak berbuat demikian? Yaa, dia pasti mempunyai maksud tujuan yang lain, ia memang sengaja berbuat begitu. "

Ketika ingatan mana masih melintas didalam benaknya, serangan dari sipukulan sakti tanpa bayangan telah menyergap kembali dengan hebatnya. Kali ini serangan datang dari atas menuju kebawah.

Dengan tubuhnya yang amat pendek. sewaktu melancarkan serangan tersebut ia mesti berdiri dengan ujung kakinya, maksudnya agar tubuhnya bisa lebih tinggi lagi.

Sikap dan tindakan yang sangat bodoh ini dengan cepat menimbulkan kecurigaan dalam hati Kim Thi sia, diam-diam ia meningkatkan kewaspadaannya untuk menghindari serangan mematikan yang mungkin akan datang menyerang secara tiba-tiba.

Apa yang diduga ternyata memang benar, belum habis serangan yang dipergunakan sipukulan sakti tanpa bayangan itu, tahu-tahu sudah dibatalkan ditengah jalan-

Serangan yang semula mengancam dari atas kebawah, menanti Kim Thi sia sudah menghindari ancaman tersebut, tahu-tahu berubah lagi menjadi sergapan dari bawah menuju keatas.

Dengan serangan tersebut bukan saja pertahanan Kim Thi sia dibagian bawah tubuhnya menjadi terbengkalai, jalan darah penting ditubuh bagian atasnyapun menjadi terancam.

Keadaannya saat ini benar-benar mengenaskan sekali.

Baru sekarang dia mulai mengerti bahwa sipukulan sakti tanpa bayangan yang tersohor dalam dunia persilatan karena ilmu pukulannya memang nyata memiliki ilmu simpanan yang luar biasa, kali ini dia tak berani bertindak secara gegabah lagi. Setelah berputar setengah lingkaran dengan cepat hingga posisinya berdiri disamping musuh, tiba-tiba ia melepaskan pukulan dengan jurus " melempar pedang kebalik hutan-serta "menyucikan diri menjadi Buddha" dari ilmu pukulan panca Buddha. Sipukulan sakti tanpa bayangan segera tertawa tergeletak.

"Haaaah......haaaah......haaaaah. tidak benar, serangan berikut kau mesti menyerang

dengan lebih rendah lagi"

Sementara Kim Thi sia masih tertegun dibuatnya, tiba-tiba ia merasakan telapak tangan telah menyentuh keatas pinggangnya dalam keadaan terperanjat cepat dia mundur dua langkah sambil pikirnya :

"Yaa, perkataannya memang betul, seandainya seranganku dilancarkan satu inci lebih kebawah, niscaya tiada kelemahan lagi dalam gerak seranganku itu "

Baru saja dia hendak mengeluarkan jurus serangan "tumbuh api dibalik batu" tiba-tiba pandangan matanya sudah menjadi kabur, dan sebuah tangan yang kasar telah menempel diatas pinggangnya.

Dalam keadaan demikian, cepat-cepat dia berganti jurus dengan mengeluarkan gerak "panca Buddha munculkan diri" diciptakan selapis jaring-jaring pukulan untuk membendung datangnya ancaman-

Sementara itu kakinya bergeser kekiri, dan gerakan "panca Buddha munculkan diri" dirubahnya menjadi gerakan "Buddha hidup naik diawan", pinggangnya ditekuk dengan tubuh begini atasnya dibuang kemuka, lengannya menyambar kebawah.

Sebaliknya tubuh bagian bawahnya berselisih jarak lima depa dari tangan musuh, hal ini membuat lengan lawan tak cukup mencapai sasaran-

Siapa sangka perhitungannya kali ini ternyata meleset, tahu-tahu kelima jari tangan sipukulan sakti tanpa bayangan telah menerobos masuk melalui sela-sela angin pukulannya, langsung mencengkram kearah dada.

Tak terlukiskan rasa terperanjat Kim Thi sia kali ini, cepat-cepat dia menarik napas panjang- panjang sambil menghimpun tenaga dalamnya kedalam pusar.

Dengan ditariknya napas dalam-dalam secara otomatis dadanya tersedot kebelakang dengan cara beginilah dia melepaskan diri dari ancaman musuh yang amat membahayakan itu

Pukulan sakti tanpa bayangan tertawa terbahak-bahak. belum habis gelak tertawanya tiba-tiba membalikkan badan sambil melesat kemuka dengan kecepatan luar biasa.

Dikala tubuhnya masih melambung diudara, sepasang lengannya diayunkan bersama kedepan, dua gulung tenaga pukulan yang hebat dan dahsyat pun segera menyambar keempat penjuru.

Untuk sesaat Kim Thi sia dibuat tertegun, pikirnya:

"Heran, kenapa dia melancarkan pukulan dengan membelakangi aku? Apakah tenaga pukulannya bisa memutar balik dan menyergapku secara tiba-tiba?"

Tapi setelah diamati dengan lebih seksama, ia segera menjadi sadar apa gerangan yang sebenarnya telah terjadi.

Rupanya juan tiong supa hendak memanfaatkan kesempatan ini untuk melarikan diri.

Belum lagi ingatan tersebut selesai melintas, disebelah sana sudah berkumandang datang tiga kali jeritan ngeri yang memilukan hati disusul suara robohnya tubuh manusia.

Dalam waktu singkat tampaklah bayangan manusia berkelebat diudara dan memencarkan diri keempat arah delapan penjuru.

Tampaknya mereka telah mempersiapkan diri secara baik-baik, kecuali tiga orang rekan mereka yang telah binasa, lainnya berusaha menarik selisih jarak sejauh-jauhnya dengan rekan lainnya, masing-masing berusaha menyelamatkan diri dari situ. "Bajingan keparat berhati licik, kalian anggap dengan cara begitu bisa meloloskan diri dari kematian?" teriak sipukulan sakti tanpa bayangan penuh kegusaran-

Ditengah bentakan keras, sepasang tangannya dirapatkan menjadi satu, kemudian diayunkan sejajar dengan tanah.

Desingan tajam menderu d iatas permukaan tanah menimbulkan pusaran angin kencang dan pasir yang beterbangan-

Mendadak terdengar kawanan jago persilatan yang berada disebelah timur dan utara menjerit kesakitan dengan suara yang memilukan hati, disusul kemudian tubuh mereka bertumbangan keatas tanah dan tewas seketika.

Mimpipun Kim Thi sia tidak menyangka kalau sipukulan sakti tanpa bayangan memiliki kepandaian silat yang begitu hebat dan luar biasa, bukan saja sanggup menyergap musuhnya yang berada dijarak jauh, bahkan sanggup menggempur musuh pada posisi yang berbeda, perasaan hatinya benar-benar tercekat.

Kawanan jago persilatan yang berada disebelah barat dan selatan segera dibuat ketakutan oleh kehebatannya, mereka berdiri tertegun dan sama sekali lupa untuk berusaha meloloskan diri.

Sipukulan sakti tanpa bayangan segera merentangkan sepasang lengannya sambil menyerang, jeritan-jeritan ngeri yang memilukan hatipun bergema saling menyusul, disusul kemudian terlihat tubuh manusia bertumbangan keatas tanah dihancurkan pukulan dahsyat tersebut.

Melihat kehebatan lawannya, tiba-tiba saja Kim Thi sia berpikir:

"Menurut keadaan ini, agaknya ilmu Tay goan sinkang pun belum tentu mampu menandingi kehebatan ilmu pukulan sakti tanpa bayangan-"

Sementara itu sipukulan sakti tanpa barangan baru mendengus dingin dan berkata setelah selesai membasmi musuh-musuhnya.

"Manusia- manusia keparat yang kepingin mampus, sudah kuberi kesempatan yang baik bagi kalian untuk melanjutkan hidup kalian justru tak mau menuruti nasehatku dengan melarikan diri. Hmmm. beginilah akibatnya bila berani membangkang perintah."

Kim Thi sia mencoba untuk memandang sekejap sekeliling tempat itu, menyaksikan mayat bergelimpangan memenuhi seluruh permukaan tanah, timbul perasaan iba dihati kecilnya. Sambil menggelengkan kepalanya berulang kali ia berkata: "Empek kau terlalu kejam"

Perkataan yang diucapkan tanpa maksud itu segera ditanggapi tak senang oleh sipemuda tampan, dengan suara dingin ia menimbrung:

"Sahabat Kim, lebih baik engkau jangan mengeritik dia orang tua daripada kau sendiripun akan mendapat celaka."

"Aku toh berbicara sejujurnya" sahut Kim Thi sia tak senang hati. "Hanya karena marah, Ang locianpwee sudah menghabisi belasan jiwa manusia, tidakkah perbuatan tersebut merupakan tindakan keji?"

Pelan-pelan sipukulan sakti tanpa bayangan mengalihkan sorot matanya yang tajam kewajah pemuda itu, lalu bertanya:

"Perbuatan yang bagaimanakah kau anggap tak kejam? Bocah muda, coba kau terangkan" "Yang pantas dibunuh, bunuhlah, yang tak pantas dibunuh ampunilah"

"oooh begitu?" sipukulan sakti tanpa bayangan tertawa dingin. "Kalau begitu aku perlu

bertanya lagi, siapakah diantara mereka yang hadir sekarang pantas dibunuh dan siapa pula yang tidak pantas dibunuh?"

Kim Thi sia memang tahu akan keanehan watak orang tua itu, diapun mengerti dalam marahnya besar kemungkinan sikakek akan melakukan pembantaian, namun sebagai seorang lelaki sejati, dia pantang menyerah, ia tak sudi menunjukkan sikap pengecut. Dengan suara keras ia menjawab:

"Justru persoalan inilah yang ingin kutanyakan kepada empek. sebab empek telah membunuh mereka sekaligus. Hal ini membuat aku menjadi sulit untuk membedakan mana baik mana jahat. Aku ingin bertanya empek diantara puluhan orang ini sebenarnya berapa banyak sih yang mempunyai dosa yang tak terampuni lagi?"

Merah padam selembar wajah sipukulan sakti tanpa bayangan, ujarnya kemudian dengan wajah tak senang hati:

"Anak muda, lebih baik tak usah banyak bicara lagi, jangan membuat amarahku meledak sehingga kau pun turut kubantai."

Kim Thi sia sama sekali tak gentar, dia tertawa tenang.

"Aku mengerti bila empek hendak membunuhku maka bisa kau lakukan hal ini semudah membalikkan telapak tangan sendiri tapi kau harus melakukannya sendiri."

"Kau anggap aku tak berani?" teriak pukulan sakti tanpa bayangan teramat gusar.

Seraya berkata dia segera mengayunkan tangannya, seketika itu juga muncul segulung tenaga pukulan yang maha dahsyat menerjang kedepan.

Kim Thi sia mendengus tertahan, dia sambut datangnya serangan dengan mengerahkan ilmu Tay goan sinkangnya.

Dalam waktu singkat, tubuh Kim Thi sia mencelat ketengah udara dan jatuh tertunduk diatas tanah.

Sebaliknya sipukulan sakti tanpa bayangan pun merasakan hatinya amat terkesiap dengan rasa kaget dia menerjang kemuka seraya bertanya: "Anak muda, ilmu pukulan apakah yang kau pergunakan?"

Belum sempat bagi Kim Thi sia untuk berdiri tegak. tahu-tahu musuh tangguh telah muncul didepan mata, dalam keadaan begini, tak ragu lagi dia menyerang dengan jurus "kecerdikan menguasahi seluruh jagad" dari ilmu Tay goan sinkang.

Angin pukulan bercampur deruan guntur menggelegar diudara.

Sekali lagi sipukulan sakti tanpa bayangan merasakan hatinya tergetar keras sesudah menyambut datangnya ancaman tersebut, sekarang bukan saja dia merasa kaget, bahkan gusarnya bukan siang kepalang.

Tubuhnya melejit keudara seperti burung elang kemudian menerkam kebawah dengan garangnya, diantara putaran telapak tangannya, sbeuah pukulan sakti tanpa bayangan telah dilepaskan-

Kim Thi sia tak berani bertindak gegabah, cepat-cepat dia mengerahkan pula ilmu Tay goan sinkangnya untuk menghadapi ancaman tersebut. Sementara itu perasaan heran mencekam pula perasaannya, dia berpikir:

"Banyak orang bilang, siapa yang terkena pukulan sakti tanpa bayangan, dia tentu akan mampus, padahal tenaga dalamku selisih jauh bila dibandingkan dengannya. Kenapa steelah kusambut serangannya dengan ilmu Tay goan sinkang, isi perutku sama sekali tidak menderita luka?"

Tentu saja dia tak pernah menyangka bahwa kesaktian ilmu pukulan Tay goan sinkang bukan hanya terletak pada tenaga pukulannya saja. Sering kali dalam pertarungan tingkat tinggi kepandaian tersebut sanggup merusak dan menghancurkan tenaga dalam musuh secara diam- diam.

Begitu pula keadaan sipukulan sakti tanpa bayangan sekarang, setiap kali terjadi bentrokan kekerasan, secara tanpa sadar ia merasakan tenaga dalamnya menderita kerugian- Sekalipun kejadian seperti ini yang dianggap adalah masalah kecil yang tak perlu dikuatirkan olehnya, namun dengan tenaga dalamnya yang begitu sempurna, dimana tak mempan dengan api maupun air. Setelah tenaga dalamnya mendapat kerugian otomatis perasaannya menjadi terperanjat, paling tidak selama ini belum pernah dia menjumpai manusia yang sanggup mengalahkan dirinya secara begini.

Begitulah watak manusia, semakin tak habis mengerti, semakin besar pula hasratnya untuk menyelidiki duduk persoalan yang sebenarnya.

Didalam waktu yang amat singkat, mereka telah empat kali beradu tenaga pukulan-selisih jarak kedua belah pihak pun makin menjauh sehingga gempuran demi gempuran harus dilancarkan dengan mengerahkan tenaga dalam.

Akhirnya sipukulan sakti tanpa bayangan menghentikan semua gerakannya, ia betul-betul tak habis mengerti, apa sebabnya setiap kali terjadi bentrokan kekerasan dengan musuh, tenaga dalamnya selalu bertambah lemah sebagian?

Ia seperti merasakan munculnya suatu tenaga penghisap yang menghisap tenaga murninya. Sebagai manusia yang cerdik dan cekatan, ia segera menyadari akan ketidak beresan itu,

karena itulah cepat-cepat dia menghentikan pertarungan dan tak berani melancarkan serangan lagi.

Ia cukup sadar, bila pertarungan dilanjutkan lagi niscaya tenaga murninya akan semakin rusak dan hancur oleh tenaga pukulan Kim Thi sia tersebut.

sementara itu sipedang emas turut mengikuti jalannya pertarungan dengan seksama, hanya dia seorang yang tahu bahwa ilmu Tay goan sinkang memang memiliki daya perusak yang bisa menghancurkan tenaga dalam orang secara tak sadar.

Terbukti sekarang, ilmu pukulan sakti tanpa bayangan yang begitu lihaypun bukan tandingannya bisa diduga sampai dimanakah taraf kehebatan yang dimiliki kepandaian tersebut.

Justru karena itulah hasratnya untuk mendapatkan ilmu tay goan sinkang semakin besar, satu akal licikpun segera disusun sementara senyuman licik menghiasi ujung bibirnya.

Dalam pada itu sipukulan sakti tanpa bayangan telah menegur dengan gusar: " Katakan kepadaku ilmu pukulan apakah yang telah kau pergunakan?"

"oooh, soal ini mah merupakan rahasia perguruan, maaf aku tak bisa memberitahukan kepadamu."

Sipukulan sakti tanpa bayangan benar-benar dibuat kehabisan akal, mukanya hijau membesi saking mendongkolnya, dengan gusar dia membentak lagi: "Kau benar-benar tak bersedia untuk berbicara?"

"Tentu saja tak bersedia" sahut Kim Thi sia sambil tertawa. "Bila kau merasa berkemampuan hebat, silahkan saja untuk memaksaku mengungkap rahasia tersebut."

Ia sudah menduga kalau sikakek ini keras diluar lembek dihati kecilnya, maka dalam berbicarapun dia tak sungkan-sungkan, kembali katanya:

"Bila enggan bertarungpun boleh saja, toh guruku belum sampai kehilangan muka" Mendadak.......

Terdengar jeritan lengking bergema memecahkan keheningan-

Dengan wajah berubah hebat Kim Thi sia segera berpaling, ia segera menyaksikan jalan darah putri Kim huan telah dibebaskan oleh sipedang emas, namun sebilah pedang mestika kini sudah ditempelkan diatas tengkuknya yang halus dan putih itu.

Sbeelum ingatan kedua sempat melintas lewat, sipedang emas yang berdiri disamping gadis itu telah berkata sambil tertawa seram: " Dengarkan baik-baik Kim Thi sia, dia hendak meninggalkan pesan terakhirnya padamu." "Hey pedang emas" Kim Thi sia segera berteriak keras-keras. "Jika kau berani mengganggu

seujung rambutnyapun, aku Kim Thi sia bersumpah akan menghancur lumatkan tubuhmu."

Sipedang emas merasa amat gembira, apa lagi setelah melihat kecemasan yang mencekam wajahnya, dia sengaja mendengus dingin dan berkata lagi:

"Aku tak akan termakan oleh gertak sambalmu, aku cukup mengetahui akan kepandaian silatmu yang terbatas Aku berani mengatakan dalam sepuluh gebrakan saja bisa memenggal batok kepalamu."

Kemudian setelah tertawa seram, terusnya:

"Hanya ada satu kesempatan bagimu untuk menyelamatkan jiwanya, terserah kau yang memilih sendiri"

"Kesempatan apa?" seru Kim Thi sia serius. "Huuuh, paling banter toh menyuruh aku menyerahkan ilmu sakti tersebut."

"Lebih bauk lagi bila kau sudah tahu. Nah cepatlah tentukan pilihanmu, tidak banyak waktu yang tersedia."

Dalam keadaan begini, Kim Thi sia merasa dirinya seakan-akan dipaksa untuk mengambil tindakan tegas, rasa sedih dan gusar yang meluap-luap membuat perasaan dendamnya berkobar.

Ditatapnya sipedang emas tanpa berkedip. kemudian serunya:

"Pedang emas, aku bilang terus terang. Anjing yang dipojokkan pun akan melompati pagar, apalagi manusia. Aku bisa membunuhmu secara keji. IHmmm, bila kau mendesak terus menerus, aku bisa berbuat nekad. Ayoh lekas bebaskan dia, aku berjanji mengampuni selembar jiwamu. "

"Manusia sombong yang tak tahu diri" sipedang emas tertawa dingin. "Untuk melindungi keselamatan jiwa sendiripun tak sanggup, masih berani bicara sesumbar? Bila aku tidak melihat pada ilmu saktimu itu, hmmm cukup dengan ucapanmu barusan, aku sipedang emas sudah membunuhnya sejak tadi kemudian membunuhmu."

Sambil berkata secara diam-diam dia mengawasi terus reaksi dari lawannya, melihat pemuda itu sangat gusar, seakan-akan ia sudah mengambil keputusan hendak mengambil tindakan tanpa memperdulikan soal apapun, diapun sadar bila tidak dipergunakan cara yang keji dan ganas, niscaya lawan enggan menuruti permintaannya.

Maka dengan mempergunakan ujung telunjuknya dia mengetuk tilang bahu putri Kim huan keras-keras.

Sebagai seorang gadis yang pada dasarnya bertubuh lemah, bagaimana mungkin putri Kim huan bisa menahan ketukan jari tangan yang keras dan kuat itu?

seketika ia menjerit kesakitan dan terbungkuk- bungkuk sambil melelehkan air mata. Semakin berkilat sepasang mata Kim Thi sia melihat kejadian tersebut, teriaknya keras-keras:

"Hey pedang emas, sebagai seorang jago persilatan kenamaan kerjamu hanya mempermainkan dan menyiksa seorang gadis lemah? Terhitung manusia macam apa dirimu itu?"

Pedang emas sama sekali tidak menggubris, sekali lagi dia mengetuk tulang bahu putri Kim huan keras-keras.

Pucat pias selembar wajah putri Kim huan karena kesakitan, dia merasa seluruh badannya seakan-akan mau remuk.

Sambil merintih kesakitan, tiba-tiba serunya kepada Kim Thi sia:

"Engkih Thi sia, cepat balaskan dendam bagiku. Aku. biar matipun tidak mengapa." Kim Thi sia sangat sakit hati, perasaan sedih dan matah bercampur aduk didalam benaknya, tanpa sadar dua titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya. Sambil menggertak gigi keras- keras dia segera berseru:

"Lepaskan dia, asal kau membebaskan dia semua permintaanmu kupenuhi. "

Pedang emas menurut dan mengendorkan cengkeramannya atas diri putri Kim huan, kemudian menarik pula pedangnya yang dipulangkan diatas tengkuk gadis tersebut namun dia tetap berdiri mendampinginya takut gadis tersebut melarikan diri secara tiba-tiba.

sementara itu sipukulan sakti tanpa bayangan hanya bisa mengawasi kedua orang itu dengan wajah tertegun, untuk beberapa saat dia tidak mengetahui apa gerakan yang terjadi.

Tapi secara lamat-lamat diapun bisa menduga, ilmu silat yang diinginkan sipedang emas dari Kim Thi sia bisa jadi merupakan suatu kepandaian yang luar biasa. Mendadak perasaannya bergetar keras, pikirnya kemudian:

"Jangan-jangan ilmu sinkang yang diinginkan tak lain adalah kepandaian sakti yang barusan dipergunakan Kim Thi sia?"

Saat itu juga timbul ambisinya untuk turut merebut kepandaian sakti itu, sebab dia sadar ilmu tersebut merupakan satu-satunya kepandaian silat yang mampu menandingi ilmu pukulan sakti tanpa bayangannya.

Semenjak terjun kedalam dunia persilatan berapa puluh tahun berselang, sipukulan sakti tanpa bayangan belum pernah menjumpai musuh yang berarti, sebab itu dia selalu membanggakan kehebatan ilmu silatnya.

Siapa tahu, hari ini dia telah bertemu dengan tandingannya, membuat ilmu silat yang dibangga- banggakan selama ini kehilangan daya kemampuannya. Tak heran kalau kejadian tersebut membuatnya sifat dan timbul keinginan jahat dalam hatinya.

Tiba-tiba dia melirik sekejap kearah Kim Thi sia, satu ingatanpun segera melintas lewat.

"Dia tahu gadis cantik yang disandera sipedang emas sekarang merupakan satu-satunya benda yang bisa memaksa Kim Thi sia untuk tunduk dibawah perintahku tak disangkal gadis cantik itu adalah kekasih hati Kim Thi sia, sebab kalau bukan begitu tak mungkin pemuda tersebut menunjukkan perasaan gusar yang meluap." Diam-diam ia berpikir:

"Ilmu pukulan sakti tanpa bayanganku sama sekali tak berdaya menghadapi serangan, agaknya untuk bisa mendapatkan ilmu sakti tersebut, aku harus dapat merampas gadis tersebut. "

Tapi sekarang, putri Kim huan dijaga oleh sipedang emas bersama saudara-saudara seperguruannya, kecuali dia sanggup menggempur sipedang emas sekalian, mustahil gadis itu bisa terjatuh ketangannya.

Begitu mendapat gambaran yang nyata atas keadaan didepan mata, diapun sengaja berseru kepada sipedang emas sambil tertawa dingin-

"Menang kalah diantara kami belum lagi selesai, apa maksudmu mengganggu pertarungan ini?" "Masalah ini merupakan urusan pribadi kami sendiri, kau sebagai orang luar tak usah turut

campur."

Jawabannya sangat ketus dan amat tak sedap didengar.

Kontan saja sipukulan sakti tanpa bayangan berkerut kening, serunya kemudian-

"Kalau begitu. kau sama sekali tidak memandang sebelah mata pun terhadap aku sipukulan

sakti tanpa bayangan?"

"Hmmm^ soal itu mah sulit untuk dibicarakan- " dengus pedang emas sinis. Ia sama sekali tidak menyangka kalau sipukulan sakti tanpa bayangan memang bermaksud mencari gara-gara, ketika mendengar perkataan kakek botak itu sangat angkuh, dia menjadi mendongkol dan berhasrat memberi pelajaran yang setimpal kepadanya.

Siapa tahu tindakan tersebut justru memenuhi pengharapan sipukulan sakti tanpa bayangan- Terdengar kakek botak itu berseru dengan lantang:

"Bagus, bagus sekali. Aku sipukulan sakti tanpa bayangan memang sudah tua, sudah tak berguna, sampai manusia cecunguk macam dirimupun berani mencari gara-gara denganku." Kepada sipemuda tampan yang berada disampingnya ia segera berkata:

"Berdiri baik-baik ditepi arena, sebelum mendapat perintahku jangan bertindak secara Sembarangan. Selama aku memberi pelajaran kepada manusia cecunguk yang punya mata tak berbiji ini, kau perhatikan baik-baik semua jurus serangan yang kugunakan-"

Sepintas lalu, orang mengira dia sedang berbicara kepada putranya, padahal dengan perkataan tersebut dia justru bermaksud memancing kobaran hawa amarah sipedang emas agar dia bisa melaksanakan rencananya tanpa disadari lawan-

Apa yang diduga ternyata memang benar, ketika mendengar perkataan tersebut, sipedang emas menjadi sangat gusar. cepat-cepat dia serahkan putri Kim huan kepada adik seperguruannya, kemudian dengan langkah lebar tampilkan diri ketengah arena.

"Pedang emas siap menerima pelajaran dari Ang locianpwee" serunya dengan suara dingin-

Pukulan sakti tanpa bayangan tertawa nyaring, tanpa mengucapkan sepatah katapun, dia maju kedepan seraya melepaskan pukulan tanpa bayangannya.

Kali ini sipedang emas tidak menghadapi datangnya ancaman dengan kekerasan, dia meloloskan senajta andalannya, kemudian menjejakkan kakinya keatas tanah dan melejit keudara.

Ditengah angkasa, pedangnya digerakkan membiaskan cahaya bianglala yang amat menyilaukan mata, secepat petir serangan tersebut mengurung seluruh tubuh musuhnya.

Pukulan sakti tanpa bayangan menggetarkan tubuhnya yang gemuk berulang kali. Sungguh aneh, meskipun dia memiliki perawakan badan yang gemuk dengan gerak gerik yang bebal, ternyata pertarungan berkobar, gerak geriknya menjadi lemas seakan-akan tak bertenaga dan lincahnya bukan kepalang.

Hanya didalam berapa kali gerakan saja, dia telah menghindari tiga gerak serangan maut dari sipedang emas.

Sekali lagi pedang emas melejit keudara, cahaya bianglala memancar makin meluas. Sementara pedangnya dialihkan ketangan kiri, rupanya dia telah mengeluarkan ilmu pedang tangan kiri yang maha dahsyat.

Ilmu pedang tangan kiri sebagai kepandaian andalan si Malaikat pedang berbaju perlente dimasa lalu memang nyata keampuhannya, apalagi dipergunakan sipedang emas dalam keadaan gusar. Deruan angin serangan yang dihasilkan seketika merasa sipukulan sakti tanpa bayangan seorang tokoh persilatan yang tersohor pun menjadi kalang kabut dibuatnya.

Tapi bagaimana dalam menghadapi pertarungan seperti ini, berapa gebrakan kemudian dia mulai bisa meraba dan menguasahi kehebatan dari ilmu pedang tangan kiri. Serunya kemudian dengan suara lantang:

"Bagus sekali, malaikat pedang berbaju perlente memang terbukti seorang tokoh dalam ilmu pedang, ternyata ilmu pedang keluarga Tiap yang termashur dimasa lalupun sudah terjatuh pula ketangannya, tak heran kalau setiap orang memuji kehebatannya, sayang sekali kau bicah ingusan masih belum cukup sempurna menguasahi ilmu tersebut. Sayang. sayang sekali. "

Habis berkata dia segera mengincar gerak laju serangan lawan dengan merubah gerakan tubuhnya, kali ini dia melayani serangan pemuda itu dengan ilmu pukulan hian thian kiu ciang hoatnya. Ilmu pukulan sembilan bentakan ini merupakan sejenis pukulan tenaga Yang yang mengutamakan kekerasan- Setiap pukulan dan gerakannya selalu berat, mantap dan penuh kekuatan.

Betapapun lihaynya ilmu pedang keluarga Tiap. begitu berjumpa dengan gerak serangan lawan yang bebal dan lamban, ternyata tak satupun yang berhasil menembusi pertahanannnya. Makin bertarung sipedang emas makin gusar, tiba-tiba bentaknya keras:

"Siluman tua, kau jangan berbangga hati lebih dulu, rasain sebuah tusukan pedang ini."

Begitu selesai berkata, tiba-tiba saja pedangnya melepaskan diri dari kurungan angin pukulan musuh dan langsung menerobos masuk kedalam.

Kali ini dia telah menghimpun segenap kekuatan yang dimilikinya, ketika sampai ditengah jalan dia mendengus, lalu dengan melipat gandakan tenaga serangannya dia melancarkan tusukan lebih hebat lagi.

Pukulan sakti tanpa bayangan cepat-cepat melompat kesamping untuk menghindarkan diri, agaknya ia tak berani menyambut datangnya serangan dengan kekerasan-

Sebuah pukulan yang berkekuatan dahsyat segera menggetarkan pedang itu hingga miring kesamping.

"Huuuh, ternyata kemampuan dari Ang locianpwee hanya begitu-begitu saja........heeeh.......heeeeh "

Karena kuda-kudanya gempur dia mundur selangkah kebelakang, baru saja bersiap-siap akan melepaskan serangan dengan jurus "selaksa pedang menembusi hati" yang merupakan serangan terhebat dari ilmu pedang keluarga Tiap. tahu-tahu sipukulan sakti tanpa bayangan telah melejit keudara dan menerjang kearah pedang tanah, pedang kayu dan pedang air.

Untuk sesaat sipedang emas tertegun, tapi ia segera menyadari apa yang terjadi, pikirnya cepat:

" Rupanya dia hanya pura-pura bukan tandingan-"

Sayang sekali keadaan sudah terlambat, terdengar sipedang tanah menjerit kesakitan dengan suara yang memilukan hati, tubuhnya mencelat sejauh tiga kaki lebih terhajar oleh pukulan tanpa bayangan yang maha dahsyat itu.

Sebetulnya ilmu silat yang dimiliki sipedang tanah cukup tangguh dan tak mungkin bisa dibinasakan oleh sipukulan sakti tanpa bayangan hanya dalam satu gebrakan saja.

Sayang pemuda ini terlalu gemar bermain perempuan, semenjak melihat kecantikan putri Kim huan yang begitu menawan bak bidadari dari kahyangan, sukmanya seraya melayang meninggalkan raganya, timbul ambisi dalam hatinya untuk memiliki nona itu.

Maka dengan manfaatkan kesempatan disaat medapat tugas untuk menjaganya, dia mencoba membelai dan merabai sekubur badan sinona yang cantik.

Akibat dari ulahnya itu, dia menjadi kehilangan kontrol dan kurang waspada, disaat pukulan sakti tanpa bayangan melancarkan serangannya ia menjadi gelagapan-

Begitulah tak sempat lagi melihat raut wajah musuhnya secara jelas, tahu-tahu tulang dadanya sudah remuk tergempur serangan musuh hingga tewas seketika.

Yaa, inilah pembalasan bagi perbuatan mesumnya selama ini dengan merusak banyak wanita.

Siapa yang jahat, dia harus menerima hukumnya.

Dengan tewasnya pedang tanah, pedang air serta pedang kayu menjadi ketakutan setengah mati, tanpa banyak berbicara mereka membalikkan badan dan melarikan diri terbirit-birit.

Keadaan sipedang kayu terhitung paling mengenaskan, tadi ia telah melancarkan pukulan kearah Kim Thi sia dengan mengerahkan ilmu ci yang Ceng khinya meski berhasil menghajar lawan hingga sekarang tenaga dalamnya belum pulih kembali, sudah barang tentu dia tak berani menghadapi serangan dari ketua Tiang pek san yang maha dahsyat itu.

Mungkin saking tergopoh-gopohnya berusaha melarikan diri, dia sampai menubruk batang pohon, dan jatuh terjengkang keatas tanah.

Dengan perasaan gusar sipedang emas memburu kedepan, ketika dilihat tampaklah sipedang tanah telah tewas dalam keadaan mengerikan. Sepasang matanya terpejam rapat, darah bercucuran keluar dari lima lubang inderanya.

Tanpa terasa sinar matanya dialihkan kesekeliling arena, ketika melihat saudara-saudara seperguruannya yang mati telah mati, yang terluka telah terluka, suasana begitu mengenaskan- Meski dia adalah manusia berhati buas, namun setelah melihat keadaan yang begini mengenaskan, tak urung becucuran juga air matanya.

Sementara itu sipedang pukulan sakti tanpa bayangan tak berani berayal lagi, dengan suatu gerakan cepat dia menyambar pinggang putri Kim huan, kemudian tertawa terbahak-bahak.

Putri Kim huan yang ketimpa kemalangan lagi-lagi terjatuh ketangan majikan- yang berbeda.

Ketika Kim Thi sia menyaksikan kejadian tersebut, dengan gembira ia segera berseru: "Ang locianpwee, terima kasih banyak atas bantuanmu."

Ia tidak mengetahui kalau sipukulan sakti tanpa bayangan pun mempunyai rencananya dengan merampas putri Kim huan dari tangan musuh, dia masih menyangka kakek botak itu menolong putri Kim huan dengan maksud baik.

Pukulan sakti tanpa bayangan nampak agak tertegun sesudah mendengar seruan itu. Biji matanya segera berputar, agaknya ia sudah mengetahui maksudnya, maka sambil menarik muka ujarnya dingin:

"Tak usah berterima kasih akupun hendak mengajukan permintaan kepadamu. "

" Katakan saja terus terang?" Kim Thi sia tertawa. "Pokoknya asal aku sanggup melakukan tentu akan kupenuhi. "

Setelah mengetahui bahwa putri Kim huan telah terlepas dari " mulut harimau", pikiran maupun perasaan hatinya menjadi sangat lega, perasaan terima kasih yang meluap membuat ia tidak mempertimbangkan lagi semua permintaan yang mungkin akan diajukan kakek botak itu.

Selalun daripada itu, diapun tidak menyangka kalau pukulan sakti tanpa bayangan merupakan seorang manusia yang berambisi pula, dalam anggapannya permintaan- yang diajukan paling banter hanya terbatas pada bantuan tenaga.

Demi kekasih hatinya, sekalipun ia harus kelelahan sampai kehabisan tenagapun dia merasa rela.

Melihat kepolosannya pemuda tersebut, tiba-tiba saka timbul perasaan yang tak tega dihati kecil sipukulan sakti tanpa bayangan-

Tapi dengan cepat dia menguasahi gejolak perasaan tersebut, sengaja katanya dengan suara dingin dan hambar:

"Belum tentu kau bisa penuhi permintaanku itu"

Kakek ini memang sengaja menunjukkan sikap ketus dan dingin dengan maksud agar bila terjadi "bentrokan" nanti ia bisa bersikap dan bertindak lebih gampang, paling tidak bila permintaannya diajukan disaat Kim Thi sia sedang gusar. Hal ini akan lebih menenteramkan hatinya.

Kim Thi sia tidak menduga sampai kesitu, sambil tertawa tergelak serunya: "Haaaah.......haaaah......haaaaah. hal ini lebih baik lagi, aku memang sangat berharap bisa

mendapat kesempatan untuk membalas budi kebalkan Ang locianpwee?" Sipukulan sakti tanpa bayangan yang segera berkerut kening, diang-diam ia berpikir bagaimana caranya merangsang amarah pemuda tersebut agar api kegusarannya memuncak, kemudian "permintaan" nya baru diajukan-

Sementara itu, nona cantik berbaju putih tersebut sedang berkata kepada pemuda tampan: "coba lihat, tugas yang kuberikan kepadamu akhirnya diselesaikan oleh ayahmu, apakah kau

tidak merasa malu?"

"Aku benar-benar tak habis mengerti, kenapa sih kau memaksa aku untuk menyerempet bahaya menolongnya? Apa maksud dan tujuanmu yang sebenarnya ?"