Lembah Nirmala Jilid 37

 
Jilid 37

Kim Thi sia sengaja menghentikan kata-katanya dan tersenyum, kemudian pelan-pelan maju dua langkah kedepan.

Sekilas perasaan heran memancar dibalik wajah sipedang besi setelah mendengar perkataan itu, buru-buru tanyanya: "cuma kenapa?"

Sikap Kim Thi sia kelihatan amat tenang, dengan sikap yang luar biasa ia berkata: "cuma sayang saatnya tidak cocok sehingga susah untuk memenuhi pengharapanmu. "

"Apa maksud perkataanmu itu?" tanya sipedang besi tertegun.

Sekalipun ia dapat menangkap maksud yang tak beres dibalik perkataan tersebut, namun untuk sesaat ia tak tahu apa yang dimaksudkan orang itu. Dengan senyuman dikulum kembali Kim Thi sia berkata:

"Seharusnya kau tahu, seorang perempuan belum tentu bisa melenyapkan semangat jantan seorang lelaki. Dalam keadaan dan situasi seperti apapun, seseorang perlu mempertahankan harga dirinya yang tak ternilai. Hey pedang besi, haruskah kau sayangkan bahwa aku Kim Thi sia bisa tenar karena kebenaran dan kesetian kawanku?"

Sipedang besi menjerit tertahan, agaknya ia sudah mulai memahami arti sesungguhnya dari pemuda tersebut.

Tapi sayang. segala sesuatunya telah terlambat.

Dalam waktu singkat, Kim Thi sia yang tenang dan termenung sudah kehilangan seluruh senyumannya disusul kemudian terlihat bayangan pukulan menyambar dan menari didepan mata.

Jeritan ngeri yang memilukan hati pun bergema memecahkan keheningan, tahu-tahu sipedang besi sudah terkapar tewas dengan tujuh lubang inderanya mengucurkan darah segar.

Rupanya Kim Thi sia telah mempergunakan dua jurus " angin mencabut pohon siong" dan " kejujuran mengalahkan batu emas" untuk menggempur jalan darah Khi hay hiat dan Ki bun hiat didada lawan-

Segulung tenaga pukulan yang sangat kuat dan maha dahsyat segera menggempur dadanya serta menghancurkan isi perutnya. Bayangkan saja, dalam keadaan begini bagaimana mungkin lawannya bisa tetap melanjutkan hidup?

Perubahan yang sama sekali tak terduga itu seketika menggemparkan kawanan jago pedang lainnya, serentak mereka membentak gusar sambil meloloskan pedang masing-masing. Bagaikan orang kalap mereka menerjang dan menyerang secara membabi buta.

Hanya pedang emas seorang tetap berdiri tak bergerak diposisi semula, yang lebih aneh lagi disaat orang lain menyerang musuh secara membabi buta dengan semangat yang berkobar-kobar, maka ia sendiri justru membungkukkan badan sambil merintih kesakitan-

Mungkinkah pemimpin dari sembilan pedang dunia persilatan ini telah kehilangan tenaga dalamnya akibat termakan oleh pukulan Kim Thi sia? Bukan, bukan demikian keadaannya.

Saat ini ia sedang menderita siksaan "pertarungan antara langit dan manusia" yang merupakan kunci penting bagi seseorang yang belajar ilmu silat, sering kali keadaan demikian timbu dalam situasi yang tak terduga.

Apabila sang penderita berhasil mengatasi keadaan tersebut maka biasanya tenaga dalam yang diperoleh akan mendapatkan kemajuan pesat. Tapi bila gagal semua hasil latihannya selama puluhan tahun akan gagal. Apalagi jika cara mengatasinya tak sempurna, salah-salah akan menderita siksaan jalan api menuju neraka yang mengakibatkan kelumpuhan total.

Kebetulan sekali sipedang emas mengalami keadaan tersebut dalam situasi demikian seketika itu juga rasa kaget, risau dan gembira bercampur adui didalam dadanya. Maka diapun menghentikan semua gerak geriknya, dengan tenang ia berusaha mengatasi masa sulit tersebut.

Ia sadar, apabila berhasil mengatasi keadaan tersebut maka tenaga dalamnya akan peroleh kemajuan yang amat pesat, tapi bila gagal. Tenaga dalamnya akan penuh dan keempat anggota badannya menderita cacad total.

Sementara itu, sipemuda tampan tersebut telah memahami maksud hati Kim Thi sia ia sangat berterima kasih atas kebesaran jiwa pemuda itu.

Dengan langkah lebar dia mau beberapa tindak kedepan dan menghadang didepan sipedang tanah kemudian katanya dengan suara dalam:

"Kami orang-orang dari Tiang pek san cukup jelas membedakan mana budi dan mana dendam. Kim Tayhlap telah bersikap ksatria dengan menyelamatkan kami dari bahaya, dia merupakan tuan penolong pihak kami, maka aku hendak peringatkan kepada kalian, jika kalian masih melakukan tindakan yang tak menguntungkan- Sekalipun berhasil hari ini, dikemudian hari pihak Tiang pek san tetapi akan mencarinya sampai dapat."

Saat ini, kecuali sipedang emas, pedang kayu, pedang tanah dan pedang air yang masih berdiri tegak. sipedang tembaga dan pedang bintang telah dibunuh Dewi Nirmala, sipedang besi dan pedang api tewas oleh pukulan Tay goan sinkang milik Kim Thi sia. Sipedang perakpun terluka parah dalam keadan sekarat, boleh dikata sembilan pedang dunia persilatan telah mengalami nasib yang sangat tragis.

Dengan pancaran sinar benci dan dendam sipedang kayu, pedang tanah dan pedang air mengawasi Kim Thi sia tanpa berkedip. semua penderitaan dan dendam mereka melampiaskan pada Kim Thi sia seorang.

Itulah sebabnya perkataan dari pemuda tampan itu sama sekali tak digubris, tak heran pemuda itu menjadi berkerut kening dan merasa amat gusar.

Dalampada itu Kim Thi sia telah meningkatkan kewaspadaannya setelah menyaksikan sikap ketiga orang musuhnya, ia berpikir: "Jangan-jangan mereka berniat mengajak ku beradu  jiwa. ?"

Mendadak tampak sipedang kayu Gi ceng yung menghantam tubuh putri Kim huan hingga jatuh terjerembab keatas tanah, jalan darah sinona yang tertotok membuat gadis tersebut tak mampu berteriak, kontan saja seluruh badannya kotor oleh debu.

Pemuda tampan membentak keras sambil menerjang kedepan, tapi gerakan itu segera dihadang oleh pedang emas yang menerobos maju dari samping sambil melepaskan sebuah pukulan-

Tak terlukiskan rasa kaget sipemuda tampan itu, dia tak mengira dalam waktu yang begini singkat tenaga dalam sipedang emas telah peroleh kemajuan yang amat pesat.

Ia pernah bertarung melawan sipedang perak. atas dasar kepandaian silat dari sipedang perak sebagai orang kedua dalam urutan sembilan pedang, ia berpendapat ilmu silatnya tidak selisih jauh bila dibandingkan pedang emas.

Tapi setelah sipedang emas turun tangan sekarang, dimana dalam sebuah gempuran yang amat sederhana ternyata mampu menjebolkan hawa khikang pelindung badannya. ia menjadi tercengang, kaget dan tak habis mengerti, tergopoh-gopoh tubuhnya melompat mundur kebelakang.

Sipedang emas mendengus dingin, dengan sorot mata berkilat tajam ia berseru:

"Sute sekalian, jaga perempuan itu baik-baik. Biar aku yang menghadapi dua orang bocah keparat yang tak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi ini."

"Toa suheng, kau tidak apa-apa bukan?" seru sipedang tanah sangat gembira. Baru sekarang ia berani mengemukakan rahasia toa suhengnya, sebab tadi ia takut musuh mengetahui keadaan yang sebenarnya hingga membunuh atau mencelakai toa suhengnya itu.

Dan kini setelah menyaksikan gerak geriknya cekatan dan penuh disertai tenaga dalam yang sempurna. ia tahu toh suhengnya telah memperoleh kembali kekuatan badannya.

"Aku tidak apa-apa" sahut pedang emas.

Sambil berkata ia menerjang maju kedepan bagaikan sukma gentayangan-

Belum sempat Kim Thi sia mengambil sikap untuk menghadapi situasi tersebut, tahu-tahu telapak tangannya telah menepuk diatas bahunya.

Tak terlukiskan rasa terkejut Kim Thi sia menghadapi kejadian ini, tubuhnya mencelat sejauh satu kaki lebih oleh serangan tadi.

Sebaliknya pedang emas tidak melanjutkan serangannya ketika serangan yang pertama tadi berhasil mengejar lawannya. Agaknya ia sudah menganggap Kim Thi sia pasti akan tewas ditangannya saja, tampak ia mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

Gelak tertawa yang keras dan nyaring bergema memenuhi seluruh angkasa, begitu keras dan tajamnya sehingga terasa menusuk pandangan-

Diam-diam Kim Thi sia merasa amat terkejut oleh kepesatan yang dicapai musuh dalam tenaga dalamnya, ia tak mengira kekuatan musuhnya bisa berlipat kali lebih hebat hanya didalam waktu singkat.

Namun ia tak rela mengaku kalah dengan begitu saja, sambil mempersiapkan tenaga Tay goan sinkangnya, ia berseru kembali:

"Kau jangan keburu merasa gembira, coba rasain dulu sebuah pukulanku ini"

Telapak tangannya segera diayunkan kedepan melepaskan sebuah bacokan kilat yang didalamnya mengandung perubahan jurus " kecerdikan menguasahi seluruh langit" yang amat hebat.

Tampak bayangan pukulan yang menyilaukan mata memancarkan keempat penjuru, dalam waktu singkat bagaikan mematikan disisi kiri tubuh pedang emas sudah terkurung dibalik bayangan serangannya.

"Hmmm, nasibmu sudah hampir berakhir. Apa gunanya membuang tenaga dengan percuma?" jengek sipedang emas dingin.

Sementara berbicara, telapak tangannya sama sekali tidak menganggur, tidak sampai serangan musuh mencapai sasaran, dia telah melancarkan sebuah babatan kilat kedepan.

Serangan tersebut mengandung kekuatan yang luar biasa, itulah sebabnya sebelum jurus serangan dari Kim Thi sia berhasil menyentuh ujung baju lawan, lengannya sudah kena digetarkan oleh kekuatannya yang maha dahsyat hingga terasa linu, kaku dan mundur sempoyongan-

Menyaksikan hal ini diam-diam Kim Thi sia bergidik, segera pikirnya:

"Tak usah dicoba lagi, jelas tenaga dalam yang diperoleh sipedang emas telah memperoleh kemajuan yang amat pesat. Aaaa i...... kalau begitu aku telah sia-sia membuang tenaga. "

Dalampada itu, sipedang air, pedang tanah dan pedang kayu telah menatap sekejap kewajah pemuda tampan itu dengan sorot mata marah dan dendam. Kematian dari sipedang besi dan api serta lukanya sipedang perak membuat perasaan dendam mereka berkobar-kobar. Tiba-tiba mereka membentak keras:

"Kami tak ambil perduli siapakah kau, pokoknya hari ini kalau ada kau tak ada kami."

Hampir pada saat yang bersamaan mereka berpekik nyaring, suara pekikannya tinggi melengking dan menusuk pendengaran- Dalam waktu singkat tampaklah ketiga orang itu sudah duduk bersila diatas tanah. Sementara asap putih yang tipis menyembur keluar dari lubang hidung dan mulutnya.

Kim Thi sia yang bermata tajam menjadi sangat terkejut setelah melihat keadaan mereka yang mengerikan hati itu, teriaknya cepat-cepat:

"Lekas mundur, mereka telah menggunakan tenaga dalam ci yang ceng khi"

cepat-cepat pemuda tampan itu mundur tiga langkah, tapi secara tiba-tiba seperti teringat akan sesuatu. Dia balik kembali keposisinya semula, paras mukanya yang putih nampak berubah menjadi buas dan bengis. Pikirnya kemudian:

"Bila aku tak berhasil menyelamatkan nona itu, jelas Hay jin yang akan meninggalkan aku demi dia. aku harus berjuang dengan sepenuh tenaga. Aku percaya seandainya terjadi sesuatu

musibah atas diriku. Dia pasti akan sangat terharu dan berterima kasih kepadaku. "

Sementara dia berpikir, sipedang kayu dengan sorot matanya yang tajam seperti elang telah berbisik kepada rekannya:

"Aku akan menyerang dari kanan suheng dari kiri dan sute dari belakang "

Bersamaan dengan ucapan itu, ketiga orang tersebut mulai melancarkan serangan dengan sekuat tenaga.

Tampak tiga sosok bayangan manusia berkelebat kedepan laksana sambaran petir, mereka langsung menerjang pemuda tampan itu sementara desingan angin pukulan yang menderu- deru terdengar amat memekikkan telinga.

Dalam waktu singkat terdengar sipedang kayu menjerit ngeri sambil mundur dengan sempoyongan-

Sebaliknya pemuda tampan itupun mendengus tertahan sambil mundur dengan sempoyongan kekanan-

Kim Thi sia yang berada tak jauh dari situ mendengar pemuda tampan tersebut bergumam dengan napas memburu:

"IHmmm.......bukan perbuatan lelaki gagah......main bokong secara licik. "

Ditinjau dari kata "main bokong" jelas bisa disimpulkan bahwa kecuali mereka yang hadir dalam arena, disekitar situ masih terdapat pula jago-jago lihay lainnya yang sengaja bersembunyi disana.

Sebagai seorang pemuda yang cukup teliti Kim Thi sia segera menyadari apa yang terjadi, sambil menarik muka teriaknya kepada sipedang emas:

" cepat kau suruh para begundalmu unjukkan diri, mari kita bertarung secara terang-terangan- Jangan bertindak macam manusia pengecut saja."

Waktu itu, sipedang emas sudah bersiap-siap melancarkan serangan, ia segera menggunakan niatnya setelah mendengar perkataan dari Kim Thi sia, diawasinya pemuda itu agak termangu, ia tak mengerti apa yang dimaksudkan-

Kim Thi sia sendiripun tidak sempat berpikir panjang, ia segera membalikkan badan menerjang kearah pemuda tampan.

Berkilay sepasang mata sipedang tanah tiba-tiba dia mengangkat tangannya melancarkan serangan-

Pedang air tidak ambil dlam, dia melancarkan bacokan pula dari arah samping.

Kim Thi sia sama sekali tak gugup kendatipun harus menghadapi gempuran dari muka maupun belakang, ia membentak keras sambil mengangkat tinggi sepasang telapak tangannya, lalu melepaskan pukulan dengan jurus "mati hidup ditangan nasib" dan "kepercayaan menguasahi seluruh jagad." Kalau jurus yang pertama memiliki perubahan gerakan yang luar biasa, maka jurus kedua mengutamakan kekuatan yang keras dan dahsyat.

Dua jurus serangan yang dilancarkan secara beruntun memaksa sipedang tanah dan pedang air terdorong mundur sejauh berapa kaki dari posisinya semula.

Pedang air mendengus dingin, kabut putih yang tebal menyelimuti seluruh badannya dan tidak buyar walau terhembus angin- Kini tubuhnya kokoh bagaikan batu karang, jauh berbeda dengan kelincahan semula. Setiap kali melancarkan serangan pasti disertai dengan desingan angin tajam yang memekikkan telinga.

Waktu itu tangan Kim Thi sia telah menyambar pinggang pemuda tampan itu dan berniat menahan tubuhnya yang sempoyongan, namun karena serangan dari pedang air sudah keburu menyambar tiba, terpaksa ia harus menghimpun segenap kekuatan tubuhnya dan tanpa berpaling menyongsong datangnya ancaman tersebut. "Blaaaaammmmmm. "

Dalam bentrokan kali ini Kim Thi sia tidak lebih menguntungkan lagi posisinya, ia termakan oleh getaran tenaga pukulan sipedang air yang maha dahsyat sehingga terdorong maju kedepan-

Tatkala jidatnya menyentuh diatas wajah pemuda tampan tadi, tiba-tiba saja ia merasakan wajah orang itu dingin seperti es. Kenyataan ini sangat mengejutkan hatinya, begitu kagetnya sehingga luka sendiripun sama sekali tak digubris lagi.

Dibawah sinar rembulan, tampak paras muka pemuda tampan itu pucat pias bagaikan mayat, sepasang matanya terpejam rapat napasnya lemah dan keadaannya berada dalam keadaan tak sadar.

Dengan cepat Kim Thi sia berhasil menemukan sebatang jarum hitam yang menancap diatas bahunya, jarum itu lembut bagaikan rambut dan susah ditemukan-

Bila ditinjau dari luka yang diderita sang pemuda tampan tersebut tanpa sebab yang jelas, bisa disimpulkan racun yang dipoleskan diujung arum itulah sebagai penyebabnya, tapi dari mana datangnya jarum beracun itu?

Kim Thi sia berusaha memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, namun tak sesosok bayangan manusiapun yang ditemukan-

Pemuda itu sadar, keadaan daripemuda tampan ini sangat kritis dan berbahaya. Jiwanya berada diujung tanduk. namun situasi yang begitu gawat membuatnya tak berkesempatan untuk memberi pertolongan- Lagi pula diapun tidak mengerti ilmu pertabiban hingga sekalipun ada kesempatanpun ia tak tahu apa yang mesti diperbuat. Untuk sesaat Kim Thi sia berdiri tertegun dengan pikiran bingung dan kalut. Saat itulah sipedang tanah mengayunkan pedangnya melepaskan sebuah bacokan maut.

Dalam keadaan bingung dan bercabang pikiranya, nyaris Kim Thi sia termakan oleh bacokan tersebut.

Dalam benci dan dendamnya ia segera menghimpun ilmu ciat khi mi khinya untuk mementalkan pedang ditangan pedang tanah.

Dengan kemampuan sipedang tanah, bagaimana mungkin ia sanggup menahan gempuran dahsyat itu? Tubuhnya seketika terdorong mundur dengan sempoyongan-

Mendadak kesempatan yang sangat baik ini terburu-buru ia membopong pemuda tampan itu serta membaringkannya diatas rumput setelah itu ia baru membalikkan badan menerjang kearah pedang air.

Dalampada itu si pedang air sudah kehabisan tenaga karena pertarungan yang baru berlangsung, belum sempat angin serangannya menghantam tubuhnya, ia sudah jatuh terduduk diatas tanah dengan lemas.

Angin pukulan yang maha dahsyat segera meluncur kedepan dan siap menghajar mampus sipedang air. Disaat yang kritis itulah sipedang emas berhasil menyusul tiba ia segera melepaskan sebuah pukulan untuk membendung ancaman tersebut.

Tenaga dalam yang dimiliki sipedang emas saat ini betul-betul hebat dan luar biasa. Pukulannya seketika memaksa tawanannya terdesak keluar dari dalam hutan-

Diam-diam Kim Thi sia menggertak giginya kencang-kencang, walaupun pertarungan yang berlangsung cukup lama sempat menguras tenaganya, namun serangan dari sipedang emas yang kuat dan hebat justru memberikan kekuatan pula baginya untuk mempertahankan diri lebih jauh.

Sambil bertarung ia mulai memikirkan tempat persembunyian gadis cantik berbaju putih itu, sebab diapun mengerti, dengan robohnya pemuda tampan ini berarti pula gadis tersebut kehilangan pegangannya .

Sebagai jago kawakan yang berpengalaman dengan cepat pedang emas berhasil melihat ia bersiap-siap mengerahkan segenap kekuatan ceng yang khikangnya untuk melenyapkan pemuda tersebut.

Mendadak.

Dari balik hutan bergema datang suara langkah kaki manusia yang segera memotong jalan pemikirannya yang licik dan keji. Ketika berpaling, tampaklah serombongan jago persilatan bermunculan dari balik hutan dan berjalan menghampirinya dengan langkah lebar.

Yang mula-mula terlihat adalah empat orang kakek berjenggot pendek. bermata tajam dan berwajah sangat dikenal, seperti pernah bersua disuatu tempat tapi lupa siapa namanya.

Ia mencoba untuk mengingat-ingat siapa gerangan keempat orang tersebut ketika seorang kakek diantara keempat orang tersebut telah berseru dengan lantang: "Selamat bersua sembilan orang gagah dari dunia persilatan-"

Sipedang emas segera teringat kembali akan asal usul orang-orang itu, dengan cepat dia menyahut:

"Selamat berjumpa, panglima andalan dari Pek kut sinkun."

Nada suaranya dingin dan hambar, sudah jelas ia memandang rendah orang-orang tersebut.

Dibelakang keempat orang kakek itu berdiri serombongan jago persilatan yang terdiri dari puluhan orang lebih, mereka mempunyai perawakan tubuh yang tidak merata namun memiliki pancaran sinar mata yang tajam dan tenaga yang hebat.

Dalam sekilas pandangan saja dapat diketahui bahwa kawanan manusia tersebut bukan manusia sembarangan-

Kim Thi sia segera berpikir:

"Jelaslah sudah, si kongcu berwajah tampan itu terluka oleh bokongan mereka" karena ingin mengetahui duduknya persoalan yang pasti, diapun segera membentak:

"Hey apa sebabnya kalian melukai sobatku tanpa sebab? Sebetulnya apa maksud tujuan kalian yang sebenarnya? Ayoh cepat utarakan-" Keempat orang itu menjengek dingin.

"Hmmm, besar amat bacotmu, tapi sayang kami tidak mengenal siapa anda, apakah kau pun terhitung seorang jagoan hebat dari dunia persilatan?"

Dengan ucapan mana, jelas ia hendak menerangkan bahwa semua orang berbakat dan "orang ternama" dalam dunia persilatan dikenal semua olehnya.

Sedangkan Kim Thi sia yang dinilai berkata besar, dalam kenyataan cuma seorang manusia yang sama sekali tak ternama.

Sebagai pemuda yang pintar tentu saja Kim Thi sia dapat menangkap sindiran tajam dibalik perkataan tersebut, ia tak senang hati serunya kemudian sambil mendengus: "Ya aabetul, memang setiap orang bisa berkelana didalam dunia persilatan, apakah aku ini seorang enghiong atau bukan, sekaranglah kuminta kepada ciangyee berempat untuk membuktikan sendiri."

Dengan perkataan tersebut dia artikan, bila keempat orang tersebut tidak puas, maka mereka dipersilahkan untuk mengerahkan segenap kemampuan yang dimiliki untuk mencoba. Sipedang emas menyela secara tiba-tiba dengan suara dingin:

"Juan tiong supa empat macam kumbang dari luar perbatasan cuma bisa berkelana diwilayahnya sendiri. Bila ingin turun gunung dan berkelana. hmmmm, masih ketinggalan jauh"

Rupanya dia merasa amat gusar ketika melihat keempat orang tersebut dengan sorot mata yang sinis dan pandangan yang menghina sedang mengawasi keadaan sipedang besi, pedang api, pedang perak dan pedang air yang tergeletak ditanah dalam keadaan memilukan itu tanpa berkedip. Ia sadar mereka sedang mengolok-olok dirinya dengan perkataan tersebut.

Saking mendongkolnya maka dia pun mengeluarkan kata-kata pedas itu untuk menyindir keempat orang tersebut.

Juan tiong supa segera tertawa terbahak-bahak. mereka tidak menanggapi sindiran sipedang emas, sebaliknya bertanya kepada Kim Thi sia: "Apakah mereka yang tergeletak ditanah. adalah

hasil karya anda. ?"

Kali ini, mereka berempat tidak lagi menunjukkan sikap memandang rendah, sebab hanya orang yang berilmu silat tinggi saja yang mampu memporak-porandakan sembilan pedang dari dunia persilatan hingga dalam keadaan demikian-

Sebagai manusia-manusia licik yang banyak tipu muslihatnya, sudah barang tentu mereka tak ingin menanam bibit permusuhan dengan musuh setangguh ini. Dalam kagetnya, tanpa terasa nada pembicaraanpun berubah menjadi lemah lembut dan ramah.

Tapi sayang sekali Kim Thi sia adalah seorang manusia kasar, ia tak bisa menerima penyelesaian tersebut dengan begitu saja. Sesudah termenung sebentar, kembali bentaknya:

"Hey, jawab dulu. Kaliankah yang telah mencelakai sobatku itu?"

Nada tegurnya keras dan tidak sungkan-sungkan- Hal inipun dikarenakan ia selalu berprinsip "bila orang lain tidak mengusikku, akupun tak akan mengganggu orang lain-"

Ia tak ingin diganggu dan diusik orang, sekali orang mencari gara-gara dengannya, maka biarpun dia seorang kaisarpun, ia tetap akan menghadapinya sebagaimana terhadap orang lain-

Dengan suara pelan Juan tiong supa menjawab:

"Yaa betul, tapi tindakan kami ini bukan dikarenakan sikap permusuhan kami terhadapmu. Ketahuilah, sudah berulang kali orang ini memusuhi kami, sikap maupun perbuatannya amat menggemaskan- Bila tidak diberi pelajaran yang setimpal, ia tentu akan mengira kalau setiap orang dalam dunia persilatan bisa dipermainkan sesuka hatinya."

"Aku tak perduli" tukas Kim Thi sia. "Pokoknya dia sudah terluka ditangan kalian, maka kalianlah yang berkewajiban menolongnya. Kalau tidak. aku Kim Thi sia akan membalaskan dendam bagi sahabatku itu."

Selesai mendengar perkataan tersebut, juantiong supa segera mendongakkan kepalanya dan tertawa keras:

"Haaaah.....haaaah.......haaaah......rupanya anda adalah Kim Thi sia. Kim Tayhiap. maaf. "

Kemudian setelah berhenti sejenak. lanjutnya:

"Tapi kau mesti maklum, orang ini adalah musuh besar kami semua. Persoalan ini tiada sangkut pautnya dengan Kim Tayhiap. karenanya kuminta Kim Tayhiap suka mengalah agar kamipun bisa mempertanggung jawabkan diri sekembalinya dari sini nanti." Sembari berkata, mereka berempat dengan delapan matanya sama-sama mengawasi wajah Kim Thi sia tanpa berkedip. Agaknya mereka sedang menyelidiki jalan pemikiran pemuda itu.

"Sudah kukatakan sejak tadi, aku tak mau mencampuri urusan pribadi kalian" ucap Kim Thi sia. "Tapi dia datang kemari bersamaku, berarti dia adalah rekanku. Bila kalian ingin membalas dendam, kesempatan dikemudian hari masih banyak sekali. Mengapa kalian justru melakukannya sewaktu berada dihadapanku?"

"Kim Tayhiap, bila ditinjau dari ucapan itu bisa diketahui Kim tayhiap tidak mempunyai hubungan yang akrab dengan orang itu. Apalah artinya memusuhi kami dengan urusannya? Harap Kim tayhiap sudilah untuk memakhlumi kesulitan kami, lagi pula sudah lama kami mengagumi nama besar Tayhiap dan bersedia menjalin tali persahabatan denganmu." Kim Thi sia segera berpikir:

"cerewet betul orang ini, rasanya biar berbicara sampai mulutjebolpun belum tentu ada penyelesaian yang baik. Lebih baik aku hadapi secara tegas saja." Begitu mengambil keputusan, diapun segera membentak keras: "Sebetulnya kalian bersedia menuruti perkataanku atau tidak?"

Berubah hebat paras muka keempat orang itu, dengan suara dalam mereka segera berseru: "Maaf, perintah majikan susah ditentang."

Mendengar itu, kembali berpikir:

"Nyata kalau dugaanku memang benar, ternyata mereka memang tidak berniat menyelesaikan persoalan ini secara baik-baik."

Sambil tertawa tergelak ia segera berseru:

"Mengapa tidak kalian ucapkan sedari tadi? Haaaah.....haaaah.....haaah. beginikan lebih

enak "

Setelah berhenti sejenak, terusnya:

"Kita tak usah banyak berbicara lagi, banyak bicarapun hanya membuat kesabaranku habis, mari kita buka kartu saja dengan bicara blak-blakan. Kalau hendak bertarung kita segera bertarung, kalau mau damai kita segera damai. "

"Maaf, kami tak bias menentukan kehendak sendiri" sahut Juan tiang supa cepat.

Selesai berkata, mereka berempat segera berdiri menyebarkan diri, sementara puluhan orang jago persilatan yang berada dibelakangnya meraba gagang senjata masing-masing sambil mengawasi pemuda itu tanpa berkedip.

Situasi bertambah kritis dan nampaknya pertarungan tak bisa dielakan lagi.....

Biarpun jumlah musuh lebih banyak. namun Kim Thi sia tidak gentar ataupun takut. Sambil tertawa terbahak-bahak serunya:

"Haaaah......haaaah......haaaah bagus sekali, mari kita selesaikan persoalan ini dengan

pertarungan"

Pelan-pelan ia berjalan mendekati Juan tiang supa, kemudian berkata lebih jauh: "Siapa yang akan maju duluan? Ataukah. "

"Sesungguhnya kami tidak berniat mengikat tali permusuhan dengan Kim tayhiap" ujar Jua n tiong supa mencoba menerangkan- "Tapi. "

"Tak usah menyebut tapi, tapi lagi" tukas Kim Thi sia cepat. "Kalau tidak mau bertarung berarti damai, kalau tak mau damai berarti bertarung, bukankah urusan amat sederhana? Aku paling benci dengan mereka yang berpura-pura."

"Baik, baiklah. Kalau begitu kita selesaikan persoalan ini dengan pertarungan-" Begitu selesai berkata, orang yang berdiri disebelah kiri menerobos maju dengan menyelinap kebelakang Kim Thi sia. Disusul orang yang berdiri disebelah kanan menyusup pula kesisi kanan pemuda itu.

Mereka berdua mempersiapkan diri dengan menghimpun tenaga dalamnya, jelas pertarungan segera akan berkobar. Pada saat itulah mendadak sipedang emas berseru: "Tunggu sebentar, tungguh sebentar"

"Apa yang hendak kau sampaikan?" tegur Juan tiong supa dengan kening berkerut. "Kim Thi sia merupakan musuh besar kami suheng te, jadi sepantasnya bila akulah yang

menyelesaikan persoalan ini lebih dulu."

" Kuharap kalian tunggu sebentar. Bila aku tak mampu membereskan dirinya nanti, kalian baru boleh menggantikan aku, sebab peristiwa ini bukan timbul karena urusan kalian jadi aku merasa berhak untuk turun tangan lebih dulu."

"tentu, tentu saja" Juan tiong supa segera tersenyum. "Sudah lama sekali kukagumi nama besar anda tentu saha kami akan menuruti permintaan itu. "

Padahal empat macan kumbang inipun enggan bermusuhan dengan Kim Thi sia, tapi mereka terpaksa haris melayaninya karena didesak oleh keadaan-

Setelah sekarang sipedang emas tawarkan diri untuk menyelamatkan persoalannya lebih dulu dengan Kim Thi sia, tentu saja dengan senang hati mereka mengundurkan diri dan membiarkan sipedang emas menyelesaikan persolaan itu lebih duluan-Sementara itu Kim Thi sia pun sedang berpikir:

"Mereka semua adalah orang-orang yang punya nama serta kedudukan, bagaimanapun jua kau tak boleh kehilangan pamor dihadapan mereka. Kalau tidak. begitu kabar tersebut tersiar luas, selama hidup jangan harap aku bisa mengangkat kepala kembali."

Menyadari gawatnya persoalan tersebut diam-diam ia menghimpun tenaga sakti Tay goan sinkangnya kedalam lengan lalu sepasang tangannya direntangkan dan siap menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan-

Mendadak........

Tampak sesosok bayangan abu-abu berkelewat lewat dan meluncur ketengah arena. Begitu cepatnya gerakan tubuh orang tersebut sampai manusia seperti sipedang emas Juan tiong supa maupun Kim Thi sia sekalian merasa amat terperanjat.

Ketika bayangan abu-abu itu sudah mencapai diatas tanah, terlihatlah jelas bahwa orang itu adalah seorang kakek botak.

Tak seorangpun yang mengetahui siapa gerangan kakek botak ini, dia mewakili wajah merah segar dan kulit tubuh yang putih bersih, keanehan yang memancar menunjukkan bahwa orang ini memiliki asal usul yang luar biasa.

Selain tubuhnya gemuk, kepalanya botak kakek inipun memiliki perawakan badan yang pendek seperti anak kecil.

Begitu munculkan diri, dengan sorot matanya yang tajam bagaikan sembilu dan dia mengawasi sekejap sekeliling arena.

Sekali lagi semua orang dibuat terkesiap satu ingatan yang samapun melintas didalam benak mereka.

"Dari ketajaman sorot matanya, bisa diketahui bahwa tenaga dalamnya telah mencapai tingkatan yang amat sempurna."

Diantara sekian orang, sipedang emaslah yang merasa paling malu, ditinjau dari gerak gerik kakek botak itu, jelas dia adalah seorang "angkatan tua" dari dunia persilatan namun kenyataannya ia tak berhasil menduga asal usulnya. Satu hal lagi yang membuat semua orang tak habis mengerti adalah apa maksud kedatangan " angkatan tua" tersebut kemari?

Padahal biasanya manusia aneh seperti ini paling tak senang mencampuri urusan orang lain- Kalau dibilang kedatangannyapun karena tertarik oleh suara pertarungan, hal inipun tidak mirip.

sebab semenjak kehadirannya ia selalu sedang mencari orang.

Padahal dari mereka yang hadir disitu, tak seorangpun yang kenal dengannya, lantas siapa yang sedang ia cari? Terdengar kakek botak itu berseru keras: "Dimana anak ku? Dimana anak ku?"

Suaranya nyaring dan lantang, tapi begitu ucapan tersebut bergema, kecuali dicekam perasaan heran semua orangpun merasa amat geli hingga hampir saja tertawa. Mana ada seorang ayah yang begitu pikun hingga kehilangan anak?

Sementara itu sikakek telah mendekati Kim Thi sia, bertatapan mata dengan sorot matanya yang tajam, tanpa sadar Kim Thi sia mundur beberapa langkah kebelakang.

Tapi entah gerakan tubuh apa yang dipergunakan kakek botak itu, hanya sedikit dia menggerakkan tubuhnya tahu-tahu kakek itu sudah berada hanya tiga depa dihadapannya. Kontan saja Kim Thi sia dibuat sangat terkejut.

Dengan mempergunakan sorot matanya yang keheranan dia mengawasi Kim Thi sia sekejap. lalu berkata:

"Hey bocah cilik, tampang mu paling polos dan jujur diantara yang hadir. Aku tahu kau tentu lebih jujur ketimbang mereka. coba katakan kepadaku, dimanakah anakku sekarang?"

"Aku toh tidak mengetahui siapa nama anakmu, bagaimana mungkin aku bisa memberitahukan kepadamu?"

Mendengar jawaban tersebut, tiba-tiba saja sikakek itu mencaci maki kalang kabut.

Kim Thi sia mengira dia sedang dimaki, hatinya menjadi tak senang, tapi sebelum ia sempat mengucapkan sesuatu, kakek itu teriah bergumam kembali:

"Bocah keparat, benar-benar tak becus. Aku suruh kau berkelana mencari nama, tak nyana sudah mengembara sekian lamapun belum berhasil meraih gelar apapun- Betul-betul berbapak harimau berputra anjing, manusia tak berguna." Mendengar hal ini, Kim Thi sia seketika terbungkam, pikirnya:

"Aneh betul kakek ini, masa putranya yang disuruh berkelana harus mendapatkan nama besar dalam dunia persilatan?"

Sementara dia masih termenung, sambil menghentakkan kakinya keatas tanah kakek botak itu berseru lagi:

"Betul- betul telur busuk. tiga bulan sudah lewat namun belum kudengar namamu bergema dalam dunia persilatan, sampai untuk mencari jejakmupun susahnya setengah mati. Hmmmm, padahal aku hanya membutuhkan waktu tidak sampai sebulan untuk menjadi tenar dalam dunia persilatan dimasa lalu tak nyana anakku justru tak becus dan tak berguna sama sekali."

Kim Thi sia tak mampu menahan diri lagi, dia segera bertanya: "Empek tua, siapa sih namamu?"

"Apa? Kau bertanya duluan kepadaku. ?" gembor sikakek botak itu. "Tidak. tidak seharusnya

aku yang bertanya dulu kepadamu."

Kemudian setelah berhenti sejenak. dengan suara yang parau dia berseru lantang:

"Terus terang saja aku bilang, aku menjadi gemas setiap kali melihat orang muda yang tak berguna, hey siapa namamu anak muda?"

"Aku bernama Kim Thi sia" Kakek botak itu berpikir sebentar, kemudian sahutnya:

"Bagus, rasanya akupun pernah mendengar nama Kim Thi sia, kuanggap kau memang cukup hebat. "

Kim Thi sia segera berseru lagi:

"Empek. sekarang kau boleh menyebutkan gelarmu. "

"Aku bernama Ang Bu im"

Kim Thi sia termenung sebentar, tapi segera serunya:

"Aneh, kalau menurut penuturan empek tadi hanya sebulan turun gunung namamu sudah menjadi tenar, seharusnya nama locianpwee diketahui setiap umat persilatan, mengapa aku belum pernah mendengar nama besarmu itu?"

Kontan saja kakek botak itu mencak-mencak macam anjing kebakaran jenggot, teriaknya lantang:

"Bocah muda ini menunjukkan telingamu congek tuli, banyak kotorannya. Siapa bilang orang tak mengenali Ang Bu im? Hmmm, kau memang telur busuk. "

Kim Thi sia sangat tak senang hati, dia balas berteriak:

"Lebih baik empek tidak usah mengibul, ketahuilah setiap jago kenamaan dalam dunia persilatan boleh dibilang kuketahui semua. Tentang nama besarmu itu. hmmm, rasanya kok

belum pernah kudengar, tapi bila kau kurang percaya, coba tanya kepada yang lain-Apakah merekapun pernah mendengar nama Ang Bu im"

Tampaknya kakek botak itu mudah naik darah, dalam gemas dan jengkelnya seluruh tubuhnya gemetar keras.

Dengan sangat berangasan ia cengkeram bahu Kim Thi sia, lalu bentaknya keras-keras: "Hey anak muda, bosan hidup nampaknya? Hmmmm, namaku Ang Bu im boleh kau sebut

semaunya?"

Begitu bahunya kena dicengkeram, Kim Thi sia segera merasakan keempat anggota badannya gemetar keras dan sakitnya bukan kepalang, hampir saja dia matanya jatuh berlinang.

Tapi dasar berwatak kerbau, sekalipun kakek botak itu sudah mengerahkan tenaga yang lebih besarpun ia sama sekali tidak mengeluh, malah sebaliknya umpatnya keras-keras:

"Maknya, aku tak percaya kalau namamu tak boleh disebut-sebut. IHmmm. "

"Ang Bu im.....Ang Bu im Ang Bu im."

Secara beruntun ia menyebut nama kakek botak itu sampai beberapa kali.

Kakek botak itu semakin mendongkol, cengkeramannya makin kencang hingga jari jemarinya menancap kedalam daging.

Entah siapa yang kemudian tahu akan asal usul kakek tersebut, tiba-tiba teriaknya lantang: "Kim Thi sia, kau benar-benar manusia yang tak tahu diri. Ang caianpwee tak lain adalah ketua

Tiang pek san, sipukulan sakti tanpa bayangan"

Mendengar nama tersebut, Kim Thi sia pun segera tersadar kembali, segera teriaknya: "cepat lepas tangan, kalau tidak putra mu bakal mampus."

"Apa?" teriak sipukulan sakti tanpa bayangan dengan wajah berubah hebat. "Putraku akan mampus? Apa maksudmu? Apakah kau telah. "

Sementara itu Juan tiong supa pun merasa terperanjat sekali, dengan perasaan tak tenang pikirnya: "Aduh celaka, jangan-jangan bocah keparat yang tak dikenali identitasnya itu adalah putra tunggalnya?"

Mereka berempat adalah orang pintar, begitu berpikir merekapun segera menyadari apa yang terjadi.

Sadarlah mereka berempat bahwa ancaman bahaya maut telah berada didepan mata. sekarang mereka baru menyesal mengapa tidak menuruti saja nasehat dari Kim Thi sia tadi.

Dalam pada itu Kim Thi sia telah berseru lagi:

"Hey kau bersedia melepaskan tangan tidak? Kau harus tahu, aku selamanya bicara satu tetap satu."

Kali ini Ang Bu im atau sipukulan sakti tanpa bayangan menuruti dan segera melepaskan cengkeramannya.

Mendapatkan kembali kebebasannya, Kim Thi sia segera mengatur pernapasan untuk memulihkan kekuatannya, setelah itu baru katanya: "Bukankah putramu berwajah tampan?"

Pukulan sakti tanpa bayangan berdiri dibelakangnya sambil mengawasi pemuda itu lekat-lekat, ia memiliki keyakinan untuk mencegah musuhnya melarikan diri dari lingkungan wilayah seluas sepuluh kaki, karenanya dia tak kuatir musuh "pembunuh putra" nya mampu meloloskan diri.

Biarpun sekarang dia merasa gelisah, cemas karena menguatirkan keselamatan putranya, namun dikala Kim Thi sia mengatakan putranya tampan, sebagai ayahnya, sedikit banyak timbul juga perasaan gembiranya.

"Yaa betul" sahutnya cepat-cepat. "Setiap orang yang pernah bertemu dengannya selalu berkata begitu."

Berbicara sampai disini, mendadak ia berpaling kearahJuan tiong supa serta mengawasinya dengan mata yang tajam bagaikan sembilu.

Kim Thi sia agak melengak dan segera berpaling, rupanya juan tiong supa beserta puluhan orang jago persilatan sedang bermaksud ngeloyor pergi dari situ secara diam-diam.

Mau tak mau timbul juga perasaan kagumnya terhadap ketajaman pendengaran sipukulan sakti tanpa bayangan-

Sementara itu sikakek botak telah berseru sambil tertawa dingin:

"Kalian masih tersangkut dalam kecurigaanku, apakah ingin ngeloyor dengan begitu saja?"

Berbicara sampai disitu lengannya segera diayunkan kedepan, tidak terdengar apapun tapi Juan tiong supa seperti terhajar panah saja, mereka berteriak keras dan serentak menghentikan langkahnya.

Tedengar sipukulan sakti tanpa bayangan berkata lagi:

"Jangan mencoba bergerak lagi, siapa berani melanggar perintah akan kusuruh dia mampus tanpa liang kubur disini."

Kemudian dia berpaling lagi kearah Kim Thi sia dan berseru lebih lanjut: "Sekarang katakan, dimanakah putraku?"

"Ia keracunan hebat saat ini, aku rasa saat kematiannya sudah mulai menjelang tiba" "Kau yang melakukan?" teriak sipukulan sakti tanpa bayangan dengan perasaan terkejut

bercampur gusar.

cepat-cepat Kim Thi sia gelengkan kepalanya berulang kali. "Bukan, kau salah menuduh"

" Lantas siapa yang telah meracuni putraku?" desak sipukulan sakti tanpa bayangan dengan gelisah. Mendadak sorot matanya yang tajam dialihkan kewajah Juan tiong supa beserta para jagonya, kemudian dengan kemarahan yang meluap-luap teriaknya lagi:

"Pasti kalian yang melakukan, kalau tidak mengapa kalian bermaksud melarikan diri tadi.

IHmmmm. "

"Tepat sekaali, merekalah yang melakukan perbuatan itu" sambung Kim Thi sia cepat.

Pukulan sakti tanpa bayangan seegra mendongakkan kepalanya dan tertawa nyaring tanyanya lagi: "Dimana anakku sekarang?"

"Ditanah berumput sana"

Pukulan sakti tanpa bayangan berpaling kearah yang ditunjuk, benar juga disisi batu besar tergeletak sesosok tubuh manusia.

Dalam sekilas pandangan saja dia segera mengenali orang itu sebagai putra kesayangannya. Tersentuh oleh perasaan sayang orang tua terhadap anaknya cepat-cepat dia memburu kedepan sambil bergumam: "Kasihan benar anakku......kasihan benar anakku. "

Sampai ditengah jalan mendadak dia membalikkan badan, seperti teringat akan sesuatu, sebuah pukulan segera dilontarkan ketubuh Kim Thi sia.

Tentu saja Kim Thi sia dibuat keheranan setengah mati oleh perbuatan lawannya, segera pikirnya: "Apa yang hendak ia perbuat?"

Belum habis ingatan tersebut melintas lewat segulung tenaga pukulan yang lembut telah menghantam jalan darah Ki bun hiatnya, namun pukulan tersebut sama sekali tidak menimbulkan luka dalam isi perutnya.

Dari sini bisa diketahui bahwa tenaga dalam yang dimiliki pukulan sakti tanpa bayangan telah mencapai tingkatan bisa dilepaskan dan ditarik sekehendak hatinya. Terdengar orang tua itu berkata:

"Terpaksa aku harus menyiksamu sebentar, disaat duduknya persoalan yang telah menjadi jelas nanti, tentu saja aku akan membebaskan dirimu lagi."

Kemudian sambil menatap sekejap kearahJuan tiong supa, dia berseru lagi dengan bengis:

" Kalian jangan mencoba melarikan diri ketahuilah aku sipukulan sakti tanpa bayangan sanggup melukai sasaranku dalam jarak sepuluh kaki, siapa berani menentang perintahku, pohon inilah yang menjadi contoh."

Nampak dia mengayunkan tangannya sebatang pohon yang berada lima kaki dihadapannya telah patah menjadi dua bagian dan tumbang keatas tanah.

Serangan tersebut dilakukan amat sederhana dan sama sekali tidak menggunakan tenaga yang besar, namun kenyataannya pohon yang tumbuh lima kaki jauhnya bisa tumbang ketanah. Bisa diketahui sampai dimanakah kehebatan dari ilmu pukulan saktinya.

Juan tiong supa berdiri mematung ditempat, kendatipun dihati kecil mereka sangat ingin melarikan diri, namun tak seorangpun bernyali untuk melakukannya. Sebab berani menentang perintah sipukulan sakti tanpa bayangan berarti mencari kematian buat diri sendiri.

Rasa kaget, ngeri dan putus asa segera menyelimuti perasaan hati mereka semua.

Sipedang emaspun baru pertama kali ini menyaksikan kehebatan ilmu silat dari ketua Tiang pek san- Dalam terkejut dan tertegunnya dia mulai berpikir bahwa jagoan berilmu tinggi didalam dunia persilatan ternyata banyak sekali.Jelas ambisinya untuk menguasahi dunia persilatan bukan suatu pekerjaan yang mudah untuk tercapai.

"Yaa, dengan kemampuanku sekarang, ambisiku tak mudah dicapai. Tapi bila aku berhasil. " Berpikir sampai disitu tiba-tiba ia berpaling kearah Kim Thi sia, dia tahu ilmu Tay goan sinkang memiliki kehebatan yang luar biasa. Bila kepandaian tersebut dilatih dengan bersungguh-sungguh, paling tidak tenaga dalamnya akan mencapai tingkatan yang lebih hebat lagi.

Iapun membayangkan bagaimana Kim Thi sia yang baru terjun kedalam dunia persilatan dengan tenaga dalam yang begitu minim, ternyata dengan bantuan ilmu Tay goan sinkang bisa mencapai tingkatan sedemikian rupa didalam waktu singkat.

Seandainya ilmu tersebut dipelajari olehnya, dengan dasar kekuatan yang dimilikinya sekarang, bukankah dalam wakti singkat tenaga dalamnya sudah bisa mencapai ketingkatan yang luas biasa sekali.

Berpikir sampai disitu, napsu serakahnya segera berkobar, secara diam-diam ia mulai menggeserkan kakinya mendekati Kim Thi sia.

Saat itu jalan darah Kim Thi sia berada dalam keadaan tertotok hingga sekujur badannya tak mampu berkutik. Dalam keadaan begini dia hanya bisa mengawasi musuh besarnya mendekati tanpa mampu berbuat apa-apa.

Akhirnya sambil pejamkan matanya rapat-rapat dia menyumpah didalam hati:

"Sipukulan sakti tanpa bayangan memang telur busuk. Gara-gara ulahnya aku terancam bahaya maut."

Sementara itu sipedang emas telah mencapai belakang tubuhnya dengan jari tangannya yang tajam ia mengancam jalan darah Yang seng hiat yang merupakan jalan darah kematian ditubuh Kim Thi sia.

Dalam keadaan begini, asal dia mengerahkan sedikit tenaga saja, niscaya Kim Thi sia akan mati konyol.

Begitu musuh berhasil dikuasahi dengan wajah tak berubah, dia berkata dingin: "Apa katamu sekarang?"

Kim Thi sia mendengus, dia sama sekali tak gentar, dengan wajah sinis serunya cepat: "Ayoh bunuhlah, aku tidak takut"

"Tentu saja akan kubunuh dirimu, kau berani membunuh abang seperguruan sendiri, dosamu amat besar dan tak bisa diampuni lagi" kata sipedang emas. Tapi kemudian dengan nada yang lebih lembut dia menambahkan-

"Tapi kau masih mempunyai kesempatan untuk melanjutkan hidup, cuma saja tergantung padamu sendiri apakah bersedia memanfaatkan kesempatan baik ini atau tidak."

Tanpa membuka matanya Kim Thi sia tertawa dingin. " Omongan setan, kau jangan harap bisa membohongi aku lagi."

"Kau tahu, aku bersungguh hati mengajakmu berunding, tapi kau selalu saja menaruh prasangka jelek kepadaku ataukah kau benar-benar ingin mampus dan tak ingin bertemu dengan sanak keluargamu lagi?"

"Sialan" pikir Kim Thi sia cepat. "Memangnya kau anggap aku masih mempunyai sanak keluarga? Biar kau bicara sampai bacotmu sobekpun, jangan harap bisa mengubah jalan pikiranku."

Namun.......

Tiba-tiba saja ia teringat kembali dengan putri Kim huan yang begitu cantik dan romantis. Kini diantara mereka berdua sudah terjalin hubungan batin yang sangat erat. Bisa diduga kebahagiaan hidup mereka dimasa mendatang telah terbentang didepan mata.

Sementara dia masih terbuai dalam lamunan, sipedang emas telah berkata lagi sambil tertawa dingin:

"Bila kau tak bersedia diajak berunding, terpaksa aku harus menotokmu sampai mampus." "Berunding bagaimana? coba katakan- " ujar Kim Thi sia tiba-tiba sambil membuka matanya

kembali.

"Sederhana sekali, kau cukup, " dengan wajah yang licik sipedang emas mengerdipkan

matanya berulang kali. "Kau cukup menerangkan rahasia ilmu Tay goan sinkang kepadaku, begitu rahasia tersebut kudapat, kaupun akan peroleh kembali kebebasanmu." Kim Thi sia mendengus dingin.

"Hmmm, lagi-lagi ilmu Tay goan sinkang, aku sudah tahu kalian memang menaruh ambisi yang besar terhadap kepandaian tersebut." sekali lagi sipedang emas tertawa licik.

"Kalau permintaan yang diajukan sute keempat tadi kelewat banyak sehingga memberi kesan kebangetan, maka aku cuma mengajukan sebuah permintaan saja. Aku rasa bila dibandingkan dengan keselamatan jiwamu yang begitu berharga, syarat yang kuajukan terhitung tidak terlalu merugikan dirimu. Ketahuilah seorang manusia hanya memiliki selembar nyawa, bila ia sudah mampus maka benda apapun tak mungkin bisa diperoleh. Karenanya kuharap pandanganmu bisa terbuka, bila kau masih berpikir wajar, aku percaya keselamatan jiwa sendiri merupakan masalah utama yang terpenting." Dengan pandangan menghina memandang sekejap kearahnya, lalu berkata:

" Kau tak perlu membujukku dengan kata-kata yang manis, akupun mengerti. Bila ilmu sakti tersebut telah kuserahkan kepadamu, berarti kematian akupun akan tiba. Kelicikanmu memang mengagumkan, sayang aku tidak gampang terperangkap oleh tipu muslihatmu lagi."

Pedang emas tertawa dingin, dia segera mengerahkan tenaga dalamnya kedalam lengan-

Kontan saja Kim Thi sia menjerit-jerit bagaikan babi yang disembelih, pandangan matanya menjadi gelap dan tubuhnya bergoncang keras, seakan-akan setiap saat bakal roboh.

"Bagaimana?" ancam sipedang emas. "Apa yang kuperbuat barusan hanya merupakan peringatan, bila kau tetap membande tindakan yang lebih keji akan segera menyusul datang"

sambil menggertak gigi, Kim Thi sia menahan derita tersebut, peluh dingin bercucuran membasahi seluruh tubuhnya......

Namun apa yang bisa dan berani diperbuat sipedang emas hanya terbatas sampai disitu saja, sebab ilmu sakti Tay gian sinkangnya sangat berpengaruh besar sekali bagi kehidupannya. ia memang bisa membunuhnya secara mudah, namun akibatnya dia sendiripun tak akan memperoleh apa-apa.

Maka diapun mulai merubah taktik siksaannya, ia berusaha untuk melenyapkan semangatnya.

Menggunakan penderitaan dan siksaan untuk menghilangkan rasa percayanya terhadap kemampuan guru mereka.

Semula sipukulan sakti tanpa bayangan masih belum mengerti apa yang sedang diperbuat kedua orang itu, disaat Kim Thi sia mulai menjerit kesakitan, dia mulai dan mengerti duduk persoalan yang sebenarnya. Kini dia baru sadar bahwa manusia berkerudung itu sesungguhnya adalah musuh besar Kim Thi sia.

Dia mulai menyesal, tidak seharusnya dia totok jalan darah Ki bun hiatnya sehingga menyebabkan pemuda tersebut terjatuh ketangan lawan-

Dipihak lain diapun merasa gusar sekali, paling tidak tindakannya simanusia berkerudung yang "mengerjai" tawanannya dianggap sebagai perbuatan yang tak sopan-

oleh sebab itu begitu ia mengetahui kalau putra kesayangannya hanya menderita luka beracun yang umum dan untuk sementara waktu tidak membahayakan jiwanya, dengan perasaan lega diapun mengalihkan perhatiannya kepada sipedang emas.

"Tinggalkan dia jauh-jauh, mendengar tidak?" bentaknya kemudian keras-keras.

Pedang emas melengos kearah lain menghindari tatapan matanya yang tajam, lalu menjawab dengan suara dalam" "Dia adalah musuh besarku." "Aku tak perduli siapakah dia, pokoknya kubilang lepas, kau harus melepaskannya" Bagaimanapun jua sipedang emas merupakan seorang manusia angkuh yang tinggi hati,

mendengar kata-kata sekasar itu kontan saja amarahnya berkobar, sambil tertawa dingin ia

berseru:

"Betul, sipukulan sakti tanpa bayangan sebagai ketua Tiang pek san memang memiliki kedudukan yang tinggi serta dihormati banyak orang. Tapi sayang kau lupa bahwa wilayah ini merupakan wilayah Tionggoan, disini bukan tempat yang sesuai bagimu untuk berlagak sok."

Mimpipun sipukulan sakti tanpa bayangan tidak mengira kalau ada orang berani menentangnya, dengan amarah yang meluap segera teriaknya:

"Baik, kau mengatakan aku tak berhak memberi perintah kepadamu, akan kupaksa dirimu untuk tunduk dibawah telapak kakiku."

Selesai berkata dia segera melepaskan pukulan yang tak berwujud maupun suara kedepan, itulah ilmu pukulan sakti tanpa bayangannya.

Pedang emas mundur setengah langkah kebelakang, setelah memperkokoh kuda-kudanya, dia menghimpun segenap tenaga dan kekuatan yang dimilikinya dan balas melepaskan sebuah pukulan juga.

Ketika dua gulung ilmu pukulan yang maha sakti itu saling bertumbukan satu dengan lainnya, tidak terdengar suara benturan maupun letusan yang terjadi, nyata sekali hal tersebut berbeda sekali dengan keadaan yang sesungguhnya.

Dalam sedetik itulah, para jago yang hadir diarena sama-sama mempunyai pengharapan yang berbeda.

Kalau Juan tiong su pa sangat berharap kekalahan diderita oleh sipukulan sakti tanpa bayangan menderita kekalahan berarti jiwa mereka terjalin keselamatannya, paling banter mereka hanya akan menjilati pantat sipedang emas.

Sekalipun harus menjilat pantat satu hal namun bisa peroleh kembali jiwa mereka dalam perhitungan Juan tiong supa, hal ini dianggap amat sesuai dan tidak rugi.

sebab bagi pandangan mereka, yang penting adalah keselamatan jiwa saat ini, toh kesempatan untuk membalas dendam masih panjang dikemudian hari.

Sebaliknya Kim Thi sia sangat berharap kemenangan sudah berada dipihak sipukulan sakti tanpa bayangan, sekalipun dia sadar sesaat menjelang afalnya sipedang emas masih berkemampuan untuk membunuhnya, namun dia bukan manusia yang takut mati. Paling tidak dia tidak ingin dibunuh dalam keadaan terhina.