Lembah Nirmala Jilid 36

 
Jilid 36

orang itu bukan lain adalah sipedang emas sedangkan kedua orang lainnya adalah sipedang tanah dan pedang air.

Kemunculan sipedang emas yang secara tiba-tiba ini seketika memecahkan perhatian sipedang perak.

Pada saat itu pula telah menfaatkan peluang tersebut dengan sebaik-baiknya, dia melompat bangun untuk menghindari diri dari serangan maut yang mematikan-

Walaupun kemudian sipedang perak sempat pula melancarkan sebuah serangan dahsyat, namun berhubung serangan itu agak terlambat maka gagal melukai lawannya.

Kontan saja perasaan hatinya menjadi amat kalut bercampur gembira, dia girang karena kehadiran toa suhengnya berarti menambah kekuatan yang luar biasa bagipihaknya, tapi dia kesal karena Kim Thi sia benar-benar cekatan, ternyata dia telah manfaatkan kesempatan disaat pikirannya sedang bercabang untuk meloloskan diri dari ancaman maut.

Keadaan Kim Thi sia saat ini sungguh berbahaya, dia sudah terkepung oleh sipedang emas, perak. besi, api, air, dan tanah. Enam orang pendekar pedang kenamaan, dalam keadaan begini, rasanya sulit baginya untuk meloloskan diri dengan selamat.

Namun Kim Thi sia tak gentar, ia memiliki semangat dan keberanian yang luar biasa, bukan mundur dia malah mengejek sambil tertawa terbahak-bahak.

"Haaaah......haaaah.......haaaaah. pedang emas, aku pingin bertanya kepadamu. Benarkah

Kongci Sin adalah kaki tangan anjingmu?"

Raut muka sipedang emas tertutup dengan kain kerudung sehingga susah bagi orang lain untuk mengetahui mimik wajahnya yang sebenarnya, namun sepasang matanya yang bersinar tajam justru melambangkan roh dan kepandaian silatnya.

Ketika mendengar perkataan tersebut, dia segera membentak dengan suara dingin: "Yaa benar, Kongci Sin memang pembantu setiaku. Bila kau ingin membalas dendam.hmmm keadaan sudah terlambat."

Dibawah sinar rembulan, terlihat nyata sorot matanya yang penuh diliputi hawa napsu membunuh.

Dengan langkah lebar Kim Thi sia mendesak maju kemuka, katanya dengan suara dalam: "siapa bilang sudah terlambat. HHmmm, aku justru hendak memperhitungkan hutang tersebut

dihadapanmu."

Sementara itu paras muka putri Kim huan telah berubah menjadi pucat pias seperti mayat, dengan badan gemetar pelan-pelan dia bergerak maju, tak lama kemudian tubuhnya telah bersandar diatas dada pemuda tadi sambil berbisik:

"Apakah kau mempunyai keyakinan- Bila tak mampu, mari kita berusaha untuk melarikan diri." "Sebelum musuh mengundurkan diri, aku tak akan mundur lebih dulu" jawab Kim Thi sia cepat.

"Justru kaulah yang perlu menjaga diri segera baik-baik agar tak sampai dilukai musuh."

Dipihak lain, sipedang emas masih berdiri tegak bagaikan bukit karang, kain kerudung hijaunya berkibar ketika terhembus angin, tiba-tiba saja suasana disekeliling tempat itu terasa tegang dan membeku.

Dengan langkah lebat dia maju kemuka, lalu serunya sambil tertawa dingin:

"Kim Thi sia mengingat kita berasal dari perguruan yang sama, bila ingin meninggalkan pesan terakhir, sampaikan sekarang juga."

"Hmmmm, kau jangan berbangga dulu" seru Kim Thi sia amat gusar. "Terus terang aku bilang, kemampuanmu yang tak seberapa sama sekali tak kupandang sebelah matapun."

"Bajingan keparat, tutup bacot anjingmu" bentak sipedang api dengan penuh amarah.

Ia menerobos maju kedepan, pedangnya yang tajam langsung disodokkan kedepan melancarkan sebuah pukulan kilat.

Kim Thi sia menggetarkan tangannya sekali lagi pedang Leng gwat kiam dipergunakan untuk membendung datangnya ancaman tersebut.

Dalam waktu singkat kedua belah pedang itu sudah saling beradu keras......

"Traaaaangggg. "

Ditengah dentingan nyaring, tiba-tiba saja sipedang api merasakan tangannya menjadi ringan, ternyata senjata andalannya telah terpapas kutung oleh senjata lawan-Dalam terkejut bercampur gusarnya tergopoh-gopoh dia melompat mundur kebelakang.

Namun Kim Thi sia sendiri tidak akan melanjutkan serangannya dia merentangkan sepasang tangannya dan kali ini mengancam iga kiri sipedang emas. Pedang emas tertawa dingin, jengeknya:

"Bajingan keparat, besar amat nyalimu" Dimana pedang menyambar dia segera menggeserkan badannya untuk berganti posisi.

Kim Thi sia yang merasa serangannya gagal, segera menyadari kalau gelagat tidak menguntungkan, tergopoh-gopoh dia menggetarkan pedangnya dan melepaskan sebuah bacokan.

Sewaktu dia mencoba untuk melirik kearah lain, ternyata siputra tunggal dari pukulan sakti tanpa bayanganpun tidak berdiri menganggur dia telah diserang oleh sipedang perak. pedang air dan pedang kayu hingga kalang kabut tak karuan.

cepat-cepat pemuda itu mengeluarkan jurus "tumbuh api dibalik batu" untuk menolong posisi sendiri yang berbahaya sementara dalam hatinya diapun mengambil keputusan- "Hmmm^ orang ini sinis dan sangat mementingkan diri sendiri, akupun tidak usah menjual nyawa baginya."

Tiba-tiba sipedang emas melepaskan serangan kilat dengan ilmu Tay jiu eng kangnya, begitu dahsyat serangan itu memaksa Kim Thi sia terdesak mundur setengah langkah.

Belum sempat Kim Thi sia berganti napas untuk merubah jurus serangan, putri Kim huan yang berada disisi lain telah dihadang oleh pedang besi.

Untuk menolong jelas tak sempat lagi, dalam gusarnya tiba-tiba melintas satu akal bagus, segera bentaknya nyaring: "Pedang besi, lihat senjata rahasia"

Menggunakan kesempatan disaat pedang besi masih tertegun, dia melompat maju kedepan dan menghadang dihadapan gadis cantik itu.

"Manusia keparat yang tak tahu diri" umpat sipedang besi dengan penuh kebencian-"Berani amat kau menipuku dengan akal busuk. Hmmm, hari ini kau harus mampus"

Mendadak terdengar jeritan lengking bergema memecahkan keheningan-.....

Dengan perasaan terkesiap Kim Thi sia segera berpikir:

"Aduh celaka, suara jeritan dari gadis cantik berbaju putih itu. "

Begitu ingatan tersebut melintas matanya pun tak berayal lagi untuk berpaling kearah mana berasalnya suara tadi betul juga, sinona cantik berbaju putih itu sudah dicengkeram oleh pedang kayu.

Saat itu sinona berada dalam keadaan terkejut bercampur takut, paras mukanya berubah hebat.

Kim Thi sia tidak sempat untuk berpikir panjang lagi, segera teriaknya keras-keras:

" cepat kau bebaskan nona itu, dia adalah putri Dewi Nirmala, kalian bukan tandingannya."

Setelah perkataan tersebut diutarakan, dia baru merasa telah salah berbicara untuk ditarik kembali jelas tak sempat hatinya makin terkesiap.

Ia tahu Dewi Nirmala telah membunuh sipedang tembaga dan pedang bintang, posisi kedua belah pihakpun telah saling bermusuhan bagaikan air api, sekalipun perempuan itu sangat lihay, namun bagi pedang umat persilatan tidak pernah mengenal kata ampun, sudah jelas keselamatan jiwa gadis tersebut menjadi berbahaya sekali.

Baru saja dia hendak bergerak maju untuk memberikan pertolongan, putri Kim huan yang berada dibelakang telah menegur:

"Engkoh Thi sia, nampaknya kau kenal baik sekali dengan gadis tersebut?" Kim Thi sia tertegun, pikirnya cepat:

"Apa maksud perkataannya itu?"

Belum sempat dia berpikir lebih jauh, gadis cantik berbaju putih itu sudah ditampar sipedang kayu keras-keras.

Selama hidup belum pernah gadis tersebut mengalami penghinaan seperti hari ini saking mendongkol dan sedihnya, air mata jatuh bercucuran dengan derasnya. Terdengar sipedang kayu mencaci maki dengan penuh kebencian:

"Hmmm, rupanya kau adalah putri siperempuan bangsat itu, dasar perempuan rendah, sepantasnya kau temani bajingan she Kim itu untuk melaporkan diri kepada Raja akhirat.....hmmm....hmmm. "

Kim Thi sia sakit hati mendadak marahnya dilampiaskan kepada putra sipukulan sakti tanpa bayangan, bentaknya keras: "Hey, terhitung orang gagah macam apa dirimu itu. Hmmm. kalau orang sendiripun tak

sanggup dilindungi, kau hanya bikin malu orang lain saja."

Sebetulnya pemuda tampan tersebut bukannya tidak melihat atas peristiwa tersebut namun berhubung serangan yang dilancarkan pedang perak terlalu gencar, dimana untuk melindungi keselamatan diri sendiripun sudah kewalahan- Bagaimana mungkin ia masih mempunyai kesempatan untuk melindungi gadis cantik berbaju putih itu.

Kini, setelah ditegur oleh Kim Thi sia, kontan saja paras mukanya berubah menjadi merah padam, dengan penuh kegusaran dia berpekik nyaring lalu sambil mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya dia mulai menyerang lagi dengan mengandalkan pukulan sakti tanpa bayangannya.

Tatkala sipedang perak mencoba menahan serangan tersebut dengan kekerasan, tubuhnya seketika terdorong mundur berapa langkah oleh segulung kekuatan yang maha dahsyat.

Pemuda tampan itu mendengus marah, secara beruntun dia mendesak maju tiga langkah, telapak tangan kirinya menyerang sipedang perak. sementara tangan kanannya menyerang pedang air.

"Bangsat dari manakah dia?" tiba-tiba sipedang emas bertanya.

Rupanya dia dibuat terkejut oleh kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki pemuda tampan itu, bukan saja usianya masih muda belia, bahkan silatnya luar biasa sekali. Sipedang besi yang berada takjauh darinya buru-buru menjawab: "Dia adalah putra tunggal dari pukulan sakti tanpa bayangan, ketua Tiang Pekpay."

Pedang emas manggut-manggut, diam-diam ia pertkbangkan sebentar situasi dihadapannya, kemudian baru berkata:

"Tak usah ambil perduli siapakah dia, pokoknya setiap orang yang berani menentang dan memusuhi sembilan pedang dari dunia persilatan, tumpas semua hingga ludas."

"Kau sitelur busuk" umpat Kim Thi sia gusar.

Sambil menghimpun tenaga Tay goan sinkangnya dia segera melepaskan sebuah pukulan dahsyat.

Terdengar suara deruan angin dan guntur yang amat memekikkan telinga, pasir dan batu beterbangan diangkasa.

Rupanya sipedang emas pun cukup mengetahui betapa dahsyat dan luar biasanya kekuatan tenaga pukulan itu, cepat-cepat dia pusatkan seluruh pikiran dan kekuatannya sambil memperkokoh kuda-kuda dia mengayunkan telapak tangannya dan menyambut serangan tersebut dengan keras melawan keras.

"Duuuukkkk"

Dikala kedua gulung tenaga pukulan itu saling bertemu satu dengan lainnya, terjadilah suara ledakan dahsyat yang sangat memekikkan telinga.

Akibat dari bentrokan itu, kedua belah pihak sama-sama tergetar mundur satu langkah posisi semula.

Mencorong sinar tajam dari balik mata sipedang emas, teriaknya dengan suara menyeramkan: "Bagus sekali, tak kusangka begitu cepat kau raih kemajuan dalam ilmu silatmu"

Gerak langkahnya segera berubah dari gerakan lurus menjadi miring, hawa murnipun dihimpun lalu dengan ilmu pukulan Tay jiu eng dia melepaskan sebuah sodokan kedada musuh.

Dalam waktu yang amat singkat dan cepat, kelima jari tangannya sudah menempel didepan dada Kim Thi sia. Sebagai manusia jujur Kim Thi sia tidak memikirkan akal muslihat lain, dia segera mendengus dan melepaskan sebuah bacokan pedang untuk menghalau ancaman yang datang.

Terlihatlah lapisan bunga pedang yang berlapis-lapis bagaikan air hujan menyelimuti seluruh angkasa, mata pedang yang tajam membiaskan cahaya berkilauan yang menusuk pandangan mata.

Pedang emas tak berani menyambut datangnya serangan tersebut dengan kekerasan-cepat- cepat dia batalkan serangannya ditengah jalan dan menarik kembali tangannya.

Dikala sipedang emas melancarkan serangan dengan ilmu Tay jiu eng hoat sekali lagi, ternyata keadaannya sama sekali berbeda, kalau semula serangannya lembek dan lunak maka kini berubah menjadi keras dan penuh bertenaga, adapun jurus serangan yang dipergunakan adalah jurus " guntur menggelegar kilat menyambar" yang mengutamakan sifat kekerasan-

Sebenarnya Kim Thi sia hendak membendung serangan musuh dengan jurus "mati hidup ditangan nasib" yang mengutamakan tenaga lembek, namun ketika sampai ditengah jalan, mendadak dia mendapat sebuah akal bagus, segera teriaknya keras-keras: "Hey, ilmu silat apaan itu?"

Langkah kakinya bergeser kesamping sambil berlagak tak mampu menahan serangan tersebut, secara beruntun dia mundur sampai tiga langkah lebih.

Pedang emasnya tak tahu kalau musuhnya sedang menggunakan siasat untuk menjebak, buru- buru dia membuyarkan jurus serangan semula. Sambil tertawa dingin ia mengejar kemuka dan menggempur lagi dengan menggunakan jurus "Emas rongsok kelama putus".

Sekali lagi Kim Thi sia mundur tiga langkah kebelakang, kini punggungnya telah menyentuh tubuh putri Kim huan-

Dalam keadaan cemas bertambah risau, tanpa sadar putri Kim huan segera memeluk pemuda itu sambil berbisik ketakutan: "Thi sia. mari kita kabur"

Sesungguhnya pada saat itu sipedang besi, pedang api dan pedang tanah yang berada dibelakang punggung pedang emas telah bersiap sedia memberikan bantuan, namun setelah dilihatnya Kim Thi sia tak sanggup menahan lagi, mereka saling berpandangan sekejap kemudian mengurungkan niatnya.

Dalam saling berpandangan itu, seolah-olah mereka sedang berkata begini:

"Toako telah berhasil menempati posisi diatas angin, biarlah dia seorang yang menghadiri keparat itu"

Dalam pada itu Kim Thi sia telah meronta dan melepaskan diri dari rangkulan putri Kim huan, lalu dengan wajah terkejut bercampur gugup serunya buru-buru: "Kau cepat lari dulu, aku"

Sipedang emas gembira sekali melihat sikap ngeri diwajah musuhnya, dia tertawa terbahak- bahak.

"Haaah.....haaaah.......haaaaah bocah keparat, rupanya kau pun menyadari kalau jiwamu

berada dalam keadaan bahaya. IHaaah.....haaah.^...haaah. benar-benar tidak kuduga."

Sebenarnya putri Kim huan enggan meninggalkan tempat tersebut, tapi setelah melihat kerdipan mata dari Kim Thi sia, sebagai seorang gadis yang cerdik, dengan cepat ia memahami maksud hati pemuda tersebut dengan perasaan lebih lega diapun mengundurkan diri kesamping.

Sementara dihati kecilnya dia berpikir:

"Engkoh Thi sia adalah seorang manusia luar biasa, tak mungkin ia bisa dibikin keok dalam berapa gebrakan saja "

Dalam pada itu, sipedang emas telah melangkah maju dengan tindakan lebar, dengan jurus "angin dan awan berubah-ubah" ia melepaskan sebuah pukulan dahsyat yang kuat dan gencar kearah lawan- Melihat Kim Thi sia terdesak mundur berapa langkah, kegembiraannya makin meluap tak kuasa lagi dia mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

Perlu diketahui, saat itu mereka berada ditengah sebuah jalan setapak yang hanya cukup dilalui satu orang, sekeliling jalan setapak tersebut merupakan batang pepohonan yang besar dan kuat.

Ini berarti andaikata sipedang besi, pedang api dan pedang tanah berniat turun tangan bersama untuk mengeroyok Kim Thi sia, mereka harus melewati posisi toa suhengnya lebih dulu.

Namun sipedang emas sedang diliputi perasaan gembira, ia tidak membiarkan para adik seperguruannya memberi bantuan, sebab dia hendak mengandalkan ilmu Tay jiu engnya untuk menghabisi musuh tangguhnya itu seorang diri.

Kim Thi sia mencoba untuk melirik kepihak lain, ketika menjumpai pemuda tampan itu sudah keteter hebat dibawah desakan sipedang perak dan pedang air. Entah mengapa tiba-tiba pemuda tersebut justru merasa gembira sekali.

Ketika berpaling lagi kearah sinona cantik berbaju putih yang menundukkan kepalanya sambil berdiri kaku ditepi arena, ia segera tahu kalau gadis tersebut telah ditotok jalan darahnya oleh sipedang kayu.

Dengan cepat pikirannya berputar sebentar sebuah keputusanpun segera diambil.

Ketika sipedang emas melepaskan kembali sebuah sapuan kilat, Kim Thi sia segera membendungnya dengan kekerasan, tapi akibatnya dia tergetar mundur satu langkah.

Sementara itu sipedang emaspun merasa terkejut sekali, sewaktu terjadi benturan kekerasan tadi, ia dapat merasakan bahwa musuhnya tidak menggunakan tenaganya sepenuh hati, sekalipun ia tidak habis mengerti apa gerangan yang terjadi, namun ia yakin hal tersebut bukan main-main, siapa tahu dibalik kesemuanya itu masih terselip rencana lain yang sangat lihay dan berbahaya.

Belum habis ingatan tadi melintas lewat, serangannya telah berkelanjutan dengan menggempur jalan darah Hekpek hiat musuh menggunakan jurus "bidikan ketapel mengejutkan burung" dari ilmu Tay jiu eng.

Mendadak Kim Thi sia membentak kerasa, sebuah pukulan dahsyat dilancarkan secara tiba-tiba.

Suara bentakannya keras penuh bertenaga, dibalik itu semua terkandung pula luapan rasa gembira yang berkobar-kobar.

Ketika sipedang emas dan para jago pedang lainnya mendengar suara tersebut, diam-diam mereka merasa amat bergidik, terutama sekali sipedang emas, hampir saja dia menghentikan gerak serangannya..

Segulung tenaga pukulan yang kuat menerobos masuk dengan cepat, bukan saja kekuatan dahsyat tersebut berhasil membobolkan pertahanan sipedang emas, bahkan bagaikan air bah yang menjebolkan bendungan langsung menyambar tiba dengan hebatnya.

Tak terlukiskan rasa kaget sipedang emas menghadapi peristiwa yang tak terduga ini. Tak ampun tubuhnya termakan gempuran tersebut hingga roboh terjengkang keatas tanah.

Sipedang besi, pedang api dan pedang tanahpun nyaris dipecundangi lawan- Serentak mereka membentak keras sambil melejit kemuka, tiga sosok bayangan manusia dengan mengacungkan pedang masing-masing langsung melancarkan bacokan kemuka.

Kim Thi sia tidak sempat melepaskan sebuah pukulan lagi, tergesa-gesa dia berganti posisi sambil mundur kesamping.

Arah dimana ia mundur adalah nona cantik berbaju putih itu, karenanya selalu perhatiannya sekarang tertuju ketubuh sipedang kayu.

Begitu berada dekat dengan musuh, dia segera melepaskan sebuah pukulan dengan jurus "kepercayaan menguasahi seluruh jagad" untuk menyergap lawannya. Sipedang kayu berseru tertahan, dalam keadaan tak siap ia menjadi gugup dan gelagapan, tergopoh-gopoh tubuhnya melompat mundur kebelakang untuk menghindarkan diri.

Dengan suatu gerakan cepat Kim Thi sia menyambar tubuh gadis cantik berbaju putih itu dan menerobos masuk kedalam hutan.

Tapi hanya sebentar saja ia sudah berteriak tertahan, cepat-cepat pemuda itu keluar lagi dari hutan, ternyata apa yang dikuatirkan benar juga, putri Kim huan sudah terjatuh ketangan musuh.

Dengan gemas dia memukul batok kepala sendiri sambil berpikir: "Aku benar-benar tolol, mengapa kulupakan keselamatan jiwanya. ?"

Dalampada itu sipedang besi telah mencengkeram pergelangan tangan putri Kim huan, sambil tertawa dingin ia menjengek:

"Hey bocah keparat, meski kau berhasil menyelamatkan yang satu namun kehilangan yang lain, tiada keuntungan apa-apa yang bakal kau peroleh, hmmmm sia-sia perjuanganmu selama ini."

Kim Thi sia tidak menggubris sindirannya itu, sambil mengerahkan tenaga dalamnya dia membabat tubuh sipedang besi.

Desiran angin pukulan yang amat dahsyat segera menyambar kedepan dengan hebat. Pedang perak membentak gusar, dia melompat kesamping sambil menghindarkan diri.

Dengan mundurnya sipedang perak. pemuda tampan itupun mendapat kesempatan baik untuk meloloskan diri dari gencetan musuh, tanpa peruli lawannya lagi dia balik menerjang kearah Kim Thi sia sambil membentak: "Bebaskan dia, kau tak usah mengurusi persoalannya."

Dalam terkejut dan herannya Kim Thi sia tak sempat berbuat banyak. tahu-tahu gadis cantik berbaju putih itu telah direbut kembali oleh pemuda tampan itu.

Tapi begitu ia sadar kembali akan apa yang terjadi, dengan perasaan amat mendongkol teriaknya keras-keras.

"Bagus, bagus sekali perbuatanmu sangat gagah dan hebat. "

Pemuda tampan itu sama sekali tak ambil perduli, cepat-cepat dia membebaskan jalan darah sinona yang tertotok membiarkan gadis itu duduk diatas batu, sementara dia sendiri menjaga disisinya.

Terhadap putri Kim huan yang ditawan serta keadaan musuh yang melakukan pengepungan, bukan saja tak ambil gubris bahkan memperhatikanpun tidak.

Kim Thi sia memperhatikan sekejap wajah orang itu, akhirnya dia berseru lagi dengan mendongkol:

"Baiklah, sekarang kau boleh berbuat begini, tapi tunggu saja nanti saat pembalasanku tiba. "

Dalampada itu sipedang emas telah bangkit berdiri dan berkata pula dengan suara pelan: "Bocah keparat ini sangat jahat. Sute sekalian, mari kita turun tangan bersama untuk

membasminya "

Ketika berbicara, napasnya tersengkal-sengkal dan suaranya lemah, jelas isi perutnya telah menderita luka yang cukup parah.

Tiba-tiba terdengar nona cantik berbaju putih itu menghela napas sedih dan berkata:

"Hey, bila kau tidak berusaha untuk menolongnya, akupun tak akan menggubris dirimu lagi."

Ucapan mana ditujukan kepada pemuda tampat tersebut, sedang dia yag dimaksud adalah putri Kim huan.

Nampak pemuda tampan itu sangat terperanjat setelah mendengar perkataan itu, buru-buru dia bertanya: "Hey apa maksud perkataanmu itu?" "Dia telah menyelamatkan aku, sudah sepantasnya kaupun menyelamatkan dirinya." "Hmmmm, siapa bilang dia berniat menolongmu? Ia hanya secara kebetulan saja

membebaskan dirimu dari pengaruh totoknya karena desakan lawan yang sangat hebat."

"Bagaimanapunjua, dia telah melepaskan budi pertolongan kepadaku, seandainya kau mencintaiku dengan sepenuh hati, budi kebaikan ini harus kau bayar."

"Bila aku pergi, keselamatan jiwamu menjadi sangat berbahaya. " kilah pemuda tampan itu.

Paras muka sinona cantik berbaju putih itu berubah hebat, sambil menarik muka serunya: "Apa kau bilang? Apakah orang lain berani berbuat demikian, kau malah tak berani?"

"Aku benar-benar menguatirkan keselamatan jiwamu" kata pemuda tampan itu sambil tertawa getir. "Kau harus memahami kesulitan dihati kecilku kini "

"Aku tak perduli, aku tak perduli" tukas sinona mendongkol. "Pokoknya bila kau tidak melakukan permintaanku tadi, berarti kau memang tidak mencintaiku sepenuh hati, ini berarti diantara kita pun tak perlu membicarakan persoalan yang lain lagi."

Dengan perasaan apa boleh buat pemuda tampan itu menggelengkan kepalanya berulang kali, dia segera berpaling kearah Kim Thi sia dan berkata:

"Aku akan pergi menolong kekasihmu, ini berarti keselamatan jiwanya akan kuserahkan kepadamu."

Kim Thi sia yang mendengar pembicaraan tersebut segera berpikir. "Tampaknya gadis itu cukup jelas membedakan mana budi dan mana dendam." Maka tanpa perduli maksud permintaan pemuda tampan itu lagi ia berkata:

"Tidak usah, terima kasih banyak atas maksud baikmu, meski orang she Kim tidak becus, namun kesulitanku tak ingin merepotkan orang lain, aku yakin masih mampu untuk menyelesaikan persoalan sendiri. "

Ia memang berniat menyakiti hati lawannya, melihat wajah pemuda tampan itu sudah berubah menjadi hijau membesi, sambil tertawa terbahak-bahak kembali katanya:

"Perselisihan yang menyangkut pribadi Kim Thi sia tak perlu anda campuri, atau bila kuucapkan dengan perkataan yang tak sedap. apabila anda tiada urusan lagi disini, lebih baik segera angkat kaki."

Baru selesai perkataan itu diucapkan, sipedang perak yang berada dipihak lain telah berteriak keras:

"Jangan harap kalian berdua bisa pergi meninggalkan tempat ini." Kim Thi sia berkerut kening, teriaknya lantang:

"Kalau begitu aku akan membuat perhitungan lebih dulu denganmu."

Dengan langkah lebar dia maju kedepan dadanya yang bidang membiaskan bayangan yang tinggi besar dibawah sinar rembulan-

Tak lama kemudian ia telah berada tepat dihadapan musuhnya.

Dengan suara dalam sipedang perak membentak nyaring, tenaga dalamnya dihimpun kedalam telapak tangannya siap melepaskan serangan maut. Pada saat itulah tiba-tiba terdengar putri Kim huan berteriak keras-keras: "Thi sia, pergilah cepat, tak usah perduli diriku lagi."

Kim Thi sia berpaling, dia saksikan gadis cantik itu sudah berada ditangan sipedang air, pedang tanah dan pedang api, keadaannya mengenaskan sekali.

Melihat adegan tersebut, berkobar api kegusaran didada Kim Thi sia, serunya dengan geram: "Bagus, bagus sekali. Sekarang kalian boleh bersikap demikian terhadapnya. Tapi ingat, aku pasti akan berterima kasih dan berusaha membalas budi kebaikan kalian itu." Sedang dihati kecilnya dia berpikir.

"Musuh lebih banyak jumlahnya daripada aku bila tak kugunakan taktik suara ditimur menyerang kebarat untuk menghadapi mereka, nampaknya harapanku untuk membalas dendam akan tipis sekali."

Sesungguhnya ingatan semacam ini tak mungkin akan timbul didalam benak Kim Thi sia kalau berada dihari biasa, namun setelah kekasihnya terjatuh ketangan musuh. Dalam keadaan murung dan mendongkol, tanpa disadari pikiran tersebutpun muncul dalam benaknya.

Ia segera berjalan mendekati sipedang perak. bukan untuk menyerang musuhnya tapi dengan sorot mata tajam dia memperhatikan sekejap lebih dulu kesekeliling tempat itu.

Ia tahu diantara mereka semua, kemungkinan besar sipedang kayu yang bakal menyerang lebih dulu, karena tempat dimana ia berdiri sekarang hanya selisih berapa depa dari sipedang perak.

Sedangkan sipedang perak terhitung manusia paling licik jadi kemungkinan besar dialah yang menyerang paling dulu.

Begitu keadaan situasi telah dikuasahi, Kim Thi sia pun berlagak menatap wajah sipedang emas sambil berkata:

"Tenaga dalammu memang cukup hebat sekalipun sudah terkena pukulan Tay goan sinkang nyatanya belum juga mampus, coba kalau berganti orang lain, mungkin sang korban sudah mati muntah darah sedari tadi."

Selesai berkata ia segera tertawa dingin tiada hentinya sambil mencibirkan bibirnya dengan sikap mengejek.

Seperti apa yang diduganya, begitu mendengar perkataan tersebut sipedang emas menjadi sangat gusar bercampur mendongkol hingga kaki tangannya gemetar keras.

Tapi dia pun bukan orang tolol, sudah baran tentu mengerti juga bahwa Kim Thi sia berniat menyakiti hatinya.

Sebagaimana diketahui, sipedang emas adalah pemimpin dari sembilan pedang dunia persilatan, ilmu silat yang dimilikinya jauh melebihi kemampuan kedelapan orang adik seperguruannya, ia merupakan tonggak penyangga dari sembilan pedang dunia persilatan sudah keok ditangan musuh.

Kini, Kim Thi sia memuji kesempurnaan tenaga dalamnya yang dibilang hebat karena tak sampai roboh karena pukulan Tay goan sinkang, padahal tujuannya adalah untuk mengolok dan mencemooh kemampuannya tak heran kalau sipedang emas menjadi mendongkol setengah mati.

Sipedang emas yang tidak menduga lebih-auh, saat ini hanya mengira musuhnya bertujuan mencemooh kemampuannya diam-diam iapun memberi tanda kepada sipedang perak.

Menurut pendapatnya, sipedang perak berdiri paling dekat dengan lawannya, ini berarti dialah yang paling cocok untuk menyerang dan menumpas Kim Thi sia yang dibenci itu dengan sepenuh tenaga.

Siapa sangka sebelum sipedang perak mengartikan tanda tersebut, Kim Thi sia telah manfaatkan kesempatan tersebut untuk bertindak lebih dulu.

Sepasang telapak tangannya segera dilontarkan bersama kemuka, selapis angin pukulan yang hebat pun muncul dari empat arah delapan penjuru untuk mengurung sekeliling arena.

Sipedang perak segera merasakan pandangan matanya menjadi gelap. ia silau dan untuk sesaat tak tahu apa yang mesti diperbuat. Menunggu ia sadar akan datangnya ancaman bahaya maut, tahu-tahu bahunya sudah termakan oleh gempuran Kim Thi sia dengan jurus serangan " kecerdikan menguasahi seluruh jagad" nya, tak ampun tubuhnya terlempar kebelakang dengan sempoyongan-

Baru saja Kim Thi sia berniat mengejar lebih jauh tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benaknya, cepat-cepat dia berganti jurus dan kali ini mengancam bagian mematikan ditubuh sipedang kayu.

Ia tahu, sipedang kayu berdiri berpaling dekat dengan pedang perak. bila sipedang perak menjumpai keadaan yang membahayakan jiwa, sipedang kayulah yang paling diharapkan bantuannya.

oleh sebab itulah disaat serangan berhasil memukul mundur sipedang perak tadi, ia telah mengetahui kalau sipedang kayu bakal melancarkan serangannya.

Berdasarkan dugaan itulah dia menguntungkan maksudnya untuk mengejar musuhnya sebaliknya malah mengancam sipedang kayu.

Betul juga, sipedang kayu dibuat tertegun seketika dan tahu apa yang mesti diperbuatnya. Menanti tenaga dalamnya sudah dihimpun kedalam lengannya untuk menyerangnya, tahu-tahu

Kim Thi sia telah mengalihkan kembali sasaran serangannya kearah sipedang perak yang terpelanting itu.

Maka dalam keadaan tanpa rintangan dan ancaman, Kim Thi sia berhasil menyarangkan pukulannya yang akurat hingga membuat sipedang perak terpental keudara lalujatuh terbanting keatas tanah dan tak mampu merangkak bangun kembali.

Begitu taktik "suara ditimur menyerang dibarat" nya membuahkan hasil, rasa percaya diripun semakin tumbuh dihati Kim Thi sia. Dia membalikkan tangannya dan kali ini menghajar sipedang kayu.

Sesungguhnya musuh yang berada tepat dihadapannya sekarang adalah sipedang api, sedang sipedang besi berada disisi lain-

Tapi tindakannya yang menyerang musuh dijarak jauh segera membuat sipedang api amat terkesiap. belum sempat angin pukulannya yang menyambar datang tergopoh-gopoh dia sudah membuat persiapan dengan melompat mundur sejauh beberapa kaki dari posisi semula.

Sebaliknya sipedang besi telah membuat persiapan yang cukup matang, dikala musuh menyerang datang dengan penuh amarah tadi, ia segera mendorong putri Kim huan hingga terjatuh kedalam pelukan sipedang air.

Serta merta sipedang air menyambar tubuh putri Kim huan dan memeluknya erat-erat, berada dalam keadaan begini sekalipun sinona berteriak keras-keras pun rasanya tak berguna lagi.

Sipedang besi yang berilmu silat sangat tinggi memiliki gerak geriknya yang amat lincah dan cekatan, setelah mengincar sasarannya secara jitu, dia segera melancarkan serangan dengan ilmu guntingan perg elangan tangannya.

Seketika Kim Thi sia terbendung gerak serangannya hingga mesti menghentikan gerak majunya.

Tampaknya memang beginilah tujuan dan harapan Kim Thi sia. Kalau tidak. dengan ilmu Tay goan sinkangnya yang sangat hebat dan mampu menggempur musuh dari jarak jauh. Mustahil ia bisa dihentikan gerak serangannya oleh ilmu guntingan pergelangan tangan lawan-

Setelah berhenti bergerak. tidak menanti sampai sipedang besi berubah gerak serangannya untuk menyerang kembali. dia telah menerobos maju kehadapan sipedang air dan melancarkan serangan dengan jurus " hembusan angin mencabut pohon siong."

Baru pertama kali ini sipedang air bertarung melawan Kim Thi sia, berapapun licik dan banyak muslihatnya dia, kali ini "kedahuluan" juga oleh serangan lawan- Tergopoh-gopoh dia mengayunkan pedangnya melancarkan sebuah babatan kilat, kemudian tanpa ambil perduli apakah serangan tersebut berhasil mengenai sasaran ataukah tidak. ia membalikkan badan dan segera melarikan diri terbirit-birit.

Mungkin lantaran ia mundur dengan sepenuh tenaga putri Kim huan terseret pula sehingga menjerit tertahan-

Untuk sesaat lamanya Kim Thi sia seperti tertegun dibuatnya hingga menghentikan gerak serangannya sama sekali.

Sipedang kayu yang melihat adanya kesempatan baik segera menerobos maju kedepan sambil mengayunkan pedangnya .

"sreeeeetttt. "

Sebuah sambaran yang amat dahsyat tepat bersarang ditubuh Kim Thi sia menimbulkan luka yang cukup dalam, semburan darah segar segera memancar kemana-mana......

Biar terluka, pemuda itu tidak mengeluh, bahkan tegurnya dengan penuh rasa kuatir. "Bagaimana keadaanmu, apakah terluka ditangan mereka?"

"Tidak. kau tak usah kuatir" sahut putri Kim huan sambil tertawa. "Aduh. ^awas

belakang "

Kim Thi sia bukan orang tolol, mendengar teriakan tersebut ia segera mendapat sebuah akal. Diluaran dia berlagak bodoh dengan tidak mengerti arti teriakan tersebut, malah gumamnya: "Aaaah......kau tentu sudah terluka, kau tentu sudah terluka "

Sekalipun diluaran dia bergumam, secara diam-diam telah membuat persiapan yang cukup matang. Hawa murninya telah dihimpun dari pusat kedalam sepasang tangannya.

Menanti desingan angin serangan telah mencapai belakang tubuhnya, ia baru membentak keras-keras:

"Telur busuk. kau berani membokong toaya mu?"

Ditengah bentakan keras, dan gulung tenaga pukulan yang maha dahsyat bagaikan gulungan ombak ditengah samudra langsung meluncur dan menyambar kebelakang.

Mimpipun orang itu tak mengira akan datangnya ancaman, seketika itu juga tubuhnya terhantam oleh tenaga serangan yang amat hebat itu hingga menjerit keras dan roboh terjengkang keatas tanah.

Kim Thi sia gusar sekali dia benci akan kelicikan orang itu, sambil mengeraskan hati dia menerjang kedepan dan secepat kilat melancarkan sebuah tendangan lagi.

" Duuuukkkk. "

Kembali orang itu mencelat sejauh berapa kaki dan bergulingan beberapa kali sebelum berkelejitan dan akhirnya tak pernah bergerak kembali.

Saat inilah Kim Thi sia baru sempat melihat wajahnya dengan jelas, ternyata orang itu adalah sipedang api yang licik dan buas.

Dari sembilan pedang dunia persilatan kembali seorang anggotanya berkorban, dalam keadaan begini sipedang emas tak mampu mengendalikan diri lagi. ia mendengus dingin berseru:

"Sute sekalian, bila kita gagal membunuhnya hari ini, akhirnya hanya jalan kematian yang kita peroleh."

Sementara perkataan itu bergema, kebetulan berhembus lewat segulung angin yang sangat dingin, semua orang segera merasakan tubuhnya bergidik dan bulu kuduknya pada bangun berdiri. Dibawah cahaya rembulan, kini Kim Thi sia pun dapat melihat jelas raut wajah sebenarnya dari sipedang emas dibalik kain kerudung hijaunya.

Untuk sesaat ia berdiri terbelalak dengan mulut melongo dan pandangan mata memancarkan sinar kaget bercampur ngeri.

Raut wajahnya boleh dibilang menyerupai sebuah tengkorak yang berserakan ditanah pekuburan, selain penuh dengan lakukan yang tak merata, bekas lukapun memenuhi wajah. itu.

Ia tak berani membayangkan, iapun tak pernah menyangka kalau didunia saat ini ternyata terdapat manusia yang berwajah begini jelek dan mengerikan hati.

Ia segera berusaha untuk melupakannya, ia tak mau percaya kalau apa yang terlihat merupakan kenyataan-

"Tampaknya apa yang dikatakan sisastrawan menyendiri memang benar" ingatan tersebut melintas cepat didalam benaknya.

Dari sini terbukti sudah bahwa apa yang pernah dikatakan sastrawan menyendiri memang benar, ini berarti kemunafikan sipedang emas yang dituduh banyak melakukan kejahatanpun tak bakal salah pula.

"Sreeeet.......sreeeet. "

Mendadak terdengar dua kali desingan suara tajam yang memekikkan telinga bergema membelah kegelapan malam, suara tersebut kedengarannya sangat mengerikan hati.

Dengan gerakan cepat Kim Thi sia berpaling, sorot matanya segera saling beradu dengan sorot mata sipedang tanah yang tajam dan licik.

Kedengaran sipedang tanah menjerit keras kemudian mengayunkan pedangnya melancarkan bacokan-

Sebelum Kim Thi sia sempat melakukan sesuatu, tiba-tiba berkelebat lewat sesosok bayangan putih, disusul kemudian terasa segulung desingan angin tajam menyambar lewat.

Tusukan pedang dari sipedang tanah seketika terbentur oleh tenaga serangan itu hingga miring dari posisinya semula.

"Mau apa kau datang kemari?" Kim Thi sia segera menegur dengan tak senang hati. "Kau tak usah mencampuri urusanku" jawab sipendatang singkat.

Selesai berkata, kembali ia menerjang kearah sipedang tanah, dalam beberapa kali gebrakan saja dia telah memaksa pedang tanah mundur setengah langkah dari posisi semula.

Tak terlukiskan rasa mendongkol sipedang tanah menghadapi kejadian seperti ini, dia menggetarkan sepasang tangannya hingga menimbulkan suara gemerutukan nyaring. Dalam waktu singkat kedua orang itu sudah terlihat dalam pertarungan yang amat seru. Kim Thi sia yang melihat adegan ini diam-diam berpikir: "Mana dia? Mengapa ia dibiarkan berada seorang diri?"

cepat-cepat dia berpaling kian kemari untuk mencari jejak sinona cantik berbaju putih itu, namun sekeliling tempat itu kosong tak nampak sesosok bayangan manusia pun-Termasuk juga sinona cantik yang dicari, ia tak nampak batang hidungnya lagi.

"Sialan" segera pikirnya lagi. " Keparat itu benar-benar hebat, nampaknya ia telah mempersiapkan segala sesuatunya terlatih dulu sebelum melakukan tindakan mana."

Sementara dia masih termenung, sipedang besi So Bun pin telah menerjang datang dengan penuh amarah. Begitu tiba dihadapannya, ia segera menyerang dada serta lambung pemuda tersebut dengan ilmu guntingan pergelangan tangannya.

Kim Thi sia segera menarik napas panjang-panjang untuk menghindari serangan tersebut namun hatinya segera dibuat terkejut oleh suara tertawa dingin dan cepat-cepat ia menegur:

"Hey, apa yang kau banggakan?" Rupanya dibalik suara dinginnya terselip kelicikan dan kekejian yang mengerikan hati hingga siapapun yang mendengarkan pasti akan dibuat bergidik dan bulu romanyapada bangun berdiri.

Sekali lagi sipedang besi tertawa dingin.

"Heeeeh......heeeeh......heeeeh sebentar kau akan tahu dengan sendirinya, tak berguna

kau tanyakan sekarang."

Kim Thi sia segera mencoba untuk berpikir dengan seksama, tapi ia tak berhasil menemukan sesuatu yang tidak menguntungkan bagi dirinya, maka dengan suara lantang dia berseru:

"Kau tak perlu merasa bangga dulu, sebentar lagi akan terbukti bahwa tiada manusia macam kau didunia inipun tak menjadi persoalan-"

Mendengar ucapan mana, sipedang besi segera membungkam, membalikkan badan dan beranjak pergi dari situ.

Kim Thi sia bermaksud melakukan pengejaran namun ia segera dihadang oleh sipedang kayu Gi Yu yong.

Sebuah pukulan seratus langkah Pekpoh siu ciang musuh menghapuskan niatnya untuk melakukan pengejaran, dengan menghimpun ilmu Tay goan sinkangnya ia tangkis datangnya ancaman dengan kekerasan-

Ditengah benturan keras yang memekik telinga, tubuh sipedang kayu Gi Yu yong terdorong mundur sejauh berapa langkah.

Kim Thi sia makin bersemangat, secara beruntun dia persiapkan serangan mautnya

dengan jurus " kejujuran mengalahkan batu emas" dan " kekerasan menguasahi seluruh jagad" dari ilmu Tay goan sinkang.

Tapi sebelum serangan dilepaskan, sipedang besi yang mengundurkan diri tadi telah membentak keras: "Berhenti semua"

Sewaktu bentakan itu bergema, terdengar jeritan lengking seorang wanita bergema tiba.

Jeritan lengking tersebut hampir saja membuat sukma Kim Thi sia terbang meninggalkan raganya, dengan perasaan terkejut ia berpaling.

Ternyata sepasang tangan putri Kim huan telah ditelikung kebelakang oleh sipedang besi kuat- kuat. Ditinjau dari rasa sakit yang mencekam wajah sinona, bisa diketahui betapa kejinya sipedang besi sewaktu turun tangan tadi......

Dengan perasaan gusar yang meluap-luap Kim Thi sia segera membentak keras:

"So Bun pin, ayoh cepat lepas tangan, apa yang hendak kau perbuat hey manusia berhati binatang. " "^

Sementara itu, pemuda tampan diarena pertarungan lainpun telah menghentikan pertarungannya melawan sipedang tanah, mereka berdiri saling bertatapan tanpa niat mengalah, namun wajahnya sama sekali tidak menunjukkan rasa kuatirnya terhadap keselamatan jiwa putri Kim huan.

Betapa tidak. sebab ia memang "dipaksa" untuk turun tangan-Terdengar sipedang besi berkata dengan suara pelan:

"Mudah saja bila menginginkan kebebasannya, tapi kau mesti membicarakan dulu syaratnya."

Sekalipun hawa amarah yang berkobar didalam dada Kim Thi sia serasa meluap. akan tetapi ia tak banyak berkutik karena gadis pujaannya sudah terjatuh ketangan musuh dengan suara dalam diapun bertanya: "Apa syaratmu? katakan saja."

"Aku rasa bila syaratnya amat sederhana lebih baik Kim Tayhiap penuhi saja permintaannya" sela sipemuda tampan itu tiba-tiba "daripada kekasihmu menderita siksaan toh lebih baik penuhi saja syarat yang diajukan, bukan begitu?" "Kau sedang menyindir aku?" sela Kim Thi sia tak senang hati.

"Aaaah, tidak berani" jawab sang pemuda hambar. Kim Thi sia makin tak senang hati, pikirnya: "Bila tidak kuperoleh jawaban yang memuaskan hati ini, aku harus bertarung habis-habisan

dengan manusia egois ini."

Begitu mengambil keputusan dihati, diapun berkata lagi dengan suara dingin: "kau masih mencoba membantah? Hmmm, kau anggap aku ini orang tolol. ?"

"Aduuuh. Kim Tayhiap. sudah lama kudengar akan nama besarmu itu, hanya selama ini

belum berkesempatan untuk mengenalimu, kau adalah orang yang paling kuhormati masa aku berani bersikap kurang ajar kepadamu?"

Kim Thi sia kembali mendengus.

"Hmmm^ kalau begitu apa maksud perkataanmu itu?"

Selama ini rasa mendongkol dan jengkelnya tiada pelampiasan, maka setelah diejek oleh sang pemuda tampan dengan sindiran-sindirannya, seketika itu juga semua rasa jengkel dan tak puasnya dilampiaskan keluar kepadanya. Ia tidak memperduli So Bun pin dan kembali serunya:

"Apakah anda menganggap cara kerjaku keliru? Apakah aku tidak seharusnya mencari kerepotan buat sendiri dengan membantu orang lain dari ancaman bahaya?"

Semua ucapannya diutarakan dengan nada berapi-api, sehinga siapapun yang mendengar akan tahu bahwa seucap kata saja tak cocok, kemungkinan besar akan terjadi pertarungan yang seru.

Berubah hebat paras muka sipemuda tampan itu, dengan suara lantang ia balik bertanya: "Jadi Kim Tayhiap menegur siaute yang sudah banyak berbicara?Jadi Kim Tayhiap tidak

bersedia menyelesaikan soal keselamatan kekasihmu dalam suasana kedamaian?"

"Soal ini merupakan masalahku dengan So Bun pin, kau tak perlu mencampurinya." "Baik, anggap saja si sute memang banyak turut campur dalam urusanmu, tetapi "

Sambil tertawa dingin pemuda tampan itu membetulkan letak bajunya, kemudian sambil mengangkat mukanya yang penuh hawa tantangan, ia berkata lebih lanjut:

"Kalau toh Kim Tayhiap tidak bersedia membicarakan soal syarat dengan pihak lawan, mengapa tidak bertarung saja secara langsung? Buat apa kau hentikan tindakanmu ditengah jalan dengan bersedia mendengarkan syarat lawan? Bukankah persoalan ini menjadi saling bertolak belakang?

Benar bukan perkataan siaute ini?" Kembali Kim Thi sia mendengus.

"Hmmm, ngaco belo tak karuan, aku toh cuma ingin tahu apa gerangan yang sebenarnya telah terjadi. Kau jangan salah menilai watak aku orang she Kim biarpun golok diletakkan diatas tengkukku, biar pedang ditempelkan diatas dadaku, aku percaya orang she Kim tak akan berbuat bodoh."

"Yaa, tentu saja, aku juga tahu kalau nama besar Kim Tayhiap sudah termashur dimana-mana, kekuasaanmu telah mempengaruhi empat samudra, tentu saja kau tak memandang sebelah matapun terhadap sembilan pedang dari dunia persilatan"

Begitu ucapan tersebut diutarakan Kim Thi sia segera berkata:

"Bocah keparat, nampaknya kau sudah bosan hidup? Berani amat kau mengadu domba orang lain-"

Dengan berat mata berkilat sipedang tanahpun berseru pula:

"Sobat, bila kudengar dari ucapan barusan seolah-olah kau anggap sembilan pedang dari dunia persilatan adalah manusia-manusia yang tak berguna saja.

"Hmmmm. sekalipun kau adalah putra tunggal sipukulan sakti tanpa bayangan dari Tiang

pek san. Kendatipun ilmu silatmu sangat luar biasa, akan tetapi kami sembilan pedang dari dunia persilatan masih belum memandang sebelah matapun terhadap dirimu, bila kurang percaya nah sambutlah dulu beberapa jurus serangan ini."

"Baik, baiklah, orang baik memang tak pernah dibalas baik, lebih baik aku tidak turut campur dalam persoalan ini. "

Diapun terhitung seorang manusia cekatan yang pintar dan banyak akalnya, begitu menyadari kalau ucapannya telah salah sehingga menimbulkan amarah orang banyak. Dengan cepat ia putuskan untuk menahan diri agar tak sampai menimbulkan permasalahan yang justru merugikan dirinya sendiri.

Dengan pandangan dingin Kim Thi sia memandang sekejap kearahnya, kemudian berkata singkat:

"Harap saudara jangan menyingkir dulu, persoalan diantara kita harus diselesaikan nanti." "oooh, dengan senang hati, dengan senang hati" sahut pemuda tampan itu dingin.

Kim Thi sia tidak menggubris dirinya lagi dia berpaling kearah sipedang besi dan berseru: "sekarang kau boleh kemukakan syaratmu."

Sambil tertawa sipedang besi manggut- manggut. "Nah, begini baru tindakan seorang lelaki jantan" Setelah berhenti sejenak, lanjutn

"Bila kau menginginkan keselamatan jiwa putri Kim huan, pertama pedang Leng gwat kiam harus diserahkan dulu kepadaku." Kim Thi sia segera berpikir:

"Pedang Leng gwat kiam merupakan benda mestika warisan keluargaku, bagaimana pun jua tak bisa kuserahkan kepada orang lain. Hmmm, nampaknya orang ini sedang mengingau. "

Meski dalam hati berpikir demikian, diluar ia menjawab dengan suara berat dan dalam. "Sebutkan dulu syarat yang kedua"

"Suruh kongcu tersebut menyerahkan nonanya kepada kami" Kim Thi sia melengak, serunya dengan cepat.

"Tapi persoalan ini toh tiada, hubungan denganku?"

"Siapa bilang tak ada? Bila kau tidak mencampuri persoalan ini sejak tadi kami sudah berhasil menangkapnya." Kemudian setelah berhenti sebentar, terusnya:

"Karenanya kau mesti bertanggung jawab atas persoalan ini dengan menyerahkan nona itu kepadaku."

"Hey bajingan kunyuk" umpat Kim Thi sia marah. "Tak nyana kalian sembilan pedang dari dunia persilatan hanya sekawan bajingan yang suka menculik dan memperkosa wanita. Hmmm perbuatan terkutuk semacam ini."

Belum selesai ucapan itu diutarakan, sipemuda tampan itu menimbrung pula dengan gemas: "Barang siapa berani mengusik seujung rambutnyapun, kami dari partai Tiang peksan akan

bermusuhan dengannya." Pedang besi tertawa dingin.

"Heeeeh.....heeeeh......heeeeh terus terang aku bilang, ditempat yang sepi dan terpencil

seperti ini. Kami yang tidak kuatir perbuatan ini sampai ketahuan orang"

la melirik sekejap kearah pedang emas melihat pemimpinnya tanpa reaksi, ia semakin lega, terusnya lebih jauh:

"Orang she Kim, kami hanya mempunyai dua buah syarat saja, bila kau enggan menerimanya maka putri Kim huan segera akan tewas secara mengerikan dihadapanmu.

Heeeh.....heeeh.....heeeh. aku tahu cinta kasih kalian berdua telah mendalam, aku yakin kalian

tak akan sanggup menerima pukulan batin seberat ini."

Kim Thi sia termenung dan berpikir sebentar, tiba-tiba katanya: "Lanjutkan kata-katamu." "Kau maksudkan syarat yang ketiga?" tanya sipedang besi dengan perasaan girang, tapi diluar ia tetap bersikap dingin dan hambar. "Padahal permintaanku ini lebih gampang lagi, kau cukup."

" orang she Kim, kau berani memenuhi permintaannya " teriak pemuda tampan itu amat

besar.

Saking gusarnya sekujur badannya sampai gemetar keras, paras mukanya pucat pias, sorot matanya yang menatap Kim Thi sia penuh dengan pancaran sinar benci dan dendam.

Sesungguhnya ia sudah amat membanci Kim Thi sia, karena ia menganggap pemuda tersebut sebagai "musuh cinta" nya, apalagi setelah ada kejadian seperti ini, ia tak mampu lagi membendung semua rasa benci dan dendamnya yang menumpuk selama ini. Dengan geramnya dia berseru:

"orang she Kim, aku telah berupaya untuk mengendalikan diri dengan tidak menganggap sebagai musuh besar, siapa tahu sikapmu sangat mengecewakan hati. Baiklah, sejak kini."

Kim Thi sia hanya memandang sekejap kearahnya dengan pandangan dingin, ia tidak berbicara ataupun menjawab^

Pemuda tampan itu semakin semakin tak tahan teriakannya keras-keras:

"Hey orang she Kim, katakan sebenarnya beranikah kau menerima permintaannya?" "Mengapa tidak?" jawab Kim Thi sia hambar.

Sipedang besi tertawa keras, cepat-cepat serunya:

"Kim Thi sia memang benar-benar seorang manusia hebat, sungguh mengagumkan sungguh mengagumkan. Memang bukan lelaki kalau tak kejam, tindakanmu tepat sekali, tentang syaratku yang ketiga. AKu harus minta kau menyerahkan semacam ilmu silat kepadaku."

"llmu silat yang mana?"

Kim Thi sia berlagak pilon, bahkan habis bertanya dia menatap lawannya dengan pandangan tak mengerti.

sipedang besi menjadi tak senang hati, katanya singkat:

"Kau tak usah berlagak bodoh, ilmu silat yang kuminta adalah Tay goan sinkang."

"Baik" jawab Kim Thi sia tanpa gusar. "Aku bersedia memenuhi permintaanmu, sekarang katakan syarat yang keempat."

Sipedang besi segera manggut- manggut sambil tertawa. Para jagi pedang yang lainpun menunjukkan rasa kegirangan, terutama sipedang emas. Sorot matanya yang memancar keluar nampak berkilat-kilat, jelas dia merasa sangat kegirangan-Semua orang mulai berpikir dihati kecil masing-masing: "Bila sudah kuperoleh ilmu sati itu." setelah berhenti berapa saat, sipedang besi berkata lagi:

"Syaratku yang keempat adalah putri Kim huan tetap akan kami bawa serta menanti ilmu Tay goan sinkang, pedang Leng gwat kiam serta nona itu sudah kau serahkan- Putri Kim huan pun akan kukembalikan kepadamu."

"ooooh jadi kau tetap akan menyandra dirinya?" tanya Kim Thi sia.

"Benar" jawab sipedang besi gembira. "Sesungguhnya syarat-syaratku amat sederhana dan mudah dilaksanakan, kau tak akan repot-repot untuk memenuhinya "

"Apakah masih ada yang lain, apakah syaratmu yang kelima So Bun pin- ?^

"Sudah tak ada lagi" sipedang besi tertawa. "Asal kau bersedia memenuhi berapa syaratku ini, putri Kim huan tentu akan memperoleh kembali kebebasannya"

"Aku amat bersyukur atas kebesaran jiwamu itu, cuma "