Lembah Nirmala Jilid 35

 
Jilid 35

"Sudah pasti sipedang perak telah melaporkan usahaku untuk membalas dendam kepadanya.

Sipedang emas adalah manusia kurcaci berhati serigala, bagaimana mungkin ia bersedia melepaskan aku setelah mendapat kabar ini?"

"Selain itu, akupun telah menyiarkan berita bahwa aku bertekad akan melenyapkannya dari muka bumi, tak heran kalau Kongci Sin sebagai orang kepercayaannya segera memberi kabar kepadanya setelah mendengar namaku tadi." Berpikir sampai disitu, tanpa terasa dia bergumam:

"Pokoknya dipikir bolak balik, tetap masalahnya tak terlepas dari dua lingkupan diatas, delapan puluh persen Kongci Sin adalah anak buahnya. Waaah ini berarti sipedang emas telah

memasang jerat diseluruh dunia persilatan untuk menangkapku. Gerak gerikku selanjutnya meski lebih berhati-hati "

Sementara otaknya berputar terus, tanpa terasa sampailah mereka didepan sebuah rumah penginapan- Saat itu senja telah menjelang tiba, lampu lentera mulai menerangi seluruh rumah penduduk didalam kota.

Mendadak paras muka putri Kim huan berubah menjadi agak memerah, dia melirik sekejap kearah rumah penginapan lalu menundukkan kepalanya rendah-rendah sambil berusaha untuk mengendalikan jalan pemikiran sendiri yang aneh.

Tiba-tiba ia berpikir:

"Engkoh Thi sia, tampaknya kau mempunyai banyak persoalan yang mengganjal didalam hatimu, bagaimana kalau aku turut memikirkannya. "

Kim Thi sia menghela napas panjang.

"Aaaaai, seandainya aku mati, bagaimana dengan dirimu?"

Putri Kim huan tidak menyangka kalau dia akan mengajukan pertanyaan semacam itu. Untuk sesaat ia dibuat tertegun dan tak mampu mengucapkan sepatah katapun. Sesaat kemudian ia baru menundukkan kepalanya seraya menjawab lirih: "Seandainya kau sampai mati, akupun tak ingin hidup lebih lanjut."

Kim Thi sia segera merasakan hatinya bergetar keras, tanpa sadar dua titik air mata jatuh berlinang, katanya pelan:

"Adikku, kau jangan bergurau. Seandainya benar-benar terjadi peristiwa setragis ini. Kau mesti baik-baik menyayangi kesehatanmu sendiri."

Putri Kim huan tak sanggup menahan rasa pedihnya setelah mendengar perkataan itu, dari sedih ia menjadi menangis terisak.

Kim Thi sia memeluk tubuhnya dengan penuh kasih sayang, tapi air matanya turut bercucuran pula karena sedih.

Selang berapa saat kemudian, ia baru dapat mengendalikan perasaan sendiri dan masuk kedalam rumah penginapan.

Setelah dapat kamar dan membaringkan putri Kim huan diatas ranjang, pemuda itu beranjak meninggalkan ruangan-

Mendadak diberanda depan, dibawah sinar lentera yang redup, ia saksikan seorang manusia berkerudung telah berdiri menanti disitu.

Dengan perasaan terkejut Kim Thi sia mundur setengah langkah kebelakang, kemudian tegurnya sambil tertawa dingin:

"Hey pedang emas, sekalipun kau tidak datang mencariku, akupun akan mencarimu untuk membuat perhitungan. "

Pedang emas membungkam diri dalam seribu bahasa, hanya sorot matanya yang tajam pelan- pelan dialihkan dari wajahnya keatas pedang yang tersoren dipinggangnya.

Kedua belah pedang yang tersoren dipinggangnya itu sebuah adalah pedang Leng gwat kiam yang diserahkan putri Kim huan kepadanya, sedangkan yang lain adalah pedang yang diambil dari kamar rahasia Dewi Nirmala.

Tapi dia tak habis mengerti, mengapa sipedang emas menaruh perhatian yang begitu besar terhadap kedua belah pedang mestika itu.

Dengan pandangan tenang manusia berkerudung itu memandang sekejap kearahnya, dibalik sinar mata tersebut terpancar bunga api yang membara. Tiba-tiba dia maju kedepan, kemudian teriaknya keras-keras:

"IHey, dari mana kau dapatkan pedang pendek yang tersoren dipinggangmu itu ?^

Pedang pendek yang dimaksud adalah pedang yang diambil Kim Thi sia dari kamar rahasia Dewi Nirmala. Setelah mendengar penjelasan dari putri Kim huan tadi, Kim Thi sia telah menganggap manusia berkerudung itu sebagai sipedang emas timbul gejolak hawa amarah yang luar biasa dalam benaknya.

Tiba-tiba dia melangkah maju setindak dan mengayunkan telapak tangannya melepaskan sebuah pukulan-

Segulung tenaga pukulan yang amat dahsyat segera meluncur kedepan dengan hebatnya, ibarat amukan ombak ditengah samudra.

Manusia berkerudung itu segera mengayunkan pula telapak tangannya untuk menyambut datangnya serangan tersebut, tiba-tiba saja ia tergetar mundur selangkah. Kim Thi sia sangat kegirangan, segera bentaknya lagi penuh kegusaran: "Hmmm, tak nyana sipedang emas hanya begitu-begitu saja."

Secara beruntun dia melepaskan kembali dua buah serangan berantai yang amat gencar.

Tampaknya manusia berkerudung itu telah dibuat tertegun oleh kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki pemuda itu, disaat dia menjumpai bahwa kedua serangan tersebut yang satu lebih dahsyat daripada yang lain- Sekilas perasaan jeri melintas dibalik matanya, tergesa-gesa ia berkelit kesamping.

Angin pukulan yang maha dahsyat dengan cepat menyambar lewat, sekalipun serangan utama berhasil dihindari namun tak mampu menghindari sisi serangan tadi.

Kontan ia tersapu oleh sisa tenaga serangan yang maha dahsyat hingga maju dengan sempoyongan, sementara kain kerudung yang menutupi wajahnya terlepas dari atas kepalanya.

Kim Thi sia belum pernah melihat raut wajah sebenarnya daritoa suhengnya, dia segera menghentikan serangan dan melongok kedepan-

Ternyata wajah orang itu dikenalnya, dia tak lain adalah sastrawan setengah umur yang memberi petunjuk kepadanya untuk mencari Kongci Sin tadi, tentu saja pemuda kita jadi tertegun dibuatnya.

Paras muka sastrawan setengah umur itu memerah sesaat, kemudian sambil mendengus dingin serunya:

"Hey orang she Kim, sebenarnya kau dapatkan pedang mestika itu dari mana?"

Kim Thi sia berusaha mengingat kembali siapa gerangan orang ini, dalam waktu singkat teringat sudah dia. orang ini telah dikenalnya sewaktu ia menangkan tiga rase bermuka hitam, anak buah sipedang emas malam itu. Dia bukan lain adalah sisastrawan menyendiri yang telah membongkar semua kejahatan dari sipedang emas.

Sungguh tak disangka sisastrawan menyendiri yang telah membongkar kejahatan sipedang emas ternyata sipedang emas sendiri. Mengapa dia memaki diri sendiri? Peristiwa ini benar-benar diluar dugaan-

Melihat pemuda tersebut tak menjawab, sastrawan menyendiri segera mendengus sambil berkata lagi:

"Hey orang she Kim, hitung-hitung kau masih punya nama juga didalam dunia persilatan- Bila engkau bisa dapatkan pedang tersebut dari guruku, tolong ungkapkanlah alasannya, kalau tidak. Hmmm sekalipun aku sisastrawan menyendiri bukan tandinganmu, tapi demi dendam kesumat perguruanku, aku tak bisa berpeluk tangan belaka."

"Hey pedang emas, kau tak usah berlagak pilon lagi, aku sudah tahu kau adalah seorang manusia licik yang banyak tipu muslihatnya." seru Kim Thi sia dengan suara dalam.

"Telur busuk. kau anggap aku adalah sipedang emas? Benar-benar kurang ajar."

Putri Kim huan yang mendengar suara ribut-ribut segera munculkan diri dari kamarnya, melihat peristiwa tersebut, serunya segera sambil tertawa: " Engkoh Thi sia, ia bukan sipedang emas, pedang emas memiliki perawakan tubuh yang kekar, dalam sekilas pandangan saja aku sudah mengenalinya. "

" Lantas siapa dia?"

"Hey, bukankah kalian semua telah saling mengenal? Kenapa kau masih bertanya kepadaku?" sahut putri Kim huan tidak habis mengerti.

Diam-diam Kim Thi sia berpikir, dengan cepat dia memahami hal tersebut, pikirnya: "Memang banyak kejadian aneh didunia ini. Soal manusia berkerudungpun jumlahnya begitu

banyak. mungkin sipedang emas pun hanya seorang diantaranya." Berpikir begitu, dengan nada

minta maaf diapun berkata:

"Sastrawan menyendiri, seandainya kau melepaskan kain kerudungmu sejak tadi, aku tak akan menyerangmu."

Air muka sastrawan menyendiri tetap dicekam keseriusan, kembali dia berkata dengan suara lantang:

"Kim Thi sia, lama kudengar kau sebagai seseorang yang senang berterus terang, tak disangka sesudah bersua ternyata bukan begitu keadaannya. Ayoh cepat jelaskan darimana kau dapatkan pedang Tong hong kiam tersebut? Apakah kau mendapatkannya dari guruku? Atau mungkin kau telah melakukan sesuatu kejahatan sehingga tak berani mengatakannya?" Dengan nada tak senang hati, Kim Thi sia berkata:

"Mengapa sih kau menanyakan terus asal usul pedang ini? Baiklah, akan kuberi tahu secara terus terang, pedangku ini berasal dari tempat kediaman Dewi Nirmala. Maka bila kau ingin mengetahui asal usul sebenarnya silahkan saja bertanya kepada Dewi Nirmala." 

"Dewi Nirmala? Siapakah Dewi Nirmala itu?" tanya sastrawan menyendiri dengan wajah tertegun-

"Kalau dia saja tak kau kenal, buat apa bertanya lagi kepadaku."

"Dewi Nirmala, wahai Dewi Nirmala, sudah pasti kaulah pembunuh suhuku. "

Kim Thi sia yang mendengar pembicaraan mana segera melepaskan pedang Toan hong kiam itu dan diserahkan kepadanya seraya berkata:

"Kalau memang pedang mestika ini benda milik perguruanmu, ambillah sedang persoalan tentang Dewi Nirmala, lebih baik carilah keterangan sendiri tentang dirinya. Aku tak ingin turut campur."

Sementara itu putri Kim huan yang bersandar disisi tubuh pemuda itu turut menimbrung dengan suara lembut:

"Engkoh Thi sia, aku melihat wajahnya gagah dan jujur. Sudah pasti dia adalah orang baik-baik.

Kau tak boleh bersikap sekasar ini terhadap orang lain." " Lantas apa mau mu?"

"Sekarang terbukti sudah kalau pedang tersebut milik gurunya, padahal kau dapatkan dari tangan Dewi Nirmala. Hal ini membuktikan bahwa dibalik kesemuanya itu tentu terdapat hal-hal yang tak beres. Kalau bukan Dewi Nirmala sebagai pembunuh gurunya, sudah pasti gurunya mempunyai hubungan yang cukup intim dengannya. Meski aku bukan orang persilatan, namun aku tahu juga tentang pepatah yang mengatakan, pedang utuh orangnya hidup, pedang putus orangnya tewas."

"Perkataan nona cepat sekali" sahut sastrawan menyendiri dengan sangat sedih. "Hey orang she Kim, hari ini kau harus memberitahukan letak sarang dari Dewi Nirmala itu kepadaku."

"Ia tinggal di Lembah Nirmala, asal kau menanyakan persoalan ini kepada orang lain, sudah pasti akan mengetahui dengan segera." Sastrawan menyendiri segera membalikkan badan siap beranjak pergi, nampak jelas paras mukanya diliputi perasaan sedih yang amat mendalam. Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benak Kim Thi sia, ujarnya kemudian:

"Terus terang saja aku bilang, bila kau pergi kesana dengan cara begini sama artinya kau pergi mencari kematian buat diri sendiri. Ketahuilah ilmu silat yang dimiliki Dewi Nirmala sangat lihay, akupun belum tentu sanggup menandingi kemampuannya."

Sastrawan menyendiri sama sekali tidak menggubris perkataan tersebut, dia membalikkan badan dan beranjakpergi dari situ dengan langkah lebar.

Memandang bayangan punggungnya yang semakin menjauh, Kim Thi sia menghela panjang, gumamnya:

"Aaaai, bila kau enggan menuruti perkataanku, pasti akan mengalami nasib yang tragis." "Engkoh Thi sia, apakah kau takut sekali dengan si Dewi Nirmala itu?" tanya putri Kim huan

pelan-

Berubah hebar paras muka Kim Thi sia sahutnya cepat:

"Omong kosong, dua hari berselang aku telah bertarung melawannya, sekalipun aku kalah, namun ia cukup kubuat ketakutan setengah mati."

Secara ringkas diapun menceritakan pengalamannya ketika bertarung melawan Dewi Nirmala dua malam berselang.

Putri Kim huan mendengarkan dengan penuh perhatian, diam-diam dia mengagumi kejujuran serta kepolosan sang pemuda didalam berkisah.

Tak lama kemudian Kim Thi sia selesai berkisah, dia membopong gadis tersebut naik keatas pembaringan, menutup tubuhnya dengan selimut, kemudian ia keluar dari pintu kamar dan duduk tertidur didepan pintu.

Putri Kim huan merasa amat kuatir, dia menyusul keluar pintu melihat pemuda tersebut duduk berjongkok didepan pintu dalam udara dingin- Tiba-tiba saja muncul perasaan sedih yang amat mendalam dihati kecilnya, ia berpikir:

"Ia benar-benar seorang yang jujur, suci dan baik hati, kenapa aku selalu menyakiti hatinya?"

Apalagi ketika sorot matanya beralih keatas pakaiannya yang begitu tipis, penuh robekan dan tak karuan, terbayang pula bagaimana menderitanya penghidupan pemuda tersebut......

Mendadak rasa pedih yang mencekam dalam hatinya tak terkendali lagi, dia berseru tertahan dan menjatuhkan diri kedalam pelukan pemuda itu seraya berbisik: "Kau benar-benar bodoh, mengapa tidak tidur saja disisiku?"

Kim Thi sia membuka kembali matanya, kasih sayang dari sinona membuat hatinya terpesona, ia tak sanggup menahan diri lagi, sambil menghela napas panjang katanya: "Adikku terus

terang.....tiba-tiba timbul perasaan takut dalam hatiku "

Putri Kim huan menggenggam tangannya erat-erat dan diletakkan diatas pipinya, lalu berbisik: "Engkoh Thi sia kau adalah seorang lelaki jantan aku tak percaya kau akan^ merasa

takut. "

"Adikku.......kita berasal dari keturuan yang berbeda, status kitapun berbeda. aku telah lama

membayangkan persoalan ini."

Setelah berhenti sejenak. dengan mata berkaca-kaca lanjutnya:

"Mungkinkah keluargamu mengijinkan kau menikah dengan seorang pemuda rudin, pemuda gelandangan semacam aku? Adikku, aku takut semuanya akan berubah menjadi impian kosong disaat fajar mulai menyingsing......tapi aku.......aku dapat mengenangmu selalu. " Putri Kim huan tidak mengira sejauh itu pemuda tersebut telah mempertimbangkan hubungan mereka, melihat kepedihan yang mencekam perasaannya, tiba-tiba saja timbul suatu perasaan ngeri dihati kecilnya.

Ia segera memeluk pemuda itu kencang-kencang dan katanya dengan suara lirih:

"Engkoh Thi sia aku tidak ingin pulang. Aaaai, aku tak pulang maka ayah bagindapun tak dapat berbuat apa-apa kepadaku"

"Adikku. " dengan perasaan sedih yang mendalam Kim Thi sia mulai menundukkan

kepalanya. "bila kita sudah tahu bahwa kejadian semacam ini tak mungkin bisa dihindari lagi, bila kita sadar penderitaan yang lebih-lebih mendalam bakal kita alami, mengapa mengapa kita tak

berpisah saja mulai sekarang?"

"oooh...... kau. mengapa kau harus melukai hatiku dengan perkataan seperti itu?"

putri Kim huan semakin sesenggukan- "Apakah kau mengira dengan berbuat begitu maka aku akan peroleh kebahagiaan?"

"Aku rasa mungkin saja begitu."

Sebelum perkataan itu selesai diucapkan tiba-tiba putri Kim huan telah menempelkan bibirnya yang mungil dan basah itu keatas bibir pemuda tersebut hingga perkataanpun terhenti sampai diseparuh jalan-

Kim Thi sia merasakan hatinya bergetar keras, agak tergagap ia berbisik: "Adikku, janganlah terlalu dipaksakan- Aku sadar bukan pasanganmu yang serasi"

"Tidak. kau tak boleh berkata begitu."

"Aaaai......aku benar-benar seorang manusia yang tidak bersemangat. "

Belum habis perkataan tersebut diutarakan putri Kim huan kembali sudah mendekam diatas dada pemuda itu sambil menangis terseduh-seduh.

Kim Thi sia balas memeluk pinggang sinona dengan penuh kemesrahan, dia tak mengira kalau gadis cantik bak bidadari ini bisa menaruh rasa cinta yang begitu mendalam kepadanya.

Kobaran api asmara yang membara membuat hati mereka berdua membaur menjadi satu. Ia seperti sudah melupakan segala sesuatunya, saat ini dia hanya tahu bagaimana cara menikmati kehangatan dan kemesrahan yang ada.

Mendadak sesosok bayangan hitam melintas lewat diatas atap rumah, disusul kemudian terdengar seseorang berseru sambil tertawa dingin: "Bila punya kepandaian, ayoh ikuti aku"

Habis berkata bayangan tersebut kembali bergerak menuju kesebelah barat.

orang itu bertenaga dalam sempurna dan bermata tajam bagaikan sembilu, Kim Thi sia terkesiap dibuatnya.

Sementara dia masih merasa ragu apakah perkataan itu ditujukan kepadanya, dari arah timur telah muncul kembali tiga sosok bayangan manusia yang bergerak menuju kearah yang sama. Kim Thi sia dapat melihat dengan jelas, seorang diantara mereka adalah sipedang perak.

Tanpa berkata-kata lagi dia menggendong putri Kim huan, lalu mengejar pula kearah barat.

Sewaktu tiba dijalan raya yang lenggang, secara lamat-lamat terlihat olehnya ada empat sosok bayangan hitam sedang bertarung dengan serunya.

Dibawah sinar rembulan yang redup, ia melihat seorang jago persilatan yang masih muda dan tampan sedang dikerubuti oleh sipedang perak. pedang besi, dan pedang api.

Rasa dendam kesumat dan jiwa ksatrianya membuat Kim Thi sia segera menurunkan putri Kim huan keatas tanah, kemudian sambil membentak ia terjunkan diri pula kearena pertarungan- Sipedang perak mundur selangkah, begitu melihat siapa yang muncul, dengan wajah berubah hebat bentaknya: "Sute, mau apa kau datang kemari?"

"Hmmm^ siapa sih sutemu? Tak tahu malu" sahut Kim Thi sia ketus.

Sambil menghimpun tenaga dalamnya, tiba-tiba dia melepaskan sebuah pukulan yang maha dahsyat kearah sipedang besi So Bun pin-

Sejak mengetahui kehadiran Kim Thi sia bersama putri Kim huan, paras muka sipedang besi So Bun pin telah berubah menjadi amat tak sedap dilihat. Apalagi melihat datangnya serangan tersebut, ia segera mengayunkan pula telapak tangannya untuk melancarkan sebuah pukulan balasan-

Dua gulung tenaga pukulan yang amat hebat itu segera bertemu satu dengan lainnya. "Blaaaaarrrrr^. "

ditengah benturan keras, kedua belah pihak sama-sama tergetar mundur satu langkah kebelakang.

"Jangan lari, sambut sekali lagi pukulanku ini" bentak Kim Thi sia keras-keras.

Seraya berkata, ia mendesak maju kedepan dan secara beruntun melepaskan tiga buah pukulan berantai.

Berubah hebat paras muka sipedang besi So Bun pin, diam-diam pikirnya dengan perasaan kaget:

"Aduh celaka, agaknya bocah keparat ini berhasil melatih tenaga dalamnya."

Dalam waktu singkat dia meraskan tekanan yang amat berat dari lawannya, sehingga tak kuasa lagi tubuhnya tergetar mundur tiga langkah kebelakang.

Pedang api yang melihat gelagat tak menguntungkan segera maju kedepan sambil melepaskan sebuah bacokan kilat, tanyanya dengan gemas:

"Bocah keparat, kaukah Kim Thi sia, murid terakhir dari Malaikat pedang berbaju perlente?" cepat-cepat Kim Thi sia melepaskan sebuah pukulan dahsyat untuk menghalau serangan

pedang tersebut, sahutnya dingin:

"Benar, apakah kau ingin mencoba kepandaian maha sakti dari Malaikat pedang berbaju perlente?"

Diam-diam pedang api merasa terkesiap tapi api kegusarannya berkobar juga, bentaknya kemudian dengan geram:

"suheng, bocah keparat ini terkutuk. buat apa kita mesti bersungkan-sungkan lagi dengannya?"

Sembari berkata, pedang apinya dicukil sambil membabat, serangannya dilepaskan dengan cepat dan ganas.

Inilah jurus serangan " kerbau buas membuka gunung" dan " kerbau merah menginjak rumput" dari ilmu pedang kerbau hitam.

"Sute" kedengaran pedang perak berkata dengan suara dalam. "Aku sudah tidak mencampuri urusannya lagi, apa yang hendak kau perbuat, lakukanlah sekehendak hatimu."

Sambil berkata dia memutar telapak tangannya dan langsung mengancam jalan darah Hoat hiat, Hong wi dan Tay ki hiat ditubuh pemuda tampan itu.

Berkat bantuan dari Kim Thi sia, posisi dari pemuda tampan itu seketika berubah. Melihat datangnya serangan pedang yang ganas dari sipedang perak. dia tertawa nyaring setelah mundur setengah langkah sebuah pukulan diayunkan kemuka.

Betapa terkesiapnya pedang perak ketika serangannya yang baru mencapai setengah jalan dipaksa untuk berubah gerakan pikirnya: "orang bilang ilmu pukulan tanpa bayangan bisa membunuh korbannya tanpa wujud setelah menjumpai sendiri hari ini, terbukti kabar tersebut bukan kosong belaka. Nyatanya hanya mengandalkan sebuah jurus serangan dari ilmu pukulan tanpa bayangan aku sudah didesak sangat hebat. Hal ini membuktikan bahwa ilmu silatnya telah peroleh warisan langsung, aku tak boleh bertindak secara gegabah "

Berpikir sampai disitu, tiba-tiba saja tangannya digetarkan keras-keras sehingga berbunyi gemurutukan aneh, disusul kemudian dua kebasan kilatnya menimbulkan suara deruan angin dan guntur yang memekikkan telinga.

Rupanya dia telah mempergunakan ilmu guntingan pergelangan tangannya yang maha sakti.

Putri Kim huan tidak kuatir Kim Thi sia bertarung melawan siapa saja, sebab dia tahu pemuda tersebut memiliki ilmu silat yang maha sakti bahkan semakin bertarung makin kosen. Sambil tersenyum diapun berkata:

"Engkoh Thi sia, hari ini aku menyaksikan kepandaian silatmu yang sebenarnya"

Ucapan " engkoh Thi sia" yang dipergunakan dihadapan umum ini kontan saja membuat Kim Thi sia kegirangan setengah mati. otomatis tenaganyapun berlipat ganda, terutama dihadapan musuh cintanya, sipedang besi So Bun pin- Boleh dibilang ia telah menempati posisi yang sangat menguntungkan.

Sebaliknya sipedang besi yang terpikat oleh kecantikan wajah gadis tersebut menjadi tak terlukis rasa gusarnya, mencorong sinar tajam dari balik matanya.

Sebagai seorang manusia licik yang berakal busuk. dia tak mengemukakan amarahnya dengan begitu saja, sekuat tenaga dia mencoba untuk bersabar. Sementara sepasang telapak tangannya disilangkan kian kemari melepaskan rangkaian bunga pukulan yang segera menyelimuti seluruh tubuh musuh cintanya itu.

Kim Thi sia dengan jurus "menyulut api dibalik batu" begitu berhasil mendesak mundur sipedang api, dengan cepat dia memutar satu lingkaran lalu dengan mengeluarkan jurus "kecerdikan menguasahi seluruh jagad" dari ilmu Tay goan sinkang, ia berusaha melindungi keselamatan jiwa sendiri.

Sipedang besi So Bun pin semakin terkesiap lagi ketika serangannya yang begitu gencar tak berhasil menembusi pertahanan lawan, pikirnya tanpa sadar: "Hebat betul bocah keparat ini, jangan-jangan ia sudah menjadi Dewa."

Tiba-tiba terdengar putri Kim huan berseru sambil tertawa: "Engkoh Thi sia, pakaianmu sudah hampir copot. "

Kim Thi sia segera menundukkan kepalanya memeriksa betul juga, pakaiannya yang kotor lagi compang camping itu memang sudah hampir terlepas, kontan saja paras mukanya menjadi merah padam. cepat-cepat dia melepaskan dan membuangnya jauh-jauh.

Dengan bertelanjang dada dia melancarkan serangan kembali dengan jurus "Timbul cahaya dimimbar Buddha", selapis cahaya pukulan yang tebal menyerang jalan darah kematian sipedang api dengan gencar.

Pedang api membentak keras dengan memalukan pedangnya membentuk selapis cahaya pelangi. ia bacok bahu lawan dengan jurus "bacokan beruntun membunuh kerbau."

Siapa tahu belum sampai serangan mana mencapai pada sasarannya, tahu-tahu macam mana sudah terpental balik oleh semacam tenaga pantulan yang maha dahsyat. Kontan saja paras mukanya berubah hebat, tergopoh-gopoh dia melompat mundur kebelakang.

Sipedang besipun merasakan hatinya menjadi berat sesudah meny aksinya peristiwa ini. Ia tak berani berayal lagi, secara beruntun dua buah serangan berantai dilontarkan kedepan untuk mengisi kekosongan tersebut. Dengan begitu, maka posisi pertarunganpun berubah sama sekali, sipedang perak bertarung melawan pemuda tampan, sedangkan sipedang besi dan pedang api mengerubuti Kim Thi sia.

Pemuda berwajah tampan itu kelihatan berterima kasih sekali atas bantuan seorang pemuda asing yang membebaskan dirinya dari ancaman bahaya, menggunakan kesempatan ya ada ia segera berteriak keras: "cuangsu, boleh aku tahu siapa namamu?" Kim Thi sia tertawa terbahak- bahak.

"Haaah......haaaah........haaaah. sobat tak usah berniat membalas budi, aku bernama Kim

Thi sia."

Begitu mendengar nama tersebut, pemuda tampan itu kelihatan tertegun, gerak serangannya menjadi lamban- seketika itu juga ia terkena desakan sipedang perak hingga secara beruntun didesak mundur beberapa langkah kebelakang......

Kim Thi sia menjadi sangat keheranan setelah melihat peristiwa ini, tegurnya cepat: "Hey sobat, aku lihat pikiranmu bercabang apakah ada sesuatu yang tak beres?"

Sambil bertarung pemuda tampan itu mundur terus kebelakang, gumamnya berulang kali: "Bukankah dia......dia adalah orang yang dimaksud? Kim Thi sia. ternyata dialah nyinggung

manusia semacam ini.......mungkinkah. mungkinkah aku telah salah mendengar?"

Ia berusaha keras untuk mengendalikan pikiran yag mengerikan itu, dengan ilmu pukulan sakti tanpa bayangan dia mencoba mendesak sipedang perak untuk memperlunak serangannya, kemudian teriaknya lagi keras-keras: "cuangsu, bolehkah kutahu siapa namamu sekali lagi?"

"Aku bernama Kim Thi sia, Kim yang berarti emas, Thi yang berarti besi dan Sia yang berarti kota."

Berubah hebat paras muka pemuda tampan itu, teriaknya tertahan: "Sungguh tak kusangka, ternyata kaulah orangnya"

Mencorong dua buah sinar tajam yang menggidikkan hati dari balik matanya, dia memandang wajah Kim Thi sia lekat-lekat,

Kim Thi sia yang baru berhasil memukul mundur sipedang api menjadi tertegun dibuatnya, kembali dia menegur:

"sobat, kenalkah kau denganku? Aneh, mengapaaku justru tak kenali dirimu?"

Dengan pandangan dingin dan berat pemuda tampan itu melirik sekejap kearah lawan, namun posisinya menjadi bertambah runyam oleh gencetan sipedang perak yang menyerang secara bertubi-tubi.

Dalam keadaan kalang kabut tiba-tiba saja ia membentak keras dan mulai membuka serangan secara bersungguh-sungguh, untuk sementara waktu dia tak ambil perduli diri Kim Thi sia lagi.

"Hey bocah keparat" terdengar sipedang api membentak marah. "Rasain sebuah tusukanku"

Rupanya serangan dahsyat dari Kim Thi sia yang menggetarkan lengannya hingga linu dan kesemutan itu menimbulkan rasa gusar dan sifat buas sipedang api, dengan menghimpun dua belas bagian tenaga dalamnya ia lancarkan sebuah bacokan maut.

Selapis cahaya pelangi memancar keluar secara tiba-tiba membias diatas daun dan bebatuan menyusul cahaya tersebut bergema suara desingan hawa pedang yang menggetarkan sukma.

Kim Thi sia segera berpikir:

"Kematian suhu yang mengenaskan sudah terbukti dengan jelas duduk persoalannya. Apa yang mesti kusangsikan lagi?"

Berpikir begitu iapun meloloskan pedang Leng gwa kiamnya, maka hawa dingin yang menyayat badanpun memancar keempat penjuru dan membiaskan cahaya berkilauan sepanjang empat depa lebih. Dikala cahaya pelangi telah membabat datang, dia baru mengembangkan serangannya dengan jurus "Buddha memandangi pedang suci" dan "pedang menggetarkan Buddha agung" dari ilmu pedang panca Buddhanya. "Sreeeet.......sreeeet "

Ditengah desingan angin tajam yang menggetarkan sukma, cahaya hijau yang memancar keluar dari pedangnya seketika memancar dan menyelimuti seluruh cahaya pelangi yang dihasilkan oleh pedang sipedang api.

"Traaaaaangggg "

Benturan kedua bilah pedang tersebut seketika menimbulkan suara dentingan nyaring yang menusuk pendengaran.

Sipedang api segera merasakan tekanan yang meng gencar pedangnya makin lama semakin berat, kenyataan ini sangat mengejutkan hatinya, cepat dia melirik senjata sendiri, ternyata tubuh pedangnya telah gumpil sebesar biji beras.

Sebagai seorang jagoan persilatan yang berprinsip "pedang patah orangnya tewas", sipedang api menjadi terkesiap hatinya melihat kenyataan ini. Didalam waktu singkat paras mukanya berubah menjadi pucat pias, peluh dingin bercucuran membasahi wajahnya, entah perasaan terkejut atau pedih yang mencekam perasaan hatinya sekarang? Sementara itu putri Kim huan telah bergumam lirih:

"ooooh pedangku yang indah, tak lama kemudian kau akan berada kembali disampingku."

Sewaktu bergumam, wajahnya yang cantik dihiasi senyuman lembut penuh kebahagiaan, terutama disaat ia merasa gembira, terlihat sepasang lesung pipinya yang sangat menarik hati.

Sebaliknya pemuda tampan itu merasakan hatinya sangat berat bagaikan dibebani dengan besi berat gugamnya pula:

"Tak disangka diapun memiliki sebilah pedang yang bagus "

Sedang sipedang perak berpikir.

"Tahu begini, tidak seharusnya toa suheng serahkan pedang Leng gwat kiam itu kepada sam sute sehingga saat ini sikeparat itu bisa bergaya dengan sebebasnya."

Dalam pada itu sipedang So Bun pin telah menarik kembali sorot matanya dari wajah putri Kim huan kemudian bentaknya keras-keras:

"Hey keparat, apa sih hebatnya dengan pedang Leng gwat kiam? Lebih baik gorok sendiri lehermu untuk bunuh diri."

Dengan mengeluarkan ilmu pedang delapan dewa mabuk ia berjalan maju dengan langkah sempoyongan bagaikan orang yang kebanyakan minum. Begitu selisih jarak diantara mereka semakin dekat, tiba-tiba saja dia melancarkan sebuah cengkeraman maut kearah bahunya. 

Ilmu pedang delapan dewa mabuk ini merupakan hasil ciptaan si Malaikat pedang berbaju perlente disaat dia sedang mabuk. Sepintas lalu gerak geriknya kelihatan sangat kacau tak beraturan, padahal diam-diam menganding unsur jurus pembunuh yang mengerikan sekali.

Kim Thi sia tidak mengetahui akan kelihayan tersebut, melihat langkahnya sempoyongan macam orang mabuk. ia sama sekali tak memandang sebelah matapun atas gerak serangan lawan-

Mendadak bentaknya: "Enyah kau dari sini."

Telapak tangannya diayunkan kemuka dan mendorong kearah dadanya keras-keras.

Dengan suatu gerakan yang sangat cepat sipedang besi So Bun pin menarik kembali pergelangan tangannya disusul kemudian melakukan gerak mencengkeram kebawah.

Perubahan jurus ini dilakukan dengan cepat dan tepat, selain hebatpun ganas sekali. Mimpipun Kim Thi sia tak menyangka kalau seorang pemabuk ternyata memiliki akal licik sehebat ini, dalam waktu singkat iatak sempat lagi untuk menarik diri, pergelangan tangannya kontan terbabat secara telak.

Tak ampun lagi dia menjerit keras-keras dan melompat ketengah udara.

Sewaktu berada ditengah udara, lengannya sudah terasa linu dan kesemutan, sekarang ia baru menyesal karena kecerobohan sendiri hingga akibatnya dipecundangi oleh sipedang besi So Bun pin.

Sebagai orang jago kawakan yang sangat berpengalaman dalam pertempuran, sudah barang tentu sipedang besi So Bun pin tak akan menyia-nyiakan kesempatan yang sangat baik ini.

ia segera mendengus dingin, sebuah pukulan dengan tenaga serangan yang maha dahsyat langsung dilontarkan kedepan dengan kekuatan yang hebat dan ketajaman bagaikan sambaran gunting....

Kim Thi sia mencoba untuk menangkis, sayang lengannya sudah tak menurut perintah, untuk mengganti jurus tak sempat lagi, tak ampun tubuhnya termakan oleh serangan tersebut dengan telak.

"Plaaaaakkkk. "

Tubuhnya terpelanting keatas tanah dan tak mampu merangkak bangun kembali.

Tak terlukiskan rasa gembira sipedang besi, dia mendadak maju berapa langkah kedepan dan sambil mengerahkan tenaga yang dimilikinya ia lancarkan sebuah bacokan dahsyat.

Dalam keadaan kritis dan sangat berbahaya inilah, tiba-tiba putri Kim huan melompat bangun sambil membentak keras:

"So Bu pin, kalau merasa punya kepandaian ayoh bunuhlah aku"

Sipedang besi So Bun pin jadi tertegun tiba-tiba saja dia memahami arti sebenarnya dari ucapan tersebut. Rasa cemburupun seketika meluap dan menyelimuti perasaannya, sebuah pukulan dahsyat segera dilontarkan-

Putri Kim huan menjerit tertahan, dalam keputus asaan dia menutup matanya dengan kedua belah tangan, ia tak tega melihat kekasihnya dibunuh orang secara kejam.

Dalam detik yang singkat inilah ia merasa menyesal sekali, ia berpekik dihati kecilnya: "Mengapa aku tidak belajar silat sedari dulu?"

Yaa, andaikata dia pernah belajar silat kemungkinan besarjiwa kekasihnya dapat diselamatkan-

Dalampada itu, sipedang pera kpun telah menghentikan pertarungannya sambil menonton detik-detik yang menegangkan hati itu.

Tiba-tiba.......

Tampak sesosok bayangan abu-abu berkelebat lewat dari dalam hutan dan menerkam datang dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat, sebuah pukulan yang dilontarkan kearah sipedang besi memaksa jagoan pedang itu tergetar mundur sejauh dua langkah, menyusul kemudian sebuah tendangan kilat dilancarkan kearah jalan darah Tay ciong hiat ditubuh Kim Thi sia.

Suatu kejadian aneh tiba-tiba saja berlangsung, ketika Kim Thi sia yang berada dalam keadaan pingsan itu termakan oleh tendangannya yang berat, bukan saja lukanya tidak bertambah parah, sebaliknya dia malah berteriak keras dan segera melompat bangun. Tatkala sorot matanya dialihkan kewajah sipedang, tanpa terasa dia berseru tertahan: "Kau Nirmala nomor tujuh."

Mendengar seruan tersebut, sipedang perak. pedang besi, dan pedang api serentak mengalihkan sorot matanya kearah orang tersebut. Benar juga, diatas kepala orang itu mengenakan sebuah gelang emas yang merupakan pertanda khusus bagi Nirmala nomor satu hingga nomor sebelas. Sungguh tak disangka orang-orang dari Lembah Nirmala yang misterius bak sukma gentayangan itu kembali telah munculkan diri disini.

Setelah tertegun dan terkejut berapa saat sipedang perak segera membentak keras:

"Wahai orang-orang dari Lembah Nirmala, dengarkan baik-baik. Sam sute dan Sip sute telah tewas secara mengenaskan ditangan kalian- Kini setelah kalian datang kembali, jangan harap bisa pergi dengan selamat. Tunggu saja nanti, bila aku telah menlenyapkan keparat ini, akan kutantang dirimu untuk berduel mati-matian-" Nirmala nomor tujuh segera tertawa dingin.

"Heeeeh.....heeeeh........heeeeeh sejak tiga puluh tahun berselang aku si Nirmala nomor

tujuh sudah merupakan seorang hohan, memangnya aku mesti takut kepadamu?"

Dalam pada itu putri Kim huan seperti baru mendusin dari impian buruknya cepat-cepat dia lari kesisi Kim Thi sia dan bersandar diatas dadanya, lalu dengan air mata bercucuran karena gembira ia berkata sedih:

"Engkoh Thi sia, ketika melihat jiwamu terancam bahaya tadi, hatiku pedih bagaikan diiris-iris dengan pisau tajam. Waktu itu secara tiba-tiba aku merasa benci kepada diriku sendiri. Aku benci sebagai wanita lemah yang tak mampu membantumu. "

Walaupun beberapa patah kata yang singkat namun mengandung perasaan cinta yang mendalam.

Dengan perasaan jengkel sipedang besi melengos sambil mendengus sebaliknya pedang perak menunjukkan sikap tak senang hati.

Saat ini semua orang telah berhenti bertarung, perhatian mereka semua tertuju kepada mereka berdua.

Mendadak Nirmala nomor tujuh berbisik lirih disisi telinga Kim Thi sia: "Nak. aku tidak mengira kau telah mempunyai kekasih hati. "

Sesudah menghela napas panjang, kembali terusnya:

"Seandainya Hay jin sampai mengetahui persoalan ini dia tentu akan bersedih hati. Pernahkah kau pertimbangkan perasaan cinta yang tumbuh dalam hati kecilnya terhadapmu. ?"

"Apa?" Kim Thi sia amat terperanjat. Dengan cepat dia berpikir:

"Aku tak lebih cuma seorang bocah dungu yang miskin, dekil lagi jelek. atas apakah gadis cantik berbaju putih itu bisa menaruh hati kepadaku. ?"

Ia mencoba untuk melirik kearah putri Kim huan, untung gadis itu tidak memperhatikan dirinya.

Diam-diam hatinya sedikit merasa lega.

Terdengar Nirmala nomor tujuh berkata lagi:

"Kalau toh memang begitu, akupun tak dapat berbicara apa-apa, kuharap kau bisa memperoleh sebuah penyelesaian yang baik dan sempurna hingga kedua belah pihak sama-sama puas dan tidak melukai hatinya."

"Aku benar-benar tak pernah menyangka kalau dia. "

Tiba-tiba Kim Thi sia menghentikan perkataannya, sebab ia melihat sigadis cantik disampingnya mulai memperhatikan ucapan tersebut, mau tak mau dia mesti menghentikan perkataan itu agar tidak melukai hatinya.

Ia memang pernah membandingkan kedua orang gadis tersebut, namun kesimpulan yang diperoleh, kedua-duanya sama-sama cantik dan menawan hati hingga susah baginya untuk menentukan pihak manakah yang lebih dituju.

Mendadak Nirmala nomor tujuh melihat kehadiran sipemuda tampan yang kelihatannya hendak mengucapkan sesuatu tapi kemudian diurungkan itu perasaan hatinya bergetar keras. Dengan suara lirih ia segera berbisik kepada Kim Thi sia: "Tahukah kau akan asal usulnya?" "Siapa yang kau maksud?" Kim Thi sia balik bertanya dengan wajah tertegun. "Itu, sipemuda berwajah tampan."

"Yaa, akupun sedang merasa keheranan atas tindak tanduknya yang sangat aneh." ucap Kim Thi sia dengan perasaan tak habis mengerti. "Aku tidak mengetahui siapakah dia dan berasal dari mana, tapi buat apa kau menanyakan tentang persoalan ini?"

"Kalau begitu, aku perlu memberitahukan kepadamu cuma kuharap kau jangan membuat permusuhan dengannya, kau tahu pemuda itu tak lain adalah putra yang tunggal si Pukulan sakti tanpa bayangan dari Tiang pek san-"

"ooooh tak heran kalau ia segera menunjukkan sikap yang sangat aneh setelah kuberitahukan namaku tadi" kata Kim Thi sia seperti baru memahami akan persoalan itu."Rupanya Hay-jin telah memberitahukan tentang hubungan kami berdua kepadanya"

" Kemungkinan besar Hay jin sibocah perempuan yang berhati baik itu sudah menjalin hubungan yang sangat baik dengannya, meski akupun tidak mengetahui bagaimanakah tabiat orang tersebut, namun kuharap kau jangan bermusuhan dengannya hanya dikarenakan soal muda mudi, sebab kau toh sudah mempunyai kekasih hati"

"Yaa, perkataanmu memang benar" Kim Thi sia manggut- manggut. "Aku pasti akan menuruti semua perkataanmu itu."

"Nah, aku tak bisa menemanimu terlalu lama, aku harus segera berangkat ke Tiang Pek san karena suatu persoalan penting, kuharap kau baik-baik menjaga diri" kata Nirmala nomor tujuh pelan-

Tanpa sadar Kim Thi sia menggenggam tangannya erat-erat dan menjawab dengan perasaan tulus.

"Seandainya Dewi Nirmala telah tewas, apakah empekpun akan peroleh kembali kebebasan?" "Yaa benar."

"Kalau begitu akan kutantang perempuan itu untuk berduel disaat ilmu silatku telah berhasil nanti, akan kutuntut balaskan sakit hati empek."

"Anak baik, tidak sia-sia pengharapanku selama ini kepadamu. " sekulum senyuman ramah

tersungging diwajah Nirmala nomor tujuh itu, lalu sambil menepuk bahunya dia melanjutkan- "Nak. kunantikan selalu saat keberhasilanmu."

Setelah memandang sekejap kearahnya dengan perasaan berat, iapun berbisik pelan: "Sampai jumpa . "

Dengan suara gerakan cepat bak sambaran petir diangkasa, ia beranjak pergi dari situ dan lenyap dalam waktu singkat.

Melihat kepergian orang itu, sipedang perak segera mengumpat:

"Bangsat keparat bernyali tikus, kenapa kau tidak berduel dulu sebelum merat dari sini. "

Padahal dalam situasi seperti ini dia memang berharap Nirmala nomor tujuh bisa pergi dari situ secepatnya, jadi ucapannya sekarang tak lebih hanya bualan belaka.

Kim Thi sia menjadi tak senang hati setelah mendengar perkataan itu, cepat-cepat dia menjengek:

"Hey pedang perak. manusia macam apa dirimu itu. Hmmm^ berani amat kau mencemooh dia orang tua. Bila punya kemampuan ayoh cari saja diriku. "

Habis berkata dia membentak keras dan melancarkan dua buah pukulan yang maha dahsyat.

Berubah hebat paras muka sipedang perak. cepat-cepat dia mengayunkan pula telapak tangannya untuk menyambut datangnya ancaman tersebut. "Blaaaaammmmmm. "

Ketika dua gulung tenaga pukulan saling bertumpukkan satu dengan lainnya, terjadilah suara ledakan dahsyat yang mengakibatkan kedua orang itu sama-sama tergetar mundur satu langkah.

Dengan cepat sipedang perak dibuat terperanjat oleh kenyataan yang terbentang didepan mata, pikirnya:

"Aaaaah, tak kunyana kepesatan ilmu silat yang dimiliki bocah keparat ini diluar dugaan- Hmmm bila aku tidak membunuhnya sekarang juga, sudah pasti tiada kehidupan yang tenteram bagiku dikemudian hari. "

Berpikir sampai disitu, dia segera memberi tanda kepada sipedang api, sipedang api yang telah memahami maksudnya itu tiba-tiba saja ia melejit setinggi lima kaki lebih keudara dan pergi meninggalkan arena. Melihat itu, Kim Thi sia mengejek sambil tertawa dingin:

"IHeeeh.....heeeh.....heeeh aku Kim Thi sia adalah seorang lelaki sejati. Hmmm, kau anggap

aku takut melihatmu pergi mencari bala bantuan?"

Sambil mengayunkan sepasang telapak tangannya, denganjurus "kelincahan menguasahi empat samudra" dan "mati hidup ditangan nasib" dari ilmu Tay goan sinkang. Dia melepaskan serangan disertai guntur kearah sipedang perak.

Pedang perak sangat gusar, dengan jurus "kepiting raksasa menjepit ketungging" dari ilmu guntingan tangan, ia melepaskan sebuah bacokan maut kebawah sementara kakinya melancarkan dua buah tendangan berantai.

Tapi secara mendadak saja ia merasa terpengaruh oleh bunga pukulan yang dipancarkan Kim Thi sia, tanpa disadari gerak serangannya terhenti sama sekali.

Baru saja telapak tangan Kim Thi sia hendak menggempur dadanya sipedang besi yang berada dibelakang punggungnya telah melepaskan sebuah bacokan kilat.

Kim Thi sia sama sekali tidak gentar, sekalipun dia harus menghadapi dua orang musuh sekaligus, bersamaan waktunya telapak tangan kirinya ditarik sambil merubah jurus serangannya dari gerakan "mati hidup ditangan nasib" menjadi jurus "kepercayaan menguasahi jagad."

Dengan membawa segulung tenaga serangan yang sangat kuat, serangan tersebut menggempur tubuh sipedang besi.

Dibawah cahaya rembulan yang redup, ditengah lapangan yang sepi berkobarlah suatu pertarungan yang amat seru antara sesama saudara seperguruan itu.

Sementara itu putri Kim huan telah menemukan suatu peristiwa lain yang menimbulkan perasaan amat terkejut baginya.

Ternyata dari balik hutan yang sangat lebat telah muncul seorang gadis cantik berbaju putih.

Gadis itu mempunyai hidung yang mancung, bibir yang mungil, kulit badan yang putih bersih dengan keayuan yang betul-betul sangat menawan hati.

Mimpipun ia tak pernah menyangka kalau didaratan Tionggoan terdapat seorang gadis secantik itu, putri Kim huan merasa tercengang, hampir saja sorot matanya tak beralih lagi dari mukanya.

Disaat gadis cantik itu merasa ada orang sedang memperhatikannya, ia segera berpaling dan balas menatap orang tersebut.

Dalam waktu sekejap. diapun dibuat tertegun sebab kecantikan wajah orang ini pun bak bidadari dari khayangan-

Kedua orang gadis cantik itu segera terbuai dalam jalan pemikiran sendiri-sendiri. Meski tidak berbicara namun masing-masing telah tercekam oleh jalan pikiran mereka sendiri.

Suara pertarungan dan bentakan yang berlangsung diluar arena seperti tidak dirasakan lagi oleh kedua belah pihak. mereka masih saling bertatapan muka, saling memandang d engan jalan pikiran sendiri-sendiri. Agaknya pemuda tampan itu merasa tak senang hati melihat kemunculan gadis cantik berbaju putih itu, segera tegurnya:

"Hay jin, tempat ini berbahaya sekali, lebih baik kau cepat menghindar."

Ketika seruan tersebut tertangkap oleh Kim Thi sia, bagaikan disambar guntur yang sangat keras, cepat-cepat dia melepaskan dua serangan gencar kemudian melirik sekejap kesamping. Benar juga, dia saksikan gadis cantik itu telah muncul dibawah sinar rembulan-

Dengan cepatnya pula dia membayangkan kembali sifat sipedang perak sekalian yang gemar bermain perempuan, sekarang ia dapat menyimpulkan, bentrokan yang terjadi antara orang-orang itu dengan sipemuda tampan tersebut, antara lain sembilan puluh persen disebabkan gadis cantik berbaju putih itu.

Sementara itu sinona berbaju putih itu belum mengetahui akan kehadirannya, dengan mulut cemberut kedengaran ia berseru:

"IHmmm, didalam situ sangat panas dan sumpek, apakah aku tak boleh keluar untuk berganti udara segar?"

"Tentu saja boleh" jawab pemuda tampan itu cepat-cepat. "Tapi kau mesti tahu, bahaya maut mengancam dari empat penjuru. Bila kau bertindak kurang hati-hati bisa menyesal sepanjang masa."

Sewaktu berbicara, wajahnya menunjukkan sikap apa boleh buat. Gadis cantik berbaju putih itu segera berkata lagi:

"Coba  kau  lihat,  cici  inipun  tak   takut   bahaya,   kenapa   aku   mesti   takut?" "Aaaaai mengapa sih kau tak mau menuruti perkataanku?" keluh sang pemuda tampan

itu sambil menghentak-hentakkan kakinya berulang kali. "Bila nanti sampai terjadi sesuatu yang membahayakan jiwamu, kau baru tau rasa. "

Kemudian sambil menuding kearah sipedang perak dan pedang besi, lanjutnya:

"Kau masih belum dapat membedakan mana orang baik dan mana orang jahatJangan dilihat dandanan mereka rapi dan menarik. padahal kedua orang itu adalah hidung bangor yang gemar bermain perempuan-"

Paras muka dua orang nona itu seketika berubah memerah. Diam-diam putri Kim huan meludah, pikirnya:

"orang lelaki memang paling jahat, terang-terangan ia kuatir kekasihnya direbut orang lain, tapi ia justru menuduh orang sebagai hidung bangor yang suka bermain perempuan-"

Entah mengapa, tiba-tiba saja diapun ikut merasa tegang, pikirnya lebih lanjut:

"Wajahnya cantik jelita bak bidadari dari kahyangan, seandainya engkoh Thi sia melihatnya, mungkinkah "

Semakin dipikir perasaan hatinya makin tak tenang, ketika ia mencoba berpaling tampak Kim Thi sia sedang bertarung seru melawan sipedang perak dan pedang besi. Setiap serangan yang mereka lancarkan selalu membawa deruan angin dan guntur yang mengerikan hati.

Jelas kedua belah pihak sama-sama telah mengerahkan seluruh kemampuan yang dimilikinya untuk meraih kemenangan-

Mendadak terdengar pemuda tampan itu berkata dengan suara rendah:

"coba lihatlah Hay jin, gadis cantik bak bidadari itu adalah kekasih hati Kim Thi sia. Apakah kau bermaksud untuk membicarakan masalah Kim Thi sia dengannya?"

"Benarkah itu?" tanya sigadis berbaju putih itu tertegun- "Bila kau tak percaya, Kim Thi sia toh berada disini. Kau dapat segera membuktikan akan kebenaran itu."

Gadis cantik berbaju putih itu mengerdipkan sepasang matanya yang bulat besar dengan cepat ia telah menemukan kehadiran Kim Thi sia.

Dalam waktu singkat ia seperti terkena teluh, bagaikan orang tak sadar, tubuhnya maju beberapa langkah kemuka tanpa terasa.

Tapi ia segera menghentikan langkahnya ditengah jalan, dengan suara pelan gumamnya: "Sungguh tak kusangka......benar-benar tak kukira. ternyata ia sudah mempunyai kekasih

hati secantik itu. buat apa aku mencarinya lagi."

Ucapan tersebut lebih tepat kalau dibilang rintihan, sebab bersama dengan selesainya perkataan itu, titik air mata jatuh berlinang membasahi wajahnya.

Tiba-tiba saja Kim Thi sia merasakan perasaannya yang tak tenang, seketika itu juga ia didesak mundur berulang kali oleh sipedang perak dan pedang besi.

Putri Kim huan yang amat menguatirkan keselamatan jiwa kekasihnya, tanpa sadar melangkah maju berapa tindak kemuka.

Rupanya pemuda itupun telah mengetahui akan kehadiran gadis cantik berbaju putih itu, terutama sekali disaat gadis tersbeut menghampirinya dengan langkah tergesa-gesa perasaan hatinya kontan saja bergolak sangat hebat.

Apalagi dikala ia melihat gadis tersebut berhenti ditengah jalan, ia segera menemukan sesuatu yang tak beres, kontan saja perasaannya menjadi amat berat.

Dalam keadaan begini untuk mengendalikan perasaan sendiri, selama ini dia selalu mengutamakan putri Kim huan. Namun setelah bertemu dengan gadis cantik berbaju putih itu, tanpa terasa kenangan manis selama di Lembah Nirmala terlintas kembali didalam benaknya.

Maka dalam keadaan pikiran dan perasaan yang tak tenang, kemampuan ilmu silatnya menjadi bertambah lemah, tak mampu posisinyapun semakin terdesak hebat.

Sebagai seorang pemuda yang kasar diluar cermat didalam, seketika memahami pula apa sebabnya pemuda tersebut tidak bersedia menolongnya setelah menunjukkan perasaan kaget tadi.

Sebagai seorang manusia luar biasa tentu saja dia tak butuh bantuan orang lain, akan tetapi akal licik pemuda tampan itu sangat menyakitkan hatinya. Diam-diam ia berpikir:

"Demi menyelamatkan jiwamu, aku tak segan-segan bentrok sendiri dengan abang seperguruanku. Siapa tahu, gara-gara seorang wanita, kau justru menunjukkan kemunafikanmu. hmmmm. Bukankah niat baikku selama ini hanya sia-sia belaka."

Akhirnya gadis cantik berbaju putih itu berjalan menghampiri pemuda tampan tersebut seraya berkata:

"Mari kita anggap saja dia sebagai orang asing. "

Tak terlukis rasa sakit hati Kim This ia sesudah mendengar perkataan itu pikirnya cepat: "Dalam soal bercinta, memang kita tak bisa terlalu memaksa. Sekalipun kau tak bersedia

memberi cinta kasih muda mudi kepadaku, toh hubungan persahabatan masih bisa dijalin- "

Mendadak........

Tampak sesosok bayangan abu-abu melayang datang seraya membentak: "Bajingan busuk. kalau memang bernyali ayoh jangan kabur"

Sepasang kepalannya diayunkan berulang kali menghantam tubuh Kim Thi sia dengan mengerahkan tenaga pukulan yang maha dahsyat. Sejak pikirannya bercabang tadi, Kim Thi sia sudah didesak hebat oleh sipedang perak dan pedang besi hingga susah melindungi diri, apalagi memperoleh gempuran dari orang tersebut, posisinya benar-benar amat kritis dan berbahaya.

Dengan menggunakan jurus "Api muncul dibalik batu" dari ilmu pukulan panca Buddha. Dia memukul mundur sipedang perak. kemudian dengan menggunakan serangan "cahaya Buddha memantulkan surya" dia sambut datangnya serangan pedang dari serangan sipedang besi.

Menyusul kemudian, sambil mengerahkan tenaganya dia mendesak kedepan dan-

......."Duuuuukkk" ternyata dia menyambut datangnya serangan pendatang tersebut dengan menggunakan bahunya.

Ternyata sipedang itu memiliki posisi kuda-kuda yang sangat mantap bagaikan sebuah bukit karang, tubuhnya sama sekali tak bergeser dari tempat semula.

Sebaliknya Kim Thi sia tak mampu menahan diri lagi, ia roboh terjengkang kesamping dengan sempoyongan-

Pedang perak segera manfaatkan kesempatan itu untuk melancarkan sebuah pukulan maut, tapi sebelum tindakan tersebut dilakukan tiba-tiba terdengar seseorang membentak keras: "Sute jangan tergesa-gesa, aku datang"

Tampak tiga sosok bayangan hitam berkelebat datang dengan kecepatan luar biasa, sebagai orang pertama adalah seorang manusia berkerudung hijau.