Lembah Nirmala Jilid 34

 
Jilid 34

Memandang bayangan punggungnya yang menjauh dan mengenang kembali suara pembicaraannya yang memilukan hati, merasa hatinya pedih hingga tanpa sadar titik air mata jatuh bercucuran.

Saat ini dia merasakan hawa murni yang bergolak dalam tubuhnya telah menambah kekuatannya berlipat ganda, ia sadar Nirmala nomor tujuh tak segan-segan mengorbankan tenaga dalam hasil latihannya selama puluhan tahun untuk menolong dan membantunya. Budi kebaikan setinggi bukit ini membuat pemuda kita merasa makin terharu.

Perlahan ia merangkak naik keatas daratan lalu memandang sekejap sekeliling tempat itu, lampu dalam gedung emas telah lama padam. Jelas Dewi Nirmala menganggap dia benar-benar telah mati tenggelam didasar kolam.

Pelan-pelan dia menelususri jalan setapak ditepi kolam berangkat menuju kearah timur.

Diujung timur sana terdapat tebing curam yang menjulang tinggi keangkasa. Batu karang yang tajam berserakan dimana-mana dan amat sulit didaki.

Namun Kim Thi sia tidakputus asa, sambil menggertak gigi dia berusaha dengan sekuat tenaga mendaki keatas.

Dengan watak kerbaunya yang keras kepala dan pantang mundur, pemuda itu tak rela menyerah dengan begitu saja semakin susah berjalan, semakin bersemangat dia berusaha untuk menanggulanginya.

Akhirnya dengan napas tersengal-sengal ia berhasil juga mencapai puncak bukit itu.

Sesudah beristirahat sejenak. pemuda itu melanjutkan kembali perjalanannya menelusuri jalan setapak. Berapa li kemudian sampailah dia ditepi jalan raya yang amat lebar.

Rasa gembira yang meluap-luap membuat tubuhnya yang lelah tak tertahan lagi, dia terjatuh ditepi jalan dan tertidur amat nyenyak.

Entah berapa saat sudah lewat, dia baru tersadar dari tidurnya ketika sebuah tangan yang berbulu muncul dihadapan matanya.

Dengan perasaan amat kaget ia segera melompat bangun dari atas tanah.

Ternyata benda berbulu itu tak lain adalah seekor anjing liar, sewaktu melihat pemuda itu terjaga dari tidurnya, binatang itu segera melarikan diri terbirit-birit. Kim Thi sia segera berpikir:

"Sialan benar binatang itu, aku sampai terperanjat setengah mati. aku mesti memberi

pelajaran yang setimpal kepadanya."

Dengan perasaan sangat menolongkol dia memburu maju kedepan dan melepaskan sebuah pukulan-

Selisih jarak antara kedua belah pihak mencapai dua kaki lebih, tapi begitu angin serangan tersebut menyambar lewat, tiba-tiba anjing itu mengaing kesakitan dan roboh terkapar diatas tanah.

Sewaktu diperiksa, ternyata anjing itu sudah tewas dalam keadaan sangat mengerikan- Kemampuannya itu tentu saja sangat mengejutkan hatinya, bukan saja ia menemukan tenaga dalamnya telah pulih kembali, malah jauh lebih sempurna dibandingkan sebelum pertarungannya melawan Dewi Nirmala di Lembah Nirmala tadi.

"Aneh betul" tanpa terasa ia berpikir. "Bukan saja isi perutku tidak terluka, sebaliknya kekuatanku malah berlipat ganda, sebenarnya apa yang telah terjadi?"

Sampai lama sekali ia mencoba memecahkan persoalan tersebut, namun tak berhasil menemukan sebab-sebabnya.

Ia hanya teringat sewaktu pertarungan yang sengit semalam, ia telah mengeluarkan ilmu ciat khi mi khi kemudian ilmu ciat khi mi khi nya kehilangan kasiat, membuat dia amat kecewa. Siapa tahu bukan saja ilmu sakti tersebut sama sekali tak kehilangan kasiatnya, malahan semakin meningkatkan kemampuan tenaga dalamnya. Hal inilah yang sama sekali diluar dugaan-

Begitulah, ditengah pancaran sinar sang surya yang terang benderang, pemuda itu meneruskan perjalanannya menuju keselatan-sepanjang jalan, dia mulai berpikir:

"Pedang tembaga dan pedang bintang telah tewas, ini berarti aku harus mempercepat usahaku untuk membalaskan dendam sakit hati guruku. Kalau sampai didahului Dewi Nirmala, sudah pasti kejadian ini merupakan suatu peristiwa yang sangat tidak menggembirakan-"

Berpikir sampai disitu, hawa darah panas dalam dadanya serasa bergolak keras, dia ingin secepatnya tiba disarang sembilan pedang dari dunia persilatan dan mengendalikan kepandaian silat yang dimilikinya untuk membalaskan dendam sakit hati gurunya.

Lambat laun senjapun menjelang, kegelapan mulai mencekam kembali seluruh jagad saat itu dia telah tiba disebuah tanah perbukitan yang jauh dari rumah penduduk.

Sementara dia menelusuri pepohonan yang lebat, mendadak dari depan sana bergema datang suara langkah kaki manusia yang ringan- Ketika berpaling, dia menyaksikan ada tiga sosok manusia sedang berjalan mendekat.

Berapa saat kemudian, ia telah melihat dengan jelas raut wajah pendatang itu, kontan hatinya merasa amat terperanjat.

Rupanya dari ketiga orang itu, seorang diantaranya adalah seorang gadis yang cantik jelita, gadis itu tak lain adalah putri Kim huan yang sangat dikenalnya.

"Aaaaai kalau sudah bermusuhan, dunia terasa begitu smepit, tempo hari aku pernah

menjengkelkan hatinya dengan meninggalkan surat kali ini dia tak akan berpeluk tangan belaka."

Ia berusaha menundukkan kepalanya rendah-rendah, akan tetapi putri Kim huan telah mengetahui kehadirannya, sewaktu melihat pemuda itu berambut kusut dan berdandan seperti seorang pengemis, gadis itu nampak tertegun dan menghentikan langkahnya.

Berbicara sejujurnya, Kim Thi sia memang menaruh perasaan kagum terhadap gadis ini, tapi benaknya selalu dipenuhi dengan perkataan yang pernah diucapkan gadis tersebut. "Aku hendak membunuhnya. " ucapan itu membuat rasa rendah diri menyelimuti benaknya, membuat ia

berusaha menekan rasa kagumnya dan selalu menganggap gadis itu bagaikan musuh besarnya.

Terlebih-lebih setelah dia melihat disisi gadis itu muncul seorang pendamping lain, sekalipun pendampingnya hanya seorang pemuda berwajah jelek. namun hal mana cukup menyedihkan hatinya.

Ia melihat juga sikakek berambut kuning yang berjalan disamping pemuda jelek itu, meski dia tak kenal dengan kakek itu namun dandanannya yang aneh membuat pemuda tersebut segera mendengus.

Sementara putri Kim huan masih berdiri termangu- mangu dengan langkah lebar Kim Thi sia berjalan menghampirinya seraya menegur: "Selamat bersua."

"Siapa kau?" bentak pemuda jelek itu sambil maju kedepan dan menghadang didepan gadis tersebut.

Kim Thi sia mengira pemuda itu adalah kekasih putri Kim huan, ia sangat mendongkol dan sama sekali tidak menggubrisnya. Kembali kepada gadis tersebut dia berseru: "cepat serahkan uang kepadaku, aku butuh pakaian baru." Putri Kim huan manggut-manggut, kepada pemuda jelek itu dia berseru: "Kau menyingkirlah dulu."

Kemudian tanpa menunggu jawaban dari pemuda jelek itu, ia maju kedepan menghampiri Kim Thi sia.

Bertemu dengan pemuda itu, sinona seperti melupakan segala sesuatunya, sambil tertawa lembut ia bertanya: "Berapa tahil yang kau butuhkan?" "Aku hanya membutuhkan dua tiga tahil perak saja" sahut Kim Thi sia sambil mengulurkan tangannya kemuka.

"Aaaah, dua tiga tahil kelewat sedikit, tak bakal cukup untuk membeli apa-apa. Biar kuberi tiga puluh tahil perak saja."

Sambil berkata ia mengambil sekeping uang perak dari sakunya dan segera disodorkan kedepan-

"Terima kasih" kata Kim Thi sia sambil menerimanya.

setelah mundur setengah langkah, tiba-tiba dia berseru lagi dengan kening berkerut: "Nampaknya kau anggap aku pengemis yang minta sedekah? IHmmmm, kalau begitu aku tak

sudi menerima sedekahmu itu"

Habis berkata ia segera membanting uang itu keatas tanah danpergi meninggalkan tempat itu.

Putri Kim huan nampak agak tertegun, lalu sambil memburu maju kedepan serunya: "Apakah kau tak butuh pakaian baru?"

"Sebenarnya aku ingin meminjam tiga puluh tahil perak darimu untuk membeli pakaian, siapa tahu kau tunjukkan sikap seakan-akan memberi sedekah kepada pengemis, sekali beri tiga puluh tahil. Hmmm, kau anggap aku ini tamak akan harta? Terus terang saja aku bilang, aku sih tidak butuh dengan uangmu itu."

"Aku toh tidak bermaksud begitu, kau benar-benar pandai membolak balikkan duduknya persoalan- aaaah. Bagaimana kalau kau sampai tak bisa makan nanti?"

Sebenarnya Kim Thi sia berniat tak akan menggubris, tapi setelah mendengar perkataan itu, bagaikan ditusuk dengan jarum tajam, ia melompat dan sahutnya keras-keras: "Tak usah kuatir, sekalipun toaya bakal mati kelaparan, tak akan kucari dirimu lagi."

Pelan-pelan putri Kim huan memejamkan matanya rapat-rapat, dia merasa amat bersedih hati, coba kalau disekelilingnya tak ada orang lain, niscaya dia akan menangis sejadi-jadinya.

Mendadak pemuda jelek itu bertanya: "Hey, siapa sih orang itu?" Putri Kim huan berpaling, lalu jawabnya: "Kim Thi sia"

"Kim Thi sia.......? Kim Thi sia. ?" gumam pemuda jelek itu berapa kali,

tiba-tiba ia berteriak keras. "Aaaai, dialah orangnya bocah keparat, sudah lama aku mencarimu.

Beruntung sekali kita dapat bersua muka ditempat ini."

Dengan suatu gerakan amat cepat dia meluncur kedepan, menyusul kemudian sepasang telapak tangannya direntangkan dan secara beruntun melepaskan dua buah pukulan berantai.

Ketika merasakan datangnya desungan angin tajam dari belakang tubuhnya, dengan suatu gerakan cepat Kim Thi sia membalikkan tubuhnya, ia menjadi gusar sekali setelah melihat pemuda jelek itu sedang menyerangnya secara garang dan buas.

Tanpa berpikir panjang lagi, diapun mengayunkan telapak tangannya melepaskan sebuah pukulan dahsyat.

Suara benturan keras bergema memecahkan keheningan, ketika dua gulung tenaga dahsyat itu saling beradu, kedua belah pihak sama-sama tergetar mundur satu langkah.

Semenjak tenaga dalamnya peroleh kemajuan yang amat pesat, Kim Thi sia belum sempat mencari sasaran untuk mencoba kemampuannya itu, maka didalam gusarnya sekarang, tanpa banyak bicara lagi ia melepaskan tiga buah serangan berantai secara beruntun.

Tampaknya pemuda jelek itu tak pernah menyangka kalau seorang pengemis memiliki tenaga dalam yang begitu hebatnya, diam-diam ia terkesiap dibuatnya dan tak berani lagi melancarkan serangan secara sembarangan- Pada saat itulah tiga gulung tenaga pukulan Kim Thi sia yang maha dahsyat telah menggulung tiba dengan kecepatan luar biasa.

Dengan suatu gerakan cepat pemuda jelek itu mengayunkan pula telapak tangannya untuk menyambut datangnya ancaman tersebut. Seketika itu juga ia merasakan pukulan yang menyergap datang makin lama makin bertambah hebat, paras mukanya kontan berubah hebat, tak kuasa tubuhnya mundur pula tiga langkah kebelakang.

Baru pertama kali ini Kim Thi sia berhasil memukul mundur musuhnya dengan tenaga kekuatan angin pukulannya, dalam luapan rasa gembiranya pun dia makin bersemangat kembali dia maju kemuka sambil melepaskan tiga buah pukulan berantai lagi.

Pemuda jelek itu segera sadar bahwa kemampuannya bukan tandingan lawan, tetapi dia malu dengan putri Kim huan bila harus menyerah dengan begitu saja, maka dengan nekad ia menggigit bibirnya kencang-kencang dan menyambut setiap serangan musuh dengan keras melawan keras.

Tiga kali benturan keras bergema memecahkan keheningan. Kim Thi sia tetap berdiri tegak diposisinya semula, sedangkan pemuda jelek itu mundur berulang kali kebelakang dengan keadaan kepayahan-

Kim Thi sia memang berhasrat mengalahkan musuhnya secara tragis, ia tertawa melihat sang korban mundur terus, ia tetawa keras dan mendesak maju kedepan, tiba-tiba dia melepaskan sebuah pukulan dahsyat dengan jurus "kecerdikan menguasahi jagad" dari ilmu Tay goan sinkang.

Terkejut bercampur ngeri mencekam perasaan pemuda jelek itu, dia ingin mengerahkan seluruh kekuatan tubuhnya untuk beradu jiwa, tapi disaat yang kritis itu menyelinap masuk dari sisi arena dan tanpa mengucapkan sepatah katapun melepaskan segulung pukulan yang maha dahsyat.

Begitu dua kekuatan saling bertemu, Kim Thi sia terseret oleh segulung tenaga lembek yang amat kuat hingga tergeser kesamping dan tak mampu berdiri tegak. tubuhnya mundur selangkah kebelakang.

Berada dalam keadaan begini, pemuda tersebut segera berpikir cepat:

"Manusia sebangsa Dewi nirmala pun berani kuhajar, apalagi hanya seorang tosu tua berambut kuning macam kau. Hmmm, hari ini aku mesti menghajarnya habis-habisan."

Dengan semangat yang berkobar-kobar ia segera mendongakkan dan berpekik nyaring, jurus kedua dari ilmu Tay goan sinkang yaitu "kelincahan menyelimuti empat samudra" kembali dilontarkan-

Dalam waktu singkat angin dan guntur menggelegar, segulung kekuatan maha dahsyat menyambar kedepan dan menyapu segala sesuatu yang dijumpai.....

Didalam serangannya kali ini dia telah pergunakan tenaga dalamnya sebesar sembilan bagian, tentu saja kekuatan yang dihasilkan luar biasa sekali.

Tosu tua berambut kuning itu sangat terkesiap. ia tak berani bertindak gegabah dan buru-buru mengayunkan serangan tersebut dengan keras melawan keras. Tanpa menimbulkan suara kedua belah pihak telah saling beradu pukulan satu kali.

Kim Thi sia tetap berdiri tak bergerak. hawa napas mengepul dari jidatnya dan menyebar kemana-mana, rupanya kedua belah pihak telah saling beradu tenaga dalam tingkat tinggi.

Sementara itu tosu tua berambut kuning itu sedang berpikir dengan perasaan terkejut.

" Entah ilmu pukulan apakah yang dipergunakan bocah muda ini, sungguh lihay dan luar biasa sekali. coba aku tidak mundur secepatnya, sudah pasti akan menderita kekalahan ditangannya.

Waaa h....... rupanya ilmu khikang kepiting saljuku tak akan mampu menandinginya "

Belum habis ingatan tersebut melintas lewat, Kim Thi sia telah melancarkan serangan berikut. Jurus "mati hidup ditangan nasib" yang dilancarkan kali ini nampaknya sederhana tanpa suatu yang luar biasa, yang nampak pun cuma gerakan telapak tangan yang berputar tapi serangan hawa khikang kepiting salju yang dipancarkan tosu tua berambut kuning itu seketika terbelenggu dan terkurung oleh tenaga lawan-

Kejadian tersebut amat mengejutkan hati tosu tua yang berambut kuning itu,

kendatipun ia sudah begitu cukup berpengalaman didalam menghadapi pertarungan namun kali ini, ia gagal untuk menduga arah manakah serangan musuh akan tiba.

Dalam keadaan begitu, terpaksa dia menarik kembali serangannya secara tergesa-gesa dan melompat mundur kebelakang.

"Hendak kabur kemana kau?" Kim Thi sia membentak keras.

Mendadak jurus "mati hidup ditangan nasib" nya berubah arah sasaran, lengannya diputar kencang menjangkau dada lawan, kemudian menggunakan kesempatan disaat musuh gelagapan, kaki kirinya melancarkan sebuah sapuan kilat.

Jurus serangan ini merupakan hasil ciptaan-nya sendiri yang dikombonasikan dengan ilmu Tay goan sinkang.

Tentu saja sitosu tua berambut kuning itu tidak menyangka kalau musuhnya memiliki perubahan jurus yang begitu banyak. Sedikit dia kurang berhati-hati, kakinya segera tersipu telak dan tak ampun lagi tubuhnya roboh terjungkal keatas tanah.

Kim Thi sia memutar badannya dengan ujung kaki sebagai as, tiba-tiba dia menyerang dengan jurus keempat dari ilmu Tay goan sinkang yakni gerakan "kejujuran menghancurkan batu emas".

Sitosu tua berambut kuning itu seketika merasakan selapis jaring hitam menyelimuti batok kepalanya dan sulit baginya untuk meloloskan dirinya kembali.

Belum hilang perasaan ngeri yang mencekam perasaan hatinya, serangan yang maha dahsyat itu telah menghantam ubun-ubunnya membuat orang itu tewas seketika.

Putri Kim huan sebagai seorang gadis yang bernyali kecil, buru-buru menutupi mukanya dengan ujung baju dan tak berani menonton adegan seram ini.

Sebaliknya pemuda jelek itu mengawasi mayat gurunya yang terkapar dengan wajah termangu- mangu, gumamnya: "Aaaaah, sudah tewas, sudah tewas."

Mendadak dia mengalihkan sorot matanya yang tajam menyeramkan itu kewajah putri Kim huan, lalu serunya lagi dengan penuh kebencian: "Aaaah, kau lah penyebab dari segala sesuatunya ini."

Hawa napsu membunuh seketika berkobar dalam dadanya, menggunakan kesempatan disaat Kim Thi sia tidak menaruh perhatian, tiba-tiba ia melesat kedepan dan mengayunkan telapak tangannya menghantam tubuh putri Kim huan-

Mimpipun putri Kim huan tak mengira akan kejadian tersebut, ia menjadi bergidik ketika hawa dingin yang menusuk tulang tahu-tahu menyusup ketubuhnya. "ooooh, dingin amat " keluhnya

lirih.

Mendengar keluhan tersebut Kim Thi sia segera berpaling, begitu dilihatnya pemuda jelek itu sedang mengayunkan telapak tangannya menerkam gadis tersebut dan seolah-olah berhasrat untuk membinasakan dirinya, ia segera membentak nyaring, dengan menghimpun tenaga Tay goan sinkangnya hingga mencapai sepuluh bagian, dia melepaskan sebuah pukulan dahsyat kedepan-

Waktu itu telapak tangan pemuda jelek itu sudah menempel dibagian mematikan dari putri Kim huan dan baru saja hendak memuntahkan tenaga dalamnya untuk membunuh gadis tersebut.

Mimpipun dia tak mengira kalau secara tiba-tiba akan muncul segulung tenaga serangan yang begitu dahsyat dari belakang tubuhnya. Berada dalam keadaan begini, terpaksa dia harus menghentikan serangannya untuk menyambut datangnya ancaman tersebut. "Duuuukkkk "

Tahu-tahu saja badannya seperti kena dihantam oleh martil yang sangat berat, pandangan matanya terasa gelap. tenggorokkannya terasa manis dan ia memuntahkan darah segar, tubuhnya langsung roboh terjerembab keatas tanah.

Ketika Kim Thi sia memburu kedepan dan memeriksa dengusan napasnya, dia temukan musuhnya telah menemui ajalnya.

Kematian mereka antara guru dan murid yang beruntun membuat Kim Thi sia tersadar. Kembali dari luapan emosinya, tiba-tiba saja dia merasa tindakannya kelewat keji. Namun nasi telah menjadi bubur menyesalpun tak ada gunanya.

Pelan-pelan dia mendongakkan kepala dan memandang sekejap kearah gadis tersebut. ia temui paras muka nona itu pucat pias bagaikan mayat, mukanya sangat menderita sekali.

Baru saja dia ingin bertanya, "Apakah kau terluka?" mendadak putri Kim huan telah membungkukkan badannya dengan menggigit bibir serta merintih tiada hentinya. Dengan perasaan terkejut pemuda itu segera menegur:

"IHey, apakah kau sudah terbokong oleh nya?J angan sembarangan bergerak. aku akan mencarikan tabib bagimu. "

Belum sempat dia melangkah pergi dari situ, putri Kim huan telah bangkit berdiri seraya menyambut:

"Aku tidak apa-apa, hanya tubuhku merasa agak kedinginan-" Kemudian sambil menatap sekejap kearah Kim Thi sia, kembali berkata: "Bagaimana kalau kita menempuh perjalanan bersama-sama?"

Kim Thi sia merasakan suasana yang aneh sekali, tapi sebelum dia sempat berbicara, putri Kim huan telah beranjak menghampirinya namun belum beberapa langkah tubuhnya kembali telah menggigil keras. Menyaksikan hal ini, Kim Thi sia segera berpikir:

"Aduh celaka, rupanya dia telah terkena pukulan hawa dingin yang amat beracun "

Belum habis ingatan tersebut melintas lewat tiba-tiba saja ia saksikan gadis itu roboh terjerembab keatas tanah.

cepat-cepat Kim Thi sia memburu maju kedepan dan membopong tubuhnya yang indah menawan itu, sewaktu diperiksa dengan seksama, tampaklah dibalik paras mukanya yang pucat pias terselip hawa hitam yang tipis sekali. Dengan rasa kaget dia segera berseru:

"Nona, jangan bergerak secara sembarangan, kau sudah terkena pukulan beracun biar kubopong tubuhmu untuk pergi mencari tabib."

Saat ini pikiran dan perasaannya sangat kalut, kendatipun sedang membopong sesosok tubuh yang montok dan indah, namun ia tak sempat melayangkan pikirannya untuk membayangkan yang bukan-bukan.

Dengan langkah cepat dia berlarian menuju kedepan, kegelapan makin mencekam sedang disekeliling tempat itu belum juga kelihatan rumah penduduk akhirnya dengan perasaan gemas dia berpikir:

"Maknya, masa untuk mencari sebuah kotapun begini susah? padahal keadaan sangat mendesak......sialan. "

Ditengah jalan, putri Kim huan sudah berada dalam keadaan tak sadar, namun goncangan sepanjang jalan yang dialaminya membuat gadis itu pelan-pelan tersadar kembali. Mendadak ia berpikir: "Thi sia, aku tak ingin belajar ilmu silat."

Suaranya amat lemah bagaikan suara nyamuk, andaikata tak didengarkan secara seksama, sulit untuk didengar. Tanpa sadar Kim Thi sia menghentikan langkahnya lalu bertanya dengan keheranan: " Kenapa?"

"Sebab kau.......kau selalu men.......mencurigai aku. kau selalu menuduhku berniat

tak......baik kepadamu........aku aku benar-benar tak ingin belajar."

"Tapi apa sangkut pautnya dengan diriku?" seru Kim Thi sia tak habis mengerti. Putri Kim huan mengerdipkan alis matanya yang jeli, lalu menjawab lirih:

"Bila.......aku.......aku tak belajar silat.....kau. kau pun tak usah kuatir lagi."

"ooooh, rupanya begitu" pikir Kim Thi sia.

Dengan cepat dia dapat menangkap maknsa yang sebenarnya dari ucapan tersbeut, perasaan hatinya kontan bergetar keras, pikirnya lebih jauh:

"oooh rupanya dia tak bermaksud akan mencelakai aku, saat ini keselamatan jiwanya

terancam bahaya, tapi masih saja teringat akan hal tersebut tak mungkin dia membohongi aku dalam keadaan begini yaaaa pastilah sudah aku telah menaruh kesalahan paham kepadanya."

Dengan pikiran mana, pandangan maupun perasaan hatinyapun mengalami perubahan yang amat besar.

Lama sekali dia menatap wajah gadis itu lekat-lekat kemudian hiburnya dengan lembut: "Perkataanmu itu sangat mengharukan hatiku, dulu akulah yang bersalah, aku selalu

membuatmu marah, apakah kau masih marah kepadaku? Kau. "

Mendadak ia tergagap dan tak mampu melanjutkan kata-katanya setelah sangsi sekian lama, akhirnya dia baru berkata lagi:

"Tentunya kau tak akan menganggap diriku sebagai orang liar yang kasar dan berangasan sehingga membenci diriku bukan? Aaaa i......aku benar-benar kuatir bila kau. "

Mendadak putri Kim huan tersenyum sambil menukas perkataannya yang belum habis diucapkan itu, katanya:

"Kau tak perlu gelisah, hidup sebagai seorang manusia sampai akhirnya toh harus mati juga mati lebih awal atau mati belakangan toh sama saja artinya, asal kau bersikap baik kepadaku dan asal aku bisa bersua sekali lagi dengan ayahku. Biar harus matipun aku akan mati dengan perasaan lega."

Kim Thi sia merasa terharu disamping gembira, sebagai orang kasar dia tidak tahu bagaimana mesti menanggapi itu, akhirnya dia hanya berkata begini.

"Kau tak akan mati aku sudah bertekad akan mencarikan tabib untuk mengobati lukamu itu." "Seandainya aku mati, apakah kau akan merindukan aku?" tanya putri Kim huan lagi sambil

menghela napas sedih.

Mendengar perkataan yang begitu memelas sehingga seseorang yang berhati sekeras baja pun akan tergerak hatinya. Kim Thi sia menjadi sangat beriba hati, tanpa ragu-ragu lagi sahutnya: "Tentu saja."

Putri Kim huan membuka matanya dan saling bertatapan sekejap dengannya, ketika empat mata saling bertemu, tiba-tiba saja mereka saling berpandangan sampai lama sekali.

Entah berapa saat kemudian, gadis itu baru menundukkan kepalanya dengan sekulum senyuman menghiasi ujung bibirnya, senyuman itu membuat orang merasa tertarik dan menaruh rasa kasihan kepadanya. Diam-diam Kim Thi sia berpikir,

"Sungguh tak kusangka dia sebagai seorang gadis bangsawan, menaruh perhatian yang begitu besar terhadap seorang gelandangan macam aku. " Dengan perasaan yang bergelora ia membelai rambutnya yang lembut dengan penuh kasih sayang, putri Kim huan mengeluh pelan kemudian menjatuhkan diri kedalam pelukannya.

Kim Thi sia merasa dirinya seakan-akan telah berubah menjadi seseorang yang lain, ia bertekad selama hayat masih dikandung badan dia tak akan membiarkan gadis itu mati oleh pukulan beracun, sebab dia sadar gadis cantik itu menempati posisi yang sangat penting dalam benaknya.

Mendadak ia merasakan napsunya bergolak. entah darimana datangnya keberanian, tiba-tiba saja dia menundukkan kepalanya dan mencium dua lembar bibirnya......

Dalam waktu singkat dua hati saling bertautan, mereka seakan-akan lupa akan segala- galanya....

Butiran air mata jatuh berlinang membasahi wajah putri Kim huan, dengan lembut dia memeluk pemuda itu dan bergumam:

"Engkoh Thi sia, sejak berpisah setiap saat aku rindu kepadamu, hingga sekarang aku masih selalu teringat bagaimana kau menyelimuti tubuhku ketika kau tahu aku takut kedinginan- Akupun selalu teringat bagaimana kau tertidur didepan pintu dalam udara yang begitu dingin, aku selalu berpikir, kau pasti seorang lelaki yang berjiwa ksatria. Apalagi setelah kau tak segan-segan menerima pelbagai penderitaan untuk membebaskan aku dari pelbagai kesulitan, aku semakin mengagumi kegagahanmu." Dengan perasaan terharu Kim Thi sia berkata:

"Aku hanya seorang bocah rudin, aku merasa tak sia-sia hidupku setelah memperoleh perhatian yang begitu besar dari seorang gadis cantik bak bidadari macam kau." Kembali kedua orang itu saling berpelukan dengan mesrahnya.

" Engkoh Thi sia" tiba-tiba putri Kim huan berbisik lagi. "Seandainya aku mati, apakah kau akan kawin lagi?"

"Tidak. selain kau seorang, aku tak akan kawin dengan siapapun." Putri Kim huan segera menghela napas sedih.

"Kau keliru engkoh Thi sia, setelah aku mati kau bisa kawin lagi, sebab aku pun tetap akan bergembira."

Kim Thi sia hanya menggelengkan kepalanya berulang kali tanpa berbicara, perasaan hatinya berat sekali, saat ini persoalan yang dirisaukan terasa makin banyak. dia merasa tidak berkeyakinan untuk menyelamatkan gadis tersebut.

Dengan menghimpun segenap kekuatan dia berlarian terus entah berapa jauh telah ditempuh ketika didepan situ muncul bayangan-bayangan sebuah kota.

Diam-diam ia merasa kegirangan setengah mati, dengan langkah lebar dia berjalan menuju kedalam kota.

Waktu itu malam semakin larut, cahaya lentera telah menerangi seluruh jalanan-Sambil membopong tubuh gadis itu Kim Thi sia berhenti didepan sebuah rumah makan dan bertanya kepada pelayannya.

"Hey tolong tanya, dimanakah tempat tinggal tabib paling hebat dikota ini?" Sambil menunduk pelayan itu berpikir sebentar, lalu sahutnya:

"Aku sendiripun kurang jelas, lebih baik bertanyalah kepada orang lain "

Dengan perasaan kecewa pemuda itu berniat pindah ketempat lain untuk mencari keterangan, tapi saat itulah terdengar seorang tamu dalam warung itu berseru:

"Berbicara soal ilmu pertabiban, selalin Kong ci Sin, rasanya tiada orang kedua yang memiliki kepandaian lebih hebat dari padanya."

orang itu berbicara dengan suara berat dan mantap. sinar matanya tajam, dalam sekilas pandangan saja orang akan tahu kalau dia adalah seorang tokoh luar biasa. Kim Thi sia segera merasakan raut muka sastrawan setengah umur itu seperti sangat dikenal olehnya, tapi untuk sesaat dia tak teringat dimanakah mereka pernah bersua. Buru-buru tanyanya lagi:

"Bolehkah aku tahu dimana tempat tinggal Kong ci Sin?"

"Sisi kiri tebing song cu nia dibarat kota adalah tempat tinggalnya. Asal kau berjalan menuju kearah barat, tak lama akan kau temukan tempat tinggalnya."

Sementara berbicara, soro matanya yang tajam mengawasi terus pedang yang tersoren dipinggang Kim Thi sia tanpa berkedip. wajahnya memancarkan rasa kaget dan tercengang yang luar biasa.

Kim Thi sia merasa terkejut bercampur keheranan, namun ia tak berani tinggal lebih lama lagi disitu. Setelah mengucapkan terima kasih, cepat-cepat dia berangkat menuju kebarat.

Selang beberapa saat kemudian tibalah ia disebut jalan besar dengan sederet bangunan rumah yang besar.

Dibawah sebatang pohon siong berdiri sebuah gedung besar dengan selembar kain putih berkibar didepannya, diatas kain itu tertulis berapa huruf yang amat besar. "Tempat kediaman Kongci Sin."

Dengan perasaan girang pemuda itu mendorong pintu pagar dan masuk kedalam halaman sambil berseru:

"Apakah Tuan Kongci Sin ada dirumah?"

Steelah berteriak berapa kali, pintu rumah baru dibuka dan muncul seorang kakek bermuka bersih dengan jenggot bercabang tiga menghiasi wajahnya. Kakek itu segera menegur: "Ada urusan apa?"

" Kaukah yang bernama tuan Kongci Sin?"

Dengan sorot mata yang tajam kakek itu memandang sekejap kearah putri Kim huan yang tertidur nyenyak dalam pelukannya, kemudian menjawab dengan suara dingin dan hambar: "Yaa benar, akulah Kongci Sin. Ada urusan apa?"

" Kau toh seorang tabib, kalau bukan pasien yang datang untuk berobat, buat apa jauh-jauh kemari untuk mencarimu?"

Namun diluarnya dia tetap bersikap lembut dan sengaja mengulumkan senyuman yang ramah katanya dengan penuh kesopanan:

"Sudah lama kudengar nama besar sianseng, maka itu kami sengaja datang untuk berobat."

Kongci Sin tetap berdiri tak bergerak didepanpintu rumahnya meski habis mendengar perkataan tersebut, sudah jelas ia berniat menolak kehadiran tamunya itu. Dengan pandangan yang dingin ia melirik sekejap kearah putri Kim huan lalu tanyanya: "Siapa namamu?"

Biarpun dalam hati kecilnya merasa kheki namun sedapat mungkin Kim Thi sia menahan diri, ia segera menjawab:

"Aku bernama Kim Thi sia"

Kongci Sin kelihatan agak tertegun sekali lagi ia memandang pemuda itu dengan sorot mata yang dingin, tapi sikapnya kali ini jauh lebih baikan katanya kemudian dingin: "Masuklah"

Dengan langkah lebar Kim Thi sia masuk kedalam kamar membaringkan putri Kim huan diatas sebuah pembaringan, pikirnya:

"Hmmm, tua bangka celaka, sekarang kau boleh berlagak tapi ingat, suatu ketika aku pasti akan memberi pelajaran yang setimpal kepadamu."

Sementara itu Kongci sin sudah berganti pakaian dan muncul didalam ruangan untuk memeriksa keadaan penyakit yang diderita putri Kim huan. cara pengobatan yang dilakukan orang tua ini sangat aneh, ia tidak memeriksa denyut nadi, tidak memeriksa detak jantung. Melainkan hanya membelalakkan matanya lebar-lebar sambil mengawasi raut muka gadis tersebut.

Selang berapa saat kemudian, ia baru bertanya dengan suara dalam: "Bukankah istri anda terkena pukulan tenaga dalam beracun?" Kim Thi sia kontan saja berpikir:

"Tidak aneh kalau dia bergaya begitu sombong, ternyata ilmu pengobatannya memang sangat lihay."

Sementara berpikir, diapun manggut- manggut seraya menyahut:

" Ucapan tuan memang tepat sekali, ia memang terkena pukulan beracun."

Dengan pandangan dingin Kongci sin memandang sekejap kearahnya, meski tak berkata-kata, namun Kim Thi sia dapat menangkap sikap "memandang rendah" dari balik sorot matanya itu.

Tanpa sadar pemuda itu mencoba membandingkan dirinya dengan putri Kim huan. Benar juga, perbedaan diantara mereka berdua memang menyolok sekali bagaikan bertolak belakang saja. Tak heran Kongci Sin menunjukkan sikap memandang rendah dan hina kepadanya sewaktu kata "istri anda" tadi.

Dengan perasaan rendah diri ia tundukkan kepalanya rendah-rendah, lalu bertanya: "Apakah tuan mampu untuk mengobati lukanya itu?"

Kongci Sin segera mendengus sebagai jawaban dari pertanyaan itu.

Kim Thi sia merasa amat mendongkol, perasaannya bercampur aduk tak karuan, tapi ketika didengarnya dari balik suara dengusannya mengandung keyakinan besar, iapun merasakan hatinya agak terhibur.

Dalam pada itu Kongci Sin telah meluruskan tubuh gadis tersebut, kemudian bertepuk tangan satu kali.

Ketika seorang pemuda berbaju putih munculkan diri, Kongci Sin segera berpesan: "Ambilkan jarum emas dan diluarnya diberi bubuk kuning."

Pemuda berbaju pUtih itu mengiakan dan segera berlalu, tak lama kemudian dia telah muncul kembali dengan membawa dua belas batang jarum emas yang telah dibakar hingga merah membara.

Saat itulah Kongci sin baru berkata kepada Kim Thi sia.

"Ilmu pukulan beracun semacam ini merupakan jenis yang paling sukar diobati, coba kalau dimasa mudaku dulu tak pernah belajar ilmu, mungkin tak akan kupahami cara pengobatannya. cuma sebelum aku turun tangan, pertama-tama ingin kuminta persetujuanmu lebih dulu, yakni bila terjadi hal-hal yang tak diharapkan, aku tak akan bertanggung jawab. Nah bagaimana menurut pendapatmu?"

Kim Thi sia segera merasakan hatinya risau dan tidak tenang, tapi ingatan lalu kembali melintas.

"Keadaan telah berkembang menjadi begini sekarang, rasanya aku harus menyerempet bahaya untuk mencobanya." Berpikir begitu, diapun menjawab:

"Silahkan tuan turun tangan dengan perasaan lega, seandainya benar-benar terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, aku tak bakal menyalahkan dirimu. " Kongci Sin manggut- manggut,

kepada pemuda berbaju putih itu segera katanya: " cepat kau tekan tubuhnya, jangan biarkan dia bergerak secara sembarangan."

Sebelum pemuda berbaju putih itu melakukan sesuatu tindakan, Kim Thi sia telah berebut kedepan untuk menahan tubuh putri Kim huan- Sementara itu pemuda berbaju putih tersebut tidak berkata-kata, hanya sepasang matanya terbelalak lebar-lebar mengawasi raut muka putri Kim huan tanpa berkedip seakan-akan dia telah terpikat dan tertegun oleh kecantikan wajah gadis itu.

Kongci sin turun tangan dengan amat cekatan, dalam waktu singkat ia telah menusuk ketiga puluh enam buah jalan darah penting ditubuh putri Kim huan dengan jarum emasnya.

Setiap kali jarum itu menembusi jalan darah, segera bergemalah suara mencicit yang keras diikuti keluhan kesakitan putri Kim huan dan mengerang menahan penderitaan-

Menyaksikan kesemuanya itu, Kim Thi sia merasakan hatinya amat sakit bagaikan ditusuk-tusuk dengan pisau belati.

Dalam keadaan begini, Kim Thi sia harus menyerahkan tenaga yang amat besar untuk membuat gadis itu tak bergerak. Siapa yang tak pedih melihat kekasih hatinya mengalami penderitaan hebat.

Kongci sin memusatkan segenap perhatiannya untuk mengincar jalan darah, lalu tusukkan jarumnya dengan cepat, pengobatan seperti ini nampaknya sangat menyita kekuatan badannya, tak seberapa lama kemudian, ia telah bermandikan keringat.

Sebaliknya pemuda berbaju putih itu mengambil kipas dan mengipasi kakek tadi sekuat tenaga, meski begitu, matanya tak pernah beralih dari wajah putri Kim huan- Pandangannya termangu entah apa saja yang sedang dipikirkan olehnya.

Tak lama kemudian suara rintihan putri Kim huan makin melemah, tapi penderitaan yang dialaminyapun kelihatan jauh berkurang tubuhnya tidak gemetar sekeras semula.

Kembali lewat sesaat kemudian mendadak Kongci sin menghentikan gerakan pengobatannya dan bertanya kepada Kim Thi sia: "Mampukah tenaga dalammu?"

"Apa maksud perkataanmu itu?" tanya Kim Thi sia tidak habis mengerti.

"Jangan kau tanyakan dulu masalah tersebut, jawab saja sampai ketaraf apakah tenaga dalam yang kumiliki sekarang?"

"Untuk membunuh orang dalam jarak satu kaki rasanya bukan menjadi masalah lagi bagiku." Kongci Sin segera manggut-manggut.

"Sekalipun belum lebih dari cukup, rasanya masih bisa dimanfaatkan sebisanya." Setelah berhenti dan berpikir sejenak, kembali dia melanjutkan-

" cepat kau himpun tenaga dalammu dan salurkan hawa murni melalui sepasang telapak tanganmu itu kedalam pusarnya, bila peredaran darahnya telah lancar kembali usahakan untuk menyalurkan tenaga dalammu itu melalui Ui tang menuju ke Im kwan dan mengelilingi seluruh badan tiga kali, dengan demikian ia pasti akan segar kembali."

Buru-buru Kim Thi sia duduk bersila diatas tanah dan mengerahkan tenaga sesuai dengan apa yang dikatakan tadi.

Tak selang sepertanak nasi kemudian, kabut tipis telah menyelimuti seluruh tubuhnya. Hawa murni yang mengalir dari dalam tubuhnyapun segulung demi segulung menyusup ketubuh gadis tersebut.

Tak lama kemudian putri Kim huan tersadar kembali dari pingsannya, hawa hitam yang semula menyelimuti wajahnya kini telah hilang. Setitik warna merahpun mulai muncul menghiasi pipiny a .

Dengan termangu- mangu dia memandang sekejap kearah Kim Thi sia, kemudian menengok pula kearah Kongci Sin, setelah itu dari wajah Kongci Sin ia berpaling pula kearah pemuda berbaju putih itu.

Bagaikan baru mendusin dari impian gadis itu termangu-mangu seperti orang kebingungan, tapi setelah melihat wajah Kim Thi sia basah oleh keringat dan mukanya menunjukkan rasa penat yang luar biasa, dengan penuh kasih sayang dia mengambil selembar sapu tangan dan membantu untuk menyeka keringatnya.

Waktu itu keadaan Kim Thi sia sudah menjadi kaku, selama ini dia hanya berusaha untuk menahan diri agar kesehatan putri Kim huan dapat pulih kembali. Tak lama kemudian...

Ia benar-benar tak sanggup menahan diri lagi, tubuhnya roboh terjungkal keatas pembaringan dan tertidur sangat nyenyak. Kongci Sin segera berkata:

"Kaupun harus beristirahat dengan tenang, saat ini penyakitmu baru sembuh, jangan bergerak secara sembarangan-"

Sewaktu berbicara, sepasang matanya mengawasi wajah sinona dengan pandangan ramah, keadaannya tak berbeda dengan sikap pemuda berbaju putih itu. Tentu saja sinona menjadi kaget bercampur tertegun dibuatnya.

Tapi kakek itu segera mengulapkan tangannya dan berseru lagi kepada pemuda berbaju putih itu:

" cepat kau undang kemari empek Kim mu. Aku ada urusan penting yang hendak dibicarakan dengannya."

Pemuda berbaju putih itu kelihatan agak sangsi sejenak. tapi dengan cepat dia zlari keluar rumah, mengambil kuda dan memacunya kencang-kencang meninggalkan tempat itu.

Kongci Sin sendiripun telah pergi entak kemana, sejak dia meninggalkan ruangan tersebut, batang hidungnya tak pernah menongol kembali.

Tak seberapa lama kemudian, Kim Thi sia mendusin dari tidurnya, sewaktu ia menjumpai putri Kim huan sedang mengipasi tubuhnya dengan penuh kasih sayang, hatinya menjadi amat terharu.

Tak kuasa lagi dia menggenggam tangannya erat-erat dan bergumam:

"........Aku tidak apa-apa aaai, kau tahu, aku gelisah setengah mati melihat keadaanmu

tadi. "

"Aku mengerti, aku bisa hidup lagi karena berkat jerih payahmu" ucap putri Kim huan lembut. "oooh....engkoh Thi sia, aku tak tahu bagaimana mesti berterima kasih kepadamu "

Sebagaimana diketahui, dia baru saja sembuh dari sakitnya, kesehatan badannya sangat lemah, tapi Kim Thi sia amat senang dengan sikapnya itu, dia telah memandang gadis itu lebih berharga daripada keselamatan jiwa sendiri. Mendadak dia bangkit berdiri seraya bertanya: " Kemana si tabib Kong ci? "

"Kau maksudkan si kakek berjenggot panjang itu?" putri Kim huan balik bertanya. Sesudah berhenti sejenak. sahutnya:

"Aku sendiripun tidak tahu ke mana dia telah pergi, sejak kepergiannya dia tak pernah muncul kembali. Hey, apakah gedung ini miliknya?"

"Kita harus berterima kasih kepadanya coba kalau bukan dia, mungkin kau. "

"Yaa, aku tahu, aku bisa hidup berkat pertolongan dari kalian berdua. "

Mendadak........

Pintu kamar dibuka orang, seorang manusia berkerudung yang bertubuh kekar telah munculkan diri didepan mata dibelakangnya mengikuti seseorang, dia tak lain adalah pemuda berbaju putih tadi.

Manusia berkerudung itu memiliki sepasang mata yang amat tajam menggidikkan begitu memasuki ruangan, dengan sorot mata yang tajam ia mengawasi kedua orang itu tanpa berkedip.

"Hey, anda ada urusan apa?" tanya Kim Thi sia tanpa terasa. "Keluar" seru manusia berkerudung itu dingin. "Diluar akan kuberitahu akan segala sesuatunya kepadamu."

Kim Thi sia dapat menangkap nada menantang dibalik perkataan tersebut, dengan langkah lebar dia muncul keluar dan sahutnya: "Baik, kita berangkat."

Mereka berdua segera beranjak meninggalkan ruangan dan menuju kekebun luas diluar rumah.

Putri Kim huan yang sangat menguatirkan keselamatan kekasihnya, buru-buru menyusul dari belakang dengan langkah sempoyongan-

"Kau kah Kim Thi sia si jago muda yang baru muncul didalam dunia persilatan?" Kim Thi sia manggut- manggut.

"Yaabenar, boleh aku tahu siapa nama sobat?" Manusia berkerudung itu segera mendengus dingin:

"Hmmm, lebih baik tanyakan sendiri kepada raja akhirat setelah kau mampus nanti."

Berbicara sampai disitu, tiba-tiba tubuhnya melejit setinggi tiga kaki ketengah udara, kemudian dengan jurus " elang terbang menyambar air" dia menerkam kebawah dengan gerakan cepat bagaikan sambaran kilat. Dengan kening berkerut Kim Thi sia segera berseru:

"Sobat, tanpa sebab musabab dan permusuhan apapun kenapa kau menyerangku? IHmmm, tampaknya sebelum aku menunjukkan kebolehanku, kau anggap aku adalah manusia yang mudah dipermainkan. "

Sepasang telapak tangannya segera diayunkan ketengah udara segulung tenaga pukulan yang amat dahsyat meluncur dan menumbuk kemuka.

"IHeeeeh.....heeeeh......heeeeh tak nyana kaupun seorang jago silat yang bertenaga dalam

sempurna " jengek manusia berkerudung itu sinis.

Ditengah udara dia berganti jurus, dari gerakan " elang terbang menyambar air" dirubahnya menjadi "bertemu naga diatas tanah."

Tiba-tiba saja sepasang telapak tangannya dipentangkan kesamping dengan membawa dua gulung kekuatan yang maha dahsyat serangan tersebut menyapu dan membabat kemuka. "Duuuukk"

Ketiga tenaga pukulan dari Kim Thi sia saling beradu dengan tenaga pukulannya, seketika itu tergetar keras hingga mundur tiga langkah kebelakang.

Pemuda kita menjadi gusar sekali, serta merta dia mengeluarkan jurus serangan " kecerdikan menguasahi jagad" dan "kelincahan menyelimuti empat samudra" dari ilmu Tay goan sinkangnya untuk menghantam musuh ibarat gulungan ombak disamudra.

Manusia berkerudung itu tertegun, ia tak berani menyambut dengan kekerasan- Tubuhnya melejit setinggi lima kaki lebih untuk meloloskan diri dari sergapannya yang maha dahsyat.

Sementara itu Kim Thi sia telah berpikir:

"Delapan puluh persen Kongci Sin lah yang mengundang kehadiran orang ini. Heran, kalau toh dia sudah menyanggupi untuk mengobati luka beracun yang diderita gadis tersebut, apa sebabnya ia menyusahkan aku dengan mendatangkan jagoan lain? Aneh. betul-betul sangat aneh."

Sementara otaknya berputar, tangannya sama sekali tak menganggur dengan mementangkan telapak tangannya kesamping secara beruntun dia melepaskan pukulan dengan jurus "mati hidup ditangan nasib" serta "kejujuran mengalahkan batu emas."

Bagi jagoan lihay yang sedang bertarung sekali gebrakan saja dapat diketahui kemampuan orang. Rupanya dia telah menyadari kalau musuhnya amat tangguh, oleh sebab itu begitu serangan dilancarkan, dia segera mengerahkan tenaga sinkangnya hingga mencapai sepuluh bagian- Dalam waktu singkat manusia berkerudung itu merasakan betapa lihaynya kekuatan musuh.

Bahkan tenaga dalam yang dimiliki sang pemuda masih sepuluh kali lipat lebih hebat daripada apa yang diduganya semula.

Berada dalam keadaan begini, buru-buru dia merubah gerak serangannya dengan melakukan serangan-serangan jarak dekat yang gencar dan berbahaya......

Serangan yang amat dahsyat ini kembali mendesak Kim Thi sia harus mundur sejauh dua langkah kebelakang.

Dalam keadaan terdesak. Kim Thi sia masih menyempatkan diri untuk berpaling kesamping, ia saksikan putri Kim huan masih berdiri didepan pintu dengan wajah risau dan gelisah.Jela terlihat betapa besarnya perhatian gadis itu atas keselamatan jiwanya. Tiba-tiba saja pemuda kita merasa terharu pikirnya:

"Dia baru sembuh dari sakit, tubuhnya masih begitu lemah, namun besar sekali perhatiannya atas keselamatan jiwaku. Ya a, bagaimanapun juga, aku tak boleh membiarkannya merasa kuatir."

Berpikir sampai disitu, darah panas dalam tubuhnya serasa mendidih, semangat makin berkobar tiba-tiba saja dia mengerahkan seluruh tenaga dalam yang dimilikinya untuk menyerang dengan dua jurus terampuh dari ilmu Tay goan sinkang, yakni jurus "kepercayaan mencengkeram seluruh jagad" serta " kekerasan menguasahi bumi."

Jurus yang pertama lemah lembut sedang jurus kedua ganas dan buas sekali, meski dimainkan beruntun namun tidak mengurangi sifat sesungguhnya dari jurus masing-masing.

Seketika itu juga manusia berkerudung itu merasakan terjangan dua jenis kekuatan yang berbeda bobotnya, dalam keadaan begitu, tergopoh-gopoh dia melompat mundur kebelakang.

Siapa tahu, baru saja dia menghindarkan diri dari jurus yang pertama, ternyata tak mampu menghindari serangan yang kedua kontan tubuhnya tergempur sehingga mundur tiga langkah dengan sempoyongan-

Melihat keberhasilan ini, rasa percaya pada kemampuan sendiri semakin tumbuh dihati Kim Thi sia, secara beruntun dia melepaskan tiga buah serangan berantai yang maha dahsyat.

Begitu kehilangan posisi yang menguntungkan, manusia berkerudung itu kontan saja terdesak sangat hebat, terutama sekali setelah termakan tenaga pukulan yang ganas dan buas, ia makin terdesak sehingga harus mundur terus berulang kali.

Putri Kim huan yang menyaksikan peristiwa ini menjadi girang setengah mati, sepasang lesung pipitnya yang sudah lama tidakpernah nampak. kini tersungging kembali dengan manisnya.

Kim Thi sia melirik sekejap. ia benar-benar terperana oleh keayuan gadis tersebut. sekali lagi ia melepaskan tiga buah serangan berantai.

Dari ketiga buah serangan tersebut, serangan yang pertama lebih tangguh daripada serangan berikut, sedemikian luar biasanya serangan-serangan tadi membuat manusia berkerudung itu mendengus tertahan secara tiba-tiba kemudian tanpa mengucapkan sepatah katapun membalikkan badan dan kabur dari situ.

Dalam waktu singkat bayangan tubuhnya telah lenyap dikejauhan sana.........

Sepeninggal manusia berkerudung itu, agaknya putri Kim huanpun sudah terlalu banyak membuang tenaga, dengan napas tersengkal-sengkal ia memburu maju kemuka dan menjatuhkan diri kedalam pelukan Kim Thi sia.

sementara itu Kim Thi sia masih dicekam perasaan keheranan dan tak habis mengerti. Walaupun ia sudah memeras otak namun tak juga ditemukan jawabannya kenapa manusia berkerudung itu muncul secara tiba-tiba dan pergi pula secara tiba-tiba, padahal seingatnya ia tidak mempunyai permusuhan dengan Siapapun. Dengan langkah cepat dia meninggalkan pagar bambu menuju ketempat tinggal Kongci Sin secara kebetulan Kongci Sin sedang melongok keluar, dengan cepat empat mata saling bertemu menjadi satu.

Tiba-tiba saja Kongci Sin menarik kembali kepalanya sambil menutup pintu rumahnya keras- keras.

Melihat sikap aneh kakek itu, Kim Thi sia segera menyadari apa yang terjadi pikirnya secara diam-diam:

" Keparat, rupanya kau yang mengundang kedatangan manusia berkerudung itu. "

Berpendapat begitu, ia segera berbicara keras-keras. "Kongci Sin cepat keluar dan berbicara denganku"

Suasana dalam gedung itu amat sepi dan tak kedengaran sedikit suarapun seakan-akan gedung tersebut berada dalam keadaan kosong. Sambil mendengus dingin kembali Kim Thi sia berteriak keras:

"Sudah kuduga kalau kedatangan manusia berkerudung tadi atas undanganmu, tapi kau pun tak usah gelisah atau gugup, mengingat kau telah menolong adikku, tentu saja aku tidak akan mencelakakan dirimu "

Habis berkata ia menanti sambil tertawa dingin, namun walaupun sudah ditunggu sekian lama pun tak kedengaran suara jawaban akhirnya dengan langkah lebar dia berjalan meninggalkan tempat tersebut.

Putri Kim huan menyambut pemuda itu dengan pelukan yang mesra dan mengawasi wabahnya lekat-lekat.

Ditatap seperti ini, diam-diam Kim Thi sia merasa rendah diri, mukanya berubah menjadi merah padam dan ia tergagap tak mampu mengucapkan sepatah katapun. Dengan suara lembut putri Kim huan segera berkata:

"Wajahnya dekil dan penuh debu, tak kau pergunakan waktu yang luang ini untuk membersihkan diri?"

"Aku aku tak tahu kalau wajahku juga."

Mendadak ia seperti teringat sesuatu, segera tanyanya lagi dengan suara dalam: "Kau jemu dengan diriku yang kotor?" Putri Kim huan segera tertawa lembut.

" Kenapa mesti jemu? Aku hanya menganggap kurang sedap melihat wajah yang kotor, maka kuminta kepadamu untuk membersihkan badan-"

"Baiklah kalau begitu" sahut Kim Thi sia kemudian dengan perasaan lega. "Aku segera pergi membersihkan badan-"

Putri Kim huan membenamkan kepalanya didalam dada pemuda itu, dalam kondisi baru sembuh dari sakit yang parah ia memang tak mampu untuk berjalan secara normal.

Meski begitu dia menganggap berjalan dalam keadaan seperti ini amat mesrah dan hangat, bahkan ia berharap bisa mengalami saat-saat bahagia seperti ini untuk selamanya.

Ia memang pernah membayangkan kembali kehidupan mewahnya diistana negeri Kim, iapun teringat dengan kawanan anak bangsawan atau putra raja-raja muda yang lemah lembut dan selalu mengelilingi dirinya itu, mereka selalu sopan dan menghormatinya, jauh berbeda dengan kekerasan serta keberangasan Kim Thi sia.

Tapi ia berpendapat, meski Kim Thi sia kasar tak tahu adat, gerak geriknya kasar dan polos, sesungguhnya dia adalah seorang lelaki sejati dibandingkan dengan para putra bangsawan yang lemah lembut mirip perempuan, pemuda ini memiliki jiwa jantan yang lebih kentara. Sekalipun putri Kim huan bertubuh lemah lembut, tapi semenjak kecil ia sudah mengagumi para pahlawan yang bermain senjata. Itulah sebabnya ia merasa bangga dan senang setelah kini, ia berhasil menggenggam seorang jago yang benar-benar berjiwa jantan.

Berpikir sampai disini, tak kuasa lagi dia tertawa cekikikan-

"Hey, apa yang kau tertawakan?" tanya Kim Thi sia keheranan- "Adakah sesuatu yang tak beres denganku?"

Entah mengapa, semenjak ia menaruh hati terhadap gadis ini, dalam hati kecilnya selalu tumbuh perasaan ragu, dia selalu mencurigai gadis itu memandang rendah dirinya.

" Engkoh Thi sia" tiba-tiba putri Kim huan bertanya. "Sebenarnya perselisihan apakah yang terjalin antara dirimu dengan pedang emas? Bukankah kau adalah adik seperguruannya?"

Sebutan "engkoh" dari sinona dengan cepat menenangkan kembali pikiran Kim Thi sia yang bergejolak tapi ia segera dibuat keheranan setelah mendengar kata berikut serunya cepat:

"Kenapa sih kau mengajukan pertanyaan seaneh ini?"

"Bukankah orang yang barusan bertarung denganmu adalah sipedang emas?" "Apa? Dia adalah pedang emas?" teriak Kim Thi sia amat terkejut.

"Yaa benar, ketika berlangsung pertemuan puncak dengan Pek kut sinkun tempo hari, aku pernah melihat kemunculannya, waktu itu dia pun berdandan seperti hari ini, mengerudungi wajahnya dengan secarik kain hitam."

"Kau tidak salah melihat?"

Putri Kim huan segera meronta manja didalam pelukannya, berlagak marah ia berseru: "coba lihat. sampai sekarangpun kau belum mau percaya dengan perkataanku."

Dengan ucapan mana, sama artinya dengan menegaskan bahwa apa yang dilihat tak bakal salah.

Mimpipun Kim Thi sia tidak mengira kalau pedang emas bakal turun tangan lebih dulu dengan membokongnya secara licik.

Dalam waktu singkat, pelbagai ingatan melintas didalam benaknya, ia segera berpikir:

-00d00w00-