Lembah Nirmala Jilid 33

 
Jilid 33

Sementara kedua orang itu memperbincangkan masalah tersebut, Kim Thi sia yang menyadap pembicaraan itu menjadi kegirangan setengah mati, tanpa terasa pikirnya:

"Kalau benar ilmu Tay goan sinkang begitu dahsyat, aku tidak usah takut dengan kalian lagi." Tiba-tiba terdengar Dewi Nirmala berkata:

"Sebentar lagi bocah keparat she Kim itu akan dihadapkan kemari, sampai waktunya kita harus memaksanya untuk mengungkapkan rahasia ilmu Tay goan sinkang tersebut, dengan berpegang pada rahasia itu, masa kita tak mampu untuk memecahkan sendiri?"

"Hmmm, kau sedang bermimpi disiang hari bolong" batin Kim Thi sia. "Toaya sudah kabur dari kurunganmu, bahkan sekarang pun telah berada disisimu" Dengan suara dalam terdengar ciang sianseng berkata:

"Aku sudah berapa kali bertemu dengan anak muda itu, sebentar dia pasti akan mengenali diriku. Bagaimanapun juga, dia tak bisa dibiarkan hidup terus didunia ini."

Mendengar perkataan tersebut, kontan saja Kim Thi sia naik pitam, umpatnya didalam hati: "Bajingan munafik, tak kusangka hatimu begitu keji."

Dengan cepat terdengar Dewi Nirmala menyahut sambil tertawa ringan:

"Seandainya putriku masih berada disini, tentu banyak kesulitan yang akan kita jumpai. Dia tak pernah memperkenankan aku membunuh orang, bahkan untuk membunuh seekor semutpun dia tak boleh." Menyinggung soal Hay-jin, tanpa terasa Kim Thi sia merogoh kedalam sakunya dan meraba kembali beberapa carik kertas itu. Entah mengapa dia menaruh pandangan yang masih lain terhadap setiap benda itu hanya secarik kertas rongsokan. ciang sianseng telah berkata lagi:

"Sesungguhnya putrimu memiliki bakat yang bagus sekali, sayang dia tak pandai bersilat." "Ya, siapa suruh wataknya begitu lembut jangan salahkan aku enggan mewariskan ilmu silat

kepadanya" ucap Dewi Nirmala tertawa.

"Menurut pendapatmu, apa jeleknya membiarkan putriku pergi bersamanya? "

"Aku rasa tidak apa-apa, mereka merupakan sepasang sejoli yang amat serasi sekali. Yang lelaki tampan, yang perempuan cantik jelita."

"Yaa, akupun berpendapat demikian " kata Dewi Nirmala pula sambil tertawa ringan-

Kim Thi sia yang dibalik gedung menjadi sangat gusar, paras mukanya berubah menjadi hijau membesi, kulit mukanya mengejang keras menahan gejolak perasaan didalam hatinya, dia merasa apa yang didengarnya merupakan suatu kejadian yang benar-benar memedihkan hati.

Tiba-tiba saja dia melimpahkan pertanggung jawab atas kejadian itu kepada Dewi Nirmala, pikirnya:

"coba kalau bukan gara-gara kau siperempuan rendah yang membuat gila, dia tak akan pergi dengan lelaki lain. Hmmmm, perempuan bedebah, aku ingin sekali menghajarmu sampai mampus."

Segulung hawa napas tiba-tiba saja bergelora didalam dadanya, dalam waktu singkat api kegusaranpun meletus bagaikan gunung berapi dan serasa tidak terkendali lagi......

Tapi pada saat itulah tiba-tiba terdengar ciang sianseng berkata:

"Ahli waris dari si pukulan sakti tanpa tandingan tak nanti akan selemah yang diduga, aku rasa dengan kekuatannya, tak mungkin ada orang yang berani mengusiknya lagi."

Dengan perkataan mana, Kim Thi sia pun segera mengerti rupanya lelaki asing yang membawa pergi Hay jin tak lain adalah ahli waris dari sipukulan sakti tanpa tandingan dari Tiang pak san itu, dengan cepat ia bersumpah dihati kecilnya untuk mencari lelaki tersebut sampai dapat.

Ia berani berpendapat demikian, karena diapun mempunyai keyakinan, dia tahu kepergian gadis cantik berbaju putih itu bukan atas dasar kehendak sendiri, oleh sebab itu dia berani mencari orang tersebut untuk diajak berduel.

Begitulah, ketika selesai menyadap pembicaraan antara ciang sianseng dengan Dewi Nirmala, tiba-tiba saja timbul keinginan Kim Thi sia untuk mencoba kekuatan yang sesungguhnya dari ilmu Tay goan sinkang.

Dengan cepat seluruh perhatian dan pikirannya dipusatkan menjadi satu, pelan-pelan hawa murninya disalurkan kedalam telapak tangannya.

Namun sebelum serangan dilancarkan, tiba-tiba saja timbul niat jahatnya untuk mempermainkan kedua orang musuh itu, diambilnya dua genggam pasir lembut lalu dilontarkan kedalam jendela.

Hembusan angin dingin yang sangat kencang menyebarkan pasir itu keempat penjuru, dalam waktu singkat seluruh wajah ciang sianseng dan Dewi Nirmala terkurung oleh pasir lembut itu.

Waktu itu Dewi Nirmala duduk membelakangi jendela, ia sempat melihat datangnya pasir yang memaksa ciang sianseng memejamkan matanya, tanpa terasa sambil menengok sekejap keluar jendela, katanya sambil tertawa minta maaf:

"Waaah, udara memang kurang baik, terutama disaat angin kencang begini, pasir memang gampang terhembus masuk kedalam ruangan, harap kau jangan tak senang hati jadinya. "

Sambik mengucak matanya ciang sianseng menyahut: "Aku merasa curiga dengan datangnya pasir tadi, seakan-akan ada orang yang sengaja menimpuk kedalam. "

Baru saja Dewi Nirmala hendak mengucapkan sesuatu, tiba-tiba dari luar jendela telah muncul kembali sebuah batu bata yang menghantam ketubuhnya.

cepat-cepat dia mengigos kesamping, batu bata itu segera menyambar lewat dari sisi badannya dan menghantam diatas dinding keras-keras.

Dengan terjadinya peristiwa ini, yakinlah perempuan tersebut bahwa datangnya hamburan pasir tadi memang merupakan hasil permainan seseorang, paras mukanya berubah hebat, dengan suatu gerakan cepat dia melesat keluar dari jendela.

Angin masih berhembus kencang diluar ruangan, suasana malam itu gelap gulita hingga sulit untuk melihat kelima jari tangannya sendiri, kendatipun tenaga dalam yang dimilikinya cukup sempurna, namun sulit baginya untuk melihat keadaan yang sebenarnya.

Keadaan tersebut kontan saja mengejutkan hatinya, dengan perasaan tertegun ia berpikir: "Sejak aku benahi Lembah Nirmala hingga kini daerah ini merupakan wilayah terlarang yang tak

mungkin bisa ditembusi siapapun. Aaaai, manusia dari manakah yang begitu bernyali hingga

berani mengusik diriku?"

Sementara itu Kim Thi sia sudah menyelinap menuju kebelakang, diam-diam dia menyingkap tirai sambil mengintip kedalam mendadak hatinya terasa amat terkejut.

Entah sejak kapan, disekeliling tubuhnya telah bermunculan begitu banyak jago, dengan perasaan terkejut diapun bersiap-siap untuk melancarkan serangan, tapi ada satu hal yang membuatnya tercengang, ternyata kawanan "musuh" itu bukan saja mempunyai dandanan yang serupa, bahkan raut mereka pun memiliki bentuk yang tak jauh berbeda.

Sebelum mengetahui secara pasti kekuatan yang dimiliki pihak lawan, pemuda kita tak berani bergerak secara sembarangan.

Rupanya belasan sosok manusia yang berwajah serupa itupun sedang dikecam perasaan terkejut bercampur curiga. Mereka sama-sama berdiri tegak dan sama sekali tidak melakukan sesuatu gerakanpun.

Sampai lama sekali mereka berdua berdiri saling berhadapan akhirnya habis sudah kesabaran Kim Thi sia dengan cepat dia maju selangkah kedepan sambil mengayunkan telapak tangannya.

Bersamaan dengan gerakan tersebut, tahu-tahu belasan manusia yang berdandan sama itu bergerak maju pula kedepan secara serentak sambil mengangkat telapak tangan mereka tinggi- tinggi. Sikapnya seakan-akan siap melancarkan serangan-Melihat itu Kim Thi sia segera berpikir: "Jangan-jangan mereka semua adalah bisu?"

Perasaan hatinya waktu itu benar-benar bingung dan kalut, dia tak habis mengerti siapa gerangan orang-orang tersebut. Benarkah didunia ini terdapat sekian banyak manusia yang berwajah mirip satu dengan lainnya? Kehadiran orang-orang itu sungguh amat mengejutkan hatinya.

Namun terdorong keinginannya untuk melakukan pengacauan, tampa memikirkan akibatnya lagi dia mendesak kemuka sambil melancarkan serangan yang hebat kearah orang yang berada paling dekat dengannya.

Tapi pada saat yang bersamaan, tampak orang yang berada dihadapannya berkerut kening pula sambil mengayunkan telapak tangannya menyongsong serangan tersebut. "Braaaaakkkkkkk "

Tiba-tiba bayangan manusia itu hilang lenyap tak berbekas, disusul kemudian Kim Thi sia merasakan telapak tangannya seakan-akan menghantam diatas sebuah benda yang keras dan lincah. Ketika ia perhatikan dengan lebih seksama, tampak telapak tangannya telah robek berapa bagian tercocok benda tajam hingga mengucurkan darah segar.

Dengan penasaran Kim Thi sia memperhatikan musuhnya dengan lebih seksama, ia saksikan banyak bayangan manusia sedang mengamati pula kearahnya dengan mata melotot.

Tapi keadaan tersebut hanya berlangsung sejenak saja, sebab dengan cepat ia telah menyadari apa gerangan yang sebenarnya telah terjadi, pikirnya kemudian sambil tertawa geli:

"Sialan, rupanya aku sedang berdiri didepan cermin, tak aneh kalau muncul begitu banyak bayangan manusia yang berwajah dan berdandan serupa dengan wajahku."

Rupanya dia telah berada didalam sebuah ruangan yang sekeliling dindingnya dilapisi cermin, begitu hebat konstruksinya sehingga seseorang yang berada disitu akan menyangka dirinya sedang terkepung oleh begitu banyak musuh dari sekeliling tubuhnya.

Begitu mengetahui apa gerangan yang telah terjadi, sifat kekanak-kanakannya segera kambuh, sambil menuding kearah cermin umpatnya:

"Bocah keparat, kitakan sama-sama orang sendiri, mengapa sih kau bertampang seram untuk menakut-nakuti aku?"

Tentu saja tak ada yang menjawab pertanyaan itu, maka pemuda tadi berkata lebih jauh: "Sewaktu melihat baju kalian yang begitu compang camping, muka yang begitu kotor, aku

mengira kalian adalah kawanan pengemis. Tak tahunya hanya malah memaki diri sendiri.

Haaaah......haaaah......haaaah "

Dengan cepat dia memadamkan lentera dalam ruangan itu, kemudian ditengah kegelapan dia menyelinap menuju keruangan lain-

Perlengkapan didalam kamar ini sangat mewah, disisi kiri terdapat sebuah cermin besar dan dibawah cermin tadi terdapat sebuah rak yang penuh berisikan bedak, gincu serta perlengkapan kewanitaan lainnya.

Kim Thi sia tidak tertarik dengan benda-benda begitu, dengan sebuah pukulan dia segera menghajar benda-benda tadi hingga jatuh berserakan diatas tanah.

Mendadak ia menyaksikan ada sebuah benda berkilat tergeletak diatas lantai, ketika diambilnya, ternyata benda itu adalah sebuah kemala hijau yang antik sekali bentuknya.

Benda itu panjangnya hanya satu inci dan berkilau tajam, Kim Thi sia segera membolak balikkan benda tersebut dengan seksama.

Mendadak dibawah kemala tadi terlihat ada ukiran dua huruf, sewaktu diamati dengan lebih seksama, terbacalah tulisan itu berbunyi: "Hay Jin."

Menyahut nama tersebut, tanpa terasa Kim Thi sia teringat kembali dengan gadis cantik berbaju putih itu, mendadak satu ingatan melintas dalam benaknya, diam-diam ia berseru:

"Aduh celaka, rupanya barang yang berada didalam ruangan ini adalah miliknya. waaah.....kenapa aku telah menghancurkannya "

Baru saja dia hendak membenahi benda-benda itu, mendadak terdengar seseorang berseru dari kejauhan situ: "Hey, coba dengar, suara apakah itu?"

Ternyata orang itu adalah Dewi Nirmala agaknya suara jatuhnya benda-benda dari rak cermin tadi telah mengejutkan dirinya.

Kim Thi sia memang berniat membuat kekacauan, cepat-cepat dia menyambar lentera perak yang berada dimeja kemudian dilemparkan keluar kamar.

Ia sama sekali tidak takut dengan Dewi Nirmala, tujuannya tak lebih hanya ingin membuat kegaduhan dan kekacauan disitu. Dengan cepatnya diapun menyelinap kegedung ketiga. Ternyata isi gedung ini adalah benda-benda yang hampir semuanya terbuat dari emas, ada golok emas, pedang emas, toya emas, kapak emas, pokoknya delapan belas macam senjata lengkap berada disitu dan yang lebih hebat lagi, semuanya terbuat dari emas murni.

Setelah tertegun beberapa saat, akhirnya tanpa sungkan-sungkan pemuda itu memilih sebilah pedang yang segera disoren dipinggangnya dan menyambar pula sebatang tombak.

Pada saat inilah dari kamar sebelah terdengar seseorang berseru dengan penuh kegusaran: "Hmmm, ternyata benar-benar ada orang yang sedang mengacau. Hmmm, akan kulihat

Malaikat sakti dari manakah yang bernyali begitu besar."

Kim Thi sia mendengar suara teguran itu makin lama bergema semakin dekat sekali, dia sudah tahu perempuan keji itu sudah berhasil menemukan tempat persembunyiannya, cepat- cepat dia memadamkan lentera dan segera menyembunyikan diri dibelakang pintu.

Apa yang diduga ternyata memang benar tak selang berapa saat kemudian Dewi Nirmala dengan wajah hijau membesi telah muncul didalam ruangan-

Kim Thi sia mengincar hingga musuhnya masuk kedalam lingkaran serangannya, tiba-tiba saja dia membentak dan sebuah tusukan kilat dilancarkan kedepan.

Segulung desingan angin tajam menyambar kepunggung Dewi Nirmala dengan kecepatan luar biasa.

Untung saja Dewi Nirmala berpengalaman amat luas, dalam keadaan kritis dan tak sempat lagi untuk menghindarkan diri, ia tangkis serangan tersebut dengan lengannya. Ujung tombak segera menyambar lewat persis disisinya tanpa melukai seujung rambutpun.

Gagal dengan tusukan pertama Kim Thi sia tak berani berayal lagi, tiba-tiba dia menyambar sebuah kapak dan langsung diayunkan kedepan.

Sekarang Dewi Nirmala sudah melihat dengan jelas paras muka lawannya, ia nampak agak tertegun melihat sambaran kapak tajam yang menyambar datang dengan disertai desingan angin tajam itu hampir melukai paras mukanya yang halus dan cantik, dia menjadi marah.

Pada detik yang terakhir, perempuan itu berhembus keras-keras, segulung deruan angin tajam yang tak berwujudpun segera menyembur keluar serta merontokkan kapak tersebut.

Secara beruntun Kim Thi sia melontarkan kembali tombak, golok dan pelbagai senjata lainnya, namun satu demi satu berhasil dihindari semua oleh perempuan lihay ini.

Dewi Nirmala sebagai perempuan yang berhati sombong tentu saja akan menjadi mendongkol sekali setelah berulang kali mendapat serangannya yang bertubi-tubi tanpa berkemampuan melancarkan serangan balasan, paras mukanya berubah sangat hebat.

Kim Thi sia sendiripun mulai merasakan ketegangan yang luar biasa setelah beberapa kali serangannya gagal melukai lawan, dalam terdesaknya dia mengambil senjata rantai dan diputar dengan sepenuh tenaga.

Desingan angin tajampun menderu- d eri menyelimuti angkasa dan amat menusuk pendengaran.

Dewi Nimala tertawa dingin tiada hentinya, sambil mundur dua langkah katanya kemudian: "Tak kusangka kepandaian silatmu cukup tangguh, bukan saja dapat meloloskan diri dari

sekapan, berkemampuan pula menggangguku. Hmmm tapi sayang kau telah bertemu denganku, akhirnya toh jalan kematian yang bakal kau peroleh."

Kim Thi sia masih saja memutar senjata rantainya secara gencar, ujung rantai yang berupa bola besi raksasa menyambar kian kemari dengan amat dahsyatnya. Hal ini membuat perempuan tersebut boleh dibilang tak mampu mendekati korbannya. Berada dalam keadaan seperti ini, dengan gemas ia segera berseru:

"Hey perempuan busuk, bila kau memang berkemampuan ayoh maju dan bekuklah aku." "Heeeh.....heeeeh.....heeeeh. bila aku berniat mencabut nyawamu, akan kulakukan hal mana

semudah kubalikkan telapak tanganku sendiri, tapi aku justru tak berniat membunuhmu secepatnya, akan kulihat kau menderita siksaan lebih dulu sebelum mampus secara pelan-pelan-"

"Sudahlah, tak usah mengingau terus, bila kau berani maju dua langkah kedepan, aku akan takluk kepadamu."

"Huuuh, kalau itu mah gampang."

Sambil berkata perempuan itu segera mengayunkan telapak tangannya melepaskan sebuah pukulan-

Termakan oleh getaran tenaga yang dihasilkan dari serangan tersebut, bola besi diujung rantai Kim Thi sia seketika terhenti secara mendadak, kemudian berbalik menghantam tubuh anak muda tersebut.

Kim Thi sia terkejut sekali, buru-buru dia membentakkan rantainya keras-keras, bola besi itu dengan cepat meluncur keluar lewat daun jendela. "Blaaaammmm. "

Diiringi suara benturan yang sangat keras, jendela bambu yang berbentuk sangat indah dan menarik itu seketika terhajar hingga muncul sebuah lubang besar.

Menanti Kim Thi sia melongok kedepan, tampak olehnya Dewi Nirmala telah melangkah maju dua tindak kedepan dengan aman tenteram. Terdengar perempuan itu mengejek: "Bagaimana? Apakah kau sudah takluk?"

Terkejut bercampur gusar menyelimuti perasaan Kim Thi sia dengan suatu gerakan cepat dia meloloskan pedangnya, lalu berteriak keras:

"Tempat ini kelewat kecilnya, tidak leluasa untuk melangsungkan pertarungan- Hey perempuan busuk. jika kau bernyali, ayoh kita lanjutkan pertarungan ini diluaran situ"

"Hmmmm, nampaknya kau belum akan mengucurkan air mata sebelum melihat petu mati, baik berangkatlah lebih dulu."

Kim Thi sia segera melepaskan sebuah pukulan menggempur pintu kamar hingga mencelat sejauh tiga kaki lebih, katanya kemudian: "Ayoh lewat dari sini."

Ia takut Dewi Nirmala menyergapnya secara licik hingga sengaja berubah arah dan melalui ruang tengah.

Ciang sianseng segera menyongsong kemunculannya, ketika saling bertatapan muka, jago tua itu berseru tertahan dan segera menegur: "oooh rupanya kau. Hey sobat kecil kau hendak

kemana?"

"Urusan toayamu tak berhak untuk kau campuri, mengerti?" Jengek Kim Thi sia sinis.

Ketika ciang sianseng tidak melihat kehadiran Dewi Nirmala disitu, ia kuatir pemuda dihadapannya akan kabur dari lembah tersebut, dengan cepat serunya: "Hey sobat kecil, mengapa sih kau bersikap begitu kurang ajar kepadaku ?"

Sambil berkata sebuah pukulan segera dilontarkan kedepan-

Kim Thi sia mendengus dingin, disambutnya serangan tersebut dengan keras melawan keras.....

Duuuuukkkkk.

Dua gulung tenaga yang amat besar itu saling membentur satu sama lainnya, ditengah benturan dahsyat yang memekikkan telinga, menang kalah segera ketahuan-

ciang sianseng sama sekali tak berkutik dari posisinya semula, sedangkan Kim Thi sia tergetar mundur sejauh tiga langkah lebih. Mendadak ciang sianseng berseru dengan mata terbelalak.

"Sobat kecil, kemajuan yang kau capai dalam hal tenaga dalam benar-benar amat pesat, baru tak bertemu berapa hari kemampuanmu sudah sejajar dengan tokoh termashur dalam dunia persilatan-" Sembari berkata telapak tangan yang lain dibacokkan kebawah secara tiba-tiba.

Dengan amat cekatan Kim Thi sia berkelit kesamping untuk menghindarkan diri, lalu serunya dengan penuh amarah:

"Maknya, kalau ingin bertarung ayoh bertarung diluar saja, jangan berlagak pengecut disini"

Sebagaimana diketahui, dengan mata kepala sendiri dia menyaksikan kemunafikan ciang sianseng, karena itulah pandangannya pun turut berubah, dalam perkataanpun dia tak sungkan- sungkan lagi.

Berubah hebat paras muka ciang sianseng, dia ingin sekali membunuhnya secara keji namun ketika melihat Dewi Nirmala telah mundurkan diri disitu, nada pembicaraannyapun segera berubah, katanya kemudian:

"ooooh, rupanya kaupun sudah mengetahui jejaknya. Haaaah....haaaah bagus, bagus

sekali."

Dengan langkah yang lemah gemulai Dewi Nirmala menuruni anak tangga, sahutnya sambil tertawa pula:

"Bocah keparat ini sudah bosan hidup rupanya, dia menantangku untuk berduel."

Dengan cepat ciang sianseng memberi tanda dengan kerdipan mata kepada rekannya lalu ujarnya lagi:

"Yaa hal ini bisa dimaklumi, anak muda memang berdarah panas, tapi kau jangan melukai kasihan bukan. "

Dewi Nirmala tertawa, dia dapat memahami keinginan rekannya itu, cepat katanya: "Antara aku dengan dia sama sekali tak terjalin ikatan dendam sakit hati apapun, tentu saja aku tak usah mencabut nyawanya."

Sementara pembicaraan berlangsung, mereka berdua telah menuruni anak tangga dan tiba disebuah kebun yang luas.

Mendadak Kim Thi sia mendesak maju tiga langkah kesamping kiri, lalu serunya dengan lantang:

"Aku telah bersiap sedia, silahkan mulai melancarkan serangan." Dewi Nirmala segera tersenyum manis.

"Malam ini, aku telah melanggar kebiasaanku dengan turun tangan sendiri melawanmu, sepantasnya kau berbangga hati karena peristiwa ini. Kenapa sih cara dan sikapmu berbicara harus menunjukkan mimik yang galak dan garang?"

"Kau jangan berniat memikatku dengan kecantikan wajahmu, aku tak bakal termakan oleh tipu muslihatmu itu"

"Waaaah.......waaaah ucapanmu itu sungguh aneh" seru Dewi Nirmala sambil tertawa geli.

"Aku tak habis mengerti, atas dasar apa kau berkata begitu."

Ketika berbicara sampai disitu, kebetulan angin kencang berhembus lewat membuat bajunya melekat dengan badan, bentuk tubuhnya yang ramping dengan sepasang payudaranya besar dan montokpun segera menonjol secara menyolok sekali. Gerak geriknya benar-benar merangsang hawa napsu birahi setiap lelaki. Terdengar ia berkata lagi:

"Kau tentu sudah terlalu banyak mendengar kata-kata jelek orang lain dibelakang ku sehingga timbul kesan yang kurang baik terhadapku, tak heran kalau kau selalu menuduhku hendak memikatmu dengan kecantikan wajah ini. Padahal usiamu sekarang lebih pantas menjadi kekasih putriku. Kenapa sih aku mesti repot-repot merayumu?"

"Sekarang bukan saatnya untuk memperbincangkan masalah seperti ini, ayoh cepat bersiap- siaplah untuk melancarkan serangan-" "Kau anggap ilmu Tay goan sinkang mu sudah tiada tandingannya dikolong langit? Kau anggap kepandaianmu itu sanggup merobohkan aku? Ketahuilah, belum tentu kau sanggup bertahan sebanyak sepuluh gebrakan ditanganku."

Kim Thi sia menjadi mendongkol sekali setelah mendengar perkataan itu, segera teriaknya: "Aku justru ingin mencoba, kepandaian silat macam apakah yang sebenarnya kau miliki."

Mendadak dia maju tiga langkah kedepan, lalu sambil merentangkan telapak tangannya yang besar ia melancarkan sebuah pukulan dengan jurus "Tiga batu menindih bocah" satu diantara ilmu pukulan panca Buddha yang maha dahsyat.

Sekarang dia merasakah tenaga dalamnya telah memperoleh kemajuan amat pesat dibandingkan dulu. Perbedaannya sudah menyolok sekali, oleh sebab itu paras mukanya sama sekali tak berubah kendatipun berdiri dihadapan seorang gembong iblis yang amat lihay.

Disamping itu, setelah menyadap pembicaraan perempuan itu dengan ciang sianseng tentang keampuhan ilmu Tay goan sinkang ia sudah mempunyai rasa percaya pada keampuhan kepandaiannya, karena itu diapun melancarkan serangan lebih dulu.

Jurus "tiga batu menindih bocah" yang dipergunakan ini merupakan jurus serangan paling tangguh dari ilmu pukulan panca BUddha, ditinjau dari tindakan yang diambil Kim Thi sia yang telah mengeluarkan jurus tangguhnya dalam kontak pertama, bisa disimpulkan bahwa dia telah memandang tinggi kemampuan musuhnya itu.

Dengan suatu gerakan yang cekatan Dewi Nirmala merubah posisinya, lalu berseru: "Tak kusangka kau memang benar-benar adalah murid si Malaikat pedang yang berbaju

perlente, dilihat dari keputusannya untuk mewariskan ilmu pukulan panca Buddhanya kepadamu, agaknya dia menaruh pengharapan yang sangat besar terhadapmu."

Padahal dalam hati kecilnya dia tetap tak habis mengerti, dia tak mengerti apa sebabnya si Malaikat pedang berbaju perlente yang begitu tinggi hati, ternyata sudi mewariskan seluruh ilmu silatnya kepada seorang bocah tolol yang sama sekali tak menarik hati ini?

Sementara itu Kim Thi sia telah merubah jurus serangannya menjadi jurus "Timbul api dibalik batu" setelah serangannya yang pertama tidak mendatangkan hasil.

Tampak angin pukulan menderu- deru, tiga kuntum bayangan tangan dengan cepat dan hebat mengelilingi tubuh musuh dan masing-masing menyergap jalan darah Thian leng hiat, Tee hiat serta lambung.

Dewi Nirmala memang tak malu disebut gembong iblis wanita yang berilmu tinggi sekalipun menghadapi serangan yang begitu gencar, ia sama sekali tak gugup, Bagaikan kupu-kupu yang terbang kian kemari diantara aneka bebungahan, dia menyelinap diantara serangan-serangan musuh. Sementara sepasang telapak tangannya bergerak lincah menutup seluruh angkasa dari jangkauan lawan-

Kim Thi sia terkejut sekali, tergopoh-gopoh dia mengubah jurus serangannya ditengah jalan menjadi jurus "Buddha tua membelah bukit."

Dewi Nirmala tertawa ringan, tiba-tiba saja dari balik ujung bajunya bertebaran bayangan jari tangan yang berlapis-lapis bagaikan jala ikan. Dalam waktu singkat seluruh tubuh Kim Thi sia telah terkurung dibalik ancamannya.

Tak terlukiskan rasa kaget Kim Thi sia melihat musuhnya berhasil merebut posisi diatas angin hanya dalam satu gebrakan saja, didalam gugupnya dia semakin tidak berani berayal, ujung kakinya dijejakkan keras-keras diatas tanah, lalu sambil bertekuk pinggang dia melengos kesamping berusaha menjauhkan diri dari jangkauan angin serangan musuh. ciang sianseng segera bersorak memuji, serunya sambil tertawa:

"Betul- betul sebuah jurus serangan yang amat tangguh, tidak malu kau menjadi murid seorang jago kenamaan." Kim Thi sia segera berpaling dengan gemas, entah sedari kapan, si Malaikat pukulan itu sudah muncul ditepi arena, dan saat itu sedang menonton pertarungannya dengan senyum penuh ejekan-

Betapa geram dan kejinya pemuda kita, diam-diam umpatnya dihati:

"Hmmm, sekarang kau boleh bergaya, tunggu saja sampai tanggal mainnya nanti, akan kugencet dirimu habis-habisan-"

Sementara itu Dewi Nirmala telah mengebaskan kembali ujung bajunya keras-keras. Belum sampai ujung bajunya menyambar datang, segulung tenaga pukulan yang sangat kuat dan dahsyat telah mendesak Kim Thi sia mundur dua langkah kebelakang. Tiba-tiba Kim Thi sia berpikir:

"Emangnya kau anggap tenaga dalamku masih ketinggalan jauh ketimbang kemampuanmu?"

Terburu-buru dia mengeluarkan jurus serangan "panca Buddha naik teratai" sepasang telapak tangannya diayunkan secara menyilang, dalam sekejap mata dia telah memancarkan bunga-bunga pukulan yang melindungi diri dari ancaman musuh. Dewi Nirmala tertawa ringan, serunya mengejek:

"Hey, mengapa kau tak berani mengeluarkan ilmu Tay goan sinkang mu?"

"Tunggu saja nanti" sahut Kim Thi sia tak senang hati. "Apabila ilmu pukulan panca Buddha ku sudah tak sanggup menandingimu, pasti akan kugunakan ilmu Tay goan sinkang. Sekarang menang kalah belum lagi diketahui. Apa gunanya kau banyak berbicara?" Sementara itu dalam hati kecilnya dia berpikir.

"Ehmmm, dia tidak berusaha membunuhku secepatnya, tapi sengaja meluangkan waktu untuk bertarung melawanku. Rupanya dia ingin mencuri rahasia ilmu Tay goan sinkang dari permainanku nanti. Hmmm, bila dugaanku ini memang benar, aku mesti meningkatkan kewaspadaanku"

Sementara dia masih berpikir, Dewi Nirmala telah berkata lagi:

"Baiklah, lihat saja bagaimana kupaksa dirimu untuk mengeluarkan kepandaianmu itu." Sambil berkata secara beruntun ia melancarkan tiga buah serangan berantai.

Serangan-serangan itu bukan saja dilancarkannya dengan suatu kecepatan yang luar biasa lagi pula disertai dengan tenaga dalamnya yang begitu amat dahsyat. Jelas dia telah mengerahkan seluruh tenaga dalam yang dimilikinya.

Secara beruntun Kim Thi sia mundur sejauh tiga langkah, baru saja ia hendak membalik badan sambil melancarkan seragnan balasan, tahu-tahu ujung baju musuh telah menyapu tiba bagaikan sebilah panah tajam.

Karena tak sempat lagi untuk menghindarkan diri, tergopoh-gopoh dia menangkis dengan lengannya.

Sekilas pandangan, ujung baju itu seperti lewat tanpa membawa kekuatan yang luar biasa, akan tetapi Kim Thi sia segera mendengus tertahan dan melompat mundur kebelakang. seketika itu juga, tangannya terasa linu, kaku dan kesemutan-

Sekarang dia mengerti, ilmu silat Dewi Nirmala memang amat dahsyat dimana dalam sekali ayunan tangan saja mampu membinasakan dirinya, tapi berulang kali perempuan itu menarik kembali serangannya ditengah jalan- Sedang kalau mengenai tubuhnyapun hanya menimbulkan sakit diluar badannya saja, dari sini terbukti sudah bahwa orang itu memang mempunyi maksud- maksud tertentu.

Diapun mengerti, yang diartikan mempunyai "maksud" tertentu, tak lebih adalah memaksanya untuk menghadapi serangan-serangan tersebut dengan mempergunakan ilmu Tay goan sinkang.

Dengan dasar wataknya yang keras kepala, sekalipun dia sadar andaikata ilmu Tay goan sinkang tidak segera dipergunakan maka lambat laun banyak penderitaan yang bakal dialaminya, namun ia justru bersikeras enggan mengeluarkan ilmu simpanannya itu. Dalam waktu singkat sepuluh jurus telah lewat, Kim Thi sia sudah bermandi peluh, napasnya tersengkal-sengkal bagaikan napas kerbau, tapi ia tak mau menyerah.

Dewi Nirmala menghentikan serangannya secara tiba-tiba, katanya sambil tertawa dingin: "Ilmu pukulan panca Buddha mu bukan tandinganku, lebih baik pergunakan saja ilmu Tay goan

sinkang."

Lalu setelah mendengus dingin, lanjutnya:

"Seandainya aku tidak terdorong oleh rasa ingin tahu dan pingin melihat sampai dimanakah ketangguhan ilmu Tay goan sinkang tersebut, sudah sedari tadi kuhabisi nyawamu."

Semula Kim Thi sia beranggapan dengan kemajuan tenaga dalam yang dicapainya, paling tidak ia bisa bertarung seimbang dengan lawan- Tapi setelah kenyataan menunjukkan bahwa dia masih bukan tandingan Dewi Nirmala, perasaan hatinya menjadi pedih sekali pikirnya tanpa terasa:

"Menurut suhu, ilmu pukulan panca Buddha merupakan ilmu silat andalannya, jelas kehebatannya tidak kalah dari ilmu Tay goan sinkang. Mengapa jatuh ketanganku, kemampuannya tidak sehebat kuperkirakan semula. Mungkinkah dibalik kepandaian tersebut masih terselip rahasia kekuatan lainnya yang hingga sekarang belum berhasil kupelajari?"

Dia mencoba memperhatikan Dewi Nirmala sekejap. melihat perempuan itu sedang memandangnya dengan sinis, kontan saja hawa darah didalam dadanya bergelora hebat, kembali pikirnya :

"Tay goan sinkang merupakan ilmu tandingan dari Tay yu sinkangnya, sekalipun dia berhasil melihat rahasianya, bisa tahu akupun mampu membekuknya? Kenapa aku mesti takut kepadanya?"

Semakin dipikir rasa percaya pada dirinya makin meningkat, tak kuasa lagi dia manggut- manggut.

"Apakah kau telah mempertimbangkannya?" tanya Dewi Nirmala kemudian-

"Yaa, sudah kupertimbangkan" sahut Kim Thi sia keras-keras, mencorong sinar tajam dari balik matanya.

Tiba-tiba ia mendesak maju kemuka sambil melepaskan sebuah pukulan hardiknya. " Lihat serangan"

Jurus "Kecerdikan menguasahi jagad" yang disertai deruan angin tajam dan suara guntur yang menggelegar ini segera memancing Dewi Nirmal tercekam dalam ketegangan yang luar biasa.

"Akhirnya ilmu Tay goan sinkang muncul juga" diam-diam dia bergumam. "iHmmmm Dendam sakit hatiku dimasa itutakpernah kulupakan hingga kini, aku harus menghancurkan ilmu tersebut dengan ilmu Tay yu sinkang ku."

Paras mukanya berubah menjadi dingin kaku, sepasang matanya yang melotot besar memancarkan sinar tajam yang aneh sekali.

Sementara Kim Thi sia pun dapat merasakan kemajuan tenaga dalam yang berhasil dicapainya terbukti sekarang kemajuannya mencapai tiga kali lipat, hal ini membuat rasa percaya pada dirinya semakin meningkat semangat tempurnyapun semakin meningkat.

Pelan-pelan Dewi Nirmala menggerakkan telapak tangannya, lengan yang putih bersih bak saiju ditanah itu mulai mengejang keras memancarkan kekuatan luar biasa.

Perasaan dendam yang telah terpendam puluhan tahun membuat perempuan ini berubah menjadi seram dan mengerikan hati. Dibalik pancaran sinar matanya yang tajam entah terselip perasaan benci ataupun girang?

Tanpa menimbulkan sedikit suarapun kedua orang itu saling beradu kekuatan satu kali...... Tiba-tiba saja Kim Thi sia merasakan hatinya bergetar keras, seolah-olah tergempur oleh serangan yang maha dahsyat. Meski tubuhnya tak sampai tergetar mundur, namun perasaan tegang telah menyelimuti seluruh perasaan hatinya.

Sementara itu, Dewi Nirmala berdiri pula tanpa bergerak bagaikan patung dewi. sepintas lalu sikapnya menyerupai seseorang yang sedang melamunkan sesuatu, padahal dalam kenyataan dia sedang mengerahkan ilmu Tay yu sinkang tingkat atasnya.

Paras muka ciang sianseng pun kelihatan amat tak sedap dipandang, saat itu dia terkenang kembali saat pertarungannya melawan Malaikat pedang berbaju perlente, gumamnya lirih:

"Aaaah......itulah jurus kelima, pada jurus yang kelima aku. aku telah menjadi macan

kertas "

Ditengah keheningan, deruan angin dingin dalam Lembah Nirmala terasa berhembus makin kencang.

Pakaian compang camping yang dikenakan Kim Thi sia seakan-akan hampir rontok terhembus angin, tiba-tiba saja ia membentak lagi: " Lihat serangan"

Jurus kedua, "kelincahan menguasahi empat samudra" dilontarkan kemuka dengan kekuatan besar.

Dewi Nirmala membentak gusar, telapak tangannya diputar, segulung kekuatan besar kembali menyergap keluar.

Dalam waktu yang hampir bersamaan kedua gulung tenaga pululan itu saling beradu satu sama lainnya. " Duuuuukkkkk. "

Tiba-tiba saja Kim Thi sia menjerit keras sambil memuntahkan darah segar, sebaliknya Dewi Nirmala melototkan matanya bulat-bulat sambil mundur selangkah.

"Aaaah.... jurus kedua. " gumam ciang sianseng lagi. "Tiga jurus lagi berarti mencapai jurus

kelima."

Kim Thi sia mendongakkan kepalanya sambik berpekik panjang, dengan mengerahkan ilmu ciat khi mi khi nya dia mencoba menekan luka dalam yang dideritanya saat itu peluh telah bercucuran membasahi seluruh tubuhnya, meski yang berada ditengah udara yang dingin, namun badannya terasa panas bagaikan berada diatas gerangan api.

Sejak mempelajari ilmu Tay goan sinkang baru pertama kali ini dia melakukan perlawanan paling hebat, karena itu pula isi perutnya telah terluka oleh getaran tenaga Dewi Nirmala.

Masih untung ilmu Tay goan sinkang merupakan tandingan dari ilmu Tay yu sinkang kendatipun tenaga dalam kedua belah pihak selisih jauh, namun hal mana tak bisa ditinjau dari keadaan umum yang berlaku.

Dengan pelbagai alasan itulah maka selisih tenaga dalam Kim Thi sia dengan lawannya menyusut makin sedikit, coba kalau bukan begitu, dengan kesempurnaan tenaga dalam Dewi Nirmala yang begitu hebat, niscaya ia sudah mati terbunuh semenjak tadi.

Sebaliknya Dewi Nirmala sendiripun terjerumus dalam keadaan apa boleh buat. Mula-mula dia hanya ingin menyelidiki rahasia ilmu Tay goan sinkang, tak disangka ilmu sakti tersebut ternyata sanggup melepaskan diri dari kontrol tenaga dalamnya dengan menjerumuskan dia sendiri kelumpur kehancuran-

Itu berarti bila ia ingin hidup aman dikemudian hari, satu-satunya jalan adalah berusaha mengalahkan musuh.

Disinilah letak kehebatan dari ilmu Tay goan sinkang, sekali pertarungan sudah berlangsung maka tidak mungkin pertarungan bisa diakhiri sampai ditengah jalan, maka kedua belah pihakpun terlibat dalam suatu pertarungan mati-matian- Keadaan Kim Thi sia pun bagaikan anak panah yang berada diujung gendewa, bagaimanapun pertarungan harus dilanjutkan, maka sambil menggertak gigi menahan diri, dia membentak keras dan melancarkan serangan yang ketiga dengan jurus mati hidup berada pada nasib.

Begitu kedua belah pihak saling membentur, masing-masingpun melompat mundur kebelakang, tiada suara, tiada deruan angin tajam, hanya Kim Thi sia memuntahkan kembali darah segar.

Sebagai pemuda yang keras kepala, meskipun dia sadar bakal roboh ditangan lawan, namun dia tak rela untuk menyerah dengan begitu saja, sambil menghimpun tenaganya dia menyerang hingga kejurus kelima.

Saat itu kekuatan untuk menyerangnya sudah bertambah lemah, meski begitu masih terdapat juga semacam kekuatan aneh yang memaksa Dewi Nirmala tak berani mengendorkan perhatiannya.

ciang sianseng dengan sorot matanya yang tajam bagaikan sembilu mengawasi setiap gerakan dari jurus yang kelima itu dengan seksama, gumamnya lirih:

"Yaa, yaa benar, sudut yang miring kesisi kiri persis menghantam lambungku, sedang gerakan menyodok keatas persis menghantam jalan darah Ki hay hiat^. "

Mendadak terdengar Dewi Nirmala menjerit lengking dan mundur tiga langkah dengan sempoyongan- Menyusul kemudian Kim Thi sia mendengus tertahan dan roboh terjungkal keatas tanah.

ciang sianseng mengira dia telah tewas diam-diam gumamnya:

"Sayang, sungguh amat sayang masih ada lima jurus lagi berarti seluruh kepandaian itu selesai dipergunakan-"

Belum sempat ia menyelesaikan kata-katanya, Kim Thi sia telah merangkak bangun secara pelan-pelan- Dadanya sudah basah oleh darah segar yang mengucur keluar, sorot matanya pun semakin sayu, ia nampak begitu berat dan lamban segala gerak geriknya.

Dengan napas tersengkal-sengkal dia melepaskan baju luarnya, membiarkan dadanya yang telanjang dihembusi angin dingin.

Sementara itu Dewi Nirmala telah maju pula dengan langkah sangat lamban, sorot matanya yang tajam mengawasi pemuda tersebut tanpa berkedip.

Entah sejak kapan, dibelakang tubuh perempuan itu sudah muncul empat orang kakek, seorang diantaranya amat dikenal oleh Kim Thi sia karena dia tak lain adalah Nirmala nomor tujuh.

Tentu saha dalam keadaan demikian, ia tak berhasrat lagi untuk memperdulikan soal-soal seperti ini.

Secara diam-diam ia mencoba mengatur kembali kekuatannya dengan ilmu ciat khi mi khi, tapi entah mengapa, ternyata kemajuan yang dicapainya amat lamban, seakan-akan jauh lebih lemah daripada keadaan dulu. Dengan perasaan yang kalut dia segera berpikir:

"Aku harus menghimpun sisa kekuatan yang kumiliki, sepantasnya aku akan tewas disini.

Apalagi yang mesti kuragukan?"

Berpikir demikian, diapun segera mengayunkan telapak tangannya yang berat dan melepaskan serangan dengan jurus keenam dari ilmu Tay goan sinkang, yakni "kelembutan mengatasi air dan api."

Paras muka Dewi Nirmala telah berubah menjadi pucat pias bagaikan mayat, ditengah kegelapan orang lain memang tak sempat melihat secara jelas, tapi perempuan itu sadar bahwa tenaga dalamnya telah berkorban sangat banyak, ia sudah makin tak mampu untuk mempertahankan diri.

Pelan-pelan telapak tangannya diangkat keatas, dengan jurus "bocah sakti menyembah Buddha" dia sambut datangnya serangan tersebut. " Duuuukkkkk. ....... . Kembali serangan kedua belah pihak saling membentur satu sama lainnya, tanpa menimbulkan sedikit suarapun tubuh Kim Thi sia mencelat sejauh satu kaki lebih dari posisi semula.

Langkah kaki Dewi Nirmala pun mulai kalut ternyata dia tak mampu berdiri tegak dengan sempoyongan badannya bergeser kekiri, tapi dia menggigit bibir dan memaksakan diri untuk berdiri tegak.

Mimpipun dia tak menyangka kalau seorang pemuda rudin macam Kim Thi sia ternyata harus memeras begitu banyak tenaga miliknya, bukan cuma begitu, bahkan sekalipun sudah mengeluarkan banyak tenaga, dia masih belum berhasil juga melengkapkannya.

Dengan perasaan benci yang meluap. dia segera menghimpun seluruh kekuatan ilmu Tay yu sinkangnya untuk menggempur pemuda tersebut habis-habisan.

Baru saja Kim Thi sia merangkak separuh jalan, tubuhnya sudah tergempur oleh ilmu Tay yu sinkang yang maka dahsyat itu, kini tenaga untuk berteriakpun tak dimilikinya lagi. Tubuh anak muda tersebut mencelat sejauh tiga kaki lebih dan tercebur kedalam kolam.

Waktu itu udara sangat gelap. awan tebal menyelimuti angkasa, ditambah lagi rumput ilalang yang tumbuh disekeliling kolam sangat lebat dan tinggi, oleh sebab itu tiada orang yang tahu secara pasti dimanakah pemuda itu tercebur.

Dengan sekuat tenaga Dewi Nirmala berusaha mempertahankan keseimbangan tubuhnya, lalu kepada ketiga orang anak buahnya ia berseru: " cepat kalian angkat keluar mayatnya"

Habis berkata, pelan-pelan ia berjalan menuju keruang tengah. "Terima perintah" sahut Nirmala nomor tujuh sigap.

Tergesa-gesa dia mengacak rekan-rekan lainnya lari menuju kearah kolam. Terdengar ciang sianseng berseru sambil menghela napas panjang:

"Aaaaai sejak kini Tay goan sinkang akan lenyap dari dunia, coba kalau aku berhasil

memperlajari kepandaian sakti tersebut hatiku tentu akan merasa puas sekali."

Tiba-tiba Dewi Nirmala berpaling seraya menegur: "Jadi kau menyalahkan aku?" Melihat ciang sianseng tidak menjawab kembali dia berkata:

"Dengan mengorbankan banyak waktu dan tenaga kuberi kesempatan kepadamu untuk menikmati keindahan ilmu tersebut, apakah kesemuanya ini masih belum cukup bagimu?" Sewaktu mengucapkan perkataan itu, wajahnya diliputi perasaan gusar yang meluap-luap. ciang sianseng segera tertawa.

"Maafkan aku bila perkataanku salah, tapi aku betul-betul tidak bermaksud apa-apa." "Lantas apakah kau berhasil mempelajari sesuatu?" ciang sianseng segera tertawa getir. "Mungkin aku sudah kelewat tua, nyatanya walaupun sudah memperhatikan sekian lama, tak

ada sesuatu yang berhasil kutemukan-"

"Bagus, besok pagi kau harus tinggalkan lembah ini" tukas Dewi Nirmala kemudian-

" Kenapa?" ciang sianseng agak tertegun. Sambil tertawa dingin Dewi Nirmala berkata:

"Kau jangan menganggap aku sangat bodoh, dengan pengetahuan serta pengalamanmu yang begitu luas, mustahil tiada sesuatu yang berhasil diraih. Sudah jelas kau sedang menipu secara licik."

"Aaaaai mengapa sih kau selalu mencurigai aku?" keluh ciang sianseng dengan perasaan

apa boleh buat. "Kau benar-benar tidak tahu bagaimana mesti memberi pernyataan kepadamu."

Tampaknya Dewi Nirmala sudah teramat lelah dan kehabisan tenaga akibat pertarungan sengit yang baru saja berlangsung.

Ia tak banyak berbicara lagi, bahkan menggubris ciang sianseng pun tidak. begitu selesai berkata tadi, ia segera membalikkan badan dan menyingkir dari situ untuk mengatur pernapasan- ciang sianseng pun tidak berkata apa-apa dia hanya menghela napas sambil menggelengkan kepalanya berulang kali seolah-olah ia merasa keputusan rekannya itu tak adil.

-00d0w00k0z00-

Tempat dimana Kim Thi sia tercebur kebetulan merupakan bagian kolam yang paling cetek airnya namun paling lebat rumput ilalangnya. Ketika ia tercebur tadi, meski tak sampai tenggelam namun keempat anggota badannya yang linu dan kaku membuatnya berbaring didalam air tanpa mampu berkutik.

Keempat orang pencari menyebarkan diri keempat penjuru dan mulai melakukan pencarian dengan menelusuri rumput ilalang yang tinggi.

Waktu itu angin dingin berhembusan kencang, langit sangat gelap. jangan lagi kolam itu luas sekali. Biarpun luasnya hanya satu kakipun bila tidak dilakukan pencarian secara teliti, sulit rasanya untuk menemukan jejak pemuda tersebut. Apalagi air yang menggenangi tempat itu setinggi lutut, bagaimana mungkin jejak korbannya bisa ditemukan secara mudah? sudah sekian lama mereka berempat melakukan pencarian namun hasilnya tetap nihil.

Mendadak Nirmala nomor tujuh tiga langkah kedepan, kini kakinya sudah mencebur kedalam air katanya:

"Perintah dari sin li tak bisa dibangkang aku lihat lebih baik kalian bertiga terjun pula kekolam untuk melakukan pencarian- Sedang aku biar menunggu disini saja, maklumlah aku tak mengerti ilmu dalam air?"

Padahal persis dibawah kakinya inilah tubuh Kim Thi sia berbaring, menggelikan sekali memang ternyata sampai sekarang jejaknya belum juga diketahui.

"Mungkin juga hal ini dikarenakan rumpun ilalang yang tingginya selutut dan susah dicapai dengan pandangan mata, sehingga dia sama sekali tidak tahu kalau dibalik lumpur lembut disisi kakinya tergeletak tubuh Kim Thi sia."

Waktu itu Kim Thi sia merasakan sekujur badannya kaku dan kesemutan, sama sekali tak mampu bergerak kalau tidak. ia pasti akan terperanjat sekali dibuatnya.

Sementara itu, tiga orang jagoan telah terjun keair, mereka mulai melakukan pencarian yang seksama didalam kolam dengan air yang dingin membekukan badan itu.

Sampai lama. lama kemudian, ketiga orang itu baru merangkak naik kedaratan dengan

tubuh menggigil, seru mereka bersama:

"Mungkin tubuh pemuda itu sudah terseret arus air dan terseret entah kemana, kami telah melakukan pencarian yang seksama disekeliling tempat ini, namun nyatanya belum juga ditemukan-"

"Bagaimana baiknya sekarang?" kata Nirmala nomor tujuh kemudian sambil tertawa getir. "Sin li hanya tahu menurunkan perintah, dia tak akan mau tahu atas kesulitan yang kita hadapi."

"Yaa, kenyataan telah berkembang menjadi begini, rasanya kita hanya bisa mohon maaf kepadanya."

"Baiklah, kalau begitu mari kita pergi minta maaf kepadanya." kata Nirmala nomor tujuh kemudian-

Selesai berkata, dia segera mengajak ketiga orang rekannya balik menelusuri jalan semula.

Secepat sambaran kilat mereka berangkat menuju kegedung besar berwarna emas itu. Ditengah jalan, mendadak Nirmala nomor tujuh menghentikan larinya seraya berseru:

"Aduuuuuh aku hendak membuang hajat sebentar, harap kalian berangkat duluan. Aku

segera akan menyusul." Ketiga orang rekannya tidak menaruh curiga apa-apa, mereka segera meneruskan perjalanannya.

Ternyata Nirmala nomor tujuh tidak pergi membuang hajat, menanti ketiga orang rekannya sudah pergi jauh, cepat-cepat dia kembali ketepi kolam dan membopong keluar tubuh Kim Thi sia dari air, kemudian setelah menguruti beberapa buah jalan darahnya dia menegur:

"Nak, bagaimana perasaanmu sekarang?"

Kim Thi sia tak mampu mengucapkan sepatah katapun selain dari tenggorokannya bergema suara pelan- Sekujur badannya sangat letih, setitik kesadarannya meski belum hilang sama sekali toh rada kabur.

Apa yang dibicarakan Nirmala nomor tujuh memang terdengar olehnya sayang dia tak mampu mengucapkan sepatah katapun-

Dengan penuh kasih sayang Nirmala nomor tujuh membelai jidatnya yang membeku, lalu gumamnya:

"Bocah yang bernasib malang. setelah berhasil kabur dari gua, mengapa kau tak berupaya

untuk melarikan diri ?"

Kemudian setelah berhenti sejenak, kembali gumamnya:

"Yaa, mengingat aku menaruh kesan yang begitu sangat baik kepadamu, bagaimanapun juga aku harus berupaya untuk menolongmu."

cepat-cepat dia duduk bersila kemudian mengatur pernapasan, tak selang berapa saat kemudian, kabut putih telah mengepul keluar dari jidatnya. Sepasang telapak tangannya segera dia tempelkan diatas dada Kim Thi sia dan menguruti jalan darahnya.

Tak selang berapa saat kemudian, segulung hawa napasnya muncul dari pusat pemuda itu dan pelan-pelan menyebar keseluruh badan.

Begitu memperoleh kembali sebagian tenaganya, Kim Thi sia pun berkata: "Terima kasih banyak empek atas bantuanmu, budi kebaikanmu tak pernah akan

kulupakan,aku. aku pasti akan berusaha membalas budi ini." Kemudian setelah terbatuk-batuk

sesaat lanjutnya:

"Empek, aku tiada harapan lagi, kau. kau tak usah bersusah payah."

Nirmala nomor tujuh segera tertawa ramah, katanya:

"Nak, semangat adalah kekuatan, atas dasar apa kau mengatakan tiada harapan lagi.

Ayohjangan bicara sembarangan, aku akan membantu untuk memperlancar peredaran darahmu."

Berbicara sampai disitu, dia benar-benar meninggalkan teganya dan melipat gandakan kekuatannya.

Tak lama kemudian, napas Nirmala nomor tujuh makin memburu, paras mukanya yang semula merah kini berubah menjadi pucat pias, peluh sebesar kacang kedelepun jatuh bercucuran membasahi jidatnya dan menetes diatas wajah pemuda itu. Mendadak Kim Thi sia berkata:

"Empek. budi kebaikanmu ini bagaikan cucuran keringatmu yang membasahi tubuhku sekarang, bila aku beruntung dapat lolos dari maut, suatu keita aku pasti akan balik lagi ke Lembah Nirmala untuk membalas kebaikanmu itu."

Nirmala nomor tujuh menyadari bahwa pemuda ini berhati mulia dan tahu budi, karenanya diapun berkata:

"Ingat baik-baik perkataanku, disaat tenagamu pulih kembali segera berangkatlah menuju ketimur. Tinggalkan lembah ini disaat malam masih mencekam. Tentang kedatanganmu kembali dilain waktu, aaaaai. " Tiba-tiba saja nada suaranya kedengaran begitu sedih dan memilukan hati, terusnya dengan parau:

"Mungkin waktu itu aku sudah tak berada didunia ini lagi."

Kim Thi sia amat terkesiap. baru saja dia hendak berbicara kakek itu telah menukas kembali: "Kita tak perlu membicarakan soal itu. Nak, aku ingin tahu tinggal berapa banyak obat yang

kuberikan kepadamu?"

"Aku tidak menghitungnya satu per satu. Tapi kemungkinan besar masih sepuluhan biji." sambil tertawa Nirmala nomor tujuh manggut-manggut, ucapannya: "Aku sangat gembira karena kau tidak menghilangkannya." setelah berhenti sejenak, dengan cepat dia menambahkan:

"sepeninggalku nanti, telanlah seluruh pil tersebut sekaligus, obat-obat itu akan memberikan manfaat yang tak terhingga bagimu."

"Akan kuingat terus."

"Soal nona Hay jin, dia telah pergi bersama putra tunggal sipukulan sakti tanpa bayangan dari Tiang pek san" kata Nirmala nomor tujuh lebih jauh. Kemudian setelah menatap pemuda itu lekat- lekat, terusnya dengan wajah serius:

"Biarpun ibu dari nona ini banyak melakukan kejahatan, namun gadis tersebut sesuci dirimu. Sebelum berangkat dia pernah memohon kepadaku untuk menyampaikan berita ini kepadamu, karenya kuharap kau jangan menyia-nyiakan pengharapannya. "

Rasa terkejut dan gembira segera menyelimuti perasaan Kim Thi sia begitu mendengar perkataan itu, entah semangat apa yang berkobar didalam dadanya, tiba-tiba dia bangun terduduk dan berseru:

"Benarkah dia berkata begitu? Empek kau tidak membohong bukan?"

Sambil membelai rambutnya dengan penuh kasih sayang, Nirmala nomor tujuh berkata lagi:

" Kupandang dirimu seperti anak kandungku sendiri, buat apa aku berbohong kepadamu?"

Tiba-tiba saja Kim Thi sia mempunyai keyakinan yang besar atas masa depan sendiri, segera katanya:

"Empek. aku tidak akan mati, aku pasti akan berhasil keluar dari lembah ini." Kemudian sambil meraba kemala dalam sakunya, dia berkata lebih-jauh:

"Aku tidak tahu kalau ia berpesan begitu kepadamu. oooh ^aku harus menyayangi

keselamatan jiwaku sendiri."

"Nak. kesemuanya ini tergantung jodoh. Kuharap kau bisa memperoleh kehidupan yang bahagia" bisik sikakek sambil menatap pemuda itu lekat-lekat.

Mendengar perkataan itu, tanpa terasa Kim Thi sia menggenggam sepasang tangannya erat- erat.

Tiba-tiba Nirmala nomor tujuh bangkit berdiri dan melepaskan diri dari genggamannya, ia berkata singkat:

"Nak. aku harus pergi, selamat berjuang"

Begitu selesai berkata, dia segera membalikkan tubuh dan beranjak pergi dari situ.

-00d0w00k0z00-