Lembah Nirmala Jilid 32

 
Jilid 32

"oooh, maaf kalau perkataanku membangkitkan kepedihan hatimu, aku sangat menyesal." Gadis berbaju putih itu melirik sekejap kearahnya, kemudian berkata lagi: "Tampaknya kita tidak seharusnya memperbincangkan persoalan ini bukan?" Kemudian setelah tertawa lembut, lanjutnya:

"Mari kita kembali kemasalah pokok yang harus dibicarakan, mengapa sih kau menampik untuk mengungkap rahasia dari Tay goan sinkang?"

"suhuku pernah berpesan begitu kepadaku, karenanya aku tak dapat melanggar pesannya." "Andaikata kau memberitahukan soal itu kepadaku, dan akupun tak akan menyebar luaskan

keluar, siapa yang akan mengetahui akan kejadian tersebut?"

"Tidak bisa, ibumu adalah seorang perempuan kejam yang berhati hitam dan buas. Seandainya kuberikan rahasia ilmu Tay goan sinkang kepadanya, maka tindakanku ini sama artinya dengan mencelakai seluruh umat persilatan-"

"Begitu jelekkah nama ibuku didaratan Tionggoan?" tanya sinona sambil mengbelalakkan matanya lebar-lebar dan mengawasi pemuda tersebut dengan perasaan ingin tahu.

"Yaa, bagaimana pun juga, dia pantas dikatakan sebagai seorang gembong iblis wanita."

Mendengar perkataan tersebut, nona berbaju putih itu menghela napas panjang katanya kemudian:

"Aku benar-benar tak mengerti, mengapa sih ibu suka melakukan perbuatan jahat?" Dengan wajah pedih dia mengeluh, kemudian terusnya:

"Banyak penghuni lembah ini yang secara diam-diam memberitahukan persoalan tersebut kepadaku. Kalau satu dua orang yang bilang, mungkin aku tak akan mempercayainya, tapi setelah semua orang berkata begitu, mau tak mau aku harus mempercayainya juga. Hey, lanjutkan kata- katamu tadi, aku tak akan marah kepadamu."

"Aku tahu, kau adalah seorang wanita yang sangat mengerti keadaan. Aku merasa amat bangga bisa berbincang-bincang denganmu" kata Kim Thi sia dengan suara dalam. "Sekarang aku akun membeberkan dahulu semua dosa-dosa ibumu. Aku harap kau mendengarkan dengan seksama. Sebab apa yang kukatakan semuanya merupakan kenyataan-" setelah berhenti sebentar untuk menarik napas, dia berkata lebih lanjut:

"Kesatu, dia telah berani menentang guru sendiri gurunya adalah Kiam Sianseng, seorang tokoh silat yang amat termashur namanya pada puluhan tahun berselang, semasa dia belajar silat dulu. ibumu telah mempergunakan kecantikan wajahnya untuk memikat kiam Sianseng serta menipunya untuk mengajarkan ilmu Tay yu sinkang kepadanya."

Setelah mengenang kembali apa yang pernah diucapkan malaikat pedang berbaju perlente, dia melanjutkan kembali kata-katanya:

"Kedua, baru berapa bulan dia turun gunung, banyak sudah jago-jago dari golongan lurus yang menjadi korban keganasannya."

"Ketiga untuk kepentingan pribadi ternyata dia telah menjaring banyak sekali jago lihay dari dunia persilatan untuk berkumpul di Lembah Nirmala dan membantunya untuk memulihkan kembali kekuatan ilmu Tay yu sinkangnya, dalam hal ini aku percaya sudah banyak yang kau saksikan, kawanan kakek yang amat memedihkan hati itulah merupakan bukti yang paling jelas. "

Berbicara sampai disitu, Kim Thi sia berhenti sejenak sambil menengok kearahnya, kebetulan gadis itupun sedang memperhatikan kearahnya, ketika empat mata bertemu tiba-tiba saja dua titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya. Dengan perasaan iba, pemuda itu segera berkata: "Seandainya kau enggan untuk mendengarkan lebih lanjut, biarlah kuakhiri pembicaraan soal itu sampai disini saja."

"Tidak. kau harus melanjutkan kata-katamu " pinta sinona dengan suara sesenggukan-

Kim Thi sia merasa sangat iba, namun dia tak ingin menyia-nyiakan harapan gadis tersebut, dengan suara yang parau segera sambungnya:

" Keempat, dia telah mendesak anak buahnya untuk mencari balas terhadap kesembilan orang murid Malaikat pedang berbaju perlente. Berapa hari berselang bahkan dia telah turun tangan sendiri membinasakan sipedang bintang, satu diantara kesembilan jago pedang tersebut."

" Kelima, antara aku dengan dia sama sekali tak terjalin rasa sakit hati apapun atau tegasnya tidak saling mengenal, namun dia toh sudah menotok jalan darahku dan menangkapku kemari, kemudian memaksaku untuk menyerahkan rahasia ilmu Tay goan sinkang kepadanya."

Mungkin karena dorongan api kegusaran yang meluap-luap. pemuda itu berbicara dengan lancar sekali tanpa berhenti, terdengar dia meneruskan:

"Adegan yang kualami tadi, tentunya kau telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri bukan? Tadi dia berniat menyiksaku dengan siksaan ular, apakah pikiran dan perbuatan kejam seperti ini pantas dilakukan oleh wanita yang seharusnya berhati lembut dan halus?"

"Kalau begitu aku......aku telah menjadi seorang pembantu pembunuh. ^." keluh nona

berbaju putih itu dengan wajah memucat dan mengeluh lirih, hampir saja ia jatuh pingsan-

"Selain apa yang kukatakan tadi, sesungguhnya masih terdapat pula masalah-masalah lain yang lebih kecil, pokoknya aku tidak mengetahui secara pasti berapa banyak kejahatan yang juga pernah dilakukan olehnya. Aku. "

Tiba-tiba dia tutup mulutnya sambil mengawasi gadis tersebut dengan tertegun, lalu serunya: "Hey, apakah kau merasa tak enak badan?"

Nona berbaju putih itu memegangi dadanya dengan sepasang tangan, dengan bersusah payah dia bergumam lirih:

"ooooh Thian. tidak kusangka ibu yang kucintai ternyata adalah manusia seperti ini."

Melihat hal itu, Kim Thi sia segera memukul jidat sendiri seraya berseru:

"Nona, manusia kasar seperti aku ini paling gampang naik darah, tak kusangka aku berbuat begitu bodoh dengan membeberkan semua kejahatan ibumu kepadamu. Aaaai. tindakanku ini

keliru besar, sudahlah....kau jangan bersikap begitu lagi.......aku merasa amat sedih "

Menyaksikan gadis cantik itu dirundung kesedihan yang luar biasa, tiba-tiba saja sikap pemuda itupun mengalami perubahan sangat besar, dengan suara yang parau dan rendah dia berkata lagi:

"Nona, belum pernah aku merasa menyesal seperti ini. Aku tak lebih hanya seorang manusia kasar. Perkataan dari seorang manusia kasar tak lebih hanya kata-kata yang tak berguna, kau jangan percaya dengan perkataanku tadi."

Gadis berbaju putih itu benar-benar memberikan daya pikat yang luar biasa, tatkala dia sedang tertawa, maka bagaikan bunga sedang mekar, segala sesuatunya nampak sedang tertawa dan gembira.

Tapi setelah ia bersedih hati, maka segala sesuatunya nampak menyedihkan dan memilukan hati.

Akhirnya karena rasa sedih yang tak terhingga, gadis itu menjatuhkan diri diatas meja dan tertidur nyenyak.

Entah berapa saat sudah lewat ketika gadis itu sadar kembali dari tidurnya, dia seperti sudah mengambil suatu keputusan yang bulat kepada Kim Thi sia segera serunya: "Aku sudah mengambil keputusan untuk meninggaikan ibuku, beranikah kau mengajak ku keluar dari lembah ini?"

Kim Thi sia menjadi tertegun dan setengah harian lamanya tak mampu mengucapkan Sepatah katapun sehabis mendengar perkataan tersebut.

Mendadak segulung angin berhembus lewat, pemuda itu segera menggenggam tangan sinona dan bersumpah:

"Asal kau masih bisa hidup akan kuusahakan dengan segala kemampuan yang ada untuk membuatmu meninggalkan lembah ini."

Ia menatap gadis tersebut lekat-lekat dibalik sorot matanya terpancar rasa keyakinan yang besar.

Kim Thi sia kembali disekap dalam gua, karena pemuda itu bersikeras menampik untuk mengungkap rahasia ilmu Tay goan sinkang.

Masih untung sinona berbaju putih itu menaruh simpatik terhadap pemuda kita atas bujuk dan permohonannya yang berulang-ulang, akhirnya Dewi Nirmala mengubah keputusannya dari siksaan ular menjadi siksaan lapar.

Dia menganggap tabiat Kim Thi sia tak lebih hanya tabiat orang kasar, maka dia bermaksud membuat pemuda tersebut menjadi lapar kemudian baru memaksanya untuk mengungkap rahasia ilmu Tay goan sinkang.

Tapi sayang, mimpipun dia tak menyangka kalau Nirmala nomor tujuh telah menaruh kesan baik terhadap pemuda ini sehingga dengan menyerempet bahaya ia telah membantu pemuda tersebut secara diam-diam.

Bukan saja dia telah membebaskan pemuda itu dari pengaruh totokan Dewi Nirmala diapun menyerahkan pil mustika kepada Kim Thi sia untuk menghilangkan rasa lapar yang mencekamnya

.

Suasana remang-remang telah menyelimuti seluruh ruang gua, Kim Thi sia tak dapat melihat sinar sang surya, namun dia tak kuatir akan kelaparan yang menggerogoti perasaannya sekarang adalah keselamatan dari nona berbaju putih itu. Pikirnya didalam hati:

"Sekarang dia telah mengetahui segala kejahatan yang pernah diperbuat Dewi Nirmala, diapun telah memutuskan untuk meninggalkan tempat ini, sayang aku tak becus. Aaaaai. sekalipun

aku seorang lelaki sejatinya hanya aku tak mampu membantunya untuk meninggalkan lembah ini."

Tak selang berapa saat kemudian, kembali dia berpikir:

" Kenapa aku mesti membuang waktu dengan melamun? Kenapa aku tidak mempergunakan kekuatanku sendiri untuk menciptakan suatu peristiwa yang luar biasa?"

Berpikir demikian, dia segera duduk bersila dan mengatur pernapasan, kemudian latihanpun segera dilaksanakan dengan sungguh-sungguh.

Hingga senja menjelang tiba, ia baru selesai dengan latihannya, meski tubuhnya dijumpai basah kuyup oleh keringat, namun pemuda tersebut dapat merasakan bahwa tenaga dalamnya telah peroleh kemajuan setingkat lagi.

Untuk menahan lapar, kembali dia menelan sebutir pil mestika itu, lalu mengayunkan kembali telapak tangannya melepaskan pukulan demi pukulan kearah batu besar dimulut gua.

Berapa pukulan yang dilancarkan secara beruntun segera menggumpikkan batu cadas itu hingga berguguran keatas tanah, sekalipun batu itu belum mampu digerakkan, namun hancura batu yang dihasilkan jelas memperlihatkan kemajuan yang dicapainya. "Sekarang aku telah berhasil meretakkan batu cadas itu, berarti tenaga dalamku telah memperoleh kemajuan satu tingkat. Ya asal aku mau berlatih lebih tekun, niscaya aku bisa lolos dari tempat ini" demikian ia berpikir dalam hatinya.

Akhirnya dia berlatih hingga tubuhnya lelah dan tertidur tanpa terasa dengan menempel diatas dinding. Keesokkan harinya........

Ketika sinar sang surya sudah mencorong masuk kedalam gua, pemuda itu baru mendusin kembali dari tidurnya.

Kembali dia menelan sebutir pil untuk menghilangkan rasa laparnya, kemudian melanjutkan latihannya dengan tekun. Siapa tahu saat itulah dia melihat didepan dinding gua tertempel sleembar kertas putih.

Kertas putih itu jelas disusupkan masuk kedalam gua melalui celah gua. Andaikata ia tidak memperhatikan dengan seksama, rasanya sulit untuk menemukannya.

Dengan cepat Kim Thi sia mengambil kertas tadi dan dibuka, terlihatlah surat itu berbunyi begini. "Thi sia."

"Pembicaraan kita semalam membuat aku harus berpikir semalam suntuk, hingga kini aku belum juga dapat memejamkan mata. Dari balik cermin kusaksikan sepasang mataku telah merah membengkak, mengapa bisa begini?"

"Sejak kecil aku hidup didiam kegembiraan, awan putih dan burung adalah sahabatku dipagi hari, rembulan dan bintang adalah pelayan dalam impianku. Selama ini aku tak pernah merisaukan ada apa, tapi akhirnya aku paham, rupanya kebahagiaanku dibangun dari kesengsaraan dan penderitaan orang lain- Aaaaai. ditengah malam yang panjang, aku seakan-akan melihat banyak

tangan yang dijulurkan kepadaku dengan penasaran-"

"Aku harus berterima kasih kepadamu meski akibat dari keteranganmu itu membuat kebahagian hidupku selanjutnya ibarat bunga yang layu disiang hari, namun kuhormati dirimu sebagai abangku. Aku malu dan menyesal karena apa yang diberikan ternyata hanya keaiban dan ketidak tentraman. Aku tidak menyatakan apa-apa, bagaimanapun juga, dia toh masih tetap merupakan ibu kandungku."

"Aku gembira karena kau lolos dari perlakuan yang buruk dan keji, tapi aku merasa tak tenteram karena kau disekap dalam gua yang gelap dan pengap. Aku hanya bisa berharap dengan perjuanganmu yang teguh maka nasibmu akan berubah sama sekali, aku percaya masa depanku sudah berada ditanganku. Disaat kau berhasil dengan sukses dikemudian hari, aku pasti akan turut berbangga hati."

"Hanya sampai disini suratku kali ini, pikiranku amat kalut. Moga- moga keberhasilanmu dapat cepat diraih." "Salam selalu dari, Hay jin-"

Selesai membaca tulisan itu, Kim Thi sia merasakan gejolak hawa panas bergelora didalam dadanya, dengan terharu sekali dia bergumam:

"Ehmmm. bila ditinjau dari isi suratnya ini, jelas dia sangat mengharapkan keberhasilan dan

kesuksesanku, dia terlalu yakin dengan kemampuanku, padahal aku "

Dengan sedih dia menundukkan kepalanya rendah-rendah, perasaan rendah diri kembali menyelimuti seluruh perasaan hatinya.

Pelan-pelan dia mengalihkan kembali sorot matanya keatas kertas itu, tiba-tiba saja perasaannya menjadi kecut, sedih sekali.

"Aaaaai bekas air mata diatas surat ini belum mengering, sewaktu menulis surat ini perasaan

hatinya pasti sedih sekali. Dia adalah seorang gadis yang suci bersih dan berhati lembut, mengapa justru memiliki seorang ibu yang begitu kejam, buas dan tak berperikemanusian? Mengapa ibunya justru seorang gembong iblis yang membunuh orang tanpa berkedip? Aaaa i. mengapa pula

dia menulis "masa depannya ibarat bunga layu disiang hari?" Apakah dia merasa terpukul batinnya oleh kenyataan yang ada ^.?"

Makin dipikir pemuda itu merasa makin pening dan kalut pikirannya. Mendadak pikirnya kembali:

"Aaaah, aku tak boleh terbawa oleh perasaan, sekarang aku harus berupaya untuk mengendalikan perasaan sendiri dan memanfaatkan setiap kesempatan yang ada untuk melatih diri. bukankah gadis itu sedang menunggu saat keberhasilanku?"

Sebagai seorang lelaki kasar, apa yang terpikir segera pula dilaksanakan, dengan membuang segala pikiran dan kekalutan, dia mulai duduk bersila serta melatih diri.

Dalam suasana senja yang hening, mendadak dia mendengar ada suara orang sedang merintih kesakitan- Ketika diamati dengan lebih seksama, ternyata suara rintihan itu bukan berasal dari seorang saja. Dengan perasaan terkejut dia segera berdiri

"Mungkinkah ditempat ini masih ada orang lain yang mengalami nasib setragis diriku?" Tanpa terasa dia terbayang kembali cerita ayahnya dulu.

"Lambat laun, ayah mendengar banyak sekali suara rintihan yang memilukan hati. Suara rintihan itu tidak terlalu jelas tapi mengandung tenaga yang penuh, rasanya suasana seperti sukar untuk dijumpai dalam dunia persilatan, tak heran rasa ingin tahu ku segera timbul."

"Akhirnya aku berhasil menemukan, rupanya suara rintihan yang bersahut-sahutan itu berasal dri sekawanan kakek yang berada didalam beberapa gua gelap diam-diam akupun mengintip dari balik gua tersebut, tapi apa yang teriihat membuat hatiku terperanjat."

"Ternyata dari balik gua yang gelap gulita itu memencar keluar sepasang mata yang tajam bagaikan bidikan anak panah, buru-buru aku menarik kembali kepalaku dengan perasaan terkesiap. Tapi sejak itu juga aku mengetahui bahwa gua kecil yang gelap itu berdiam seorang kakek yang berilmu silat amat tinggi. Sekalipun ayah pernah menyaksikan dengan mata kepala sendiri, namun dari ketajaman mata mereka, aku salah satu seorang diantara mereka sudah mampu mengobrak abrik dunia persilatan- Andaikata mereka sampai berkelana dalam dunia kangouw."

Terbayang kembali kesemuanya itu, Kim Thi sia segera merasakan hatinya berdebar keras, pikirnya:

"Tak disangka lagi suara rintihan tersebut tentu berasal dari orang-orang yang dibelenggu Dewi Nirmala. HHmmm, bila aku dapat lolos dari gua ini, pasti akan kubantu orang-orang tersebut.

Paling tidak Dewi Nirmala akan menghadapi musuh tangguh yang lebih banyak." Begitulah, selesai melatih diri dengan tekun, kembali pemuda itu tertidur nyenyak.

Keesokkan harinya, kembali ia menemukan secarik surat, dengan perasaan tegang pemuda itu segera mengambil surat tersebut dan dibaca isinya. "Thi sia."

"Pertama-tama aku hendak menerangkan lebih dulu bahwa suratku kemarin dan hari ini bisa sampai ditanganmu berkat bantuan Nirmala nomor tujuh, kasih sayangnya menimbulkan kehangatan dalam hatiku. Aku rasa budi kebaikan semacam ini pasti akan kubalas dikemudian hari."

"Seharian belakangan ini hatiku selalu murung dan masgul, rupanya kemurungan dan kesedihanku diketahui juga oleh ibu, dengan garang dan galak dia menegur serta mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepadaku. oooh sepasang matanya begitu dingin, aku takut sekali."

"Aku tahu, dia telah menugaskan empat orang dayang untuk mengawasi gerak gerikku. Kini keadaanku menjadi bertambah runyam dan bahaya, aku tidak tahu apa yang mesti kuperbuat."

"Keempat orang dayang itu mengawasiku sangat ketat, sampai-sampai kesempatan untuk menulis suratpun tak ada."

Selesai membaca tulisan ini, Kim Thi sia berkerut kening, pikirnya dengan risau: "Seandainya Dewi Nirmala sampai mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya, dengan kekejaman, kebuasan dan kekejiannya sudah pasti gadis itu akan dicelakai. oooh. aku harus

berusaha meninggalkan gua ini lebih cepat lagi."

Berpikir demikian ia segera berusaha untuk mendorong batu raksasa tersebut, namun betapapun dia mengerahkan tenaganya, ternyata benda tersebut sama sekali tak bergeming.

Akhirnya Kim Thi sia menjadi mendongkol sekali hingga menjatuhkan diri duduk dilantai dan bermuram durja.

Sampai lama sekali, dia baru menghentikan rasa mendongkolnya dan melanjutkan latihannya lebih jauh.

Pada hari ketiga, kembali pemuda itu menemukan secarik surat, kali ini surat tersebut berbunyi demikian: "Thi sia."

"Ketika ibu gagal mengetahui latar belakang masalah yang kuhadapi, akhirnya dia mengurung ku didalam kamar, sekarang gerak gerikku tak bebas lagi. Meski jauh lebih baik daripada keadaanmu, namun keadaan kita sekarang boleh dbilang senasib sependeritaan-"

"Ketika Nirmala nomor tujuh datang membawa makanan bagiku, dia telah berbisik kepadaku. ia berniat mengurungmu selama tujuh hari. Sebab biasanya seseorang tak akan tahan menderita kelaparan selama ini. Aaaa i. aku merasa kuatir sekali, apakah kau sanggup untuk menahan

diri?"

"Kemarin perasaanku sangat kalut, tak setetes airpun yang kuminum tak sebutir nasipun yang kutelan, aku merasa amat kalut, pikiranku sangat kacau."

"Entah mengapa, tiba-tiba saja aku merasa menyesal karena tak pernah belajar silat. orang bilang kehidupan orang yang tak mengerti silat tenang dan tenteram, tetapi kenyataannya hidupku bergelombang." "Salam, Hay jin-"

Kim Thi sia amat terharu, perasaannya dicekam emosi, tiba-tiba saja ia menggigit robek jari tangannya, lalu menulis berapa patah kata dibalik kertas surat tadi. Ia menulis begini:

"Kau tidak usah kuatir, aku tidak bakal mati, aku bersumpah akan membantumu keluar dari lembah ini."

Selesai menulis surat tadi, ia mendongakkan kepalanya dan menghela napas panjang, gumamnya:

"Hay jin aku tidak berani memastikan berhasil, tapi aku bersedia untuk berkorban bagimu."

Ia melipat surat tersebut dan dilemparkan keluar gua lewat celah-celah yang ada, dia percaya Nirmala nomor tujuh tentu akan menemukan suratnya itu.

Sekarang perasaan hatinya merasa puas sekali. Kalau toh harus berkorban, dia tidak akan segan-segan melakukannya, sebab gadis cantik berbaju putih itu telah mengirim tiga pucuk surat kepadanya.

Dengan semangat yang berkobar-kobar kembali pemuda itu melatih ilmu silatnya dengan lebih tekun dan bersungguh-sungguh. Pada hari keempat.......

Begitu mendusin tidurnya, maka tindakan pertama yang dilaukan adalah memeriksa apakah ada surat untuknya^

Ternyata apa yang diharapkan menjadi kenyataan, kembali sepucuk surat muncul didepan mata.

Kali ini surat tersebut berbunyi begini:

"Thi sia."

"Ketika kubaca suratmu yang kau tulis dengan darah, hatiku merasa terharu disamping sedih, mengapa kau harus membuang darahmu yang berharga secara percuma?" "Kau tahu setiap kali kupejamkan mata, aku seolah-olah menyaksikan raut mukamu yang murung dan sedih karena sekapan selama empat hari ini, aku rasa kau tentu kurus sekali."

"Pagi tadi, Nirmala nomor tujuh memberitahukan kepadaku bahwa ibuku telah membunuh lagi lima orang yang tak bersalah. Aaaai. mengapa ibu harus berbuat demikian?"

"Mungkin juga dia berbuat demikian karena perasaan hatinya kurang baik, selama ini diapun tak pernah datang untuk menjengukku. Namun akupun tidak mmebutuhkan kasih sayangnya yang penuh kemunafikan. Aku telah bertekad akan pergi meninggalkannya."

"Bersabarlah, setiap hari aku menulis surat kepadamu, kata-kata tersebut selain mendengung dihatiku, kuharap kaupun dapat berbuat demikian."

"Menurut kabar dari Nirmala nomor tujuh, lusa ibuku hendak pergi ke Tionggoan. Aku merasa gembira sekali setelah mendengar berita ini, dengan kepergiaannya bukankah kaupun akan berkurang dalam penderitaan?" "Salam, Hay jin-"

Kim Thi sia merasakan perasaannya bergolak keras sehabis membaca tulisan ini, tiba-tiba saja dia berpikir:

"Bila ditinjau dari tulisannya, setiap patah kata semuanya mengandung perasan kuatir serta perhatian yang sangat besar apakah dia menaruh hati kepadaku?"

Tapi perasaan rendah diri segera memotong jalan pemikiran tersebut, pikirnya lebih jauh:

"Aku tak lebih hanya seorang manusia gelandangan yang kasar dan tak tahu sopan santun dari dunia persilatan- Bagaimanapun juga aku bukan tandingannya, sungguh menggelikan kalau aku punya ingatan katak buduk mengharapkan daging angsa. IHmmmm, dia toh cuma berniat menghiburku dengan kata-kata senasib sependeritaan- Masa aku lantas menganggapnya punya minat kepadaku? Huuuuuh, ingatan yang benar-benar tak tahu malu "

Dengan cepat dia membuang jauh-jauh semua pikiran itu dan meneruskan lagi latihannya.

Pada hari kelima......

Dengan penuh pengharapan dia membuka batunya, tapi ia sangat kecewa, ternyata gadis cantik berbaju putih itu tidak menulis surat untuknya.

Entah mengapa, tiba-tiba saja pemuda itu merasa sangat mendongkol. Dalam jengkelnya ia segera menghimpun seluruh kekuatan tubuhnya dan melancarkan sebuah pukulan keatas batu cadas itu.

"Blaaaaaarrmm. "

Tiba-tiba saja batu raksasa itu bergoncang keras sambil menimbulkan suara yang angat aneh.

Kim Thi sia hampir saja tak percaya kalau apa yang telah terjadi merupakan suatu kenyataan- Dengan cepat berpikir:

"Mungkinkah berkat latihanku siang dan malam, tenaga pukulan Tay goan sinkang ku telah mencapai puncak kesempurnaan?"

Sekali lagi dia menghimpun segenap kekuatan yang dimilikinya dan melepaskan sebuah pukulan lagi. "Blaaaaammmmm. "

Ditengah benturan keras, hancuran batu berserakan kemana-mana, kembali batu raksasa itu bergoncang keras.

Kali ini dia sudah makin yakin kalau ilmu Tay goa sinkangnya telah memperoleh kemajuan pesat, meski begitu ia belum berhasil menjebloskannya untuk melarikan diri.

Tapi timbul juga rasa percaya pada kemampuan sendiri, sekalipun batu itu belum berhasil disingkirkan, tapi ia percaya akhirnya apa yang diharapkan dapat tercapai juga.

Maka dengan membuang jauh-jauh segala pikiran, dia melanjutkan kembali latihannya dengan tekun- Tengah harinya terdengar suara langkah kaki manusia bergema mendekati gua tersebut, kemudian tampak secarik kertas disisipkan lewat celah gua. Buru-buru Kim Thi sia mengambil kertas itu dan dibaca isinya. "Adik Thi sia."

"Hari yang penuh pengharapan akhirnya semakin mendekat, setiap kupandang cuaca, hatiku selalu mengomel mengapa waktu berlalu begitu lambat, mengapa bukan hari ini saja ibuku pergi meninggalkan lembah?"

" Nirmala nomor tujuh telah memberitahukan kepadaku, ibu telah bertekad hendak berangkat kedaratan Tionggoan. Sepeninggalannya dia akan mengutus Nirmala nomor empat sampai nomor tujuh untuk mengawasi gerak gerik kami."

"Berhubung posisi Nirmala nomor tujuh sekarang sudah lain, dia dilarang meninggalkan jabatannya. oleh sebab itu akupun tak pernah memberitahukan kepadanya tentang rencana kita untuk melarikan diri dari lembah ini. Bagaimana rencanamu selanjutnya? Apakah kau yakin untuk meloloskan diri dari sana?"

" Kudengar setiap hari kau selalu melatih diri dengan tekun, aku yakin akan kemajuan yang pesat pasti tercapai dalam waktu yang begitu singkat. Nirmala nomor tujuh tidak melaporkan peristiwa ini kepada ibuku. Katanya bila ada kesempatan dikemudian hari, kau harus berterima kasih kepadanya."

"Perasaan hatiku belakangan ini berangsur membaik, tapi aku tetap merasa kuatir karena ibu telah mengurungku didalam sebuah kamar yang berterali besi. Bila kau tidak memiliki kemampuan untuk merusak terali besi tersebut, bukankah sama artinya usaha dan rencana kita selama berhari- hari akan sia-sia belaka?"

"Apakah kau telah menyelidiki keadaan medan didalam lembah ini? Bagaimana pula caramu untuk menghadapi orang-orang yang mengawasi kita berdua? Aku benar-benar menyesal mengapa tidak belajar silat dari ibuku dulu. Kalau tidak. aku pasti dapat membantu usahamu."

" Kemudian apakah kau sudah pertimbangkan baik-baik. Kemanakah kita akan pergi setelah meninggalkan lembah ini? Bagaimana untuk melanjutkan hidup?"

"Adik Kim Thi sia, aku percaya kau adalah seorang yang pintar, semua harapanku telah kuserahkan semua kepadamu. "

"Tertanda, Hay jin."

Kim Thi sia termenung sebentar, kemudian dengan darahnya dia membalas surat tersebut, tulisannya:

"Segala sesuatunya kita bicarakan setelah bersua nanti."

Setelah membuang surat itu keluar dari gua dia mempergiat latihan ilmu silatnya.

Waktu sudah semakin mendesak. berhasil atau gagal akan ditentukan dengan tindakan tersebut, karenanya bagaimanapun jua dia harus mempergiat latihannya.

Pada hari keenam, cuaca sangat buruk. awan mendung menyelimuti angkasa dan hujan turun dengan derasnya.

Memandang pakaian yang dikenakan olehnya, Kim Thi sia mulai termenung.

" Dengan pakaianku yang compang camping, dengan tubuhku yang bau keringat, mana mungkin aku bisa melakukan perjalanan bersamanya?"

Surat dari gadis berbaju putih itu kembali ditemukan disela-sela gua, ketika dibuka surat tersebut, ditemukan tulisannya sangat kacau dan tergesa-gesa. Hal ini sangat mengejutkan hatinya.

Terbaca olehnya surat tersebut berbunyi begini: "Hari ini datang tamu asing, ibu telah menyerahkan diriku kepada tamu asing itu untuk membawanya kedaratan Tionggoan. oooh, pikiranku sangat kalut. " Surat itu tanpa nama tanpa

tanda tangan selain sebaris tulisan yang singkat.

Tapi Kim Thi sia mengenali surat itu ditulis oleh Hay jin, gadis cantik berbaju putih itu, dengan perasaan terkejut segera pikirnya:

"Aneh, siapakah tamu asing itu? Mengapa Dewi Nirmala menyerahkan putri kandungnya kepada orang itu?"

Kemudian ia berpikir lebih jauh:

"Bila ditinjau dari tulisannya yang tergesa-gesa, nampaknya ia seperti dikejar waktu Jangan- jangan sekarang juga dia akan meninggalkan lembah nirmala?"

Angin dingin yang menghembus masuk melalui celah-celah gua mendatangkan perasaan tak sedap ditubuhnya, tiba-tiba saja ia merasa badannya menggigil, pikirnya:

" Habis sudah kali ini, sudah jelas Dewi Nirmala berniat menyerahkan gadisnya kepada tamu asing itu, bedebah tamu asing itu, entah siapakah dia?" Dengan sedih ia menggelengkan kepalanya berulang kali, lalu gumamnya lirih:

"Seandainya dia telah meninggalkan lembah nirmala, aku bertekad akan menemukannya kembali. ooooh rencana yang telah disusun berhari-hari lamanya, kini sudah hancur

berantakan. Ditinjau dari hubungan sitamu asing yang begitu akrab dengan Dewi Nirmala, sudah pasti diapun bukan manusia baik-baik. Bagaimana mungkin ia bisa peroleh kebahagiaan?"

Perasaan yang sangat sedih dan sakit hati bagaikan diiris-iris dengan pisau tajam segera mencekam perasaannya, mendadak dia membentak keras lalu membabat batu raksasa itu dengan sepenuh tenaga.

"Blaaaarrrr. "

Batu raksasa itu hanya bergoncang keras namun sama sekali tidak bergerak dari posisinya semula.

Dengan napas terengah-engah ia menjatuhkan diri tertunduk. umpatnya kemudian sambil menggertak gigi:

"Maknya, Dewi Nirmala, kau bedebah terkutuk. manusia keparat"

Dengan susah payah akhirnya ia berhasil juga mengendalikan hawa amarahnya. Hari itu sepanjang waktu dia tak pernah beristirahat, tiada hentinya dia hajar batu raksasa tersebut dengan sepenuh tenaga.

Menanti tenaganya sudah habis dan tiada bertenaga lagi untuk melepaskan pukulan dan baru tertidur nyenyak.

Mungkin karena rasa lelah yang amat sangat, tidurnya kali ini cukup lama.......

Tatkala mendusin kembali dari tidurnya, hari sudah malam. Angin dingin yang berhembus masuk melalui celah-celah gua, membuat udara terasa amat dingin membekikan-

Dengan cepat dia bersemedi untuk menghimpun kembali kekuatan tubuhnya, tak lama kemudian ia merasakan tenaga yang terhimpun telah penuh, kekuatan yang menyusup keempat anggota badannya terasa lebih kuat dan mantap.

Dengan dicekam perasaan heran dan ingin tahu, pemuda itu segera menghimpun segenap kekuatannya dan melepaskan sebuah pukulan yang maha dahsyat kearah batu raksasa itu. "Blaaaammmm. "

Diiringi deruan angin puyuh yang sangat mengerikan hati, batu cadas seberat berapa ribu kati itu segera terhajar telak dan mencelat keluar dari mulut gua. Dengan demikian muncullah sebuah lubang kecil seluas tujuh delapan depa didepannya. Rasa terkejut bercampur girangnya Kim Thi sia tidak membuang banyak waktu lagi, dengan langkah lebar dia menerobos keluar dari ruangan gua itu.

Ditengah hembusan angin malam yang dingin dan membekukan badan, ternyata ia sama sekali tidak merasa kedinginan sadarlah pemuda kita bahwa kemampuannya telah meningkat berapa kali daripada keadaan semula.

Berdiri ditengah hembusan angin topan pemuda itu merasa hatinya berat dan sedih sebab sekalipun ia berhasil menerobos keluar dari sekapan, namun kemanakah dia harus pergi untuk menemukan jejak gadis cantik berbaju putih itu?

Tiba-tiba ia mendengar suara helaan napas seseorang yang amat lirih, Kim Thi sia segera berpaling dan memperhatikan sekejap sumber dari suara helaan napas itu.

Setelah menemukan arahnya, pelan-pelan dia berjalan mendekati tempat tersebut yang ternyata berupa sebuah gua kecil, lalu dengan suara lirih dia bertanya: "Siapakah yang berada didalam sana?"

Tiada jawaban dari balik gua, ketika peronda itu makin mendekat gua tadi, seperti apa yang pernah diceritakan ayahnya, ia menyaksikan ada sepasang biji mata yang jeli dan tajam mengawasinya tajam-tajam.

Tak disangka lagi didalam gua itu terdapat penghuninya. Sekalipun dalam kegelapan Kim Thi sia bisa menyaksikan raut mukanya, namun sorot mata orang itujels berbeda daripada orang biasa.

Dengan perasaan ingin tahu dia segera bertanya:

"Sobat, siapa namamu? Bila kudengar dari helaan napasmu yang begitu sedih, agaknya ada suatu persoalan yang memedihkan dirimu. Bolehkah aku tahu persoalan apakah itu?"

Tanpa bergerak dari posisinya semula, orang itu balik bertanya: "Kau datang dari mana?"

Begitu ucapan tersebut bergema, Kim Thi sia menjadi sangat terperanjat. Suara jawaban orang tersebut begitu keras dan nyaring hingga menusuk pendengarannya. "Aku datang dari luar", sahutnya cepat-cepat. "Tahukah kau akan peraturan dari lembah ini"

"Aku sudah disekap dalam beberapa hari baru saja aku berhasil menjebol gua dan meloloskan diri ketika akan pergi dari sini, kudengar suara helaan napasmu yang amat memedihkan hati, karena terdorong rasa ingin tahulah maka aku balik lagi kemari. Hay kalau toa gua ini tanpa batu raksasa yang menyumbat, kenapa kau tak ingin pergi dari sini untuk mencari kebebasan dan kemerdekaan?"

"omong kosong, siapakah manusia didunia ini yang tak ingin kebebasan dan kemerdekaan-

......."

" Lantas mengapa kau tak ingin keluar dari situ?"

"Perempuan jahanam itu telah membelah aliran hawa murniku hingga bercabang. Bagaimana mungkin aku bisa lolos dari sini?"

"oooh, soal ini. " Kim Thi sia sangat beriba hati. "Apakah kau bisa berilmu, tidak ada

salahnya untuk dicoba" kata orang itu gembira. "Aku sudah hampir dua puluh tahunan berdiam diri disini. sejak aliran hawa murniku terbelah dua, setiap hari aku merasakan siksaan yang tak terlukiskan dengan kata-kata, untung saja kau datang sekarang. Hey sobat, silahkan untuk dicoba, bila akhirnya memang gagal akupun hanya akan pasrah pada nasib."

Sambil berkata ia segera menjulurkan tangannya dari balik goa.

Kim Thi sia melangkah maju kdepan, baru saja dia hendak bertanya bagaimana caranya untuk membantu orang itu, tiba-tiba saja tangan orang itu sudah menyambar kebawah melakukan cengkeraman kilat. Mimpipun Kim Thi sia tidak menyangka kalau dirinya bakal disergap secara licik, tak sempat lagi untuk menghindarkan diri tahu-tahu jalan darahnya sudah kena dicengkeram.

Serangan dari orang itu sangat berat dan mantap. jelas ilmu silat ang dimilikinya merupakan ilmu silat tingkat tinggi.

Kim Thi sia menjadi sangat marah, dia tak mengira maksud baiknya justru disalah gunakan orang tersebut.

Dengan wajah hijau membesi, segera bentaknya keras-keras:

"Lepaskan aku, sesungguhnya apa maksud tujuanmu? cepat lepaskan aku. "

Mendadak orang itu tertawa keras, suara tertawanya tak berbeda seperti jeritan kuntilanak ditengah malam, "akhirnya aku berhasil juga menangkapmu."

Kim Thi sia benar-benar sangat gusar, sekuat tenaga dia meronta, namun gagal melepaskan diri dari cengkeraman, akhirnya dengan perasaan terkejut serunya:

"Maknya, telur busuk, cucu kura-kura, antara toaya dengan dirimu toh tak punya dendam sakit hati apa-apa, mengapa kau membekukku dengan menggunakan akal selicik ini?"

"Demi kebebasanku, terpaksa aku harus menyiksamu sebentar." "Apa maksud perkataanmu itu?" seru Kim Thi sia semakin naik darah.

"Terus terang saja aku katakan, aku terpaksa harus menangkapmu dengan menggunakan akal, tapi aku akan segera menjelaskan apa sebabnya, harap kau tenangkan hatimu lebih dulu."

Setelah berhenti sejenak. dia memandang hujan yang turun diluar gua lalu terusnya:

"Dua puluh tahun berselang, dalam suatu pertarungan ilmu silat aku telah kalah ditangan Dewi Nirmala siperempuan bedebah itu, sesuai dengan perjanjian sebelum pertarungan dilakukan, pihak yang menderita kalah akan menerima kurungan dari pihak yang menang."

Setelah mendengus marah, lanjutnya:

"siapa sangka Dewi Nirmala tidak mengurungku saja bahkan dia menggunakan taktik mengurungku sampai kelaparan untuk memaksaku menyetujui permintaannya yakni memulihkan ilmu Tay yu sinkangnya yang telah menderita kerugian besar. Sebagai pihak yang kalah tentu saja aku harus menuruti perkataannya, maka diapun mengurungku disini dengan tenang bila ingin memulihkan kemerdekaanmu, hanya ada sebuah jalan saja yang tersedia, yaitu membuat pahala untuk menebus kekalahanmu itu "

" Waktu itu aku segera bertanya, bagaimana yang dimaksud membuat pahala? Iapun bilang bila aku mampu menangkap lima orang yang berani memasuki daerah terlarang dilembah Nirmala, maka akupun akan peroleh kebebasan."

"Maka akupun menanti dengan sabar, siapa tahu nama besar lembah nirmala sudah kelewat termashur hingga orang ada yang berani berkunjung kemari, dengan sendirinya akupun tak punya pengharapan untuk memperoleh kebebasan. Sekarang aku baru tahu, rupanya perempuan jahanan itu berhati keji dan sengaja menyusahkan aku, tapi aku telah menyanggupi permintaannya.Jadi akupun harus melaksanakan dengan sungguh-sungguh."

"oleh sebab itu aku harus menderita selama dua puluh tahun dengan harapan ada orang yang datang kemari."

"Nah sahabat, tidak mudah bagiku untuk mencari kesempatan guna peroleh kebebasan-Apakah aku akan melepaskan dirimu dengan begitu saja?"

"Hmm, apakah kau mengira dirimu masih hanya harapan untuk memperoleh kebebasanku?" dengus Kim Thi sia. Orang itu manggut-manggut.

"Tentu saja, termasuk dirimu, aku telah berhasil menangkap empat orang, bila nasibku masih mujur, dengan muncul seorang lagi bukankah saatku peroleh segera akan tiba?" Kim Thi sia menjadi gusar sekali setelah mendengar perkataan itu, kontan dia mencaci maki kalang kabut.

"Maknya, aku tak mengira kau sebagai anggota dunia persilatan ternyata begitu tak tahu malu. Gara-gara kepentingan sendiri kau telah mencelakai tiga orang tak berdosa. Hmmm, tahu begitu, sudah dari tadi kuhajar dirimu sampai mampus." orang itu balas tertawa dingin.

"Hmmm. ketiga orang yang terjatuh ketanganku dulupun pernah berkata demikian tapi aku

tak pernah memikirkannya didalam hati."

Berbicara sampai disitu, kelima jari tangannya segera mencengkeram dengan lebih bertenaga. Kontan saja Kim Thi sia kesakitan setengah mati, sambil menggertakkan giginya kencang-

kencang dia berseru dengan penuh kebencian.

"Maknya, tampaknya didalam lembah Nirmala tak ada seorang manusiapun yang mirip manusia."

Mendadak orang itu bangkit berdiri dan berseru pula:

"Sobat, tidak sedikit manusia yang mati penasaran didalam lembah ini, namun tidak seorangpun diantara mereka yang punya semangat seperti kau."

Kim Thi sia tidak menjawab, ia mengalihkan sorot matanya memperhatikan sekejap sekeliling ruangan, dengan cepat dia saksikan kaki orang itu diikat dengan sebuah rantai besar, diujung rantai merupakan sebuah bola besi yang beratnya mencapai ratusan kati. Menyaksikan kesemuanya itu, kembali pemuda kita berpikir:

"Tak heran kalau dia tak mampu keluar dari situ, rupanya gerak geriknya telah dibatasi dengan rantai besi." Menyusul kemudian dia berpikir lebih lanjut:

"Hmmm, untuk menghadapi manusia pengecut yang takut mati seperti dia, sudah sepantasnya kalau dihadapi dengan cara yang paling keji dan buas. HHmmm, moga-moga saja orang yang terakhir tak pernah datang sehingga dia harus mampus disini." Ketika orang itu melihat korbannya hanya termangu- mangu saja, mendadak serunya:

"Bila kutinjau dari usiamu, paling banter tak sampai dua puluh tahunan, tak disangka kau memiliki keberanian untuk datang kelembah Nirmala ini. Hmmmm. "

"Silahkan menutup bacotmu" tukas Kim Thi sia sinis. "Toaya tak punya waktu untuk mengobrol terus denganmu."

Kembali orang itu tertawa dingin tiada hentinya.

"Hmmm. aku tahu, kaupun tak lebih cuma seorang yang berlagak sebagai seorang hohan-

Padahal dihati kecilmu sudah timbul perasaan ngeri dan ketakutan-"

"HHmmmm^ coba kalau aku tidak jatuh pecundang ditanganmu. Sekarang juga aku telah mencincang tubuhmu hingga hancur berkeping-keping" seru Kim Thi sia sambil memejamkan matanya.

"Malam ini merupakan malam terakhir kau hidup didunia ini, bila petugas datang besok pagi, kau akan segera menerima hukuman yang setimpal dan nyawamu sudah pasti akan melayang, mengapa sih kau tidak memanfaatkan kesempatan yang terakhir ini untuk berbincang-bincang sepuasnya? "

Tampaknya orang ini sudah kesepian hampir puluhan tahun lamanya sehingga sangat berharap bisa menemukan teman untuk berbicara.

Kim Thi sia tetap membungkam diri dalam seribu bahasa, sementara dihati kecilnya dia berpikir:

"Aku harus menggunakan akalku untuk meloloskan diri dari cengkeramannya, kalau tidak bila aku terjatuh ketangan Dewi Nirmala lagi esok pagi, akibatnya tak akan terbayang dengan kata- kata." Berpikir begitu, diapun berlagak menghela napas sambil bergumam:

"Sudah, sudahlah. kalau memang nasib menghendaki begini apa gunanya aku marah

kepadamu "

orang itu menjadi kegirangan, cepat-cepat dia menimpali:

"Yaa, sesungguhnya akupun tidak berniat mencelakaimu, tapi penderitaan disini benar-benar amat berat, kelaparan, kedinginan hidup menyendiri merupakan siksaan lahir batin yang telah kualami hampir dua puluh tahun lamanya aku tidak mengetahui bagaimanakah perubahan dunia saat ini. Karena itu aku ingin secepatnya mendapatkan kebebasan kembali, aku ingin terjun dan berkelana lagi didalam dunia persilatan- Bila kau bisa memahami kesulitanku ini, setelah bebas nanti, aku pasti akan mendirikan sebuah tugu peringatan untukmu."

"Besok, kemungkinan besar aku akan mati" kata Kim Thi sia pura-pura amat sedih. "Padahal masih banyak tugasku yang belum sempat kuselesaikan- Bila kau bersedia membantuku, sekalipun sudah berada dialam bakapun aku tetap berterima kasih kepadamu." Orang itu manggut-manggut.

"coba kau katakan, asal aku mempunyai kesanggupan itu, memandang diatas hubungan kita sebagai sesama umat persilatan, sudah sepantasnya bila kubantu dirimu." Pelan-pelan Kim Thi sia duduk diatas lantai, kemudian katanya:

"Aku adalah seorang anak tunggal, setelah aku mati nanti mungkin orang tuaku tidak ada yang merawat. Aaaa i. percuma dibicarakan, sekalipun sudah kuutarakanpun tidak ada gunanya"

"Bolehkah aku tahu dimana desa kelahiranmu?"

"Desaku berada diluar perbatasan sana, tapi ayahku adalah orang Tionggoan, maka ibuku yang dilahirkan diluar perbatasanpun mengikuti dia orang tua pindah kedaratan Tionggoan."

Sementara berbicara, dengan secara diam-diam tangannya yang lain digeserkan kearah depan lanjutnya:

"Ayahku mempunyai sebuah bidang usaha yang sangat besar, kekayaannya boleh dibilang menguasahi suatu wilayah tertentu. Aaaa i. setelah aku mati nanti, usaha ayahku itu tentu tak

ada yang meneruskan "

Sementara itu tangannya sudah tinggal setengah depa dari ujung kakinya, ia merasa tegang sekali, namun diluarnya dia berlagak sangat sedih, lanjutnya:

"Semua sanak keluargaku hampir seluruhnya berambisi untuk menguasahhi harta kekayaan orang tuaku. Bila aku benar-benar tewas besok rencana mereka tentu akan terwujud menjadi kenyataan tanpa bersusah payah barang sedikitpun jua "

orang itu mengira apa yang diceritakan merupakan kenyataan, dia turut bersedih hati, tiba-tiba selanya:

"Aku rasa sebelum ayahmu mati, tak mungkin mereka akan memperlihatkan ambisinya itu." Kim Thi sia segera menghela napas panjang.

"Aaaai, kau tidak tahu kesehatan ayahku sangat jelek. "

Ketika berbicara sampai disitu, telapak tangannya sudah hampir menyentuh ujung kaki orang itu, cepat-cepat dia memanfaatkan kesempatan yang sangat baik itu dengan segera. Sambil membentak keras, dia mendorong kaki orang itu kuat-kuat.

Mimpipun orang itu tak menyangka kalau Kim Thi sia bakal mempercundangi dirinya dengan cara selicik itu, tak sempat lagi lengannya mengeluarkan tenaga kakinya sudah terhajar telak.

Segulung tenaga besar segera menerjang kakinya membuat orang itu tak mampu berdiri tegak dan mundur kebelakang dengan sempoyongan-

Sementara itu, Kim Thi sia yang terlepas dari cengkeraman, buru-buru melompat kebelakang dan mengundurkan diri dari gua tersebut. Dengan kecepatan tinggi orang itu menekan tubuhnya, tapi sayang Kim Thi sia telah berada diluar gua, dengan rantai yang terbatas panjangnya, sulitlah baginya untuk melakukan pengejaran lebih lanjut.

Bisa dibayangkan betapa gusar dan mendongkolnya orang ketika melihat daging gemuk yang berada didepan mulut seraya terlepas kembali. Sambil tertawa dinginKim Thi sia segera mengejek:

"IHey sobat, inilah yang dinamakan pembalasan dendam, apakah kau tidak puas?"

Orang itu membungkam dalam seribu bahasa, namun sorot matanya yang tajam mengawasi korbannya lekat-lekat. Dia gusar bercampur mendongkol, kalau bisa dia ingin menelan pemuda tersebut bulat-bulat.

"Sobat" kembali Kim Thi sia berkata. "Harusnya kau mendendam atau membasmi Dewi Nirmala, karena dialah yang telah menyekap dirimu, apa sebabnya kau marah kepadaku? Sedikitlah tahu keadaan-"

"Hmmmm^ kau tak usah berbangga hati dulu" tukas orang itu singkat. "Setelah memasuki lembah Nirmala, jangan harap kau bisa meninggalkan lembah ini dalam keadaan hidup," Kim Thi sia mendengus dingin, pikirnya:

"Hmmm^ terhadap manusia keparat seperti ini, buat apa mesti menggubrisnya terus?"

Berpikir demikian, ia segera membalikkan badan dan beranjak pergi meninggalkan tempat tersebut.

Malam itu sangat gelap angin dingin berhembus kencang, suasana begini memang sangat ideal bagi Kim Thi sia untuk meloloskan diri, karena jejaknya tidak mudah diketahui orang.

Dengan mengerahkan ilmu gerakan tubuhnya, dia berlarian menuju kegedung utama. Tujuh hari berselang dia pernah berkunjung satu kali kesitu keadaan yang disekitar sana boleh dibilang sudah hapal sekali, dengan menelusuri jalan setapak ia segera bergerak mendekati sasaran-

Sekalipun dia tahu bahwa tenaga dalam yang dimilikinya telah memperoleh kemajuan yang pesat, namun dapatkah menandingi kepandaian silat yang dimiliki Dewi Nirmala, hal tersebut masih menjadi tanda tanya besar.

Membawa tekad untuk beradu jiwa, pemuda itu sama sekali tidak merasakah ketegangan yang mencekam.

Tak selang berapa saat kemudian, dia telah tiba didepan gedung yang amat besar itu, dengan gerakan amat lincah dia menyelinap kebalik kegelapan dan menyembunyikan diri baik-baik.

Tak lama kemudian, dari jalan setapak depan situ muncul dua sosok bayangan hitam terdengar salah seorang diantaranya sedang berkata:

" Nirmala nomor enam, apakah kau telah melaksanakan tugas yang diberikan sin li kepadamu?" "Menggusur orang maksudmu?" kata Nirmala nomor enam dengan suara tidak habis mengerti.

"Aku benar-benar heran, dalam keadaan seperti ini apa gunanya mesti menggusur orang?"

"Kau tahu, tabiat sin li makin lama semakin jelek" kata seorang yang lain- "Terutama setelah kepergian putrinya, sifat buas dan garangnya setiap saat diperlihatkan keluar. Aaaai kasihan

benar dengan bocah itu."

Sambil meneruskan langkahnya, Nirmala nomor enam berkata lagi:

"Sekarang ia sudah mulai melakukan pembunuhan secara besar-besaran- Dua hari berselang, lima orang telah menjadi korban keganasannya, aku lihat bocah itu sangat keras kepala, rasanya sulit baginya untuk lolos dari mara bahaya malam ini." Ketika mendengar perkataan itu, diam-diam Kim Thi sia merasa amat terkejut, pikirnya:

"Aduh celaka, bila mereka berdua tiba didepan gua dan melihat tawanannya hilang, mereka pasti akan menyampaikan berita tersebut kepada Dewi Nirmala, meski aku tak takut kepadanya, tapi akupun tak bisa melakukan pengacauan secara diam-diam." Melihat kedua orang itu makin lama berjalan makin jauh, sadarlah pemuda kita bahwa persoalan ini tak bisa ditunda lagi, cepat-cepat dia lari kesisi gedung.

Dengan langkah yang sangat berhati-hati, dia menyusup kedalam kebun, lalu pelan-pelan mendekati jendela dan mengintip kedalam.

Apa yang kemudian terlihat hampir saja membuatnya menjerit tertahan saking kagetnya, ternyata dia menemukan ciang sianseng tokoh persilatan yang amat termashur namanya dalam dunia persilatan itu hadir pula disitu.

Senyuman ramah tetap menghiasi ujung bibirnya ciang sianseng, saat itu pula diapun sedang duduk berhadapan dengan Dewi Nirmala sambil berbincang-bincang, meski suaranya amat lirih, namun ditengah malam buta begini dia dapat mendengar semua pembicaraan dengan jelas.

Dengan penuh amarah pemuda itu segera berpikir:

"Hmmm^ sungguh tak kusangka ciang sianseng adalah komplotan dengan Dewi Nirmala rupanya dia telah mengelabuhi seluruh umat persilatan dengan segala kemunafikan, bisa jadi tindakannya selama ini hanya bertujuan untuk menjadi seorang pemimpin dunia persilatan-"

Belum habis ingatan tersebut melintas lewat, terdengar ciang sianseng telah berkata: "Betulkah sipedang tembaga telah tewas?" sambil tertawa merdu sahut Dewi Nirmala:

"Menurut laporan dari Nirmala nomor delapan, sipedang tembaga telah tewas seketika itu juga, sipedang besi terluka parah dan melarikan diri dibopong oleh sipedang perak." Berbicara sampai disitu dia berhenti sejenak. kemudian lanjutnya:

" Dengan laporan tersebut, aku yakin Nirmala nomor delapan tak akan berani membohongi aku atau memutar balikkan kenyataan dihadapanku. Siapapun tak akan berani berbicara bohong."

ciang sianseng segera manggut-manggut katanya kemudian:

"Aku dengar, lentera hijau, mestika yang tak ternilai harganya itu sudah terjatuh ketangan pedang emas. Kau harus menitahkan anak buahmu untuk membinasakan pedang emas. Kalau tidak maka akupun tak akan menggubris urusanmu lagi." Kembali Dewi Nirmala tertawa.

" ciang sianseng, kita sudah bekerja sama amat lama, masa kau masih belum memahami tabiatku?"

"Bukan begitu maksudku ketahuilah lentera hijau tersebut amat penting artinya bagiku sehari tanpa dia berarti tenaga dalamku yang paling sempurna tak bisa terwujud. "

Berbicara sampai disini, mendadak ia berhenti sejenak sambil buru-buru mengalihkan sorot matanya kewajah Dewi Nirmala, kemudian terusnya lebih jauh:

" Kaupun tahu malaikat pedang berbaju perlente sibangsat tersebut telah menghancurkan ilmu Kun goan sam coat khlkang ku dengan ilmu Tay goan sinkannya, padahal saat ini ilmu silat dari murid durhakaku itu sudah peroleh kemajuan yang sangat pesat. Andaikata aku tidak cepat-cepat memulihkan kembali ilmu Kun goan sam coat khlkang ku dengan lentera hijau, bukankah pada akhirnya aku sendiripun akan dipecundangi olehnya?"

Kim Thi sia yang menyadap pembicaraan tersebut menjadi terkejut sekali, segera pikirnya:

"Ternyata ilmu silat yang dimiliki sisastrawan bermata sakti sudah jauh melebihi kepandaian silatnya, tak heran kalau dalam pertemuan tempo hari dia menunjukkan sikap sinis dan menghina terhadap ciang sianseng." Dalam pada itu ciang sianseng telah berkata lagi:

"Murid murtadku itu rupanya sudah tahu kalau ilmu Kun goan sam coat khikang ku sudah punah, karena itu dia berani menegur dan memakiku secara terus terang. Aku benar-benar sudah tidak tahan menghadapinya. HHmmmm^ coba aku tidak yakin kalau kekuatan dari lentera hijau mampu memulihkan kembali kekuatanku, aku benar-benar sudah putus asa. Begitu kekuatanku pulih kembali aku segera akan melenyapkan dirinya dari muka bumi "

Mendengar sampai disini, Kim Thi sia segera berpikir lagi: " Kelihatannya sipelajar bermata sakti adalah seorang jagoan dari golongan lurus, tak disangka ciang sianseng yang disebut tokoh persilatan ternyata dibalik kealimannya telah melakukan perbuatan terkutuk keparat ini. Hmmmm, bila bersua kembali dengan pelajar bermata sakti dikemudian hari, aku harus menyampaikan berita tersebut kepadanya." Terdengar ciang sianseng berkata lagi dengan sedih:

"Semua orang persilatan mengira aku sudah bosan berkelana didalam dunia persilatan dan tidak berniat nama dan kedudukan lagi. Siapa yang mengira kalau ilmu silatku sesungguhnya telah punah sehingga aku tak berani bertindak secara sembarangan yang bisa berakibat rahasiaku terbongkar. Bisa dibayangkan betapa maluku seandainya rahasia ini sampai terbongkar. "

Dewi Nirmala segera tertawa.

"Padahal didalam dunia persilatan yang begitu luas paling banter cuma aku seorang yang mengetahui bahwa dewasa ini kau cuma seekor macan kertas "

"Kau mesti tahu" kata ciang sianseng lagi. " Lentera hijau tersebut dapat pula membantumu untuk memulihkan kekuatan ilmu Tay yu sinkang, tapi hal ini baru bisa terwujud bila ilmu Kun goan sam coat khikang ku telah pulih kembali dan aku mampu membantumu. " 

"Sesungguhnya aku benar-benar tak habis mengerti" kata Dewi Nirmala tercengang. "Sebetulnya kekuatan rahasia apakah yang dimiliki Malaikat pedang berbaju perlente? Mengapa kepandaian itu mampu menghilangkan daya kekuatan serangan yang mengancam tubuhnya?" 

"Yaa, hingga sekarang aku sendiripun tidak habis mengerti" ucap ciang sianseng sambil menghela napas. "Akupun tidak tahu kekuatan rahasia apakah yang terselip dibalik ilmu Tay goan sinkang sehingga ilmu kun goan sam coat khikang ku juga tak berguna sama sekali. ?"