Lembah Nirmala Jilid 31

 
Jilid 31

" celaka, tenaga pukulan dari bangsat ini sangat kuat dan tangguh rasanya kekuatannya mampu meremukkan batu gunung. ilmu silatnya sudah pasti masih berada diataS kepandaian nirmala nomor sepuluh. Aku harus menghadapinya dengan berhati-hati."

Berpikir sampai disitu ia segera meloloskan pedang peraknya yang termashur lalu secara beruntun diagunkan kedepan menciptakan bunga pedang yang menyelimuti seluruh angkasa, mengancam jalan darah tay goan cho ciong ya seng dandang seng. Empat buah jalan darah ditubuh Nirmala nomor delapan, sekali tidak menggeserkan kakinya dariposisi semula, namun gerak serangannya secara beruntun telah diubah sebanyak empat kali. Hanya anehnya dengan gerakan mata ternyata semua serangan dahsyat yang dilancarkan sipedang perak telah hilang lenyap tak berbekas. Dari sini terbukti sudah bahwa kepandaian silat yang dimilikinya memang sungguh-sungguh amat tangguh. Tiba-tiba terdengar Dewi Nirmala bergumam:

"llmu Tay goan sinkang yang dipelajari Kim Thi sia mempunyai hubungan yang erat sekali dengan ilmu silat yang kupelajari. Aku harus selekasnya pulang kedalam lembah untuk mengorek rahasia Tay goan sinkang tersebut "

Berpendapat begitu, dengan ilmu menyampaikan suaranya dia segera berpesan kepada Nirmala nomor delapan.

"Aku akan pulang kelembah juga, segala urusan disini kuserahkan kepadamu. Kuharap kau dapat memberi jawaban yang memuaskan, mengerti ?"

Begitu selesai berkata, tanpa berpaling lagi dia melesat kedepan dengan kecepatan luar biasa, dalam waktu singkat bayangan tubuhnya sudah lenyap dibalik kegelapan Dalam pada itu, Kim Thi sia dibopong oleh Nirmala nomor tujuh menempuh perjalanan sangat cepat. Dia hanya merasakan deruan angin yang kencang. Seakan-akan dirinya sedang melayang diatas awanpada hakekatnya dia tak tahu Nirmala nomor tujuh hendak menghantarnya pergi kemana.

Akhirnya dia tertidur didalam pelukan nirmala nomor tujuh, kepenatan yang dialaminya selama berhari-hari membuat pemuda itu merasa seakan-akan menderita sakit parah, begitu tertidur sampai lama kemudian ia baru terbangun kembali.

Ketika pemuda itu membuka matanya kembali, dia merasa tubuhnya masih merasakan goncangan yang sangat keras, hal ini membuatnya amat terperanjat......

"Jangan-jangan Nirmala nomor tujuh sudah gila, masa ia tidak merasa penat barang sedikitpun meski sudah menempuh perjalanan siang malam?"

Diam-diam dia membuka matanya sambil melirik sekeliling tempat itu, ternyata saat itu masih tengah hari.

Akhirnya sorot matanya berhenti diatas bibir Nirmala nomor tujuh yang terkatup rapat menjadi satu garis itu, dibalik mulutnya yang terkatup terselip kemurungan yang amat tebal.

Rambut dan jenggot nirmala nomor tujuh sudah memutih semua Jelas dia adalah seorang tua yang sudah lanjut usia, tapi. mengapa dia harus bersusah payah membawanya menempuh

perjalanan jauh?

Nirmala nomor tujuh mempunyai telinga yang besar wajah empat persegi dengan jenggot yang panjang. Sebuah tampang yang gagah dan bersih.

Tapi tak disangka dengan wajah segagah ini, ternyata dia begitu menurut dan tunduk terhadap perintah Dewi Nirmala.

Tak lama kemudian matahari pun turun gunung dan suasana senja mencekam seluruh jagad, namun Nirmala nomor tujuh masih melanjutkan perjalanannya tanpa berhenti.

Lambat laun peluh mulai bercucuran membasahi seluruh wabahnya, dengusan napasnyapun berubah makin pendek dan terengah-engah.

Mula-mula Kim Thi sia menaruh rasa simpatik kepadanya, tapi bila teringat nasib jelek yang menimpanya sekarang, rasa simpatik itupun seketika hilang lenyap tak berbekas.

Diam-diam ia mencoba untuk menghimpun tenaga dalamnya, namun sayang semua jalan darahnya serasa tersumbat.

Peristiwa itu kontan saja menimbulkan perasaan tak puas dalam hatinya, setengah menyindir serunya:

"Empek tua, apakah kau memang seorang panglima perang yang terbiasa lari jauh? Apakah kau tak takut lelah?"

Nirmala nomor tujuh membungkam dalam seribu bahasa, dari mulutnya yang terkatup rapat- rapat dapat diketahui bahwa dia adalah seorang yang tak suka banyak berbicara. Melihat itu, Kim Thi sia menyindir kembali:

"Empek tua, kau terlalu bersusah payah coba berganti aku. Sudah sejak tadi aku mencari tempat untuk beristirahat." Lalu setelah menghela napas panjang, lanjutnya:

"Aaaai, buat apa sih bersungguh-sungguh untuk pekerjaan orang lain?"

Nirmala nomor tujuh sama sekali tidak menggubris, pandangan matanya dialihkan ketempat kejauhan sana sambil meneruskan larinya, ia seperti tidak mendengar sindiran tersebut bahkan sama sekali tidak mengacuhkannya.

Kim Thi sia yang ketanggor batunya semakin tak senang hati lagi dibuatnya.

"Uuuuh......moga-moga saja kau mampus karena kehabisan tenaga " gumamnya kemudian. Sambil pejamkan matanya, dia tertidur kembali didalam gendongan Nirmala nomor tujuh.

Sampai dia mendengar suara ayam berkokok dikejauhan situ, ia baru tahu bahwa satu malaman kembali telah lewat.

Begitulah perjalanan siang malam ditempuh hampir tiga hari lamanya. Kim Thi sia sudah merasa kelaparan setengah mati. Akan tetapi Nirmala nomor tujuh masih terus berlari tanpa berhenti, seakan-akan dia sama sekali tidak merasakan kepenatan. Menyaksikan keanehan itu, kembali Kim Thi sia bertanya: "Hey empek tua, sebetulnya kau ini manusia atau setan? cepat katakan. "

"Manusia" jawab Nirmala nomor tujuh singkat.

Dengan susah payah akhirnya orang itu berbicara juga, meski hanya sepatah kata namun Kim Thi sia merasa puas sekali.

Suara orang itu sangat parau, tua dan berat mendatangkan kesan seperti menghadapi tibanya musim gugur saja, rasa gersang, tua dan sepi mencekam perasaan tersebut.

"Hey orang tua. " teriak Kim Thi sia lebih jauh. "Setelah menempuh perjalanan selama tiga

hari tanpa berhenti, apakah kau tidak merasa kelaparan?"

"Sudah terbiasa" kembali jawaban dari Nirmala nomor tujuh teramat singkat.

"Aku tak percaya, sudah pasti kau sudah mencuri makan sewaktu aku sedang tertidur tadi, malahan bisa jadi telah beristirahat sebentar." Kemudian setelah berhenti sejenak terusnya:

"Aku tak percaya manusia yang terdiri dari darah dan daging bisa bertahan selama tiga hari tanpa makan, minum dan beristirahat, memangnya kau adalah malaikat?"

"Belum tentu begitu" akhirnya Nirmala nomor tujuh menanggapi juga perkataan mana. "Aku mempunyai sejenis obat yang amat mujarab, asal menelan sebutir saja maka kau bisa bertahan seperti sekarang ini."

Karena merasa perutnya amat lapar dengan tebalkan muka Kim Thi sia segera berseru lagi: "Aku sudah kelaparan setengah mati, bersediakah kau memberi sebutir pil mujarab itu

kepadaku?"

Tampaknya Nirmala nomor tujuh menyukai sikap polosnya itu, tanpa ragu-ragu dia mengeluarkan sebuah botol putih dan mengambil sebutir pil yang segera diserahkan kepadanya.

Sambil mengucapkan terima kasih, Kim Thi sia menelan pil itu kedalam perut.

Tak selang berapa saat kemudian segulung hawa panas telah mengembang dalam perutnya dan menjalar keseluruh bagian tubuhnya. Betul juga, rasa lapar yang semula mencekam perasaannya kini hilang lenyap tak berbekas. Sesudah rasa laparnya hilang, pemuda itu baru bertanya lagi, "Empek tua, kau hendak mengajakku pergi kemana?"

"Buat apa kau bertanya, sebentar toh akan tahu dengan sendirinya. ?"

" Kenapa kau tak berani mengatakannya?"

"Soal ini. " tiba-tiba Nirmala nomor tujuh terbungkam dan tak mampu melanjutkan kata-

katanya lagi.

"Aaaah, tahu aku sekarang, kau adalah anak buah Dewi Nirmala, sebelum ada perintah dari Dewi Nirmala tentu saja kau tak berani memutuskan sendiri, bukankah begitu empek tua?"

Perkataan tersebut diutarakan dengan ramah, sama sekali tidak menganggapnya sebagai musuh, dalam hal ini Nirmala nomor tujuh merasa amat terharu. coba kalau ia tidak menjumpai sesuatu kesulitan, niscaya segala sesuatunya sudah diterangkan-

Tak lama kemudian senja telah menjelang langkah kaki Nirmala nomor tujuhpun mulai bergelombang seakan-akan sedang melewati jalan berbatu yang tidak rata. Walaupun Kim Thi sia tak dapat melihat secara nyata, namun dia bisa merasakan gelagat yang aneh itu

Dengan penuh kecurigaan ia segera bertanya lagi:

" Empek tua, bukit tinggi menyelimuti sekeliling tempat ini, sebenarnya kita hendak pergi kemana?"

"coba bayangkan sendiri, kalau empat penjuru berupa bukit, seharusnya dibagian tengahnya berupa tempat apa?"

"Sebuah telaga?" tanya Kim Thi sia.

Nirmala nomor tujuh hanya menggelengkan tanpa menjawab. Kim Thi sia berpikir sejenak, tiba- tiba serunya lagi:

"Aaaai mengerti aku sekarang, tempat itu kalau bukan sebuah telaga bukit, pastilah sebuah lembah."

"Tebakanmu tepat sekali nak" sahut Nirmala nomor tujuh pelan-

Kini tubuhnya mulai melompat kian kemari seperti burung yang terbang diangkasa. Setiap kali melompat lima kaki dicapai dengan gampangnya.

Selama ini Kim Thi sia hanya merasakan angin tajam mendesing disisi telinganya, tanpa terasa dia berpekik didalam hati: "Ehmmm, ilmu meringankan tubuh yang sangat lihay."

Akhirnya malampun menjelang tiba, kegelapan malam mencekam seluruh jagad, untung rembulan bersinar terang dan bintangpun bertebaran diangkasa.

Meminjam pantulan cahaya rembulan yang redup, diam-diam Kim Thi sia mencoba memperhatikan sekejap keadaan disekitar situ. Tampak batuan cadas berbentuk aneh tersebut dimana-mana. Rumput tinggi menyelimuti permukaan tanah, suasana amat menyeramkan.

"Aaaah, ternyata tempat ini benar-benar adalah sebuah lembah. " demikian dia berpikir.

Belum sempat dia mengajukan sebuah pertanyaanpun, Nirmala nomor tujuh telah berbisik: "Nak, terus terang saja kubilang, sesungguhnya aku sangat menyukai dirimu, tapi sayang aku

bukan orang bebas sehingga tak berani mengambil keputusan secara serampangan. Apalagi membebas merdekakan dirimu, tapi aku amat berharap kau bisa melepaskan diri dari ancaman bahaya serta meninggalkan tempat ini dalam keadaan aman tentram."

Tiba-tiba Kim Thi sia merasakan ada sesuatu dijejalkan kedalam genggamannya, sewaktu diperiksa ternyata benda itu berupa sebutir pil.

Sementara dia masih merasa keheranan, Nirmala nomor tujuh telah berkata lagi: "Aku tidak mempunyai sesuat barang yang bisa membantumu, kecuali obat ini. Aa

aai. telanlah pil tersebut,segala sesuatunya biar takdir yang menentukan-"

Kim Thi sia bisa merasakan makna yang sebenarnya dari perkataan tersebut, diam-diam pikirnya:

"Apa yang kutakuti, serangan tentara datang kuhadang , air bah datang, kubendung." Meski berpikir begitu, pil tadi ditelannya juga kedalam perut. Nirmala nomor tujuh memandang sekejap kearahnya, kemudian dia berkata lagi: "Nak terpaksa aku harus menyiksa dirimu."

"Tak apa-apa, aku tahu empek memang terpaksa harus berbuat begini."

"Baiklah" kata nirmala nomor tujuh kemudian sambil manggut-manggut. "Pejamkaniah matamu"

Begitu Kim Thi sia memejamkan matanya dia segera menotok jalan darah tidurnya dan membopong dia kesuatu tempat. Kim Thi sia tertidur begitu nyenyak lebih kurang empat jam lamanya, ketika ia mendusin kembali, terasa suasana disekelilingnya gelap gulita susah untuk melihat kelima jari tangan sendiri. Kenyataan tersebut membuatnya amat terkejut.

Masa rembulan sudah bersembunyi dibawah awan sehingga suasana menjadi gelap gulita?

Begitu dia berpikir. Aaaaah, tak betul kenapa tiada hembusan angin disini?"

Dia mencoba untuk meraba sekeliling tempat itu, tangannya segera menyentuh dinding yang amat kuat, hal mana kontan saja membuat hatinya sangat terkejut.

"Siapa yang telah mengurungku didalam ruangan ini?" kembali dia berpikir.

Bau lembah yang amat menusuk hidung menyelimuti tempat itu, sekali lagi dia merasakan sesuatu yang tak beres, pikirnya lebih jauh:

"Aaaah, rupanya kau telah disekap didalam sebuah gua kecil yang terdiri dari batu cadas, tak aneh kalau bau lembahnya begitu tebal dan menusuk penciuman-"

Ia mencoba untuk mendorong dengan sepenuh tenaga, dari atas langit gua segera berguguran pasir dan debu yang amat deras, didalam keadaan tak siap. hancuran tanah dan debu itu seketika mengotori seluruh tubuh dan kepalanya.

Tapi dari sini pula dia dapat menyimpulkan bahwa dirinya memang telah disekap didalam sebuah gua kecil yang tak nampak langit.

"Maknya " dia menyumpah kalang kabut. "Hey Dewi Nirmala, aku bersumpah tak akan hidup

berdampingan denganmu."

Untung saja dengan cepat ia dapat menyesuaikan diri dengan keadaan disekelilingnya, tak selang berapa saat kemudian ia telah bersandar diatas dinding gua dan tertidur kembali.

Menanti dia sadar kembali dari tidurnya disisi kakinya sudah nampak secercah cahaya yang menyorot masuk.

Dengan cepat pemuda itu dapat menyimpulkan bahwa asal cahaya tersebut sudah pasti merupakan mulut gua, dia mencoba untuk meraba sekitarnya, ternyata mulut gua telah tersumbat oleh sebuah batu raksasa yang kerasnya bagaikan besi.

Batu raksasa itu tingginya mencapai satu kaki dengan lebar delapan depa. Sambil menghimpun seluruh tenaganya Kim Thia sia mencoba untuk mendorong batu cadas tersebut bergerak sedikitpun tidak. hal ini semakin membuktikan bahwa tepai batu cadas itu bisa mencapai depa lebih.

Meminjam cahaya yang menyorot masuk keruang gua, dia mencoba memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, tapi apa yang terlihat seketika membuat hawa amarahnya memuncak.

Gua itu dalamnya cuma dua kaki, selain tempat yang disediakan untuk tidur, disitu hanya terdapat rumput kering serta kotoran manusia. Dari sini terbukti juga bahwa sebelumnya kehadirannya, sudah ada orang lain yang berdiam disitu.

Sekalipun kotoran manusia itu sudah mengering dan berubah warna karena terlalu lama berada disana. Baunya sudah hilang, namun pemandangan semacam ini sungguh memualkan hampir saja isi perut Kim Thia sia muntah keluar semua.

"Semuanya ini merupakan pemberian dari Dewi Nirmala, suatu saat aku harus membalasnya berikut bunga-bunganya. " demikian ia bermaksud dalam hatinya.

Perasaan hatinya sekarang tak dapat tenang kembali, dia berusaha celingukan kian kemari mencari peluang baik untuk meloloskan diri, sayang dia segera dibuat kecewa. Selain batu cadas yang menyumbat mulut gua tersebut, dinding gua lainnya terbuat dari alam. Jelas tak mungkin bisa dibongkar dengan tenaga manusia.

Dalam keadaan apa boleh buat, terpaksa pemuda itu harus memutar otak berusaha mencarijalan keluar lainnya. Tiba-tiba saja ingatan melintas didalam benaknya, dia berpikir kembali:

"Setelah menelan pil mujarab pemberian si Nirmala nomor tujuh, kekuatan tubuhku menjadi segar kembali aku menjadi tak lapar tidak pula merasa haus. Kenapa aku tak memanfaatkan kesempatan yang baik ini untuk melatih ilmu Tay goan sinkangku "

Kemudian setelah termenung sebentar dia berpikir jauh:

"Sejak terjun kedalam dunia persilatan, aku belum pernah melatih ilmu tersebut secara bersungguh-sungguh, sekalipun dalam waktu singkat aku tak bisa lolos dari gua ini, paling tidak dikemudian hari aku masih punya peluang untuk memberi pelajaran yang setimpal terhadap si Dewi Nirmala itu. " Berpikir sampai disitu, keputusanpun segera diambil.

Tiba-tiba ia menarik napas panjang-panjang lalu dengan mengikuti pelajaran yang pernah diterimanya dari Mala ikat pedang berbaju perlente, dia mulai mengatur napas dan berlatih diri.

Tatkala pikirannya mulai kosong dan seluruh kekuatan tubuhnya terhimpun menjadi satu, dengan sekuat tenaga dia melepaskan sebuah pukulan yang dahsyat keatas batu cadas dimulut gua.

"Blaaaaaar. "

Benturan keras bergema memecahkan keheningan, sekalipun batu cadas itu sama sekali tidak bergeser dari posisinya semula, namun ia dapat merasakan bahwa tenaga dalam yang dimilikinya telah banyak peroleh kemajuan-

Dalam girangnya dia melepaskan kemajuan pukulan lagi, begitu seterusnya sepasang telapak tangannya melancarkan pukulan demi pukulan secara bergantian-

Dalam waktu singkat peluh sebesar kacang buncis telah jatuh bercucuran membasahi seluruh badannya.

Dengan tubuhnya yang masih berstatus sebagai jejaka untuk berlatih tenaga dalam secara otomatis kemajuan yang diperoleh menjadi berlipat ganda ketimbang orang lain- Tak selang berapa saat kemudian banyak sudah kepandaian serta rahasia ilmu silat yang berhasil dipahami olehnya.

Rupanya pemuda tersebut telah mengerahkan ilmu ciat khi mi khi nya untuk menghisap kembali tenaga pantulan yang dihasilkan dari pukulan demi pukulannya yang terarah keatas batu cadas tersebut.

Ternyata kombinasi dua macam kepandaian yang dilatih bersamaan waktunya ini membuat tenaga dalamnya memperoleh peningkatan yang luar biasa sekali. Bukan hanya begitu, malahan pukulan demi pukulan yang terarah keatas batu cadas tersebut.

Ternyata kombinasi dua macam kepandaian yang dilatih bersamaan waktunya ini membuat tenaga dalamnya memperoleh peningkatan yang luar biasa sekali. Bukan hanya begitu, malahan pukulan demi pukulan yang dilancarkanpun makin lama semakin bertambah berat dan dahsyat.

Penemuan aneh yang sama sekali tidak terduga ini tentu saja sangat menggirangkan hatinya.

Semangat berlatihnya yang semakin berkobar, latihan yang dilakukanpun dengan sendirinya makin giat dan tekun dilaksanakan.

Sehari semalam sudah dilewatkan tanpa berhenti berlatih, ketika bajunya mulai basah oleh keringat, dia lepaskan jubah luarnya dan melanjutkan latihannya lebih jauh.

Entah berapa lama sudah lewat, mendadak dari luar gua dia mendengar suara langkah kaki manusia bergema mendekat.

Disusul kemudian ia mendengar suara aneh dari batu raksasa tersebut seakan-akan ada seseorang yang sedang mendorong batu itu dari luar gua itu. Tak selang berapa saat kemudian, terdengar seseorang menegur dengan suara pelan: " Nirmala nomor tujuh, benarkah kau telah membebaskan totokan jalan darahnya?" "Yaaa, aku hanya melaksanakan perintah dari sincu" jawab seseorang dengan suara berat. "Aku rasa dengan dinding gua yang begini kokoh ikut serta persiapan barisan yang begitu banyak disekitar sini, dia tak akan bisa meloloskan diri dari tempat ini. Kalau tidak. tak nanti sincu memerintahkan untuk membebaskan totokan jalan darahnya."

Ketika kedua orang itu selesai berbicara suara gemerincingan aneh tadi berkumandang lagi, lalu terlihat batu raksasa yang menyumbat gua itu nampak bergerak sebentar. Menyaksikan hal ini, Kim Thia sia segera berpikir:

"Paling tidak. batu raksasa ini beratnya mencapai berapa ribu kati, sudah setengah harian lamanya aku menghantam batu tersebut tanpa bergerak sedikitpun jua, nyatanya orang itu sanggup menggoncangkannya kekiri kanan, waaaah. tenaga dalam yang dimiliki orang itu

sudah tentu luar biasa sempurnanya."

Tak selang berapa saat kemudian, batu cadas itu bergeser kesamping dengan menimbulkan gemuruh suara yang keras, cahaya terang yang amat menusuk matapun mencorong masuk kedalam gua, membuat Kim Thia sia tak sanggup melihat apapun. Dalam keadaan seperti ini, tanpa terasa pemuda itu mundur setengah depa kebelakang.

Mendadak ia merasa lengannya dicengkeram seseorang dengan kekuatan yang sangat besar.

Disusul kemudian terdengar seseoran berseru keheranan:

"Aaaaah, tak disangka kondisi tubuh bocah muda ini masih kelihatan segar dan kuat sekalipun sudah terkurung selama berapa hari disini. coba lihat, ia tak nampak kelaparan ataupun kelelahan- "

Sesungguhnya didalam hati kecil Kim Thia sia telah timbul niat untuk memberi perlawanan- Tatkala lengan kirinya kena dicengkeram, telapak tangan kanannya yang masih bebas telah terhimpun kekuatan penuh dan siap melancarkan pukulan dahsyat. Tapi sebelum hal itu dilakukan, mendadak terdengar suara Nirmala nomor tujuh berkata: "Aaaai, sesungguhnya bocah ini tidak bersalah."

Mendengar suara itu, tiba-tiba saja Kim Thia sia mengurungkan niatnya untuk melancarkan serangan, pikirnya:

" Nirmala nomor tujuh bersikap sangat baik kepadaku, mengapa aku harus menyusahkan dirinya?"

Ia mengerti Nirmala nomor tujuh terpaksa harus berpihak kepada Dewi Nirmala karena dipaksa oleh keadaan, oleh karena itulah tenaga dalam yang telah terhimpun pelan-pelan dibuyarkan kembali.

Waktu itu, ia sudah dapat menyesuaikan diri dengan keadaan disekelilingnya, ia melihat orang yang sedang mencengkeram lengannya adalah seorang kakek berwajah dingin. Dibelakang kakek berwajah dingin itulah berdiri Nirmala nomor tujuh. Terdengar kakek bermuka dingin itu berkata:

"Anak kecil, sebetulnya kami tiada hubungan sakit hati ataupun dendam kesumat denganmu sehingga tidak seharusnya menganiaya dirimu. Tapi sekarang, kami terpaksa harus melaksanakan perintah atasan kami, untuk itu harap kau sudi memakluminya." Kim Thia sia segera tersenyum.

"Empek tak usah berkata begitu, aku tak akan menaruh rasa benci atau dendam kepadamu."

Baru selesai perkataan itu diutarakan mendadak dari kejauhan sana terdengar suara nyanyian seorang wanita suara yang merdu merayu bergema dan mengalun diangkasa......

Mendengar suara nyanyian merdu itu Nirmala nomor tujuh segera berpaling kearah kakek bermuka dingin itu seraya berkata:

"Sincu telah melakukan sembahyang paginya, kita tak bisa menunda-nunda lebih lama ayoh selekasnya membawanya pergi kesitu" Kakek bermuka dingin itu manggut-manggut.

"Anak kecil, kesulitan kami telah kami utarakan sebelumnya, karena itu kuharap kau suka mengikuti kami. Janganlah mempunyai ingatan untuk melarikan diri?" "Bagi seorang lelaki sejati, berani berbuat berani pula bertanggung jawab, kalian tak usah kuatir" jawab Kim Thia sia gagah.

Dengan perasaan kagum kakek bermuka dingin itu tertawa dan manggut-manggut. Dia tak berbicara lagi, digandengnya pemuda itu dan beranjak pergi dari sana.

Kim Thia sia merasa tegang sekali menghadapi keadaan seperti ini, namun diluarnya dia berusaha menunjukkan sikap yang tenang.

Sepanjang jalan dia mencoba untuk memperhatikan lembah tersebut dengan seksama tampak olehnya hutan yang hijau tumbuh disekitar situ batu aneh berserakan disana sini secara tak beraturan- Namun jelas terlihat batu-batu itu sudah diatur menurut kedudukan sebuah barisan-

Tak jauh didepan sana terlihat air terjun yang sangat indah pemandangan alam diseputar situ memang indah menawan-

Akhirnya dengan menelusuri sebuah jalan setapak sampailah mereka sebuah tanah lapang yang luas, sejauh mata memandang hanya tulang belulang manusia yang berserakan ditanah lapang itu.

Kim Thia sia mencoba untuk memperhatikan tempat itu dengan lebih seksama, tulang belulang itu hampir berada dalam keadaan utuh. Hanya anehnya dalam tangan kerangka manusia itu terlihat jelas menggenggam sebuah batu bata. ketika dihitung jumlahnya mencapai dua ratusan lebih, atau dengan perkataan lain, kerangka manusia yang terkapar disitupun berjumlah dua ratusan lebih.

Dengan perasaan terkesiap ia segera berpikir:

"Jangan-jangan tempat ini merupakan bekas arena pertempuran dijaman kuno dulu. ?

Tapi. aaai, keliru, nampaknya mereka tertarik karena bongkahan emas itu."

Tanpa terasa diapun berpikir lebih jauh. "Aaaai, andaikata si unta yang mengetahui bongkahan emas tersebut, entah betapa gembiranya dia."

Tak lama kemudian tibalah mereka ditepi kolam dengan teratai yang tumbuh sangat indah, pepohonan yang rindang dan bunga-bunga yang harum baunya, mendatangkan suasana nyaman bagi siapapun jua.

Untuk berapa saat lamanya Kim Thia sia berdiri terpesona disitu, dia merasakan seakan-akan sedang berada dibawah nirwana saja. Mendadak kakek bermuka dingin itu berseru:

"Nak, kau tak usah banyak melihat lagi, meskipun keindahan alam disini menawan hati namun tak bisa memberitahukan keindahan kepada sanak keluargamu lagi."

Kim Thia sia tidak memahami maksud perkataan itu, tapi diapun tidak menikmati lebih jauh, dengan mulut membungkam ia meneruskan perjalanannya kedepan. Sementara itu dalam hati kecil dia berpikir: "Kemanakah aku hendak dibawa?"

Mendadak timbul perasaan tak senang didalam hati kecilnya, dia merasa setiap orang yang berada disitu seperti diliputi kemisteriusan semua, pikirnya lebih jauh:

" Kecuali pergi menjumpai Dewi Nirmala yang pernah kujumpai, rasanya tak seorangpun yang kukenal ditempat ini "

Belum habis ingatan tersebut melintas lewat, mendadak terdengar kakek bermuka dingin itu membentak dengan suara dalam: "Kita telah sampai ditempat tujuan"

Dengan perasaan terkejut Kim Thia sia mendongakkan kepalanya, ia merasa matanya menjadi silau, apa yang terlihat membuat matanya terbelalak lebar dan mulutnya melongo.

Rupanya mereka telah sampai didepan sebuah gedung istana yang amat besar dan mentereng, disekeliling aneka bunga dan pepohonan yang amat indah, isi perabot dalam gedung tersebut rata-rata terbuat dari bahan kayu kelas satu. Yang jelas segala sesuatu yang terlihat disana merupakan barang indah, dan mewah yang rasanya hanya akan ditemui diistana raja.

Mendadak sikap Nirmala nomor tujuh berubah menjadi menghormat sekali, dengan suara rendah dia berkata:

"Nak. jangan berbicara lagi, nanti bila sincu memakimu atau menegurmu, kau tidak boleh perlihatkan kemarahanmu diatas wajah. Kalau tidak. kau bisa dibunuh secara keji. Ingat nak. aku hanya bisa membekali berapa nasehat ini kepadamu, apa yang bakal terjadi hanya nasibmu yang akan menentukan dirimu."

Kakek berwajah dingin itu menggerakkan pula bibirnya seperti hendak mengucapkan sesuatu, namun akhirnya niat tersebut dlurungkan.

Ia berhenti sejenak disitu, tapi akhirnya sambil menjatuhkan diri berlutut menghadap kedalam gedung mewah itu, katanya dengan hormat: "Tecu ing Goan san menanti dengan hormat kehadiran Sin li."

"Huuuh, Sin li (perempuan suci)? Memangnya ia benar-benar Dewi dari khayangan?" pikir Kim Thia sia.

Tanpa terasa ia mendengus dingin, wajahnya nampak sinis sekali.

Kakek bermuka dingin itu melotot sekejap kearahnya, seperti bermaksud menegur sikapnya itu.

Kim Thia sia sama sekali tak menggubris tiba-tiba ia speerti teringat akan sesuatu, sambil berseru tertahan pikirnya lagi:

"Yaa, aku teringat sekarang, bukankah tempat ini adalah lembah Nirmala, lembah yang pernah diceritakan oleh ayahku dulu." Kemudian gumamnya lebih jauh:

"Yaa, semua bukit, air, batu, bunga, air terjun, dan kolam yang berada disini. Hampir semuanya mirip dengan lembah Nirmala seperti apa yang pernah ayah ceritakan-Ditambah pula dengan gedung dan hiolo kemala itu. Bukankah semuanya ini makin membuktikan kalau tempat ini benar- benar adalah lembah Nirmala?" Bagaikan mendapat impian buruk, pemuda itu berpikir lagi:

"Ia bernama Nirmala nomor tujuh, bukankah kata Nirmala didepan nomor urutnya menunjukkan tempat dimana ia berdiam? Bukankah hal ini semakin membuktikan kalau yang kuduga memang benar?"

Sambil memukul kening sendiri, dia berpikir lebih jauh:

"Aku benar-benar sangat bodoh, seharusnya aku bisa menyadari persoalan ini sedari tadi, kenapa sampai sekarang baru kupahami? Bukankah sesaat itu menjelang ajalnya, ayahpun pernah menyinggung soal Dewi Nirmala? kenapa aku telah melupakannya."

Sementara dia masih diliputi pelbagai perasaan yang kalut dan tak menentu. Tiba-tiba dari dalam ruangan bergema suara tertawa merdu disusuk seseorang berseru dengan lembut: "Masuklah, tak usah banyak adat."

Kim Thia sia tak sempat berpikir lebih lajut, tahu-tahu tubuhnya telah digotong oleh kakek bermuka dingin itu dan dibawa masuk kedalam gedung.

Mendadak kakek bermuka dingin itu menghentikan langkahnya sambil menurunkan tubuh kebawah, kemudian bentaknya dengan suara dalam: "Hayo berlutut"

Kim Thia sia merasakan pikirannya sangat kalut, ketika mendengar perkataan itu tanpa ragu- ragu dia segera menjatuhkan diri berlutut.

Namun secara tiba-tiba dia melompat bangun kembali, gumamnya cepat:

"Maknya seorang lelaki sejati tak akan berlutut dihadapan sembarangan orang, atas dasar apa aku mesti berlutut dihadapan orang ini?"

Apalagi setelah melihat keadaan disekitar situ, hawa amarahnya makin memuncak. Ternyata dihadapannya berdiri empat orang gadis cantik berbaju hijau yang mendampingi seorang gadis cantik jelita. Waktu itu sinona cantik tersebut sedang duduk bersandar dijendela.

Ia mengenakan baju berwarna putih bersih bagaikan saiju, sepasang matanyaamat jeli dengan hidung mancung dan bibir yang kecil mungil. Terutama sepasang lengkung pipinya sewaktu tertawa, menambah kecantikan wajah gadis tersebut.

Usianya paling banter baru dua puluh tiga, empat tahunan- Namun memancarkan kematangan yang penuh daya pesona.

Entah mengapa, tahu-tahu saja hawa amarah yang semula berkobar didalam dada Kim Thia sia hilang lenyap dengan begitu saja setelah bertemu dengan gadis cantik itu.

"Gadis ini benar-benar memiliki kecantikan wajah yang tak kalah dari kecantikan putri Kim huan."

Sementara itu Nirmala nomor tujuh dan kakek bermuka dingin itu telah mengundurkan diri dari situ.

Kim Thia sia sgeera memusatkan kembali pikirannya dan menegur:

"Kaukah yang bernama Dewi Nirmala? Ada urusan apa kau menculik ku datang kemari?" Gadis cantik berbaju putih itu menggelengkan kepalanya berulang kali, sahutnya: "Itu sih urusan ibuku. Aku kurang begitu tahu, sebentar tanyakan sendiri kepadanya."

Dalam benak Kim Thia sia segera terlintas kembali pesan terakhir ayahnya, iapun berpikir: "Kata ayah, putri Dewi Nirmala naik sekali orangnya, dia pernah menyelamatkan jiwa ayah. Aku

harus mengucapkan banyak terima kasih." Berpikir demikian, dengan nada menyelidik bertanya: "Hey, apakah kau tidak takut aku melarikan diri?"

Tiba-tiba sekulum senyuman manis tersungging diujung bibir gadis cantik berbaju putih itu, sahutnya pelan-

"Ruangan gedung ini dijaga sangat ketat, kau tak akan berhasil untuk meloloskan diri dari sini."

Lalu setelah melirik sekejap kearah empat orang gadis berbaju hijau yang berdiri disisinya, dia melanjutkan:

"Lagipula keempat orang ini memiliki ilmu silat yang sangat hebat, aku tak percaya kau mampu meloloskan diri."

Tanpa terasa Kim Thia sia berpaling dan memperhatikan sekejap wajah keempat orang dayang berbaju hijau itu, tampak sorot mata mereka amat tajam dengan gerak gerik yang mantap. sudah jelas kepandaian silat yang mereka miliki lihay sekali. Tanpa terasa pemuda itu berpikir

"Hmmm, belum tentu aku akan melarikan diri. Dewi Nirmala sudah terlalu banyak memberi penderitaan kepadaku, tak nanti aku akan pergi dari sini dengan begitu saja. Hmmm"

Maka tanyanya lagi kepada gadis berbaju putih itu: "Sampai kapan ibumu baru akan kembali?" "Sebentar lagi, begitu ia selesai dengan latihan paginya, dia akan datang kemari."

Kim Thia sia tak berniat mengusik atau mencelakai gadis tersebut, mendengar jawaban tersebut diapun jatuhkan diri duduk bersila diatas tanah sambil katanya dengan suara dalam:

"Biarlah, aku akan menunggu sampai dia kembali."

Berapa saat sudah lewat, namun Dewi Nirmala belum juga menampakkan diri, karena iseng maka Kim Thia sia berkata lagi:

"Pernahkah kau belajar silat?"

Rupanya gerak gerik sinona yang begitu lemah gemulai seakan-akan terhadap hembusan anginpun tak tahan, ia menjadi keheranan hingga mengajukan pertanyaan itu. Nona cantik berbaju putih itu segera tertawa ringan- "Bila belajar silat, berarti kemungkinan bentrok dengan orang lain menjadi bertambah besar, karena itu aku tak ingin mempelajarinya."

"Yaa, perkataanmu memang benar" Kim Thia sia segera menimpal. "Padahal aku sendiripun tidak berminat untuk mempelajarinya, tapi berhubung pelbagai tekanan dan keadaan yang memaksa, mau tak mau akhirnya aku mesti mempelajarinya juga, ada kalanya aku merasa iri dengan kehidupan tenteram dari orang-orang awam"

"Mengapa ada kalanya?"

"Tentu saja" ucap Kim Thia sia sambil tertawa nyaring. "Disaat musuh menyerangku secara garang dan buas, ingatan semacam itu seketika hilang tak berbekas. Dalam keadaan begini aku selalu bersyukur karena jerih payahku selama banyak tahun ternyata tidak sia-sia belaka. "

Sementara berbicara, tiba-tiba dia menyaksikan gadis cantik berbaju putih itu berkerut kening, dengan amat perasaan dia berseru:

"oooh maaf, sudah cukup lama aku tidak pernah tukar pakaian- Apakah kau menganggap tubuhku sangat bau?"

Gadis cantik berbaju putih itu segera tertawa.

"Harap kau jangan berkata begitu, aku paling tak suka membicarakan soal kekurangan orang lain- "

Ketika mengucapkan perkataan tersebut, terlintas perasaan minta maaf diatas wajahnya.

Kembali Kim Thia sia teringat dengan pesan terakhir ayahnya, dia tahu gadis ini sangat baik hati, karenanya diapun tidak menyinggung persoalan itu lagi.

"Aku memang seorang manusia liar yang baru turun dari gunung" demikian ia berkata kemudian- " Karenanya apa yang ingin kukatakan segera kuutarakan keluar, untuk itu harap kau jangan menjadi marah."

Sekali lagi gadis berbaju putih itu tertawa ringan-

"Aku tak punya alasan untuk marah kepadamu, mengapa sih kau melukiskan dirimu sebagai orang liar?"

"Terus terang, aku menyebut diriku sebagai orang liar bukanlah suatu kejadian yang keterlaluan- Dalam kenyataan aku memang tak tahu urusan, tak heran semua orang memanggilku begitu"

Selama berada dihadapan gadis cantik ini, dia merasa tak sanggup untuk mendongakkan kepalanya, karena dia mempunyai perasaan rendah diri yang sangat tebal.

"Aaaaah, kau terlalu merendah, padahal aku menganggapmu pintar sekali" kata sinona sambil tertawa.

Kemudian setelah mengamati dengan seksama raut wajahnya, dia melanjutkan:

"Bahkan aku dapat menilai bahwa kau adalah seorang yang sangat jujur. Biasanya orang jujur paling mudah ditipu dan dianiaya orang itulah sebabnya orang lain memanggilmu begitu."

Ketika selesai mend engar perkataan tersebut, tiba-tiba saja timbul perasaan percaya pada diri sendiri dihati Kim Thia sia, katanya cepat:

"Terima kasih banyak atas pujianmu, bila aku bertekad untuk mempelajarinya secara bersungguh-sungguh, dalam setahun mendatang aku yakin pukulanku pasti akan berubah."

"Itulah sebabnya aku menganggapmu sangat pintar. disinilah alasannya mengapa aku berkata begitu" kata sinona tertawa.

Pada saat itulah mendadak terendus bau harum yang sangat aneh berhembus masuk kedalam ruangan- Tampak olehnya seorang gadis berbaju hitam telah berdiri dibelakang tubuhnya. Ia tak tahu sejak kapan perempuan tersebut munculkan diri, Kim Thia sia hanya menganggap perempuan itu sebagai saudara kandung sigadis cantik berbaju putih itu. Sebab wajahnya mirip sekali dengan wajah gadis tersebut, sudah pasti dia akan mengiranya sebagai saudara kembar gadis cantik berbaju putih itu.

Dibilang lebih tuaan, perempuan itu sesungguhnya berusia tiga puluh tahunan-Wajahnya yang nampak begitu menawan hati membuat Kim Thia sia secara terbuai dan terpesona dibuatnya.

"Perempuan ini tentu si Dewi Nirmala. " pikir Kim Thia sia kemudian-

Maka sambil menghimpun kembali semangatnya, dia menegur: "Kaukah yang bernama Dewi Nirmala?"

Perempuan cantik itu tidak menggubris pertanyaan anak muda itu, sebaliknya malah bertanya: "Kau sudah lama menunggu?" Kim Thia sia berkerut kening.

"Kau harus mnejawab pertanyaanku dulu sebelum kujawab pertanyaanmu tadi."

Memang begitulah watak keras kepalanya, sepanjang hidup dia tak sudi tunduk kepada siapapun, apalagi dari sikap perempuan cantik tersebut, timbul perasaan tak senang dihati kecilnya.

Tampaknya perempuan cantik itu tidak menyangka kalau sang pemuda yang berada dalam sarang harimau pun berani bersikap sekasar itu terhadapnya, tanpa terasa ia dibikin tertegun-

Sementara itu nona berbaju putih tadi telah memanggil "ibu" dan berlarian menubruk kedalam pelukan perempuan cantik tadi.

Dengan penuh kasih sayang perempuan cantik itu membelai rambut putrinya sambil bisiknya: "Anak Jin, kau sudah cukup dewasa. Janganlah selalu bersikap seperti anak kecil."

Dalam pada itu Kim Thia sia telah mengetahui secara pasti siapa gerangan perempuan licik itu, dengan suara lantang dia segera berseru:

"Sudahlah, kaupun tak perlu menjawab pertanyaanku lagi, aku sudah tahu kau adalah Dewi Nirmala."

"Bagus sekali" seru Dewi Nirmala sambil mendorong putrinya dari pelukan- "Aku rasa, kaupun tak perlu banyak berbicara lagi. Kim Thia sia, cepat kau utarakan asal usul ilmu Tay goan sinkang yang kau miliki itu."

"Dewi Nirmala, aku tahu ilmu silat yang kumiliki luar biasa sekalil. Bicara juga mati tak berbicarapun sama saja mati. Tapiaku justru enggan berbicara apa-apa, mau apa kau? Hmmm, bila ingin menghukum mati aku, silahkan saja dilaksanakan segera?" Dewi Nirmala tertawa dingin.

"Heeeeh......heeeeeh......heeeeeh kau tak usah congkak dulu. Aku bisa menggunakan

siksaan yang terkejut untuk memaksamu mengutarakan semua persoalan ya ingin kuketahui. Ketahuilah, didalam lembah kami terdapat berpuluh-puluh ekor ular berbisa, mereka khusus disiapkan untuk menghadapi orang-orang yang enggan tunduk."

Kim Thia sia segera menarik muka sehabis mendengar perkataan itu, mencorong sinar tajam dari balik matanya, ditatapnya perempuan itu lekat-lekat kemudian jengeknya: "Hmmm, silahkan saja dicoba." Dewi Nirmala berkerut kening lalu tertawa dingin.

"Bagus, kalau toh kau berkeras kepala terus, jangan salahkan bila aku tak berperasaan lagi." Ia bertepuk tangan dua kali, kemudian serunya: "Mana pengawal?"

Dari luar gedung segera muncul dua orang kakek berambut putih yang menyahut dengan lantang:

"sincu ada perintah apa?"

"Ikat dia kencang-kencang danpaksa dia untuk buka mulut dengan siksaan ular." Dengan langkah lebar, Nirmala nomor tujuh tampil kedepan, tangan yang satu digunakan unutk mencengkram bahu pemuda itu sementara tangan yang lain merogoh kedalam sakunya mengeluarkan tali dan diikatnya pada tengkuknya.

Sebenarnya Kim Thia sia berniat menghajar roboh orang itu, tapi setelah melihat bahwa orang itu adalah Nirmala nomor tujuh, hatinya menjadi lembek sendiri, pikirnya cepat:

"Aku harus memberi maaf kepadanya, ia terpaksa harus berbuat demikian. "

Sementara itu, Nirmala nomor tujuh telah berbisik lirih menggunakan kesempatan sewaktu mengikat tubuh pemuda tersebut katanya:

"Nak. tak ada gunanya kau berkeras kepala disini, dalam keadaan seperti ini, kau harus menahan rasa aib dan malu untuk menuruti saja segala kemauan hatinya."

Kim Thia sia berlagak tidak mendengar, diawasinya Dewi Nirmala dengan pandangan gusar, kalau bisa dia ingin menghajar mati perempuan keji itu dalam sekali pukulan-

"Aku adalah seorang lelaki sejati, kenapa aku harus tunduk dibawah perintah dan ancamannya?

IHmmm, biarpun harus mati, memangnya aku takut untuk menghadapinya"

Terbayang kembali pesan-pesan terakhir ayahnya, sambil tertawa dingin dia segera memejamkan matanya rapat-rapat. Sekalipun ancaman siksaan berada didepan mata, tak setitikpun rasa takut yang melintas diwajahnya.

Menyaksikan hal ini Nirmala nomor tujuh menghela napas panjang dan tidak banyak berbicara lagi, sementara dihati kecilnya dia berpikir. "Anak muda, kematianmu ini sama sekali tak   berarti. "

Tak selang berapa saat kemudian seluruh badan Kim Thia sia telah diikat dengan tali yang berlapis-lapis, sekujur badannya terasa linu dan kesemutan, dalam keadaan begini diam-diam ia berpikir sambil tertawa getir.

" Untuk kedua kalinya aku dibelenggu, pertama kali karena ulah putri Kim huan dan kedua kalinya oleh Dewi Nirmala, sungguh tak disangka aku Kim Thia sia, seorang lelaki sejati, ternyata harus jatuh pecundang ditangan kaum wanita." Sementara dia masih termenung, Dewi Nirmala telah berkata lagi:

"Kim Thia sia, kau harus tahu didalam lembah nirmala tidak berlaku hukum negara, yang ada adalah peraturan lembahku sendiri, ini berarti mati hidupmu sudah berada ditanganku, mengingat kau masih muda dan tak tahu urusan, sekali lagi kuberi kesempatan padamu untuk mempertimbangkan persoalan ini dengan sebaik-baiknya."

"Sekali aku bilang tidak. selamanya tetap tidak" tukas Kim Thia sia teramat gusar. "sekalipun kau bertanya sepuluh kali lagi, jawabku akan tetap sama."

Tiba-tiba dia membuka matanya kembali dengan sorot mata yang tajam dia mengawasi sekejap perempuan cantik itu, kemudian ujarnya lebih jauh:

"Bila kau anggap Kim Thia sia adalah manusia yang takut mati, maka anggapanmu itu keliru besar, bahkan bisa kubilang merupakan suatu lelucon yang amat besar."

"Kau tak perlu berkeras kepala aku tahu ilmu Tay goan sinkang merupakan ilmu sakti andalan Malaikat pedang berbaju perlente. Ilmu tersebut tidak akan diwariskan kepada sembarangan orang, tapi kenyataannya dia telah mewariskan ilmu kesayangannya itu kepadamu, hal ini membuktikan bahwa kau telah dianggap sebagai murid kesayangannya. Kalau dibilang sebetulnya, akupun masih terhitung paman gurumu, apakah engkau tidak menganggap bahwa tindakan kurang ajarmu ini sebagai suatu tindakan yang berani menentang angkatan tua perguruan sendiri?"

Kim Thia sia memang sudah tahu kalau Dewi Nirmala adalah paman gurunya, tapi dia segera berseru: "Kau berbuat semena-mena dalam dunia persilatan, aneka kejahatan telah kau perbuat. Sudah sejak dulu aku tidak mengakui dirimu sebagai paman guruku lagi." Dewi Nirmala segera tertawa dingin.

"Heeeeh......heeeeh.......heeeeh bocah keparat, kau benar-benar manusia tak tahu diri. Baik

aku akan menghukummu karena berani menentang angkatan tua dari perguruan sendiri, kemudian baru menghukum tindakanmu yang telah membangkang perintah. Hmmm, akan kulihat apakah kau mampu menanggulangi dua macam hukuman yang ditimpakan kepadamu sekaligus."

"Huuuh, jangan lagi baru dua macam, biar langit ambruk pun aku tak akan ambil perduli" sahut Kim Thia sia mendongkol.

Sementara itu Nirmala nomor tujuh yang mengikuti tanya jawab tersebut cuma bisa menggelengkan kepalanya berulang kali pikirnya:

"Aaaai, anak muda, anak muda, kenapa kau tidak mengumbar napsumu kepada orang lain saja? Kenapa kau justru bersikap seperti itu disini? Aaaai, delapan puluh persen kau bakal mampus. "

Betul- juga, sambil menarik wajahnya mendadak Dewi Nirmala berseru kepada Nirmala nomor tujuh:

"Angkat dia dan laksanakan siksaan"

Dari kerutan dahinya yang kencang dan wajahnya yang menyeringai seram, sadarlah Nirmala nomor tujuh bahwa atasannya benar-benar sudah dibuat sangat marah. Tanpa terasa ia berpikir:

"Habis sudah riwayatnya kali ini, kasihan benar bocah ini "

Sementara gerak geriknya agak sangsi, Dewi Nirmala menegur lagi dengan suara ketus: "Hey Nirmala nomor tujuh, bagaimana sih kamu ini?"

cepat-cepat Nirmala nomor tujuh membopong tubuh Kim Thia sia, kemudian bersama kakek bermuka dingin itu berjalan menuju keluar gedung. Tiba-tiba gadis berbaju putih itu berseru: "Eeeeh, tunggu dulu, aku hendak berbicara sesuatu."

Mendengar seruan tersebut, Nirmala nomor tujuh menjadi kegirangan setengah mati. cepat- cepat dia membalikkan badan dan sambil berjalan segera bisiknya kepada Kim Thia sia:

"Nak. rupanya nasibmu masih mujur. Asal dia bersedia menuruti semua perkataan gadis ini mungkin dari keadaan berbahaya kau telah beruntung." Lalu sambil menurunkan pemuda itu keatas tanah, kembali bisiknya: "Ingat, kau harus dapat menahan diri"

Kim Thia sia berdiri kaku ditempat, namun wajahnya nampak jauh lebih lembut. Hal ini dikarenakan gadis berbaju putih dihadapannya adalah gadis yang baik dan pernah menyelamatkan ayahnya.

Dengan langkah yang lemah gemulai gadis berbaju putih itu berjalan mendekatinya kemudian bertanya lirih:

"Mengapa sih kau harus menentang maksud hati ibuku?" "Aku merasa muak dengan sikap memerintahnya."

"ooooh, aku dapat mengerti. Setiap anak muda memang selalu begitu, paling tak tahan kalau diperintah orang, benar bukan perkataanku ini?"

"Yaa benar" Kim Thia sia mengangguk.

"Apakah kau bisa merasakan bahwa pembicaraan kita saling cocok satu sama lainnya?" "Benar."

"Kalau begitu, andaikata kuajukan pertanyaan yang sama kepadamu, bersediakah kau memberitahukan kepadaku?" tanyanya polos. Sewaktu berbicara, sekulum senyuman manis tersungging diujung bibirnya seakan-akan dia merasa yakin kalau Kim Thia sia akan menjawab pertanyaan tersebut.

Dalam kenyataannya, Kim Thia sia memang dibuat serba salah, dia tak ingin mengecewakan gadis tersebut dengan pertanyaannya, tapi apakah dia harus mengatakan apa yang sebenarnya?

Menyaksikan kesangsian pemuda itu, mendadak gadis berbaju putih itu seperti menyadari akan sesuatu, kepada Nirmala nomor tujuh segera serunya:

"Empek tolong bebaskanlah ikatan tali dari tubuhnya, dia tentu amat bersedih hati bila tubuhnya berada dalam keadaan terbelenggu."

Nirmala nomor tujuh mengiakan dan cepat-cepat melepaskan ikatan tali dari tubuhnya.

Dalam waktu singkat Kim Thia sia telah dalam kebebasan kembali, bila menurut adatnya, begitu lolos dari belenggu niscaya dia akan mengerahkan seluruh kekuatannya untuk beradu jiwa dengan Dewi Nirmala.

Tapi keadaannya saat ini berbeda, kehadiran gadis cantik berbaju putih itu membuatnya tak sanggup mengambil keputusan apapun-

Sementara dia masih termenung, gadis cantik berbaju putih itu telah memohon lagi kepada Dewi Nirmala dengan suara lembut:

"Ibu, bolehkah aku berbicara empat mata dengannya? Aku cukup memahami tabiatnya, aku pasti tak akan membuatmu merasa kecewa." Dengan perasaan apa boleh buat, Dewi Nirmala mengangguk. "Anak manis, aku tak akan mengecewakan hatimu."

meski hanya jawaban yang singkat, namun tercermin perasaan sayangnya yang begitu besar terhadap putri kandungnya itu.

"Ibu" kembali gadis berbaju putih itu meminta. "Aku hendak mengajaknya berbincang-bincang didalam kebun, kau tak usah ikut kami." Kemudian setelah tertawa manis dia berpaling kearah Kim Thia sia dan katanya: "Mari kita berangkat"

Angin berhembus sepoi-sepoi dengan termangu Kim Thia sia mengawasi gadis tersebut, dia menaruh simpatik kepadanya, karena itu diapun enggan mengecewakan hatinya. Tanpa banyak berbicara pemuda itu segera berjalan mengikuti dibelakang tubuhnya.

Melihat hal ini, dengan gemas Dewi Nirmala menghentak-hentakkan kakinya seraya berseru: "Aaaai, putriku, tidakkah kau merasa bahaya berbicara empat mata dengan musuh merupakan

suatu tindakan yang berbahaya sekali?"

"Kautak usah kuatir,anak Jin percaya dia tak akan mencelakai aku" sahut gadis cantik berbaju putih itu sambil berpaling dan tertawa, tak setitik rasa takut pun yang melintas diwajahnya.

Dengan perasaan cemas Dewi Nirmala berseru lagi: "Aaaai. bagaimana mungkin musuh

boleh dipercayai. "

Sembari berkata, dia segera menggerakkan tangannya seolah-olah sedang membetulkan letak rambutnya, namun Kim Thia sia yang berada lima kaki dihadapannya segera merasakan jalan darah dipunggungnya menjadi linu dan kesemutan-

Sadarlah pemuda kita bahwa jalan darahnya telah dibokong oleh Dewi Nirmala, sambil berpaling dia mendengus kemudian melanjutkan langkahnya:

Gadis cantik berbaju putih itu belum mengetahui apa yang terjadi, dia sempat berpaling sambil bertanya: "Mungkin kau akan mencelakai aku?"

Saat ini Kim Thia sia bisa berbicara dan bergerak secara normal selain hawa murninya tak mampu dihimpun kembali, mendengar perkataan tersebut, sahutnya sambil tertawa getir: "oooh, tentu saja tak mungkin?" Dia tak ingin mengemukakan keadaan yang sebenarnya telah menimpa dirinya, diam-diam pikirnya:

"Sebagai seorang lelaki sejati berani berbuat berani bertanggung jawab. Sudah sepantasnya persoalan ini kuhadapi sendiri, apa artinya menceritakan keadaan yang sesungguhnya kepadanya? Sekalipun akhirnya dia mintakan pengampunan dari ibunya, kemana aku mesti taruh raut mukaku ini?" Kepadanya dia berkata lagi:

"Kau adalah seorang gadis yang baik hati, tak nanti ada seorang manusiapUn yang ingin mencelakai dirimu."

Sambil tersenyum manis, gadis berbaju putih itu segera berkata kepada Dewi Nirmala: "Nah ibu, apakah kau sudah mendengar perkataannya?"

"Anak manis, aku lega sekarang, pergilah berbincang dengannya."

Gadis berbaju putih itu mengajak Kim Thia sia menuju kesebuah gardu kecil ditengah kebun yang sangat indah, kepada pemuda tersebut katanya kemudian-

"Duduklah disini tak perlu sungkan-sungkan lagi. Bila ada yang ingin dibicarakan utarakan saja secara blak-blakan."

"Didalam gardu ini hanya tersedia sebuah tempat duduk. silahkan kau saja yang duduk." "Mengapa kau tidak duduk?" tanya sinona sambil mengerdikan matanya, sikap sungkan

pemuda itu sangat mencengangkan hatinya.

"Sebab kau adalah wanita" sahut Kim Thia sia sambil duduk bersandar diatas tiang. "Apakah hanya wanita yang boleh menikmati keistimewaan ini?" tanya sinona lagi tak habis

mengerti.

Kim Thia sia sendiripun tidak tahu tentang soal ini, segera jawabnya singkat:

"Mungkin saja kecil kau belum pernah meninggalkan lembah ini, jadi kau tidak memahami tata cara ini. Tapi menurut apa yang kuketahui, didaratan Tionggoan memang berlaku tata cara begini."

"Sebetulnya aku sangat ingin keluar dari lembah ini, akan tetapi. "

Pelan-pelan dia memejamkan matanya dan melanjutkan dengan sedih:

"ibu tak pernah menyanggupi permintaanku itu, dia selalu bilang persoalan ini dibicarakan lagi setelah aku meningkat dewasa nanti. Hey, coba katakanlah, bukankah sekarang aku telah dewasa?"

"Yaa, kau memang sudah dewasa" jawab Kim Thia sia dengan suara berat dan dalam.

Dia memang seorang lelaki kasar yang berbicara apa adanya, sudah barang tentu tak bisa memahami perasaan seorang wanita. Terdengar dia berkata lebih jauh:

"Aku merasa sayang dengan masa remajamu sesungguhnya masa remaja merupakan masa yang paling indah, tapi kau telah menyia-nyiakannya dengan begitu saja."

"Akupun menyadari bahwa keadaanku sekarang jauh berbeda dengan keadaan masa kecilku, tapi aku selalu menuruti setiap perkataan dari ibuku. " kata nona berbaju putih itu

sambil menghela napas sedih, wabahnya nampak semakin sayu. "Aku tak ingin meninggalkan desa kelahiranku. Aku bersedia hidup sampai tua disini."

Menyaksikan kepedihan yang menyelimuti perasaannya, tiba-tiba saja Kim Thia sia merasakan hatinya menjadi kacut, tak tahan lagi ia berseru dengan perasaan menyesal: 
Terima Kasih buat para gan / ganwati yang telah meningglakan opininya di kolom komentar :). Sekarang ada penambahan fitur "Recent comment"yang berada dibawah kolom komentar, singkatnya agan2 dapat melihat komentar terbaru dari pembaca lain dari fitur tersebut. Semoga membantu :).