Lembah Nirmala Jilid 30

 Jilid 30

Dalam kegelapan malam yang mencekam, kembali ia teringat dengan putri Kim huan- ia benar- benar tak habis mengerti, selama masih berada bersama gadis itu, dia tak pernah membayangkan tentang dirinya, tapi begitu meninggalkannya, dia sering merindukan dirinya.

"Mungkinkah aku benar- benar jatuh cinta kepadanya. ?" ingatan tersebut melintas lewat

didalam benaknya.

Pengetahuannya tentang " cinta" masih terlalu tipis, jauh melebihi tentang kesan baik.

Dengan kepala tertunduk ia berjalan menelususri jalanan, ia membayangkan kembali peristiwa pada malam itu.......

Saat itu putri Kim huan sedang berkata kepada sipedang besi.

"Sayang aku tak pandai bersilat hingga merasa diriku lemah dan tak berguna. Kalau tidak. beranikah dia mempermainkan aku?" segera bergumam:

"Aaaaai......hanya Thian yang tahu, benarkah aku pernah mempermainkan dirinya. "

Iapun seakan-akan mendengar gadis ini berkata begini: "Aku berani membunuhnya, percayakah kau?"

Perkataan tersebut ditujukan kepada sipedang besi, waktu itu hatinya terasa amat murka. Semua kesan baik yang terjalin banyak waktu seketika punah oleh perkataan tersebut. Hampir saja ia hendak mendobrak pintu untuk menyerbu kedalam serta memaki gadis tersebut.

Hingga kini, dia tetap tak mengerti kenapa gadis tersebut bisa berkata demikian.....

"Aaaai, lebih baik kulupakansaja dirinya. Lupakan saja dirinya. "

Mendadak satu ingatan melintas didalam benaknya ia segera berseru:

"Mengapa aku tidak mengerudungi wajahku dengan kain? Disatu pihak para suheng tak bakal mengenali aku. Dipihak lain akupun bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk mengobrak abrik Dewi Nirmala beserta para begundalnya. " Dengan watak sekarang, apa yang terpikir olehnya segera pula dilakukan tanpa mempertimbangkan untung ruginya.

Maka dirobeknya secarik kain untuk mengerudungi wajahnya setelah dibuat dua lubang kecil untuk melihat diapun berkata:

"Lu ci, dandananku sekarang, masih kenalkah kau dengan diriku. ?"

Lu ci memperhatikan sekejap dandanan anak muda itu, kemudian menjawab:

"Lebih baik rambutmu dibikin agak kacau sebab model rambutmu macam sarang burung itu merupakan cici khasmu. Biar orang lain tidak melihat wajahmu model rambutmu sudah menjadi ciri khasmu."

"Maknya. memangnya model rambutmu paling bagus sendiri?" umpat Kim Thi sia sambil

tertawa.

Meski begitu, dia toh menurut juga untuk membuat rambutnya kusut dan membiarkannya terurai kebawah.

"Saudara Lu, bolehkah aku meminjam sebentar senjatamu" kata sang pemuda kemudian- "Boleh saja" sahut Lu ci sambil menyerahkan tongkat besinya kepada pemuda itu. "cuma

setelah tak terpakai berapa hari, toya itu hampir berkarat. Selesai meminjam, saudara Kim harus menggosokkan senjata itu untukku."

"Tak usah kuatir, cuma "

Setelah berhenti sejenak. dengan suara dalam ia menambahkan-"Kaupun harus menyanggupi sebuah permintaanku."

"Katakanlah, asal aku mampu melakukannya, pasti tak akan kubuat dirimu kecewa." "Tinggalkan aku. " dengan tanpa sungkan-sungkan Kim Thi sia berseru. " Kau tak perlu

mencampuri urusan pribadi saudara seperguruanku. Saudara Lu, tentunya kau bisa memahami maksud hatiku bukan?"

Lu ci tertegun untuk berapa saat, melihat keseriusan pemuda itu, ia segera memahami bahwa rekannya menjumpai kesulitan, karenanya diapun manggut.

"Tak usah kuatir, aku tak akan mencampuri urusan pribadi orang lain- Kalau begitu kita berpisah dulu disini, akan kunantikan kedatanganmu dirumah penginapan lain-"

Dengan pandangan tajam Kim Thi sia, mengawasi rekannya sekejap. kemudian katanya pula: "Saudara Lu, seandainya terjadi sesuatu musibah atas diriku, harap kau bisa tinggalkan tempat

ini selekasnya. Anggap saja peristiwa ini sebagai impian buruk. Lanjutkan masa depanmu sendiri

tanpa mengutusi diriku lagi, mengerti?"

Lu ci merasakan hatinya bergetar keras. Dia memahami arti perkataan tersebut, karenanya dengan perasaan berat dia melirik sekejap kearahnya. Kemudian membalikkan badan dan beranjak pergi dari situ.

Sebagai seorang kasar, dia tidak butuh pertanyaan apapun, kendatipun perasaan hatinya berat sekali namun akhirnya toh perasaan tersebut ditahan juga, karena diapun tahu kata-kata perpisahan yang memedihkan hati sama sekali tak ada gunanya.

Mengawasi bayangan punggung rekannya yang menjauh, Kim Thi sia merasakan pikirannya agak kaku, tapi sebentar kemudian ia sudah berpikir:

"Sejak terjun kedalam dunia persilatan, meskipun sudah banyak pekerjaan yang kulakukan, tapi bila diamati sebenarnya, ternyata tak sebuahpun yang meninggalkan kesan dalam bagiku, kali ini musuh yang kuhadapi adalah Dewi Nirmala yang misterius. Aku harus berupaya dengan segala kemampuanku untuk menciptakan sesuatu hasil, sekalipun akhirnya aku harus tewas, rasanya akupun tak usah mati menyesal." Ditengah hembusan angin malam yang kencang, pemuda itu berjalan terus sambil berpikir lebih jauh:

"Aku harus pergi dulu kerombongan pemain sandiwara, kemudian baru pergi membantu suheng. hmmmm, sebelum mati bisa meninggalkan sebuah karya besar, rasanya matipun bisa

mati dengan meram."

Dengan mempercepat langkahnya dia menuju kerombongan pemain sandiwara.

Untuk membangkitkan semangatnya, sambil berjalan pemuda itupun mengumandangkan suara nyanyian yang keras, lantang dan gagah perkasa.

Agaknya suara nyanyian itu segera mengejutkan seorang pemuda yang berada dalam sebuah hutan disisi jalan, dengan perasaan ingin tahu pemuda itu munculkan diri dari balik pepohonan-

Namun ketika dia tiba diluar hutan bayangan punggung Kim Thi sia telah berada dikejauhan sana, pemuda itupun termenung sejenak akhirnya tanpa ragu-ragu dia mengintil dari belakangnya.

Ditengah hembusan malam terdengar orang itu seakan-akan sedang bergumam seorang diri: "Bila kudengar suara nyanyian yang gagah dan bersemangat, dapat diduga dia adalah seorang

lelaki sejati yang hebat, aku harus menjalin tali persahabatan dengannya."

Tak lama kemudian Kim Thi sia telah sampai ditempat tujuan waktu langit sangat gelap sehingga tak nampak kelima jari tangan sendiri, malam itupun tak ada pertunjukkan sehingga keheningan yang mencekam membuat suasana bagaikan dikuburan-

Sampai lama sekali ia berdiri termangu- mangu diluar pintu, akhirnya setelah mengambil keputusan dia duduk dipintu muka dan mulai menghimpun tenaga dalamnya...

Selang berapa saat kemudian tiba-tiba muncul seorang berjubah panjang yang berjalan mendekat dengan kepala tertunduk. Kim Thi sia mengira" sasaran-nya telah datang, ia segera melompat bangun-

Ternyata orang itu berlagak acuh tak acuh, mula-mula dia memperhatikan sekejap sekeliling ruangan, lalu dengan suara pelan-pelan ujarnya:

"Ooooh, rupanya pada malam ini tiada pertunjukkan, tak aneh kalau setitik cahaya pun tak nampak. mungkin para pemainnya sudah tidur semua."

Mendengar perkataan tersebut, Kim Thi sia segera berpikir:

"Ternyata dia hanya tamu yang hendak menonton pertunjukkan, hampir saja aku bertarung dengannya."

Diam-diam ia tertawa bodoh dan segera duduk kembali. Terdengar orang itu bergumam kembali:

"Aaaai, malam ini udara amat cerah, kenapa aku tidak beristirahat sejenak disini dan baru pergi setelah rembulan muncul nanti?"

Sambil berkata pelan-pelan dia naik keatas panggung dan duduk tidakjauh dari Kim Thi sia sementara itu Kim Thi sia yang dibebani jalan pemikiran sendiripun tetap membungkam serta tidak menggubris dirinya. Tak selang berapa saat kemudian orang itu bergumam lagi:

"Sungguh aneh, seharusnya rembulan dibulan delapan adalah saat paling purnama. Kenapa sudah kutunggu sekian lama belum nampak juga? Mungkinkah rembulannya sudah ditelan oleh anjing langit "

Kim Thi sia ingin tertawa, rasanya namun tak mampu tertawa, orang itu memang aneh sekali, sudah jelas disampingnya ada orang, ternyata ia sama sekali tidak menggubris bahkan menengok sekejappun tidak malah seperti orang sinting saja bergumam seorang diri.  "Aneh benar orang ini" pikirnya kemudian- "Hari sudah begini malam, kenapa ia belum juga ingin pulang untuk tidur? Apakah diapun seekor " kucing malam"?"

Sambil bertopang dagu dia mencoba untuk berpaling, kebetulan orang itupun sedang berpaling menengok kearahnya, kontan saja empat mata mereka saling bertemu satu dengan lainnya.

Sebetulnya Kim Thi sia ingin bertanya:

"Hey, kenapa kau tidak pulang untuk tidur?"

Tapi berhadapan dengan orang asing dia merasa canggung untuk mengajukan pertanyaan tersebut.

Ternyata orang itu memiliki sorot mata yang tajam bagaikan sembilu. Bagaikan sebilah pedang mestika yang menembusi dadanya saja, membuat Kim Thi sia merasa amat terperanjat dan segera melompat bangun seraya berseru: "ooooh, ternyata sobat adalah seorang jago silat"

Bertemu dengan seorang jago silat yang tak diketahui asal usulnya ditengah malam buta jelas merupakan suatu peristiwa yang luar biasa, karena itu sewaktu berbicara tadi, tenaga dalamnya telah dihimpun kedalam telapak tangannya siap melepaskan serangan- Asal musuh bertindak mencurigakan maka dia akan menyerang lebih dulu. Sambil tersenyum orang itu berkata:

"Berbicara yang sebenarnya, sewaktu masih kecil dulu aku memang pernah mempelajari ilmu silat, tapi bila dibandingkan dengan saudara. Waaaah. masih ketinggalan sukup jauh"

Ucapan yang amat tenang dan datar tanpa sikap permusuhan ini segera mengendorkan kembali rasa tegang Kim Thi sia, otomatis dia pun mengendorkan juga himpunan tenaga dalamnya.

Terdengar orang itu berkata lagi:

"Bolehkah aku tahu siapa nama anda? Aku berharap bisa menjalin tali persahabatan denganmu."

Baru selesai perkataan itu diutarakan, mendadak dari kejauhan sana telah muncul tiga sosok bayangan manusia. Kim Thi sia segera berseru:

"Sobat, cepat bungkukkan badan, jangan membiarkan mereka tahu akan jejak kita"

Seraya berkata dia segera menjatuhkan diri keatas tanah diikuti pula oleh orang tersebut.

Ditengah kegelapan, terlihat ketiga sosok bayangan manusia itu memencarkan diri dan melayang keatas rumah dari tiga arah yang berbeda.

Gerak gerik ketiga orang itu amat lincah dan cekatan, ilmu meringankan tubuhnya sangat lihay, dari situ membuktikan pula bahwa ilmu silat yang mereka milikipun lihay sekali.

Menanti sampai ketiga orang tersebut sudah melompat naik keatap Kim Thi sia berdua baru cepat-cepat bangkit berdiri serta menyembunyikan diri disudut ruangan bisiknya kepada orang itu dengan suara lirih:

"Sobat, cepatlah pulang kerumah, jurusan yang bakal berlangsung ditempat ini sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan dirimu."

orang itu menyelinap kehadapannya, lalu sambil menatap wajah pemuda itu lekat-lekat serunya:

"Aku paling suka mencampuri urusan orang laun, kau tak usah mengurusi gerak gerikku."

Melihat orang itu berwajah gagah dan perkasa, Kim Thi sia pun tak tega untuk memaksanya pulang, hanya bisiknya:

"Aku tak keberatan bila kau hendak mencampuri urusanku, tapi jangan sekali-kali menghalangi rencanaku."

"Apa rencanamu?" tanya orang itu keheranan- "Menangkap hidup, hidup" jawab Kim Thi sia singkat.

Selesai berkata dia segera mendorong pintu gerbang dan menyelinap masuk, siang tadi ia sudah pernah datang kesitu, maka terhadap keadaan didalamnya, ia mengetahui cukup jelas, dalam beberapa kali lintasan saja ia telah berada ditengah halaman dalam.

Dengan tenaganya dia mendekam dibawah kursi sambil menengok keatas panggung, layar dipanggung sudah diturunkan- Suasana gelap tanpa penerangan, dan tak kedengaran sedikit suarapun-

Lama-kelamaan timbul kecurigaan dalam hatinya, dia segera berpikir.

"Jangan-jangan para pemain sandiwara itu mempunyai tempat pemondokkan yang lain- Yaa betul, bagaimana mungkin mereka bisa tidur diatas panggung yang terbuat dari kayu?" Berpikir begitu dia segera melompat naik keatas panggung tersebut.

Betul juga, dibalik layar tak dijumpai apa-apa, suasana gelap gulita dan tak kelihatan seorang manusiapun, setelah meneliti sebentar, diapun melanjutkan gerakannya menuju kebelakang panggung.

Waktu itu diatas atap rumahpun telah muncul bayangan manusia, entah sejak kapan tampak sesosok bayangan manusia melayang turun kebawah dengan kecepatan tinggi.

Kim Thi sia dapat mendengar dengusan napasnya yang memburu, dia tahu para penjahat sudah siap melakukan perbuatannya, ini terbukti dari perasaan tegang yang mencekam perasaannya.

orang itu berhenti berapa saat disitu tanpa melakukan sesuatu tindakan, agaknya dia sedang menentukan arah sasaran yang tepat sebelum mengambil sesuatu tindakan-

Kim Thi sia merasa tempat persembunyiannya amat strategis, seba dengan bersembunyi dibalik layar ini berarti dia berada diposisi gelap dengan musuh berada dipihak terang, tentu saja kedudukannya jauh lebih menguntungkan-

Mendadak terdengar penjahat yang muncul pertama kali tadi berbisik dengan lirih: "Toako, para penyanyi opera sudah pindah rumah"

"Tolol" umpat orang yang berada diatas atap rumah. " Kau toh bukan baru pertama kali ini berkunjung kemari, masa tempat tinggal para pemainnyapun tidak kau ketahui? IHmmm, kalau beginipun tak becus, buat apa masih memikirkan untuk menangkap sibunga penyanyi itu."

Bersamaan dengan selesainya perkataan itu, kembali terlihat sesosok bayangan manusia melayang turun dari atas atap rumah begitu dua sosok bayangan manusia itu bergabung, salah seorang diantaranya segera mengajak rekannya bergerak menuju keatas panggung.

Dalam keadaan seperti ini, Kim Thi sia semakin tak berani bertindak gegabah, dia segera membungkus diri dibalik kain dan menahan napas sambil melakukan pengintaian, dia ingin tahu permainan busuk apakah yang hendak diperbuat kedua orang itu.

Belum berapa langkah kedua orang itu berada diatas panggung, pemuda kita sudah berhasil melihat dengan jelas keadaan dari musuhnya. Tampak orang yang disebut "toako" itu berbisik secara tiba-tiba.

"Setelah bermain sandiwara siang malam, para pemainnya sudah tertidur nyenyak sekarang.

Kau tunggu saja disini, biar aku sendiri yang bekerja."

Selesai berkata ia segera bergerak menuju kebelakang panggung. Dalam waktu singkat bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata.

Kim Thi sia yang menyembunyikan diri kontan saja menyumpah-nyumpah didalam hati. sebab dengan tertinggalnya seseorang disitu untuk melakukan pengawasan berarti ia semakin tak leluasa untuk melakukan sesuatu tindakan, pikirnya: "Seandainya aku munculkan diri serta bertarung dengannya, niscaya pertarungan kami akan mengejutkan sitoako tersebut. Dengan begitu, bukankah semua rencanaku bakal berantakan?"

Meski sangat gelisah, akhirnya dia tetap menanti dengan perasaan ditekan-

Dengan berhati-hati sekali ia melongok keluar dan mengintip bayangan punggung penjahat itu.

Mendadak satu ingatan melintas dalam benaknya, ia segera berpikir:

"Yaaa benar, seandainya aku dapat membekuknya dengan menggunakan gerak serangan tercepat, tak mungkin toakonya bisa mengetahui perbuatanku ini "

Diam-diam iapun mulai mempertimbangkan diri, dengan kepandaian yang dimiliki sekarang, rasanya agak mustahil baginya untuk merobohkan musuh dalam sekali gempuran denganjarak tiga kaki. Tapi seandainya dia menggunakan taktik "Memancing musuh masuk perangkap" bisa jadi usahanya akan berhasil dengan sukses.

Jangan dilihat pemuda itu kasar diluar sesungguhnya cekatan dan pintar didalam, begitu pikirnya diputar dalam waktu singkat dia telah berhasil mendapatkan satu akal.

Setelah menarik napas panjang-panjang, sambil mempersiapkan toya besi hasil pinjaman dari Lu ci, dengan langkah lebar dia munculkan diri dari balik tempat persembunyiannya, begitu mendekati diapun berbisik:

"Saudara ku, mana toako? Kenapa belum juga kelihatan, apakah sudah terjadi sesuatu yang tak diinginkan?"

Ketika mendengar teguran tersebut, orang itu segera membalikkan badan dan menengok dengan wajah termangu-mangu. Sambil tertawa kembali Kim Thi sia menegur: "Mana toako."

Dia tahu bila kesempatan disaat musuh sedang termangu tidak dimanfaatkan dengan sebaik- baiknya. Banyak kesulitan bisa bermunculan kemudian, karena itu sementara dia masih menegur, sebuah serangan kilat telah dilancarkan dengan hebatnya. " Duuuukkkk "

Dalam terkejut dan tertegunnya, oran itu tak sempat lagi melakukan tangkisan- Tak ampun ia terkena hantaman toya hingga roboh seketika keatas tanah.

Selesai bekerja, Kim Thi sia menyembunyikan dirinya lagi dibalik tirai sambil menunggu munculnya kembali sang "toako" tadi.

Tak lama kemudian dari belakang panggung bergema suara langkah kaki yang sangat ringan- Disusul kemudian dengan munculnya sang toako itu.....

Dia muncul dengan mengempit sesosok bayangan hitam, meskipun Kim Thi sia tak sempat melihat dengan jelas raut mukanya namun dia bisa menduga bahwa bayangan hitam itu tak lain adalah sibunga penyanyi.

Diapun tidak mengira segampang itu sang "toako" nya berhasil menculik si bunga penyanyi tersebut, bahkan tindakannya sama sekali tidak mengusik ataupun mengejutkan siapa saja.

Berdasarkan kemampuannya itu bisa diketahui bahwa kemampuannya memang luar biasa.

Setelah munculkan diri, sang toako itu segera berkata sambil tertawa.

"Hiante, sekarang kita bisa tinggalkan pintu gerbang dengan langkah lebar, semua anggota pemain opera ini telah kublus dengan sebuah dupa pemabuk. Dalam empat jam mendatang, jangan harap bisa mendusin kembali. Haaah......haaaaah. "

Sang adik sama sekali tak berbicara, dia hanya berdiri tak bergerak ditempat. sitoako itu menjadi geli, dengan suara keras segera tegurnya:

"coba lihat tampangmu yang begitu tegang hiante, masa sampai wajahpun kau kerudungi? Aku toh tidak menyuruhmu naik kebukit golok atau turun kekuali minyak. Kenapa sih kau mesti melakukan perbuatan yang begini memalukan?"

"Toako" akhirnya sang adik berseru. "Kau memang cukup perkasa tapi sekarang akulah yang harus menunjukkan keperkasaanku kepadamu." Memanfaatkan kesempatan disaat sang "toako" masih termangu, toyanya kembali diayunkan kedepan-

Sang "toako" segera berseru tertahan dan robih terjungkal keatas tanah, ia tak mampu lagi menunjukkan keperkasaannya.

Sambil tertawa dingin Kim Thi sia menyambar tubuh si "bunga penyanyi" serta memeluknya, kemudian dengan langkah lebar dia berjalan menuju keluar pintu.

Ketika keluar daripintu depan, kebetulan ia berpapasan dengan si "kucing malam", sementara si "kucing malam" agak tertegun dan tak sempat berbicara, ia telah berbisik lirih:

"Jangan berisik."

Dengan langkah lebar dia berjalan menuju kebawah panggung, langkah kakinya sengaja diperkeras hingga menimbulkan suara nyaring.

Waktu itu sipenjahat yang bertugas diatas atap rumah sudah mulai gelisah karena tak melihat rekannya munculkan diri, begitu menjumpai Kim Thi sia muncul dibawah panggung sambil membopong seseorang, didalam kegelapan ia mengira toakonya yang munculkan diri, segera omelnya:

"Bagaimana sih toako ini, kalau toh sudah berhasil, kenapa tidak mengucapkan sesuatu aku masih mengira kau telah menemui sesuatu persoalan-" Dengan langkah cepat dia membantu kesamping.

Kim Thi sia menunggu sampai orang itu dekat dengan dirinya ketika secara tiba-tiba ia membalikkan badan sambil melancarkan cengkeraman kilat.

Mimpipun orang itu tak mengira kalau "toako" nya bakal menyergapnya secara mendadak. didalam tertegunnya, urat nadi pentingnya tahu-tahu sudah kena dicengkeram erat-erat.

Dengan perasaan terkejut bercampur ngeri dia mengawasi sekejap sang "toako" nya, sekarang ia baru sadar bahwa toakonya ternyata hanya seorang manusia aneh berkerudung, ia makin terkejut hingga menjerit tertahan-

Sementara itu si " kucing malam" telah melayang datang, meminjam cahaya yang ada dia mengamati sekejap wajah penjahat itu, tiba-tiba serunya sambil tertawa dingin-

"Heeeeh.......heeeeeh......heeeeeh kukira siapa yang telah datang, rupanya kalian tiga

manusia cabul yang memalukan- IHmmm, bila hari ini tidak diberi sedikit pelajaran kalian pasti tak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang jahat." Kim Thi sia yang mendengar perkataan tersebut, dengan cepatnya berpikir pula: "Sialan, rupanya dia sudah mengetahui asal usul dari ketiga orang ini." Berpikir demikian, diapun segera bertanya:

"Siapa sih ketiga orang penyamun ini?" Si "kucing malam" tertawa dingin.

"Heeeeh..... h eeeeh..... heeeeh menyinggung tentang ketiga orang ini, rasanya setiap

orang persilatan pasti akan mengutuknya habis-habisan- Mereka tak lain adalah "Tiga rase bermuka hitam" yang termashur sebagai setan perempuan- Sepanjang hidup mereka entah sudah berapa banyak anak istri orang yang telah diperkosa dan dinodai oleh mereka."

"Kurang ajar. Begitu berani mereka lakukan perbuatan terkutuk seperti ini. IHmmm, aku yakin dibelakang layar pasti ada jago lihay yang menjadi pendukungnya" seru Kim Thi sia. si " kucing malam" segera mendengus.

"Kalau menyinggung soalpendukung dibelakang layarnya. Hmmmm Mungkin saja orang lain tidak tahu, tapi aku mengetahuinya dengan jelas sekali orang itu."

Meski dia tidak bermaksud untuk melanjutkan kata-katanya, namun sorot matanya segera memancarkan cahaya tajam yang menggidikkan hati. Seakan-akan dia mempunai dendam kesumat dengan si "pendungkung dibelakang layar" tersebut. "Siapa sih orang itu?" tanya Kim Thi sia keheranan- "Apakah kau tak berani mengutarakannya?

"

" Kurang ajar, kau anggap aku sisastrawan menyendiri adalah manusia penakut yang gampang

dipermainkan orang?"

Setelah tertawa dingin berulang kali, dia melanjutkan:

"Bila dibicarakan mungkin saja orang lain tak akan percaya, tapi didalam kenyataannya sipendukung dari tiga rase bermuka hitam tak lain adalah sipedang emas, pemimpin dari sembilan pedang dunia persilatan-"

"Haaaah. ?" Kim Thi sia amat terperanjat segera pikirnya:

"Mungkinkah abang seperguruanku adalah manusia bengis semacam ini?Jangan-jangan kau sengaka memutar balikkan duduknya persoalan lantaran kau memang mempunyai dendam kesumat dengannya?"

Berpikir sampai disini, sambil menarik muka diapun menegor: "Apakah kau mempunyai bukti atas perbuatannya itu?" Dengan penuh kebencian sastrawan menyendiri berkata:

"Biarpun sembilan pedang dari dunia persilatan adalah anak murid dari Malaikat pedang berbaju perlente, padahal mereka bukan manusia baik-baik. Dibalik sepak terjang mereka, sesungguhnya masing-masing anggotanya seringkali melakukan penculikan perampokan maupun perkosaan, hanya saja berhubung ilmu silat mereka sangat lihay, cara kerja merekapun sangat lihay, cara kerja merekapun sangat rapi. Sehingga sulit bagi orang luar untuk mengetahuinya."

Kemudian setelah berhenti sejenak. dia melanjutkan kembali dengan suara dalam:

"Bila tak ingin perbuatannya diketahui orang, kecuali dia sendiri tak pernah melakukannya. Aku sudah terlalu lama berkelana didalam dunia persilatan- Tiada peristiwa apapun yang dapat mengelabuhi diriku. Hmmm, bahkan etrmasuk juga teka teki sekitar kematian Malaikat pedang berbaju perlente. Aku sudah mempunyai suatu gambaran yang cukup jelas tentang peristiwa berdarah ini."

"oooh, kaupun mengetahui jelas sebab kematian Malaikat pedang berbaju perlente?" tanya Kim Thi sia terkejut. "Apa yang menyebabkan kematiannya?"

"Apa yang menyebabkan kematiannya?" seru sastrawan menyendiri sangat marah. "Hmmmm hmmmm.. apalagi kalau bukan mati karena dibokong secara licik dan keji oleh kesembilan orang murid kesayangan itu."

Berbicara sampai disitu tiba-tiba ia berhenti sejenak. lalu sambil menatap Kim Thi sia tajam- tajam, ia berkata lebih lanjut:

"Meskipun aku tidak menyaksikan semua peristiwa itu dengan mata kepala sendiri, meski aku menyimpulkan kesemuanya ini berdasarkan pelbagai informasi serta data yang berhasil kukumpulkan, namun aku berani menjamin dengan taruhan batok kepalaku bahwa sebab kematian Malaikat pedang berbaju perlente adalah dikarenakan perbuatan kejam kesembilan orang anak muridnya sendiri."

Kim Thi sia menghembuskan napas panjang, tiba-tiba saja dia merasakan tubuhnya bagaikan balon yang kempes secara tiba-tiba. Seluruh kekuatan tubuhnya seperti lenyap dengan begitu saja. Akibatnya orang itu yang berada didalamnya telah bopongannyapun ikut terjatuh keatas tanah hingga merintih kesakitan-

Sampai detik ini dia masih belum berani mempercayai kesemuanya itu, kembali gumamnya: "Tak mungkin sembilan pedang dari dunia persilatan adalah manusia rendah yang berhati

binatang serta melakukan kejahatan yang terkutuk." Sastrawan menyendiri tertawa dingin, tiba- tiba ia bertanya:

"Tahukah kau apa sebabnya sipedang emas selalu mengenakan selembar kain untuk mengerudungi mukanya?" "Tidak."

"Sebenarnya dia merupakan seorang lelaki yang tampan sekali, tapi justru karena sewaktu membokong suhunya dia telah kena ilmu Hud thi ciang dari gurunya yang bertenaga dalam persis diatas wajahnya, maka sebagai akibat mukanya menjadi hancur berantakan tak karuan lagi bentuknya. Kecuali sepasang matanya keempat indera lainnya sudah tak berbentuk lagi."

Setelah tertawa dingin kembali lanjutnya:

"Pedang emas sudah termashur karena romantis dan suka bermain perempuan, sejak wajahnya rusak, ia menganggap tak ada harapan lagi baginya untuk merebut hati gadis cantik. Maka diapun menitahkan anak buahnya untuk menculik dan merampas anak gadis orang untuk dijadikan korban pelampiasan napsu birahinya. Tiga rase bermuka hitam tak lain adalah salah satu diantara anak buahnya itu.Jika kau tak percaya, siksalah ketiga rase bermuka hitam itu, niscaya mereka akan menceritakan keadaan yang sebenarnya "

Kim Thi sia tertawa sedih.

"Katakan kepadaku, apa sebabnya kau membocorkan rahasia ini kepadaku. ?"

"Aku berharap bisa menjalin hubungan persahabatan denganmu, maka semua isi hatiku kuutarakan kepadamu. HHmmm coba berhanti orang lain, aku tak perlu banyak berbicara."

"Jadi kau menganggap aku sebagai sobat karibmu. " ucap Kim Thi sia sambil tertawa getir.

"Sejak kudengar suara nyanyianmu yang gagah perkasa, akupun menjadi paham manusia macam apakah dirimu ini. Itulah sebabnya akupun sangat berhasrat untuk menjalin persahabatan denganmu."

"Apakah kau sudah mengetahui siapakah aku?"

"Apakah menjalin persahabatanpun harus diketahui dulu statusnya? Ucapan anda sangat mengecewakan diriku." seru sastrawan menyendiri dengan perasaan tak habis mengerti.

Dengan cepat Kim Thi sia menggelengkan kepalanya berulang kali dia berkata: "Aku bukan bermaksud begitu, harap kau jangan salah mengartikan maksudku." setelah tertawa rawan, dia melanjutkan:

"Terus terang saja aku adalah murid terakhir dari Malaikat pedang berbaju perlente, sejak selesai mendengar perkataanmu tadi, aku telah mengambil keputusan untuk melakukan uatu pembalasan dendam kesumat terhadap para abang seperguruanku. Coba bayangkanlah astrawan menyendiri, apakah peristiwa itu saling gontok-menggontok antara sesama saudara seperguruan bukan merupakan suatu kejadian yang tragis?" metelah berhenti sejenak, kembali dia melanjutkan:

"Kau tentu bisa merasakan bukan bagaimanakah perasaanku sekarang, itulah sebabnya kulihat soal menjalin persahabatan bisa ditunda lain waktu. Sekarang aku harus pergi. Sastrawan menyendiri, terima kasih banyak atas keteranganmu yang berharga itu, ucapanmu telah banyak membuka tabir rahasia yang selama ini mencekam pikiranku, suatu ketika aku pasti akan mengucapkan terima kasih kepadamu "

"Jadi kau adalah Kim Thi sia. " seru sastrawan menyendiri agak tertegun-

"Benar"

Kim Thi sia melanjutkan langkahnya menuju kedepan, mendadak ia berpaling seraya berkata lagi: "Selamat tinggal sobat"

Ditengah kegelapan mencekam jagad, dengan termangu-mangu sastrawan menyendiri menghantar keberangkatan pemuda itu, dia tahu apa yang hendak dilakukan pemuda tersebut. Tanpa terasa dia menghela napas dan bergumam:

"Aaaai, siapakah yang menyangka kalau sepatah dua patahku tadi bakal menimbulkan badai darah didalam dunia persilatan?" Sementara itu Kim Thi sia berjalan dengan perasaan sangat berat, disaat dia tiba didepan rumah penginapan yang didiami saudara seperguruannya, bara api telah menyorot keluar dari balik matanya.

Sekuat tenaga dia berusaha menekan pikirannya yang teringat kembali akan kebaikan dari para suhengnya. Sejak terjun kedalam dunia persilatan, baru pertama kali ini dia menjumpai persoalan serumit ini.

Ia berdiri kaku didepan rumah penginapan sambil berpikir:

"Bagaimana mungkin aku tega turun tangan untuk membunuh para abang seperguruanku."

Namun ia segera teringat kembali dengan pemandangan disaat gurunya hampir menemui ajalnya. Diapun seakan-akan teringat kembali akan pesan gurunya itu.

"Nak, bila kau tak tega untuk turun tangan nyanyikanlah lagu Sembilan dendam kesumat." "Nak. disaat kau telah berhasil, bawalah tulang belulang dari kawanan binatang itu untuk

dipersembahkan didepan kuburanku, ukirlah bait lagu sembilan dendam kesumat diatas batu nisanku. Setiap bulan purnama pada hari Tiong ciu, ambillah segenggam bunga segar dan nyanyikanlah lagu sembilan dendam kesumat untuk mengundang arwahku. Sampai saat ajalpun aku tak dapat melupakan dendam berdarah ini."

"Lagu sembilan dendam kesumat.......lagu sembilan dendam kesumat. " Kim Thi sia

bergumam lirih, pelbagai ingatanpun melintas didalam benaknya.

Ditengah kegelapan malam yang mencekam, tiba-tiba ia mendongakkan kepalanya dan bernyanyi dengan suara keras: " Dendam sakit hatiku, jauh melebihi samudra, Haruskah aku mati dalam keadaan begini? Biar badan hancur, biar tubuh remuk, Akan kucuci semua sakit hati ini........

Lidahku dipotong, mataku diculik, Rambutku dipapas, tulangku dikunci, Telingaku diiris, ototku dicabut,

Lenganku dikuntung dan kakiku ditebas......

Rasa dendam serasa merasuk ketulang. Aku merasa pedih, aku merasa sedih,

Dendam kesumat ini harus kutuntut balas. "

Ketika membawakan lagu itu, Kim Thi sia seolah-olah menyaksikan kembali wajah Malaikat pedang berbaju perlente yang sedang menatap kearahnya dan berbisik sambil menggigit bibir:

"Murid durhaka,aku pertaruhkan sisa hidupku untuk mewariskan ilmu silat kepadamu tak lain karena kuharap kau dapat membalaskan dendam sakit hati ini. Siapa tahu, tulang belulangku belum lagi mendingin, kau sudah berubah pikiran- "

Paras muka pemuda itu berubah, peluh dingin jatuh bercucuran membasahi wajahnya.

Mendadak ia meraung keras dan berulang-ulang membawakan lagu sembilan dendam kesumat dalam waktu singkat darah panas dalam dadanya serasa bergolak keras, tanpa ragu-ragu dia melanjutkan perjalanannya menuju kearah rumah penginapan-

Mungkin karena terpengaruh oleh bait-bait lagu sembilan dendam kesumat didalam waktu singkat dia seakan-akan telah berubah menjadi seseorang yang lain, bagaikan malaikat yang bengis dia berjalan memasuki rumah penginapan tersebut.

Cahaya lampu didalam rumah penginapan telah padam semua kecuali beberapa lampion diberanda samping. Ia berjalan menelusuri beranda tersebut dan berhenti ditengah sebuah kebun. Disitu ia berteriak keras-keras:

"Sembilan pedang dari dunia persilatan, kalian keluar semua."

Para tamu penginapan yang sudah tertidur nyenyak seketika terbangun oleh suara teriaknya yang keras dan nyaring itu, dengan perasaan terkejut mereka memasang lentera dan melongok keluar.

Dalam waktu singkat suasana didalam rumah penginapan itu sudah dibuat terang benderang bermandikan cahaya.

Ketika para tamu mengetahui bahwa orang yang berteriak adalah seseorang yang bengis dan buas bagaikan malaikat. Meski dihati kecilnya merasa tak senang hati, namun tak seorangpun yang berani memberi komentar.

Sementara itu Kim Thi sia menurunkan kain kerudung mukanya, dengan suara keras kembali bentaknya:

"Hey sembilan pedang dari dunia persilatan, apakah kalian tak berani tampilkan diri? Aku adalah Kim Thi sia."

Begitu namanya diutarakan, para tamu penginapan yang melakukan perjalanan dalam dunia persilatan makin ketakutan lagi. Sekalipun mereka tidak mengetahui secara pasti kemampuan dari orang tersebut, namun merekapun sadar, tidak berapa orang yang berani mencari gara-gara dengan Kim Thi sia yang tersohor itu.

"Maknya" dihati kecil mereka menggerutu. "Rupanya simanusia yang paling susah dilayani yang telah datang membuat gara-gara, tak heran kalau dia berani menantang sembilan pedang dari dunia persilatan untuk berduel."

Mendadak pintu jendela ruangan sebelah timur terbuka disusuk kemudian tampak tiga sosok bayangan hitam berkelebat lewat dengan kecepatan luar biasa.

Begitu melihat kehadiran bayangan hitam tersebut, Kim Thi sia segera melangkah maju kedepan seraya berteriak keras:

"Apakah yang datang adalah sembilan pedang dari dunia persilatan?"

Dengan suatu gerakan yang sangat ringan ketiga sosok bayangan manusia itu berganti napas ditengah udara lalu melayang turun kebawah dengan gerakan " burung elang bermain diair."

Ketika Kim Thi sia mencoba mengamati wajah orang-orang tersebut, dia segera mengenali mereka sebagai sipedang perak- pedang tembaga dan pedang besi.

Rupanya sejak putri Kim huan diculik oleh permuda berwajah jelek ditengah jalan, ketiga orang ini merasakan peristiwa tersebut amat merosotkan pamor mereka didepan mata orang persilatan- Karenanya terdorong oleh perasaan tak puas dan terhina, mereka bertekad hendak menemukan jejak pemuda bermuka jelek tersebut.

Ketika mencari tempat penginapan malam ini, secara kebetulan mereka melihat suara tantangan dari pihak "Nirmala", karena itu hingga larut malam mereka belum juga tidur, maksudnya hendak menunggu sampai kemunculan si Nirmala nomor tujuh.

Tak disangka yang datang bukan Nirmala nomor tujuh, melainkan Kim Thi sia manusia yang paling susah dilayani.

Meskipun ketiga orang itu merasakan peristiwa mana sedikit diluar dugaan, namun melihat kedatangan Kim Thi sia yang diliputi perasaan gusar dan rasa dendam yang meluap-luap ini, hati mereka segera terasa berat dan tercekat.

Sementara itu Kim Thi sia telah berteriak keras:

" Hey pedang perak. pedang tembaga, dan pedang besi. Dengarkan baik-baik, kedatanganku hari ini tak lain adalah hendak menantang kalian untuk bertarung hingga titik darah yang penghabisan. cobalah kalian pertimbangkan sendiri, apa sebetulnya hendak tiga melawan satu ataukah satu melawan satu, terserah kalian sendiri yang memilih. Tapi aku tak bisa menunggu terlalu lama lagi. "

Ketika mengucapkan perkataan itu, dalam hati kecilnya dia membawakan terus lagu "sembilan dendam kesumat". Dia berusaha membayangkan kembali peristiwa berdarah itu.

Dengan suara dalam sipedang perak segera menegur: "Kim sute, apakah kau sudah edan?"

Kemudian sambil melangkah maju dengan tak senang hati, dia melanjutkan lebih jauh: "Dibawah pandangan mata umum, apa jadinya bila sesama saudara seperguruan saling gontok-

gontokan sendiri? Ayoh ikut aku masuk kedalam kamar, aku hendak menanyakan sesuatu kepadamu."

"Aku sudah melepaskan diri dari ikatan hubungan persaudaraan dengan kalian, pokoknya kecuali berduel hingga titik darah penghabisan, tiada persoalan lagi yang bisa dibicarakan diantara kita." Sambil tertawa dingin sipedang besi menegur:

"Suheng, sudah kau dengar perkataannya itu? Ia telah mengumumkan pemutusan hubungan persaudaraan dengan kita."

Kemudian setelah mengerling sekejap kearah Kim Thi sia, dengan luapan rasa benci dan dendam yang melumer dia berkata lebih jauh:

"Kalau toh begitu, kitapun tak usah terlalu menghargai dirinya lagi, menurut pendapatku lebih baik hubungan sebagai sesama saudara seperguruan kita putuskan hingga disini saja, kita selesaikan urusan ini dengan kekerasan-"

"Aku memang berharap demikian, nah kalian boleh mempersiapkan diri secepatnya" seru Kim Thi sia.

Tiba-tiba pedang perak berkata dengan suara dalam:

"Samte, aku lihat kesadarannya agak terganggu, coba kau tangkap orang tersebut." Pedang tembaga mengiakan dan segera maju kedepan dengan langkah lebar.

Kim Thi sia merasa agak sedikit tegang, meski begitu, ketika teringat kembali dengan dendam sakit hati gurunya, perasaan tegang yang semula mencekam perasaan hatinya seketika hilang lenyap tak berbekas.

"IHey, kita mau bertarung dengan pedang atau tangan kosong saja? Hari ini, kita mesti melangsungkan pertarungan dengan sebaik-baiknya."

Pedang tembaga sama sekali tidak berbicara, dia berjalan hingga kejarak tiga kaki sebelum secara tiba-tiba melancarkan sebuah serangan dengan ilmu " bukit tay san menindih kepala", serangannya selain dilancarkan dengan kecepatan luar biasa, lagi pula mengandung hawa pukulan yang sangat mematikan-

Kim Thi sia segera membuang toya besinya sambil menyambut datangnya ancaman tersebut dengan jurus "kelincahan menguasahi empat samudra" dan "mati hidup ditangan takdir" dari ilmu Tay goan sinkang.

Tampaknya ia sadar, bahwa kelihayan dari ilmu Tay goan sinkangnya masih belum cukup untuk mengalahkan musuhnya, maka dari itu begitu kedua jurus serangannya dilancarkan, kakinyapun melancarkan sebuah sapuan dengan sepenuh tenaga. Dalam satu jurus serangan, ternyata dia selipkan tiga gerakan yang berbeda.

Agaknya sipedang tembagapun melancarkan serangan dengan sekuat tenaga. Hal ini bisa didengar dari deruan angin serangannya yang tajam dan gencar.

Namun begitu serangannya dilontarkan kedepan, tiba-tiba saja dia rasakan bahwa tenaga pukulannya yang kuat mengapai sasaran yang kosong seakan-akan serangan tersebut terjepit secara diam-diam hingga sasarannya menjadi meleset sama sekali. Kejadian tersebut kontan saja amat mengejutkan hatinya.

Masih untung dia mempunyai pengalaman yang cukup matang didalam menghadapi serangan musuh. Kecepatan reaksinya yang sangat mengagumkan-

Baru saja angin pukulannya mengenai sasaran yang kosong, ia segera menyadari kalau situasi tidak menguntungkan, dengan gerakan "kuda liar menarik tali" dia segera menarik kembali serangannya sambil berusaha dimiringkan kesamping. segulung desingan angin tajam dengan cepat menyambar lewat dari atas bahunya.

Meskipun tidak sampai termakan oleh serangan yang gencar itu, tak urung peluh dingin bercucuran juga membasahi seluruh tubuh sipedang tembaga.

Begitu Kim Thi sia berhasil meraih keuntungan yang cukup lumayan pada jurus serangan yang pertama, semangat tempurnya pun makin berkobar-kobar.

Berkilay sepasang mata pedang perak setelah menyaksikan peristiwa ini pikirnya kemudian- "jurus serangannya itu kelihatan sederhana sekali tanpa sesuatu keistimewaan, perubahan

apapun tidak kelihatan kenapa begitu dan akan bersentuhan dengan lawan, segera terwujudlah

perubahan yang begitu pelik hingga susah dihadapi?"

Sementara itu sipedang tembaga tak berani bertindak gegabah lagi, setelah dalam bentrokan yang pertama nyaris dipecundangi musuhnya. Kini dia berdiri dengan tenang sambil mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Dia berusaha untuk mengamati perubahan gerakan musuhnya.

Mendadak segulung tenaga pukulan yang maha dahsyat dilontarkan kedepan, begitu Kim Thi sia menyambut dengan kekerasan, tubuhnya segera tergetar mundur sejauh dua langkah dari posisi semula.

"Haaaah, rupanya tenaga dalam yang dimilikinya masih selisih jauh dibandingkan dengan kemampuanku. "

Sipedang tembag kegirangan setengah mati, secara beruntun dia melancarkan kembali dua buah serangan yang amat gencar.

Kim Thi sia paling takut mengadu kekuatan dengan musuhnya, dia tidak mampu berdiri tegak dan sekali lagi terdesak mundur sejauh tiga langkah dari posisi semula.

Sementara itu suasana didalam rumah penginapan itu hening dan tak kedengaran sedikit suarapun, semua orang mengikuti jalannya pertarungan tanpa bersuara, karena siapapun tahu, kedua belah pihak yang sedang bertarung sama-sama merupakan jagoan yang susah dihadapi.

Waktu itu Kim Thi sia sedang berkelit kesamping dengan kecepatan tinggi disaat musuh belum sempat melancarkan serangannya yang keempat.

Sipedang tembaga segera mendengus dingin sekali lagi dia memutar telapak tangannya sambil melancarkan serangan-

Kali ini Kim Thi sia bukannya mundur sebaliknya malah mendesak maju kedepan, dengan menggunakan jurus " kelembutan mengatasi air dan api" dari ilmu Tay goan sinkang ia sambut datangnya serangan tersebut sementara tangan kirinya menyerang dengan gerakan "ketenangan akan menimbulkan awan kabut."

Dalam dua gerakan mana, sebuah digunakan untuk membendung angin pukulan sipedang tembaga sedang yang la in justru menyelinap ketengkuk musuh dengan gerakan lincah. Pedang tembaga merendahkan badannya seraya membentak keras: "Lihat serangan jari." "Sreeet, sreeeet."

Dua gulung desingan angin tajam meluncur kedepan dan langsung menyergap jalan darah penting diatas dadanya. Kim Thi sia segera mundur satu langkah belum sempat melancarkan serangan balasan, sipedang tembaga telah manfaatkan kesempatan tersebut dengan sebaik-baiknya, ia mendesak lebih jauh dan secara beruntun melancarkan tiga buah pukulan dikombinasikan dua buah tendangan kilat.

Pertarungan antara jago lihay, kebanyakan menang kalah ditentukan oleh satu tindakan, begitu pula dengan sipedang tembaga sebagai orang ketiga dari Sembilan pedang dunia persilatan, tentu saja ilmu silat yang dimilikinya luar biasa sekali.

Begitu dia memanfaatkan kesempatan baik utuk meraih kemenangan, Kim Thi sia segera terdesak hebat sehingga mundur berulang kali kebelakang.

Kim Thi sia yang kehilangan posisi baik sehingga terdesak sampai kalang kabut oleh pedang tembaga, apalagi dihadapan orang banyak. dari malunya dia menjadi gusar.

Mendadak kuda-kudanya dipantekkan keatas tanah dan tidak mundur lagi kebelakang, sementara sepasang telapak tangannya melancarkan pukulan kiri kanan dengan jurus "mengebot baju menghilangkan debu" serta "hembusan angin mencabut pohon-" Angin serangan segera menderu- deru dan menyelimuti seluruh angkasa.

Pedang tembaga tertawa dingin, tanpa menggeser langkah kakinya dia memutar telapak tangannya yang telah terhimpun kekuatan besar itu.

Kedua buah serangan yang dipersiapkan kali ini merupakan himpunan dari segenap kekuatan yang dimilikinya, dalam waktu singkat angin pukulan menderu- deru, pasir dan batu beterbangan keudara, suasana terasa sangat mengerikan hati.

Melihat kedahsyatan tersebut, Kim Thi sia sadar bahwa dia tak sanggup lagi untuk menghadapi ancaman tersebut, dengan wajah berubah hebat segera pikirnya: "Mungkin kebun ini akan menjadi tempatku menemui ajalnya?"

Tiba-tiba sifat kerbaunya muncul kembali, sekalipun dia tahu kalau bukan tandingan, namun ia justru menghimpun segenap kekuatan tubuhnya dan menyambut serangan tersebut dengan keras melawan keras.

mendadak terdengar sipedang tembaga menjerit kesakitan, disusul kemudian memuntahkan darah segar, tanpa berbicara sepatah katapun pemuda itu membalikkan badan dan melarikan diri.

Kim Thi sia mengira dia sudah berhasil menangkan pertarungan tersebut, dengan cepat pengejaran dilakukan-

Tapi hanya sebentar saja ia sudah berhenti kembali dengan wajah termangu, diam-diam pikirnya:

"Aaaah, tidak benar, serangan kami belum saling bertemu. Bagaimana mungkin menang kalah bisa diketahui? Rupanya bukan aku yang telah melukai dirinya"

Dalam kesibukannya dia sempatkan untuk berpaling, betul juga, dibawah sinar lentera tampak tiga orang manusia berkerudung telah berdiri tegak disana dengan angkernya.

Entah sejak kapan ketiga orang itu munculkan diri, jangankah orang yang sedang bertarung tidak mengetahui secara pasti, ternyata para penontonpun tak ada yang mengetahui kehadiran mereka, jelas kejadian ini merupakan suatu peristiwa yang sangat aneh.

Pedang perak segera berkerut kening, sambil memayang tubuh pedang tembaga yang sempoyongan, ia membentak dengan suara dalam: "Apakah yang datang adalah Nirmala nomor tujuh?"

Salah seorang diantara tiga manusia berkerudung yang bertubuh kecil dan berdiri ditengah segera balik bertanya:

"Kau termasuk urutan keberapa dari sembilan pedang dunia persilatan- ?" Begitu buka suara ia segera menegur pedang perak tanpa sungkan-sungkan, bahkan sama sekali tidak mengacuhkan pertanyaan yang diajukan-Jelas hal ini menandakan bahwa orang itu tidak memandang sebelah matapun terhadap musuhnya.

Tapi yang membuat semua terkejut bukan hal ini, melainkan nada tegurannya yang merdu merayu.

"ooooh, rupanya dia adalah seorang wanita" pikir semua orang tanpa terasa tapi setelah diperhatikan lebih seksama dan menemukan banyak sekali kejanggalan, mereka segera berpikir lagi:

"Kalau memang wanita, kenapa tidak berdandan sebagai wanita?Jangan-jangan dia adalah seorang banci?"

Sementara itu sipedang perak telah menjawab dengan tak senang hati: "Akulah sipedang perak, dan kau?"

Perempuan berkerudung itu tertawa merdu, suaranya seperti kelentingan yang berbunyi nyaring membuat orang merasa tertegun dan terpesona dibuatnya.

"Akulah si Dewi Nirmala" perempuan itu memperkenalkan diri.

"oooh sebuah nama yang sangat indah Dewi Nirmala" pikirnya banyak orang tanpa terasa.

"Seperti juga nada suaranya yang merdu merayu dengan penuh mengandung kelembutan dan kesucian- "

sebaliknya paras muka sipedang perak telah berubah hebat, alis matanya berkenyit kencang, sampai lama kemudian ia baru berkata:

"Dewi Nirmala, berulang kali kau telah menantang sembilan pedang dari dunia persilatan, sebetulnya apa maksud tujuanmu? Harap kau suka memberi penjelasan "

Dewi Nirmala tertawa getir.

"Pedang perak. apakah kau kebingungan? Lantas kenapa kau sendiri membunuhi pula anak buahku?"

"Aku hanya membela diri" kata pedang perak dengan suara dalam.

"Apakah untuk membela diri maka seseorang boleh membunuh orang semau hatinya sendiri?" tanya Dewi Nirmala lagi sambil tertawa genit.

"IHmmm, sebuah alasan yang amat sedap didengar, membela diri? Hmmm, mengapa tidak dibilang kau merasa ketakutan- ?"

Dalam pada itu Kim Thi sia juga lagi berpikir setelah mengetahui perempuan berkerudung itu adalah Dewi Nirmala.

"Kenapa dia mengirim orang untuk mencariku? Aku toh tidak kenal dengannya, tidak seharusnya ia bersikap tak menguntungkan terhadapku" Setelah berhenti sejenak, kembali dia berpikir:

"Seandainya dia berniat hendak memaksamu untuk menyerahkan ilmu Tay goan sinkang kepadanya, tak nanti akan kuserahkan kepandaian tersebut kepadanya dengan begitu saja."

Makin dipikir dia merasakan hatinya semakin mendongkol, sehingga akhirnya tanpa ragu-ragu lagi dia membentak keras:

"Dewi Nirmala, kau telah turun tangan secara keji membunuh sipedang bintang, kedua belah pihak telah saling berhadap sebagai musuh besar. Apalagi yang bisa dibicarakan diantara kita berdua?"

Begitu perkataan tersebut diutarakan paras muka sipedang perak segera berubah hebat, setelah tertegun sejenak. dia segera menegur kepada si Dewi Nirmala:

"Benarkah perkataan itu?" Dewi Nirmala tidak menjawab pertanyaan tersebut dengan secara langsung, dengan sepasang matanya yang jeli dia mengerling sekejap kearah Kim Thi sia, lalu tegurnya dengan merdu:

"Hey anak muda, siapa namamu? Dapatkah aku mengetahui namamu?" Tiba-tiba saja Kim Thi sia merasa agak ragu-ragu pikirnya:

"Seandainya aku menyebutkan namaku bukankah tindakan ini sama artinya dengan menghantar diri kemulut harimau?" Tapi diapun berpikir lebih jauh:

"Seandainya aku merahasiakan persoalan ini, bukankah hal tersebut berarti aku takut kepadanya? Tidak. tidak bisa, lebih baik kepalaku putus dan darahku bercecera daripada mesti menunjukkan rasa takut terhadap seorang wanita." Setelah mengambil keputusan dihati diapun berseru dengan lantang: "Aku bernama Kim Thi sia mau apa kau?"

Sembari berkata diapun mendesak maju kedepan dengan gaya yang ganas seakan-akan sudah siap mencari gara-gara.

Dewi Nirmala mendengarkan pembicaraan tersebut dengan sepasang mata melotot besar. Tapi begitu mendengar nama "Kim Thi sia" tiba-tiba saja mencorong keluar sinar tajam dari balik matanya.

"oooh, rupanya kaulah yang bernama Kim Thi sia......kaulah yang bernama Kim Thi sia. "

gumamnya lirih.

Kemudian setelah tertawa merdu, dia berkata:

"Sahabat Kim, sudah lama kukagumi akan nama besarmu, aku sangat berharap bisa bersua denganmu. Tak disangka kita bersua disini, aku benar-benar amat gembira." Berbicara sampai disitu, tangannya yang putih bersih tiba-tiba saja digerakan pelan-

Gerakan tersebut sangat ringan dan pelan, namun bagi Kim Thi sia ibarat guntur yang membelah bumi disiang hari bolong, tanpa mengeluarkan sedikit suarapun ia roboh tak sadarkan diri keatas tanah.

seketika itu juga suasana menjadi gempar, diantara kegelapan malam terdengar suara ornag menjerit kaget dan berseru tertahan:

"Siapapun tidak menyangka kalau seorang perempuan yang bersuara begitu merdu ternyata sanggup membunuh orang tanpa berkedip jelas kekejaman hatinya melebihi racunnya ular ataupun kalajengking."

Tampaknya Dewi Nirmala dapat menebak suara hati orang banyak. Dia berpaling sekejap dan berkata sambil tertawa getir:

"Kalian tak usah panik, aku tak lebih hanya menotok jalan darahnya saja."

Lalu sambil berpaling kearah manusia berkerudung yang berada disisinya, dia berkata lagi: "Cepat kau bawa orang ini pulang kelembah dan tunggu keputusan dariku."

Manusia berkerudung itu mengiakan dan segera membopong tubuh Kim Thi sia, lalu tapa mengucapkan sepatah katapun dia berjalan keluar dari rumah penginapan itu dengan langkah lebar.

Menyusul kemudian tubuhnya melejit keudara seperti burung rajawali yang mementang sayap.

Dalam dua kali lemparan saja bayangan tubuhnya sudah lenyap dibalik kegelapan sana.

Sementara itu, sepeninggal manusia berkerudung tadi, Dewi Nirmala berkata lagi: " Nirmala nomor delapan, bekuk sipedang perak"

Mendengar perkataan tersebut, dengan cepat sipedang perak melangkah mundur satu tindak. kemudian serunya pula:

"Su sute, cepat mundur sambil menjaga sam sute. Biar aku yang hadapi persoalan ini." Sipedang besi mengetahui akan bahaya maut yang mengancam, buru-buru dia membopong sipedang tembaga dan segera mengundurkan diri dari situ.

Hanya dalam dua tiga patah kata itulah, ternyata Nirmala nomor delapan telah bergerak maju sambil mulai melancarkan serangannya.

Dengan cekatan sipedang perak mundur selangkah kesamping sembari melepaskan serangan balasan untuk menghalau ancaman tersebut. Lalu bentaknya dengan suara dalam:

"Dewi Nirmala, aku ingin bertanya lagi kepadamu, benarkah sipedang bintang tewas ditanganmu?"

"Siapa yang membunuh orang, dia harus membayar dengan nyawanya. Memangnya aku tak boleh membunuhnya?" sahut Dewi Nirmala hambar.

Pedang perak gusar sekali, secara tiba-tiba dia melancarkan dua buah serangan dahsyat yang segera langsung mengancam tubuh Dewi Nirmala serta Nirmala nomor delapan.

Dengan suatu gerakan yang ringan dan sederhana Dewi Nirmala mengebaskan ujung bajunya, serangan dahsyat dari sipedang perak seketika hilang lenyap tak berbekas bagaikan sebutir batu yang tenggelam ditengah samudra luas.

" Nirmala nomor delapan" seru perempuan itu kemudian, "Seandainya kau tak sanggup membekuknya hidup,hidup, aku akan menjatuhkan hukuman membangkang perintah kepadamu.

Dengan sikap yang sangat menghormat Nirmala nomor delapan mengiakan, tiba-tiba saja dari balik matanya memancar keluar sinar tajam yang menggidikkan hati, dalam waktu singkat dia telah melancarkan tiga buah serangan berantai yang semuanya disertai dengan kekuatan luar biasa.

Menghadapi ancaman yang begitu dahsyat, sipedang perak merasa terkesiap. pikirnya:
Terima Kasih buat para gan / ganwati yang telah meningglakan opininya di kolom komentar :). Sekarang ada penambahan fitur "Recent comment"yang berada dibawah kolom komentar, singkatnya agan2 dapat melihat komentar terbaru dari pembaca lain dari fitur tersebut. Semoga membantu :).