Lembah Nirmala Jilid 29

 Jilid 29

"Kalau begitu tanyalah" kata pedang bintang bintang.

Sesungguhnya dia bukan benar-benar "semangat jantan". tapi terdesak oleh keadaan mau tak mau dia mesti menegur dengan hati panas.

Tapi sekarang, setelah dia dapat berpikir dengan pikiran dingin, ia berpendapat bahwa menyelamatkan jiwa sendiri adalah jauh lebih penting daripada persoalan apapun- Begitulah, ketika Dewi Nirmala melihat korbannya telah memberikan tanggapan yang positif, diapun berkata lagi sambil tertawa genit:

"Ilmu Tay goan sinkang merupakan ilmu maha sakti didalam dunia persilatan, Malaikat pedang berbaju perlente sebagai pewaris kepandaian sakti ini sudah pasti tak akan rela ilmunya musnah dengan begitu saja. coba kau pikirkan kembali dengan seksama. Adalah diantara saudara-saudara seperguruanmu yang memiliki ilmu silat jauh lebih hebat dari pada rekan-rekan lainnya?"

Pedang bintang termenung berapa saat lamanya, mendadak seperti teringat akan sesuatu, ia segera berseru tertahan:

"Ya a, teringat aku sekarang, dia pasti Kim Thi sia. Yaa, pasti dia ia memiliki kepandaian silat yang tak mampu dipatahkan oleh siapa saja."

Sebagaimana diketahui, dia pernah bertemu satu kali dengan Kim Thi sia sehingga mengetahui juga kalau pemuda tersebut memiliki kepandaian silat yang amat tangguh, maka setelah berpikir sejenak. la segera berpendapat bahwa orang itulah yang dimaksudkan.

"siapakah Kim Thi sia itu?" seru Dewi Nirmala dengan wajah berseri dan sikap lebih bersemangat. "Dia adalah pedang yang mana diantara kalian? Kini ia berada dimana?"

"Ia bukan termasuk saudara seperguruan kami, tapi sering kali menyebut diri sebagai murid Malaikat pedang berbaju perlente. Aku sendiripun tidak tahu dimanakah ia berada sekarang, pokoknya dia termasuk orang kenamaan sehingga tak sulit untuk mencarinya." Dalam pada itu siunta pun sedang berpikir dengan perasaan terkejut:

"Bocah keparat, rupanya kau telah mewarisi kepandaian rahasia dari Malaikat pedang berbaju perlente, tak heran kalau nyawamu begitu panjang dan tak pernah bisa dibikin mampus."

Kemudian pikirnya lagi:

"siapa yang mengira bahwa sesungguhnya dia berada dihadapannya. Aduh. aku tak bisa

memberitahukan soal ini kepadanya. Perempuan itu adalah seorang wanita berhati keji. Aku tak akan salah melihat orang."

Dipihak lain, Dewi Nirmala telah berpaling kearah Nirmala nomor delapan sembari berkata: "Coba kau carikan manusia yang bernama Kim Thi sia itu, selidiki jejaknya dalam waktu yang

paling singkat kalau gagal. Hmmm, akan kuhadapi dirimu dengan peraturan lembah kita."

"Nirmala nomor delapan menerima perintah" sahut Nirmala nomor delapan dengan suara dalam.

Dewi Nirmala segera berpaling lagi kearah pedang bintang seraya bertanya: "Kau benar-benar tidak mengetahui jejak Kim Thi sia?"

"Benar-benar tidak tahu."

"Baiklah" Dewi Nirmala segera tersenyum genit. "Apa yang ingin kutanyakan telah kutanyakan semua. Kau boleh pergi sekarang."

Pedang bintang menjadi kegirangan setengah mati sesudah mendengar perkataan itu. Namun diluar wajahnya sama sekali tidak menimbulkan perubahan apapun. sesudah manggut-manggut segera katanya :

"Pemberian nona pada hari ini tak pernah akan kulupakan. Dikemudian hari kebaikan anda pasti akan kubalas, selama gunung nan hijau, air tetap mengalir, sampai berjumpa lain saat."

selesai berkata dia segera beranjak pergi dari situ dengan langkah lebar.

Baru saja berjalan berapa langkah, tampaknya dia sudah tak mampu mengendalikan rasa ngeri dan takutnya lagi mendadak ia berpekik nyaring. Ditengah pekikan tersebut ujung kakinya segera menjejak tanah dan meluncur kedepan dengan kecepatan luar biasa. Memandang bayangan punggungnya yang menjauh, Dewi Nirmala mendengus dingin, mendadak dia berkata:

"Manusia bedebah yang tak tahu diri berani meninggalkan kata-kata untuk mencari balas."

Mencorong sinar tajam dari balik matanya selesai mengucapkan perkataan tersebut, tiba-tiba dia mengayunkan telapak tangannya kedepan.

Waktu itu sipedang bintang sudah tiga kaki meninggalkan permukaan tanah sambil berjumpalitan beberapa kali ditengah udara. Belum jauh dia melarikan diri, tahu-tahu telapak tangan Dewi Nirmala telah diayunkan kemuka.

selisih jarak kedua belah pihak telah mencapai lima kaki waktu itu, tiba-tiba terdengar sipedang bintang mendengus tertahan lalu roboh terjungkal keatas tanah. Akhirnya setelah berkelejitan berapa kali ia menghembuskan napas panjang dan tidak pernah bangkit kembali.

Dengan sebuah kebutan yang begitu ringan tahu-tahu Dewi Nirmala telah berhasil membinasakan pedang bintang dari sini bisa terlihat betapa sempurnanya tenaga dalam yang dimilikinya.

siunta yang bersembunyi diatas pohon nyaris menjerit tertahan saking kagetnya.

Masih untung dia memiliki ketenangan yang luar biasa, coba bukan begitu niscaya dia akan mengalami nasib strategis sipedang bintang.

"Betul-betul berhati keji bagaikan ular berbisa, keji bagaikan ular berbisa " gumamnya

dengan suara gemetar.

sementara itu Dewi Nirmala sudah berjalan mendekat dengan langkah pelan, dia cabut keluar pedangnya dari pinggang lalu diayunkan kedepan kuat-kuat, pedang tersebut segera menembusi batang pohon hingga tinggal gagangnya.

"siapa membunuh orang, dia harus membayar dengan nyawa" kata perempuan itu dingin, "tiga orang anak buahku telah menemui ajalnya, maka kaupun jangan harap bisa pulang dengan selamat"

Walaupun perkataan tersebut diucapkan dengan kata-kata yang manis, namun yang manis hanya diluarnya sementara didalamnya justru mengandung racun jahat yang mengerikan hati.

Dibawah sinar rembulan, terlihat tiga sosok bayangan manusia berkelebat lewat dengan kecepatan luar biasa, dalam waktu singkat bayangan tubuh mereka sudah lenyap dari pandangan mata.

Menanti orang-orang itu sudah pergi jauh, siunta baru menghembuskan napas panjang. Tapi sekarang dia belum berani turun kebawah, serasa baju terlepas dari cengkeraman harimau, dia merasakan seluruh badannya lemas tak bertenaga.

Menanti awan hitam telah menyelimuti seluruh rembulan, dia baru turun dari atas pohon dengan langkah pelan.

Pertanyaan pertama yang timbul kemudian adalah masih hidupkah Kim Thi sia. seandainya dia tidak menotok jalan darah pemuda tersebut, paling tidak ia masih memiliki

kemampuan untuk memberi perlawanan, mati hidupnya juga merupakan tanda tanya besar.

Kedua, dia kasihan dengan nasib Lu Ci, kemungkinan besar telah menemui ajalnya pula. sampai lama sekali, siunta tetap berdiri termangu- mangu dengan pikiran serta perasaan yang

amat kalut.

Bintang bertaburan diangkasa, angin malam berhembus makin dingin.

Memandang dua sosok mayat yang tergeletak diatas dahan. siunta merasakan hatinya berdebar keras, perasaan aneh tiba-tiba saja muncul dan menyelimuti perasaannya. Dengan termangu-mangu dia bersandar diatas dahan pohon, sementara benaknya dipenuhi bayangan Dewi Nirmala yang kejam. Tak lama kemudian iapun tertidur tanpa terasa, tidur karena letih yang luar biasa.

Ketika fajar mulai menyingingsi dan ia disadarkan dari tidurnya oleh embun yang basah, delapan jam telah dilewatkan tanpa terasa.

Tiba-tiba saja dia merasa gerak geriknya menjadi lamban, bahkan susah untuk digerakkan sekehendak hatinya.

Bagi perasaan seorang jago silat yang tajam, hal mana sangat mengejutkan hatinya. Dengan cepat ia membuka matanya sambil menengok. tapi apa yang kemudian terlihat seketika membuatnya amat terkesiap hingga peluh dingin jatuh bercucuran.

Kim Thi sia telah berdiri dihadapannya sambil bertolak pinggang ketika melihat dia sadar dari tidurnya, dengan penuh amarah umpatnya:

"Tua bangka jelek akhirnya kau terjatuh juga ketangan toaya. Nah kalau ingin berkentut sekarang, lekaskan kentutmu secepatnya, daripada toaya mesti banyak bicara."

Dia adalah orang yang pintar, menghadapi pertanyaan tersebut mulutnya tetap membungkam, tapi hatinya segera berpikir:

"Mungkinkah semalam aku bermimpi? sudah jelas orang ini mampus ditangan anak buah Dewi Nirmala, kenapa sekarang bisa hidup kembali? Aaaai. rupanya Lu Ci sitelur busuk inipun belum

mati. Hmmm gayanya yang menyebalkan sungguh menjengkelkan hati, tapi. apa yang

sebenarnya telah terjadi?"

Biarpun dia cukup berpengalaman, toh kali ini pikirannya dibuat kalut oleh keadaan tersebut.

Rupanya Kim Thi sia menjadi sangat mendongkol melihat kejadian itu dengan geramnya dia menepuk bahunya keras-keras lalu mengumpat:

"Maknya tua bangka celaka, siapa suruh kau geleng-gelengkan kepala? Kalau ada pesan terakhir ayoh cepat utarakan toaya sudah tak sabar lagi menanti."

Melihat tubuh sendiri sudah diikat diatas dahan pohon bagaikan bakcang, jangan lagi bergerak bahkan untuk bernapaspun tak mampu. Ia segera sadar bahwa tiada kekuatan lagi baginya untuk melawan maka sambil tertawa menyengir katanya:

"Hey bocah kunyuk. apa-apaan kau ini? Kita sebagai sesama saudara toh selalu berhubungan akrab, kenapa kau mempermainkanku tatkala aku sedang tertidur?"

"semalam toaya sudah cukup puas kau permainkan" seru Kim Thi sia dengan mendongkol. "Maka sekarang adalah giliran toaya untuk mempermainkan dirimu nah apa salahnya kalau aku berbuat begitu? Hey tua bangka sialan, tentunya kau tak pernah menduga akan menjumpai peristiwa seperti hari ini bukan?" Kembali siunta tertawa.

"saudara cilik, kau jangan marah dulu tolong beritahu kepada engkoh tuamu bagaimana caramu untuk mempertahankan hidup?"

"oooh, jadi kau anggap aku sudah mampus?" teriak Kim Thi sia berang, kemudian sambil menepuk dadanya dia berseru. "Hmmm, kalau begitu aku perlu memberitahukan soal ini kepadamu. Ketika orang itu menendang jalan darah siau yau hiat ku tadi, secara kebetulan justru membebaskan diriku dari pengaruh totokanmu. Nah coba kaupikirkan sendiri, kenapa aku tak bisa hidup terus?"

Dengan perasaan tak habis mengerti siunta berkata:

"Dengan mata kepala sendiri aku saksikan tendangannya membuat tubuhmu mencelat sejauh tiga kaki lebih. Aku yakin biar dewapun pasti terluka oleh serangan tersebut, kenapa kau justru tetap sehat walafiat saja?" "Maknya, apa sih engkoh tua engkoh muda?" umpat Kim Thi sia sangat mendongkol. "Justru karena tendangan orang itu kelewat keras, maka hingga kentongan keempat semalam, kekuatanku sudah pulih kembali. Coba bukan begitu, sedari tadi aku sudah merasakan siksaanmU."

"Yaa benar-benar maknya siunta ini" sela Lu Ci. "Secara diam- diam kau telah menotok jalan darahku, membuat aku tersiksa setengah malaman".

"Terus terang saja, aku tidak berniat mencelakai kalian" kata siunta dengan nada minta maaf. "Tapi kedatangan orang-orang itu kelewat garang, sehingga mau tak mau aku harus menyembunyikan diri lebih dulu. Akibatnya hampir saja kalian berdua kehilangan nyawa. Ya a bicara terus terangnya memang akulah yang bersalah."

Habis berkata dia hendak menunjukkan mimik muka ingin meminta maaf kepada mereka. Kim Thi sia tak mampu menahan diri lagi, dia segera melompat bangun dan berteriak keras:

"Hey situa bangka, kau jangan harap bisa membujuk kami dengan kata-kata manismu. Maknya, hari ini aku wajib memberi pelajaran yang setimpal kepadamu."

seraya berkata, dia segera mengayunkan kepalanya dan menghantam dada siunta keras-keras. "Duuuukkkk.

Dengan perawakan tubuh siunta yang kecil, bagaimana mungkin dia sanggup menahan pukulan yang keras itu, kontan saja dia menjerit kesakitan dan segera roboh terjungkal keatas tanah.

Tapi berhubung tubuhnya terikat kencang, maka biarpun dia ingin merontapun tak ada gunanya. Kontan saja dia mencaci maki kalang kabut:

"sudah, sudahlah, bocah keparat, perbuatanmu ini cepat atau lambat pasti akan dibalas oleh saudara-saudaraku."

"Thi sia, jangan kau percayai perkataannya" teriak Lu Ci cepat. "Dia tak punya saudara, selama ini dia malang melintang seorang diri" Kim Thi sia tertawa dingin.

"Hmmm, sekalipun dia betul-betul punya saudara yang berkepala tiga lengan enampun aku tak ambil perduli, saudara Lu Ci, tidak sedikit kerugian yang kau alami ditangannya, kenapa kau tidak memanfaatkan kesempatan yang sangat baik ini untuk menghajarnya habis-habisan. Toh biar dipukul sampai mampuspun tidak menjadi masalah."

Lu Ci yang berpikiran sederhana tidak ragu-ragu lagi setelah mendengar perkataan itu, ia segera mengayunkan kepalannya yang besar dan langsung dihantamkan kedada siunta.

Tak ampun siunta terhajar hingga mirip anjing menjilat tahi, dia bergidik sendiri hingga tak mampu berbuat banyak lagi.

sadar kalau orang yang dihadapinya sekarang adalah orang-orang kasar yang tak tahu aturan, dia percaya biar digunakan kekerasanpun tak ada gunanya maka kepada Kim Thi sia rengeknya:

"saudara tua, sekalipun tidak memandang diatas wajah pendeta, hargailah wajah sang Buddha.

Jangan lagi diantara kita sudah terjalin hubungan yang cukup akrab, berbicara soal usiapun aku sudah tak mampu menahan gebukan semacam ini, siapa tahu kalau kau menggebuk sekali lagi, akus segera akan mampus? Lote, sudilah memandang pada hubungan kita sebagai sahabat tua, ampuni diriku kali ini. Lain waktu aku tak akan mengganggu lote lagi. "

"Hey unta, panggil aku ayah, akan kuampuni jiwamu."

"Ya betul, betul" seru Lu Ci sambil tertawa tergelak. "Asal kau memanggil ayah kepada kami, kamipun tak akan menggebuki dirimu lagi."

sembari mengatupkan kelopak matanya siunta menghela napas panjang, katanya:

"Lote, tidak seharusnya kau menyuruhku berbuat begitu, bagaimanapun juga sudah puluhan tahun lamanya aku berkecimpungan didalam dunia persilatan, biar tak becuspun masih terhitung seorang jagoan. Masa kalian menyuruhku melakukan perbuatan yang begini memalukan? Bagaimanapun jua kalian mesti memikirkan masa depanku"

Tampaknya persoalan tersebut amat memedihkan hatinya, dengan air mata bercucuran katanya lebih jauh:

"Lote, apakah aku salah melihat orang. selama ini aku selalu menganggap kalian sebagai sahabat karibku. Tak disangka aaaaai, ternyata kalian memaksaku untuk memanggil ayah

kepada kalian."

Kim Thi sia paling takut melihat orang melelehkan air mata, sekalipun dia tahu kalau siunta adalah orang licik dan air matanya empat puluh persen hanya tangisan palsu. Namun setelah menyaksikan adegan tersebut tak urung perasaannya menjadi lemah juga.

sementara itu air mata masih jatuh bercucuran membasahi wajah siunta, dengan suara yang parau dia berkata:

"Lote, bunuhlah aku. Bila kau memaksaku untuk melakukan perbuatan seperti ini, lebih baik aku beristirahat dialam baka saja."

"saudara Thi sia, dia sedang pura-pura nangis, kau jangan sampai dapat terpengaruh olehnya" buru-buru Lu Ci memperingatkan.

"Unta" Kim Thi sia segera berseru. "kau pun termasuk seorang lelaki sejati, sebagai seorang lelaki tidak seharusnya kau menangis secara begitu mudah, kenapa sih lagakmu macam banci saja?"

Berbicara sampai disini, tiba-tiba dia mendapatkah satu akal, segera serunya:

"Hey unta, aku adalah seorang yang paling suka membalas seseorang dengan mempergunakan cara yang sama. Waktu kau menangkapku tadi, kau bersikeras hendak memerasku untuk membayar uang tebusku sebesar lima ratus tahil perak. Maka sekarang akulah yang telah menangkapmu, karena itu kaupun mesti membayar lima ratus tahil perak sebagai uang tebusannya.."

Mendengar perkataan itu, siunta segera berhenti melelehkan air mata, dengan perasaa terkejut dia berseru:

"Apa? Kau hendak menarik lima ratus tahil sebagai uang tebusan? Waaah lagakmu seperti

singa yang mementangkan mulut lebar-lebar, kau anggap jiwa miskinku laku lima ratus tahil perak? oooh lote, memandang diatas wajah Thian, ampunilah aku kali ini."

"Maknya, aku sudah tahu kalau kau menganggap uang seperti nyawa sendiri Baru kusinggung soal uang, aku sudah hampir menangis." Lu Ci segera meludah sambil berkata pula:

"Didalam sakunya tentu banyak uang, sekalipun kita minta lima ratus tahlipun tidak bakal membuatnya miskin saudara Thi sia, aku rasa begininya saja. Kalau toh uang yang berada dalam sakunya diperoleh dengan cara tidak halal, kenapa kita tidak merampoknya habis-habisan agar ia bisa melakukan banyak amal bisa bersama orang miskin dikemudian hari?"

Berubah hebat paras muka siunta sesudah mendengar perkataan itu, kontan saja dia mengumpat:

"Lu Ci, kau sitelur busuk anak kura-kura. Bacotmu bau dan pintar mengada-ngada. Dalam penetisan mendatang kau pasti dijelmakan sebagai seekor anjing budukan." sementar itu Kim Thi sia sudah manggut-manggut sambil tertawa, sahutnya: "Bagus sekali, kalau begitu mari kita turun tangan."

Lu Ci segera berjongkok dan tanpa sungkan-sungkan lagi dia merogoh kedalam saku siunta serta menggerayangi semua benda yang berada disitu.

sepasang mata siunta nampak merah berapi-api. Giginya saling gemurutukan keras, jelas rasa bencinya telah merasuk sampai kedalam tulang. Tak selang berapa saat kemudian...... secara beruntun Lu Ci telah mengeluarkan banyak sekali barang, seketika itu juga Kim Thi sia mencoba untuk mengamati dengan seksama, ternyata diantara benda-benda itu terdapat uang perak. uang kertas mutiara, batu permata, dan aneka macam benda mestika yang tak ternilai harganya.

Menurut penilaian Kim Thi sia sepintas lalu, benda-benda yang berhasil dikeluarkan dari saku siunta mencapai berapa laksa tahil. sambil tertawa dingin Lu ci segera berseru:

"Aku hanya tahu dia kaya sekali, tak kusangka kekayaannya berlimpah-limpah dan amat mengejutkan hati."

Rasa benci siunta benar-benar sudah merasuk kedalam tulang, ketika mendengar perkataan itu, kembali dia mengumpat:

"Lu Ci, kau dilahirkan oleh kura-kura perbuatan salah apa sih yang pernah kuperbuat terhadapmu? Kenapa kau bersekongkol dengannya merampok hartaku?"

"Hmmmm, kau masih punya muka untuk berkata begini. Aku pingin tahu, dari mana kau dapatkan semua harta kekayaan itu merupakan hasil yang kutabung sepanjang hidupku, kau jangan menduga yang bukan-bukan." Kim Thi sia mendengus dingin-

"Hmmmm, kau masih mencoba untuk membantah? Dari sikapmu dalam menghadapi Lu Ci. Aku sudah tahu kalau harta kekayaanmu berasal dari jalan tak halal, bagaimanapun jua, aku tak bakal tertipu oleh tipu muslihatmu. "

Mendadak sorot matanya berhenti diatas hancuran perak milikinya yang berserakan diantara intan permata, kontan saja umpatnya lagi:

"Kau betul-betul kere setengah mati sampai hancuran perak milikkupun menarik minatmu.

Hmmmm, dari sini dapat diketahui sampai dimanakah tabiatmu yang sebenarnya."

Merah padam selembar wajah siunta, cepat-cepat dia pejamkan rapat-rapat dan berlagak tidak mendengar perkataannya.

Dengan gerakan cepat Lu Ci membungkus semua harta rampasannya kedalam secarik kain. setelah diikat kencang-kencang, ujarnya: "Segala sesuatunya sudah beres, saudara Kim mari berangkat."

"Baik" Kim Thi sia manggut- manggut. "Mari kita membawa serta dirinya. "

seraya berkata tiba-tiba saja dia menotok jalan darahnya, menyusul kemudian melepaskan siunta dari belenggu. Kemudian satu dari kiri yang lain dari kanan membawanya pergi kearah barat.

sepanjang jalan siunta menunjukkan sikap yang amat tenang, kecuali Kim Thi sia atau Lu ci mengajukan pertanyaan kepadanya diapun tidak banyak berbicara.

orang ini memang cerdik sekali, setelah sadar kalau dirinya terjatuh ketangan lawan, sehingga banyak persoalan tak mungkin bisa dilakukan sendiri, diapun tidak banyak cincong. Tapi membiarkan kedua orang tersebut berbuat untuknya. Tiga puluh li kemudian, sampailah mereka bertiga dikota Liong gan sia.

Kota tersebut merupakan pusat perdagangan sehingga kota amat ramai dengan manis ia yang berlalu lalang.

Lu ci sering kali melewati kota ini sehingga dia mengenali sekali seluk beluk kota tersebut, karena waktu itu mereka tak ada urusan penting. Maka diajaknya Kim Thi sia sekalian pergi menonton sebuah pertunjukkan sandiwara.

Bagi Kim Thi sia, pertunjukkan tersebut dianggap suatu yang aneh sekali, karena perasaan ingin tahu, bersama Lu ci berangkatlah mereka menuju ketempat pertunjukkan itu dan menanti diadakannya tontonan. siunta duduk pula disisinya dengan tenang, sementara sepasang matanya berputar entah sedang memikirkan akal muslihat apa.

Tapi Kim Thi sia percaya, dia tak akan mampu berbuat apa-apa, karena jalan darahnya sudah ditotok.

Berapa saat sudah lewat, pertunjukkan belum juga dimulai. sementara penonton yang berdatangan semakin banyak. sampai akhirnya kursi yang tersedia sudah mulai penuh dan suara hiruk pikuk memekikkan telinga. saat itulah Kim Thi sia baru menganggap "tontonan" ini suatu permainan yang tidak sederhana.

Berapa saat kemudian, seorang yang mengenakan jubah sutera munculkan diri dari balik panggung. Disusul kemudian suara gembrengan pun dibunyikan ramai sekali, layar kuning selebar berapa kakipun pelan-pelan ditarik kesamping.

Kim Thi sia menyaksikan panggung itu tetap kosong dan tak terlihat seorang manusia pun, tanpa terasa pikirnya:

"Huuuh, apanya yang menarik. mungkinkah yang dinamakan tontonan adalah permainan gembrengan dari orang-orang yang berada ditesi panggung itu."

sementara itu suara gembrengan dan tambur berkumandang makin keras dan cepat. suaranya bagaikan ada seribu prajurit yang sedang teriibat dalam suatu pertarungan sengit. Kim Thi sia mulai mendongkol dan tak sabar, pikirnya:

"Huuuh, berisik amat. Suara gembrengan dan tambur yang dibunyikan macam orang mau berangkat perang. Apakah tontonan begini yang disukai banyak orang? IHmmm, yaaa, aku tahu sekarang. Sudah pasti hanya orang edan yang gemar menonton pertunjukkan semacam ini."

Dia mencoba berpaling kesamping, dilihatnya siunta sedang memperhatikan keatas panggung tanpa berkedip. Wajahnya amat serius dan kelihatan asyik menonton maka tanpa terasa diapun berpaling kearah panggung.

Entah sedari kapan, ternyata diatas panggung telah muncul seorang lelaki berjubah periente yang bermuka bopeng.

Dengan langkah lebar sibopeng beejalan ketengah panggung dan menjura keempat penjuru, lalu serunya dengan suara parau: "Selamat datang saudara-saudara sekalian-"

Kemudian dia membalikkan badan dan duduk disebuah kursi sambil mengelus jenggot dan memandang keangkasa, sikapnya angkuh dan acuh tak acuh, membuat Kim Thi sia semakin masgul melihatnya.

Disamping itu, muncul pula kecurigaan didalam hatinya, buru-buru dia bertanya kepada Lu ci: "Saudara Lu, tenaga dalam yang dimiliki orang ini hebat sekali dari perkataannya barusan,

dapat diketahui ia memiliki tenaga yang hebat. Bukankah begitu?" sambil tertawa Lu Ci menjawab:

"si bopeng tak pernah belajar silat suaranya nyaring merupajan hasil latihan selama bertahun- tahun sedang ucapannya tadi merupakan pembukaan dari tontonan ini, sudah kau jangan mengusik terus."

setengah mengerti setengah tidak Kim Thi sia manggut-manggut diapun tidak banyak bertanya lagi. Kuatir dianggap Lu Ci sebagai orang dusun yang bodoh.

selang berapa saat kemudian suara gembrengan dibunyikan makin keras baru saja Kim Thi sia tak sabar menanti, tiba-tiba dari balik panggung muncul kembali dua orang manusia.

Yang berada didepan memakai baju ringkas berwarna merah dengab sepasang pedang tersoren dipunggung langkahnya berat dan mantap. Kim Thi sia segera berpikir kembali: "Pemuda ini gagah perkasa dan mantap langkahnya Jelas dia adalah seorang tokoh kenamaan dalam dunia persilatan."

orang kedua bermuka merah, berambut panjang dan mempunyai dua gigi taring berwarna kuning, ditambah jubahnya hitam ikat pinggangnya merah, membuat dandanannya kelihatan tak genah.

Ia segera bertanya kepada Lu ci:

"Jagoan darimana sih manusia itu, rasanya belum pernah kujumpai dandanan seperti itu" "Dia adalah panglima andalan dari siperampok kuda ui yang disebut Hek sat koay, siluman

bengis bermuka hitam."

Kim Thi sia berpikir sebentar, lalu katanya seraya menggeleng.

"Heran, kalau toh dia berani munculkan diri diatas panggung sudah pasti namanya cukup termashur didalam dunia persilatan mengapa aku belum pernah mendengar nama Hek sat koay tersebut?"

"Siperampok kuda Ui maupun Hek sat koay adalah jago-jago kenamaan pada lima ratus tahun berselang, darimana kau bisa tahu?"

Mendengar perkataan tersebut, Kim Thi sia jadi terkejut dan cepat-cepat melompat bangun, teriaknya:

"Apa? Manusia itu sudah termashur sejak lima ratus tahun berselang? Kalau begitu dia sudah menjadi siluman?"

Lu Ci mengawasi rekannya dengan termangu, dia tidak mengerti apa maksud perkataan itu.

Tiba-tiba terdengar orang yang berada dibelakangnya berteriak: "Hey, duduk. duduk Jangan menutupi penglihatan kami."

Buru-buru Kim Thi sia duduk kembali, sementara benaknya dipenuhi dengan pelbagai pikiran, dia benar-benar tak habis mengerti. orang yang nampaknya baru berusia lima puluh tahunan, kenapa bisa berubah menjadi Hek sat koay yang telah berusia lima ratus tahun?

Dalam pada itu diatas panggung sudah berlangsung tanya jawab. sibopeng berkata dengan suara dalam:

"saudara, ada urusan apa anda datang kemari disenja ini?"

Kim Thi sia segera menjadi melongo seingatnya saat ini baru tengah hari. Kenapa orang dipanggung mengatakan sudah senja? Mungkinkah mereka hidup kelewat lama didunia ini sehingga suasanapun menjadi kacau dalam pandangan mereka? Tampak Hek sat koay menjura sambil berkata:

"Secara kebetulan saka aku lewat di Tay goan sehingga sekalian datang berkunjung kemari."

Begitu ucapan diutarakan suara gembrenganpun berhenti berbunyi disusuk kemudian tampak pemuda gagah tadi berlutut sambil berkata:

"Aku yang muda ui liang heng sudah lama mengagumi nama toaya. Hari ini sengaja aku datang mengunjungi cay cu sekalian menyampaikan salam." Tak lama kemudian terdengarlah suara perempuan berseru keras: "Ayah, jangan marah. Ananda terpaksa pulang malam. "

Menyaksikan kesemuanya itu Kim Thi sia menjadi melongo dan kebingungan, dengan mata melotot dia berpikir:

"Aneh, aneh, sesungguhnya mereka yang sudah sinting ataukah aku yang sudah gila? sekarnag baru tengah hari, tapi mereka justru bilang sudah senja. Malah siperempuan itu mengatakan pulang malam.. .....gila gila semua aku benar-benar tak habis mengerti. Apa ulah siluman-

siluman berusia lima ratus tahun ini?" Dia mencoba memperhatikan Lu Ci dan siunta, bahkan hampir semua penonton mengikuti setiap kejadian dipanggang dengan seksama. seakan-akan mereka kuatir kalau sampai ketinggalan setiap adegan yang terjadi.

"Maknya. " umpat Kim Thi sia dihati. "Hebar betul kesadaran orang-orang itu untuk

mengikuti kejadian dipanggang. Huuuh, benar-benar sebuah siksaan hidup." Tiba-tiba terdengar Lu Ci bergumam:

"Nah, sinona besar telah muncul. sudah pasti dia yang menguasahi seluruh panggung benar- benar asyik. Benar-benar asyik."

Ketika Kim Thi sia memperhatikan kembali keatas panggung, disitu telah muncul seorang nona yang berbaju sutera, berdandan medok dengan usia antara dua puluh delapan tahunan.

Yang paling tak sedap dilihat adalah sepasang matanya yang besar dan jeli justru diberi cat warna dibawah kelopak matanya. Mukanya dibedaki tebal dan bibirnya diberi gincu tebal. Hal ini membuat seorang gadis yang sesungguhnya menarik berubah macam perempyan siluman saja.

"Huuuh, tampaknya lebih jelek daripada monyet. Heran siapa yang mendandaninya hingga macam begitu? orang itu mesti dihajar habis-habisan" pikir Kim Thi sia.

Tak lama kemudian musik bergema dan perempuan itupun menari sambil menyanyi yang disambut tepuk tangan riuh dari penonton.

Hanya Kim Thi sia seorang menutupi telinga sendiri dengan jari tangan. Hati masgul dan tak gembira, diam-diam ia menyalahkan Lu Ci yang tidak seharusnya mengajaknya kemari hingga dia mesti merasakan siksaan hidup,

Ia mencoba berpaling, melihat Lu Ci pun turut bertepuk tangan dengan gembira, tiba-tiba saja timbul amarah dihatinya. Dengan suara keras segera bentaknya:

"Hey Lu Ci, kalau kau berani bertepuk tangan lagi, jangan salahkan kalau aku akan menggebukmu"

"saudara Kim apa kau bilang?" seru Lu Ci agak tertegun-

"Jangan bertepuk tangan atau aku tak akan menganggap dirimu sebagai teman lagi" ancaman Kim Thi sia semakin mendongkol.

Lu Ci tidak habis mengerti apa yang terjadi. Melihat rekannya bermuka macam dia pun tak berani melanggar keinginannya dan segera berhenti bertepuk tangan-Kim Thi sia segera bergumam: "Lu Ci, perasaanku kurang baik, maafkan diriku." selesai berkata, ia segera bersandar dikursi dan tertidur nyenyak.

Entah berapa lama sudah lewat, suara gembrengan yang amat keras mengejutkan dia dari tidurnya. Ketika membuka matanya kembali, dia saksikan banyak orang sedang mengucurkan air mata.

Apa yang terlihat membuat rasa kantuknya hilang seketika, dengan perasaan terkejut bercampur keheranan dia bertanya kepada Lu Ci: "Hey, sebenarnya apa yang terjadi, kenapa kalian semua. "

Kata-kata itu tak sanggup dilanjutkan kembali, ternyata wajah Lu Cipun sudah dibasahi oleh butiran air mata.

Lu Ci adalah sahabatnya, tentu saja dia lebih menguatirkan dirinya, dengan suara dalam segera tegurnya dengan nada dalam:

"saudara Lu Ci, siapa yang telah menganiaya dirimu? Biar aku balaskan dendam bagimu." sambil berkata dia mencoba memperhatikan keadaan disekitar situ, namun yang tampak hanya

wajah-wajah yang sedih, tak seorangpun menunjukkan wajah "bengis" atau "buas".

sementara dia masih keheranan, Lu Ci telah menunjuk kearah panggung seraya berkata lagi: "Aaaai, sianak durhaka itu benar-benar kejam, neneknya sudah berusia delapan puluh tahun, lagipula menderita sakit encok yang berat. Tapi dia masih begitu kejam dan tega untuk mencambuki tubuhnya."

Kim Thi sia segera berpaling kearah panggung. Betul juga dia saksikan seorang lelaki setengah umur sedang mencambuki seorang nenek berambut putih sambil tertawa licik, sementara sinenek memeluki kakinya sambil menangis dan meminta ampun.

Tapi lelaki setengah umur itu benar-benar berhati jahat, sambil tertawa dingin dia mencambuk terus tiada hentinya.

Empat orang centeng dan seorang gadis menangis sambil berdiri ketakutan disisinya. Ternyata tak seorangpun yang berani melerai.

Melihat adegan itu, timbul hawa amarah didalam hati Kim Thi sia, pikirnya tanpa terasa: "Kurang ajar, ditengah hari bolong pun terdapat manusia bagaikan binatang yang berani

menghajar orang tua semaunya sendiri. Aku sebagai seorang pendekar tak boleh berpeluk tangan saja, akan kuberi pelajaran yang setimpal kepadanya."

Apa yang terpikir dilakukan, tiba-tiba dia melompat bangun dan lari menuju kepanggung.

Lu Ci berniat memanggilnya tapi tak berhasil, terpaksa dia hanya mengawasi bayangan punggungnya dengan termangu.

sementara itu para penontonpun dibuat tertegun oleh peristiwa yang terjadi sangat mendadak dan diluar dugaan itu

Kini Kim Thi sia langsung melompat naik keatas panggung dan mencengkeram lelaki setengah umur yang berperan sebagai anak durhaka itu, kemudian tanpa ditanya pa atau bu, ia langsung menghajarnya sampai babak belur.

Dalam waktu singkat orang itu sudah menjerit-jerit kesakitan dan bergulingan diatas tanah. sampai rasa mendongkolnya sudah mereda, lelaki setengah umur itu telah berada dalam

keadaan tak sadar.

suasana menjadi gaduh dan heboh, disusul kemudian dari balik panggung bermunculan aneka ragam manusia, ada pendetanya, tosu siucay, buan, perempuan tua, gadis muda dan aneka ragam lainnya.

sambil munculkan diri, orang-orang itu berteriak:

"Hey, bagaimana sih kamu ini? kenapa memukul orang secara sembarangan?jangan dianggap tiada hukum negara yang berlaku disini sehingga kau boleh memukul orang secara sembarangan-"

"Kentut anjingmu" umpat Kim Thi sia marah. " Kalian sendiri hanya berpangku tangan tanpa menolong melihat kesusahan orang. sekarang berani mencaci maki diriku. Hmmm, kalau toaya sudah marah, akan kubakar gedung kalian sampai ludas."

Tiba-tiba sinenek yang dihajar oleh "anak durhaka" itu melompat bangun, lalu sambil menuding kearahnya, dia mengumpat:

"Anak muda yang tak tahu urusan, kenapa kau memukul orang secara sembarangan? Apakah kau tidak takut dengan petugas negara?" Nenek itu semakin marah.

"Ngaco belo, inikan cuma permainan sandiwara. Dipukul pun bukan dipukul secara sungguhan, kenapa kau justru melukai orang lain? Benar-benar menjengkelkan"

sambil berkata dia segera menarik rambut sendiri hingga terlepaslah rambutnya yang berubah itu.

Ketika Kim Thi sia mengamati dengan seksama dia makin terperanjat lagi, teriaknya amat terkejut:

"Aaaaah, rupanya kau seorang pria?" " Enyah kau dari sini" umpat pria tersebut marah. "Sedikitlah tahu diri, kau harus mengerti, kami yang mencari sesuap nasi dengan mengadakan pertunjukkan ini bukan manusia yang bisa dipermainkan dengan semaunya."

Mimpipun Kim Thi sia tak pernah menyangka kalau dalam waktu singkat telah terjadi perubahan sebanyak ini, untuk sesaat dia menjadi tertegun dan tak mampu mengucapkan sepatah katapun-

Dengan cepat keempat orang lelaki yang berdandan centeng itu mengambil sepikul air dingin dan diguyurkan diatas kepala "sianak durhaka" tak lama kemudian si "anak durhaka" itupun siuman kembali dari pingsannya.

Begitu membuka matanya dan melihat Kim Thi sia masih berdiri tegak dihadapannya si "anak durhaka" itu segera menjerit kaget, lalu tanpa banyak bicara dia membalikkan badan dan melarikan diri terbirit-birit keadaannya mengenaskan sekali.

Waktu itu para penonton dibawah panggung tak ada yang melelehkan air mata lagi. semua orang dibuat tertawa terpingkal-pingkal oleh peristiwa aneh yang tak pernah diduga itu.

Lu Ci yang paling repot, cepat-cepat dia melompat naik keatas panggung dan menjura kepada para pemeran sandiwara sambil berkata:

"Maaf, maaf berhubung saudaraku ini berjiwa ksatria dan selalu ingin tampilkan diri bila melihat kejadian yang tak adil, maka diapun menjadi tak tahan setelah melihat permainan kalian yang begitu sungguh-sungguh atas kelancangan dari saudaraku ini, harap saudara sekalian sudi memaafkan-"

Gelak tertawa yang amat riuh dibawah panggung membuat paras muka Kim Thi sia berubah menjadi merah padam bagaikan kepiting rebus untuk berapa saat lamanya dia tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

sebagai seorang yang cukup pintar dengan cepat pemuda itu sadar bahwa ia telah salah mengartikan permainan sandiwara sebagai kejadian sungguhan tak heran para penonton dibuat tertawa terpingkal-pingkal.

Untung saja bujukan Lu Ci berhasil meredakan amarah para pemeran sandiwara itu akhirnya Lu Ci mengeluarkan sekeping uang perak dan diserahkan kepada pemimpin rombongan sandiwara sambil katanya:

"Anggaplah uang tak seberapa ini sebagai ongkos untuk merawat mereka yang terluka sedang sahabatku itupun susah untuk diminta mohon maaf untuk itu harap saudara sekalian sudi memaafkan."

Dengan susah payah kehebohan tersebut dapat diredakan. Meski pertunjukkan dilanjutkan kembali, namun Kim Thi sia tak punya muka untuk berdiam lebih lama disitu. Bersama Lu Ci dan siunta, tergopoh-gopoh mereka pergi meninggalkan tempat itu. Ditengah jalan, siunta berkaok- kaok marah:

"Lu Ci, kau bisa saja bersikap royal, sedikit-dikit lantas mengambil uangku yang kau gunakan seperti yang pribadimu saja. Hmmm, coba kalau jalan darahmu tidak tertotok, tak nanti kubiarkan kau berbuat semena-mena."

"Toako, uang adalah harta sampingan, sebagai orang persilatan, mengapa sih pikiranmu tak bisa terbuka?" ucap Lu Ci.

"Maknya, seandainya pikiranku bisa lebih terbuka, saat ini aku sudah mati kelaparan-" Lu Ci tahu bahwa usahanya untuk membujuk tak akan berhasil, diapun segera berpikir:

"Gunung mudah dirubah, namun watak susah diganti, kalau dia sudah begitu kokoh dengan pendiriannya yang memandang yang bagaikan nyawa sendiri Rasanya biar aku berbicara sampai lidahku membusukpun tak bakal dapat menggerakkan hatinya." sementara itu Kim Thi sia berjalan dengan kepala tertunduk dan langkah yang sangat berat, Lu Ci tahu rekannya dalam keadaan tak senang hati, diapun tidak mengajaknya berbicara.

Mendadak melintas lewat tiga orang lelaki kekar berbaju hitam, terdengar salah satu diantaranya sedang berkata:

"Hey, sudah dengar belum kalian malam ini kita akan bergerak."

Timbul rasa ingin tahu dihati Kim Thi sia setelah mendengar pembicaraan ini, dengan cepat ia membalikkan badan dan mengikuti dibelakang ketiga orang tersebut. Kedengaran salah seorang diantara mereka berbisik,

"sipenyanyi opera itu sangat bagus. Toako, sudah kuputuskan akan menyerahkan sipenyanyi opera itu untukmu."

"samte memang baik hati" Kata lelaki ditengah. "Terus terang saja, aku memang menaruh maksud kepadanya."

"Kalau begitu kita tetapkan begini saja, malam nanti kita bergerak."

Kim Thi sia kuatir jejaknya diketahui ketiga orang itu, selesai mendengar pembicaraan tersebut, dia segera membalikkan badan dan menyusul rombongan sendiri Kepada Lu Ci segera tanyanya:

"Tolong beri penjelasan kepadaku, manusia macam apakah sipenyanyi opera itu?" "Biasanya penyanyi opera itu adalah seorang perempuan panggung."

"oooh begitu" Kim Thi sia manggut- manggut. "Terima kasih buat keteranganmu itu."

Diam-diam dia telah mengambil keputusan, dalam menghadapi persoalan apapun dia tidak ingin memberitahukan kepada Lu Ci lagi, karena memang begitulah wataknya. Dia lebih senang menanggulangi sendiri masalah yang dihadapi daripada memohon bantuan orang lain.

Tanpa terasa sampailah mereka didepan sebuah rumah penginapan yang memakai merek "Peng bin".

Ketika Kim Thi sia mendongakkan kepalanya untuk memperhatikan cuaca mendadak dia saksikan ada sebuah kain panjang yang tergantung diatas atap rumah, diatas kain tadi terteralah beberapa huruf yang berbunyi:

"Nirmala nomor tujuh menantang sembilan pedang dari dunia persilatan untuk berduel." Membaca tulisan ini, pemuda Kim segera berpikir:

"Aduh celaka, dengan munculnya tulisan tersebut disini, berarti suhengku sekalian pasti menginap ditempat ini, jejakku tidak boleh sampai diketahui mereka."

Berpikir demikian cepat-cepat dia menarik Lu Ci dan siunta untuk diajak pergi, bisiknya:

"Mari kita pindah kerumah penginapan yang lain saja." Kemudian dengan gelisah dia berpikir: "seandainya musuh besar pembunuh suhu bukan saudara seperguruanku, sebagai adik

seperguruan mereka, sesungguhnya aku wajib menyumbangkan sedikit tenaga. Ilmu silat dari Nirmala nomor tujuh pasti jauh lebih hebat daripada Nirmala nomor sepuluh apa yang harus kulakukan sekarang?"

"Hey bocah muda, aku ingin menggunakan dua macam rahasia yang sangat penting untuk ditukar dengan kebebasan, bagaimana menurut pendapatmu ?"

setelah berhenti sejenak, kembali tambahnya:

"Bahkan rahasia tersebut berhubungan erat sekali dengan dirimu. Aku harap kau pertimbangkan masak-masak. sebab aku tak bermaksud memaksamu untuk menerimanya."

Mendengar ia berbicara dengan serius, dengan wajah tercengang Kim Thi sia menghentikan langkahnya lalu berseru: "Hey unta, apakah kau hendak bermain gila lagi?" Dengan tak senang hatijawab siunta: "Jangan kau anggap aku orang yang suka mengingkari janji. Padahal aaaai, lebih baik tak

usah kukatakan, toh aku tidak berniat memaksamu. "

Kemudian setelah berhenti sejenak. kembali dia melanjutkan-

"Sebelum membicarakan persoalan ini, aku perlu menyinggung sedikit tentang masalahnya.

Terus terang saja, kedua rahasia tersebut menyangkut soal perguruanmu."

Kim Thi sia segera merasakan hatinya berdebar keras sesudah mendengar perkataan itu, pikirnya:

"Dia menyebut kalau rahasia itu menyangkut rahasia perguruanku. Jangan-jangan dia maksudkan sebab kematian dari suhuku Malaikat pedang berbaju perlente."

Teringat kembali akan tujuannya berkelana dalam dunia persilatan, perasaan ingin tahunyapun meningkat sepuluh kali lipat tak tahan lagi dia bertanya:

"Apakah kau mengetahui sebab-sebab kematian guru? selain persoalan itu, dalam perguruan kami tidak terdapat rahasia lain. Hey unta, betulkan perkataanku ini?"

Ia seperti bertanya pada diri sendiri, juga seperti bertanya kepada orang lain-Pokoknya dia benar-benar ingin mengetahui rahasia tersbeut.

Melihat pemuda itu sudah tertarik. siuntapun berlagak makin merahasiakan masalahnya, ia berkata:

"Maaf, setelah perundingan antara kedua belah pihak selesai dibicarakan, aku tak akan menyinggung kembali masalah tersebut."

Kim Thi sia sangat gemas bercampur gelisah. Kalau bisa dia hendak menghajar ornag itu habis- habisan, katanya lagi:

"Hey unta, kau benar-benar maknya, aku toh bukan anak kecil. siapa yang tak tahu kalau kau bakal melarikan diri setelah kubebaskan dirimu nanti. "

sambil menepuk dada si Unta berkata: "Kujamin dengan harga diriku, seandainya. "

Ia berhenti sejenak dan tertawa dingin, tambahnya:

"Bila kau tak percaya kepadaku, carilah dengan sistim yang lain." "Dengan cara bagaimana? Coba kau terangkan"

"Kau toh bisa saja tidak membebaskan aku secara keseluruhan. cukup membebaskan saja jalan darahku. sewaktu kubicarakan soal rahasia tadi kalian berdua dapat mengawasi aku dari samping. seandainya aku hendak menipu kalian dengan tipu muslihat, kaupun bisa berusaha mencegahku dengan kekerasan, bukankah ilmu silat kalian berdua sangat hebat, apalagi selisih jarak kita demikian dekat, tak nanti aku bisa melepaskan diri dari tangan kalian berdua."

"Baik, kita penuhi permintaanmu itu" ucap Kim Thi sia kemudian.

Dia ingin cepat-cepat mengetahui kedua macam " rahasia" tersebut, maka sekalipun dia berpendapat bahwa cara tersebut tak masuk diakal, namun dia tak ambil perduli.

Ketika Lu ci diberi tanda, ia tak berani berayal dan segera membebaskan si Unta dari pengaruh totokan.

Begitu jalan darahnya bebas, si unta tetap lemas seperti sedia kala karena peredaran darahnya belum menjadi lancar kembali.

Lu Ci segera menyiapkan telapak tangannya diatas ubun-ubun orang tersebut. Asal siunta menipu mereka, diapun akan segera melancarkan serangan yang mematikan-Dengan suara keras siunta berseru:

"Rahasia pertama adalag tentang kematian sipedang bintang. Anggota termuda dari sembilan pedang dunia persilatan ditangan Dwei Nirmala." Kim Thi sia berseru tertahan, tapi sebentar kemudian ia telah berseru dengan penuh amarah: "Ngaco belo tak karuan, selama dua hari belakangan ini kau tak pernah meninggalkan sisi kami.

Dari mana kau bisa tahu?Jika kau melihatnya, kenapa aku sama sekali tidak melihatnya?"

siunta tidak langsung menanggapi pertanyaan itu, dia tertawa dingin kemudian ujarnya: "Kau masih teringat dengan peristiwa pada malam itu?"

"Yaa masih ingat, malam itu merupakan malam sial bagiku, tapi juga malam sial bagimu." "Kau masih ingat bagaimana ditendang orang sampai jatuh semaput?"

"Tentu saja masih ingat" sahut sang pemuda. Kemudian dia balik bertanya: "Tapi apa sangkut pautnya peristiwa itu dengan kematian sipedang bintang?"

"Kau tahu orang yang menendangmu waktu itu adalah Nirmala nomor tujuh disaat kau tak sadarkan diri, Nirmala nomor delapan dan Dewi Nirmalapun munculkan diri. Pedang bintang sudah menjadi tawanan Dewi Nirmala waktu itu. setelah semua keterangan berhasil diperoleh dari mulut pedang bintang Dewi Nirmalapun mengayunkan tangannya membunuh dirinya."

Kali ini mau tak mau Kim Thi sia harus percaya dengan keterangannya, dia segera menggigit bibirnya kencang-kencang. sepasang matanya memancarkan sinar tajam, sementara dihati kecilnya diam-diam ia bersumpah:

"Dewi Nirmala, kau iblis jahat. Aku bersumpah tak akan hidup berdampingan denganmu" siunta telah menatap pemuda tersebut lekat-lekat, dengan suara pelan dia berkata kemudian- "Dengarkan baik-baik, aku akan menyinggung persoalan kedua. "

Dengan nada setengah mengejek dia berkata:

"Hey kunyuk muda, katakan terus teran benarkah kau telah mempelajari ilmu Tay goan sinkang dari Malaikat pedang berbaju perleten?"

Kim Thi sia sangat terkejut setelah mendengar perkataan itu, diam-diam pikirnya: " Heran, aku tak pernah mengungkapkan tentang persoalan ini, darimana dia bisa

mengetahui?"

setelah berpikir sebentar, ia memutuskan untuk tidak mengakui, maka katanya kemudian-"soal ini kau tak perlu tahu, cepat katakan apa rahasia kedua?" setelah tertawa terkekeh-kekeh, siunta berkata:

"Hey kunyuk muda, posisimu sekarang berbahaya sekali. Sebelum menemui ajalnya sipedang bintang telah membocorkan segala sesuatunya kau tahu tujuan si Dewi Nirmala tak lain adalah ilmu Tay goan sinkang, sekarang dia telah mengutus orang untuk melacaki jejakmu dimana- mana."

"Dewi Nirmala ingin merampas ilmu Tay goan sinkangku?" tanya Kim Thi sia agak tertegun- "Aku mendengar kesemuanya itu dengan mata kepala sendiri Aku rasa berita ini tak bakal

salah."

Lalu setelah berhenti sejenak, lanjutnya:

"Dewi Nirmala benar-benar sangat hebat, entah dia berasal dari mana, tapi yang pasti dia mampu membunuh sipedang bintang dari jarak lima kaki. Hey kunyuk muda, aku lihat masa depanmu bakal suram."

"Aku tak bakal takut" kata Kim Thi sia sambil membusungkan dadanya. "Ada tentara yang datang kebendung, ada air bah yang menggulung kutahan, biar langit ambrukpun aku tak bakal takut, jangan lagi hanya seorang manusia." "Entah bagaimanapun juga, yang jelas kau bakal mati, karena itu aku tak berani melakukan perjalanan bersamamu, takutnya bila si Dewi Nirmala tak mau tahu urusan hingga akupun, turut dibantai. waaaah. bisa berabe jadinya."

Begitu perkataan tersebut diutarakan tiba-tiba saja Kim Thi sia teringat akan suatu persoalan, dengan cepat dia menempelkan telapak tangannya diatas dadanya, hawa murni dipersiapkan, asal kekuatan tersebut dipancarkan niscaya siunta bakal muntah darah dan mati.

"Hey kunyuk tua" segera bentaknya. " Kau pasti seorang mata-mata "

Memandang wajahnya yang diliputi hawa sesat, siunta menjadi bergidik karena ngeri tapi sekuat tenaga dia berusaha menunjukkan senyuman, katanya cepat: "Hey bocah muda, atas dasar apa kau menuduhku sebagai mata-mata?"

"Kau melukiskan si Dewi Nirmala sebagai seseorang yang sangat lihay, seakan-akan setiap orang yang menjumpainya pasti akan mati. Kenapa kau siunta yang telah menyadap rahasianya dan tetap saja masih hidup segar bugar? Ayoh katakan terus terang atas dasar apa kau tetap hidup didunia ini?"

"Hey, kalau dibicarakan sebetulnya amat memalukan, sebetulnya aku cuma menyadap pembicaraan mereka dari tempat persembunyianku." kata siunta sambil tertawa getir. Dengan gemas Kim Thi sia menarik kembali telapak tangannya, lalu berkata: " Kecuali itu, apakah kau masih berhasil mendapatkan rahasia lain?"

"seandainya masih ada, kaupun tidak berhak memaksaku untuk mengatakan kecuali kau bersedia membayar dengan sejumlah uang."

Berbicara tentang uang, tiba-tiba saja sepasang matanya bersinar tajam, seakan-akan anjing pemburu yang melihat korban. Ia melirik sekejap kesaku Lu Ci, tapi Lu Ci segera membentak:

"Hey unta disini sudah tak ada urusanmu lagi, cepat enyah dari hadapan kami."

Ternyata ia tidak membiarkan siunta "enyah" sendiri, dengan cepat bajunya dicengkeram lalu diangkat keatas, baru saja siunta menjerit karena kehilangan keseimbangan badannya, tahu-tahu tubuhnya sudah dibanting keatas tanah keras-keras.

sambil merangkak bangun dan menggertak gigi menahan sakit, siunta segera mencaci maki kalang kabut:

"Bajingan busuk. kalian berdua berhati-hatilah, suatu ketika toaya pasti akan datang kembali"

Dengan geram Kim Thi sia memburu maju kedepan, lalu sambil mengayunkan kepalannya dia membentak: "Apa kau bilang?"

siunta cepat-cepat membalikkan badan dan melarikan diri terbirit-birit. Dalam waktu singkat bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata. Kim Thi sia balas untuk menggubrisnya lagi, kepada Lu Ci segera tanyanya:

"saudara Lu, aku rasa situasinya sudah kau ketahui dengan jelas, siluman iblis yang bernama Dewi Nirmala telah mengurus orang untuk membekukku, bila kau merasa ancaman ini membahayakan keselamatan jiwamu, lebih baik berpisahlah dari sisiku. Bila kita bersua kembali dikemudian hari, kita masih tetap merupakan sahabat karib."

Ketika mengucapkan kata-kata tersebut, dalam hati kecilnya sudah timbul hasrat untuk beradu jiwa dengan Dewi Nirmala. Dengan nada tak senang hati Lu Ci segera berseru:

"Bila aku tahu saudara Kim bakal mengucapkan kata-kata begini, aku Lu Ci tak bakal bersahabat denganmu."

Meski kata-kata yang singkat namun amat mengharukan perasaan Kim Thi sia. Dia segera berpikir:

"Akhrnya aku berhasil juga menjalin seorang sahabat sejati." Malam semakin kelam, angin berhembus kencang menerbangkan pasir dan debu, sambil mengangkat tinggi-tinggi bajunya Kim Thi sia beangkat menuju rumah penginapan dengan langkah lebar.

Agaknya dia telah memutuskan untuk beradu jiwa dengan orang-orang Dewi Nirmala. Lu Ci membungkam diri dalam seribu bahasa, sementara dihati kecilnya dia berpikir:

"Sejak suhu pergi berkelana, hingga kini-jejaknya masih menjadi tanda tanya besar. Ada yang mengatakan dia telah tewas, ada yang mengatakan dia menjadi pendeta. Tapi bagaimanapun juga sepantasnya dia memberi kabar kepadaku."

sebaliknya Kim Thi sia juga sedang terbenam dalam pemikiran sendiri, pikirnya waktu itu: "seandainya orang yang berada dirumah penginapan itu sipedang perak. pedang tembaga dan

pedang besi, pertemuan saat itu tentu serba rikuh, sebaliknya andaikata mereka adalah pedang

kayu, pedang api, pedang tanah dan pedang air, terutama sipedang kayu, dia tentu akan marah kepadaku gara-gara urusan putri Kim huan- Waaaah. rasanya kepergianku kali ini hanya mencari

penyakit untuk diri sendiri. "

setelah termenung sejenak, akhirnya diapun bergumam:

"Lebih baik aku turun tangan secara diam-diam. Yaa. turun tangan secara diam-diam."