Lembah Nirmala Jilid 28

 Jilid 28

Kim Thi sia tidak banyak berbicara lagi, dia meletakkan uangnya keatas tanah dan menyingkir dari situ.

Bagaikan seekor harimau kelaparan orang itu segera menerkam kedepan dan langsung menyambar uang tersebut.

Mungkin pengalaman segera memberitahukan kepadanya bahwa uang tersebut masih jauh dari nilai yang sebenarnya, tiba-tiba dia membentak gusar dengan wajah berubah hebat.

"Telur busuk, yang kuminta adalah tiga puluh tahil perak. Kurang ajar, rupanya kau sengaja hendak mempermainkan aku?"

"Sesungguhnya aku sendiripun seorang miskin" kata Kim Thi sia pelan- "Uang yang adapun sebetulnya kusiapkan untuk bersantap nanti, tapi karena kulihat kau kelewat rudin sehingga hampir edan, timbul rasa iba dihatiku untuk memberikan uang tersebut kepadamu lebih dulu. Masa kau malah menuduh aku sedang mempermainkan dirimu?"

Mendengar ucapan ini, orang tersebut menjadi mencak-mencak karena gusarnya, dia membentak keras:

"Yang kuminta adalah tiga puluh tahil perak, setahilpun tak boleh kurang. Bila kau tak punya maka tubuhmu harus dijadikan sandera sampai kau lunas membayar sisanya. Ayoh berdiri saja disitu."

Habis berkata dia segera mendesak maju kedepan dan memeluk dengan sepasang tangan yang besar kuat.

Dengan cekatan Kim Thi sia berkelit kesamping, lalu katanya sambil tertawa terbahak-bahak: "Hey raja gunung, dengarkan baik-baik. Bila tenaga untuk melanjutkan hidup saja sudah tak

kau miliki, lebih baik pergilah bersamaku. Buat apa sih kau menjual harga diriku hanya disebabkan berapa tahil perak?"

Tiba-tiba lelaki yang tinggi besar itu mengurungkan gerakannya lalu bergumam seorang diri: "Rupanya sobatpun seorang jago silat, tak heran kau berani mempermainkan aku, baiklah

sudah cukup lama aku hidup menyendiri disini. Tanganku juga sudah mulai gatal, hari ini akan kucoba sampai dimanakah kemampuan yang kau miliki." Telapak tangannya segera diayunkan kedepan melepaskan sebuah pukulan dahsyat.

Kim Thi sia menyambut serangan tadi dengan kekerasan pula. Akibat bentrokan tersebut tubuhnya tergetar mundur satu langkah. Hal ini tentu saja sangat mengejutkan hati. "Tunggu dulu" dia berteriak kemudian. "Dari kepandaian silatmu yang cukup hebat, aku yakin kau mempunyai asal usul yang luar biasa. sungguh heran manusia semacam kau mengapa rela menjadi begal digunung?"

"Maknya, siapa bilang aku begal gunung?" teriak orang itu marah. "Bocah keparat, kau jangan salah menilai orang."

Berbicara sampai disini, dia baru sadar kalau telah salah berbicara, cepat-cepat ujarnya lagi: "Bocah keparat, kau tak usah banyak berbicara lagi, lebih baik kita selesaikan persoalan ini

dengan pertarungan."

Kim Thi sia bukan orang tolol mendengar perkataan itu dengan cepat dia berpikir sejenak.

Cepat- ceepat ia bisa menarik kesimpulan bahwa orang ini bukan begal sungguh, atau mungkln juga dia terpaksa berbuat begini karena mempunyai kesulitan yang tak bisa diungkapkan.

Berpikir demikian, dia sengaja melompat mundur sejauh satu kaki lebih dari posisi semula dan berteriak keras:

"Tenaga pukulan san tayong memang sangat hebat, aku sadar bukan tandinganmu, baiklah kita rundingkan lagi harga yang kau minta tadi."

"Tak bisa ditawar-tawar lagi, sekali membuka harga, aku tetap menuntut tiga puluh tahil perak. kokoknya bila kau tidak menyerahkan jumlah tersebut kepadaku sejak kini biar sampai diujung langitpun aku tak akan melepaskan dirimu dengan begitu saja."

Tergerak pikiran Kim Thi sia, kembali dia bertanya: "Benarkah sobat membutuhkan tiga puluh tahil perak?"

"Kau jangan mengira aku memandang tiga puluh tahil perak?"

"Kau jangan mengira aku memandang uang bagaikan nyawa sendiri, sesungguhnya..........

hmmmm. "

Mendadak ia tergagap dan tak mampu melanjutkan perkataannya lagi, tampaknya ada sesuatu yang sulit baginya untuk diutarakan keluar.

Kim Thi sia yang mengamati perubahannya semakin yakin kalau apa yang diduganya memang benar, maka dengan nada menyelidik dia berkata:

"Kulihat sobat adalah seorang yang berjiwa ksatria, jujur dan polos. Akupun tahu sobat bukan manusia yang kemaruk harta serta menganggap uang seperti nyawa sendiri, aku tahu pasti ada orang yang memaksamu untuk berbuat demikian atau mungkin disebabkan alasan lain sehingga memaksamu mau tak mau harus mengingkari suara hatimu sendiri membegal harta kekayaan orang lain."

Ketika mendengar perkataan tersebut, lelaki tinggi besar itu seperti tersengat lebah saja, ia melompat bangun dan berteriak keras:

"Maknya, serahkan uang itu, aku tak punya waktu untuk ribut terus denganmu." "siapa yang memaksamu berbuat demikian? Cepat katakan?" Nada suaranya kali ini

mengandung nada perintah.

Meski hanya sepatah kata yang singkat ternyata mendatangkan daya pengaruh yang besar.

Lelaki tinggi besar itu seketika dibuat tertegun lalu tanpa disadari jawabnya:

"Maknya, telur busuk itu bernama si Unta, mukanya tampang rudin, andaikata aku bukan kalah dalam taruhan, siapa yang kesudian melakukan perbuatan seperti ini."

Menyinggung soal "unta", semua rasa mangkel dan gusarnyapun turut diutarakan keluar, umpatnya:

"Maknya siunta keparat itu, tampaknya perbuatan macam apapun dapat dia lakukan padahal aku hanya kalah dalam taruhan, dia telah memaksaku menjadi begal untuk memeras uang orang lain, bahkan suruh aku bilang bahwa uang tadi dipakai untuk membiayai hidup saudara-saudaraku. Maknya, tak kusangka perbuatan terkutuk yang memalukan seperti inipun bisa dia pikirkan. Tahu begitu, aku tak sudi berkenalan dengannya, bukan saja hidup tersiksa, malah harus menyandang gelar sebagai begal."

Begitu mendengar nama orang itu adalah si "unta", Kim Thi sia segera tahu bahwa orang ini telah dibodohi olehnya, dia cukup memahami keadaan serta sifat siunta, terutama tampang kerenya yang menyebalkan itu. Dia tak menyangka kalau dirinya akan dijadikan korban lagi oleh ulahnya.

Baru saja dia hendak mengucapkan sesuatu, tampaknya lelaki tinggi besar itu telah sadar kembali, tahu kalau rahasia hatinya sudah terbongkar, dengan wajah berubah hebat bentaknya:

"Bagaimana, kenapa belum nampak uangnya diserahkan? Apakah kau hendak bermain gila lagi denganku?"

"sobat" kata Kim Thi sia dengan perasaan lebih tenang. "Akupun kenal dengan manusia yang bernama Unta itu. orang tersebut licik, berhati busuk dan berbahaya sekali. Aku yakin sobat telah dibodohi olehnya. Bila kau tak menampik aku bicara terus terang, lebih baik jangan kau gubris manusia rendah seperti itu. Kalau tidak kau akan mengalami lagi nasib yang sama, dan akhirnya kau akan konyol sendiri"

"Kau kenal dengannya?" tanya lelaki kekar itu tertegun-

Melihat Kim Thi sia mengangguk. ia segera tertawa terbahak-bahak sambil berkata lebih jauh: "Haaaah......haaaah......haaaah bagus sekali, aku yakin setiap orang yang pernah

berkenalan dengannya pasti pernah menderita kerugian pula ditangannya. Itu berarti kita senasib sependeritaan-"

orang ini benar-benar berjiwa terbuka dan periang, ketika selesai berkata dia telah menganggap pemuda itu sebagai sahabat sendiri, malah menepuk bahunya kuat-kuat.

Kim Thi sia pun segera berpendapat bahwa jalan pemikiran maupun watak orang ini persis seperti dirinya, tanpa sadar timbul pula kesan baiknya terhadap utang inu sambil tertawa terbahak-bahak diapun turut berkata:

"Haaaah......haaaah......haaaah perkataan loheng memang betul tak sedikit kerugian yang

pernah kualami dari tangannya." "Aku bernama Lu Ci, dan kau?" "Aku Kim Thi sia"

Tiba-tiba Lu Ci membelalakan matanya lebar-lebar teriaknya tanpa terasa:

"Kau adalah orang yang tersohor sebagai manusia yang paling susah dilayani. "

Tampaknya dia rikuh untuk melanjutkan kata-katanya sehingga terhenti ditengah jalan. Kim Thi sia sama sekali tidak tersinggung sahutnya sambil manggut- manggut:

"Yaa benar, setiap orang mengatakan aku adalah manusia yang paling susah dihadapi. Padahal dalam kenyataannya aku sangat pakai aturan. saudara Lu Ci, kita sama-sama adalah manusia kasar yang tidak mengurusi segala persoalan tetek bengek. bagaimana kalau kita jalin persahabatan yang akrab?"

Lu Ci menganggukkan kepalanya berulang kali, sahutnya sambil tertawa:

"Akupun mempunyai keinginan tersebut. Haaaah.......haaaah.......haaaaah. mulai hari ini

kita sudah terhitung bersahabat karib."

Dia seakan-akan merasa bangga sekali karena dapat menjalin persahabatan dengan manusia yang bernama Kim Thi sia, setelah meminta maaf berulang kali mendadak dia seperti teringat akan sesuatu. sambil bermuram durja, katanya kembali: "saudara Thi sia. Aku.......aku kau

punya tiga puluh tahil perak?" Lu Ci tidak menjawab secara langsung tapi menghela napas panjang. Kim Thi sia ingin mengetahui duduk persoalan yang sebenarya dengan nada bergurau dia segera berkata:

"saudara Lu, dari orang asing kita telah menjadi sahabat karib, apakah kau masih tetap menuntut tiga puluh tahil perak sebagai ongkos lewat? Waaaah. kau benar-benar kebangetan"

sebagai orang kasar, Lu Ci tidak terbiasa dengan gurauan seperti itu, dia mengira ucapan tersebut sungguhan, dengan wajah merah padam karena cemas dan gelisah, serunya berulang kali:

"Bukan begitu Bukan begitu saudara Thi sia jangan salah paham, sebenarnya aku telah kalah taruh dengan siunta sebesar tiga puluh tahil perak karena itu aku ingin meminjamnya dari loheng. Apakah loheng tidak merasa keberatan?"

"Waaah. maaf, sesungguhnya seluruh harta kekayaanku sudah berada ditanganmu sekarang.

Yang tersisa kini cuma kantung yang kosong. "

Paras muka Lu Ci semakin memerah, ternyata tiga tahil perak masih berada dalam genggamannya erat-erat. seandainya Kim Thi sia tidak mengingatkan hampir saja dia melupakannya.

Dengan wajah tersipu-sipu dia mengembalikan hancuran perak itu kepada Kim Thi sia.

Kim Thi sia sendiripun mengerti bahwa uang sejumlah itu tak mungkin bermanfaat apa-apa.

Dalam keadaan apa boleh buat diapun menerima kembali.

Ketika menyaksikan Lu Ci masih bermuram durja dan tak gembira, sambil tertawa dingin katanya segera:

"saudara Lu Ci, bukanku menuduhmu tak becus. sesungguhnya dalam menghadapi manusia rendah seperti siunta, lebih baik kita anggap setiap perkataannya sebagai kentut busuk, tak usah digubris lagi. Dengan berbuat demikian niscaya tiada kesulitan yang akan membebani pikiranmu. "

Dengan cepat Lu Ci menggelengkan kepalanya berulang kali, dia berkata:

"sepanjang hidup aku paling menepati janji. setiap perkataan yang sudah diutarakan keluar tak pernah kupungkiri kembali, aku tak bisa mengingkari janji."

" Untuk menepati janjipun kita wajib melihat dulu dengan siapa kita berbicara" seru Kim Thi sia dengan nada tak senang. "Kalau tyerhadap siunta si telur busuk itu. Hmmm, kenapa kita mesti pegang janji? Dia orangnya licik dan sering menggunakan akal muslihat untuk menjebak orang.

Bila kita mesti menepati janji terhadapnya, ibarat memetik harpa didepan kerbau saja." Kemudian setelah berhenti sejenak, dia menambahkan:

"Kau harus berpikir kembali, seandainya dia yang kalah, kujamin dia tentu akan angkat kaki mengambil langkah seribu, tapi manusia hebat macam dia tak pernah akan kalah, sebab dia tak akan melakukan perbuatan yang belum diyakini seratus persen keberhasilannya, justru kaulah yang suda ditipu habis-habisan."

"Aku ingin menyesali kejadian tersebut dan tidak menepati janji, namun liang simku berkata lain, aku merasa batinku amat tersiksa."

"Begini saja, kaupun tidak usah menjadi begal, serahkan saja siunta kepadaku, asal kau tidak menampilkan diri, urusan toh bakal beres."

Tergerak hati Lu Ci selesai mendengar perkataan itu, tergesa-gesa dia berkata:

"Caramu itu bagus sekali, hanya saja......hanya saja. apakah kau yakin bisa meloloskan diri

darinya?"

"Bila kau tak mau tahu keadaan, akan kutaklukkan dirinya dengan menggunakan kekerasan-" sejak mengetahui siapakah pemuda yang dihadapinya, kepercayaan Lu Ci terhadapnya semakin

bertambah besar. Dia percaya walaupu ilmu silat yang dimiliki siunta cukup hebat, tak mungkin ia mampu menandingi Kim Thi sia yang sudah termashur sebagai manusia yang paling susah dilayani itu. Maka diapun segera berkata:

"sekarang ia sedang tidur dibalik semak belukar sana, pergilah kesitu seorang diri. Aku akan menunggumu didepan sana."

Begitulah, dua orang kasar itu berbicara kesana kemari namun tak berhasil menemukan cara yang lebih baik lagi, maka keputusanpun diambil.

sesuai dengan petunjuk dari Lu ci tadi, Kim Thi sia segera berangkat kebalik semak belukar. sedangkan Lu Ci menuju keujung jalan sana dengan langkah lebar.

Waktu itu rembulan yang berbentuk sabit mulai menampakkan diri dari balik awan tebal. suasana yang semula gelappun lambat laun diterangi sedikit cahaya. Meminjam cahaya rembulan yang redup dengan lancar Kim Thi sia tiba ditempat yang dimaksud Lu Ci.

Ia cukup mengerti bahwa siunta adalah manusia licik yang sangat berbahaya, dia menganggap kecerdasan otaknya melebihi siapapun, maka sejak memasuki kawasannya, diapun meningkatkan kewaspadaannya untuk berjaga-jaga atas segala kemungkinan yang tidak diinginkan-

setelah berjalan berapa jauh dengan langkah berhati-hati, mendadak ia temukan seseorang sedang berbaring dibawah pohon dikejauhan sana. sinar yang redup sukar untuk dipakai melihat lebih jelas, tapi ia bisa melihat bahwa orang itu berperawakan kurus kecil dengan sepasang kaki yang pendek. Ciri khas dari siunta.

Ia berhenti lebih kurang lima kaki dibelakang siunta, karena dia kuatir musuhnya yang licik itu bakal bermain gila dengannya.

Akan tetapi siunta masih tetap tertidur amat nyenyak. dia seakan-akan tidak merasakan akan kehadiran orang lain.

sebagai seorang lelaki berjiwa ksatria, sudah barang tentu Kim Thi sia enggan melakukan bokongan disaat orang lain tak siap. dengan suara keras segera tegurnya: "Hey setan tua, sobatmu telah datang."

Unta tetap membungkam, seakan-akan tidak mendengar, ia tetap tidur dengan amat nyenyaknya.

Kim Thi sia mulai curiga, dia cukup mengerti bahwa siunta bukan manusia sederhana, tapi kenyataannya orang itu tidak menunjukkan reaksi apapun, atau mungkin hal ini disebabkan dia menganggap ditempat yang terpencil ini tidak bakal terjadi peristiwa yang tak diinginkan?

Dengan menyabarkan diri Kim Thi sia mencoba menegur lagi, kali ini dia menegur dengan suara lebih keras sehingga burung-burung diatas pohonpun berterbangan lantaran kaget, tapi siunta tetap tidur amat nyenyak.

Tak tahan lagi pemuda kita malu kedepan, baru empat langkah dia menghentikan kembali perjalanannya seraya berpikir:

"siunta licik dan banyak akal muslihatnya jangan-jangan dia sedang mengatur perangkap untuk menjebakku."

Dengan cepat dia mencari akal lain, tiba-tiba ia membungkukkan badan dan memungut sebutir batu, lalu disambitnya kearah depan. "Blaaakkk. "

Dengan cepat batu tersebut menimpuk diatas sesuatu yang lembek dan sama sekali tiada tenaga pantulannya.

Mendengar suara pantulan yang dihamilkan, paras muka Kim Thi sia segera berubah hebat, pikirnya:

"Aaaaah, ternyata dugaanku tak salah, bayangan manusia itu hanya tumpukkan rumput." Belum habis ingatan tersebut melintas lewat, tiba-tiba saja ia merasa jalan darah Gi siang hiatnya menjadi kesemutan, disusul kemudian terdengar seseorang menjengek sambil tertawa dingin.

"Hey bocah kunyuk. sudah lama kita tak bertemu, aku benar-benar merindukan dirimu."

Mimpipun Kim Thi sia tidak mengira kalau tindakannya yang sudah begitu berhati-hati akhirnya masih terperangkap juga oleh ulah siunta, ia merasa peristiwa ini merupakan suatu penghinaan baginya.

Dengan amarah yang berkobar-kobar segera bentaknya keras-keras:

"Maknya, tak kusangka kau situa bangka benar-benar lihay, akhirnya aku terpecundang kembali ditanganmu, tapi kau tak usah keburu senang hati. sanya masih mempunyai cara lain untuk menghadapi dirimu."

siunta tertawa dingin dan berkata lagi:

"Hey bocah kunyuk, seandaiknya aku tidak memandang pada hubungan kita dimasa lampau mungkin caramu untuk menghadapi diriku itu baru dapat kau laksanakan sesudah tiba diakhirat nanti. sudahlah, tak usah banyak berbicara lagi, aku ingin bertanya kepadamu, antara kita berdua sesungguhnya tak pernah terjalin perselisihan apa-apa mengapa kau justru selalu merusak dan mengacaukan transaksiku? Apakah kau bermaksud membalas dendam ataukah merasa iri dengan cara kerjaku ini. "

"Kau tak usah mengaco belo" teriak Kim Thi sia amat mendongkol. "Terus terang saja aku bilang, aku merasa tak terbiasa menyaksikan ulah serta tingkah lakumu itu."

"Hanya dikarenakan alasan ini?" si unta sama sekali tidak mendongkol, setelah tertawa aneh lanjutnya:

"Kau merasa tak terbiasa dengan ulah dan tingkah lakuku? Hmmm. lantas bagaimana pula

dengan sekian banyak manusia didunia ini yang tak senang dengan tingkah lakuku? Apakah merekapun berbuat yang sama denganmu, selalu memusuhi diriku?"

"Maknya" umpat Kim Thi sia gusar. "Hey tua bangka jelek. Sebetulnya aku yang datang mencarimu ataulah kau yang datang mencariku?"

"Hmmmm, Lu Ci sidungu itu betul-betul goblok dan bebal otaknya, dia selalu mencari urusan denganku. Kalau tidak diberi sedikit ganjaran hal ini mana boleh jadi? Apalagi apa sih salahnya kalau kau memberi sedikit ongkos jalan kepadanya? Bukankah sinona cantik itu banyak uang? Kau adalah gondaknya, sudah pasti kaupun tak akan miskin membagi sedikit uang kepadaku rasanya juga merupakan perbuatan amal, siapa tahu kau lebih pelit daripada seekor anjing."

"Tua bangka celaka, jika kau berani mengaco belo lagi, toaya akan segera beradujiwa denganmu."

Kemudian dengan amat gusar dia mengeluarkan tiga tahil perak tadi dari sakunya dan dibanting keatas tanah sambil berkata lebih jauh:

"Kau jangan menganggap aku terpesona oleh uangnya. Coba kau lihat, hanya inilah harta kekayaanku, bila kau menganggap uang melebihi nyawamu, ambillah. Tetapi jangan mencoba mencemooh diriku lagi dengan kata-kata yang tidak senonoh. Kalau tidak. jangan salahkan bila aku berbuat nekad."

Dengan sikap yang amat hambar siunta menarik kembali pandangan matanya dari atas uang tersebut, katanya:

"oooh, tak kusangka kau sibocah kunyuk masih punya semangat kelakian, maaf......maaf. "

sembari berkata dia segera melepaskan kaki sebelahnya dari sepatu, lalu menjepit uang perak tadi dengan kelima jari kakinya setelah itu baru dia ambil dan dimasukkan kedalam saku. "Hey tua keparat" Kim Thi sia segera berseru nyaring. "Sekarang aku sudah terjatuh ketanganmu, apa yang hendak kau perbuat cepat katakan, bila terlambat hingga saudara Lu datang kemari, kau pasti akan dikuliti olehnya "

si unta sebera mendengus dingin.

"Lu Ci tak akan tahan menghadapi seujung jariku, kau tak usah menggunakan namanya untuk mengertak orang"

Kemudian setelah meludah, dengan nada memeras dia berkata:

"Setiap orang tahu kalau belakangan ini Kim Thi sia sedang ketimpa nasib mujur, terutama setelah kusaksikan dengan mata kepala sendiri Kau tidak usah menyangkal lagi, aku tahu sigadis cantik itu begitu terpesona kepadamu sehingga rela berkorban bagimu. sekarang kau sudah terjatuh ketanganku, bila kau tidak menjumpainya lagi maka dia pasti sangat gelisah. Nah manfaatkan kesempatan yang sangat baik ini aku harus mengaduk untung sebesar-besarnya. Kau tahu aku sudah hidup miskin separuh hidupku, maka aku selalu berusaha untuk memperbaiki nasibku ini. "

Kemudian setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan:

"Aku rasa, apa yang menjadi maksud hatiku sudah cukup jelas bukan?" sambil menunjukkan kelima jari tangannya dia berkata lagi:

"Nah bocah kunyuk. kau tentu jelas bukan berapa angka ini? Ya, aku hanya membutuhkan lima ratus tahil perak."

"Tua bangka celaka, kau hendak memeras?" teriak Kim Thi sia teramat gusar. siunta segera tertawa terkekeh-kekeh.

"Haaaaah.......haaaaah.......haaaaah. saudaraku, kenapa sih menggunakan istilah yang

begitu tak sedap? Sesungguhnya aku cuma minta ongkos penebusan, kalau dulu ongkos pertolongan belum kau bayar aku masih bisa memaklumi, karena kejadian itu hanya kebetulan- Apalagi kaupun berhasil meloloskan diri sendiri dari bahaya, tapi kali ini kau mesti membayar ongkos penebusan. Hmmmm. mataku sudah kupentang lebar-lebar. Aku seperti melihat

kegelisahan dari sinona cantik yang tak melihat kekasihnya kembali kesamping tubuhnya. "

Tiba-tiba saja Kim Thi sia berhasil menenangkan kembali pikirannya, dia mendengus dingin. "Tua bangka busuk. Perhitunganmu kali ini kelewat bagus, tapi sayang aku sudah bentrokan

dengan gadis itu. Dia bahkan bersorak gembira jika mengetahui kesulitanku sekarang."

"Sungguh?" teriak siunta sambil membelalakkan matanya lebar-lebar. "Kau benar-benar sudah bentrok dengannya..... kau benar-benar sudah bentrok dengannya "

Kim Thi sia tertawa terbahak-bahak.

"Haaaah.....haaaah......haaaah siunta yang kalah bukan aku, melainkan kau sendiri."

"Tak mungkin" ucap si unta meyakinkan- "Bila sinona cantik itu menerima pemberitahuanku, kujamin dia pasti tak akan tenang dan tergesa-gesa akan datang kemari. Bila kau tak percaya mari kita bertaruh. Heeeeh....heeeeh bertaruh seratus tahil perak saja, jadi kalau dijumlahkan

semuanya, jadi enam ratus tahil heeeeh.....heeeeh. "

Kim Thi sia paling benci dengan sikap tamak dan mata duitan dari orang ini. Ucapan tersebut kontan saja menggusarkan hatinya, tanpa banyak berbicara dia memutar telapak tangannya dan melepaskan sebuah pukulan dahsyat kearah depan.

Reaksi dari siunta ternyata cukup cepat baru saja dia menggerakkan tubuhnya, jari tangannya yang mencengkeram diatas jalan darah telah ditambahi dtngan tenaga sebesar dua bagian.

seketika itu juga Kim Thi sia merasakan punggungnya kesemutan, segenap kekuatan tubuh nyapun punah tak berbekas. sambil tertawa terkekeh-kekeh siunta segera berkata: "Hey bocah keparat, sekarang kau sudahjutuh ketanganku, buat apa sih bersikap segarang itu?"

Dengan penuh kebencian Kim Thi sia berseru:

"seorang lelaki sejati dapat menyesuaikan keadaan. Hari ini anggap saja nasibku lagi sial hingga terjatuh ketanganmu, tapi lihat saja nanti bila suatu ketika kaupun terjatuh ketanganku.Jangan harap kau bisa melewati masa tersebut dengan gembira."

" Lebih baik persoalan seperti itu dibicarakan dikemudian hari saja" tukas siunta tak senang hati. "sekarang mari kita berbicara tentang masalah pokok. Kau harus tahu bahwa aku siunta bukan manusia yang sama sekali tak berperasaan, terutama sekali terhadap orang yang berjodoh denganku. Begitu saja kunyuk cilik. Transaksi yang terjadi kali ini merupakan untuk pertama kalinya. Akupun merasa rikuh untuk mengajukan permintaan kelewat tinggi. setelah melalui pemikiran dan pembahasan yang serius, aku pikir biarlah ongkos tebusanmu kukurangi seratus tahil perak lagi. Nah sobat karib, tentunya kabar ini merupakan kabar baik bukan?"

"Percuma kalau cuma minta uang tebusan kuanjurkan kepadamu, lebih baik jual saja diriku.

Coba kita lihat aku laku berapa tahil perak?"

"sahabat, kau memang sangat pintar" seru siunta tertawa. "Baiklah aku akan menurut kehendakmu itu dengan menawarkan dirimu kepada sinona cantik itu tolong tanya dia berada dimana sekarang?"

"Tua bangka celaka, kuperingatkan kepadamu agar tidak menjumpai dirinya, aku tak sudi bertemu dengannya lagi. Bila kau bermaksud memancingnya kemari karena uang, mulai sekarang jangan salahkan bila kupandang dirimu sebagai musuh besar."

"ooooh tentu saja, tentu saja" kata siunta sambil tertawa licik. "selama ini aku selalu berdagang atas dasar kesempatan kedua belah pihak. kalau toh kau enggan bersua dengannya, akan kuberitahukan kepadanya melalui surat, kau bisa menulis dalam surat itu agar menyiapkan seribu tahil perak untuk ongkos tebusan, bila urusan telah beres maka kita akan sama-sama tidak saling berhutang dan boleh pergi menurut kehendak masing-masing . "

Berbicara sampai disitu mendadak sepasang telinganya digerakkan berapa kali. Kemudian umpatnya:

"Sialan betul sikeparat Lu Ci, siang tak datang malam tak tiba, kenapa justru disaat toaya sedang membicarakan transaksi besar ini malah datang mengacau. Benar-benar menjengkelkan- Hey, kita sudahi dulu pembicaraan di sampai disini apakah kau masih punya usul lain?"

"Lepaskan tanganmu" teriak Kim Thi sia keras-keras dengan mata melotot serunya lagi. "Apakah kau senang melihat aku kehilangan muka dihadapan sahabat baruku?"

"Yaa, betul, betul, kalau pohon memerlukan kulit, manusia memerlukan muka. Itu memang lumrah, tapi sebelum pembayaran berlangsung aku tak bisa membebaskan dirimu. Kalau kau sampai kabur, waaah. bukankah akupun gagal mendapatkan uang tebusannya?"

"Telur busuk. kau anggap aku Kim Thi sia macam apa?" umpat pemuda itu sambil menyumpah- nyumpah .

Kemudian dengan amarah yang meluap-luap dia duduk diatas tanah dan berseru lagi sambil bertolak pinggang:

"Toaya justru bersikeras tak mau pergi, akan kulihat dengan cara apa kau bisa menggerakkan diriku." siunta sebera tertawa terbahak-bahak.

"Haaah....haaaah. sederhana sekali, dalam gusarnya aku bisa membuangmu diatas gunung,

biar ular dan binatang buas menerkam dirimu, melalap dagingmu dan menggerogoti tulangmu, tetapi yang sial adalah sinona cantik, harta lenyap orangpun hilang. Haaaah....haaaah "

setelah menunjukkan muka setan dia melanjutkan:

"Dan akhirnya, sinona cantik akan bersedih hati, membuat akupun turut beriba hati." Baru saja Kim Thi sia hendak mengumpat, tahu-tahu jalan darahnya sudah ditotok kembali, otomatis semua umpatannya tak mampu diutarakan keluar.

sementara itu siunta sudah mendehem pelan dan berkata kembali dengan suara lebih lembut: "Kita sudah berkenalan cukup lama, namun selama ini tak punya kesempatan untuk

berbincang-bincang denganmu, mumpung malam ini udara cerah dan angin berhembus sepoi- sepoi, apa salahnya kalau kita berbicara sampai sepuasnya?" Berbicara sampai disini dia berhenti sejenak. lalu sambil berpaling teriaknya: "Lu Ci betul bukan apa kuucapkan?"

Dengan wajah tersipu-sipu Lu Ci munculkan diri dari balik sebatang pohon, sahutnya agak tertegun:

"Aku aku tidak mendengar terlalu jelas apa yang kau bicarakan, maka aku tidak berani

memberikan pendapat apa-apa." siunta sebera tertawa dingin.

"Bocah dusun, ilmu membohongmu masih ketinggalan jauh, bukankah kau sudah sekian lama menyadap pembicaraan kami? masa duduknya persoalan masih belum kau ketahui?"

Lu Ci tidak menjawab pertanyaaannya itu, dengan wajah bersemu merah dia menghampiri Kim Thi sia, lalu ujarnya:

"saudara Thi sia, aku sudah lama menunggu dengan gelisah, aku kira kau sudah menjumpai sesuatu peristiwa, tak tahunya sedang berbincang-bincang disini."

Kim Thi sia tak mampu berbicara, terpaksa dia mengerdipkan matanya berulang kali sebagai kode rahasia.

Lu Ci adalah seorang lelaki kasar yang berpikiran sederhana, dia cuma merasa keheranan tanpa berhasil memahami maksudnya, bahkan tanyanya lebih jauh: "saudara Thi sia, mengapa kau tak berbicara? Apakah aku telah salah berbicara?"

"Lu ci" siunta segera menyela. "saudara Thi sia mu sedang terserang penyakit, biarkan ia beristirahat sebentar."

"Terserang penyakit?" Lu ci sangat terkejut. "Penyakit apa yang dideritanya? seriuskah keadaannya?"

"Tidak terlalu serius, hanya tak mampu berbicara lagi, kau jangan mengusiknya dulu. Biarkan dia beristirahat sebentar."

Lu Ci termenung berapa saat tanpa berbicara, sementara dihati kecilnya berpikir:

"Aaaah, ada yang tak beres. Kim Thi sia termashur sebagai manusia baja, bagaimana mungkin ia bisa terserang penyakit secara tiba-tiba? sudah pasti ada sebab musabab lainnya."

Melihat timbulnya kecurigaan diwajah Lu Ci, dengan cepat siunta dapat menebak isi hatinya, maka sambil tertawa dingin ia segera berkata:

"Lu Ci, aku ingin bertanya kepadamu. Bersediakah kau menemani saudara Thi sia?" "Apa maksudmu?" tanya Lu Ci tertegun-sambil maju selangkah kata siunta:

"Bila kau bersedia menemaninya, akupun dapat membuatmu terserang penyakit"

"Dia dapat membantuku terserang penyakit?" Lu Ci segera berpikir. "Kalau begitu penyakit yang diderita saudara Thi sia adalah penyakit hasil ulahnya."

Dengan cepat dia menyadari apa yang terjadi dengan wajah berubah hardiknya:

"Keparat unta, rupanya kau yang telah melukai saudara Thi sia. Hmmm, bila penyakit itu tak segera kau obati akan kubantai dirimu secara keji."

Tapi sayang, baru selesai perkataan tersebut diutarakan, jalan darah dipinggangnya sudah terasa kesemutan disusuk kemudian segenap kekuatan tubuhnya hilang lenyap tak berbekas.

Tak ampun lagi tubuhnya roboh terjengkang keatas tanah. Rasa sedih, malu dan benci yang mencekam perasaannya sekarang tak terlukiskan dengan kata-kata, hampir saja dia berteriak keras:

siunta segera menginjak dadanya kuat-kuat, kemudian serunya sambil tertawa lengking:

" Kalian berdua selalu mengatai diriku dengan ucapan tak sedap. sekarang kurasa kalian tentu lelah sekali, mumpung lagi tak enak badan, beristirahat dulu disini sepuasnya."

Dari depan sana dia mengangkat sebuah atu besar lalu sambil duduk diatasnya dia berkata lantang:

"Lu Ci, kau masih berhutang 30 tahil perak kepadaku. Bagaimanapun juga hutang tersebut mesti kau bayar, mumpung sekarang ada kesempatan untuk beristirahat, pikir cara membayar hutang itu. Pokoknya kalau sampai besok pagi nampak uangnya tersedia, akan kupatahkan bahumu. Hmmm. "

"Unta kunyuk" umpat Lu Ci didalam hati. "Sekarang kau boleh bergaya, tapi suatu ketika nanti.

Hmmm akan kusuruh kau saksikan kelihayanmu."

Mendadak dari atas ranting pohon kedengaran suara burung mencicir disusul terbang kearah laini

siunta segera mendongakkan kepalanya sambil memperhatikan sekejap, kemudian gumamnya: "Tanpa sebab burung malam bercicit, delapan puluh persen ada orang datang kemari."

Dengan gerakan selincah tikus ia segera membungkukkan badannya keatas tanah sambil merangkak maju kedepan, sepasang matanya celingukan kian kemari dengan tajam. sementara gerak geriknya sama sekali tidak menimbulkan sedikit suarapun. Melihat hal ini, Kim Thi sia segera berpikir:

" Cekatan benar manusia keparat ini, tak heran aku selalu menderita kerugian ditangannya."

Gerak geriknya saat itu selain lincahpun amat kocak. hampir saja Kim Thi sia dan Lu Ci tertawa terbahak-bahak saking gelinya.

selang berapa saat kemudian, siunta sudah melompat naik keatas pohon dan menyembunyikan diri dibalik dedaunan yang rimbun, bahkan berulang-ulang ia perdengarkan suara cicitan burung, bagi mereka yang tidak mengetahui, mimpipun mereka tidak akan menyangka kalau suara cicitan tersebut bukan suara burung asli.

Mendadak tampak sesosok bayangan manusia melintas lewat dengan kecepatan luar biasa dan sama sekali tak menimbulkan sedikit suarapun, jelas ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya telah mencapai puncak kesempurnaan.

Baru saja orang itu munculkan diri, terdengarlah suara bentakan keras bergema memecahkan keheningan.

"Nirmala nomor delapan, apakah Dewi Nirmala telah datang?"

Begitu teguran bergema, dari depan situ muncul kembali sesosok bayangan manusia. Bayangan tersebut berputar lincah ditengah udara kemudian melayang turun diatas tanah dengan manis sekali.

"Atas perintah Dewi Nirmala, arena harus dipersiapkan lebih dulu."

orang yang datang pertama tadi manggut-manggut, dia maju kedepan dan menendang jalan darah siau yau hiat ditubuh Kim Thi sia.

Pemuda Kim memejamkan matanya rapat-rapat, seketika ia terpental sejauh tiga kaki lebih dan terjatuh dibalik semak belukar.

sekujur badannya kontan terasa kaku, linu dan kesemutan. Kepalanya pusing tujuh keliling, hampir saja napasnya putus saking kesakitan. sementara itu orang tadi telah menendang pula jalan darah siau yau hiat dipinggang Lu Ci, tanpa menimbulkan sedikit suarapun Lu Ci terpental juga sejauh tiga kaki dan roboh tak sadarkan diri

sementara itu siunta sama sekali tak berani berkutik, dia adalah seorang yang pintar dan cekatan- Begitu menyadari bahwa orang tersebut memiliki tenaga dalam yang sempurna tak tahu kalau dirinya bukan tandingan, diapun segera memutar haluan dengan niat " melarikan diri".

Dengan sorot mata yang tajam bagaikan kilat Nirmala nomor delapan mengamati sekejap wajah Lu Ci, lalu serunya keheranan:

"Hey, mengapa orang itu tidak mengeluarkan sedikit suarapun? Mungkinkah dia telah menjadi sesosok mayat? Hey Nirmala nomor tujuh, apakah kau tidak turun tangan kelewat berat?"

"Tendanganku tadi kuserangkan diatas jalan darah siau yau hiatpun aku percaya biar dewa pun tak akan lolos dari kematian, apalagi kedua orang itu sudah tergeletak tak bergerak. aku yakin delapan puluh persen mereka adalah mayat."

Jalan darah siau yau hiat merupakan satu diantara tiga puluh enam buah jalan darah penting lainnya. Bila tersentuh pelan akan berakibat tertawa bila terlampau keras akan menyebabkan kematian, kedua orang itu tergeletak tak bergerak ditengah hutan ditengah malam buta begini jangan-jangan mereka adalah mayat yang dibuang orang. Aku rasa seranganmu tadi amat berat, sehingga tertawa pun tak sempat mereka sudah putus nyawa semua. "

"Yaa benar, akupun berpendapat demikian" Nirmala nomor tujuh manggut-manggut tanda membenarkan.

sementara itu Kim Thi sia yang tergeletak dibalik semak belukar segera berpikir dengan perasaan kacau.

"Aaaai kali ini aku bakal mati, sungguh menggemaskan perbuatan siunta yang telah menotok jalan darahku. Kalau tidak. aku pasti masih memiliki sisa tenaga untuk melakukan perlawanan."

Tiba-tiba Nirmala nomor tujuh melangkah maju kedepan menghampiri kembali Lu ci, kemudian dia membungkukkan badannya memeriksa dengan napas orang tersebut, setelah itu katanya sambil manggut-manggut:

"orang ini sudah putus napas, sekarang kecurigaanku sudah hilang. Nah Nirmala nomor delapan, kaupun tak usah kuatir rahasia ini sampai bocor keluar lagi."

"Hey, sungguh aneh" seru Nirmala nomor delapan tiba-tiba. "Rembulan sudah persis diatas awan, mengapa Dewi Nirmala belum juga menampakkan dirinya. ?"

"Menurut dugaanku, kemungkinan besar Dewi Nirmala telah menjumpai suatu kejadian yang diluar dugaan." Nirmala nomor delapan segera mendengus.

"HHmmm, omong kosong, siapa yang dapat meloloskan diri dari tangan kejinya?"

Walaupun dengusannya pelan, namun dapat didengar siunta dengan jelas sekali, sudah jelas orang itu memiliki tenaga dalam yang amat sempurna.

Diam-diam siunta merasa terkesiap. dia semakin tak ebrani bergerak lagi, malah napaspun cepat-cepat ditahan.

Angin dingin yang berhembus lewat serasa menusuk tulang, siunta merasakan wajahnya membeku karena kedinginan sementara hatinya berdebar keras dicekam kekuatiran, semenjak terjun kedalam dunia persilatan belum pernah dia merasakan ketegangan seperti ini.

Ia sadar bahwa tenaga dalam yang dimilikinya masih selisih jauh bila dibandingkan dengan kedua orang tersebut, seandainya jejaknya sampai ketahuan dapat dipastikan dia akan mengalami nasib yang tragis.

Menghadapi ancaman bahaya maut seperti ini, mau tak mau dia harus bertindak dengan lebih berhati-hati lagi. Dalam pada itu Nirmala nomor tujuh telah berkata:

" Nirmala nomor delapan, selama banyak tahun ini, apakah kau telah merasakan sesuatu?"

Nirmala nomor delapan menghela napas panjang, tiba-tiba dia merendahkan suaranya seraya berkata:

"Terus terang kubilang, seandainya dalam hati kecilnya tiada setitik harapan, aku benar-benar ingin melepaskan diri dari kesengsaraan dengan mengakhiri sisa hidupku. Aaai menjalankan

penghidupan yang sama sekali tak menarik serta tidak menggembirakan hati begini, aku merasa tubuhku seperti digerogoti secara pelan-pelan-"

sekalipun orang ini tak berani mengemukakan isi hatinya secara berterus terang, ditinjau dari napasnya, dapat ditangkap banyak kedukaan dan kepedihan yang mencekam perasaan hatinya.

"Yaa benar" terdengar nirmala nomor tujuhpun mengeluh. "Kaupun merasakan diriku seperti sudah dijual sebagai seorang budak. selain tak berpendirian, akupun tak bisa bergerak secara bebas serta mengambil keputusan menuruti kehendak hatiku sendiri"

Pelan-pelan Nirmala nomor delapan memejamkan matanya. Dua titik air mata nampak jatuh berlinang membasahi pipinya.

setelah termenung sejenak, tiba-tiba dia mengangkat kepalanya dan memandang sekejap sekeliling tempat itu kemudian ujarnya dengan suara dalam dan berat:

"sudahlah, lebih baik kita tak usah memikirkan persoalan semacam itu, sebentar lagi Dewi Nirmala bakal datang."

Menyaksikan sorot mayanya yang sangat tajam bagaikan sembilu itu, siunta yang bersembunyi dibalik dedaunan merasakan hatinya bergetar keras dan tubuhnya gemetaran suatu perasaan seram dan ngeri yang entah datang darimana tahu-tahu telah menyelimuti seluruh perasaan hatinya.

Ia dapat merasakan bahwa sepasang mata orang itu tajam seperti bintang, dingin melebihi saiju. seakan-akan dia sedang menghadapi seorang algejo yang siap menghabisi nyawa korbannya.

Tiba-tiba Nirmala nomor tujuh membungkukkan badan memberi hormat seraya berseru: "Menyambut kedatangan sincu"

siunta mencoba mengintip dari balik dedaunan yang rimbun, dibawah sinar rembulan ia saksikan sesosok bayangan hitam berkelebat lewat bagaikan kilat menyambar belum sempat dia mengerdipkan matanya tahu-tahu orang yang disebut sebagai "sin cu" itu sudah muncul ditengah arena.

selama hidup belum pernah dia menyaksikan ilmu meringankan tubuh selihay ini bahkan mendengarpun belum pernah, begitu terkesiapnya dia sampai lidahpun tidak bisa ditarik kembali.

sin cu tersebut berperawakan gemuk, walaupun demikian kegemukan badannya sama sekali tidak mempengaruhi kelincahan serta kegesitannya didalam menggerakkan badan.

siunta tak berani mengamati wajah orang itu dengan seksama dia hanya dapat merasakan bahwa orang itu mengenakan baju yang perlente dari bahan mahal, namun wajahnya dikerudungi dengan selembar kain.

Sinar mata orang itu jauh lebih tajam daripada rembulan, persis seperti dua butir batu permata yang membiarkan sinar tajam bila bergerak pelan.....

Betapapun rapatnya siunta menyembunyikan diri, ia selalu berpendapat bahwa tempat persembunyiannya itu seakan-akan telah diketahui lawan.

Pelan-pelan sudah terlihat bayangan manusia bergerak. ternyata sin cu yang semula dikira gemuk sesungguhnya bertubuh kurus. Dia nampak gemuk karena disampingnya berdiri pula seseorang yang lain baru sekarang siunta tahu bahwa orang yang munculkan diri barusan terdiri dari dua orang yang berdiri berjajar rapat.

sementara orang yang kedua telah melepaskan ilat kepalanya hingga berurailah rambutnya yang panjang, mimpipun siunta tak mengira kalau orang yang disebut Dewi Nirmala ternyata adalah seorang perempuan cantik. sementara itu Dewi Nirmala telah berkata sambil tertawa ringan-

"Gara-gara sesuatu persoalan aku telah datang agak terlambat, tentunya kalian berdua sudah menunggu cukup lama bukan?" Buru-buru Nirmala nomor tujuh menjura seraya menjawab:

"Karena ada urusan lain, tentu saja sin cu datang agak terlambat. Kami berdua tak berani menyalahkan-"

sekali lagi siunta dibuat tertegun, dia merasakan nada pembicaraan si Dewi Nirmala amat merdu bagaikan burung nuri yang berkicau. setiap patah katanya selalu menimbulkan daya pesona yang luar biasa bagi mereka yang mendengarkan. Diam-diam diapun berpikir. 

"Dengan suaranya yang begitu merdu merayu, wajahnya pasti cantik bak bidadari dari khayangan- Tak kusangka orang yang disebut Dewi Nirmala adalah perempuan yang begini menarik."

Menyusul kemudian dia berpikir lebih jauh:

"Siapa pula orang yang satunya? Aaaaai, sayang kegelapan mencekam seluruh permukaan tanah, sehingga sukar bagiku untuk melihat dengan lebih jelas."

Walaupun begitu namun dia bisa menebak secara pasti bahwa orang tersebut tentu bermusuhan dengan Dewi Nirmala. Kalau tidak, tak mungkin orang kedua itu dibanting keras- keras keatas tanah dengan penuh amarah.

Dewi Nirmala membenahi rambutnya yang kusut dengan tangannya yang putih lembut jari jemarinya yang panjang dan ramping dengan kuku yang terawat rapi, menunjukkan bahwa perempuan ini mempunyai daya tarik yang luar biasa. Diam-diam siunta menghela napas pikirnya:

"Siapa yang akan menyangka seorang perempuan cantik yang begitu menarik dan mempesonakan hati orang, sesungguhnya memiliki ilmu silat yang begitu hebat dan luar biasa."

Sementara itu Dewi Nirmala telah berkata:

"Selama dua hari terakhir ini orang-orang yang kukirim selalu terbunuh secara aneh, bukan saja tiada kabar beritanya. Bahkan jenasah merekapun dikubur orang secara rahasia. Peristiwa ini sangat menggusarkan hatiku sehingga tak segan-segan aku tinggalkan lembah untuk melakukan penyelidikan sendiri. Sekarang aku baru tahu, rupanya nirmala nomor sembilan, sepuluh dan sebelas telah dibunuh oleh sembilan pedang dari dunia persilatan."

"Siapa membunuh orang dia harus membayar dengan nyawa" ucap Nirmala nomor delapan cepat. "Aku yakin sin cu pasti sudah menemukan sesuatu cara untuk menghadapi sembilan pedang dari dunia persilatan?" Dewi Nirmala manggut-manggut.

"Yaa, aku sudah mulai melangkah dengan rencanaku itu."

setelah menuding kearah orang yang tergeletak diatas tanah itu, terusnya: "Dia adalah pedang bintang, satu diantara sembilan pedang dunia persilatan."

Kedua orang itu tidak berkomentar apa-apa mereka tetap membungkam diri dalam seribu bahasa. Tapi siunta yang menyadap pembicaraan tersebut menjadi sangat terperanjat, pikirnya tanpa terasa:

"HHmmm, kau belum tahu siapakah kesembilan pedang dari dunia persilatan itu. Berani amat kau menjalin tali permusuhan dengan mereka?" Terdengar Dewi Nirmala berkata lagi: "Hmmm, ternyata sembilan pedang dari dunia persilatan hanya begitu-begitu saja, buktinya sipedang bintang hanya mampu bertahan sepuluh gebrakan saja ditanganku."

Buktinya sipedang bintang sudah dipecundangi oleh perempuan tersebut, sekarang siunta baru kaget. Dia tak menganggap perempuan tersebut membual lagi. sementara itu Nirmala nomor tujuh telah berkata:

"Ilmu silat sin cu tiada tandingannya dikolng langit, sudah barang tentu sembilan pedang dari dunia persilatan bukan tandinganmu."

"Yaa benar" sambung Nirmala nomor delapan. "Apabila sembilan pedang dari dunia persilatan berani memusuhi sin cu, maka ibaratnya telur diadu dengan batu, tak mungkin mereka bisa meraih kemenangan."

Tampaknya Dewi Nirmala amat senang dipuji dan disanjung orang, ia segera tertawa cekikikan setelah mendengar perkataan itu, katanya kemudian:

"Coba kau bebaskan jalan darahnya aku akan mengajukan beberapa pertanyaan kepadanya."

Nirmala nomor delapan tak berani berayal dengan cepat dia membebaskan sipedang bintang dari totokan-

Berkilat sepasang mata sipedang bintang, tiba-tiba dia melompat bangun dari atas tanah dan melancarkan sebuah sapuan kilat kedepan.

Dengan gerakan tangannya yang lincah seperti ular Nirmala nomor tujuh menggulung serangan lawan secara manis, serunya singkat: "Tenanglah sedikit"

Tahu-tahu sipedang bintang mengeluh dan roboh terjungkal keatas tanah.

Beberapa gerakan itu dilakukan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat yang sepintas, sebelum siunta mengetahui pasti apa yang terjadi, tahu-tahu sipedang bintang sudah roboh terjungkal.

sekarang dia baru menyadari akan kelihayan Dewi Nirmala, pandangan terhadapnyapun berbeda, kewaspadaannya ditingkatkan berapa kali lipat. Pikirnya dihati:

"Anak buahnya saja sudah memiliki kepandaian silat selihay ini, apalagi dia sendiri? entah sampai dimanakah taraf kemampuan yang dimilikinya itu."

sipedang bintang yang jalan darahnya telah dibebaskan kini sudah mampu untuk berbicara, sejak ia terhajar oleh Nirmala nomor tujuh hingga separuh badannya kesemutan agaknya dia sadar kalau kepandaian silatnya tak mampu mengungguli lawan, terpaksa dengan kening berkerut karena marah serunya penuh kebencian:

"Baik, baik, anggap saja sembilan pedang dari dunia persilatan telah jatuh pencundang ditangan kalian, bila punya nyali ayolah bunuh diriku. Bila ingin dihina. hmmm, tak nanti harapan

kalian bisa terlaksana."

"Kau tak usah banyak ngebacot lagi" tukas Nirmala nomor tujuh dengan suara lantang. "Kau tidak berhak untuk mengumbar kegaranganmu ditempat ini." Habis berkata kembali tangannya diayunkan kedepan. "Plaaaakkkkk"

Bekas lima buah jari tangan yang tajam melekat diatas pipi sipedang bintang. Dengan penuh kegusaran sipedang bintang segera berseru:

"Hey sobat, sebetulnya kau tahu aturan dunia persilatan tidak? Beginikah caramu terhadap seorang musuh?"

"plaaaaakkk, plooookkkk"

Kembali Nirmala nomor tujuh menempeleng wajah orang itu keras-keras, lalu serunya: "suruh jangan banyak bicara, kau berani membangkang? HHmmm, kalau berani berbicara

sembarangan lagi, hati-hati dengan wajahmu." sipedang bintang tak berani berkutik lagi, ia tahu banyak bertingkah dalam keadaan begini sama artinya dengan mencari penyakit buat diri sendiri, maka setelah melotot sekejap kearahnya dengan penuh amarah, diapun membungkam diri dalam seribu bahasa. siunta yang menyaksikan semua peristiwa itupun mulai berpikir:

"Dilihat dari kegirangan Nirmala nomor tujuh tampaknya setiap musuh yang terjatuh ketangannya pasti akan mengalami nasib sial delapan keturunannya "

Berpikir sampai disitu, diapun mulai menguatirkan keselamatan diri sendiri.

selang berapa saat kemudian, ketika Dewi Nirmala menyaksikan pemuda itu sudah tenang kembali, dia baru bertanya pelan. "suhumu?"

Pedang bintang mendongakkan kepalanya dan memandang sekejap kearahnya, lalu menjawab singkat: "Tidak tahu."

"Apa tidak tahu" bentak Nirmala nomor tujuh keras-keras kembali dia menampar korbannya keras-keras.

Pedang bintang teramat gusar hingga matanya melorot besar teriaknya lantang: "Telur busuk, lebih baik bunuhlah aku"

siunta yang mengikuti peristiwa itupun segera berpikir:

"suhunya sipedang bintang adalah Malaikat pedang berbaju perlente yang amat tersohor namanya didalam dunia persilatan, mungkinkah dia mempunyai ikatan dendam dengan si Dewi Nirmala hingga sekarang dia hendak melampiaskan rasa gusarnya kepada murid-muridnya? Kalau memang begitu perbuatan Dewi Nirmala jelas tak benar "

sementara dia masih berpikir, Dewi Nirmala telah berkata lagi:

" Nirmala nomor tujuh, disini tak ada urusanmu lagi, harap kau tinggalkan tempat ini."

Mendengar perkataan tersebut Nirmala nomor tujuh mengiakan dengan hormat kemudian membalikkan badan dan beranjak pergi dari situ.

sepeninggal orang itu, Dewi Nirmala baru berkata kepada sipedang bintang sambil tersenyum manis.

"Tabiatnya memang kurang baik, harap kau sudi memaafkannya."

"sudah cukup sabar aku membiarkan dia bertingkah" kata sipedang bintang sambil mendengus. "Bila kalian menghinaku terus menerus. HHmmm, suatu hati, suheng te kami pasti akan membalaskan dendam bagiku." Dewi Nirmala sebera tertawa.

"setelah aku berani membekukmu kemari tentu saja kamipun tidak takut dengan segala ancaman, kau tak usah memikirkan suhu balas dendam lebih dulu, paling baik jawablah semua pertanyaanku"

Kemudian setelah berhenti sejenak, ia bertanya lagi: "sekarang Malaikat pedang berbaju perlente berada dimana?"

"sudah mati" sahut sipedang bintang sambil menundukkan kepalanya rendah-rendah. "Bagus sekali" Dewi Nirmala tersenyum. "Kau masih terhitung jujur, padahal akupun sudah

mendapat kabar tentang kematiannya, hanya belum berani memastikan-" Kemudian setelah

berhenti sejenak. kembali dia menambahkan-"Padahal manusia semacam dia memang pantas untuk mampus secepatnya."

sipedang bintang sebera berteriak dengan marah.

"Hey jika kau berani menghina dan mencemooh guruku yang telah meninggal lagi. Jangan salahkan bila aku akan mencaci maki dirimu." "Baiklah, terlepas dari persoalan tersebut aku ingin mengajukan sebuah pertanyaan lagi, setahuku, kepandaian silat yang paling diandalkan oleh Malaikat pedang berbaju perlente adalah Tay goan sinkang benarkah demikian?"

Mendengar nada pertanyaan perempuan itujauh lebih lembut dan lunak, sambil menahan hawa amarahnya pedang bintang menjawab:

"Benar" ilmu Tay goan sinkang tiada taranya dikolong langit, dia orang tua sering mengagumi kehebatan itu."

"Apakah Malaikat pedang berbaju perlente telah mewariskan ilmu Tay goan sinkang nyakepada murid-muridnya? Kau termasuk satu diantara sembilan pedang, apakah kaupun mewarisi kepandaian tersebut?"

"Tidak"

"Tidak " gumam Dewi Nirmala, tiba-tiba nada pembicaraannya berubah lebih keras lagi dan

mengandung nada amarah. "Kenapa tidak? Apakah kalian ini bukan anak muridnya?"

"soal ini darimana aku bisa tahu?" sahut sipedang bintang tidak puas. "Apa yang menjadi pemikirannya, darimana kami sebagai muridnya bisa memahami. "

"Tidak. diantara kalian pasti ada seseorang yang paling disukai, hanya saja persoalan ini tidak pernah diumumkan saja."

"Tebakanmu keliru besar, aku berani memastikan suhu tidak mewariskan ilmu Tay goan sinkangnya kepada siapapun"

"Kalau sampai ada?"

"Kalautoh kau tak mau mempercayai perkataanku, apa pula dayaku. ?" seru sipedang

bintang tak senang hati.

Mendadak timbul satu kecurigaan dihati kecilnya, dengan cepat dia balik bertanya:

"Aku benar-benar tak habis mengerti, pertanyaan yang kau ajukan selama ini selalu berkisar pada masalah ilmu Tay goan sinkang. sebenarnya apa maksud tujuanmu yang sebenarnya ?"

"Maaf kalau aku tak sanggup menjawab pertanyaan tersebut, sebab aku hanya ingin bertanya, tak ingin menjawab. sudahkan kaupahami maksud hatiku itu?"

"Kalau begitu jangan harap aku memberi jawaban lagi kepadamu" seru pedang bintang mendongkol.

"Kini keselamatan jiwamu sudah berada ditanganku" ucap Dewi Nirmala hambar. "Ketahuilah, siapa yang bisa menyesuaikan diri dengan keadaan, dialah seorang manusia pintar. Bila kau bersedia menjawab setiap pertanyaanku sejujurnya maka akan terbuka jalan kehidupan bagimu. Kalau tidak, hmmm, kaupasti bisa menduga bukan. Apa yang bakal dilakukan anak buahku terhadapmu."
Sepi Banget euyy. Ramaikan kolom komentar dong gan supaya admin tetap semangat upload cersil :). Semenjak tahun 2021 udah gak ada lagi pembaca yang ninggalin opininya di kolom komentar :(