Lembah Nirmala Jilid 27

 Jilid 27

Pedang perak tahu kalau Pek kut sinkun telah dibangkitkan amarahnya dan berniat turun tangan sendiri, meski dia sendiri tak takut menghadapi musuhnya itu, namun berhubung suhengnya hingga kini belum- juga munculkan diri, dia tak berani mengambil keputusan secara gegabah.

Perasaannya menjadi amat gelisah, bahkan mengumpat sipedang emas yang tidak menepati janji, menjelang pertarungan yang menentukan mati hidup ternyata dia belum- juga munculkan diri.

Mendadak terdengar putri Kim huan menjerit tertahan sambil melengos kearah lain, sewaktu pedang tembaga berpaling, dia saksikan seorang pemuda jelek berdandan aneh sedang mengerling dan main mata secara cabul kearah sinona.

Kejadian tersebut kontan saja membuat paras mukanya berubah hebat, segera pikirnya: "Bocah keparat, dengan mengandalkan nama besar sembilan pedang dari dunia persilatan, kau

simakhluk jelek pun berani memandang kekasihku dengan cara begitu. IHmmmm tampaknya ia sudah bosan hidup. " Berpikir demikian dia segera bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju kearah arena.

Mendadak sipedang perak melompat kemuka menghalangi jalan perginya, dengan suara dalam dia berseru:

"Sute, jangan bertindak gegabah, sebelum toa suheng datang. Kedudukannya biar kuwakili untuk sementara waktu."

sambil berkata dia segera beranjak menuju ketengah arena pertarungan.

Dengan wajahnya yang lembut dan sikapnya yang tenang, pemunculan sipedang perak segera memancing tepuk tangan yang meriah dari para penonton bahkan ada pula yang segera berteriak keras:

"Itu dia, sipedang emas telah tampil sendiri kearena, dialah sipedang emas. Cepat kita tengok "

Baru sekarang sipedang tembaga tahu kalau abang seperguruannya telah salah paham. Tapi untuk menyaksikan kemampuan suhengnya dalam pertarungan tersebut, terpaksa dia menahan hawa amarahnya dan duduk kembali ketempat semula.

sementara itu pemuda jelek tadi sudah tertawa terkekeh-kekeh mendadak ia menarik ujung baju sitosu tua tadi dan menunjuk kearah sipedang tembaga sambil membisikkan sesuatu, tosu tua itu segera tertawa tergelak. Wajahnya kelihatan bangga sekali.

Pedang tembaga yang mengikuti semua tingkah laku orang tersebut meski tak mendengar apa yang dikatakan sipemuda jelek kepada tosu tua tersebut, tapi ia bisa menebak kalau ucapannya tak akan lebih merupakan cemoohan. Kontan saja hawa amarahnya bergelora dan hampir saja mau meledak.

Dengan sorot mata yang tajam bagaikan sembilu, pemuda jelek itu mengawasi terus kearah sinona, baru saja putri Kimhuan berpaling, cepat-cepat pemuda itu menundukkan kepalanya kembali .Jelas dia merasa takut untuk melihat sorot mata sipemuda jelek yang berhawa sesat dan sangat mengerikan itu.

Tampaknya pemuda jelek itu berhasrat besar untuk mendekati gadis terseut, melihat sinona tidak menggubris, sambil tebaikan muka dia segera berjalan mendekat.

Putri Kim huan menjadi terperanjat sekali ketika tiba-tiba dihadapannya muncul wajah jelek dari pemuda tadi, begitu kagetnya dia sampai menjerit tertahan.

Dengan muka cengar cengir pemuda jelek itu langsung duduk dihadapan sinona, bukan cuma begitu, dia malah melongok-longok keatas dengan sikap yang kurang ajar.

Cepat-cepat putri Kim huan merapatkan gaunnya, seakan-akan kuatir kalau pemuda jelek itu mengintip pahanya.

Tingkah laku pemuda jelek itu memang kelewat batas, apalagi dihadapan orang banyak berani mengintip bagian yang rahasia dari seorang gadis. Pada hakekatnya perbuatan seperti ini merupakan perbuatan yang lebih rendah daripada binatang.

Paras muka sipedang tembaga berubah hebat, dia merasakan hawa panas yang menggelora didadanya mendidih, sambil membentak keras ia melompat turun dari barak dan sambil meloloskan pedangnya langsung membacok orang itu.

Pemuda jelek itu menjerit aneh sambil menhindarkan diri kesamping, dia hanya termangu- mangu tanpa berniat melancarkan serangan balasan.

Keadaan sipedang tembaga saat itu bagaikan orang yang kerasukan roh jahat. secara beruntun dia melepaskan tiga buah serangan berantai dan semuanya ditujukan kebagian mematikan ditubuh lawan. Dengan cekatan sekali pemuda jelek itu berputar kian kemari, dalam beberapa kali gerakan yang amat ringan dan sederhana. Tahu-tahu saja dia sudah meloloskan diri dari semua sergapan musuh.

selama ini dia hanya berdiri termangu- mangu saja, sedikitpun tidak bermaksud melancarkan serangan balasan.

Pedang tembaga semakin sewot, dia tak ambil eprduli siapakah dirinya dan bagaimana kedudukannya didalam dunia persilatan. Diapun tak perduli dengan cara apa pemuda jelek tersebut meloloskan diri dari sergapannya. Dia hanya tahu, setiap kali bertemu dengannya, timbul perasaan muak dan sebal yang tebal dihatinya.

sementara itu putri Kim huan telah berganti posisi duduknya, diapun merasa amat benci dan berniat mencaci maki kebrutalan pemuda tersebut. Setelah melihat pedang tembaga menyerangnya secara gencar, perasaan tersebut sedikit banyak baru merasa agak lega.

Berapa jurus serangannya yang gagal melukai musuh dengan cepat menyadarkan pula sipedang tembaga dari amarahnya, dengan cepat diapun berpikir:

"Berulang kali orang ini berhasil meloloskan diri dari serangan pedang ku, hal mana membuktikan kalau dia memiliki kemampuan yang luar biasa sekali. Aku harus berhati-hati menghadapi serangan balasannya."

Berpikir demikian, pikirannyapun menjadi lebih tenang, ia segera menegur dengan lantang: "Sobat, siapa kau dan datang dari mana? Mengapa kau begitu tak tahu malu? Hmmm, apakah

kau anggap ilmu silatmu sudah tiada tandingannya lagi didunia ini? Ayoh cepat kemukakan alasannya. Kalau tidak. hari ini aku sipedang tembaga akan membuatmu mampus ditengah genangan darah."

Pemuda jelek itu tertawa bodoh, tanpa mengucapkan sepatah katapun dia segera membalikkan badan dan beranjak pergi dari situ. Agaknya dia seperti malas untuk melayani pertanyaan itu.

Tak terlukiskan rasa gusar sipedang tembaga, sambil tertawa ringan ia mendesak maju kedepan. Lalu pedangnya langsung diayunkan kedepan menusuk punggung orang itu.

Pedang tembaga bukan manusia sembarangan, bila tertusuk oleh pedangnya maka besipun pasti berlubang, apalagi hanya tubuh yang terdiri dari darah dan daging.

Namun pemuda jelek itu seperti tidak merasakan datangnya sergapan itu, ia tetap melanjutkan perjalanannya dengan langkah lebar.

Pedang tembaga mendengus dingin, dia segera menghimpun tenaga dalamnya siap melancarkan serangan maut.

Mendadak.......

Disaat yang kritis itulah tiba-tiba dari sisi arena berhembus lewat segulung angin dingin yang tajam bagaikan pisau. Begitu hebatnya sergapan tersebut membuat pedang tembaga amat terperanjat.

Tak sempat lagi untuk melukai musuhnya cepat-cepat dia melejit kebelakang sejauh satu kaki lebih.

Ternyata orang yang melancarkan sergapan tersebut tak lain adalah tosu tua berambut putih. Pedang tembaga sadar bahwa musuhnya memiliki kepandaian silat yang sudah mencapai pada puncaknya dan jelas ia bukan tandingannya, untuk sesaat dia menjadi tertegun. 

tosu tua berambut kuning itu tertawa cengir lalu mengikuti dibelakang pemuda jelek tadi beranjak meninggalkan tempat tersebut. sampai lama sekali pedang tembaga berdiri tertegun, seingatnya tiada jagoan semacam ini dalam dunia persilatan. Akhirnya ia mendepak-depakkan kakinya dengan gemas dan kembali kedalam baraknya.

Dalam pada itu sipedang perak dan Pek kut sinkun yang berada dittngah arena telah saling memberi hormat dan mengambil posisi masing-masing. Dalam waktu sekejap suasana disekitar situ menjadi sepi sekali hingga tak kedengaran sedikit suarapun. Pedang perak telah meloloskan pedangnya sambil bersiap sedia melancarkan serangannya.

sementara ituPek kut sinkun telah melepaskan pula kain pengikat kepalanya sehingga membiarkan rambutnya yang panjang terurai dibahunya.

Iapun bersenjata sebilah pedang bercahaya hijau. Dilihat dari hiasan cahayanya yang menggidikkan, dapat diketahui bahwa senjata yang dipergunakan adalah sebilah pedang mestika.

Mendadak sepasang pedang saling berkelebat lewat lalu terlihatlah dua orang itu bergerak pelan mengitari arena. Hanya sekarang paras muka sipedang perak telah berubah menjadi amat berat dan serius sekali.

Mendadak......

Tampak sesosok bayangan manusia berkelebat lewat dengan kecepatan yang luar biasa, begitu cepatnya sehingga tak sempat melihat dengan jelas raut mukanya.

Tahu-tahu saja orang tersebut sudah muncul ditengah arena dengan tenangnya, hal ini membuktikan kalau orang tersebut memiliki ilmu meringankan tubuh yang amat sempurna.

orang ini berperawakan tinggi, jangkung, mukanya ditutupi dengan selembar kain berwarna hijau.

sejak kemunculannya ditengah arena, manusia berkerudung itupun tidak mengucapkan sepatah katapun, apa yang hendak diperbuat orang tersebut?

sementara itu sipedang perak sudah mengetahui siapa yang hadir, tiba-tiba ia memberi hormat seraya berkata:

"Toa suheng, mengapa hingga sekarang kau baru datang? Apakah telah terjadi sesuatu?"

Dengan cepat para hadirinpun menjadi sadar, ternyata manusia berkerudung ini adalah pemimpin dari sembilan pedang, sipedang emas.

Tapi mengapakah dia munculkan diri dengan menutup mukanya? Apa maksud tujuannya? sementara itu sipedang tembaga, pedang besi, pedang kayu, pedang air, pedang api, pedang

tanah, dan pedang bintang telah berhamburan dari barak untuk memberi hormat kepada toa

suhengnya.

Dengan cepat sipedang emas membalas hormat adik-adik seperguruannya, kemudian baru berkata kepada Pek kut sinkun:

"sinkun, bolehkah aku berbicara sebentar dengan adik seperguruanku. ?"

"Anda terlalu sungkan" sahut Pek kut sinkun cepat, ia segera bergeser dari posisinya semula. sesudah memberi hormat, sipedang emas berkata kepada pedang perak:

"Sekalipun sute tidak berkata apa-apa, namun akupun tahu dihati kecilmu pasti menyalahkan aku yang sudah datang terlambat. Padahal aku bisa tiba disini dengan selamatpun sudah merupakan suatu keberuntungan besar bagiku."

"Apa maksud perkataan itu?" buru- buru pedang perak bertanya.

Pedang emas memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, lalu katanya lagi dengan suara dalam: "sampai sekarang aku tetap masih keheranan, padahal antara aku dengan manusia aneh tersebut boleh dibilang tidak saling mengenal. Tapi dia justru selalu mencari gara-gara denganku bahkan mendesakku untuk bertarung dalam keadaan seperti ini, terpaksa aku harus bertarung sebanyak ratusan jurus dengannya sebelum berhasil menaklukkan dirinya. seingatku, tidak banyak jagoan selihay ini didalam dunia persilatan dewasa ini. semestinya dia terhitung manusia kenamaan tapi nyatanya aku tetap tak berhasil mengenali siapakah dirinya."

"Apakah dia telah menyebutkan namanya?" tanya pedang perak segera dengan hati berdebar. "Yaa, namanya aneh sekali. " sahut pedang emas dengan suara yang rendah.

Belum sempat perkataan itu selesai diucapkan, pedang perak telah berkata lebih duluan:

"Tahu, aku namanya menggunakan kata Nirlama bukan?" Pedang emas menjadi tertegun segera bertanya: "sute apakah kaupun berjumpa dengan "

Dengan perasaan berat pedang perak mengangguk sahutnya sambil menghela napas:

"Ya a, orang yang siaute jumpai adalah Nirmala nomor sepuluh dan Nirmala nomor sebelas bagaimana dengan suheng?"

" Nirmala nomor sembilan-"

Paras muka pedang perak berubah sangat hebat gumamnya:

"Toa suheng, semenjak menemui peristiwa aneh itu siaute selalu memutar otak untuk memecahkan masalah ini, kini setelah toa suheng jelaskan maka siautepun menjadi lebih paham, terbukti sudah bahwa apa yang siaute duga memang benar. Nirmala nomor sepuluh jelas merupakan orang kesepuluh, atau dengan perkataan lain masih ada orang yang bernomor satu sampai sembilan. Aaaai, semula siaute berharap nomor itu bukan nomor urut, sebab ilmu silat mereka kelewat hebat, tapi nyatanya apa ang kukuatirkan akhirnya terjelma juga. "

"Apakah sute mengetahui asal usul orang ini?" tanya pedang emas sambil maju selangkah. "siaute amat menyesal, percuma aku berkelana dalam dunia persilatan selama ini, siaute tak

mengetahui asal usul dari Nirmala nomor sepuluh "

"Tampaknya mereka merupakan sisa musuh besar semasa suhu masih hidup dulu. Tapi siaute tak perlu putus asa, musuh datang kita hadapi, air datang bendung. Asal kita sembilan bersaudara bersatu padu, aku yakin orang-orang dari dewi nirmala bisa kita hadapi."

Mencorong sinar tajam dari balik mata pedang perak setelah mendengar perkataan itu, katanya:

"Perkataan toa suheng memang benar, yang bernama dewi nirmala hanya satu orang, sedang nirmala sepuluh sekalian tak lebih hanya manusia-manusia yang diperalat olehnya. Dengan nama besar kita didalam dunia persilatan, apalagi yang mesti kita takuti?"

"oya, masih ada satu persoalan lagi hampir saja kulupakan. " dengan sorot mata yang tajam

pedang emas mengawasi adik seperguruannya lekat-lekat. "Aku dengar situa bangka Malaikat pedang berbaju perlente telah menyerahkan seluruh kepandaian silatnya kepada seseorang yang bernama "Kim Thi sia" menjelang saat ajalnya. Benarkah ada peristiwa semacam ini. ?"

Dengan perasaan berat pedang perak manggut- manggut.

"Ya a, memang ada kejadian seperti ini, Kim Thi sia dengan bakat anehnya telah mendapatkan warisan ilmu silatnya, bahlan kemampuannya kian hari kian menonjol. Namun kelemahannya masih banyak bila bertemu lagi lain waktu, aku yakin tidak sulit untuk membereskannya. "

"Bagus sekali, kalau begitu kuserahkan pelaksanaan tugas ini kepadamu "

Mendadak sipedang perak seperti teringat akan sesuatu, dengan dingin katanya:

"Toa suheng, masih ada satu persoalan lagi yang mungkin tidak kau ketahui, belakangan ini sam sute telah jatuh cinta kepada seorang gadis cantik, segala tingkah lakunya hampir boleh dibilang dikendalikan gadis tersebut, peristiwa ini menimbulkan perasaan tak puas bagi sute lainnya. Menurut pendapatmu apa yang harus kita lakukan?"

Tanpa terasa sipedang emas mendongakkan kepalanya menengok sekejap kearah pedang tembaga, lalu beralih kewajah putri Kim huan, setelah itu tanyanya pelan: "Kau maksudkan nona bergaun panjang itu. Dia berasal dari mana?"

"Berbicara soal indentitasnya, dia mempunyai asal usul yang luar biasa, dia adalah putri Kesayangan raja negeri Kim dan bernama putri Kim huan. Hal ini disebabkan rambutnya selalu digulung dengan gelang emas, justru karena dia berasal dari keluarga bangsawan. wajahnyapun amat cantik, pedang tembaga tergila-gila olehnya dan rela takluk dibawah gaunnya."

"sungguh memalukan" ucap gedang emas tak senang hati. "kalau orang ini memang sudah tergila-gila oleh perempuan, jangan serahkan tugas-tugas penting kepadanya. "

Jelas sudah, sipedang emas berniat menyingkirkan atau mengucilkan sipedang tembaga dari pergaulan mereka.

Pedang perak tertawa dingin, melihat toa suhengnya sudah naik darah, diapun tak banyak berbicara lagi. Pedang emas berkata kemudian:

"sekarang kau boleh kembali dulu kebarak biar aku yang membereskan Pek kut sinkun-" Habis berkata dia segera berjalan menuju kehadapan Pek kut sinkun dengan langkah lebar,

katanya kemudian sambil tertawa sungkan:

"sinkun, maaf kalau terpaksa harus menunggu agak lama. sekarang kita boleh mulai bertarung."

Melihat sipedang emas yang bernama besar tidak menggunakan senjata, Pek kut sinkun segera menyimpan kembali pedang mestikanya, sambil menjura ia berkata:

"Aku dengan anda mempunyai suatu pertarungan yakni tak akan menyerang lebih dulu benarkah begitu?"

"silahkan sinkun melancarkan serangan lebih dulu" ucap sipedang emas sambil tertawa. sewaktu berbicara hawa murninya telah dihimpun kedalam telapak tangannya.

Pek kut sinkun tidak sungkan-sungkan lagi ditengah pekikan nyaring telapak tangan kirinya segera diayunkan kedepan melancarkan sebuah pukulan dahsyat.

Dalam serangan tersebut sama sekali tak nampak deruan angin pukulan, tapi pedang emas yang berpengalaman cukup mengetahui akan kelihayan ancaman tersebut.

Tiba-tiba dia berpekik nyaring, menggunakan kesempatan tersebut hawa murninya segera dipancarkan keluar dari seluruh tubuhnya.

Melihat pihak lawan tanpa menggeser kaki sudah berubah arah, Pek kut sinkin segera mengetahui kalau musuhnya memiliki ilmu langkah silang yang sakti.

Maka sebelum serangan tangan kirinya itu selesai dilontarkan tiba-tiba dia menyapu kekanan, segulung tenaga pukulan yang dahsyat pun meluncur kedepan.

Pedang emaws sedikitpun tak gentar, tiba-tiba tubuhnya yang tinggi besar melejit ketengah udara dan berhenti berapa detik disitu. Disaat itulah dia telah menghimpun kembali kekuatannya.

Dalam waktu singkat dia telah beberapa kali menggerakkan kakinya untuk berubah posisi. sedemikian cepatnya tersebut dilakukan sehingga sukar untuk diikuti dengan mata telanjang.

Pek kut sinkun segera merasakan munculnya sebuah tangan yang lincah bagaikan seekor ular menembusi dan menerjang lingkaran angin serangan yang dipancarkan olehnya. Dia tahu inilah hasil dari ilmu langkah menyilang yang amat dahsyat itu.

Dalam keadaan begini dia tak sempat berganti jurus lagi sehingga mendengus keras-keras. Padahal waktu itu tangan sipedang emas sudah hampir menempel diujung bahu, tapi begitu Pek kut sinkun mendengus, tahu-tahu serangan tadi telah memental balik kebelakang bahkan bergetar mundur dua langkah kesisi kiri

siapapun tak akan menyangka kalau dibalik dengusan Pek kut sinkun sesungguhnya terkandung daya kekuatan yang luar biasa, bahkan boleh dibilang keberhasilan Pek kut sinkun mengangkat nama didalam dunia persilatanpun dikarenakan kehebatan tenaga khikang dengusannya itu.

Pedang emas terkesiap. baru sekarang dia tahu kalau musuhnya memiliki kepandaian mendengus yang luar biasa.

Dengan cepat Pek kut sinkun memanfaatkan kesempatan yang sangat baik ini untuk mendengus beberapa kali, seketika sipedang emas terdesak mundur terus berulang kali.

Delapan jago pedang dibarak sebelah barat mulai merasa tegang ketika melihat pedang emas terdesak hebat, serentak mereka bangkit berdiri dari tempat duduk masing-masing dan menguatirkan keselamatan toa suhengnya.

Pedang emas yang berulang kali didesak hingga mundur sejauh delapan langkahpun mulai naik darah dibuatnya, kali ini dia tak mundur lagi, tiba-tiba ia mendongakkan kepalanya dan berpekik nyaring, suaranya keras membumbung tinggi keangkasa.

Tampak dia bertekuk lutut membuat tubuhnya lebih pendek separuh bagian, tetapi serangan Pek Kut sinkun dengan ilmu mendengusnya bagaikan mercon yang meledak secara beruntun meluncur keluar tiada hentinya menghantam diatas dadanya hal ini membuat tubuhnya gontai kian kemari tiada hentinya.

Peluh sebesar kacang kedelai telah jatuh bercucuran membasahi jidat pedang emas akan tetapi sinar matanya justru kelihatan bertambah tajam menggidikkan hati.

Pek kut sinkun segera mendesak maju lebih kedepan, walaupun ilmu dengusannya berhasil mencabik-cabik pakaian yang dikenakan lawan, namun ia sendiripun merasakan akibatnya.

Bagaikan kerbau kesakitan, gerakannya semakin lamban dan berat.

Mendadak ia melejit ketengah udara setinggi tiga kaki lebih, tindakan tersebut tentu saja mencengangkan hati semua orang, mengapa Pek kut sinkun tidak memanfaatkan kesempatan itu untuk mendesak musuhnya habis-habisan? Mengapa dia justru melejit ketengah udara dan memberi kesempatan kepada musuhnya untuk mengatur napas.

Namun baru saja tubuhnya mencapai tengah udara, mendadak Pek kut sinkun seperti kehilangan seluruh kekuatan tubuhnya, bagaikan layang-layang yang putus tali tubuhnya terjatuh dari tengah udara dan roboh terguling diatas tanah.

Yang lebih aneh lagi, Pek kut sinkun yang semula nampak gagah perkasa dan lincah bagaikan naga, kini sudah tak sanggup untuk merangkak bangun kembali.

sipedang emas sama sekali tidak menggubrisnya lagi, dia mendongakkan kepalanya dan menarik napas panjang-panjang, kemudian duduk diatas tanah dengan letihnya, terhadap urusan disekelilingnya boleh dibilang dia tidak memperdulikan lagi.

Diantara semua yang hadir mungkin hanya kawanan jago berilmu tinggi yang mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya .Jelas Pek kut sinkun sudah menderita kekalahan karena menderita tenaga pantulan yang dihasilkannya sendiri, bahkan kemungkinan besar isi perut Pek kut sinkun telah menderita luka yang amat parah.

Dengan cepat tampak bayangan manusia berkelebat lewat, muncul seorang jago yang segera memeriksa napas Pek kut sinkun, disusul kemudian dari barak sebelah timur. Muncul lagi delapan orang jago pedang yang bersama-sama menyebarkan diri disekitar arena dan membentuk jaring manusia disitu, namun tak seorangpun diantara mereka yang berani mengusik sipedang emas.

Peristiwa ini dinilai sangat janggal oleh para penonton- Rata-rata mereka dibuat tercengang dan tak habis mengerti, ada pula yang berpikir dalam hatinya: "Mungkinkah menang kalah sudah diketahui hasilnya? Tapi siapa yang menang dan siapa yang kalah?"

Tak selang berapa saat kemudian Pek kut sinkun telah digotong kembali kebarak sebelah timur.

Kemudian seorang kakek berjenggot pendek munculkan diri dan berkata dengan suara dalam:

"Menang kalah antara Pek kut sinkun melawan sembilan pedang dari dunia persilatan telah ditetapkan. Aku harap bagi mereka yang tiada persoalan lagi disini untuk segera meninggalkan tempat serta kembali kerumah masing-masing."

Mendengar perkataan tersebut, para penontonpun beramai-ramai membubarkan diri dari situ. Ketika datang mereka muncul bagaikan air bah, waktu pergi merekapun menyusul lebih cepat dari air. Dalam waktu singkat semua orang telah meninggalkan tempat tersebut. 

Menanti para hadirin telah mengundurkan diri, kakek berjenggot pendek itu baru berkata lagi kepada sipedang perak:

"sinkun telah menemui ajalnya, hutang piutang pun kita akhiri sampai disini saja. Barang yang anda harapkan akan segera kuurus orang untuk mengambil, harap kalian menunggu sebentar."

Ketika selesai mengucapkan perkataan itu, air mata nampak jatuh bercucuran membasahi wajah kakek tersebut. Jelas terlihat ia amat sedih hanya saja rasa sedihnya tak sampai diutarakan keluar.

tak selang berapa saat kemudian muncul dua orang lelaki kekar yang membawa dua bungkusan. sebuah adalah pedang mestika sepanjang empat depa, sedang yang lain adalah sebuah kotak yang dibungkus dengan kain sutera......

sipedang perak tampilkan diri mewakili toa suhengnya untuk menerima hasil kemenangan mereka, saat itu juga dia periksa kedua benda tadi. setelah terbukti benda tersebut bukan barang palsu, dia baru berkata kepada sikakek sambil tertawa:

"Bagi pertarungan antara jago-jago lihay, menang kalah memang tak bisa ditentikan secara aman dan selamat. Nasib buruk yang menimpa Pek kut sinkun amat memedihkan hati kami semua. Kami hanya bisa berharap arwahnya beristirahat dengan tenang dialam baka. Lo enghiong, kaupun tak usah sedih, toh manusia tentu akan mati pada akhirnya biar sekarang tak mati, siapakah yang bisa lolos dari simaut?"

Kakek itu tidak berkata apa-apa, ia membalikkan badan dan pergi meninggalkan tempat tersebut, tak lama kemudian para jago yang berkumpul dibarak sebelah timur pun bubaran semua.

Kini ditengah arena yang luas hanya tinggal putri Kim huan serta sembilan pedang dari dunia persilatan-

sementara itu sipedang tembaga telah menarik putri Kim huan kesamping serta bisiknya lirih: "Aku rasa nona tentu menyukai pedang Leng gwat kiam tersebut bukan? sebentar akan

kumintakan benda tersebut dari toa suheng, pasti akan kuberikan pedang itu kepadamu."

Menyaksikan pedang leng gwat tersebut, tanpa terasa putri Kim huan teringat pula akan kesalahan pahamnya dengan Kim Thi sia. sebetulnya dia ingin menampik, tapi entah mengapa ketika ucapan hendak meluncur dari ujung bibirnya, satu ingatan aneh melintas didalam benaknya.

Ia segera manggut-manggut dan berkata:

"Kau benar-benar baik sekali kepadaku, bila ada kesempatan aku tentu akan berterima kasih kepadamu."

"ooooh, tidak usah. Nona tak usah sungkan-sungkan terhadap diriku" jawab sipedang tembaga cepat. sedang dihati kecilnya dia mengulangi kembali apa yang terdengar tadi, rasa hangat dan mesrah menyelimuti perasaanku, membuat dia berseri dan gembira sekali.

Dipihak lain, sipedang emas telah pulih kembali kesehatannya sesudah bersemedi sebentar, sambil bangkit berdiri dia berkata:

"Apakah mestikanya sudah diperoleh?"

"Yaa, semuanya berada disini" jawab pedang perak.

sambil berkata dia menyodorkan pedang Leng gwat kiam dan kotak sutera itu kehadapannya.

Tanpa sungkan-sungkan sipedang emas mengambil kotak tersebut dan dimasukkan kedalam saku, tapi pedang Leng gwat kiam tidak diambilnya, sambil tertawa ia berkata:

"Kesembilan pedang mestika kita sudah cukup termashur dalam dunia persilatan, aku rasa pedang tersebut tidak kita butuhkan lagi, bila diantara kalian ada yang tertarik dengan pedang Leng gwat kiam ini, ambillah saja. " Dengan cepat sipedang besi berseru:

"Pedang mestika ini cukup berguna bagiku. Toa suheng, bagaimana kalau dihadiahkan saja kepadaku?"

Belum sempat sipedang emas memberikan- jawabannya, sipedang tembaga telah menampilkan diri seraya berseru pula:

"siaute juga menginginkan pedang mestika itu. "

Dengan pandangan dingin sipedang emas melirik sekejap kearahnya lalu berkata:

"Ilmu silat yang dimiliki sam sute jauh lebih hebat daripada sute, aku rasa pedang leng gwat kiam lebih berguna bagi sute"

Putri Kim huan yang mendengar perkataan itu dengan cepat berpikir:

"Diberikan kepada siapapun sama saja, toh akhrirnya akan diberikan juga kepadaku."

Maka diapun mengerlingkan senyuman genit kepada sipedang besi membuat pemuda tadi kontan saja terpesona.

sementar itu pedang perak telah berkata pula:

"Perkataan toa suheng memang benar kalau begitu serahkan saja gedang leng gwat kiam ini untuk adik keempat."

Dengan wajah berseri-seri karena gembira sipedang besi segera menerima pedang tersebut tentu saja kejadian ini menggusarkan hati pedang tembaga. Diam-diam dia mencaci maki ketidak adilan toa suhengnya sehingga membuat dia kehilangan muka dihadapan gadis pujaan hatinya.

Perasaan murung, masgul dan tak senang hati yang mencekam perasaannya membuat dia segera melimpahkan semua rasa benci itu kepada sipedang besi pikirkan lagi.

"Hmmm, sekarang kau jangan keburu berkenang hati, suatu saat aku pasti akan memberi pelajaran yang setimpal kepadamu."

sipedang besi telah menggantungkan pedang Leng gwat kiam dipinggangnya tentu saja dia enggan menyerahkan pedang tersebut kepada putri Kim huan dihadapan orang banyak. Dia ingin mencari kesempatan yang baik dikemudian hari sekalian mencurahkan isi hatinya kepada gadis tersebut.

Pedang emas telah beranjak berapa langkah ketika mendadak berhenti lagi seraya berkata: "sekarang aku masih ada urusan penting yang harus diselesaikan. sementara ini aku hendak

mohon diri dulu kepada sute sekalian, harap kalian bisa menjaga diri baik-baik sepanjang jalan."

Sebelum berangkat, dia memanggil pedang tembaga untuk menghadap lalu dengan wajah serius berkata: "Aku dengar belakangan ini sam sute sedang tergila-gila oleh wanita cantik hingga menimbulkan hubungan yang kurang menggembirakan diantara sesama saudara seperguruan. Apakah benar demikian?"

Tidak menanti sipedang tembaga membentak kembali dia berkata lebih lanjut:

"Walaupun putri Kim huan memiliki kecantikan wajah yang melebihi bidadari dari khayangan sehingga siapapun akan terpesona bila melihatnya, tapi sam sute harus ingat puluhan tahun kemudian dia toh akan berubah menjadi seonggokan tulang belulang janganlah dikarenakan terburu oleh napsu sehingga melupakan pendidikan yang pernah diterimanya dimasa silam."

Pedang tembaga menundukkan kepalanya rendah-rendah, tanyanya agak tergagap: "Toa suheng mendengar kesemua ini dari siapa?"

"Kau tak usah tahu siapa yang mengatakan, aku hanya minta kepadamu untuk mengingat baik- baik semua perkataanku ini." setelah berhenti sejenak. kembali dia menambahkan:

"Kau harus membayangkan kembali asal usulmu, kau tak lebih hanya putra siraja laba-laba atau lebih tegasnya ayahmu tak lebih cuma pentolan perampok disuatu wilayah berbicara kedudukanmu sekarang maka kau tak bakal serasi untuk mendampingi gadis tersebut dalam perkawinan yang bahagia daripada hidup sengsara dikemudian hari mengapa kau tidak melepaskan diri dari kemelut cinta mulai sekarang juga. Apa salahnya bila kau

curahkan semua perhatianmu untuk menggalang sesuatu usaha besar?"

"Toa suheng tak usah salah paham, aku tidak menaruh harapan apa-apa terhadapnya." "Hmmm, tak nyana kau mampu berkata begitu" bentak sipedang emas. "Apakah kau

bermaksud mempermainkan orang lain?"

sipedang tembaga terbungkam dalam seribu bahasa, sampai lama kemudian dia baru berkata: "Toa suheng, kau jangan marah kepadaku lagi, aku akan teringat selalu dengan perkataanmu

itu."

selesai berkata dia segera membalikkan badan dan meninggalkan tempat tersebut tanpa memperdulikan sipedang emas lagi.

Pedang emas tahu kalau adik seperguruannya pergi dtngan perasaan mendongkol. Walaupun ia merasa tak senang hati akan tetapi tak ingin bentrok pula dengannya, maka setelah berhenti sejenak. sambil menahan rasa gusarnya, diapun beranjak pergi meninggalkan tempat tersebut.

sepeninggal pedang emas, pedang kayu, pedang air, pedang tanah dan pedang bintang sekalianpun berpamitan dan pergi untuk melakukan kesibukan masing-masing.

sedang rombongan semulapun kini berlalu pula dalam rombongan yang tak berbeda, seperti sipedang perak. pedang tembaga dan besi, mereka tetap bergabung dalam satu rombongan tanpa kurang satu kelebihan seorangpun......

sepanjang jalan sipedang perak menunjukkan sikap yang dingin dan hambar, dia tak mengucapkan sepatah katapun sehingga menimbulkan perasaan yang susah diraba oleh orang lain.

Pedang tembagapun dicekam oleh perasaan yang tak menentu, dia tak habis mengerti siapa yang telah membocorkan persoalan tersebut kepada toa suhengnya, perasaan tak senang membuat diapun segan banyak berbicara.

sipedang besi menganggap kesempatan baik telah tiba, ia segera mendekati putri Kim huan dan berbisik pelan:

"Apa yang pernah kujanjikan kepadamu selamanya tak pernah kuingkari kembali. Coba lihat, bukankah pedang leng gwat kiam telah kembali ketanganmu lagi?" Putri Kim huan segera tertawa merdu: "Dugaankupun tak keliru, aku tahu kau adalah seseorang yang amat menepati janji." Pedang besi kegirangan setengah mati, kembali dia berkata:

"Aku tahu suheng menaruh minat yang amat besar kepadamu. Karenanya sepanjang hari hatiku tak gembira, tahukah kau apa yang sebetulnya membuat hatiku risau dan murung?"

Putri Kim huan tidak menjawab, dia adalah gadis yang cerdik, sejak kecilpun sudah sering bergaul dengan putra-putra bangsawan. sudah barang tentu diapun memahami lain dari perkataan sipedang besi. Terdengar sipedang besi berkata lagi:

"Antara aku dengan Kim Thi sia sesungguhnya tak pernah terikat dendam sakit hati Tapi tahukah kau kenapa aku sering menganiaya serta mencemooh dirinya?"

"Aaaaai " putri Kim huan menghela napas panjang. "Aku tahu kau menaruh simpatik

terhadap musibah yang menimpa diriku, maka saban kali melihat ada orang hendak menganiaya diriku, kau jadi berang dan timbul keinginan untuk membelaiku."

Jawabannya amat diplomatis dan tepat sekali membuat sipedang merasa tak perlu untuk melanjutkan kata-katanya lagi.

Padahal sipedang besipun tahu bahwa sinona sengaja hendak memotong pembicaraannya, tapi dia tidak ambil perduli. Baginya asal nona itu tidak mengacuhkan dirinya hal ini sudah lebih dari cukup baginya.

Tiba-tiba sipedang tembaga mendengus dingin dan maju mendekat, katanya sambil mengulurkan tangannya.

"su sute, bolehkah kupinjam sebentar pedang leng gwat kiam tersebut ?"

Jawab sipedang besi sambil tertawa getir:

"siaute telah menghadiahkan pedang leng gwat kiam kepada nona, bila suheng ingin meminjam, pinjamlah langsung kepada nona."

secara manis sekali dia telah memutar balikkan persoalan untuk menghadapi abang seperguruannya, dengan tindakan tersebut boleh dibilang sekali tepuk mendapat dua hasil.

Bukan cuma pedang tersebut telah diberikan kepada putri Kim huan, diapun dapat menjatuhkan abang seperguruannya dihadapan gadis tersebut.

Mimpipun sipedang tembaga tidak menyangka kalau adik seperguruannyapun begitu licik dan cerdik, saking mendongkolnya ia mengumpat kalang kabut dihati kecilnya.

Mendadak ditengah jalan didepan situ muncul seseorang yang berdiri menghalangi jalan pergi mereka tatkala keempat orang itu mendongakkan kepalanya, mereka segera kenali orang tadi sebagai sipemuda jelek berdandan aneh yang tak mengenal rasa malu itu.

Melihat kemunculan orang tersebut, putri Kim huan merasa amat terkesiap bagaikan disengat ular berbisa, tubuhnya kontan gemetar keras, tanpa sadar dia mundur berapa langkah hingga berdiri berjajar disamping sipedang perak.

Mengendus bau harum yang tersiar keluar dari tubuh sinona pedang perak merasakan hatinya terangsang. Namun dia adalah seorang yang berperhitungan luas, perasaan tersebut sama sekali tak diperlihatkan diluar wajahnya....

"Kenapa nona ketakutan?" ia berbisik kemudian. "Apakah kau kenal dengan dirinya?"

Belum selesai perkataan itu diucapkan terdengar sipedang tembaga sudah membentak keras sambil menerjang kearah pemuda jelek itu.

sebaliknya paras muka putri Kim huan berubah menjadi merah padam bagaikan kepiting rebus, dia teringat kembali apa yang belum lama dialaminya dengan pemuda jelek tersebut.

Mendadak tampak sesosok bayangan manusia melayang turun dari atas pohon sambil melepaskan sebuah pukulan. Angin serangan yang menyambar dengan hebatnya seketika memaksa sipedang tembaga tergetar mundur satu langkah.

Begitu hebatnya kepandaian silat sipendata ng membuat pedang perak yang berilmu tinggipun dibuat terperanjat sekali, apalagi sipedang besi.

Ketika berhasil memukul mundur sipedang tembaga, orang itu menerjang pula sipedang perak.

Agaknya sipedang perak cukup mengetahui akan kelihayan musuhnya. Dia melepaskan sebuah pukulan dahsyat disusul kemudian pedangnya diloloskan dari sarung.

Pendatang tersebut hanya berhenti sejenak untuk menyambut serangan sipedang perak dengan keras melawan keras. Kemudian meneruskan terkamannya kearah putri Kim huan, beberapa gerakan ini dilakukan olehnya dalam waktu singkat dengan kecepatan yang mengerikan hati.

Pedang perak sadar kalau telah bertemu musuh tangguh, sejak permulaan pertarungan dia telah mengeluarkan ilmu pukulan Hud tim ciangnya untuk menghadapi serangan musuh.

Pendatang tersebut segera tergetar mundur satu langkah, dengan begitu maka wajahnyapun terlihat jelas, ternyata dia adalah sitosu tua berambut kuning itu Berhasil memukul mundur musuhnya dengan dahsyat, pedang perak segera membentak keras:

"Hey tosu tua, kau sungguh tak tahu adat, kenapa kau tidak mencari berita dulu siapakah diriku ini?"

Tosu tua berambut kuning itu tertawa lebar tanpa menjawab.

Pedang perak semakin gusar, tiba-tiba dia menerjang maju kemuka sambil melepaskan sebuah pukulan dahsyat.

Tosu tua berambut kuning itu menyambut datangnya serangan dengan keras melawan keras, tapi sesaat sebelum keempat tangan saling beradu, mendadak ia melejit ketengah udara dan berkelebat lewat melalui atas kepala pedang perak.

Dengan suatu gerakan yang cepat sekali tosu tua itu menyambar tubuh putri Kim huan kemudian kabur ke depan dengan kecepatan tinggi.

Tampak bayangan kuning berkelebat lewat, hanya didalam berapa kali kelebatan saja tubuhnya sudah lenyap dibalik pepohonan sana.

Sekujur badan putri Kim huan gemetar keras, dia hampir pingsan saking kaget dan paniknya, beberapa kali dia mencoba untuk meronta dengan sepenuh tenaga, akan tetapi dalam pelukan tosu tua berambut kuning itu, dia tak mampu berkutik barang sedikit pun

Menggunakan kesempatan disaat ketiga orang pemuda itu berdiri tertegun, dengan cepat pemuda jelek itu menyelinap pula kedalam hutan. Menanti ketiga orang itu berpaling bayangan tubuhnya telah lenyap pula daripandangan mata.

Melihat kekasih hati mereka diculik orang tanpa sempat menolongnya pedang tembaga danpedang besi menjadi gusar sekali. Mereka berpekik nyaring dengan penuh amarah. Pedang perakpun menghentakkan kakinya keatas tanah seraya berseru:

"Kegagalan kita untuk melindungi nona tersebut hakekatnya merupakan pecundang besar untuk kita bertiga. Bila nona tersebut tak bisa dikejar balik, kita bakal kehilangan muka dikemudian hari. Ayoh cepat kita bertiga melakukan pengejaran secara terpisah."

Karena keraguan itu, sitosu tua berambut kuning tadi sudah kabur jauh beberapa li dari posisi semula.

Disuatu tempat dia menurunkan putri Kim huan dari bopongannya lalu mengancam:

"Bocah perempuan, kau jangan mencoba melarikan diri, ketahuilah ilmu meringankan tubuhku ibarat burung yang terbang diangkasa kemanapun kau mencoba untuk melarikan diri aku akan tetap bisa membekukmu kembali dan waktu itu. Heeeeeh.....heeeeeh. tidak sedikit jago lihay didalam dunia persilatan yang berubah menjadi iblis ditanganku apalagi dia hanyalah seorang bocah perempuan seperti kau."

Putri Kim huan ketakutan setengah mati, tubuhnya gemetar keras, dengan kecantikan wajahnya dia nampak begitu mengenaskan sekali.

Tosu tua berambut kuning itu menjadi tak tega melihat gadis tersebut bercucuran air mata, cepat dia menghibur:

"Padahal kaupun tak usah takut, walaupun wajahku jelek dan tak sedap dipandang, namun orangnya ramah sekali. Asal kau tidak melakukan perbuatan yang bertentangan dengan perasaan hatiku, sudah barang tentu akupun tak akan mencelakaimu."

sementara itu pemuda jelek tadi salah muncul diri, bertemu dengan putri Kim huan dia tak berkata apa-apa, tapi seperti perbuatannya tadi, ia mengamati gadis tersebut dari atas hingga kebawah lalu tertawa terkekeh-kekeh dan menggigit ujung telunjuknya dengan bangga.

Putri Kim huan ngeri sekali bertemu dengan pemudaini, begitu ngerinya seperti bertemu degan ular berbisa saja, dia tak ingin bersua dengannya, tapi ia sudah terjatuh ketangan lawan sekarang. Mati hidunya sudah berada ditangan orang, karenanya mau tidak mau dia harus bersabarkan diri Kedengaran tosu tua berambut kuning itu berkata:

"Hey bocah muda, pengharapanmu sudah menjadi kenyataan sekarang, mulai sekarang aku tak akan melakukan perbuatan jahat begitu lagi. Kaupun tak usah merecoki diriku terus menerus, hati- hati kalau aku tidak senang hati, aku bisa menghajar pantatmu." Pemuda jelek itu tertawa terkekeh-kekeh.

"sekalipun suhu tidak berbicara, tecupun tak berani lagi mengajukan permintaan yang kelewat batas, asal dia berada disampingku maka segalanya telah terpenuhi. Akupun tuk ingin mencampuri persoalan macam apapun."

sambil berkata, kembali ia masukkan jari telunjuknya kedalam mulut, seakan-akan sedang menikmati paha ayam yang lezat.

"Benar-benar manusia tak becus" umpat tosu tua berambut kuning itu sambil tertawa. "setiap kali melihat tampangmu, hatiku terasa mendongkol sekali."

Dalam pada itu putri Kim huan berusaha keras untuk menghindari beradu pandangan dengan pemuda jelek itu sekarang hatinya terkejut, gelisah dan tak tentram. Tiba-tiba saja dia teringat akan Kim Thi sia, bahkan sangat berharap pemuda itu bisa muncul diri untuk menolongnya dari ancaman bahaya.

Mau tak mau dia harus berpendapat bahwa ilmu silat yang dimiliki Kim Thi sia adalah tertinggi diantara kakak adik seperguruan tersebut, sebab selama beberapa hari dia bersamanya, belum pernah ditemui mara bahaya seperti apa yang dialaminya hari ini. Tapi begitu berpisah dengan pemuda tersebut, ternyata ia terjerumus lagi dalam situasi yang begitu gawat.

sungguh menggelikan sipedang perak, pedang besi tembaga dan pedang besi yang dihari-hari biasa mengunggulkan diri sebagai tokoh paling top dalam dunia persilatan, kenyataan d isaat bencana menjelang tiba mereka tak mampu menanggulanginya dia telah diculik orang tanpa berhasil melakukan sesuatu.

Mendadak terdengar pemuda jelek itu memuji: "Ehmmm, harum, harum sekali baunya. "

Lalu sambil tertawa kepada sinona, ujarnya lebih jauh:

"Wajah cici amat cantik, selama hidup baru pertama kali kujumpai nona secantik ini. Itulah sebabnya sejak bersua denganmu, aku telah berharap bisa menjalin hubungan persahabatan denganmu. Aku rasa oya, aku lupa menanyakan nama cici. Benar-benar patut mati benar-benar

pantas mati. " Keadaannya saat ini takjauh berbeda dengan badut yang sedang membanyol diatas panggung, sayang putri Kim huan segan menggubris dirinya, bahkan bersikap acuh tak acuh seakan-akan tak pernah melihatnya .

Pemuda jelek itu benar-benar bermuka tebal, dia merecoki gadis tersebut tak henti-hentinya. Lama kelamaan putri Kim huan menjadi sangat mendongkol. Tiba-tiba dia berkerut kening sambil membentak: "Enyah kau dari sini, manusia yang memuakkan"

Pemuda jelek itu sama sekali tidak gusar, sambil tetap cengar cengir dia berkata:

"Mungkin nona menganggap wajahku terlalu jelek sehingga tak sudi menggubris aku. Padahal setelah bergaul cukup lama denganku, kaupasti akan tahu bahwa aku adalah seorang yang amat menarik."

"Hey bocah kunyuk. kau benar-benar tak tahu malu" umpat tosu tua berambut kuning itu. "Kalau toh orang lain enggan menggubrismu kau harus berusaha mencari akal untuk menggembirakan hatinya buat apa kau merecokinya terus dengan cara-cara yang menyebalkan-

....."

sambil garuk-garuk kepalanya yang tak gatal dan tertawa getir, pemuda jelek itu berkata: "suhu, tecu tidak mengetahui bagaimana caranya untuk menarik perhatiannya serta membuat

hatinya gembira."

"Hmmm, kalau dibilang kau bodoh, nyatanya memang goblok seperti baki dungu" seru tosu tua berambut kuning itu tak senang hati. "Masa perbuatan semacam inipun masih membutuhkan pengajaran dariku?"

Pemuda jelek itu berpikir sebentar, tiba-tiba dia bertepuk tangan sambil berteriak: "Yaa, yaa.......aku tahu sekarang, aku tahu sekarang "

Tergopoh-gopoh dia berjalan menuju kehadapan putri Kim huan, lalu bagaikan seekor monyet berjumpalitan kian kemari sehingga membuat pasir dan debu beterbangan kemana-mana.

Cepat-cepat putri Kim huan memejamkan matanya rapat-rapat, dia mendengar pemuda jelek itu masih berjumpalitan tiada hentinya sembari memperdengarkan suara mencicit yang aneh.

Menyaksikan adegan tersebut, tampaknya tosu tua berambut kuning itu menjadi mendongkol sekali, setelah menghentakkan kakinya berapa kali dia menyingkir dari situ.

Tak lama kemudian pemuda jelek itu sudah bermandi keringat busuk. ketika dilihatnya putri Kim huan belum- juga nampak gembira, ia menjadi amat gelisah dan buru-buru berjumpalitan kembali diatas tanah dan berjalan dengan sepasang kaki diatas.

Putri Kim huan sama sekali tak menyangka kalau didunia ini masih terdapat manusia sedungu itu, meski tidak sampai diutarakan keluar, diam-diam dia mengumpat pemuda tersebut sebagai "keledai dungu".

Sementara itu pemuda jelek tersebut sudah menengok sekejap kearahnya, ketika dilihatnya gadis itu tidak tergerak hatinya, dengan gelisah dia melompat bangun lalu berteriak keras-keras:

"Nona apa yang mesti kulakukan untuk membuatmu gembira? katakanlah yang jelas, jangan membuat aku bermain joget ketek secara percuma. "

Putri Kim huan tidak tahan, hampir saja dia menggampar wajahnya keras-keras, dengan gemas serunya:

"Aku akan gembira bila melihat kau sudah mampus" Pemuda jelek itu tertegun, lalu serunya cepat:

"Waaah, tidak bisa Jika aku mati, kau pasti akan menjadi bininya orang lain-"

Berubah hebat paras muka putri Kim huan baru saja dia hendak mengumpatnya dengan berapa patah kata, tiba-tiba saja satu ingatan melintas dalam benaknya, dia segera berpikir: "orang ini goblok sekali, mengapa aku tidak memperalat dirinya bagi kepentinganku?" Berpikir demikian, ia segera berkata dengan suara dingini

"Kalau begitu akan kuberitahukan kepadamu, didalam dunia persilatan terdapat seseorang yang paling kubenci, asal kau sanggup menangkapnya, aku pasti akan merasa amat gembira."

"sungguh?" tanya pemuda jelek itu gelisah. "siapakah namanya?"

"Dia she Kim bernama Kim Thi sia, aku ingin sekali menampar wajahnya berapa kali." Sementara berbicara, diam-diam dia berpikir.

"Seandainya dia bisa terpancing datang, berarti akupun punya harapan untuk meloloskan diri dari bahaya, kenapa aku tidak memberikan janji yang muluk-muluk kepadanya?"

Berpikir demikian, dia berlagak tersenyum manis dan berjanji:

"Asal kau bisa menangkap Kim Thi sia serta membawanya kehadapanku, akupun akan menjadi milikmu."

Pemuda jelek itu kegirangan setengah mati buru-buru teriaknya kepada sitosu tua berambut kuning itu.

"suhu, sudahkah kau mendengar? Asal aku dapat menangkap orang itu, dia bersedia pula kawin denganku."

Merah padam selembar wajah putri Kim huan, kepalanya ditundukkan rendah-rendah. sikap dan tingkah laku demikian spontan membuat pemuda jelek itu terpesona dan tergiur seperti terbang diatas awan saja.

Terdengar tosu tua berambut kuning itu mendengus dingin: "Hmmm, apa urusannya denganku?"

"Baik" kata pemuda jelek itu kemudian. "Kita tetapkan dengan perkataan tersebut, dan siapapun tak boleh menyesal."

Untuk sementara waktu baiklah kita tinggalkan dulu putri Kim huan yang dilarikan pemuda jelek.

Sementara itu Kim Thi sia yang pergi tanpa pamit dari rumah penginapan Liong pia pada malam itu telah berangkat menuju kebarat menurut petunjuk dari ranting pohon yang dilemparkan kearahnya.

suasana gelap gulita disepanjang jalan membuat Kim Thi sia yang semula dibekap gelora emosi menjadi agak mereda. Dia menengok sekejap kekiri kanan lain sambil mempercepat langkahnya dia melanjutkan perjalanannya menuju kedepan.

Angin malam yang berhembus lewat disisi telinganya menimbulkan suara gemerisik aneh.

Mendadak Kim Thi sia menghentikan langkahnya seraya bergumam:

"Kenapa aku harus berjalan dengan langkah cepat? Padahal saat ini aku tidak ada urusan penting, mungkinkah aku takut dengan setan ?"

Bergumam sampai disitu, dia segera tertawa geli, pikirnya lagi:

"Seandainya memang begini, nyata sekali kalau nyaliku memang rada kecil." Pelan-pelan dia berjalan menelusurijalan mendadak pikirnya lagi:

"Suheng sekalian tentu akan gusar sekali setelah membaca suratku, terutama putri Kim huan, sengaja aku menyebutnya siputri bangsawan dengan niat menyindirnya. Bisa jadi dia akan menangis sedih saking gusar dan mendongkolnya."

Tanpa terasa bayangan cantik sinonapun terlintas kembali didalam benaknya, dia merasa seakan-akan gadis itu sedang memandangnya dengan sorot mata penuh cinta. Rasa kuatir dan sedih yang tak terlukiskan dengan kata-kata. Tanpa terasa dia menghela napas sambil bergumam lagi:

"Aaaai, selama ini aku selalu sedang menipu diri sendiri. sudah jelas dia menaruh kasih sayang kepadaku bahkan berusaha untuk merahasiakannya. Kenapa aku hanya berani membayangkan dirinya disaat suasana sunyi atau menyendiri. ?"

Terbayang kembali pengalamannya selama ini, tanpa terasa dia manggut- manggut seraya bergumam:

"Yaa benar, dia adalah putri raja negeri Kim. Kedudukannya amat terhormat, maka manusia liar seperti akujadi merasa rendah diri. Tak berani membayangkan apa yang tak mungkin bisa diharapkan "

Perasaan rendah diri segera mencegah dia berpikir lebih jauh, dengan menundukkan kepalanya pelan-pelan dia melanjutkan kembali perjalanannya kedepan.

Mendadak dari jarak lima kaki dihadapan situ muncul sesosok bayangan manusia yang tinggi besar.

Kim Thi sia amat terperanjat, dengan suara rendah dan dalam ia segera menegur: "siapakah sobat yang berada didepan sana?"

Bayangan manusia yang tinggi besar itu berdiri tak bergerak ditengah jalan, keadaannya tak berbeda seperti sukma gentayangan saja, bila seseorang tidak memperhatikan secara serius, mungkin dia akan dianggap sebagai batang ranting kering.

Kim Thi sia tak senang hati, tapi keberaniannya makin meningkat, sambil maju lagi sejauh berapa langkah, dia membentak keras:

"sobat, harap menyinkir dari situ, semua orang boleh melalui jalan raya ini, atas dasar apa kau menghalangi jalan pergiku?"

Bayangan manusia itu masih tetap berdiri tak bergerak. dengan suara yang parau rendah dan berat ia tertawa dingin tiada hentinya, kemudian ujarnya:

"Gampang sekali untuk dapat melalui hambatanku, tapi kau mesti meninggalkan tiga puluh tahil perak sebagai ongkos lewat, kalau tidak. heeemmm......heeemmm. lebih baik memilih jalan

lain."

Kim Thi sia agak tertegun, serunya cepat:

"Apakah jalanan ini milikmu?"

"Benar" jawab orang yang tinggi besar itu sambil tertawa dingin. "Aku meminjam jalanan ini untuk membiayai hidup sejumlah saudara, jadi sudah sepantasnya kalau kupungut biaya bagi setiap orang yang melewati jalanan ini. Nah tak usah banyak bicara lagi, cepat serahkan ketiga puluh tahil perak itu kepadaku."

sambil berkata dia segera mengulurkan tangannya yang besar, kasar dan bertenaga itu keluar. sesudah mengetahui duduknya persoalan Kim Thi sia segera tertawa terbahak-bahak katanya: "Haaaah.....haaaah......haaaah bagus sekali. Sungguh beruntung aku orang she Kim bisa

bertemu dengan raja gunung macam kau."

Berhenti tertawa dia maju dua langkah kemuka, dan katanya lebih jauh dengan suara dalam: "Sesungguhnya jumlah yang sobat tuntut tidak terhitung banyak. tapi kebetulan sekali akupun

berasal dari aliran yang sama bagaimanapun juga aku toh tak bisa hitam maka hitam, apalagi kulihat kau adalah seorang lelaki rudin begitu juga dengan diriku kalau toh kita sama-sama mencari sesuap nasi dari sokongan orang banyak. daripada ribut sendiri apa salahnya kalau menjalin tali persahabatan saja." "Tidak bisa" tukas orang yang tinggi besar itu kaku. "Aku tak bisa melanggar peraturan sendiri lantaran perkataanmu itu. Apalagi kaupun tak usah beralasan yang macam-macam, bila aku mesti melepaskan sama seporsi, bukankah sepanjang tahun kami bakal kekurangan uang dan hidup kelaparan. sudah, tak usah banyak bicara lagi, pokoknya kau harus menyerahkan tiga puluh tahil perak dulu sebelum pergi dari sini?"

"Baik" dengan kening berkerut Kim Thi sia berkata. "kalau memang begitu, akupun tak usah bentrok denganmu gara-gara tiga puluh tahil perak ini dia uangnya ada disini ambillah sendiri"

sambil berkata diapun meroboh kedalam sakunya dan mengeluarkan uangnya yang tinggal tiga tahil itu, kemudian pelan-pelan berjalan kedepan-

"Berhenti" kembali orang itu membentak keras. " Letakkan uang itu keatas tanah lalu menyingkir jauh-jauh. Kalau tidak aku akan tetap melarangmu melewati-jalanan ini."
Terima Kasih buat para gan / ganwati yang telah meningglakan opininya di kolom komentar :). Sekarang ada penambahan fitur "Recent comment"yang berada dibawah kolom komentar, singkatnya agan2 dapat melihat komentar terbaru dari pembaca lain dari fitur tersebut. Semoga membantu :).