Lembah Nirmala Jilid 26

 Jilid 26

"Hey, rupanya sute juga berada didalam? Apakah tuan putri belum tidur?"

Karena gangguan ini, sipedang besi pun tak berminat meneruskan rayuannya, buru-buru dia membukakan tintu.

Tatkala sepasang matanya saling bertemu dengan sorot mata rase srpedang tembaga, tiba-tiba saja wajahnya berubah menjadi amat tak sedap dipandang......

Sipedang tembaga berlagak serius, dia menengok sekejap kearah dalam kamar, lalu sambil menariknya kesamping, sengaja ujarnya dengan wajah serius:

"Sute, saat ini tengah malam sudah menjelang, dan mengapa engkau masih berada didalam kamar seorang gadis? Ketahuilah, musuh kita masih terus mengawasi gerak gerik kita semua. Seandainya sampai terjadi kesalahan paham, kita sembilan pedang benar-benar akan kehilangan muka."

Dalam keadaan mengenaskan sipedang besi manggut- manggut, padahal rasa benci didalam hatinya sudah mencapai pada puncaknya namun diluaran apalagi dihadapan abang seperguruannya. Dia mau tak mau harus beriagak menerima saran tersebut dan cepat-cepat beranjak pergi dari situ.

Mengawasi bayangan punggungnya yang menjauh sipedang tembaga segera bergumam dengan suara dingin:

"Demi dia, aku tak segan bentrok dengan siapapun. Apalagi hanya kau, So Bun pin" Lalu sambil sengaja menutupkan pintu kamar putri Kim huan hiburnya dengan lembut:

"Rupanya suteku telah mengusik kenyenyakan tidurmu. Tindakan tersebut memang kurang sopan, harap kau jangan marah."

"Kau memang baik sekali, aku harus berterima kasih kepadamu" bisik putri Kim huan "oooh, tidak usah. "

Padahal dalam hati kecilnya merasa gembira sekali.

Hingga kembali kedalam kamarnya, dia masih teringat terus dengan perkataan putri Kim huan yang lembut dan sangat menawan hati itu.

Dalam pada itu, Kim This ia sedang memikirkan soal "Dewi Nirmala". Dia merasa orang tersebut tentu merupakan seorang jago yang berkuasa besar, karena semua anak buahnya terdiri dari

jago-jago persilatan tinggi.

sekalipun secara beruntung dia berhasil mengungguli Nirmala nomor sebelas, namun perasaannya justru amat menyesal dan sedih sekali. Mungkin juga Nirmala nomor sebelas hanya melaksanakan perintah dari "Dewi Nirmala" untuk memusuhi anak murid Malaikat pedang berbaju perlente. Padahal diantara mereka berdua. secara pribadi tidak mempunyai permusuhan ataupun persilatan ataupun perselisihan apapun.

sesaat sebelum menemui ajalnya, Nirmala nomor sebelas sama sekali tidak membenci dirinya. Dia hanya mengeluh sebagai korban dari keganasan Dewi Nirmala, tapi justru semakin begitu. Kim Thi sia merasa semakin menyiksa batinnya, karena bagaimanapun jua dia telah mencelakai jiwa seseorang yang sama sekali tak berdosa. semalam suntuk dia tak mampu pejamkan mata, benaknya dipenuhi oleh masalah Dewi Nirmala beserta asal usulnya, namun makin dipikir dia semakin kebingungan. Hatinya pun semakin masgul, akhirnya dia membuka jendela dan berdiri termangu-mangu disitu.

Malam yang tenang membuat pikirannya bertambah jernih, kalau disiang hari Kim Thi sia tak pernah mau memutar otaknya, maka sekarang dia mulai meragukan watak baik sipedang tembaga seandainya orang itu berjiwa kesatria mengapa tindakannya justru begitu licik dan rendah sehingga membokong orang secara begitu keji?

Bila ditinjau dari sini, maka besar kemungkinan kematian Malaikat pedang berbaju perlente adalah disebabkan terbokong oleh orang-orang tersebut, buktinya sipedang tembaga yang kelihatannya jujur dan berjiwa ksatria pun sanggup melakukan perbuatan yang tak terpuji, bisa dibayangkan bagaimana pula watak sipedang emas sekalian. Menilai orang jangan menilai dari wajahnya.

Tiba-tiba saja Kim This ia menyelami arti sebenarnya dari perkataan tersebut, tanpa terasa ia bergumam seorang diri:

"sipedang tembaga yang bernama besar pun mampu menurunkan derajat sendiri dengan menusukkan pedangnya dari punggung Nirmala nomor sepuluh hingga tembus kejantungnya, bisa jadi diapun tega membacok kutung tangan dan kaki suhu " Dia memukul pahanya sendiri keras-

keras sambil bergumam lebih jauh:

"Didalam waktu yang amat singkat, aku telah melupakan sama sekali dendam kesumat serta sakit hati suhu, bila keadaan ini dibiarkan berlarut terus, dapatkah arwah suhu beristirahat dengan tenang dialam baka?"

Darah panas segera menggelora didalam dadanya, diam-diam ia mengangkat sumpah: "Aku Kim Thi sia bisa memperoleh hasil seperti hari ini, tak lain kesemuanya ini merupakan

berkah dari suhu, bila aku sampai melupakan sama sekali sakit hati suhu dan tidak menuntutkan balas baginya, bukankah aku akan lebih rendah daripada binatang?" Kemudian ia berpikir lebih jauh:

" Lebih baik kutinggalkan suheng sekalian pada malam ini juga, mungkin dengan berbuat demikian maka duduk persoalan yang sebenarnya segera akan kuketahui, dan akupun menuntukan keadilan bagi kematian guruku. Aku rasa suhu tentu mempunyai teman, tak mungkin orang bisa hidup sebatang kara didunia ini, hanya saja memang sulit untuk menemukan orang yang bisa bergaul dengannya. Kenapa aku tidak mulai melakukan penyelidikan secara besar- besaran terhadap semua umat persilatan didunia ini?"

Dibawah sinar rembulan yang cerah, dan pikiran yang tenang pemuda tersebut segera mengambil keputusan dan berjalan menuju kekamar sendiri

Kemudian diapun membuat sebuah coretan diatas secarik kertas sebelum pergi dari situ. Diatas kertas tadi, ia menulis begini:

"Suheng sekalian, malam ini aku tidak dapat tidur dan duduk melamun didekat jendela. "

"Tiba-tiba teringat olehku akan pelbagai masalah yang menyakitkan hati, terutama soal kematian suhu yang membuatku amat kecewa."

"Dulu, aku tak lebih hanya seorang pemuda biasa, siapa yang akan mengenali namaku sebagai "Kim Thi sia"? Maka akupun berpendapat bahwa satu-satunya perbedaan antara "Kim Thi sia" yang dulu dengan "Kim Thi sia" yang sekarang adalah dengan munculnya malaikat pedang berbaju perlente."

"Tiba-tiba saja dalam pandangaku serasa terkenang kembali dengan wajahnya yang kusut, muka yang penuh penderitaan itu serasa terukir dalam-dalam disanubariku."

"Terus terang suheng sekalian, banyak sekali pesan dari suhu menjelang saat ajalnya yang hampir kulupakan. Malam ini, pikiranku menjadi terang dan perasaanku telah sadar kembali. Aku teringat kembali dengan pelbagai perbuatanku dimasa lalu, terkenang pula pesan terakhir dari suhu."

"Aku tak berani memastikan sebab kematian suhu disebabkan seperti apa yang suhu katakan, tapi aku akan berusaha untuk menyelidikinya hingga tuntas. Aku percaya suatu ketika duduknya persoalan akan menjadi jelas kembali."

"suheng, aku percaya kalian adalah manusia yang berjiwa besar, tentunya kalian tak akan menganggap tulisanku ini kelewat kurang ajar bukan?"

"Maafkan kepergianku yang tanpa pamit, sebab bila tidak begini, hatiku tak pernah akan menjadi tenang."

"soal dua bersaudara Nyoo, kuharap suheng sekalian sudi menjaga keselamatan mereka, menurut penilaianku pek kut sinkun bukanlah musuh besar pembunuhan orang tua mereka. Tentang sebab kematian Nyoo lo enghiong, aku pasti akan melakukan penyelidikan pula sampai tuntas. Harap suheng sekalian sudi menyampaikan pesan ini kepada mereka."

"sedang mengenai sinona bangsawan itu, aku percaya suheng sekalian lebih sanggup untuk melindunginya dan menemaninya pulang keistana. Aku tak ingin memberi persyaratan apa-apa. Tapi aku selalu berpendapat bahwa aku tak mungkin cocok dengannya."

"Aku tak lebih hanya manusia kasar yang tak tahu adat, dan selama ini yang akupun hanya ingin menyampaikan sepatah kata saja yaitu "Mohon maaf".

"sebagai akhir kata, aku tetap berharap ia bisa kembali kenegerinya dengan aman dan selamat."

"Soal pedang mestika Leng gwat Kiam, biarlah suheng menyimpankan untuk sementara waktu.

Bila ada kesempatan aku tentu akan berterima kasih kepada kalian." "Tertanda sutemu, Kim Thi sia."

sekalipun sepintas lalu isi surat itu kacau balau, tapi arti yang sebenarnya sudah cukup jelas. sebab bagi seseorang yang tak pernah mengecap pendidikan, tulisan semacam ini sudah cukup menyulitkan baginya.

Keesokan harinya, ketika semua orang menemukan kepergiannya yang tanpa pamit dan selesai membaca isi surat tersebut, paras muka masing-masing menunjukkan perubahan yang berbeda.

sipedang perak hanya tersenyum hambar tanpa memberi komentar apa-apa. Memang begitulah wataknya yang sebenarnya sekalipun ada persoalan besar yang terbentang didepan matapun, dia tak akan menunjukkan perasaan terkejut.

sipedang tembaga menunjukkan setengah girang setengah sedih, ia senang karena kepergian Kim Thi sia itu sama artinya dengan hilangnya duri dari kelopak matanya, tapi dia murung karena dengan kemajuan ilmu silat yang dicapainya, dia takut persoalan yang sebenarnya berhasil diketahui oleh pemuda tersebut......

sipedang besi so Bun pin menunjukkan sikap amat gusar. sesumbar dengan mengatakan akan mencarinya kembali dan dihukum karena berani menghina abang seperguruan sendiri

Dua bersaudara Nyoo sangat sedih, mereka cukup memahami watak "adik angkat" nya yang bodoh tapi berkeras hati itu. Apa yang dipikirkan sanggup pula dilakukan, mereka tak tahu sampai kapan mereka dapat berjumpa kembali.

Putri Kim huan yang paling tak tenang hati, karena kata-kata dalam surat tersebut jelas mengandung sindiran kepadanya. sepanjang hari dia menutup diri didalam kamar dengan wajah murung.

Begitulah, semua orang terbuai dalam pikiran masing-masing, kecuali sipedang besi so Bun pin yang menunjukkan kegusaran, lainnya sama sekali tidak memberikan komentar apa-apa.

Tiba-tiba sipedang perak keluar dari pintu kamar sambil berkata: "Aku rasa persoalan ini tiada masalah yang perlu dibicarakan. Kim sute masih muda dan tak tahu urusan, tabiatnya aneh. Kita wajib memaafkan perbuatannya itu." Kemudian setelah berhenti sejenak. lanjutnya lebih jauh:

"Hari ini merupakan saat pertarungan kita dengan Pek kut sinkun, bisa jadi toa suheng telah membuat persiapan yang matang, ayoh kita segera berangkat untuk bergantung dengannya." Nyoo Jin hui menyela:

"Adik Thi sia masih muda dan tak tahu urusan, kini dia telah pergo tanpa pamit, meski ilmu silatnya cukup untuk melindungi keselamatan jiwanya namun aku tetap merasa kuatir, karena itu maaf bila kami ingin mohon diri untuk segera berangkat melacaki jejaknya."

"Memang paling baik bila saudara Nyoo mempunyai ingatan begini" sahut pedang perak hambar. "kalau begitu kamipun menyerahkan keselamatan suteku itu kepadamu."

"selamat tinggal" kata dua bersaudara Nyoo kemudian. selesai menjura, merekapun beranjak eprgi meninggalkan tempat itu.

sepeninggal dua bersaudara Nyoo, sipedang tembaga segera berpaling kearah putri Kim huan dan berkata:

"Nona, kau sedang berada dinegeri orang tanpa sanak tanpa keluarga. Aku rasa biar kamilah yang akan bertanggung jawab atas segala keselamatan jiwamu. Terimalah tawaran kami yang tulus ini."

sebelum putri Kim huan sempat menjawab, sipedang perak telah berkata lebih dulu:

"Nona tak perlu menampik lagi, perkataan prdang tembaga sute memang benar, dengan tulus hati kami bersedia mengiringi kepergianmu, apalagi jika nona tak ada urusan lain, mari kita melakukan perjalanan bersama-sama."

Putri Kim huan sadar, posisinya memang terjepit sehingga dia tak banyak berbicara lagi dengan mulut membungkam mengikuti dibela kang pedang perak sekalian bertiga meninggalkan rumah penginapan^.

sipedang tembaga kuatir si nona tak sanggup melakukan perjalanan jauh, dia sengaja menyewa sebuah tandu kecil dikota dan mendampinginya sepanjang jalan.

Resminya dia melindungi keselamatan gadis tersebut, padahal yang benar adalah mencari kesempatan untuk merayu dan menarik perhatian gadis cantik itu.

Katanya dengan lembut:

"Kim Thi sia adalah seorang yang kasar, pelbagai persoalan yang tidak pantas diungkapkan ternyata telah diungkapkan, untung saja nona adalah seorang gadis yang berpendidikan dan berpengetahuan luas, coba berganti orang lain, mungkin dia akan dibuat marah-marah besar oleh tulisan tersebut."

Tampaknya putri Kim huan masih juga tak habis mengerti katanya:

"Bila ditinjau dari sikap maupun tingkah laku kalian suheng te bertiga, bisa kusimpulkan bahwa keenam orang suheng te yang lain bukan manusia sembarangan. Kenapa diantara kelompok burung hong justru bisa muncul seekor burung gagak?" sipedang tembaga segera menghela napas panjang.

"Aaaaai kalau dibicarakan yang sesungguhnya, hal ini harus disalahkan pada suhuku, dia

orang tua telah dibokong oleh musuhnya secara keji, dalam keadaan sekarat dan tak sadar pikirannya, dia menganggap sakit hati tersebut harus dituntut balas oleh murid perguruannya sehingga dicarinya seorang bocah liar untuk diwarisi ilmu silatnya lalu menitahkan kepadanya untuk menuntut balas." setelah berhenti sejenak. sambungnya lebih jauh:

"Jadi murid liar itu diterima suhu dia orang tua didalam keadaan yang terpaksa. Itulah sebabnya dalam soal bakat, watak serta pendidikan jauh berbeda bila dibandingkan orang lain. Aaaaai......maklumlah. " sambil berpaling putri Kim huan bertanya lagi:

"Hey, bukankah kalian bersembilan semuanya adalah muridnya? Kenapa tidak mencari orang sendiri justru mencari dirinya?"

"Aaaai, nona tidak tahu. " pedang tembaga menghela napas. "Ketahuilah bahwa suhu

sedang berada jauh sekali dari kami, bagaimana mungkin beliau bisa menghubungi kami dalam waktu singkat?"

Putri Kim huan segera manggut- manggut. "oooh, rupanya begitu."

setelah termenung sejenak. mendadak katanya lagi dengan polos: "Hey, dengan peristiwa itu, bukankah dia yang kelewat enak?"

"Yaa, apa boleh buat lagi? sesungguhnya kami enggan melakukan perjalanan bersamanya. Apa daya dia justru selalu mengaku sebagai murid terakhir dari Malaikat pedang berbaju perlente, mengingat kita sebagai sesama saudara seperguruan, mau tidak mau kamipun tak bisa meninggalkan dirinya dengan begitu saja."

Agaknya putri Kim huan sedang memikirkan persoalan yang lain sehingga sama sekali tidak mendengar apa yang dikatakannya, terdengar gadis itu berkata pelan:

"Kim Thi sia memang makhluk aneh, apakah dia benar-benar tidak berperasaan sama sekali?"

"Nona, apa kau bilang? siapa yang tidak berperasaan? " seru pedang tembaga keheranan-

Dia mengira orang yang dimaksudkan putri Kim huan adalah dirinya, ia menjadi terperanjat sekali, dalam gugupnya dia sgeera menggenggam tangan sinoan yang lembut.

Putri Kim huan segera berkerut kening dan melepaskan diri dari genggamannya, ia menegur: "Kalian ornag laki-laki memang sama semua, sedikit-sedikit lantas main colek main pegang.

Huuuh, sungguh menyebalkan, mengapa sih tidak meniru Kim Thi sia?"

"Bagaimana dengan Kim Thi sia. " kata gedang tembaga agak enggan- sementara tangannya

terpaksa ditarik kembali dengan perasaan berat.

Melihat sikap pemuda itu, putri Kim huan semakin mengambek. katanya dengan dingin: "Terus terang saja aku bilang, sekalipun dibidang lain Kim Thi sia tak mampu mengungguli

kalian- Tapi dalam hal ini dia lebih tangguh daripada kalian- selama melakukan perjalanan bersamanya dalam berapa hari terakhir ini, belum pernah dia melakukan perbuatan yang melanggar sopan santun-"

sipedang tembaga yang pandai melihat gelagat cepat-cepat menarik kembali tangannya dan berkata sambil menundukkan kepala:

"Entah mengapa, sejak bertemu nona, timbul gejolak perasaan dalam hatiku hingga membuat aku tak mampu untuk mengendalikan diri "

Putri Kim huan menengok sekejap kearahnya, lalu dengan sikap hambar katanya: "Bila kau ingin membuatku gembira, tinggalkan aku sejauh mungkin-"

sipedang tembaga nampak tertegun, tapi akhirnya sambil menahan emosi dengan wajah bersemu merah dia mundur selangkah kebelakang.

Mendadak dari depan situ terdengar suara hirup pikuk yang ramai sekali, satu ingatan segera melintas dalam benak putri Kim huan, tanyanya cepat:

"siapakah yang berada didepan?"

sambil merendahkan suaranya sahut pedang tembaga:

"Musuh kami Pek kut sinkun telah menyiapkan panggung untuk menerima tantangan kita." Ketika putri Kim huan melongok keluar tampak dibawah barak bambu yang besar terlihat banyak sekali manusia yang berdesak disitu menonton keramaian. Menyaksikan hal ini, dengan perasaan kuatir segera tanyanya: "sanggupkah kalian untuk mengungguli musuh?"

Perkataan itu seketika mengobarkan semangat didada pedang tembaga, dia merasa mendapat kesempatan untuk membuktikan kemampuannya dihadapan gadis cantik. Maka sambil menggosok kepalanya ia menyahut sambil tertawa:

"Nona tak usah kuatir, biarpun kemampuan Pek kut sinkun terhitung hebat, tapi aku berkeyakinan untuk mengalahkan dirinya."

"Oooh. aku percaya dan tentu akan menang" puji putri Kim huan sambil tersenyum manis.

"Aku memang sudah cukup memahami akan kemampuan ilmu silatmu yang hebat itu. "

sipedang tembaga menjadi sangat girang semangatnya semakin berkobar. Dengan suara lantang bentaknya keras-keras:

"Sembilan pedang dari dunia persilatan datang memenuhi janji. silahkanPek kut sinkun munculkan diri untuk berjumpa."

suara bentakannya amat nyaring hingga menggema seluruh angkasa. Jelas dia hendak memperlihatkan kebolehan tenaga dalamnya dihadapan gadis cantik tersebut.

Begitu ucapan tersebut menggelora keluar, suara hiruk pikuk disekitar arena seketika menjadi sepi, hening dan tak kedengaran sedikit suarapun- Beratus-ratus pasang mata serentak dialihkan kearahnya.

Dengan wajah tersipu putri Kim huan segera menyembunyikan diri dibalik tandu. Perasaannya menjadi amat tegang.

"Haaah.....haaah......haaaah.......rupanya sinkun datang sendiri untuk menyambut, hal ini menunjukkan bahwa aku masih terpandang sebagai seorang manusia dihadapan sinkun. "

Tampak seorang sastrawan setengah umur berjubah kuning berikat kepala emas berjalan mendekat dengan langkah lebar.

Disekeliling sastrawan setengan umur utu mengikuti empat orang kakek yang rata-rata bermata tajam.

dilihat dari kening mereka yang menonjol keluar dari sorot mata yang tajam bagaikan sembilu, dapat diketahui bahwa keempat orang itu merupakan jago-jago yang berilmu tinggi.

sastrawan setengah umur itu amat gagah dan berwibawa, tak malu menjadi pemimpin suatu perkumpulan, sambil tampilkan diri segera katanya sambil tertawa nyaring:

"Sembilan pedang dari dunia persilatan bernama besar, tentu saja aku tak berani berayal.

Haaaah.....haaaah.......haaaah silahkan masuk. silahkan masuk."

sambil berkata dia mengulapkan tangannya, dari balik kerumunan orang banyak muncullah serombongan lelaki kekar yang menyambut kedatangan mereka dengan sikap amat menghormat.

sipedang perak berpaling dan memberi tanda dengan kerdipan mata kepada sipedang tembaga, sipedang tembaga segera manggut- manggut, katanya kepada putri Kim huan-

"Silahkan nona turun dari tandu untuk bertemu dengan Pek kut sinkun, kami tidak boleh bersikap kelewat sombong. Ya a, apa boleh buat, terpaksa harus menyiksamu sebentar."

Putri Kim huan paling takut munculkan diri dihadapan umum, keningnya segera berkerut setelah mendengar perkataan itu, tapi terpaksa dia turun juga dari tandunya dengan wajah tersipu-sipu.

Agaknya sastrawan setengah umur itu tak menyangka kalau orang yang berada didalam tandu adalah seorang wanita yang cantik. Ia kelihatan agak tertegun lalu pikirnya: "sejak dulu hingga sekarang, kaum wanita jarang sekali keluar pintu, biasanya hanya pendekar wanita yang berilmu tinggi atau mempunyai asal usul besaryang berani keluar rumah. Gadis ini cantik bak bidadari dari khayangan sudah pasti kecerdikannyapun luar biasa, jangan-jangan dia adalah tokoh lihay yang diundang sembilan pedang untuk membantu mereka. ?"

Dia mencoba membayangkan siapa gerangan perempuan ini, namun seingatnya tidak terdapat manusia seperti ini dalam deretan tokoh-tokoh persilatan, hal mana tentu saja semakin meragukan hatinya.

Keempat orang kakek yang berada disisinyapun segera menunjukkan perasaan tercengang, diawasinya gerak gerik putri Kim huan sekejap. kemudian salah seorang diantaranya berbisik:

"sinkun harus memperhatikan gadis ini secara sungguh-sungguh, jangan dilihat sikapnya begitu tegang, biasanya makin kalem seseorang makin berbahaya pula ilmu silat yang dimilikinya."

sastrawan setengah umur itu manggut- manggut.

"Aku sudah mengawasinya sejak tadi, nampaknya dia seperti tak pandai bersilat, tapi mungkin saja pandangan mataku belum bisa menembusi lapisan berikutnya. Ya a, aku pasti akan berjaga- jaga terhadapnya."

Tak lama kemudian, sampailah mereka didalam sebuah barak tamu.

Didalam barak sudah duduk lima orang jago gedang yang masih muda begitu melihat kedatangan pedang perak, serentak mereka bangkit berdiri dan memberi hormat kepadanya, kemudian baru memberi hormat kepada pedang tembaga serta pedang besi.

Putri Kim huan segera merasakan bahwa kelima orang itu sedang mengawasi wajahnya dengan seksama. seakan-akan sedang mengamati suatu benda mestika saja, rasa malu yang luar biasa membuat hatinya berdebar keras dan kepalanya tak berani didongakkan kembali. sipedang tembaga segera berkata:

"Harap sute sekalian duduk dulu, biar kuperkenalkan nona itu kepada kalian, dia adalah putri dari kerajaan Kim yang khusus datang kedaratan Tiong goan untuk menikmati keindahan alam, mari kalian saling memberi hormat. "

Kelima orang jago muda itu saling berpandangan sekejap lalu tersenyum, kemudian serentak manggut- manggut tanda hormat.

Dengan tersipu-sipu putri Kim huan pun mengangguk sambil tersenyum sebagai balasan dari anggukan kepala mereka. Terdengar sipedang tembaga berkata lebih jauh:

"Kita semua adalah orang sendiri, apa yang hendak dibicarakan silahkan dibicarakan, tak usah sungkan-sungkan lagi."

Kemudian diapun membisikkan asal usul sipedang air, pedang ayu, pedang api, pedang tanah danpedang bintang kepada putri Kim huan.

sipedang air segera bangkit berdiri dan menyerahkan tempat duduknya kepada putri Kim huan, sedang sipedang tanahpun menyingkir juga dari situ, maka diatur oleh para sutenya, sipedang tembaga bisa duduk dengan senang disisi putri Kim huan.

Tentu saja kejadian tersebut sangat menjengkelkan hati sipedang besi yang mengawasi terus peristiwa itu sedari tadi.

sementara itu sipedang perak telah mendonggakkan kepalanya melihat sekejap cuaca lalu tanyanya kepada sipedang kayu. "Apakah toa suheng belum datang?"

" Kemungkinan besar dia datang agak terlambat, kemarin sute bertemu dengannya dan dia hanya berpesan begini. "

sipedang perak segera menemukan paras adik seperguruannya ini kurang sedap dipandang, pikirnya tanpa terasa: "Heran, biasanya ngo sute adalah seorang yang selalu riang gembira. Mengapa dia menunjukkan sikap semacam ini? Mungkinkah dia sedang menjumpai persoalan yang tak berkenan dihatinya?"

sebetulnya dia hendak menanyakan persoalan itu hingga jelas. Namun sehabis memberi keterangan sipedang kayu segera beranjak pergi ketempat lain dengan sikap yang dingin dan tawar.

sipedang perak tahu, adik seperguruannya pasti sedang menghadapi masalah pelik maka diapun mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih jauh.

sipedang kayu duduk seorang diri ditepi barat, sementara sorot matanya yang tajam mengawasi terus putri Kim huan tanpa berkedip.

Dia masih teringat dengan jelas, dulu putri Kim huan pernah tertawan olehnya, tapi semenjak kedatangan Kim Thi sia, gadis itu telah ditolongnya malah itu banyak sekali jago yang terbunuh ditangan Kim Thi sia. Hal ini membuat pamornya dihadapan pembesar negeri itu merosot berapa tingkat.

sekalipun semua peristiwa ini menjadi tanggung jawab Kim Thi sia, namun setelah bertemu dengannya tanpa terasa diapun teringat akan semua sakit hatinya itu.

Perintah dari sipembesar pun menyusahkan hatinya, dia pernah menyanggupi permintaannya untuk menemukan kembali putri Kim huan, tapi sekarang putri Kim huan telah berada ditangan sipedang tembaga. Padahal pedang tembaga adalah abang seperguruannya, bagaimana mungkin dia bisa menculik kekasih hatinya untuk dipersembahkan kepada pembesar itu?

Maka pelbagai masalah yang pelikpun membuat hatinya risau gundah dan tak senang.

Tampaknya putri Kim huanpun telah menemukan raut wajah sipedang kayu yang terasa dikenal olehnya. Diam-diam ia mencoba kembali pengalamannya dimasa lalu, mendadak ia teringat akan sesuatu, sepasang matanya segera terbelalak lebar-lebar.

Dengan cepat sipedang tembaga menyaksikan rasa kaget yang mencekam wajahnya ia menjadi terperanjat dan segera menegur: "Nona, mengapa kau?"

ingin sekali putri Kim huan menceritakan kejadian yang sesungguhnya, namun ketika ucapan tersebut sampai dibibir, ternyata dia tak mampu untuk mengutarakannya keluar, akhirnya sambil menggelengkan kepala dan menghela napas katanya: "Aaaah, tidak apa-apa"

Meski begitu, sepasang matanya masih menatap wajah sipedang kayu tanpa berkedip.

Tergerak perasaan sipedang tembaga, dengan cepat dia bangkit berdiri dan menghampiri sipedang kayu, lalu tanyanya: "sute, apakah kau kenal dengannya?" Dengan wajah sungguh- sungguh sahut sipedang kayu:

"Mungkin kenal, mungkin juga tidak. siaute hanya merasa raut mukanya agak kukenal, namun lupa dimanakah kami pernah bersua, coba kau bilang kejadian ini aneh tidak?"

"Yaa, memang aneh sekali" sahut pedang tembaga. Namun hati kecilnya merasa amat mendongkol, pikirnya:

" Kurang ajar, pedang kayu, kau berani mengelabuhi aku? Hmmm, tunggu saja sampai tanggal mainnya."

sementar itu suasana dibawah panggung amat hening tak kedengaran sedikit suarapun banyak sekali kawanan jago yang datang karena mengagumi nama besar mereka yang bakal bertarung berdiri berjajar ditepi arena suara bisik-bisik kedengaran disana sini.

sipedang perak yang seksama, sementara itu sudah mengamati berapa kejap suasana disekitar arena .

Diarena mereka yang hadir, dia hanya mengenali beberapa diantaranya seperti si Pukulan berapi. si tukang besi dari supeng, si kucing bungkuk dan lain sebagainya. Baginya, jago-jago tersebut bukan merupakan, ancaman yang serius, tapi terhadap wajah- wajah asing yang tak dikenalnya, dia justru menaruh perasaan tegang. sekalipun dia pingin tahu siapa gerangan orang-orang tersebut. Namun kedudukannya didalam dunia persilatan mencegah dia berbuat begitu, terpaksa dia harus mengandalkan ketajaman matanya untuk menduga-duga kemampuan silat orang-orang itu.

setelah diamati berulang kali, akhirnya dia berkesimpulan hanya keempat kakek yang berada disamping Pek kut sinkun terhitung jagoan paling tangguh, terutama salah seorang diantaranya, sewaktu berbicara dan menggoyangkan telapak tangannya, dia melihat adanya sinar merah dari balik telapak tangan tersebut. Dengan perasaan terkejut segera pikirnya.

"Hmmmm, sudah jelas orang ini memiliki ilmu Kim cu khikang yang sudah seratus tahun lamanya lenyap dari dunia persilatan. Tidak disangka hari ini bisa muncul ditangannya, aku tak boleh memandang enteng kemampuan orang ini. "

Mendadak terdengar suara gembrengan dibunyikan, lalu muncul seorang lelaki kekar ketengah arena dan berseru dengan lantang:

"Atas perintah sinkun, diharapkan para penonton membuka sebuah lapangan agar mereka yang bakal bertarung mampu mengembangkan segenap ilmu silat yang dimilikinya, atas kesudian kalian, kami ucapkan terima kasih sebelumnya. "

Habis berkata dia memberi hormat keempat penjuru lalu mengundurkan diri dengan langkah lebar.

Terpaksa para penontonpun saling berdesakan untuk mundur kebelakang, dengan susah payah akhirnya siaplah sebuah tanah lapang seluas lima kaki persegi.

Menyusul kemudian suara gembrenganpun kembali dibunyikan keras-keras, seketika suasana menjadi hening dan semua orang mengalihkan perhatiannya kearena. sipedang tembaga melirik sekejap kearah putri Kim huan, lalu bisiknya pelan:

"Bila suara gembrengan dibunyikan sekali lagi, berarti saat bertarung akan segera dimulai saksikanlah pertarungan ini baik-baik." habis berkata dia segera tertawa lebar.

sebelum suara gembrengan ketiga kalinya dibunyikan dari barak sebelah barat telah muncul seorang kakek yang semula berada disisi Pek kut sinkun dia menjura dulu keempat penjuru kemudian baru berkata dengan suara lantang:

"sobat-sobat, para jago dan orang gagah hari ini Pek kut sinkun sengaja menyelenggarakan pertandingan silat untuk memperebutkan dua jenis mestika. Apakah benda mestika itu maaf kalau kami tak bisa sebutkan namun yang jelas tujuan dari pertarungan ini adalah untuk mendapatkan mestika tersebut, siapa menang dia berhak mendapatkannya. Karena itu baik terluka atau bahkan tewas, kami kedua belah pihak sama-sama tak akan menyesali atapun menggerutu. selain itu pertarungan diselenggarakan menurut peraturan. Dilarang mengandalkan jumlah banyak, dilarang juga main bokong dengan cara yang licik. "

Tepuk tangan yang riuh menutup ucapan terakhir kakek tersebut, dengan langkah lebar ia kembali kesamping Pek kut sinkun.

Pelan-pelan sipedang perak memperhatikan sekejap sekitar arena, mendadak dari barat sebelah kiri, dia menyaksikan seorang tosu tua duduk bersila disitu.

Dandanan tosu itu aneh sekali, tubuhnya kurus kering tinggal kulit pembungkus tulang, tulang jidatnya menonjol dan matanya lengkuk kedalam, rambutnya yang kuning nampak kusut.

Disamping tosu tua itu duduk pula seorang pemuda berwajah jelek. saat itu mereka berdua sedang berbisik-bisik sambil menuding kesana kemari. Agaknya ada semacam persoalan sedang dibicarakan-

Tiba-tiba pemuda bermuka jelek itu kena diterjang oleh seorang lelaki yang sedang bergurau disisinya. Pemuda jelek itu segera melotot, tidak nampak apa yang dilakukan-Tiba-tiba lelaki itu menjerit kesakitan dan robih tak sadarkan diri. suasanapun menjadi ribut, beramai-ramai rekanannya menggotong pergi lelaki tersebut dari situ.

Tapi bagi sipedang perak yang bermata tajam, ia telah melihat dengan jelas bagaimana pemuda jelek itu mengayunkan tangannya disusul kemudian lelaki tadipun roboh tak sadarkan diri.

Entah kepandaian apa yang dipergunakan pemuda jelek itu, nyatanya dia sanggup merobohkan orang dari jarak tiga depa tanpa menimbulkan desingan suara. Dari sini bisa diketahui tenaga dalamnya amat hebat, terutama sekali kekejaman hatinya, sungguh mengejutkan hati siapapun.

selama ini sitosu tua berdandan aneh itu tetap duduk bersila tanpa menggubris tingkah laku pemuda jelek itu. seakan-akan pikirannya sudah dipisahkan oleh suatu dinding penyekat dengan kejadian dihadapannya. Diam-diam sipedang perak menghela napas panjang pikirnya:

"Dua orang guru dan murid ini betul-betul manusia tak berperasaan, pembunuh tanpa berkedip. Aaaai. entah dia musuh atau kawan? Tampaknya akupun harus waspada terhadap

mereka."

suara gembrengan yang amat keras menyadarkan kembali sipedang perak dari lamunan. Inilah suara gembrengan untuk ketiga kalinya, berarti pertarungan segera akan dilangsungkan.

Mendadak ia bergumam lagi:

"sungguh aneh, mengapa hingga sekarang toa suheng belum datang juga. ?"

Dimasa-masa lampau, toa suhengnya selalu menjadi pemimpin rombongan. segala sesuatunya diputus dan dilakukan toa suhengnya termasuk menitahkan para adik seperguruannya untuk menghadapi lawan.

Tapi hingga sekarang, yang ditunggu-tunggu belum nampak juga, apalagi menghadapi suasana seperti ini, sipedang perak jadi bimbang dan kehilangan pegangan. Dia tak tahu harus memerintahkan siapa untuk turun tangan lebih dulu. selang berapa saat kemudian.....

Dari barak sebelah barat pelan-pelan muncul dua orang lelaki kekar, tanpa mengucapkan sepatah katapun mereka langsung saling bertarung dengan serunya ditengah arena.

Mula-mula sipedang perak agak tercengang, tapi setelah dipikir sejenak. tanpa terasa dia tertawa geli. Rupanya kedua orang itu hanya bertarung sebagai pembukaan saja, jadi bukan bertarung secara bersungguh-sungguh.....

sorak sorai yang gegap gempita bergema dari bawah panggung, sementara dua orang lelaki kekar tadi masih saling menyerang dengan serunya.

sekalipun pertarungan berjalan sengit, bagi pandangan pedang perak. ilmu silat semacam itu masih belum berharga untuk ditonton olehnya.

Entah sejak kapan, sipedang kayu Gi Tin yong telah berada disisinadan berkata dengan suara dalam.

"Ji suheng, aku tahu pikiranmi pasti ragu untuk mengambil keputusan, bagaimana kalau sute saja yang turun dalam pertarungan babak pertama ini?"

Kesulitan yang dihadapi sipedang perak seketika hilang lenyap tak berbekas, dengan gembira dia menepuk bahu adik seperguruannya itu dan berkata sambil tertawa.

"Bagus sekali, rupanya sute cukup memahami perasaan hatiku, nah hadapilah musuh dengan berhati-hati."

sambil tertawa sipedang kayu, mengangguk pelan-pelan dia berjalan menuju ketepi arena. suara gembrengan kembali dibunyikan, dua orang lelaki yang saling bertarung segera menarik

kembali permainannya, memberi hormat kepada penonton dan mengundurkan diri dari situ.

Dari barak sebelah barat segera muncul seorang manusia bermuka hitam yang bertubuh tinggi kekar dan berseru dengan suara keras: "Sudah cukup lama sembilan pedang dari dunia persilatan malang melintang didalam dunia kangouw, tapi sayang aku si Raja bengis dari seantero jagad paling tak percaya dengan segala tahayul. Boleh aku tahu, siapakah diantara sembilan pedang yang bersedia melayani tantanganku?"

"Hey raja bengis dari seantero jagad, aku sipedang kayu sudah menanti sejak tadi." seraya berkata, dengan langkah yang amat santai sipedang kayu beranjak masuk kedalam

arena dan berdiri disitu sambil bersiap sedia.

orang ini masih muda namun mempunyai nama besar yang amat termashur, tak heran kemunculannya memancing tepuk tangan yang meriah dari para penonton.

Dengan mengayunkan langkah kakinya yang berat, siraja bengis dari seantero jagad masuk kedalam arena dan berdiri saling berhadapan dengan sipedang kayu.

Pedang kayu tertawa dingin, sejak tadi ia sudah bertekad untuk menangkan pertarungan ini dalam waktu singkat. secara diam-diam ia segera memberi tanda kepada pedang perak yang berada disisi arena.

Pedang perak segera memahami maksudnya dan berkata sambil tersenyum:

"Ambisi ngo sute tidak kecil. Aku pikir dalam tiga gebrakan saja kau dapat merobohkan musuhmu bukan?"

Dengan sikap acuh tak acuh sipedang tembaga menimpali:

"Yaa, setahuku. raja bengis dari seantero jagad hanya mempunyai tenaga kasar yang besar.

Aku percaya dalam tiga gebrakan saja ia dapat dirobohkan oleh ngo sute dengan ilmu guntingan tangannya."

Baru selesai perkataan itu diucapkan, tiba-tiba terdengar siraja bengis dari seantero jagad meraung keras dan roboh terjungkal keatas tanah, tahu-tahu dia sudah jatuh mencium tanah.

Tempik sorak yang gegap gempitapun bergema memecahkan keheningan-

Dengan wajah berseri-seri, sipedang kayu balik kembali ketempat duduknya semula. sipedang kayu memang tidak membual, dia benar-benar berhasil merobohkan musuhnya

dengan ilmu guntingan tangannya dalam tiga jurus gebrakan saja. Bukan hanya begitu, malahan siraja bengis dari seantero jagad belum sempat mengembangkan permainan jurus tangguhnya, ketika nadi darahnya sudah tergores oleh serangan musuh.

Dalam malu dan gusarnya, siraja bengis dari seantero jagad segera berlarian meninggalkan arena. sepanjang jalan dia menumbuk beberapa puluh orang penonton yang segera menimbulkan gerutuan dari sana sini. Tiba-tiba terdengar putri Kim huan berbisik:

"Coba kau lihat, dari barak sebelah barat telah muncul seseorang lagi. "

seorang jago pedang berusia pertengahan yang berwajah dingin menyeramkan pelan-pelan berjalan masuk kedalam arena, lalu berkata:

"Nama besar sembilan pedang memang nyata bukan nama kosong belaka aku si lelaki tampan ular berbisa berniat mencoba kepandaian dari salah seorang diantara sembilan pedang."

Pedang perak segera berpaling dan memperhatikan sekejap sekelilingnya, kemudian berkata: "orang ini sangat licik, kejam dan banyak jurus pembunuh Ji sute, kau saja yang

menghadapinya dengan pedang apimu."

sipedang api mengiakan dan turun dari barak langsung menghampiri silelaki tampan ular berbisa.

sambil tertawa seram Coa longkun segera berkata: "silahkan anda menyerang lebih duluan" "Tidak" sahut pedang api sambil menggeleng. "selamanya kami tak pernah mendahului musuh lebih baik anda saja yang menyerang lebih duluan"

"sreeeeetttt "

Coa longkun segera meloloskan sepasang pit besi dari pinggangnya, dibawah cahaya sang surya, nampak dengan jelas cahaya biru memantul keluar dari ujung senajta tersebut sudah jelas senjatanya telah diolesi dengan racun ganas.

Menyaksikan hal ini, sipedang api segera meningkatkan kewaspadaannya dengan menggeserkan langkahnya setengah tindak kesamping, pikirnya:

"Ngo suheng berhasil merobohkan musuhnya didalam tiga jurus, aku tak boleh menunjukkan kelemahan dihadapan orang banyak."

Hawa murninya segera dihimpun dan pedang api diloloskan dari sarungnya dengan suatu gerakan amat cepat. Pantulan cahaya api yang kemerah-merahan segera memantulkan sinarnya menyinari wajah Coa longkun yang dingin menyeramkan itu.

Coa longkun memejamkan matanya sebentar lalu dipentangkan kembali secara tiba-tiba. Dua cahaya tajam yang menggidikkan hati segera menyorong keluar, menyusul suara bentakan keras, dia menerobos maju kemuka dan melepaskan sebuah tusukan dengan jurus "sambil tertawa menunjuk kelangit selatan".

sipedang api mengebaskan ujung bajunya segulung tenaga pukulan yang keras segera membendung datangnya serangan lawan, sementara itu pedangnya berputar kencang dan sambil membawa lapisan cahaya bianglala langsung mengurung tubuh musuh.

Dalam satu gebrakan saja Coa longkun sudah mengetahui kehebatan musuhnya yang bukan bernama kosong saja, cepat-cepat dia menarik kembali senjata pitnya untuk melakukan penangkisan-

Kemudian memanfaatkan peluang tadi dia melepaskan satu totokan jari tangan dengan kecepatan luar biasa, segulung desingan tajam langsung menyergap kedada lawan-

Pedang api segera memutarkan tubuhnya menggunakan ujung kaki sebagai porosnya dengan suatu gerakan lincah dia mengubah diri keposisi lain guna menghindarkan diri dari ancaman musuh, dari situ dia bersiap melancarkan serangan balasan-

Coa longkun menjadi amat terperanjat, cepat-cepat dia melompat kesamping kanan untuk menghindarkan diri

sipedang api tertawa dingin, secepat kilat dia menerobos maju kedepan, sekalipun serangannya tak berhasil membacok tubuh musuh, namun berhasil memapas kutung senjata pena lawan-

"Traaaaaaanngggg. "

Kutungan senjata pena itu segera rontok keatas tanah.

Berubah hebat paras muka Coa longkun menghadapi kejadian tersebut, cepat-cepat dia pergunakan kutungan senjatanya sebagai senjata rahasia untuk ditimpukkan kedepan-

Sipedang api yang berhasil merebut posisinya diatas angin tidak berdiam diri saja. Pedangnya segera diayunkan kedepan untuk menangkis sambitan pena itu hingga rontok keatas tanah.

Melihat gelagat tidak menguntungkan, coa longkun cepat-cepat membalikkan badan dan berusaha melarikan diri, tapi pedang api keburu menyusulnya dari belakang, dalam sekali ayunan tangan, tubuh Coa longkun segera terbabat hingga terluka, darah segarpun jatuh bercucuran membasahi seluruh tubuhnya....

Berbicara yang sesungguhnya, selisih kepandaian antar kedua orang itu berbeda jauh sekali, itulah sebabnya sekalipun coa longkun mempunyai akal muslihat yang amat banyakpun tak mampu mengapa-apakan pedang api, dalam keadaan begini terpaksa dia harus melarikan diri dalam keadaan yang mengenaskan sekali. Kekalahan yang diderita dua kali secara berturut-turut membuat semangat tempur kawanan jago dibarak sebelah barat mengendor. Pek kut sinkun nampak amat masgul dan tak senang hati.

Cepat dia melirik sekejap kearah kawanan kakek yang berada disampingnya, dengan cepat seorang diantaranya mengerti dan bangkit berdiri seraya berkata:

"Harap sinkun jangan gusar, biar siaute yang turun didalam pertarungan babak ketiga ini." Dengan tersenyum puas Pek ku sinkun manggut- manggut, katanya:

"sembilan pedang rata-rata berilmu silat sangat hebat, kau mesti menghadapi mereka dengan berhati-hati, usahakan untuk merebut kembali muka kita yang telah ternoda."

Dengan wajah serius kakek itu manggut- manggut.

"sinkun tidak usah kuatir, siaute pasti akan menggunakan segenap kemampuan yang kumiliki untuk berjuang tetapi seandainya saja aku kurang beruntung dan menderita kekalahan, siaute tak akan punya muka untuk bertemu lagi dengan sinkun." selesai berkata kakek itu segera berpaling ketengah arena dan berseru dengan lantang:

"wahai sembilan pedang dari dunia persilatan, dengarkan baik-baik. Pihak kami telah dua kali menderita kekalahan secara beruntun hingga semangat bertempur jauh berkurang, karenanya aku hendak mewakili sinkun untuk menantang kalian semoga dari pihak kalian bersedia mengirim dua orang pedang untuk bertarung melawanku. Atas kelancangan ini kumohon kalian sudi memakluminya."

Mendengar ucapan tersebut, pedang perak segera berkata sambil tertawa:

"Sute sekalian, orang ini bermaksud menghadapi kita dengan satu melawan dua entah bagaimana pendapat kalian?" Dengan penuh kegusaran sipedang besi berkata:

"orang ini kelewat sombong dan tak tahu diri, biar aku seorang yang pergi menghadapinya . "

Begitu selesai berkata, tanpa menunggu jawaban dari sipedang perak lagi segera melompat ketengah arena dan serunya kepada kakek tersebut:

"Maksud baik anda biar kuterima dalam hati saja, tapi aku pikir sebelum anda bisa bertarung satu melawan dua, lebih baik robohkan aku lebih dulu. Entah bagaimana menurut pendapat anda?"

"Begitupun baik juga, sembilan pedang memang merupakan jago-jago kenamaan semua aku sudah menduga kalian tak akan bersedia untuk bertarung satu melawan dua orang."

setelah maju dua langkah kedepan, tiba-tiba dia memasang kuda-kuda dengan suatu gaya yang aneh sekali katanya lagi singkat:

"Persoalan tak perlu ditunda-tunda lagi, mari kita selesaikan perta rungan ini selekasnya." "Silahkan" kata pedang besi sambil berkerut kening.

Mendadak kakek itu mengayunkan tangan kirinya kedepan kelima jari tangannya yang dipentangkan bagaikan kaitan menyapu kemuka dengan membawa deruan angin serangan yang dahsyat.

Pedang besi tak berani menghadapi musuhnya secara gegabah, sambil memutar badan dia menggeserkan tubuhnya kesamping, menggunakan gerakan tadi, dia balas melepaskan dua buah serangan berantai.

Kakek itu tertawa dingin, bukannya mundur dia malah maju dengan jari tangan yang tajam ia mengancam sepasang mata lawan sementara tangan yang lain disodok sejajar dada.

Pedang besi tidak menduga kalau reaksi musuhnya begitu cepat, dia berkesiap dalam gugupnya tak sempat lagi mendesak mundur musuh, dia berusaha melindungi diri dari ancaman bahaya maut. Mendadak dia menarik diri sambil menghindar kesamping, dengan membawa desingan tajam.

Kedua jari tangan kakek itu menyambar lewat persis disamping mukanya.

Berhasil meraih posisi diatas angin, kakek itu melejit setinggi tujuh delapan depa ketengah udara dan mengayunkan kembali sepasang tangannya kebawah. Angin pukulan menderu- deru, kekuatannya betul-betul mengerikan hatisiapapun-

Pedang besi sadar bahwa tenaga dalamnya amat sempurna, dia segera beradu kekerasan dengan lawannya.

Namun perubahan jurus sekarang kakek itu kelewat cepat, terdesak dalam posisi yang amat berbahaya, mau tak mau terpaksa dia harus mengayunkan pula sepasang tangannya kedepan untuk menyambut datangnya ancaman tersebut.

"Blaaaaammmmm. "

Begitu sepasang telapak tangannya saling beradu, terjadilah suara ledakan yang amat memekikkan telinga.

ditengah bertebaran abu dan pasir nampak kedua orang itu sama-sama tergetar mundur satu langkah kebelakang.

Dengan bentrokan barusan, kedua belah pihak sama-sama membuktikan bahwa kekuatan mereka ternyata berimbang sipedang besi segera berpikir dengan cepat:

"Tenaga dalamku hanya berimbang dengan kekuatan lawan, ini berarti bila ingin mengalahkan dia, aku harus mengandalkan ilmu pedangku."

Ia bisa berpendapat demikian karena dengan meng andaikan pedangnya, ia sudah malang melintang disepanjang sungai tiang kang tanpa menjumpai musuh tandingan itulah sebabnya dia berharap bisa mengubah pertarungan tangan kosong menjadi pertarungan senjata dengan begitu diapun bisa menunjukkan kebolehannya dalam permainan pedang besinya.

sementara itu sikakek hanya berhenti sejenak. Tidak memberi kesempatan kepada musuhnya untuk berganti napas dia mendesak lebih jauh.

Ia sadar bila pedang besi tak berhasil dikalahkan berarti dia tak akan mampu menghadapi musuhnya satu melawan dua, ini berarti diapun tak mampu untuk merebut kembali nama baik Pek kut sinkun.

Itulah sebabnya begitu pertarungan berlangsung, dia segera mengerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya.

Dalampada itu sipedang besi telah mengambil keputusan, tanpa mengucapkan sepatah katapun dia menerobos maju ketengah arena sambil melancarkan sebuah bacokan langsung.

Kakek itu tidak menyangka kalau musuhnya berani bersikap memandang rendah terhadap dirinya. Tiba-tiba muncul perasaan sedih dan gusar dihati kecilnya, bukan mundur dia bahkan mendesak maju kedepan. Disambutnya ancaman lawan dengan keras melawan keras, sementara kakinya melepaskan sebuah sapuan kilat.

Pedang besi cepat-cepat membuang tubuhnya kebelakang dengan gerakanjembatan gantung, punggung ditekuk kebelakang nyaris menempel diatas permukaan tanah.

Dengan begitu sapuan dari sikakekpun hanya menyambar diatas lambungnya, begitu lolos dari ancaman, dia melejit bangun kembali sambil melancarkan cengkeraman maut.

serangan ini selain ganaspun sangat menyerempet bahaya, tentu saja kakek tersebut cukup mengetahui keadaannya, tapi sayang dia sendiripun berada dalam posisi berbahaya sehingga tak berkekuatan untuk melancarkan serangan balasan.

Dalam situasi semacam ini, sikakek tak berpikir panjang lagi, dia tahu andaikata senjatanya tidak diloloskan maka sulit baginya untuk lolos dari cengkeraman musuh. Maka disaat tubuhnya menungging kebelakang, sepasang roda besinya segera diloloskan sambil menyodok kemuka.

Tak terlukiskan rasa gembira pedang besi ketika melihat musuhnya masuk perangkap. sambil membentak dia melejit ketengah udara, dari situ dia meloloskan pedangnya dan langsung membacok kebawah dengan jurus "suara guntur menggetarkan bumi".

Merah padam selembar wajah sikakek setelah dipaksa meloloskan senjatanya tadi, kini diapun tak banyak berbicara lagi, sepasang roda besinya saling dibenturkan keras lalu diputar kencang menciptakan lingkaran-lingkaran cahaya yang amat menyilaukan mata.

Diantara deruan angin serangan yang mengguntur, tampak nyata kekuatan daya serangannya yang menggidikkan hati.

Pedang besi berpekik nyaring, sambil mengerahkan segenap tenaga dalamnya kedalam telapak tangan, tiba-tiba dia menerobos masuk kebalik lingkaran cahaya yang berlapis-lapis itu dan menari kian kemari bagaikan seekor burung hong.

Begitu indah dan manisnya gerakan tubuh pemuda ini sehingga memancing temcik sorak yang gegap gempita diseluruh arena.

Kedua orang itu sama-sama merupakan jago kelas satu didalam dunia persilatan, tak heran kalau gerak serangan mereka takpernah bisa digunakan hingga selesai, hal ini dikarenakan kecepatan perubahan jurus mereka yang luar biasa, kendatipun demikian, asal salah satu pihak bertindak salah, niscaya akan berakibat keadaan yang fatal.

Dalam waktu singkat sikakek telah merasakan bahwa ilmu pedang musuhnya betul-betul sangat hebat, banyak jurus serangannya yang begitu tangguh sehingga susah diduga sebelumnya. Hal ini membuat perasaan hatinya bertambah terkesiap.

Rasa sedih, gusar dan ngeri seketika itu juga menyelimuti seluruh perasaan hatinya, tanpa berpikir panjang lagi tiba-tiba dia mengeluarkan ilmu langkah tujuh bintang.

senjata roda besinya diputar kencang dengan jurus "anak naga munculkan diri" kemudian langsung menyergap jidat musuh dengan membawa desingan angin tajam.

Tampaknya sipedang besipun mempunyai niat yang sama, dia berpekik nyaring. Pedangnya diputar satu lingkaran ditengah udara dan meluncur kemuka. "Traaaaaanngggg. "

Dengan cepatnya dua macam senjata itu saling membentur satu sama lainnya ditengah udara hingga menimbulkan percikan bunga api.

Rasa tegang yang semula mencekam perasaan pedang perak. lambat laun mengendor kembali bersamaan dengan terjadinya perubahan ditengah arena, katanya kemudian:

"su sute telah berhasil mengembangkan jurus serangan tertangguh dari ilmu gedangnya secara lancar, aku yakin musuh tak akan mampu lolos dari ujung pedangnya dalam tiga gebrakan lagi."

Baru selesai dia berkata, terdengar kakek itu menjerit kesakitan dan mundur sejauh satu kaki dari posisi semula. Ketika semua orang mengalihkan perhatiannya kedepan, tampak darah telah bercucuran membasahi lengannya, jelas sudah kakek itu telah menderita kekalahan total.

Dengan gaya yang dibuat sipedang besi segera menjura kearah lawannya seraya berkata: "Maaf, maaf "

sambil berkata dia melangkah kembali kebaraknya.

sebaliknya kakek itu masih tetap berdiri diposisi semula smbil memandang keangkasa dan menghela napas panjang, entah sejak kapan terlihat titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya .

Melihat sikap sikakek itu, Pek kut sinkun yang berada dibarak sebelah barat segera bangkit berdiri dan berseru: "Menang kalah dalam suatu pertarungan adalah kejadian yang lumrah. Hiante, harap pikiranmu lebih terbuka, cepatlah kembali kebarak."

Entah karena malu untuk bertemu lagi Pek kut sinkun, entah karena perasaan hatinya sedang dilanda kesedihan, ternyata kakek itu tidak mendengar suara teguran tersebut namun tetap mengawasi awan diangkasa sambil termangu-mangu.

Mendadak ia membentak keras, senjata roda raksasanya yang berat dihantamkan keatas kepalanya secara langsung.

Para penonton yang menyaksikan peristiwa itu kontan saja menjerit ngeri dan serentak melengos kearah lain.

Dalam waktu singkat ditengah arena telah bertambah dengan sesosok mayat yang berada dalam keadaan mengerikan- Tadi bila ditinjau dari perawakan tubuhnya, mayat tersebut jelas merupakan mayat sikakek tadi.

Pek kut sinkun segera meninggalkan baraknya mendekati mayat kakek tadi, lama sekali dia berdiri termangu-mangu didepan mayat, kemudian baru menitahkan orang-orangnya untuk menggotong pergi mayat tersebut.

Selama ini Pek kut sinkun tidak memberi pernyataan apa-apa, namun ketiga orang kakek yang berada disisinya telah mengepal tinjunya siap melakukan serangan.

Hingga sekarang putri Kim huan baru berani membuka matanya, akan tetapi melihat noda darah yang masih berceceran diatas tanah, cepat-cepat dia melengos kembali kearah lain dengan wajah pucat pias.

Entah sejak kapan, Pek kut sinkun telah muncul kembali ditengah arena sembari berkata: "Aku tak ingin menunda-nunda lagi untuk memperebutkan kedua jenis mestika tersebut. Aku

telah memutuskan untuk tampil sendiri mewakili pihakku seandainya terbukti akupun menderita kekalahan maka kedua jenis mestika tersebut akan kupersembahkan kepada kalian, kuharap dari pihak sembilan pedang segera mengirimkan wakilnya untuk bertarung melawanku."

Walaupun perkataan tersebut tidak diucapkan dengan suara keras, akan tetapi setiap orang dapat menangkap pembicaraannya secara jelas, hal ini menunjukkan bahwa tenaga dalamnya amat sempurna.