Lembah Nirmala Jilid 25

 Jilid 25

Pelan-pelan dia berjalan mendekati kepintu kamar putri Kim huan lalu mengetuk pintu sambil menengur: "Nona, apakah kau sudah tidur?"

Sebetulnya dia ingin memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengucapkan kata-kata minta maaf namun melihat sampai lama sekali gadis tersebut belum juga menjawab, nada pembicaraannyapun segera berubah:

"Nona" katanya kemudian. "Bila kau tetap mengingat selalu persoalan yang tak menyenangkan hati ini dihati kecilmu, akupun tak dapat berkata apa-apa lagi." Begitu perkataan tersebut diutarakan dari balik kamar segera bergema suara jawaban. Terdengar gadis itu menjawab dengan suara sedingin es.

"Apa lagi yang hendak kau ucapkan? Perbuatan dan sikapmu telah membuat hatiku pedih sekali"

"Membuat hatimu pedih sekali?" Kim Thi sia mengulangi kata-kata tersebut berapa kali. Namun ia belum bisa menyesali sampai dimanakah kepedihan itu. Dengan mengeraskan hati diapun berkata lagi dengan suara pelan: "Aku........aku sengaja datang untuk minta maaf atas.....terjadinya peristiwa tadi. Aku. aku

merasa bersalah kepadamu."

Tiada jawaban dari balik kamar putri Kim huan sehingga susah untuk diraba bagaimanakah perasaan gadis tersebut sekarang.

Lama sekali berdiri termangu diluarpintu, tiba-tiba saja dia merasa kejadian seperti ini merupakan suatu penghinaan besar baginya, dia tak tahan lagi segera gumamnya:

"Hmm, toh kau tak ada yang biasa, kalau toh enggan menjawab, akupun tak usah banyak berbicara lagi."

selama ini, dia selalu beranggapan putri Kim huan lah yang sudah bersalah kepadanya, maka tanpa banyak bicara lagi dia beranjak dan meninggalkan kamar itu

Tatkala secara kebetulan dia berpapasan muka dengan sipedang besi so Bun pin, mendadak teringat akan sesuatu, sambil membalikkan badan serta menepuk bahunya, dia bertanya dengan suara lirih:

"suheng, aku tahu kau paling cocok dengannya, kau pasti pula bersedia untuk menghantar pulang keistana. Bukankah begitu? Katakanlah perkataanku tidak salah bukan?"

Paras muka sipedang besi dingin dan sangat hambar, ia sama sekali tidak mengedipkan sebelah matapun sehabis mendengar perkataan tersebut, bahkan menanggapi pun tidak.

Kim Thi sia tahu, pemuda tersebut pasti tak senang hati kepadanya, maka sambil menahan sabar kembali dia berkata:

"sesungguhnya, semenjak dulu aku sudah ingin mencari seseorang untuk menghantarnya pulang. siapa sangka justru dia telah salah pilihan, padahal aku sama sekali tidak berniat untuk menjadi pengawalnya. suheng, aku minta untuk merepotkanmu sebentar guna mengiringi sinona pulang keistana, maklumlah watak seorang nona memang cukup memusingkan kepalaku."

Sampai perkataan tersebut selesai diucapkan, sipedang besi masih belum juga menampakkan perubahan mimik wajahnya.

saat itulah sipedang tembaga munculkan diri, melihat itu buru-buru sipedang besi so Bun pin manggut- manggut dan beranjak pergi dari situ.

Kim Thi sia yang ketanggor batunya merasa sangat tak senang hati, kepada sipedang tembaga segera ujarnya:

"suheng, tolong bantulah aku bersediakah kau untuk menghantarnya pulang keistana?" "ooooh, tidak menjadi persoalan, menolong orang merupakan perbuatan kebajikan, tapi

bagaimana caraku untuk menolongmu? Apakah "

Walaupun dia telah memberikan persetujuannya, namun dengan sorot mata curiga ditatapnya wajah Kim Thi sia agak sangsi. sambil tertawa getir Kim Thi sia berkata:

"sinona mengira aku berminat kepadanya, maka dia datang mencariku, padahal aku tidak tertarik sama sekali terhadap kaum wanita, apalagi dalam keadaan masa depan yang masih merupakan tanda tanya besar. Aku tak ingin melumat semangat yang berkobar didalam dadaku, oleh sebab itu. suheng, sanggupilah permintaanku dan hantarlah dia pulang keistananya."

Karena takut sipedang tembaga merasa menyesal, dengan cepat dia menambahkan lagi: "Dia adalah seorang gadis terhormat, seorang gadis bangsawan. selama aku berada

disampingnya, sering kali akupun merasa martabatku turut meningkat. Tapi suheng pasti berbeda, kau tentu tak akan membuat dia kehilangan muka bukan?"

sipedang tembaga tertawa nyaring, dengan sangat gembira dia menjawab:

"suheng tidak usah kuatir, persoalan kecil seperti ini bukan merupakan kesulitan bagiku." selesai berkata dia pun berjalan menuju kekamar tidur putri Kim huan...... Menggunakan kesempatan yang sangat baik ini Kim Thi sia segera ngeloyor keluar dari pintu gerbang dan menghembuskan napas panjang.

Diapun mengerti sekarang bahwa manusia yang paling susah dihadapi dikolong langit sesungguhnya adalah kaum wanita. Gara-gara urusan yang sepele pun dapat mengakibatkan terjadinya peristiwa berdarah dimana-mana.

Ketika mengalihkan sorot matanya, tiba-tiba ia melihat sipedang perak sedang munculkan diri dari rumah makan diseberang sana sambil menggapai kearahnya.

Buru-buru dia berjalan menghampirinya baru saja akan bertanya, siapa tahu sipedang perak telah mencegahnya untuk berbicara.

"Jangan bertanya dulu" bisiknya lirih. "Mari kita minum arak, sebentar kau bakal mengerti dengan sendirinya."

Kim Thi sia amat kesal, namun ia menurut juga untuk memasuki rumah makan dan minum arak sambil membisu.

Pengunjung kedai arak itu tidak terlalu banyak. namun sebagian besar pengunjungnya sudah berada dalam keadaan tujuh puluh persen mabuk. oleh sebab itu suara gurauan dan gelak tertawa mereka membuat suasana dikedai tersebut bertambah ramai. Diam-diam Kim Thi sia menggelengkan kepalanya berulang kali, pikirnya didalam hati:

"Maknya, benar-benar konyol, tak disangka ji suheng yang tersohor karena kebiasaannya hidup bersih, betah juga berkumpul ditempat semacam ini. "

Mendadak dia melihat sinar mata tajam mencorong keluar dari balik mata sipedang perak. dia sedang mengawasi dua orang pengunjung yang duduk didekat jendela sebelah timur.

Kim Thi sia segera mengerti, keanehan sikap suhengnya bukan tanpa sebab, tanpa terasa diapun turut mengamati kedua orang tadi.

orang yang duduk disebelah kiri adalah seorang kakek berusia lima puluh tahunan, mukanya cerah, matanya jeli dan rambutnya telah beruban, dia mengenakan sebuah jubah kuning yang longgar.

Disebelah kanannya duduk seorang kakek pula, dia berjenggot panjang, beralis mata tebal dan hitam, mukanya angkuh dan matanya memancarkan sinar tajam, sekilas pandangan dapat diketahui bahwa orang itu sombong dan tinggi hati.

Anehnya, diatas kepala dua orang kakek tersebut masing-masing mengenakan sebuah gelang emas yang tebalnya satu inci. Diatas gelang terikat dua buah tali berwarna merah bentuk maupun dandanannya istimewa sekali.

Namun biasanya, semakin aneh dandanan seseorang maka semakin aneh pula asal usulnya ditebak walaupun sipedang perak memiliki pengetahuan dan pengalaman yang cukup luas didalam dunia persilatan, toh susah juga untuk menduga asal usul kedua orang itu.

Baik tiga perkumpulan besar, sembilan partai, perkumpulan pengemis maupun jago-jago dari golongan putih serta hitam yang berpetualangan didalam maupun diluar daratan Tionggoan, belum pernah ada yang berdandan semacam itu......

Kim Thi sia sendiripun tak habis mengerti, namun ketika melihat keraguan abang seperguruannya, diapun berlagak sok pintar.

sambil bangkit berdiri, dia lalu berjalan menghampiri kedua orang kakek tersebut dengan langkah lebar.

sipedang perak ingin menghalanginya namun sayang tidak sempat lagi, pemuda tersebut sudah keburu beranjak pergi.

Kim Thi sia langsung menghampiri kedua orang tersebut, lalu tegurnya serunya secara tiba- tiba: "Tolong tanya, kalian berdua berasal dari mana?"

Pertanyaan itu muncul secara mendadak dengan suara yang lantang, seketika pengunjung lainnya dibuat terkejut hingga bersama-sama berpaling kearahnya.

Namun dua orang kakek itu tidak menggubris, berpalingpun tidak. Mereka masih melanjutkan minum araknya dengan pantai.

Tanpa terasa Kim Thi sia berpaling kemeja, disitu ia temukan ada puluhan guci kosong yang tergeletak diatas maupun bawah meja. Melihat itu, diam-diam ia menjulur lidahnya sambil berpikir: "Masa perut mereka tak pecah karena kebanyakan minum?"

Baru saja dia hendak berbicara, sipedang perak sudah keburu membentak keras: "sute, ayoh balik, jangan membuat gara-gara dengan orang lain."

Melihat sikap hambar kedua orang kakek tersebut dimana ia sama sekali tak digubris apalagi dihardikpula oleh abang seperguruannya. Kim Thi sia kontan saja menjadi tak senang hati.

Walaupun kakinya melangkah mundur kebelakang, namun sepasang matanya mengawasi terus kedua kakek dingin itu tanpa berkedip.

Tiba-tiba ia menemukan berapa ukiran huruf yang tertera diatas gelang emas dikepala kakek tersebut, terdorong rasa ingin tahu, dia pura-pura membungkukkan badannya, tapi menggunakan kesempatan tersebut diamatinya huruf-huruf itu dengan lebih seksama. Dengan cepat terbaca olehnya bahwa tulisan itu berbunyi: " Nirmala nomor sepuluh."

Bagaikan menemukan sebuah rahasia yang besar, kontan diapun berteriak keras: "Bagus sekali, rupanya kaulah si Nirmala sepuluh itu"

Kakek berjubah kuning yang diatas gelang emasnya tertera huruf " nirmala nomor sepuluh" itu mengerling sekejap kearahnya, lalu mengebaskan ujung bajunya secara tiba-tiba.

Kebasan itu kelihatannya sangat sederhana dan biasa, namun kuda-kuda Kim Thi sia seketika tergempur sehingga secara beruntun dia mundur sejauh lima langkah lebih dari posisi semula.

Atas kejadian ini, segenap pengunjung kedai arak itu kembali dibuat tercengang hingga bersama-sama menengok kearahnya.

Merah padam selembar wajah Kim Thi sia apalagi kehilangan muka dihadapan orang banyak. Ia menganggap peristiwa semacam ini merupakan suatu penghinaan suatu aib yang besar.

Tak heran kalau watak kerbaunya kembali menggelora, dengan suara menggeledek bentaknya: "Hey Nirmala nomor sepuluh, setelah indentitasmu kubongkar, lebih baik tak usah berlagak

pilon terus, kalau memang punya nyali, mari kita selesaikan persoalan ini diluar sana."

sementara itu sipedang perak telah muncul pula, katanya sambil tertawa dingin:

"Empek betul-betul seorang tokoh silat yang hebat, dengan ilmu siang sian khikang mu kau berhasil memukul mundur suteku sejauh lima langkah, aku merasa bergembira sekali dapat mencoba kehebatan tersebut."

Nirmala nomor sepuluh tetap membungkam, hanya ujung bajunya kelihatan bergetar tanpa terhembus angin sekalipun, deruan angin yang ditimbulkan ibaratkan angin topan yang sedang mengamuk bila menerpa muka, kulit akan terasa sakit bagaikan disayat.

sipedang perak yang berdiri agak dekat dengannya segera merasakan munculnya tenaga dorongan yang kuat sekali menumbuk dadanya. terkejut sekali, buru-buru hawa murninya dihimpun untuk memantekkan kakinya keatas tanah. Kendatipun demikian, ia toh terdorong juga oleh tenaga tekanan yang kuat tadi hingga sekujur tubuhnya terasa sangat tak nyaman. sambil tertawa tergelak segera serunya:

"Maaf, maaf rupanya ilmu silat yang dilatih empek adalah ilmu Kun goan khikang.

Haaaaah......haaaaah...^...haaaaah " sesudah berhenti sejenak. lanjutnya lebih jauh:

"Ilmu khikang semacam ini sudah seratus delapan puluh tahun lamanya punah dari dunia persilatan, sungguh tak kusangka hari ini bisa bersua dengan seorang ahli dalam kepandaian tersebut ditempat seperti ini. Aku benar-benar merasa beruntung sekali.

Haaaaah......haaaaah......haaaaah "

Agak berubah paras muka Nirmala nomor sepuluh ketika melihat sipedang perak sama sekali tak terpengaruh oleh tenaga serangannya mendadak dia bangkit berdiri dan melangkah keluar dari kedai tersebut, disusul pula kakek berjenggot merah dari belakangnya.

sementar itu Kim Thi sia telah menunggu kedatangan mereka berdua ditengah jalan, tatkala empat mata bertemu, tiba-tiba saja Kim Thi sia merasakan hatinya berdebar keras, agaknya sinar mata yang terpancar keluar dari balik mata kakek tersebut kelewat tajam dan menggidikkan hati. Pedang perak segera berseru cepat:

"Empek. bukankah kau menantangku untuk berduel. Nah, sekarang kau boleh mengeluarkan segenap kemampuan yang kau miliki agar kita bisa bertarung secara memuaskan"

"Kau adalah sipedang emas?" tegur Nirmala nomor sepuluh hambar.

Mendengar pertanyaan ini, diam-diam sipedang perak berpekik keheranan, rupanya pihak lawan masih belum mengetahui bentuk wajah lawannya seketika tantangan diberikan sekalipun banyak kejadian aneh sering dijumpai dalam dunia persilatan, namun kejadian seperti inijarang sekali dijumpai.

Akan tetapi bagaimanapun juga pihak lawan memang sengaja berniat mencari gara-gara dengan mereka, sudah barang tentu tantangan tersebut harus dilayani sebaik-baiknya.

Pedang perak sudah lama terjun kedalam dunia persilatan, pengalaman serta pengetahuannya sangat luas. Diam-diam diapu menduga kedua orang lawannya sebagai musuh yang tak puas dengan nama besar mereka. sehingga jauh-jauh datang kemari untuk menantangnya berduel.

Kini persoalannya telah berkembang menjadi begini rupa, yang sekalipun dia tahu musuh memiliki ilmu silat yang begitu sangat tangguh namun tak urung dia harus menghimpun kembali semangatnya untuk menghadapi tantangan tersebut, bagaimanapun juga dia tak boleh membiarkan nama besar mereka bersembilan rusuk karena peristiwa ini. Berpikir demikian, dengan suara lantang diapun berseru: "Aku adalah pedang perak. bertarung melawanku pun sama saja." Nirmala nomor sepuluh mendengus dingin:

"Hmmm, Nirmala nomor sebelas, serahkan bocah muda itu kepadaku."

"Baik, kita hadapi cecunguk itu secara terpisah" jawab si Nirmala nomor sebelas. selesai berkata, dengan langkah lebar dia segera berjalan menghampiri Kim Thi sia. sementara itu Kim Thi sia sudah berpikir:

"Asal usul kedua orang ini aneh dan misterius sekali. Dia disebut Nirmala nomor sepuluh sedang yang ini menyebut dirinya Nirmala nomor sebelas berdasarkan nomor urut. Bukankah ini berarti diatas kedua orang itu masih terdapat nomor satu hingga nomor sembilan? HHmmmm, bila ditinjau dari gerak gerik mereka, sudah pasti merupakan jago-jago persilatan yang berilmu tinggi, mengapa suheng tidak mengetahui asal usul mereka ?"

Belum selesai ingatan tersebut melintas lewat, Nirmala nomor sebelas telah bertanya kepadanya:

"Kau adalah pedang apa?" "Pedang rembulan dingin"

Nirmala nomor sebelas tertegun seketika, lalu gumamnya dengan suara lirih:

"Aneh betul, rasanya diantara sembilan pedang tidak terdapat pedang tersebut. Ehmmm, dia pasti bukan sasaran kami. Aku tak boleh melukainya secara sembarangan." Bergumam sampai disini, diapun segera berkata: "Pedang rembulan dingin, silahkan mundur. Yang kami cari adalah sembilan pedang dari dunia persilatan, kau bukan yang termasuk didalam sembilan pedang karenanya kuharap kau jangan mencampuri urusan ini."

"Aku bernama Kim Thi sia pernah mendengar nama tersebut?" seru sang pemuda lagi. Jelas dengan perkataan tersebut dia maksudkan begini:

"Kim Thi sia adalah adik seperguruan dari sembilan pedang dunia persilatan maka persoalan dari abang seperguruannya berarti adik seperguruannya berhak untuk mencampurinya juga . "

Namun nirmala nomor sebelas segera manggut- manggut pelan seraya berkata dengan lantang:

"Aku tak peduli siapakah dirimu, asal kau bukan anak murid dari Malaikat pedang berbaju perlente. Akupun tak berhak untuk melukai dirimu, ayoh cepat mundur."

"Jadi kau mempunyai ikatan dendam dengan Malaikat pedang berbaju perlente?" tanya Kim Thi sia semakin keheranan.

"sudahlah, kau tak usah mencampuri urusan ini" sela Nirmala nomor sebelas habis kesabarannya. "Kau harus melaksanakan tugas menurut perintah saja. "

"Ehmmm. kalau begitu, diatas mereka berdua tentu masih ada jagoan yang lebih hebat lagi"

pikir Kim Thi sia tanpa terasa. "Aduh celaka, kedua orang inipun sudah cukup lihay, bisa dibayangkan betapa hebatnya atasan mereka "

setelah berhenti sejenak, diapun berpikir lebih jauh:

"Aaaaah, tidak bisa Aku tak boleh digertak oleh ucapannya itu, sekalipun ia mempunyai atasan yang jauh lebih hebat, aku sebagai murid suhu tak boleh putus asa begini. Aku mesti mengempos semangat untuk beradu dengannya. "

Begitu keputusan diambil keberaniannyapun segera meningkat, segera bentaknya singkat: "Aku adalah murid terakhir dari Malaikat pedang berbaju perlente, kau boleh menyerangku

sebisa mungkin."

"sungguhkah ini? Kau berani bersumpah?" teriak Nirmala nomor sebelas keras-keras. "Hey, kalau pingin bertarung ayolah bertarung, apalah artinya main sumpah segala?"

Baru selesai perkataan itu diutarakan, tampak sesosok bayangan manusia berkelebat lewat dengan kecepatan yang luar biasa, belum lagi orangnya tiba dua gulung tenaga pukulan yang sangat dahsyat telah menerjang tiba dengan sangat hebatnya.

Dalam waktu singkat Kim Thi sia telah mengambil keputusan untuk menghadapi musuhnya dengan segala kemampuan yang dimiliki, dia membentak keras dan mengayunkan pula telapak tangannya untuk melepaskan sebuah pukulan balasan.

Empat gulung tenaga pukulan yang maha dahsyat seketika bertumbukkan lebih kurang dua depa dihadapan tubuhnya dan terjadilah suara ledakan yang sangat memekikkan telinga....

"Blaaaammmmmmm."

Kim Thi sia menderita rugi karena tak sempurna dibidang tenaga dalam, tubuhnya seketika tergempur hingga roboh terjungkal keatas tanah.

sekujur badannya seketika terasa linu dan kaku sehingga tak berani bergerak secara sembarangan. Diam-diam dihimpunnya hawa murni dengan ilmu Ciat khi mi khi untuk memusatkan seluruh kekuatannya didalam dada.

Tak selang berapa saat kemudian, hawa murninya telah berhasil dihimpun kembali dalam pusar dan disalurkan mengelilingi seluruh badan.

Dengan begitu hawa murninyapun meningkat berapa kali lebih hebat, cepat-cepat dia melompat bangun dari atas tanah. Waktu itu Nirmala nomor sebelas tidak terlalu memperhatikan dirinya lagi, disangkanya pemuda itu tak mampu menahan gempuran sehingga tak berkemampuan lagi untuk melancarkan serangan lebih jauh.

Kemudian sambil bergendong tangan ia bergumam seorang diri:

"siapa suruh kau mengaku sebagai murid Malaikat pedang berbaju perlente. sekarang jangan salahkan kalau aku berhati keji dan bertindak kejam kepadamu."

secara diam-diam Kim Thi sia menyusup kebelakang tubuhnya, namun musuhnya sama sekali tidak merasa, mungkin saja seluruh perhatiannya sudah tenggelam dalam lamunan.

Tiba-tiba saja Kim Thi sia berteriak keras: "Hey, mari kita bertarung lebih jauh"

Dengan cepat Nirmala nomor sebelas berpaling, sepasang matanya yang tajam bagaikan sembilu mengawasi pemuda itu berapa saat lamanya, kemudian baru berkata dengan suara dalam:

"sobat kecil, tenaga dalammu sangat sempurna, tak kusangka tenaga pukulanku sebesar enam bagian tak berhasil merobohkan dirimu. Kini akan kutambah dengan dua bagian lagi. Nah, sambutlah dengan berhati-hati."

sepasang telapak tangan segera digosokan satu dengan lainnya lalu dilontarkan kuat-kuat kemuka.

Tampaklah segulung tenaga pukulan yang sangat kuat, diselingi deruan angin serangan yang maha dahsyat langsung meluncur dan menggempur kedepan......

setelah mengalami pelbagai pertarungan sengit, kini pengalaman Kim Thi sia dalam menghadapi pertempuran sudah cukup matang, dia tahu tenaga dalamnya masih ketinggalan jauh dibandingkan lawannya, ini berarti dia tak boleh menghadapi serangan lawan dengan keras melawan keras.

Maka sambil berkelit kesamping, dia sambut serangan musuh dengan menggunakan jurus " kecerdikan menguasahi seluruh jagad".

Nirmala nomor sebelas melejit keudara sambil membabat kebahu musuh, belum lagi serangannya tiba. segulung kekuatan yang maha dahsyat telah mengancam tiba.

Kim Thi sia segera memutar kaki kirinya setengah langkah lalu sambil melanjutkan gerak serangan "kecerdikan menguasahi seluruh jagad" nya dia bendung ancaman musuh kearah luar.

Berubah hebat paras muka Nirmala nomor sebelas ketika melihat tiga ulasan jurus serangannya yang begitu dahsyat berhasil dibendung oleh musuh secara mudah. Bahkan menghambat sama sekali perkembangan berikut ketiga ulasannya untuk melangsungkan jurus-jurus membunuh yang lebih hebat. Dengan suara yang amat keras segera bentaknya:

"Hey sobat kecil, beranikah kau mempergunakan jurus serangan tersebut sekali lagi?"

" Kenapa tidak? Aku justru akan menggunakan gerak serangan tersebut sekali lagi" sahut Kim Thi sia.

Mendadak Nirmala nomor sebelas melejit ketangah udara, lalu sambil mengincar posisi serta lingkungan yang mungkin dipakai untuk menghindarkan diri, telapak tangan kiri dan jari tangan kanannya mendadak saja melakukan sebuah babatan diudara dengan gerak serangan yang luar biasa cepatnya.

Kim Thi sia sama sekali tidak jeri. Setelah memuntahkan tenaga pukulannya tiba-tiba dia bertekuk pinggang sambil memutar badan. Gerak serangannya masih tetap dipakai jurus "kecerdikan menguasahi seluruh jagad".

Nirmala nomor sebelas agak tertegun, tapi dengan cepat dia menemukan sebuah titik kelemahan, telapak tangannya kembali direntangkan menghantam dagu lawan. sementara kakinya melepaskan tendangan kilat kearah jalan darah Heejut hiat, disusul kemudian serangkaian tendangan berantai sama sekali mengunci kemungkinan serangan lawan.

Kecepatan dalam perubahan jurus serangan orang ini sungguh mengejutkan hati. Bukan saja dalam waktu singkat dia mampu menemukan titik kelemahan dibalik serangan musuh, bahkan kecepatan dan kerepotan serangannya pun sangat mengagumkan.

Kim Thi sia mulai gugup setelah menghadapi desakan hebat dari musuhnya yang sejak pertama mengeluarkan pukulan dengan ilmu Tay goan sinkang. langkah dan gerak serangannya menjadi kalut dan gugup,

Memanfaatkan kesempatan disaat musuhnya mulai gugup dan kalut. Nirmala nomor sebelas segera menghimpun kembali tenaga pukulannya dan langsung dihantamkan keatas ubun-ubun pemuda itu.

Kim Thi sia pejamkan matanya rapat-rapat, tanpa ambil perduli bagaimana akibatnya dia mulai melepaskan serangan secara mengawut.

sementara telapak tangan kirinya mengeluarkan jurus "kecerdikan menguasahi empat samudra" maka tangan kirinya menyambut serangan musuh dengan jurus "pukulan menguasahi seluruh semesta" dari ilmu pukulan panca Buddha.

Rupanya disamping dia mengerahkan tenaga pukulan untuk mendesak lawan, secara diam- diam pun dia persiapkan ilmu Ciat khi mi khi untuk menghisap tenaga murni musuh. Bayangan manusia yang bertumbuk menjadi satu segera berpisah kembali. "Blaaaammmmmm. "

Kedua belah pihak telah saling beradu pukulan satu kali. Alhasil kedua belah pihak sama-sama tidak menderita luka apapun. Nirmala nomor sebelas mulai terkesiap pekiknya dihati:

"Sungguh menyesatkan"

Rupanya dalam serangkaian serangan dan gempuran yang nampak nyata hampir berhasil mencapai sasarannya, setiap kali pula telah terjadi perubahan besar ditengah arena.

Dia tak habis mengerti mengapa Kim Thi sia selalu berhasil meloloskan diri dari cengkeraman mautnya setiap kali dia mengira serangannya pasti akan berhasil dengan sukses. Mungkinkah Kim Thi sia memiliki serangkaian ilmu simpanan yang dapat memusnakan setiap ancamannya.

Dalam keadaan begini dia mulai curiga, jangan-jangan ilmu silat yang dimilikinya telah punah? sambil menghimpun tenaga dalamnya kembali dia melepaskan sebuah pukulan dengan tangan

kirinya keatas sebatang pohon yang tumbuh disisinya, dia ingin membuktikan apakah tenaga dalamnya benar-benar sudah punah? "Blaaaammmmmmm. "

Ternyata batang pohon tersebut tak mampu menahan gempurannya, batang tadi patah menjadi dua bagian dan segera roboh keatas tanah.

Dari sini terbukti sudah bahwa tenaga dalamnya sama sekali tak punah, malah masih segar dan berkekuatan penuh, tapi mengapa Kim This ia sanggup menahan gempurannya. Kejadian ini benar-benar mencengangkan hati dan sama sekali tak masuk diakal.

Dalam pada itu, Nirmala nomor sepuluh telah terlibat pula dalam pertarungan yang amat seru melawan sipedang perak, pukulan yang menderu- deru membuat suasana disekeliling situ amat menggetarkan hati.

Ditinjau dari kekuatan kedua belah pihak yang berimbang, rasanya dalam lima puluh gebrakan berikutpun masih sukar untuk diketahui siapa lebih unggul diantara mereka berdua.

Nirmala nomor sebelas segera berpikir:

"Jika aku tak mampu untuk mengunggulinya, aku tentu tak punya muka lagi untuk pulang dan berjumpa dengan "Dewi Nirmala" yaa. nampaknya bila aku gagal membunuhnya hari ini, berarti

akulah yang harus mati lebih duluan " semacam perasaan sedih yang sudah terlalu lama terhimpun didalam dadanya segera bergelora keras, mendadak saja terpancar keluar cahaya merah yang penuh mengandung napsu benci dan amarah yang meluap-luap. Melihat itu, Kim Thi sia segera berpikir:

"Aneh benar orang ini, masa tak mampu mengungguli orang lain dia lantas marah-marah?

Hmmm, tabiat orang ini terlalu jelek."

Terdengar dia berpekik nyaring dengan suara yang melengking, menyusul pekikkan tersebut tampak tubuhnya yang tinggi besar melesat datang dengan kecepatan luar biasa, berada ditengah udara, tubuhnya berjumpalitan berapa kali bagaikan ular kecil, lalu melancarkan tendangan maut ke depan.

Kim Thi sia tidak mengetahui gerak serangan apakah yang digunakan lawan, dia hanya tahu gaya serangan lawan persis seperti gaya menendang bola ditengah udara, kemanapun dia berusaha untuk menghindarkan diri, rasanya sulit untuk meloloskan diri dari tendangan tersebut.

Dalam keadaan begini diapun berdiri tak berkutik sambil mengawasi serangan lawan tanpa berkedip. tiba-tiba saja terlihat tendangannya dirubah menjadi serangan pukulan, lengannya yang panjang menyapu datang dengan sepenuh tenaga dan tahu-tahu sudah berada hanya setengah depa dihadapan tubuhnya......

Mendadak Kim Thi sia menarik napas panjang, sambil steengah berjongkok ia memaku telapak kakinya diatas tanah lalu bergoyang kian kemari secara kuat-kuat.

Dua gulung tenaga gempuran yang berkekuatan amat dahsyat itupun segera melintas lewat dari sisi badannya.

sesungguhnya gerak serangan semacam ini bukan termasuk suatu ilmu silat yang luar biasa, melainkan hanya ciptaannya sendiri didalam menghadapi situasi tersebut. Karena dia menganggap hanya berbuat demikian saja baru bisa meloloskan diri dari gempuran lawan, maka diapun berbuat sesuai dengan kehendak hatinya itu.

siapa sangka justru dengan gerakan inilah dia berhasil memusnahkan serangan musuh yang maha dahsyat itu.

Ketika serangannya gagal mencapai sasaran, Nirmala nomor sebelas segera melayang turun keatas tanah, dalam sekejap mata tiba-tiba dia merasa bahwa tenaga serangan musuh ternyata sepuluh kali lipat lebih dahsyat daripada apa yang diduganya semula dia semakin tak berani bertindak gegabah.

sambil bertekuk pinggang, tiba-tiba saja telapak tangan kirinya yang melancarkan bacokan kebawah untuk memancing perhatian Kim Thi sia, sementara tangan kanannya bagaikan selincah seekor ular menggulung kedepan dengan gerakan yang cepat dan tepat, persis menghantam diatas bahu pemuda tersebut.

Kim Thi sia menjerit kesakitan dan segera roboh terjungkal keatas tanah.

Dengan berhasilnya menggempur musuh hingga jatuh terjungkal, perasaan tak puas dihati Nirmala nomor sebelas pun agak terobati.

sebaliknya Kim Thi sia justru naik pitam karena terserang oleh pukulan tersebut dengan cepat dia melompat bangun, lalu balas melancarkan gempuran dengan jurus " kekerasan menguasahi semua bumi" dan " Kelembutan mengatasi air dan api".

Nirmala nomor sebelas merupakan jago lihay dunia persilatan yang jarang ditemui dalam dunia persilatan, namun apa yang sedang dialaminya kemudian ternyata tak jauh berbeda seperti apa yang dialami para jago yang pernah bertarung melawan Kim Thi sia.

Dalam keadaan kabur dan bingung tak tahu apa yang terjadi, dia merasa gelagat tidak menguntungkan, akibatnya reaksi yang dilakukan secara tergopoh-gopoh membuat keadaannya mengenaskan sekali. Manfaatkan kesempatan d isaat musuhnya mundur, dengan cepat Kim Thi sia mengambil suatu keputusan didalam hati.

"Aku harus memanfaatkan kesempatan disaat pikiran musuh sedang kabur untuk melancarkan serangan balasan^"

Kini dia cukup memahami pelbagai tindakan bodoh yang pernah diperbuatnya dimasa lampau, maka pikirnya lebih jauh:

"Aku harus menyerang dengan andalkan keampuhan ilmu Tay goan sinkang yang dikombinasikan dengan jurus serangan ampuh untuk merobohkan musuh. Aku yakin dengan kombinasi kedua macam kepandaian tersebut, betapapun lihaynya seseorang niscaya akan berhasil juga kurobohkan."

Begitu keputusan diambil dia segera membentak keras dan menyerang dengan jurus-jurus serangan "Kedamaian menyelimuti sembilan langit" serta "mengebas baju melenyapkan debu".

Nirmala nomor sebelas amat terperanjat ketika pandangan matanya menjadi kabur tapi tanpa berpikir panjang ia segera meloloskan pedang lemasnya dari pinggang dan tanpa membedakan mana utara mana selatan secara ngawur dia memutar senjata untuk melindungi tubuhnya.

Hawa pedang yang berlapis-lapis segera menyelimuti angkasa dan terasa menyayat badan, ternyata Kim Thi sia tak berhasil mendekati tubuhnya.

Baru saja jurus serangan terakhir habis dipakai dan sebelum Nirmala nomor sebelas sempat menentukan posisi musuh secara tepat, dia telah melanjutkan kembali serangannya dengan jurus "hembusan angin mencabut pohon" serta "mati hidup ditangan takdir".

Dalam waktu singkat apa yang terlihat oleh Nirmala nomor sebelas cuma selapis bayangan tangan yang amat menyilaukan mata. Pada hakekatnya dia tak bisa mengetahui secara pasti dimanakah posisi musuhnya sekarang, dalam kagetnya dia segera mengayunkan pedangnya dan menyerang secara mengawur.

Kim Thi sia pun bertindak-jauh lebih pintar, memanfaatkan kesempatan disaat pedang musuh tak berhenti membacok badannya, dia gunakan peluang tadi untuk menendang tubuh bagian bawahnya.

Mimpipun Nirmala nomor sebelas tidak menyangka kalau musuhnya bakal menggunakan jurus serangan tersebut. Tak ampun lagi dia gagal untuk menghindarkan diri dan segera tersapu jalan darah Mu teng hiatnya oleh tendangan tadi hingga roboh terjungkal diatas tanah. Pedang lemasnya pun terlepas dari cekalan dan mencelat dikejauhan situ.

Kim Thi sia segera menerkam kedepan dan langsung mengayunkan tangannya menghadiahkan sebuah bacokan.

Pertarungan yang berlangsung cukup lama membuat pikiran dan kesabaran pemuda tersebut turut terpengaruh. Kini dia tahu bagaimana caranya merobohkan musuh untuk mempertahankan kehidupan sendiri

Maka begitu Nirmala nomor sebelas roboh terjungkal keatas tanah ia segera menerjang kemuka dan menyerang dengan segenap kekuatan yang terhimpun.

Gempurannya kali ini persis menghantam diatas jalan darah sang seng hiat yang merupakan jalan darah kematian ditubuh Nirmala nomor sebelas lebih tangguhpun tak urung kepalanya terkulai juga dalam keadaan hampir sekarat. Mendadak Kim Thi sia melompat bangun seraya berteriak: "Aduuuh, kenapa aku berbuat sekejam ini."

Ia menyaksikan Nirmala nomor sebelas membelalakkan matanya lebar-lebar. seperti merasa tak rela menghadapi kematian tersebut, hal mana mebuat pikiran dan perasaan Kim Thi sia bertambah berat, dia merasa hatinya bagaikan dibebani batu besar yang berat sekali, sekujur badannya gemetar keras...... Pemuda itu merasa sepasang mata orang itu merah membara sambil memancarkan kebencian yang luar biasa. Kim Thi sia tak berani menengok kearahnya dan buru-buru menyingkir kesamping.

Mendadak terdengar Nirmala nomor sebelas berseru dengan suara yang sangat lemah. "sobat kecil.....ke. kemarilah."

Dengan cepat Kim Thi sia membalikkan badan, rasa ngeri mencekam seluruh perasaan hatinya. "Kau sedang memanggilku?" dia bertanya ragu. sambil menghela napas Nirmala nomor sebelas

mengangguk.

"Yaa.....aku. aku sedang memanggilmu."

"Tidak aku tidak mau kesitu, kau pasti akan manfaatkan kesempatan itu untuk menuntut balas" seru Kim Thi sia sambil menggelengkan kepalanya berulang kali. Nirmala nomor sebelas sebera tertawa getir.

"Dengan keadaanku sekarang, masih mampukah bagiku untuk mencelakai orang lain?"

Kim Thi sia tahu, apa yang dikatakan memang merupakan sejujurnya maka sambil menghimpun tenaga dia berjalan kedepan dan menghampiri orang tersebut.

Mendadak Nirmala nomor sebelas tidak mampu menahan diri lagi, pelan-pelan dia menundukkan kepalanya.

Menyaksikan keadaan itu, timbul perasaan iba dihati kecil Kim Thi sia, buru-buru dia maju mendekati serta memeluk tubuhnya dalam rangkulan. sekarang ia sudah melupakan sama sekali perasaan takut, ragu dan curiganya. sambil menggoyangkan lengannya dia berseru: "Empek. pesan apakah yang hendak kau tinggalkan?"

Nirmala nomor sebelas tak mampu bersuara lagi, bagaikan orang mengigau dia berbisik: "sobat cili......musuh besar kami adalah..... adalah tiga dewa Nirmala. Bu....bukan dirimu. "

Kim Thi sia harus menempelkan telinganya diatas dada orang itu untuk bisa menangkap gumamnya dengan jelas. Terdengar orang itu berbisik lagi:

"Musuh......musuh kita adalah......dewi Nirmala musuh kita adalah dewi nirmala."

"Empek. katakan kepadaku, siapakah dewi Nirmala itu?" desak Kim Thi sia cepat.

sambil berseru dia menggoyangkan tubuh Nirmala nomor sebelas tiada hentinya tapi sayang Nirmala nomor sebelas telah menghembuskan napasnya yang penghabisan.

Pelan-pelan pemuda itu bangkit berdiri Disekanya air keringat dengan sapu tangan lalu gumamnya keheranan:

"Mungkinkah dewi Nirmala adalah atasan mereka. ?^

Mendadak terdengar suara deruan angin pukulan yang tajam dan menderu- deru bergema memecahkan keheningan, ternyata suara tersebut berasal dari arena pertarungan dimana sipedang perak berada.

Kim Thi sia segera mengalihkan perhatiannya kearah situ, tampak olehnya langkah kakinya sipedang perak kelihatan berat sekali. setiap langkah kakinya selalu meninggalkan bekas telapak sedalam tiga inci lebih.

sebaliknya Nirmala nomor sepuluh pun nampak amat serius, jubah kuningnya berkibar terus mesti tanpa hembusan angin, dia sedang bergerak mengitari tubuh pedang perak.

Sorot mata kedua belah pihak yang tajam bagaikan sembilu saling bertatapan tanpa berkedip. jelas pertarungan mereka sudah mencapai pada puncaknya.

Kim Thi sia pun mengerti pertarungan antara dua tokoh sakti membutuhkan konsentrasi sepenuhnya, barang siapa bertindak salah saja, niscaya akan berakibat kehilangan nyawa, oleh karena itu dia tak berani mengacau perhatian sipedang pera k diawasinya pertarungan tersebut dari sisi arena tanpa melakukan sesuatu tindakanpun.

Pelan-pelan Nirmala nomor sepuluh mengayunkan telapak tangannya dan didorong kehadapan pedang perak. setiap gerakannya dilakukan sangat lamban, tak jauh berbeda seperti permainan kanak-kanak saja.

Begitu pula halnya dengan sipedang perak. dia menyambut datangnya serangan tersebut dengan wajah amat serius.

Menyusul bentrokan yang terjadi dalam arena terjadi deruan angin puyuh yang mengerikan hati. Kedua orang itu sama-sama terdorong mundur satu langkah kebelakang.

Kim Thi sia tahu, angin puyuh tersebut terjadi sebagai akibat bentrokan dari gempuran dua orang tersebut, tentu saja dia semakin tak berani melaporkan berita kematian Nirmala nomor sebelas kepadanya.

sementara itu dua orang itu bergerak terus sambil saling menggempur tiga kali, setiap kali bentrokan terjadi, dua orang itu pasti terdorong mundur kebelakang, peluh sebesar kacang kedelai telah bercucuran keluar membasahi wajah mereka. Kim Thi sia yang menyaksikan hal tersebut, diam-diam berpikir:

"Bila aku yang mesti menghadapi pertarungan semacam ini, sudah pasti aku bakal mati kesal."

Dalam waktu singkat, kedua orang itu sudah berubah posisi, kini punggung sipedang perak menghadap kejalan raya, sedangkan punggung Nirmala nomor sepuluh menghadap kerumah penginapan Liong pia.

Dengan gerakan yang lamban sekali sipedang perak melontarkan sebuah pukulan kedepan, bila ditinjau dari sikapnya seakan-akan dia merasa kepayahan sekali karena dibebani dengan besi seberat ribuan kati. Hal ini membuat Kim Thi sia yang cekatan segera menyadari bahwa suatu badut dahsyat segera akan berlangsung.

Dengan bersusah bayah Nirmala nomor sepuluh melontarkan pula sebuah pukulan peluh dan hawa panas mengembang keluar dari jidatnya dan membasahi seluruh badan. Mendadak......

Disaat menjelang berlangsungnya angin badai, tiba-tiba dari balik rumah penginapan Liong pia muncul sesosok tubuh manusia dan tanpa mengucapkan sepatah katapun orang itu menyelinap kebelakang punggung Nirmala nomor sepuluh bagaikan sukma gentayangan.

Kim Thi sia dapat melihat dengan jelas bahwa orang itu adalah pedang tembaga tapi sebelum dia sempat mengucapkan sesuatu, terdengar Nirmala nomor sepuluh menjerit kesakitan dengan suara yang memilukan hati, lalu roboh terjungkal keatas tanah.

sewaktu Kim Thi sia memperhatikan lagi dengan seksama, dia saksikan dipunggung Nirmala nomor sepuluh telah tertancap sebilah pedang tembaga yang tajam....

Dengan cepat dia menanggapi perbuatan abang seperguruannya ini sebagai suatu perbuatan bejad yang munafik dan licik memalukan tanpa terasa dia berpaling kearah pedang perak dengan harapan abang seperguruannya ini menegur tingkah laku sipedang tembaga yang terkutuk.

siapa tahu pedang perak tidak memberi teguran atau komentar apapun, seakan-akan baginya peristiwa semacam ini merupakan sesuatu yang wajar.

Tiba-tiba dia menyaksikan Nirmala nomor sepuluh membalikkan badan sambil melompat bangun, lalu serunya sambil menghembuskan napas panjang. "Aaaai pembunuh diriku adalah

Dewi Nirmala"

sehabis mengucapkan perkataan tersebut dia segera memuntahkan darah segar dan roboh terjungkal keatas tanah.

Pedang perak menyeka peluh yang membasahi wajahnya, lalu tanpa mengucapkan sepatah katapun ia menjatuhkan diri duduk bersila diatas tanah dan mengatur pernapasan untuk memulihkan kembali kekuatan tubuhnya. sebaliknya sipedang tembaga segera menjengek sambil tertawa dingini "Menyeramkan betul tampang setan tua ini."

Ia cabut keluar pedang tembaganya, seakan-akan semua perbuatannya memang sudah diatur begitu. sambil membersihkan ujung pedangnya dari noda darah, katanya lebih jauh dengan tenang:

"Biarpun ilmu silat yang dimiliki Nirmala nomor sepuluh sangat tangguh sayang dia cuma seorang diri. Tak mungkin bisa menghadapi percobaan semacam ini."

"Beginikah yang dimaksudkan suheng sebagai suatu percobaan?" tanya Kim Thi sia cepat. sipedang tembaga tidak berkata apa-apa, dia hanya melirik sekejap kearahnya, lalu dengan

langkah lebar berjalan masuk kembali kedalam rumah penginapan Liong pia.

Kim Thi sia sangat tak senang hati, terutama terhadap sikap abang seperguruannya yang sama sekali tak mengacuhkan pertanyaanya itu.

sekembalinya kekamar, diapun segera menjatuhkan diri keatas pembaringan dan tidak memikirkan persoalan itu lagi.

Pedang perak menitahkan para pelayan untuk mengbubur jenasah Nirmala nomor sepuluh dan sebelas.

sementara itu benaknya telah dipenuhi oleh masalah tersebut, menurut analisanya dari sebutan nomor sepuluh dan sebelas, bisa ditebak kalau masih ada pula jago-jago yang memakai urutan nomor nirmala nomor satu sampai sembilan, terutama atasan mereka yang disebut Dewi Nirmala, bisa jadi merupakan jago diantara jago.

Nama Dewi Nirmala belum pernah terdengar didalam dunia persilatan, begitu- juga diluar perbatasan, tapi ilmu silatnya bisa dilihat dari kemampuan Nirmala nomor sepuluh, anak buahnya saja sudah begitu hebat, apalagi atasan yang menguasahinya.

Nirmala nomor sepuluh jelas datang kesitu untuk melaksanakan perintah, apalagi kalau ditinjau dari sikapnya menjelang mati, dia bukan saja tidak membenci terhadap pembunuhnya, malahan berteriak "Dwwi nirmalalah pembunuhku", hal ini menjelaskan kalau tantangan dari Nirmala nomor sepuluh bukan timbul dari kemauannya sendiri, melainkan Dewi Nirmalalah yang memaksakan terjadinya peristiwa itu. Diam-diam pedang perak pun berpikir:

"orang yang disebut Dewi Nirmala itu, sudah pasti merupakan seorang manusia yang gemar membunuh."

Iapun tahu kedatangan nirmala nomor sepuluh adalah untuk mencari gara-gara dengan sembilan pedang. Padahal seingatnya sembilan pedang tidak memiliki musuh setangguh ini, hal mana bisa disimpulkan bahwa persoalan ini merupakan dendam sakit hati yang dibuat Malaikat pedang berbaju perlente dimasa lalu.

oleh sebab Malaikat pedang berbaju perlente sudah keburu berpulang kealam baka, maka dewi nirmalapun melampiaskan rasa benci dan dendamnya kepada sembilan pedang.

Andaikata sipedang tembaga tidak melancarkan serangan, tak nanti sipedang perak memiliki kemampuan untuk membinasakan Nirmala nomor sepuluh, maka diapun berpendapat bahwa dirinya pasti bukan tandingan si Dewi Nirmala. Berpikir sampai disitu, kontan saja hatinya terasa berat dan murung sekali.

selama ini sipedang besi menutup diri didalam kamar sambil bersemedi, dia sedang menghimpun tenaganya sambil bersiap-siap untuk menghadapi pertarungannya melawan Pek kut sinkun keesokan harinya.

sebaliknya sipedang tembaga berdiri ditepi jendela, sambil termangu-mangu, sementara sepasang telinganya mendengarkan pembicaraan dari putri Kim huan serta Nyoo soat hong yang berada dikamar sebelah. Walaupun putri Kim huan merasa tak senang hati atas sikap mesrahnya dengan Kim Thi sia.

Akan tetapi berhubung hanya dia seorang yang wanita, terpaksa mereka harus bergaul sewajarnya.

sebalinya Nyoo soat hong tidak mengetahui jalan pikirannya, dia mengajak gadis itu mengobrol kesana kemari, ketika menyinggung masalah Kim Thi sia tiba-tiba katanya sambil tertawa:

"Dia mirip seorang bocah liar yang tidur disamping jalan bukit, untung saja aku dan abangku secara kebetulan lewat disitu kalau tidak mungkin ia sudah menjadi mangsa serigala atau harimau kelaparan- "

Melihat putri Kim huan mendengarkan dengan serius, gadis itu makin bersemangat katanya lebih jauh:

"Berapa bulan berselang dia masih merupakan seorang pemuda yang ketolol-tololan, tingkah laku maupun sepak terjangnya sama sekali tak tahu aturan, selama berdia dirumahku, diapun bersantap secara rakus dan bertingkah laku tak sopan. Ketika kuberi petunjuk kepadanya dia malah memusuhi aku waktu itu aku marah sekali, kuanggap dia tak mirip manusia, tapi lebih cocok dibilang harimau liar dari gunung, tapi anehnya ayahku sangat menyukai dirinya. Padahal ayah paling sayang kepadaku, tapi sejak kedatangannya, aku sering menjadi sasaran kegusarannya gara-gara dia. Waaah. penghidupanku selama itu benar-benar amat menderita

dan sedih sekali, tapi sekarang aku baru dapat memahaminya aku mengerti sesungguhnya dia adalah seseorang yang setia, jujur dan amat berperasaan- "

Putri Kim huan hanya tertawa hambar tanpa memberikan pernyataan apapun, sipedang tembaga pun berpendapat gadis itu mempunyai hubungan yang cukup akrab dengan Kim Thi sia, dia berharap dari mulut gadis itu berhasil dikorek sesuatu keterangan yang berarti. Namun sewaktu tidak mendengar sesuatu yang berarti dia menjadi kecewa sekali.

Mendadak Nyoo soat hong berkata lagi sambil menghela napas panjang:

"Manusia semacam dia memang paling susah dipahami orang lain, aku rasa semenjak dia meninggalkan rumahku, sudah pasti banyak penderitaan yang dialaminya."

Putri Kim huan segera teringat kembali dan bagaimana dia memerintahkan anak buahnya untuk menghajar pemuda itu habis-habisan, maka segera ujarnya:

"Tulangnya kelewat keras, pada hakekatnya tak takut digebuki, percuma kau kelewat menguatirkan keselamatan jiwanya . "

Merah padam selembar wajah Nyoo soat hong, sambil menundukkan kepalanya dia berkata: "Antara aku dengan dia sama sekali tak terjalin hubungan apa-apa. Aku tak lebih hanya merasa

kagum dan hormat atas kejujuran serta kesetia kawanannya, maka akupun sering menyinggung tentang dia."

Menyelami arti dari perkataan "tak terjalin hubungan apa-apa" itu, tergerak perasaan putri Kim huan, dia segera bertanya:

"Jadi dia bukan kekasihmu? Aku lihat hubunganmu dengannya amat mesrah dan hangat. sudah jelas berbeda sekali dengan hubungan orang lain."

"Kau anggap aku cukup hangat bersikap dengannya?"

Berbicara sampai disitu, dia mendongakkan kepala sambil menatap kearahnya lalu berkata lebih jauh:

"Dia adalah kakak angkatku, tentu saja hubungan kami jauh berbeda dengan hubunganku terhadap orang laini"

Putri Kim huan segera tertawa genit, selanya:

"Mari.. kita tak usah membicarakan persoalan itu lagi." Kemudian setelah berhenti sejenak. sambungnya lebih jauh: "Aku selalu berpendapat bahwa orang ini memiliki sesuatu cacad, seperti misalnya sewaktu kita bernyanyi sambil menikmati bulan purnama. Dia justru mengusi ketenangan kita secara kasar, pada hakekatnya sama sekali tak mengerti soal seni. Ada katanya dalam gusarku aku mengumpatnya seperti korban. "

Nyoo soat hong segera menghela napas panjang.

"Yaa benar, justru dalam hal inilah dia menimbulkan kesan yang kurang sedap bagi orang lain. Aku pikir situasi dan lingkunganlah yang menciptakan hal tersebut baginya, menurut apa yang dia ceritakan, semenjak dilahirkan didunia ini dia selalu menjalani kehidupan yang terpencil diatas bukit yang jauh dari keramaian dunia. Disitu tiada manusia lain, bahkan sejak kecilpun tak pernah menerima pendidikan yang beradab, itulah sebabnya tingkah lakunya berbeda sekali dengan kita yang jauh lebih majujalan pemikirannya. "

Mendadak seperti teringat akan sesuatu, kembali dia berkata lebih jauh:

"Aku cukup memahami tabiat orang ini, kalau sedang baik maka menurutnya seperti seekor kucing, tapi kalau sudah mengambek jeleknya macam kerbau liar, tak heran harga dirinya merasa tersinggung ketika kau memakinya sebagai kerbau, tentu saja dia gusar sekali."

"Yaa, dia memang membalasku dengan kata-kata yang jauh lebih keras dan menyakitkan hati" putri Kim huan manggut- manggut membenarkan-

"Bagi mereka yang tidak memahami perasaan hatinya, pasti akan menganggap dia sebagai orang liar yang berangasan, kasar serta tak tahu sopan santun padahal harga dirinya amat lemah hal ini dikarenakan pendidikannya yang kurang beradab. Terutama setelah turun gunung dan menjumpai apa yang dihadapi dalam masyarakat ternyata jauh berbeda dengan penghidupannya selama ini. Akibatnya rasa rendah diri membuat dia gampang tersinggung perasaannya."

Putri Kim huan menundukkan kepalanya rendah-rendah, ujarnya pelan:

"Ulasanmu memang tepat sekali, yaaa. seringkali kutemukan hatinya sangat menderita,

apalagi disaat dia sedang marah karena sindiran atau ejekanku."

"Hal ini disebabkan rasa harga dirinya yang terluka oleh sindiranmu itu?" Kemudian setelah berhenti sejenak. lanjutnya:

"orang biasa tak memiliki sifat liar semacam itu, kecuali dia. tapi aku percaya dia adalah

seorang lelaki yang jujur terbuka dan berjiwa besar."

Putri Kim huan termenung berapa saat, lalu tanyanya lagi dengan gelisah: "Nona Nyoo, bagaimana menurut pendapatmu tentang sipedang besi so Bun pin?"

"Bagus juga orang ini, lemah lembut dan terpelajar. Tak ubahnya seperti seorang mahasiswa." "Bagaimana kalau dibandingkan dengan Kim Thi sia?"

Nyoo soat hong kelihatan agak tertegun tapi dengan cepat dia menghindari pertanyaan tersebut, hanya ucapnya pelan:

"Kelebihannya cukup banyak. jelas Kim Thi sia bukan tandingannya. "

"Bagaimana dengan sipedang tembaga?"

sementara itu sipedang tembaga yang menyadap pembicaraan tersebut menjadi amat terkesiap setelah mendengar kedua orang gadis tersebut menyinggung tentang dirinya. Entah mengapa, tiba-tiba saja dia merasakan hatinya sangat tegang. Nyoo soat hong kelihatan berpikir sebentar, lalu menjawab:

"orang ini gagah dan tampan, gerak geriknya terpelajar dan sangat beraturan, dalam sekilas pandangan saja bisa diketahui bahwa dia adalah seorang pemuda pengalaman yang berpengetahuan luas." Penilaian ini amat memuaskan hati sipedang tembaga, terutama karena perkataan itu ditujukan untuk putri Kim huan, begitu terbuainya dia hingga untuk berapa saat sampai termangu- mangu disitu.

Tapi dikarenakan ucapan tadi, diapun merasa berterima kasih dan berhutang budi kepada Nyoo soat hong, karena perkataan tersebut, ia berjanji akan membantu gadis tersebut bilamana perlu, bahkan disuruh terjun kelautan apipun dia tak akan menolak. sesudah termenung sesaat, putri Kim huan bertanya lagi: "Bagaimana dengan sipedang perak?"

Pertanyaan yang diajukan berulang-ulang ini membuat orang lain tak habis mengerti jangankan sipedang tembaga yang menyadap pembicaraan tersebut menjadi tertegun, sekalipun Nyoo soat hong sendiripun dibuat sangat keheranan sehingga pikirnya tanpa terasa:

"Aneh betul situan putri yang cantik ini mengapa sih dia senang menanyakan persoalan macam begini?"

Namun dia segera menjawab:

"sipedang perak orangnya tenang, tak suka bicara dan sopan santun, dia tak malu disebut seorang kongcu yang jarang ditemui didunia ini. "

"Semua abang seperguruan Kim Thi sia rata-rata merupakan orang yang hebat dengan sifat yang baik pula mungkinkah wataknya juga akan mengalami perubahan besar setelah berapa tahun mendampingi mereka?"

sipedang tembaga yang mend engar perkataan tersebut menjadi terkesiap segera pikirnya: "Rupanya kau mengajukan pertanyaan tersebut hanya dikarenakan masalah ini. ?"

sementara dia masih termenung, Nyoo soat hong telah menjawab sambil tertawa:

"Watak Kim Thi sia amat kaku, sifatnya aneh. Aku rasa biar sepuluh tahun bahkan dua puluh tahun lagipun dia masih tetap sebagai seorang persilatan yang kasar, kaku dan tidak tahu adat. Tentu saja sedikit perubahan pasti ada, sebab siapa yang dekat dengan gincu bukankah diapun akan menjadi merah? Apalagi dia toh bukan manusia kayU?"

Mendadak terdengar suara orang mengetuk pintu kamar, disusul putri Kim huan menegur: "siapa disitu?"

Pintu kamar dibuka orang dan terdengar seorang lelaki berkata dengan suara yang berat dan rendah:

"ooooh, rupanya nona belum tertidur bagus sekali, kebetulan aku memang hendak berbincang- bincang denganmu."

sipedang tembaga yang menyadap pembicaraan tersebut segera berpikir:

"Rupanya sute masih juga tak mau mengerti, ia benar-benar menggemaskan." Dalam pada itu sipedang besi, so Bun pin telah berkata lagi sambil tertawa:

"Tak lama kemudian pedang mestika rembulan dingin segera akan jatuh ketanganku. Nona, apa yang pernah kuucapkan tak pernah akan kusesali. Perduli bagaimana sikapmu kepadaku, pedang mestika tersebut tetap akan kupersembahkan kepadamu."

"Apa? pedang leng gwat kiam?" sela Nyoo soat hong keheranan. "Bukankah pedang rembulan dingin adalah benda milik Kim Thi sia? Apakah dia telah menghadiahkan kepadamu?" saking ingin tahunya, gadis tersebut sampai mengulangi pertanyaan ini berapa kali. Dengan nada hambar sipedang besi so Bun pin menjawab:

"Nona Nyoo, persoalan ini bukan lagi urusan kalian. Tapi bisakah nona Nyoo menyingkir sebentar, karena aku ada urusan penting yang hendak dirundingkan dengan tuan putri?"

sipedang tembaga merasa amat mendongkol setelah mendengar perkataan itu, terutama sekali atas perkataan " urusan penting" itu, mendadak timbul satu akal didalam benaknya. Cepat-cepat dia keluar dari kamarnya dan sengaja berjalan mondar mandir didepan beranda kamar, menanti putri Kim huan yang berada dalam kamar sudah mulai berbincang-bincang dengan sipedang besi, dia sengaja berseru tertahan dan mengetuk pintu kamar seraya menegur.
Sepi Banget euyy. Ramaikan kolom komentar dong gan supaya admin tetap semangat upload cersil :). Semenjak tahun 2021 udah gak ada lagi pembaca yang ninggalin opininya di kolom komentar :(